Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Saat ini, alhamdulillah saya dikaruniai 3 anak. Yang terakhir, masih bayi. Dia berusia 7 bulan. Jelas, sebagai ayah, saya masih perlu belajar ini-itu.

Percakapan dengan bayi ternyata membawa andil yang besar, demi perkembangan otaknya. Kalau kita perhatikan, bayi memang belum bisa bicara. Namun keterlibatan interaktif dengan bayi bisa menumbuhkan kemahiran bahasa, kesiapan sekolah, dan kemantapan emosional bayi. Demikianlah menurut jurnal JAMA Pediatrics.

Sayangnya menurut riset, banyak sekali anak-anak yang tidak mengalami pola komunikasi demikian. Terutama, anak-anak yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah. Di samping itu, pakar literasi Harvard Graduate School of Education, Meredith Rowe mengungkapkan, kualitas percakapan-lah yang mempengaruhi perkembangan otak bayi. Bukan kuantitas.

Meredith Rowe berkolaborasi dengan Barry Zuckerman menyimpulkan bahwa orangtua tak perlu kaku mengikuti kuantitas tertentu atau mengajak bayi bicara sepanjang hari. Tak harus seperti itu. Orangtua baiknya fokus mencari waktu untuk interaksi yang penuh kasih-sayang dan berkualitas tinggi, sekalipun durasinya pendek.

Selama beberapa hari terakhir, saya bersama anak dan istri berkunjung ke kampung ibu saya di Sumatera Barat. Sepanjang perjalanan saya dan istri berusaha menjalin komunikasi yang intens dengan bayi kami. Insya Allah ini bagian dari pendidikan untuk si bayi, baik secara intelektual, maupun secara emosional dan spiritual.

Semoga sharing ini bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika Anda membantu anak yatim, siapa yang lebih senang? Anak yatim itu atau Anda?

Ketika Anda membantu orang dhuafa, siapa yang lebih senang? Orang dhuafa itu atau Anda?

Pikirkan dulu sebelum dijawab. Sudah?

Si anak yatim dan si orang dhuafa memang senang. Namun jangan salah, ternyata Anda-lah lebih senang. Coba ingat-ingat kembali, pasti Anda pernah mengalami perasaan senang ini. Betul apa betul? Di seminar 7 Keajaiban Rezeki, hal ini sering kita bahas bahkan kita praktekkan bareng-bareng.

Lebih senang, kok bisa? Simak deh penjelasan berikut. Satu hal yang perlu ditegaskan, sebelum men-share tulisan ini, baiknya Anda baca dulu sampai selesai. Boleh?

Begini. Telah ditemukan fenomena 'warm-glow-effect’ oleh James Andreoni pada tahun 1989, di mana orang-orang yang beramal atau berbagi, akan mengalami sensasi perasaan positif. Sekali lagi, perasaan positif ini diperoleh setelah tindakan mereka memberi atau membantu orang lain.

Studi tahun 2006 oleh Jorge Moll dari National Institutes of Health menemukan, sejumlah area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa saling percaya teraktifkan ketika memberi. Otak pun dicurahi endorfin dan dopamin, sehingga menambah perasaan positif yang disebut 'helper’s high'. Semakin membaca tulisan ini, Anda pun semakin tertarik untuk men-share-nya.

Tidak cukup sampai di situ, rupanya terdapat sederet penelitian menunjukkan korelasi antara sikap dermawan dan kesehatan. Di antaranya penelitian Stephanie Post, yang dimuat dalam buku Why Good Things Happen To Good People, yang menyimpulkan bahwa berbagi kepada sesama dapat meningkatkan kesehatan penderita penyakit kronis, seperti HIV.

Sebagian orang sudah yakin dengan dalil-dalil agama terkait berbagi. Itu bagus. Namun yang lain masih ragu-ragu. Jujur saja, mereka lebih menyukai data-data ilmiah. Nah, penjelasan singkat di atas membuktikan secara rasional bahwa berbagi itu menyehatkan. Benar-benar menyehatkan. Right?

Kita bisa berbagi dalam bentuk apa saja. Mungkin uang, tenaga, waktu, perhatian, doa, atau yang lainnya. Di hari yang sangat baik ini, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah men-share tulisan ini. Bayangkan, setiap kali si pembaca tergerak hatinya untuk berbagi, maka kita (saya dan Anda) akan turut keciprat pahala dan berkahnya.

Tertarik?
Lihatlah, barang kalau nggak berguna, akan diletakkan di pinggir. Lama-lama, diletakkan di gudang. Pada akhirnya, diletakkan di tong sampah. Manusia kurang-lebih juga sama. Yang tak berguna, pelan-pelan akan dipinggirkan dan disingkirkan. Bukankah emas dinilai dari karat dan manusia dinilai dari manfaat? Anda sepakat?

Hidup itu perlu solusi.

Ngomong-ngomong:
- Siapa yang profit-nya paling banyak?
- Siapa yang pahalanya sangat banyak?
- Siapa yang dirindukan oleh orang banyak?

Ternyata jawabannya sama. Yaitu mereka yang menjadi solusi bagi sesamanya. So-lu-si. Karena itu, tidak ada pilihan lain, jadilah bagian dari solusi. Jika tidak, cepat atau lambat, Anda akan menjadi bagian dari masalah. Itu pesan guru saya dan selalu saya ingat-ingat sampai sekarang.

Sebagian orang heran, kok belakangan ini saya jarang sharing di blog. Bukan apa-apa, sekarang saya lebih memilih untuk sharing dalam bentuk text dan picture di channel Telegram: ipphoright. Tetap berbagi solusi. Menurut saya, saat ini Telegram itu lebih selektif juga lebih efektif. Nggak tahu ke depannya seperti apa.

Perhatikan ini:
- Ingin sukses, sukseskan orang lain
- Ingin cerdas, cerdaskan orang lain
- Ingin doa terkabul, doakan orang lain

Sekarang, Anda ingin mengalami keajaiban rezeki?
Bener-bener ingin?

Baiklah, saya akan memberitahu caranya, dengan dua syarat:
- Pertama, jangan tunda (langsung praktek)
- Kedua, jangan tanya (apalagi mempertanyakan)

Dengar, taati. Itu intinya.

Siap praktek?

Baiklah, begini caranya.

Ajak teman-teman bergabung di channel ini. Minimal 5 orang.

Bayangkan, setiap kali mereka memetik inspirasi dan motivasi dari channel ini, maka Anda dan saya turut kebagian berkahnya. Terus, mungkinkah ini berdampak terhadap kesuksesan Anda? Jelas! Karena Anda menginginkan teman-teman Anda turut sukses, lha apa mungkin Yang Maha Kuasa diam saja? Mana mungkin! Tentulah Dia Yang Maha Pemurah menolong Anda agar lebih sukses!

Kalau sudah begini, rezeki yang berkah dan berlimpah bukan suatu yang mustahil lagi. Pengalaman yang sudah-sudah, sekitar 80% orang yang berbagi akan mengalami keajaiban rezeki dalam waktu 7 hari atau kurang. Sisanya lagi, mungkin perlu sedikit waktu, ketulusan, kesabaran, dan baiksangka.

Siap membuktikan?
Anda pengusaha? Untuk jadi pengusaha, Anda belajar berapa tahun, baik secara formal maupun non formal? Hm, bisa bertahun-tahun.

Kalau Anda ingin menjadi notaris, arsitek, atau pengacara, Anda harus kuliah sampai 4 tahun bahkan lebih. Belajar. Nah, setiap kita insya Allah pasti akan menjadi ayah atau ibu. Sudahkah kita belajar untuk itu? Berapa tahun? Jangan mengandalkan logika kita saja. Kadang dicampur pula dengan logika dari orangtua kita yang kebanyakan juga tidak belajar. Akhirnya ke anak, kita seperti coba-coba saja.

Sekiranya Anda belajar sungguh-sungguh selama bertahun-tahun demi menjadi profesional atau entrepreneur, mestinya Anda lebih belajar lagi untuk menjadi ayah atau ibu, juga untuk menjadi suami dan istri. Soalnya guru saya pernah berpesan, “Dalam karier atau bisnis, kamu boleh gagal. Tapi dalam mendidik anak, kamu harus berhasil. Karena mendidik anak itu tidak bisa diulang.”

Hal sederhana saja, soal ASI. Ternyata itu bukan tanggung-jawab ibu. Sekali lagi, bukan tanggung-jawab ibu. Dan masih banyak hal lainnya. Sudahkah Anda mengetahuinya?

Tulisan ini penting banget! Simak deh » http://bit.ly/penafkahan
Anda karyawan?
Anda pengusaha?

Simak deh…

Sekarang kita berandai-andai. Katakanlah, ada seorang laki-laki jahat. Sebut saja, preman. Mungkin ia masih berani mencuri sebuah jambu. Mungkin pula, ia masih berani memakan jambu curian tersebut. Yah, namanya juga orang jahat. Preman. Akan tetapi, beranikah ia memberikan jambu curian itu kepada ibu, istri, atau anaknya? Kemungkinan besar, ia tidak berani. Kenapa? Disadari atau tidak, seorang laki-laki sejati masih berprinsip, “Walau bagaimanapun, keluargaku harus menikmati makanan yang baik-baik. Bukan jambu curian.”

Sadarkah kita:
- Kalau kita pejabat atau aparat, lalu kita menerima suap, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian!
- Kalau kita pengusaha atau profesional, lalu kita memperoleh proyek karena memberikan suap, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian!
- Kalau kita karyawan, lalu kita memperoleh uang karena manipulasi atau sejenisnya, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian! Dengan kata lain, kita lebih parah daripada preman yang dikisahkan tadi!

Think…
Ada channel ilmu yang keren. Seputar menarik rezeki.
Namanya Magnet Rezeki, dipimpin langsung oleh Pak Nasrullah, pelopor property syariah yang sekarang tengah bersiap-siap membangun apartemen di Depok. Tahun lalu, saya bersama beliau menulis buku bersama, judulnya Magnet Rezeki.

Di Telegram, dia sering bagi-bagi ilmu, gratis. Berupa tulisan, audio, dan video.

https://telegram.me/rahasiamagnetrezeki

Cara bergabung ke channel Magnet Rezeki:

1. Install aplikasi Telegram (gratis)

2. Masukkan nomor telepon Anda untuk verifikasi, sama seperti registrasi WhatsApp

3. Di tombol search, ketik RahasiaMagnetRezeki

4. Klik dan join

5. Selamat belajar

Setelah join, silakan lihat-lihat pesan (posting) sebelumnya. Sangat bermanfaat.
Sudahkah kita mendoakan orangtua hari ini?
Dengan sebaik-baik doa?

Ketika kita masih kecil, orangtua berusaha memberikan yang terbaik untuk kita: mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, sampai ke mainan. Mereka selalu menomorsatukan kita. Sekarang, ketika kita dewasa, apakah kita memberikan yang terbaik untuk mereka? Apakah kita menomorsatukan mereka? Yang ada, kita malah menomorduakan mereka. Biasanya rumah, makanan, dan pakaian kita jauh lebih baik daripada orangtua.

Yang ironis, biasanya beginilah cara kita ‘berbakti’:
- Begitu kita hidup susah, maka dilantiklah orangtua menjadi pembantu di rumah kita.
- Begitu kita sibuk bekerja, maka dilantiklah orangtua menjadi babysitter di rumah kita.
- Begitu kita sibuk bepergian, maka dilantiklah orangtua menjadi satpam di rumah kita. Memang, kita tidak pernah menyebutnya begitu, tapi begitulah pekerjaaan mereka sehari-hari.

Manakala orangtua meninggal, barulah kita tersadar. Kita pun berubah membaik. Mestinya dibalik. Kita berubah membaik dulu, sebelum orangtua meninggal. Tak perlu tunjuk sana-sini. Lebih baik introspeksi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Mohon doa ya untuk saya dan orangtua saya.
Kapan rezeki datang?

Sebenarnya, yah selalu.
Selagi kita masih ada umur.

Jangankan kita, hewan saja dijamin rezekinya. Jelek-jelek gitu, maling pun dijamin rezekinya. Yah, apalagi kita yang insya Allah orang baik-baik. Terlebih-lebih lagi kalau kita beriman.

Namun ada yang namanya rezeki tidak disangka-sangka. Sesuai namanya, tidak disangka-sangka, tapi datang seketika. Kapan datangnya? Saya pun berusaha mempelajari polanya, karena segala sesuatu ada polanya.

Alhamdulillah, sejak 2010 saya serius menulis tentang rezeki. Mulai buku 7 Keajaiban Rezeki sampai buku Percepatan Rezeki. Ada pula buku Magnet Rezeki. Akhirnya pola itu sedikit-banyak saya temukan.

Hm, apa saja polanya? Begini:
- Setelah kita berserah diri kepada-Nya (tawakal)
- Saat kita berusaha mematuhi perintah-Nya
- Saat kita berusaha menjauhi larangan-Nya

Itu pola umumnya, yang hampir semua orang sudah mengetahuinya.

Terus, apa pola khususnya? Ternyata banyak.

Saya berjanji akan sharing pola-pola khususnya setelah channel ini mencapai 12.000 member. Sayang sekali, ilmu sebagus ini hanya dinikmati oleh 9.000 orang. Maka dari itu, ajaklah teman-teman kita untuk install Telegram dan bergabung di channel ipphoright.

Apalagi kita sama-sama tahu, saat kita sungguh-sungguh berharap orang lain membaik rezekinya, maka Dia Yang Maha Pemurah serta-merta memperbaiki rezeki kita. Dan ingat-ingatlah ini:

- Ingin cerdas, cerdaskan orang lain

- Ingin sukses, sukseskan orang lain

- Ingin doa terkabul, doakan orang lain
- Ingin dibantu Allah, bantu orang lain

- Ingin darah membaik, donor darah ke orang lain
- Dan seterusnya

Inilah kuncinya. Ketika Anda mengajak orang lain bergabung ke channel ini, niatkan sungguh-sungguh agar mereka membaik rezekinya. Istilah saya, berkah berlimpah. Sekali lagi, kuncinya pada kesungguhan niat.

Siap?
Karena saya pernah bertemu dan dinner bareng Donald Trump (capres Amerika saat ini), maka banyak orang yang bertanya-tanya tentang sikap saya. Apalagi foto dan videonya beredar di mana-mana.

Jujur saja, dulu saya sempat antusias ketika bertemu dengannya. Belajar. Namun ketika ia mengeluarkan pernyataan yang SARA dan memojokkan kelompok tertentu, saya pun turut mengecam.

Belajar, yah belajar. Namun, kritis dan tegas itu harus. Mana mungkin saya diam saja? Dan saya lihat sendiri, orang-orang yang satu agama, satu ras, bahkan satu partai dengan Donald Trump pun turut menyesalkan kejadian SARA ini.

Sebagian dari mereka menyebut kejadian ini sebagai aib bagi Amerika. Terlepas dari itu, benarkah Amerika selama ini anti sama Islam? Simak pendapat saya tentang Donald Trump dan Amerika » http://bit.ly/DonaldTrumpUS
Sering jalan-jalan?
Dari Jakarta ke Bandung?
Nggak mau macet?

Sekarang sudah tersedia jasa helikopter dengan tarif Rp 16,5 juta. Hehehe.

Mahal?

Itu sih tergantung.
Ketersediaan uang Anda.
Ketersediaan waktu Anda.
Kepadatan jadwal Anda.

Saya pribadi tidak menggunakan jasa itu untuk mudik, namun saya berusaha memahami logika mereka yang menggunakan jasa tersebut.

Nah, beda dengan orang-orang yang bermental miskin. Begitu membaca kabar ini, mereka langsung tersinggung. Mereka merasa dipermalukan. Harusnya, dijadikan motivasi. Buat apa tersinggung? Buat apa malu?

Ayo buka wawasan kita. Selama ini di Jakarta, sudah banyak jasa helikopter seperti itu. Sebagian pengusaha, mau meeting saja, karena kejar-kejaran dengan waktu, terpaksa memakai jasa helikopter. Memang perlu dan harus bagi mereka. Yah, demi menghemat waktu (terkait jadwal yang padat) dan meneken transaksi yang nilainya jauh lebih besar.

Sebenarnya di sini, saya tidak bicara soal jasa helikopter. Terus, soal apa?

Soal mental kaya dan mental miskin.

Kita, walaupun belum kaya, hendaknya memiliki mental kaya. Tidak kaget, tidak skeptis, dan tidak sinis kalau mendengar kabar-kabar seperti ini. Biasa saja.

Mobil seharga Rp 1 M.
Rumah seharga Rp 12 M
Kamar hotel Rp 2 juta semalam.
Sewa mobil Rp 5 juta sehari.

Nggak perlu kaget. Biasa saja.

Teman saya, flight dari Texas ke Jakarta, menggunakan fasilitas business class. Dibanding kelas ekonomi, harga tiket business class 4 kali lipat. Saya tanya, kok mau? Dia bilang, kalau di business class, bisa tidur dan berbaring dengan sempurna. Nyaman. Jadi, begitu landing, langsung fresh. Ini harus bagi dia, karena sederet meeting penting dan transaksi besar telah menanti.

Saya juga melihat pengusaha berinisial J (salah satu orang terkaya di negeri ini) terbang dari Jakarta ke Labuanbajo dengan pesawat pribadi. Bagi dia, mungkin saja proses mengantri, check in, dan menunggu bagasi, lumayan menyita waktu. Sementara, sederet meeting penting dan transaksi besar telah menanti. Dengan pesawat pribadi, dia pun bisa balik ke Jakarta suka-suka. Nggak nunggu-nunggu jadwal penerbangan umum.

Sikap kita? Tidak kaget, tidak skeptis, dan tidak sinis. Biasa saja. Ingatlah, ini bagian dari mental kaya.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apapun impianmu, selaraskan dan komunikasikan dengan orang-orang terdekatmu. Seperti istri, ayah, dan ibu. Syukur-syukur kalau para sahabat turut mendukungmu. Semakin banyak, semakin selaras, yah semakin melaju... Simak lanjutannya » http://bit.ly/SELARAS
“Mas Ippho, kok rajin banget nulis di Telegram dan social media?”

Mendengar pertanyaan itu, saya pun teringat pesan guru saya, "Apapun profesi dan posisimu, sangat disarankan untuk menulis."

Setiap kita tentulah dikaruniai ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. Sekecil apapun. Tidak inginkah Anda melipatgandakan manfaat itu dengan menuliskannya dan menyebarkannya?

Anda cukup mengemasnya menjadi satu tulisan yang apik dan menarik, sehingga orang lain memutuskan untuk membacanya, menyebarkannya, dan memetik manfaatnya. Istilahnya, memasifkan kebaikan.

Ingatlah, ucapan akan menguap. Tapi, tulisan akan mengendap. Hampir-hampir abadi. Ada sebuah petuah yang berbunyi, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Petuah itu benar adanya. Seratus persen. Ulama-ulama terdahulu sudah membuktikannya. Tokoh-tokoh dunia pun sudah melakukannya.

Gemar menulis bahkan bisa meredam emosi negatif, membuat kita lebih tenang, serta menyadari hal-hal penyebab kemarahan. Ini menurut Truth Heal Journal.

Yah, Anda bisa saja mulai menulis di blog, socmed, buletin kantor, mading di sekolah, kolom di koran, atau di mana saja. Gimana dengan buku? Nah, itu lebih baik. Hadirnya sebuah buku menunjukkan profesionalisme, portfolio, personal branding, dan kebanggaan bagi keluarga. Amal jariyah? Insya Allah itu pasti, bergantung niatnya.

Mau mengenal dunia? Bacalah buku. Mau dikenal dunia? Tulislah buku. Kalimat barusan amat sulit untuk disanggah dan dibantah. Alhamdulillah, saya pribadi bisa keliling dunia dan bertemu dengan puluhan tokoh dunia, yang menjadi wasilah alias perantara adalah buku.

Dan upah yang paling berharga bagi seorang penulis seperti saya adalah testimoni tulus dari pembaca yang menyatakan bahwa dia sudah berubah jauh lebih baik setelah membaca buku saya. Wah, mendengar ini, ada perasaan sejuk yang menyusup ke lubuk hati saya. Apalagi si pembaca yang telah berubah ini kemudian mengajak orang-orang untuk mengikuti langkah-langkahnya.

Nah, sekiranya Anda mengalami perubahan positif setelah bergabung di channel ipphoright ini, silakan japri ke admin. Testimoni tulus dari teman-teman insya Allah menjadi penyejuk dan penyemangat bagi kami untuk tetap menulis. Terakhir, mohon doanya untuk saya dan keluarga saya, juga kita semua. Semoga berkah berlimpah!
Deva Mahenra, Denny Cagur, Teuku Wisnu, dll adalah pembaca buku-buku saya sejak lama. Bahkan sebelum kami saling kenal secara personal. Alhamdulillah
Uang kertas selalu menemui masalah alias serba salah, ketika ditakar nilainya dengan barang dan jasa. Diperlukan lebih banyak uang untuk membeli benda yang sama, dan di lembaran uang tersebut ditulislah angka-angka yang semakin besar. Ya, inflasi.

Emas dan perak, nilai keduanya bisa saja tidak naik tinggi-tinggi amat, namun tetap berharga untuk ditukar dengan barang dan jasa. Bahkan, nilai keduanya secara konsisten dan persisten naik melebihi inflasi, sehingga siapa saja yang menyimpan asetnya dalam bentuk emas dan perak tidak pernah merasa rugi.

Untuk menjabarkan fenomena ini, Al-Ghazali dengan sederhana menyebut emas dan perak, “Bukanlah harga, melainkan cermin yang menggambarkan harga-harga.” Ya, cermin yang menggambarkan harga-harga. Hal ini perlu dipahami oleh semua orang, terutama karyawan alias orang gajian.

Untuk menangkal inflasi, saya sangat menyarankan teman-teman untuk berinvestasi. Dengan kata lain, gaji tanpa investasi, pastilah tergerus inflasi. Berinvestasi di mana? Emas, boleh. Properti, boleh. Reksadana syariah, boleh. Kawin sama orang kaya juga boleh. Hehehe. Tapi, apa iya orang kayanya mau sama ente? Hehehe.

Kalau uangnya mepet, gimana mau investasi? Justru kalau mepet, harus memaksakan diri untuk investasi. Supaya ke depan, nggak mepet-mepet lagi. Orang kaya, tanpa investasi sekalipun, tetap kaya. Kita yang belum kaya ini yang lebih memerlukan investasi. Mulai saja kecil-kecilan. Siap?

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Anda karyawan?

Suka atau tidak suka,
siap atau tidak siap,
atasan atau bawahan,
pastilah Anda bakal pensiun.

Betul apa betul?

Sudahkah Anda mempersiapkan diri?

Izinkan saya mengambil sebuah ilustrasi. Sebuah penelitian yang dihelat oleh Liberty Investments menyibak bahwa untuk mempersiapkan diri pensiun di umur 40 tahun, setidaknya Anda harus menabung sebesar 62,44 persen dari gaji bulanan Anda. Rutin tentunya. Sementara, jika Anda memutuskan untuk pensiun di usia yang lebih tua yaitu 70 tahun, Anda hanya perlu menabung sebesar 5,27 persen dari gaji bulanan Anda.

Masih banyak lagi hal-hal yang perlu kita ketahui sebagai karyawan dan calon pensiunan. Ada baiknya Anda mengikuti training persiapan pensiun, apakah yang diadakan oleh kantor ataupun Anda ikuti sendiri di luar kantor. Sekurang-kurangnya, bacalah buku tentang persiapan pensiun. Kabar baiknya, saya dan kawan-kawan insya Allah akan merilis buku seperti ini dan royalti 100% untuk sedekah.

Yang harus dipahami oleh karyawan adalah, masa pensiun bukanlah akhir dari hidup dan bukanlah ujung dari karya. Sama sekali BUKAN. Bagi sebagian orang, masa pensiun justru menjadi ‘kurva kedua’ dalam hidupnya, yakni masa produktif berikutnya setelah masa tugas resminya usai dan selesai. Sebut saja, second chance. Kapan-kapan, kita sambung lagi.

Salam berkah berlimpah dari saya, Ippho Santosa.
Mau umrah?
Mau mengumrahkan?

Hm, berarti tulisan ini untuk Anda. Sempatkan membaca.

Ke Tanah Suci adalah impian bagi banyak orang. Bagaimana caranya? Pertama, pantaskan diri (secara amal dan akhlak). Kedua, buka tabungan khusus. Ketiga, segera ikut manasik.

Ada tips yang lain? Ada. Banyak. Detailnya akan saya sampaikan ketika member di channel ini sudah mencapai 15.000.

Nah, begitu pulang dari Tanah Suci, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi sumber perubahan (agent of change)? Simak deh >> http://bit.ly/DariTanahSuci
Salah satu pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan bahwa kegiatan halal bihalal adalah produk asli Indonesia. Di negara lain tak ada istilah seperti ini. Menurut NU, adalah KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), salah satu pendiri NU asal Jombang, yang turut mencetuskan tradisi dan istilah tersebut.

Ini bermula saat kepemimpinan presiden pertama Indonesia, Bung Karno, dihadapkan dengan permasalahan yang serius. Sejumlah kementerian dalam kabinet mengalami disintegrasi antara satu dengan yang lain. Bagi Bung Karno, persoalan tersebut adalah perkara yang berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut. Kemudian Bung Karno menanyakan sebuah solusi yang tepat kepada kyai-kyai.

Lalu Bung Karno disarankan untuk mengadakan silaturahim antar menteri dalam kabinet. Dan ketika Bung Karno meminta ada istilah khusus yang lebih konkret, maka muncullah istilah halal bihalal. Sekarang, tradisi ini identik dengan acara silaturahim dan saling memaafkan paska Lebaran. Insya Allah ini baik secara kesehatan juga baik secara rezeki.

Simak lanjutannya » http://bit.ly/Maafkan
Rezeki tidak disangka-sangka, siapa sih yang nggak mau? Orang kaya sekalipun, pasti mau. Apalagi kita yang masih punya sederet cicilan. Hehehe.

Kapan datangnya rezeki seperti itu? Ternyata berpola.

Dan begini polanya:
- Setelah kita berserah diri kepada-Nya (tawakal)
- Saat kita berusaha mematuhi perintah-Nya
- Saat kita berusaha menjauhi larangan-Nya
- Saat kita berikhtiar sungguh-sungguh

Itu pola umumnya dan hampir semua orang sudah mengetahuinya.

Terus, apa pola khususnya? Ternyata banyak. Karena channel ini sudah mencapai 12.000 member, maka izinkan saya untuk memberitahu pola-pola khusus dari rezeki tidak disangka-sangka.

Di antaranya:
- Ketika mood kita lagi bagus-bagusnya. Amat jarang terjadi, kita lagi marah-marah lalu dapat telepon yang isinya job atau sales yang besar.
- Selesai beramal dan berdoa.
- Setelah membantu orang lain.
- Setelah dizalimi namun kita bersabar.
- Setelah jatuh namun kita tawakal.
- Ketika bersegera menuntaskan tanggung-jawab besar.

Mau praktek?

Boleh dimulai dari yang mudah-mudah dulu.

Btw, sayang sekali, ilmu sebagus ini hanya kita-kita saja yang tahu. Tak inginkah Anda melihat sahabat dan saudara Anda turut membaik rezekinya?

Ingatlah, saat kita sungguh-sungguh berharap orang lain membaik rezekinya, maka Dia Yang Maha Pemurah serta-merta memperbaiki rezeki kita.

Maka bantulah orang lain untuk membaik rezekinya. Dengan ilmu atau apapun. Sekiranya belum bisa, tunjukkan jalan menuju ilmu tersebut. Ya, ini bagian dari praktek menuju rezeki yang tidak disangka-sangka.

Salah satu kuncinya ada di sini. Ya, di sini. Ketika Anda mengajak orang lain bergabung ke channel ipphoright ini, niatkan sungguh-sungguh agar mereka membaik rezekinya. Mudah-mudahan kesungguhan itu berdampak buat rezeki Anda.

Kalau Anda punya buku saya, pinjamkan itu kepada yang lain. Sekali lagi, berikan ilmu atau setidaknya tunjukkan jalan menuju ilmu tersebut. Simple tho? Boleh Telegram, boleh juga buku.

Satu hal lagi. Jika member di sini sudah mencapai 17.000, saya akan berbagi tips praktis untuk berumrah dan mengumrahkan. Nggak jadi soal berapapun uang yang ada di rekening kita saat ini.

Mau?