Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dari rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui. (QS. Al A'rraf:32)
*SEJARAH SINGKAT BOYOLALI*
Demi memenuhi dahaga akan ilmu berangkatlah sepasang suami istri untuk berguru kepada Sunan Kalijaga.
Saking semangatnya sang suami untuk belajar menuntut ilmu kepada kyai, maka jalannya sangat cepat dan sang istri mengikuti kecepatan jalan suaminya.
Karena tidak seimbang kemampuan jalan istri dibanding suaminya, lama kelamaan sang istri tertinggal jauh dari suaminya. Sang istri berteriak memanggil-manggil suaminya,"Maaas, bo yo ojo lali karo aku tho maaas!". Maksud sang istri adalah janganlah melupakan dirinya sampai meninggalkan jauh dirinya di belakang. Seiring sejalanlah jalannya.
Tapi ya tak mungkin, sang suami begitu takut tak jumpa sang guru sunan Kalijaga, karena telat sedikit sang guru ada urusan lain. Namun karena rasa sayangnya juga kepada sang istri dia pun mengalah.
Sejak protes sang istri itu akhirnya dia melambatkan jalannya dan berkata kepada istrinya,"Istriku sayang, untuk mengenang tempat ini atas kegigihan kita berdua untuk menuntut ilmu maka tempat ini aku namakan *BOYOLALI*, artinya kamu merasa aku melupakanmu dengan cepatnya jalanku padahal karena semangat kita berdua untuk belajar, bermulazamah kepada sunan kalijaga. Ini agar kita dan keturunan kita mengingat kejadian ini untuk semangat menuntut ilmu, berusaha keras meraih ilmu di sejauh apapun ilmu iitu berada, meski aral melintang di hadapan.
Anas lee(keturunan Boyolali)
(*_Sumber: Majalah Ananda_*)
Demi memenuhi dahaga akan ilmu berangkatlah sepasang suami istri untuk berguru kepada Sunan Kalijaga.
Saking semangatnya sang suami untuk belajar menuntut ilmu kepada kyai, maka jalannya sangat cepat dan sang istri mengikuti kecepatan jalan suaminya.
Karena tidak seimbang kemampuan jalan istri dibanding suaminya, lama kelamaan sang istri tertinggal jauh dari suaminya. Sang istri berteriak memanggil-manggil suaminya,"Maaas, bo yo ojo lali karo aku tho maaas!". Maksud sang istri adalah janganlah melupakan dirinya sampai meninggalkan jauh dirinya di belakang. Seiring sejalanlah jalannya.
Tapi ya tak mungkin, sang suami begitu takut tak jumpa sang guru sunan Kalijaga, karena telat sedikit sang guru ada urusan lain. Namun karena rasa sayangnya juga kepada sang istri dia pun mengalah.
Sejak protes sang istri itu akhirnya dia melambatkan jalannya dan berkata kepada istrinya,"Istriku sayang, untuk mengenang tempat ini atas kegigihan kita berdua untuk menuntut ilmu maka tempat ini aku namakan *BOYOLALI*, artinya kamu merasa aku melupakanmu dengan cepatnya jalanku padahal karena semangat kita berdua untuk belajar, bermulazamah kepada sunan kalijaga. Ini agar kita dan keturunan kita mengingat kejadian ini untuk semangat menuntut ilmu, berusaha keras meraih ilmu di sejauh apapun ilmu iitu berada, meski aral melintang di hadapan.
Anas lee(keturunan Boyolali)
(*_Sumber: Majalah Ananda_*)
Semakin tinggi tujuan, semakin cepat langkah.
1. Cari rezeki, dalam Al Qur'an disebutkan *Berjalanlah*(al Mulk:15)
2. Menuju sholat, *Bergegaslah*(al Jumu'ah:9)
3. Cari ampunan, *Berlomba-lombalah*(al Hadis:21)
4. Menuju Allah, *Berlarilah sekencangnya*(adz Dzariyat:50)
1. Cari rezeki, dalam Al Qur'an disebutkan *Berjalanlah*(al Mulk:15)
2. Menuju sholat, *Bergegaslah*(al Jumu'ah:9)
3. Cari ampunan, *Berlomba-lombalah*(al Hadis:21)
4. Menuju Allah, *Berlarilah sekencangnya*(adz Dzariyat:50)
*Bergantunglah Hanya Kepada Allah*
Di antara sebab yang membuat hati orang beriman bersandar dan bertawakkal kepada Allah adalah perenungan terhadap keadaan manusia.
Memperhatikan bagaimana takdir Allah membuat mereka berbeda-beda.
Kenapa si A kaya tapi si B miskin. Padahal si miskin lebih giat bekerja, lebih pintar dan lebih cerdas?. Apa yang membuat harta benda dan dunia, datang kepada si kaya dan tidak datang kepada si miskin?. Allah.
Kemudian di antara yang membantumu yakin untuk bertawakkal adalah perenungan terhadap kehidupan para hewan. Bagaimana Allah memudahkan rezeki mereka. Rezeki mendatangi mereka dalam keadaan mereka berada di sarangnya.
*_Tidak ada satupun makhluk melata di bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya. Allah tahu sarangnya dan gudang makanannya. Semua ada di kitab Lauh Mahfuzh._*
(QS. Hud:6)
Kemudian di antara sebab yang membuatmu yakin untuk bertawakkal adalah perenunganmu terhadap akhir kisah ahli tawakkal. Para Nabi ketika mereka bertawakkal kepada Allah, Allah jaga mereka dari kejahatan para musuhnya.
ALlah bercerita tentang Nuh As:
*_Wahai kaumku, apabila kalian tidak terima aku tinggal bersama kalian dan tidak terima dengan dakwahku, maka aku bertawakkal kepada Allah. Silahkan, kalian putuskan dan himpun kekuatan untuk membinasakanku. Keputusan kalian tidak perlu dirahasiakan. Kemudian segeralah menindakku dan jangan tunda-tunda lagi._* (QS. Yunus:71)
Ternyata, meskipun demikian Nuh lah yang selamat,
Yaitu ketika Allah binasakan kaumnya dengan ditenggelamkan, Allah selamatkan dia dan pengikutnya dengan kapal.
Kemudian di antara sebab yang membuat yakin untuk bertawakkal adalah perenungan terhadap perintah-perintah al Quran yang begitu banyak untuk menggapai derajat ahli taqwa.
Allah berfirman:
*_Wahai Nabi, cukuplah Allah yang menjadi pelindungmu dan pelindung para pengikutmu yang beriman._*
(QS.al Anfal:64)
Maksud ayat ini adalah barangsiapa yang menjadi pengikut Nabi, maka Allahlah yang akan menjadi pelindungnya.
Apabila Allah telah benar-benar melindungimu dan menyelesaikan seluruh urusanmu, kenapa kamu tidak bertawakkal saja kepada Allah? Sungguh tawakkal itu menjadi magnet kebaikan dunia dan akhirat.
Firman Allah:
*_Barangsiapa bertawakkal maka pasti Allah mencukupinya. Sungguh Allah mampu melaksanakan urusanNya.Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu._*
(at Thalaq:3)
Tawakkal adalah satu satu sebab cinta Allah kepadamu. Sebagaimana firman Allah:
*_Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal._*
(QS. Ali Imran:159)
Tawakkal adalah satu satu sebab masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab. Nabi menyebutkan bahwa dari umatnya akan masuk surga 70 ribu orag tanpa hisab dan tanpa adzab. Kemudian beliau sebutkan sifat mereka:
1. Mereka tidak meminta di ruqyah
2. Mereka tidak beranggapan sial
3. Mereka tidak meminta diobati dengan kay
4. Mereka adalah ahli tawakkal. (HR. Bukhari no.5705 dan Muslim no.220)
Apabila engkau ingin masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab kecuali engkau sudah mencapai derajat ahli tawakkal. Apabila seseorang memperhatikan sebab-sebab yang pernah dilakukan, terkadang berhasil dan terkadang tidak.
Alangkah banyaknya orang berjualan suat benda, ia sangka akan mendatangkan untung banyak tapi nyatanya justru dia malah rugi banyak. Begitu juga alangkah banyaknya manusia yang berdagang, ia merasa tidak akan untung, tidak terlalu mencari banyak keuntungan, tapi ternyata perdagangannya mendatangkan manfaat yang banyak dan keuntungan yang besar. Mengapa bisa demikian? itu karena takdir Allah.
Sebab hanya akan mendatangkan keberhasilan ketika Allah menghendakinya.
Jadi apabila sebab tidak bisa berpengaruh dengan sendirinya, tapi hasil hanya berpengaruh dengan kehendak Allah, maka sandarkanlah hatimu kepada Allah ketika engkau melakukan suatu sebab atau usaha. Ketika seorang hamba menyadari bahwa dirinya fakir dan lemah dan bahwasanya Rabbnya Maha Kuat dan Maha Kaya, maka dia pasti akan menyandarkan hatinya kepada Rabbnya.
Di antara sebab yang membuat hati orang beriman bersandar dan bertawakkal kepada Allah adalah perenungan terhadap keadaan manusia.
Memperhatikan bagaimana takdir Allah membuat mereka berbeda-beda.
Kenapa si A kaya tapi si B miskin. Padahal si miskin lebih giat bekerja, lebih pintar dan lebih cerdas?. Apa yang membuat harta benda dan dunia, datang kepada si kaya dan tidak datang kepada si miskin?. Allah.
Kemudian di antara yang membantumu yakin untuk bertawakkal adalah perenungan terhadap kehidupan para hewan. Bagaimana Allah memudahkan rezeki mereka. Rezeki mendatangi mereka dalam keadaan mereka berada di sarangnya.
*_Tidak ada satupun makhluk melata di bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya. Allah tahu sarangnya dan gudang makanannya. Semua ada di kitab Lauh Mahfuzh._*
(QS. Hud:6)
Kemudian di antara sebab yang membuatmu yakin untuk bertawakkal adalah perenunganmu terhadap akhir kisah ahli tawakkal. Para Nabi ketika mereka bertawakkal kepada Allah, Allah jaga mereka dari kejahatan para musuhnya.
ALlah bercerita tentang Nuh As:
*_Wahai kaumku, apabila kalian tidak terima aku tinggal bersama kalian dan tidak terima dengan dakwahku, maka aku bertawakkal kepada Allah. Silahkan, kalian putuskan dan himpun kekuatan untuk membinasakanku. Keputusan kalian tidak perlu dirahasiakan. Kemudian segeralah menindakku dan jangan tunda-tunda lagi._* (QS. Yunus:71)
Ternyata, meskipun demikian Nuh lah yang selamat,
Yaitu ketika Allah binasakan kaumnya dengan ditenggelamkan, Allah selamatkan dia dan pengikutnya dengan kapal.
Kemudian di antara sebab yang membuat yakin untuk bertawakkal adalah perenungan terhadap perintah-perintah al Quran yang begitu banyak untuk menggapai derajat ahli taqwa.
Allah berfirman:
*_Wahai Nabi, cukuplah Allah yang menjadi pelindungmu dan pelindung para pengikutmu yang beriman._*
(QS.al Anfal:64)
Maksud ayat ini adalah barangsiapa yang menjadi pengikut Nabi, maka Allahlah yang akan menjadi pelindungnya.
Apabila Allah telah benar-benar melindungimu dan menyelesaikan seluruh urusanmu, kenapa kamu tidak bertawakkal saja kepada Allah? Sungguh tawakkal itu menjadi magnet kebaikan dunia dan akhirat.
Firman Allah:
*_Barangsiapa bertawakkal maka pasti Allah mencukupinya. Sungguh Allah mampu melaksanakan urusanNya.Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu._*
(at Thalaq:3)
Tawakkal adalah satu satu sebab cinta Allah kepadamu. Sebagaimana firman Allah:
*_Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal._*
(QS. Ali Imran:159)
Tawakkal adalah satu satu sebab masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab. Nabi menyebutkan bahwa dari umatnya akan masuk surga 70 ribu orag tanpa hisab dan tanpa adzab. Kemudian beliau sebutkan sifat mereka:
1. Mereka tidak meminta di ruqyah
2. Mereka tidak beranggapan sial
3. Mereka tidak meminta diobati dengan kay
4. Mereka adalah ahli tawakkal. (HR. Bukhari no.5705 dan Muslim no.220)
Apabila engkau ingin masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab kecuali engkau sudah mencapai derajat ahli tawakkal. Apabila seseorang memperhatikan sebab-sebab yang pernah dilakukan, terkadang berhasil dan terkadang tidak.
Alangkah banyaknya orang berjualan suat benda, ia sangka akan mendatangkan untung banyak tapi nyatanya justru dia malah rugi banyak. Begitu juga alangkah banyaknya manusia yang berdagang, ia merasa tidak akan untung, tidak terlalu mencari banyak keuntungan, tapi ternyata perdagangannya mendatangkan manfaat yang banyak dan keuntungan yang besar. Mengapa bisa demikian? itu karena takdir Allah.
Sebab hanya akan mendatangkan keberhasilan ketika Allah menghendakinya.
Jadi apabila sebab tidak bisa berpengaruh dengan sendirinya, tapi hasil hanya berpengaruh dengan kehendak Allah, maka sandarkanlah hatimu kepada Allah ketika engkau melakukan suatu sebab atau usaha. Ketika seorang hamba menyadari bahwa dirinya fakir dan lemah dan bahwasanya Rabbnya Maha Kuat dan Maha Kaya, maka dia pasti akan menyandarkan hatinya kepada Rabbnya.
*_Wahai manusia, kalian sangat fakir kepada Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji._* (QS. Fathir:15)
Apabila kita sudah tahu tawakkal sangat penting sekali, lalu bagaimana bentuk tawakkal?
Di antaranya dengan menjadikan hati selalu bergantung kepada Allah ada kondisi apapun. Dia menyadari bahwa tidak ada yang terjadi di alam semesta ini kecuali dengan perintah dan takdir Allah.
Dan bahwasanya sebab bukanlah yang mengantarkan kepada hasil dengan sendirinya. Tapi yang mengantarkan kepada hasil adalah Allah.
Apabila kita sudah tahu tawakkal sangat penting sekali, lalu bagaimana bentuk tawakkal?
Di antaranya dengan menjadikan hati selalu bergantung kepada Allah ada kondisi apapun. Dia menyadari bahwa tidak ada yang terjadi di alam semesta ini kecuali dengan perintah dan takdir Allah.
Dan bahwasanya sebab bukanlah yang mengantarkan kepada hasil dengan sendirinya. Tapi yang mengantarkan kepada hasil adalah Allah.
*Harta adalah hibah dari Allah.*
Ada yang berkata,"Bukan, aku mendapatkannya karena kerajinanku, keterampilanku, ilmuku dan kemampuanku".
Seperti ucapan Qorun:
*_Sungguh, aku diberi harta ini karena ilmu yang kumiliki._*
Demi Allah, di luar sana ada orang yang lebih diplomatis darimu, ada yang lebih cerdas darimu, ada yang lebih banyak darimu, tapi ternyata mereka tidak diberikan harta sebanyak dirimu.
Kamu pasti sudah melihat mereka, maka kita perlu mengakui bahwa harta kekayaan kita adalah pemberian Allah. Harta kekayaan kita bukan karena sebab kerajinan dan kemampuan kita.
Harta kekayaan kita adalah karunia dari Allah Ta'aala.
Firman Allah:
*_Dan kami bantu kalian dengan harta kekayaan dan anak keturunan. Sehingga kami jadikan kalian mayoritas. Apabila kalian berbuat kebajikan maka itu untuk diri kalian sendiri dan apabila kalian berbuat keburukan maka itu juga untuk kalian sendiri_*
(QS. al Isra:6-7)
Ada yang berkata,"Bukan, aku mendapatkannya karena kerajinanku, keterampilanku, ilmuku dan kemampuanku".
Seperti ucapan Qorun:
*_Sungguh, aku diberi harta ini karena ilmu yang kumiliki._*
Demi Allah, di luar sana ada orang yang lebih diplomatis darimu, ada yang lebih cerdas darimu, ada yang lebih banyak darimu, tapi ternyata mereka tidak diberikan harta sebanyak dirimu.
Kamu pasti sudah melihat mereka, maka kita perlu mengakui bahwa harta kekayaan kita adalah pemberian Allah. Harta kekayaan kita bukan karena sebab kerajinan dan kemampuan kita.
Harta kekayaan kita adalah karunia dari Allah Ta'aala.
Firman Allah:
*_Dan kami bantu kalian dengan harta kekayaan dan anak keturunan. Sehingga kami jadikan kalian mayoritas. Apabila kalian berbuat kebajikan maka itu untuk diri kalian sendiri dan apabila kalian berbuat keburukan maka itu juga untuk kalian sendiri_*
(QS. al Isra:6-7)
*Nasehat Syaikh Shalih Al Utsaimin Tentang Menuntut Ilmu*
*_Manusia yang bodoh tidak mungkin bisa beribadah kepada Allah (dengan benar) hingga mengilmui syariat._*
Ia juga tidak akan mungkin memperlakukan orang lain dengan adil hingga mengilmui syariat Allah.
Ia juga tidak akan mungkin memiliki akhlak mulia, hingga mengilmui syariat Allah.
Belajar syariat Allah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi manusia. Sehingga saat mempelajarinya, ia harus meniatkan untuk menghilangkan kebodohan dirinya.
Karena (sekali lagi) kebutuhannya terhadap hal ini sangat mendesak.
*_Manusia yang bodoh tidak mungkin bisa beribadah kepada Allah (dengan benar) hingga mengilmui syariat._*
Ia juga tidak akan mungkin memperlakukan orang lain dengan adil hingga mengilmui syariat Allah.
Ia juga tidak akan mungkin memiliki akhlak mulia, hingga mengilmui syariat Allah.
Belajar syariat Allah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi manusia. Sehingga saat mempelajarinya, ia harus meniatkan untuk menghilangkan kebodohan dirinya.
Karena (sekali lagi) kebutuhannya terhadap hal ini sangat mendesak.
*Nasihat Syaikh Abdurrozzaq al Badr Tentang Doa*
Saudara-saudaraku yang mulia, ada perkara penting yang perlu kita perhatikan ketika berdoa.
Yaitu perasaan bahwa doa itu adalah kunci seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.
Bahkan salah seorang ulama salaf pernah mengucapkan perkataan yang menakjubkan tentang hal ini.
Beliau berkata,"Saya perhatikan tentang hal-hal baik. Ternyata jumlahnya sangat banyak. Sholat, haji, zakat, sedekah, semua adalah kebaikan. Dan ternyata semuanya berada di tangan Allah
Maka sayapun yakin, hanya doalah yang menjadi kunci seluruh kebaikan dunia dan akhirat.
Oleh karenanya ketika anda berdoa kepada Allah, yakinlah hal ini dengan seyakin-yakinnya.
Kebaikan agama, dunia dan akhirat, semuanya berada di tangan Allah. Dan semua urusan anda hanya akan baik ketika Allah memperbaikinya. Kelancaran urusan anda berada di tangan Allah. Maka ketika anda berdoa, hadirkan perasaan sangat butuh kepada Allah.
Begitu juga perasaaan (tidak bisa hidup) tanpa berdoa, bersandar dan bergantung kepadaNya.
Dalam sebuah doa:
*_Ya Allah, rahmatMu aku harapkan, maka jangan engkau pasarahkan urusanku kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata._*
(HR. Abu Dawud no.5090)
Setiap saat anda sangat membutuhkan Allah. Maka di antara doa yang saya rekomendasikan untuk dibaca pada esok hari (hari Arafah) dan hari-hari setelahnya, doanya ada di shahih Muslim:
*_Ya Allah perbaiki agamaku yang merupakan pegangan inti urusanku, perbaiki duniaku yang di situlah kehidupanku saat ini, perbaikilah akhiratku yang di sana lah tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan sebagai sarana yang bisa aku gunakan untuk menambah kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahatku dari seluruh keburukan._*
(HR. Muslim no.2720)
Doa ini, demi Allah seluruh kebaikan dunia, agama da kebaikan akhirat tergabung padanya. Berdoalah dengan doa ini dalam keadaan yakin bahwa sedikitpun dari urusan anda tidak akan baik, kecuali jika Allah memperbaikinya.
Dalam doa lain:
*_Perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau._* (HR. Abu Dawud no. 5090)
Ada perasaan sangat butuh pada doa ini. Oleh karenanya di antara hal paling penting ketika berdoa adalah perasaan sangat butuh kepada ALlah. Peyandaran dan penyerahan seluruh urusan kepada Allah.
Ada doa dari Nabi SAW yang menegaskan makna ini, dan seluruh doa sebenarnya menegaskan makna ini tadi:
*_Ya Allah perbaikilah akhir dari seluruh urusanku dan lindungi aku dari kehinaan dunia dan adzab akhirat._*
(HR. Ahmad no.17628).
Seluruh kebaikan dikandung oleh doa ini. Dan seluruh perlindungan dari keburukan dikandung doa ini.
Inilah keyakinan penting yang hendaknya dihadirkan ketika berdoa yaitu bahwa doa adalah kunci seluruh kebaikan.
Kesempatan sangat besar untuk memohon seluruh kebaikan dengan doa-doa yang mencakup banyak hal seperti ini pada hari doa besok (hari Arafah).
Kita fokus untuk berdoa dengan doa-doa yang sarat makna dari Nabi SAW.
*_Aisyah berkata, Nabi itu sangat menyukai doa yang sarat makna dan meninggalkan selainnya._* (HR. Ahmad no.25151)
Saudara-saudaraku yang mulia, ada perkara penting yang perlu kita perhatikan ketika berdoa.
Yaitu perasaan bahwa doa itu adalah kunci seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.
Bahkan salah seorang ulama salaf pernah mengucapkan perkataan yang menakjubkan tentang hal ini.
Beliau berkata,"Saya perhatikan tentang hal-hal baik. Ternyata jumlahnya sangat banyak. Sholat, haji, zakat, sedekah, semua adalah kebaikan. Dan ternyata semuanya berada di tangan Allah
Maka sayapun yakin, hanya doalah yang menjadi kunci seluruh kebaikan dunia dan akhirat.
Oleh karenanya ketika anda berdoa kepada Allah, yakinlah hal ini dengan seyakin-yakinnya.
Kebaikan agama, dunia dan akhirat, semuanya berada di tangan Allah. Dan semua urusan anda hanya akan baik ketika Allah memperbaikinya. Kelancaran urusan anda berada di tangan Allah. Maka ketika anda berdoa, hadirkan perasaan sangat butuh kepada Allah.
Begitu juga perasaaan (tidak bisa hidup) tanpa berdoa, bersandar dan bergantung kepadaNya.
Dalam sebuah doa:
*_Ya Allah, rahmatMu aku harapkan, maka jangan engkau pasarahkan urusanku kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata._*
(HR. Abu Dawud no.5090)
Setiap saat anda sangat membutuhkan Allah. Maka di antara doa yang saya rekomendasikan untuk dibaca pada esok hari (hari Arafah) dan hari-hari setelahnya, doanya ada di shahih Muslim:
*_Ya Allah perbaiki agamaku yang merupakan pegangan inti urusanku, perbaiki duniaku yang di situlah kehidupanku saat ini, perbaikilah akhiratku yang di sana lah tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan sebagai sarana yang bisa aku gunakan untuk menambah kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahatku dari seluruh keburukan._*
(HR. Muslim no.2720)
Doa ini, demi Allah seluruh kebaikan dunia, agama da kebaikan akhirat tergabung padanya. Berdoalah dengan doa ini dalam keadaan yakin bahwa sedikitpun dari urusan anda tidak akan baik, kecuali jika Allah memperbaikinya.
Dalam doa lain:
*_Perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau._* (HR. Abu Dawud no. 5090)
Ada perasaan sangat butuh pada doa ini. Oleh karenanya di antara hal paling penting ketika berdoa adalah perasaan sangat butuh kepada ALlah. Peyandaran dan penyerahan seluruh urusan kepada Allah.
Ada doa dari Nabi SAW yang menegaskan makna ini, dan seluruh doa sebenarnya menegaskan makna ini tadi:
*_Ya Allah perbaikilah akhir dari seluruh urusanku dan lindungi aku dari kehinaan dunia dan adzab akhirat._*
(HR. Ahmad no.17628).
Seluruh kebaikan dikandung oleh doa ini. Dan seluruh perlindungan dari keburukan dikandung doa ini.
Inilah keyakinan penting yang hendaknya dihadirkan ketika berdoa yaitu bahwa doa adalah kunci seluruh kebaikan.
Kesempatan sangat besar untuk memohon seluruh kebaikan dengan doa-doa yang mencakup banyak hal seperti ini pada hari doa besok (hari Arafah).
Kita fokus untuk berdoa dengan doa-doa yang sarat makna dari Nabi SAW.
*_Aisyah berkata, Nabi itu sangat menyukai doa yang sarat makna dan meninggalkan selainnya._* (HR. Ahmad no.25151)
*Menggabungkan Tawakal dan Usaha*
Ada 2 hal:
1. Tawakal. Ini didahulukan sebelum usaha lain.
2. Melakukan usaha yang efektif dan bermanfaat.
Firman Allah:
*_Bersiap siagalah kalian._*
(QS. an Nisaa:71)
Di sini Allah perintahkan untuk mengusahakan sebab yang efektif dan bermanfaat. Jadi mengusahakan sebab adalah salah satu perintah Allah.
Jadi harus terkumpul 2 hal yaitu 1) Ketawakalan dan melimpahkan semua urusan kepada Allah. 2) melakukan usaha yang bermanfaat.
Kita jangan hanya tawakal tanpa melakukan usaha. Dan jangan usaha saja tanpa tawakal. Dua hal ini harus bersatu.
Ada 2 hal:
1. Tawakal. Ini didahulukan sebelum usaha lain.
2. Melakukan usaha yang efektif dan bermanfaat.
Firman Allah:
*_Bersiap siagalah kalian._*
(QS. an Nisaa:71)
Di sini Allah perintahkan untuk mengusahakan sebab yang efektif dan bermanfaat. Jadi mengusahakan sebab adalah salah satu perintah Allah.
Jadi harus terkumpul 2 hal yaitu 1) Ketawakalan dan melimpahkan semua urusan kepada Allah. 2) melakukan usaha yang bermanfaat.
Kita jangan hanya tawakal tanpa melakukan usaha. Dan jangan usaha saja tanpa tawakal. Dua hal ini harus bersatu.
*AMALAN HATI - IKHLAS*
Makna Ikhlas adalah kamu beramal untuk mencari ridho Allah (anturiidu bi a'maalika ridhollah) dan meraih pahala akhirat (Walhushuula 'alaa ajril aakhirah).
Ikhlas ada 2 syaratnya:
1. Berharap ridho Allah (turiid Ridhollah) dan Allah ridho kepadamu ('an Yardhollahu 'anka)
2. Berharap mendapatkan pahala akhirat (turiid 'an tahshula 'alaal ajril ukhrowiy)
لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
*_Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar._* (An Nisaa:114)
وَمَنۡ اَرَادَ الۡاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَاُولٰۤٮِٕكَ كَانَ سَعۡيُهُمۡ مَّشۡكُوۡرًا
*_Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik._* (Al Isra:19)
Jadikanlah keikhlasan ada dalam seluruh nafas kehidupanmu (Fal ikhlaas ij'al fii hayaatika kullihaa)
وَمَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَـهُ الدِّيۡنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيۡنُ الۡقَيِّمَةِ
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).(al Bayyinah:5)
Ingat baik-baik hal ini, jangan sampai kalian menyia-nyiakan amal kalian, gara-gara tidak memiliki ilmu tentang hal ini. Jadikanlah seluruh kehidupanmu untuk Allah.
Engkau diciptakan Allah untuk ibadah, bukankah begitu?
وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(Adz Dzariyaat:56)
Jadikanlah hidupmu untuk Allah, sebagaimana firmanNya:
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
لَا شَرِيۡكَ لَهٗۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرۡتُ وَاَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِيۡنَ
162. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
163. tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).(QS. al An'aam:162-163)
Cek kehidupanmu agar engkau bisa menilai dirimu, berapa nilaimu dalam bab ikhlas.
Kalian sholat, untuk siapa? karena Allah. Kenapa kalian sholat karena Allah? kalian ingin pahala akhirat dan ingin ridho Allah. Bukankah begitu? bagus, nilai kalian sempurna, kalau kalian jujur.
Setelah sholat, apa yang kalian lakukan? Berdoa? baik. Apa doa kalian? Ya Allah mudahkanlah urusanku (Allahumma yassirlii umuurii), Ya Allah. Benar atau tidak?apa niat kalian? ketika engkau berdoa, Ya Allah berilah hamba rezeki. Engkau ingin uang? jadi engkau hanya ingin dunia?kalau begitu berarti engkau tidak mendapat pahala.
Ketika engkau berdoa, meskipun untuk urusan dunia, niatkan untuk mencari ridho Allah (tad'uu liturdhiyallah). Karena Allah memerintahkan untuk berdoa:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُوۡنِىۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَـكُمۡؕ اِنَّ الَّذِيۡنَ يَسۡتَكۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِىۡ سَيَدۡخُلُوۡنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيۡنَ
Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Ghaafir:50)
Jadi bukan untuk urusan dunia saja.
Ya Allah naikkan jabatanku! untuk apa? agar aku lebih terhormat. Jadi engkau hanya meniatkan dunia, maka tidak ada sedikitpun pahala akhirat untukmu. Kenapa? karena tidak ada niat untuk akhirat.
Makna Ikhlas adalah kamu beramal untuk mencari ridho Allah (anturiidu bi a'maalika ridhollah) dan meraih pahala akhirat (Walhushuula 'alaa ajril aakhirah).
Ikhlas ada 2 syaratnya:
1. Berharap ridho Allah (turiid Ridhollah) dan Allah ridho kepadamu ('an Yardhollahu 'anka)
2. Berharap mendapatkan pahala akhirat (turiid 'an tahshula 'alaal ajril ukhrowiy)
لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
*_Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar._* (An Nisaa:114)
وَمَنۡ اَرَادَ الۡاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَاُولٰۤٮِٕكَ كَانَ سَعۡيُهُمۡ مَّشۡكُوۡرًا
*_Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik._* (Al Isra:19)
Jadikanlah keikhlasan ada dalam seluruh nafas kehidupanmu (Fal ikhlaas ij'al fii hayaatika kullihaa)
وَمَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَـهُ الدِّيۡنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيۡنُ الۡقَيِّمَةِ
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).(al Bayyinah:5)
Ingat baik-baik hal ini, jangan sampai kalian menyia-nyiakan amal kalian, gara-gara tidak memiliki ilmu tentang hal ini. Jadikanlah seluruh kehidupanmu untuk Allah.
Engkau diciptakan Allah untuk ibadah, bukankah begitu?
وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(Adz Dzariyaat:56)
Jadikanlah hidupmu untuk Allah, sebagaimana firmanNya:
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
لَا شَرِيۡكَ لَهٗۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرۡتُ وَاَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِيۡنَ
162. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
163. tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).(QS. al An'aam:162-163)
Cek kehidupanmu agar engkau bisa menilai dirimu, berapa nilaimu dalam bab ikhlas.
Kalian sholat, untuk siapa? karena Allah. Kenapa kalian sholat karena Allah? kalian ingin pahala akhirat dan ingin ridho Allah. Bukankah begitu? bagus, nilai kalian sempurna, kalau kalian jujur.
Setelah sholat, apa yang kalian lakukan? Berdoa? baik. Apa doa kalian? Ya Allah mudahkanlah urusanku (Allahumma yassirlii umuurii), Ya Allah. Benar atau tidak?apa niat kalian? ketika engkau berdoa, Ya Allah berilah hamba rezeki. Engkau ingin uang? jadi engkau hanya ingin dunia?kalau begitu berarti engkau tidak mendapat pahala.
Ketika engkau berdoa, meskipun untuk urusan dunia, niatkan untuk mencari ridho Allah (tad'uu liturdhiyallah). Karena Allah memerintahkan untuk berdoa:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُوۡنِىۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَـكُمۡؕ اِنَّ الَّذِيۡنَ يَسۡتَكۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِىۡ سَيَدۡخُلُوۡنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيۡنَ
Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Ghaafir:50)
Jadi bukan untuk urusan dunia saja.
Ya Allah naikkan jabatanku! untuk apa? agar aku lebih terhormat. Jadi engkau hanya meniatkan dunia, maka tidak ada sedikitpun pahala akhirat untukmu. Kenapa? karena tidak ada niat untuk akhirat.
Nabi bersabda:
Bagi setiap orang apa yang ia niatkan (wa innamaa likullim ri-im maanawaa). (HR. Bukhari no.1 dan Muslim no.1097)
Berapa nilai keikhlasan kalian di bab doa ini? masing-masing menilai dirinya sendiri.
Setelah berdoa, duduk untuk berdzikir membaca zikir pagi. Apa niat kalian ketika membaca zikir pagi? kami takut dengan para penyihir, jin, dll. Maka kita katakan," Saudaraku baru saja kami katakan, takutlah hanya kepada Allah, tapi kamu malah takut dari makhluk? terlebih lagi, ternyata niatmu ketika membaca zikir pagi hanya untuk dunia. Sehingga kamu tidak mendapatkan pahala akhirat sama sekali.
Saya sudah duduk 15 atau 30 menit setelah subuh. Untuk membaca zikir pagi, tetapi tidak dapat pahala? ya karena kamu tidak meniatkan pahala akhirat ketika membacanya. Apakah ada niat untuk menjadi shalih dan berkedudukan tinggi di akhirat? tidak sama sekali. Kamu menyia-nyiakannya. Tidak ada pahala akhirat karena kamu tidak meniatkannya.
Setelah itu, apa aktivitasmu? mengantar keluarga/anak ke sekolah atau aku sendiri juga berangkat ke sekolah/kantor atau aku membelikan sarapan untuk keluarga. Kenapa kamu lakukan itu? karena mereka adalah keluargaku. Ku tanya lagi, kenapa? karena mereka keluargaku. Kenapa engkau tidak berniat untuk membuat Allah ridho dengan aktivitasmu itu?.
Allah yang memerintahkanmu agar menafkahi keluarga. Sebagaimana dalam hadits:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
Cukuplah seseorang berdosa karena menyia-nyiakan orang yang ia tanggung. (HR. Abu Dawud no.1692)
Ketika kamu membelikan sarapan, wahai saudaraku, niatkan untuk membuat Allah ridho.
Berapa nilai kalian dalam aktivitas ini tadi?
Ketika kamu berangkat kerja dan tidak telat, apa niatmu? Demi Allah, aku hanya ingin gaji saja. Apa komentar kita/ kita katakan, kasian, dia menyia-nyiakan pahala yang sangat banyak.
Allah yang memerintahkanmu untuk bekerja profesional (bi itqooni 'amalika). Allah yang memerintahkanmu agar berbuat baik kepada orang lain. Berbuatlah kepada mereka dengan perantara pekerjaanmu. Allah yang memerintahkanmu agar bekerja dengan sebaik-baiknya. Harapkan pahala dan niatkan untuk mendapat ridho Allah. Harapkan agar bisa meraih pahala akhirat. Berapa nilai kalian pada pekerjaan kalian ini?
Setelah zhuhu, beli nasi kabsyah, daging dan sayur untuk makan siang. Apa niatmu? aku lapaar. Hanya itu saja? kamu hanya memikirkan perut? engkau telah menyamakan dirimu dengan binatang.
Saudaraku, perbaikilah niatmu ('addil niyyaataka).
Allah memerintahkanmu untuk memperkuat badan agar bisa melaksanakan berbagai kewajiban. Taatilah Allah dan carilah keridhoanNya pada aktivitas makanmu. Agar setiap butir nasi yang engkau makan tercatat sebagai amal kebaikan. Berapa nilai keikhlasan kalian pada aktivitas makan tersebut? masih juga menyia-nyiakan pahalanya?
Kemudian setelah ashar, berkunjung ke keluarga si A dan si B, apa niat kalian? karena itulah tugas kami. Engkau lupa dengan perkataanku di awal tadi tetang cinta karena Allah?
Ada pahala besar membuat ALlah ridho ketika engkau berkunjung.
Dalam hadits:
Kecintaanku wajib didapat orang yang saling berkunjung, karena Aku(Allah).
Masih juga menyia-nyiakan pahala ini?
Di malam hari apa aktivitas kalian? terkadang menghadiri walimah si A dan terkadang undangan makan si B, apa niatmu? lupa untuk mengatakan," Allah mmerintahkanku untuk menghadiri undangan? sehingga aku menghadirinya karena taat kepada Allah dan mengharap ridhoNya. Kemarin-kemarin apa niat kalian? kalian yang tahu , tulis nilaimu. Berapa nilaimu.
Kemudian setelah itu,"Aku tidur. Apa niatmu ketika tidur? aku capek, makanya aku tidur. Kamu lupa untuk berniat mengharap ridho Allah dengan aktivitas tidurmu? bahwa tidur itu akan menguatkanmu dalam ketaatan kepada Allah? silahkan ambil contoh amal lainnya.
Mengadakan walimah. Apa niatmu? agar orang-orang tahu aku sudah menikah, Kamu lupa? bahwa memberi makan, memuliakan tamu, merupakan ibadah yag membuat Allah ridho dan menghasilkan pahala akhirat?
Bagi setiap orang apa yang ia niatkan (wa innamaa likullim ri-im maanawaa). (HR. Bukhari no.1 dan Muslim no.1097)
Berapa nilai keikhlasan kalian di bab doa ini? masing-masing menilai dirinya sendiri.
Setelah berdoa, duduk untuk berdzikir membaca zikir pagi. Apa niat kalian ketika membaca zikir pagi? kami takut dengan para penyihir, jin, dll. Maka kita katakan," Saudaraku baru saja kami katakan, takutlah hanya kepada Allah, tapi kamu malah takut dari makhluk? terlebih lagi, ternyata niatmu ketika membaca zikir pagi hanya untuk dunia. Sehingga kamu tidak mendapatkan pahala akhirat sama sekali.
Saya sudah duduk 15 atau 30 menit setelah subuh. Untuk membaca zikir pagi, tetapi tidak dapat pahala? ya karena kamu tidak meniatkan pahala akhirat ketika membacanya. Apakah ada niat untuk menjadi shalih dan berkedudukan tinggi di akhirat? tidak sama sekali. Kamu menyia-nyiakannya. Tidak ada pahala akhirat karena kamu tidak meniatkannya.
Setelah itu, apa aktivitasmu? mengantar keluarga/anak ke sekolah atau aku sendiri juga berangkat ke sekolah/kantor atau aku membelikan sarapan untuk keluarga. Kenapa kamu lakukan itu? karena mereka adalah keluargaku. Ku tanya lagi, kenapa? karena mereka keluargaku. Kenapa engkau tidak berniat untuk membuat Allah ridho dengan aktivitasmu itu?.
Allah yang memerintahkanmu agar menafkahi keluarga. Sebagaimana dalam hadits:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
Cukuplah seseorang berdosa karena menyia-nyiakan orang yang ia tanggung. (HR. Abu Dawud no.1692)
Ketika kamu membelikan sarapan, wahai saudaraku, niatkan untuk membuat Allah ridho.
Berapa nilai kalian dalam aktivitas ini tadi?
Ketika kamu berangkat kerja dan tidak telat, apa niatmu? Demi Allah, aku hanya ingin gaji saja. Apa komentar kita/ kita katakan, kasian, dia menyia-nyiakan pahala yang sangat banyak.
Allah yang memerintahkanmu untuk bekerja profesional (bi itqooni 'amalika). Allah yang memerintahkanmu agar berbuat baik kepada orang lain. Berbuatlah kepada mereka dengan perantara pekerjaanmu. Allah yang memerintahkanmu agar bekerja dengan sebaik-baiknya. Harapkan pahala dan niatkan untuk mendapat ridho Allah. Harapkan agar bisa meraih pahala akhirat. Berapa nilai kalian pada pekerjaan kalian ini?
Setelah zhuhu, beli nasi kabsyah, daging dan sayur untuk makan siang. Apa niatmu? aku lapaar. Hanya itu saja? kamu hanya memikirkan perut? engkau telah menyamakan dirimu dengan binatang.
Saudaraku, perbaikilah niatmu ('addil niyyaataka).
Allah memerintahkanmu untuk memperkuat badan agar bisa melaksanakan berbagai kewajiban. Taatilah Allah dan carilah keridhoanNya pada aktivitas makanmu. Agar setiap butir nasi yang engkau makan tercatat sebagai amal kebaikan. Berapa nilai keikhlasan kalian pada aktivitas makan tersebut? masih juga menyia-nyiakan pahalanya?
Kemudian setelah ashar, berkunjung ke keluarga si A dan si B, apa niat kalian? karena itulah tugas kami. Engkau lupa dengan perkataanku di awal tadi tetang cinta karena Allah?
Ada pahala besar membuat ALlah ridho ketika engkau berkunjung.
Dalam hadits:
Kecintaanku wajib didapat orang yang saling berkunjung, karena Aku(Allah).
Masih juga menyia-nyiakan pahala ini?
Di malam hari apa aktivitas kalian? terkadang menghadiri walimah si A dan terkadang undangan makan si B, apa niatmu? lupa untuk mengatakan," Allah mmerintahkanku untuk menghadiri undangan? sehingga aku menghadirinya karena taat kepada Allah dan mengharap ridhoNya. Kemarin-kemarin apa niat kalian? kalian yang tahu , tulis nilaimu. Berapa nilaimu.
Kemudian setelah itu,"Aku tidur. Apa niatmu ketika tidur? aku capek, makanya aku tidur. Kamu lupa untuk berniat mengharap ridho Allah dengan aktivitas tidurmu? bahwa tidur itu akan menguatkanmu dalam ketaatan kepada Allah? silahkan ambil contoh amal lainnya.
Mengadakan walimah. Apa niatmu? agar orang-orang tahu aku sudah menikah, Kamu lupa? bahwa memberi makan, memuliakan tamu, merupakan ibadah yag membuat Allah ridho dan menghasilkan pahala akhirat?
_*Barangsiap beriman kepada ALlah dan hari akhir, maka hendaknya ia memulaikan tamunya. (HR. Bukhori no.6136 dan Muslim no.47).
Jadi menurut kalian, berapa total nilai keikhlasan kalian setiap hari? (idzan, kam dzonnukum yatahash sholuuna min darajatin fii yaumikum?)
Innaa Lillah wa Innaa Ilaihi Raaji'uun.
Jadi menurut kalian, berapa total nilai keikhlasan kalian setiap hari? (idzan, kam dzonnukum yatahash sholuuna min darajatin fii yaumikum?)
Innaa Lillah wa Innaa Ilaihi Raaji'uun.
Toleransi Yang Mulia
Peradaban kita mempunyai toleransi keagamaan yang
mengagumkan, yang tidak pernah dikenal oleh
peradaban lain yang juga berpijak kepada agama. Orang
yang tidak percaya kepada semua agama atau Tuhan
tidak tampak aneh jika ia memandang semua agama
berdasarkan pengertian yang sama serta
memperlakukan pemeluk-pemeluknya dengan ukuran
yang sejajar.
Peradaban kita mempunyai toleransi keagamaan yang
mengagumkan, yang tidak pernah dikenal oleh
peradaban lain yang juga berpijak kepada agama. Orang
yang tidak percaya kepada semua agama atau Tuhan
tidak tampak aneh jika ia memandang semua agama
berdasarkan pengertian yang sama serta
memperlakukan pemeluk-pemeluknya dengan ukuran
yang sejajar.
Tetapi pemeluk agama yang meyakini bahwa agamanya
benar dan aqidahnya paling lurus dan syah, kemudian
dia diberi kesempatan untuk memanggul senjata, dan
meduduki kursi pengadilan dan kesempatan itu tidak
membuatnya zalim atau menyimpang dari garis-garis
keadilan, atau tidak menjadikan dia memaksa manusia
untuk mengikuti agamanya, maka orang semacam ini
sungguh sangat aneh ada dalam sejarah
benar dan aqidahnya paling lurus dan syah, kemudian
dia diberi kesempatan untuk memanggul senjata, dan
meduduki kursi pengadilan dan kesempatan itu tidak
membuatnya zalim atau menyimpang dari garis-garis
keadilan, atau tidak menjadikan dia memaksa manusia
untuk mengikuti agamanya, maka orang semacam ini
sungguh sangat aneh ada dalam sejarah
Pertama, mengikhlaskan doa tersebut untuk Allah Ta’ala, konsisten (istiqamah) dan menjauhi kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Maka berdoalah (sembahlah) Allah Ta’ala dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghaafir [40]: 14).
Oleh karena itu, tauhid (ikhlas) merupakan syarat terkabulnya doa tersebut. Karena tauhid akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala dan sebagai sarana (wasilah) dikabulkannya doa seorang hamba.
Kedua, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, menghadirkan hatinya untuk benar-benar dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Tidak berdoa dengan hati yang lalai dan berpaling, sehingga hanya menggerakkan lisannya saja, sedangkan hatinya berpaling memikirkan yang lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ
“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling” (HR. Tirmidzi no. 3488 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/493).
Ketiga, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan nama dan sifat Allah Ta’ala, misalnya yaa Rahmaan, yaa Rahiim, yaa Allah, dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya” (QS. Al-A’raf 180) .
Keempat, mencari waktu-waktu yang merupakan waktu istimewa terkabulnya doa. Yang dituntut dari seorang muslim adalah berdoa secara terus-menerus di waktu kapan pun. Akan tetapi, seorang muslim juga hendaknya memperhatikan waktu-waktu khusus yang lebih besar kemungkinan untuk dikabulkan. Misalnya, ketika bersujud, atau di akhir malam, atau di bulan Ramadhan, lebih khusus lagi di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Ini adalah waktu-waktu istimewa, sehingga hendaknya kita lebih banyak berdoa di waktu-waktu tersebut dibandingkan di waktu lainnya.
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Maka berdoalah (sembahlah) Allah Ta’ala dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghaafir [40]: 14).
Oleh karena itu, tauhid (ikhlas) merupakan syarat terkabulnya doa tersebut. Karena tauhid akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala dan sebagai sarana (wasilah) dikabulkannya doa seorang hamba.
Kedua, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, menghadirkan hatinya untuk benar-benar dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Tidak berdoa dengan hati yang lalai dan berpaling, sehingga hanya menggerakkan lisannya saja, sedangkan hatinya berpaling memikirkan yang lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ
“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling” (HR. Tirmidzi no. 3488 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/493).
Ketiga, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan nama dan sifat Allah Ta’ala, misalnya yaa Rahmaan, yaa Rahiim, yaa Allah, dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya” (QS. Al-A’raf 180) .
Keempat, mencari waktu-waktu yang merupakan waktu istimewa terkabulnya doa. Yang dituntut dari seorang muslim adalah berdoa secara terus-menerus di waktu kapan pun. Akan tetapi, seorang muslim juga hendaknya memperhatikan waktu-waktu khusus yang lebih besar kemungkinan untuk dikabulkan. Misalnya, ketika bersujud, atau di akhir malam, atau di bulan Ramadhan, lebih khusus lagi di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Ini adalah waktu-waktu istimewa, sehingga hendaknya kita lebih banyak berdoa di waktu-waktu tersebut dibandingkan di waktu lainnya.
MENYAMBUT RAMADHAN
Di antara bentuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini, kita berusaha untuk memasukkan ibadah-ibadah baru dalam waktu kita. Misal ketika anda sedang mengendarai mobil, saat itu adalah waktu yan bisa digunakan untuk berbagai macam ketaatan, seperti tasbih, tahlil, bisa juga untuk merenungkan keelokan ciptaan Allah azza wa jalla. Bisa juga untuk bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, atau untuk mengingat-ingat hukum-hukum syariah yang berkaitan dengan ibadah anda. Dengan seperti itu, anda akan termasuk orang yang menggunakan waktu di bulan mulai ini untuk ibadah yang akan dilipatgandakan. Ibadah yang membuat Allah azza wa jalla ridho.
Anda bisa juga menyambut bulan Ramadhan dengan mengajar orang-orang di sekitar anda. Untuk bersiap-siap menyambut bulan Ramadhan ini. Mengajarkan hukum-hukum Allah yang terkait dengan puasa ataupun bab lain. Supaya anda menjadi orang yang mau menyambut Ramadhan, serta menjadikan orang-orang bisa menyambut Ramadhan dengan keadaan dan jalan terbaik.
Bisa menjadi orang yang menyambut Ramadhan dengan hati yang riang gembiara dengan kedatangannya, karena Ramadhan adalah bulan amal dan kebaikan.
Ini di antara cara-cara kita untuk menyambut Ramadhan. Ketika anda menyambut Ramadhan dengan bahagia, mak hal itu membuat Allah meridhoimu dan menolongmu untuk melakukan ketaatan kepadaNya.
Di antara bentuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini, kita berusaha untuk memasukkan ibadah-ibadah baru dalam waktu kita. Misal ketika anda sedang mengendarai mobil, saat itu adalah waktu yan bisa digunakan untuk berbagai macam ketaatan, seperti tasbih, tahlil, bisa juga untuk merenungkan keelokan ciptaan Allah azza wa jalla. Bisa juga untuk bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, atau untuk mengingat-ingat hukum-hukum syariah yang berkaitan dengan ibadah anda. Dengan seperti itu, anda akan termasuk orang yang menggunakan waktu di bulan mulai ini untuk ibadah yang akan dilipatgandakan. Ibadah yang membuat Allah azza wa jalla ridho.
Anda bisa juga menyambut bulan Ramadhan dengan mengajar orang-orang di sekitar anda. Untuk bersiap-siap menyambut bulan Ramadhan ini. Mengajarkan hukum-hukum Allah yang terkait dengan puasa ataupun bab lain. Supaya anda menjadi orang yang mau menyambut Ramadhan, serta menjadikan orang-orang bisa menyambut Ramadhan dengan keadaan dan jalan terbaik.
Bisa menjadi orang yang menyambut Ramadhan dengan hati yang riang gembiara dengan kedatangannya, karena Ramadhan adalah bulan amal dan kebaikan.
Ini di antara cara-cara kita untuk menyambut Ramadhan. Ketika anda menyambut Ramadhan dengan bahagia, mak hal itu membuat Allah meridhoimu dan menolongmu untuk melakukan ketaatan kepadaNya.
*Agar Bahtera Rumah Tangga Terus Berlayar*
Di antara kaidah syariat terkait interaksi suami istri adalah suami dan istri harus mengetahui bahwa masing-masing dari mereka pasti memiliki sifat yang disukai oleh pasangannya dan terkadang memiliki sifat yang dibenci oleh pasangannya. Maka masing-masing harus fokus pada hal-hal yang ia sukai dan pada hal yang diharapkan kebaikannya, serta berusaha semaksimal mungkin untuk menutup mata pada hal yang ia benci, tentu dengan berusaha memperbaikinya jika memungkinkan. Dan bahtera rumah tangga tidak akan berlayar dengan indah kecuali dengan hal-hal ini tadi.
Sudah menjadi kewajaran bahwa setiap dari kita pasti memiliki hal yang disukai, namun kita pasti juga memiliki yang dibenci, sehingga suami istri mau tidak mau harus mengetahui kenyataan ini. Dan mereka berdua harus membangun interaksi mereka di atas pengetahuannya tentang kenyataan ini tadi.
Allah berfirman:
_*Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ALlah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (QS. an Nisaa:19)*_
Maka bisa jadi seorang suami akan melihat hal yang tidak ia sukai dari istrinya, akan tetapi Allah akan menganugerahkan kebaikan yang banyak dari istrinya tersebut. Dan seorang muslim tidak akan mungkin kosong dari kebaikan.
Diceritakan bahwa Anas, ayah Imam Malik menikah dengan seorang wanita, seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatkala malam pertama beliau tidak mendapati hal yang menarik hatinya dari sisi kecantikan istrinya. Seakan-akan beliau tidak suka dengan istrinya. Namun tersebut adalah wanita yang shalihah. Maka sang istri duduk mendekati suaminya seraya mengatakan:
*_Mungkin Allah akan menganuerahkan kebaikan yang banyak dari wanita yang tidak engkau sukai ini._*
Ketika mengetahui kecerdasan akal wanita ini, akhirnya ayah Imam Malik tertarik dengannya, sehingga merekapun melakukan hubungan, yang akhirnya melahirkan seorang imam besar dunia, yaitu Imam Malik bin Anas itu sendiri, semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama umat Islam.
*_Diterjemahkan dari kajian Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily_*
Di antara kaidah syariat terkait interaksi suami istri adalah suami dan istri harus mengetahui bahwa masing-masing dari mereka pasti memiliki sifat yang disukai oleh pasangannya dan terkadang memiliki sifat yang dibenci oleh pasangannya. Maka masing-masing harus fokus pada hal-hal yang ia sukai dan pada hal yang diharapkan kebaikannya, serta berusaha semaksimal mungkin untuk menutup mata pada hal yang ia benci, tentu dengan berusaha memperbaikinya jika memungkinkan. Dan bahtera rumah tangga tidak akan berlayar dengan indah kecuali dengan hal-hal ini tadi.
Sudah menjadi kewajaran bahwa setiap dari kita pasti memiliki hal yang disukai, namun kita pasti juga memiliki yang dibenci, sehingga suami istri mau tidak mau harus mengetahui kenyataan ini. Dan mereka berdua harus membangun interaksi mereka di atas pengetahuannya tentang kenyataan ini tadi.
Allah berfirman:
_*Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ALlah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (QS. an Nisaa:19)*_
Maka bisa jadi seorang suami akan melihat hal yang tidak ia sukai dari istrinya, akan tetapi Allah akan menganugerahkan kebaikan yang banyak dari istrinya tersebut. Dan seorang muslim tidak akan mungkin kosong dari kebaikan.
Diceritakan bahwa Anas, ayah Imam Malik menikah dengan seorang wanita, seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatkala malam pertama beliau tidak mendapati hal yang menarik hatinya dari sisi kecantikan istrinya. Seakan-akan beliau tidak suka dengan istrinya. Namun tersebut adalah wanita yang shalihah. Maka sang istri duduk mendekati suaminya seraya mengatakan:
*_Mungkin Allah akan menganuerahkan kebaikan yang banyak dari wanita yang tidak engkau sukai ini._*
Ketika mengetahui kecerdasan akal wanita ini, akhirnya ayah Imam Malik tertarik dengannya, sehingga merekapun melakukan hubungan, yang akhirnya melahirkan seorang imam besar dunia, yaitu Imam Malik bin Anas itu sendiri, semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama umat Islam.
*_Diterjemahkan dari kajian Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily_*
AlWahdah adalah lembaga Pendidikan dan Konselor Keluarga. AlWahdah menekankan satu hal yang merupakan fundamental dan esensial dalam kehidupan keluarga muslim yaitu memahami kedudukan harta di dalam keluarga.
Dari hartalah banyak terjadi masalah di dalam kehidupan keluarga muslim. Dari mulai perceraian, rebutan aset kekayaan keluarga, permusuhan antar keluarga dan lain sebagainya, yang mana hal ini tidak bisa didiamkan namun harus segera diberi edukasi dan pendidikan, bagaimana Islam sebenarnya telah mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah bab Harta.
Berangkat dari begitu banyaknya permasalahan yang terjadi yang berawal dari harta inilah, maka AlWahdah mengajak keluarga muslim untuk sadar dan mau belajar kembali, bagaimana seharusnya keluarga muslim itu di dalam kehidupannya, interaksi antar suami dan istri, dengan anak-anak dan dengan keluarga besar secara umum. Kemudian mulai mengatur dan mengetahui kedudukan harta yang ada di dalam keluarga. Salah satu Maqoshid Syariah adalah Hifdzul Maal yaitu menjaga harta, artinya masing-masing individu pemilik harta yang sah harus dilindungi dari hilangnya harta yang dimilikinya akibat ketidaktahuan, kejahatan yang disengaja maupun tidak disengaja yang bisa dilakukan oleh sesama keluarga.
AlWahdah telah membuat satu program pelatihan dan training tentang *KAJIAN FIKIH HARTA BENDA & MANAJEMEN KEWARISAN*.
*_Untuk Siapa Program ini_*
_Pertama_, program ini diperuntukkan bagi keluarga muslim yang menginginkan kehidupan keluarganya sakinah mawaddah wa rahmah bahkan hingga kematiannya. Tidak terjadi perpecahan, konflik di masa depan hanya karena rebutan harta yang tidak seberapa dibanding keutuhan, kerukunan dan kedamaian keluarga besarnya.
_Kedua_, program ini untuk anda yang ingin menjadi Konselor keluarga, pendamping keluarga-keluarga yang membutuhkan mediasi atas terjadi sebuah masalah di dalam keluarganya.
Kurikulum Fundamental telah kami susun disesuaikan dengan kebutuhan keluarga-keluarga muslim, agar membantu dan menyelesaikan masalah yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga.
_Kurikulum Program Konselor Keluarga_
1. Sumber harta kekayaan dalam perkawinan
2. Perjanjian perkawinan menurut Islam
3. Penggunaan harta kekayaan dalam perkawinan
4. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi perceraian
5. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi kematian
6. Hak anak atas harta dalam perkawinan
_Narasumber Utama_
Drs. Sarnoto, M.Hum
(Hakim agama Senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani pernak-pernik permasalahan keluarga)
Dari hartalah banyak terjadi masalah di dalam kehidupan keluarga muslim. Dari mulai perceraian, rebutan aset kekayaan keluarga, permusuhan antar keluarga dan lain sebagainya, yang mana hal ini tidak bisa didiamkan namun harus segera diberi edukasi dan pendidikan, bagaimana Islam sebenarnya telah mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah bab Harta.
Berangkat dari begitu banyaknya permasalahan yang terjadi yang berawal dari harta inilah, maka AlWahdah mengajak keluarga muslim untuk sadar dan mau belajar kembali, bagaimana seharusnya keluarga muslim itu di dalam kehidupannya, interaksi antar suami dan istri, dengan anak-anak dan dengan keluarga besar secara umum. Kemudian mulai mengatur dan mengetahui kedudukan harta yang ada di dalam keluarga. Salah satu Maqoshid Syariah adalah Hifdzul Maal yaitu menjaga harta, artinya masing-masing individu pemilik harta yang sah harus dilindungi dari hilangnya harta yang dimilikinya akibat ketidaktahuan, kejahatan yang disengaja maupun tidak disengaja yang bisa dilakukan oleh sesama keluarga.
AlWahdah telah membuat satu program pelatihan dan training tentang *KAJIAN FIKIH HARTA BENDA & MANAJEMEN KEWARISAN*.
*_Untuk Siapa Program ini_*
_Pertama_, program ini diperuntukkan bagi keluarga muslim yang menginginkan kehidupan keluarganya sakinah mawaddah wa rahmah bahkan hingga kematiannya. Tidak terjadi perpecahan, konflik di masa depan hanya karena rebutan harta yang tidak seberapa dibanding keutuhan, kerukunan dan kedamaian keluarga besarnya.
_Kedua_, program ini untuk anda yang ingin menjadi Konselor keluarga, pendamping keluarga-keluarga yang membutuhkan mediasi atas terjadi sebuah masalah di dalam keluarganya.
Kurikulum Fundamental telah kami susun disesuaikan dengan kebutuhan keluarga-keluarga muslim, agar membantu dan menyelesaikan masalah yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga.
_Kurikulum Program Konselor Keluarga_
1. Sumber harta kekayaan dalam perkawinan
2. Perjanjian perkawinan menurut Islam
3. Penggunaan harta kekayaan dalam perkawinan
4. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi perceraian
5. Pembagian harta dalam perkawinan ketika terjadi kematian
6. Hak anak atas harta dalam perkawinan
_Narasumber Utama_
Drs. Sarnoto, M.Hum
(Hakim agama Senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani pernak-pernik permasalahan keluarga)
*Seandainya bukan karena Allah, Keadaan kita lebih Parah*
Seandainya bukan karena karunia Allah (Fadhlullah), niscaya hidupmu lebih sengsara.
Kalau engkau miskin, tanpaNya, kemiskinanmu akan semakin parah.
Kalau engkau pendek, tanpaNya, engkau akan lebih pendek lagi.
Kalau wajahmu jelek, tanpaNya, wajahmu akan semakin jelek.
Maka setiap kita hendaknya memuji Allah atas karunia dan kebaikanNya yang sangat besar.
Hendaknya terus taat kepadaNya, melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya.
Meminta keistiqomahan di atas kebenaran dan memohon husnul khatimah.
Dunia adalah tempat beramal (daarul 'amal), kamu hanya sementara, umur yang sangat singkat.
Sedangkan negeri akhirat dan kehidupan yang hakiki ada di depanmu.
Beramallah untuk meraih kehidupan kekal dan nikmat abadi.
Dunia ini fana, nikmatnya fana, keburukannya fana, kebaikannya fana. Kemiskinannya fana, kekayaannya fana, semuanya fana.
Di depan kalian ada kehidupan yang kenikmatannya abadi dan adzabnya abadi.
Beramallah untuk kehidupan yang nikmatnya abadi dan berhati-hatilah dengan negeri yang keburukan dan adzab abadi.
(*_Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz_* )
Seandainya bukan karena karunia Allah (Fadhlullah), niscaya hidupmu lebih sengsara.
Kalau engkau miskin, tanpaNya, kemiskinanmu akan semakin parah.
Kalau engkau pendek, tanpaNya, engkau akan lebih pendek lagi.
Kalau wajahmu jelek, tanpaNya, wajahmu akan semakin jelek.
Maka setiap kita hendaknya memuji Allah atas karunia dan kebaikanNya yang sangat besar.
Hendaknya terus taat kepadaNya, melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya.
Meminta keistiqomahan di atas kebenaran dan memohon husnul khatimah.
Dunia adalah tempat beramal (daarul 'amal), kamu hanya sementara, umur yang sangat singkat.
Sedangkan negeri akhirat dan kehidupan yang hakiki ada di depanmu.
Beramallah untuk meraih kehidupan kekal dan nikmat abadi.
Dunia ini fana, nikmatnya fana, keburukannya fana, kebaikannya fana. Kemiskinannya fana, kekayaannya fana, semuanya fana.
Di depan kalian ada kehidupan yang kenikmatannya abadi dan adzabnya abadi.
Beramallah untuk kehidupan yang nikmatnya abadi dan berhati-hatilah dengan negeri yang keburukan dan adzab abadi.
(*_Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz_* )
*Mengecek Derajat Taqwa*
Barangsiapa mengetahui dirinya, telah berjalan di atas lintasan yang digariskan oleh Nabi saw, yaitu melaksanakan perintah wajib Allah, meninggalkan laranganNya, dan istiqomah di atas agamaNya. Barangsiapa merasa sudah seperti itu, lalu ia dapat membenci dan mencintai karena Allah saja, ia merasa dirinya antusias dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan keharaman, dalam bekerja ia mencari yang halal.
Maka ketahuilah bahwa dirinya telah mencapai derajat taqwa.
Hendaknya ia bersyukur kepada Allah dan memohon agar bisa terus istiqomah.
Tapi barangsiapa merasa dirinya masih ada kekurangan, ia masih makan yang haram, masih makan riba, masih menipu saat bertransaksi, masih sering berdusta dan bersumpah palsu, masih suka memutus tali silaturrami dan masih melakukan kemaksiatan lainnya.
Maka ketahuilah bahwa taqwa dan imannya masih kurang. Ia masih butuh amalan penambal. Hendaknya ia tambal dengan taubat dan istighfar, dan berhenti menyelisihi Allah.
Seorang mukmin yang cerdas (almukmin al'aaqil) pasti paham bahwa iman dan taqwa di dunia ini pasang surut (fii maddin wa jazarin).
Berkurang dan bertambah (fii naqshin wa jiyaadah), melemah dan menguat (fii dho'fiin wa quwwah), begitu seterusnya hingga ia bertemu Allah (Yalqoo rabbahu).
Ia masih dalam bahaya, maka hendaknya ia berpegang teguh dengan kebaikan sekuat tenaga. Siapa tahu saat kematian menjemputnya, ia berada pada derajat taqwa tersempurna, bukan pada derajat taqwa yang masih rendah. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan (Allahul musta'aan).
(Syaikh Abdul Aziz bin Baz)
Barangsiapa mengetahui dirinya, telah berjalan di atas lintasan yang digariskan oleh Nabi saw, yaitu melaksanakan perintah wajib Allah, meninggalkan laranganNya, dan istiqomah di atas agamaNya. Barangsiapa merasa sudah seperti itu, lalu ia dapat membenci dan mencintai karena Allah saja, ia merasa dirinya antusias dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan keharaman, dalam bekerja ia mencari yang halal.
Maka ketahuilah bahwa dirinya telah mencapai derajat taqwa.
Hendaknya ia bersyukur kepada Allah dan memohon agar bisa terus istiqomah.
Tapi barangsiapa merasa dirinya masih ada kekurangan, ia masih makan yang haram, masih makan riba, masih menipu saat bertransaksi, masih sering berdusta dan bersumpah palsu, masih suka memutus tali silaturrami dan masih melakukan kemaksiatan lainnya.
Maka ketahuilah bahwa taqwa dan imannya masih kurang. Ia masih butuh amalan penambal. Hendaknya ia tambal dengan taubat dan istighfar, dan berhenti menyelisihi Allah.
Seorang mukmin yang cerdas (almukmin al'aaqil) pasti paham bahwa iman dan taqwa di dunia ini pasang surut (fii maddin wa jazarin).
Berkurang dan bertambah (fii naqshin wa jiyaadah), melemah dan menguat (fii dho'fiin wa quwwah), begitu seterusnya hingga ia bertemu Allah (Yalqoo rabbahu).
Ia masih dalam bahaya, maka hendaknya ia berpegang teguh dengan kebaikan sekuat tenaga. Siapa tahu saat kematian menjemputnya, ia berada pada derajat taqwa tersempurna, bukan pada derajat taqwa yang masih rendah. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan (Allahul musta'aan).
(Syaikh Abdul Aziz bin Baz)