Walaupun punya beberapa kelemahan kelemahan, tetap saja emas menyandang sederet kelebihan yang menakjubkan. Tak terbantahkan. Beberapa netizen pun sempat bertanya kepada saya, soal emas.
Mungkin Anda tahu, saya dan tim saya, setiap akhir bulan, berusaha rutin menabung emas. Bukan rahasia lagi, emas menjadi solusi nyata bagi kita yang tengah mempersiapkan dana umrah, dana haji, biaya pendidikan, DP kendaraan, dan DP rumah.
Semua orang maklum, dari segi capital gain, properti menang telak dan mutlak ketimbang emas. Namun properti juga menyimpan kelemahan tersendiri, misalnya tidak likuid (perlu proses lama untuk jual-beli), dikekang aturan bank, dan modal relatif besar. Kalau emas? Likuid, bebas bank, dan modal relatif kecil. Rp 100 ribu juga bisa.
Emas itu stabilizer. Benar, emas tidak bisa melipatagandakan kekayaan kita. Akan tetapi, emas bisa menjaga kekayaan kita. Dalam jangka panjang, inflasi pastilah kalah telak dan mutlak jika berhadap-hadapan dengan emas. Sedangkan #InvestEmas dalam jangka pendek, trading, derivatif, dan perhiasan, TIDAK saya anjurkan. Sekali lagi, tidak saya anjurkan.
Sebagai alternatif investasi, coba rutinkan setiap bulannya membeli emas minimal Rp 100 ribu. Rutin. Tiga tahun kemudian, Anda akan melihat dan merasakan keajaiban. Karena dalam jangka panjang emas selalu naik dan ini sudah terbukti selama 14 abad. Anda bisa membeli emas di toko emas, Antam, atau Pegadaian.
Selamat mencoba!
Mungkin Anda tahu, saya dan tim saya, setiap akhir bulan, berusaha rutin menabung emas. Bukan rahasia lagi, emas menjadi solusi nyata bagi kita yang tengah mempersiapkan dana umrah, dana haji, biaya pendidikan, DP kendaraan, dan DP rumah.
Semua orang maklum, dari segi capital gain, properti menang telak dan mutlak ketimbang emas. Namun properti juga menyimpan kelemahan tersendiri, misalnya tidak likuid (perlu proses lama untuk jual-beli), dikekang aturan bank, dan modal relatif besar. Kalau emas? Likuid, bebas bank, dan modal relatif kecil. Rp 100 ribu juga bisa.
Emas itu stabilizer. Benar, emas tidak bisa melipatagandakan kekayaan kita. Akan tetapi, emas bisa menjaga kekayaan kita. Dalam jangka panjang, inflasi pastilah kalah telak dan mutlak jika berhadap-hadapan dengan emas. Sedangkan #InvestEmas dalam jangka pendek, trading, derivatif, dan perhiasan, TIDAK saya anjurkan. Sekali lagi, tidak saya anjurkan.
Sebagai alternatif investasi, coba rutinkan setiap bulannya membeli emas minimal Rp 100 ribu. Rutin. Tiga tahun kemudian, Anda akan melihat dan merasakan keajaiban. Karena dalam jangka panjang emas selalu naik dan ini sudah terbukti selama 14 abad. Anda bisa membeli emas di toko emas, Antam, atau Pegadaian.
Selamat mencoba!
Investasi emas saat ini adalah pilihan yang sangat rasional. Kenapa? Karena tak semua orang mampu membeli properti. Dan tak semua orang punya ilmu tentang saham. Mungkin di antara kita banyak yang termasuk dalam dua kelompok ini.
Investasi emas merupakan pilihan favorit yang dilakukan masyarakat sejak dulu sampai sekarang. Bagaimana dengan Anda? Pengen berinvestasi emas yang aman, ringan, sekaligus menguntungkan? Baiklah, saya akan berbagi tips dalam sejumlah tulisan.
Sebelum #InvestEmas, baiknya tentukan dulu apa tujuan Anda, misalnya untuk DP rumah, DP kendaraan, DP haji, DP umrah, dana darurat, dana pensiun, dana pendidikan, modal usaha, biaya pernikahan, biaya liburan, dan lain sebagainya.
Setelah itu, tentukan jangka waktunya, apakah itu jangka waktu pendek (1 hingga 3 tahun), jangka menengah (4 hingga 7 tahun), atau jangka panjang (lebih dari 7 tahun). Sebenarnya, lebih panjang lebih baik. Hukum Compound akan bekerja.
Investasi emas relatif berbeda dengan investasi saham atau reksadana. Harga emas cenderung selalu naik. Terutama dalam jangka panjang. Selain itu, emas bisa langsung diuangkan (likuid) kalau-kalau Anda butuh tunai.
Anda bisa membeli emas yang terjamin aslinya di Antam. Kalau mau lebih fleksibel, Anda bisa membuka rekening tabungan emas di Pegadaian. Tabung ya, bukan cicil. Saya pun melakukan ini, menabung emas di Pegadaian. Setidaknya, Anda bisa membeli emas di toko emas terdekat. Yang penting, belinya disiplin setiap bulannya.
Ayo praktek! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Investasi emas merupakan pilihan favorit yang dilakukan masyarakat sejak dulu sampai sekarang. Bagaimana dengan Anda? Pengen berinvestasi emas yang aman, ringan, sekaligus menguntungkan? Baiklah, saya akan berbagi tips dalam sejumlah tulisan.
Sebelum #InvestEmas, baiknya tentukan dulu apa tujuan Anda, misalnya untuk DP rumah, DP kendaraan, DP haji, DP umrah, dana darurat, dana pensiun, dana pendidikan, modal usaha, biaya pernikahan, biaya liburan, dan lain sebagainya.
Setelah itu, tentukan jangka waktunya, apakah itu jangka waktu pendek (1 hingga 3 tahun), jangka menengah (4 hingga 7 tahun), atau jangka panjang (lebih dari 7 tahun). Sebenarnya, lebih panjang lebih baik. Hukum Compound akan bekerja.
Investasi emas relatif berbeda dengan investasi saham atau reksadana. Harga emas cenderung selalu naik. Terutama dalam jangka panjang. Selain itu, emas bisa langsung diuangkan (likuid) kalau-kalau Anda butuh tunai.
Anda bisa membeli emas yang terjamin aslinya di Antam. Kalau mau lebih fleksibel, Anda bisa membuka rekening tabungan emas di Pegadaian. Tabung ya, bukan cicil. Saya pun melakukan ini, menabung emas di Pegadaian. Setidaknya, Anda bisa membeli emas di toko emas terdekat. Yang penting, belinya disiplin setiap bulannya.
Ayo praktek! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apa impian Anda?
Belum tercapai?
Padahal Anda:
- Sudah berusaha...
- Sudah berdoa...
- Sudah sedekah...
Maka, yang jadi pertanyaan adalah, "Sudahkah impian itu diselaraskan?"
Inilah pesan guru saya, "Apapun impianmu, selaraskan dan komunikasikan dengan orang-orang terdekatmu. Seperti istri, ayah, dan ibu. Syukur-syukur kalau para sahabat turut mendukungmu."
Benarkah seperti itu? Ya benar, seperti itu. Semakin banyak, semakin selaras, yah semakin melaju. Kalau perlu, sebangsa setuju dan turut mendukungmu.
Dalam perusahaan, ini namanya Vision Alignment. Segala visi dan target di perusahaan hendaknya diselaraskan dan dikomunikasikan dengan seluruh tim juga keluarga mereka masing-masing.
Target, kalau selaras, akan terjadi percepatan. Kalau tidak selaras, sebaliknya, akan terjadi perlambatan. Pada akhirnya, mari kita selaraskan visi dan target kita dengan orang-orang terdekat, bukan saja tim di kantor tapi juga keluarga di rumah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya tulisan ini, terutama dengan rekan kerja kita di kantor.
Belum tercapai?
Padahal Anda:
- Sudah berusaha...
- Sudah berdoa...
- Sudah sedekah...
Maka, yang jadi pertanyaan adalah, "Sudahkah impian itu diselaraskan?"
Inilah pesan guru saya, "Apapun impianmu, selaraskan dan komunikasikan dengan orang-orang terdekatmu. Seperti istri, ayah, dan ibu. Syukur-syukur kalau para sahabat turut mendukungmu."
Benarkah seperti itu? Ya benar, seperti itu. Semakin banyak, semakin selaras, yah semakin melaju. Kalau perlu, sebangsa setuju dan turut mendukungmu.
Dalam perusahaan, ini namanya Vision Alignment. Segala visi dan target di perusahaan hendaknya diselaraskan dan dikomunikasikan dengan seluruh tim juga keluarga mereka masing-masing.
Target, kalau selaras, akan terjadi percepatan. Kalau tidak selaras, sebaliknya, akan terjadi perlambatan. Pada akhirnya, mari kita selaraskan visi dan target kita dengan orang-orang terdekat, bukan saja tim di kantor tapi juga keluarga di rumah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya tulisan ini, terutama dengan rekan kerja kita di kantor.
Kekayaan Raja Salman sempat membuat kita geleng-geleng kepala. Tak ayal lagi, sebagian orang langsung berharap. Namun, sebelum beliau dan rombongan tiba di Indonesia, saya sempat berpesan kepada peserta magang di kantor saya, "Don't expect too much."
Silakan menjamu dan memuliakan beliau sebagai tamu istimewa. Tapi kita sebagai bangsa Indonesia dan sebagai umat Muslim jangan berharap berlebihan atas kedatangan Raja Salman. Bukan apa-apa, kuatirnya nanti malah kecewa.
Btw, mungkinkah pengusaha Indonesia bisa sekaya beliau?
Perluas wawasan kita. Buka pikiran kita. Kalau binatang saja dijamin rezekinya, apalagi manusia, apalagi orang beriman! Padahal binatang nggak pernah sekolah, nggak pernah kuliah! Hehehe.
Kebanyakan kita, punya uang dulu, baru yakin. Nggak punya uang, nggak yakin. Ngawur itu. Makanya selalu keteteran uang. Nggak datang-datang uangnya, hehe. Lha, harusnya? Yah, yakin dulu. Sekali lagi, yakin dulu.
Terkait penafkahan, bukan rezeki yang kurang. Mungkin keyakinan dan ikhtiar yang kurang. Akhirnya uang yang disalahkan dan dipermasalahkan. Ini menyesatkan.
Ketika Anda gagal, berarti itu adalah signal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Mungkin ikhtiar Anda. Mungkin akhlak Anda. Mungkin amal Anda. Atau yang lainnya.
Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Silakan menjamu dan memuliakan beliau sebagai tamu istimewa. Tapi kita sebagai bangsa Indonesia dan sebagai umat Muslim jangan berharap berlebihan atas kedatangan Raja Salman. Bukan apa-apa, kuatirnya nanti malah kecewa.
Btw, mungkinkah pengusaha Indonesia bisa sekaya beliau?
Perluas wawasan kita. Buka pikiran kita. Kalau binatang saja dijamin rezekinya, apalagi manusia, apalagi orang beriman! Padahal binatang nggak pernah sekolah, nggak pernah kuliah! Hehehe.
Kebanyakan kita, punya uang dulu, baru yakin. Nggak punya uang, nggak yakin. Ngawur itu. Makanya selalu keteteran uang. Nggak datang-datang uangnya, hehe. Lha, harusnya? Yah, yakin dulu. Sekali lagi, yakin dulu.
Terkait penafkahan, bukan rezeki yang kurang. Mungkin keyakinan dan ikhtiar yang kurang. Akhirnya uang yang disalahkan dan dipermasalahkan. Ini menyesatkan.
Ketika Anda gagal, berarti itu adalah signal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Mungkin ikhtiar Anda. Mungkin akhlak Anda. Mungkin amal Anda. Atau yang lainnya.
Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Menjelang #InvestEmas, baiknya kita tentukan dulu apa tujuannya, apakah untuk DP rumah, DP kendaraan, DP haji, DP umrah, dana darurat, dana pensiun, dana pendidikan, modal usaha, biaya pernikahan, biaya liburan, atau lain sebagainya.
Setelah tujuannya yang jelas, nah, barulah kita menentukan strateginya. Pertama, kita harus tahu dulu seberapa banyak emas yang bisa kita kumpulkan dan seberapa lama. Tentunya hal ini harus disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki saat ini.
Saat membeli emas, pasti Anda ingin tahu berapa harganya. Sebaiknya belilah emas dari Pegadaian atau Antam, karena mutunya terjamin dan harganya terpercaya. Anda pun bisa mengunjungi web mereka. Di sini, Anda bisa mendapatkan berbagai informasi mengenai emas secara rinci setiap harinya.
Menariknya, di Pegadaian Anda bisa membuka rekening tabungan emas dengan modal minim. Misal, Rp100ribu. Ini bukan cicil emas, melainkan tabungan emas atau investasi emas. Tentunya, sebaik-baiknya dilakukan rutin setiap bulannya dan dalam jangka panjang. Saran saya, minimal 3 tahun.
Finally, happy investing!
Setelah tujuannya yang jelas, nah, barulah kita menentukan strateginya. Pertama, kita harus tahu dulu seberapa banyak emas yang bisa kita kumpulkan dan seberapa lama. Tentunya hal ini harus disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki saat ini.
Saat membeli emas, pasti Anda ingin tahu berapa harganya. Sebaiknya belilah emas dari Pegadaian atau Antam, karena mutunya terjamin dan harganya terpercaya. Anda pun bisa mengunjungi web mereka. Di sini, Anda bisa mendapatkan berbagai informasi mengenai emas secara rinci setiap harinya.
Menariknya, di Pegadaian Anda bisa membuka rekening tabungan emas dengan modal minim. Misal, Rp100ribu. Ini bukan cicil emas, melainkan tabungan emas atau investasi emas. Tentunya, sebaik-baiknya dilakukan rutin setiap bulannya dan dalam jangka panjang. Saran saya, minimal 3 tahun.
Finally, happy investing!
"Kok nggak berani buka usaha?"
"Takut, Pak. Takut rugi, takut jatuh miskin."
"Apa? Takut miskin? Emang pernah kaya?"
Hehehe...
Ada semacam ketakutan yang nggak jelas ketika seseorang disuruh buka usaha. Lazimnya, karena takut rugi.
Kali ini saya tak mau berdebat. Alih-alih berdebat, saya mau menawarkan solusi saja.
Ya, sebuah solusi buat Anda. Maksudnya?
Saya mau menawarkan sebuah peluang usaha tanpa modal. Anda tidak salah baca, ini beneran, tanpa modal.
Yang penting, Anda punya handphone dan mau berusaha.
Lha, gimana caranya? Sabar ya. Besok saya umumkan.
"Takut, Pak. Takut rugi, takut jatuh miskin."
"Apa? Takut miskin? Emang pernah kaya?"
Hehehe...
Ada semacam ketakutan yang nggak jelas ketika seseorang disuruh buka usaha. Lazimnya, karena takut rugi.
Kali ini saya tak mau berdebat. Alih-alih berdebat, saya mau menawarkan solusi saja.
Ya, sebuah solusi buat Anda. Maksudnya?
Saya mau menawarkan sebuah peluang usaha tanpa modal. Anda tidak salah baca, ini beneran, tanpa modal.
Yang penting, Anda punya handphone dan mau berusaha.
Lha, gimana caranya? Sabar ya. Besok saya umumkan.
Seringkali orang batal membuka usaha karena alasan modal. Katanya, nggak punya modal. Kalaupun punya modal, takut modalnya hilang alias rugi.
Kali ini saya ingin memberikan solusi buat Anda yang ingin:
- memulai usaha tanpa modal
- marginnya lumayan
- resikonya minim
- produknya standar internasional
- khasiat terasa dalam 14 sampai 21 hari
Sampai di sini, Anda pun mulai tertarik dengan peluang ini. Toh ini tanpa modal.
Coba bayangkan, saat Anda gigih menawarkan dan menjual dalam 3 bulan, bukan mustahil insentif (komisi) yang Anda terima sama dengan pendapatan Anda saat ini. Yang penting, Anda sungguh-sungguh saja.
Berikut ini adalah link-nya:
http://BPaffiliate.com/
Karena usaha ini teramat mudah dan menguntungkan, Anda pun semakin tertarik untuk mencoba dan menekuninya. Tapi jangan anggap enteng. Soalnya, rumus sukses di mana-mana yah sama saja. Anda perlu sungguh-sungguh.
Sekiranya Anda ingin mengubah nasib, mungkin Anda merasa inilah momentum-nya. Sering kali peluang datang tapi hilang begitu saja karena kita kebanyakan alasan.
Saatnya bermental pemenang. Seperti apa mental pemenang itu? Minim alasan, surplus action. Nah, karena Anda sudah memutuskan untuk mulai, klik saja >> http://BPaffiliate.com/
Kali ini saya ingin memberikan solusi buat Anda yang ingin:
- memulai usaha tanpa modal
- marginnya lumayan
- resikonya minim
- produknya standar internasional
- khasiat terasa dalam 14 sampai 21 hari
Sampai di sini, Anda pun mulai tertarik dengan peluang ini. Toh ini tanpa modal.
Coba bayangkan, saat Anda gigih menawarkan dan menjual dalam 3 bulan, bukan mustahil insentif (komisi) yang Anda terima sama dengan pendapatan Anda saat ini. Yang penting, Anda sungguh-sungguh saja.
Berikut ini adalah link-nya:
http://BPaffiliate.com/
Karena usaha ini teramat mudah dan menguntungkan, Anda pun semakin tertarik untuk mencoba dan menekuninya. Tapi jangan anggap enteng. Soalnya, rumus sukses di mana-mana yah sama saja. Anda perlu sungguh-sungguh.
Sekiranya Anda ingin mengubah nasib, mungkin Anda merasa inilah momentum-nya. Sering kali peluang datang tapi hilang begitu saja karena kita kebanyakan alasan.
Saatnya bermental pemenang. Seperti apa mental pemenang itu? Minim alasan, surplus action. Nah, karena Anda sudah memutuskan untuk mulai, klik saja >> http://BPaffiliate.com/
Sedekah hukumnya sunnah. Menuntut ilmu hukumnya wajib. Memang, sedekah punya keutamaan. Tapi jangan salah, menuntut ilmu lebih utama.
Bagi teman-teman yang ingin belajar bareng saya, berikut ini adalah seminar-seminar saya yang terdekat:
- Kupang 0821-4771-7930
Amaris, 4 Maret
- Lombok 0818-0888-8496
Mataram, 5 Maret
- Yogya 0821-3717-7559
- Solo 0812-3423-4514
- Gorontalo 0812-9600-3288
- Makassar 0815-4333-3600
- Bojonegoro 0857-3336-4999
- Jakarta 0815-4333-3600
Untuk mengetahui detail waktu, tempat, dan biaya, silakan SMS nomor panitia yang tertera di atas. Sekali lagi, SMS. Bukan telepon...
Bagi teman-teman yang ingin belajar bareng saya, berikut ini adalah seminar-seminar saya yang terdekat:
- Kupang 0821-4771-7930
Amaris, 4 Maret
- Lombok 0818-0888-8496
Mataram, 5 Maret
- Yogya 0821-3717-7559
- Solo 0812-3423-4514
- Gorontalo 0812-9600-3288
- Makassar 0815-4333-3600
- Bojonegoro 0857-3336-4999
- Jakarta 0815-4333-3600
Untuk mengetahui detail waktu, tempat, dan biaya, silakan SMS nomor panitia yang tertera di atas. Sekali lagi, SMS. Bukan telepon...
Kemarin, selama dua hari saya bersama ibu saya berada di Ende, NTT. Di sinilah Bung Karno diasingkan Belanda dan merenungi nilai-nilai Pancasila. Di sini pula ada Wologai dan Saga, dua kampung adat yang sudah berusia ratusan tahun. Di sini pula ada Kelimutu, tiga danau yang berubah-ubah warnanya dan tergambar di uang kertas Rp 5.000 yang lama. Alhamdulillah, saya bersama ibu saya sempat mengunjungi ini semua.
Sayangnya, ketimpangan ekonomi antara investor (kebanyakan dari Jakarta) dengan masyarakat setempat di NTT membuat kita prihatin. Dan ketimpangan ini terlihat semakin mencolok kalau Anda berkeliling di Labuan Bajo. Btw, berapa jumlah si kaya di bumi ini? Berapa pula jumlah di miskin saat ini?
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini mengerikan.
Keadaan memburuk semenjak kita memasuki era reformasi, karena menurut Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), lembaga yang dipimpin oleh Christianto Wibisono atau Oey Kian Kok, di tahun 1990-an masih 30% penduduk yang menguasai 70-an persen PDB.
Hati-hati, ketimpangan ekonomi ini akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membolasalju karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
Ingatlah, berpisahnya Bangladesh dari Pakistan pada tahun 70-an, salah satunya dipicu oleh faktor ketimpangan ekonomi. Toh, kita juga pernah mengalaminya, yaitu berupa krisis moneter dan kerusuhan pada tahun 1998.
Lantas, apa solusi praktis dari saya? Pertama, galakkan sedekah, zakat, dan wakaf. Terus, apa lagi? Sebuah pesan klasik dari Nabi Muhammad, menjadi landasan utama bagi saya dalam berpikir, "9 dari 10 bagian kehidupan berada di perniagaan."
Apa artinya? Bahasa gampangnya, 90% uang beredar di kalangan pengusaha. Yang 10% barulah beredar di kalangan yang lain. Dengan kata lain, untuk mapan dan kaya finansial (MKF) akan lebih mudah kalau Anda menjadi pengusaha atau investor.
Yang namanya pengusaha, tidak harus dimulai dengan usaha yang besar-besaran. Boleh usaha yang kecil-kecilan dulu. Bertahap, kemudian barulah diperbesar. Ketika pantas dan tiba waktunya, insya Allah besar beneran. Hal ini saya sampaikan kepada Bang Fajar dan rekannya, dua orang yang menemani saya selama berada di Ende.
Pada akhirnya, daripada mengutuk ketimpangan ekonomi, lebih baik kita berbuat sebisanya dan menjadi bagian dari solusi. Tentu, sembari memberi masukan kepada pemerintah dan pengusaha-pengusaha besar agar lebih peka pada permasalahan ini.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sayangnya, ketimpangan ekonomi antara investor (kebanyakan dari Jakarta) dengan masyarakat setempat di NTT membuat kita prihatin. Dan ketimpangan ini terlihat semakin mencolok kalau Anda berkeliling di Labuan Bajo. Btw, berapa jumlah si kaya di bumi ini? Berapa pula jumlah di miskin saat ini?
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini mengerikan.
Keadaan memburuk semenjak kita memasuki era reformasi, karena menurut Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), lembaga yang dipimpin oleh Christianto Wibisono atau Oey Kian Kok, di tahun 1990-an masih 30% penduduk yang menguasai 70-an persen PDB.
Hati-hati, ketimpangan ekonomi ini akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membolasalju karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
Ingatlah, berpisahnya Bangladesh dari Pakistan pada tahun 70-an, salah satunya dipicu oleh faktor ketimpangan ekonomi. Toh, kita juga pernah mengalaminya, yaitu berupa krisis moneter dan kerusuhan pada tahun 1998.
Lantas, apa solusi praktis dari saya? Pertama, galakkan sedekah, zakat, dan wakaf. Terus, apa lagi? Sebuah pesan klasik dari Nabi Muhammad, menjadi landasan utama bagi saya dalam berpikir, "9 dari 10 bagian kehidupan berada di perniagaan."
Apa artinya? Bahasa gampangnya, 90% uang beredar di kalangan pengusaha. Yang 10% barulah beredar di kalangan yang lain. Dengan kata lain, untuk mapan dan kaya finansial (MKF) akan lebih mudah kalau Anda menjadi pengusaha atau investor.
Yang namanya pengusaha, tidak harus dimulai dengan usaha yang besar-besaran. Boleh usaha yang kecil-kecilan dulu. Bertahap, kemudian barulah diperbesar. Ketika pantas dan tiba waktunya, insya Allah besar beneran. Hal ini saya sampaikan kepada Bang Fajar dan rekannya, dua orang yang menemani saya selama berada di Ende.
Pada akhirnya, daripada mengutuk ketimpangan ekonomi, lebih baik kita berbuat sebisanya dan menjadi bagian dari solusi. Tentu, sembari memberi masukan kepada pemerintah dan pengusaha-pengusaha besar agar lebih peka pada permasalahan ini.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kelar seminar di NTT dan NTB, saya bersama ibu jalan-jalan dulu ke Bukit Selong. Senin, insya Allah ke Pantai Pink. Terlepas dari itu, saya berharap Anda tidak termasuk dalam kelompok "I hate Monday."
Menurut British Medical Journal, serangan jantung meningkat sampai 20% pada hari Senin. Entah kenapa. Btw, berdasar survey saya dan tim selama ini, setidaknya ada lima penyebab mengapa orang cenderung berkeluh-kesah di kantor.
Pertama, kurang dihargai perusahaan (secara materi dan non-materi). Kedua, tidak mencintai pekerjaan. Ketiga, tidak menyukai lingkungan kerja. Keempat, tidak memaknai kerja sebagai ibadah. Kelima, kurang bersabar juga kurang bersyukur. Dan menariknya, satu sebab saja tidak membuat orang serta-merta jadi tukang keluh.
Bukan di kantor saja, melainkan di mana saja, kita baiknya menghindari keluh-kesah. Karena memang merugikan. Benar-benar merugikan. Bukankah mengeluh itu bisa merusak pikiran, kesehatan, juga keberuntungan? Dan satu hal ini mesti Anda catat baik-baik, kalau Anda ingin bejo alias beruntung maka Anda harus menghindari sikap JEBOL.
Lima huruf yang membentuk JEBOL ini adalah singkatan. Maksudnya Justify alias membenarkan diri sendiri, Excuse alias mencari-cari alasan, Blame alias menyalahkan orang lain, Ostrich alias tidak mau tahu, dan Lazy alias malas. Tak perlu dipikir-pikir lagi, hindari saja semuanya.
Misal, di kantor Anda memiliki atasan seperti si boss di film My Stupid Boss atau film Horrible Boss. Benar-benar menyebalkan. Apa saran saya? Yah, ubah. Kalau nggak bisa, pindah. Kalau nggak bisa juga, tetaplah bekerja dengan baik. Lha, kenapa?
Begini. Sekiranya Anda bekerja dengan baik, maka:
- Pengalaman Anda dan jam terbang Anda tetap bertambah
- Relasi Anda dan nama baik Anda semakin terjaga
- Berimbas pahala karena kerja dimaknai ibadah
- Si boss malah kehilangan semuanya
- Anda untung, si boss yang rugi
Sebisa-bisanya, hindari keluh-kesah. Karena sekali lagi, mengeluh itu merusak pikiran, kesehatan, juga keberuntungan. Sampai di sini saya pun berharap Anda termasuk dalam kelompok "I love Monday." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
----------------------------------
Ajak teman-teman kita beralih dari WA ke Telegram. Lebih ringan, lebih aman, dan lebih cepat. Channel Telegram Ippho Santosa: Telegram.me/ipphoright
----------------------------------
Menurut British Medical Journal, serangan jantung meningkat sampai 20% pada hari Senin. Entah kenapa. Btw, berdasar survey saya dan tim selama ini, setidaknya ada lima penyebab mengapa orang cenderung berkeluh-kesah di kantor.
Pertama, kurang dihargai perusahaan (secara materi dan non-materi). Kedua, tidak mencintai pekerjaan. Ketiga, tidak menyukai lingkungan kerja. Keempat, tidak memaknai kerja sebagai ibadah. Kelima, kurang bersabar juga kurang bersyukur. Dan menariknya, satu sebab saja tidak membuat orang serta-merta jadi tukang keluh.
Bukan di kantor saja, melainkan di mana saja, kita baiknya menghindari keluh-kesah. Karena memang merugikan. Benar-benar merugikan. Bukankah mengeluh itu bisa merusak pikiran, kesehatan, juga keberuntungan? Dan satu hal ini mesti Anda catat baik-baik, kalau Anda ingin bejo alias beruntung maka Anda harus menghindari sikap JEBOL.
Lima huruf yang membentuk JEBOL ini adalah singkatan. Maksudnya Justify alias membenarkan diri sendiri, Excuse alias mencari-cari alasan, Blame alias menyalahkan orang lain, Ostrich alias tidak mau tahu, dan Lazy alias malas. Tak perlu dipikir-pikir lagi, hindari saja semuanya.
Misal, di kantor Anda memiliki atasan seperti si boss di film My Stupid Boss atau film Horrible Boss. Benar-benar menyebalkan. Apa saran saya? Yah, ubah. Kalau nggak bisa, pindah. Kalau nggak bisa juga, tetaplah bekerja dengan baik. Lha, kenapa?
Begini. Sekiranya Anda bekerja dengan baik, maka:
- Pengalaman Anda dan jam terbang Anda tetap bertambah
- Relasi Anda dan nama baik Anda semakin terjaga
- Berimbas pahala karena kerja dimaknai ibadah
- Si boss malah kehilangan semuanya
- Anda untung, si boss yang rugi
Sebisa-bisanya, hindari keluh-kesah. Karena sekali lagi, mengeluh itu merusak pikiran, kesehatan, juga keberuntungan. Sampai di sini saya pun berharap Anda termasuk dalam kelompok "I love Monday." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
----------------------------------
Ajak teman-teman kita beralih dari WA ke Telegram. Lebih ringan, lebih aman, dan lebih cepat. Channel Telegram Ippho Santosa: Telegram.me/ipphoright
----------------------------------
Hugh Jackman dan Robert Downey Jr, adalah dua aktor yang paling mengena dalam memerankan karakter superhero-nya, dalam hal ini Wolverine dan Iron Man. Total. Ini menurut pendapat pribadi saya yang tentu saja sangat subjektif.
Btw, saya ini 'sufi'. Maksudnya 'suka film' hehe. Bukan pengamat film ya. Selama ini saya dan istri lumayan ngikutin film-film terbaru yang tayang di bioskop, terutama film-film action.
Diperankan oleh Hugh Jackman, kita seolah-olah bisa merasakan sosok Wolverine atau Logan begitu suram dan gemar menyendiri. Diperankan oleh Robert Downey Jr, kita seolah-olah bisa merasakan sosok Iron Man atau Tony Stark begitu powerful dan kadang belagu.
Di Museum Madame Tussaud di Los Angeles, bersama istri, saya melihat patung lilin Wolverine dan Iron Man sangat diminati. Pengunjung mengantri dan silih berganti berfoto di sampingnya.
Kemudian saya melakukan komparasi. Saya melihat aktor-aktor yang lain 'cuma' menjalankan perannya sebagai superhero. Tapi belum benar-benar mengena. Tidak 100% total.
Lantas, apa hikmahnya buat kita? Nah, kita sehari-hari menyandang peran yang harus kita jalankan. Right? Entah sebagai manajer, dokter, guru, arsitek, pengusaha, mahasiswa, atau peran lainnya. Maka, jalankan peran itu dengan total. Jangan asal.
Selama 5 hari ini, saya berada di Flores dan Kupang (NTT) juga di Lombok (NTB). Sebisanya, saya berusaha menjalankan peran saya sebagai motivator dan sebagai traveller dengan total. Di buku Success Protocol, saya pun menyerukan, "Bekerjalah dengan itqan." Artinya:
- teliti
- hati-hati
- sepenuh hati
- bermutu tinggi
Apalagi kita sama-sama tahu, kerja adalah ibadah. Dengan memaknai kerja adalah ibadah, semoga kita tidak termasuk golongan orang yang gemar mengeluh dan bergunjing di kantor.
Terlepas dari itu, tak semua negara mengenal konsep kerja adalah ibadah. Beruntunglah, walaupun belum sempurna penerapannya, Indonesia sedikit-banyak mengenal konsep #KerjaItuIbadah.
Kembali soal menjalankan peran dengan total. Sekiranya ini benar-benar terjadi, maka insya Allah kita akan lebih puas, lebih bahagia, lebih bermakna, lebih dihormati, dan dibayar tinggi. Jadi, sangat menguntungkan dari berbagai sisi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Note: Saatnya ajak keluarga kita bergabung ke channel Telegram @ipphoright atau klik telegram.me/ipphoright - Semoga setiap niat dan ajakan kita terhitung amal.
Btw, saya ini 'sufi'. Maksudnya 'suka film' hehe. Bukan pengamat film ya. Selama ini saya dan istri lumayan ngikutin film-film terbaru yang tayang di bioskop, terutama film-film action.
Diperankan oleh Hugh Jackman, kita seolah-olah bisa merasakan sosok Wolverine atau Logan begitu suram dan gemar menyendiri. Diperankan oleh Robert Downey Jr, kita seolah-olah bisa merasakan sosok Iron Man atau Tony Stark begitu powerful dan kadang belagu.
Di Museum Madame Tussaud di Los Angeles, bersama istri, saya melihat patung lilin Wolverine dan Iron Man sangat diminati. Pengunjung mengantri dan silih berganti berfoto di sampingnya.
Kemudian saya melakukan komparasi. Saya melihat aktor-aktor yang lain 'cuma' menjalankan perannya sebagai superhero. Tapi belum benar-benar mengena. Tidak 100% total.
Lantas, apa hikmahnya buat kita? Nah, kita sehari-hari menyandang peran yang harus kita jalankan. Right? Entah sebagai manajer, dokter, guru, arsitek, pengusaha, mahasiswa, atau peran lainnya. Maka, jalankan peran itu dengan total. Jangan asal.
Selama 5 hari ini, saya berada di Flores dan Kupang (NTT) juga di Lombok (NTB). Sebisanya, saya berusaha menjalankan peran saya sebagai motivator dan sebagai traveller dengan total. Di buku Success Protocol, saya pun menyerukan, "Bekerjalah dengan itqan." Artinya:
- teliti
- hati-hati
- sepenuh hati
- bermutu tinggi
Apalagi kita sama-sama tahu, kerja adalah ibadah. Dengan memaknai kerja adalah ibadah, semoga kita tidak termasuk golongan orang yang gemar mengeluh dan bergunjing di kantor.
Terlepas dari itu, tak semua negara mengenal konsep kerja adalah ibadah. Beruntunglah, walaupun belum sempurna penerapannya, Indonesia sedikit-banyak mengenal konsep #KerjaItuIbadah.
Kembali soal menjalankan peran dengan total. Sekiranya ini benar-benar terjadi, maka insya Allah kita akan lebih puas, lebih bahagia, lebih bermakna, lebih dihormati, dan dibayar tinggi. Jadi, sangat menguntungkan dari berbagai sisi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Note: Saatnya ajak keluarga kita bergabung ke channel Telegram @ipphoright atau klik telegram.me/ipphoright - Semoga setiap niat dan ajakan kita terhitung amal.
Berhentilah mengeluh soal pekerjaan. Setiap atasan dan perusahaan pasti punya kelemahan. Bayangkan, kalau mereka serba sempurna, mungkin dia tidak merekrut Anda.
Satu hal lagi, seburuk apapun keadaan, tetaplah pelajari sisi-sisi baik dari si boss. Toh, dengan segala kekurangannya, dia berhasil menjadi boss. Iya tho? Pasti ada kelebihannya.
Di film My Stupid Boss, ada kejadian di mana seorang boss yang menjengkelkan ternyata memiliki impian yang kuat dan dia pun berseru, “Impossible, we do. Miracle, we try.” Ini kan bagus. Kenapa nggak dipelajari dan ditiru?
Btw, sulit Anda ngaku-ngaku 'kerja adalah ibadah' kalau Anda selalu berkeluh-kesah. Salah-salah, bisa hilang segala berkah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Satu hal lagi, seburuk apapun keadaan, tetaplah pelajari sisi-sisi baik dari si boss. Toh, dengan segala kekurangannya, dia berhasil menjadi boss. Iya tho? Pasti ada kelebihannya.
Di film My Stupid Boss, ada kejadian di mana seorang boss yang menjengkelkan ternyata memiliki impian yang kuat dan dia pun berseru, “Impossible, we do. Miracle, we try.” Ini kan bagus. Kenapa nggak dipelajari dan ditiru?
Btw, sulit Anda ngaku-ngaku 'kerja adalah ibadah' kalau Anda selalu berkeluh-kesah. Salah-salah, bisa hilang segala berkah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dunia, termasuk harta, boleh dinikmati. Yang penting, jangan berlebih-lebihan dan jangan bermegah-megahan. Kali ini saya mengajak sidang pembaca menyimak pendapat ulamanya para ulama. Namanya Syeikh Yusuf Qardhawi.
Beberapa waktu yang lalu, alhamdulillah saya sempat bertamu dan bertemu dengan Syeikh Yusuf Qardhawi di rumahnya. Personal. Ada beberapa hal yang saya tanya dan beliau jawab, di antaranya peranan harta.
Sebagai ketua para ulama di dunia, beliau mengatakan bahwa harta itu mutlak diperlukan. Lapar, kan perlu makan. Haus, kan perlu minum. Takut, kan perlu naungan. Termasuk urusan dakwah. Jangan tabu dengan harta.
Beliau pun mengingatkan pentingnya bersedekah dengan mengutip Surat Al-Ma’un. Namun beliau juga mengingatkan bahaya bermegah-megahan dengan mengutip Surat Al-Takatsur. Masya Allah, peringatan yang berimbang!
Kalau Anda punya uang Rp 1 triliun, bukan berarti setelah berzakat dan bersedekah sebesar 60%, Anda bebas menggunakan sekitar 40% seenaknya. Uang sebesar Rp400miliar, ini jumlah yang nggak main-main. Harus ada pertanggung-jawaban. Kepantasan. Kewajaran.
Boleh-boleh saja menikmati dunia. Tapi, sekali lagi, dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak berlebih-lebihan dan tidak bermegah-megahan.
Kurang kaya apa Umar dan Usman di zamannya? Demikian pula kekuasaannya, kurang apa? Adakah mereka bermegah-megahan? Setahu saya, Umar hanya pernah mengizinkan bawahannya sesekali menunjukkan kekuatan hartanya untuk menggetarkan musuh. Benar-benar sesekali. Bukan gaya hidup sehari-hari.
Memang Umar memiliki banyak ladang. Tapi ia gunakan itu untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Minimal, membuka lapangan kerja. Wong, lauk yang ia makan cuma satu setiap kali ia makan.
Contoh lain. Anda membeli Volvo seharga hampir Rp 1 M dengan alasan keamanan pribadi, itu sah-sah saja. Seorang kepala negara memakai sedan anti peluru seharga puluhan miliar dengan alasan keamanan negara, itu pun sah-sah saja. Soal fungsi tho, bukan soal emosi.
Tapi kalau Anda memesan mobil khusus berlapis emas atau mengoleksi ratusan mobil (koleksi pribadi ya, bukan untuk bisnis), kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Sayangnya, kita masih menyaksikan fenomena semacam ini di sejumlah keluarga raja.
Contoh lain. Anda membeli handphone berbasis satelit seharga 20-an juta dengan tujuan kemudahan kerja di hutan atau di pertambangan, itu sah-sah saja. Soal fungsi tho, bukan soal emosi. Tapi kalau Anda membeli handphone berlapis emas, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan.
Di sejumlah kediaman raja, diberitakan perabot-perabot pun berlapis emas. Padahal, agama tidak pernah menganjurkan begitu. "Tapi itu kan uangnya sendiri, terserah dia dong!" Secara rasional, dalih itu memang betul. Namun secara spiritual, sepertinya ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Karena, lagi-lagi, bertentangan dengan semangat Al-Takatsur.
Saya kenal dengan sejumlah triliuner Indonesia yang harga tasnya (atau harga tas istrinya) cuma beberapa juta rupiah saja. Padahal, kalau mereka mau membeli tas Hermes seharga Rp250juta, yah bisa-bisa saja. Itu receh, bagi mereka.
Kita pun sama-sama tahu, harta Warren Buffett sempat mencapai US$ 70 miliar (sekitar ratusan triliun rupiah). Tapi, ia memilih untuk tetap tinggal di rumah seharga US$ 32 ribu (kalau dirupiahkan, cuma semiliar atau kurang).
Boro-boro punya mobil mewah dan kapal pesiar, Warren Buffett lebih memilih mengendarai mobil tua yang dia beli seharga US$ 50 ribu. Kalau sarapan, ternyata ia tidak pernah menghabiskan lebih dari US$ 3,2 atau Rp 45.000. Ingat ya, ia salah satu orang terkaya di dunia.
Serunya, kekayaan sebesar itu merupakan hasil jerih-payahnya sendiri. Bukan karena ayahnya mewariskan harta. Bukan pula karena keluarganya berstatus bangsawan. Serunya lagi, Warren Buffett lebih tertarik berdonasi ke yayasan orang lain ketimbang ke yayasannya sendiri.
Demikianlah. Boleh menikmati dunia. Tapi, dengan kewajaran. Tidak bermegah-megahan. Warren Buffett adalah contoh yang relatif baik. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Beberapa waktu yang lalu, alhamdulillah saya sempat bertamu dan bertemu dengan Syeikh Yusuf Qardhawi di rumahnya. Personal. Ada beberapa hal yang saya tanya dan beliau jawab, di antaranya peranan harta.
Sebagai ketua para ulama di dunia, beliau mengatakan bahwa harta itu mutlak diperlukan. Lapar, kan perlu makan. Haus, kan perlu minum. Takut, kan perlu naungan. Termasuk urusan dakwah. Jangan tabu dengan harta.
Beliau pun mengingatkan pentingnya bersedekah dengan mengutip Surat Al-Ma’un. Namun beliau juga mengingatkan bahaya bermegah-megahan dengan mengutip Surat Al-Takatsur. Masya Allah, peringatan yang berimbang!
Kalau Anda punya uang Rp 1 triliun, bukan berarti setelah berzakat dan bersedekah sebesar 60%, Anda bebas menggunakan sekitar 40% seenaknya. Uang sebesar Rp400miliar, ini jumlah yang nggak main-main. Harus ada pertanggung-jawaban. Kepantasan. Kewajaran.
Boleh-boleh saja menikmati dunia. Tapi, sekali lagi, dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak berlebih-lebihan dan tidak bermegah-megahan.
Kurang kaya apa Umar dan Usman di zamannya? Demikian pula kekuasaannya, kurang apa? Adakah mereka bermegah-megahan? Setahu saya, Umar hanya pernah mengizinkan bawahannya sesekali menunjukkan kekuatan hartanya untuk menggetarkan musuh. Benar-benar sesekali. Bukan gaya hidup sehari-hari.
Memang Umar memiliki banyak ladang. Tapi ia gunakan itu untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Minimal, membuka lapangan kerja. Wong, lauk yang ia makan cuma satu setiap kali ia makan.
Contoh lain. Anda membeli Volvo seharga hampir Rp 1 M dengan alasan keamanan pribadi, itu sah-sah saja. Seorang kepala negara memakai sedan anti peluru seharga puluhan miliar dengan alasan keamanan negara, itu pun sah-sah saja. Soal fungsi tho, bukan soal emosi.
Tapi kalau Anda memesan mobil khusus berlapis emas atau mengoleksi ratusan mobil (koleksi pribadi ya, bukan untuk bisnis), kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Sayangnya, kita masih menyaksikan fenomena semacam ini di sejumlah keluarga raja.
Contoh lain. Anda membeli handphone berbasis satelit seharga 20-an juta dengan tujuan kemudahan kerja di hutan atau di pertambangan, itu sah-sah saja. Soal fungsi tho, bukan soal emosi. Tapi kalau Anda membeli handphone berlapis emas, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan.
Di sejumlah kediaman raja, diberitakan perabot-perabot pun berlapis emas. Padahal, agama tidak pernah menganjurkan begitu. "Tapi itu kan uangnya sendiri, terserah dia dong!" Secara rasional, dalih itu memang betul. Namun secara spiritual, sepertinya ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Karena, lagi-lagi, bertentangan dengan semangat Al-Takatsur.
Saya kenal dengan sejumlah triliuner Indonesia yang harga tasnya (atau harga tas istrinya) cuma beberapa juta rupiah saja. Padahal, kalau mereka mau membeli tas Hermes seharga Rp250juta, yah bisa-bisa saja. Itu receh, bagi mereka.
Kita pun sama-sama tahu, harta Warren Buffett sempat mencapai US$ 70 miliar (sekitar ratusan triliun rupiah). Tapi, ia memilih untuk tetap tinggal di rumah seharga US$ 32 ribu (kalau dirupiahkan, cuma semiliar atau kurang).
Boro-boro punya mobil mewah dan kapal pesiar, Warren Buffett lebih memilih mengendarai mobil tua yang dia beli seharga US$ 50 ribu. Kalau sarapan, ternyata ia tidak pernah menghabiskan lebih dari US$ 3,2 atau Rp 45.000. Ingat ya, ia salah satu orang terkaya di dunia.
Serunya, kekayaan sebesar itu merupakan hasil jerih-payahnya sendiri. Bukan karena ayahnya mewariskan harta. Bukan pula karena keluarganya berstatus bangsawan. Serunya lagi, Warren Buffett lebih tertarik berdonasi ke yayasan orang lain ketimbang ke yayasannya sendiri.
Demikianlah. Boleh menikmati dunia. Tapi, dengan kewajaran. Tidak bermegah-megahan. Warren Buffett adalah contoh yang relatif baik. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Biar dikit asal ikhlas," kilah mereka.
"Apa yang mau diikhlasin? Dikit," ledek saya.
Hehehe.
Di buku-buku sebelumnya, saya pernah menyebut sedekah itu sebagai investasi dan proteksi. Tapi, jangan salah kaprah ya. Soalnya di Inggris, tahun 1700-an Anda bisa membeli asuransi untuk menjaga kalau-kalau Anda masuk neraka. Hehehe. Kejadian aneh ini ditulis oleh Noel Botham dan diterbitkan tahun 2006.
Dan kita yakin, sedekah bukannya mengurangi, malah menambahi. Berbagi bukannya jadi beban, malah membuat hidup terasa ringan. Terbukti, hati kita terasa lapang setelah bersedekah.
Lihatlah sejarah. Tokoh-tokoh yang mengubah dunia telah melakukan ini sejak lama. Berbagi. Buddha menolong orang susah. Isa menolong orang sakit. Abubakar menyuapi Yahudi buta, meneruskan kebiasaan sosok kesayangannya.
Maka, sudah sepantasnya kita menjadikan sedekah atau berbagi ini sebagai kebiasaan harian. Bukan mingguan atau bulanan. Toh kita semua sudah tahu betapa dahsyat manfaat dan balasannya. Dan sejatinya, bukan rezeki yang kurang, mungkin keyakinan yang kurang. Berhentilah beralasan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Apa yang mau diikhlasin? Dikit," ledek saya.
Hehehe.
Di buku-buku sebelumnya, saya pernah menyebut sedekah itu sebagai investasi dan proteksi. Tapi, jangan salah kaprah ya. Soalnya di Inggris, tahun 1700-an Anda bisa membeli asuransi untuk menjaga kalau-kalau Anda masuk neraka. Hehehe. Kejadian aneh ini ditulis oleh Noel Botham dan diterbitkan tahun 2006.
Dan kita yakin, sedekah bukannya mengurangi, malah menambahi. Berbagi bukannya jadi beban, malah membuat hidup terasa ringan. Terbukti, hati kita terasa lapang setelah bersedekah.
Lihatlah sejarah. Tokoh-tokoh yang mengubah dunia telah melakukan ini sejak lama. Berbagi. Buddha menolong orang susah. Isa menolong orang sakit. Abubakar menyuapi Yahudi buta, meneruskan kebiasaan sosok kesayangannya.
Maka, sudah sepantasnya kita menjadikan sedekah atau berbagi ini sebagai kebiasaan harian. Bukan mingguan atau bulanan. Toh kita semua sudah tahu betapa dahsyat manfaat dan balasannya. Dan sejatinya, bukan rezeki yang kurang, mungkin keyakinan yang kurang. Berhentilah beralasan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di dunia ini, sejumlah keluarga kerajaan dari beberapa negara memiliki kebiasaan-kebiasaan yang mewah. Yah, macam-macam yang mereka miliki. Mulai dari perabot berlapis emas, koleksi ratusan mobil, sampai koleksi hewan langka!
Punya mobil banyak, bolehkah? Boleh-boleh saja, asalkan produktif. Misalnya untuk rental, kargo, dll. Bukankah dulu Usman juga punya banyak unta dan kuda? Nah, ini untuk tujuan produktif. Perdagangan. Bukan untuk senang-senang pribadi.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. Mungkin karena ketimpangan ekonomi. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk "Top Incomes and Human Well-Being Around the World" dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Itu faktanya. Terus, apa solusinya?
"Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, distribusi seluas-luasnya," itulah seruan saya sejak dulu. Yang namanya manusia mesti produktif. Namun yang dipakai seperlunya saja, nggak konsumtif. Dengan demikian, akan banyak yang tersisa. Nah, sisanya ini yang didistribusikan seluas-luasnya. Berbagi.
Apa yang dimaksud dengan produktif? Bisnisnya berkembang. Bisnisnya menaungi orang banyak. Punya sederet karya. Punya setumpuk prestasi. Bertabur amal ini-itu. Perhatikan baik-baik. Di sini fokus semuanya adalah manfaat bagi orang banyak, bukan kesenangan pribadi.
Saya sempat bertanya sama guru saya, "Bukankah Nabi Sulaiman (Raja Salomo) memiliki segalanya dan semuanya serba mewah?" Guru saya menjawab, "Di zaman itu mungkin perlu syariat kaya seperti itu. Bahkan dia diizinkan berinteraksi dengan jin. Sekarang, tidak lagi. Sebagai umat Nabi Muhammad, maka patokan kita adalah Nabi Muhammad dan para sahabat."
Tapi, ada yang berkilah, "Ini kan uang saya sendiri, terserah saya dong!" Secara rasional, dalih itu memang betul. Namun secara spiritual, sepertinya ini bertentangan dengan semangat Al-Takatsur yang melarang kita untuk bermegah-megahan. Kaya, boleh. Bermegah-megahan, jangan.
Kalau Anda kaya, terus Anda punya BMW atau Volvo yang bagus safety-nya, itu boleh-boleh saja. Tapi kalau Anda gemar Audi terus mengoleksi Audi di garasi Anda, maaf, menurut saya itu sudah menjurus pada bermegah-megahan.
Semoga ini jadi bahan renungan bagi semua. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Punya mobil banyak, bolehkah? Boleh-boleh saja, asalkan produktif. Misalnya untuk rental, kargo, dll. Bukankah dulu Usman juga punya banyak unta dan kuda? Nah, ini untuk tujuan produktif. Perdagangan. Bukan untuk senang-senang pribadi.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. Mungkin karena ketimpangan ekonomi. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk "Top Incomes and Human Well-Being Around the World" dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Itu faktanya. Terus, apa solusinya?
"Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, distribusi seluas-luasnya," itulah seruan saya sejak dulu. Yang namanya manusia mesti produktif. Namun yang dipakai seperlunya saja, nggak konsumtif. Dengan demikian, akan banyak yang tersisa. Nah, sisanya ini yang didistribusikan seluas-luasnya. Berbagi.
Apa yang dimaksud dengan produktif? Bisnisnya berkembang. Bisnisnya menaungi orang banyak. Punya sederet karya. Punya setumpuk prestasi. Bertabur amal ini-itu. Perhatikan baik-baik. Di sini fokus semuanya adalah manfaat bagi orang banyak, bukan kesenangan pribadi.
Saya sempat bertanya sama guru saya, "Bukankah Nabi Sulaiman (Raja Salomo) memiliki segalanya dan semuanya serba mewah?" Guru saya menjawab, "Di zaman itu mungkin perlu syariat kaya seperti itu. Bahkan dia diizinkan berinteraksi dengan jin. Sekarang, tidak lagi. Sebagai umat Nabi Muhammad, maka patokan kita adalah Nabi Muhammad dan para sahabat."
Tapi, ada yang berkilah, "Ini kan uang saya sendiri, terserah saya dong!" Secara rasional, dalih itu memang betul. Namun secara spiritual, sepertinya ini bertentangan dengan semangat Al-Takatsur yang melarang kita untuk bermegah-megahan. Kaya, boleh. Bermegah-megahan, jangan.
Kalau Anda kaya, terus Anda punya BMW atau Volvo yang bagus safety-nya, itu boleh-boleh saja. Tapi kalau Anda gemar Audi terus mengoleksi Audi di garasi Anda, maaf, menurut saya itu sudah menjurus pada bermegah-megahan.
Semoga ini jadi bahan renungan bagi semua. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika promosi, berapa uang yang Anda habiskan untuk mencetak flyer dan spanduk? Lumayan. Kalau iklan koran dan iklan radio? Bukan sekedar lumayan, tapi lebih dari itu.
Padahal hasilnya kurang terukur dan kurang tersegmen. Nah, beda kalau Anda menguasai Internet Marketing. Selain lebih hemat, juga sangat terukur dan sangat tersegmen.
Pertanyaan saya: Maukah Anda belajar Internet Marketing bareng saya dan tim?
Selama ini, magang dan training #InternetMarketing yang kami adakan, alhamdulillah selalu full. Insya Allah magang dan training Batch-7 akan diselenggarakan pertengahan Mei.
Apa saja materinya?
- Meriset produk-produk yang laris
- SEO (agar masuk halaman 1 Google)
- Facebook Ads
- Facebook Marketing
- Cuma segini, tapi mendalam.
Sekali lagi, Batch-7 akan diadakan pertengahan Mei. Selama 8 hari. Dari pagi sampai sore. Lokasinya? Di kantor saya di BSD (dekat Jakarta).
Biaya normal Rp 7 juta. Promo hanya Rp 3,5 juta. Mahal? Sama sekali nggak. Justru ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis.
Tapi ingat ya, harga promo ini berlaku terbatas (karena dapat naik sewaktu-waktu). Ya, naik bertahap sampai Rp 7 juta. Sengaja dinaikkan agar teman-teman cepat mendaftar dan kami pun cepat menyiapkan akomodasi dll.
Fyi, kelas ini hanya muat 20-an orang dan sebagian seat-nya sudah di-booking. Yang serius, silakan SMS 0812-8777-7100 dan 0815-4333-3600 (SMS, bukan WA, bukan telp). Selamat menjemput perubahan!
Padahal hasilnya kurang terukur dan kurang tersegmen. Nah, beda kalau Anda menguasai Internet Marketing. Selain lebih hemat, juga sangat terukur dan sangat tersegmen.
Pertanyaan saya: Maukah Anda belajar Internet Marketing bareng saya dan tim?
Selama ini, magang dan training #InternetMarketing yang kami adakan, alhamdulillah selalu full. Insya Allah magang dan training Batch-7 akan diselenggarakan pertengahan Mei.
Apa saja materinya?
- Meriset produk-produk yang laris
- SEO (agar masuk halaman 1 Google)
- Facebook Ads
- Facebook Marketing
- Cuma segini, tapi mendalam.
Sekali lagi, Batch-7 akan diadakan pertengahan Mei. Selama 8 hari. Dari pagi sampai sore. Lokasinya? Di kantor saya di BSD (dekat Jakarta).
Biaya normal Rp 7 juta. Promo hanya Rp 3,5 juta. Mahal? Sama sekali nggak. Justru ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis.
Tapi ingat ya, harga promo ini berlaku terbatas (karena dapat naik sewaktu-waktu). Ya, naik bertahap sampai Rp 7 juta. Sengaja dinaikkan agar teman-teman cepat mendaftar dan kami pun cepat menyiapkan akomodasi dll.
Fyi, kelas ini hanya muat 20-an orang dan sebagian seat-nya sudah di-booking. Yang serius, silakan SMS 0812-8777-7100 dan 0815-4333-3600 (SMS, bukan WA, bukan telp). Selamat menjemput perubahan!
Anda punya utang?
Utang, inilah salah satu masalah besar yang melilit sebagian kita. Bahkan artis juga. Kanye West pernah membuat pengumuman yang shocking melalui akun Twitter-nya, di mana ia mengaku punya utang pribadi sebesar 53 juta dollar AS atau setara dengan Rp 714 miliar.
Lanjutnya, “Please pray me to overcome. This is from my true heart.” Nggak jelas apakah Kanye West beneran serius atau sekedar bercanda. Sebelumnya, ia sering membuat pernyataan-pernyataan yang kontroversial terkait Bill Cosby, Taylor Swift, dan lain-lain.
Begini. Hal pertama yang harus dilakukan dalam menyikapi utang adalah dengan 'tenang'. Maka inilah singkatan utang menurut saya:
- UTANG: Usahakan Tetap Tenang
- UTANG: Ujung-ujungnya Tetap Uang
Selanjutnya, saya menyiapkan sejumlah langkah praktis. Insya Allah jadi solusi:
Pertama, minta maaf dan minta ridha kepada si pemberi utang. Semakin dia ridha, semakin lancar rezeki Anda. Kalau dia jengkel, seret rezeki Anda.
Kedua, cicil sebisanya. Ini menunjukkan keseriusan. Si pemberi utang menilai. Malaikat pun menilai. Nah, Anda buktikan bahwa Anda sungguh-sungguh ingin melunasi utang.
Ketiga, pastikan Anda bisa dihubungi oleh si pemberi utang. Ini menunjukkan bahwa Anda tidak kabur. Maaf, banyak yang bersikap sebaliknya, seperti mematikan handphone atau pindah rumah.
Keempat, sedekahkan barang-barang Anda. Siapa yang berani meremehkan kekuatan sedekah? Ini akan memudahkan Anda untuk menyicil dan melunasi utang.
Kelima, kalau Anda muslim, rutinkan subuh berjamaah di masjid. Nggak usah banyak tanya, lakukan saja. Btw, masjid itu mulia. Subuh itu mulia. Berjamaah itu mulia. Insya Allah terkikis tuh utang.
Ke depan, agar sehat finansial dan bebas utang, hitunglah pengeluaran secara ketat juga rinci. Jangan kira-kira saja.
Nah, sebelum menghitung pengeluaran dalam satu tahun, awali dulu dengan menghitung pengeluaran dalam satu bulan. Mulai dari cicilan utang, belanja bulanan, tagihan listrik, air dan pulsa, sampai dengan ongkos transportasi dalam sebulan.
Nanti, total jumlah pengeluaran ini harus bisa terpenuhi dari gaji atau laba bulanan Anda. Jika tidak, masalah yang sama bisa berulang menimpa Anda. Kapan-kapan kita sambung lagi penjelasannya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
----------------------------------
Ajak teman-teman kita beralih dari WA ke Telegram. Lebih ringan, lebih aman, dan lebih cepat. Channel Telegram Ippho Santosa yang resmi adalah @ipphoright atau klik telegram.me/ipphoright
----------------------------------
Utang, inilah salah satu masalah besar yang melilit sebagian kita. Bahkan artis juga. Kanye West pernah membuat pengumuman yang shocking melalui akun Twitter-nya, di mana ia mengaku punya utang pribadi sebesar 53 juta dollar AS atau setara dengan Rp 714 miliar.
Lanjutnya, “Please pray me to overcome. This is from my true heart.” Nggak jelas apakah Kanye West beneran serius atau sekedar bercanda. Sebelumnya, ia sering membuat pernyataan-pernyataan yang kontroversial terkait Bill Cosby, Taylor Swift, dan lain-lain.
Begini. Hal pertama yang harus dilakukan dalam menyikapi utang adalah dengan 'tenang'. Maka inilah singkatan utang menurut saya:
- UTANG: Usahakan Tetap Tenang
- UTANG: Ujung-ujungnya Tetap Uang
Selanjutnya, saya menyiapkan sejumlah langkah praktis. Insya Allah jadi solusi:
Pertama, minta maaf dan minta ridha kepada si pemberi utang. Semakin dia ridha, semakin lancar rezeki Anda. Kalau dia jengkel, seret rezeki Anda.
Kedua, cicil sebisanya. Ini menunjukkan keseriusan. Si pemberi utang menilai. Malaikat pun menilai. Nah, Anda buktikan bahwa Anda sungguh-sungguh ingin melunasi utang.
Ketiga, pastikan Anda bisa dihubungi oleh si pemberi utang. Ini menunjukkan bahwa Anda tidak kabur. Maaf, banyak yang bersikap sebaliknya, seperti mematikan handphone atau pindah rumah.
Keempat, sedekahkan barang-barang Anda. Siapa yang berani meremehkan kekuatan sedekah? Ini akan memudahkan Anda untuk menyicil dan melunasi utang.
Kelima, kalau Anda muslim, rutinkan subuh berjamaah di masjid. Nggak usah banyak tanya, lakukan saja. Btw, masjid itu mulia. Subuh itu mulia. Berjamaah itu mulia. Insya Allah terkikis tuh utang.
Ke depan, agar sehat finansial dan bebas utang, hitunglah pengeluaran secara ketat juga rinci. Jangan kira-kira saja.
Nah, sebelum menghitung pengeluaran dalam satu tahun, awali dulu dengan menghitung pengeluaran dalam satu bulan. Mulai dari cicilan utang, belanja bulanan, tagihan listrik, air dan pulsa, sampai dengan ongkos transportasi dalam sebulan.
Nanti, total jumlah pengeluaran ini harus bisa terpenuhi dari gaji atau laba bulanan Anda. Jika tidak, masalah yang sama bisa berulang menimpa Anda. Kapan-kapan kita sambung lagi penjelasannya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
----------------------------------
Ajak teman-teman kita beralih dari WA ke Telegram. Lebih ringan, lebih aman, dan lebih cepat. Channel Telegram Ippho Santosa yang resmi adalah @ipphoright atau klik telegram.me/ipphoright
----------------------------------
Uang itu netral. Kalau di tangan orang baik, insya Allah jadinya baik. Demikian pula sebaliknya. Lantas, apa pendapat saya tentang uang? Sangat jelas, uang bukanlah segalanya. Namun sedikit-banyak mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan kita.
Mungkinkah uang berkurang? Yang sebenarnya, hampir-hampir mustahil. Apa iya? Iya! Uang hanya akan berkurang KALAU disalahgunakan. Kalau tepat? Akan bertambah. Beneran, ber-tam-bah.
Bagaimana caranya? Gunakan uang itu untuk bisnis, investasi, sedekah, berbakti, dan menuntut ilmu. Niscaya uang akan bertambah dan terus bertambah. Istilah saya, berkah berlimpah. Setujukah?
"HARTA itu sementara. Kalau kita sedekahkan, akan kekal... HARTA itu sedikit. Kalau disedekahkan, akan bertambah... HARTA itu kita yang menjaganya. Kalau disedekahkan, harta yang akan menjaga kita," itu pesan guru saya.
Semua orang tahu bahwa sedekah itu berbalas. Kalau menuntut ilmu? Yang sebenarnya, lebih berbalas. Bukankah menuntut ilmu itu 'wajib'? Maka saya pun berpesan, jemputlah ilmu. Itu artinya, kita berniat hidup kita untuk dicahayai dan bertekad nasib kita untuk diubahi.
Ilmu memang dijemput. Sekali lagi, dijemput. Bukan ditunggu. Begitulah seharusnya adab kita terhadap ilmu. Dan satu hal lagi, ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Insya Allah. Ini boleh di-share.
Kalau nasib gitu-gitu saja, maka ada tiga kemungkinan. Pertama, mungkin ilmunya gitu-gitu saja. Kedua, mungkin action-nya gitu-gitu saja. Ketiga, mungkin sedekahnya gitu-gitu saja. Siapapun Anda, semoga nasibnya membaik dari waktu ke waktu. Aamiin.
-----------------------------
Lebih dari 37.000 orang bergabung di channel Telegram @ipphoright. Ajak keluarga dan teman kita klik telegram.me/ipphoright
-----------------------------
Mungkinkah uang berkurang? Yang sebenarnya, hampir-hampir mustahil. Apa iya? Iya! Uang hanya akan berkurang KALAU disalahgunakan. Kalau tepat? Akan bertambah. Beneran, ber-tam-bah.
Bagaimana caranya? Gunakan uang itu untuk bisnis, investasi, sedekah, berbakti, dan menuntut ilmu. Niscaya uang akan bertambah dan terus bertambah. Istilah saya, berkah berlimpah. Setujukah?
"HARTA itu sementara. Kalau kita sedekahkan, akan kekal... HARTA itu sedikit. Kalau disedekahkan, akan bertambah... HARTA itu kita yang menjaganya. Kalau disedekahkan, harta yang akan menjaga kita," itu pesan guru saya.
Semua orang tahu bahwa sedekah itu berbalas. Kalau menuntut ilmu? Yang sebenarnya, lebih berbalas. Bukankah menuntut ilmu itu 'wajib'? Maka saya pun berpesan, jemputlah ilmu. Itu artinya, kita berniat hidup kita untuk dicahayai dan bertekad nasib kita untuk diubahi.
Ilmu memang dijemput. Sekali lagi, dijemput. Bukan ditunggu. Begitulah seharusnya adab kita terhadap ilmu. Dan satu hal lagi, ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Insya Allah. Ini boleh di-share.
Kalau nasib gitu-gitu saja, maka ada tiga kemungkinan. Pertama, mungkin ilmunya gitu-gitu saja. Kedua, mungkin action-nya gitu-gitu saja. Ketiga, mungkin sedekahnya gitu-gitu saja. Siapapun Anda, semoga nasibnya membaik dari waktu ke waktu. Aamiin.
-----------------------------
Lebih dari 37.000 orang bergabung di channel Telegram @ipphoright. Ajak keluarga dan teman kita klik telegram.me/ipphoright
-----------------------------
British Propolis hadir di berbagai daerah. Khasiat terasa dalam 21 hari atau kurang. Untuk pemesanan, silakan SMS:
0852-6660-9993
Jakarta Selatan
0813-5587-1082
Palu - Sulteng
0811-3084-406
Sidoarjo dan Surabaya Barat
0856-0472-1870
Tulungagung, Kediri dan Blitar
0898-1803-747
Jakarta Barat
0856-7377-373
Klaten dan Solo
0812-3326-1719
Malang - Jatim
0811-4455-572
Makassar
085814460645
Jakarta Pusat
0817808070
Bekasi dan Pamulang
081807211980
Jakarta Timur dan Depok
082197813188
Tegal dan Biak (Papua)
081809520065 / 087889990455
Jakarta Utara dan Bogor
0852-6660-9993
Jakarta Selatan
0813-5587-1082
Palu - Sulteng
0811-3084-406
Sidoarjo dan Surabaya Barat
0856-0472-1870
Tulungagung, Kediri dan Blitar
0898-1803-747
Jakarta Barat
0856-7377-373
Klaten dan Solo
0812-3326-1719
Malang - Jatim
0811-4455-572
Makassar
085814460645
Jakarta Pusat
0817808070
Bekasi dan Pamulang
081807211980
Jakarta Timur dan Depok
082197813188
Tegal dan Biak (Papua)
081809520065 / 087889990455
Jakarta Utara dan Bogor
Teman-teman pernah ke Jogja kan?
Sudah nyobain Lava Tour di Merapi?
Kali ini, tulisan saya tentang berlibur. Ya, berlibur. Natasha Withers dari One Medical Group di New York pernah menyimpulkan, istirahat dan relaksasi itu bagus untuk mengusir stress dan penat.
“Lebih dari itu, istirahat dan relaksasi sangat penting untuk kesejahteraan dan kesehatan. Menariknya, hal ini dapat dicapai melalui kegiatan sehari-hari, seperti olahraga dan meditasi. Akan tetapi, liburan merupakan bagian penting yang tak terpisahkan,” ungkapnya yang kemudian dikutip ABC News.
Natasha Withers menyatakan bahwa aktivitas berlibur selain bisa mengusir stress juga mampu menurunkan risiko penyakit jantung. Nah lho! “Kita sama-sama tahu bahwa pikiran yang sehat membantu proses penyembuhan,” ungkapnya.
Imam Syafii pun menganjurkan kita untuk travelling. Bukankah manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal? Bagaimana mungkin perintah ini terlaksana dengan sempurna kalau tidak ada yang travelling?
Saya pribadi alhamdulillah ditakdirkan Allah untuk gathering di Jogja bareng mitra-mitra TK Khalifah se-Indonesia. Hadir pula Jody Waroeng (miliarder kuliner), Hanum Rais (Bulan Terbelah & 99 Cahaya), juga Setyawan Tiada Tara (stand-up comedy). Acaranya berlangsung sejak Kamis sampai Sabtu, berawal di Prambanan terus Alana, Gajah Wong, dan Merapi.
Lantas, apa kesan-kesan saya? Sangat berkesan. Sekiranya tak terlalu jauh dari tempat domisili Anda, baiknya kunjungi saja. Candi Boko, Prambanan, Borobudur, Keraton, dan Lava Tour di Merapi. Tentunya, satu per satu. Semoga berkesan dan membuka wawasan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
-----------------------------
Lebih dari 38.000 orang bergabung ke channel Telegram @ipphoright atau klik telegram.me/ipphoright - Ajak keluarga dan sahabat-sahabat kita untuk turut bergabung. Semoga jadi wasilah kebaikan dan perubahan.
-----------------------------
Sudah nyobain Lava Tour di Merapi?
Kali ini, tulisan saya tentang berlibur. Ya, berlibur. Natasha Withers dari One Medical Group di New York pernah menyimpulkan, istirahat dan relaksasi itu bagus untuk mengusir stress dan penat.
“Lebih dari itu, istirahat dan relaksasi sangat penting untuk kesejahteraan dan kesehatan. Menariknya, hal ini dapat dicapai melalui kegiatan sehari-hari, seperti olahraga dan meditasi. Akan tetapi, liburan merupakan bagian penting yang tak terpisahkan,” ungkapnya yang kemudian dikutip ABC News.
Natasha Withers menyatakan bahwa aktivitas berlibur selain bisa mengusir stress juga mampu menurunkan risiko penyakit jantung. Nah lho! “Kita sama-sama tahu bahwa pikiran yang sehat membantu proses penyembuhan,” ungkapnya.
Imam Syafii pun menganjurkan kita untuk travelling. Bukankah manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal? Bagaimana mungkin perintah ini terlaksana dengan sempurna kalau tidak ada yang travelling?
Saya pribadi alhamdulillah ditakdirkan Allah untuk gathering di Jogja bareng mitra-mitra TK Khalifah se-Indonesia. Hadir pula Jody Waroeng (miliarder kuliner), Hanum Rais (Bulan Terbelah & 99 Cahaya), juga Setyawan Tiada Tara (stand-up comedy). Acaranya berlangsung sejak Kamis sampai Sabtu, berawal di Prambanan terus Alana, Gajah Wong, dan Merapi.
Lantas, apa kesan-kesan saya? Sangat berkesan. Sekiranya tak terlalu jauh dari tempat domisili Anda, baiknya kunjungi saja. Candi Boko, Prambanan, Borobudur, Keraton, dan Lava Tour di Merapi. Tentunya, satu per satu. Semoga berkesan dan membuka wawasan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
-----------------------------
Lebih dari 38.000 orang bergabung ke channel Telegram @ipphoright atau klik telegram.me/ipphoright - Ajak keluarga dan sahabat-sahabat kita untuk turut bergabung. Semoga jadi wasilah kebaikan dan perubahan.
-----------------------------
Sehat dan tetap sehat, itu penting. Teramat penting.
Setelah menikah, biasanya orang jadi gemukan. Anda atau saudara Anda pernah mengalaminya? Hehehe. Sebuah riset menunjukkan pasangan menikah yang bahagia cenderung mengalami kenaikan berat badan. Nah lho!
"Hal ini mungkin disebabkan banyak orang lebih mengasosiasikan berat badan dengan penampilan ketimbang kesehatan. Penampilan, ini menjadi sesuatu yang kurang penting ketika seseorang telah menikah," ungkap Andrea Meltzer, asisten profesor psikologi dari Florida State University yang memimpin riset tersebut.
"Baiknya di sini kita fokus pada manfaat sehat, bukan sekedar penampilan. Dengan demikian, kita akan mampu menghindari potensi kenaikan berat badan saat menjalin sebuah hubungan," ujar Andrea Meltzer.
Sebenarnya, sedikit gemuk atau sedikit kurus, tak terlalu masalah. Asalkan kita benar-benar sehat.
Btw, inilah 7 dokter dari alam yang membuat kita tetap sehat:
1. Mentari pagi
2. Udara pagi
3. Air yang bersih
4. Tanah yang subur
5. Buah & sayur segar
6. Madu & propolis
7. Keindahan alam
Pada akhirnya, rajin-rajinlah bertemu dengan dokter alam. Gratis. Kalau tidak, Anda akan mengeluarkan biaya lebih besar untuk bertemu dokter-dokter medis. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
----------------------
Akun resmi saya di Telegram dan Instagram adalah @ipphoright . Ada baiknya pelan-pelan kita ajak keluarga kita dan sahabat kita beralih ke Telegram karena lebih ringan, lebih cepat, dan lebih aman. Klik telegram.me/ipphoright
Setelah menikah, biasanya orang jadi gemukan. Anda atau saudara Anda pernah mengalaminya? Hehehe. Sebuah riset menunjukkan pasangan menikah yang bahagia cenderung mengalami kenaikan berat badan. Nah lho!
"Hal ini mungkin disebabkan banyak orang lebih mengasosiasikan berat badan dengan penampilan ketimbang kesehatan. Penampilan, ini menjadi sesuatu yang kurang penting ketika seseorang telah menikah," ungkap Andrea Meltzer, asisten profesor psikologi dari Florida State University yang memimpin riset tersebut.
"Baiknya di sini kita fokus pada manfaat sehat, bukan sekedar penampilan. Dengan demikian, kita akan mampu menghindari potensi kenaikan berat badan saat menjalin sebuah hubungan," ujar Andrea Meltzer.
Sebenarnya, sedikit gemuk atau sedikit kurus, tak terlalu masalah. Asalkan kita benar-benar sehat.
Btw, inilah 7 dokter dari alam yang membuat kita tetap sehat:
1. Mentari pagi
2. Udara pagi
3. Air yang bersih
4. Tanah yang subur
5. Buah & sayur segar
6. Madu & propolis
7. Keindahan alam
Pada akhirnya, rajin-rajinlah bertemu dengan dokter alam. Gratis. Kalau tidak, Anda akan mengeluarkan biaya lebih besar untuk bertemu dokter-dokter medis. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
----------------------
Akun resmi saya di Telegram dan Instagram adalah @ipphoright . Ada baiknya pelan-pelan kita ajak keluarga kita dan sahabat kita beralih ke Telegram karena lebih ringan, lebih cepat, dan lebih aman. Klik telegram.me/ipphoright