Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Supel...

Istri saya ini supel. Kalau ngobrol, dia bisa nyambung dengan siapa saja. Termasuk dengan ibu saya, saudara saya, dan sepupu saya. Yah, semua.

Meski akrab dengan berbagai pengusaha, motivator, dan artis, tapi ia juga gampang klik kalau ngobrol sama mbak-mbak yang membantu di rumah.

Bahkan ketika mengantre di rumah sakit, ia bisa ngobrol lama-lama dengan babysitter dan asisten rumah dari keluarga lain. Nggak canggung. Nggak beda-bedain orang.

Menurut saya, ini hebat. Beneran. Tak semua orang bisa.

Saat aktif di luar (misalnya dengan sesama orangtua siswa), ia supel dan membawa namanya sendiri. Bukan istrinya Ippho atau semacamnya. Menurut kami, lebih enak begitu. Mandiri tho?

Supel ini bagian dari otak kanan. Kalau otak kiri? Serba kaku, maunya lurus-lurus saja. Nggak luwes. Di IG, ia memakai namanya sendiri dan nama ayahnya. Jadilah @AstridSuhaimi.

Kok nggak pake nama Ippho atau Santosa? Agama sebenarnya menganjurkan memakai nama ayah dan kami berusaha mengikutinya. Dengan begini, sampai kapanpun, silsilah tetap jelas.

Supel, seperlu apa sih? Manakala kita menjadi pemimpin atau pengusaha, kita dituntut untuk supel dan luwes. Kenapa? Karena kita membawahi karyawan yang beragam. Kita bertemu dengan klien yang beragam.

Sekali lagi, supel itu perlu. Be right. Be flexible. Begitu istilahnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rp 1 miliar,
pernah lihat?

Kalau Rp 3 miliar?

Ada e-book bagus.
Karya teman saya.

Tentang apa?
Bagaimana
mendapatkan
Rp 3 miliar
dalam 1 hari.

Ini kisah nyata.
Beneran terjadi.

Setelah saya baca,
sepertinya bisa
diterapkan oleh
semua orang.

Yang penting
orangnya serius.

Beberapa hari lagi
akan saya bagikan.

GRATIS.

Ya, e-book gratis.

Di mana? Kapan?
Gimana caranya?

Nanti dikabari lagi.

Siap-siap saja 😊
Kenapa saya tertarik dengan berkuda? Begini.

Umar bin Khattab pernah berseru, "Ajari anak-anakmu berenang, memanah, dan berkuda."

“Segala sesuatu selain zikir kepada Allah adalah sia-sia dan permainan belaka, kecuali empat hal, yaitu latihan memanah, candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, dan mengajarkan renang." HR Timirdzi.

"Setiap hal yang melalaikan seorang Muslim hukumnya batil, kecuali memanah dengan busur, melatih kuda, dan canda dengan istri.” HR Ibnu Majah.

"Pada ubun-ubun kuda itu, telah ditetapkan kebaikan, hingga Hari Kiamat." HR Bukhari.

Berkuda melatih ketenangan, keberanian, dan kepemimpinan. Itu beberapa manfaatnya. Hal ini pernah saya tanya langsung pada Aa Gym dan Ust Arifin Ilham. Yang menarik, zaman sekarang penyewaan kuda hadir di mana-mana dengan biaya yang relatif terjangkau.

Kalau kita menganggap berkuda sebagai olahraga? Yah, boleh juga. Insya Allah ini pun bagian dari syukur nikmat dan berpahala. Kok bisa? Begini. Tubuh yang sehat itu kan nikmat dan perlu dijaga. Right? Tulisan ini boleh Anda share.

Di sini saya melihat visi Nabi dan Umar yang mengagumkan. Benar-benar mengagumkan. Mereka menganjurkan berkuda, bukan berunta. Karena tidak semua negeri ada unta. Tapi kalau kuda, yah ada.

Tak ada salahnya kalau kita dan anak-anak kita mulai mencoba. Berkuda. Syukur-syukur dimampukan untuk rutin. Semoga berkah berlimpah.
Sudah punya usaha?

Bagaimana margin-nya, besarkah?
Bagaimana mentor-nya, ahlikah?

Kali ini saya, Ippho Santosa, membuka kesempatan. Dalam artian, teman-teman semua bisa bermitra dengan saya. Tepatnya, jadi reseller. Di sini kita akan memasarkan produk kesehatan (suplemen). Bukan MLM.

Begini. Harus pede jadi reseller. Bukankah Nabi Muhamamd awalnya seorang reseller? Kita sama-sama tahu, beliau sempat menjualkan barang-barang dari saudagar-saudagar di Mekkah.

Kembali ke bisnis ini:
- modalnya Rp1,2juta
- marginnya hampir 100%
- balik modalnya cepat
- repeat order-nya tinggi
- ongkirnya sangat murah
- standarnya internasional
- open sampai 20 September

Ngomong-ngomong, apa sih produknya? British Propolis (BP), asli dari Inggris.

Olla Ramlan, Andre Taulany, David Chalik, Shandy Aulia, Meyda Sefira, Ust Yusuf Mansur, Ust Maulana, Tung Desem Waringin, dan Jamil Azzaini adalah tokoh-tokoh yang turut meng-endorse produk ini.

Profit-nya?

Simak saja testimoni Triyanto, distributor BP di Jakarta Timur, "Baru gabung di #BritishPropolis selama 5 bulan, eh sudah dapat bonus jalan-jalan ke Lombok bersama Mas Ippho. Ini luar biasa. Soal omzet dan profit? Ndak usah ditanya. Sangat lumayan profit-nya."

Simak juga testimoni Wendi, distributor BP di Bandung, "Alhamdulillah, baru 4 bulan fokus jalani bisnis BP ini, omset saya sudah menyentuh Rp 200 juta. Ini 1000% lebih banyak daripada omset saya dari bisnis lainnya."

Perhatikan baik-baik. Margin-nya besar, hampir 100%. Amat langka produk seperti ini.

Terus, saya dan tim setiap hari membimbing Anda. Ya, setiap hari.

Bimbingan, adakah buktinya?

Ada. Melalui sebuah training yang powerful, saya dan tim akan mengajari Anda menjual lebih cepat dan lebih banyak. Ini salah satu buktinya.

Ya, Anda berhak mengikuti training (dengan seat VIP) senilai Rp900ribu di Hotel Grand Citra, Karawang. Di mana Anda tidak perlu bayar biaya training lagi. Asalkan Anda bergabung di bisnis ini sebelum 15 September.

Kapan training-nya?

24 September, seharian, dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Sekali lagi, ini training. Bukan seminar. Bukan sekedar ngumpul-ngumpul. Kita akan belajar detail bagaimana menjual lebih cepat dan lebih banyak!

Siapa saja yang bakal mengisi materi?

- Ippho Santosa, pendiri BP.
- Diaz Adriani (telah membimbing ribuan reseller, omset miliaran rupiah).

Yang lain?

MEYDA SEFIRA, aktris Ketika Cinta Bertasbih, juga hadir dan siap untuk foto bareng.

Jangan salah! Bergabungnya Anda dengan bisnis ini akan menjadi moment yang sangat menentukan! Karena insya Allah sangat berpengaruh pada peningkatan income Anda!

Minat?

Transfer saja ke Rp1,2juta ke BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa.

Atau ke BCA 4979-091-777 a.n. Ippho D. Santosa.

Setelah transfer, WA ke 0813-9520-0092

Anda akan dikirimi dan mendapat produk senilai Rp2juta.

Siap jadi pengusaha? Siap usahanya saya bimbing?
Orang-orang besar, apa yang mereka pikirkan? Bukan perutnya sendiri. Bukan dapurnya sendiri. Ternyata begitu. Visi mereka besar.

Saya pernah dinner bareng Pak Habibie dan anaknya, Pak Zulkifli (Ketua MPR) dan keluarganya, Dr Zakir Naik, Pak Chairul Tanjung, dan KH Ma'ruf Amin (Ketua MUI). Obrolan bersama mereka terasa berbeda.

Selalu ada terselip pemikiran besar atau visi besar.

Dalam bisnis, bukan sekadar ngomong, visi yang besar ini dimanifestasikan pada kerja keras setiap harinya. Pelan-pelan keajaiban terjadi. Kemudahan demi kemudahan pun hadir.

Ya, visi yang besar akan membuat orang-orang berdatangan dan bantu mewujudkan. Sementara visi yang kecil hanya akan diwujudkan oleh dirinya sendiri.

Sekarang, coba tanya pada hati Anda yang paling dalam. Apa visi besar Anda dalam berbisnis? Jika benar-benar terjawab, maka insya Allah sebesar apapun rintangan yang Anda hadapi, akan dianggap kecil, karena visi Anda dan semangat Anda jauh lebih besar.

Ingat, bisnis itu benda mati. Visi yang membuatnya hidup. So, find your vision.

Praktek ya. Istilahnya, "Mulai dari yang kanan. Mulai dari visi." Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Siap- siap ya. E-book ini akan saya bagikan di channel ini beberapa hari lagi. Hanya di Telegram.
Beberapa hari yang lalu saya keliling Jatim. Mulai dari Batu, Malang, Kediri, Jombang, Mojokerto, Surabaya, sampai Pasuruan.

Menariknya, di Batu saya liburan bareng keluarga dan tim. Belasan orang. Di Kediri, bertemu Mas Andy Noya, seorang presenter yang kondang dengan acara Kick Andy. Di Mojokerto, bertemu Pak Bibit, seorang difabel yang keliling Indonesia dengan sepeda motor. Alhamdulillah, menyenangkan.

Keliling Indonesia, bahkan keliling dunia, insya Allah semua orang bisa.

Sebenarnya, ini nggak ada urusan sama uang. Cuma sayangnya, kebanyakan orang, ada uang dulu, baru yakin. Nggak ada uang, yah nggak yakin. Ini kan kebalik. Justru dengan yakin, suatu hari nanti, uang akan teradakan. Kanan!

Bayangkan, dulu dari Pekanbaru ke Batam saja, saya naik kapal. Ya, naik kapal. Seharian. Berangkat pagi, sampai maghrib. Keluarga saya tak punya cukup uang untuk naik pesawat.

Yang menyedihkan, pas ayah saya meninggal, saya tak sempat melihat. Pulang-pulang, saya cuma melihat kuburnya saja. Saat itu, saya kelamaan di jalan, berhubung cuma naik bis dan kapal. Tak mampu untuk naik pesawat. Meski begitu, saya punya impian: pengen keliling dunia.

Jujur saja, sewaktu remaja cita-cita saya berubah-ubah. Namanya juga remaja. Pengen jadi pelukis, arsitek, dan duta besar. Kok pengen jadi duta besar? Kenapa? Saat itu saya mikir, bisa jalan-jalan ke luar negeri, hehehe.

Kendati keadaan lagi sulit, jangan sampai itu menciutkan impian kita.

Apa yang ingin sampaikan di sini? Yakinlah. Bisa keliling Indonesia atau apapun itu. Setelah yakin, pantaskan diri. Insya Allah apa saja bisa jadi kenyataan ketika kita sudah pantas dan ketika sudah tiba waktunya. Sekali lagi, yakinlah.

Bukankah Allah itu Maha Besar?
Amat penting untuk memahami margin. Terutama bagi entrepreneur.
Untuk mengurangi risiko rugi dan gagal, carilah produk yang tinggi marginnya.
Terlalu banyak berpikir dan menimbang-nimbang, tak akan membuat Anda maju. Yang ada malah jalan di tempat... Saatnya take action!
Mungkin Senin atau Selasa, saya akan membagikan e-book ini di Telegram. Hanya di channel ini. Beruntung sekali teman-teman yang sudah join di sini... Ke depan, saya akan membagikan beragam e-book
Bukan barang yang kurang laku.

Mungkin kita yang kurang gigih dan kurang ilmu.

Ingat itu!
Kampus yang kita dirikan sama-sama, Kampus Umar Usman, hari ini mewisuda mahasiswa-mahasiswanya. Angkatan ke-4.

Saya senang sekali. Kebanyakan mereka mungkin belum kaya-raya. Tapi alhamdulillah, mereka sudah mandiri. Selain itu, amal dan akhlak mereka juga terjaga.

Itulah yang kami didik di kampus. Bisnis, yah bisnis. Tapi amal dan akhlak harus tetap terjaga. Mohon doa dari teman-teman, semoga mereka semua istiqomah dalam kebaikan dan keberlimpahan. Aamiin.
Pernah mendorong gerobak? Insya Allah semua orang bisa, asalkan punya niat dan tenaga. Langsung action!

Kalau membawa helikopter? Nggak semua orang bisa. Niat dan tenaga saja tidaklah memadai.

Begitulah. Sekiranya ingin menangani sesuatu yang besar atau berpotensi besar, harus ada ilmunya. Action saja, nggak cukup.

Dalam bisnis, ringkasnya begini:
- Memulai, perlu keberanian.
- Membesarkan, perlu ilmu.

Perlu penjelasan?
- Ilmu membawa helikopter, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu mendorong gerobak. Betul?
- Ilmu mengoperasi manusia, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu memotong sayur. Betul?
- Ilmu mengelola Hypermart, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu mengelola warung. Betul?

Demikianlah dalam bisnis. Perlu ilmu supaya benar-benar besar dan kuat.

Guru saya pernah wanti-wanti, "Memulai usaha? Pake nekad saja, yah bisa. Membesarkan usaha? Nggak bisa. Perlu ilmu."

Lalu ada alumni seminar yang bertanya ke saya, "Banyak orang yang bermodalkan nekad dalam memulai usaha. Bolehkah?

Saya jawab, "Yah, sah-sah saja. Yang penting, legal dan halal. Tapi mohon maaf, kalau bermodalkan nekad saja, usahanya tidak bakal besar. Untuk besar, lagi-lagi kita perlu ilmu."

Maka, sempatkan belajar. Cari ilmu. Baca buku. Ikut guru. Jangan pernah jemu.

Dalam #bisnis, bagaimana cara paling tepat dalam belajar dan berguru? Temukan mentornya. Terus, ada tiga pilihan. Pertama, jadilah muridnya. Kedua, jadilah stafnya. Atau ketiga, jadilah partnernya.

Kurang-lebih itu yang saya sarankan. Pak Tung Desem Waringin juga menyarankan hal serupa.

Yang setuju, bantu share dan copas tulisan ini.
Punya mentor saja, masih mungkin gagal.

Apalagi nggak punya mentor.
Berilmu membuat kita lebih pede dalam menjalankan bisnis.

Keberanian, ini kunci untuk memulai.

Ilmu, ini kunci untuk membesarkan.

“Risiko datang dari ketidaktahuan.” Quote ini diambil dari Warren Buffet ketika ia berbicara di Forbes. Kita sama-sama tahu, ia adalah salah satu orang terkaya di dunia.

Kadang saya mengutip quote ini baik di seminar publik maupun seminar in-house. Yah, karena apa yang dibilang Warren Buffet di atas memang benar. Ya, benar.

Saya pribadi jenis orang yang berani terhadap risiko. Hajar saja. Tapi kalau melibatkan banyak pihak, agak beda ceritanya. Saya cenderung untuk ekstra hati-hati. Maksudnya?

Begini. Setiap bisnis yang melibatkan banyak pihak (mitra), saya berusaha untuk memahami detailnya terlebih dahulu. Ya, saya pelajari sisi ini dan itu. Baik dari segi produk maupun dari segi pemasaran.

Sudah nggak zaman membesarkan bisnis bermodal kenekadan. Kalaupun mau nekad, itu baiknya di awal-awal. Saat memulai. Bukan saat menjalankan dan membesarkan.

Sampai sekarang, saya masih menyisihkan waktu 2X seminggu sebagai murid. Belajar. Berguru, menuntut ilmu. Yang saya pahami, untuk menang di dunia, di akhirat, atau kedua-duanya, perlu ilmu. Saya yakin Anda setuju.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.



(Note: Selasa saya akan membagikan e-book gratis di channel Telegram @ipphoright. Ya, gratis. Dan hanya di Telegram. Isinya tentang meraih Rp 3 M dalam waktu sehari atau kurang. Ini kisah nyata. Silakan ajak teman-teman kita bergabung ke Telegram)
Ilmu itu cahaya.

Fakir itu gelap.

Mereka yang sungguh-sungguh menuntut ilmu dijamin tidak fakir.
Bukan persaingan yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri.

Belajarlah. Cari guru. Cari ilmu. Baca buku. Mudah-mudah membaik nasibmu.
Kali ini kita akan menekankan tentang pemilihan sikap Victim dan Victor. Apa itu?

Begini. Sebagian orang, ketika masalah terjadi, ia bersikap sebagai korban (Victim), seolah-olah tidak berdaya, dan teraniaya. Bukan hanya itu, ia juga mengeluh dan menyalah-nyalahkan orang lain. Dengan kata lain, ia tidak bertanggung-jawab atas keputusan yang telah ia ambil.

Namun sebagian orang bersikap sebagai pemenang (Victor/Victory). Dia tenang. Tak menyalahkan siapapun. Sebaliknya, ia bertanggung-jawab penuh atas keputusan yang telah ia ambil.

"Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang memperoleh untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap sang pemenang.

Terlihat jelas di sini. Keadaan sama, namun respons berbeda, tentulah hasilnya akan turut berbeda. Pasti. Makanya saya menganjurkan, demi hasil yang lebih baik, sebisa-bisanya kita hindari sikap sebagai Victim. Apalagi kita tahu bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh! Apalagi kita tahu bahwa menyalahkan orang lain bukannya mengurangi masalah, melainkan hanya mengurangi teman!

Sekali lagi, bertanggung-jawablah atas keputusan yang telah kita ambil. Investasi, bisa rugi. Bisnis, bisa rugi. Kalau memang terjadi, berhentilah menyalah-nyalahkan orang lain. Dewasalah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

(Note: Sore atau malam, kami akan membagikan e-book gratis di channel ini. Tentang meraih Rp 3 miliar dalam waktu satu hari atau kurang. Kisah nyata nih, dialami oleh teman saya. Dan saya yakin Anda juga bisa. Semoga member di channel ini per sore nanti sudah mencapai 54.000 orang)