Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
MENTAL PEMENANG



Entrepreneur pastilah seorang pemenang. Maksudnya, bermental pemenang.

Tidak risih dengan penolakan.
Tidak takut dengan kerugian.
Tidak kapok dengan kegagalan.

Sejatinya, bagi mereka yang bermental pemenang, kegagalan dan tekanan adalah 'ruang belajar'. Yah, bukan berarti mereka pengen gagal. Nggak dong. Namun mereka berusaha memetik ilmu dan hikmah di balik kegagalan.

Dan, ada satu hal yang perlu kita catat benar-benar. Doa yang belum dikabulkan dan impian yang belum terwujudkan, menyimpan hikmah. Di antaranya, membuat kita lebih tangguh dan lebih sabar, juga lebih giat dalam beramal dan berikhtiar.

Betul apa betul?

Sejujurnya, menurut saya, gagal itu biasa. Sukses juga biasa. Nggak usah lebay. Tak perlu didramatisir. Lagi pula, kalau sedang gagal, jangan disebut-sebut. Ntar malah jadi doa. Makin gagal.

Orang lain pun muak dan mual mendengarnya. Mestinya harapkan yang baik-baik, ucapkan yang baik-baik, lakukan yang baik-baik. Mudah-mudahan hasilnya membaik. Insya Allah.

Dan sebagus-bagusnya rencana kita, belum tentu sesuai dengan rencana Allah. Perlu sabar, baik sangka, dan tawakal. Minimal, kita dicatat Allah sebagai hamba yang bersabar, berbaiksangka, dan ridha dengan ketetapan-Nya.

Awal Maret ini, saya dan 100-an mitra tidak jadi berumrah. Gagal berumrah. Kami ketahan di Turki. Kecewa, iya. Sedih, iya. Tapi kami berusaha untuk berbaiksangka. Toh cuma ditunda, bukan dibatalkan. Alhamdulillah kami pun berkesempatan untuk menjelajahi dan menikmati Turki.

Sekali lagi, jangan lebay dengan kegagalan. Biasa saja. Tak perlu didramatisir. Alih-alih begitu, anggaplah kegagalan sebagai 'ruang untuk belajar'. Siap? Nggak ada pilihan lain, setiap kita harus siap. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
300 Orang Mati Sehari di Indonesia Karena Penyakit Ini

Mana yang lebih mengerikan di pikiran kita? Kata Corona, TBC, DBD, atau asma? Sebelum Anda menjawab, "Corona!" ada baiknya Anda simak dulu data-data berikut ini. Tenang-tenang.

Berdasarkan data WHO, Indonesia adalah negara dengan jumlah penderita TBC tertinggi di dunia, setelah India dan China. Dengan total kasus kematian 300 orang per hari. Ya, 300 orang per hari. Bahkan setiap tahunnya ada 1 juta kasus baru TBC di Indonesia.

Itu TBC. Bagaimana dengan DBD? Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, di Indonesia jumlah penderita DBD di atas 13.000 orang dalam sebulan. Dengan angka kematian akibat DBD mencapai 130 orang dalam sebulan.

Kalau asma? Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), pengidap asma di Indonesia di atas 1 juta orang. Boleh dibilang, 1 dari 22 orang di Indonesia menderita asma. Tapi hanya 54% yang terdiagnosis. Berdasarkan data WHO, angka kematian akibat asma di Indonesia mencapai 1,77% dari total jumlah kematian penduduk.

Bagaimana dengan virus Corona? Jawablah dengan jujur dan jernih. Ternyata angka-angka terkait TBC, DBD, atau asma jauuuuuh lebih mengerikan. Tepatnya, lebih mematikan.

Saya memunculkan data-data ini bukan untuk meremehkan ancaman #VirusCorona. Sama sekali bukan. Di sini saya semata-mata ingin mengajak kita semua untuk berpikir lebih rasional dan lebih proporsional. Itu saja.

Kehati-hatian kita terhadap virus dan penyakit, haruslah bersifat menyeluruh. Tidak boleh tebang pilih. Khusus terhadap Corona, menurut saya, dua kata kuncinya adalah kebersihan tangan dan imunitas tubuh. Drh Indro Cahyono, seorang virologist (ahli virus) menyarankan konsumsi vitamin E dan C terkait imunitas.

Lantas, bagaimana dengan propolis? Propolis sebenarnya mengandung dua vitamin ini, E dan C, juga zat-zat baik lainnya. Tidak heran menurut pemberitaan Detik, Tempo, Kompas, dan Indosiar awal Maret 2020, disampaikan bahwa propolis sangat berpotensi untuk mencegah virus Corona. Propolis juga dikenal sebagai antibiotik alami, bahkan salah satu terkuat di muka bumi.

Saya pribadi hanya ingin menegaskan kembali dua kata kunci tadi, yaitu kebersihan tangan dan imunitas tubuh. Doa? Tentu. Menyertakan ikhtiar sekaligus doa memang fitrah kita sebagai hamba Allah. Itu saja. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga kita dan keluarga kita selalu sehat, di bawah lindungan Allah. Aamin.
Belum Lockdown, TAPI Social Distance

Work from home? Social distance? Saat ini, keadaan mungkin memaksa sebagian kita untuk bekerja dari rumah. Sebenarnya, sekian tahun terakhir saya sudah berkali-kali menggaungkan konsep 'dari rumah hasilkan rupiah' dan konsep 'couple-preneur'...

Begini. Saya pribadi sudah memberikan konsultasi bisnis selama belasan tahun. Di 30-an provinsi. Di belasan negara. Insya Allah saya tahu persis bagaimana beratnya seorang pemula kalau awal-awal harus membayar sewa toko, gaji karyawan, listrik-air, dan bahan baku. Ya, sangat berat...

Karena itulah, saya mengajak pemula untuk TIDAK menyewa toko dan mengambil karyawan. Saya pun menganjurkan mereka untuk memilih produk yang relatif tahan lama (nggak mudah basi, nggak mudah out of date, dst)...

Setahun terakhir, alhamdulillah, dengan izin Allah saya sudah menghadirkan 100-an mitra yang benar-benar 'dari rumah hasilkan rupiah' dan benar-benar 'couple-preneur'. Ketika yang lain nyari uang dengan pontang-panting, mitra-mitra saya cukup dengan postang-posting, hehehe...

Begitulah. Ternyata bisnis TIDAK serumit yang kita bayangkan. Go online, bisa. Pakai WA, bisa. Via JNE, bisa. Via Tiki, bisa. Menghasilkan kok. Terbukti sebagian hasil dari bisnis bisa mereka gunakan untuk lunas utang, berangkat umrah, dan jalan-jalan ke LN, alhamdulillah...

Lebih lanjut, teman-teman yang mau bermitra dengan saya dan full bimbingan, silakan WA ke 0811-1360-177. Mutu produk sudah terbukti insya Allah. Terus, hemat space ketika disimpan dan hemat ongkir ketika dikirim...

Kalaupun teman-teman belum mau bermitra dengan saya, yah nggak apa-apa. Tapi tips-tips di atas, tolong diperhatikan. Insya Allah itu semua dapat menekan risiko kegagalan sedemikian rupa. Saya doakan, semoga usahanya lancar. Aamiin...
Lockdown atau Tes Massal?

"Lockdown dong, kayak China!"
"Tes massal dong, kayak Korea!"

Itulah seruan netizen kita. Tapi, yang jelas, pemerintah saat ini memilih kebijakan social distance dan work from home.

Begitulah. Sebagian besar kita sekarang bekerja dari rumah. Termasuk entrepreneur, berbisnis dari rumah. Salah satu hikmahnya, mau nggak mau kita dilatih untuk lebih terampil lagi menggunakan WA, IG, dan FB. Juga marketplace.

Relatif aman kalau bisnisnya bersifat barang, bukan jasa. Dan relatif lancar kalau bisnisnya bersifat online, tidak melibatkan ruko atau toko. Sampai sekarang saya turut berempati pada teman-teman entrepreneur yang bisnisnya bersifat jasa dan mengandalkan ruko. Mereka sangat terdampak.

Belakangan ini banyak yang bertanya ke saya soal kebijakan lockdown dan social distance. Karena ini jelas-jelas berimbas pada bisnis. Besar imbasnya. Lantas, apa jawaban saya? Izinkan saya menyampaikan hadis dan kisah sahabat. Boleh ya?

Rasulullah pernah bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempatmu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu.” Mungkin ini semacam lockdown.

Peristiwa lain. Ketika terjadi wabah penyakit yang mematikan, Amru bin Ash (sahabat Nabi) pernah melarang masyarakat untuk ngumpul-ngumpul. Mereka diminta berpencar. Sebagian ke gunung, sebagian ke lembah, dan lain-lain. Mungkin ini semacam social distance.

Indonesia saat ini memilih kebijakan social distance saja. Tidak lockdown seperti China dan Eropa. Tidak juga tes massal seperti Korsel. Tentu, banyak yang mempertanyakan efektif atau tidaknya kebijakan social distance ini. Mengingat perilaku orang Indonesia yang tidak terlalu patuh.

Begini. Saya tidak mau membahas ini lebih lanjut. Bukan apa-apa. Saya nggak memiliki kompetensi di situ. Biarlah itu menjadi ranahnya pemerintah dan ulama. Insya Allah saya berusaha mengikuti dan mentaati apa yang ditetapkan oleh pemerintah dan ulama.

Go online sepertinya menjadi pilihan yang tepat saat ini. Bukan asal online, tentu saja. Pahamilah, go online juga mengharuskan kita untuk lebih cekatan menggunakan WA, IG, FB, dan marketplace. Ini ada ilmunya. Terus, ujung-ujungnya barang dikirim melalui JNE, TIKI, dan sejenisnya.

Saya dan mitra-mitra sudah melakukan ini sejak lama. Dari rumah, cetak rupiah. Alhamdulillah. Kami pun memilih barang yang tidak menyita space ketika disimpan dan tidak menghabiskan biaya ketika dikirim. Ya, hemat space dan hemat ongkir. Bahkan repeat order dan marginnya pun sangat lumayan.

Sekiranya teman-teman memiliki bisnis yang lain, yah nggak masalah. Tapi wacana go online ini harus dipertimbangkan dan disiapkan benar-benar, agar bisnis menjadi mesin uang dan ajang manfaat yang bisa diandalkan di berbagai macam keadaan.

Saling mendoakan ya! Semoga berkah berlimpah!
Kena Covid, Sekarang Fit

Dia seorang aktris papan atas yang terkena Corona (Covid 19), tapi kemudian pelan-pelan kondisinya membaik dan akhirnya sehat. Tanpa obat. Ya, tanpa obat.

Olga Kurylenko namanya, yang turut bermain di salah satu film James Bond. Pernah juga main bersama Tom Cruise. Sekarang dia fit. Apa rahasianya?

Olga Kurylenko mengonsumsi B5 yang membantu tubuh mengonversi makanan menjadi energi. Olga Kurylenko juga mengonsumsi suplemen vitamin E, yang mendukung fungsi sel dan imunitas tubuh.

Vitamin C juga tak ketinggalan ia konsumsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Olga Kurylenko juga mengonsumsi kunyit yang menurutnya memiliki manfaat anti-radang dan antioksidan.

Ia juga mengonsumsi zat besi, yang membantu memperkuat daya tahan tubuh dalam menghadapi bakteri dan virus. Bagi kita yang tidak terkena, sebagai ikhtiar, ada baiknya rutin mengonsumsi vitamin B, E, C, zat besi, dan kunyit.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Awan gelap PHK sekarang menghantui berbagai industri. Setidaknya, pengurangan gaji dan tunjangan mulai diberlakukan di mana-mana.

Dengan sikon terkini, kebayang betapa repotnya kalau bisnis masih mengandalkan ruko, produksi, dan padat karya.

Saya (Ippho Santosa) dan mitra-mitra bersyukur sekali, sebagai pemula, sejak awal kami berusaha meniadakan aspek produksi dan fokus pada aspek pemasaran.

Maklum, kami pemula. Modal kami belum banyak.

Alhamdulillah, sampai saat ini bisnis kami berjalan baik, walaupun kondisi ekonomi nasional tidak terlalu baik. Dua produk kami semakin dicari belakangan ini, karena memang sangat dibutuhkan untuk tujuan kesehatan.

Saya pikir ini peluang yang sangat bagus buat teman-teman. Dicoba saja, toh modalnya nggak seberapa. Kurang dari Rp 1 juta. Ada bimbingan lagi!

Terus, hemat space ketika disimpan dan hemat ongkir ketika dikirim. Margin dan repeat order, jangan ditanya. Sangat lumayan insya Allah. Insya Allah semua keunggulan itu dapat menekan risiko kegagalan sedemikian rupa.

Lebih lanjut, teman-teman yang mau bermitra dengan saya dan mau full bimbingan, silakan WA ke 0812-9539-9965. Mutu produk sudah terbukti insya Allah.

Btw, ada bonus ongkir bagi teman-teman yang bergabung pada hari ini atau besok (30 atau 31 Maret). Saya doakan, semoga kita bisa bermitra dan bisnis kita berjalan lancar. Aamiin.
Sebentar lagi, insya Allah saya (Ippho Santosa) akan membagikan e-book gratis. Ya, gratis. Mohon maaf, saya tidak bisa menyebarkan informasi ini di Instagram, soalnya IG saya lagi di-hack (mohon doa ya, semoga segera kembali). Bagi teman-teman yang berminat, silakan WA 0859-4506-3777. Isinya tentang apa? Tentang menyelesaikan masalah dan utang. Insya Allah e-book ini sangat bermanfaat.
Entrepreneur & Corona



Saat ini, berbagai sendi kehidupan telah dipukul babak-belur oleh pandemi. Di satu sisi, ya memang itu yang terjadi. Tapi di lain sisi, ada hikmah yang tersembunyi.

Di tengah pandemi akhirnya kita disadarkan akan tiga hal yang teramat penting dalam kehidupan. Apa itu? Agama, keluarga, dan kesehatan. Sekali lagi, agama, keluarga, dan kesehatan.

Angka kematian yang dipertontonkan setiap hari mau nggak mau membuat kita lebih sering dan lebih khusyuk dalam berdoa. Ya, kita berusaha memperbaiki hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa.

Gimana dengan keluarga? Sekarang, saat lama-lama berada di rumah, kita pun punya waktu yang berkualitas dan berkuantitas bersama keluarga, yang mana sebelumnya ini jarang-jarang terjadi.

Gimana dengan kesehatan? Dulu kita nggak terlalu peduli sama kesehatan. Sekarang? Lebih concern. Bahkan kita berusaha mencari tahu lebih dalam tentang virus dan cara mencegahnya.

Dengar-dengar tingkat polusi pun turun drastis di berbagai belahan bumi, yang insya Allah ini membuat semua manusia menghirup udara dengan kualitas yang lebih baik. Tentu saja, lebih sehat.

Itulah tiga hal yang teramat penting dalam kehidupan. Agama, keluarga, dan kesehatan.

Ada satu hal lagi. Terutama bagi seorang entrepreneur. Apa itu? Kreativitas dan efisiensi. Belakangan ini, kita berpikir keras dan berusaha keras bagaimana bisnis terus berjalan dengan tetap berada di rumah. Go online akhirnya menjadi pilihan.

Saya dan mitra-mitra saya BUKAN pedagang musiman. Sudah sekian tahun kami mengandalkan kekuatan online, walaupun belum 100%. Alhamdulillah sangat lumayan hasilnya.

Menurut saya, seorang pemula repot sekali kalau diarahkan bisnisnya berbasis toko atau ruko. Sewanya berapa? Gaji karyawan, gimana? Bahan baku, gimana? Listrik-air, gimana? Balik modal pun bisa 2 tahun atau lebih!

Saya merancang mitra-mitra saya agar balik modal dalam seminggu atau kurang. Barang? Mudah disimpan dan tidak mudah expired (out of date). Murah dikirim dan tidak mudah rusak. Pembinaan? Full. Operasional? WFH.

Saya membina orang bukan satu hari dua hari. Tapi sudah belasan tahun. Di 34 provinsi di Indonesia. Di belasan negara di 5 benua. Insya Allah tahu persis permasalahan pemula dan solusinya.

Pada akhirnya, hampir semua entrepreneur sekarang lagi diayak. Ya, lagi diayak. Boleh juga disebut seleksi alam. Corona pemicunya. Entrepreneur yang tangguh, kreatif, dan efisien insya Allah akan bertahan.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Keep on fighting!
Satu bulan terakhir, saya melihat orang-orang jadi stress di mana-mana. Saya prihatin. Sebagian malah ketakutan, bukan stress lagi. Untuk itulah e-book ini saya hadirkan dan mudah-mudahan menjadi bagian dari solusi walaupun mungkin tak seberapa.

“Masalah Tuntas, Utang Pun Lunas”

Ya, e-book ini tentang masalah dan bagaimana menyelesaikannya. Kurang-lebih isinya sebagai berikut:
- menghadapi konflik
- mencegah stress dan depresi
- meng-install keberanian
- masalah finansial
- ganjaran rupiah dan non rupiah
- melunasi utang
- menolak jadi victim
- menyikapi sakit
- mengundang solusi

Jujur, sempat terlintas niat untuk menjual e-book ini Rp 50 ribu atau Rp 60 ribu (biasanya saya jual segitu). Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, di tengah pandemi seperti sekarang, ada baiknya DIGRATISKAN saja. Yes, it’s free.

Yang minat e-book ini, boleh WA ke 0859-4506-3777.

Mungkin Anda bertanya-tanya dalam hati:
- Apakah ada penawaran training di e-book ini? Tidak ada.
- Apakah ada penawaran bisnis di e-book ini? Tidak ada.
- Apakah ada penawaran buku lanjutan? Tidak ada.

Di sini saya hanya ingin berbagi ilmu dan solusi. Cuma itu. Silakan baca dan praktek. Sekian, semoga berkah berlimpah!
CORONA, MEREKA TETAP KELUAR RUMAH

Di tengah pandemi Corona, saya prihatin sama mereka yang terpaksa bekerja dan hilir-mudik di luar sana, karena tuntutan nafkah dan rupiah.

"Nggak keluar, yah nggak makan," jawab mereka dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Jujur, saya salut sama mereka. Yang pasti, mereka itu bertanggung-jawab atas keluarganya dan benar-benar berani.

Ada pandemi, mereka tak peduli. Mereka tetap pergi, mencari nafkah sepanjang hari. Ya, mereka itu berani.

Kemudian saya sempat berpikir, kalau terhadap pandemi saja mereka berani, mestinya buka usaha yah lebih berani.

Ketika pandemi, risikonya nyawa alias bisa mati. Ketika buka usaha, yah risikonya cuma rugi. Anehnya, nggak semua orang berani. Saya melihat suatu kejanggalan di sini.

Sebagian menganggap modal sebagai kendala utama, saat merintis usaha. Terus, apa jawaban saya? Mungkin ya, mungkin tidak. Toh kalau uang Rp 1 juta, hampir semua orang punya dan itu sudah cukup untuk merintis usaha.

Soal produk, gimana? Namanya produk, tidak harus produksi sendiri. Kita bisa ngandalin pihak lain (vendor). Kita cukup menjualkan saja dan ambil selisihnya. Simple.

Ada yang bilang, "Ah, itu bukan pengusaha namanya. Itu sih calo."

Nggak juga. Terbukti showroom mobil, dealer motor, dan konter Apple melakukannya. Apa itu? Mereka cukup menjualkan saja dan ambil selisihnya. No production.

Lantas, gimana dengan kita? Yah coba saja jadi agent atau reseller untuk produk tertentu. Nggak rumit tho? Lebih baik lagi kalau pilih produk yang tinggi repeat order-nya dan tetap dicari walaupun lagi pandemi.

Buka deh pikiran kita. Sudah saatnya kita menempuh jalan berbeda dalam mencari nafkah dan rupiah. Nggak harus ngantor. Nggak harus hilir-mudik di tengah pandemi. Masih ada kok cara lain.

Think. Try.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Menghitung hari menuju Ramadhan...

Ini karya saya bareng Fadly Padi, Teddy Snada, Dwiki Dharmawan dkk. Niatnya bukan untuk nyari follower, nyari duit, atau nyari klik. Bukan.

Semata-mata ngajak orang-orang bershalawat dan kangen sama Rasulullah. Cuma itu. Judulnya Kangen Rasul (Bertabur Pahala).

Nah, ini versi lengkapnya:

bit.ly/BertaburPahala
Anda pengusaha?

Entrepreneur itu kan leader. Harus melindungi tim dan harus memberi contoh pada tim...

Coba rutinkan sedekah subuh ya. Transfer aja (lagi pandemi soalnya). Kalau saya, ke DD. Teman-teman bebas ke mana aja...

Usahain angkanya beda. Lebih banyak. Kenapa? Pertama, untuk menolak bala. Kedua, utk melindungi tim...

Saat kita rutin dan intens bersedekah, insya Allah tim pelan-pelan akan mengikuti. Amal jariyah nih...

Saran saya, sedekahnya tepat di waktu subuh...

Malaikat dengan izin Allah akan mendoakan orang yang bersedekah di waktu itu, agar lebih subur harta orang tersebut...

Saat bersedekah subuh, itu artinya kita memulai hari dengan kebaikan. Mudah-mudahan baik juga hasilnya...

Begini. Sedekah dan semua amal, itu untuk mencari ridha Allah. Segala manfaat yang saya sebut tadi, itu adalah fadilah-fadilahnya. Boleh insya Allah...

Sekiranya Anda tidak setuju dengan saya, yah nggak apa-apa. Bebas kok. Tapi, tetaplah bersedekah banyak di awal hari...

Sip? Sekian dari saya, Ippho Santosa...
Saya kaget sekaget-kagetnya begitu mendengar kabar bahwa sahabat saya, senior saya, Pak Tung Desem Waringin, terkena Covid-19 dan lagi dirawat di RS. Ya Allah.

Saya dapat kabar ini dari Coach Dedy, penulis buku '8 Misteri Duit'.

Langsung saya WA keluarga dan tim Pak Tung. Karena belum dapat respons, akhirnya saya WA saja beliau. Beberapa detik kemudian, beliau malah WA call ke saya. Sekitar setengah jam kami ngobrol.

Ternyata Pak Tung nggak berubah. Tetap cerah ceria. Tetap gembira. Ketawa-ketawa. Nyanyi-nyanyi. Dan selaluuuuu menumpahkan ilmu bermanfaat kepada orang yang diajaknya ngobrol. Masya Allah.

Saya yang awalnya prihatin, mata sempat berkaca-kaca, jadi berubah gembira. Ikutan ketawa, ikutan nyanyi. Begitulah. Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Itu pesan beliau dan itu 100% benar. Saya setuju sekali.

Alhamdulillah kondisi beliau sudah membaik. Tapi tetap perlu doa dari kita. Mohon doa ya untuk beliau. Yang tulus, yang serius. Dan saya langsung bilang ke beliau, "Pak Tung posting di IG dong, biar Indonesia ikutan cerah ceria seperti Bapak. Btw, IG saya lagi di-hack, belum pulih hehe."

Beliau pun posting di IG, mengabarkan keadaannya, dan hebohlah para netizen.

Apa pesan saya buat kita semua? Good mood akan membuat imun membaik dan menguat. Kami bicara juga soal VCO, madu, bee pollen, propolis, dan lain-lain. Memang itu perlu untuk kesehatan. Tapi yang lebih diperlukan adalah good mood.

So, kalau kita sakit atau mengunjungi orang sakit, baiknya tunjukkan good mood. Ya, tunjukkan good mood. Insya Allah ini akan menjadi bagian dari obat. Sangat bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
BUKAN Sekedar Online

Tadi malam, saya bersama teman-teman di Musawarah mengikuti kajian Ustadz Abdul Somad. Tak terasa, lebih dari 5 tahun saya menjadi bagian dari Musawarah. Nah, kajian tadi malam menjadi sedikit berbeda, karena kami melakukannya secara online, bukan tatap muka. Tepatnya, melalui zoom meeting.

Di tengah pandemi seperti sekarang, mau tidak mau, go online menjadi suatu keniscayaan. Termasuk dalam bisnis. Boleh dibilang, ini ancaman sekaligus peluang. Mereka yang lihai dan piawai akan menyulap ini sebagai peluang. Jujur, saat ini kesibukan saya sebagai entrepreneur tidak berkurang sama sekali. Tetap produktif.

Izinkan kali ini saya berbagi tips untuk menjalankan bisnis online. Boleh ya?

Untuk memulai dan membesarkan sebuah bisnis, sekalipun itu bisnis online, kita harus selektif dalam memilih produk. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pastikan mutunya bagus. Karena pada akhirnya, yang membuat produk itu terjual terus-menerus dalam jangka panjang adalah mutu, bukan promosi. Sekali lagi, mutu.

Akan lebih baik lagi memilih produk yang tetap dicari, walaupun lagi pandemi.

Setelah itu, pastikan produknya mudah dikirim (hemat ongkir) dan mudah disimpan (tidak menyita space). Kita ini pemula, yang biasanya tidak punya gudang dan armada. Kita sangat mengandalkan jasa pengiriman. Maka, jangan sampai ongkir membuat harga jual kita tidak kompetitif. Begitu pula soal size dan space. Seringkali saat stok dan omset mencapai angka ratusan juta rupiah, seorang pemula kerepotan untuk menyimpannya karena memang produknya menyita space.

Bagaimana dengan perencanaan?

Begini. Di semua bidang termasuk dalam bisnis, perihal terkait perencanaan perlu dilakukan. Awal-awal, langsung action yah silakan. Namun setelah berjalan, harus ada perencanaan. Tak hanya varian produk tapi juga strategi promosi dan strategi distribusi. Maka harus diatur sedemikian rupa. Belajarlah dari pemain lain agar kita bisa mengantisipasi berbagai masalah. Sebab hal-hal tak diinginkan bisa terjadi kapan saja.

Untuk tahap awal, kurangi variasi agar promosi lebih terarah. Variasi yang terbatas juga memudahkan kita untuk urusan stok dan kalkulasi. Saran saya selanjutnya, selain aktif di socmed, mesti aktif juga di berbagai grup WA. Buatlah diri kita dikenal dan dipercaya. Setelah dikenal dan dipercaya, maka produk akan lebih mudah untuk terjual.

Sekian dulu. Praktek ya. Kapan-kapan kita sambung lagi.
BERGEMA DI TENGAH PANDEMI

Setidaknya ada 4 formula yang harus dipatuhi oleh seorang entrepreneur pemula agar bisnisnya tetap bergema (echo) di tengah pandemi seperti sekarang.

Boleh dibilang, 4 formula ini adalah fardhu ain bagi seorang entrepreneur. Apa saja 4 formula itu? ECHO yang terdiri dari Efficiency, Creativity, Health-Concern, Online. Kalau 4 formula ini diabaikan, bukan mustahil bisnisnya akan terkubur ditelan pandemi.

Kreativitas dan efisiensi. Jelas, dua hal ini sangat krusial. Dulu, penting. Sekarang, semakin penting. Belakangan ini, kita berpikir keras dan berusaha keras bagaimana bisnis terus berjalan dengan tetap berada di rumah.

SDM tidak leluasa bergerak. Produksi dan distribusi terkendala. Begitu juga operasional hari-hari di kantor. Kalau tidak kreatif dan tidak efisien, bagaimana mungkin bisnis masih bisa berjalan?

Kita lanjutkan. Concern terhadap kesehatan sekarang meningkat dan menjadi-jadi, bahkan menjadi prioritas tertinggi. Betul apa betul?

Ada baiknya kita menawarkan produk dan jasa terkait kesehatan. Setidaknya, tolong perhatikan faktor ini setiap kali kita menawarkan dan mengantarkan produk kita. Health-Concern istilahnya.

Go online akhirnya menjadi pilihan. Suka atau tidak suka. Siap atau tidak siap. Saya dan mitra-mitra saya BUKAN pedagang musiman. Sudah sekian tahun kami mengandalkan kekuatan online, walaupun belum 100%. Alhamdulillah hasilnya sangat lumayan.

Menurut saya, seorang pemula repot sekali kalau diarahkan bisnisnya berbasis toko atau ruko. Sewanya berapa? Gaji karyawan, gimana? Bahan baku, gimana? Listrik-air, gimana? Balik modal pun bisa 2 tahun atau lebih!

Saya merancang mitra-mitra saya agar balik modal dalam seminggu atau kurang. Cepat sekali. Ada baiknya bisnis teman-teman diarahkan seperti itu. Cepat balik modalnya. Dan ini insya Allah mengurangi risiko finansial.

Demikianlah ECHO yang terdiri dari Efficiency, Creativity, Health-Concern, Online. Praktek ya. Semoga hasilnya berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
BERHEMAT BUKAN BERARTI MAIN PECAT

Sebelumnya sudah saya bahas, agar tetap bertahan di masa-masa menantang seperti ini, kita sebagai pengusaha terutama yang pemula harus menerapkan rumus ECHO, yaitu Efficient, Creative, Health-Concerned, Online. Sekarang kita singgung sedikit soal efisiensi. Soal budgeting.

Salah satu BUKTI perencanaan yang matang adalah penganggaran dana dengan tepat. Penggunaan dana ini mesti tepat jumlahnya dan tepat timing-nya. Simple-nya begini. Alokasikan secara HEMAT tapi tetap efektif untuk pembelian barang (repeat order), pemasangan iklan (di IG, FB, dan marketplace), dan pengiriman barang.

Kurang cermat dalam penganggaran dana bisa membuat bisnis kita keteteran di tengah jalan.

Lantas, bagaimana dengan karyawan dan penggajian karyawan? Saran saya, sebagai pemula, untuk tahap awal jangan dulu pakai karyawan. Tapi sekiranya sudah punya karyawan, hati-hati, itu amanah. Jangan sampai ada pengurangan karyawan, jangan sampai ada pengurangan gaji.

Mungkin saat ini, karyawan kita nggak terlalu produktif. Yah mau gimana lagi? Keadaan yang memaksa. Bukan maunya dia. Saran, gaji dan tunjangan mereka tetap kita tunaikan. Namanya pengusaha yah mesti siap untung dan SIAP RISIKO. Jangan mau enaknya saja.

Sekiranya Anda terpaksa menjual aset atau berutang demi membayar gaji dan tunjangan karyawan, yah lakukan saja. Itu lebih baik. Saya pun pernah melakukan itu. Dulu saya sampai menggadaikan barang agar gaji dan tunjangan karyawan tetap terbayarkan.

Menurut saya, berhemat bukan berarti main pecat. Buktikan bahwa Anda memang pengusaha, tempat bernaungnya banyak orang. Saat Anda bertekad dan berusaha menaungi banyak orang, insya Allah potensi Anda akan keluar. Percayalah, Allah akan memampukan Anda, Allah akan memajukan usaha Anda. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
AYO BERADAPTASI

Saat terjadi perubahan besar, seringkali yang bertahan BUKAN mereka yang paling kuat. Tapi mereka yang pandai menyesuaikan diri dan beradaptasi. Lihatlah sejarah yang sudah-sudah, maka teman-teman akan menemukan benang merahnya.

Ketika pandemi seperti ini, kita harus mengingatkan teman-teman dan kerabat-kerabat kita. Ada perubahan dan penyesuaian dalam menjalankan bisnis. Kadang varian tertentu perlu dihadirkan. Kadang produk lama perlu digantikan.

Misal, jasa travel. Mungkin saat ini harus shift dulu, ke kuliner atau produk kesehatan. Begitu juga hotel. Mungkin saat ini harus menawarkan jasa katering, jasa laundry, dan jasa karantina (untuk memanfaatkan kamar-kamarnya).

Restoran menengah-atas? Yang biasanya makan di tempat, mungkin saat ini harus menawarkan jasa delivery dan katering. Demikian pula bisnis-bisnis lainnya. Jangan gengsian untuk berubah.

Saya beruntung, sudah bertahun-tahun menghadirkan produk-produk kesehatan alhamdulillah. BUKAN pedagang musiman insya Allah. Teman-teman yang terdampak karena pandemi, ayo lakukan perubahan dan penyesuaian. Segera.

Saya pribadi sudah satu tahun lebih OFF dari Facebook. Jumat yang lalu, saya aktif kembali. Buat apa? Demi menyemangati teman-teman semua. Di page 'Ippho Santosa & Tim Khalifah' ada 700.000 member (silakan search ya). Saat ini, sepertinya mereka sangat memerlukan motivasi dan inspirasi.

Karena itulah, bismillah saya hadir kembali. Insya Allah kita semua akan melalui masa-masa sulit ini bersama-sama. Bisa! Saling mendoakan ya!
Forwarded from Belajar Praktek