Gagal itu wajar.
Sukses juga wajar.
Tak perlu disikapi berlebihan.
Lalu, ada yang bertanya, “Sudah antusias, sudah optimis, kok masih gagal?” Yah, apalagi kalau tidak antusias dan tidak optimis! Pasti lebih gagal!
Anda tahu Jack Ma? Di sekolah dasar, ia ditolak. Di sekolah menengah, ia ditolak. Di universitas, ia ditolak. Di kepolisian, ia ditolak. Menurutnya, kita harus terbiasa dengan #penolakan. Sekarang ia 5 terkaya di Tiongkok.
Begitulah, penolakan dan kegagalan itu biasa. Malah ada baiknya juga. Menurut Sharon Kim, seorang peneliti dari Sekolah Bisnis John Hopkins Carey, Amerika, mereka yang mendapat penolakan sosial umumnya justru memperoleh keuntungan tersendiri.
Apa untungnya? Yah, berupa pikiran yang lebih independen dan lebih intuitif. “Tampaknya, penolakan mendorong mereka untuk berpikir lebih kreatif,” ujar Sharon Kim seperti yang dimuat di Journal of Experimental Psychology.
Dengan kata lain, penolakan dan kegagalan itu membuat kita lebih tangguh juga lebih kreatif.
Sekali lagi.
Gagal itu wajar.
Sukses juga wajar.
Tak perlu disikapi berlebihan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sukses juga wajar.
Tak perlu disikapi berlebihan.
Lalu, ada yang bertanya, “Sudah antusias, sudah optimis, kok masih gagal?” Yah, apalagi kalau tidak antusias dan tidak optimis! Pasti lebih gagal!
Anda tahu Jack Ma? Di sekolah dasar, ia ditolak. Di sekolah menengah, ia ditolak. Di universitas, ia ditolak. Di kepolisian, ia ditolak. Menurutnya, kita harus terbiasa dengan #penolakan. Sekarang ia 5 terkaya di Tiongkok.
Begitulah, penolakan dan kegagalan itu biasa. Malah ada baiknya juga. Menurut Sharon Kim, seorang peneliti dari Sekolah Bisnis John Hopkins Carey, Amerika, mereka yang mendapat penolakan sosial umumnya justru memperoleh keuntungan tersendiri.
Apa untungnya? Yah, berupa pikiran yang lebih independen dan lebih intuitif. “Tampaknya, penolakan mendorong mereka untuk berpikir lebih kreatif,” ujar Sharon Kim seperti yang dimuat di Journal of Experimental Psychology.
Dengan kata lain, penolakan dan kegagalan itu membuat kita lebih tangguh juga lebih kreatif.
Sekali lagi.
Gagal itu wajar.
Sukses juga wajar.
Tak perlu disikapi berlebihan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda tahu berapa umur Nabi Nuh?
Berapa lama ia berdakwah?
Berapa banyak jamaahnya?
Menurut Tafsir al-Thabari, umurnya lebih dari 1600 tahun. Yang lain menyebutnya kurang-lebih 1000 tahun. Dan ternyata jamaahnya tak sampai 100 orang. Ya, tak sampai 100 orang.
Kalau menurut kalkulasi orang-orang manajemen zaman sekarang, tentu saja beliau dicap gagal. Tapi, benarkah demikian? Nggak juga. Di sini Nabi Nuh mengajarkan kita ketegaran dan perjuangan.
Pesan guru saya, "Ketika gagal, jangan menyerah dengan keadaan. Berjuanglah. Lalu? Beri makna baru. Buang pikiran negatif." Hm, mau contoh?
Dengarkan saja percakapan ini:
“Bisnisnya rugi ya, Pak?”
“Bukan rugi, Mas. Tapi belum untung.”
“Lha, itu tokonya sampai tutup!”
“Bukan tutup, Mas. Tapi relokasi.”
“Relokasi? Emang pindah ke mana?”
“Nah, itu yang belum tahu. Hehe!”
Atau dengarkan percakapan ini:
“Kariernya mentok ya, Pak?”
“Bukan mentok, Mas. Saya diberi kesempatan untuk mendalami bidang ini.”
“Tapi perasaan, kok lama banget?”
“Kalau mau ahli, yah mesti lama, Mas.”
“Terus, kapan naiknya?”
“Sabar, Mas. Wong saya yang menjalani aja sabar kok. Hehehe!”
Sekilas, mereka tidak rasional. Tidak masuk akal. Bahkan disebut-sebut ‘gila’ atau ‘nggak punya otak’. Padahal antara gila dan jenius itu bedanya tipis. Kalau belum berhasil, Anda akan dicap gila. Nah, begitu berhasil, Anda akan dicap jenius. Serius.
Namun ternyata inilah cara yang benar, yang membuat mereka lekas terbebas dari kegagalan dan kebangkrutan. Lihatlah! Mereka memberi makna baru. Mereka membuang pikiran negatif.
Kosmetik dengan label halal mungkin dianggap gila belasan tahun yang lalu. Tapi sekarang? Malah menjadi #PembedaAbadi. Sang founder yakin dengan konsepnya, maka dari itu ia perjuangkan. Alhamdulillah saya sudah sekian kali berseminar bareng sang founder.
Demikian pula ojek online, komputer sebesar handphone, dan drone memuat penumpang. Ini semua dianggap gila belasan tahun yang lalu. Sekarang? Terjadi. Benar-benar terjadi. Bahkan mengisi hari-hari kita.
Nah, sukses yang berikutnya adalah giliran Anda, insya Allah. Syaratnya? Ketika gagal, jangan mudah menyerah dengan keadaan. Tetaplah berjuang. Terus? Beri makna baru dan buang pikiran negatif. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Ingatkan keluarga kita. Untuk left dari WA dan beralih ke channel Telegram @ipphoright)
Berapa lama ia berdakwah?
Berapa banyak jamaahnya?
Menurut Tafsir al-Thabari, umurnya lebih dari 1600 tahun. Yang lain menyebutnya kurang-lebih 1000 tahun. Dan ternyata jamaahnya tak sampai 100 orang. Ya, tak sampai 100 orang.
Kalau menurut kalkulasi orang-orang manajemen zaman sekarang, tentu saja beliau dicap gagal. Tapi, benarkah demikian? Nggak juga. Di sini Nabi Nuh mengajarkan kita ketegaran dan perjuangan.
Pesan guru saya, "Ketika gagal, jangan menyerah dengan keadaan. Berjuanglah. Lalu? Beri makna baru. Buang pikiran negatif." Hm, mau contoh?
Dengarkan saja percakapan ini:
“Bisnisnya rugi ya, Pak?”
“Bukan rugi, Mas. Tapi belum untung.”
“Lha, itu tokonya sampai tutup!”
“Bukan tutup, Mas. Tapi relokasi.”
“Relokasi? Emang pindah ke mana?”
“Nah, itu yang belum tahu. Hehe!”
Atau dengarkan percakapan ini:
“Kariernya mentok ya, Pak?”
“Bukan mentok, Mas. Saya diberi kesempatan untuk mendalami bidang ini.”
“Tapi perasaan, kok lama banget?”
“Kalau mau ahli, yah mesti lama, Mas.”
“Terus, kapan naiknya?”
“Sabar, Mas. Wong saya yang menjalani aja sabar kok. Hehehe!”
Sekilas, mereka tidak rasional. Tidak masuk akal. Bahkan disebut-sebut ‘gila’ atau ‘nggak punya otak’. Padahal antara gila dan jenius itu bedanya tipis. Kalau belum berhasil, Anda akan dicap gila. Nah, begitu berhasil, Anda akan dicap jenius. Serius.
Namun ternyata inilah cara yang benar, yang membuat mereka lekas terbebas dari kegagalan dan kebangkrutan. Lihatlah! Mereka memberi makna baru. Mereka membuang pikiran negatif.
Kosmetik dengan label halal mungkin dianggap gila belasan tahun yang lalu. Tapi sekarang? Malah menjadi #PembedaAbadi. Sang founder yakin dengan konsepnya, maka dari itu ia perjuangkan. Alhamdulillah saya sudah sekian kali berseminar bareng sang founder.
Demikian pula ojek online, komputer sebesar handphone, dan drone memuat penumpang. Ini semua dianggap gila belasan tahun yang lalu. Sekarang? Terjadi. Benar-benar terjadi. Bahkan mengisi hari-hari kita.
Nah, sukses yang berikutnya adalah giliran Anda, insya Allah. Syaratnya? Ketika gagal, jangan mudah menyerah dengan keadaan. Tetaplah berjuang. Terus? Beri makna baru dan buang pikiran negatif. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Ingatkan keluarga kita. Untuk left dari WA dan beralih ke channel Telegram @ipphoright)
Setiap kita ingin 'naik kelas'.
Yang sekarang mahasiswa, pengen jadi sarjana.
Yang sekarang nganggur, pengen jadi karyawan.
Yang sekarang staf, pengen jadi supervisor atau manajer.
Yang sekarang entrepreneur, pengen jadi miliarder.
Yang sekarang jomblo, pengen? Pengen nangis, hehehe.
Nah, begitu kita naik level, kadar masalah pun bertambah. Betul apa betul? Masalah yang dihadapi seorang manajer tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang staf.
Masalah yang dihadapi seorang gubernur tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang walikota. Mana mungkin berkurang? Dengan kata lain, bertambahnya kadar masalah itu wajar.
Terus, gimana kalau ternyata nggak ada solusinya, nggak ada jalan keluarnya? Sebelum saya jawab, silakan teman-teman baca dulu analogi-analogi berikut ini.
Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa menyiapkan jawabannya?
Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan muridnya?
Mungkinkah guru memberikan ujian melebihi kemampuan muridnya?
Mungkinkah guru memberikan ujian dengan niat menyusahkan muridnya?
TIDAK MUNGKIN.
Kalau guru saja sedemikian baik terhadap muridnya, apalagi Allah terhadap hamba-Nya. Jalan keluar pasti ada, insya Allah. Manusia pasti mampu, insya Allah. Berbesarhatilah saat menghadapi #masalah.
Sebenarnya, masalah itu membuat kita semakin matang, semakin tangguh, semakin tawakal, semakin kreatif, dan naik derajat. Maka, tetaplah berbesar hati. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang sekarang mahasiswa, pengen jadi sarjana.
Yang sekarang nganggur, pengen jadi karyawan.
Yang sekarang staf, pengen jadi supervisor atau manajer.
Yang sekarang entrepreneur, pengen jadi miliarder.
Yang sekarang jomblo, pengen? Pengen nangis, hehehe.
Nah, begitu kita naik level, kadar masalah pun bertambah. Betul apa betul? Masalah yang dihadapi seorang manajer tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang staf.
Masalah yang dihadapi seorang gubernur tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang walikota. Mana mungkin berkurang? Dengan kata lain, bertambahnya kadar masalah itu wajar.
Terus, gimana kalau ternyata nggak ada solusinya, nggak ada jalan keluarnya? Sebelum saya jawab, silakan teman-teman baca dulu analogi-analogi berikut ini.
Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa menyiapkan jawabannya?
Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan muridnya?
Mungkinkah guru memberikan ujian melebihi kemampuan muridnya?
Mungkinkah guru memberikan ujian dengan niat menyusahkan muridnya?
TIDAK MUNGKIN.
Kalau guru saja sedemikian baik terhadap muridnya, apalagi Allah terhadap hamba-Nya. Jalan keluar pasti ada, insya Allah. Manusia pasti mampu, insya Allah. Berbesarhatilah saat menghadapi #masalah.
Sebenarnya, masalah itu membuat kita semakin matang, semakin tangguh, semakin tawakal, semakin kreatif, dan naik derajat. Maka, tetaplah berbesar hati. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya (Ippho Santosa) akan bagi-bagi #UangTunai dan syal #Dortmund di Instagram @ipphoright.
Syal ini saya beli di stadion Dortmund. Asli. Mungkin Anda atau kerabat Anda suka. Bisa dihadiahkan.
Setidaknya, uangnya bisa Anda manfaatkan.
Yang minat, silakan merapat ya.
Buruan. Mumpung masih ada kesempatan.
Syal ini saya beli di stadion Dortmund. Asli. Mungkin Anda atau kerabat Anda suka. Bisa dihadiahkan.
Setidaknya, uangnya bisa Anda manfaatkan.
Yang minat, silakan merapat ya.
Buruan. Mumpung masih ada kesempatan.
Ustadz naik Hummer, ustadz naik Alphard, dianggap masalah. Layak dijadikan bahan bully-an. Padahal?
Mungkin itu BUKAN mobilnya, melainkan pinjaman dari jamaah. Ini biasa, cara murid menyambut guru. Saya aja sering minjemin mobil kayak gitu.
Mungkin mobil hadiah dari jamaah. Ini biasa, cara murid memuliakan guru. Saya aja bercita-cita agar bisa menghadiahkan mobil buat guru-guru saya.
Mungkin itu hasil dari bisnisnya. Jangan salah, ustadz zaman sekarang banyak yang melek bisnis. Bukan melulu amplopan dari jamaah (walaupun ini juga halal dan legal).
Kayaknya ente nih yang jarang ikut pengajian. Jadi, nggak ngeh sama kemungkinan-kemungkinan di atas. Mbok ya rajin-rajin ikut pengajian. Jangan seperti katak di bawah tempramen, hehehe.
Catat ya, untanya Nabi Muhammad itu Al-Qashwa, terbaik. Pedang dan baju perangnya juga TERBAIK. Karena memang perlu. Meskipun alas tidur, pakaian, dan makanannya sangat sederhana.
Fyi, di negeri ini, ada ustadz yang punya pesawat. Ada juga ustadz yang punya helikopter. Ada pula ustadz yang punya kapal. Heran? Nggaklah, biasa aja. Wong untuk dakwah ke pelosok-pelosok. Mending kalau ente punya dan mau minjemin, hehehe.
Terus, ente-ente punya apa? Sudahlah motor seken, nyicil, nunggak, hampir disita, eh buruksangka pula sama ustadz-ustadz. Hehehe. Saya mah bukan ustadz, tapi insya Allah kenal sama ustadz-ustadz.
Begini. Kalaupun mau kepo, kepo-lah dengan amal orang lain. Dengan niat ingin mengikuti. Bukan penasaran dengan potensi aib orang lain. Bukan rese, bukan nyinyir. Ya, sepertinya kita yang perlu baiksangka dan bener-bener belajar.
Sederhana bukan berarti nggak punya apa-apa. Boleh punya apa-apa kalau memang perlu. Walaupun mungkin itu relatif mahal bagi orang rata-rata. Sederhana itu soal sikap.
Sebagian kita menganggap ustadz itu harus miskin. Kalau kaya, dianggap aneh. Kalau jelek, diledek pelawak. Kalau ganteng, diledek seleb. Ribet banget! Terus, ustadz harus gimana? Jawab woy!
Begitulah. Kadang kita terlalu sinis dan sentimen sama ustadz.
Orang lain boleh bisnis, boleh kaya. Kalau ustadz kaya? Harus dinyinyirin. Mereka lupa, Nabi Muhammad lebih lama kaya daripada miskin. Umar dan Usman pun kaya.
Orang lain boleh selingkuh, boleh poligami. Kalau ustadz poligami? Harus digunjingin. Mereka lupa, Soekarno pun beristri lebih dari dua.
Orang lain boleh masuk politik. Bahkan atas nama demokrasi, preman pun boleh jadi anggota dewan dan kepala daerah. Kalau ustadz masuk politik? Harus di-bully. Harus difitnah. Harus dicongkel aib-aibnya.
Terus? Harus diragukan niatnya. Harus dipertanyakan predikat ustadz-nya. Mereka lupa, Gus Dur pun berpolitik. Mereka lupa, Umar dan Usman juga pemimpin politik.
Ya, sepertinya saat ini kita yang perlu baiksangka dan bener-bener belajar. Right? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mungkin itu BUKAN mobilnya, melainkan pinjaman dari jamaah. Ini biasa, cara murid menyambut guru. Saya aja sering minjemin mobil kayak gitu.
Mungkin mobil hadiah dari jamaah. Ini biasa, cara murid memuliakan guru. Saya aja bercita-cita agar bisa menghadiahkan mobil buat guru-guru saya.
Mungkin itu hasil dari bisnisnya. Jangan salah, ustadz zaman sekarang banyak yang melek bisnis. Bukan melulu amplopan dari jamaah (walaupun ini juga halal dan legal).
Kayaknya ente nih yang jarang ikut pengajian. Jadi, nggak ngeh sama kemungkinan-kemungkinan di atas. Mbok ya rajin-rajin ikut pengajian. Jangan seperti katak di bawah tempramen, hehehe.
Catat ya, untanya Nabi Muhammad itu Al-Qashwa, terbaik. Pedang dan baju perangnya juga TERBAIK. Karena memang perlu. Meskipun alas tidur, pakaian, dan makanannya sangat sederhana.
Fyi, di negeri ini, ada ustadz yang punya pesawat. Ada juga ustadz yang punya helikopter. Ada pula ustadz yang punya kapal. Heran? Nggaklah, biasa aja. Wong untuk dakwah ke pelosok-pelosok. Mending kalau ente punya dan mau minjemin, hehehe.
Terus, ente-ente punya apa? Sudahlah motor seken, nyicil, nunggak, hampir disita, eh buruksangka pula sama ustadz-ustadz. Hehehe. Saya mah bukan ustadz, tapi insya Allah kenal sama ustadz-ustadz.
Begini. Kalaupun mau kepo, kepo-lah dengan amal orang lain. Dengan niat ingin mengikuti. Bukan penasaran dengan potensi aib orang lain. Bukan rese, bukan nyinyir. Ya, sepertinya kita yang perlu baiksangka dan bener-bener belajar.
Sederhana bukan berarti nggak punya apa-apa. Boleh punya apa-apa kalau memang perlu. Walaupun mungkin itu relatif mahal bagi orang rata-rata. Sederhana itu soal sikap.
Sebagian kita menganggap ustadz itu harus miskin. Kalau kaya, dianggap aneh. Kalau jelek, diledek pelawak. Kalau ganteng, diledek seleb. Ribet banget! Terus, ustadz harus gimana? Jawab woy!
Begitulah. Kadang kita terlalu sinis dan sentimen sama ustadz.
Orang lain boleh bisnis, boleh kaya. Kalau ustadz kaya? Harus dinyinyirin. Mereka lupa, Nabi Muhammad lebih lama kaya daripada miskin. Umar dan Usman pun kaya.
Orang lain boleh selingkuh, boleh poligami. Kalau ustadz poligami? Harus digunjingin. Mereka lupa, Soekarno pun beristri lebih dari dua.
Orang lain boleh masuk politik. Bahkan atas nama demokrasi, preman pun boleh jadi anggota dewan dan kepala daerah. Kalau ustadz masuk politik? Harus di-bully. Harus difitnah. Harus dicongkel aib-aibnya.
Terus? Harus diragukan niatnya. Harus dipertanyakan predikat ustadz-nya. Mereka lupa, Gus Dur pun berpolitik. Mereka lupa, Umar dan Usman juga pemimpin politik.
Ya, sepertinya saat ini kita yang perlu baiksangka dan bener-bener belajar. Right? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Alkisah ada orang kaya-raya bernama Abu Dinar.
Rumahnya begitu luas. Sangat luas.
Bayangkan:
Saking luasnya, mau ke kebun saja harus pakai Google Map. 😁
Saking luasnya, kalau kita masuk lewat gerbang depan pas zuhur, maka kita akan tiba di kebun belakang pas maghrib. 😂
Saking luasnya, Indomaret sampai buka cabang di halaman rumahnya. 🤣
Kebayang? Hehehe. Ini cerita fiktif, nggak usah dipikirin amat.
Nah, agar hartanya membanyak, Abu Dinar mencoba investasi ini-itu. Agar hidupnya aman, Abu Dinar mencoba asuransi ini-itu.
Pertanyaan saya, benarkah hartanya benar-benar membanyak? Benarkah hidupnya benar-benar aman? Belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Lantas, gimana baiknya?
Dan inilah pesan yang mensolusikan dari guru saya:
- HARTA itu sedikit. Kalau disedekahkan, akan bertambah. Membanyak...
- HARTA itu sementara. Kalau kita sedekahkan, akan kekal. Abadi...
- HARTA, kita yang menjaganya. Kalau disedekahkan, harta yang akan menjaga kita. Aman...
Ya, sedekah adalah investasi sekaligus asuransi yang benar-benar menguntungkan. Cobalah, entah kita belum kaya atau sudah kaya. Maksud saya, sembari kita berikhtiar melalui karier atau bisnis, jangan lupa bersedekah.
Menariknya, balasan sedekah bukan di akhirat saja, melainkan bisa juga 'tarik tunai' sebagian di dunia. Kita manusia biasa, yang kadang-kadang masih berharap sesuatu yang sifatnya dunia. Betul apa betul?
Mumpung masih ada umur, mumpung masih ada rezeki, mumpung masih ada Ramadhan, mari kita berlomba-lomba dalam sedekah dan amal-amal baik lainnya. Kalau di bulan biasa saja sedekah itu berbalas dan berlipatganda, jangan tanya kalau di bulan Ramadhan!
Teman-teman yakin? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rumahnya begitu luas. Sangat luas.
Bayangkan:
Saking luasnya, mau ke kebun saja harus pakai Google Map. 😁
Saking luasnya, kalau kita masuk lewat gerbang depan pas zuhur, maka kita akan tiba di kebun belakang pas maghrib. 😂
Saking luasnya, Indomaret sampai buka cabang di halaman rumahnya. 🤣
Kebayang? Hehehe. Ini cerita fiktif, nggak usah dipikirin amat.
Nah, agar hartanya membanyak, Abu Dinar mencoba investasi ini-itu. Agar hidupnya aman, Abu Dinar mencoba asuransi ini-itu.
Pertanyaan saya, benarkah hartanya benar-benar membanyak? Benarkah hidupnya benar-benar aman? Belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Lantas, gimana baiknya?
Dan inilah pesan yang mensolusikan dari guru saya:
- HARTA itu sedikit. Kalau disedekahkan, akan bertambah. Membanyak...
- HARTA itu sementara. Kalau kita sedekahkan, akan kekal. Abadi...
- HARTA, kita yang menjaganya. Kalau disedekahkan, harta yang akan menjaga kita. Aman...
Ya, sedekah adalah investasi sekaligus asuransi yang benar-benar menguntungkan. Cobalah, entah kita belum kaya atau sudah kaya. Maksud saya, sembari kita berikhtiar melalui karier atau bisnis, jangan lupa bersedekah.
Menariknya, balasan sedekah bukan di akhirat saja, melainkan bisa juga 'tarik tunai' sebagian di dunia. Kita manusia biasa, yang kadang-kadang masih berharap sesuatu yang sifatnya dunia. Betul apa betul?
Mumpung masih ada umur, mumpung masih ada rezeki, mumpung masih ada Ramadhan, mari kita berlomba-lomba dalam sedekah dan amal-amal baik lainnya. Kalau di bulan biasa saja sedekah itu berbalas dan berlipatganda, jangan tanya kalau di bulan Ramadhan!
Teman-teman yakin? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kemarin saya bukber di rumah Pak #ChairulTanjung (CT). Alhamdulillah bisa semeja dengan beliau dan Ketua MUI. Saya menyimak diskusi seru mereka berdua dengan tokoh-tokoh lainnya hampir 1 jam. Jujur saja, ini nikmat yang luar biasa bagi saya.
Beliau selama bertahun-tahun duduk bertahta sebagai 10 orang terkaya di Indonesia. Dan ternyata, beliau sangat melek dan concern sama umat Islam di Indonesia yang masih jadi minoritas dalam dunia usaha. Lalu beliau mengusung sederet solusi.
Lazimnya beliau menggulirkan solusi ini-itu melalui organisasi dan ulama. Juga melalui ceramah di komunitas-komunitas dan universitas-universitas. Jangan salah, tak semua konglomerat mau bersusah-payah seperti ini.
Kita doakan semoga niat baik beliau tetap terjaga dan semakin dimudahkan.
Beliau juga menasehati saya sebagai founder SD dan TK Khalifah agar murid-murid saya dilatih jualan sejak kecil. Ya, sejak kecil. Apa yang dijual? Apa saja. Mungkin karya mereka, mungkin barang bekas. Atau yang lainnya. Supaya apa? Agar kelak mereka menjadi pengusaha.
Sebuah bangsa supaya maju dan melaju harus memiliki musuh bersama (common enemy). Ini menurut beliau. Amerika pernah menempatkan Jepang sebagai musuh bersama. Jepang pernah menempatkan Barat sebagai musuh bersama dan sekarang Korea dijadikan musuh bersama.
Sehingga dengan begini, energi kita tercurah dan fokus. Sekarang, apa yang jadi musuh bersama bagi kita semua? Menurut beliau adalah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Orang mesti sadar bahwa dirinya bodoh dan tertinggal. Gimanapun, masih banyak orang yang nggak sadar-sadar!
Sebenarnya, banyak lagi yang beliau sampaikan semalam. Kapan-kapan kita sambung ya.
Beliau selama bertahun-tahun duduk bertahta sebagai 10 orang terkaya di Indonesia. Dan ternyata, beliau sangat melek dan concern sama umat Islam di Indonesia yang masih jadi minoritas dalam dunia usaha. Lalu beliau mengusung sederet solusi.
Lazimnya beliau menggulirkan solusi ini-itu melalui organisasi dan ulama. Juga melalui ceramah di komunitas-komunitas dan universitas-universitas. Jangan salah, tak semua konglomerat mau bersusah-payah seperti ini.
Kita doakan semoga niat baik beliau tetap terjaga dan semakin dimudahkan.
Beliau juga menasehati saya sebagai founder SD dan TK Khalifah agar murid-murid saya dilatih jualan sejak kecil. Ya, sejak kecil. Apa yang dijual? Apa saja. Mungkin karya mereka, mungkin barang bekas. Atau yang lainnya. Supaya apa? Agar kelak mereka menjadi pengusaha.
Sebuah bangsa supaya maju dan melaju harus memiliki musuh bersama (common enemy). Ini menurut beliau. Amerika pernah menempatkan Jepang sebagai musuh bersama. Jepang pernah menempatkan Barat sebagai musuh bersama dan sekarang Korea dijadikan musuh bersama.
Sehingga dengan begini, energi kita tercurah dan fokus. Sekarang, apa yang jadi musuh bersama bagi kita semua? Menurut beliau adalah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Orang mesti sadar bahwa dirinya bodoh dan tertinggal. Gimanapun, masih banyak orang yang nggak sadar-sadar!
Sebenarnya, banyak lagi yang beliau sampaikan semalam. Kapan-kapan kita sambung ya.
Panglima, adakah yang lebih ditakuti daripada dia?
Begini. Hari itu saya bukber di rumah Pak #ChairulTanjung (CT), Muslim terkaya di Indonesia. Alhamdulillah saya bisa semeja dengan beliau dan Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin. Ya, mereka berdua duduk tepat di hadapan saya.
Di sebelah kiri saya, ada Dr Aries Muftie, anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) yang dipilih dan dilantik oleh Presiden Jokowi. Beliau juga pernah menjadi Ketua Umum untuk Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Di sebelahnya lagi, ada Prof Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan 2009-2014.
Di sebelah kanan saya, ada Ustadz Bachtiar Nasir. Tentunya, masih banyak tokoh-tokoh lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.
Saat itu, percakapan mengarah dan menyebutkan bahwa Pak CT sebagai triliuner nggak pernah takut sama apapun dan siapapun. Kemudian ada yang nyeletuk, "Kalau sama istri, takut nggak?" Hahaha, kontan semua pada tertawa!
Pak CT langsung menerangkan, istri itu bukan lagi pangdam atau panglima, tapi sudah pangenam! Mendengar gurauan itu, semua kembali tertawa! Maksudnya, bukannya suami itu takut atau penakut, melainkan respect sama istri dan berharap ridhanya istri.
Soal ini, saya menyebutnya Sepasang Bidadari.
Impian pribadi, target di kantor, dan visi di organisasi, hendaknya diselaraskan dengan semua orang. Tapi, yang pertama dan paling utama adalah dengan ibu dan istri. Ya, ibu dan istri. Mereka inilah yang disebut Sepasang Bidadari.
Menariknya, mutu seorang pria dapat diketahui oleh dua wanita terdekatnya, yaitu ibu dan istri. Jangan heran, mereka yang belum menikah atau tidak selaras dengan ibunya dan istrinya, agak terbatas pencapaiannya. Jangan heran, mereka yang durhaka dengan orangtuanya, sering terjungkal dalam hidupnya.
Syukurnya, Ramadhan adalah momentum emas untuk memperbaiki semuanya. Baik hubungan dengan ibu maupun dengan istri. Insya Allah. Kalaupun selama ini hubungan kita sudah baik, tak ada salahnya jika ditingkatkan lagi. Bukan apa-apa, ini adalah penentu kesuksesan.
Itu dulu ya. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mohon maaf lahir dan batin.
Begini. Hari itu saya bukber di rumah Pak #ChairulTanjung (CT), Muslim terkaya di Indonesia. Alhamdulillah saya bisa semeja dengan beliau dan Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin. Ya, mereka berdua duduk tepat di hadapan saya.
Di sebelah kiri saya, ada Dr Aries Muftie, anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) yang dipilih dan dilantik oleh Presiden Jokowi. Beliau juga pernah menjadi Ketua Umum untuk Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Di sebelahnya lagi, ada Prof Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan 2009-2014.
Di sebelah kanan saya, ada Ustadz Bachtiar Nasir. Tentunya, masih banyak tokoh-tokoh lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.
Saat itu, percakapan mengarah dan menyebutkan bahwa Pak CT sebagai triliuner nggak pernah takut sama apapun dan siapapun. Kemudian ada yang nyeletuk, "Kalau sama istri, takut nggak?" Hahaha, kontan semua pada tertawa!
Pak CT langsung menerangkan, istri itu bukan lagi pangdam atau panglima, tapi sudah pangenam! Mendengar gurauan itu, semua kembali tertawa! Maksudnya, bukannya suami itu takut atau penakut, melainkan respect sama istri dan berharap ridhanya istri.
Soal ini, saya menyebutnya Sepasang Bidadari.
Impian pribadi, target di kantor, dan visi di organisasi, hendaknya diselaraskan dengan semua orang. Tapi, yang pertama dan paling utama adalah dengan ibu dan istri. Ya, ibu dan istri. Mereka inilah yang disebut Sepasang Bidadari.
Menariknya, mutu seorang pria dapat diketahui oleh dua wanita terdekatnya, yaitu ibu dan istri. Jangan heran, mereka yang belum menikah atau tidak selaras dengan ibunya dan istrinya, agak terbatas pencapaiannya. Jangan heran, mereka yang durhaka dengan orangtuanya, sering terjungkal dalam hidupnya.
Syukurnya, Ramadhan adalah momentum emas untuk memperbaiki semuanya. Baik hubungan dengan ibu maupun dengan istri. Insya Allah. Kalaupun selama ini hubungan kita sudah baik, tak ada salahnya jika ditingkatkan lagi. Bukan apa-apa, ini adalah penentu kesuksesan.
Itu dulu ya. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mohon maaf lahir dan batin.
Apapun impiannya, beli dengan doa, usaha, dan amal. Amal? Iya, amal. Salah satu amalnya yah #sedekah. Alhamdulillah, ini yang saya lakoni saat bergelut dengan tantangan-tantangan dan bercumbu dengan impian-impian.
Terus, gimaa saran teknisnya? Biasakan sedekah minimal 20% setiap bulannya. Paksa, bisa, terbiasa. Rumusnya begitu. Selanjutnya, sesekali (1-2 kali setahun), coba #SedekahEkstrim, alias melepaskan sesuatu amat bernilai dan amat berat bagi kita.
Misalnya rumah, kendaraan, perhiasaan, handphone, setengah dari tabungan, dll.
Ada lagi? Ada. Misalnya merelakan orang yang berutang dan bermasalah sama kita, itu juga bagian dari sedekah ekstrim. Kenapa? Lazimnya kita merasa nyesek untuk hal-hal yang beginian. Betul apa betul?
Kalau sudah sedekah rutin 20% dan sesekali sedekah ekstrim, insya Allah perubahan nasib juga ekstrim. Percepatan demi percepatan! Dengan izin Allah, saya dan alumni seminar sudah mencicipi ini sejak lama. Sedap!
Sedekahnya ke mana? Ke mana saja, baik insya Allah. Masing-masing ada fadilah tersendiri. Saya pribadi menyukai objek sedekah yang sarat amal jariyah dan sangat darurat. Contohnya, sekolah-sekolah di pelosok Indonesia (sekolah tepian).
Yes, saatnya take action:
- Mumpung Ramadhan.
- Mumpung ada niat.
- Mumpung ada umur.
- Mumpung ada rezeki.
Dengan sedekah, insya Allah berbagai impian seperti termudahkan dan tersolusikan. Pengen jodoh? Pengen anak? Pengen ke Tanah Suci? Beli aja. Tapi 'harganya' beda. Nggak cukup dengan sedekah biasa. Mesti sedekah yang ekstrim, sekalian juga amal-amal lainnya.
Saya ulang lagi, coba deh sedekah ekstrim. Jadi, nggak semua radikal itu jelek. Sesekali, mesti dijajal sedekah radikal alias sedekah ekstrim. Hehehe. Istilah saya 'berfoya-foya' di jalan Allah. Hehehe.
Masih takut? Takut apa?
- Takut rugi. Takut jatuh miskin.
- Apa? Takut miskin? Emang ente pernah kaya? Hehehe.
Selama ini kita sama-sama tahu:
- Berbagi, tak bakal rugi.
- Menentramkan hati.
- Memudahkan #rezeki.
- Insya Allah ini pasti.
Bantu share ya. Sampaikan ke saudara-saudara kita juga teman-teman kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Terus, gimaa saran teknisnya? Biasakan sedekah minimal 20% setiap bulannya. Paksa, bisa, terbiasa. Rumusnya begitu. Selanjutnya, sesekali (1-2 kali setahun), coba #SedekahEkstrim, alias melepaskan sesuatu amat bernilai dan amat berat bagi kita.
Misalnya rumah, kendaraan, perhiasaan, handphone, setengah dari tabungan, dll.
Ada lagi? Ada. Misalnya merelakan orang yang berutang dan bermasalah sama kita, itu juga bagian dari sedekah ekstrim. Kenapa? Lazimnya kita merasa nyesek untuk hal-hal yang beginian. Betul apa betul?
Kalau sudah sedekah rutin 20% dan sesekali sedekah ekstrim, insya Allah perubahan nasib juga ekstrim. Percepatan demi percepatan! Dengan izin Allah, saya dan alumni seminar sudah mencicipi ini sejak lama. Sedap!
Sedekahnya ke mana? Ke mana saja, baik insya Allah. Masing-masing ada fadilah tersendiri. Saya pribadi menyukai objek sedekah yang sarat amal jariyah dan sangat darurat. Contohnya, sekolah-sekolah di pelosok Indonesia (sekolah tepian).
Yes, saatnya take action:
- Mumpung Ramadhan.
- Mumpung ada niat.
- Mumpung ada umur.
- Mumpung ada rezeki.
Dengan sedekah, insya Allah berbagai impian seperti termudahkan dan tersolusikan. Pengen jodoh? Pengen anak? Pengen ke Tanah Suci? Beli aja. Tapi 'harganya' beda. Nggak cukup dengan sedekah biasa. Mesti sedekah yang ekstrim, sekalian juga amal-amal lainnya.
Saya ulang lagi, coba deh sedekah ekstrim. Jadi, nggak semua radikal itu jelek. Sesekali, mesti dijajal sedekah radikal alias sedekah ekstrim. Hehehe. Istilah saya 'berfoya-foya' di jalan Allah. Hehehe.
Masih takut? Takut apa?
- Takut rugi. Takut jatuh miskin.
- Apa? Takut miskin? Emang ente pernah kaya? Hehehe.
Selama ini kita sama-sama tahu:
- Berbagi, tak bakal rugi.
- Menentramkan hati.
- Memudahkan #rezeki.
- Insya Allah ini pasti.
Bantu share ya. Sampaikan ke saudara-saudara kita juga teman-teman kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Indonesia di ambang perpecahan? Intoleransi dan radikalisme terjadi di mana-mana? Hm, kata siapa?
Maaf, amat sempit kalau kita menilai toleransi dan intoleransi hanya dari pilkada saja. Pilkada yah pilkada. Memang, kalau kita bicara pilkada DKI, ada kompetisi yang sengit di sana. Sebenarnya, ini sih lumrah, marak terjadi di mana-mana. Bukan cuma Jakarta. Bukan cuma Indonesia.
Terus, apa iya, orang Indonesia mendadak intoleran dan radikal hanya karena pilkada? Nggak dong. Kalaupun sempat terjadi, itu cuma temporer dan parsial. Waktu tertentu, tempat tertentu. Betul apa betul?
Fyi, merebaknya hoax dan hate speech di social media, bukan saja menjadi masalah Indonesia. Melainkan sudah menjadi masalah dunia. Sampai-sampai sejumlah negara meminta bantuan PBB. Tapi, tolong diingat, itu kebanyakan terjadi di social media saja.
Tentu, saya tidak membenarkan hoax dan hate speech di social media. Ini perlu kita tangkal sama-sama. Tapi, jangan pula kita melebih-lebihkan, seolah-olah ini sudah gawat darurat dan mewabah ke lingkungan rumah juga lingkungan kerja.
Di social media, karena absennya tatap muka, orang sering bicara seenaknya. Kadang rasis, kadang kebencian, kadang keceplosan, kadang salah paham. Nah, akan beda ceritanya kalau tatap muka. Orang cenderung menahan diri, mencoba mengerti, dan berempati.
Menariknya lagi, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas dalam konstitusi kita. Yang ada cuma istilah kelompok yang berbeda-beda. Itulah hebatnya Founding Fathers kita. Visioner, sudah memikirkan ini sejak lama. Di Barat, jangan salah, memang sudah pakem istilah mayoritas dan minoritas itu.
Satu hal lagi. Sekhilaf-khilafnya kita, belum ada statement rasis dari Istana Negara. Siapapun presidennya. Paling cuma celetukan netizen. Lha di Amerika, statement rasis sudah menyeruak dari Gedung Putih. Kurang toleran apa Indonesia?
Kita amati dan cermati hal yang lebih kecil, seperti hari libur. Masing-masing penganut agama di Indonesia memiliki 'jatah' hari libur ketika tiba hari rayanya. Di Barat? Mana ada! Seringkali hari libur dinikmati hanya agama mayoritas. Kurang toleran apa Indonesia?
Presiden ke-44 Amerika, Barack Obama, saat berlibur ke Borobudur dan Prambanan, lalu berbicara di event diaspora Sabtu yang lalu, akhirnya mengakui betapa tolerannya Indonesia. Borobudur adalah candi Buddha terbesar. Prambanan adalah candi Hindu yang besar. Meskipun keduanya berada tepat di lingkungan Muslim, tapi tetap utuh terawat sampai sekarang.
Itulah Indonesia. Sejak dulu, sampai kapanpun, insya Allah. Sejarah merekam, agama-agama yang datang kemudian di nusantara, seperti Islam dan Kristen, bisa masuk dengan damai. Umat Hindu dan Buddha yang sudah ada sejak awal menunjukkan toleransinya.
Toleransi dan kebersamaan itu teramat mahal. Mari kita jaga sama-sama. Toh, laguku dan lagumu masih sama, Indonesia Raya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Maaf, amat sempit kalau kita menilai toleransi dan intoleransi hanya dari pilkada saja. Pilkada yah pilkada. Memang, kalau kita bicara pilkada DKI, ada kompetisi yang sengit di sana. Sebenarnya, ini sih lumrah, marak terjadi di mana-mana. Bukan cuma Jakarta. Bukan cuma Indonesia.
Terus, apa iya, orang Indonesia mendadak intoleran dan radikal hanya karena pilkada? Nggak dong. Kalaupun sempat terjadi, itu cuma temporer dan parsial. Waktu tertentu, tempat tertentu. Betul apa betul?
Fyi, merebaknya hoax dan hate speech di social media, bukan saja menjadi masalah Indonesia. Melainkan sudah menjadi masalah dunia. Sampai-sampai sejumlah negara meminta bantuan PBB. Tapi, tolong diingat, itu kebanyakan terjadi di social media saja.
Tentu, saya tidak membenarkan hoax dan hate speech di social media. Ini perlu kita tangkal sama-sama. Tapi, jangan pula kita melebih-lebihkan, seolah-olah ini sudah gawat darurat dan mewabah ke lingkungan rumah juga lingkungan kerja.
Di social media, karena absennya tatap muka, orang sering bicara seenaknya. Kadang rasis, kadang kebencian, kadang keceplosan, kadang salah paham. Nah, akan beda ceritanya kalau tatap muka. Orang cenderung menahan diri, mencoba mengerti, dan berempati.
Menariknya lagi, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas dalam konstitusi kita. Yang ada cuma istilah kelompok yang berbeda-beda. Itulah hebatnya Founding Fathers kita. Visioner, sudah memikirkan ini sejak lama. Di Barat, jangan salah, memang sudah pakem istilah mayoritas dan minoritas itu.
Satu hal lagi. Sekhilaf-khilafnya kita, belum ada statement rasis dari Istana Negara. Siapapun presidennya. Paling cuma celetukan netizen. Lha di Amerika, statement rasis sudah menyeruak dari Gedung Putih. Kurang toleran apa Indonesia?
Kita amati dan cermati hal yang lebih kecil, seperti hari libur. Masing-masing penganut agama di Indonesia memiliki 'jatah' hari libur ketika tiba hari rayanya. Di Barat? Mana ada! Seringkali hari libur dinikmati hanya agama mayoritas. Kurang toleran apa Indonesia?
Presiden ke-44 Amerika, Barack Obama, saat berlibur ke Borobudur dan Prambanan, lalu berbicara di event diaspora Sabtu yang lalu, akhirnya mengakui betapa tolerannya Indonesia. Borobudur adalah candi Buddha terbesar. Prambanan adalah candi Hindu yang besar. Meskipun keduanya berada tepat di lingkungan Muslim, tapi tetap utuh terawat sampai sekarang.
Itulah Indonesia. Sejak dulu, sampai kapanpun, insya Allah. Sejarah merekam, agama-agama yang datang kemudian di nusantara, seperti Islam dan Kristen, bisa masuk dengan damai. Umat Hindu dan Buddha yang sudah ada sejak awal menunjukkan toleransinya.
Toleransi dan kebersamaan itu teramat mahal. Mari kita jaga sama-sama. Toh, laguku dan lagumu masih sama, Indonesia Raya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bener-bener terkejut!
Ketika libur Lebaran, kita kurang aktif di Facebook.
Dampaknya? Ternyata ribuan orang yang tidak bisa melihat status Facebook saya, padahal mereka jelas-jelas follow (like) halaman saya sejak lama.
Mereka pun komplen, saya dianggap jarang update status. Sementara saya dan tim merasa sering update status. Terus, apa yang terjadi?
Rupanya, selama setahun terakhir, Facebook melakukan ‘kebijakan tersendiri’. Follower (member) yang cuma pasif membaca sebuah page, tapi tidak komen dan tidak share sama sekali, lama-lama tidak bisa melihat page itu lagi.
Ya, Facebook menginginkan interaktivitas. Jangan jadi pembaca pasif. Kita mesti komen atau share. Kalau nggak, kita dianggap tidak interaktif dan tidak intens, makanya tidak bisa melihat page bersangkutan. Kalaupun benar-benar mau lihat, harus search dulu.
Terus, apa solusinya? Begini. Minimal satu kali sehari, Anda mesti komen atau share di page Facebook saya. Menariknya, keterlibatan ini juga membuat Anda semakin termotivasi dan terinspirasi.
Apalagi selama seminggu terakhir, ada berbagai keseruan di page Facebook saya. Misalnya:
- Kisah sukses Chairul Tanjung (orang terkaya no.4).
- Kisah sukses Sulaiman Al-Rajhi (salah orang terkaya dunia asal Saudi).
- Nasehat dari Reza Rahadian, Menteri Susi, dan Oprah Winfrey.
- Sikap-sikap kita terhadap kekayaan, dari berbagai aspek.
- Motivasi harian dan masih banyak lagi, termasuk humor.
Ini alamat Facebook saya www.facebook.com/MotivatorIppho/
Sekali lagi, silakan komen atau share di sana. Minimal satu kali sehari.
Siap?
Ketika libur Lebaran, kita kurang aktif di Facebook.
Dampaknya? Ternyata ribuan orang yang tidak bisa melihat status Facebook saya, padahal mereka jelas-jelas follow (like) halaman saya sejak lama.
Mereka pun komplen, saya dianggap jarang update status. Sementara saya dan tim merasa sering update status. Terus, apa yang terjadi?
Rupanya, selama setahun terakhir, Facebook melakukan ‘kebijakan tersendiri’. Follower (member) yang cuma pasif membaca sebuah page, tapi tidak komen dan tidak share sama sekali, lama-lama tidak bisa melihat page itu lagi.
Ya, Facebook menginginkan interaktivitas. Jangan jadi pembaca pasif. Kita mesti komen atau share. Kalau nggak, kita dianggap tidak interaktif dan tidak intens, makanya tidak bisa melihat page bersangkutan. Kalaupun benar-benar mau lihat, harus search dulu.
Terus, apa solusinya? Begini. Minimal satu kali sehari, Anda mesti komen atau share di page Facebook saya. Menariknya, keterlibatan ini juga membuat Anda semakin termotivasi dan terinspirasi.
Apalagi selama seminggu terakhir, ada berbagai keseruan di page Facebook saya. Misalnya:
- Kisah sukses Chairul Tanjung (orang terkaya no.4).
- Kisah sukses Sulaiman Al-Rajhi (salah orang terkaya dunia asal Saudi).
- Nasehat dari Reza Rahadian, Menteri Susi, dan Oprah Winfrey.
- Sikap-sikap kita terhadap kekayaan, dari berbagai aspek.
- Motivasi harian dan masih banyak lagi, termasuk humor.
Ini alamat Facebook saya www.facebook.com/MotivatorIppho/
Sekali lagi, silakan komen atau share di sana. Minimal satu kali sehari.
Siap?
Facebook
Log in or sign up to view
See posts, photos and more on Facebook.
Mari jadikan makanan kita sebagai obat, supaya jangan obat yang jadi makanan kita. Maksudnya?
Begini. Menjadikan makanan sebagai obat, artinya kita memilih asupan yang berimbang dan sehat sehingga menjadi penangkal terhadap berbagai penyakit dan mudharat.
Terus? Perbanyak minum. Fakta menunjukkan, 70 persen dari kita mengalami dehidrasi. Ya, dehidrasi. Hal tersebut menyebabkan lesu, kembung, dan hilang konsentrasi.
Repotnya, apabila kita tak mempunyai mempunyai botol air minum di dekat kita, kemungkinan besar kita tak minum dengan cukup. Biasanya begitu.
Walaupun sudah mengonsumsi kopi atau teh dan merasa tidak haus, namun tetaplah minum air putih setidaknya satu liter setiap harinya. Bagaimana dengan madu dan propolis? Tidak ada perdebatan sama sekali, itu bagus sekali.
Terus, apa lagi? Sempatkan berdiri. Terlalu banyak duduk dapat memicu macam-macam penyakit, seperti bertambahnya berat badan, tidak lancarnya aliran darah, hingga potensi serangan jantung.
Nah, hal tersebut dapat disiasati dan diatasi dengan berdiri setiap beberapa menit sekali. Syukur-syukur kalau kita mau lari pagi minimal 2 kali seminggu. Ini sangat menyehatkan.
Jangan sampai kita capek-capek cari uang, tahu-tahu kehilangan sesuatu yang lebih mahal daripada uang, yaitu kesehatan. Be healthy, be wealthy. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(MARI ajak teman-teman kita beralih ke Telegram, terus cari channel Telegram Ippho Santosa atau @ipphoright)
Begini. Menjadikan makanan sebagai obat, artinya kita memilih asupan yang berimbang dan sehat sehingga menjadi penangkal terhadap berbagai penyakit dan mudharat.
Terus? Perbanyak minum. Fakta menunjukkan, 70 persen dari kita mengalami dehidrasi. Ya, dehidrasi. Hal tersebut menyebabkan lesu, kembung, dan hilang konsentrasi.
Repotnya, apabila kita tak mempunyai mempunyai botol air minum di dekat kita, kemungkinan besar kita tak minum dengan cukup. Biasanya begitu.
Walaupun sudah mengonsumsi kopi atau teh dan merasa tidak haus, namun tetaplah minum air putih setidaknya satu liter setiap harinya. Bagaimana dengan madu dan propolis? Tidak ada perdebatan sama sekali, itu bagus sekali.
Terus, apa lagi? Sempatkan berdiri. Terlalu banyak duduk dapat memicu macam-macam penyakit, seperti bertambahnya berat badan, tidak lancarnya aliran darah, hingga potensi serangan jantung.
Nah, hal tersebut dapat disiasati dan diatasi dengan berdiri setiap beberapa menit sekali. Syukur-syukur kalau kita mau lari pagi minimal 2 kali seminggu. Ini sangat menyehatkan.
Jangan sampai kita capek-capek cari uang, tahu-tahu kehilangan sesuatu yang lebih mahal daripada uang, yaitu kesehatan. Be healthy, be wealthy. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(MARI ajak teman-teman kita beralih ke Telegram, terus cari channel Telegram Ippho Santosa atau @ipphoright)
Facebook dan Instragram semakin powerful. Amat sayang kalau kita cuma jadi penonton. Harusnya jadi pemain juga.
Facebook dikabarkan akan membangun kantor dan membereskan perizinan di Indonesia. Ini disampaikan oleh Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani.
Serunya lagi, Facebook mencatat rekor baru dengan jumlah user tembus 2 miliar per bulan atau 51 kali dari populasi di California. Prestasi ini diperoleh Facebook kurang dari lima tahun dari sebelumnya hanya 1 miliar user per bulan.
Dan kita sama-sama tahu, Indonesia selalu masuk 5 besar dalam hal user terbanyak sedunia. Ini adalah pasar. Nah, begitulah Facebook. Gimana dengan Instagram (IG)?
Facebook adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu.
"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.
Ia juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, tepatnya sekitar 700 juta user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.
Instagram bahkan menjadi mesin uang, terutama bagi artis-artis, misalnya Selena Gomez. Pendapatannya tertinggi di Instagram. Setiap unggahan yang ia bagikan pada 122 juta pengikutnya bernilai Rp7,3 miliar.
Kita bukan artis. Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Tak ada salahnya kalau kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 jam sehari.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Facebook dikabarkan akan membangun kantor dan membereskan perizinan di Indonesia. Ini disampaikan oleh Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani.
Serunya lagi, Facebook mencatat rekor baru dengan jumlah user tembus 2 miliar per bulan atau 51 kali dari populasi di California. Prestasi ini diperoleh Facebook kurang dari lima tahun dari sebelumnya hanya 1 miliar user per bulan.
Dan kita sama-sama tahu, Indonesia selalu masuk 5 besar dalam hal user terbanyak sedunia. Ini adalah pasar. Nah, begitulah Facebook. Gimana dengan Instagram (IG)?
Facebook adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu.
"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.
Ia juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, tepatnya sekitar 700 juta user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.
Instagram bahkan menjadi mesin uang, terutama bagi artis-artis, misalnya Selena Gomez. Pendapatannya tertinggi di Instagram. Setiap unggahan yang ia bagikan pada 122 juta pengikutnya bernilai Rp7,3 miliar.
Kita bukan artis. Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Tak ada salahnya kalau kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 jam sehari.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dulu petingggi Yahoo awalnya menganggap Facebook hanyalah mainan anak muda. Siapa sangka, tahu-tahu Facebook membesar dan menguat. Sampai-sampai Yahoo tersadar dan ingin membeli Facebook dengan harga fantastis, namun ditolak mentah-mentah oleh Facebook.
Sekarang, Yahoo kurang terdengar lagi suaranya.
Untuk 10 tahun terakhir, media sosial (medsos) adalah salah satu akselerator dalam bisnis. Ya, membantu percepatan.
Sekali lagi, media sosial. Tentunya bukan sembarang medsos, melainkan medsos yang sudah teroptimasi. Maksudnya, mencuat, mencolok, dan mendominasi.
Kalau kita sudah menghelat optimasi FB, optimasi IG, optimasi blog, dan ilmu SEO, insya Allah ini akan berdampak sangat signifikan pada omset kita. Minimal bisa naik 30% sampai 40%.
Bagaimana dengan cost? Insya Allah bisa hemat 50% sampai 60%. Yang sering terjadi, malah lebih daripada itu semua. Tak perlu spanduk dan iklan koran lagi. Dengan kata lain, sangat efektif dan sangat efisien.
Itu artinya, medsos yang teroptimasi layak kita pelajari dan layak kita perjuangkan.
Dari berbagai data yang saya rangkum, sekitar 70% UKM kita belum melek internet. Di satu sisi, ini menyedihkan. Tapi di sisi lain, ini kesempatan emas bagi kita karena kita (berusaha untuk) melek internet.
Ingatlah, zaman sudah berubah. Cara mencari uang juga berubah. Adalah aneh kalau kita tidak mau berubah, berbenah, dan mempersiapkan diri.
Sudah saatnya kita mempersiapkan diri. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sekarang, Yahoo kurang terdengar lagi suaranya.
Untuk 10 tahun terakhir, media sosial (medsos) adalah salah satu akselerator dalam bisnis. Ya, membantu percepatan.
Sekali lagi, media sosial. Tentunya bukan sembarang medsos, melainkan medsos yang sudah teroptimasi. Maksudnya, mencuat, mencolok, dan mendominasi.
Kalau kita sudah menghelat optimasi FB, optimasi IG, optimasi blog, dan ilmu SEO, insya Allah ini akan berdampak sangat signifikan pada omset kita. Minimal bisa naik 30% sampai 40%.
Bagaimana dengan cost? Insya Allah bisa hemat 50% sampai 60%. Yang sering terjadi, malah lebih daripada itu semua. Tak perlu spanduk dan iklan koran lagi. Dengan kata lain, sangat efektif dan sangat efisien.
Itu artinya, medsos yang teroptimasi layak kita pelajari dan layak kita perjuangkan.
Dari berbagai data yang saya rangkum, sekitar 70% UKM kita belum melek internet. Di satu sisi, ini menyedihkan. Tapi di sisi lain, ini kesempatan emas bagi kita karena kita (berusaha untuk) melek internet.
Ingatlah, zaman sudah berubah. Cara mencari uang juga berubah. Adalah aneh kalau kita tidak mau berubah, berbenah, dan mempersiapkan diri.
Sudah saatnya kita mempersiapkan diri. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Perbedaan waktu itu nyata.
Ketika di ujung Papua sudah dhuha, di ujung Aceh masih tahajjud. Dari ujung ke ujung Indonesia, perbedaan waktu (terutama waktu sholat) bukan cuma 2 jam. Yang sebenarnya, hampir 3 jam.
Menariknya internet bisa bekerja tanpa batas waktu. Bahkan tetap bekerja saat kita tidur sekalipun.
Ya, internet itu mesin. Saran saya, "Biarkan mesin bekerja, maka kita akan punya waktu lebih leluasa untuk berlibur. Lebih sering, lebih lama." Anda juga punya waktu luang untuk keluarga dan ibadah.
Senior-senior saya mengajarkan, "Kurangi penggunaan flyer, spanduk, iklan koran, dan salesman. Dengan mesin bernama internet marketing, kita bisa menghasilkan pernjualan yang lebih banyak dan biaya yang lebih hemat."
Belakangan ini, kekuatan media konvensional kian dipertanyakan oleh pakar-pakar. Ternyata yah begitu. Makanya, sudah nggak zaman, promosi pakai flyer, spanduk, dan iklan koran. Dengan internet marketing, hasilnya bisa lebih efektif, lebih efisien, dan sangat terukur.
Lima tahun terakhir, internet kian menunjukkan taring dan cakarnya. Ditambah semakin meratanya penyebaran smartphone di tengah masyarakat. Apalagi orang perkotaan yang menghabiskan waktunya 3-5 jam sehari bersama smartphone.
Sudah semestinya semua pihak (mulai dari owner, manager, supervisor, staff, termasuk salesman) harus belajar internet. Jika tidak, akan digilas zaman! Ya, digilas zaman!
Ingat, bukan zaman yang kejam. Bukan internet yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri.
(Silakan ajak teman-teman kita beralih ke channel Telegram @ipphoright. Lebih ringan, lebih cepat, lebih aman)
Ketika di ujung Papua sudah dhuha, di ujung Aceh masih tahajjud. Dari ujung ke ujung Indonesia, perbedaan waktu (terutama waktu sholat) bukan cuma 2 jam. Yang sebenarnya, hampir 3 jam.
Menariknya internet bisa bekerja tanpa batas waktu. Bahkan tetap bekerja saat kita tidur sekalipun.
Ya, internet itu mesin. Saran saya, "Biarkan mesin bekerja, maka kita akan punya waktu lebih leluasa untuk berlibur. Lebih sering, lebih lama." Anda juga punya waktu luang untuk keluarga dan ibadah.
Senior-senior saya mengajarkan, "Kurangi penggunaan flyer, spanduk, iklan koran, dan salesman. Dengan mesin bernama internet marketing, kita bisa menghasilkan pernjualan yang lebih banyak dan biaya yang lebih hemat."
Belakangan ini, kekuatan media konvensional kian dipertanyakan oleh pakar-pakar. Ternyata yah begitu. Makanya, sudah nggak zaman, promosi pakai flyer, spanduk, dan iklan koran. Dengan internet marketing, hasilnya bisa lebih efektif, lebih efisien, dan sangat terukur.
Lima tahun terakhir, internet kian menunjukkan taring dan cakarnya. Ditambah semakin meratanya penyebaran smartphone di tengah masyarakat. Apalagi orang perkotaan yang menghabiskan waktunya 3-5 jam sehari bersama smartphone.
Sudah semestinya semua pihak (mulai dari owner, manager, supervisor, staff, termasuk salesman) harus belajar internet. Jika tidak, akan digilas zaman! Ya, digilas zaman!
Ingat, bukan zaman yang kejam. Bukan internet yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri.
(Silakan ajak teman-teman kita beralih ke channel Telegram @ipphoright. Lebih ringan, lebih cepat, lebih aman)
Malas beraktivitas di Senin pagi?
Saran saya, "Lakukan saja apa-apa yang membuat Anda bersemangat." Yang penting, itu legal dan halal.
Contohnya? Gunakan pakaian favorit. Atau kenakan pakaian dengan warna berbeda dibanding yang sudah-sudah.
Apa lagi? Mengganti belah rambut. Apa lagi? Anda juga bisa mengenakan aksesoris lucu atau memasang pajangan lucu di kantor.
Hal lain? Konsumsi cemilan dan minuman kesukaan. Intinya apapun yang bisa membangkitkan mood dan semangat Anda.
Satu lagi, jangan lupa berdoa.
Mood dan semangat di Senin pagi sangatlah penting. Kenapa? Karena bisa mempengaruhi kerja dan kinerja Anda sepanjang hari selama seminggu.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Selamat mencoba!
Saran saya, "Lakukan saja apa-apa yang membuat Anda bersemangat." Yang penting, itu legal dan halal.
Contohnya? Gunakan pakaian favorit. Atau kenakan pakaian dengan warna berbeda dibanding yang sudah-sudah.
Apa lagi? Mengganti belah rambut. Apa lagi? Anda juga bisa mengenakan aksesoris lucu atau memasang pajangan lucu di kantor.
Hal lain? Konsumsi cemilan dan minuman kesukaan. Intinya apapun yang bisa membangkitkan mood dan semangat Anda.
Satu lagi, jangan lupa berdoa.
Mood dan semangat di Senin pagi sangatlah penting. Kenapa? Karena bisa mempengaruhi kerja dan kinerja Anda sepanjang hari selama seminggu.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Selamat mencoba!
Sejauh ini, Spiderman sudah diperankan oleh tiga aktor dan tentu saja masing-masing punya kelebihan tersendiri juga fans tersendiri. Ini soal selera, hehehe.
Lantas, apa pendapat saya? Frankly speaking #TobeyMaguire is the best Spiderman. Yes, the best. I hope the next Spiderman movie will be better.
Boleh dibilang, Tobey Maguire berhasil memerankan Spiderman dan benar-benar menyentuh hati. Ia pun perform tanpa embel-embel Iron Man, Captain America, dan Avengers. Angka penjualan juga berbicara. Booming!
Tom Holland, pemeran Peter Parker alias Spiderman kali ini, memang terkesan lebih muda dan lebih kocak. Saya sih yakin penonton yang lain menangkap kesan yang sama seperti saya.
Sayangnya, di sini Peter Parker seolah-olah bergantung pada teknologi dan di bawah bayang-bayang Tony Stark alias Iron Man. Satu lagi, sepertinya yang ingin digadang-gadang oleh sutradara cuma nama Avengers belaka.
Ya, demikianlah karya Marvel terbaru.
Yang rada aneh, musuhnya Spiderman kali ini diperankan oleh Michael Keaton. Padahal Michael Keaton dua kali dipercaya oleh DC untuk memerankan Batman, yaitu pada 1989 dan 1992.
Jadi, sulit bagi saya membayangkan pemeran Batman jadi penjahat. Sulit. Hehehe. Walaupun sebenarnya Michael Keaton sudah pernah melakukan itu pada Robocop dan Need for Speed.
Begitulah, tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.
Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.
Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat lebih bertahan lama daripada skill. Misalnya skill-nya hebat, tapi belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.
Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.
Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.
Selamat mencoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lantas, apa pendapat saya? Frankly speaking #TobeyMaguire is the best Spiderman. Yes, the best. I hope the next Spiderman movie will be better.
Boleh dibilang, Tobey Maguire berhasil memerankan Spiderman dan benar-benar menyentuh hati. Ia pun perform tanpa embel-embel Iron Man, Captain America, dan Avengers. Angka penjualan juga berbicara. Booming!
Tom Holland, pemeran Peter Parker alias Spiderman kali ini, memang terkesan lebih muda dan lebih kocak. Saya sih yakin penonton yang lain menangkap kesan yang sama seperti saya.
Sayangnya, di sini Peter Parker seolah-olah bergantung pada teknologi dan di bawah bayang-bayang Tony Stark alias Iron Man. Satu lagi, sepertinya yang ingin digadang-gadang oleh sutradara cuma nama Avengers belaka.
Ya, demikianlah karya Marvel terbaru.
Yang rada aneh, musuhnya Spiderman kali ini diperankan oleh Michael Keaton. Padahal Michael Keaton dua kali dipercaya oleh DC untuk memerankan Batman, yaitu pada 1989 dan 1992.
Jadi, sulit bagi saya membayangkan pemeran Batman jadi penjahat. Sulit. Hehehe. Walaupun sebenarnya Michael Keaton sudah pernah melakukan itu pada Robocop dan Need for Speed.
Begitulah, tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.
Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.
Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat lebih bertahan lama daripada skill. Misalnya skill-nya hebat, tapi belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.
Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.
Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.
Selamat mencoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kaya itu bukan soal akumulasi harta, melainkan distribusi harta. Hendaknya begitu.
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini bukan saja mencolok, tapi mengerikan!
Hati-hati, ketimpangan ekonomi akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membesar karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
"Dalam kekuatan yang besar, tersimpan tanggung-jawab yang besar," ini pesan moral dari film Spiderman (generasi awal). Ya, tanggung-jawab yang besar. Terutama kalau kita menjadi orang kaya.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk "Top Incomes and Human Well-Being Around the World" dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Itu faktanya. Terus, apa solusinya?
"Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, distribusi seluas-luasnya," itulah seruan saya sejak dulu. Yang namanya manusia mesti produktif. Namun yang dipakai seperlunya saja, nggak konsumtif. Dengan demikian, akan banyak yang tersisa. Nah, sisanya ini didistribusikan seluas-luasnya. Berbagi.
Tak perlu menuding si A atau si B. Mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Setelah itu, kita ingatkan dan ajak yang lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa (silakan ajak keluarga bergabung ke channel Telegram @ipphoright).
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini bukan saja mencolok, tapi mengerikan!
Hati-hati, ketimpangan ekonomi akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membesar karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
"Dalam kekuatan yang besar, tersimpan tanggung-jawab yang besar," ini pesan moral dari film Spiderman (generasi awal). Ya, tanggung-jawab yang besar. Terutama kalau kita menjadi orang kaya.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk "Top Incomes and Human Well-Being Around the World" dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Itu faktanya. Terus, apa solusinya?
"Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, distribusi seluas-luasnya," itulah seruan saya sejak dulu. Yang namanya manusia mesti produktif. Namun yang dipakai seperlunya saja, nggak konsumtif. Dengan demikian, akan banyak yang tersisa. Nah, sisanya ini didistribusikan seluas-luasnya. Berbagi.
Tak perlu menuding si A atau si B. Mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Setelah itu, kita ingatkan dan ajak yang lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa (silakan ajak keluarga bergabung ke channel Telegram @ipphoright).