Saya bertemu dengan calon istri saya cuma sekali. Terus, kami memutuskan untuk menikah.
Sebelum menikah, dia juga nggak minta macam-macam. Mas kawin, sederhana. Resepsi, sederhana. Kartu undangan, nggak ada.
Menurut saya, wanita yang nggak minta macam-macam, justru layak diperjuangkan dan diberikan macam-macam.
Simak lanjutannya » http://bit.ly/JemputlahJodoh
Ternyata menjemput jodoh tidak sesulit yang kita bayangkan, asalkan tahu ilmunya.
Sebelum menikah, dia juga nggak minta macam-macam. Mas kawin, sederhana. Resepsi, sederhana. Kartu undangan, nggak ada.
Menurut saya, wanita yang nggak minta macam-macam, justru layak diperjuangkan dan diberikan macam-macam.
Simak lanjutannya » http://bit.ly/JemputlahJodoh
Ternyata menjemput jodoh tidak sesulit yang kita bayangkan, asalkan tahu ilmunya.
Ekonomi syariah mengundang perdebatan dan kontroversi. Sampai seperti apa?
Terus, gimana solusinya?
Ini lebih seru daripada ILC, simak >>
http://simak.id/audio/listen/3563/kontroversi-ekonomi-syariah-dan-solusinya
Terus, gimana solusinya?
Ini lebih seru daripada ILC, simak >>
http://simak.id/audio/listen/3563/kontroversi-ekonomi-syariah-dan-solusinya
Nanti malam jam 8, saya #MerryRiana #JamesGwee hadir di Metro TV dengan tema #SiapaPahlawanmu.
Jarang-jarang saya meneteskan air mata ketika tampil di TV. Ini adalah salah satunya.
Insya Allah inspiring dan touching. Bagi yang luang waktunya, nonton ya. Ajak juga keluarga dan sahabatnya nonton.
Jarang-jarang saya meneteskan air mata ketika tampil di TV. Ini adalah salah satunya.
Insya Allah inspiring dan touching. Bagi yang luang waktunya, nonton ya. Ajak juga keluarga dan sahabatnya nonton.
Siapa sangka, ternyata 10 orang terdekat Anda mempengaruhi saldo Anda dan amal Anda.
Ini sepertinya bergurau, padahal tidak. Sama sekali tidak.
Maka, bergaullah dengan orang-orang yang tepat. Silaturahim. Networking.
Inilah istilahnya:
- Tanpa network, artinya not work (tidak berhasil).
- Network artinya net worth (kekayaan bersih).
- Network memang nice word (kata yang indah).
Sekiranya berdampak negatif terhadap diri Anda, maka jadikan ia teman biasa saja. Bukan sahabat dekat.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ini sepertinya bergurau, padahal tidak. Sama sekali tidak.
Maka, bergaullah dengan orang-orang yang tepat. Silaturahim. Networking.
Inilah istilahnya:
- Tanpa network, artinya not work (tidak berhasil).
- Network artinya net worth (kekayaan bersih).
- Network memang nice word (kata yang indah).
Sekiranya berdampak negatif terhadap diri Anda, maka jadikan ia teman biasa saja. Bukan sahabat dekat.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bayangkan kalau anak kita atau ponakan kita yang terkena lemparan bom itu? Pasti tak terkira sedihnya.
Sekarang, mari kita tunjukkan kepedulian kita. Bantu keluarga korban. Kita ringankan beban mereka sebisanya.
Setidaknya, bantu doa dan sebar gambar di atas. Berbuat. Buktikan bahwa diri kita adalah rahmat bagi semua.
Sekarang, mari kita tunjukkan kepedulian kita. Bantu keluarga korban. Kita ringankan beban mereka sebisanya.
Setidaknya, bantu doa dan sebar gambar di atas. Berbuat. Buktikan bahwa diri kita adalah rahmat bagi semua.
Ayo berbuat!
Kita bantu keluarga korban yang terkena bom di Samarinda. Kita ringankan beban mereka, sebisanya. Dengan doa dan donasi.
Berapapun jumlahnya, kecil atau besar, transfer saja ke BCA 676-025-4434 a/n Aksi Cepat Tanggap (Ini rekening khusus, tak perlu konfirmasi).
Paling tidak, bantu sebar informasi ini...
Kita bantu keluarga korban yang terkena bom di Samarinda. Kita ringankan beban mereka, sebisanya. Dengan doa dan donasi.
Berapapun jumlahnya, kecil atau besar, transfer saja ke BCA 676-025-4434 a/n Aksi Cepat Tanggap (Ini rekening khusus, tak perlu konfirmasi).
Paling tidak, bantu sebar informasi ini...
Tidak sedikit orang yang meramalkan, jika kita menawarkan produk dan layanan yang lebih baik, maka otomatis kita akan memenangkan percaturan bisnis. Betul begitu?
Maaf, kami kurang setuju! Untuk mencicipi kesuksesan dalam bisnis, karir, politik, dan percintaan, menjadi lebih baik (being better) terkadang tidak cukup.
Ribuan malam telah Anda lalui bersama pasangan hidup Anda. Namun satu hal yang pasti, Anda akan selalu mengenang malam pertama Anda. Ternyata, fenomena ini dapat dijadikan satu strategi pemasaran. Being first.
Manusia pertama yang mendarat di bulan, manusia pertama yang menemukan Amerika, manusia pertama yang memimpin Indonesia, dan manusia pertama yang menciptakan telepon, tidak akan mungkin diabaikan oleh sejarah.
Umat manusia akan senantiasa mengenang Neil Armstrong, Christopher Columbus, Sukarno, dan Alexander Graham Bell, walaupun kini muncul tokoh-tokoh yang lebih berprestasi daripada mereka. They are the first.
Maka dalam bisnis, jadilah yang pertama (being first). Mungkin menjadi yang pertama di dunia, mungkin di Indonesia, mungkin di kota Anda, atau setidak-tidaknya di kompleks rumah Anda. Hasilnya? Wow, barangkali tak ubahnya bagai malam pertama! Tak terlupakan!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Maaf, kami kurang setuju! Untuk mencicipi kesuksesan dalam bisnis, karir, politik, dan percintaan, menjadi lebih baik (being better) terkadang tidak cukup.
Ribuan malam telah Anda lalui bersama pasangan hidup Anda. Namun satu hal yang pasti, Anda akan selalu mengenang malam pertama Anda. Ternyata, fenomena ini dapat dijadikan satu strategi pemasaran. Being first.
Manusia pertama yang mendarat di bulan, manusia pertama yang menemukan Amerika, manusia pertama yang memimpin Indonesia, dan manusia pertama yang menciptakan telepon, tidak akan mungkin diabaikan oleh sejarah.
Umat manusia akan senantiasa mengenang Neil Armstrong, Christopher Columbus, Sukarno, dan Alexander Graham Bell, walaupun kini muncul tokoh-tokoh yang lebih berprestasi daripada mereka. They are the first.
Maka dalam bisnis, jadilah yang pertama (being first). Mungkin menjadi yang pertama di dunia, mungkin di Indonesia, mungkin di kota Anda, atau setidak-tidaknya di kompleks rumah Anda. Hasilnya? Wow, barangkali tak ubahnya bagai malam pertama! Tak terlupakan!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang dinanti-nanti...
Inspirasi bisnis dari saya bersama Ketua HIPMI dan Desi Anwar di CNN » https://www.youtube.com/watch?v=YgyHsxE6bdY
Cuma 10 menit, tapi mungkin mengubah jalan hidup Anda. Sempatkan nonton.
Dan baiknya lihat sekarang saja, sebelum saya berubah pikiran lalu menghapusnya.
Simak » https://www.youtube.com/watch?v=YgyHsxE6bdY
Inspirasi bisnis dari saya bersama Ketua HIPMI dan Desi Anwar di CNN » https://www.youtube.com/watch?v=YgyHsxE6bdY
Cuma 10 menit, tapi mungkin mengubah jalan hidup Anda. Sempatkan nonton.
Dan baiknya lihat sekarang saja, sebelum saya berubah pikiran lalu menghapusnya.
Simak » https://www.youtube.com/watch?v=YgyHsxE6bdY
Kita sama-sama tahu, bom telah meledak di Samarinda dan anak-anak kecil yang tak berdosa telah menjadi korbannya. Biadab, itulah predikat yang kita stempel-kan pada pelaku dan otaknya.
Siapakah otaknya? Entahlah. Mungkin beragama A, mungkin beragama B. Mungkin beretnis X, mungkin beretnis Y. Yang jelas, baik pelaku maupun otaknya sama-sama tak ingin kita semua hidup rukun dan damai. Menurut saya, para biadab itu dihukum mati saja.
Belasan tahun yang lalu, MUI telah mengeluarkan fatwa haram untuk segala bentuk terorisme. Dan satu hal lagi. Sekiranya kita ingin mengecam si pengebom, yah kecamlah si pengebom itu, tak perlu mengolok-olok agamanya dan pemuka agamanya.
Toh sebelumnya kita juga mengecam si penista agama, tanpa mengolok-olok agamanya dan pemuka agamanya. Saat demo pun, di antara 1 juta pengunjuk rasa, tak ada spanduk yang mengecam etnis dan agama tertentu. Ya, proporsional.
"Muslim sejati tak mungkin berbuat terorisme," seru seorang netizen. Saya setuju. 100% saya setuju. Tapi tolong ditambahkan juga, "Muslim sejati tentulah tergerak hatinya untuk membantu para korban." Demikian pula penganut yang lain. Karena ini soal kemanusiaan.
Senin kemarin saya mulai menggalang dana untuk para korban. Alhamdulillah dalam 24 jam terkumpul Rp50juta. Tentu saja ini belum cukup untuk menyantuni keluarga korban.
Yang ingin berpartisipasi, silakan transfer (berapa saja) ke BCA 676-025-4434 a/n Aksi Cepat Tanggap (ACT). Saya mendesak ACT untuk menyalurkan donasi tersebut hari ini atau besok.
Anak-anak yang menjadi korban, bayangkan itu adalah anak kita atau ponakan kita. Kebayang? Pastilah perih rasanya. Memang, donasi yang diberikan tidak bisa mengembalikan apa-apa yang telah direnggut.
Namun setidaknya donasi ini adalah bukti bahwa kita benar-benar peduli dan kita berusaha menjadi rahmat bagi semua, tanpa memandang apa latar belakangnya. Ungkapan lawasnya, "Kita semua bersaudara."
Setidaknya, kita doakan sungguh-sungguh dan share tulisan ini. Dan sekiranya mau bikin tulisan sejenis, juga boleh. Silakan. Intinya, berbuat sebisanya, jangan diam.
Siapakah otaknya? Entahlah. Mungkin beragama A, mungkin beragama B. Mungkin beretnis X, mungkin beretnis Y. Yang jelas, baik pelaku maupun otaknya sama-sama tak ingin kita semua hidup rukun dan damai. Menurut saya, para biadab itu dihukum mati saja.
Belasan tahun yang lalu, MUI telah mengeluarkan fatwa haram untuk segala bentuk terorisme. Dan satu hal lagi. Sekiranya kita ingin mengecam si pengebom, yah kecamlah si pengebom itu, tak perlu mengolok-olok agamanya dan pemuka agamanya.
Toh sebelumnya kita juga mengecam si penista agama, tanpa mengolok-olok agamanya dan pemuka agamanya. Saat demo pun, di antara 1 juta pengunjuk rasa, tak ada spanduk yang mengecam etnis dan agama tertentu. Ya, proporsional.
"Muslim sejati tak mungkin berbuat terorisme," seru seorang netizen. Saya setuju. 100% saya setuju. Tapi tolong ditambahkan juga, "Muslim sejati tentulah tergerak hatinya untuk membantu para korban." Demikian pula penganut yang lain. Karena ini soal kemanusiaan.
Senin kemarin saya mulai menggalang dana untuk para korban. Alhamdulillah dalam 24 jam terkumpul Rp50juta. Tentu saja ini belum cukup untuk menyantuni keluarga korban.
Yang ingin berpartisipasi, silakan transfer (berapa saja) ke BCA 676-025-4434 a/n Aksi Cepat Tanggap (ACT). Saya mendesak ACT untuk menyalurkan donasi tersebut hari ini atau besok.
Anak-anak yang menjadi korban, bayangkan itu adalah anak kita atau ponakan kita. Kebayang? Pastilah perih rasanya. Memang, donasi yang diberikan tidak bisa mengembalikan apa-apa yang telah direnggut.
Namun setidaknya donasi ini adalah bukti bahwa kita benar-benar peduli dan kita berusaha menjadi rahmat bagi semua, tanpa memandang apa latar belakangnya. Ungkapan lawasnya, "Kita semua bersaudara."
Setidaknya, kita doakan sungguh-sungguh dan share tulisan ini. Dan sekiranya mau bikin tulisan sejenis, juga boleh. Silakan. Intinya, berbuat sebisanya, jangan diam.
Kemarin saya dan istri nonton film #FantasticBeasts. Berharap seseru Harry Potter. Atau setidaknya seperti Miss Peregrine dan Goosebumps. Namun akhirnya kami kecewa. Bukan saya dan istri saja yang tertidur, ternyata penonton di belakang kami juga tertidur.
Seumur hidup, baru dua kali saya tertidur di bioskop. Begitulah Fantastic Beasts. Terlepas dari itu, anehnya ada netizen yang menganggap film ini versi lain dari film Beauty and The Beast. Ada pula yang menganggap ini versi lain dari Fantastic Four. Mungkin karena judulnya mirip. Hehehe, ada-ada saja.
Btw, ini soal selera. Maaf ya, kalau ternyata Anda dan saya beda selera. Kalau Anda mau nonton juga, yah silakan.
Sebenarnya, ada satu jenis film yang saya 'larang'. Apa itu? Film horor. Kenapa? Karena dapat mengurangi serotonin di otak. Terus, dampaknya? Anda mudah bad mood dan pesimis. Dampak lainnya? Anda merasa diri Anda inferior.
Film action, humor, dan drama, boleh-boleh saja Anda tonton. Asalkan positif tentunya. Fantastic Beasts juga boleh karena bukan film horor. Kalau film horor, saya tidak pernah merekomendasikan walaupun cuma sekali.
Setelah menonton film horor, coba perhatikan baik-baik, ada semacam perasaan waswas menyelinap di hati Anda. Bahkan setiba di rumah, masih saja ada perasaan waswas itu, bahkan bad mood. Inilah akibat dari berkurangnya serotonin di otak.
Sekali lagi, hindari film horor. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Seumur hidup, baru dua kali saya tertidur di bioskop. Begitulah Fantastic Beasts. Terlepas dari itu, anehnya ada netizen yang menganggap film ini versi lain dari film Beauty and The Beast. Ada pula yang menganggap ini versi lain dari Fantastic Four. Mungkin karena judulnya mirip. Hehehe, ada-ada saja.
Btw, ini soal selera. Maaf ya, kalau ternyata Anda dan saya beda selera. Kalau Anda mau nonton juga, yah silakan.
Sebenarnya, ada satu jenis film yang saya 'larang'. Apa itu? Film horor. Kenapa? Karena dapat mengurangi serotonin di otak. Terus, dampaknya? Anda mudah bad mood dan pesimis. Dampak lainnya? Anda merasa diri Anda inferior.
Film action, humor, dan drama, boleh-boleh saja Anda tonton. Asalkan positif tentunya. Fantastic Beasts juga boleh karena bukan film horor. Kalau film horor, saya tidak pernah merekomendasikan walaupun cuma sekali.
Setelah menonton film horor, coba perhatikan baik-baik, ada semacam perasaan waswas menyelinap di hati Anda. Bahkan setiba di rumah, masih saja ada perasaan waswas itu, bahkan bad mood. Inilah akibat dari berkurangnya serotonin di otak.
Sekali lagi, hindari film horor. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya tidak suka terus-menerus berspekulasi soal kasus bom di Samarinda. Saya lebih senang kalau kita semua berkontribusi. Sekali lagi, berkontribusi.
Seperti yang kita tahu, ledakan bom di tepi Samarinda telah menewaskan seorang anak dan menciderai anak-anak lainnya. Bukan itu saja dampaknya. Kerukunan dan persatuan kita pun diuji.
Maka, tak ada salahnya kalau kita semua diingatkan kembali soal ukhuwah wathoniyah (persaudaraan setanah air) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Bukan persaudaraan seiman dan seagama saja.
Ingatlah, yang menjadi korban itu adik-adik kita. Saudara-saudara kita. Mari kita ringankan beban mereka. Yang ingin berkontribusi, silakan transfer (berapa saja) ke BCA 676-025-4434 a/n Aksi Cepat Tanggap.
Sejauh ini banyak yang mengaku:
- agamaku rahmat bagi semua
- agamaku cinta-kasih
- agamaku kasih-sayang
- agamaku semua berbahagia
Baiklah, baiklah. Sekarang saatnya membuktikan itu semua. Mari berkontribusi.
Saya pun mendesak ACT untuk menyalurkan donasi tersebut hari ini kepada keluarga korban. Akhirnya, daripada terus berspekulasi, lebih baik mulai berkontribusi.
Seperti yang kita tahu, ledakan bom di tepi Samarinda telah menewaskan seorang anak dan menciderai anak-anak lainnya. Bukan itu saja dampaknya. Kerukunan dan persatuan kita pun diuji.
Maka, tak ada salahnya kalau kita semua diingatkan kembali soal ukhuwah wathoniyah (persaudaraan setanah air) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Bukan persaudaraan seiman dan seagama saja.
Ingatlah, yang menjadi korban itu adik-adik kita. Saudara-saudara kita. Mari kita ringankan beban mereka. Yang ingin berkontribusi, silakan transfer (berapa saja) ke BCA 676-025-4434 a/n Aksi Cepat Tanggap.
Sejauh ini banyak yang mengaku:
- agamaku rahmat bagi semua
- agamaku cinta-kasih
- agamaku kasih-sayang
- agamaku semua berbahagia
Baiklah, baiklah. Sekarang saatnya membuktikan itu semua. Mari berkontribusi.
Saya pun mendesak ACT untuk menyalurkan donasi tersebut hari ini kepada keluarga korban. Akhirnya, daripada terus berspekulasi, lebih baik mulai berkontribusi.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Saya bareng Bong Chandra, Merry Riana dll
Dulu, setiap kali disebut bulan November, maka yang saya ingat adalah 10 November dan November Rain, hehehe. Yang terakhir adalah sebuah lagu dari Guns N' Roses. Sekarang tambah lagi, 4 November.
Lantas, siapa sosok yang kita ingat ketika disebutkan 10 November? Yah siapa lagi kalau bukan Bung Tomo, lengkap dengan pekik kerasnya 'Allahu Akbar' yang membakar semangat rakyat Indonesia saat itu.
Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena perannya mengusir tentara NICA Belanda, yang berakhir dengan pertempuran sengit 10 November 1945 yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Ia sempat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, yang kemudian meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, pada umur 61 tahun. Mudah-mudahan tempat meninggalnya ini menjadi pertanda bahwa Allah memuliakan beliau. Aamiin.
Masih soal perjuangan. Anda sudah nonton film #HacksawRidge? This movie is very cool. Apalagi ada Andrew Garfield yang pernah memerankan Spiderman dan Vince Vaughn yang selalu memerankan karakter kocak. Film yang diwarnai semangat Bible dan diarahkan Mel Gibson ini mengajarkan kita tentang arti sebuah perjuangan.
Terakhir, terkait perjuangan, inilah pendapat para netizen:
Perjuangan karena dapat uang? Akan segera goyang.
Perjuangan karena alasan perut? Akan segera surut.
Perjuangan karena dapat nasi? Akan segera basi.
Perjuangan karena dapat bayaran? Akan segera bubaran.
Perjuangan karena dapat baju? Tidak akan maju.
Lantas, bagaimana dengan perjuangan karena alasan iman? Insya Allah akan tetap bertahan dan tak terpatahkan.
Ibarat sholat, satu rakaat atau dua rakaat, itu hal yang lumrah bagi seorang muslim. Toh selama ini tarawihnya bisa belasan rakaat bahkan 20-an rakaat. Ya, ini sebuah pengandaian semata. Begitulah, namanya perjuangan, tak pernah berjalan sebentar. Perlu waktu. Perlu stamina.
Semoga tulisan singkat ini menjadi inspirasi dan motivasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lantas, siapa sosok yang kita ingat ketika disebutkan 10 November? Yah siapa lagi kalau bukan Bung Tomo, lengkap dengan pekik kerasnya 'Allahu Akbar' yang membakar semangat rakyat Indonesia saat itu.
Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena perannya mengusir tentara NICA Belanda, yang berakhir dengan pertempuran sengit 10 November 1945 yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Ia sempat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, yang kemudian meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, pada umur 61 tahun. Mudah-mudahan tempat meninggalnya ini menjadi pertanda bahwa Allah memuliakan beliau. Aamiin.
Masih soal perjuangan. Anda sudah nonton film #HacksawRidge? This movie is very cool. Apalagi ada Andrew Garfield yang pernah memerankan Spiderman dan Vince Vaughn yang selalu memerankan karakter kocak. Film yang diwarnai semangat Bible dan diarahkan Mel Gibson ini mengajarkan kita tentang arti sebuah perjuangan.
Terakhir, terkait perjuangan, inilah pendapat para netizen:
Perjuangan karena dapat uang? Akan segera goyang.
Perjuangan karena alasan perut? Akan segera surut.
Perjuangan karena dapat nasi? Akan segera basi.
Perjuangan karena dapat bayaran? Akan segera bubaran.
Perjuangan karena dapat baju? Tidak akan maju.
Lantas, bagaimana dengan perjuangan karena alasan iman? Insya Allah akan tetap bertahan dan tak terpatahkan.
Ibarat sholat, satu rakaat atau dua rakaat, itu hal yang lumrah bagi seorang muslim. Toh selama ini tarawihnya bisa belasan rakaat bahkan 20-an rakaat. Ya, ini sebuah pengandaian semata. Begitulah, namanya perjuangan, tak pernah berjalan sebentar. Perlu waktu. Perlu stamina.
Semoga tulisan singkat ini menjadi inspirasi dan motivasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apa pendapat Robert Kiyosaki tentang Donald Trump, presiden terpilih AS?
"Many times I thought he was finished. But, he is a cat with nine lives."
"He is a president at one of the most turbulent times in world history."
"May God watch over all of us during this time of global change."
Sebelumnya, Kiyosaki menyangka Trump akan habis, boro-boro bisa menang. Di sisi lain, Kiyosaki menyadari sekarang adalah masa-masa sulit, siapapun presidennya. Karena itulah dia berharap Tuhan akan membimbing kita untuk melalui masa-masa penuh perubahan ini.
Toh Kiyosaki belum tahu, perubahan seperti apa yang bakal dibawa oleh Trump. Apakah great atau cuma greed. Saya pribadi sempat bertemu Trump, bahkan dua kali bertemu Kiyosaki. Waktu itu ceritanya saya mau belajar bisnis.
Lantas, apa saran saya? Saran saya, berita-berita bersifat makro jangan pernah mengalahkan dan mengalihkan perhatian kita pada hal-hal bersifat mikro. Contohnya? Berapa harga produk pesaing kita, berapa ketersediaan barang kita, sejauh apa kesiapan promosi kita, sejauh apa kesigapan tim kita, dll.
Belakangan ini, disengaja atau tidak, seringnya kita malah menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca berita-berita bersifat makro yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis kita. Tentu, itu semua perlu diketahui. Tapi, yah sekadar tahu saja. Nggak perlu didalami dan diselami.
Memulai bisnis saat ini jauh lebih mudah daripada masa-masa sebelumnya. Tidak harus memulai bisnis dari angka nol, di mana kita harus mengurusi produksi, desain, merek, harga dll. Kita cukup memulai bisnis dari 'angka 5' atau 'angka 6'. Maksudnya? Kita cukup menjual saja. Serahkan produksi, desain, merek dll kepada pihak lain yang lebih ahli dan lebih berpengalaman.
Kita-kita yang berusia 20-30 tahun, tidak terlalu dianjurkan untuk mengurusi produksi. Kenapa? Karena, untuk menghadirkan produksi yang efisien diperlukan modal yang banyak, waktu yang banyak, juga output produksi yang banyak. Jujur saja, orang-orang muda biasanya nggak bakal sanggup untuk itu.
Yang lebih saya anjurkan adalah menjual. Di mana kita bersentuhan langsung dengan komunitas (baca: konsumen). Nah, kalau begini, kita semua juga bisa. Istilahnya macam-macam, mulai dari reseller, agen, distributor, sampai mitra franchise dan mitra license dll. Modalnya nggak harus besar-besaran tho? Sementara, potensi margin per produk yang bakal dipetik malah lebih besar.
Gejolak politik di Amerika sepertinya tak akan membawa imbas besar pada bisnis kita. Secara umum, yah begitu. Maka tak ada salahnya kalau kita lebih memperhatikan bisnis kita atau peluang-peluang bisnis di sekitar kita. Seringkali peluang-peluang emas datang dan pandangan kita terhalang, karena pikiran kita sudah teralihkan pada isu-isu lain yang lalu-lalang. Ini kan sayang.
Kembali ke laptop. Get back to your business. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Many times I thought he was finished. But, he is a cat with nine lives."
"He is a president at one of the most turbulent times in world history."
"May God watch over all of us during this time of global change."
Sebelumnya, Kiyosaki menyangka Trump akan habis, boro-boro bisa menang. Di sisi lain, Kiyosaki menyadari sekarang adalah masa-masa sulit, siapapun presidennya. Karena itulah dia berharap Tuhan akan membimbing kita untuk melalui masa-masa penuh perubahan ini.
Toh Kiyosaki belum tahu, perubahan seperti apa yang bakal dibawa oleh Trump. Apakah great atau cuma greed. Saya pribadi sempat bertemu Trump, bahkan dua kali bertemu Kiyosaki. Waktu itu ceritanya saya mau belajar bisnis.
Lantas, apa saran saya? Saran saya, berita-berita bersifat makro jangan pernah mengalahkan dan mengalihkan perhatian kita pada hal-hal bersifat mikro. Contohnya? Berapa harga produk pesaing kita, berapa ketersediaan barang kita, sejauh apa kesiapan promosi kita, sejauh apa kesigapan tim kita, dll.
Belakangan ini, disengaja atau tidak, seringnya kita malah menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca berita-berita bersifat makro yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis kita. Tentu, itu semua perlu diketahui. Tapi, yah sekadar tahu saja. Nggak perlu didalami dan diselami.
Memulai bisnis saat ini jauh lebih mudah daripada masa-masa sebelumnya. Tidak harus memulai bisnis dari angka nol, di mana kita harus mengurusi produksi, desain, merek, harga dll. Kita cukup memulai bisnis dari 'angka 5' atau 'angka 6'. Maksudnya? Kita cukup menjual saja. Serahkan produksi, desain, merek dll kepada pihak lain yang lebih ahli dan lebih berpengalaman.
Kita-kita yang berusia 20-30 tahun, tidak terlalu dianjurkan untuk mengurusi produksi. Kenapa? Karena, untuk menghadirkan produksi yang efisien diperlukan modal yang banyak, waktu yang banyak, juga output produksi yang banyak. Jujur saja, orang-orang muda biasanya nggak bakal sanggup untuk itu.
Yang lebih saya anjurkan adalah menjual. Di mana kita bersentuhan langsung dengan komunitas (baca: konsumen). Nah, kalau begini, kita semua juga bisa. Istilahnya macam-macam, mulai dari reseller, agen, distributor, sampai mitra franchise dan mitra license dll. Modalnya nggak harus besar-besaran tho? Sementara, potensi margin per produk yang bakal dipetik malah lebih besar.
Gejolak politik di Amerika sepertinya tak akan membawa imbas besar pada bisnis kita. Secara umum, yah begitu. Maka tak ada salahnya kalau kita lebih memperhatikan bisnis kita atau peluang-peluang bisnis di sekitar kita. Seringkali peluang-peluang emas datang dan pandangan kita terhalang, karena pikiran kita sudah teralihkan pada isu-isu lain yang lalu-lalang. Ini kan sayang.
Kembali ke laptop. Get back to your business. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Jarang-jarang saya meneteskan air mata ketika tampil di TV. Ini adalah salah satunya.
Insya Allah inspiring dan touching. Sempatkan nonton ya. Cuma 10 menitan.
Ajak juga saudara dan sahabat kita nonton.
Insya Allah inspiring dan touching. Sempatkan nonton ya. Cuma 10 menitan.
Ajak juga saudara dan sahabat kita nonton.
Ada baiknya kita memiliki mentor yang tepat untuk bisnis kita. Memang tak mudah untuk mendapatkannya. Tapi ini bukan berarti mustahil. Bisa, insya Allah.
Lebih baik lagi kalau kita bisa bermitra dengannya atau bekerja untuknya (work with or work for). Dengan kata lain, kita menjadi partner-nya atau menjadi staf-nya.
Pengalaman saya dalam berbisnis, coba-coba sendiri malah menguras uang dan waktu. Makanya saya merasa sangat terbantu ketika bertemu dengan senior-senior, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Saya merasa terbimbing.
Lebih lanjut, mentor hendaknya memiliki ilmu dan jam terbang. Selain itu, ia juga mampu menyampaikan ilmunya. Betapa sering kita bertemu dengan pengusaha yang hebat namun ia tidak terlalu pandai menyampaikan kehebatan dan ilmu-ilmunya.
Di mana ia tidak komunikatif. Atau, mungkin mampu berkomunikasi, tapi ilmu-ilmu yang ia sampaikan kurang sistematis. Sehingga kita merasa 'lost' atau 'missed' di beberapa hal ketika mempelajarinya.
Sekali lagi, miliki mentor yang tepat untuk bisnis kita. Kendati ini tidak mudah. Siap?
Lebih baik lagi kalau kita bisa bermitra dengannya atau bekerja untuknya (work with or work for). Dengan kata lain, kita menjadi partner-nya atau menjadi staf-nya.
Pengalaman saya dalam berbisnis, coba-coba sendiri malah menguras uang dan waktu. Makanya saya merasa sangat terbantu ketika bertemu dengan senior-senior, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Saya merasa terbimbing.
Lebih lanjut, mentor hendaknya memiliki ilmu dan jam terbang. Selain itu, ia juga mampu menyampaikan ilmunya. Betapa sering kita bertemu dengan pengusaha yang hebat namun ia tidak terlalu pandai menyampaikan kehebatan dan ilmu-ilmunya.
Di mana ia tidak komunikatif. Atau, mungkin mampu berkomunikasi, tapi ilmu-ilmu yang ia sampaikan kurang sistematis. Sehingga kita merasa 'lost' atau 'missed' di beberapa hal ketika mempelajarinya.
Sekali lagi, miliki mentor yang tepat untuk bisnis kita. Kendati ini tidak mudah. Siap?