BERSAING DGN ALFAMART & INDOMARET
Salah seorang peserta seminar menelpon saya, "Pak, saya memiliki 1 minimarket di Bekasi yg berdiri 3 tahun yang lalu berkat inspirasi dari ikut seminar yg Bapak berikan. Alhamdulillah saat ini saya fokus mengelola minimarket saya, omsetnya sudah di atas 7 juta perhari."
"Tetapi 4 bulan yang lalu buka Indomaret berjarak 2 ruko di sebelah kiri saya dan 1 bulan yang lalu buka lagi Alfamart berjarak 4 ruko di sebelah kanan saya, omset saya langsung terjun bebas, saat ini menjadi hanya 1 juta per hari. Sudah pasti rugi dan saya bingung harus bagaimana. Apa sarannya Pak?"
Saya jawab, "Alfamart dan Indomaret itu sangat kuat karena memiliki banyak cabang, tetapi dibalik kekuatan itu sebenarnya ada kelemahan. Yakni tidak mudah untuk menambah jenis produk (karena sudah diatur seragam dari pusat). Nah toko bapak kan hanya satu, jadi gampang untuk mengubah/menambah jenis produk yang dijual, dan ada 1001 produk yg dibutuhkan orang yg mereka tidak jual."
"Silakan Bapak masih jualan produk yg sama seperti Alfamart saat ini, tapi tambah juga jenis lain yg mereka tidak jual, yakni ATK (mereka jual tapi sedikit), mainan, perlengkapan bayi, sandal, kacamata dll."
Beliau pun mengikuti saran saya dan menambah banyak produk di tokonya bahkan ada Aqua isi ulang, ada konter HP dll yg tidak mungkin Alfamart dan Indomaret akan mengikuti.
Akhirnya dalam tempo 6 bulan kemudian omsetnya sudah membaik menjadi 4 juta perhari (walau masih dibawah omset awal). Dia bertanya lagi, "Pak Wan yang saya bingung itu jika mereka promosi dan ada produk yang mereka jual dibawah harga grosir (tempat saya belanja), bagaimana cara menghadapinya?"
Saya balik bertanya, "berapa banyak barang promosi yg mereka jual dibawah harga grosir?"
"Tidak banyak Pak Wan, paling 5 item barang" jelasnya.
Saya lanjutkan, "Jika ada produk yang mereka jual dibawah grosir (umum ritel modern melakukan minus margin) maka jangan beli ke grosir, tapi beli ke toko mereka."
Benar, saran saya kembali diikuti, begitu Alfamart dan Indomaret promosi yg harga jual dibawah grosir maka 5 item produk itu diborong habis oleh beliau. Di saat pelanggan datang ke Alfamart produk promosi itu kosong dan bisa ditebak pelanggan datang ke tokonya. Dia menjual seharga yg dijual Alfamart (karena tidak perlu transport dan hanya butuh persiapan uang kas). Besok begitu lagi, diborong habis dan barang tersebut kosong di Alfamart.
Akhirnya Alfamart mengirim stok yg banyak dari pusat, dia tidak memborong (karena takut kadaluwarsa) dan beli hanya seperlunya saja. Alfamart tidak bisa melarang pelanggan belanja kan.
Terakhir dia bilang walaupun banyak produknya yang bisa bersaing dari Alfamart atau Indomaret namun image nya tetap mereka lebih murah. Saya tanya, "bapak ngomong gak sama pelanggan jika toko bapak lebih murah?"
"Ngomong Pak," jawabnya.
"Bagaimana ngomongnya?" lanjut saya.
"Saya bilang saat pelanggan belanja, ini gula lebih murah," jelasnya.
Saya komentari, "silahkan bapak ngomong spt itu, tetapi belum cukup, coba buat spanduk tulis bapak LEBIH MURAH DARI INDO DAN ALFA. Kan tidak ditulis lengkap Alfamart atau Indomaret."
Akhirnya dia buat spanduk tetapi tidak berani menulis nama pesaing itu, dia tulis "MINIMARKET TERMURAH, LEBIH MURAH DARI SEBELAH-SEBELAH". ๐๐
Saat ini omsetnya sudah lebih tinggi daripada dahulu sebelum dia jatuh. Intinya, jangan takut bersaing, jangan menyerah begitu saja. Semoga bermanfaat, bantu share ya.
Penulis: Wan MH.
Salah seorang peserta seminar menelpon saya, "Pak, saya memiliki 1 minimarket di Bekasi yg berdiri 3 tahun yang lalu berkat inspirasi dari ikut seminar yg Bapak berikan. Alhamdulillah saat ini saya fokus mengelola minimarket saya, omsetnya sudah di atas 7 juta perhari."
"Tetapi 4 bulan yang lalu buka Indomaret berjarak 2 ruko di sebelah kiri saya dan 1 bulan yang lalu buka lagi Alfamart berjarak 4 ruko di sebelah kanan saya, omset saya langsung terjun bebas, saat ini menjadi hanya 1 juta per hari. Sudah pasti rugi dan saya bingung harus bagaimana. Apa sarannya Pak?"
Saya jawab, "Alfamart dan Indomaret itu sangat kuat karena memiliki banyak cabang, tetapi dibalik kekuatan itu sebenarnya ada kelemahan. Yakni tidak mudah untuk menambah jenis produk (karena sudah diatur seragam dari pusat). Nah toko bapak kan hanya satu, jadi gampang untuk mengubah/menambah jenis produk yang dijual, dan ada 1001 produk yg dibutuhkan orang yg mereka tidak jual."
"Silakan Bapak masih jualan produk yg sama seperti Alfamart saat ini, tapi tambah juga jenis lain yg mereka tidak jual, yakni ATK (mereka jual tapi sedikit), mainan, perlengkapan bayi, sandal, kacamata dll."
Beliau pun mengikuti saran saya dan menambah banyak produk di tokonya bahkan ada Aqua isi ulang, ada konter HP dll yg tidak mungkin Alfamart dan Indomaret akan mengikuti.
Akhirnya dalam tempo 6 bulan kemudian omsetnya sudah membaik menjadi 4 juta perhari (walau masih dibawah omset awal). Dia bertanya lagi, "Pak Wan yang saya bingung itu jika mereka promosi dan ada produk yang mereka jual dibawah harga grosir (tempat saya belanja), bagaimana cara menghadapinya?"
Saya balik bertanya, "berapa banyak barang promosi yg mereka jual dibawah harga grosir?"
"Tidak banyak Pak Wan, paling 5 item barang" jelasnya.
Saya lanjutkan, "Jika ada produk yang mereka jual dibawah grosir (umum ritel modern melakukan minus margin) maka jangan beli ke grosir, tapi beli ke toko mereka."
Benar, saran saya kembali diikuti, begitu Alfamart dan Indomaret promosi yg harga jual dibawah grosir maka 5 item produk itu diborong habis oleh beliau. Di saat pelanggan datang ke Alfamart produk promosi itu kosong dan bisa ditebak pelanggan datang ke tokonya. Dia menjual seharga yg dijual Alfamart (karena tidak perlu transport dan hanya butuh persiapan uang kas). Besok begitu lagi, diborong habis dan barang tersebut kosong di Alfamart.
Akhirnya Alfamart mengirim stok yg banyak dari pusat, dia tidak memborong (karena takut kadaluwarsa) dan beli hanya seperlunya saja. Alfamart tidak bisa melarang pelanggan belanja kan.
Terakhir dia bilang walaupun banyak produknya yang bisa bersaing dari Alfamart atau Indomaret namun image nya tetap mereka lebih murah. Saya tanya, "bapak ngomong gak sama pelanggan jika toko bapak lebih murah?"
"Ngomong Pak," jawabnya.
"Bagaimana ngomongnya?" lanjut saya.
"Saya bilang saat pelanggan belanja, ini gula lebih murah," jelasnya.
Saya komentari, "silahkan bapak ngomong spt itu, tetapi belum cukup, coba buat spanduk tulis bapak LEBIH MURAH DARI INDO DAN ALFA. Kan tidak ditulis lengkap Alfamart atau Indomaret."
Akhirnya dia buat spanduk tetapi tidak berani menulis nama pesaing itu, dia tulis "MINIMARKET TERMURAH, LEBIH MURAH DARI SEBELAH-SEBELAH". ๐๐
Saat ini omsetnya sudah lebih tinggi daripada dahulu sebelum dia jatuh. Intinya, jangan takut bersaing, jangan menyerah begitu saja. Semoga bermanfaat, bantu share ya.
Penulis: Wan MH.
Suatu hari saya berbincang dengan sahabat dekat yang kebetulan pengurus DPP salah satu partai politik. Beliau yang juga pengusaha mengatakan alasan kenapa dia masuk ke dalam sistem (politik), karena jika hanya mengandalkan bisnisnya berapa banyak pengaruhnya bagi negeri ini, APBN Indonesia untuk 1 tahun saja ribuan trilyun rupiah, tetapi dengan masuk ke dalam sistem dia bisa memperbaiki dari dalam (termasuk struktur APBN).
Saya tidak bermaksud membahas tentang politik atau APBN, namun saya hanya merenung, jika saya hanya mengandalkan pada kemampuan sendiri, memperbaiki dan membesarkan bisnis, berapa banyak yang bisa saya lakukan yang bisa berpengaruh terhadap perekonomian bangsa ini. Rasanya secara % akan sangat kecil, ritel terbesar di Indonesia saja laba bersihnya paling ratusan milyar (dengan jumlah karyawan 100 ribu orang). Andaikata saya bisa mencapai itu (mungkin waktunya bisa 20 tahun atau lebih) hanya "kecil sekali" sumbangsihya jika dibandingkan APBN yang membiayai negeri ini, termasuk memberi penghasilan kepada jumlah karyawan yang maksimal hanya ratusan ribu. Saya tetap fokus dan berusaha mengembangkan bisnis ritel saya, tetapi pernyataan teman saya tadi cukup lama menggayut dipikiran saya.
Suatu hari saya nongkrong ngopi di gerobak dekat stasiun Bogor. Dari cerita pedagang tersebut dia mendapatkan modal (gerobak + isinya) dari seorang pemodal (yang punya beberapa gerobak di sana) senilai total Rp 4,5 juta dan sistemnya harus setoran Rp 30 ribu per hari. Artinya bagi pemilik modal akan BEP selama 5 bulan !! Bagi pedagang dengan omset Rp 400 ribu per hari, saya perkiraan akan dapat laba kotor Rp 160 ribu (40% karena laba kotor air mineral dan kopi cukup tinggi) maka minimal dia punya penghasilan bersih setiap hari Rp 100 ribu, lumayan bukan?
Sepintas hasil Rp 100 ribu cukup baik, namun dia tidak akan pernah punya bisnis sendiri, karena modal milik orang lain, dan uang Rp 100 ribu itu selalu habis memenuhi kebutuhan hidup dia dan keluarganya. Banyak juga pedagang laki lima yang milik sendiri, namun sekali lagi penghasilan selalu dihabiskan, sehingga sudah 5 tahun bahkan 10 tahun lebih kehidupan mereka tidak pernah berubah. Apa yang salah?
PENGETAHUAN, disini kuncinya... mereka tidak punya semangat/motivasi agar bisnisnya membesar (yang mestinya jika stok ditambah, omset naik, laba naik, mereka bisa punya Warung, toko bahkan minimarket), mereka tidak tahu caranya... mereka menganggap semuanya sudah takdir... mereka menganggap hidup ini sangat sulit, untuk bisa bertahan saja sudah bagus. Lingkungan hidup mereka, teman mereka, keluarga mereka, semua yang mereka temui setiap hari setiap saat... adalah sama juga seperti mereka. Tidak ada yang pernah mengatakan pada mereka, bahwa semua orang bisa sukses, dunia ini sangat berlimpah, apapun bisa dicapai asal mereka mau berjuang dan belajar caranya... sayang tidak ada yg pernah menyampaikan itu... tidak ada yang memotivasi mereka... banyak sekali gerobak, warung kecil di sudut kota Bogor, ada ratusan bahkan ribuan orang yang menggantungkan hidup dari sana, ada jutaan diseluruh daerah di Indonesia, sebagian besar hidup dalam kemiskinan, dibawah standar, padahal kesempatan terbuka lebar, mereka hidup di negara yang mestinya kaya, mereka seperti ayam kelaparan di lumbung padi ๐ญ๐ญ
Dua kejadian diatas makanya AMRI dilahirkan, AMRI yang bisa menaungi para pedagang (ritel) di Indonesia, toko tradisional, grosir, Warung, gerobak bahkan asongan... andaikata semua bisa bergabung, memiliki motivasi dan semangat serta mau tumbuh maka angka minimal 1 juta orang adalah angka yang masih kecil, potensinya bisa 10 juta bahkan 20 juta orang lebih di seluruh Indonesia. Kita ambil angka 10 juta saja dan masing-masing bisa punya 10 karyawan (karena binis ritelnya tunbuh) maka bisa memberi penghidupan 100 juta orang, Insya Allah akan bisa mengentaskan kemiskinan di negeri ini.
Saya sadar saya tidak bisa melakukan ini sendirian, makanya dengan bersama-sama dibawah naungan AMRI kita bersatu, mulai dengan belajar sambil mengembangkan bisnis kita bersama-sama dan kemudian kita tularka
Saya tidak bermaksud membahas tentang politik atau APBN, namun saya hanya merenung, jika saya hanya mengandalkan pada kemampuan sendiri, memperbaiki dan membesarkan bisnis, berapa banyak yang bisa saya lakukan yang bisa berpengaruh terhadap perekonomian bangsa ini. Rasanya secara % akan sangat kecil, ritel terbesar di Indonesia saja laba bersihnya paling ratusan milyar (dengan jumlah karyawan 100 ribu orang). Andaikata saya bisa mencapai itu (mungkin waktunya bisa 20 tahun atau lebih) hanya "kecil sekali" sumbangsihya jika dibandingkan APBN yang membiayai negeri ini, termasuk memberi penghasilan kepada jumlah karyawan yang maksimal hanya ratusan ribu. Saya tetap fokus dan berusaha mengembangkan bisnis ritel saya, tetapi pernyataan teman saya tadi cukup lama menggayut dipikiran saya.
Suatu hari saya nongkrong ngopi di gerobak dekat stasiun Bogor. Dari cerita pedagang tersebut dia mendapatkan modal (gerobak + isinya) dari seorang pemodal (yang punya beberapa gerobak di sana) senilai total Rp 4,5 juta dan sistemnya harus setoran Rp 30 ribu per hari. Artinya bagi pemilik modal akan BEP selama 5 bulan !! Bagi pedagang dengan omset Rp 400 ribu per hari, saya perkiraan akan dapat laba kotor Rp 160 ribu (40% karena laba kotor air mineral dan kopi cukup tinggi) maka minimal dia punya penghasilan bersih setiap hari Rp 100 ribu, lumayan bukan?
Sepintas hasil Rp 100 ribu cukup baik, namun dia tidak akan pernah punya bisnis sendiri, karena modal milik orang lain, dan uang Rp 100 ribu itu selalu habis memenuhi kebutuhan hidup dia dan keluarganya. Banyak juga pedagang laki lima yang milik sendiri, namun sekali lagi penghasilan selalu dihabiskan, sehingga sudah 5 tahun bahkan 10 tahun lebih kehidupan mereka tidak pernah berubah. Apa yang salah?
PENGETAHUAN, disini kuncinya... mereka tidak punya semangat/motivasi agar bisnisnya membesar (yang mestinya jika stok ditambah, omset naik, laba naik, mereka bisa punya Warung, toko bahkan minimarket), mereka tidak tahu caranya... mereka menganggap semuanya sudah takdir... mereka menganggap hidup ini sangat sulit, untuk bisa bertahan saja sudah bagus. Lingkungan hidup mereka, teman mereka, keluarga mereka, semua yang mereka temui setiap hari setiap saat... adalah sama juga seperti mereka. Tidak ada yang pernah mengatakan pada mereka, bahwa semua orang bisa sukses, dunia ini sangat berlimpah, apapun bisa dicapai asal mereka mau berjuang dan belajar caranya... sayang tidak ada yg pernah menyampaikan itu... tidak ada yang memotivasi mereka... banyak sekali gerobak, warung kecil di sudut kota Bogor, ada ratusan bahkan ribuan orang yang menggantungkan hidup dari sana, ada jutaan diseluruh daerah di Indonesia, sebagian besar hidup dalam kemiskinan, dibawah standar, padahal kesempatan terbuka lebar, mereka hidup di negara yang mestinya kaya, mereka seperti ayam kelaparan di lumbung padi ๐ญ๐ญ
Dua kejadian diatas makanya AMRI dilahirkan, AMRI yang bisa menaungi para pedagang (ritel) di Indonesia, toko tradisional, grosir, Warung, gerobak bahkan asongan... andaikata semua bisa bergabung, memiliki motivasi dan semangat serta mau tumbuh maka angka minimal 1 juta orang adalah angka yang masih kecil, potensinya bisa 10 juta bahkan 20 juta orang lebih di seluruh Indonesia. Kita ambil angka 10 juta saja dan masing-masing bisa punya 10 karyawan (karena binis ritelnya tunbuh) maka bisa memberi penghidupan 100 juta orang, Insya Allah akan bisa mengentaskan kemiskinan di negeri ini.
Saya sadar saya tidak bisa melakukan ini sendirian, makanya dengan bersama-sama dibawah naungan AMRI kita bersatu, mulai dengan belajar sambil mengembangkan bisnis kita bersama-sama dan kemudian kita tularka
n sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Semoga AMRI adalah perwujudan jihad alias perjuangan kita bersama di bisnis.
Wan MH
(Founder AMRI)
Bagi yang mau bergabung hubungi:
Bang Wahyu
WA# 085640900331
Bang Beny
WA# 08129021939
Mohon dibantu untuk disebarluaskan ya...
Wan MH
(Founder AMRI)
Bagi yang mau bergabung hubungi:
Bang Wahyu
WA# 085640900331
Bang Beny
WA# 08129021939
Mohon dibantu untuk disebarluaskan ya...
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini mengerikan.
Keadaan memburuk semenjak kita memasuki era reformasi, karena menurut Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), lembaga yang dipimpin oleh Christianto Wibisono atau Oey Kian Kok, di tahun 1990-an masih 30% penduduk yang menguasai 70-an persen PDB.
Hati-hati, ketimpangan ekonomi ini akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membolasalju karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
Ingatlah, berpisahnya Bangladesh dari Pakistan pada tahun 70-an, salah satunya dipicu oleh faktor ketimpangan ekonomi. Toh, kita juga pernah mengalaminya, yaitu berupa krisis moneter dan kerusuhan pada tahun 1998.
Lantas, apa solusi praktis dari saya? Pertama, galakkan sedekah dan zakat. Terus, apa lagi? Sebuah pesan klasik dari Nabi, menjadi landasan utama bagi saya dalam berpikir, "9 dari 10 bagian kehidupan berada di perniagaan."
Apa artinya? Bahasa gampangnya, 90% uang beredar di kalangan pengusaha. Yang 10% barulah beredar di kalangan yang lain. Dengan kata lain, untuk mapan secara finansial akan lebih mudah kalau Anda menjadi pengusaha atau investor.
Yang namanya pengusaha, tidak harus dimulai dengan usaha yang besar-besaran. Boleh usaha yang kecil-kecilan dulu. Bertahap, kemudian barulah diperbesar. Ketika pantas dan tiba waktunya, insya Allah besar beneran.
Bagi teman-teman yang ingin menjadi pengusaha dengan modal minim namun margin lumayan, izinkan saya memberi kabar baik. Boleh? Dengan modal Rp 3 juta, teman-teman bisa memulai usaha atau menambah varian baru dalam usaha yang sudah ada, sekaligus bermitra dengan saya.
Bagaimana detailnya? Insya Allah 30 Desember pagi, akan saya umumkan.
Daripada mengutuk ketimpangan ekonomi, lebih baik kita berbuat sebisanya dan menjadi bagian dari solusi. Tentu, sembari memberi masukan kepada pemerintah dan pengusaha-pengusaha besar agar lebih peka pada permasalahan ini.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Keadaan memburuk semenjak kita memasuki era reformasi, karena menurut Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), lembaga yang dipimpin oleh Christianto Wibisono atau Oey Kian Kok, di tahun 1990-an masih 30% penduduk yang menguasai 70-an persen PDB.
Hati-hati, ketimpangan ekonomi ini akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membolasalju karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
Ingatlah, berpisahnya Bangladesh dari Pakistan pada tahun 70-an, salah satunya dipicu oleh faktor ketimpangan ekonomi. Toh, kita juga pernah mengalaminya, yaitu berupa krisis moneter dan kerusuhan pada tahun 1998.
Lantas, apa solusi praktis dari saya? Pertama, galakkan sedekah dan zakat. Terus, apa lagi? Sebuah pesan klasik dari Nabi, menjadi landasan utama bagi saya dalam berpikir, "9 dari 10 bagian kehidupan berada di perniagaan."
Apa artinya? Bahasa gampangnya, 90% uang beredar di kalangan pengusaha. Yang 10% barulah beredar di kalangan yang lain. Dengan kata lain, untuk mapan secara finansial akan lebih mudah kalau Anda menjadi pengusaha atau investor.
Yang namanya pengusaha, tidak harus dimulai dengan usaha yang besar-besaran. Boleh usaha yang kecil-kecilan dulu. Bertahap, kemudian barulah diperbesar. Ketika pantas dan tiba waktunya, insya Allah besar beneran.
Bagi teman-teman yang ingin menjadi pengusaha dengan modal minim namun margin lumayan, izinkan saya memberi kabar baik. Boleh? Dengan modal Rp 3 juta, teman-teman bisa memulai usaha atau menambah varian baru dalam usaha yang sudah ada, sekaligus bermitra dengan saya.
Bagaimana detailnya? Insya Allah 30 Desember pagi, akan saya umumkan.
Daripada mengutuk ketimpangan ekonomi, lebih baik kita berbuat sebisanya dan menjadi bagian dari solusi. Tentu, sembari memberi masukan kepada pemerintah dan pengusaha-pengusaha besar agar lebih peka pada permasalahan ini.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya akan hadir di Jawa Tengah.
Dalam seminar #Rp100JutaPertama.
Klik ยป http://bit.ly/ipphojateng
Uang tiket 100% untuk sedekah!
Dalam seminar #Rp100JutaPertama.
Klik ยป http://bit.ly/ipphojateng
Uang tiket 100% untuk sedekah!
Anda berjenggot?
Suami Anda berjenggot?
Ayah Anda berjenggot?
Menurut sebuah studi di Journal of Evolutionary Biology, diketuai oleh Barnaby Dixson, pria berjenggot itu lebih setia dalam menjaga komitmen dan lebih memikat ketimbang pria yang tidak berjenggot. Tidak main-main, studi ini melibatkan 8.520 responden.
Selain itu, menurut para peneliti dari University of Southern Queensland, jenggot tebal memblokir 90 sampai 95 persen sinar radiasi ultraviolet yang berbahaya saat menerpa wajah Anda. Bahkan jenggot juga bisa memperlambat penuaan, mengurangi infeksi, mengurangi alergi, dan mencegah pilek.
Adanya jenggot memicu munculnya bakteri-bakteri yang berperan sebagai antibiotiks. Ini menurut ahli mikrobiologi, Dr Adam Roberts, dari University College London. Di samping itu, ia juga meneliti manfaat dari mengusap jenggot.
Semoga dengan adanya penelitian-penelitian ini, membuat Anda tidak risih lagi dengan pria-pria yang berjenggot. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Suami Anda berjenggot?
Ayah Anda berjenggot?
Menurut sebuah studi di Journal of Evolutionary Biology, diketuai oleh Barnaby Dixson, pria berjenggot itu lebih setia dalam menjaga komitmen dan lebih memikat ketimbang pria yang tidak berjenggot. Tidak main-main, studi ini melibatkan 8.520 responden.
Selain itu, menurut para peneliti dari University of Southern Queensland, jenggot tebal memblokir 90 sampai 95 persen sinar radiasi ultraviolet yang berbahaya saat menerpa wajah Anda. Bahkan jenggot juga bisa memperlambat penuaan, mengurangi infeksi, mengurangi alergi, dan mencegah pilek.
Adanya jenggot memicu munculnya bakteri-bakteri yang berperan sebagai antibiotiks. Ini menurut ahli mikrobiologi, Dr Adam Roberts, dari University College London. Di samping itu, ia juga meneliti manfaat dari mengusap jenggot.
Semoga dengan adanya penelitian-penelitian ini, membuat Anda tidak risih lagi dengan pria-pria yang berjenggot. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ustadz Yusuf Mansur hari ini milad. Boleh juga disebut ulang tahun. Maka kita ucapkan: semoga tetap sehat, semakin manfaat, rezeki berlipat, dicintai umat, dan selamat dunia-akhirat. Aamiin.
Pertemuan pertama saya dengan beliau pada tahun 2009. Di rumah beliau. Selanjutnya, izinkan saya menyebut beliau, YM. Semata-mata untuk meringkas dan mempermudah saja.
Berbanding ustadz-ustadz kondang lainnya, YM lebih gampang diakses. Lihat saja di social media. Di sisi lain, kalaupun bertemu Aa Gym, Habib Rizieq, atau senior-senior lainnya, YM tak keberatan untuk cium tangan. Humble.
Padahal bisnisnya triliunan rupiah. Rumah tahfiz-nya ribuan cabang. Pengaruh dan jangkauannya jangan ditanya. Sangat meluas, sangat mendalam. Namun begitulah, tetap humble.
Ketika di-bully dan diolokin orang, YM cenderung untuk mengalah. Biasanya diam atau malah minta maaf. Padahal dengan pengaruh, relasi, dan follower yang dia punya, dia bisa membalas dengan lebih keras. Tapi itu nggak pernah dia lakukan.
Satu hal lagi. Pengalaman pribadi nih. Kalau ada sesuatu yang BAIK dari saya, YM sering mengekspos itu di depan publik. Di social media, tabligh akbar, atau di mana gitu. Tapi kalau ada yang KURANG BAIK dari saya, YM men-japri saya. Diam-diam. Orang lain nggak perlu tahu.
Kadang saya heran sama beberapa orang yang ngakunya teman saya. Tapi kalau ada yang kurang baik dari saya, eh kritiknya malah di social media atau grup WA. Sebagian malah cari panggung, pengen terlihat heroik. Padahal kan dia bisa japri saya. Saling kenal tho?
Bukan apa-apa. Insya Allah saya sangat terbuka dengan kritik. Tapi kalau ada kritik antar tokoh seperti itu, biasanya yang ribut malah follower kita. Gaduh. Kalau dibiarin, dalam jangka panjang malah bisa mengarah pada perpecahan umat.
Soal beginian YM cuma berpesan ke saya, "Nggak usah dibalas. Nggak usah dipikirin. Ntar follower malah bingung dan pecah." Padahal umur saya dan YM cuma beda 2 tahun. Tapi dari segi bijaksana dan perihal lainnya, saya bener-bener tertinggal juga sangat perlu belajar.
Terakhir, YM juga menganjurkan kita untuk berbisnis dan kuat finansial. Nggak harus langsung besar. Bertahap dulu juga boleh. Malah kalau ngarepnya langsung besar, ntar malah nggak mulai-mulai. Lagi-lagi saya setuju dengan hal ini. Saya harap, Anda juga.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pertemuan pertama saya dengan beliau pada tahun 2009. Di rumah beliau. Selanjutnya, izinkan saya menyebut beliau, YM. Semata-mata untuk meringkas dan mempermudah saja.
Berbanding ustadz-ustadz kondang lainnya, YM lebih gampang diakses. Lihat saja di social media. Di sisi lain, kalaupun bertemu Aa Gym, Habib Rizieq, atau senior-senior lainnya, YM tak keberatan untuk cium tangan. Humble.
Padahal bisnisnya triliunan rupiah. Rumah tahfiz-nya ribuan cabang. Pengaruh dan jangkauannya jangan ditanya. Sangat meluas, sangat mendalam. Namun begitulah, tetap humble.
Ketika di-bully dan diolokin orang, YM cenderung untuk mengalah. Biasanya diam atau malah minta maaf. Padahal dengan pengaruh, relasi, dan follower yang dia punya, dia bisa membalas dengan lebih keras. Tapi itu nggak pernah dia lakukan.
Satu hal lagi. Pengalaman pribadi nih. Kalau ada sesuatu yang BAIK dari saya, YM sering mengekspos itu di depan publik. Di social media, tabligh akbar, atau di mana gitu. Tapi kalau ada yang KURANG BAIK dari saya, YM men-japri saya. Diam-diam. Orang lain nggak perlu tahu.
Kadang saya heran sama beberapa orang yang ngakunya teman saya. Tapi kalau ada yang kurang baik dari saya, eh kritiknya malah di social media atau grup WA. Sebagian malah cari panggung, pengen terlihat heroik. Padahal kan dia bisa japri saya. Saling kenal tho?
Bukan apa-apa. Insya Allah saya sangat terbuka dengan kritik. Tapi kalau ada kritik antar tokoh seperti itu, biasanya yang ribut malah follower kita. Gaduh. Kalau dibiarin, dalam jangka panjang malah bisa mengarah pada perpecahan umat.
Soal beginian YM cuma berpesan ke saya, "Nggak usah dibalas. Nggak usah dipikirin. Ntar follower malah bingung dan pecah." Padahal umur saya dan YM cuma beda 2 tahun. Tapi dari segi bijaksana dan perihal lainnya, saya bener-bener tertinggal juga sangat perlu belajar.
Terakhir, YM juga menganjurkan kita untuk berbisnis dan kuat finansial. Nggak harus langsung besar. Bertahap dulu juga boleh. Malah kalau ngarepnya langsung besar, ntar malah nggak mulai-mulai. Lagi-lagi saya setuju dengan hal ini. Saya harap, Anda juga.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Beberapa hari yang lalu saya diminta oleh stasiun televisi Metro TV untuk penjadwalan syuting pada Januari 2017. Untuk beberapa episode, rencananya. Seperti yang teman-teman tahu, selama ini saya rutin berbagi motivasi dan inspirasi di Metro TV.
Namun ternyata sepanjang Januari-Februari, jadwal saya lumayan padat. Terutama di luar kota. Belum lagi rencana rilis buku baru, di awal 2017.
Karena alasan jadwal dan faktor-faktor lainnya, saya pun memutuskan untuk off dulu pada Januari-Februari. Ya, off dulu. Sepertinya begitu. Tadi pagi saya sudah mengontak pihak Metro TV dan memberitahu soal hal ini.
Semoga nantinya saya bisa hadir kembali di layar kaca, mungkin di stasiun televisi A atau B. Atau stasiun televisi mana saja yang terbaik menurut Allah. Tampil di TV atau tidak, bukan isu yang utama bagi saya.
Dan teman-teman tidak perlu kuatir, insya Allah saya tetap berbagi motivasi dan inspirasi berupa video (visual) di media lainnya. Mungkin di FB, mungkin di YouTube. Doakan saja.
Dan saya sama sekali tidak menyangka, FB saya yang diikuti oleh 700.000 orang (likes), ternyata bisa menghadirkan viral sehingga disimak 2 sampai 4 juta orang dalam seminggu. Bahkan tembus 12 juta orang ketika Aksi 212 yang lalu. Ini menakjubkan, menurut saya. Belum lagi kalau saya dorong pakai FB Ads.
Saya merasa seperti mengelola sebuah media cetak sekaligus media siar bertaraf nasional. Alhamdulillah.
Satu lagi, teman-teman yang sudah bergabung di grup WA dan channel Telegram saya, itu jumlahnya juga lumayan dan loyal-loyal. Tak perlu dipertanyakan lagi, saya merasa sangat beruntung dikaruniai media-media komunikasi sehebat ini.
Doakan saya, semoga selalu dicurahi ilmu dan kesehatan, sehingga bisa berbagi kepada teman-teman semua. Apalagi saya sudah berjanji kepada Allah, semakin sering saya diundang oleh perusahaan-perusahaan (komersil), semakin sering saya berbagi untuk publik dalam bentuk charity seminar (sosial).
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Namun ternyata sepanjang Januari-Februari, jadwal saya lumayan padat. Terutama di luar kota. Belum lagi rencana rilis buku baru, di awal 2017.
Karena alasan jadwal dan faktor-faktor lainnya, saya pun memutuskan untuk off dulu pada Januari-Februari. Ya, off dulu. Sepertinya begitu. Tadi pagi saya sudah mengontak pihak Metro TV dan memberitahu soal hal ini.
Semoga nantinya saya bisa hadir kembali di layar kaca, mungkin di stasiun televisi A atau B. Atau stasiun televisi mana saja yang terbaik menurut Allah. Tampil di TV atau tidak, bukan isu yang utama bagi saya.
Dan teman-teman tidak perlu kuatir, insya Allah saya tetap berbagi motivasi dan inspirasi berupa video (visual) di media lainnya. Mungkin di FB, mungkin di YouTube. Doakan saja.
Dan saya sama sekali tidak menyangka, FB saya yang diikuti oleh 700.000 orang (likes), ternyata bisa menghadirkan viral sehingga disimak 2 sampai 4 juta orang dalam seminggu. Bahkan tembus 12 juta orang ketika Aksi 212 yang lalu. Ini menakjubkan, menurut saya. Belum lagi kalau saya dorong pakai FB Ads.
Saya merasa seperti mengelola sebuah media cetak sekaligus media siar bertaraf nasional. Alhamdulillah.
Satu lagi, teman-teman yang sudah bergabung di grup WA dan channel Telegram saya, itu jumlahnya juga lumayan dan loyal-loyal. Tak perlu dipertanyakan lagi, saya merasa sangat beruntung dikaruniai media-media komunikasi sehebat ini.
Doakan saya, semoga selalu dicurahi ilmu dan kesehatan, sehingga bisa berbagi kepada teman-teman semua. Apalagi saya sudah berjanji kepada Allah, semakin sering saya diundang oleh perusahaan-perusahaan (komersil), semakin sering saya berbagi untuk publik dalam bentuk charity seminar (sosial).
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di pagi yang cerah ini, saya ingin menyampaikan beberapa kabar baik:
1. Besok (tanggal 22), saya akan berseminar di Pekalongan dan Tegal. Uang tiket 100% untuk sedekah.
2. Awal Januari 2017, saya akan berseminar di Jakarta. Pagi seminar 7 Keajaiban Rezeki, siang seminar Rp 100 Juta Pertama.
3. Magang Internet Marketing di kantor saya untuk Desember 2016, mohon maaf, sudah full.
4. Buku saya 'Karyawan Juga Bisa Kaya' sudah bisa dipesan (PO) dengan harga dan bonus khusus.
5. Bertepatkan pada milad saya, 30 Desember, saya akan mengumumkan peluang usaha dengan modal terjangkau untuk teman-teman.
6. Istri saya hanya aktif di Instagram @AstridSuhaimi, tidak ada akun lainnya.
7. Saat ini saya, alumni seminar, dan lembaga ACT telah membangun 5 sekolah di pelosok-pelosok Indonesia. Mohon doanya agar terus bertambah.
Wuih, ternyata kabar baiknya banyak juga ya. Hehehe. Tapi insya Allah positif semua.
1. Besok (tanggal 22), saya akan berseminar di Pekalongan dan Tegal. Uang tiket 100% untuk sedekah.
2. Awal Januari 2017, saya akan berseminar di Jakarta. Pagi seminar 7 Keajaiban Rezeki, siang seminar Rp 100 Juta Pertama.
3. Magang Internet Marketing di kantor saya untuk Desember 2016, mohon maaf, sudah full.
4. Buku saya 'Karyawan Juga Bisa Kaya' sudah bisa dipesan (PO) dengan harga dan bonus khusus.
5. Bertepatkan pada milad saya, 30 Desember, saya akan mengumumkan peluang usaha dengan modal terjangkau untuk teman-teman.
6. Istri saya hanya aktif di Instagram @AstridSuhaimi, tidak ada akun lainnya.
7. Saat ini saya, alumni seminar, dan lembaga ACT telah membangun 5 sekolah di pelosok-pelosok Indonesia. Mohon doanya agar terus bertambah.
Wuih, ternyata kabar baiknya banyak juga ya. Hehehe. Tapi insya Allah positif semua.
Special Video 'Karyawan Juga Bisa Kaya' saya hadirkan di Telegram ini. Durasi 20 menit. Anda bisa simak, Anda bisa upload (Sedikit ralat: inflasi sekitar 10% per tahun, bukan per bulan)... Saya berjanji akan membagi-bagikan video seperti ini lagi kalau member di channel ini sudah mencapai 35.000 orang... Maka dari itu, ajaklah teman-teman kita dan saudara-saudara kita bergabung di channel ini...
Sekiranya masih memungkinkan, belanjalah di warung-warung tetangga. Bukan pada gurita-gurita ritel yang sudah menjalar ke mana-mana (baca: mematikan warung-warung kecil).
Belanja di warung-warung tetangga? Buat apa?
- Mempererat silaturahim. Toh, kalau kita sakit atau meninggal, yang peduli dan mengurusi kita adalah tetangga. Bukan gurita itu.
- Saling memakmurkan. Kalaupun Rp200 lebih mahal, tetaplah membeli di warung-warung tetangga. Anggap saja membantu biaya sekolah dan les anaknya.
- Mengurangi dominasi kapitalis. Kita tidak anti dengan mereka. Tapi apa salahnya kalau kita lebih berpihak pada pemain kecil, apalagi kalau ternyata kita kenal baik dengan pemain kecil itu.
- Kadang lebih fleksibel. Anda bisa memesan barang tertentu. Anda juga bisa minta delivery ke rumah. Hebatnya lagi, Anda masih dibolehkan ngutang, hehehe.
Ini sangat penting. Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kitalah yang mematikan karena absennya keberpihakan kita.
Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, dan sejenisnya.
Sementara, uang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Syukur-syukur bisa mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?
Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar mereka membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Belanja di warung-warung tetangga? Buat apa?
- Mempererat silaturahim. Toh, kalau kita sakit atau meninggal, yang peduli dan mengurusi kita adalah tetangga. Bukan gurita itu.
- Saling memakmurkan. Kalaupun Rp200 lebih mahal, tetaplah membeli di warung-warung tetangga. Anggap saja membantu biaya sekolah dan les anaknya.
- Mengurangi dominasi kapitalis. Kita tidak anti dengan mereka. Tapi apa salahnya kalau kita lebih berpihak pada pemain kecil, apalagi kalau ternyata kita kenal baik dengan pemain kecil itu.
- Kadang lebih fleksibel. Anda bisa memesan barang tertentu. Anda juga bisa minta delivery ke rumah. Hebatnya lagi, Anda masih dibolehkan ngutang, hehehe.
Ini sangat penting. Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kitalah yang mematikan karena absennya keberpihakan kita.
Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, dan sejenisnya.
Sementara, uang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Syukur-syukur bisa mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?
Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar mereka membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ingatkan anak-anak kita untuk lebih menghormati dan menyayangi ibu. Serukan, "Ibumu, ibumu, ibumu. Kemudian barulah ayahmu." Setuju?
Ratusan rakaat sholatmu, jutaan rupiah sedekahmu, belasan kali umrahmu, itu semua bisa terkikis habis nilainya jika dirimu durhaka kepada ibu atau mengabaikan ibu.
Dipilihnya hari ibu, hari guru, hari pahlawan, hari relawan, hari santri dll, itu semata-mata sebagai momentum belaka. Walaupun esensi dan penerapannya setiap hari.
Maka, pagi ini di Twitter ramailah tagar:
#HariIbu
#HariMamaTiapHari
#HappyMothersDay
Peringatan hari bela negara juga dipilih harinya, lagi-lagi sebagai momentum belaka. Walaupun intinya (semangat bela NKRI) yah setiap hari sepanjang tahun. Tidak terpaku pada satu atau dua hari saja.
Bukankah penetapan kalender Islam juga dipilih harinya? Para sahabat yang memilihnya. Jadi, boleh-boleh saja. Tak perlu lagi kita salahkan dan permasalahkan soal peringatan hari ini itu.
Kembali soal anak dan ibu. Ternyata anak yang dekat dengan ibunya akan menjadi anak yang sehat, kuat, taat, hangat dan bersahabat. Sebuah penelitan di Harvard bahkan menyimpulkan, anak yang dekat dengan ibunya cenderung sukses finansial.
Mari kita copas dan share artikel ini kepada saudara-saudara kita. Sekadar reminder, agar kita semua lebih selaras dan lebih berbakti kepada ibu.
Ratusan rakaat sholatmu, jutaan rupiah sedekahmu, belasan kali umrahmu, itu semua bisa terkikis habis nilainya jika dirimu durhaka kepada ibu atau mengabaikan ibu.
Dipilihnya hari ibu, hari guru, hari pahlawan, hari relawan, hari santri dll, itu semata-mata sebagai momentum belaka. Walaupun esensi dan penerapannya setiap hari.
Maka, pagi ini di Twitter ramailah tagar:
#HariIbu
#HariMamaTiapHari
#HappyMothersDay
Peringatan hari bela negara juga dipilih harinya, lagi-lagi sebagai momentum belaka. Walaupun intinya (semangat bela NKRI) yah setiap hari sepanjang tahun. Tidak terpaku pada satu atau dua hari saja.
Bukankah penetapan kalender Islam juga dipilih harinya? Para sahabat yang memilihnya. Jadi, boleh-boleh saja. Tak perlu lagi kita salahkan dan permasalahkan soal peringatan hari ini itu.
Kembali soal anak dan ibu. Ternyata anak yang dekat dengan ibunya akan menjadi anak yang sehat, kuat, taat, hangat dan bersahabat. Sebuah penelitan di Harvard bahkan menyimpulkan, anak yang dekat dengan ibunya cenderung sukses finansial.
Mari kita copas dan share artikel ini kepada saudara-saudara kita. Sekadar reminder, agar kita semua lebih selaras dan lebih berbakti kepada ibu.
Bulan Desember adalah bulan kesukaan saya.
30 Desember adalah hari kelahiran saya dan anak saya. Nah, bertepatan 30 Desember 2016, saya akan menawarkan sebuah peluang usaha yang istimewa buat teman-teman:
- modalnya cuma Rp3juta.
- marginnya lebih dari 100%.
- produknya salah satu yang terbaik di dunia.
Insya Allah para mitra akan saya bimbing agar mulai dan berkembang bisnisnya. Sampai di sini, sepertinya Anda mulai berminat dan itu respons yang sangat wajar.
Btw, ada bonus khusus bagi mereka yang take action pada 30 Desember. Terus, bagaimana detailnya? 30 Desember pagi akan saya jelaskan. Sekian dulu ya, Ippho Santosa.
30 Desember adalah hari kelahiran saya dan anak saya. Nah, bertepatan 30 Desember 2016, saya akan menawarkan sebuah peluang usaha yang istimewa buat teman-teman:
- modalnya cuma Rp3juta.
- marginnya lebih dari 100%.
- produknya salah satu yang terbaik di dunia.
Insya Allah para mitra akan saya bimbing agar mulai dan berkembang bisnisnya. Sampai di sini, sepertinya Anda mulai berminat dan itu respons yang sangat wajar.
Btw, ada bonus khusus bagi mereka yang take action pada 30 Desember. Terus, bagaimana detailnya? 30 Desember pagi akan saya jelaskan. Sekian dulu ya, Ippho Santosa.
Peserta magang Internet Marketing batch-4 mulai belajar di kantor saya. Seperti biasa, full alhamdulillah. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia. Hari ini, saya dan tim pun mulai mengajar.
5-12 Feb 2017, insya Allah akan ada magang Internet Marketing batch-5 di kantor saya. Kalau boleh saya berpesan, "Saatnya bisnis kita beralih pelan-pelan ke internet." Kenapa? Karena sangat murah, sangat mudah, dan terukur.
Bayangkan, orang perkotaan di Indonesia memegang ponselnya 5 jam dalam sehari. Sepertiga, mereka gunakan untuk online. Anehnya, sebagian entrepreneur masih bersikeras untuk jualan secara offline. Bener-bener aneh kan?
Kita sama-sama tahu, kekuatan media massa dan spanduk makin melorot. Sebaliknya, media sosial makin kinclong dan disorot. Tentunya bukan sembarang medsos, tapi medsos yang teroptimasi. Yang mencuat di Google dan FB.
Kalau sudah pakai ilmu Internet Marketing dan tepat, maka ini akan berdampak signifikan pada omset. Minimal bisa naik 40%. Bagaimana dengan cost? Insya Allah bisa hemat 70%. Yang sering terjadi, malah lebih daripada itu semua.
Bagi teman-teman yang minat ikut magang Internet Marketing di kantor saya, silakan SMS 0811-212-9955 dan SMS 0815-4333-3600. Bukan sekadar ilmu-ilmu online yang saya ajarkan, termasuk juga ilmu-ilmu offline. Minat?
5-12 Feb 2017, insya Allah akan ada magang Internet Marketing batch-5 di kantor saya. Kalau boleh saya berpesan, "Saatnya bisnis kita beralih pelan-pelan ke internet." Kenapa? Karena sangat murah, sangat mudah, dan terukur.
Bayangkan, orang perkotaan di Indonesia memegang ponselnya 5 jam dalam sehari. Sepertiga, mereka gunakan untuk online. Anehnya, sebagian entrepreneur masih bersikeras untuk jualan secara offline. Bener-bener aneh kan?
Kita sama-sama tahu, kekuatan media massa dan spanduk makin melorot. Sebaliknya, media sosial makin kinclong dan disorot. Tentunya bukan sembarang medsos, tapi medsos yang teroptimasi. Yang mencuat di Google dan FB.
Kalau sudah pakai ilmu Internet Marketing dan tepat, maka ini akan berdampak signifikan pada omset. Minimal bisa naik 40%. Bagaimana dengan cost? Insya Allah bisa hemat 70%. Yang sering terjadi, malah lebih daripada itu semua.
Bagi teman-teman yang minat ikut magang Internet Marketing di kantor saya, silakan SMS 0811-212-9955 dan SMS 0815-4333-3600. Bukan sekadar ilmu-ilmu online yang saya ajarkan, termasuk juga ilmu-ilmu offline. Minat?
Terkait natal, tulisan Jay Parini di CNN mengingatkan bahwa dulu Isa sempat mengungsi ke berbagai daerah demi menyelamatkan diri. Dengan memahami sejarah Isa sebagai pengungsi ini, Jay Parini berharap umat Nasrani saat ini mau dan mampu berempati kepada para pengungsi dari wilayah manapun.
Saya pribadi sempat mengunjungi tempat pengungsian Isa dan ibunya di beberapa titik di Afrika. Sebagian menjadi situs Islam, sebagian lagi menjadi situs Kristen. Kedua-duanya saya kunjungi demi memetik hikmah dan ibrah (pelajaran).
Di Tanah Air, hari ini dan kemarin Masjid Istiqlal membuka tempat parkirnya agar bisa digunakan oleh jemaat Nasrani yang ingin melaksanakan ibadat di Gereja Katedral, tepat di seberang Masjid Istiqlal. Demikian pula sebaliknya ketika Idul Fitri. Dan tradisi toleransi ini sudah berjalan selama puluhan tahun.
Di Tanah Air, kita sudah mengenal praktek toleransi sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan sebelum istilah toleransi ditemukan. Tentunya, dengan tidak mencampuradukkan satu agama dengan agama lainnya.
Lantas, bagaimana dengan ucapan natal? Sebagian besar Muslim sepertinya tidak bisa melakukannya karena alasan akidah. Tapi saya yakin, meski tidak diberi ucapan natal, seorang Nasrani sejati tak akan berkurang kadar bahagianya. Ya, ia bisa memahami kenapa saudaranya bersikap demikian.
Belum lama ini, ketika Aksi Damai 411, ratusan ribu massa bergerak dari jalan di depan Istiqlal dan Katedral. Total massa mencapai 2 juta orang. Tapi lihatlah, Katedral tak diusik. Yang mau menikah di Katedral pun, dimudahkan dan diberi jalan (diberitakan di Net TV). Tak ada selembar spanduk pun yang menunjukkan kebencian terhadap umat Nasrani.
Tuntutan massa cuma fokus pada satu orang saja. Bukan karena agamanya, bukan pula karena etnisnya. Ini juga yang disampaikan berulang kali oleh Jaya Suprana. Karena itu kita amat menyayangkan, berita-berita di luar negeri yang memelintir bahwa masyarakat Indonesia mendemo gubernur Jakarta karena agamanya.
Damai, inilah keinginan kita bersama. Bukankah begitu? Semoga di hari-hari yang damai ini, Yang Maha Kudus mencurahkan kasih dan sayang-Nya kepada kita semua. Bukan saja di Indonesia, melainkan juga di dunia. Aamiin.
Bagi saya, "Apapun agamamu, engkau adalah saudaraku, yang mesti kujaga dan kuhormati, sebagaimana engkau menjaga dan menghormati aku. Terakhir, inilah pendapat saya tentang Isa, "Tidak sempurna imanku jika aku tidak mengakui dan tidak mencintai Isa. Ya, ini bagian dari Rukun Iman."
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Silakan di-share.
Saya pribadi sempat mengunjungi tempat pengungsian Isa dan ibunya di beberapa titik di Afrika. Sebagian menjadi situs Islam, sebagian lagi menjadi situs Kristen. Kedua-duanya saya kunjungi demi memetik hikmah dan ibrah (pelajaran).
Di Tanah Air, hari ini dan kemarin Masjid Istiqlal membuka tempat parkirnya agar bisa digunakan oleh jemaat Nasrani yang ingin melaksanakan ibadat di Gereja Katedral, tepat di seberang Masjid Istiqlal. Demikian pula sebaliknya ketika Idul Fitri. Dan tradisi toleransi ini sudah berjalan selama puluhan tahun.
Di Tanah Air, kita sudah mengenal praktek toleransi sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan sebelum istilah toleransi ditemukan. Tentunya, dengan tidak mencampuradukkan satu agama dengan agama lainnya.
Lantas, bagaimana dengan ucapan natal? Sebagian besar Muslim sepertinya tidak bisa melakukannya karena alasan akidah. Tapi saya yakin, meski tidak diberi ucapan natal, seorang Nasrani sejati tak akan berkurang kadar bahagianya. Ya, ia bisa memahami kenapa saudaranya bersikap demikian.
Belum lama ini, ketika Aksi Damai 411, ratusan ribu massa bergerak dari jalan di depan Istiqlal dan Katedral. Total massa mencapai 2 juta orang. Tapi lihatlah, Katedral tak diusik. Yang mau menikah di Katedral pun, dimudahkan dan diberi jalan (diberitakan di Net TV). Tak ada selembar spanduk pun yang menunjukkan kebencian terhadap umat Nasrani.
Tuntutan massa cuma fokus pada satu orang saja. Bukan karena agamanya, bukan pula karena etnisnya. Ini juga yang disampaikan berulang kali oleh Jaya Suprana. Karena itu kita amat menyayangkan, berita-berita di luar negeri yang memelintir bahwa masyarakat Indonesia mendemo gubernur Jakarta karena agamanya.
Damai, inilah keinginan kita bersama. Bukankah begitu? Semoga di hari-hari yang damai ini, Yang Maha Kudus mencurahkan kasih dan sayang-Nya kepada kita semua. Bukan saja di Indonesia, melainkan juga di dunia. Aamiin.
Bagi saya, "Apapun agamamu, engkau adalah saudaraku, yang mesti kujaga dan kuhormati, sebagaimana engkau menjaga dan menghormati aku. Terakhir, inilah pendapat saya tentang Isa, "Tidak sempurna imanku jika aku tidak mengakui dan tidak mencintai Isa. Ya, ini bagian dari Rukun Iman."
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Silakan di-share.