BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
*IMAN DAN AMAL SHALIH*

Untuk saudaraku yang mungkin hari ini belum diberi anugerah Allah harta yang berkecukupan, orderan yang belum rutin, tempat sewa sebentar lagi habis dan harus perpanjang (mikir dana perpanjangnya belum ada), gaji yang belum menutupi semua kebutuhan dan lain sebagainya, tetaplah berprasangka kepada Allah, dan berusahalah terus berbuat kebaikan-kebaikan setiap saat meski itu nampak kecil atau sepele.

Ketahuilah wahai saudaraku, rezeki terbesar dari Allah yang sesungguhnya adalah Dia memampukan kita untuk terus berbuat kebaikan demi kebaikan setiap hari-hari yang kita jalani. Dan niatkan itu karena Allah bukan niatan lainnya.

Karena sungguh amalan yang diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan rutin meski terlihat kecil dan remeh bagi sebagian orang, namun di mata Allah, amalan itu akan berbuah pahala yang ganjarannya Allah berikan di dunia juga di akhirat kelak, dobel pahala.

Tetaplah Istiqomah dalam ketaatan kepada Allah, jadikan semua aktivitas adalah untuk Allah, lakukan dengan Itqon (profesional, berkualitas dan bermutu), lakukan dengan merujuk pada Sunnah yang telah Nabi Saw ajarkan, insyaAllah Allah akan berikan Anda dan kita semua yang menjalankan demikian *Hayaatan Thoyyibah* sebagaimana dalam firman-Nya:

_*Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.*_(QS. an Nahl:97)


*GriyaLebah*
https://www.bukalapak.com/p/food/bumbu/bumbu-instan/4gv53rg-jual-bumbu-instan-nasi-kebuli-nasi-kabsah-nasi-mandhi-dan-nasi-biryani?utm_source=apps
Nyawa bagi seluruh kebaikan adalah TAUHIDULLAH dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah.

Nyawa segala kemungkaran adalah kesyirikan dan mengibadahi selain Allah.

Bagaimana mungkin kita melarang manusia dari riba (terlebih dahulu), dari zina serta kemaksiatan lainnya (terlebih dahulu) sedangkan tauhid kita akhirkan? Kesyirikan tidak kita larang dqn tquhid tidak kita serukan?.

Ada yang mengatakan:
Jangan singgung perkara akidah terlebih dahulu. Biarkan saja manusia di atas akidahnya, jangan kalian bikin mereka lari dari agama. Ajarkan saja akhlak-akhlak terpuji, perintahkan sholat, puasa, menjauhi riba, menjauhi zina, akidah jangan kalian singgung-singgung.

Amar ma'ruf yang paling agung adalah memerintahkan untuk bertauhid dan kemungkaran terbesar adalah syirik dan manusia harus dilarang darinya.

Da'wah harus dimulai dari sini. Sebagaimana para Rasul memulai da'wah mereka dengan tauhid dan akidah. Barulah setelah itu dilarang dari kemungkaran lainnya. Barulah diperintah dengan berbagai ketaatan lainnya.

Saat akidah belum terwujud, maka tidak ada faidah amal lainnya. Walaupun ia tidak berzina, tidak minum khamar, tidak memakan riba. Semua tidak berguna sedikitpun di sisi Allah.

Dengan tauhid, bisa jadi Allah akan ampuni dosa zina, kemaksiatan dan dosa-dosa besar lainnya selama bukan kesyirikan. Karena dosa syirik tidak akan Allah ampuni.

Jalan para Rasul itu mengedepankan tauhid terlebih dahulu.

Nabi Saw bersabda kepada Mu'adz, awalilah da'wahmu dengan dua kalimat syahadat. Jika mereka mau melakukannya ajarkan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat.

Coba perhatikan sholat belum diperintahkan padahal sholat itu kewajiban terbesar setelah tauhid. Pada hadits ini sholat tidak diperintah kecuali setelah tauhid terwujud.
Allah ta'ala berfirman,

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

*Apakah kalian puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.*
(QS at-Taubah:38)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda*

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

*Demi Allah, tidaklah dunia berbanding dengan akhirat melainkan semisal salah seorang dari kalian mencelupkan jari telunjuk ke lautan,*

*Lalu perhatikan apa yang tertinggal pada jari tangannya*
(HR Muslim: 2858)
اللهم اهدني لاحسن الأخلاق
_*Ya Allah berikanlah aku petunjuk kepada akhlak yang baik*_.
*KALIMAT YANG MEMBUAT AHLI MAKSIAT BERTAUBAT*

Disebutkan dalam kitab al Hilyah karya Abu Nu'aim, bahwa Hasan al Bashri pernah bertemu seorang laki-laki, laki-laki tersebut cenderung acuh dan lalai dari beribadah. Maka Hasan pun bertanya kepadanya," Berapa umur anda?". Laki-laki tersebut menjawab,"60 tahun".

Hasan berkata,"Tidakkah anda sadar bahwa anda sedang dalam perjalanan (menuju kematian) dan hampir saja anda sampai tujuan akhir?".

Laki-laki tersebut berkata,"Innaa lillahi wa innaa ilahi raaji'uun (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepadaNya lah kita kembali).

Hasan bertanya,"Apakah anda tahu tafsir kalimat Innaa lillahi wa innaa ilahi raaji'uun? Laki-laki tersebut balik bertanya," Memang apa tafsirnya?".

Dan memang benar, banyak orang yang membaca dan mengulang-ulang dzikir tertentu namun dia tidak faham makna dan kandungan dzikir tersebut. Oleh karenanya Hasan bertanya apakah anda tahu tafsirnya?. Laki tersebut balik bertanya memang apa tafsirnya.

Hasan menjawab," Kalimat "sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah" maksudnya "aku adalah hamba Allah". Dan kalimat "sesungguhnya kepadaNya lah kita akan kembali" maksudnya "aku akan kembali kepada Allah".

Apabila anda sudah mengetahui bahwa anda adalah hamba Allah kepunyaan Allah dan yakin bahwa anda akan kembali kepadaNya, maka ketahuilah bahwa Allah akan menyidang anda. Dan apabila anda sudah mengetahui bahwa kelak Allah akan menyidang anda, maka persiapkan dari sekarang jawabannya.

Seketika laki-laki tersebut sadar dan merasa bahwa dirinya harus diperbaiki.

Lantas laki-laki tersebut bertanya kepada Hasan, kalau begitu, adakah solusinya? berikan jalan keluarnya kepadaku!. Hasan menjawab,"Solusinya mudah".

Berbuat baiklah di sisa umur anda, niscaya dosa anda yang telah lalu diampuni. Karena apabila anda berbuat buruk di sisa umur anda maka anda akan dihukum atas dosa yang akan datang dan yang telah lalu.
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dari rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui. (QS. Al A'rraf:32)
*SEJARAH SINGKAT BOYOLALI*

Demi memenuhi dahaga akan ilmu berangkatlah sepasang suami istri untuk berguru kepada Sunan Kalijaga.

Saking semangatnya sang suami untuk belajar menuntut ilmu kepada kyai, maka jalannya sangat cepat dan sang istri mengikuti kecepatan jalan suaminya.

Karena tidak seimbang kemampuan jalan istri dibanding suaminya, lama kelamaan sang istri tertinggal jauh dari suaminya. Sang istri berteriak memanggil-manggil suaminya,"Maaas, bo yo ojo lali karo aku tho maaas!". Maksud sang istri adalah janganlah melupakan dirinya sampai meninggalkan jauh dirinya di belakang. Seiring sejalanlah jalannya.

Tapi ya tak mungkin, sang suami begitu takut tak jumpa sang guru sunan Kalijaga, karena telat sedikit sang guru ada urusan lain. Namun karena rasa sayangnya juga kepada sang istri dia pun mengalah.

Sejak protes sang istri itu akhirnya dia melambatkan jalannya dan berkata kepada istrinya,"Istriku sayang, untuk mengenang tempat ini atas kegigihan kita berdua untuk menuntut ilmu maka tempat ini aku namakan *BOYOLALI*, artinya kamu merasa aku melupakanmu dengan cepatnya jalanku padahal karena semangat kita berdua untuk belajar, bermulazamah kepada sunan kalijaga. Ini agar kita dan keturunan kita mengingat kejadian ini untuk semangat menuntut ilmu, berusaha keras meraih ilmu di sejauh apapun ilmu iitu berada, meski aral melintang di hadapan.

Anas lee(keturunan Boyolali)
(*_Sumber: Majalah Ananda_*)
Semakin tinggi tujuan, semakin cepat langkah.

1. Cari rezeki, dalam Al Qur'an disebutkan *Berjalanlah*(al Mulk:15)
2. Menuju sholat, *Bergegaslah*(al Jumu'ah:9)
3. Cari ampunan, *Berlomba-lombalah*(al Hadis:21)
4. Menuju Allah, *Berlarilah sekencangnya*(adz Dzariyat:50)
*Bergantunglah Hanya Kepada Allah*

Di antara sebab yang membuat hati orang beriman bersandar dan bertawakkal kepada Allah adalah perenungan terhadap keadaan manusia.

Memperhatikan bagaimana takdir Allah membuat mereka berbeda-beda.

Kenapa si A kaya tapi si B miskin. Padahal si miskin lebih giat bekerja, lebih pintar dan lebih cerdas?. Apa yang membuat harta benda dan dunia, datang kepada si kaya dan tidak datang kepada si miskin?. Allah.

Kemudian di antara yang membantumu yakin untuk bertawakkal adalah perenungan terhadap kehidupan para hewan. Bagaimana Allah memudahkan rezeki mereka. Rezeki mendatangi mereka dalam keadaan mereka berada di sarangnya.

*_Tidak ada satupun makhluk melata di bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya. Allah tahu sarangnya dan gudang makanannya. Semua ada di kitab Lauh Mahfuzh._*
(QS. Hud:6)

Kemudian di antara sebab yang membuatmu yakin untuk bertawakkal adalah perenunganmu terhadap akhir kisah ahli tawakkal. Para Nabi ketika mereka bertawakkal kepada Allah, Allah jaga mereka dari kejahatan para musuhnya.

ALlah bercerita tentang Nuh As:
*_Wahai kaumku, apabila kalian tidak terima aku tinggal bersama kalian dan tidak terima dengan dakwahku, maka aku bertawakkal kepada Allah. Silahkan, kalian putuskan dan himpun kekuatan untuk membinasakanku. Keputusan kalian tidak perlu dirahasiakan. Kemudian segeralah menindakku dan jangan tunda-tunda lagi._* (QS. Yunus:71)

Ternyata, meskipun demikian Nuh lah yang selamat,
Yaitu ketika Allah binasakan kaumnya dengan ditenggelamkan, Allah selamatkan dia dan pengikutnya dengan kapal.
Kemudian di antara sebab yang membuat yakin untuk bertawakkal adalah perenungan terhadap perintah-perintah al Quran yang begitu banyak untuk menggapai derajat ahli taqwa.

Allah berfirman:
*_Wahai Nabi, cukuplah Allah yang menjadi pelindungmu dan pelindung para pengikutmu yang beriman._*
(QS.al Anfal:64)

Maksud ayat ini adalah barangsiapa yang menjadi pengikut Nabi, maka Allahlah yang akan menjadi pelindungnya.

Apabila Allah telah benar-benar melindungimu dan menyelesaikan seluruh urusanmu, kenapa kamu tidak bertawakkal saja kepada Allah? Sungguh tawakkal itu menjadi magnet kebaikan dunia dan akhirat.

Firman Allah:
*_Barangsiapa bertawakkal maka pasti Allah mencukupinya. Sungguh Allah mampu melaksanakan urusanNya.Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu._*
(at Thalaq:3)

Tawakkal adalah satu satu sebab cinta Allah kepadamu. Sebagaimana firman Allah:

*_Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal._*
(QS. Ali Imran:159)

Tawakkal adalah satu satu sebab masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab. Nabi menyebutkan bahwa dari umatnya akan masuk surga 70 ribu orag tanpa hisab dan tanpa adzab. Kemudian beliau sebutkan sifat mereka:
1. Mereka tidak meminta di ruqyah
2. Mereka tidak beranggapan sial
3. Mereka tidak meminta diobati dengan kay
4. Mereka adalah ahli tawakkal. (HR. Bukhari no.5705 dan Muslim no.220)

Apabila engkau ingin masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab kecuali engkau sudah mencapai derajat ahli tawakkal. Apabila seseorang memperhatikan sebab-sebab yang pernah dilakukan, terkadang berhasil dan terkadang tidak.

Alangkah banyaknya orang berjualan suat benda, ia sangka akan mendatangkan untung banyak tapi nyatanya justru dia malah rugi banyak. Begitu juga alangkah banyaknya manusia yang berdagang, ia merasa tidak akan untung, tidak terlalu mencari banyak keuntungan, tapi ternyata perdagangannya mendatangkan manfaat yang banyak dan keuntungan yang besar. Mengapa bisa demikian? itu karena takdir Allah.

Sebab hanya akan mendatangkan keberhasilan ketika Allah menghendakinya.

Jadi apabila sebab tidak bisa berpengaruh dengan sendirinya, tapi hasil hanya berpengaruh dengan kehendak Allah, maka sandarkanlah hatimu kepada Allah ketika engkau melakukan suatu sebab atau usaha. Ketika seorang hamba menyadari bahwa dirinya fakir dan lemah dan bahwasanya Rabbnya Maha Kuat dan Maha Kaya, maka dia pasti akan menyandarkan hatinya kepada Rabbnya.
*_Wahai manusia, kalian sangat fakir kepada Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji._* (QS. Fathir:15)

Apabila kita sudah tahu tawakkal sangat penting sekali, lalu bagaimana bentuk tawakkal?

Di antaranya dengan menjadikan hati selalu bergantung kepada Allah ada kondisi apapun. Dia menyadari bahwa tidak ada yang terjadi di alam semesta ini kecuali dengan perintah dan takdir Allah.

Dan bahwasanya sebab bukanlah yang mengantarkan kepada hasil dengan sendirinya. Tapi yang mengantarkan kepada hasil adalah Allah.
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ
*Harta adalah hibah dari Allah.*

Ada yang berkata,"Bukan, aku mendapatkannya karena kerajinanku, keterampilanku, ilmuku dan kemampuanku".

Seperti ucapan Qorun:
*_Sungguh, aku diberi harta ini karena ilmu yang kumiliki._*

Demi Allah, di luar sana ada orang yang lebih diplomatis darimu, ada yang lebih cerdas darimu, ada yang lebih banyak darimu, tapi ternyata mereka tidak diberikan harta sebanyak dirimu.

Kamu pasti sudah melihat mereka, maka kita perlu mengakui bahwa harta kekayaan kita adalah pemberian Allah. Harta kekayaan kita bukan karena sebab kerajinan dan kemampuan kita.

Harta kekayaan kita adalah karunia dari Allah Ta'aala.

Firman Allah:
*_Dan kami bantu kalian dengan harta kekayaan dan anak keturunan. Sehingga kami jadikan kalian mayoritas. Apabila kalian berbuat kebajikan maka itu untuk diri kalian sendiri dan apabila kalian berbuat keburukan maka itu juga untuk kalian sendiri_*
(QS. al Isra:6-7)
*Nasehat Syaikh Shalih Al Utsaimin Tentang Menuntut Ilmu*

*_Manusia yang bodoh tidak mungkin bisa beribadah kepada Allah (dengan benar) hingga mengilmui syariat._*

Ia juga tidak akan mungkin memperlakukan orang lain dengan adil hingga mengilmui syariat Allah.

Ia juga tidak akan mungkin memiliki akhlak mulia, hingga mengilmui syariat Allah.

Belajar syariat Allah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi manusia. Sehingga saat mempelajarinya, ia harus meniatkan untuk menghilangkan kebodohan dirinya.

Karena (sekali lagi) kebutuhannya terhadap hal ini sangat mendesak.
*Nasihat Syaikh Abdurrozzaq al Badr Tentang Doa*

Saudara-saudaraku yang mulia, ada perkara penting yang perlu kita perhatikan ketika berdoa.

Yaitu perasaan bahwa doa itu adalah kunci seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.

Bahkan salah seorang ulama salaf pernah mengucapkan perkataan yang menakjubkan tentang hal ini.

Beliau berkata,"Saya perhatikan tentang hal-hal baik. Ternyata jumlahnya sangat banyak. Sholat, haji, zakat, sedekah, semua adalah kebaikan. Dan ternyata semuanya berada di tangan Allah

Maka sayapun yakin, hanya doalah yang menjadi kunci seluruh kebaikan dunia dan akhirat.

Oleh karenanya ketika anda berdoa kepada Allah, yakinlah hal ini dengan seyakin-yakinnya.

Kebaikan agama, dunia dan akhirat, semuanya berada di tangan Allah. Dan semua urusan anda hanya akan baik ketika Allah memperbaikinya. Kelancaran urusan anda berada di tangan Allah. Maka ketika anda berdoa, hadirkan perasaan sangat butuh kepada Allah.

Begitu juga perasaaan (tidak bisa hidup) tanpa berdoa, bersandar dan bergantung kepadaNya.

Dalam sebuah doa:
*_Ya Allah, rahmatMu aku harapkan, maka jangan engkau pasarahkan urusanku kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata._*
(HR. Abu Dawud no.5090)

Setiap saat anda sangat membutuhkan Allah. Maka di antara doa yang saya rekomendasikan untuk dibaca pada esok hari (hari Arafah) dan hari-hari setelahnya, doanya ada di shahih Muslim:
*_Ya Allah perbaiki agamaku yang merupakan pegangan inti urusanku, perbaiki duniaku yang di situlah kehidupanku saat ini, perbaikilah akhiratku yang di sana lah tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan sebagai sarana yang bisa aku gunakan untuk menambah kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahatku dari seluruh keburukan._*
(HR. Muslim no.2720)

Doa ini, demi Allah seluruh kebaikan dunia, agama da kebaikan akhirat tergabung padanya. Berdoalah dengan doa ini dalam keadaan yakin bahwa sedikitpun dari urusan anda tidak akan baik, kecuali jika Allah memperbaikinya.

Dalam doa lain:
*_Perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau._* (HR. Abu Dawud no. 5090)

Ada perasaan sangat butuh pada doa ini. Oleh karenanya di antara hal paling penting ketika berdoa adalah perasaan sangat butuh kepada ALlah. Peyandaran dan penyerahan seluruh urusan kepada Allah.

Ada doa dari Nabi SAW yang menegaskan makna ini, dan seluruh doa sebenarnya menegaskan makna ini tadi:
*_Ya Allah perbaikilah akhir dari seluruh urusanku dan lindungi aku dari kehinaan dunia dan adzab akhirat._*
(HR. Ahmad no.17628).
Seluruh kebaikan dikandung oleh doa ini. Dan seluruh perlindungan dari keburukan dikandung doa ini.

Inilah keyakinan penting yang hendaknya dihadirkan ketika berdoa yaitu bahwa doa adalah kunci seluruh kebaikan.

Kesempatan sangat besar untuk memohon seluruh kebaikan dengan doa-doa yang mencakup banyak hal seperti ini pada hari doa besok (hari Arafah).

Kita fokus untuk berdoa dengan doa-doa yang sarat makna dari Nabi SAW.

*_Aisyah berkata, Nabi itu sangat menyukai doa yang sarat makna dan meninggalkan selainnya._* (HR. Ahmad no.25151)
*Menggabungkan Tawakal dan Usaha*

Ada 2 hal:
1. Tawakal. Ini didahulukan sebelum usaha lain.
2. Melakukan usaha yang efektif dan bermanfaat.

Firman Allah:
*_Bersiap siagalah kalian._*
(QS. an Nisaa:71)

Di sini Allah perintahkan untuk mengusahakan sebab yang efektif dan bermanfaat. Jadi mengusahakan sebab adalah salah satu perintah Allah.

Jadi harus terkumpul 2 hal yaitu 1) Ketawakalan dan melimpahkan semua urusan kepada Allah. 2) melakukan usaha yang bermanfaat.

Kita jangan hanya tawakal tanpa melakukan usaha. Dan jangan usaha saja tanpa tawakal. Dua hal ini harus bersatu.
*AMALAN HATI - IKHLAS*

Makna Ikhlas adalah kamu beramal untuk mencari ridho Allah (anturiidu bi a'maalika ridhollah) dan meraih pahala akhirat (Walhushuula 'alaa ajril aakhirah).

Ikhlas ada 2 syaratnya:
1. Berharap ridho Allah (turiid Ridhollah) dan Allah ridho kepadamu ('an Yardhollahu 'anka)
2. Berharap mendapatkan pahala akhirat (turiid 'an tahshula 'alaal ajril ukhrowiy)

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

*_Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar._* (An Nisaa:114)

وَمَنۡ اَرَادَ الۡاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَاُولٰۤٮِٕكَ كَانَ سَعۡيُهُمۡ مَّشۡكُوۡرًا
*_Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik._* (Al Isra:19)

Jadikanlah keikhlasan ada dalam seluruh nafas kehidupanmu (Fal ikhlaas ij'al fii hayaatika kullihaa)

وَمَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَـهُ الدِّيۡنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُوا الزَّكٰوةَ‌ وَذٰلِكَ دِيۡنُ الۡقَيِّمَةِ
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).(al Bayyinah:5)

Ingat baik-baik hal ini, jangan sampai kalian menyia-nyiakan amal kalian, gara-gara tidak memiliki ilmu tentang hal ini. Jadikanlah seluruh kehidupanmu untuk Allah.

Engkau diciptakan Allah untuk ibadah, bukankah begitu?

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(Adz Dzariyaat:56)

Jadikanlah hidupmu untuk Allah, sebagaimana firmanNya:
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
لَا شَرِيۡكَ لَهٗ‌ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرۡتُ وَاَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِيۡنَ
162. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
163. tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).(QS. al An'aam:162-163)

Cek kehidupanmu agar engkau bisa menilai dirimu, berapa nilaimu dalam bab ikhlas.

Kalian sholat, untuk siapa? karena Allah. Kenapa kalian sholat karena Allah? kalian ingin pahala akhirat dan ingin ridho Allah. Bukankah begitu? bagus, nilai kalian sempurna, kalau kalian jujur.

Setelah sholat, apa yang kalian lakukan? Berdoa? baik. Apa doa kalian? Ya Allah mudahkanlah urusanku (Allahumma yassirlii umuurii), Ya Allah. Benar atau tidak?apa niat kalian? ketika engkau berdoa, Ya Allah berilah hamba rezeki. Engkau ingin uang? jadi engkau hanya ingin dunia?kalau begitu berarti engkau tidak mendapat pahala.

Ketika engkau berdoa, meskipun untuk urusan dunia, niatkan untuk mencari ridho Allah (tad'uu liturdhiyallah). Karena Allah memerintahkan untuk berdoa:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُوۡنِىۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَـكُمۡؕ اِنَّ الَّذِيۡنَ يَسۡتَكۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِىۡ سَيَدۡخُلُوۡنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيۡنَ
Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Ghaafir:50)

Jadi bukan untuk urusan dunia saja.

Ya Allah naikkan jabatanku! untuk apa? agar aku lebih terhormat. Jadi engkau hanya meniatkan dunia, maka tidak ada sedikitpun pahala akhirat untukmu. Kenapa? karena tidak ada niat untuk akhirat.
Nabi bersabda:
Bagi setiap orang apa yang ia niatkan (wa innamaa likullim ri-im maanawaa). (HR. Bukhari no.1 dan Muslim no.1097)

Berapa nilai keikhlasan kalian di bab doa ini? masing-masing menilai dirinya sendiri.

Setelah berdoa, duduk untuk berdzikir membaca zikir pagi. Apa niat kalian ketika membaca zikir pagi? kami takut dengan para penyihir, jin, dll. Maka kita katakan," Saudaraku baru saja kami katakan, takutlah hanya kepada Allah, tapi kamu malah takut dari makhluk? terlebih lagi, ternyata niatmu ketika membaca zikir pagi hanya untuk dunia. Sehingga kamu tidak mendapatkan pahala akhirat sama sekali.

Saya sudah duduk 15 atau 30 menit setelah subuh. Untuk membaca zikir pagi, tetapi tidak dapat pahala? ya karena kamu tidak meniatkan pahala akhirat ketika membacanya. Apakah ada niat untuk menjadi shalih dan berkedudukan tinggi di akhirat? tidak sama sekali. Kamu menyia-nyiakannya. Tidak ada pahala akhirat karena kamu tidak meniatkannya.

Setelah itu, apa aktivitasmu? mengantar keluarga/anak ke sekolah atau aku sendiri juga berangkat ke sekolah/kantor atau aku membelikan sarapan untuk keluarga. Kenapa kamu lakukan itu? karena mereka adalah keluargaku. Ku tanya lagi, kenapa? karena mereka keluargaku. Kenapa engkau tidak berniat untuk membuat Allah ridho dengan aktivitasmu itu?.

Allah yang memerintahkanmu agar menafkahi keluarga. Sebagaimana dalam hadits:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
Cukuplah seseorang berdosa karena menyia-nyiakan orang yang ia tanggung. (HR. Abu Dawud no.1692)

Ketika kamu membelikan sarapan, wahai saudaraku, niatkan untuk membuat Allah ridho.

Berapa nilai kalian dalam aktivitas ini tadi?

Ketika kamu berangkat kerja dan tidak telat, apa niatmu? Demi Allah, aku hanya ingin gaji saja. Apa komentar kita/ kita katakan, kasian, dia menyia-nyiakan pahala yang sangat banyak.

Allah yang memerintahkanmu untuk bekerja profesional (bi itqooni 'amalika). Allah yang memerintahkanmu agar berbuat baik kepada orang lain. Berbuatlah kepada mereka dengan perantara pekerjaanmu. Allah yang memerintahkanmu agar bekerja dengan sebaik-baiknya. Harapkan pahala dan niatkan untuk mendapat ridho Allah. Harapkan agar bisa meraih pahala akhirat. Berapa nilai kalian pada pekerjaan kalian ini?

Setelah zhuhu, beli nasi kabsyah, daging dan sayur untuk makan siang. Apa niatmu? aku lapaar. Hanya itu saja? kamu hanya memikirkan perut? engkau telah menyamakan dirimu dengan binatang.

Saudaraku, perbaikilah niatmu ('addil niyyaataka).

Allah memerintahkanmu untuk memperkuat badan agar bisa melaksanakan berbagai kewajiban. Taatilah Allah dan carilah keridhoanNya pada aktivitas makanmu. Agar setiap butir nasi yang engkau makan tercatat sebagai amal kebaikan. Berapa nilai keikhlasan kalian pada aktivitas makan tersebut? masih juga menyia-nyiakan pahalanya?

Kemudian setelah ashar, berkunjung ke keluarga si A dan si B, apa niat kalian? karena itulah tugas kami. Engkau lupa dengan perkataanku di awal tadi tetang cinta karena Allah?

Ada pahala besar membuat ALlah ridho ketika engkau berkunjung.

Dalam hadits:

Kecintaanku wajib didapat orang yang saling berkunjung, karena Aku(Allah).

Masih juga menyia-nyiakan pahala ini?

Di malam hari apa aktivitas kalian? terkadang menghadiri walimah si A dan terkadang undangan makan si B, apa niatmu? lupa untuk mengatakan," Allah mmerintahkanku untuk menghadiri undangan? sehingga aku menghadirinya karena taat kepada Allah dan mengharap ridhoNya. Kemarin-kemarin apa niat kalian? kalian yang tahu , tulis nilaimu. Berapa nilaimu.

Kemudian setelah itu,"Aku tidur. Apa niatmu ketika tidur? aku capek, makanya aku tidur. Kamu lupa untuk berniat mengharap ridho Allah dengan aktivitas tidurmu? bahwa tidur itu akan menguatkanmu dalam ketaatan kepada Allah? silahkan ambil contoh amal lainnya.

Mengadakan walimah. Apa niatmu? agar orang-orang tahu aku sudah menikah, Kamu lupa? bahwa memberi makan, memuliakan tamu, merupakan ibadah yag membuat Allah ridho dan menghasilkan pahala akhirat?
_*Barangsiap beriman kepada ALlah dan hari akhir, maka hendaknya ia memulaikan tamunya. (HR. Bukhori no.6136 dan Muslim no.47).

Jadi menurut kalian, berapa total nilai keikhlasan kalian setiap hari? (idzan, kam dzonnukum yatahash sholuuna min darajatin fii yaumikum?)

Innaa Lillah wa Innaa Ilaihi Raaji'uun.
Toleransi Yang Mulia
Peradaban kita mempunyai toleransi keagamaan yang
mengagumkan, yang tidak pernah dikenal oleh
peradaban lain yang juga berpijak kepada agama. Orang
yang tidak percaya kepada semua agama atau Tuhan
tidak tampak aneh jika ia memandang semua agama
berdasarkan pengertian yang sama serta
memperlakukan pemeluk-pemeluknya dengan ukuran
yang sejajar.