Takdir membelokkan saya kuliah di Malaysia.
Dulu sebelum tamat kuliah, saya ditawari kerja di 2 tempat di Malaysia. Saya sempat bekerja di Malaysia, tapi kemudian saya memilih balik alias pulang ke Indonesia. Pulang dan bekerja di Indonesia, ini keputusan yang rada berat bagi saya. Karena di sana, gaji saya 2 kali bahkan 3 kali lipat lebih tinggi. Bingung kan? Jangan ditanya.
Tapi saya tetap dengan keputusan saya. Di Indonesia sajalah. Memang, mengabdi untuk Indonesia, bisa dilakukan di mana saja, termasuk dari luar negeri. Sudah banyak buktinya. Teman-teman Diaspora contohnya. Tapi saya memilih untuk tinggal dan bekerja di Indonesia. I love Indonesia. Juga ada visi dan misi yang lain. Apa itu?
Begini. Hati saya sering gusar kalau mendengar orang Indonesia yang tidak pede dengan Indonesia atau meremehkan Indonesia. Ini terlalu, menurut saya. Salah satu wujud bukti cinta saya untuk Indonesia adalah berdirinya SD dan TK Khalifah yang alhamdulillah sekarang sudah 70-an cabang se-Indonesia. Ribuan anak telah atau sedang belajar di SD dan TK Khalifah sejak 2007.
Suatu malam saya bertemu dengan ratusan orangtua murid. Alhamdulillah, senang sekali hati saya. Di mata mereka tersirat kebanggaan. Di SD dan TK Khalifah, anak-anak dilatih agar mempunyai entrepreneur mindset. Bercita-cita jadi pengusaha. Kalau kelak mereka semua jadi pengusaha dan soleh, insya Allah akan maju dan melaju negeri ini. Menuju Indonesia Berdaya. Kalau perlu, orang asing yang kerja untuk kita, hehehe.
Btw, apa makna khalifah? Bagi saya, pemimpin. Boleh juga dimaknai pemakmur. Entrepreneur itu kan pemimpin? Betul apa betul? Inilah yang jadi spirit utama bagi SD dan TK Khalifah, setelah tauhid. Kemudian bersama alumni seminar dan Dompet Dhuafa, saya mendirikan Kampus Umar Usman. Yang ini 100% sosial.
Akhirnya terimakasih atas kepercayaan Bapak-Ibu yang telah menitipkan anaknya di SD dan TK Khalifah. Termasuk di Kampus Umar Usman. Ini amanah. Sekali lagi, terimakasih. Mohon doa tulusnya agar ke depannya kami bisa lebih baik lagi. Aamiin.
Dulu sebelum tamat kuliah, saya ditawari kerja di 2 tempat di Malaysia. Saya sempat bekerja di Malaysia, tapi kemudian saya memilih balik alias pulang ke Indonesia. Pulang dan bekerja di Indonesia, ini keputusan yang rada berat bagi saya. Karena di sana, gaji saya 2 kali bahkan 3 kali lipat lebih tinggi. Bingung kan? Jangan ditanya.
Tapi saya tetap dengan keputusan saya. Di Indonesia sajalah. Memang, mengabdi untuk Indonesia, bisa dilakukan di mana saja, termasuk dari luar negeri. Sudah banyak buktinya. Teman-teman Diaspora contohnya. Tapi saya memilih untuk tinggal dan bekerja di Indonesia. I love Indonesia. Juga ada visi dan misi yang lain. Apa itu?
Begini. Hati saya sering gusar kalau mendengar orang Indonesia yang tidak pede dengan Indonesia atau meremehkan Indonesia. Ini terlalu, menurut saya. Salah satu wujud bukti cinta saya untuk Indonesia adalah berdirinya SD dan TK Khalifah yang alhamdulillah sekarang sudah 70-an cabang se-Indonesia. Ribuan anak telah atau sedang belajar di SD dan TK Khalifah sejak 2007.
Suatu malam saya bertemu dengan ratusan orangtua murid. Alhamdulillah, senang sekali hati saya. Di mata mereka tersirat kebanggaan. Di SD dan TK Khalifah, anak-anak dilatih agar mempunyai entrepreneur mindset. Bercita-cita jadi pengusaha. Kalau kelak mereka semua jadi pengusaha dan soleh, insya Allah akan maju dan melaju negeri ini. Menuju Indonesia Berdaya. Kalau perlu, orang asing yang kerja untuk kita, hehehe.
Btw, apa makna khalifah? Bagi saya, pemimpin. Boleh juga dimaknai pemakmur. Entrepreneur itu kan pemimpin? Betul apa betul? Inilah yang jadi spirit utama bagi SD dan TK Khalifah, setelah tauhid. Kemudian bersama alumni seminar dan Dompet Dhuafa, saya mendirikan Kampus Umar Usman. Yang ini 100% sosial.
Akhirnya terimakasih atas kepercayaan Bapak-Ibu yang telah menitipkan anaknya di SD dan TK Khalifah. Termasuk di Kampus Umar Usman. Ini amanah. Sekali lagi, terimakasih. Mohon doa tulusnya agar ke depannya kami bisa lebih baik lagi. Aamiin.
Dibakarnya rumah ibadah di Tanjung Balai sedikit-banyak membuat situasi setempat memanas. Kita semua mengutuk kejadian ini. Namun, tentu saja, setiap kejadian tidak berdiri terpisah. Ada kaitannya. Ada pemicunya.
Terlepas dari itu, benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan?
Ini adalah tulisan lanjutan saya terkait Cina dan Islam.
Mari kita lihat ‘pesaing’ Columbus dan Magellan. Siapakah dia?
- Berbagai bukti sejarah menunjukkan bahwa penyebar agama Islam di Nusantara berasal dari Arab, Gujarat (India), dan Cina (Tiongkok).
- Penyebar agama Islam yang terkenal dari Cina adalah Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Menurut Matt Rosenberg, ekspedisi laut Cheng Ho dihelat puluhan tahun lebih awal ketimbang tiga pelaut kebanggaan Barat, yaitu Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan. Tercatat, dia tujuh kali melawat Nusantara. Jelas sudah, Cheng Ho bukan penjelajah ecek-ecek.
- Lahir di Provinsi Yunan, Cheng Ho dibesarkan dalam keluarga Muslim dan ayahnya sudah berhaji. Jelas sudah, Cheng Ho bukan muslim ecek-ecek.
- Ketika ke Samudera Pasai, Cheng Ho sempat memberi lonceng besar Cakra Donya kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di museum di Banda Aceh. Alhamdulillah, saya pribadi pernah berkunjung ke Samudera Pasai, lokasi kerajaan Islam pertama di Indonesia.
- Ketika ke Cirebon, Cheng Ho sempat memberi piring bertulis Ayat Kursi kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Di antara kita pasti banyak yang pernah berkunjung ke sana.
Sekarang, kita tengok PITI dan VOC.
- Menurut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), dulu VOC tidak menyukai keberadaan Muslim Tionghoa di Nusantara. Dalam perjalanannya, PITI sempat berubah nama menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
- Politik pecah-belah ala Belanda berusaha memisahkan non-pribumi dengan pribumi, di mana ini terlihat dalam Regeringsreglement, adanya tiga golongan besar, yaitu Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Inlander (pribumi).
- Pertumbuhan Muslim Tionghoa di Indonesia semakin pesat, khususnya di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Lagi-lagi, ini menurut PITI.
- Di Jakarta, beberapa masjid diyakini dirintis oleh tokoh-tokoh Cina yang tinggal di Betawi ratusan tahun yang silam. Salah satunya Masjid Kebun Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, yang dilindungi pemerintah sebagai cagar budaya.
Jadi, benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan? Think.
Satu hal yang pasti, kalaupun berbeda keyakinan, bukan berarti kita harus curigaan dan saling bermusuhan.
Terlepas dari itu, benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan?
Ini adalah tulisan lanjutan saya terkait Cina dan Islam.
Mari kita lihat ‘pesaing’ Columbus dan Magellan. Siapakah dia?
- Berbagai bukti sejarah menunjukkan bahwa penyebar agama Islam di Nusantara berasal dari Arab, Gujarat (India), dan Cina (Tiongkok).
- Penyebar agama Islam yang terkenal dari Cina adalah Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Menurut Matt Rosenberg, ekspedisi laut Cheng Ho dihelat puluhan tahun lebih awal ketimbang tiga pelaut kebanggaan Barat, yaitu Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan. Tercatat, dia tujuh kali melawat Nusantara. Jelas sudah, Cheng Ho bukan penjelajah ecek-ecek.
- Lahir di Provinsi Yunan, Cheng Ho dibesarkan dalam keluarga Muslim dan ayahnya sudah berhaji. Jelas sudah, Cheng Ho bukan muslim ecek-ecek.
- Ketika ke Samudera Pasai, Cheng Ho sempat memberi lonceng besar Cakra Donya kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di museum di Banda Aceh. Alhamdulillah, saya pribadi pernah berkunjung ke Samudera Pasai, lokasi kerajaan Islam pertama di Indonesia.
- Ketika ke Cirebon, Cheng Ho sempat memberi piring bertulis Ayat Kursi kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Di antara kita pasti banyak yang pernah berkunjung ke sana.
Sekarang, kita tengok PITI dan VOC.
- Menurut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), dulu VOC tidak menyukai keberadaan Muslim Tionghoa di Nusantara. Dalam perjalanannya, PITI sempat berubah nama menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
- Politik pecah-belah ala Belanda berusaha memisahkan non-pribumi dengan pribumi, di mana ini terlihat dalam Regeringsreglement, adanya tiga golongan besar, yaitu Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Inlander (pribumi).
- Pertumbuhan Muslim Tionghoa di Indonesia semakin pesat, khususnya di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Lagi-lagi, ini menurut PITI.
- Di Jakarta, beberapa masjid diyakini dirintis oleh tokoh-tokoh Cina yang tinggal di Betawi ratusan tahun yang silam. Salah satunya Masjid Kebun Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, yang dilindungi pemerintah sebagai cagar budaya.
Jadi, benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan? Think.
Satu hal yang pasti, kalaupun berbeda keyakinan, bukan berarti kita harus curigaan dan saling bermusuhan.
Belum nikah?
Bingung soal jodoh?
Bingung soal resepsi?
Maaf, adat-adat di Indonesia kurang-lebih sama saja. Menuntut ini-itu dalam prosesi pernikahan. Walhasil, betapa banyak orang menunda pernikahan bahkan batal nikah cuma karena mikirin adat, gengsi, dan resepsi. Padahal nggak harus. Kan nikah itu soal "SAH" bukan soal "WAH".
Maka, tak ada salahnya kalau calon istri diajak nikah secara sederhana. Ini tes awal, apa dia siap hidup susah atau tidak. Juga tes awal, apa dia mau taat suami atau tidak. Untuk jelasnya, baca buku saya, Enteng Jodoh Enteng Rezeki (royalty for charity).
Coba deh pakai pendekatan ini. “Mapan? Nikah. Belum mapan? Tetap nikah.” Yang penting, pria bertanggungjawab dalam penafkahan. Anehnya, sebagian orang bersikeras hanya mau menikah setelah pasangannya mapan. Hm, hati-hati, justru nanti diuji dari situ, dari kemapanan.
Anda-Anda yang belum mapan, tenang saja. Bukankah menikah itu membuka pintu-pintu rezeki? Allah yang menyuruh kita menikah, tentu Allah bertanggung-jawab atas kita dan rezeki kita. Sudahlah, halau segala rasa risau dan galau.
Yang belum menikah, saya turut mendoakan. Semoga segera menikah dan bahagia dengan pernikahannya. Aamiin.
Bingung soal jodoh?
Bingung soal resepsi?
Maaf, adat-adat di Indonesia kurang-lebih sama saja. Menuntut ini-itu dalam prosesi pernikahan. Walhasil, betapa banyak orang menunda pernikahan bahkan batal nikah cuma karena mikirin adat, gengsi, dan resepsi. Padahal nggak harus. Kan nikah itu soal "SAH" bukan soal "WAH".
Maka, tak ada salahnya kalau calon istri diajak nikah secara sederhana. Ini tes awal, apa dia siap hidup susah atau tidak. Juga tes awal, apa dia mau taat suami atau tidak. Untuk jelasnya, baca buku saya, Enteng Jodoh Enteng Rezeki (royalty for charity).
Coba deh pakai pendekatan ini. “Mapan? Nikah. Belum mapan? Tetap nikah.” Yang penting, pria bertanggungjawab dalam penafkahan. Anehnya, sebagian orang bersikeras hanya mau menikah setelah pasangannya mapan. Hm, hati-hati, justru nanti diuji dari situ, dari kemapanan.
Anda-Anda yang belum mapan, tenang saja. Bukankah menikah itu membuka pintu-pintu rezeki? Allah yang menyuruh kita menikah, tentu Allah bertanggung-jawab atas kita dan rezeki kita. Sudahlah, halau segala rasa risau dan galau.
Yang belum menikah, saya turut mendoakan. Semoga segera menikah dan bahagia dengan pernikahannya. Aamiin.
Sedekah ke pengemis di jalanan, boleh nggak? Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hampir semua pengemis sudah tersistem. Terorganisir. Dilindungi preman dan oknum pejabat. Ini beneran.
Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.
Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.
Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.
Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!
Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.
Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.
Begini. Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan para preman juga oknum pejabat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan. Pantaslah MUI dan pemerintah dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.
Pesan Nabi Muhammad, "Meminta-minta tidaklah halal, kecuali bagi tiga golongan: si fakir yang sangat sengsara, orang yang terlilit utang, dan orang yang berkewajiban membayar diyat." Jadi, adalah terlarang kalau kita dengan sengaja bersedekah kepada orang-orang di luar tiga golongan ini.
Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis seperti kasus-kasus di atas. Dan tahukah Anda, ketika Ramadhan dan Syawal, income mereka bisa melesat sekian kali lipat!
Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya. Simak juga video saya tentang sedekah, mental miskin, dan mental kaya >> https://m.youtube.com/watch?v=kIoFTmlmWqc
Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.
Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.
Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.
Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!
Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.
Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.
Begini. Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan para preman juga oknum pejabat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan. Pantaslah MUI dan pemerintah dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.
Pesan Nabi Muhammad, "Meminta-minta tidaklah halal, kecuali bagi tiga golongan: si fakir yang sangat sengsara, orang yang terlilit utang, dan orang yang berkewajiban membayar diyat." Jadi, adalah terlarang kalau kita dengan sengaja bersedekah kepada orang-orang di luar tiga golongan ini.
Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis seperti kasus-kasus di atas. Dan tahukah Anda, ketika Ramadhan dan Syawal, income mereka bisa melesat sekian kali lipat!
Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya. Simak juga video saya tentang sedekah, mental miskin, dan mental kaya >> https://m.youtube.com/watch?v=kIoFTmlmWqc
Kalau kita lagi miskin dan susah, terus orang-orang kaya yang kita kenal nggak mau membantu kita, apa yang harus kita lakukan? Simak solusinya » http://bit.ly/KetikaSusah
Kemarin saya berada di Pekanbaru. Minggu ini di Malang, insya Allah. Berseminar.
Inilah yang saya sarankan kepada peserta seminar, "Belajar, belajar, belajar!" Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Kalau belajar, kita akan berdiri dengan lainnya dengan sejajar. Namun tak semua orang mau belajar. Di antara mereka malah mengajukan alasan-alasan yang tak wajar.
Kita semua sepakat bahwa yang suka beralasan dan bermalasan itu adalah ciri para pecundang. Sepenuh hati saya berharap, Anda menghindarinya. Sekali lagi, menghindarinya. Apa perlu saya ulangi untuk ketiga kalinya?
Ironisnya, inilah alasan-alasan mereka.
- Saat kita menyarankan sesuatu yang baru, alasannya "Saya nggak punya ilmu, nggak punya pengalaman."
- Saat kita memberitahu ilmu dan cara-caranya, katanya "Kamu sok tahu," atau "Ah ini susah," atau "Di sana sih berhasil, di sini belum tentu."
- Saat kita memberitahu investasi yang besar, alasannya "Saya nggak punya uang."
- Saat kita memberitahu investasi yang kecil, alasannya "Hasilnya kekecilan, hasilnya kelamaan."
- Saat teman-temannya sukses duluan, alasannya "Itu kebetulan saja. Nasib orang kan beda-beda."
- Dikasih gratis, murah, atau refund, katanya "Mau memanfaatkan saya? Mau menipu saya? Kamu pikir saya bodoh ya?"
- Dikasih motivasi, tak percaya. Dikasih bukti, katanya pamer. Saat kita berhenti memotivasi, katanya "Kamu lagi bangkrut ya?"
#TepokJidat, hehehe.
Celetukan mereka "Ah, motivator itu ngomong doang. Kalau ngomong doang, aku juga bisa." Oya? Yakin bisa? Sekiranya bisa, berapa orang yang mau mendengarkanmu? Berapa orang yang berubah setelah mendengarkanmu? Perlu dicatat, banyak motivator yang juga bisa action, nggak ngomong doang.
Btw, jangan meremehkan kemampuan ngomong. Bukankah seorang Muhammad, Isa, atau Buddha bisa mempengaruhi miliaran manusia karena kemampuan bicaranya? Bukankah pahlawan sekaliber Bung Karno dan Bung Tomo tak terlepas dari kemampuan bicaranya? Orasi. Belum lagi kalau kita membahas profesi guru, dosen, dan ustadz.
Bagi saya, simple saja. Lazimnya, saya hanya mengajar orang yang siap diajar. Ini sih wajar. Apalagi Robert Kiyosaki pernah berujar, "Jangan mengajari babi bernyanyi." Anda capek, babinya lebih capek. Hehehe.
Saya nggak terlalu tertarik menghabiskan waktu saya hanya untuk meyakinkan mereka yang suka beralasan. Saya capek, merekanya lebih capek. Akan jauh lebih efisien dan efektif jika kita mencurahkan perhatian pada orang-orang yang siap diajar. Ini namanya prioritas.
Saya berharap, Anda memilki mental pemenang. Mau belajar. Nggak beralasan, nggak bermalasan. Sekian dari saya, Ippho Santosa. www.ippho.com
Inilah yang saya sarankan kepada peserta seminar, "Belajar, belajar, belajar!" Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Kalau belajar, kita akan berdiri dengan lainnya dengan sejajar. Namun tak semua orang mau belajar. Di antara mereka malah mengajukan alasan-alasan yang tak wajar.
Kita semua sepakat bahwa yang suka beralasan dan bermalasan itu adalah ciri para pecundang. Sepenuh hati saya berharap, Anda menghindarinya. Sekali lagi, menghindarinya. Apa perlu saya ulangi untuk ketiga kalinya?
Ironisnya, inilah alasan-alasan mereka.
- Saat kita menyarankan sesuatu yang baru, alasannya "Saya nggak punya ilmu, nggak punya pengalaman."
- Saat kita memberitahu ilmu dan cara-caranya, katanya "Kamu sok tahu," atau "Ah ini susah," atau "Di sana sih berhasil, di sini belum tentu."
- Saat kita memberitahu investasi yang besar, alasannya "Saya nggak punya uang."
- Saat kita memberitahu investasi yang kecil, alasannya "Hasilnya kekecilan, hasilnya kelamaan."
- Saat teman-temannya sukses duluan, alasannya "Itu kebetulan saja. Nasib orang kan beda-beda."
- Dikasih gratis, murah, atau refund, katanya "Mau memanfaatkan saya? Mau menipu saya? Kamu pikir saya bodoh ya?"
- Dikasih motivasi, tak percaya. Dikasih bukti, katanya pamer. Saat kita berhenti memotivasi, katanya "Kamu lagi bangkrut ya?"
#TepokJidat, hehehe.
Celetukan mereka "Ah, motivator itu ngomong doang. Kalau ngomong doang, aku juga bisa." Oya? Yakin bisa? Sekiranya bisa, berapa orang yang mau mendengarkanmu? Berapa orang yang berubah setelah mendengarkanmu? Perlu dicatat, banyak motivator yang juga bisa action, nggak ngomong doang.
Btw, jangan meremehkan kemampuan ngomong. Bukankah seorang Muhammad, Isa, atau Buddha bisa mempengaruhi miliaran manusia karena kemampuan bicaranya? Bukankah pahlawan sekaliber Bung Karno dan Bung Tomo tak terlepas dari kemampuan bicaranya? Orasi. Belum lagi kalau kita membahas profesi guru, dosen, dan ustadz.
Bagi saya, simple saja. Lazimnya, saya hanya mengajar orang yang siap diajar. Ini sih wajar. Apalagi Robert Kiyosaki pernah berujar, "Jangan mengajari babi bernyanyi." Anda capek, babinya lebih capek. Hehehe.
Saya nggak terlalu tertarik menghabiskan waktu saya hanya untuk meyakinkan mereka yang suka beralasan. Saya capek, merekanya lebih capek. Akan jauh lebih efisien dan efektif jika kita mencurahkan perhatian pada orang-orang yang siap diajar. Ini namanya prioritas.
Saya berharap, Anda memilki mental pemenang. Mau belajar. Nggak beralasan, nggak bermalasan. Sekian dari saya, Ippho Santosa. www.ippho.com
Kalau setiap ujian saja guru menyiapkan jawabannya untuk murid-muridnya, apalagi Tuhan kepada hamba-hamba-Nya.
Guru pun tahu persis, mana ujian untuk anak SD, mana ujian untuk anak SMP. Apalagi Tuhan kepada hamba-hamba-Nya.
Semoga teman-teman yang punya masalah, termasuk masalah utang, segera tersolusikan. Aamiin...
Guru pun tahu persis, mana ujian untuk anak SD, mana ujian untuk anak SMP. Apalagi Tuhan kepada hamba-hamba-Nya.
Semoga teman-teman yang punya masalah, termasuk masalah utang, segera tersolusikan. Aamiin...
Mengelola orang tak semudah mengoperasikan mesin.
Perlu kesabaran. Perlu keteladanan.
Kepada para guru (termasuk dosen, trainer, dan motivator), inilah nasehat Kyai Maimun Zubair.
“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti engkau hanya marah-marah ketika melihat murid-muridmu tidak pintar. Dan ikhlasmu hilang. Yang penting, niatnya menyampaikan ilmu dan mendidik dengan baik. Apakah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus-menerus agar murid-muridmu mendapat petunjuk.”
“Pekerjaan paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik dan rekreasi paling indahnya adalah mengajar."
"Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan, terkadang hati diuji kesabarannya. Namun hadirkanlah gambaran bahwa salah satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga.”
Masya Allah, indahnya!
Perlu kesabaran. Perlu keteladanan.
Kepada para guru (termasuk dosen, trainer, dan motivator), inilah nasehat Kyai Maimun Zubair.
“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti engkau hanya marah-marah ketika melihat murid-muridmu tidak pintar. Dan ikhlasmu hilang. Yang penting, niatnya menyampaikan ilmu dan mendidik dengan baik. Apakah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus-menerus agar murid-muridmu mendapat petunjuk.”
“Pekerjaan paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik dan rekreasi paling indahnya adalah mengajar."
"Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan, terkadang hati diuji kesabarannya. Namun hadirkanlah gambaran bahwa salah satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga.”
Masya Allah, indahnya!
“Hidup ini singkat. Mending geber manfaat,” itu pesan guru saya yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya.
Ramadhan telah usai. Syawal pun hampir selesai. Namun mestinya spirit Ramadhan dan Syawal ini membekas di hati kita. Karena itulah mulai Agustus, saya bertekad untuk menggeber manfaat lebih banyak lagi. Di antaranya:
- Seminar gratis dalam skala besar
- Program #BikinSekolah di berbagai daerah
- Program #BikinPesantren
- Sederet penggalangan dana
- Berbagi ilmu melalui WA dan Telegram
Doakan saya selalu sehat. Demikian pula keluarga saya. Aamiin. Doa yang sama dari saya untuk kita semua.
Ramadhan telah usai. Syawal pun hampir selesai. Namun mestinya spirit Ramadhan dan Syawal ini membekas di hati kita. Karena itulah mulai Agustus, saya bertekad untuk menggeber manfaat lebih banyak lagi. Di antaranya:
- Seminar gratis dalam skala besar
- Program #BikinSekolah di berbagai daerah
- Program #BikinPesantren
- Sederet penggalangan dana
- Berbagi ilmu melalui WA dan Telegram
Doakan saya selalu sehat. Demikian pula keluarga saya. Aamiin. Doa yang sama dari saya untuk kita semua.
Kemarin saya dikasih data sama penerbit (Kompas-Gramedia Group). Dan saya pun terkejut. Kenapa? Ternyata penjualan buku-buku saya hampir 2x di atas buku-buku @TheRealKiyosaki di Indonesia. Siapapun tahu, Robert Kiyosaki adalah gurunya guru untuk urusan kemakmuran. Jujur, saya pribadi 2x bertemu dengan Robert Kiyosaki dan istrinya. Belajar. Dengan hadirnya data penjualan buku tadi, saya pun semakin bersemangat dalam menulis dan menginspirasi. Adapun buku Robert Kiyosaki yang paling berpengaruh adalah Cashflow Quadrant dan di Indonesia terjual sekitar 170.000 eksemplar. Alhamdulillah buku saya 10 Jurus Terlarang terjual 130.000 eksemplar, tanpa iklan, tanpa seminar. Buku 7 Keajaiban Rezeki jauh di atas itu. Sebagai gambaran, bestseller itu 3.000 eksemplar dan mega-bestseller itu 50.000 eksemplar. Terimakasih kepada teman-teman yang sudah membaca dan membeli buku saya. Alhamdulillah, sebagian royalti juga untuk sedekah. Termasuk buku baru saya yang segera rilis. Judulnya, Karyawan Juga Bisa Kaya.
Ini ungkapan salah satu anggota di channel ini...
Farida Basir:
😊
Mau kirim testimoni personal (atau feedback kali ya) atas keilmuan yang disajikan...
Semoga selalu semangat menebar manfaat...
Alhamdulillah, syukur tak terhingga ketika pertama kali dipertemukan dg buku 7KR lalu Moslem Millionaire yg membantu mempercepat impian yg tiba2 muncul. Beserta karya mas Ippho Santosa lainnya, termasuk buku2, seminar, coaching Success Protocol dan 100 Juta Pertama yg sangat membantu percepatan. Lalu sekarang, Telegram yang memudahkan untuk mengakses keilmuan2 dr Mas Ippho. Vibrasi positif nya sungguh masih terasa.
Stlh menikah memutuskan untuk memilih profesi sbg Ibu Rumah Tangga, murni.
September 2015 mempunyai keinginan berangkat umroh, Alhamdulillah ada percepatan rejeki untuk membayar tanpa berhutang ataupun meminta.
April 2016 brgkt Umroh (bonusnya, brgkt bersama mas Ippho Santosa).
Sepulang Umroh, diamanahi aset bisnis hiburan anak (kolam renang & Playground) oleh orang tua senilai 1,3M, sedang proses pengerjaan. Dana pembangunan yg ternyata tdk sedikit, agak meleset dr perhitungan, Alhamdulillah muncul peluang baru yg smg bs membantu prosesnya.
Yaitu peluang menawarkan asset keluarga berupa kayu gaharu senilai 8-15 M (sekitar 500 ton). Saat ini sedang berusaha memasarkan/ mencari partner pemasaran. Semoga dlm bulan Agustus ini bisa segera terjual.
Rejeki Materi:
Walaupun blm kaya, Alhamdulillah bisa brgkt umroh; mendapat amanah aset bisnis; dan peluang menawarkan aset Milyaran dan rejeki2 lain.
Rejeki non materi:
Alhamdulillah bisa bermunajad di Baitullah, bisa memperbaiki kondisi otak kanan yg awalnya mgkn kurang sehat, dg bangkit dan bergerak.
Alhamdulillah bisa menyadarkan diri serta memantaskan diri, selalu berikhtiar baru tawakal. Bukan memasrahkan diri kpd sesuatu yg tdk baik, bukan terpengaruh tetapi mempengaruhi.
Selama itu baik. Tdk akan pernah takut, tdk akan pernah lengah, tdk akan pernah lelah. Selalu saling memperbaiki dg cara yg baik. Belajar dan selalu belajar, menuju proses yg terbaik...
Terima kasih mas Ippho...
Entah bagaimana cara membalas jasa keilmuan & semuanya yg telah diberikan.
Hanya doa2 terbaik yg dapat dihaturkan, dalam hening.
Semoga bs mnjdi murid yg dibanggakan, entah di dunia entah di 'sana' kelak.
Farida Basir:
😊
Mau kirim testimoni personal (atau feedback kali ya) atas keilmuan yang disajikan...
Semoga selalu semangat menebar manfaat...
Alhamdulillah, syukur tak terhingga ketika pertama kali dipertemukan dg buku 7KR lalu Moslem Millionaire yg membantu mempercepat impian yg tiba2 muncul. Beserta karya mas Ippho Santosa lainnya, termasuk buku2, seminar, coaching Success Protocol dan 100 Juta Pertama yg sangat membantu percepatan. Lalu sekarang, Telegram yang memudahkan untuk mengakses keilmuan2 dr Mas Ippho. Vibrasi positif nya sungguh masih terasa.
Stlh menikah memutuskan untuk memilih profesi sbg Ibu Rumah Tangga, murni.
September 2015 mempunyai keinginan berangkat umroh, Alhamdulillah ada percepatan rejeki untuk membayar tanpa berhutang ataupun meminta.
April 2016 brgkt Umroh (bonusnya, brgkt bersama mas Ippho Santosa).
Sepulang Umroh, diamanahi aset bisnis hiburan anak (kolam renang & Playground) oleh orang tua senilai 1,3M, sedang proses pengerjaan. Dana pembangunan yg ternyata tdk sedikit, agak meleset dr perhitungan, Alhamdulillah muncul peluang baru yg smg bs membantu prosesnya.
Yaitu peluang menawarkan asset keluarga berupa kayu gaharu senilai 8-15 M (sekitar 500 ton). Saat ini sedang berusaha memasarkan/ mencari partner pemasaran. Semoga dlm bulan Agustus ini bisa segera terjual.
Rejeki Materi:
Walaupun blm kaya, Alhamdulillah bisa brgkt umroh; mendapat amanah aset bisnis; dan peluang menawarkan aset Milyaran dan rejeki2 lain.
Rejeki non materi:
Alhamdulillah bisa bermunajad di Baitullah, bisa memperbaiki kondisi otak kanan yg awalnya mgkn kurang sehat, dg bangkit dan bergerak.
Alhamdulillah bisa menyadarkan diri serta memantaskan diri, selalu berikhtiar baru tawakal. Bukan memasrahkan diri kpd sesuatu yg tdk baik, bukan terpengaruh tetapi mempengaruhi.
Selama itu baik. Tdk akan pernah takut, tdk akan pernah lengah, tdk akan pernah lelah. Selalu saling memperbaiki dg cara yg baik. Belajar dan selalu belajar, menuju proses yg terbaik...
Terima kasih mas Ippho...
Entah bagaimana cara membalas jasa keilmuan & semuanya yg telah diberikan.
Hanya doa2 terbaik yg dapat dihaturkan, dalam hening.
Semoga bs mnjdi murid yg dibanggakan, entah di dunia entah di 'sana' kelak.
Gagal itu wajar.
Sukses juga wajar.
Tak perlu disikapi berlebihan.
Lalu, ada yang bertanya, “Sudah antusias, sudah optimis, kok masih gagal?” Yah, apalagi kalau tidak antusias dan tidak optimis! Pasti lebih gagal!
- “Karier merosot! Bisnis turun! Produk ditolak! Harus bagaimana nih?” Tetap tenang. Jangan panik. Tarikan nafas saja turun-naik. Gerakan sholat juga turun-naik. Mestinya ini melatih kita dan menguatkan kita.
- "Barusan jatuh Mas, habis semua. Gimana ya?" Anak SD yang lagi demam juga tahu, kalau jatuh, yah segera bangkit! Gagal itu wajar. Berlarut-larut dalam kegagalan, nah itu yang tidak wajar. Emang garam, pakai larut segala, hehehe. Yang sebenarnya tidak ada yang abadi di muka bumi ini, termasuk kegagalan. Yah, coba saja lagi. Lama-lama, si gagal itu akan bosan pada Anda, hehehe.
- “Tapi, saya gagalnya sudah lima kali nih!” Regina saja, ikut Indonesia Idol sampai tujuh kali, barulah terpilih sebagai pemenang. Bahkan istrinya Nabi Ibrahim (Abraham), bolak-balik tujuh kali, barulah dipertemukan dengan air. Anda?
Begitulah, kegagalan dan penolakan itu biasa. Malah ada baiknya juga. Bagaimana mungkin? Yah, mungkin saja. Menurut Sharon Kim, seorang peneliti dari Sekolah Bisnis John Hopkins Carey, Amerika, mereka yang mendapat penolakan sosial umumnya justru memperoleh keuntungan tersendiri.
Apa untungnya? Yah, berupa pikiran yang lebih independen dan lebih intuitif. “Tampaknya, penolakan mendorong mereka untuk berpikir lebih kreatif,” ujar Sharon Kim seperti yang dimuat di Journal of Experimental Psychology.
Sekali lagi.
Gagal itu wajar.
Sukses juga wajar.
Tak perlu disikapi berlebihan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sukses juga wajar.
Tak perlu disikapi berlebihan.
Lalu, ada yang bertanya, “Sudah antusias, sudah optimis, kok masih gagal?” Yah, apalagi kalau tidak antusias dan tidak optimis! Pasti lebih gagal!
- “Karier merosot! Bisnis turun! Produk ditolak! Harus bagaimana nih?” Tetap tenang. Jangan panik. Tarikan nafas saja turun-naik. Gerakan sholat juga turun-naik. Mestinya ini melatih kita dan menguatkan kita.
- "Barusan jatuh Mas, habis semua. Gimana ya?" Anak SD yang lagi demam juga tahu, kalau jatuh, yah segera bangkit! Gagal itu wajar. Berlarut-larut dalam kegagalan, nah itu yang tidak wajar. Emang garam, pakai larut segala, hehehe. Yang sebenarnya tidak ada yang abadi di muka bumi ini, termasuk kegagalan. Yah, coba saja lagi. Lama-lama, si gagal itu akan bosan pada Anda, hehehe.
- “Tapi, saya gagalnya sudah lima kali nih!” Regina saja, ikut Indonesia Idol sampai tujuh kali, barulah terpilih sebagai pemenang. Bahkan istrinya Nabi Ibrahim (Abraham), bolak-balik tujuh kali, barulah dipertemukan dengan air. Anda?
Begitulah, kegagalan dan penolakan itu biasa. Malah ada baiknya juga. Bagaimana mungkin? Yah, mungkin saja. Menurut Sharon Kim, seorang peneliti dari Sekolah Bisnis John Hopkins Carey, Amerika, mereka yang mendapat penolakan sosial umumnya justru memperoleh keuntungan tersendiri.
Apa untungnya? Yah, berupa pikiran yang lebih independen dan lebih intuitif. “Tampaknya, penolakan mendorong mereka untuk berpikir lebih kreatif,” ujar Sharon Kim seperti yang dimuat di Journal of Experimental Psychology.
Sekali lagi.
Gagal itu wajar.
Sukses juga wajar.
Tak perlu disikapi berlebihan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Seperti yang Anda tahu, sebentar lagi akan dirilis buku saya, Karyawan Juga Bisa Kaya (royalty for charity). Sebagian mungkin sudah bisa menebak-nebak, ini soal investasi. Itu ada benarnya. Namun tidak melulu soal itu. Akan dibahas juga ilmu quantum, ilmu spiritualitas, ilmu optimisme, ilmu alturisme, ilmu properti, ilmu emas, ilmu pensiun, dll... Terkait emas, sebenarnya sudah berulang kali saya bahas. Ini cocok sekali buat pemula. Modal ratusan ribu rupiah juga bisa. Simak » http://bit.ly/2aju0Vr
Properti diadu dengan emas, apa jadinya? Semua orang tahu, dari segi capital gain, properti menang telak dan mutlak ketimbang emas. Namun properti juga menyandang kelemahan tersendiri, semisal tidak likuid (perlu proses lama untuk jual-beli), dikekang aturan bank, dan modal relatif besar. Kalau emas? Likuid, bebas bank, dan modal relatif kecil. Rp 100 ribu juga bisa. Simak » http://bit.ly/2aju0Vr
Besok, 5 Agustus, adalah hari terakhir.
Hari terakhir, apa? Harga promo untuk 3 DVD Pengubah Nasib.
Seperti yang Anda tahu, inilah 3 DVD dari Ippho Santosa:
- 7 Keajaiban Rezeki (Exclusive)
- Raih Rp 100 Jt Pertama (Versi 4)
- Menjual & Melipatgandakan Omset Tanpa Biaya Tambahan
Ya, ditawarkan 3 sekaligus, agar benar-benar berdampak pada nasib dan kehidupan Anda.
Nah, sebelum membeli, ada baiknya Anda tahu dulu berapa total harganya:
Harga Normal:
Rp 550 ribu (mulai 6 Agustus)
Harga Promo:
Rp 399 ribu (sampai 5 Agustus)
Dibanding perubahan yang akan diperoleh, Anda pun merasa harga DVD ini tidaklah seberapa.
Karena Anda sudah memutuskan untuk memiliki, yah transfer saja:
- BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa
- Atau BCA 497-2013-777 a.n. Ippho D. Santosa
- Setelah transfer, SMS 0815-4333-3600 dan SMS juga 0812-9183-0777 (SMS, bukan WA, bukan telp)
Untuk Indonesia, bebas ongkir.
Untuk luar negeri, tambah ongkir.
Tambahkan juga tiga nomor terakhir HP Anda pada nilai transaksi. Ini untuk memudahkan pengecekan. Anda boleh take action hari ini. Atau besok. Atau lusa. Kapan saja yang menurut Anda nyaman.
Happy action!
Hari terakhir, apa? Harga promo untuk 3 DVD Pengubah Nasib.
Seperti yang Anda tahu, inilah 3 DVD dari Ippho Santosa:
- 7 Keajaiban Rezeki (Exclusive)
- Raih Rp 100 Jt Pertama (Versi 4)
- Menjual & Melipatgandakan Omset Tanpa Biaya Tambahan
Ya, ditawarkan 3 sekaligus, agar benar-benar berdampak pada nasib dan kehidupan Anda.
Nah, sebelum membeli, ada baiknya Anda tahu dulu berapa total harganya:
Harga Normal:
Rp 550 ribu (mulai 6 Agustus)
Harga Promo:
Rp 399 ribu (sampai 5 Agustus)
Dibanding perubahan yang akan diperoleh, Anda pun merasa harga DVD ini tidaklah seberapa.
Karena Anda sudah memutuskan untuk memiliki, yah transfer saja:
- BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa
- Atau BCA 497-2013-777 a.n. Ippho D. Santosa
- Setelah transfer, SMS 0815-4333-3600 dan SMS juga 0812-9183-0777 (SMS, bukan WA, bukan telp)
Untuk Indonesia, bebas ongkir.
Untuk luar negeri, tambah ongkir.
Tambahkan juga tiga nomor terakhir HP Anda pada nilai transaksi. Ini untuk memudahkan pengecekan. Anda boleh take action hari ini. Atau besok. Atau lusa. Kapan saja yang menurut Anda nyaman.
Happy action!