Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Kemarin saya diundang lunch oleh seorang dirut dan tim di sebuah bank syariah. Kali itu, kami membahas berbagai masalah dan tantangan di wisata halal di Tanah Air. Ya, munculnya masalah dan tantangan sebenarnya sesuatu yang wajar.

Sebagian orang, ketika masalah terjadi, ia bersikap sebagai korban (Victim), seolah-olah tidak berdaya, dan teraniaya. Bukan hanya itu, ia juga mengeluh dan menyalah-nyalahkan orang lain. Dengan kata lain, ia tidak bertanggung-jawab atas keputusan yang telah ia ambil.

Di sisi lain, sebagian orang bersikap sebagai pemenang (Victor/Victory). Dia tenang. Tak menyalahkan siapapun. Sebaliknya, ia bertanggung-jawab penuh atas keputusan yang telah ia ambil.

"Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang beroleh untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap #SangPemenang.

Terlihat jelas di sini. Keadaan sama, namun respons berbeda, tentulah hasilnya akan turut berbeda. Pasti. Makanya saya menganjurkan, demi hasil yang lebih baik, sebisa-bisanya kita hindari sikap sebagai Victim. Apalagi kita tahu bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh! Apalagi kita tahu bahwa menyalahkan orang lain bukannya mengurangi masalah, melainkan hanya mengurangi teman!

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Berapa handphone yang Anda miliki saat ini? Satu atau dua?

Kalau 10 tahun yang lalu? Mungkin nggak ada sama sekali.

Ya, dunia telah berubah. Semalam hal ini saya sampaikan. Kebetulan semalam saya membawakan seminar motivasi untuk teman-teman perbankan di JS Luwansa Hotel, diundang oleh Pak Herry Hykmanto.

Salah satu perubahan yang saya maksud adalah dominasi internet, termasuklah di dalamnya media sosial. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan jejaring sosial. Kemudian disusul 68,7 persen untuk mencari informasi.

Dalam berselancar di dunia maya ini, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop. Satu hal yang perlu dicermati, bisnis Anda harus lebih mudah ditemukan di Google dan Facebook.

Kita sebagai entrepreneur atau profesi lainnya, kalau tidak memahami perubahan ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Nokia dan Kodak adalah contoh kecilnya (Sekarang mereka kembali menggeliat, berupaya untuk bangkit).

Yang sinis mungkin nyeletuk "Ah, iPhone itu kan produk gagal." Iya, gagal dimiliki sama dia, hehehe. Alih-alih menganggap internet dan teknologi sebagai lawan, akan jauh lebih baik kalau kita menganggapnya sebagai kawan. Ready to transform. Salah satunya, upayakan bisnis kita lebih mudah ditemukan di Google dan Facebook (dua raksasa terbesar).

Ayo berdayakan, jangan malah terperdaya. Sekali lagi, itulah semestinya sikap kita terhadap internet dan teknologi. Pada akhirnya, besar harapan saya, bisnis kita menjadi semakin kompetitif dengan hadirnya internet dan teknologi.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. (Silakan ajak tim kita bergabung di channel Telegram @ipphoright ini )
Berapa jam Anda megang istri Anda dalam sehari? Kalau Anda wanita, berapa jam Anda megang suami Anda dalam sehari? Berbagai survey menunjukkan, orang perkotaan memegang handphone lebih lama ketimbang memegang pasangannya! Nah lho!

Megang handphone, terus ngapain? Apa lagi kalau bukan membuka social media dan Googling. Maka dari itu, memastikan bisnis kita muncul di Facebook dan Google adalah suatu keniscayaan. Kalau perlu, bisnis kita mendominasi, bukan sekedar muncul.

Ini namanya Internet Marketing. Apa saja kelebihannya? Selain lebih hemat, juga sangat terukur dan sangat tersegmen. Bahkan siap menampung orderan secara nasional selama 24 jam. Itulah keajaiban internet.

Karena Anda tahu tulisan ini sangat penting, maka Anda pun menyempatkan diri untuk membacanya sampai tuntas. Toh, nggak lama-lama, cuma 1 menit.

Sekarang, pertanyaan saya: Maukah Anda belajar Internet Marketing bareng saya dan tim? Benar-benar mau?

Selama ini, magang dan training #InternetMarketing yang kami adakan, alhamdulillah selalu full. Insya Allah magang dan training Batch-7 akan diselenggarakan pertengahan Mei. Sampai di sini, sepertinya Anda mulai tertarik untuk ikut.

Terus, apa saja materinya?
- Meriset produk-produk yang laris
- SEO (agar masuk halaman 1 Google)
- Facebook Ads
- Facebook Marketing
- Cuma segini, tapi mendalam.

Sekali lagi, Batch-7 akan diadakan pertengahan Mei. Selama 8 hari. Dari pagi sampai sore. Tepatnya, 14 Mei-21 Mei 2017. Lokasinya? Di kantor saya di BSD (dekat Jakarta). Semakin membacanya, Anda pun semakin tertarik untuk ikut.

Biaya normal Rp 7 juta. Promo hanya Rp 3,5 juta. Mahal? Sama sekali nggak. Justru ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis. Apalagi ini sudah termasuk makan siang. Btw, usia peserta dibatasi, maksimum 45 tahun.

Karena Anda sudah memutuskan untuk ikut, transfer saja ke BCA 4977-234-777 an Ippho D Santosa. Ya, boleh mentransfer hari ini atau besok.

Tapi ingat ya, harga promo ini berlaku terbatas (karena dapat naik sewaktu-waktu). Ya, naik bertahap sampai Rp 7 juta. Sengaja dinaikkan agar teman-teman cepat mendaftar dan kami pun cepat menyiapkan akomodasi dll.

Fyi, kelas ini hanya muat 20-an orang dan sebagian seat-nya sudah di-booking. Yang serius, silakan transfer lalu SMS 0812-8777-7100 (SMS, bukan WA, bukan telp). Selamat menjemput perubahan!
Waktu itu, saya bertemu dengan Prof Philip Kotler, Bapak Marketing No.1 Dunia. Dia mengingatkan, internet sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari manusia perkotaan. Bukan saja dalam pembelian barang, melainkan juga dalam komparasi harga. Saya pikir, ini ada benarnya.

Misalnya, walaupun seorang konsumen tengah berada dan belanja di swalayan, namun tetap saja dia meng-kroscek harga barang sejenis di internet. Diam-diam, dia googling. Cek harga. Kalau harga barang di swalayan itu dirasa wajar, barulah dia beli. Kalau dianggap tidak wajar, dia hold dulu.

Ketika konsumen semakin lama menghabiskan waktunya bersama handphone dan internet, terus kita masih saja fokus memasang spanduk dan menyebar flyer, menurut saya itu bukanlah sebuah keputusan yang cerdas. Sama sekali bukan.

Jangan tersinggung. Maksud saya, begini. Boleh-boleh saja kita cetak spanduk dan flyer, namun fokus utama kita adalah bagaimana mendominasi di Google dan Facebook, dua tongkrongan terbesar saat ini. Hendaknya begitu. Saya pribadi lebih menyukai Twitter. Tapi, harus saya akui, Facebook adalah socmed terbesar saat ini, baik di Indonesia maupun di dunia.

Bayangkan, akhir-akhir ini, sekitar 90 persen orang Indonesia memiliki ponsel. Bahkan 1 orang bisa punya 2 ponsel. Dan kemungkinan besar, ke depannya semua ponsel tersebut akan berbentuk smartphone. Ini menurut Account Strategist Google Indonesia, Ricky Tjok. Artinya, mereka semakin familier dengan  Google dan Facebook.

(Bagi teman-teman yang ingin mengetahui jadwal serta biaya magang Internet Marketing bersama saya, silakan SMS 0812-8777-7100.)

Perlu diketahui, Indonesia juga merupakan salah satu dari 12 negara di dunia yang penggunaan smartphone-nya lebih tinggi daripada penggunaan komputer. Melalui smartphone, masyarakat memanfaatkan fasilitas WA dan Telegram. Di samping fasilitas socmed.

Percayalah, promosi-promosi tradisional (spanduk, flyer, ruko, bazaar, pameran, dan sejenisnya) pelan-pelan mulai ditinggalkan dan ditanggalkan, terutama di kategori-kategori tertentu. Ada baiknya kita mulai melek dengan promosi-promosi berbasis internet. Saya harap Anda setuju.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mau hidup bahagia dan terhindar dari berbagai macam penyakit? Salah satu resepnya adalah memiliki pasangan (suami atau istri) yang tidak menyebalkan. Dengan kata lain, memiliki pasangan yang menyenangkan alias menentramkan.

Penelitian terkait hal ini digelar oleh Dr Bill Chopik dari Michigan State University, terhadap 2.000 pasangan selama 6 tahun. Para responden diminta terus-menerus melaporkan mengenai kondisi kebahagiaan dan kesehatan mereka.
 
Sebelumnya, riset bertajuk Novel Links Between Troubled Marriages, yang dihelat oleh Lisa Jaremka juga mengungkapkan perihal yang serupa. Hidup bahagia dan sehat salah satunya disebabkan oleh pasangan yang menyenangkan. Anda boleh menyebutnya, menentramkan.

Kejadian ini mengingatkan kita pada penciptaan Adam pertama kali. Adam tercipta dari tanah dan belum memiliki pasangan (istri). Walaupun sejak awal penciptaan, Adam sudah ditempatkan di surga, ternyata Adam tidak mampu menikmati keindahan surga secara sempurna tanpa adanya seorang pendamping hidup.

Di sinilah hikmah besar di balik pernikahan. Apa itu? Demi menghadirkan "kedamaian hidup" (sakinah) dalam kehidupan manusia. Allah menjadikan istri, sebagai sosok yang bisa menentramkan tatkala suami melihatnya. Sudah ribuan tahun, hal ini terbukti. Right?

Oleh karenanya, penciptaan Hawa bukan saja sebagai pendamping hidup Adam. Tapi yang lebih penting lagi adalah bahwa hanya dengan pernikahan atau dengan ditetapkannya "institusi nikah" manusia akan merasakan kedamaian hidup (sakinah) itu.

Siapa sih yang nggak mau hidup yang bahagia dan sehat? Nah, salah satu yang bisa menyebabkan itu adalah hadirnya pasangan yang menentramkan. Ya, riset dan dalil telah membuktikan hal ini sejak lama.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Malam itu, saya diajak dinner dan ngobrol santai oleh direksi-direksi PT SSS di Pangkalan Bun, Kalimantan. Tentang anak, inilah topik yang mendominasi percakapan kami pada saat itu. Dan alhamdulillah, menyenangkan. Soal parenting, lagi-lagi, keterlibatan ayah diperlukan di sini.

Menurut Mark Runco, Ph.D, Direktur Torrance Center for Creativity & Talent Development di University of Georgia, AS, setiap anak memiliki potensi untuk menjadi kreatif. Nah, sudah menjadi kewajiban orangtua untuk membantu mewujudkannya. Termasuk ayah.

Saat bersama anak, lazimnya ayah akan melibatkan anaknya pada aktivitas-aktivitas yang lebih berani dan lebih kreatif. Biasanya seperti itu, walaupun tidak jaminan juga. Contohnya, membuat handphone-handphone-an dari kotak bekas, menggunakan boneka tangan dengan beragam karakter, atau berkuda. Pokoknya, keberanian dan kreativitas sang ayah relatif berbeda dengan si ibu. 

Aktivitas-aktivitas yang sering dilakukan ayah bersama anak, misalnya mencuci motor, belajar sepeda, atau, memanah, jelas-jelas itu berkontribusi positif terhadap anak. Setidaknya, ini menjauhkan anak dari risiko kegemukan. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, sekitar 18,8% anak berusia 5-12 tahun mengalami masalah kegemukan.

Lantas, bagaimana dengan Nabi Muhammad? Ternyata beliau sangat senang melihat anak yang tengah bermain. Suatu hari, ketika selesai shalat, seseorang bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, engkau tadi sujud lama sekali, sampai-sampai kami mengira telah terjadi apa-apa atau engkau sedang menerima wahyu.”

Sambil tersenyum Nabi menjawab, “Tidak terjadi apa-apa, cuma tadi cucuku mengendaraiku, dan aku tidak mau terburu-buru sampai dia menyelesaikan permainannya sendiri." Sekiranya bermain itu tidak penting, tentulah beliau serta-merta menurunkan cucunya.

Ya, parenting bukanlah urusan ibu saja. Sekali lagi, bukan. Melainkan urusan bersama. Sesibuk-sibuknya ayah dalam bekerja dan mencari nafkah, hendaknya tetaplah menyisihkan waktu bersama anaknya. Saya harap Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.



(Teman-teman yang telah bergabung di channel Telegram @ipphoright, jangan lupa untuk mengajak keluarga dan teman-temannya untuk ikut bergabung di sini. Semoga sama-sama mendapat pencerahan)
Memiliki orangtua yang kaya memang membanggakan. Tapi dikaruniai orangtua yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya lebih membanggakan. Right?

Kalau ngomong orangtua dan keluarga, biasanya kita selalu membahasnya dengan penuh perhatian. Bahkan sampai terharu. Begitulah, hampir semua orang membanggakan orangtuanya. Dan itu sah-sah saja karena demikian besar jasa mereka.

Didikan dari orangtua selama belasan tahun, membekas dalam hati kita bahkan dalam tarikan nafas kita. Tak heran kalau kemudian itu mewarnai keputusan-keputusan kita. Bahkan mempengaruhi peruntungan kita. Dan ini jamak terjadi pada siapa saja, termasuk Anda dan saya.

Sekarang, giliran kita yang menjadi orangtua, setidaknya calon orangtua. Maka bawa pulanglah rezeki yang baik-baik, yang bersih. Jangan sampai kepolosan anak-anak kita di rumah, kita kotori dengan rezeki yang tidak halal. Jangan sampai.

Ingatlah, rezeki yang halal akan mempengaruhi peruntungan anak-anak kita dan keluarga kita. Sudah banyak contohnya. Apalagi kita ingin menjadi orangtua yang benar-benar dibanggakan oleh anak-anaknya. Betul apa betul?

Menurut riset Thomas Stanley, sikap jujur adalah salah satu faktor penentu menuju kesuksesan. Selanjutnya, menurut riset Anita Kelly dan Lijuan Wang dari University of Notre Dame, jika ingin hidup tenang dan sehat, maka berhentilah berbohong. Ya, demikianlah faktanya!

Sukses atau tidak, terkenal atau tidak, kaya atau tidak, sudah semestinya kita berusaha menjadi orangtua yang bisa dibanggakan oleh anak-anak kita. Dengan apa? Dengan menjadi sosok yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya, apapun profesi kita. Saya yakin, Anda setuju dengan saya.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.



...
"Magang dan training bersama Pak Ippho memang luar biasa. Alhamdulillah saya bisa closing produk sorban saya 13 buah (dan respons terus berdatangan), dalam waktu kurang dari 3 jam setelah saya mempraktekkan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh mentor. Dan itu semua hanya melalui internet."

"Saya yang awalnya promosi serampangan, akhirnya jadi tahu celah-celahnya agar laris-manis jualan di internet. Selain itu, di sela-sela magang, juga ada kesempatan di mana kita bebas berkonsultasi langsung dengan Pak Ippho."

"Pak Ippho dan tim memang luar biasa. Mentor-mentor yang didatangkan juga orang-orang pilihan. Bagi teman-teman semua, jangan sia-siakan kesempatan ini. Di sini kita tinggal mengikuti saja langkah-langkah yang dijelaskan oleh para mentor. Nah, setelah itu, pembeli yang akan mencari kita."

Ini pengalaman Cahyo dari Purwokerto ketika mengikuti magang dan training #InternetMarketing di kantor saya. Sebelumnya ada juga testimoni dari seorang ibu rumah tangga dan seorang guru yang awal-awalnya tidak paham sama sekali soal internet. Begitu ikut training, akhirnya mereka paham juga. Closing.

Selain ilmu-ilmu praktis, peserta juga mendapat kenalan-kenalan baru yang berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Ya, ini benar-benar kesempatan langka. Dan semakin membaca ini, Anda pun semakin berminat.

Kabar baiknya, training #InternetMarketing berikutnya akan diadakan lagi di kantor saya di BSD (dekat Jakarta) pada 14 Mei-21 Mei 2017, jam 08.00-17.00. Harga promo hanya Rp3,5juta (berlaku sampai 30 Maret saja). 

Karena Anda sudah memutuskan untuk ikut, transfer saja ke BCA 4977-234-777 an Ippho D Santosa. Ya, boleh mentransfer hari ini atau besok. Yang serius, silakan transfer lalu SMS 0812-8777-7100 (SMS, bukan WA, bukan telp). Fyi, kelas ini hanya muat 20-an orang dan sebagian seat-nya sudah di-booking.

Perlu diingatkan kembali, harga promo ini berlaku terbatas (sampai 30 Maret). Karena harga akan naik bertahap sampai Rp 7 juta. Sengaja dinaikkan agar teman-teman cepat mendaftar dan kami pun cepat menyiapkan akomodasi dll.

Selamat menjemput perubahan!
Sedahsyat apa Instagram itu?

Aplikasi berbagi foto dan video Instagram mencatat angka spektakuler dari segi penggunaannya. Kini layanan Instagram dipakai oleh 500 juta user per bulan.

Dan 300 jutanya menggunakan layanan ini setiap hari. Ya, setiap hari. Hebatnya lagi, komunitas Instagram bertumbuh lebih dari dua kali lipat selama 2 tahun terakhir.

Terus-terang saja, serbuan Instagram telah mengalahkan Twitter, di mana Twitter sejak 2016 mengalami stagnan pertumbuhan pengguna di angka 300 juta user saja.

Btw, nama akun Instagram saya sama seperti Twitter dan channel Telegram, yaitu @ipphoright. Yang asli cuma itu. Dengan kata lain, yang lain adalah palsu. Hati-hati.

Gimana dengan Indonesia? Instagram sendiri memiliki 22 juta pengguna aktif bulanan di Indonesia. Dan angka tersebut terus meningkat secara drastis setiap harinya.

Di buku-buku saya telah lama dijelaskan bahwa dunia akan semakin memanjakan otak kanan. Visual, animasi, video, musik, dan entertainment, itu semua bagian dari otak kanan. Dan itu dihadirkan oleh Instagram.

Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pengguna Instagram terbanyak, di mana 89 % Instagrammers-nya berusia 18-34 tahun. Ya, mereka produktif sekaligus konsumtif. Kalau Anda entrepreneur, mestinya Anda melirik ini sebagai peluang.

Serunya lagi, Instagram di Indonesia disebut-sebut sebagai kanvas kreativitas bagi komunitas mobile-first yang muda dan antusias. Dan tak kalah serunya, pengguna Instagram diyakini lebih mapan finansial daripada pengguna Facebook. Sebut saja, lebih berdaya beli.

Sekiranya Anda entrepreneur atau marketer, mestinya Anda mencermati juga mengamati fenomena ini baik-baik. Dan ingatlah, di mana ada keramaian, di situlah hadir penawaran. Bukankah begitu?

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

 
Punya kenalan yang interpreter alias penerjemah?

2 dan 8 April kita ada international event di Jabodetabek (dan sekitarnya).

Kami tengah mencari interpreter yang mampu menerjemah secara aktif dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Syarat lainnya? Pria dan muslim. Lebih diutamakan kalau pernah kuliah atau kerja di luar negeri.

Sekiranya memenuhi syarat, silakan email CV ke: yantis16@gmail.com

Kami tunggu email-nya sampai 25 Maret 2017. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dicari interpreter (penerjemah) untuk Dr Zakir Naik.

2 April dan 8 April kita ada international event bersama Dr Zakir Naik di Bandung dan Bekasi.

Kami tengah mencari interpreter yang mampu menerjemah secara aktif dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Syarat lainnya? Pria dan muslim. Lebih diutamakan kalau pernah kuliah atau kerja di luar negeri.

Sekiranya memenuhi syarat, silakan email CV ke Bu Yanti: yantis16@gmail.com

Kami tunggu email-nya sampai 25 Maret 2017. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda lebih aktif di mana? Facebook, Twitter, atau Instagram?

Btw, inilah potret pengguna Instagram di Indonesia, menurut Paul Webster:

Pengguna Instagram di Indonesia 59% adalah anak muda, berusia 18-24 tahun yang relatif terdidik dan relatif mapan. Mereka produktif sekaligus konsumtif.

88% pengguna menggunakan filter dan 97% menggunakan fitur search untuk mencari informasi yang lebih spesifik. Artinya, mereka tahu apa yang mereka butuhkan.

97% pengguna menuliskan komentar pada postingan dan menandai (mention) teman-teman mereka, di mana ini akan mendorong proses pencarian di Instagram.

85% pengguna memposting di media sosial lainnya langsung dari Instagram (cross posting). Biasanya ke Facebook dan Twitter.

Mode dan teknologi menjadi produk yang paling populer di antara para pengguna Instagram di Indonesia. Namun herbal juga dicari-cari.

Masyarakat Indonesia menggunakan Instagram untuk mencari inspirasi, mencari informasi, mengikuti tren, dan berbagi pengalaman saat bepergian.

49% pengguna membeli produk dari penjual/merek yang mereka ikuti (follow).

Fakta terakhir ini sangat menarik bagi entrepreneur dan marketer. Itu artinya, Anda harus segera membuat akun Instagram, mengajak netizen mem-follow akun Anda, dan sekitar 50% akan membeli dari Anda. Yah, masalah waktu saja.

Bagaimana dengan Anda? Siap?

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda tahu:
-       Siapa mentornya Soekarno?
-       Siapa mentornya Tan Malaka?
-       Siapa mentornya M. Natsir?

Ternyata orangnya yang sama. Siapakah orang hebat itu? Dialah HOS Tjokroaminoto, gurunya para pendiri bangsa, yang juga perintis Serikat Dagang Islam. Sejarahnya dituliskan berkali-kali dan tak habis-habis.

Semalam Pak Jamil Azzaini bersama belasan muridnya (para hafiz yang juga kandidat leader) bertandang ke kantor saya di BSD. Kata Pak Jamil, murid-muridnya yang hebat itu pengen belajar langsung sama saya.

Zaman sekarang, boleh-boleh saja kita belajar via socmed, terutama Facebook, Instagram, dan YouTube. Tapi, nggak cukup. Namanya adab, spirit, dan passion, hanya bisa kita rasakan kalau bertemu langsung sang mentor.

Btw, ini tulisan Pak Jamil Azzaini soal pertemuan kemarin >> http://www.jamilazzaini.com/melahirkan-pemimpin/
Di bawah ini ialah 10 kota dengan biaya hidup paling murah dan 10 kota dengan biaya hidup paling mahal di dunia, menurut badan analisa Economic Intelligence Unit (EIU):

Termurah:
1. Almaty, Kazakhstan
2. Lagos, Nigeria
3. Bangalore, India
4. Karachi, Pakistan
5. Algiers, Aljazair
6. Chennai, India
7. Mumbai, India
8. Kiev, Ukraina
9. Bucharest, Romania
10. New Delhi, India

Termahal:
1. Singapura
2. Hong Kong
3. Zurich, Swiss
4. Tokyo, Jepang
5. Osaka, Jepang
6. Seoul, Korea Selatan
7. Geneva, Swiss
8. Paris, Perancis
9. New York, Amerika Serikat
10. Copenhagen, Denmark

Di Indonesia, sebagian keluarga yang memilih Jogja dan Malang sebagai tempat kuliah biasanya karena dua alasan. Pertama, bagus mutu pendidikannya. Kedua, murah biaya hidupnya. Ya, ada asumsi-asumsi semacam itu.

Namun demikian, memilih kota yang murah biaya hidupnya bukanlah faktor penentu. Sama sekali bukan. Yang lebih utama adalah mengendalikan biaya hidup.

Mengendalikan biaya hidup sangatlah penting. Seringkali orang gagal dan terjungkal mencapai mapan finansial karena nggak ngeh terhadap 'kebocoran' dalam biaya hidup. Selain itu, mereka pun masih teramat awam dalam membedakan antara needs dan wants.

Sebuah riset dari Kadence International Indonesia pada tahun 2013 menemukan fakta bahwa 28% masyarakat Indonesia memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan. Kalau menurut saya, mungkin kenyataannya melampaui angka 28%.

Pada akhirnya, mari kita cek pengeluaran bulanan kita. Amati. Cermati. Mana yang perlu, mana yang tidak perlu, mana yang bisa ditunda. Lalai dan abai dalam mengkategorikan, bisa membuat kita terjerumus dalam 'besar pasak daripada tiang'. Hati-hati.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.



( Silakan bergabung ke channel Telegram @ipphoright )
Pengiklan di Instagram (IG) melonjak sampai 1 jutaan. Meningkat dua kali lipat sejak September 2016 lalu. Yah, tahu sendiri jumlah pengguna aktif Instagram setiap harinya mencapai 400 juta orang.

Apa sebabnya? Menurut James Quarles, ada beberapa sebab. Pertama, Instagram memang tempat di mana orang mengikuti passion-nya, seperti musisi, bisnis, hobi, dan sebagainya. Bahkan, menurut statistik, 80% pengguna di Instagram menjadi pengikut akun bisnis tertentu (dikutip dari Kompas).

Kedua, kemudahan dalam menggunakan Instagram juga menjadi pendukung. "Cuma butuh empat kali tap di layar untuk membuat akun profil bisnis," kata James Quarles. Ketiga, Instagram mampu membuat penggunanya melakukan aksi nyata, bukan sekadar mem-follow akun, memberi like, atau memberi komentar, namun Instagram juga mampu meyakinkan pengguna untuk membuka situs produk.

Terlepas dari itu, inilah konten-konten yang paling banyak di-share di Instagram:

- Selfie. Makanan yang dimakan, barang yang telah dibeli, dan barang yang mau dijual.

- Foto atau video dari keluarga. Peristiwa khusus, binatang peliharaan, alam terbuka, dan tempat yang pernah dikunjungi.

- Foto atau video perjalanan (pribadi, keluarga, teman main, atau rekan kerja).

- Foto atau video yang ditemukan secara online.

- Kutipan atau meme.

Nah, sudahkah Anda memanfaatkan Instagram untuk pemasaran produk secara optimal? Ingat, pengguna Instagram adalah netizen-netizen yang produktif dan konsumtif. Sayang sekali kalau tidak dikelola secara optimal. Sekian dari saya, Ippho Santosa (IG: @ipphoright).
Hari itu saya menonton film komedi Vacation yang dibintangi oleh Chris Hemsworth, Ed Helms, dan Christina Applegate. Di film itu, sang ayah yang bertahun-tahun menjadi pilot biasa di maskapai lokal dengan gaji kecil selalu dikomplen oleh keluarganya.

Dengan gajinya yang kecil itu, terang saja dia nggak bisa memboyong keluarganya berlibur ke luar negeri. Istri dan anak-anaknya pun membayangkan seandainya ia menjadi pilot hebat di maskapai internasional dengan gaji besar, pastilah mereka mampu berlibur ke luar negeri.

Mereka semua tidak tahu, ternyata sang ayah sering ditawari bekerja di maskapai internasional. Namun ia tetap memilih bekerja di maskapai lokal. Kenapa? Di akhir cerita barulah mereka tahu, sang ayah sengaja melakukan itu agar bisa selalu dekat dengan anak-anaknya.

Kalau saja ia menerima tawaran tersebut dan menjadi pilot di maskapai internasional, tentulah ia sering bertugas di luar negeri dan jarang bertemu anak-anaknya. Begitulah para ayah, diam-diam sering berkorban demi dekat dengan anak-anaknya.

Satu hal, kedekatan anak dengan ayah ini bukanlah suatu kesia-siaan.

Menurut Dr. Howard Dubowitz, MD, dari University of Maryland Medical Center, anak perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan ayahnya memiliki kenyamanan diri yang lebih tinggi dan rasa depresi yang lebih rendah.

Sedangkan anak laki-laki yang diasuh dengan keterlibatan ayahnya akan lebih mengenal 'dunia pria'. Maksudnya, ia akan merasa sedikit lebih berani, spontan, dan tidak egois. Bukan itu saja, saat dewasa kelak, ia akan menjadi sosok yang lebih toleran dan pengertian.

Sekali lagi, kedekatan anak dengan ayah ini bukanlah suatu kesia-siaan. Sesibuk apapun seorang ayah untuk urusan penafkahan, tetaplah ia harus memiliki waktu untuk anaknya. Toh ujung-ujungnya si ayah juga yang beroleh manfaatnya di mana kelak anak akan lebih sayang dan berbakti.

Terlepas dari itu, soal rasa sayang ayah terhadap anaknya, saya pribadi merasa film drama Collateral Beauty yang diperankan oleh Will Smith, Kate Winslet, dan Keira Knightley, adalah salah satu film keluarga yang paling menggugah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Masyarakat Indonesia doyan mengotak-atik Instagram untuk mencari inspirasi, mencari tren, dan sharing soal travelling. Tanpa disadari, para pemain Instagram telah mendorong pertumbuhan bisnis-bisnis tertentu di Indonesia dan ternyata dampaknya lumayan signifikan. Pariwisata, kuliner, dan herbal adalah beberapa di antaranya.

"Mayoritas Instagrammers adalah anak-anak muda yang terdidik dan mapan. Rata-rata mereka berusia 18-24 tahun, tepatnya sebanyak 59%. Pengguna perempuan yang paling aktif sebanyak 63% dan laki-laki 37%," ujar Paul Webster, Brand Development Lead Instagram untuk Asia Pasifik.

Secara umum, mereka tidak pernah pusing soal pulsa dan kuota. Sebaliknya, mereka produktif sekaligus konsumtif. Itu artinya, mereka berani spending di online shop. Mereka pun proaktif dalam mencari informasi, tidak pasif menunggu. Bahkan mereka mampu mempengaruhi netizen yang lain dalam hal mengabarkan, berbelanja, berpakaian, dan berwisata.

Dengan pasar sepotensial ini, sudahkah Anda menggarap para Instagrammers ini secara optimal? Atau cuma sekedar punya akun IG tapi tidak teroptimasi dengan efektif? Sekali lagi, ini adalah pasar yang sangat potensial. Teramat sayang kalau diabaikan, terutama jika Anda seorang marketer atau entrepreneur. Think.

Sekian dari saya, Ippho Santosa (IG @ipphoright).
Berita lokal masih mendominasi penggunaan Internet di Indonesia, tepatnya sebesar 97,4% atau 123 juta orang dari total keseluruhan pengguna Internet, yaitu sebesar 132,7 juta pengguna. Sedangkan sisanya sekitar 3,6% mengakses konten-konten yang lain.

Trend e-commerce yang tengah menggeliat di Indonesia dinilai mendongkrak pengguna Internet melakoni online shopping. Sebanyak 62% atau 82,2 juta orang telah melakukan online shopping. Sementara 38% lainnya belum melakukannya, tapi sepertinya segera menyusul.

Suka atau tidak, siap atau tidak, zaman telah berubah. Cara mendapatkan konsumen juga berubah. Salah satunya, via internet. Nah, sudahkah kita menguasainya? Mari kita simak pernyataan berikut ini.

"Alhamdulillah baru belajar 3 hari, blog saya berhasil masuk di halaman 3 Google. Nggak cuma 1 blog, tapi 3 blog. Dan ini berkat belajar serta Magang Internet Marketing di kantor Pak Ippho."

"Terima kasih Pak Ippho dan tim yang telah membimbing kami, sehingga kami mengerti bagaimana caranya agar web dan blog kita bisa masuk di halaman depan Google. Walaupun saat ini saya baru berhasil di halaman 3."

"Pokoknya oke banget rasanya, bisa ikut magang di kantornya Pak Ippho," ini testimoni dari Erik Sahadad.

Teman-teman mau ikut magang Internet Marketing di kantor saya? Biaya normal Rp 7 juta. Harga promo hanya Rp 3,5 juta (berlaku sampai 30 Maret). Kapan magangnya? Pertengahan Mei, selama 8 hari, insya Allah.

Yang serius, silakan SMS 0812-8777-7100 (SMS, bukan WA, bukan telp). Segera saja. Karena saat ini cuma tersisa beberapa seat saja.
Berapa gaji Anda sebulan?
Berapa laba Anda sebulan?

Hati-hati, itu semua akan tergerus inflasi kalau tidak di-backup dengan investasi. Saran saya, 20% uang kita (entah jumlahnya kecil atau besar) mesti dialokasikan untuk investasi. Kalau belum bisa 20%, yah setidaknya 10% setiap bulannya.

Lha, kalau hidupnya pas-pasan, gimana? Hehe, nggak usah nanya. Dari wajahnya, ketahuan. Justru masih pas-pasan, perlu investasi. Kalau sudah kaya-raya, mungkin nggak perlu investasi.

Terus, investasi pada apa? Boleh pada bisnis, properti, atau reksadana syariah. Gimana dengan emas? Itu harus. Karena emas adalah stabilizer. Anda bisa membelinya di Antam atau Pegadaian. Ingatlah, saat kita bekerja, hendaknya uang kita juga ikut bekerja. Itulah yang disebut investasi. In-ves-ta-si.

Apa nggak cukup, dengan sedekah saja? Nabi dan istri Nabi bersedekah, tapi mereka juga berbisnis dan berinvestasi. Ini bagian dari ikhtiar dunia. Dengan kata lain, semua dilakukan, bukan salah satunya saja. Imbang, nggak timpang.

Sebenarnya, semua orang bisa melakukannya. Berinvestasi. Percayalah, bukan uang yang tiada. Tapi kedisiplinan yang tiada. Saya berharap Anda termasuk orang yang disiplin karena ini adalah resep sukses seorang investor. Sekian dari saya, Ippho Santosa.