*Agar Bahtera Rumah Tangga Terus Berlayar*
Di antara kaidah syariat terkait interaksi suami istri adalah suami dan istri harus mengetahui bahwa masing-masing dari mereka pasti memiliki sifat yang disukai oleh pasangannya dan terkadang memiliki sifat yang dibenci oleh pasangannya. Maka masing-masing harus fokus pada hal-hal yang ia sukai dan pada hal yang diharapkan kebaikannya, serta berusaha semaksimal mungkin untuk menutup mata pada hal yang ia benci, tentu dengan berusaha memperbaikinya jika memungkinkan. Dan bahtera rumah tangga tidak akan berlayar dengan indah kecuali dengan hal-hal ini tadi.
Sudah menjadi kewajaran bahwa setiap dari kita pasti memiliki hal yang disukai, namun kita pasti juga memiliki yang dibenci, sehingga suami istri mau tidak mau harus mengetahui kenyataan ini. Dan mereka berdua harus membangun interaksi mereka di atas pengetahuannya tentang kenyataan ini tadi.
Allah berfirman:
_*Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ALlah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (QS. an Nisaa:19)*_
Maka bisa jadi seorang suami akan melihat hal yang tidak ia sukai dari istrinya, akan tetapi Allah akan menganugerahkan kebaikan yang banyak dari istrinya tersebut. Dan seorang muslim tidak akan mungkin kosong dari kebaikan.
Diceritakan bahwa Anas, ayah Imam Malik menikah dengan seorang wanita, seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatkala malam pertama beliau tidak mendapati hal yang menarik hatinya dari sisi kecantikan istrinya. Seakan-akan beliau tidak suka dengan istrinya. Namun tersebut adalah wanita yang shalihah. Maka sang istri duduk mendekati suaminya seraya mengatakan:
*_Mungkin Allah akan menganuerahkan kebaikan yang banyak dari wanita yang tidak engkau sukai ini._*
Ketika mengetahui kecerdasan akal wanita ini, akhirnya ayah Imam Malik tertarik dengannya, sehingga merekapun melakukan hubungan, yang akhirnya melahirkan seorang imam besar dunia, yaitu Imam Malik bin Anas itu sendiri, semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama umat Islam.
*_Diterjemahkan dari kajian Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily_*
Di antara kaidah syariat terkait interaksi suami istri adalah suami dan istri harus mengetahui bahwa masing-masing dari mereka pasti memiliki sifat yang disukai oleh pasangannya dan terkadang memiliki sifat yang dibenci oleh pasangannya. Maka masing-masing harus fokus pada hal-hal yang ia sukai dan pada hal yang diharapkan kebaikannya, serta berusaha semaksimal mungkin untuk menutup mata pada hal yang ia benci, tentu dengan berusaha memperbaikinya jika memungkinkan. Dan bahtera rumah tangga tidak akan berlayar dengan indah kecuali dengan hal-hal ini tadi.
Sudah menjadi kewajaran bahwa setiap dari kita pasti memiliki hal yang disukai, namun kita pasti juga memiliki yang dibenci, sehingga suami istri mau tidak mau harus mengetahui kenyataan ini. Dan mereka berdua harus membangun interaksi mereka di atas pengetahuannya tentang kenyataan ini tadi.
Allah berfirman:
_*Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ALlah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (QS. an Nisaa:19)*_
Maka bisa jadi seorang suami akan melihat hal yang tidak ia sukai dari istrinya, akan tetapi Allah akan menganugerahkan kebaikan yang banyak dari istrinya tersebut. Dan seorang muslim tidak akan mungkin kosong dari kebaikan.
Diceritakan bahwa Anas, ayah Imam Malik menikah dengan seorang wanita, seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatkala malam pertama beliau tidak mendapati hal yang menarik hatinya dari sisi kecantikan istrinya. Seakan-akan beliau tidak suka dengan istrinya. Namun tersebut adalah wanita yang shalihah. Maka sang istri duduk mendekati suaminya seraya mengatakan:
*_Mungkin Allah akan menganuerahkan kebaikan yang banyak dari wanita yang tidak engkau sukai ini._*
Ketika mengetahui kecerdasan akal wanita ini, akhirnya ayah Imam Malik tertarik dengannya, sehingga merekapun melakukan hubungan, yang akhirnya melahirkan seorang imam besar dunia, yaitu Imam Malik bin Anas itu sendiri, semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama umat Islam.
*_Diterjemahkan dari kajian Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily_*
AlWahdah adalah lembaga Pendidikan dan Konselor Keluarga. AlWahdah menekankan satu hal yang merupakan fundamental dan esensial dalam kehidupan keluarga muslim yaitu memahami kedudukan harta di dalam keluarga.
Dari hartalah banyak terjadi masalah di dalam kehidupan keluarga muslim. Dari mulai perceraian, rebutan aset kekayaan keluarga, permusuhan antar keluarga dan lain sebagainya, yang mana hal ini tidak bisa didiamkan namun harus segera diberi edukasi dan pendidikan, bagaimana Islam sebenarnya telah mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah bab Harta.
Berangkat dari begitu banyaknya permasalahan yang terjadi yang berawal dari harta inilah, maka AlWahdah mengajak keluarga muslim untuk sadar dan mau belajar kembali, bagaimana seharusnya keluarga muslim itu di dalam kehidupannya, interaksi antar suami dan istri, dengan anak-anak dan dengan keluarga besar secara umum. Kemudian mulai mengatur dan mengetahui kedudukan harta yang ada di dalam keluarga. Salah satu Maqoshid Syariah adalah Hifdzul Maal yaitu menjaga harta, artinya masing-masing individu pemilik harta yang sah harus dilindungi dari hilangnya harta yang dimilikinya akibat ketidaktahuan, kejahatan yang disengaja maupun tidak disengaja yang bisa dilakukan oleh sesama keluarga.
AlWahdah telah membuat satu program pelatihan dan training tentang *KAJIAN FIKIH HARTA BENDA & MANAJEMEN KEWARISAN*.
*_Untuk Siapa Program ini_*
_Pertama_, program ini diperuntukkan bagi keluarga muslim yang menginginkan kehidupan keluarganya sakinah mawaddah wa rahmah bahkan hingga kematiannya. Tidak terjadi perpecahan, konflik di masa depan hanya karena rebutan harta yang tidak seberapa dibanding keutuhan, kerukunan dan kedamaian keluarga besarnya.
_Kedua_, program ini untuk anda yang ingin menjadi Konselor keluarga, pendamping keluarga-keluarga yang membutuhkan mediasi atas terjadi sebuah masalah di dalam keluarganya.
Kurikulum Fundamental telah kami susun disesuaikan dengan kebutuhan keluarga-keluarga muslim, agar membantu dan menyelesaikan masalah yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga.
_Kurikulum Program Konselor Keluarga_
1. Sumber harta kekayaan dalam perkawinan
2. Perjanjian perkawinan menurut Islam
3. Penggunaan harta kekayaan dalam perkawinan
4. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi perceraian
5. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi kematian
6. Hak anak atas harta dalam perkawinan
_Narasumber Utama_
Drs. Sarnoto, M.Hum
(Hakim agama Senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani pernak-pernik permasalahan keluarga)
Dari hartalah banyak terjadi masalah di dalam kehidupan keluarga muslim. Dari mulai perceraian, rebutan aset kekayaan keluarga, permusuhan antar keluarga dan lain sebagainya, yang mana hal ini tidak bisa didiamkan namun harus segera diberi edukasi dan pendidikan, bagaimana Islam sebenarnya telah mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah bab Harta.
Berangkat dari begitu banyaknya permasalahan yang terjadi yang berawal dari harta inilah, maka AlWahdah mengajak keluarga muslim untuk sadar dan mau belajar kembali, bagaimana seharusnya keluarga muslim itu di dalam kehidupannya, interaksi antar suami dan istri, dengan anak-anak dan dengan keluarga besar secara umum. Kemudian mulai mengatur dan mengetahui kedudukan harta yang ada di dalam keluarga. Salah satu Maqoshid Syariah adalah Hifdzul Maal yaitu menjaga harta, artinya masing-masing individu pemilik harta yang sah harus dilindungi dari hilangnya harta yang dimilikinya akibat ketidaktahuan, kejahatan yang disengaja maupun tidak disengaja yang bisa dilakukan oleh sesama keluarga.
AlWahdah telah membuat satu program pelatihan dan training tentang *KAJIAN FIKIH HARTA BENDA & MANAJEMEN KEWARISAN*.
*_Untuk Siapa Program ini_*
_Pertama_, program ini diperuntukkan bagi keluarga muslim yang menginginkan kehidupan keluarganya sakinah mawaddah wa rahmah bahkan hingga kematiannya. Tidak terjadi perpecahan, konflik di masa depan hanya karena rebutan harta yang tidak seberapa dibanding keutuhan, kerukunan dan kedamaian keluarga besarnya.
_Kedua_, program ini untuk anda yang ingin menjadi Konselor keluarga, pendamping keluarga-keluarga yang membutuhkan mediasi atas terjadi sebuah masalah di dalam keluarganya.
Kurikulum Fundamental telah kami susun disesuaikan dengan kebutuhan keluarga-keluarga muslim, agar membantu dan menyelesaikan masalah yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga.
_Kurikulum Program Konselor Keluarga_
1. Sumber harta kekayaan dalam perkawinan
2. Perjanjian perkawinan menurut Islam
3. Penggunaan harta kekayaan dalam perkawinan
4. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi perceraian
5. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi kematian
6. Hak anak atas harta dalam perkawinan
_Narasumber Utama_
Drs. Sarnoto, M.Hum
(Hakim agama Senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani pernak-pernik permasalahan keluarga)
*Seandainya bukan karena Allah, Keadaan kita lebih Parah*
Seandainya bukan karena karunia Allah (Fadhlullah), niscaya hidupmu lebih sengsara.
Kalau engkau miskin, tanpaNya, kemiskinanmu akan semakin parah.
Kalau engkau pendek, tanpaNya, engkau akan lebih pendek lagi.
Kalau wajahmu jelek, tanpaNya, wajahmu akan semakin jelek.
Maka setiap kita hendaknya memuji Allah atas karunia dan kebaikanNya yang sangat besar.
Hendaknya terus taat kepadaNya, melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya.
Meminta keistiqomahan di atas kebenaran dan memohon husnul khatimah.
Dunia adalah tempat beramal (daarul 'amal), kamu hanya sementara, umur yang sangat singkat.
Sedangkan negeri akhirat dan kehidupan yang hakiki ada di depanmu.
Beramallah untuk meraih kehidupan kekal dan nikmat abadi.
Dunia ini fana, nikmatnya fana, keburukannya fana, kebaikannya fana. Kemiskinannya fana, kekayaannya fana, semuanya fana.
Di depan kalian ada kehidupan yang kenikmatannya abadi dan adzabnya abadi.
Beramallah untuk kehidupan yang nikmatnya abadi dan berhati-hatilah dengan negeri yang keburukan dan adzab abadi.
(*_Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz_* )
Seandainya bukan karena karunia Allah (Fadhlullah), niscaya hidupmu lebih sengsara.
Kalau engkau miskin, tanpaNya, kemiskinanmu akan semakin parah.
Kalau engkau pendek, tanpaNya, engkau akan lebih pendek lagi.
Kalau wajahmu jelek, tanpaNya, wajahmu akan semakin jelek.
Maka setiap kita hendaknya memuji Allah atas karunia dan kebaikanNya yang sangat besar.
Hendaknya terus taat kepadaNya, melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya.
Meminta keistiqomahan di atas kebenaran dan memohon husnul khatimah.
Dunia adalah tempat beramal (daarul 'amal), kamu hanya sementara, umur yang sangat singkat.
Sedangkan negeri akhirat dan kehidupan yang hakiki ada di depanmu.
Beramallah untuk meraih kehidupan kekal dan nikmat abadi.
Dunia ini fana, nikmatnya fana, keburukannya fana, kebaikannya fana. Kemiskinannya fana, kekayaannya fana, semuanya fana.
Di depan kalian ada kehidupan yang kenikmatannya abadi dan adzabnya abadi.
Beramallah untuk kehidupan yang nikmatnya abadi dan berhati-hatilah dengan negeri yang keburukan dan adzab abadi.
(*_Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz_* )
*Mengecek Derajat Taqwa*
Barangsiapa mengetahui dirinya, telah berjalan di atas lintasan yang digariskan oleh Nabi saw, yaitu melaksanakan perintah wajib Allah, meninggalkan laranganNya, dan istiqomah di atas agamaNya. Barangsiapa merasa sudah seperti itu, lalu ia dapat membenci dan mencintai karena Allah saja, ia merasa dirinya antusias dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan keharaman, dalam bekerja ia mencari yang halal.
Maka ketahuilah bahwa dirinya telah mencapai derajat taqwa.
Hendaknya ia bersyukur kepada Allah dan memohon agar bisa terus istiqomah.
Tapi barangsiapa merasa dirinya masih ada kekurangan, ia masih makan yang haram, masih makan riba, masih menipu saat bertransaksi, masih sering berdusta dan bersumpah palsu, masih suka memutus tali silaturrami dan masih melakukan kemaksiatan lainnya.
Maka ketahuilah bahwa taqwa dan imannya masih kurang. Ia masih butuh amalan penambal. Hendaknya ia tambal dengan taubat dan istighfar, dan berhenti menyelisihi Allah.
Seorang mukmin yang cerdas (almukmin al'aaqil) pasti paham bahwa iman dan taqwa di dunia ini pasang surut (fii maddin wa jazarin).
Berkurang dan bertambah (fii naqshin wa jiyaadah), melemah dan menguat (fii dho'fiin wa quwwah), begitu seterusnya hingga ia bertemu Allah (Yalqoo rabbahu).
Ia masih dalam bahaya, maka hendaknya ia berpegang teguh dengan kebaikan sekuat tenaga. Siapa tahu saat kematian menjemputnya, ia berada pada derajat taqwa tersempurna, bukan pada derajat taqwa yang masih rendah. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan (Allahul musta'aan).
(Syaikh Abdul Aziz bin Baz)
Barangsiapa mengetahui dirinya, telah berjalan di atas lintasan yang digariskan oleh Nabi saw, yaitu melaksanakan perintah wajib Allah, meninggalkan laranganNya, dan istiqomah di atas agamaNya. Barangsiapa merasa sudah seperti itu, lalu ia dapat membenci dan mencintai karena Allah saja, ia merasa dirinya antusias dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan keharaman, dalam bekerja ia mencari yang halal.
Maka ketahuilah bahwa dirinya telah mencapai derajat taqwa.
Hendaknya ia bersyukur kepada Allah dan memohon agar bisa terus istiqomah.
Tapi barangsiapa merasa dirinya masih ada kekurangan, ia masih makan yang haram, masih makan riba, masih menipu saat bertransaksi, masih sering berdusta dan bersumpah palsu, masih suka memutus tali silaturrami dan masih melakukan kemaksiatan lainnya.
Maka ketahuilah bahwa taqwa dan imannya masih kurang. Ia masih butuh amalan penambal. Hendaknya ia tambal dengan taubat dan istighfar, dan berhenti menyelisihi Allah.
Seorang mukmin yang cerdas (almukmin al'aaqil) pasti paham bahwa iman dan taqwa di dunia ini pasang surut (fii maddin wa jazarin).
Berkurang dan bertambah (fii naqshin wa jiyaadah), melemah dan menguat (fii dho'fiin wa quwwah), begitu seterusnya hingga ia bertemu Allah (Yalqoo rabbahu).
Ia masih dalam bahaya, maka hendaknya ia berpegang teguh dengan kebaikan sekuat tenaga. Siapa tahu saat kematian menjemputnya, ia berada pada derajat taqwa tersempurna, bukan pada derajat taqwa yang masih rendah. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan (Allahul musta'aan).
(Syaikh Abdul Aziz bin Baz)
*Prokesnya Seorang Muslim di masa Covid*
Seringkali kita mendapatkan kalimat di masa-masa pandemi, seperti ini:
Utamakan prokes ya kalau mau kemana-mana.
Terlihat sederhana, tapi agak ngeri, masuk ke dalam unsur kesyirikan. Daripada masuk ke dalamnya, untuk kehati-hatian kita ganti kalimat di atas dengan kalimat di bawah ini dan semacamnya:
Utamakan Allah ya kalau mau kemana-mana. Ingat, tidak ada musibah apapun yang menimpa seorang manusia melainkan atas izinNya. Berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah adalah sebaik-baik Pelindung.
Baru kemudian ikhtiar dengan yang sering disarankan. Tapi sekali lagi ditekankan kita bukan takut pada covid, omicron, deltacron dan sebagainya, tetapi kita takut kalau Allah mengizinkan virus-virus di atas menyerang tubuh kita. Maka mintalah perlindungan kepadaNya, bukan kepada masker, sanitizer, dan lain sebagainya.
Setelah itu jangan lupa kembali tawakkal Ilallah, serahkan semua urusan kepada Allah. Allahu khairu waliyyuhaa wa maulaahaa.
*_Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk._* (QS. Al-An'am: 82)
Demikianlah sebaik-baik prokes bagi seorang muslim, sebagai realisasi dari imannya, Laa ilaaha Illallah Muhammadar rasuulullah.
Seringkali kita mendapatkan kalimat di masa-masa pandemi, seperti ini:
Utamakan prokes ya kalau mau kemana-mana.
Terlihat sederhana, tapi agak ngeri, masuk ke dalam unsur kesyirikan. Daripada masuk ke dalamnya, untuk kehati-hatian kita ganti kalimat di atas dengan kalimat di bawah ini dan semacamnya:
Utamakan Allah ya kalau mau kemana-mana. Ingat, tidak ada musibah apapun yang menimpa seorang manusia melainkan atas izinNya. Berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah adalah sebaik-baik Pelindung.
Baru kemudian ikhtiar dengan yang sering disarankan. Tapi sekali lagi ditekankan kita bukan takut pada covid, omicron, deltacron dan sebagainya, tetapi kita takut kalau Allah mengizinkan virus-virus di atas menyerang tubuh kita. Maka mintalah perlindungan kepadaNya, bukan kepada masker, sanitizer, dan lain sebagainya.
Setelah itu jangan lupa kembali tawakkal Ilallah, serahkan semua urusan kepada Allah. Allahu khairu waliyyuhaa wa maulaahaa.
*_Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk._* (QS. Al-An'am: 82)
Demikianlah sebaik-baik prokes bagi seorang muslim, sebagai realisasi dari imannya, Laa ilaaha Illallah Muhammadar rasuulullah.
*Kenapa Istri tidak mendengarkan Nasihat Kita?*
Jika suami mendapati istrinya tidak mau mendengar nasihatnya, hendaknya cek kelalaian dirinya. Terkadang istri tidak tersentuh hatinya karena ia tidak melihat keteladanan dari suaminya.
Maka suami bisa mengingatkan istri dengan beberapa kelalaiannya. Dulu istri-istri sebagian orang shalih ada yang tidak mau mendengar nasihat suaminya, maka ia berkata:
*_Janganlah engkau terkecoh dengan kelalaianku. Aku memang melalaikan ini dan itu. Aku tahu Allah akan menyiksa dan menghukumku akibat kelalaianku ini. Tetapi jangan sampai hal itu menghalangimu untuk bertaqwa kepada Allah ketika aku berkata kepadamu,"Ittaqillah. Lalu istrinya terdiam._*
Terkadang yang membuat istri tidak menerima nasihat adalah karena ia melihat kelalaian suaminya. Bukan karena tidak ingin bertaqwa.
Terkadang ada sebagian penuntut ilmu yang berkata:
*_Sudah kukatakan kepada istriku, Ittaqillah, takutlah kamu kepada Allah (tapi tidak berefek). Ya karena istri sudah mengantongi beberapa kelalaian suaminya.
Apabila nasihat hanya sebatas nasihat, maka tidak akan bermanfaat dan tidak akan menyentuh hati.
Nasihat akan menembus ke hati ketika nasihat tersebut keluar dari hati yang tulus.
Jika suami mendapati istrinya tidak mau mendengar nasihatnya, hendaknya cek kelalaian dirinya. Terkadang istri tidak tersentuh hatinya karena ia tidak melihat keteladanan dari suaminya.
Maka suami bisa mengingatkan istri dengan beberapa kelalaiannya. Dulu istri-istri sebagian orang shalih ada yang tidak mau mendengar nasihat suaminya, maka ia berkata:
*_Janganlah engkau terkecoh dengan kelalaianku. Aku memang melalaikan ini dan itu. Aku tahu Allah akan menyiksa dan menghukumku akibat kelalaianku ini. Tetapi jangan sampai hal itu menghalangimu untuk bertaqwa kepada Allah ketika aku berkata kepadamu,"Ittaqillah. Lalu istrinya terdiam._*
Terkadang yang membuat istri tidak menerima nasihat adalah karena ia melihat kelalaian suaminya. Bukan karena tidak ingin bertaqwa.
Terkadang ada sebagian penuntut ilmu yang berkata:
*_Sudah kukatakan kepada istriku, Ittaqillah, takutlah kamu kepada Allah (tapi tidak berefek). Ya karena istri sudah mengantongi beberapa kelalaian suaminya.
Apabila nasihat hanya sebatas nasihat, maka tidak akan bermanfaat dan tidak akan menyentuh hati.
Nasihat akan menembus ke hati ketika nasihat tersebut keluar dari hati yang tulus.
*Cara Bertaubat dari Dosa Ghibah*
Ghibah adalah engkau membicarakan keburukan atau mecela seseorang di hadapan orang lain ketika ia tidak ada.
Terkait cara bertaubatnya, para ulama berselisih pendapat, sebagian ulama berkata, engkau harus endatanginya lalu berkata," Saudaraku, aku pernah membicarakan kejelekanmu dengan orang lain, aku harap engkau sudi memafkanku.
Sebagian ulama lain berkata, jangan, jangan engkau datangi dia, hukumnya harus diperinci. Jika ia telah mengetahui ghibah tersebut, maka engkau harus mendatanginya dan meminta maaf kepadanya. Namun apabila dia belum mengetahuinya, maka jangan mendatanginya. Cukup mintakanlah ampunan ALlah untuknya. Dan bicarakan kebaikannya di tempat engkau mengghibahnya.
*_Karena perbuatan baik dapat menghapus kesalahan-kesalahan._* (QS. Hud:114)
Pendapat kedua ini lebih tepat. Katakanlah," Ya Allah ampunilah saudaraku si A, sebagaimana dalam hadits:
*_Kaffaaratu manightabtahu 'an tastaghfiralahu_*
Kafarah Ghibah adalah dengan memintakan ampunan Allah untuk orang yang dighibahi. (HR. Ibnu Abi ad Dunya no.291)
(Syaikh Utsaimin)
Ghibah adalah engkau membicarakan keburukan atau mecela seseorang di hadapan orang lain ketika ia tidak ada.
Terkait cara bertaubatnya, para ulama berselisih pendapat, sebagian ulama berkata, engkau harus endatanginya lalu berkata," Saudaraku, aku pernah membicarakan kejelekanmu dengan orang lain, aku harap engkau sudi memafkanku.
Sebagian ulama lain berkata, jangan, jangan engkau datangi dia, hukumnya harus diperinci. Jika ia telah mengetahui ghibah tersebut, maka engkau harus mendatanginya dan meminta maaf kepadanya. Namun apabila dia belum mengetahuinya, maka jangan mendatanginya. Cukup mintakanlah ampunan ALlah untuknya. Dan bicarakan kebaikannya di tempat engkau mengghibahnya.
*_Karena perbuatan baik dapat menghapus kesalahan-kesalahan._* (QS. Hud:114)
Pendapat kedua ini lebih tepat. Katakanlah," Ya Allah ampunilah saudaraku si A, sebagaimana dalam hadits:
*_Kaffaaratu manightabtahu 'an tastaghfiralahu_*
Kafarah Ghibah adalah dengan memintakan ampunan Allah untuk orang yang dighibahi. (HR. Ibnu Abi ad Dunya no.291)
(Syaikh Utsaimin)
*Kunci Sebuah Perubahan*
Salah seorang di antara kita pasti ada yang ingin mencapai derajat tinggi di surga. Maka jalan yang harus ditempuh adalah menjemput hidayah (thoriiquhaa alhidaayah). Dan untuk menggapai hidayah diperlukan perbaikan hati (sholaahul Qolbi).
Ada juga yang ingin menjadi seorang yang berpengaruh positif di lingkungan sekitarnya. Ia ingin memberikan pengaruh positif kepada anak-anaknya. Kepada saudara-saudaranya, kepada tetangganya, begitu juga seorang suami kepada istrinya. Dari mana kita harus memulai itu semua? kita harus mulai dari hati.
Karena pintu hidayah dan pintu kebaikan adalah hati.
Oleh karenanya Nabi Saw bersabda:
Alaa inna fil jasadi mudhghoh, Idzaa sholahat sholahal jasadu kulluhu, wa idzaa fasadat fsadal jasadu kulluhu, Alaa wa hiya alqolbu. (HR. Muslim no.1599)
OLeh karenanya Nabi saw sering berdoa:
Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbii 'alaa diinika. (HR. Tirmidzi no.3522)
Qolbu (hati), dinamakan dengan nama ini karena ia yataqollab mudah berbolak-balik. Oleh karenanya kita butuh untuk mengokohkannya.
Karena ia adalah tempat awal hidayah masuk. Orang-orang yang tinggi ilmunya, apa doa mereka?
*_Ya Tuhan kami, janganlah engkau condongkan hati kami kepada kesesatan.
Jangan engkau condongkan, apa?
Janganlah engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi._*. (QS. Ali Imran:8)
Jika anda ingin memperbaiki urusan dunia dan akhirat manusia, maka harus dimulai dari hati.
Tidakkah kalian pernah mendengar firman Allah:
*_Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikanNya kepada suatu kaum hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri_*. (QS. al Anfal:53)
Oleh karenanya hendaknya kita terus berupaya memperbaiki isi hati ini, karena dengannyalah kebahagiaan dunia dan akhirat bisa diraih, dengannya pula seseorang bisa selamat dari siksa neraka jahannam dan berhasil meraih surga yang abadi.
Salah seorang di antara kita pasti ada yang ingin mencapai derajat tinggi di surga. Maka jalan yang harus ditempuh adalah menjemput hidayah (thoriiquhaa alhidaayah). Dan untuk menggapai hidayah diperlukan perbaikan hati (sholaahul Qolbi).
Ada juga yang ingin menjadi seorang yang berpengaruh positif di lingkungan sekitarnya. Ia ingin memberikan pengaruh positif kepada anak-anaknya. Kepada saudara-saudaranya, kepada tetangganya, begitu juga seorang suami kepada istrinya. Dari mana kita harus memulai itu semua? kita harus mulai dari hati.
Karena pintu hidayah dan pintu kebaikan adalah hati.
Oleh karenanya Nabi Saw bersabda:
Alaa inna fil jasadi mudhghoh, Idzaa sholahat sholahal jasadu kulluhu, wa idzaa fasadat fsadal jasadu kulluhu, Alaa wa hiya alqolbu. (HR. Muslim no.1599)
OLeh karenanya Nabi saw sering berdoa:
Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbii 'alaa diinika. (HR. Tirmidzi no.3522)
Qolbu (hati), dinamakan dengan nama ini karena ia yataqollab mudah berbolak-balik. Oleh karenanya kita butuh untuk mengokohkannya.
Karena ia adalah tempat awal hidayah masuk. Orang-orang yang tinggi ilmunya, apa doa mereka?
*_Ya Tuhan kami, janganlah engkau condongkan hati kami kepada kesesatan.
Jangan engkau condongkan, apa?
Janganlah engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi._*. (QS. Ali Imran:8)
Jika anda ingin memperbaiki urusan dunia dan akhirat manusia, maka harus dimulai dari hati.
Tidakkah kalian pernah mendengar firman Allah:
*_Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikanNya kepada suatu kaum hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri_*. (QS. al Anfal:53)
Oleh karenanya hendaknya kita terus berupaya memperbaiki isi hati ini, karena dengannyalah kebahagiaan dunia dan akhirat bisa diraih, dengannya pula seseorang bisa selamat dari siksa neraka jahannam dan berhasil meraih surga yang abadi.
KELAS EDUKASI KELUARGA
AlWahdah adalah lembaga Pendidikan dan Konselor Keluarga. AlWahdah menekankan satu hal yang merupakan fundamental dan esensial dalam kehidupan keluarga muslim yaitu memahami kedudukan harta di dalam keluarga.
Dari hartalah banyak terjadi masalah di dalam kehidupan keluarga muslim. Dari mulai perceraian, rebutan aset kekayaan keluarga, permusuhan antar keluarga dan lain sebagainya, yang mana hal ini tidak bisa didiamkan namun harus segera diberi edukasi dan pendidikan, bagaimana Islam sebenarnya mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah bab Harta.
Berangkat dari begitu banyaknya permasalahan yang terjadi yang berawal dari harta inilah, maka AlWahdah mengajak keluarga muslim untuk sadar dan mau belajar kembali, bagaimana seharusnya keluarga muslim itu di dalam kehidupannya, interaksi antar suami dan istri, dengan anak-anak dan dengan keluarga besar secara umum. Kemudian mulai mengatur dan mengetahui kedudukan harta yang ada di dalam keluarga. Salah satu Maqoshid Syariah adalah Hifdzul Maal yaitu menjaga harta, artinya masing-masing individu pemilik harta yang sah harus dilindungi dari hilangnya harta yang dimilikinya akibat ketidaktahuan, kejahatan yang disengaja maupun tidak disengaja yang bisa dilakukan oleh sesama keluarga.
AlWahdah telah membuat satu program pelatihan dan training tentang KAJIAN FIKIH HARTA BENDA & MANAJEMEN KEWARISAN. Program ini bisa diikuti oleh semua keluarga muslim di seluruh Indonesia.
Untuk Siapa Program ini
Pertama, program ini diperuntukkan bagi keluarga muslim yang menginginkan kehidupan keluarganya sakinah mawaddah wa rahmah bahkan hingga kematiannya. Tidak terjadi perpecahan, konflik di masa depan hanya karena rebutan harta yang tidak seberapa dibanding keutuhan, kerukunan dan kedamaian keluarga besarnya.
Kedua, program ini untuk anda yang ingin menjadi Konselor keluarga, pendamping keluarga-keluarga yang membutuhkan mediasi atas terjadi sebuah masalah di dalam keluarganya.
Kurikulum Fundamental telah kami susun disesuaikan dengan kebutuhan keluarga-keluarga muslim, agar membantu dan menyelesaikan masalah yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga.
Kurikulum Program Konselor Keluarga
1. Sumber harta kekayaan dalam perkawinan
2. Perjanjian perkawinan menurut Islam
3. Penggunaan harta kekayaan dalam perkawinan
4. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi perceraian
5. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi kematian
6. Hak anak atas harta dalam perkawinan
Narasumber Utama
Drs. Sarnoto, M.Hum
(Hakim agama Senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani pernak-pernik permasalahan keluarga)
Pendaftaran
Bagi anda yang ingin mengikuti kelas/program ini, bisa mendaftarkan diri anda ke no.WA di bawah ini:
wa.me/6281288934198 (Hafni Rosdiana)
AlWahdah adalah lembaga Pendidikan dan Konselor Keluarga. AlWahdah menekankan satu hal yang merupakan fundamental dan esensial dalam kehidupan keluarga muslim yaitu memahami kedudukan harta di dalam keluarga.
Dari hartalah banyak terjadi masalah di dalam kehidupan keluarga muslim. Dari mulai perceraian, rebutan aset kekayaan keluarga, permusuhan antar keluarga dan lain sebagainya, yang mana hal ini tidak bisa didiamkan namun harus segera diberi edukasi dan pendidikan, bagaimana Islam sebenarnya mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah bab Harta.
Berangkat dari begitu banyaknya permasalahan yang terjadi yang berawal dari harta inilah, maka AlWahdah mengajak keluarga muslim untuk sadar dan mau belajar kembali, bagaimana seharusnya keluarga muslim itu di dalam kehidupannya, interaksi antar suami dan istri, dengan anak-anak dan dengan keluarga besar secara umum. Kemudian mulai mengatur dan mengetahui kedudukan harta yang ada di dalam keluarga. Salah satu Maqoshid Syariah adalah Hifdzul Maal yaitu menjaga harta, artinya masing-masing individu pemilik harta yang sah harus dilindungi dari hilangnya harta yang dimilikinya akibat ketidaktahuan, kejahatan yang disengaja maupun tidak disengaja yang bisa dilakukan oleh sesama keluarga.
AlWahdah telah membuat satu program pelatihan dan training tentang KAJIAN FIKIH HARTA BENDA & MANAJEMEN KEWARISAN. Program ini bisa diikuti oleh semua keluarga muslim di seluruh Indonesia.
Untuk Siapa Program ini
Pertama, program ini diperuntukkan bagi keluarga muslim yang menginginkan kehidupan keluarganya sakinah mawaddah wa rahmah bahkan hingga kematiannya. Tidak terjadi perpecahan, konflik di masa depan hanya karena rebutan harta yang tidak seberapa dibanding keutuhan, kerukunan dan kedamaian keluarga besarnya.
Kedua, program ini untuk anda yang ingin menjadi Konselor keluarga, pendamping keluarga-keluarga yang membutuhkan mediasi atas terjadi sebuah masalah di dalam keluarganya.
Kurikulum Fundamental telah kami susun disesuaikan dengan kebutuhan keluarga-keluarga muslim, agar membantu dan menyelesaikan masalah yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga.
Kurikulum Program Konselor Keluarga
1. Sumber harta kekayaan dalam perkawinan
2. Perjanjian perkawinan menurut Islam
3. Penggunaan harta kekayaan dalam perkawinan
4. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi perceraian
5. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi kematian
6. Hak anak atas harta dalam perkawinan
Narasumber Utama
Drs. Sarnoto, M.Hum
(Hakim agama Senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani pernak-pernik permasalahan keluarga)
Pendaftaran
Bagi anda yang ingin mengikuti kelas/program ini, bisa mendaftarkan diri anda ke no.WA di bawah ini:
wa.me/6281288934198 (Hafni Rosdiana)
WhatsApp.com
Open WhatsApp
WhatsApp Messenger: More than 2 billion people in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and family, anytime and anywhere. WhatsApp is free and offers simple, secure, reliable messaging and calling, available on phones all over the…
*Ketika Musibah Menimpa Orang-orang Hebat*
Manusia yang paling berhak dan paling bahagia atas taufiq Allah adalah yang selalu berdzikir dalam semua kondisi.
Itulah hamba yang tidak pernah bosan berdzikir walau sekejap mata pun. Hatinya senantiasa mengingat Allah.
Engkau lihat dirinya lumpuh di atas kasur, dibopong, tetapi ia masih bersyukur, ridho dengan takdir Allah, bersabar, berharap pahala dan memuji Allah atas kesehatannya.
Ia berkata,"Selama agamaku selamat, aku tidak peduli dengan sakitku. Wahai Tuhanku, aku ridho dengan takdirMu dan berharap rahmatMu.
Ia senantiasa diberi taufiq ketika tertimpa musibah untuk mengucapkan kalimat yang membuat Rabbnya ridho.
Engkau lihat dirinya sedih, sakit, tertimpa musibah besar, tetapi ia senantiasa memuji ALlah.
Karena ia tidak lalai dari mengingat Allah walau sekejap mata pun. Engkau tidak melihatnya berteriak-teriak dan berkeluh kesah.
Sabda Nabi:
عَجِبْتُ لِأَمْرِ المُؤْمِنُ إِنَّ امْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
Aku takjub dengan seorang mukmin, semua kondisinya baik untuknya. (HR. Muslim no.2999)
Engkau lihat dirinya tetap tegar, itulah taufiq.
Manusia yang paling berhak dan paling bahagia atas taufiq Allah adalah yang selalu berdzikir dalam semua kondisi.
Itulah hamba yang tidak pernah bosan berdzikir walau sekejap mata pun. Hatinya senantiasa mengingat Allah.
Engkau lihat dirinya lumpuh di atas kasur, dibopong, tetapi ia masih bersyukur, ridho dengan takdir Allah, bersabar, berharap pahala dan memuji Allah atas kesehatannya.
Ia berkata,"Selama agamaku selamat, aku tidak peduli dengan sakitku. Wahai Tuhanku, aku ridho dengan takdirMu dan berharap rahmatMu.
Ia senantiasa diberi taufiq ketika tertimpa musibah untuk mengucapkan kalimat yang membuat Rabbnya ridho.
Engkau lihat dirinya sedih, sakit, tertimpa musibah besar, tetapi ia senantiasa memuji ALlah.
Karena ia tidak lalai dari mengingat Allah walau sekejap mata pun. Engkau tidak melihatnya berteriak-teriak dan berkeluh kesah.
Sabda Nabi:
عَجِبْتُ لِأَمْرِ المُؤْمِنُ إِنَّ امْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
Aku takjub dengan seorang mukmin, semua kondisinya baik untuknya. (HR. Muslim no.2999)
Engkau lihat dirinya tetap tegar, itulah taufiq.
*Sikap Mukmin Menghadapi Musibah Bertubi-tubi*
Kaum mukminin, meskipun musibah dan kesusahan dunia datang bertubi-tubi, jangan sekali-kali berputus asa, jangan menyerah, jangan berkeluh kesah, jangan kecewa.
Karena kelak pada hari kiamat, ketika engkau bertemu dengan Allah lalu dimasukkan ke dalam surga, engkau akan lupa dengan seluruh kepedihannya.
Engkau hanya akan melihat besarnya pahala dari kepedihan itu.
Jabir berkata, Rasulullah bersabda:
Yawaddu ahlul 'aafiyati yaumal qiyaamati hiina yu'thoo ahlul balaaits tsawaabi. Lau anna juluuduhum kaanat quridhotbimaqooriidho fid dunyaa. (HR. Tirmidzi no.2402), dihasankan oleh Al ALbani
*_Pada hari kiamat nanti, ketika orang-orang yang ditimpa berbagai musibah mendapatkan pahalanya, orang-orang yang dulunya sejahtera akan berangan-angan, seandainya dahulu ketika di dunia mereka (diuji dengan) kulit yang dipotong-potong menggunakan gunting._*
Pada hari kiamat orang-orang mukmin yang diuji lalu ia bersabar dan tidak mengeluh kepada Allah, tidak kecewa kepada Rabbnya maka akan diberikan pahala yang sangat besar.
Sampai-sampai orang-orang yang sejahtera berangan-angan seandainya mereka tatkala di dunia juga diuji dengan cobaan yang besar.
Kaum mukminin, meskipun musibah dan kesusahan dunia datang bertubi-tubi, jangan sekali-kali berputus asa, jangan menyerah, jangan berkeluh kesah, jangan kecewa.
Karena kelak pada hari kiamat, ketika engkau bertemu dengan Allah lalu dimasukkan ke dalam surga, engkau akan lupa dengan seluruh kepedihannya.
Engkau hanya akan melihat besarnya pahala dari kepedihan itu.
Jabir berkata, Rasulullah bersabda:
Yawaddu ahlul 'aafiyati yaumal qiyaamati hiina yu'thoo ahlul balaaits tsawaabi. Lau anna juluuduhum kaanat quridhotbimaqooriidho fid dunyaa. (HR. Tirmidzi no.2402), dihasankan oleh Al ALbani
*_Pada hari kiamat nanti, ketika orang-orang yang ditimpa berbagai musibah mendapatkan pahalanya, orang-orang yang dulunya sejahtera akan berangan-angan, seandainya dahulu ketika di dunia mereka (diuji dengan) kulit yang dipotong-potong menggunakan gunting._*
Pada hari kiamat orang-orang mukmin yang diuji lalu ia bersabar dan tidak mengeluh kepada Allah, tidak kecewa kepada Rabbnya maka akan diberikan pahala yang sangat besar.
Sampai-sampai orang-orang yang sejahtera berangan-angan seandainya mereka tatkala di dunia juga diuji dengan cobaan yang besar.
*Ahli Maksiat Taubat dan Mati di Depan Ka'bah*
Dikisahkan seorang laki-laki (si A) yang banyak dosanya, banyak kesalahannya dan banyak aibnya.
Ia didatangi si B yang sering menasihatinya agar segera kembali dan bertaubat kepada Allah.
Setelah banyak menasihati, si B berkata,"Allah tidak akan mengampunimu. Si A pun berkata,"Allah tidak akan mengampuniku?".
Si A pun sadar dari kelalaiannya. Lalu berkata dengan yakin kepada si B,"Akan kuperlihatkan kepadamu bagaimana cara Allah mengampuniku".
Ia pun segera pergi keMiqot Tan'im Mekkah, disaksikan oleh beberapa orang terpercaya.
Ia memakai ihram dan berniat umrah untuk bertaubat kepaa Allah. Ia pun thawaf di Ka'bah. Ia tersungkur mati di antara Hajar Aswad dan Maqom Ibrahim.
Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang yakin kepadaNya.
Seandainya ada manusia yang dosanya memenuhi langit, lalu ia yakin Allah akan mengampuninya, pasti Allah tidak akan mengecewakannya.
(Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi)
Dikisahkan seorang laki-laki (si A) yang banyak dosanya, banyak kesalahannya dan banyak aibnya.
Ia didatangi si B yang sering menasihatinya agar segera kembali dan bertaubat kepada Allah.
Setelah banyak menasihati, si B berkata,"Allah tidak akan mengampunimu. Si A pun berkata,"Allah tidak akan mengampuniku?".
Si A pun sadar dari kelalaiannya. Lalu berkata dengan yakin kepada si B,"Akan kuperlihatkan kepadamu bagaimana cara Allah mengampuniku".
Ia pun segera pergi keMiqot Tan'im Mekkah, disaksikan oleh beberapa orang terpercaya.
Ia memakai ihram dan berniat umrah untuk bertaubat kepaa Allah. Ia pun thawaf di Ka'bah. Ia tersungkur mati di antara Hajar Aswad dan Maqom Ibrahim.
Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang yakin kepadaNya.
Seandainya ada manusia yang dosanya memenuhi langit, lalu ia yakin Allah akan mengampuninya, pasti Allah tidak akan mengecewakannya.
(Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi)
COBALAH MENGERTI
(Versi Suami Isteri)
Cobalah mengerti….
Bahwa tujuan pernikahan yang utama bukan untuk mendapatkan keturunan dan kesenangan, tapi untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT.
Jangan sampai tujuan utama ini terpinggirkan karena rutinitas mengurus keluarga.
Oleh karena itu, kesibukan utama suami isteri adalah menegakkan tauhid dan berdakwah kepada anggota keluarganya.
*_Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan._*
(Qs. 66 ayat 6).
Cobalah mengerti…
Bahwa misi pernikahan adalah keselamatan seluruh anggota keluarga di dunia dan akhirat. Jangan sampai ada salah satu anggota keluarga yang selamat di dunia, tapi hancur di akhirat (masuk neraka). Oleh karena itu, kita perlu rutin menasehati tentang pentingnya misi ini pada anggota keluarga kita.
Kesedihan terbesar yang dapat dibayangkan sejak sekarang adalah ketika suami, isteri atau anak-anak kita ada yang tak bisa berkumpul di akhirat kelak.
*_(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya._* (Qs. 13 ayat 23).
Cobalah mengerti…
Bahwa kebanggaan suami isteri bukan karena mendapatkan harta, gelar, jabatan atau ketenaran, tetapi karena kesholihan anggota keluarganya. Belajarlah dari kisah Nabi Ya’qub as yang menangis sampai matanya buta karena kedurhakaan (ketidaksholihan) anak-anaknya yang membuang Nabi Yusuf as. Walau akhirnya anak-anaknya bertaubat dan Nabi Yaqub as dapat berkumpul kembali dengan anaknya, Nabi Yusuf as, beliau tetap mewasiatkan kesholihan ini di akhir hidupnya.
*_Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya._*
(Qs. 2 ayat 133).
Cobalah mengerti…
Setiap keluarga punya tawa dan tangisnya masing-masing.
Jangan pernah membandingkan keluarga kita dengan keluarga orang lain, yang menyebabkan kita tergoda menceraikan pasangan. Jangan kalah dengan tipu daya setan yang senang dengan makin banyaknya perceraian. Rawatlah apa yang sudah ada, yang sudah ditakdirkan Allah kepada kita. Yakinlah…bahwa setiap keluarga pasti akan diuji dari arah yang berbeda-beda. Yakinlah…jika kita bersabar dan lulus dari ujian berkeluarga maka pahalanya amat besar.
*_Wahai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung._*
(Qs. 3 ayat 200).
Cobalah mengerti….
Bahwa Allah SWT memberikan cinta sejati kepada suami isteri ketika mereka sudah saling menerima kekurangan pasangannya (bukan berarti suami isteri berhenti untuk berubah makin baik).
Ketahuilah…cinta sejati adalah cinta saling memberi, bukan saling menuntut. Cinta sejati adalah bahagia ketika pasangan kita bahagia.
Langgeng dan menua bersama. Visualisasinya seperti kakek nenek yang berjalan dengan saling menuntun di masa tuanya. Bayangkan itu adalah kita dengan pasangan kita.
Bukankah itu indah dan menjadi kenangan manis, bahkan sampai di alam kubur? Untuk rindu kembali bertemu di surga kelak?
*_Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa._*
(Qs. 25 ayat 74).
By. Satria hadi lubis
(Versi Suami Isteri)
Cobalah mengerti….
Bahwa tujuan pernikahan yang utama bukan untuk mendapatkan keturunan dan kesenangan, tapi untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT.
Jangan sampai tujuan utama ini terpinggirkan karena rutinitas mengurus keluarga.
Oleh karena itu, kesibukan utama suami isteri adalah menegakkan tauhid dan berdakwah kepada anggota keluarganya.
*_Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan._*
(Qs. 66 ayat 6).
Cobalah mengerti…
Bahwa misi pernikahan adalah keselamatan seluruh anggota keluarga di dunia dan akhirat. Jangan sampai ada salah satu anggota keluarga yang selamat di dunia, tapi hancur di akhirat (masuk neraka). Oleh karena itu, kita perlu rutin menasehati tentang pentingnya misi ini pada anggota keluarga kita.
Kesedihan terbesar yang dapat dibayangkan sejak sekarang adalah ketika suami, isteri atau anak-anak kita ada yang tak bisa berkumpul di akhirat kelak.
*_(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya._* (Qs. 13 ayat 23).
Cobalah mengerti…
Bahwa kebanggaan suami isteri bukan karena mendapatkan harta, gelar, jabatan atau ketenaran, tetapi karena kesholihan anggota keluarganya. Belajarlah dari kisah Nabi Ya’qub as yang menangis sampai matanya buta karena kedurhakaan (ketidaksholihan) anak-anaknya yang membuang Nabi Yusuf as. Walau akhirnya anak-anaknya bertaubat dan Nabi Yaqub as dapat berkumpul kembali dengan anaknya, Nabi Yusuf as, beliau tetap mewasiatkan kesholihan ini di akhir hidupnya.
*_Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya._*
(Qs. 2 ayat 133).
Cobalah mengerti…
Setiap keluarga punya tawa dan tangisnya masing-masing.
Jangan pernah membandingkan keluarga kita dengan keluarga orang lain, yang menyebabkan kita tergoda menceraikan pasangan. Jangan kalah dengan tipu daya setan yang senang dengan makin banyaknya perceraian. Rawatlah apa yang sudah ada, yang sudah ditakdirkan Allah kepada kita. Yakinlah…bahwa setiap keluarga pasti akan diuji dari arah yang berbeda-beda. Yakinlah…jika kita bersabar dan lulus dari ujian berkeluarga maka pahalanya amat besar.
*_Wahai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung._*
(Qs. 3 ayat 200).
Cobalah mengerti….
Bahwa Allah SWT memberikan cinta sejati kepada suami isteri ketika mereka sudah saling menerima kekurangan pasangannya (bukan berarti suami isteri berhenti untuk berubah makin baik).
Ketahuilah…cinta sejati adalah cinta saling memberi, bukan saling menuntut. Cinta sejati adalah bahagia ketika pasangan kita bahagia.
Langgeng dan menua bersama. Visualisasinya seperti kakek nenek yang berjalan dengan saling menuntun di masa tuanya. Bayangkan itu adalah kita dengan pasangan kita.
Bukankah itu indah dan menjadi kenangan manis, bahkan sampai di alam kubur? Untuk rindu kembali bertemu di surga kelak?
*_Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa._*
(Qs. 25 ayat 74).
By. Satria hadi lubis
*KELAS EDUKASI KELUARGA*
_AlWahdah adalah lembaga Pendidikan dan Konselor Keluarga. AlWahdah menekankan satu hal yang merupakan fundamental dan esensial dalam kehidupan keluarga muslim yaitu memahami kedudukan harta di dalam keluarga._
Dari hartalah banyak terjadi masalah di dalam kehidupan keluarga muslim. Dari mulai perceraian, rebutan aset kekayaan keluarga, permusuhan antar keluarga dan lain sebagainya, yang mana hal ini tidak bisa didiamkan namun harus segera diberi edukasi dan pendidikan, bagaimana Islam sebenarnya mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah bab Harta.
Berangkat dari begitu banyaknya permasalahan yang terjadi yang berawal dari harta inilah, maka AlWahdah mengajak keluarga muslim untuk sadar dan mau belajar kembali, bagaimana seharusnya keluarga muslim itu di dalam kehidupannya, interaksi antar suami dan istri, dengan anak-anak dan dengan keluarga besar secara umum. Kemudian mulai mengatur dan mengetahui kedudukan harta yang ada di dalam keluarga. Salah satu Maqoshid Syariah adalah Hifdzul Maal yaitu menjaga harta, artinya masing-masing individu pemilik harta yang sah harus dilindungi dari hilangnya harta yang dimilikinya akibat ketidaktahuan, kejahatan yang disengaja maupun tidak disengaja yang bisa dilakukan oleh sesama keluarga.
*Visi AlWahdah*
Melahirkan generasi baru muslim untuk peradaban
*Misi AlWahdah*
1) Membumikan kembali ilmu Faraidh/Hukum Waris Islam di tengah umat.
2) Memperbaiki kondisi keluarga muslim untuk menyongsong peradaban baru Islam.
3) Menyebarkan semangat untuk Tholabul Ilm di tengah masyarakat muslim.
AlWahdah telah membuat satu program pelatihan dan training tentang KAJIAN FIKIH HARTA BENDA & MANAJEMEN KEWARISAN. Program ini bisa diikuti oleh semua keluarga muslim di seluruh Indonesia.
*Untuk Siapa Program ini*
Pertama, program ini diperuntukkan bagi keluarga muslim yang menginginkan kehidupan keluarganya sakinah mawaddah wa rahmah bahkan hingga kematiannya. Tidak terjadi perpecahan, konflik di masa depan hanya karena rebutan harta yang tidak seberapa dibanding keutuhan, kerukunan dan kedamaian keluarga besarnya.
Kedua, program ini untuk anda yang ingin menjadi Konselor keluarga, pendamping keluarga-keluarga yang membutuhkan mediasi atas terjadi sebuah masalah di dalam keluarganya.
Kurikulum Fundamental telah kami susun disesuaikan dengan kebutuhan keluarga-keluarga muslim, agar membantu dan menyelesaikan masalah yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga.
*Kurikulum Program Konselor Keluarga*
1. Sumber harta kekayaan dalam perkawinan
2. Perjanjian perkawinan menurut Islam
3. Penggunaan harta kekayaan dalam perkawinan
4. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi perceraian
5. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi kematian
6. Hak anak atas harta dalam perkawinan
*Narasumber Utama*
Drs. Sarnoto, M.Hum
(Hakim agama Senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani pernak-pernik permasalahan keluarga)
*Informasi dan Pendaftaran*
Bagi anda yang ingin mengikuti kelas/program ini, bisa mendaftarkan diri anda ke no.WA di bawah ini:
wa.me/62895386894755 (Ruslee)
_AlWahdah adalah lembaga Pendidikan dan Konselor Keluarga. AlWahdah menekankan satu hal yang merupakan fundamental dan esensial dalam kehidupan keluarga muslim yaitu memahami kedudukan harta di dalam keluarga._
Dari hartalah banyak terjadi masalah di dalam kehidupan keluarga muslim. Dari mulai perceraian, rebutan aset kekayaan keluarga, permusuhan antar keluarga dan lain sebagainya, yang mana hal ini tidak bisa didiamkan namun harus segera diberi edukasi dan pendidikan, bagaimana Islam sebenarnya mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah bab Harta.
Berangkat dari begitu banyaknya permasalahan yang terjadi yang berawal dari harta inilah, maka AlWahdah mengajak keluarga muslim untuk sadar dan mau belajar kembali, bagaimana seharusnya keluarga muslim itu di dalam kehidupannya, interaksi antar suami dan istri, dengan anak-anak dan dengan keluarga besar secara umum. Kemudian mulai mengatur dan mengetahui kedudukan harta yang ada di dalam keluarga. Salah satu Maqoshid Syariah adalah Hifdzul Maal yaitu menjaga harta, artinya masing-masing individu pemilik harta yang sah harus dilindungi dari hilangnya harta yang dimilikinya akibat ketidaktahuan, kejahatan yang disengaja maupun tidak disengaja yang bisa dilakukan oleh sesama keluarga.
*Visi AlWahdah*
Melahirkan generasi baru muslim untuk peradaban
*Misi AlWahdah*
1) Membumikan kembali ilmu Faraidh/Hukum Waris Islam di tengah umat.
2) Memperbaiki kondisi keluarga muslim untuk menyongsong peradaban baru Islam.
3) Menyebarkan semangat untuk Tholabul Ilm di tengah masyarakat muslim.
AlWahdah telah membuat satu program pelatihan dan training tentang KAJIAN FIKIH HARTA BENDA & MANAJEMEN KEWARISAN. Program ini bisa diikuti oleh semua keluarga muslim di seluruh Indonesia.
*Untuk Siapa Program ini*
Pertama, program ini diperuntukkan bagi keluarga muslim yang menginginkan kehidupan keluarganya sakinah mawaddah wa rahmah bahkan hingga kematiannya. Tidak terjadi perpecahan, konflik di masa depan hanya karena rebutan harta yang tidak seberapa dibanding keutuhan, kerukunan dan kedamaian keluarga besarnya.
Kedua, program ini untuk anda yang ingin menjadi Konselor keluarga, pendamping keluarga-keluarga yang membutuhkan mediasi atas terjadi sebuah masalah di dalam keluarganya.
Kurikulum Fundamental telah kami susun disesuaikan dengan kebutuhan keluarga-keluarga muslim, agar membantu dan menyelesaikan masalah yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga.
*Kurikulum Program Konselor Keluarga*
1. Sumber harta kekayaan dalam perkawinan
2. Perjanjian perkawinan menurut Islam
3. Penggunaan harta kekayaan dalam perkawinan
4. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi perceraian
5. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi kematian
6. Hak anak atas harta dalam perkawinan
*Narasumber Utama*
Drs. Sarnoto, M.Hum
(Hakim agama Senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani pernak-pernik permasalahan keluarga)
*Informasi dan Pendaftaran*
Bagi anda yang ingin mengikuti kelas/program ini, bisa mendaftarkan diri anda ke no.WA di bawah ini:
wa.me/62895386894755 (Ruslee)
WhatsApp.com
Share on WhatsApp
WhatsApp Messenger: More than 2 billion people
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
*Sholat Khusyu*
Saudaraku, ketika engkau sedang sholat, seringkali engkau dapati perkelahian dalam jiwamu, ia berkata,"Ayo cepat, cepat ('ajjil 'ajjil). Tapi jangan engkau taati (laa tuthi'haa).
Jawablah,"Aku tahu bahwa aku tidak akan mengambil manfaat dari dunia kecuali dengan waktu-waktu seperti ini dan amalan seperti ini saja".
Apabila engkau bisa menghadirkan perasaan ini dan sadar bahwa dirimu tidak akan bisa mengambil manfaat dari kehidupan ini kecuali dengannya dan amalan semisalnya, apakah engkau akan lari darinya seperti larimu dari singa atau engkau akan tenang?. Jawab jamaah, akan merasa tenang. Wahai saudaraku, pikirkan ini.
ketika engkau bertakbir, Allahu Akbar, jiwamu berkata,"Ayo ayo, cepat (masy-syi masy-syi). Wahai saudaraku, jawablah," tenang, tenang, tenang (haunaa, haunaam haunaa).
Aku tak memiliki apapun dari kehidupanku selain sholat ini, sholat inilah yang akan bermanfaat untukku saat di kubur, ketika kematian datang dan ketika hari kiamat tiba, maka tenanglah wahai saudaraku.
Lalu coba renungkan, dengan siapa engkau berbicara ketika sholat? siapa yang sedang engkau ajak bicara saudaraku? engkau sedang berbicara dengan Zat yang paling engkau cintai, Allah.
Tidakkah engkau sadar ketika engkau membaca *Alhamdulillahi rabbil'aalamiin*, ia menjawab dari atas langit ke tujuh,"Hambaku telah memujiKu (hamidanii 'abdii).
Tidakkah engkau sadar ketika engkau membaca *Arrahmaanirrahiim*, ia menjawab,"HambaKu telah menyanjungKu".
Tidaklah engkau sadar ketika engkau membaca *Maliki yaumiddiin*, Ia menjawab,"HambaKu telah mengagungkanKu".
Tidakkah engkau sadar ketika engkau membaca *Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin*, Ia menjawab,"Ayat ini adalah pembatas antara bagianKu dan bagian hambaKu".
Tidakkah engkau sadar ketika engkau membaca *Ihdinash shiraaatol mustaqiim, Ia menjawab,"Ini adalah bagian hambaKu dan untuknya apa yang ia minta". (HR. Muslim no.395).
Apakah engkau dapati ada kebaikan yang lebih baik dari ini? (Hal tajidu khairan aktsaru min haadzaa.
Bagaimana mungkin engkau berusaha lari dari Zat yang berbicara denganmu sementara Ia Maha Mampu melakukan segala sesuatu?
Demi Allah seandainya kita bisa menghadirkan perasaan ini niscaya ibadah kita akan terasa ringan. Dan pasti semua urusan dunia akan terasa ringan.
Seandainya dunia senilai dengan satu sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum orang-orang kafir.
Saudaraku, ketika engkau sedang sholat, seringkali engkau dapati perkelahian dalam jiwamu, ia berkata,"Ayo cepat, cepat ('ajjil 'ajjil). Tapi jangan engkau taati (laa tuthi'haa).
Jawablah,"Aku tahu bahwa aku tidak akan mengambil manfaat dari dunia kecuali dengan waktu-waktu seperti ini dan amalan seperti ini saja".
Apabila engkau bisa menghadirkan perasaan ini dan sadar bahwa dirimu tidak akan bisa mengambil manfaat dari kehidupan ini kecuali dengannya dan amalan semisalnya, apakah engkau akan lari darinya seperti larimu dari singa atau engkau akan tenang?. Jawab jamaah, akan merasa tenang. Wahai saudaraku, pikirkan ini.
ketika engkau bertakbir, Allahu Akbar, jiwamu berkata,"Ayo ayo, cepat (masy-syi masy-syi). Wahai saudaraku, jawablah," tenang, tenang, tenang (haunaa, haunaam haunaa).
Aku tak memiliki apapun dari kehidupanku selain sholat ini, sholat inilah yang akan bermanfaat untukku saat di kubur, ketika kematian datang dan ketika hari kiamat tiba, maka tenanglah wahai saudaraku.
Lalu coba renungkan, dengan siapa engkau berbicara ketika sholat? siapa yang sedang engkau ajak bicara saudaraku? engkau sedang berbicara dengan Zat yang paling engkau cintai, Allah.
Tidakkah engkau sadar ketika engkau membaca *Alhamdulillahi rabbil'aalamiin*, ia menjawab dari atas langit ke tujuh,"Hambaku telah memujiKu (hamidanii 'abdii).
Tidakkah engkau sadar ketika engkau membaca *Arrahmaanirrahiim*, ia menjawab,"HambaKu telah menyanjungKu".
Tidaklah engkau sadar ketika engkau membaca *Maliki yaumiddiin*, Ia menjawab,"HambaKu telah mengagungkanKu".
Tidakkah engkau sadar ketika engkau membaca *Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin*, Ia menjawab,"Ayat ini adalah pembatas antara bagianKu dan bagian hambaKu".
Tidakkah engkau sadar ketika engkau membaca *Ihdinash shiraaatol mustaqiim, Ia menjawab,"Ini adalah bagian hambaKu dan untuknya apa yang ia minta". (HR. Muslim no.395).
Apakah engkau dapati ada kebaikan yang lebih baik dari ini? (Hal tajidu khairan aktsaru min haadzaa.
Bagaimana mungkin engkau berusaha lari dari Zat yang berbicara denganmu sementara Ia Maha Mampu melakukan segala sesuatu?
Demi Allah seandainya kita bisa menghadirkan perasaan ini niscaya ibadah kita akan terasa ringan. Dan pasti semua urusan dunia akan terasa ringan.
Seandainya dunia senilai dengan satu sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum orang-orang kafir.
*Akhlaq Seorang Muslim*
Akhlak seorang muslim, dia tidak membalas keburukan dengan keburukan, membalashinaan hinaan, sebagaimana firman Allah:
*_Balaslah dengan yang lebih baik_*. (QS. Fushilat:34)
Meskipun orang-orang merendahkannya, seorang muslim tetap rahmat dan belas kasih kepada mereka (yusyfiqu 'alaihim). Mendoakan hidayah, kebaikan dan keistiqomahan tanpa mereka ketahui.
Ia juga mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan nasihat kepada mereka. Padahal mereka telah menghina (yastahji'uuna) dan merendahkannya (yaskhoruuna). Tapi ia tidak membalas dengan yang semisal (laa yu'aamiluhum bil mitsli).
Ini adalah salah satu bukti kebaikan yang dimiliki oleh orang yang mendapatkan petunjuk dan bukti ada kasih sayang di hatinya. Padahal tadi mereka menghina dan merendahkan. Tapi dia merahmati, kasihan, berharap kebaikan (yatamannaa sholaahahu), mendoakan hidayah (yad'uu lahu bilhidaayah), taufiq dan agar dapat menempuh jalan kebenaran (sabiili ar rosyaad).
Inilah jalan seorang muslim (hadzihi thoriiqotul muslimuun).
*_Balaslah dengan lebih baik, pasti musuhmu akan berubah seakan-akan teman kaaribmu._*. (QS. Fushilat:34).
Seorang mukmin itu tidak suka mencela (syaknihi at tho'nu), melaknat (al la'nu) dan merendahkan orang lain (al istihjaau).
Hadits Nabi:
Laysal mukminu bith tho'aani wa laal la'aani wa laal faahisyi wa laa badzii-i
*_Orang mukmin itu tidak suka merendahkan, melaknat, berkata kotor dan keji. (HR. Tirmidzi no.1977)
Semuanya jauh dari seorang mukmin. Perkataan orang mukmin pasti baik, ucapannya bermanfaat, ingin kebaikan untuk orang lain (naashihu linnaasi), mengarahkan orang-orang pada kebaikan (yadulluhum ilaal khair), menjelaskan jalan kebenaran (yubay yinu lahumul haqqa wal hudaa).
Inilah jalan dan metode hidupnya (hadza manhajuhu wa hadzihi thoriiqotuhu).
Akhlak seorang muslim, dia tidak membalas keburukan dengan keburukan, membalashinaan hinaan, sebagaimana firman Allah:
*_Balaslah dengan yang lebih baik_*. (QS. Fushilat:34)
Meskipun orang-orang merendahkannya, seorang muslim tetap rahmat dan belas kasih kepada mereka (yusyfiqu 'alaihim). Mendoakan hidayah, kebaikan dan keistiqomahan tanpa mereka ketahui.
Ia juga mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan nasihat kepada mereka. Padahal mereka telah menghina (yastahji'uuna) dan merendahkannya (yaskhoruuna). Tapi ia tidak membalas dengan yang semisal (laa yu'aamiluhum bil mitsli).
Ini adalah salah satu bukti kebaikan yang dimiliki oleh orang yang mendapatkan petunjuk dan bukti ada kasih sayang di hatinya. Padahal tadi mereka menghina dan merendahkan. Tapi dia merahmati, kasihan, berharap kebaikan (yatamannaa sholaahahu), mendoakan hidayah (yad'uu lahu bilhidaayah), taufiq dan agar dapat menempuh jalan kebenaran (sabiili ar rosyaad).
Inilah jalan seorang muslim (hadzihi thoriiqotul muslimuun).
*_Balaslah dengan lebih baik, pasti musuhmu akan berubah seakan-akan teman kaaribmu._*. (QS. Fushilat:34).
Seorang mukmin itu tidak suka mencela (syaknihi at tho'nu), melaknat (al la'nu) dan merendahkan orang lain (al istihjaau).
Hadits Nabi:
Laysal mukminu bith tho'aani wa laal la'aani wa laal faahisyi wa laa badzii-i
*_Orang mukmin itu tidak suka merendahkan, melaknat, berkata kotor dan keji. (HR. Tirmidzi no.1977)
Semuanya jauh dari seorang mukmin. Perkataan orang mukmin pasti baik, ucapannya bermanfaat, ingin kebaikan untuk orang lain (naashihu linnaasi), mengarahkan orang-orang pada kebaikan (yadulluhum ilaal khair), menjelaskan jalan kebenaran (yubay yinu lahumul haqqa wal hudaa).
Inilah jalan dan metode hidupnya (hadza manhajuhu wa hadzihi thoriiqotuhu).
*7 Ciri Penghuni Surga Firdaus*
1. Beriman kepada Allah dengan menjalankan segala konsekuensinya sebagai mukmin
2. Khusyu' dalam sholatnya. Sesuatu yang bernilai tinggi membutuhkan perjuangan sebagaimana khusyu' dalam sholat adalah bak intan permata berlian, harus diperjuangkan. Saat sholat pikiran harus tertuju kepada Allah, renungi ayat-ayatnya, bacaan sholat kita, rasakan kebesaran Allah, dan lemahnya kita sebagai hambaNya Allah. Nabi bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنٍ فِيْ الصَّلَاةِ
*_dan telah dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat._* (HR. An-Nasai [7/61] no. 3939, 3940, Ahmad [3/128] no. 14069. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah [3/98 dan 4/424])
3. Menjauhi diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia/tidak berguna. Di zaman sosial media ini, begitu mudahnya kita men-share sesuatu, namun seringkali kita tidak berpikir apakah yang kita share itu ada manfaatnya atau hanya sekedar candaan yang sia-sia bahkan mengarah kepada dosa. Jika kita menginginkan kehidupan yang bahagia dan menjadi penghuni surga Firdaus tentunya mulai hari ini kita lebih berhati-hati, memilah dan memilih mana yang hendak kita share. Ini hanya sebuah contoh dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia dari budaya sosmed yang serba mudah.
Seorang mukmin itu tidak suka mencela (syaknihi at tho'nu), melaknat (al la'nu) dan merendahkan orang lain (al istihjaau).
Hadits Nabi:
Laysal mukminu bith tho'aani wa laal la'aani wa laal faahisyi wa laa badzii-i
*_Orang mukmin itu tidak suka merendahkan, melaknat, berkata kotor dan keji. (HR. Tirmidzi no.1977)
4. Menunaikan zakat atas hartanya. Bagi kita yang punya penghasilan dan masuk wajib zakat, segera tunaikan kewajiban ini untuk mensucikan harta kita, karena dibalik harta yang kita peroleh ada hak orang lain yang harus disisihkan salah satunya berupa zakat yang telah ditentukan Allah besarannya. Selebihnya kita bisa bersedekah, berinfaq, berwakaf dan sebagainya.
5. Memelihara kemaluannya. Tidak mengumbar syahwat/nafsunya kecuali kepada istri-istrinya. Konten-konten porno, baik berupa gambar, video, tulisan dan sebagainya begitu mudahnya diperoleh. Maka bagi kita yang menginginkan surga Firdaus semua itu tidak membuat kita lepas kontrol, dengan membiarkan syahwat kita menikmati semua itu, padahal Allah melarangnya dan kita diminta menjaga kemaluan kita.
6. Memelihara amanah dan janjinya, baik kepada kepada manusia, apalagi terhadap amanah Allah. Hidup kita adalah amanah, maka hiduplah dengan aturan Allah dan NabiNya. Istri, anak-anak dan harta yang kita miliki adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapa Allah. Maka belajar ilmu syariat, agar kita dapat memenuhi semua amanah dan janji kita sesuai dengan yang diinginkan Allah, melalui sunnah NabiNya dan para ulama setelahnya yang merupakan waratsatul anbiyaa.
7. Memelihara sholatnya. Jangan pernah tinggalkan sholat 5 lima, lakukan dengan khusyu', menghadirkan hati dalam mendirikannya. Kemudian tambahlah dengan sholat-sholat sunat qobliyah dan ba'diyah, sholat dhuha, dan yang merupakan kebiasaan orang-orang shalih adalah sholat tahajjud.
Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjadi penghuni surga Firdaus, Allah beri kita kekuatan untuk istiqomah menjalankan ketaatan kepadaNya, bersama anak-anak dan istri-istri kita semuanya, aamiin.
( _Catatan. Baca QS al Mukminun:1-11_ )
*_Wallahu a'lam bish showaab_*
1. Beriman kepada Allah dengan menjalankan segala konsekuensinya sebagai mukmin
2. Khusyu' dalam sholatnya. Sesuatu yang bernilai tinggi membutuhkan perjuangan sebagaimana khusyu' dalam sholat adalah bak intan permata berlian, harus diperjuangkan. Saat sholat pikiran harus tertuju kepada Allah, renungi ayat-ayatnya, bacaan sholat kita, rasakan kebesaran Allah, dan lemahnya kita sebagai hambaNya Allah. Nabi bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنٍ فِيْ الصَّلَاةِ
*_dan telah dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat._* (HR. An-Nasai [7/61] no. 3939, 3940, Ahmad [3/128] no. 14069. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah [3/98 dan 4/424])
3. Menjauhi diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia/tidak berguna. Di zaman sosial media ini, begitu mudahnya kita men-share sesuatu, namun seringkali kita tidak berpikir apakah yang kita share itu ada manfaatnya atau hanya sekedar candaan yang sia-sia bahkan mengarah kepada dosa. Jika kita menginginkan kehidupan yang bahagia dan menjadi penghuni surga Firdaus tentunya mulai hari ini kita lebih berhati-hati, memilah dan memilih mana yang hendak kita share. Ini hanya sebuah contoh dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia dari budaya sosmed yang serba mudah.
Seorang mukmin itu tidak suka mencela (syaknihi at tho'nu), melaknat (al la'nu) dan merendahkan orang lain (al istihjaau).
Hadits Nabi:
Laysal mukminu bith tho'aani wa laal la'aani wa laal faahisyi wa laa badzii-i
*_Orang mukmin itu tidak suka merendahkan, melaknat, berkata kotor dan keji. (HR. Tirmidzi no.1977)
4. Menunaikan zakat atas hartanya. Bagi kita yang punya penghasilan dan masuk wajib zakat, segera tunaikan kewajiban ini untuk mensucikan harta kita, karena dibalik harta yang kita peroleh ada hak orang lain yang harus disisihkan salah satunya berupa zakat yang telah ditentukan Allah besarannya. Selebihnya kita bisa bersedekah, berinfaq, berwakaf dan sebagainya.
5. Memelihara kemaluannya. Tidak mengumbar syahwat/nafsunya kecuali kepada istri-istrinya. Konten-konten porno, baik berupa gambar, video, tulisan dan sebagainya begitu mudahnya diperoleh. Maka bagi kita yang menginginkan surga Firdaus semua itu tidak membuat kita lepas kontrol, dengan membiarkan syahwat kita menikmati semua itu, padahal Allah melarangnya dan kita diminta menjaga kemaluan kita.
6. Memelihara amanah dan janjinya, baik kepada kepada manusia, apalagi terhadap amanah Allah. Hidup kita adalah amanah, maka hiduplah dengan aturan Allah dan NabiNya. Istri, anak-anak dan harta yang kita miliki adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapa Allah. Maka belajar ilmu syariat, agar kita dapat memenuhi semua amanah dan janji kita sesuai dengan yang diinginkan Allah, melalui sunnah NabiNya dan para ulama setelahnya yang merupakan waratsatul anbiyaa.
7. Memelihara sholatnya. Jangan pernah tinggalkan sholat 5 lima, lakukan dengan khusyu', menghadirkan hati dalam mendirikannya. Kemudian tambahlah dengan sholat-sholat sunat qobliyah dan ba'diyah, sholat dhuha, dan yang merupakan kebiasaan orang-orang shalih adalah sholat tahajjud.
Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjadi penghuni surga Firdaus, Allah beri kita kekuatan untuk istiqomah menjalankan ketaatan kepadaNya, bersama anak-anak dan istri-istri kita semuanya, aamiin.
( _Catatan. Baca QS al Mukminun:1-11_ )
*_Wallahu a'lam bish showaab_*