Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Pada tahun 2001, Prof Aik Kwang dari University of Queensland menulis buku bertajuk 'Why Asians Are Less Creative Than Westerners' tentang tumpulnya kreativitas orang Asia ketimbang orang Barat. Awalnya buku ini dianggap membuka aib tapi kemudian dicari-cari dan booming.

Kenapa? Yah, karena benar-benar menggelitik pikiran banyak orang dari berbagai kalangan. Mari kita bahas blak-blakan. Bagi orang Asia rata-rata, dalam nilai-nilai dan budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup mereka adalah melimpahnya materi atau sejenisnya (rumah, mobil, uang, dan jabatan). Biasanya begitu. Betul apa betul?

Cinta dan passion terhadap sesuatu kurang dihargai. Ya, kurang dihargai. Apalagi teramat banyak orang yang nggak paham, apa itu passion. Boro-boro mendalami. Akibatnya, bidang-bidang yang berkutat pada kreativitas kalah pamor dibanding profesi-profesi 'basah' seperti manajer perusahaan, dokter, pengacara, notaris, bankir, dan sejenisnya yang dianggap bisa mencetak uang lebih cepat.

Saran saya, pilihlah bidang yang kita cintai. Ada passion-nya. Ini sudah saya sampaikan di tulisan-tulisan sebelumnya. Apa urgensinya? Percayalah, perjalanan menuju sukses begitu berat. Berliku, mendaki, dan terjal-terjal. Tanpa cinta dan passion, kita akan geleng-geleng kepala dan angkat tangan di tengah jalan.

Nah, dengan adanya cinta dan passion, kita akan merasa bahagia, entah berhasil atau belum berhasil. Ini kan bagus. Serunya lagi, dengan adanya cinta dan passion, belenggu-belenggu yang mengunci potensi akan terbuka satu per satu. Maka semakin mudahlah langkah menuju sukses.

Terus, apa sih ciri-ciri passion? Ada uang atau tidak ada uang, pekerjaan itu tetap Anda tuntaskan sepenuh hati, tanpa nanti-nanti, tanpa tapi-tapi. Kalau tanpa uang saja dituntaskan, apalagi kalau ada uangnya. Yup, itulah passion. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hari ini, saya berada di Madinah.

Dulu, kalau nggak salah tahun 2009, ibu saya tanpa sengaja pernah bercerita tentang keinginannya untuk berumrah di bulan Ramadhan. Sebut saja, angan-angan. Tahu sendiri kan, umrah Ramadhan dua kali lipat lebih mahal daripada umrah biasa.

Saat itu saya nggak punya uang. Bener-bener nggak punya uang. Tapi alhamdulillah, saya masih punya keyakinan. Langsung saja saya sambar, "Insya Allah berangkat, Bu. Umrah Ramadhan." Ternyata, beneran. Dengan izin Allah, tahu-tahu uangnya ada dan ibu saya bisa berangkat. Surprise-nya lagi, saya pun ikut berangkat.

Jadilah kami berdua berangkat umrah Ramadhan. Benar-benar surprise. Setiba di airport, menjelang boarding ke Jeddah, saya cek rekening saya di ATM. Anda tahu, berapa uang saya yang tersisa? Tak sampai Rp100ribu. Anda nggak salah baca, tak sampai Rp100ribu. Tapi, saya nggak nyesel. Bersyukur malah, "Alhamdulillah, bisa berumrah. Ramadhan lagi."

Itulah umrah pertama saya, tahun 2009. Alhamdulillah sepulangnya, saya mengalami percepatan demi percepatan. Sebagian dari Anda mungkin tahu apa saja yang Allah titipkan kepada saya mulai tahun 2010 sampai sekarang, 2017. Btw, kapan-kapan kita akan bercerita soal keajaiban Multazam.

Dulu, saya pernah menunjukkan peta dunia di hadapan ibu saya (dari sebuah majalah). Saya bilang ke ibu saya, "Ibu tunjuk saja, mau ke negara mana. Insya Allah kita ke sana." Apakah saat itu saya punya uang? Siapa bilang! Yang ada cuma keyakinan. Tapi, jangan salah, yakin sama Allah, itu saja sudah lebih dari cukup. Ini iman namanya, bukan takabur.

Kebanyakan orang, ada uang, baru yakin. Nggak ada uang, nggak yakin. Harusnya? Ada uang atau nggak ada uang, yah tetap yakin. Jangan uang yang dijadikan Tuhan. Justru kalau yakin, uangnya akan dimudahkan untuk ada. Ini serius, nggak mengada-ngada.

Benar saja, akhirnya saya bisa mengajak ibu saya dan mertua saya bertandang ke berbagai belahan dunia. Mulai dari Brunei, Mesir, Arab Saudi, Turki, Jepang, sampai ke Derawan, Pulau Komodo, dan Raja Ampat. Pernah juga mereka jalan-jalan sendiri tanpa saya ke Spanyol, Tiongkok, Palestina, dan Jordan. Sebentar lagi keliling Eropa, insya Allah.

Kalau ke Hongkong, mereka sudah tiga kali. Misalnya lagi cekak, ya sudah, kami jalannya yang dekat-dekat saja, yang murah-murah saja. Toh, yang paling utama adalah jalan bareng siapa, bukan jalan ke mana. Right?

Apa nggak boros, jalan-jalan seperti itu? Kalau jalan-jalan sendiri, yah boros. Kalau bareng orangtua, nggak boros. Insya Allah ini bagian dari berbakti. Tahu sendiri kan, berbakti malah mengundang rezeki. Tak perlu diragukan lagi, itu pasti.

Tambahan pula, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar saling mengenal. Ayat ini tidak bisa terlaksana dengan sempurna sekiranya tidak ada yang travelling.

Ada juga yang nyeletuk, "Jalan bareng orangtua terus, kasihan istrinya nggak diajak." Hehehe, masing-masing ada waktunya. Setahun menikah, alhamdulillah saya dan istri bisa berumrah. Tiga tahun menikah, alhamdulillah kami bisa berhaji. Sempat juga kami ke Amerika, Australia, dan Jepang. Masing-masing ada waktunya.

Alhamdulillah, hari ini saya berada di Madinah bersama istri. Hanya saja, saya jarang sekali upload foto istri di socmed.

Semoga teman-teman semua juga dimampukan untuk mengajak keluarganya jalan-jalan. Travelling. Yang dekat, boleh. Yang jauh, juga boleh. Terutama berumrah. Niatnya untuk beribadah dan menyenangkan keluarga karena Allah. Semoga dimudahkan ya. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hari ini saya menuju Mekkah, mau berumrah. Insya Allah...

Bagi teman-teman yang nitip doa, silakan tulis (komen) di Instagram saya @ipphoright

Kalau senggang, akan saya baca dan aminkan...
Tulisan berikut ini mungkin mengusik ketenangan pagi Anda. Soalnya sedikit-banyak akan membuat Anda kepikiran. Karena memang penting, ada baiknya, mulai sekarang Anda lebih fokus membacanya.

Anda pengen berumrah?
Anda pengen beli kendaraan?
Anda pengen beli rumah?
Menyiapkan dana pendidikan?

Coba bayangkan betapa nikmatnya sekiranya itu semua tercapai. Kebayang?

Mungkinkah biaya berumrah, membeli kendaraan, membeli rumah, dan dana pendidikan disolusikan dengan emas? Bisa saja, apalagi nilai emas naik terus dalam jangka panjang. Terus, kalau memang bisa, bagaimana caranya?

Sekarang, kita bahas soal umrah. Yakinlah, setiap muslim bisa berumrah. Asalkan dia mau memantaskan diri.

Ingat, Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri. Maka, buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). DP ke travel umrah. Bikin paspor. Ikut manasik. Tanya-tanya sama mereka yang sudah duluan berangkat. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.

Soal rekening khusus, Anda bisa membuka tabungan emas di Pegadaian. Bahkan Rp100ribu juga bisa. Insya Allah di sana bebas bunga dan bebas riba. Sekiranya Anda mau mengumpulkan emas gram demi gram lalu menyimpannya di rumah, yah boleh juga. Cuma, cara ini lumayan beresiko.

Begitu Anda merutinkan (menabung emas), percayalah, keajaiban akan terjadi. Insya Allah. Kita sama-sama tahu, rezeki tidak pernah bergerak linier. Saat Anda bersungguh-sungguh, maka rezeki yang tidak disangka-sangka bisa datang dari arah yang mana saja. Silakan dicoba.

Hari ini saya masih berada di Mekkah. Bagi teman-teman yang mau nitip doa, boleh sebutkan doanya (komen) di Instagram saya @ipphoright. Kapan senggang, saya akan aminkan satu per satu. Mohon doanya juga agar umrah saya bersama istri sekalian jamaah-jamaah lainnya berjalan lancar. Aamiin.
Memulai, perlu keberanian.
Membesarkan, perlu ilmu.
Itulah kuncinya dalam bisnis.

Ini pesan penting buat teman-teman entrepreneur. Sebagian mungkin bertanya-tanya, "Maksudnya gimana sih?"

Begini. Agar bisnisnya membesar, belajarlah mengelola bisnis. Dengan belajar, risiko-risiko bisnis dapat ditekan.

Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif. Apalagi kita sama-sama tahu, saat ini marketing, inovasi, dan SDM perlu dirancang dengan cermat, nggak bisa lagi pakai ilmu yang sekadarnya.

Memang, berani memulai atau berani action itu perlu. Mutlak. Tapi, maaf, ini saja nggak cukup. Perlu ilmu. Perlu perencanaan. Terutama untuk mengelola bisnis dan membesarkan bisnis.

Kalau coba-coba sendiri alias sekadarnya, malah lebih menguras waktu dan uang. Itulah yang dulu saya alami. Karena itulah sekarang saya menyarankan teman-teman untuk selalu belajar. Baca buku. Ikut seminar. Ikut coaching.

Mengelola SDM, misalnya. Ini tidak mudah. Perlu ilmu. Richard Brandson, seorang entrepreneur asal Britania Raya, pernah mengatakan bahwa aset paling berharga dalam sebuah organisasi adalah para manusianya. Dalam konteks perusahaan, tentu saja yang dimaksud di sini adalah para karyawan.

Mereka harus diberi penghargaan. Bukan sekedar pengupahan. Mereka harus diberi pembinaan. Bukan sekedar pelatihan. Lagi-lagi, ini soal ilmu. Owner dan manajemen yang tidak berilmu akan kehilangan tim terbaiknya. Lha, siapa yang mau dipimpin oleh orang yang tidak berilmu?

Begitulah, belajar. Mudah-mudahan mengundang percepatan bagi bisnisnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sabtu pagi jam 5-an (besok) saya akan berbagi rahasia-rahasia rezeki, selain ilmu sedekah. Tepatnya di Trans TV. Ajak keluarga dan teman-teman kita nonton ya
Hujan itu baik. Kalaupun banjir, itu karena manusianya, bukan karena hujannya.

Selain menyuburkan bumi, siapa sangka ternyata air hujan itu membantu kesuburan manusia. Belum lagi soal petrichor. Apa itu?

Petrichor adalah salah satu aroma alami yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering. Istilah petrichor terinspirasi dari kosakata Yunani oleh dua ilmuwan Australia, Bear dan Thomas, pada tahun 1964 dalam jurnal ilmiahnya.

Menariknya, petrichor ini benar-benar dapat menghilangkan stress dan meningkatkan mood hingga lebih dari 60 persen. Ya, lebih dari 60 persen.

Dikutip dari Water Rhapsody, orang-orang Barat zaman dahulu meyakini bahwa membasuh rambut dengan air hujan dapat membuat rambut jauh lebih sehat dan bersinar. Rupanya sains mampu menjelaskan ini.

Dikutip dari Rainwater Connection, air yang turun dari langit ini memiliki kadar kenetralan PH yang mendekati sempurna, bebas garam, dan bebas mineral yang buruk bagi rambut. Apabila difilter dengan seksama, air hujan menjadi materi paling netral yang dapat digunakan untuk membasuh rambut.

Sekali lagi, hujan itu baik. Jangan lagi kita berprasangka buruk terhadap hujan. Nabi Muhammad pun menganjurkan kita untuk berdoa ketika hujan turun. Lebih makbul. Di samping mengharapkan manfaat yang baik-baik dari hujan tersebut. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
1 di antara 200 juta orang!

Cum laude dari Amerika, itulah prestasi akademisnya. Distinguished Research Professor di bidang entrepreneurship dari George Washington University, itulah gelar akademisnya. Boleh dibilang, dia seorang entrepreneur yang sangat cerdas.

Tahun 2011, saya tanya langsung ke orangnya. Apa amalannya sejak dulu. Dia mengelak. Merasa nggak enak kalau mengumbar-ngumbar amal. Setelah saya desak-desak, akhirnya dia jawab juga, "Saya rutin ber-dhuha sejak SMA." Masya Allah!

Yang menakjubkan, di usia 40-an, ia berhasil masuk dalam 100 orang terkaya di Indonesia dengan lebih 50.000 karyawan!

Tapi, menurutnya, "Nggak ada untungnya predikat terkaya. Coba tanya setiap pengusaha, pasti menjawab nggak ada pengaruh-nya. Jadi, predikat ini bukan privilege, tetapi responsibility untuk memberi contoh dan memotivasi entrepreneur."

Bukan sekadar wacana tapi ia juga membuktikan kata-katanya. Beneran. Sejak dulu sampai sekarang, ia rutin keliling Indonesia menjadi narasumber seminar wirausaha. Tanpa bayaran. Tanpa motif politik.

Belakangan ini, berbagai fitnah dialamatkan kepada dirinya. Tapi kalau Anda bertemu dia satu menit saja, Anda akan tahu bahwa fitnah itu beneran fitnah. Nggak lebih dari itu. Saya lihat sendiri bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Santun dan penuh kasih-sayang.

Demikian pula perlakuannya terhadap orang-orang yang belajar dan ngefans sama dia. Sangat sabar dan bisa mengingat orang satu per satu. Jujur saja, saya saja sering lupa kalau ketemu banyak orang. Tapi, dia beda. Dia bisa mengingat orang satu per satu.

Beberapa kali saya bertemu dia di airport atau di pesawat terbang. Ternyata pernah juga dia duduk di kelas ekonomi. Bayangkan, maskapai saja sanggup dia beli, tapi ia kadang duduk di kelas ekonomi. Bukan kelas bisnis!

Saya juga melihat ponsel dan arlojinya biasa-biasa saja. Bahkan gores-gores dan sompel-sompel. Saya melihat itu selama sekian tahun. Bukan sebulan dua bulan. Dan ketika saya lunch semeja bareng dia, nggak disangka-sangka dia mengambilkan lauk untuk saya. Masya Allah!

Terlepas dari itu, fisiknya kuat. Berenang antar pulau, ia sanggup. Kalau berlari, jangan ditanya.

Sangat cerdas, sangat kaya, sangat kuat, sangat santun, sangat sederhana. Hampir 40 tahun umur saya dan menurut pengalaman saya, amat langka ada orang seperti itu. Saat lunch dan ngobrol-ngobrol bareng Ust Yusuf Mansur, sang ustadz juga sempat geleng-geleng kepala, "Kok ada ya orang seperti itu."

Kemudian, saya sempat menyesalkan manakala mendengar dia nyemplung ke dunia politik. Sayang, menurut saya. Tapi, yah sudahlah. Alasannya, dia ingin membenahi negeri ini 'dari dalam'. Mungkin Anda sudah bisa menebak siapa orang yang saya maksud. Dialah Sandiaga Uno. Dia pun bertekad, kalau terpilih jadi wakil gubernur DKI, tidak akan mengambil gajinya.

Begini. Saya tidak mau mendikte pilihan politik Anda. Toh Anda sudah tahu sosok mana yang kompeten dan bisa mempersatukan warga DKI dari golongan manapun. Yah, kita sama-sama tahu, buat apa pembangunan fisik kalau warganya berantem tiap sebentar karena si pemimpin tidak bisa mengontrol ucapannya.

Di sini saya hanya ingin berbagi pengalaman dan menyampaikan kebenaran. Setidaknya, kisah ini menjadi inspirasi keteladanan bagi Anda dan orang-orang di sekitar Anda. Yah sudah saatnya kita memiliki pemimpin yang layak dicontoh ucapannya dan tindakannya. Share ya.
Kadang, untuk meyakinkan orang tentang sebuah kebenaran perlu waktu. Karena itulah sejarah meniscayakan orang-orang yang konsisten dan persisten. Nggak lembek. Kali ini, izinkan saya memperkenalkan seseorang.

Dia adalah Bapak Metode Ilmiah dan Bapak Ilmu Pengetahuan. Kontribusinya untuk dunia antara lain adalah penyempurnaan teleskop, pengamatan astronomi, dan Hukum Gerak Pertama juga Hukum Gerak Kedua.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang pendukung pandangan Copernicus mengenai peredaran planet-planet. Menurutnya, bumi adalah bulat dan mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya. Saat itu, masyarakat termasuk gereja berasumsi bumi itu datar.

Akibat pandangannya itu, ia dianggap merusak iman lalu diadili gereja pada 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang bumi adalah bulat dan matahari sebagai pusat dianggap bertentangan dengan keyakinan gereja yang bersikeras bumi itu datar dan pusat alam semesta.

Ia pun dihukum dengan pengucilan, sampai ia meninggal.

Setelah ratusan tahun, tepatnya pada tahun 1992, barulah Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa keputusan pengucilan itu adalah keputusan yang salah. Dan pada tahun 2008, barulah Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma mengakui dirinya sebagai ilmuwan.

Dialah Galileo Galilei.

Begitulah. Kadang, untuk meyakinkan orang tentang sebuah kebenaran perlu waktu. Di sini kita harus berusaha menjadi orang-orang yang konsisten dan persisten. Saran saya, tetaplah menyampaikan kebenaran. Dan hindari risiko-risiko. Tapi, kalaupun terpaksa berhadapan dengan risiko-risiko, jangan gentar. Kebenaran tetap harus disampaikan.

Ya, kebenaran itu memang mahal. Apabila kita tidak berani menyampaikan apalagi sampai menyembunyikan, maaf, berarti diri kita adalah MURAH. Sekali lagi, MURAH. Sekian dari saya, Ippho Santosa.



( Yuk ajak sahabat-sahabat kita beralih dari WA ke channel Telegram @ipphoright . Lebih ringan, lebih aman )
Ilmu apapun, asalkan itu bermanfaat, begitu kita tahu, baiknya segera praktekkan.

Misal:
- Diajari ilmu memasak. Begitu tahu, langsung praktek.
- Diajari ilmu montir. Begitu tahu, langsung praktek.
- Diajari ilmu sedekah. Begitu tahu, langsung praktek.
- Insya akan ngefek.

Kalau kita tunda 2 hari atau 3 hari, akan berkurang efeknya. Sekali lagi, akan berkurang efeknya. Bersegeranya praktek menunjukkan kesungguhan. Sampai di sini, saya yakin Anda setuju dengan saya.

Bersegeranya praktek, inilah yang saya sampaikan di seminar 7 Keajaiban Rezeki (7KR). Bukan kebetulan, seminar ini sudah menjadi viral di mana-mana, sehingga menembus belasan negara, termasuk Amerika, New Zealand, dan Oman.

Kalau buku 7KR, alhamdulillah, sudah dibaca oleh Yuni Shara, Dewi Sandra, Denny Cagur, Sandiaga Uno, Ust Yusuf Mansur, Gubernur Jabar, pemilik Shafira, pemilik Ina Cookies dll.

Kabar baik untuk Jerman, seminar 7KR segera hadir di sana:
- Sabtu, 22 April, Braunschweig
- Ahad, 23 April, Frankfurt
- Senin, 24 April, Ruhr

Untuk Jerman, silakan hubungi:
+491 52 2345 5633 (Farras).

Mudah-mudahan peserta akan menemukan rahasia-rahasia sukses dan kunci-kunci percepatan di seminar ini. Kalau boleh, mohon kabari juga teman-teman kita di sana.

Setelah seminar Jerman, insya Allah saya akan jalan ke Belanda dan Belgia. Bagi teman-teman di Belanda-Belgia yang mau silaturahim dengan saya, silakan WA tim saya 0812-704-9090.

Kapan di Jakarta? 20 Mei.
SMS 0815-4333-3600.

Bagi teman-teman yang merindukan perubahan nasib dan rezeki, insya Allah seminar ini menjadi wasilah solusi. Toh sudah ratusan ribu alumni yang membuktikan. Sampai jumpa!
Siapa pahlawan favorit Anda?

Sebelum dijawab, simak dulu kisah berikut ini.

Soal ayam nih. Capek-capek hamil (baca: bunting), capek-capek bertelur. Terus? Telurnya diambil dan dimasak. Adakah sedikit apresiasi pada ayam? Nggak ada. Jerih-payah itu dinamai telur mata sapi, hehehe. Ayam yang pasang badan, sapi yang dapat nama.

Demikianlah pahlawan. Berkorban namun tak pernah mendapat nama. Seringnya begitu. Btw, tulisan ini saya ketik saat saya transit di Belanda menuju Jerman.

Salah satu pahlawan yang sangat berkesan di hati saya adalah Cut Nyak Dien. Ya, Cut Nyak Dien. Sampai-sampai saya mengunjungi rumahnya di Aceh. Menurut saya  perjuangannya jelas, tanpa basa-basi. Demi negerinya, demi agamanya.

Dari berbagai literatur, kemudian kita tahu bahwa orangnya sangat tegas dan tegar. Pernah suatu kali Cut Nyak Dien berpesan, "Kita perempuan seharusnya tidak menangis di hadapan mereka yang telah syahid." Ini ia sampaikan pada anaknya Cut Gambang ketika ayahnya, Teuku Umar, tertembak mati.

Saat ini, Indonesia mengalami krisis keteladanan. Dalam artian, sulit mencari sosok yang bisa diteladani, boro-boro disebut pahlawan. Yang ada cuma sekelompok politisi yang berlagak jadi pahlawan. Betul apa betul?

Sudahlah, mari kita mulai dari diri kita dan keluarga kita. Berani berkorban. Nggak mikir nama. Mudah-mudahan keluarga kita akan mengenang kita sebagai pahlawan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sevel alias 7/11 akhirnya hengkang dari Indonesia, setelah sekian tahun merugi. Kilah mereka, karena tidak boleh menjual miras lagi. Kalau menurut saya, mereka membiarkan dirinya ditiru dan kurang berinovasi.

Tiru-meniru, sebenarnya ini sudah sangat lazim dalam dunia bisnis.

Btw, China pernah menegaskan dirinya sebagai negara 'King of Counterfeiters' atau 'Rajanya Peniru' dan sulit dituntut secara hukum, terutama di China sendiri. Sayangnya, peniruan mereka sudah mengarah pada penjiplakan bahkan pemalsuan. Ini tidak sehat.

Dari seluruh barang dan merek yang dipalsukan dunia sepanjang 2008-2010, China memproduksi 70% tiruan tersebut. Nggak percaya? Googling saja. Bahkan, tanpa Googling sekalipun, kita bisa melihat secara kasat mata, ini benar-benar terjadi.

Apakah peniruan-peniruan itu membuat merek-merek besar padam dan tenggelam? Boro-boro padam, merek-merek besar malah semakin bersinar. Menurut mereka, lebih baik fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi. Adalah pekerjaan sia-sia kalau berharap China 'bertobat' terkait peniruan.

Begini. Jangan gagal paham. Saya tidak membenarkan tindakan pemalsuan dan demikian pula bunyi hukum di berbagai negara. Namun saya setuju dengan reaksi merek-merek besar itu. Alih-alih bermental pecundang, mereka fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi.

Sekarang kita lihat PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pola pikir customer-oriented menjadi strategi inovasi mereka. Pola pikir ini telah ditanamkan dan diwujudkan dalam pelayanan yang memanusiakan manusia sejak 7 tahun yang lalu. Sudah jadi rahasia umum kalau layanan perkeretaapian dulu sangat memprihatinkan.

“KAI bertekad mentransformasi semua kesan buruk itu dengan memberikan layanan yang membuat nyaman penumpangnya. Kebijakan one man one seat, Toilet Ramah Lingkungan, sistem boarding, kereta ekonomi AC, Commuter Female Wagon, dan layanan crew yang ramah dan andal telah memberikan pelayanan angkutan penumpang yang manusiawi,” ungkap Kuncoro Wibowo, Managing Director of Commerce and IT.

KAI memilih untuk berbenah.

Maaf, rada beda dengan kita-kita yang UKM, yang sering menyalah-nyalahkan pesaing ketika rugi atau gagal. Sering pula menyalahkan peraturan pemerintah. Pembenaran mungkin menentramkan hati, namun tak pernah membawa solusi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Seminggu terakhir, saya berada di Jerman. Seminar di Braunschweig, Frankfurt, dan Dortmund. Alhamdulillah, jumlah peserta di Jerman melampaui target. Berlanjut, jalan-jalan ke Belanda dan Belgia. Alhamdulillah.

Tahukah Anda?
- Luasnya Jerman kira-kira dua setengah kali Pulau Jawa. Dan itu sudah gabungan dua negara, Jerman Barat dan Jerman Timur.
- Luasnya Belanda lebih kecil daripada luasnya Jawa Timur. Bahkan sebagian besar daratannya berada di bawah permukaan air laut.

Kecil ya? Iya.

Tapi, dulu mereka berhasil menjajah berbagai negara secara langsung. Sekarang? Menjajah berbagai negara secara tidak langsung (melalui ekonomi dan budaya). Bahasa mereka digandrungi. Produk-produk mereka juga digandrungi.

Apa sih kuncinya?

Banyak. Salah satunya, mereka sangat cinta (love) dan bangga (pride) dengan bangsanya.

Misal, kita tinggal di sebuah kampung. Karena kita tinggal di kampung itu, akhirnya kita bisa berkeluarga, beribadah, dan bekerja. Bahkan bebas dari ancaman kampung yang lain. Adalah wajar kalau kemudian kita mencintai dan membela kampung itu.

Bukan kebetulan, kampung itu punya umbul-umbul tersendiri. Punya yell-yell tersendiri. Sedikit-banyak, ini semua merekatkan dan menyatukan warga kampung tersebut. Bolehkah? Boleh, insya Allah.

Kalau kampung saja boleh, tentu bangsa lebih boleh lagi. Nah, itulah Indonesia. Lengkap dengan bendera dan lagu kebangsaannya. Sangat boleh, insya Allah (Saya sempat terheran-heran sama mereka yang anti sama bendera dan 'Indonesia Raya').

Mungkin, belum ideal pengurus-pengurus dan orang-orang di negeri ini. Jauh dari ideal. Tapi, jangan sampai itu membuat kita anti dan tidak mencintai negeri ini. Apalagi mencaci-maki. Adalah keliru bila itu sampai terjadi. NKRI, hendaknya selalu melekat di hati.

Sulit seseorang itu bisa maju jika ia tidak memiliki love dan pride terhadap asal-usulnya, terhadap bangsanya. Lha, harusnya? Ada love. Ada pride. Tanpa perlu merendahkan bangsa yang lain. Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, dan HOS Tjokro adalah sosok-sosok yang terbukti memiliki love dan pride atas negeri ini.

Saya, Ippho Santosa, mengajak Anda semua untuk memiliki love dan pride atas negeri ini. Semoga Anda setuju dengan tulisan ini, sepenuh hati.



(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright ini. Silakan ajak keluarga dan teman-teman kita untuk bergabung)
Saya sudah beberapa kali diundang berseminar di Eropa. Tapi ada saja halangannya. Seringkali batal karena alasan 'bentrok jadwal'. Nah, baru kesampaian berseminar di sana pada akhir April yang lalu. Ya, demikianlah takdirnya.

Maka adil dan tenanglah dalam menyikapi takdir. Segala sesuatu ada waktunya. Saya ulang, segala sesuatu ada waktunya.

Inilah pesan saya:
- Takdirmu selalu ontime.
- Datangnya tak pernah lebih cepat.
- Datangnya tak pernah lebih lambat.

Obama pensiun jadi presiden di usia 50-an.
Trump mulai jadi presiden di usia 70-an.

Jokowi jadi presiden di usia 50-an.
JK 'hanya' jadi wakil presiden di usia 70-an.

Nggak ada yang salah tho?

Steve Jobs menjadi salah satu ikon dalam bisnis dan inovasi. Tapi umurnya cuma 50-an.

Pablo Escobar, kok bisa jadi salah satu orang terkaya di dunia menurut Forbes, padahal dia seorang pengedar narkoba. Ya, tapi umurnya cuma 40-an.

Masing-masing ada waktunya.

Begini. Berbanding Jakarta, Papua lebih awal dari segi waktu. Sekitar 2 jam lebih awal. Tapi bukan berarti Papua lebih maju. Di sisi lain, Amerika dan Eropa lebih lambat dari segi waktu tapi terbukti bisa lebih maju dari Indonesia.

Itu sekedar analogi saja. Sekali lagi, masing-masing punya takdirnya sendiri, punya waktunya sendiri. Karena tulisan ini sangat penting, baiknya di-share kepada teman-teman Anda.

Yakinlah:
- Mereka yang lebih sukses, bukan berarti mereka 'lebih awal' darimu.
- Mereka yang belum sukses, bukan berarti mereka 'lebih telat' darimu.

Silakan belajar dari orang muda yang sukses. Belajar itu harus tho? Namun setelah kita mempelajari dan mengikuti, kita mesti paham sepaham-pahamnya bahwa setiap orang punya takdirnya sendiri dan punya waktunya sendiri.

Memaksakan diri kita seperti takdir orang lain adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan sangat meresahkan. Bahkan bisa menjurus pada kufur nikmat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya.



(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Mari ajak teman-teman kita bergabung ke Telegram. Beritahu mereka bahwa Telegram lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)