Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Saya harap teman-teman juga begitu. Semakin luar biasa saat berpuasa.
Dari Habibie, Gus Sholah, Sampai Andrie Wongso



Selama lebih 25 tahun, lembaga ini menebar manfaat di seluruh Indonesia, sampai ke pelosok-pelosok. Bahkan sampai ke luar negeri. Masya Allah. Saya pribadi aktif di sana sebagai relawan sejak 2010.

Menariknya, lembaga ini adalah 'cicit' dari presiden ketiga, Prof BJ Habibie. Hm, maksudnya? Begini.

Pada 1990, Habibie membidani ICMI.

Dari ICMI, lahirlah Republika.

Dari Republika, lahirlah Dompet Dhuafa.

Ya, nama lembaga itu Dompet Dhuafa atau DD, yang berdiri sejak tahun 1993.

Tidak cukup sampai di situ, kemudian saya bersama DD menginisiasi Kampus Umar Usman pada 2011.

Saya pun coba membayangkan, betapa besar amal jariyah yang ditanam oleh Prof BJ Habibie. Masya Allah.

Dari awal berdiri, DD selalu diaudit dan selalu meraih predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Salah satunya oleh akuntan publik Paul Hadiwinata (PKF). Selain itu, pernah diberi penghargaan oleh Baznas sebagai lembaga amil dengan operasional terbaik.

Meski DD ini lembaga filantropi Islam, namun DD berusaha menjadi 'rahmatan lil alamin' alias 'rahmat bagi semua'. Contoh kecil, DD menjadi lembaga kemanusiaan pertama yang hadir di Asmat, untuk menangani masalah gizi buruk di sana. Saat banjir bandang menerjang Wasior, Papua, DD juga turun tangan.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengajak Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, dan James Gwee untuk mengadakan charity seminar. Alhamdulillah beliau-beliau berkenan. Nah, ada peran DD di sana.

Karena acara itu di-organize oleh saya bersama Kampus Umar Usman dan DD. Alhamdulillah, saat itu terkumpul donasi ratusan juta rupiah dan sepertiganya kita salurkan melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk korban bencana di Nepal.

Kesehatan adalah salah satu concern DD. Pernah dengar RS Hasyim Asyari? Rumah sakit ini dipelopori oleh keluarga besar KH Hasyim Asyari (pendiri NU). Nah, rumah sakit ini dikelola oleh DD dan menjadi rumah sakit dhuafa ke-6 yang dikelola DD. Gus Sholah (adik Gus Dur) pun menyambut baik progam mulia ini.

Saya pribadi adalah trainer yang senang belajar. Dan hal serupa saya tularkan ke mahasiswa-mahasiswa saya. Dr Syafii Antonio, Tung Desem Waringin, Yeheskiel Zebua, dr Phaidon Toruan, Mardigo Wowiek, dll adalah tokoh-tokoh hebat yang pernah berbagi ilmu di Kampus Umar Usman. Alhamdulillah.

Sejauh ini, saya melihat manajemen DD adalah orang-orang yang beragam dan ini yang membuat senang sekali bergaul dengan mereka. Ya, hampir 10 tahun saya jadi relawan di DD. Pada akhirnya, kita doakan ya, semoga mereka yang berjuang di DD diberi kekuatan dan keikhlasan. Aamiin.
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Senior saya, Pak Tung, sering berbagi melalui DD. Alhamdulillah.
Hari itu saya bertemu lagi dengan Coach Nick, seorang pengusaha dari Malaysia. Kami mengadakan charity seminar di weekend kemarin. Alhamdulillah, lumayan dana terkumpul.

Beliau mengajak kita semua untuk ikhlas dalam belajar. Dan itu bagus dampaknya bagi kita sebagai pembelajar. Beliau bercerita bahwa sebelum bertemu saya secara langsung, beliau sudah merasa bertemu dengan saya dan sudah sungguh-sungguh mendoakan saya. Masya Allah.

Menurut saya, saling mendoakan meskipun belum pernah tatap muka sama sekali, itu bagus sekali. Bukan suatu hal yang dilebih-lebihkan. Efek kedekatan akan terasa.

Guru-guru yang baik insya Allah tulus dan ikhlas dalam mengajar. Pertanyaannya, apakah kita sebagai murid ikhlas dalam belajar? Maka, ikhlaslah dalam belajar, walaupun itu dari IG, WA, Telegram, dan YouTube (tidak bertemu langsung).

Lantas, apa bukti ikhlas itu? Sungguh-sungguh menyimak ilmu tersebut. Sungguh-sungguh mendoakan sumber ilmu tersebut. Saat kita plong terhadap sumber ilmu, maka ilmu dan hikmah pun mengalir kepada kita. Lebih deras lagi.

Ini pun adab dalam menuntut ilmu. Saling mendoakan antara murid dan guru. Selalu. Insya Allah ini akan mengundang rahmat dari Yang Maha Berilmu dan Yang Maha Tahu.
Sarat manfaat, ini sesuatu yang perlu diperjuangkan. Bukan diri kita saja yang sarat manfaat, usahakan bisnis kita juga sarat manfaat. Usahakan seperti itu.

Nah, beruntung sekali kalau selama ini kita sudah menjual produk atau yang sarat manfaat. Mungkin di bidang kesehatan, mungkin di bidang pendidikan. Insya Allah itu industri yang sangat tepat.

Saat kita menawarkan produk atau jasa yang sarat manfaat, itu artinya kita tengah merawat pohon kebaikan. Tumbuh, tumbuh, dan terus tumbuh. Menjadi kebaikan yang lebih besar lagi. Insya Allah.

Suatu hari nanti, kita akan memetik buahnya. Bahkan panen. Hebatnya lagi, panennya bisa berkali-kali. Bukan cuma sekali. Dengan adanya kebermanfaatan sedemikian rupa, mudah-mudahan Allah menurunkan rahmat-Nya untuk bisnis kita dan diri kita. Aamiin.

Misal, kita menjual barang yang sarat manfaat. Terus, ada orang yang salah beli. Nggak niat beli produk kita, tapi tau-tau kebeli atau dibeliin sama saudaranya. Terus, gimana?

Apakah orang ini rugi? Ternyata nggak, insya Allah. Tetep dia dapat manfaat dari produk kita. Untung tho? Karena sejak awal kita sudah memilih produk yang sarat manfaatnya.

"Salah beli aja, tetep untung!" Nah, itu filosofi idealnya. Maka carilah produk atau jasa yang seperti itu. Banyak kok. Jangan malah kita menjual sesuatu yang nggak jelas manfaarnya. Jangan pula kita mem-push prospek untuk berperilaku impulsif dan konsumtif.

Sekarang kita beralih ke Ramadhan. Saat Ramadhan (berpuasa), setiap konsumen perlu extra hati-hati dalam berbelanja. Entah itu di mall atau online shop.

Berikut ini adalah kombinasi keadaan yang memicu orang untuk belanja secara konsumtif dan impulsif:
- lapar (karena berpuasa)
- waktu terbatas (karena lebaran sudah dekat)
- pegang cash (karena baru THR)
- promosi oleh si penjual (biasanya tambah gencar saat Ramadhan)
- orang lain juga shopping (tanpa sadar manusia cenderung mengikuti khalayak).

Kalau kita menjual produk fashion, kita harus pandai-pandai dalam berpromosi. Jangan sampai orang jadi konsumtif dan impulsif gegara iklan dan promosi kita. Ingat, kelakuan kita ini kelak akan dihisab.

Kalau jual produk yang sarat manfaat? Insya Allah, aman. Salah beli aja, tetap untung. Pada akhirnya, mari kita camkan sama-sama, "Bisnis bukan sekedar cari untung, tapi juga menebar keberuntungan dan kebermanfaatan bagi banyak orang."

Ini menurut saya. Bagaimana dengan Anda? Setuju?
Kalau seorang pria punya uang sekitar Rp 10 juta atau empat dinar, bagaimana pembagiannya?

Nabi Muhammad pernah bersabda, "Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah 'azza wajalla, satu dinar kepada orang-orang miskin, satu dinar kepada budak, serta satu dinar kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu." HR Ahmad no 9736.

Nabi juga pernah bersabda, "Dinar yang kamu belanjakan di jalan Allah dan dinar yang kamu berikan kepada seorang budak wanita, dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, serta dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar ganjaran pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu." HR Muslim no 995.

Kok bisa? Karena, bagi seorang pria, menafkahi keluarga itu memang wajib hukumnya. So, jangan pelit sama istri dan keluarga. Sebab itu pula berulang kali saya menyerukan, "Ciri pria sejati itu sedikit bicara, banyak transfer." Hehehe.

Inilah dua sikap ideal pria terhadap pasangannya:
- Kasih sayang
- Kasih uang

Hehehe.

Tentu, ini lebih mudah dipahami kalau orang itu melek agama atau religius. Btw, ada kabar baiknya juga. Riset yang digelar oleh Ohio State University mengungkapkan, orang-orang religius mampu hidup 6 tahun lebih lama. Lebih sehat. Tidak main-main, peneliti menganalisis lebih dari 1.500 orang.

Saat istri dan keluarga senang, percayalah, pintu-pintu rezeki akan semakin terbuka. Dan demikian pula sebaliknya. Hati-hati.

Begini. Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti sadar, kadang harta itu memang diperlukan.

Sekiranya kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan disadarkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak.

Jadi, seorang pria, jangan risih kalau bicara soal harta. Siap?
Ya, Indonesia tengah berduka...

Berikut ini adalah doa Ustadz YM untuk Bu Ani dan keluarga yang ditinggalkan...

https://www.instagram.com/p/ByKuvSdlo0G/?igshid=173h7crd74dh0
Sudah tiga kali Ramadhan, saya bukber dengan Pak CT dan Kyai Ma'ruf. Tadi malam salah satunya. Alhamdulillah, banyak insight dan networking yang saya dapatkan selama berada di sana.

https://www.instagram.com/p/ByKktStlbXe/?igshid=1mcq3xbikfxrt

Pak CT berpesan, para ulama mesti bersatu. Kalau tidak, bagaimana umat bisa bersatu? Kyai Ma'ruf pun mengingatkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Tapi bukan alasan bagi kita untuk berpecah-belah.

Menjelang pulang, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Pak CT. Sarat dengan nasehat, alhamdulillah. Kapan-kapan saya akan membahasnya di channel ini. Insya Allah.
Bagaimanapun, persaudaraan dan persahabatan itu lebih utama.

Tolong diingat:
- Kepentingan kadang berubah.
- Pilihan kadang berbeda.
- Bisnis kadang merosot.
- Rezim kadang berganti.
- Pemahaman kadang berubah.

Namun persaudaraan untuk selamanya dan itu lebih utama. Ya, lebih utama. Jangan sampai gegara beda pendapat, akhirnya kita bertengkar. Dan kalaupun itu sempat terjadi, tidak perlu lama-lama. Rukunlah kembali.

Bukankah Allah lebih senang membagi-bagikan rezeki yang berlimpah kepada mereka yang damai dan rukun?

Hati-hati. Saat terjadi pertengkaran dalam keluarga atau organisasi, nyari uang jadi lebih susah. Betul apa betul? Ini juga bisa terjadi dalam konteks yang lebih luas, yaitu bangsa dan negara. Sekali lagi, rukunlah kembali.

Sebagai penutup, simak video dari guru-guru dan sahabat-sahabat saya >> https://www.instagram.com/p/ByjPDisFe-L/?igshid=6ufebl21qjbg
Snouck Hurgronje adalah penasehat untuk Hindia Belanda yang lahir pada tahun 1857. Dialah yang awal-awal menggagas agar orang-orang Aceh khusyuk beribadah di musholla, sementara urusan kebun-kebun serahkan saja kepada Belanda.

Dia menanamkan pemahaman bahwa harta itu melalaikan ibadah. Jelas, ini pemahaman yang keliru!

Harta dan anak adalah ujian. Kalimat ini sebuah peringatan, bukan larangan. Artinya, kita boleh punya harta, boleh punya anak. Nggak dilarang. Harta yang banyak? Boleh juga insya Allah. Yang penting, kita bisa mempertanggung-jawabkan dari mana dan ke mana harta tersebut.

Bahkan saat wafat nanti, kita diharapkan meninggalkan 3W. Apa itu? Warisan, wasiat, dan wakaf. Itu harta semua dan jumlahnya banyak. Kita siap atau tidak, itulah kenyataannya.

Masih soal harta. Sekarang, kita lihat soal maskawin.

20 unta, inilah maskawin Nabi Muhammad kepada Khadijah. Setelah Khadijah meninggal, setelah Nabi pindah ke Madinah, beliau menikah lagi. Soal maskawin, beliau tetap mengupayakan yang terbaik.

πŸͺπŸͺπŸͺ

500 dirham, inilah maskawin Nabi Muhammad kepada Aisyah, menurut hadis riwayat Muslim. Satu dinar emas kurang-lebih setara dengan 10 dirham perak. Kalau dikonversi, 500 dirham itu sekitar Rp 40 juta.

πŸ₯‡πŸ₯‡πŸ₯‡

Baju besi buatan Huthomiyyah, inilah maskawin Ali kepada Fathimah, menurut hadis riwayat Abu Dawud. Bagi Ali, baju perang adalah sesuatu yang sangat berharga dan itulah yang ia berikan.

❀❀❀

Perhatikan baik-baik. Amal-amal seperti haji, umrah, akikah, kurban, zakat, sedekah, dan wakaf, itu semua memerlukan harta. Right? Belum lagi membangun rumah ibadah, rumah sakit, sekolah, dll.

Pesan Ustadz Abdul Somad, "Orang beriman dianjurkan kuat otaknya, kuat badannya, kuat ekonominya." Soal ini, silakan lihat postingan saya di IG. Ustadz Adi Hidayat pun menegaskan, "Lebih baik kaya masuk surga daripada miskin nggak jelas."

πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

Saya harap Anda setuju dengan pendapat di atas. Nah, tiga video pendek dari UAS ini lagi viral di IG. Teman-teman simak deh >> https://www.instagram.com/p/ByjeKrGl5qk/?igshid=7x833etwcnrt
Seminar saya, Ippho Santosa, segera hadir di kota-kota berikut. Insya Allah acara ini non-profit (pembicara tidak dibayar). Kalaupun ada HTM, itu semata-mata untuk menutupi biaya operasional. Kami sengaja tidak melibatkan sponsor agar kami bisa sharing lebih leluasa dan tidak diatur-atur.

Juni 2019
23, Manado, WA 0811-4326-787
30, Bandung, 0822-1400-1200

Juli 2019
6, Sukabumi, 0812-9666-5810
7, Bandung, 0819-9778-7888
9, Cirebon, 0852-7473-8158
11, Pekalongan, 0819-9778-7888
13, Semarang, 0895-0300-5353
14, Solo, 0812-1543-6335

Di sini, niat kami semata-mata ingin berbagi ilmu dan membawa perubahan. Mohon didoakan. Yang berminat, silakan WA panitia setempat. Di seminar-seminar ini, sebagian besar kami mengangkat judul baru, yaitu "Muhammad sebagai Pedagang."

Sampai jumpa ya!
Coba perhatikan pengusaha-pengusaha sukses.

Mereka pernah gagal.
Mereka pernah jatuh.
Tapi mereka tidak mengeluh.
Gagal 7 kali, bangkit 10 kali !!!

Statement ini saya dapatkan kemarin dari seorang kawan. Saya pikir, benar juga.

Dan soal risiko, inilah saran Chairul Tanjung:
- Jangan takut mengambil resiko.
- Jika berhasil, Anda akan bahagia.
- Jika gagal, Anda akan lebih bijaksana.

Menurut saya, sukses dan gagal itu satu paket. Ya, satu paket. Daripada menyebutnya kegagalan, lebih baik menyebutnya tantangan dan pembelajaran. Sebutan ini lebih memberdayakan.

Nabi-nabi saja pernah gagal. Coba buka sejarah, tidak sedikit nabi yang terusir dari kota asalnya. Dirinya dan dakwahnya tidak diterima. Nabi-nabi saja gagalnya sampai seperti itu, apalagi kita!

Putus asa, bolehkah? Nabi Ibrahim menyebut putus asa sebagai sebuah kesesatan. Kalimat dari Nabi Ibrahim ini tertulis di Kitab Suci. Bukan saya yang ngarang-ngarang. Intinya, gagal sih boleh. Putus asa, yah jangan.

Sejatinya, bagi mereka yang bermental pemenang, kegagalan adalah 'ruang belajar'. Siapa sih yang mau gagal? Nggak ada. Tapi kalau sudah terjadi dan tak bisa dihindari, yah sudah, lebih baik diterima saja. Lalu? Perbaiki diri dan belajarlah.

Pelan-pelan bangkitlah!

Sekian, semoga bermanfaat.
Sabtu yang lalu, saya ada acara halal bihalal dengan komunitas BP, berlanjut acara halal bihalal dengan komunitas Musawarah.

Di komunitas BP, saya sempat mengingatkan, "Sukses itu biasa. Gagal juga biasa. Tidak perlu disikapi berlebihan."

Terus, ada yang bertanya, "Sudah antusias, sudah optimis, kok masih gagal, Mas?”

Saya jawab, "Yah, apalagi kalau nggak antusias dan nggak optimis! Pasti lebih gagal!"

Ada lagi yang bertanya, β€œSales merosot! Omset turun! Penawaran ditolak! Harus bagaimana nih?” Tetap tenang. Jangan panik. Tarikan nafas saja turun-naik. Gerakan sholat juga turun-naik. Mestinya ini melatih kita dan menguatkan kita. 

Pertanyaan lain, "Barusan jatuh Mas, habis semua. Gimana ya?" Anak SD juga tahu, kalau jatuh, yah segera bangkit! Gagal itu wajar. Berlarut-larut dalam kegagalan, nah itu yang nggak wajar. 

Yang sebenarnya tidak ada yang abadi di muka bumi ini, termasuk kegagalan. Yah, coba saja lagi dan lagi. Lama-lama, si gagal itu akan bosan sama Anda, hehehe. Istilah lainnya, habiskan jatah gagal Anda.

Di sisi lain, di komunitas Musawarah, para ustadz mengingatkan kita semua agar tidak mudah lelah dalam mengajak khalayak pada kebaikan. Kalau sesekali ada penolakan, itu sih wajar-wajar saja. Teruslah mengajak.

Turut hadir di halal bihalal tersebut Irwansyah, Dude Harlino, Ricky Harun, Teuku Wisnu, Tommy Kurniawan, Dimas Seto, Arie Untung, Natta Reza, Salim Bahanan, Ali Zainal, Roger Danuarta, Dimas Seto, Mario Irwinsyah, Primus, dll.

Sekian lama mereka (pengurus Musawarah) berusaha menjadi penggerak kebaikan. Boleh juga disebut dakwah. Hebatnya lagi, mereka juga berusaha merangkul semua kalangan. Orang-orang yang berbeda pilihan politik dan berbeda ormasnya, semua mereka rangkul.

Memang tidak mudah. Tapi mereka terus melakukannya. Sepengalaman saya, sesuatu yang tidak mudah biasanya ganjarannya besar. Betul apa betul? Demikian pula menggerakkan kebaikan dan merangkul semua kalangan.

Pada akhirnya, mudah-mudahan kita semua istiqomah dalam kebaikan. Aamiin. Sekian dulu, kapan-kapan kita sambung lagi. Terlepas dari itu, insya Allah dalam waktu dekat saya akan membagikan e-book gratis lagi. Insya Allah di channel ini. Tunggu ya.
"Udah optimis, kok masih gagal?" Apalagi kalau nggak optimis. Bisa nyungsep 😁😁😁

"Udah bisnis, kok masih miskin?" Apalagi kalau nggak bisnis. Bisa lebih miskin 😁😁😁

"Udah sedekah, kok masih susah?" Apalagi kalau nggak sedekah. Bisa lebih susah 😁😁😁

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul selama ini. Mungkin bukan pertanyaan, tapi tepatnya celetukan. Hehehe.

Akhir Juni dan awal Juni, insya Allah saya akan mengadakan seminar 'Muhammad Sebagai Pedagang' di beberapa kota. Acara ini non-profit. Kalaupun ada HTM, itu semata-mata untuk meng-cover biaya operasional.

Sengaja dibikin tanpa sponsor, biar pembicara lebih leluasa untuk sharing. Niat kami insya Allah untuk berbagi inspirasi dan membawa perubahan. Doakan ya, biar niat kami tetap lurus dan terjaga.

Apa saja yang dibahas? Rahasia kekayaan Nabi dan para sahabat. Memulai usaha dari nol. Bangkit kembali dari kegagalan. Meraih percepatan rezeki. Meraih Rp 100 juta pertama. Insya Allah saya ajak juga beberapa pengusaha untuk menemani saya sharing di panggung.

Buku dengan judul yang sama, Muhammad Sebagai Pedagang, alhamdulillah sudah lama beredar dan royalty for charity. Berikut ini adalah jadwal seminarnya dan nomor kontak panitia setempat.

23 Juni Manado, WA 0811-4326-787.
06 Juli Sukabumi, 0812-9666-5810.
07 Juli Bandung, 0819-9778-7888.
11 Juli Pekalongan, 0819-9778-7888.
14 Juli Solo, WA 0812-1543-6335.

Sampai jumpa ya!
Anda pemula?

Banyak orang yang menunda-nunda untuk memulai bisnis. Mereka menjawab, "Besok-besok. Nanti-nanti." Sementara waktu terus berjalan, tak terhenti. Padahal, begitu dia memulai, sukses finansial tengah menanti.

Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus.

Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Dan sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.

Anda bisa memulainya segera. Walaupun Anda seorang pemula.

Yang pemula, disarankan untuk menjual dan menjualkan terlebih dahulu. Jangan malah menghabiskan uang dan energi untuk mengurusi produksi, ruko (kantor), dan SDM. Ini kompleks sekali dan menghabiskan biaya. Relatif berat bagi seorang pemula.

Bayangkan kalau awal-awal Anda harus menyewa ruko (toko). Membayar listrik-air. Menggaji dan mengelola karyawan. Membeli dan mengolah bahan baku. Selain kompleks sekali, ini semua benar-benar menghabiskan biaya.

Jadi, baiknya? Cari vendor yang bisa membuat produk yang bagus dan menjanjikan margin yang lumayan untuk Anda. Terus? Mulailah menjual dan menjualkan terlebih. Itu dulu. Setelah berkembang, barulah Anda cari SDM dan sewa ruko.

Sekiranya makin berkembang (itu artinya sudah ada demand yang pasti) dan uang Anda sudah memadai, barulah pelan-pelan Anda melakukan produksi. Sekali lagi, baiknya tidak melakukan produksi di awal. Terutama bagi seorang pemula.

Dengan tips-tips ini, Anda bisa memulai bisnis segera dan seketika, bahkan dengan risiko yang sangat minim. Tambahan, akan lebih baik lagi kalau Anda punya mentor yang siap membimbing. Bagaimana? Siap take action?
Tadi malam tetangga saya meninggal. Pagi ini saya ikut menyolatkan dan ikut mengangkat jenazah sampai ke mobil. Adapun keluarga almarhumah mengantarkan jenazah sampai ke makam.

Setelah dimakamkan, orang-orang pada pulang. Lantas, apa yang masih tersisa? Apa yang masih tertinggal? Cuma satu, amal kebaikan. Ya, hanya inilah yang benar-benar menemani. Sebut saja, ini bekal ketika mati.

Sudah semestinya, segala kesibukan kita jadi amal kebaikan. Jangan sekedar dapat uang tapi nggak dapat yang lain-lain. Kalau sekedar dapat uang, yah rugi.

Lahirnya atau meninggalnya seseorang, semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Tak dapat dimajukan, tak dapat dimundurkan, walau hanya sehari. Mari kita mempersiapkan diri.

Sekali lagi, pastikan segala kesibukan kita entah itu bisnis atau kerja, jadi amal kebaikan. Sekiranya berhasil jadi amal kebaikan, mudah-mudahan ini bisa menjadi bekal saat kita mati nanti. Aamiin.
Adakah orang di rumah Anda yang tidak terpengaruhi oleh internet? Kemungkinan Anda akan menjawab, "Hampir-hampir tidak ada." Saat ini, internet sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari masyarakat perkotaan (urban society).

Bukan saja dalam pembelian barang, melainkan juga dalam komparasi harga. Dan hal ini saya tekankan pada mitra-mitra saya dalam setiap training. Ya, saya rutin memberikan training kepada mereka, bukan saja soal motivasi tapi juga soal teknis.

Walaupun seorang konsumen tengah berada dan belanja di swalayan, namun tetap saja dia meng-kroscek harga barang sejenis di internet. Diam-diam, dia googling. Cek harga di marketplace. Kalau harga barang di swalayan itu dirasa wajar, barulah dia beli. Kalau dianggap tidak wajar, dia hold dulu.

Ketika konsumen semakin lama menghabiskan waktunya bersama handphone dan internet, terus kita masih saja fokus memasang spanduk dan menyebar flyer, menurut saya itu BUKAN keputusan yang cerdas.

Jujur saja, selama ini saya mengajarkan mitra-mitra saya untuk benar-benar mahir ber-marketing-ria di socmed dan WA. Boleh-boleh saja kita cetak spanduk dan flyer, namun fokus utama kita adalah bagaimana menawarkan di Instagram dan Facebook, dua tongkrongan andalan netizen saat ini.

Harus diakui, Facebook adalah socmed terbesar saat ini, baik di Indonesia maupun di dunia. Adapun saya pribadi lebih menyukai Instagram ketimbang Facebook, apalagi fakta menunjukkan pengguna IG lebih berdaya beli ketimbang pengguna FB. Ini bukan soal selera, tapi soal realita.

Beberapa hari yang lalu, di forum ini saya sudah berbagi tips bisnis untuk pemula. Seorang pemula disarankan untuk menjual dan menjualkan terlebih dahulu. Jangan malah menghabiskan uang dan energi untuk mengurusi produksi, ruko (kantor), dan SDM. Itu tips bisnis dari saya untuk pemula.

Kenapa? Mengurusi produksi, ruko, dan SDM, ini pekerjaan yang kompleks sekali. Selain itu, juga menghabiskan biaya. Boleh dibilang, relatif berat bagi seorang pemula. Nah, kalau menawarkan lewat socmed dan WA, ini akan jauh lebih ringan.

Bayangkan, akhir-akhir ini, sekitar 90 persen orang Indonesia memiliki ponsel. Bahkan 1 orang bisa punya 2 ponsel. Dan hampir semua ponsel tersebut berbentuk smartphone. Ini menurut analis-analis. Itu artinya, masyarakat (baca: prospek) semakin familier dengan Instagram dan Facebook, juga WA.

Perlu diketahui, Indonesia juga merupakan 1 dari 12 negara di dunia yang penggunaan smartphone-nya lebih tinggi daripada penggunaan komputer. Melalui smartphone, masyarakat memanfaatkan fasilitas WA dan Telegram, di samping fasilitas socmed seperti Instagram dan Facebook.

Saya tahu Anda aktif di akun IG dan FB Anda. Tapi sepengalaman saya, untuk tujuan bisnis, aktif saja tidak cukup. Anda harus belajar (baiknya dibimbing) soal marketing di IG, FB, dan WA. Sekali lagi, aktif saja sama sekali tidak cukup.

Pada akhirnya percayalah, promosi-promosi tradisional (spanduk, flyer, ruko, bazaar, pameran, dan sejenisnya) pelan-pelan mulai ditinggalkan, terutama di kategori-kategori tertentu. Ada baiknya kita mulai melek dengan promosi-promosi berbasis internet. Saya harap Anda siap. Benar-benar siap.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ada pesan bagus.

"If you can't fly, then run. If you can't run, then walk. If you can't walk, then crawl. Whatever you do, you have to keep moving forward," Martin Luther King Jr.

Walaupun sedikit, walaupun sulit, tetaplah bergerak maju ke depan (keep moving forward). Sebut saja, progresif.

Misal, Anda mau membuka rumah makan. Yah silakan. Kalau belum bisa? Lakukan apa yang bisa. Mungkin buka konter dulu atau buka stand dulu. Belum bisa juga? Tawarkan makanan itu di Instagram dan WA. Lakukan sebisanya. Ini namanya progresif.

Misal, Anda mau membuka toko suplemen. Yah silakan. Kalau belum bisa? Lakukan apa yang bisa. Mungkin buka konter dulu atau buka stand dulu. Belum bisa juga? Jual suplemen itu di socmed dan WA. Lakukan sebisanya. Ini bagian dari progresif.

Harus ada kemajuan. Jangan karena berharap sesuatu yang ideal (besar), akhirnya kita tidak mau melakukan sesuatu yang kayaknya kecil. Jangan begitu.

Intinya, lakukan sesuatu sebisanya dan pelan-pelan diperbesar. Kalau Anda diam saja, yah nggak akan terjadi apa-apa. Dengan kata lain, kalau Anda diam, rezeki juga akan 'diam'. Sayangnya lagi, keberuntungan dan nasib seolah-olah menjauh dari Anda.

Lihatlah di luar sana. Di pohon-pohon. Banyak burung yang akhirnya tertembak mati, padahal dia sudah ingin terbang menyelamatkan diri. Kok bisa? Karena dia sekedar 'ingin terbang' tapi kakinya masih bertengger di dahan. Harusnya? Terbang beneran!

Demikian pula dengan kita. Ada yang ingin memulai usaha. Mau punya toko. Mau punya restoran. Mau punya bengkel. Tapi nggak mulai-mulai. Kenapa? Karena dia sekedar ingin. Harusnya? Mulai beneran. Action beneran.

Sudah action, apakah jaminan sukses? Nggak juga. Tapi ada kemajuan di situ. Apa-apa yang kurang, bisa Anda perbaiki sambil jalan. Sering saya berpesan di seminar, "Tidak harus sempurna untuk memulai sesuatu. Mulai saja, nanti sambil jalan disempurnakan."

Siap? 😊
"Cita-citanya apa, Nak?"
"Mau jadi dokter."
"Wah hebat. Tapi, kira-kira enakan mana, jadi dokter atau jadi yang punya rumah sakit?"
"Hm, jadi yang punya."
"Nah, yang punya itu namanya pengusaha."
"Oo..."
"Siapa yang mau jadi pengusaha?
"Saya! Saya!"

"Cita-citanya apa, Dik?"
"Mau jadi pilot."
"Wow keren. Tapi, kira-kira enakan mana, jadi pilot atau jadi yang punya pesawat?"
"Hm, jadi yang punya."
"Nah, yang punya itu namanya pengusaha."
"Oo..."
"Siapa yang mau jadi pengusaha?
"Saya! Saya!"

😊😊😊

Itulah cuplikan dialog saya saat berjumpa anak-anak dan guru-guru di TK Khalifah. Ya, weekend kemarin saya berada di Makassar dan Manado untuk kesekian kalinya. Dan perjalanan kemarin terasa istimewa.

Apa istimewanya? Saya berada di Makassar dalam rangka visit 4 outlet TK Khalifah dan saya berada di Manado dalam rangka peresmian TK Khalifah yang baru beroperasi tahun ini. Alhamdulillah.

Jujur, saya nggak nyangka TK Khalifah bisa hadir di Manado.

Berawal dari satu cabang di Batam pada tahun 2007, sekarang TK Khalifah sudah puluhan cabang di seluruh Indonesia, alhamdulillah. Dari Aceh sampai Papua. Dinamai Khalifah yang artinya pemimpin dan pemakmur, karena saya ingin sekali menyebarkan jiwa entrepreneurship.

Saya bercita-cita, melalui TK dan SD Khalifah, hadir lebih banyak lagi pengusaha (entrepreneur) di Indonesia. Sebab itulah, sejak dulu sampai sekarang, slogan kami tetap tauhid dan entrepreneurship. Bukankah entrepreneur itu pemimpin? Bukankah entrepreneur itu pemakmur?

Sekali lagi, khalifah itu pemimpin, khalifah itu pemakmur.

Saya ingin membangkitkan dunia entrepreneurship di Indonesia. Ya, ingin sekali. Berhubung saya bukan pembuat keputusan di negeri ini dan belum bisa berbuat sesuatu yang besar, ya sudah, saya mulai saja sebisanya. Saya mulai dari sekolah, tepatnya dari TK.

"If you can't fly, then run."
"If you can't run, then walk."
"If you can't walk, then crawl."

"Whatever you do, you have to keep moving forward," pesan Martin Luther King Jr. Intinya, lakukan sebisanya dan pelan-pelan diperbesar. Jangan cuma diam. Jangan cuma menunggu. Harus ada proses dan kemajuan.

TK dan SD Khalifah, itulah salah satu kesibukan saya. Seperti yang teman-teman tahu, selain dunia pendidikan, saya juga aktif di dunia kesehatan, tepatnya pendistribusian produk kesehatan. Mudah-mudahan Allah meridhai. Aamiin.