Ketika badai mereda, langit tak lagi berteriak.
Dalam keheningan yang tersisa, muncullah bias cahaya—
ia melengkung indah di langit, sang Pelangi namanya.
Dan dalam hidupku kau lah sang Pelangi itu, yang datang setelah hujan deras menghantam hatiku,
membawa warna-warna yang tak pernah kutahu sebelumnya.
Merah keberanianmu.
Kuning tawamu yang hangat.
Hijau ketenanganmu.
Biru tuturmu yang lembut.
Dan ungu dari rindu yang selalu
kau semai dalam diam.
Kau bukan sekadar hadir.
Kau mengubah—membuatku percaya bahwa setelah segala luka,
masih ada keindahan yang pantas diperjuangkan.
Dalam keheningan yang tersisa, muncullah bias cahaya—
ia melengkung indah di langit, sang Pelangi namanya.
Dan dalam hidupku kau lah sang Pelangi itu, yang datang setelah hujan deras menghantam hatiku,
membawa warna-warna yang tak pernah kutahu sebelumnya.
Merah keberanianmu.
Kuning tawamu yang hangat.
Hijau ketenanganmu.
Biru tuturmu yang lembut.
Dan ungu dari rindu yang selalu
kau semai dalam diam.
Kau bukan sekadar hadir.
Kau mengubah—membuatku percaya bahwa setelah segala luka,
masih ada keindahan yang pantas diperjuangkan.
Berdiam ribuan kata di relung dada,
mengendap dalam senyap yang tak terjamah suara.
Mereka tak menggeram, hanya mengetuk perlahan— meninggalkan perih yang tak berdarah.
Waktu berlalu,
dan kata-kata itu tumbuh tanpa arah,
mekar di dalam, tapi tak pernah menjelma lisan.
Kupeluk semuanya dalam diam,
hingga sesak menjadi teman paling setia.
Mungkin kelak,
aku akan pergi bersama sunyi yang tak sempat terungkap,
dan dunia hanya mengenangku sebagai
ia yang pandai menyembunyakan luka dalam senyum.
mengendap dalam senyap yang tak terjamah suara.
Mereka tak menggeram, hanya mengetuk perlahan— meninggalkan perih yang tak berdarah.
Waktu berlalu,
dan kata-kata itu tumbuh tanpa arah,
mekar di dalam, tapi tak pernah menjelma lisan.
Kupeluk semuanya dalam diam,
hingga sesak menjadi teman paling setia.
Mungkin kelak,
aku akan pergi bersama sunyi yang tak sempat terungkap,
dan dunia hanya mengenangku sebagai
ia yang pandai menyembunyakan luka dalam senyum.
Tak terasa duabelas bulan sudah terlewat, sejak kata sayang itu keluar dari balik gigi mu, dan anehnya masih saja membekas dalam hati ini.
Bagaimana hari mu, kak? Apakah masih ada bayang ku bermuara pada benak mu?
Bagaimana dengan tidur mu, kak? Siapa yang kini mengucapkan doa dan mimpi indah sebelum kau terlelap?
Bagaimana dengan makan mu, kak? Masih kah kau membenci pada tumbuhan hijau itu?
Beritahu aku alur hidup mu yang sekarang, kak. Jadikan aku bagian dari hari-hari mu lagi, jadikan aku tempat kau meriuhkan rasa sakit dikala geri datang, jadikan aku alasan mu untuk tersenyum lagi, jadikan aku kekasih mu lagi, kakak sayang. ㅤㅤ
Bagaimana hari mu, kak? Apakah masih ada bayang ku bermuara pada benak mu?
Bagaimana dengan tidur mu, kak? Siapa yang kini mengucapkan doa dan mimpi indah sebelum kau terlelap?
Bagaimana dengan makan mu, kak? Masih kah kau membenci pada tumbuhan hijau itu?
Beritahu aku alur hidup mu yang sekarang, kak. Jadikan aku bagian dari hari-hari mu lagi, jadikan aku tempat kau meriuhkan rasa sakit dikala geri datang, jadikan aku alasan mu untuk tersenyum lagi, jadikan aku kekasih mu lagi, kakak sayang. ㅤㅤ
Telegram
廊下 : dailylove [💬]