BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
534 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
*NO WOMAN NO CRY*

Kalimat di atas pasti sangat akrab di telinga kita.

Ya,itulah judul lagunya Bob Marley yang dengan lagu itu Bob Marley dielu-elukan wanita, karena lagu itu ditujjukan Bob untuk memuliakan wanita.

Dengan lagu ini juga istrinya setia sampai mati kepadanya.

Lagu ini lahir, dengan latar kulit putih yang menjadikan kulit hitam masyarakat kelas rendah di sana. Ini membuat kaum ibu kulit hitam sedih dan disuarakan Bob lewat lagu ini, No Woman No Cry. Ini ungkapan protes bob atas ketidakadilan.

Itu sedikit story dari judul tulisan ini (cmiiw).

Tapi bukan hendak membahas Bob Marley lebih jauh, melainkan hanya ingin memberi tahu khususnya Para muslimah, bahwa Allah dalam Alquran yang diturunkan kepada NabiNya yang Mulia, sudah menghibur dan memuliakan wanita dengan kalimat senada *Allaa Tahjanii,* Jangan bersedih wahai Para wanita....

Beberapa ayat itu adalah:

QS Maryam:24
QS Al Ahzab:51
QS Al Qosos:7 dan 13
(Silahkan dibaca dan dioelajari)

Alquran mengisahkan wanita-wanita Mulia dalam ayat-ayat di atas, bahwa wanita itu dengan kesedihan, maka Allah menguatkan mereka Para wanita Mulia agar jangan bersedih, ini bukan kalimat larangan melainkan kalimat menghibur.

Sebagaimana Bob menghibur Para wanita kulit hitam yang direndahkan oleh kulit putih saat itu, yang pasti merasa sedih, gundah, kecewa dan sebagainya Allah pun sudah menyatakan ini sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, namun sayangnya kita mungkin lebih akrab dengan lagunya Bob ketimbang Alquran.

Secara fitrah, manusia akan berontak atas ketidakadilan, yang diungkaokan dengan berbagai cara, sesukanya, karena mereka tidak punya panduannya, namun Islam yang merupakan kitab petunjuk, memberikan caranya.

Jadi, wahai Para muslimah berakrab-akrablah dengan Alquran, di sanalah pusat petunjuk kehidupan untuk kamu, dengan mengakrabinya, pahala Allah untukmu, dan pasti Allah menunjukimu ke jalan yang benar.

Meski punya tujuan yang sama, bukan dengan menghafal dan mensenandungkan lagunya Bob Marley untuk menghibur dan memuliakan istrimu, saudara wanitamu, melainkan dengan petunjuk Alquran ini yang berisi petunjuk langsung dari yang menciptakan kita semua.

Pesan Allah ini juga berarti menyuruh kita kaum laki-laki, jangan ananiyah kepada istri-istrimu, tidak cuek, tidak egois, mau menang sendiri. Inti dari keberhasilan hubungan suami Istri itu ada pada mengalahnya suami pada Istri.

Pergauli istri-istrimu dengan ma'ruf. Sebagian ulama menafsiri Kata ma'ruf ini dengan kalimat:

Sabari kejahilan dan kekurangan istri-istrimu.....

Ngalahnya suami adalah sembilan puluh Persen kunci dari keberhasilan hubungan suami Istri.

Begitu banyak Nabi mencontohkan, ngalahnya beliau tatkala lomba Lari dengan Aisyah. Padahal mustahil seorang Nabi yang dikaruniai kekuatan empat puluh laki-laki Kalah lomba lari dengan istrinya.

oooh, andai saja Bob tahu ada petunjuk Alquran untuk memuliakan wanita-wanita kulit hitamnya, maka dia akan mendatanginya.
SEBUAH RENUNGAN MENJELANG IDUL ADHA

5 tahun lalu, temannya teman saya, orang Inggris, dia bilang kini orang asia (maksudnya muslim) mulai meniru nilai kapitalis kami.

Di saat jelang natal kami menurunkan harga semua barang yang terhubung peribadatan, seperti lilin dan lain-lain. Tapi saya lihat di indonesia, kalian menaikkan harga kambing juga biaya naik haji, tidakkah ada hadiah memudahkan orang beribadah??

Mengapa kalian menganggap hari ibadah sebagai peak session jualan, bukannya hari banyak beramal?

Makjleb, langsung ke jantung, nasihat dari seorang yang bukan Muslim, namun memiliki pandangan seorang muslim yang memahami Al Quran dan Sunnah NabiNya.

Idul Adha, mau Qurban apa?
KASMAN SINGODIMEDJO NAIK BUS KOTA
Abdullah Hehamahua

Tahun 1979 di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Bus kota berhenti di halte Ratu Plaza. Seorang kakek menaiki bus. Saya terperanjat !. Beliau langsung menujuku dan menduduki kursi kosong, di sampingku. Kusalami tangannya. “Kok pak Kasman naik bus ?,” tanyaku heran (pak Kasman Singodimejo adalah tokoh Masyumi kedua yang saya berdialog secara langsung dengannya).

Naik Bus Kota
Beberapa bulan setelah terpilih menjadi Ketua Umum PB.HMI, saya mendapat SK dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Buya Hamka, Ketua Umum menempatkan saya sebagai Ketua Seksi Pemuda. Inilah pertama kali saya menghadiri rapat MUI. Pengalaman menarik karena saya akan menemui para ulama, tokoh, dan aktivis Islam tingkat nasional. Lebih mengesankan, saya duduk berdampingan dengan seorang pejuang kemerdekaan. Nama besarnya hanya kukenal di kitab sejarah pergerakan Indonesia. Bayangkan, kakek di samping saya ini, mantan Ketua KNIP, Komite Nasional Indonesia Pusat (DPR-RI sekarang). Beliau juga mantan Jaksa Agung dan Menteri Muda Kehakiman. Di Masyumi, beliau Ketua Muda Majelis Syura dan wakil ketua DPP ketika Abah Natsir, Ketua Umum. Pak Kasman juga anggota parlemen.

Sejatinya, saya sudah bertemu beliau dalam event-event organisasi Islam. Namun, kami hanya bersalaman biasa. Saya juga mendengar buah pikirannya dalam acara tertentu. Kini, saya berdialog, bertanya, dan tabayun langsung ke beliau khusus mengenai peristiwa 18 Agustus 1945. Pertanyaan pertama yang kuajukan, mengapa pak Kasman naik bus kota. Padahal umur beliau waktu itu, 76 tahun. “Kita tidak boleh diatur oleh orang lain. Jangan bergantung sepenuhnya ke pihak lain. Kita harus bisa mengatur diri sendiri,” jelas pak Kasman. Maksudnya, ? tanyaku penasaran. Pak Kasman lalu cerita bahwa, sopirnya ada urusan. “Jika menunggu sopir, berarti saya hanya bergantung harap ke dirinya. Mengapa saya tidak berangkat sendiri saja,?” kata beliau. Saya membatin: “Pak Kasman, mantan Ketua DPR-RI, Jaksa Agung, Menteri Kehakiman, dan sederet jabatan kenegaraan lainya. Kok sekarang naik bus kota. Sendirian. Pejabat-pejabat lain, sudah pensiun pun masih dikawal ajudan pribadi.”

“Saya harus meneledani pak Kasman,” batinku. Pola pikir pak Kasman itulah yang saya terapkan ketika memimpin HMI sehingga menolak bertemu presiden Soeharto karena tidak mau “dicekoki.” Saya naik bus kota sewaktu mengajar di salah satu SMA, Selangor, Malaysia. Saya juga nginap di kantor sewaktu menjadi dosen Akademi Dakwah Muhammadiyah, Singapura. Ketika menjadi Wakil Ketua Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN), saya berangkat sendirian ke daerah. Saya menyetir sendiri mobil dinas dari rumah ke kantor. Tugas operasional, barulah saya diantar sopir kantor. Bahkan, sebagai Penasihat KPK selama delapan tahun, bahan presentasi kusiapkan sendiri. Terbang ke mana-mana di seluruh Indonesia, mulai dari Banda Aceh sampai Manokwari, Papua Barat, sendirian. “Kok tidak ada yang kawal pak,?” pertanyaan yang biasa diajukan Sekwan atau Panitia Seminar. “Ini, dua pengawal tetap,” kataku sambil menunjuk malaikat Raqib dan Atid yang berada di bahuku, kanan dan kiri. “Nggak takut diapa-apain sama orang, ?” tanya pejabat di provinsi tertentu.
Beberapa hari sebelum pertanyaan pejabat di atas, ada pegawai di Deputi Penindakan KPK, ditabrak pemotor ketika beliau menuju halte bus untuk pulang. Terpikir, akan kuceritakan bagaimana teror, intimidasi, bahkan tabrakan yang dilakukan terhadap pegawai KPK, khususnya di Bidang Penindakan. Namun, saya tidak ceritakan hal tersebut. Saya khawatir, tidak ada yang mau jadi pegawai KPK. “Saya punya jaket anti peluru, tapi tidak pernah kupakai,” kataku ke pejabat tadi. “Mengapa, ?” tanyanya, penasaran.
“Pertama, baju anti peluru itu berat. Ia membebaniku ketika menjinjing tas laptop dan koper dari pesawat terbang ke taksi.” Pejabat itu mengernyitkan dahi. Saya mafhum. Sebab, kebiasaan pejabat Indonesia, jangankan laptop atau tas pakaian, kacamata pun dibawa ajudan. Sewaktu mau membaca kata sambutan, ajudan menyerahkan kacamata. Selesai, kacamata diserahkan kembali ke ajudan. “Alasan kedua pak,?” tanya pejabat ini, penasaran.

“Kedua, saya tidak mau berbuat syirik.” “Maksudnya,?” tambah serius pejabat ini. Kujelaskan secara singkat, apa itu syirik: Syirik adalah perbuatan ‘men-dua-kan’ Allah SWT dalam segala aspek kehidupan, mulai dari gerakan hati, pola pikir, ucapan, tindakan, dan perilaku sehari-hari. Sewaktu berpikir bahwa, jeket anti peluru itu akan melindungiku dari perbuatan jahat makhluk, maka detik itu saya berbuat syirik. “Kok bisa pak,?” tanyanya, tambah heran. Sebab, Allah SWT adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pentadbir, Pelindung, Pengawas, dan Pemutus semua urusaan makhluk-Nya. Jadi, bukan jeket itu yang melindungiku, tapi Allah SWT. Jeket hanya alat. Ia berfungsi sebagai media atau ikhtiar datangnya perlindungan Allah SWT. Jika Allah menginginkan, maka jeket itu dapat ditembus peluru atau pisau sekalipun. Sebaliknya, tanpa jeket pelindung, saya tidak akan tertembak jika Allah yang melindungiku. Sekwan DPRD itu mengangguk perlahan.

Pencoretan Tujuh Kata di Piagam Jakarta
Tanggal 17 Agustus 1945, bertepatan 10 Ramadhan 1364 H, Indonesia merdeka. Sorenya, seorang opsir Jepang menemui Bung Hatta, menyampaikan tuntutan golongan Nasrani Indonesia Timur agar tujuh kata di Piagam Jakarta, dicoret. Jika tidak, mereka akan keluar dari Indonesia. (beberapa teori dan saksi sejarah mengatakan, tidak ada opsir Jepang yang menemui Bung Hatta mengenai hal itu. Bahkan menjawab pertanyaan saya, seorang Komisioner KPKPN, mantan Pimpinan GMKI – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia – mengatakan, tidak ada tuntutan golongan Nasrani yang minta pencoretan tujuh kata tersebut).
Besok paginya, 18 Agustus, Bung Hatta menghubungi beberapa tokoh Islam, menyampaikan permintaan masyarakat Kristen Indonesia Timur tersebut. “Mengapa bapak memaksa Ki Bagus Hadikusumo agar mau mencoret 7 kata tersebut, ?” tanyaku, penasaran. “Itu kesalahan saya. Semoga Allah mengampuni dosa saya,” katanya lirih. Tampak kesedihan di wajah pak Kasman.
Tokoh-tokoh lain, Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, dan Teuku Hasan, tidak pernah saya jumpai. Namun, menurut pak Kasman, mengenangkan perjuangan ulama, kiyai, dan tokoh Islam, dari Aceh sampai Maluku, demi tegaknya kalimah tauhid, la ilah illa Allah, maka mereka terima permintaan Hatta. Apalagi, Hatta mengatakan, kata-kata Yang Maha Esa adalah tauhid seperti yang tercantum dalam surah Al Ikhlas. “Namun, Ki Bagus Hadikusumo kan tetap menolak pencoretan tersebut,” kataku, menyalahkan pak Kasman. “Ya, waktu itu saya percaya dengan janji Bung Karno. Beliau bilang, umat Islam dapat mengajukan kembali tuntutan mereka jika menguasai parlemen,” kata pak Kasman. “Hasilnya ?,” desakku sekalipun sudah kutau hasil Badan Konstituante. Sebab, rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945 tersebut, selain memilih Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden, terdapat beberapa perubahan prinsip dalam UUD 45. Perubahan itu berupa:
(1) Sila Pertama (dalam Piagam Jakarta) berbunyi: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi: “Ketuhanan Yang Maha Esa” (2) Pasal 6 yang semula berbunyi: “Presiden ialah orang Indonesia asli yang beragama Islam”, diganti dengan “Presiden ialah orang Indonesia asli” (3) Pasal 28, “Negara berdasarkan atas Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti dengan “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” (pasal ini kemudian menjadi Pasal 29).

“Maaf pak, kalau kondisi seperti itu terjadi sekarang, generasi muda tidak akan terima,” kataku sambil melihat halte bus masjid Al Azhar yang beberapa ratus meter lagi. “Ya, kamu jangan ulangi kesalahan yang pernah saya lakukan dulu,” tegas pak Kasman sambil berdiri. Kami berdua pun turun dan berjalan menuju ruang rapat MUI di sebelah Masjid Agung Al Azhar. Sejak itu, ketika memimpin HMI dan Majelis Nasional KAHMI, aktif di KPKPN, KPK, serta Direktur Pascasarjana, saya toleran terhadap perbedaan pendapat, tapi tegas atas setiap pelanggaran ketentuan. Aplikasinya, saya pernah pecat seorang Ketua Badko HMI dan fungsionaris PB.HMI. Di KPKPN, saya melaporkan 10 pejabat ke Mabes Polri di mana tujuh di antaranya, senior saya ketika menjadi mahasiswa. Di KPK, saya dan anggota Majelis Kode Etik memecat 4 pegawai, memberhentikan dua pejabat serta menetapkan tiga Surat Peringatan Pertama. Saya juga memecat seorang Kaprodi sewaktu menjadi Ketua STIE. Alasan saya, Rasulullah SAW memaafkan mereka yang menghina dirinya tapi menjatuhkan hukuman tegas bagi yang melanggar ketentuan Allah SWT.

Depok, Dekrit 5 Juli 2021.
Untuk Pengusaha/pebisnis yang belum punya Logo, ada kabar gembira buat anda, pembuatan Logo gratis, sebagai berikut:

1 Desain Logo
Revisi 3x
1 Desain Banner
File Master

Manfaat Memiliki Logo
1. Memberikan Kesan Pertama yang Bagus. Sering kali logo dan nama perusahaan adalah hal yang pertama dilihat pelanggan. Sehingga penting memiliki logo yang dirancang dengan baik untuk menggaet pelanggan potensial.

2. Membangun Identitas Brand. Logo dan Brand adalah dua hal yang terpisah, tetapi logo memainkan peran besar dalam memberikan identitas Brand. Seringkali, itu menjadi representasi ikonik sebuah merek: aspek bisnis yang paling mudah diidentifikasi orang.

3. Membangun Loyalitas. Dengan memiliki desain logo yang kuat, memorable dan konsisten yang diterapkan dalam strategi marketing offilne dan online akan membuat pelanggan mengingat Anda dan ingin terus berhubungan dengan Bisnis Anda.

Segera ambil kesempatan ini, melalui link ini:
https://suuq.orderonline.id/logo-gratis
PENTINGNYA MEMPELAJARI BAHASA ARAB BAGI PENUNTUT ILMU DAN DA'I


Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran, bahasa As Sunnah, bahasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahasa para sahabat yang mulia.

Maka bahasa Islam adalah bahasa Arab. Oleh karena itu, jika seseorang penuntut ilmu ingin mempelajari Islam secara benar, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Arab.

Apabila dia kurang belajar bahasa Arab, maka dia tidak dapat mengambil faedah ilmu yang sebenarnya dari balik menuntut ilmu.

Hal ini sangat penting untuk semua penuntut ilmu, khususnya di negara kalian, negara non Arab, yang tidak bicara dengan bahasa Arab. Maka di antara kewajiban bagi penuntut ilmu adalah memperhatikan bahasa Arab.

Dalam pembahasan yang sama, hendaklah penuntut ilmu setelah itu menyebarkan pengajaran bahasa Arab kepada masyarakat, yakni jangan membatasi bahasa Arab hanya untuk penuntut ilmu saja. Tapi hendaklah menyebarkan pengajaran bahasa Arab bagi orang-orang awam.

Karena jika bahasa Islam "Bahasa Arab" ada di suatu negara, maka itu akan menjaga keberadaan Islam. Jika bahasa Arab hilang, mati dan pergi dari masyarakat muslim, maka ini sangat bahaya dan dapat menghilangkan Islam dari daerah tersebut.

Oleh sebab itu musuh-musuh Islam di Eropa, timur Eropa, dahulu di sana terdapat negara Eropa yang muslim, di timur Eropa.
Musuh-musuh Islam memerangi Islam dan mereka melarang kaum muslimin berbicara dengan bahasa Arab dan mereka melarang menamakan putra-putra muslimin dengan bahasa Arab dan mereka melarang menamakan putri-putri muslimin dengan bahasa Arab.

Setiap hal yang berkaitan dengan bahasa Arab mereka larang. Apa sebab mereka melarangnya? Sebabnya adalah karena mereka mengetahui bahwa jika mereka melarang bahasa Arab dan menjadikan kamu muslimin melupakannya, maka cara ini akan dapat menghancurkan dan menghilangkan Islam dari negara tersebut.

Oleh karena itu, sebagaimana yang telah saya sampaikan, menjaga bahasa Arab termasuk JIHAD FII SABIILILLAH seperti di negara kalian, negara non Arab.

Hendaklah kalian menyebarkan bahasa Arab kepada masyarakat dan senantiasa mempelajarinya dengan pembelajaran yang sungguh-sungguh, sehingga Allah memberikan faedah ilmu kepada kalian

(Nasihat Syaikh kepada Kita Muslimin)

Dengarkan suara Syaikhnya di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=wqxOw1r4kh8
Dunia Barat dengan jujur mengatakan:

"kita sekarang pemegang peradaban, dunia kita pegang, ilmu pengetahuan kita kuasai, ekonomi kita kendalikan. Namun satu yang tidak bisa kita lakukan dan kita tidak paham adalah kita tidak bisa mendidik anak-anak kita menjadi orang tua yang baik."

Ini satu hal yang tidak ada di Barat dan justru inilah kekuatan kita muslim yang contoh aplikasinya sudah begitu terang benderang melalui suri tauladan kita, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Sayangnya banyak muslim yang belum/tidak menyadari bahwa ilmu ini (mendidik anak menjadi orangtua yang baik) sudah mereka miliki, namun masih saja mereka bangga mencontek mentah-mentah kurikulum mereka tentang pendidikan anak.
*IKHTIAR ILAHIAH UNTUK PENJAGAAN DAN PENCEGAHAN*
*_Pronsa Propolis Nano-Tech_*

Khasiat Pronsa Propolis antara lain:
1. Membantu memelihara kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri/jamur (termasuk COVID-19, dengue dan flu)
2. Membantu mencegah berbagai penyakit degeneratif (termasuk asam urat, diabetes dan kanker), khususnya bagi kaum lansia.
3. Membantu pemulihan dari sariawan, jerawat dan luka luar.

*KEUNGGULAN PRONSA PROPOLIS*
Dengan teknologi Nano, Butiran Propolis Pronsa berukuran sangat halus, sehingga efeknya lebih larut di air dan lebih mudah terserap ke dalam tubuh.
*IKHTIAR ILAHIAH UNTUK PENJAGAAN DAN PENCEGAHAN*
_*Pronsa Propolis Nano-Tech*_

*KHASIAT UTAMA PRONSA PROPOLIS* :
1. Membantu memelihara kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri/jamur (termasuk COVID-19, dengue dan flu)

*KHASIAT LAINNYA:*
2. Membantu mencegah berbagai penyakit degeneratif (termasuk asam urat, diabetes dan kanker), khususnya bagi kaum lansia.
3. Membantu pemulihan dari sariawan, jerawat dan luka luar.

*KEUNGGULAN PRONSA PROPOLIS*
Dengan teknologi Nano, Butiran Propolis Pronsa berukuran sangat halus, sehingga efeknya lebih larut di air dan lebih mudah terserap ke dalam tubuh (usus halus), memudahkan zat aktif propolis bekerja untuk penyembuhan.
AIR BENING

Semua makhluk hidup diciptakan dari air. Allah berfirman:
_Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?_ (QS. Al Anbiyaa:30).

Bukti ilmiah dari Firman Allah ini adalah lebih dari 80%, isi sel-sel kita adalah air.

Karena itu bila kita mengalami suatu gangguan kesehatan, misalnya tekanan darah tinggi, kesulitan berkonsentrasi atau keriput dini pada wajah, maka akar masalahnya boleh jadi adalah kurangnya kadar air di dalam tubuh kita.

Minum air bening dengan cukup sangat diperlukan pada masa wabah COVID-19 ini untuk mengencerkan darah kita. Karena antibodi yang kita perlukan untuk melumat COVID-19 akan bekerja dengan lebih leluasa bila darah kita encer, bi idznillah.

Yang di maksud dengan air bening di sini bukan minuman susu, teh manis, kopi atau sejenisnya, melainkan air yang suci dan layak minum yang belum dicampur dengan bahan lainnya.
Semoga Allah mengizinkan kita minum air bening 1-2 gelas tiap setelah sholat wajib.

Adapun untuk memlihara kesehatan selanjutnya, tersedia PROPOLIS, insyaa Allah.
Abu Jahal, tokoh Quraisy, tahu sekali konsekuensi syahadatain, sehingga dia tidak mau bersyahadat hingga kematiannya di perang Badar tetap dalam keadaan kafir.

Bilal, mantan budak Habsyi yang dimerdekakan oleh Abu Bakar, adalah orang besar dan dimuliakan oleh masyarakat di zaman Nabi maupun sepeninggal Nabi.

Suatu hari, Bilal ditanya seseorang:
Bilal, sejak kapan kamu bermimpi menjadi orang semulia dan dimuliakan orang sebanyak ini? Bilal menjawab:
Sejak saya mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah. Saya sudah tahu bahwa saya akan menjadi orang besar.

Hari ini kita tidak tahu konsekuensi Syahadatain, ini masalah besar umat Islam hari ini. Tidak berani bermimpi besar dengan berbagai alasan. Lihatlah Bilal, dahulunya hanya seorang budak berkulit hitam, namun Bilal paham konsekuensi dan makna Syahadatain, yang membuatnya jadi manusia mulia di hadapan manusia dan di hadapan Allah, Tuhannya.