Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Seberapa berani Anda menghadapi resiko?

Saran saya, "Biasakan diri kita dengan resiko. Jangan tabu. Jangan ragu." Kalau kita anti-resiko, lha, hal besar apa yang mungkin kita capai? Nggak ada.

Coba perhatikan orang-orang besar. Entah di bidang bisnis, olahraga, atau politik. Pastilah mereka pernah mengambil langkah besar dan resiko besar. Betul apa betul?

Saya yakin Anda mengangguk setuju.

Rasa takut alias fear pastilah menggerogoti kita. Hati-hati, rasa takut kalau dibiasakan, maka akan membesar. Mestinya, sikap yakinlah yang dibiasakan. Ini pesan #TomHanks, seorang aktor senior.

Sebenarnya, rasa takut dapat menjadi motivasi tersendiri. Dan percayalah, hal-hal hebat bisa hadir pada semua orang, bukan pada sebagian orang saja. Ini menurut #WillSmith, seorang aktor kenamaan.

Toh kita sama-sama tahu segala sesuatu ada resikonya. Hadapi. Nikmati. Dan apapun hasilnya, syukuri dan maknai. Sekian dari saya, Ippho Santosa.



(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Channel, bukan grup. Silakan ajak keluarga kita beralih ke Telegram. Lebih ringan dan lebih cepat daripada WA. Bahkan lebih aman)
Risiko... Mereka yang terbiasa mengambil risiko ternyata tidak mudah depresi. Demikian menurut penelitian... Jangan anti dengan risiko...
Kaget!

Bener-bener kaget!

Ternyata ribuan orang yang tidak bisa melihat status Facebook saya, padahal mereka jelas-jelas follow (like) halaman saya sejak lama.

Mereka pun komplen, saya dianggap jarang update status. Sementara saya sendiri merasa sering update status. Terus, apa yang terjadi?

Rupanya, selama setahun terakhir, Facebook melakukan ‘kebijakan tersendiri’. Follower (member) yang cuma pasif membaca sebuah page, tapi tidak komen dan tidak share sama sekali, lama-lama tidak bisa melihat page itu lagi.

Ya, Facebook menginginkan interaktivitas. Jangan jadi pembaca pasif. Kita mesti komen atau share. Kalau nggak, kita dianggap tidak interaktif dan tidak intens, makanya tidak bisa melihat page bersangkutan. Kalaupun benar-benar mau lihat, harus search dulu.

Terus, apa solusinya? Begini. Minimal satu kali sehari, Anda mesti komen atau share di page Facebook saya. Menariknya, keterlibatan ini juga membuat Anda semakin termotivasi dan terinspirasi.

Apalagi selama seminggu terakhir, ada berbagai keseruan di page Facebook saya. Misalnya:
- Kisah sukses Richard Branson (500 orang terkaya).
- Kisah sukses JK Rowling (penulis terkaya).
- Nasehat dari Johnny Depp, Sylvester Stallone, Jack Ma, dan Mien Uno.
- Sikap-sikap kita terhadap resiko, dari berbagai aspek.
- Motivasi harian dan masih banyak lagi, termasuk humor.

Ini alamat Facebook saya www.facebook.com/MotivatorIppho/

Sekali lagi, silakan komen atau share di sana. Minimal satu kali sehari. Sip?
Berasal dari India, Azim Premji adalah salah satu orang terkaya di dunia. Menariknya, ia sering berolahraga setelah sholat subuh. Perusahaannya Wipro, bergerak di bidang IT dan menjadi rekanan bagi Sun Microsystems, General Electric, dan Motorola.
.
Ia seorang hartawan juga seorang dermawan. Akhir 2010, melalui sebuah yayasan, Azim Premji mendonasikan sekitar US$ 2 miliar untuk meningkatkan mutu sekolah-sekolah di India. Selain itu, ia juga mendirikan Universitas Azim Premji.
.
Ia pun mendonasikan sebagian sahamnya di Wipro untuk amal. Ia menjadi orang India pertama yang menandatangani Giving Pledge, yang disponsori oleh Warren Buffett dan Bill Gates. Giving Pledge mengajak orang-orang terkaya di dunia untuk menyumbangkan sebagian dari kekayaan mereka untuk amal.
.
Meski ultra-kaya, ia terkenal rendah hati dan sederhana. Daripada berburu mobil baru, ia lebih suka mengendarai mobil lama. Pernah ia membeli mobil second dari karyawannya. Di kantor, ia tidak memiliki tempat parkir khusus. Sering juga ia naik angkutan umum. Bila terbang, ia lebih suka memilih kelas ekonomi.
.
Kemudian Azim Premji dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dari Wesleyan University, Connecticut. Bisnisnya mendapat liputan meluas dari Forbes, Time, dan Business Week. Ia sering disebut Bill Gates-nya India. Semoga kita bisa meniru yang baik-baik dari beliau. Sekian dari saya, Ippho Santosa.



Note: Sore 11 Juni di Jakarta, saya akan memberikan seminar gratis tentang 'Rezeki Tak Disangka-Sangka' dan 'Kisah Sukses Azim Premji'. Ya, gratis. Detailnya akan saya beritahu kemudian. Stay tune!
Sore 11 Juni di Jakarta, saya akan memberikan seminar gratis tentang 'Rezeki Tak Disangka-Sangka' dan 'Kisah Sukses Azim Premji'. Ya, gratis.

Detailnya, silakan klik https://www.dompetdhuafa.org/post/detail/8105/motivator-ippho-santosa-ungkap-rahasia-rahasia-sukses

Menariknya, saya hadir tidak sendiri, melainkan bareng pelopor properti syariah di Indonesia. Beliau juga pernah menulis buku bareng saya. Pastikan Anda dan keluarga Anda hadir.
Merakyat dan sederhana tidak harus berpenampilan serba lusuh. Tidak harus.

Perhatikan baju, peci, dan kacamata Presiden Soekarno. Bagus-bagus semua. Necis-necis semua.

Bahkan Presiden Soekarno adalah presiden pertama di dunia yang memiliki helikopter kepresidenan. Wow!

Pada bulan September 1950, Komodor Muda Wiweko Soepono mewakili TNI AU mengunjungi pameran dirgantara di Inggris. Lalu dia terbang ke Amerika untuk membeli puluhan pesawat dan helikopter.

Mobil kepresidenan? Soekarno juga punya dan terhitung sangat mewah untuk negara yang baru merdeka.

Sekilas, penampilan beliau 'tidak merakyat' dan 'tidak sederhana'. Malah cenderung wah. Tapi apa ada orang yang menuduh sikapnya tidak merakyat? Semua orang tahu bahwa hampir semua sikapnya sangat merakyat.

Beliau memilih berpenampilan serba bagus dan serba necis demi menyemangati rakyatnya. Beliau adalah simbol negara. Harus terlihat kuat, punya power, dan punya dignity. Apalagi saat itu ia disorot oleh asing. Barat dan Timur.

Di berbagai riwayat kita juga membaca bahwa Usman bin Affan berpenampilan serba bagus dan serba necis. Kita sama-sama tahu, Usman adalah seorang khalifah dan menantu Nabi Muhammad.

Sekali lagi, merakyat dan sederhana tidak harus berpenampilan serba lusuh. Tidak harus. Kita boleh memakai baju yang bagus. Yang penting, tidak berlebihan dan tidak sombong saat memakainya. Cuma itu.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bukber, THR, dan mudik adalah budaya kita. Baikkah?

Begini. Bukber adalah momentum untuk silaturahim. Itu yang sebenarnya. Kita sama-sama tahu, silaturahim itu memudahkan rezeki. Apalagi kalau diamalkan di bulan terbaik, Ramadhan.

Jumat yang lalu, alhamdulillah saya dan istri diundang bukber di rumah ketua MPR, Pak Zulkifli Hasan. Saya duduk di samping beliau, bareng anak dan menantu beliau. Sebelumnya kami pernah bertemu di Gedung MPR ketika saya mendampingi Dr Zakir Naik.

Sabtu, saya bukber sama Ust Yusuf Mansur. Ahad, saya bukber sama mitra-mitra pilihan dari British Propolis. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia. Salut! Kami pun makan nasi kebuli dalam satu wadah. Dan alhamdulillah, mereka mendapat pencerahan secara personal dari Pak Nasrullah, pelopor properti syariah.

Mungkin teman-teman tahu, saya dan Pak Nasrullah sempat menulis buku bareng, judulnya 'Karyawan Juga Bisa Kaya' dan royaltinya 100% untuk donasi. Bukan kebetulan juga, kami sering kerjasama bareng untuk urusan buku dan seminar.

Kembali soal bukber. Guru saya pernah mengingatkan, "Bukber jangan sampai melalaikan sholat. Makan enak itu penting. Sholat dengan nyaman (nggak kekenyangan) jauh lebih penting." Saya pun mengangguk mengiyakan.

Terus, gimana dengan THR? 😙

Saran saya, kalau Anda pengusaha, hendaknya mengeluarkan THR lebih awal. Ya, lebih awal. Saya pribadi sudah melakukannya sejak minggu lalu. Lebih awal. Dan ini saya tradisikan setiap tahunnya sejak pertama kali saya terjun sebagai entrepreneur.

Gaji karyawan pun saya naikkan setiap tahunnya. Niat saya ini demi memuliakan karyawan. Hei, saya sama seperti pengusaha lainnya, pernah merugi dan merosot juga. Tapi komitmen adalah komitmen. Sebisanya, saya selalu memberikan THR lebih awal dan menaikkan gaji mereka setiap tahunnya. Insya Allah.

Btw, saya juga memberikan cuti Lebaran lebih lama ketimbang perusahaan rata-rata. Biar apa? Biar mereka lebih leluasa mudik atau ngumpul sama keluarganya. Mereka punya keluarga tho?

Bukber, THR, dan mudik adalah budaya kita. Insya Allah ada bagusnya juga. Sangat bagus. Saran saya, jangan biarkan ini berlalu begitu saja. Di bulan terbaik ini, cobalah mengemasnya lebih baik lagi. Penuh berkah insya Allah.

Sekian dari saya, Ippho Santosa (Ajak keluarga kita beralih ke channel Telegram @ipphoright).
Kemarin saya diundang makan malam di rumah Pak Tung Desem Waringin, pelatih sukses no.1 Indonesia. Walaupun judulnya makan malam, saya datangnya rada sore, bareng istri saya dan sahabat saya, Yeheskiel Zebua.

Seperti biasa, kalau ngobrol kami selalu menghabiskan waktu sampai berjam-jam. Alhamdulillah, bertabur hikmah dan ilmu. Bukan ngobrol kosong belaka. Saya pun merasa sangat bersyukur.

Di sela-sela itu, saya diajak Pak Tung mengunjungi dan berbagi di sebuah panti asuhan muslim di Karawaci. Ternyata sebagai Nasrani yang taat, beliau rutin berbagi di sana selama 8 tahun terakhir!

Refleks, saya pun bercerita kepada beliau bahwa beberapa hari sebelumnya saya juga mengunjungi dan menyantuni sebuah panti asuhan Nasrani di Bintaro. Berbagi kebahagiaan di sana.

Karena setahu saya, #NabiMuhammad menganjurkan kita untuk menyantuni dan menyayangi anak yatim, apapun agamanya, apapun latar belakangnya. Menjadi rahmat bagi semua, istilahnya.

Memang, berbagi itu mengundang rezeki dan memudahkan urusan-urusan. Tapi BUKAN itu spirit-nya. Kita berbagi karena diperintahkan oleh Sang Pencipta, juga karena kita peduli. Terutama orang-orang di sekitar kita.

Pak Tung berbagi sama tetangganya (lingkungan sekitarnya), demikian pula dengan saya. Berbuat baik kepada tetangga, menariknya, ini diajarkan dalam kitab suci Pak Tung juga kitab suci saya. Masya Allah.

Kepada anak-anak yatim di sana, saya pun mengingatkan, "Inilah Indonesia. Kita saling peduli. Saling jaga. Saling bantu. Tanpa perlu memusingkan apa agama dan sukunya. Spirit ini harus dijaga. Jangan sampai karena beda agama, beda suku, atau beda pilihan politik, kita malah cuek alias tidak peduli. Jangan sampai."

Saya dan Pak Tung sudah berkali-kali kerja sama bikin seminar sosial. Hasilnya kita salurkan ke berbagai yayasan, di antaranya Dompet Dhuafa, ACT, dan Yayasan Buddha Tzu Chi. Bahkan Pak Tung dan Bro Yeheskiel pernah berjam-jam mengajar di Kampus Umar Usman, kampus yang saya dirikan, dan tidak dibayar sama sekali.

Ketika pulang, dalam hati saya pun berdoa, "Semoga rezeki Pak Tung makin lancar dan hidupnya makin bermanfaat. Aamiin."
Tung Desem & Ippho Santosa
Gagal itu wajar.
Sukses juga wajar.

Tak perlu disikapi berlebihan.

Lalu, ada yang bertanya, “Sudah antusias, sudah optimis, kok masih gagal?” Yah, apalagi kalau tidak antusias dan tidak optimis! Pasti lebih gagal!

Anda tahu Jack Ma? Di sekolah dasar, ia ditolak. Di sekolah menengah, ia ditolak. Di universitas, ia ditolak. Di kepolisian, ia ditolak. Menurutnya, kita harus terbiasa dengan #penolakan. Sekarang ia 5 terkaya di Tiongkok.

Begitulah, penolakan dan kegagalan itu biasa. Malah ada baiknya juga. Menurut Sharon Kim, seorang peneliti dari Sekolah Bisnis John Hopkins Carey, Amerika, mereka yang mendapat penolakan sosial umumnya justru memperoleh keuntungan tersendiri.

Apa untungnya? Yah, berupa pikiran yang lebih independen dan lebih intuitif. “Tampaknya, penolakan mendorong mereka untuk berpikir lebih kreatif,” ujar Sharon Kim seperti yang dimuat di Journal of Experimental Psychology.

Dengan kata lain, penolakan dan kegagalan itu membuat kita lebih tangguh juga lebih kreatif.

Sekali lagi.
Gagal itu wajar.
Sukses juga wajar.

Tak perlu disikapi berlebihan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda tahu berapa umur Nabi Nuh?
Berapa lama ia berdakwah?
Berapa banyak jamaahnya?

Menurut Tafsir al-Thabari, umurnya lebih dari 1600 tahun. Yang lain menyebutnya kurang-lebih 1000 tahun. Dan ternyata jamaahnya tak sampai 100 orang. Ya, tak sampai 100 orang.

Kalau menurut kalkulasi orang-orang manajemen zaman sekarang, tentu saja beliau dicap gagal. Tapi, benarkah demikian? Nggak juga. Di sini Nabi Nuh mengajarkan kita ketegaran dan perjuangan.

Pesan guru saya, "Ketika gagal, jangan menyerah dengan keadaan. Berjuanglah. Lalu? Beri makna baru. Buang pikiran negatif." Hm, mau contoh?

Dengarkan saja percakapan ini:

“Bisnisnya rugi ya, Pak?”

“Bukan rugi, Mas. Tapi belum untung.”

“Lha, itu tokonya sampai tutup!”

“Bukan tutup, Mas. Tapi relokasi.”

“Relokasi? Emang pindah ke mana?”

“Nah, itu yang belum tahu. Hehe!”

Atau dengarkan percakapan ini:

“Kariernya mentok ya, Pak?”

“Bukan mentok, Mas. Saya diberi kesempatan untuk mendalami bidang ini.”

“Tapi perasaan, kok lama banget?”

“Kalau mau ahli, yah mesti lama, Mas.”

“Terus, kapan naiknya?”

“Sabar, Mas. Wong saya yang menjalani aja sabar kok. Hehehe!”

Sekilas, mereka tidak rasional. Tidak masuk akal. Bahkan disebut-sebut ‘gila’ atau ‘nggak punya otak’. Padahal antara gila dan jenius itu bedanya tipis. Kalau belum berhasil, Anda akan dicap gila. Nah, begitu berhasil, Anda akan dicap jenius. Serius.

Namun ternyata inilah cara yang benar, yang membuat mereka lekas terbebas dari kegagalan dan kebangkrutan. Lihatlah! Mereka memberi makna baru. Mereka membuang pikiran negatif.

Kosmetik dengan label halal mungkin dianggap gila belasan tahun yang lalu. Tapi sekarang? Malah menjadi #PembedaAbadi. Sang founder yakin dengan konsepnya, maka dari itu ia perjuangkan. Alhamdulillah saya sudah sekian kali berseminar bareng sang founder.

Demikian pula ojek online, komputer sebesar handphone, dan drone memuat penumpang. Ini semua dianggap gila belasan tahun yang lalu. Sekarang? Terjadi. Benar-benar terjadi. Bahkan mengisi hari-hari kita.

Nah, sukses yang berikutnya adalah giliran Anda, insya Allah. Syaratnya? Ketika gagal, jangan mudah menyerah dengan keadaan. Tetaplah berjuang. Terus? Beri makna baru dan buang pikiran negatif. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.



(Ingatkan keluarga kita. Untuk left dari WA dan beralih ke channel Telegram @ipphoright)
Setiap kita ingin 'naik kelas'.

Yang sekarang mahasiswa, pengen jadi sarjana.

Yang sekarang nganggur, pengen jadi karyawan.

Yang sekarang staf, pengen jadi supervisor atau manajer.

Yang sekarang entrepreneur, pengen jadi miliarder.

Yang sekarang jomblo, pengen? Pengen nangis, hehehe.

Nah, begitu kita naik level, kadar masalah pun bertambah. Betul apa betul? Masalah yang dihadapi seorang manajer tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang staf.

Masalah yang dihadapi seorang gubernur tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang walikota. Mana mungkin berkurang? Dengan kata lain, bertambahnya kadar masalah itu wajar.

Terus, gimana kalau ternyata nggak ada solusinya, nggak ada jalan keluarnya? Sebelum saya jawab, silakan teman-teman baca dulu analogi-analogi berikut ini.

Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa menyiapkan jawabannya?

Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan muridnya?

Mungkinkah guru memberikan ujian melebihi kemampuan muridnya?

Mungkinkah guru memberikan ujian dengan niat menyusahkan muridnya?

TIDAK MUNGKIN.

Kalau guru saja sedemikian baik terhadap muridnya, apalagi Allah terhadap hamba-Nya. Jalan keluar pasti ada, insya Allah. Manusia pasti mampu, insya Allah. Berbesarhatilah saat menghadapi #masalah.

Sebenarnya, masalah itu membuat kita semakin matang, semakin tangguh, semakin tawakal, semakin kreatif, dan naik derajat. Maka, tetaplah berbesar hati. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya (Ippho Santosa) akan bagi-bagi #UangTunai dan syal #Dortmund di Instagram @ipphoright.

Syal ini saya beli di stadion Dortmund. Asli. Mungkin Anda atau kerabat Anda suka. Bisa dihadiahkan.

Setidaknya, uangnya bisa Anda manfaatkan.

Yang minat, silakan merapat ya.

Buruan. Mumpung masih ada kesempatan.
Ustadz naik Hummer, ustadz naik Alphard, dianggap masalah. Layak dijadikan bahan bully-an. Padahal?

Mungkin itu BUKAN mobilnya, melainkan pinjaman dari jamaah. Ini biasa, cara murid menyambut guru. Saya aja sering minjemin mobil kayak gitu.

Mungkin mobil hadiah dari jamaah. Ini biasa, cara murid memuliakan guru. Saya aja bercita-cita agar bisa menghadiahkan mobil buat guru-guru saya.

Mungkin itu hasil dari bisnisnya. Jangan salah, ustadz zaman sekarang banyak yang melek bisnis. Bukan melulu amplopan dari jamaah (walaupun ini juga halal dan legal).

Kayaknya ente nih yang jarang ikut pengajian. Jadi, nggak ngeh sama kemungkinan-kemungkinan di atas. Mbok ya rajin-rajin ikut pengajian. Jangan seperti katak di bawah tempramen, hehehe.

Catat ya, untanya Nabi Muhammad itu Al-Qashwa, terbaik. Pedang dan baju perangnya juga TERBAIK. Karena memang perlu. Meskipun alas tidur, pakaian, dan makanannya sangat sederhana.

Fyi, di negeri ini, ada ustadz yang punya pesawat. Ada juga ustadz yang punya helikopter. Ada pula ustadz yang punya kapal. Heran? Nggaklah, biasa aja. Wong untuk dakwah ke pelosok-pelosok. Mending kalau ente punya dan mau minjemin, hehehe.

Terus, ente-ente punya apa? Sudahlah motor seken, nyicil, nunggak, hampir disita, eh buruksangka pula sama ustadz-ustadz. Hehehe. Saya mah bukan ustadz, tapi insya Allah kenal sama ustadz-ustadz.

Begini. Kalaupun mau kepo, kepo-lah dengan amal orang lain. Dengan niat ingin mengikuti. Bukan penasaran dengan potensi aib orang lain. Bukan rese, bukan nyinyir. Ya, sepertinya kita yang perlu baiksangka dan bener-bener belajar.

Sederhana bukan berarti nggak punya apa-apa. Boleh punya apa-apa kalau memang perlu. Walaupun mungkin itu relatif mahal bagi orang rata-rata. Sederhana itu soal sikap.

Sebagian kita menganggap ustadz itu harus miskin. Kalau kaya, dianggap aneh. Kalau jelek, diledek pelawak. Kalau ganteng, diledek seleb. Ribet banget! Terus, ustadz harus gimana? Jawab woy!

Begitulah. Kadang kita terlalu sinis dan sentimen sama ustadz.

Orang lain boleh bisnis, boleh kaya. Kalau ustadz kaya? Harus dinyinyirin. Mereka lupa, Nabi Muhammad lebih lama kaya daripada miskin. Umar dan Usman pun kaya.

Orang lain boleh selingkuh, boleh poligami. Kalau ustadz poligami? Harus digunjingin. Mereka lupa, Soekarno pun beristri lebih dari dua.

Orang lain boleh masuk politik. Bahkan atas nama demokrasi, preman pun boleh jadi anggota dewan dan kepala daerah. Kalau ustadz masuk politik? Harus di-bully. Harus difitnah. Harus dicongkel aib-aibnya.

Terus? Harus diragukan niatnya. Harus dipertanyakan predikat ustadz-nya. Mereka lupa, Gus Dur pun berpolitik. Mereka lupa, Umar dan Usman juga pemimpin politik.

Ya, sepertinya saat ini kita yang perlu baiksangka dan bener-bener belajar. Right? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Alkisah ada orang kaya-raya bernama Abu Dinar.

Rumahnya begitu luas. Sangat luas.

Bayangkan:

Saking luasnya, mau ke kebun saja harus pakai Google Map. 😁

Saking luasnya, kalau kita masuk lewat gerbang depan pas zuhur, maka kita akan tiba di kebun belakang pas maghrib. 😂

Saking luasnya, Indomaret sampai buka cabang di halaman rumahnya. 🤣

Kebayang? Hehehe. Ini cerita fiktif, nggak usah dipikirin amat.

Nah, agar hartanya membanyak, Abu Dinar mencoba investasi ini-itu. Agar hidupnya aman, Abu Dinar mencoba asuransi ini-itu.

Pertanyaan saya, benarkah hartanya benar-benar membanyak? Benarkah hidupnya benar-benar aman? Belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Lantas, gimana baiknya?

Dan inilah pesan yang mensolusikan dari guru saya:

- HARTA itu sedikit. Kalau disedekahkan, akan bertambah. Membanyak...

- HARTA itu sementara. Kalau kita sedekahkan, akan kekal. Abadi...

- HARTA, kita yang menjaganya. Kalau disedekahkan, harta yang akan menjaga kita. Aman...

Ya, sedekah adalah investasi sekaligus asuransi yang benar-benar menguntungkan. Cobalah, entah kita belum kaya atau sudah kaya. Maksud saya, sembari kita berikhtiar melalui karier atau bisnis, jangan lupa bersedekah.

Menariknya, balasan sedekah bukan di akhirat saja, melainkan bisa juga 'tarik tunai' sebagian di dunia. Kita manusia biasa, yang kadang-kadang masih berharap sesuatu yang sifatnya dunia. Betul apa betul?

Mumpung masih ada umur, mumpung masih ada rezeki, mumpung masih ada Ramadhan, mari kita berlomba-lomba dalam sedekah dan amal-amal baik lainnya. Kalau di bulan biasa saja sedekah itu berbalas dan berlipatganda, jangan tanya kalau di bulan Ramadhan!

Teman-teman yakin? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kemarin saya bukber di rumah Pak #ChairulTanjung (CT). Alhamdulillah bisa semeja dengan beliau dan Ketua MUI. Saya menyimak diskusi seru mereka berdua dengan tokoh-tokoh lainnya hampir 1 jam. Jujur saja, ini nikmat yang luar biasa bagi saya.

Beliau selama bertahun-tahun duduk bertahta sebagai 10 orang terkaya di Indonesia. Dan ternyata, beliau sangat melek dan concern sama umat Islam di Indonesia yang masih jadi minoritas dalam dunia usaha. Lalu beliau mengusung sederet solusi.

Lazimnya beliau menggulirkan solusi ini-itu melalui organisasi dan ulama. Juga melalui ceramah di komunitas-komunitas dan universitas-universitas. Jangan salah, tak semua konglomerat mau bersusah-payah seperti ini.

Kita doakan semoga niat baik beliau tetap terjaga dan semakin dimudahkan.

Beliau juga menasehati saya sebagai founder SD dan TK Khalifah agar murid-murid saya dilatih jualan sejak kecil. Ya, sejak kecil. Apa yang dijual? Apa saja. Mungkin karya mereka, mungkin barang bekas. Atau yang lainnya. Supaya apa? Agar kelak mereka menjadi pengusaha.

Sebuah bangsa supaya maju dan melaju harus memiliki musuh bersama (common enemy). Ini menurut beliau. Amerika pernah menempatkan Jepang sebagai musuh bersama. Jepang pernah menempatkan Barat sebagai musuh bersama dan sekarang Korea dijadikan musuh bersama.

Sehingga dengan begini, energi kita tercurah dan fokus. Sekarang, apa yang jadi musuh bersama bagi kita semua? Menurut beliau adalah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Orang mesti sadar bahwa dirinya bodoh dan tertinggal. Gimanapun, masih banyak orang yang nggak sadar-sadar!

Sebenarnya, banyak lagi yang beliau sampaikan semalam. Kapan-kapan kita sambung ya.
Panglima, adakah yang lebih ditakuti daripada dia?

Begini. Hari itu saya bukber di rumah Pak #ChairulTanjung (CT), Muslim terkaya di Indonesia. Alhamdulillah saya bisa semeja dengan beliau dan Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin. Ya, mereka berdua duduk tepat di hadapan saya.

Di sebelah kiri saya, ada Dr Aries Muftie, anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) yang dipilih dan dilantik oleh Presiden Jokowi. Beliau juga pernah menjadi Ketua Umum untuk Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Di sebelahnya lagi, ada Prof Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan 2009-2014.

Di sebelah kanan saya, ada Ustadz Bachtiar Nasir. Tentunya, masih banyak tokoh-tokoh lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Saat itu, percakapan mengarah dan menyebutkan bahwa Pak CT sebagai triliuner nggak pernah takut sama apapun dan siapapun. Kemudian ada yang nyeletuk, "Kalau sama istri, takut nggak?" Hahaha, kontan semua pada tertawa!

Pak CT langsung menerangkan, istri itu bukan lagi pangdam atau panglima, tapi sudah pangenam! Mendengar gurauan itu, semua kembali tertawa! Maksudnya, bukannya suami itu takut atau penakut, melainkan respect sama istri dan berharap ridhanya istri.

Soal ini, saya menyebutnya Sepasang Bidadari.

Impian pribadi, target di kantor, dan visi di organisasi, hendaknya diselaraskan dengan semua orang. Tapi, yang pertama dan paling utama adalah dengan ibu dan istri. Ya, ibu dan istri. Mereka inilah yang disebut Sepasang Bidadari.

Menariknya, mutu seorang pria dapat diketahui oleh dua wanita terdekatnya, yaitu ibu dan istri. Jangan heran, mereka yang belum menikah atau tidak selaras dengan ibunya dan istrinya, agak terbatas pencapaiannya. Jangan heran, mereka yang durhaka dengan orangtuanya, sering terjungkal dalam hidupnya.

Syukurnya, Ramadhan adalah momentum emas untuk memperbaiki semuanya. Baik hubungan dengan ibu maupun dengan istri. Insya Allah. Kalaupun selama ini hubungan kita sudah baik, tak ada salahnya jika ditingkatkan lagi. Bukan apa-apa, ini adalah penentu kesuksesan.

Itu dulu ya. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mohon maaf lahir dan batin.
Bukber Istimewa
Apapun impiannya, beli dengan doa, usaha, dan amal. Amal? Iya, amal. Salah satu amalnya yah #sedekah. Alhamdulillah, ini yang saya lakoni saat bergelut dengan tantangan-tantangan dan bercumbu dengan impian-impian.

Terus, gimaa saran teknisnya? Biasakan sedekah minimal 20% setiap bulannya. Paksa, bisa, terbiasa. Rumusnya begitu. Selanjutnya, sesekali (1-2 kali setahun), coba #SedekahEkstrim, alias melepaskan sesuatu amat bernilai dan amat berat bagi kita.

Misalnya rumah, kendaraan, perhiasaan, handphone, setengah dari tabungan, dll.

Ada lagi? Ada. Misalnya merelakan orang yang berutang dan bermasalah sama kita, itu juga bagian dari sedekah ekstrim. Kenapa? Lazimnya kita merasa nyesek untuk hal-hal yang beginian. Betul apa betul?

Kalau sudah sedekah rutin 20% dan sesekali sedekah ekstrim, insya Allah perubahan nasib juga ekstrim. Percepatan demi percepatan! Dengan izin Allah, saya dan alumni seminar sudah mencicipi ini sejak lama. Sedap!

Sedekahnya ke mana? Ke mana saja, baik insya Allah. Masing-masing ada fadilah tersendiri. Saya pribadi menyukai objek sedekah yang sarat amal jariyah dan sangat darurat. Contohnya, sekolah-sekolah di pelosok Indonesia (sekolah tepian).

Yes, saatnya take action:
- Mumpung Ramadhan.
- Mumpung ada niat.
- Mumpung ada umur.
- Mumpung ada rezeki.

Dengan sedekah, insya Allah berbagai impian seperti termudahkan dan tersolusikan. Pengen jodoh? Pengen anak? Pengen ke Tanah Suci? Beli aja. Tapi 'harganya' beda. Nggak cukup dengan sedekah biasa. Mesti sedekah yang ekstrim, sekalian juga amal-amal lainnya.

Saya ulang lagi, coba deh sedekah ekstrim. Jadi, nggak semua radikal itu jelek. Sesekali, mesti dijajal sedekah radikal alias sedekah ekstrim. Hehehe. Istilah saya 'berfoya-foya' di jalan Allah. Hehehe.

Masih takut? Takut apa?
- Takut rugi. Takut jatuh miskin.
- Apa? Takut miskin? Emang ente pernah kaya? Hehehe.

Selama ini kita sama-sama tahu:
- Berbagi, tak bakal rugi.
- Menentramkan hati.
- Memudahkan #rezeki.
- Insya Allah ini pasti.

Bantu share ya. Sampaikan ke saudara-saudara kita juga teman-teman kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Indonesia di ambang perpecahan? Intoleransi dan radikalisme terjadi di mana-mana? Hm, kata siapa?

Maaf, amat sempit kalau kita menilai toleransi dan intoleransi hanya dari pilkada saja. Pilkada yah pilkada. Memang, kalau kita bicara pilkada DKI, ada kompetisi yang sengit di sana. Sebenarnya, ini sih lumrah, marak terjadi di mana-mana. Bukan cuma Jakarta. Bukan cuma Indonesia.

Terus, apa iya, orang Indonesia mendadak intoleran dan radikal hanya karena pilkada? Nggak dong. Kalaupun sempat terjadi, itu cuma temporer dan parsial. Waktu tertentu, tempat tertentu. Betul apa betul?

Fyi, merebaknya hoax dan hate speech di social media, bukan saja menjadi masalah Indonesia. Melainkan sudah menjadi masalah dunia. Sampai-sampai sejumlah negara meminta bantuan PBB. Tapi, tolong diingat, itu kebanyakan terjadi di social media saja.

Tentu, saya tidak membenarkan hoax dan hate speech di social media. Ini perlu kita tangkal sama-sama. Tapi, jangan pula kita melebih-lebihkan, seolah-olah ini sudah gawat darurat dan mewabah ke lingkungan rumah juga lingkungan kerja.

Di social media, karena absennya tatap muka, orang sering bicara seenaknya. Kadang rasis, kadang kebencian, kadang keceplosan, kadang salah paham. Nah, akan beda ceritanya kalau tatap muka. Orang cenderung menahan diri, mencoba mengerti, dan berempati.

Menariknya lagi, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas dalam konstitusi kita. Yang ada cuma istilah kelompok yang berbeda-beda. Itulah hebatnya Founding Fathers kita. Visioner, sudah memikirkan ini sejak lama. Di Barat, jangan salah, memang sudah pakem istilah mayoritas dan minoritas itu.

Satu hal lagi. Sekhilaf-khilafnya kita, belum ada statement rasis dari Istana Negara. Siapapun presidennya. Paling cuma celetukan netizen. Lha di Amerika, statement rasis sudah menyeruak dari Gedung Putih. Kurang toleran apa Indonesia?

Kita amati dan cermati hal yang lebih kecil, seperti hari libur. Masing-masing penganut agama di Indonesia memiliki 'jatah' hari libur ketika tiba hari rayanya. Di Barat? Mana ada! Seringkali hari libur dinikmati hanya agama mayoritas. Kurang toleran apa Indonesia?

Presiden ke-44 Amerika, Barack Obama, saat berlibur ke Borobudur dan Prambanan, lalu berbicara di event diaspora Sabtu yang lalu, akhirnya mengakui betapa tolerannya Indonesia. Borobudur adalah candi Buddha terbesar. Prambanan adalah candi Hindu yang besar. Meskipun keduanya berada tepat di lingkungan Muslim, tapi tetap utuh terawat sampai sekarang.

Itulah Indonesia. Sejak dulu, sampai kapanpun, insya Allah. Sejarah merekam, agama-agama yang datang kemudian di nusantara, seperti Islam dan Kristen, bisa masuk dengan damai. Umat Hindu dan Buddha yang sudah ada sejak awal menunjukkan toleransinya.

Toleransi dan kebersamaan itu teramat mahal. Mari kita jaga sama-sama. Toh, laguku dan lagumu masih sama, Indonesia Raya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bener-bener terkejut!

Ketika libur Lebaran, kita kurang aktif di Facebook.

Dampaknya? Ternyata ribuan orang yang tidak bisa melihat status Facebook saya, padahal mereka jelas-jelas follow (like) halaman saya sejak lama.

Mereka pun komplen, saya dianggap jarang update status. Sementara saya dan tim merasa sering update status. Terus, apa yang terjadi?

Rupanya, selama setahun terakhir, Facebook melakukan ‘kebijakan tersendiri’. Follower (member) yang cuma pasif membaca sebuah page, tapi tidak komen dan tidak share sama sekali, lama-lama tidak bisa melihat page itu lagi.

Ya, Facebook menginginkan interaktivitas. Jangan jadi pembaca pasif. Kita mesti komen atau share. Kalau nggak, kita dianggap tidak interaktif dan tidak intens, makanya tidak bisa melihat page bersangkutan. Kalaupun benar-benar mau lihat, harus search dulu.

Terus, apa solusinya? Begini. Minimal satu kali sehari, Anda mesti komen atau share di page Facebook saya. Menariknya, keterlibatan ini juga membuat Anda semakin termotivasi dan terinspirasi.

Apalagi selama seminggu terakhir, ada berbagai keseruan di page Facebook saya. Misalnya:
-  Kisah sukses Chairul Tanjung (orang terkaya no.4).
-  Kisah sukses Sulaiman Al-Rajhi (salah orang terkaya dunia asal Saudi).
-  Nasehat dari Reza Rahadian, Menteri Susi, dan Oprah Winfrey.
-  Sikap-sikap kita terhadap kekayaan, dari berbagai aspek.
-  Motivasi harian dan masih banyak lagi, termasuk humor.

Ini alamat Facebook saya www.facebook.com/MotivatorIppho/

Sekali lagi, silakan komen atau share di sana. Minimal satu kali sehari.

Siap?