Jangan sampai, kita capek-capek cari harta dan kekayaan, tapi malah mengabaikan kesehatan.
Pernah malas? Kalaupun pernah, yah jangan lama-lama.
Kenapa?
Orang bodoh, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
Orang kampung, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
Orang kuper, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
TAPI, orang malas, tahu-tahu jadi kaya, ini hampir-hampir TIDAK PERNAH terjadi.
Hei, nggak perlu tersinggung. Mari kita sama-sama introspeksi...
Dua kelemahan kita (orang Indonesia) adalah 2M, yaitu Minder dan Malas. Ini menurut Pak Zul, Ketua MPR. Sekian kali saya bertemu beliau, alhamdulillah, saya dapat ilmu-ilmu baru. Minder itu penghambat. Malas, sama saja, juga penghambat. Anda sepakat?
Rabu minggu yang lalu, saya makan siang bareng Pak Zul dan Imam Shamsi. Terus, saya makan malam bareng Mas Dwiki Dharmawan dan Mas Fadly Padi. Saya pribadi sudah lama kenal kedua-duanya. Karya mereka hebat-hebat. Dan yang bikin saya kagum, mereka selalu punya waktu juga energi untuk umat. Kecil atau besar, mereka berusaha berbuat.
Kamis, saya ngobrol-ngobrol dengan pendiri Wardah dan pendiri Shafira dalam dua kesempatan yang berbeda. Kita semua tahu, mereka berdua berangkat dari nol sebelum sukses besar seperti sekarang. Hari-hari mereka isi dengan kerja keras. Nggak malas.
Maaf, mungkin nasib jelek yang kita terima saat ini adalah buah dari kemalasan kita. Malas berikhtiar, malas beribadah, malas belajar. Nah, sudah saatnya, kebiasaan buruk yang satu ini segera kita tinggalkan.
Kenapa?
Orang bodoh, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
Orang kampung, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
Orang kuper, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
TAPI, orang malas, tahu-tahu jadi kaya, ini hampir-hampir TIDAK PERNAH terjadi.
Hei, nggak perlu tersinggung. Mari kita sama-sama introspeksi...
Dua kelemahan kita (orang Indonesia) adalah 2M, yaitu Minder dan Malas. Ini menurut Pak Zul, Ketua MPR. Sekian kali saya bertemu beliau, alhamdulillah, saya dapat ilmu-ilmu baru. Minder itu penghambat. Malas, sama saja, juga penghambat. Anda sepakat?
Rabu minggu yang lalu, saya makan siang bareng Pak Zul dan Imam Shamsi. Terus, saya makan malam bareng Mas Dwiki Dharmawan dan Mas Fadly Padi. Saya pribadi sudah lama kenal kedua-duanya. Karya mereka hebat-hebat. Dan yang bikin saya kagum, mereka selalu punya waktu juga energi untuk umat. Kecil atau besar, mereka berusaha berbuat.
Kamis, saya ngobrol-ngobrol dengan pendiri Wardah dan pendiri Shafira dalam dua kesempatan yang berbeda. Kita semua tahu, mereka berdua berangkat dari nol sebelum sukses besar seperti sekarang. Hari-hari mereka isi dengan kerja keras. Nggak malas.
Maaf, mungkin nasib jelek yang kita terima saat ini adalah buah dari kemalasan kita. Malas berikhtiar, malas beribadah, malas belajar. Nah, sudah saatnya, kebiasaan buruk yang satu ini segera kita tinggalkan.
Berhentilah bersikap malas dan memelas. Lebih baik isi hari-harimu dengan kerja keras.
Teman-teman ada pesan untuk Pak Gatot? Sekiranya ada, silakan komen dan sampaikan di IG saya. Mudah-mudahan bisa kita teruskan ke beliau. Komen di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BbBwKKVB2O4/
Instagram
Motivator Indonesia - IPPHO
Selagi legal dan halal, jangan takut gagal. Beranilah. Orang-orang hebat di sepanjang sejarah adalah orang-orang yang berani mengambil keputusan dan berani mengambil tindakan. Teman-teman #berani? . . . . #GatotNurmantyo #PanglimaTNI #NKRIHargaMati #SayaIndonesia…
Pernah kecurian?
Dulu, beberapa tahun yang lalu, mobil saya pernah dibobol orang pas lagi parkir di sebuah plaza di Batam. Kaca mobil dipecah dan tas saya di dalam mobil diambil. Tepatnya, dicuri. Saya pun kesal.
Terus, kejadian tidak menyenangkan ini saya laporkan ke pihak manajemen plaza. Saat itu saya tidak punya banyak waktu. Karena sudah ditunggu di kelas di sebuah kampus. Mau mengajar, ceritanya. Kunci mobil berada di tangan mereka.
Serunya, begitu saya selesai mengajar, kaca mobil saya sudah selesai diperbaiki. Dan di dalam mobil telah disiapkan tas pengganti. Ada pula kartu kecil berisi permintaan maaf. Alih-alih kesal, hati saya langsung terhibur dengan langkah recovery yang cepat dan cekatan dari manajemen plaza tersebut.
Bulan lalu, satu set jas saya (atas dan bawah) rusak parah ketika dry clean di Hotel Singga**** di Makassar. Saya sempat kesal. Pihak hotel pun mengakui kesalahan fatal itu dan berjanji akan segera mengganti.
Harga satu set jas itu, katakanlah, Rp100ribu (ini ilustrasi saja, untuk memudahkan komparasi). Ternyata setelah lebih dari dua minggu, satu set jas itu tidak diganti juga. Jawaban mereka, "Ntar. Besok. Ntar. Besok" Begitulah setiap harinya.
Terus mereka berusaha ngakalin dengan mencarikan jas alternatif dengan harga Rp12ribu atau Rp15ribu. Mereknya berbeda, harganya pun jauh berbeda alias jauh lebih murah. Sekitar 80% lebih murah. Diakalin begitu, terang saja saya marah.
Selanjutnya mereka berkelit setiap hari, mengaku bahwa jas sudah dikirim dan dalam proses delivery. Kemudian barulah saya tahu ternyata itu semua cuma omong-kosong. Setelah didesak sekian lama, akhirnya jas pengganti itu datang juga. Itu pun tim saya yang harus mengambil.
Yang membuat saya tersenyum kecut adalah mereka hanya mengganti jas bagian atas saja. Celana (bawahan) tidak mereka ganti. Padahal yang rusak adalah satu set jas, atas dan bawah. Harga jas pengganti itu hanya Rp75ribu.
Alasan mereka, "Kami hanya berjanji mengganti jas saja." Bayangkan, saya merusak kemeja dan celana Anda. Terus ketika ganti rugi, saya ngeles, "Saya hanya berjanji mengganti kemeja saja." Masuk akalkah?
Sebenarnya, bukan soal harga yang membuat saya kecewa. Tapi soal ngeles demi ngeles. Andai saja sejak awal mereka berujar, "Maaf Pak, kami hanya punya budget Rp30ribu atau 30% dari harga jas Bapak. Baiknya gimana ya Pak?" Insya Allah saya akan menerima dan merelakan.
Sekali lagi, bukan uang yang utama. Melainkan niat dan kesungguhan. Toh, jas pengganti dari Hotel Singga**** itu langsung saya hadiahkan pada salah satu peserta seminar pada 4 November 2017 di Jakarta. Saya tidak mau hati saya melekat pada barang dan merek tertentu.
Sekarang Anda sebagai pembaca, coba bandingkan dua kisah di atas. Pertama, kisah sebuah plaza di Batam. Kedua, kisah sebuah hotel di Makassar. Saya yakin Anda sepakat bahwa langkah recovery dari plaza itu lebih layak dijadikan contoh.
Apa pendapat Anda?
Dulu, beberapa tahun yang lalu, mobil saya pernah dibobol orang pas lagi parkir di sebuah plaza di Batam. Kaca mobil dipecah dan tas saya di dalam mobil diambil. Tepatnya, dicuri. Saya pun kesal.
Terus, kejadian tidak menyenangkan ini saya laporkan ke pihak manajemen plaza. Saat itu saya tidak punya banyak waktu. Karena sudah ditunggu di kelas di sebuah kampus. Mau mengajar, ceritanya. Kunci mobil berada di tangan mereka.
Serunya, begitu saya selesai mengajar, kaca mobil saya sudah selesai diperbaiki. Dan di dalam mobil telah disiapkan tas pengganti. Ada pula kartu kecil berisi permintaan maaf. Alih-alih kesal, hati saya langsung terhibur dengan langkah recovery yang cepat dan cekatan dari manajemen plaza tersebut.
Bulan lalu, satu set jas saya (atas dan bawah) rusak parah ketika dry clean di Hotel Singga**** di Makassar. Saya sempat kesal. Pihak hotel pun mengakui kesalahan fatal itu dan berjanji akan segera mengganti.
Harga satu set jas itu, katakanlah, Rp100ribu (ini ilustrasi saja, untuk memudahkan komparasi). Ternyata setelah lebih dari dua minggu, satu set jas itu tidak diganti juga. Jawaban mereka, "Ntar. Besok. Ntar. Besok" Begitulah setiap harinya.
Terus mereka berusaha ngakalin dengan mencarikan jas alternatif dengan harga Rp12ribu atau Rp15ribu. Mereknya berbeda, harganya pun jauh berbeda alias jauh lebih murah. Sekitar 80% lebih murah. Diakalin begitu, terang saja saya marah.
Selanjutnya mereka berkelit setiap hari, mengaku bahwa jas sudah dikirim dan dalam proses delivery. Kemudian barulah saya tahu ternyata itu semua cuma omong-kosong. Setelah didesak sekian lama, akhirnya jas pengganti itu datang juga. Itu pun tim saya yang harus mengambil.
Yang membuat saya tersenyum kecut adalah mereka hanya mengganti jas bagian atas saja. Celana (bawahan) tidak mereka ganti. Padahal yang rusak adalah satu set jas, atas dan bawah. Harga jas pengganti itu hanya Rp75ribu.
Alasan mereka, "Kami hanya berjanji mengganti jas saja." Bayangkan, saya merusak kemeja dan celana Anda. Terus ketika ganti rugi, saya ngeles, "Saya hanya berjanji mengganti kemeja saja." Masuk akalkah?
Sebenarnya, bukan soal harga yang membuat saya kecewa. Tapi soal ngeles demi ngeles. Andai saja sejak awal mereka berujar, "Maaf Pak, kami hanya punya budget Rp30ribu atau 30% dari harga jas Bapak. Baiknya gimana ya Pak?" Insya Allah saya akan menerima dan merelakan.
Sekali lagi, bukan uang yang utama. Melainkan niat dan kesungguhan. Toh, jas pengganti dari Hotel Singga**** itu langsung saya hadiahkan pada salah satu peserta seminar pada 4 November 2017 di Jakarta. Saya tidak mau hati saya melekat pada barang dan merek tertentu.
Sekarang Anda sebagai pembaca, coba bandingkan dua kisah di atas. Pertama, kisah sebuah plaza di Batam. Kedua, kisah sebuah hotel di Makassar. Saya yakin Anda sepakat bahwa langkah recovery dari plaza itu lebih layak dijadikan contoh.
Apa pendapat Anda?
Jenuh? Bosan?
Ini harus segera diatasi. Jangan ditunda-tunda. Bila tidak segera diatasi, ini akan membuat kita terjatuh pada kubangan kemalasan. Kita sama-sama tahu penyakit malas itu sulit diobati.
Pertama, identifikasi dulu apa saja penyebab kejenuhan. Terus, carilah alternatif solusi atas penyebab tersebut. Sekiranya karena pekerjaan yang monoton, Anda bisa berkonsultasi dengan atasan dan rekan kerja agar diberlakukan job rotation. Boleh dicoba.
Janganlah menganggap jenuh sebagai masalah yang permanen. Bagaimanapun kita harus berusaha untuk berpikir positif. Dengan kata lain, cobalah mengambil hikmah. Mungkin ada sesuatu yang bermakna di sana. Misal, dengan lama bekerja di suatu tempat, kita dapat banyak ilmu dan banyak pengalaman di sana. Atau luasnya pergaulan.
Kedua, kembangkan kreativitas. Maksudnya, buatlah sesuatu yang baru berdasarkan posisi Anda. Sebagai contoh, jika Anda seorang supervisor di perusahaan, maka Anda dapat bereksperimen dalam membuat susunan tugas dan tanggung jawab pada tim.
Ketiga? Hilangkan kejenuhan dengan berolahraga. Ya, berolahraga. Di British Propolis kami juga menganjurkan hal serupa. Tidak ada ceritanya olahraga bisa menyebabkan badan lemas dan malas.
Hm jangan salah, tak jarang orang justru merasa kesal dan emosional jika diam begitu saja, tidak memiliki kegiatan apapun. Betul apa betul? Anda yang jarang berolahraga, sebaiknya memulainya dari sekarang.
Ya, lakukan aktivitas olahraga yang Anda sukai. Jangan merasa terpaksa. Meskipun hanya lari di pagi hari mengitari kompleks rumah, ini cukup signifikan untuk mengubah suasana hati (mood).
Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ini harus segera diatasi. Jangan ditunda-tunda. Bila tidak segera diatasi, ini akan membuat kita terjatuh pada kubangan kemalasan. Kita sama-sama tahu penyakit malas itu sulit diobati.
Pertama, identifikasi dulu apa saja penyebab kejenuhan. Terus, carilah alternatif solusi atas penyebab tersebut. Sekiranya karena pekerjaan yang monoton, Anda bisa berkonsultasi dengan atasan dan rekan kerja agar diberlakukan job rotation. Boleh dicoba.
Janganlah menganggap jenuh sebagai masalah yang permanen. Bagaimanapun kita harus berusaha untuk berpikir positif. Dengan kata lain, cobalah mengambil hikmah. Mungkin ada sesuatu yang bermakna di sana. Misal, dengan lama bekerja di suatu tempat, kita dapat banyak ilmu dan banyak pengalaman di sana. Atau luasnya pergaulan.
Kedua, kembangkan kreativitas. Maksudnya, buatlah sesuatu yang baru berdasarkan posisi Anda. Sebagai contoh, jika Anda seorang supervisor di perusahaan, maka Anda dapat bereksperimen dalam membuat susunan tugas dan tanggung jawab pada tim.
Ketiga? Hilangkan kejenuhan dengan berolahraga. Ya, berolahraga. Di British Propolis kami juga menganjurkan hal serupa. Tidak ada ceritanya olahraga bisa menyebabkan badan lemas dan malas.
Hm jangan salah, tak jarang orang justru merasa kesal dan emosional jika diam begitu saja, tidak memiliki kegiatan apapun. Betul apa betul? Anda yang jarang berolahraga, sebaiknya memulainya dari sekarang.
Ya, lakukan aktivitas olahraga yang Anda sukai. Jangan merasa terpaksa. Meskipun hanya lari di pagi hari mengitari kompleks rumah, ini cukup signifikan untuk mengubah suasana hati (mood).
Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Capek-capek berikhtiar.
Capek-capek belajar.
Capek-capek beramal.
Apakah jaminan sukses?
Nggak juga. Tapi dari segi statistik, kemungkinan sukses kita akan jauh lebih besar.
Coba pikirkan ini. Yang capek-capek berikhtiar saja nggak jaminan sukses, apalagi yang males-malesan?
Sadar woy !
Capek-capek belajar.
Capek-capek beramal.
Apakah jaminan sukses?
Nggak juga. Tapi dari segi statistik, kemungkinan sukses kita akan jauh lebih besar.
Coba pikirkan ini. Yang capek-capek berikhtiar saja nggak jaminan sukses, apalagi yang males-malesan?
Sadar woy !
Saya mau minta tolong. Boleh? Terima kasih sebelumnya.
Copas link ini, terus minta keluarga dan kerabatnya baca. Boleh?
Nggak harus sekarang sih. Nanti pun boleh.
https://m.kitabisa.com/MotivatorIndonesia
Setidaknya mereka bantu doakan.
Copas link ini, terus minta keluarga dan kerabatnya baca. Boleh?
Nggak harus sekarang sih. Nanti pun boleh.
https://m.kitabisa.com/MotivatorIndonesia
Setidaknya mereka bantu doakan.
Teman-teman pernah belanja online? Kalau jualan online?
Hampir semua barang yang dulunya kita beli di toko, sekarang sudah bisa dibeli secara online. Ingat, kegandrungan belanja online ini bukan saja dimiliki oleh kaum milenial, terbukti para ibu pun sering mencari kebutuhan si kecil melalui internet.
Belanja secara online kadang bisa membingungkan, terutama saat konsumen harus memilih suatu produk. Orang rata-rata akan memilih berdasarkan rating dan review. Kendati begitu, ternyata produk dengan rating tertinggi tak selalu yang terbaik.
Menurut studi dari Derek Powell, PhD, peneliti Stanford University, ulasan memang membantu kita menentukan produk yang dibeli, tapi bukan yang terbaik. Tidak jaminan.
Hasil penelitian mengungkapkan, produk dengan jumlah ulasan lebih banyak akan cenderung dibeli, bahkan walau peringkatnya rendah. Menariknya, jika ada dua produk yang sama-sama memiliki ulasan buruk maka konsumen tetap akan membeli produk dengan ulasan terbanyak.
Teman-teman yang punya toko online harus memperhatikan hal ini. Maka, mintalah konsumen kita untuk memberikan ulasan. Tentunya, ulasan yang jujur dan alami. Mudah-mudahan ini bisa membuat toko online kita semakin ramai dan menguntungkan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hampir semua barang yang dulunya kita beli di toko, sekarang sudah bisa dibeli secara online. Ingat, kegandrungan belanja online ini bukan saja dimiliki oleh kaum milenial, terbukti para ibu pun sering mencari kebutuhan si kecil melalui internet.
Belanja secara online kadang bisa membingungkan, terutama saat konsumen harus memilih suatu produk. Orang rata-rata akan memilih berdasarkan rating dan review. Kendati begitu, ternyata produk dengan rating tertinggi tak selalu yang terbaik.
Menurut studi dari Derek Powell, PhD, peneliti Stanford University, ulasan memang membantu kita menentukan produk yang dibeli, tapi bukan yang terbaik. Tidak jaminan.
Hasil penelitian mengungkapkan, produk dengan jumlah ulasan lebih banyak akan cenderung dibeli, bahkan walau peringkatnya rendah. Menariknya, jika ada dua produk yang sama-sama memiliki ulasan buruk maka konsumen tetap akan membeli produk dengan ulasan terbanyak.
Teman-teman yang punya toko online harus memperhatikan hal ini. Maka, mintalah konsumen kita untuk memberikan ulasan. Tentunya, ulasan yang jujur dan alami. Mudah-mudahan ini bisa membuat toko online kita semakin ramai dan menguntungkan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apa cita-cita anak Anda?
Spirit dan passion untuk menjadi wirausahawan itu bisa muncul dari keluarga. Ini bukan soal anak yang diberi warisan berupa perusahaan oleh orangtua, tapi ini lebih terkait pada pola asuh terhadap anak.
Ingat, pola asuh akan membentuk karakter anak. Juga akan mengasah mental dan mindset-nya. Semua itu akan berpengaruh secara sadar atau tidak, saat ia menjadi seorang wirausahawan kelak.
Anak yang jatuh kemudian dimotivasi untuk bangkit atau malah dimarahi akan membawa dampak berbeda. Ada pula anak yang dibiarkan untuk menyalah-nyalahkan lantai. Tentu Anda tahu mana yang terbaik.
Anak seharusnya didorong untuk memiliki percaya diri. Bukan dimarahi di mana ini akan membuat mentalnya turun. Bukan pula dibiarkan anak menyalah-nyalahkan lantai.
Satu lagi. Biasakan anak untuk menyukai dunia penjualan sejak dini. Ya, sejak dini. Terjun langsung sebagai penjual pun tak masalah. Lebih bagus malah. Pelan-pelan ia akan terbiasa dengan risiko dan transaksi.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Spirit dan passion untuk menjadi wirausahawan itu bisa muncul dari keluarga. Ini bukan soal anak yang diberi warisan berupa perusahaan oleh orangtua, tapi ini lebih terkait pada pola asuh terhadap anak.
Ingat, pola asuh akan membentuk karakter anak. Juga akan mengasah mental dan mindset-nya. Semua itu akan berpengaruh secara sadar atau tidak, saat ia menjadi seorang wirausahawan kelak.
Anak yang jatuh kemudian dimotivasi untuk bangkit atau malah dimarahi akan membawa dampak berbeda. Ada pula anak yang dibiarkan untuk menyalah-nyalahkan lantai. Tentu Anda tahu mana yang terbaik.
Anak seharusnya didorong untuk memiliki percaya diri. Bukan dimarahi di mana ini akan membuat mentalnya turun. Bukan pula dibiarkan anak menyalah-nyalahkan lantai.
Satu lagi. Biasakan anak untuk menyukai dunia penjualan sejak dini. Ya, sejak dini. Terjun langsung sebagai penjual pun tak masalah. Lebih bagus malah. Pelan-pelan ia akan terbiasa dengan risiko dan transaksi.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.