Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Ippho Santosa - ipphoright
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Pengen lunas utang? Benar-benar lunas? Mungkin e-book ini solusinya. Karya teman saya. Saat ini, e-book-nya masih gratis. Mau? Yang mau, silakan WA ke 0813-9520-0092. Baca dan praktek ya. Semoga membawa perubahan!
Bersihnya hati insya Allah akan mengarahkan kita pada lapangnya hati dan ujung-ujungnya lapangnya rezeki.

Setiap kali teman kita atau siapa saja posting di socmed tentang closing, baiknya kita ikut senang. Lalu kita doakan dalam hati, "Semoga jualannya tambah laris, semoga omset-nya tambah banyak. Aamiin."

Insya Allah doa itu akan 'mantul' ke kita dengan kekuatan yang lebih dahsyat. Ya, lebih dahsyat.

Ini juga bagian dari mental kaya. Berkelimpahan. Di mana kita percaya sepenuhnya bahwa Allah Maha Kaya. DIA punya banyak resources, bahkan tak terhingga resources-nya. Bisa mengayakan semua pihak, bisa melariskan semua dagangan.

Jadi, tak perlu iri atau dengki.

Orang yang iri, berarti menurutnya, "Kalau Allah telah memberikan rezeki yang banyak kepada si A, B, dan C, terus gimana dengan rezeki dan nasibku? Sudah dibagi-bagi kayak gitu, apa masih ada sisanya buatku?'

Dipikirnya, resources Allah itu terbatas. Ini pemahaman keliru. Benar-benar keliru.

Begini. Kalau kita dapat customer, terus kita bersyukur, itu sih wajar. Anak TK juga tahu, hehehe.

Tapi saat orang lain dapat customer dan kita ikut senang juga bersyukur, itu bikin malaikat geleng-geleng kepala, takjub. Kata malaikat "Hebat banget kamu ini. Orang lain dapat nikmat, eh kamu ikut bersyukur. Sebentar lagi deh, giliran kamu!'

😉

Persis seperti pesan guru saya, "Lapang hati, lapang pula rezeki." Insya Allah itu pasti.

Yuk praktek!
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Nabi Muhammad mulai menghasilkan uang dan menafkahi dirinya sendiri sejak usia 8 tahun. Boleh dibilang, ini usia yang sangat dini. Lantas, bagaimana dengan kita dan anak-anak kita?

Menurut saya, nilai-nilai entrepreneurship dan kemandirian harus ditanamkan ke anak sejak dini. Ya, sejak dini. Itulah yang menjadi misi awal berdirinya TK dan SD Khalifah. Setidaknya, sejak kecil anak-anak sudah bercita jadi entrepreneur.

Sayangnya, masyarakat kita belum terlalu melek dengan dunia entrepreneurship. Daripada mengeluh soal keadaan, saya memilih untuk berbuat. Kecil-kecilan dulu, nggak masalah. Pelan-pelan, besar juga insya Allah.

Kami pun berusaha untuk berbuat. Melalui TK dan SD Khalifah. Mudah-mudahan semua guru dan mitra yang terlibat di TK dan SD Khalifah diberi kekuatan dan keikhlasan untuk menebar nilai-nilai entrepreneurship dan kemandirian ini. Aamiin. Doakan kami ya.

Selama lebih dari 10 tahun, alhamdulillah TK dan SD Khalifah sudah tersebar puluhan cabang di Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Di Manado juga ada, alhamdulillah. Mendidik ribuan anak. Melihat perkembangan ini semua, kadang membuat saya terharu.

Dan senang sekali, semakin banyak tokoh nasional yang mendukung TK dan SD Khalifah, alhamdulillah. Terima kasih Kak Seto, Aa Gym, Imam Shamsi Ali, Dude Harlino, Shireen Sungkar, Oki Setiana Dewi, Ustadz Bendri dll.

Besar harapan kami, dari sekolah ini lahir pengusaha-pengusaha yang soleh, tangguh, dan cinta tanah airnya. Insya Allah.
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Foto ini dikirim ke saya sewaktu sahur tadi. Dikirim oleh Ustadz Yusuf Mansur.

Sedih sekali saya saat mendengar kabar Ustadz Arifin Ilham telah berpulang. Ya Allah. Selama 10 tahun lebih saya kenal beliau, hanya kebaikan yang beliau tanam ke saya. Entah sebagai guru maupun sebagai abang. Sungguh, yang ada di benak saya hanya kenangan-kenangan yang indah.

Pernah saya diajak tampil bareng di salah satu TV swasta beberapa tahun yang lalu. Siapalah saya, sampai diajak tampil bareng segala. Terus di TVRI (seperti foto di atas). Alhamdulillah. Dua pengalaman ini sangat berkesan bagi saya.

Pernah juga beberapa kali saya mengantar beliau dengan kendaraan saya. Masya Allah. Banyak sekali ilmu dan nasehat yang saya peroleh sepanjang perjalanan. Mitra-mitra saya juga sangat senang saat beliau berkunjung ke TK saya.

Yang paling berkesan, saat saya dan Pak Yan (Saling Sapa) diminta beliau untuk menemani Ustadz Abdul Somad yang waktu itu bertamu ke Sentul. Makan siang bareng UAS. Bahkan saya juga dikasih baju putih sama Ustadz Arifin. Langsung saya pakai.

Sekarang alhamdulillah beliau sudah nggak sakit lagi. Ya, sudah nggak sakit lagi. Karena beliau sudah berpulang. Di bulan terindah, Ramadhan. Saya yakin teman-teman sudah mendengar berita duka ini dan sudah mendoakan beliau.

Kita doakan sekali lagi ya. Kali ini sama-sama. Semoga beliau diterima amal-amalnya dan diampuni salah-salahnya. Aamiin. Keluarga yang ditinggalkan juga diberi kesabaran dan kekuatan. Aamiin.
Mudah-mudahan Allah kabulkan.
Jarang-jarang saya pakai gamis. Hari ini saya pakai... Kenapa? Soalnya ini gamis istimewa, pemberian Ustadz Arifin Ilham. Mudah-mudahan segala kebaikan yang saya lakukan hari ini, jadi amal jariyah bagi beliau. Aamiin...
Ada yang bertanya ke saya.

"Mas Ippho, apa yang terjadi dengan Indonesia?"

"Terus bagaimana sikap Mas Ippho atas kejadian-kejadian itu?"

Saya tanya balik, "Kejadian-kejadian yang mana?"

Mereka jawab:
- Meninggalnya 600-an Petugas Pemilu.
- Tewasnya 6 orang di Aksi 22 Mei.
- Dipukulinya tenaga medis oleh polisi.

https://metro.tempo.co/amp/1208460/rusuh-22-mei-tenaga-medis-dompet-dhuafa-dipukul-polisi?

Menurut mereka, kejadian-kejadian ini sangat mengerikan dan janggal.

Begini. Tadi pas khutbah Jumat, khatib mengajak jamaah untuk banyak-banyak berdoa. Bukan mengutuk. Kalau berdoa dan mendoakan, insya Allah ini bisa mengubah sesuatu.

Tapi kalau mengutuk, kita dapat apa? Sebagai pribadi, kita nggak dapat apa-apa dari perkataan yang mengutuk dan mengecam itu. Demikian pula negeri ini, tidak dapat apa-apa.

Bagaimanapun, lebih baik berdoa dan mendoakan. Yup, saya setuju dengan ajakan khatib tadi. Saya harap teman-teman juga setuju. Insya Allah.

Karena saya, Anda, dan kita semua sama-sama rindu Indonesia yang damai dan berkeadilan.
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Ini Mas Fadly, vokalis Padi dan Musikimia, terlihat makin slim dan makin fresh 😁
Menurut beliau, belakangan ini makanan lebih terjaga. Olahraga juga. Ditambah lagi dengan berpuasa.
Saya harap teman-teman juga begitu. Semakin luar biasa saat berpuasa.
Dari Habibie, Gus Sholah, Sampai Andrie Wongso



Selama lebih 25 tahun, lembaga ini menebar manfaat di seluruh Indonesia, sampai ke pelosok-pelosok. Bahkan sampai ke luar negeri. Masya Allah. Saya pribadi aktif di sana sebagai relawan sejak 2010.

Menariknya, lembaga ini adalah 'cicit' dari presiden ketiga, Prof BJ Habibie. Hm, maksudnya? Begini.

Pada 1990, Habibie membidani ICMI.

Dari ICMI, lahirlah Republika.

Dari Republika, lahirlah Dompet Dhuafa.

Ya, nama lembaga itu Dompet Dhuafa atau DD, yang berdiri sejak tahun 1993.

Tidak cukup sampai di situ, kemudian saya bersama DD menginisiasi Kampus Umar Usman pada 2011.

Saya pun coba membayangkan, betapa besar amal jariyah yang ditanam oleh Prof BJ Habibie. Masya Allah.

Dari awal berdiri, DD selalu diaudit dan selalu meraih predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Salah satunya oleh akuntan publik Paul Hadiwinata (PKF). Selain itu, pernah diberi penghargaan oleh Baznas sebagai lembaga amil dengan operasional terbaik.

Meski DD ini lembaga filantropi Islam, namun DD berusaha menjadi 'rahmatan lil alamin' alias 'rahmat bagi semua'. Contoh kecil, DD menjadi lembaga kemanusiaan pertama yang hadir di Asmat, untuk menangani masalah gizi buruk di sana. Saat banjir bandang menerjang Wasior, Papua, DD juga turun tangan.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengajak Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, dan James Gwee untuk mengadakan charity seminar. Alhamdulillah beliau-beliau berkenan. Nah, ada peran DD di sana.

Karena acara itu di-organize oleh saya bersama Kampus Umar Usman dan DD. Alhamdulillah, saat itu terkumpul donasi ratusan juta rupiah dan sepertiganya kita salurkan melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk korban bencana di Nepal.

Kesehatan adalah salah satu concern DD. Pernah dengar RS Hasyim Asyari? Rumah sakit ini dipelopori oleh keluarga besar KH Hasyim Asyari (pendiri NU). Nah, rumah sakit ini dikelola oleh DD dan menjadi rumah sakit dhuafa ke-6 yang dikelola DD. Gus Sholah (adik Gus Dur) pun menyambut baik progam mulia ini.

Saya pribadi adalah trainer yang senang belajar. Dan hal serupa saya tularkan ke mahasiswa-mahasiswa saya. Dr Syafii Antonio, Tung Desem Waringin, Yeheskiel Zebua, dr Phaidon Toruan, Mardigo Wowiek, dll adalah tokoh-tokoh hebat yang pernah berbagi ilmu di Kampus Umar Usman. Alhamdulillah.

Sejauh ini, saya melihat manajemen DD adalah orang-orang yang beragam dan ini yang membuat senang sekali bergaul dengan mereka. Ya, hampir 10 tahun saya jadi relawan di DD. Pada akhirnya, kita doakan ya, semoga mereka yang berjuang di DD diberi kekuatan dan keikhlasan. Aamiin.
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Senior saya, Pak Tung, sering berbagi melalui DD. Alhamdulillah.
Hari itu saya bertemu lagi dengan Coach Nick, seorang pengusaha dari Malaysia. Kami mengadakan charity seminar di weekend kemarin. Alhamdulillah, lumayan dana terkumpul.

Beliau mengajak kita semua untuk ikhlas dalam belajar. Dan itu bagus dampaknya bagi kita sebagai pembelajar. Beliau bercerita bahwa sebelum bertemu saya secara langsung, beliau sudah merasa bertemu dengan saya dan sudah sungguh-sungguh mendoakan saya. Masya Allah.

Menurut saya, saling mendoakan meskipun belum pernah tatap muka sama sekali, itu bagus sekali. Bukan suatu hal yang dilebih-lebihkan. Efek kedekatan akan terasa.

Guru-guru yang baik insya Allah tulus dan ikhlas dalam mengajar. Pertanyaannya, apakah kita sebagai murid ikhlas dalam belajar? Maka, ikhlaslah dalam belajar, walaupun itu dari IG, WA, Telegram, dan YouTube (tidak bertemu langsung).

Lantas, apa bukti ikhlas itu? Sungguh-sungguh menyimak ilmu tersebut. Sungguh-sungguh mendoakan sumber ilmu tersebut. Saat kita plong terhadap sumber ilmu, maka ilmu dan hikmah pun mengalir kepada kita. Lebih deras lagi.

Ini pun adab dalam menuntut ilmu. Saling mendoakan antara murid dan guru. Selalu. Insya Allah ini akan mengundang rahmat dari Yang Maha Berilmu dan Yang Maha Tahu.
Sarat manfaat, ini sesuatu yang perlu diperjuangkan. Bukan diri kita saja yang sarat manfaat, usahakan bisnis kita juga sarat manfaat. Usahakan seperti itu.

Nah, beruntung sekali kalau selama ini kita sudah menjual produk atau yang sarat manfaat. Mungkin di bidang kesehatan, mungkin di bidang pendidikan. Insya Allah itu industri yang sangat tepat.

Saat kita menawarkan produk atau jasa yang sarat manfaat, itu artinya kita tengah merawat pohon kebaikan. Tumbuh, tumbuh, dan terus tumbuh. Menjadi kebaikan yang lebih besar lagi. Insya Allah.

Suatu hari nanti, kita akan memetik buahnya. Bahkan panen. Hebatnya lagi, panennya bisa berkali-kali. Bukan cuma sekali. Dengan adanya kebermanfaatan sedemikian rupa, mudah-mudahan Allah menurunkan rahmat-Nya untuk bisnis kita dan diri kita. Aamiin.

Misal, kita menjual barang yang sarat manfaat. Terus, ada orang yang salah beli. Nggak niat beli produk kita, tapi tau-tau kebeli atau dibeliin sama saudaranya. Terus, gimana?

Apakah orang ini rugi? Ternyata nggak, insya Allah. Tetep dia dapat manfaat dari produk kita. Untung tho? Karena sejak awal kita sudah memilih produk yang sarat manfaatnya.

"Salah beli aja, tetep untung!" Nah, itu filosofi idealnya. Maka carilah produk atau jasa yang seperti itu. Banyak kok. Jangan malah kita menjual sesuatu yang nggak jelas manfaarnya. Jangan pula kita mem-push prospek untuk berperilaku impulsif dan konsumtif.

Sekarang kita beralih ke Ramadhan. Saat Ramadhan (berpuasa), setiap konsumen perlu extra hati-hati dalam berbelanja. Entah itu di mall atau online shop.

Berikut ini adalah kombinasi keadaan yang memicu orang untuk belanja secara konsumtif dan impulsif:
- lapar (karena berpuasa)
- waktu terbatas (karena lebaran sudah dekat)
- pegang cash (karena baru THR)
- promosi oleh si penjual (biasanya tambah gencar saat Ramadhan)
- orang lain juga shopping (tanpa sadar manusia cenderung mengikuti khalayak).

Kalau kita menjual produk fashion, kita harus pandai-pandai dalam berpromosi. Jangan sampai orang jadi konsumtif dan impulsif gegara iklan dan promosi kita. Ingat, kelakuan kita ini kelak akan dihisab.

Kalau jual produk yang sarat manfaat? Insya Allah, aman. Salah beli aja, tetap untung. Pada akhirnya, mari kita camkan sama-sama, "Bisnis bukan sekedar cari untung, tapi juga menebar keberuntungan dan kebermanfaatan bagi banyak orang."

Ini menurut saya. Bagaimana dengan Anda? Setuju?
Kalau seorang pria punya uang sekitar Rp 10 juta atau empat dinar, bagaimana pembagiannya?

Nabi Muhammad pernah bersabda, "Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah 'azza wajalla, satu dinar kepada orang-orang miskin, satu dinar kepada budak, serta satu dinar kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu." HR Ahmad no 9736.

Nabi juga pernah bersabda, "Dinar yang kamu belanjakan di jalan Allah dan dinar yang kamu berikan kepada seorang budak wanita, dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, serta dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar ganjaran pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu." HR Muslim no 995.

Kok bisa? Karena, bagi seorang pria, menafkahi keluarga itu memang wajib hukumnya. So, jangan pelit sama istri dan keluarga. Sebab itu pula berulang kali saya menyerukan, "Ciri pria sejati itu sedikit bicara, banyak transfer." Hehehe.

Inilah dua sikap ideal pria terhadap pasangannya:
- Kasih sayang
- Kasih uang

Hehehe.

Tentu, ini lebih mudah dipahami kalau orang itu melek agama atau religius. Btw, ada kabar baiknya juga. Riset yang digelar oleh Ohio State University mengungkapkan, orang-orang religius mampu hidup 6 tahun lebih lama. Lebih sehat. Tidak main-main, peneliti menganalisis lebih dari 1.500 orang.

Saat istri dan keluarga senang, percayalah, pintu-pintu rezeki akan semakin terbuka. Dan demikian pula sebaliknya. Hati-hati.

Begini. Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti sadar, kadang harta itu memang diperlukan.

Sekiranya kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan disadarkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak.

Jadi, seorang pria, jangan risih kalau bicara soal harta. Siap?