Dalam marketing, kita mengenal istilah 4P. Masih ingat? Product, Price, Place, dan Promotion.
Dalam bisnis, kita juga harus memperhatikan 4P yang terdiri dari Praising, Planet, People, dan Profit. Praising itu ingat Allah. Planet itu ingat lingkungan. People itu ingat karyawan, pelanggan, dan masyarakat. Profit? Jelas, ini soal laba.
Kali ini Joger yang kita jadikan pokok bahasan.
Nama Joger berasal dari singkatan, di mana suku kata "Jo" dari nama pendirinya yaitu Joseph dan suku kata "Ger" dari nama temannya yaitu Gerhard Seeger. Soalnya, Gerhard Seeger adalah satu sumber dana pendirian toko Joger awal-awal.
Happiness-oriented, ini adalah falsafah yang ia anut dan ia terapkan. Salah satunya, jam kerja yang manusiawi di tokonya, yakni mulai pukul 10.00 (pagi) hingga pukul 18.00 (sore). Saya pernah bertemu beliau belasan tahun yang lalu. Memang nyentrik orangnya.
Adapun motto hidupnya. "Lebih baik sedikit tapi cukup, daripada banyak tapi kurang." Dia sama sekali tidak tertarik untuk bersikap ekspansif besar-besaran pada bisnis kaosnya.
Selain bidang bisnis, Joseph juga aktif di bidang sosial dengan mendirikan Garing, yayasan yang menyantuni orang-orang yang belum mampu makan tiga piring nasi dalam sehari. Ya, Joger memperhatikan People. Bukan sekadar Profit.
Demikian pula madu dan propolis dari Bridlington, Inggris, yang turut memperhatikan masyarakat di sekitarnya, bukan karyawan dan konsumen belaka. Ini contoh yang bagus buat kita.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai pemain UKM? Berdayakan keluarga kita dan tetangga kita. Jangan sampai merusak alam apalagi kalau berdampak permanen. Jangan sampai menutup jalan dan trotoar saat berjualan. Jangan sampai menekan supplier walaupun kita berkesempatan untuk itu.
Inilah yang namanya shared values. Insya Allah, dengan begini bisnis kita bisa bertahan lama. Survive and sustain. Satu hal lagi, mudah-mudahan juga lebih berkah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dalam bisnis, kita juga harus memperhatikan 4P yang terdiri dari Praising, Planet, People, dan Profit. Praising itu ingat Allah. Planet itu ingat lingkungan. People itu ingat karyawan, pelanggan, dan masyarakat. Profit? Jelas, ini soal laba.
Kali ini Joger yang kita jadikan pokok bahasan.
Nama Joger berasal dari singkatan, di mana suku kata "Jo" dari nama pendirinya yaitu Joseph dan suku kata "Ger" dari nama temannya yaitu Gerhard Seeger. Soalnya, Gerhard Seeger adalah satu sumber dana pendirian toko Joger awal-awal.
Happiness-oriented, ini adalah falsafah yang ia anut dan ia terapkan. Salah satunya, jam kerja yang manusiawi di tokonya, yakni mulai pukul 10.00 (pagi) hingga pukul 18.00 (sore). Saya pernah bertemu beliau belasan tahun yang lalu. Memang nyentrik orangnya.
Adapun motto hidupnya. "Lebih baik sedikit tapi cukup, daripada banyak tapi kurang." Dia sama sekali tidak tertarik untuk bersikap ekspansif besar-besaran pada bisnis kaosnya.
Selain bidang bisnis, Joseph juga aktif di bidang sosial dengan mendirikan Garing, yayasan yang menyantuni orang-orang yang belum mampu makan tiga piring nasi dalam sehari. Ya, Joger memperhatikan People. Bukan sekadar Profit.
Demikian pula madu dan propolis dari Bridlington, Inggris, yang turut memperhatikan masyarakat di sekitarnya, bukan karyawan dan konsumen belaka. Ini contoh yang bagus buat kita.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai pemain UKM? Berdayakan keluarga kita dan tetangga kita. Jangan sampai merusak alam apalagi kalau berdampak permanen. Jangan sampai menutup jalan dan trotoar saat berjualan. Jangan sampai menekan supplier walaupun kita berkesempatan untuk itu.
Inilah yang namanya shared values. Insya Allah, dengan begini bisnis kita bisa bertahan lama. Survive and sustain. Satu hal lagi, mudah-mudahan juga lebih berkah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika sekolah, ia ditolak. Ketika kuliah, ia ditolak. Ketika melamar kerja, ia ditolak puluhan kali. Siapa dia? Jack Ma, namanya.
Salah satu orang terkaya di Tiongkok, itulah status Jack Ma sekarang. Hebat? Sangat! Dan, ia pernah memberikan sebuah pesan yang amat berharga:
* Saat kita berusia 20-an tahun, beranilah mengambil risiko (take a risk).
* Saat kita berusia 30-an tahun, temukan boss yang tepat (find the right boss).
* Saat kita berusia 40-an tahun, fokuslah pada satu bidang (focus on single field).
* Saat kita berusia 50-an tahun, invest-lah pada orang muda (invest to young people).
* Saat kita berusia 60-an tahun, berbagi dan mengajarlah (share and teach).
Ada sedikit perbedaan kalimat ketika ia menyampaikan konsep ini di sejumlah forum. Tapi intinya tetap sama. Selagi muda, beranilah mengambil risko dan hindari penundaan. Itu pesan beliau. Terus? Nikmati setiap penolakan dan kegagalan. Terus? Belajarlah dari orang yang tepat untuk mengurangi risiko kegagalan dan mempercepat kesukesan.
Umur bertambah, tanggungan pun bertambah. Apa iya cuma mengandalkan gaji? Kapan mau sungguh-sungguh memulai dan membesarkan bisnis? Besok pagi, saya akan menawarkan peluang usaha. Modalnya tak sampai Rp1juta, marginnya hampir 100%. Mitra-mitra akan saya bimbing. Yang minat, boleh WA 0812-8777-7100.
Ingat, penundaan sering kali berujung pada kegagalan. Sebenarnya, teman-teman boleh berbisnis sendiri atau bermitra dengan yang lain. Tidak harus bermitra dengan saya. Yang penting, teman-teman bersegera dan sungguh-sungguh dalam berbisnis.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Salah satu orang terkaya di Tiongkok, itulah status Jack Ma sekarang. Hebat? Sangat! Dan, ia pernah memberikan sebuah pesan yang amat berharga:
* Saat kita berusia 20-an tahun, beranilah mengambil risiko (take a risk).
* Saat kita berusia 30-an tahun, temukan boss yang tepat (find the right boss).
* Saat kita berusia 40-an tahun, fokuslah pada satu bidang (focus on single field).
* Saat kita berusia 50-an tahun, invest-lah pada orang muda (invest to young people).
* Saat kita berusia 60-an tahun, berbagi dan mengajarlah (share and teach).
Ada sedikit perbedaan kalimat ketika ia menyampaikan konsep ini di sejumlah forum. Tapi intinya tetap sama. Selagi muda, beranilah mengambil risko dan hindari penundaan. Itu pesan beliau. Terus? Nikmati setiap penolakan dan kegagalan. Terus? Belajarlah dari orang yang tepat untuk mengurangi risiko kegagalan dan mempercepat kesukesan.
Umur bertambah, tanggungan pun bertambah. Apa iya cuma mengandalkan gaji? Kapan mau sungguh-sungguh memulai dan membesarkan bisnis? Besok pagi, saya akan menawarkan peluang usaha. Modalnya tak sampai Rp1juta, marginnya hampir 100%. Mitra-mitra akan saya bimbing. Yang minat, boleh WA 0812-8777-7100.
Ingat, penundaan sering kali berujung pada kegagalan. Sebenarnya, teman-teman boleh berbisnis sendiri atau bermitra dengan yang lain. Tidak harus bermitra dengan saya. Yang penting, teman-teman bersegera dan sungguh-sungguh dalam berbisnis.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Jangan anti dengan masalah.
Hadirnya masalah membuat kita introspeksi, berbenah, dan berubah. Hasilnya? Kita jadi lebih cerdas, lebih kreatif, lebih tangguh, lebih dewasa, dan lebih tawakal.
Pada akhirnya, kita 'naik kelas'!
Hadirnya masalah membuat kita introspeksi, berbenah, dan berubah. Hasilnya? Kita jadi lebih cerdas, lebih kreatif, lebih tangguh, lebih dewasa, dan lebih tawakal.
Pada akhirnya, kita 'naik kelas'!
Ia menaruh minat dalam mengembangkan sesuatu sejak masih kecil. Ia pernah mengutak-utik alarm listrik supaya adiknya tidak masuk ke kamarnya. Garasi orangtua juga ia sulap jadi laboratorium untuk eksperimen ilmiah. Kemudian di usia muda, ia pernah menjadi Vice President untuk sebuah perusahaan keuangan. Selang beberapa tahun, ia memutuskan untuk resign. Orangtua dan atasannya awal-awal tidak setuju. Tapi rupa-rupanya hasratnya untuk bebas dan menjadi pengusaha tidak terbendung lagi. Lalu ia mendirikan toko online dan sekarang menjadi toko online terbesar di dunia. Dia sendiri menjadi orang terkaya di dunia per Kamis kemarin, melampaui Bill Gates. #JeffBezos nama orangnya. Amazon nama bisnisnya. Bayangkan kalau dia tidak berani mengambil keputusan untuk resign. Sepertinya Amazon tidak akan hadir... Ya, beranilah mengambil keputusan. Beranilah memulai bisnis...
Sekiranya Anda ingin menjadi entrepreneur, bekerjalah di perusahaan kecil. Ini BUKAN kata saya, tapi kata Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok.
Kenapa di perusahaan kecil? Yah, karena Anda bisa belajar tentang dream, spirit, dan passion langsung dari si founder. Ini nggak bakal Anda rasakan kalau Anda bekerja di perusahaan besar.
Sebagai pemula di perusahaan besar, lazimnya Anda tidak mengantongi akses untuk sering-sering berinterakasi dengan si founder. Right? Right.
Jadi, menurut Jack Ma, "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Ini kalimat yang sangat tajam dan menghujam, menurut saya. Maksudnya? Sulit dibantah!
Ada isyarat untuk belajar di sini. Di mana secara tidak langsung si boss diharapkan akan mengajari kita. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh menjadi bekal saat kita jadi pengusaha kelak.
Sekian dari saya, Ippho Santosa (Hampir setiap hari Anda mendapat motivasi dan inspirasi dari channel Telegram ini. Kenapa nggak mengajak teman-teman Anda untuk bergabung? Biar belajar bareng dan sukses bareng).
Kenapa di perusahaan kecil? Yah, karena Anda bisa belajar tentang dream, spirit, dan passion langsung dari si founder. Ini nggak bakal Anda rasakan kalau Anda bekerja di perusahaan besar.
Sebagai pemula di perusahaan besar, lazimnya Anda tidak mengantongi akses untuk sering-sering berinterakasi dengan si founder. Right? Right.
Jadi, menurut Jack Ma, "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Ini kalimat yang sangat tajam dan menghujam, menurut saya. Maksudnya? Sulit dibantah!
Ada isyarat untuk belajar di sini. Di mana secara tidak langsung si boss diharapkan akan mengajari kita. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh menjadi bekal saat kita jadi pengusaha kelak.
Sekian dari saya, Ippho Santosa (Hampir setiap hari Anda mendapat motivasi dan inspirasi dari channel Telegram ini. Kenapa nggak mengajak teman-teman Anda untuk bergabung? Biar belajar bareng dan sukses bareng).
Sebenarnya pemindahan ibukota bukan hal anyar di dunia. Beberapa negara malah sudah melakukannya jauh-jauh hari dan boleh dibilang berhasil dengan lebih bergeraknya roda ekonomi.
Berikut ini adalah sejumlah negara yang sudah berhasil memindahkan ibukota negaranya:
- Brasil, dari Rio de Jeneiro ke Brasilia. Jerman, dari Bonn ke Berlin. Kazakhstan, dari Almaty ke Astana.
- Ada lagi? Ada, misalnya Pakistan, India, Myanmar, Rusia, Australia, dan Inggris.
- Contoh lain? Belize, Tanzania, Nigeria, dan Pantai Gading.
Sampai detik ini wacana pemindahan ibukota Indonesia dari Jakarta belum pudar-pudar. Kajian demi kajian terus dihelat dengan penuh kehati-hatian.
Kembali ke Pakistan, contoh yang berhasil. Islamabad saat ini sudah masuk kategori global city dan memiliki indeks pengembangan manusia tertinggi di Pakistan.
Islamabad juga menjadi kota paling mahal di Pakistan dengan penduduk sebagian besar adalah warga middle dan upper.
Islamabad juga kota teraman di Pakistan dengan sistem pengawasan yang mengandalkan 1.900 kamera CCTV di berbagai penjuru.
Bagaimana dengan pemindahan ibukota di Indonesia? Jadikah? Seriuskah? Berhasilkah? Kita masih menunggu. Di negara-negara maju, sering terjadi pemisahan antara pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan. Di Indonesia? Semua masih menumpuk jadi satu di ibukota negara, Jakarta.
Saya termasuk jenis orang yang welcome dengan perubahan yang positif. Insya Allah Indonesia bisa dan hasilnya baik. Tentu, dengan dukungan semua kalangan termasuk Anda dan saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Berikut ini adalah sejumlah negara yang sudah berhasil memindahkan ibukota negaranya:
- Brasil, dari Rio de Jeneiro ke Brasilia. Jerman, dari Bonn ke Berlin. Kazakhstan, dari Almaty ke Astana.
- Ada lagi? Ada, misalnya Pakistan, India, Myanmar, Rusia, Australia, dan Inggris.
- Contoh lain? Belize, Tanzania, Nigeria, dan Pantai Gading.
Sampai detik ini wacana pemindahan ibukota Indonesia dari Jakarta belum pudar-pudar. Kajian demi kajian terus dihelat dengan penuh kehati-hatian.
Kembali ke Pakistan, contoh yang berhasil. Islamabad saat ini sudah masuk kategori global city dan memiliki indeks pengembangan manusia tertinggi di Pakistan.
Islamabad juga menjadi kota paling mahal di Pakistan dengan penduduk sebagian besar adalah warga middle dan upper.
Islamabad juga kota teraman di Pakistan dengan sistem pengawasan yang mengandalkan 1.900 kamera CCTV di berbagai penjuru.
Bagaimana dengan pemindahan ibukota di Indonesia? Jadikah? Seriuskah? Berhasilkah? Kita masih menunggu. Di negara-negara maju, sering terjadi pemisahan antara pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan. Di Indonesia? Semua masih menumpuk jadi satu di ibukota negara, Jakarta.
Saya termasuk jenis orang yang welcome dengan perubahan yang positif. Insya Allah Indonesia bisa dan hasilnya baik. Tentu, dengan dukungan semua kalangan termasuk Anda dan saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ada MASALAH di kantor? Sampai konflik? Itu wajar. Mungkin interaksi orang-orang di dalamnya begitu intens.
Terus, apa tips dari saya? Pertama, ketika terjadi konflik, tempatkan diri kita dalam posisi orang lain. Ini namanya empati. Catat, em-pa-ti.
Mungkin sulit menempatkan diri kita dalam posisi mereka. Tapi, bukannya mustahil. Perlu diingat, empati dan kompromi seringkali lebih efektif ketimbang konfrontasi.
Kedua? Pertimbangkan kemungkinan terburuk bagi kedua belah pihak. Mengetahui hal ini, kita akan berhati-hati dalam memutuskan dan berusaha menghindari konfrontasi.
Terus? Cari pendapat pihak ketiga yang ahli dan netral. Jika Anda menemui jalan buntu dengan 'pihak lawan' dan belum punya solusi konkrit walaupun sudah berusaha sebaik-baiknya, maka carilah pihak ketiga untuk bantu mendamaikan.
Terus? Fokus pada persamaan dan kompromilah sesekali. Selagi tidak berbenturan dengan hal-hal prinsip, tak ada salahnya kalau kita mau berkompromi. Sekali lagi, hindari konfrontasi.
Kalau doa? Tentu saja ini harus. Sebagai orang beriman, kita sama-sama tahu bahwa doa adalah bagian tak terpisahkan dari ikhtiar. Maka, sertakan ini sejak awal ketika memulai dialog.
Dengan begini, mudah-mudahan konflik tersebut bisa reda dan redam. Silakan dicoba. Sip? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Terus, apa tips dari saya? Pertama, ketika terjadi konflik, tempatkan diri kita dalam posisi orang lain. Ini namanya empati. Catat, em-pa-ti.
Mungkin sulit menempatkan diri kita dalam posisi mereka. Tapi, bukannya mustahil. Perlu diingat, empati dan kompromi seringkali lebih efektif ketimbang konfrontasi.
Kedua? Pertimbangkan kemungkinan terburuk bagi kedua belah pihak. Mengetahui hal ini, kita akan berhati-hati dalam memutuskan dan berusaha menghindari konfrontasi.
Terus? Cari pendapat pihak ketiga yang ahli dan netral. Jika Anda menemui jalan buntu dengan 'pihak lawan' dan belum punya solusi konkrit walaupun sudah berusaha sebaik-baiknya, maka carilah pihak ketiga untuk bantu mendamaikan.
Terus? Fokus pada persamaan dan kompromilah sesekali. Selagi tidak berbenturan dengan hal-hal prinsip, tak ada salahnya kalau kita mau berkompromi. Sekali lagi, hindari konfrontasi.
Kalau doa? Tentu saja ini harus. Sebagai orang beriman, kita sama-sama tahu bahwa doa adalah bagian tak terpisahkan dari ikhtiar. Maka, sertakan ini sejak awal ketika memulai dialog.
Dengan begini, mudah-mudahan konflik tersebut bisa reda dan redam. Silakan dicoba. Sip? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Mohon doa. #BundaFirda (paling kiri, kerudung merah) adalah guru TK Khalifah angkatan pertama. Penyayang sama anak-anak bahkan dipilih 90% anak-anak sebagai guru favorit. Dia juga saksi atas perjuangan saya merintis TK Khalifah di Batam. Boleh dibilang, dia anak emas bagi saya, istri saya, dan manajemen. Ketika tim perdana resign satu per satu, dia tetap bertahan. Sampailah tadi pagi Allah memanggilnya. Dia berpulang (karena sakit). Semoga Allah menerima amal-amalnya dan mengampuni dosa-dosanya. Aamiin. Sekali lagi, mohon doanya.
Saran saya, "Mulailah berbisnis semuda mungkin."
- Mumpung lagi mood.
- Mumpung lagi semangat-semangatnya.
- Mumpung lagi berani-beraninya.
- Mumpung ada stamina.
- Mumpung ada waktu.
- Mumpung ada peluang.
- Mumpung masih sedikit tanggungan.
- Mumpung Anda membaca tulisan ini.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, rada beda dengan senior-seniornya. Si muda lebih menyala-nyala. Kebanyakan yah begitu.
Di sini kita nggak bisa menggadang-gadang kisah langka alias kisah pengecualian seperti Kolonel Sanders dengan KFC-nya.
Dan satu lagi. Orang-orang muda demen sama teknologi juga perubahan. Saya sih yakin, Indonesia bahkan dunia bisa mencicipi perubahan yang lebih cepat sekiranya orang-orang mudanya diberi kesempatan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
- Mumpung lagi mood.
- Mumpung lagi semangat-semangatnya.
- Mumpung lagi berani-beraninya.
- Mumpung ada stamina.
- Mumpung ada waktu.
- Mumpung ada peluang.
- Mumpung masih sedikit tanggungan.
- Mumpung Anda membaca tulisan ini.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, rada beda dengan senior-seniornya. Si muda lebih menyala-nyala. Kebanyakan yah begitu.
Di sini kita nggak bisa menggadang-gadang kisah langka alias kisah pengecualian seperti Kolonel Sanders dengan KFC-nya.
Dan satu lagi. Orang-orang muda demen sama teknologi juga perubahan. Saya sih yakin, Indonesia bahkan dunia bisa mencicipi perubahan yang lebih cepat sekiranya orang-orang mudanya diberi kesempatan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Istri, jangan meminta.
Suami, mestinya memberi.
Istri, jangan boros.
Suami, mestinya mencukupi.
Imbang tho?
Jangan memanjakan istri semata-mata dengan harta. Itu betul. Tapi, sudah tugas suami untuk membuat istri lebih nyaman. Dengan apa? Yah dengan semuanya. Perhatian, sentuhan, waktu, ilmu, harta, dll. Jangan salah satunya saja.
Misal, Anda mengajak istri berlibur. Di situ terlibat berbagai komponen. Mulai dari perhatian, sentuhan, waktu, sampai harta. Dan sekiranya istri ingin berlibur di Raja Ampat terus Anda mampu, yah apa salahnya? Boleh, insya Allah.
Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti paham, kadang harta memang dilibatkan. Sebagai pendukung.
Kalau kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan dipahamkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak. Jadi, jangan risih kalau bicara soal harta.
Bantu share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Suami, mestinya memberi.
Istri, jangan boros.
Suami, mestinya mencukupi.
Imbang tho?
Jangan memanjakan istri semata-mata dengan harta. Itu betul. Tapi, sudah tugas suami untuk membuat istri lebih nyaman. Dengan apa? Yah dengan semuanya. Perhatian, sentuhan, waktu, ilmu, harta, dll. Jangan salah satunya saja.
Misal, Anda mengajak istri berlibur. Di situ terlibat berbagai komponen. Mulai dari perhatian, sentuhan, waktu, sampai harta. Dan sekiranya istri ingin berlibur di Raja Ampat terus Anda mampu, yah apa salahnya? Boleh, insya Allah.
Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti paham, kadang harta memang dilibatkan. Sebagai pendukung.
Kalau kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan dipahamkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak. Jadi, jangan risih kalau bicara soal harta.
Bantu share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.