Apalah arti sebuah nama?
Tersebutlah:
Desa Timbun Tulang di Kalsel.
Desa Pocong di Bangkalan.
Desa Toket di Madura.
Desa Tutup di Blora.
Desa Kebocoran di Banyumas.
Dusun Koplak di Sleman.
Hehehe...
Mungkin Anda kaget mendengar nama-nama di atas. Tapi itu beneran ada. Nyata. Nggak mengada-ngada.
Apalah arti sebuah nama? Itu kata sebagian orang. Namun tidak demikian dalam bisnis, terutama dalam marketing.
Segala image, spirit, dan visi yang akan dibangun, bermula dari sebuah nama. Sekali lagi, bermula dari sebuah nama.
Go-Jek
Net TV
Indomie
Facebook
Twitter
Jelas, mereka tidak sembarang dalam memilih nama. Apa image, spirit, dan visi mereka, tersirat dari nama mereka. Saya juga berharap Anda tidak sembarang dalam memilih nama atau merek. Entah itu dalam keluarga atau dalam bisnis.
Selain mencerminkan image, spirit, dan visi, hendaknya nama juga mudah ditulis (writable) dan mudah disebut (speakable). Kalau serba sulit, maka akan memperlambat viral di media sosial. Masih banyak syarat lainnya. Kapan-kapan kita bahas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tersebutlah:
Desa Timbun Tulang di Kalsel.
Desa Pocong di Bangkalan.
Desa Toket di Madura.
Desa Tutup di Blora.
Desa Kebocoran di Banyumas.
Dusun Koplak di Sleman.
Hehehe...
Mungkin Anda kaget mendengar nama-nama di atas. Tapi itu beneran ada. Nyata. Nggak mengada-ngada.
Apalah arti sebuah nama? Itu kata sebagian orang. Namun tidak demikian dalam bisnis, terutama dalam marketing.
Segala image, spirit, dan visi yang akan dibangun, bermula dari sebuah nama. Sekali lagi, bermula dari sebuah nama.
Go-Jek
Net TV
Indomie
Jelas, mereka tidak sembarang dalam memilih nama. Apa image, spirit, dan visi mereka, tersirat dari nama mereka. Saya juga berharap Anda tidak sembarang dalam memilih nama atau merek. Entah itu dalam keluarga atau dalam bisnis.
Selain mencerminkan image, spirit, dan visi, hendaknya nama juga mudah ditulis (writable) dan mudah disebut (speakable). Kalau serba sulit, maka akan memperlambat viral di media sosial. Masih banyak syarat lainnya. Kapan-kapan kita bahas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Miliki mental pemenang. Berusaha berpikir positif. Niscaya akan beruntung.
Alhamdulillah sejak 2010 sampai 2016, di berbagai kesempatan saya membawakan seminar 7 Keajaiban Rezeki bareng Ary Ginanjar, Syafi’i Antonio, Aa Gym, Sandiaga Uno, Tung Desem Waringin, Merry Riana, Nurhayati Subakat (pemilik Wardah), Heppy Trenggono, Habiburrahman El-Shirazy, Jamil Azzaini, dan lain-lain.
Sebagai pembicara seminar, kesempatan ini merupakan nikmat tersendiri bagi saya. Satu hal yang sering saya bahas di seminar adalah soal mental pemenang. Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang bersikap terbalik. Dan rupa-rupanya ini malah menjadi motivasi sukses bagi mereka. Positif.
Misalnya saja:
- Sakit, tapi masih bisa tersenyum.
- Gagal, tapi masih bisa bahagia.
- Bangkrut, tapi masih bisa bersyukur.
- Miskin, tapi masih mau sedekah.
Orang rata-rata, sukses dulu, baru bisa bersyukur. Mapan dulu, baru mau sedekah. Ini kan parah. Sekiranya kita mau bersikap positif, niscaya kita akan lebih lucky alias beruntung.
Dalam karya fenomenalnya, The Luck Factor, Profesor Richard Wiseman seorang psikolog dari Universitas Hertfordshire telah meneliti 400 orang yang memiliki karakter yang beruntung dan tidak beruntung, dengan berbagai jenis latar belakang.
Dalam penelitiannya bertahun-tahun ia mengungkap bahwa keberuntungan bukanlah kemampuan magis atau hasil dari pengambilan acak. Ternyata ada polanya. Apa saja polanya? Macam-macam. Salah satunya adalah berpikir dan bersikap positif.
Anda termasuk yang mana? Jadikan saja tulisan ini sebagai bahan renungan. Semoga hidup kita selalu berkah dan berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Alhamdulillah sejak 2010 sampai 2016, di berbagai kesempatan saya membawakan seminar 7 Keajaiban Rezeki bareng Ary Ginanjar, Syafi’i Antonio, Aa Gym, Sandiaga Uno, Tung Desem Waringin, Merry Riana, Nurhayati Subakat (pemilik Wardah), Heppy Trenggono, Habiburrahman El-Shirazy, Jamil Azzaini, dan lain-lain.
Sebagai pembicara seminar, kesempatan ini merupakan nikmat tersendiri bagi saya. Satu hal yang sering saya bahas di seminar adalah soal mental pemenang. Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang bersikap terbalik. Dan rupa-rupanya ini malah menjadi motivasi sukses bagi mereka. Positif.
Misalnya saja:
- Sakit, tapi masih bisa tersenyum.
- Gagal, tapi masih bisa bahagia.
- Bangkrut, tapi masih bisa bersyukur.
- Miskin, tapi masih mau sedekah.
Orang rata-rata, sukses dulu, baru bisa bersyukur. Mapan dulu, baru mau sedekah. Ini kan parah. Sekiranya kita mau bersikap positif, niscaya kita akan lebih lucky alias beruntung.
Dalam karya fenomenalnya, The Luck Factor, Profesor Richard Wiseman seorang psikolog dari Universitas Hertfordshire telah meneliti 400 orang yang memiliki karakter yang beruntung dan tidak beruntung, dengan berbagai jenis latar belakang.
Dalam penelitiannya bertahun-tahun ia mengungkap bahwa keberuntungan bukanlah kemampuan magis atau hasil dari pengambilan acak. Ternyata ada polanya. Apa saja polanya? Macam-macam. Salah satunya adalah berpikir dan bersikap positif.
Anda termasuk yang mana? Jadikan saja tulisan ini sebagai bahan renungan. Semoga hidup kita selalu berkah dan berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mengapa Telegram yang baru diluncurkan tahun 2014 lalu sudah kebanjiran pengguna? Itu karena Telegram punya keunggulan tersendiri berbanding Whatsapp (WA).
Apa saja keunggulan atau kelebihan Telegram? Ternyata banyak sekali.
1. Gratis selamanya.
2. Mengirim pesan lebih cepat.
3. Lebih ringan saat dioperasikan.
4. Dapat diakses dari berbagai perangkat pada saat bersamaan.
5. Berbagi file dengan ukuran lebih besar dan jenis lebih beragam.
6. Grup di Telegram bisa menampung 5.000 member. WA cuma 256.
7. Fitur Channel (Broadcasting).
8. Fitur Bot (Apa saja aktivitas di internet).
9. Lebih interaktif dan lebih humanis.
10. Lebih aman.
Adakah kelemahan Telegram? Ada.
1. belum memiliki voice call.
2. belum sepopuler WA.
Sebenarnya, perang terbuka WA terhadap Telegram telah dimulai sejak tahun lalu:
- WA untuk Android pernah memblokir tautan (link) Telegram, sehingga tidak dapat di-klik dan di-copy.
- Facebook (sebagai pemilik WA) menutup akun resmi Telegram di Facebook www.facebook.com/tlgrm.
Saran saya, ajak keluarga dan teman-teman Anda untuk meng-install Telegram. Gratis tho? Setelah itu, ajak mereka bergabung di Channel Ipphoright. Bayangkan, setiap kali mereka beroleh inspirasi positif di sini, maka itu akan menjadi amal kita sama-sama. Saya dan Anda.
Seperti yang Anda tahu, saya cuma aktif di Channel ini:
telegram.me/ipphoright
Apa saja keunggulan atau kelebihan Telegram? Ternyata banyak sekali.
1. Gratis selamanya.
2. Mengirim pesan lebih cepat.
3. Lebih ringan saat dioperasikan.
4. Dapat diakses dari berbagai perangkat pada saat bersamaan.
5. Berbagi file dengan ukuran lebih besar dan jenis lebih beragam.
6. Grup di Telegram bisa menampung 5.000 member. WA cuma 256.
7. Fitur Channel (Broadcasting).
8. Fitur Bot (Apa saja aktivitas di internet).
9. Lebih interaktif dan lebih humanis.
10. Lebih aman.
Adakah kelemahan Telegram? Ada.
1. belum memiliki voice call.
2. belum sepopuler WA.
Sebenarnya, perang terbuka WA terhadap Telegram telah dimulai sejak tahun lalu:
- WA untuk Android pernah memblokir tautan (link) Telegram, sehingga tidak dapat di-klik dan di-copy.
- Facebook (sebagai pemilik WA) menutup akun resmi Telegram di Facebook www.facebook.com/tlgrm.
Saran saya, ajak keluarga dan teman-teman Anda untuk meng-install Telegram. Gratis tho? Setelah itu, ajak mereka bergabung di Channel Ipphoright. Bayangkan, setiap kali mereka beroleh inspirasi positif di sini, maka itu akan menjadi amal kita sama-sama. Saya dan Anda.
Seperti yang Anda tahu, saya cuma aktif di Channel ini:
telegram.me/ipphoright
Bumi ini bulat atau rata?
Untuk mengetahui jawabannya secara pasti, mungkin kita perlu terbang dulu ke luar angkasa dan melihat bumi dari kejauhan. Btw, tulisan kali ini tentang terbang.
Di film Spiderman yang terbaru (Homecoming, rilis 2017), sepertinya Spiderman akan ditemani oleh Iron Man, meskipun durasinya tak lama. Mungkin ini kompensasi atas kemunculan Spiderman di film Civil War yang melagakan Captain America dan Iron Man.
Terlihat di film-film bagaimana Iron Man alias Tony Stark bisa terbang dengan baju besinya yang teramat canggih. Manusia terbang, mungkinkah itu terjadi dalam dunia nyata? Mungkin saja. Buktinya? Adalah Franky Zapata dengan Hoverboard-nya mampu terbang bagai Iron Man, meskipun Hoverboard masih kalah canggih.
Di Bali saya pernah mencoba alat semacam ini, namanya flyboard atau waterboard. Bedanya, yang saya coba itu masih ada kabel besar yang terhubung ke speedboad. Itu pun saya cuma bisa melayang-layang di atas air doang. Nggak bisa di darat.
Terlepas dari itu, guru saya pernah berwasiat, "Hiasi hari-hari kita dengan prestasi, niscaya hidup kita akan lebih berisi dan lebih bergengsi." Nah, Abbas Ibn Firnas adalah salah satu sosok yang berhasil menghiasi hari-harinya dengan prestasi. Hm, Anda pernah mendengar namanya?
Abbas Ibn Firnas, seorang fisikawan dan ahli penerbangan dari abad ke-9, tercatat sebagai MANUSIA PERTAMA yang mengembangkan alat penerbangan dan berhasil terbang (sumber: National Geographic). Karena ini sangat penting, ada baiknya kalau tulisan ini Anda share.
Ya, Abbas Ibn Firnas-lah yang pertama, bukan Wright bersaudara seperti persepsi khalayak dan publikasi media selama ini. Abbas Ibn Firnas, yang dikenal juga sebagai Armen Firman, wafat pada tahun 888, karena cedera punggung akibat uji coba pesawat buatannya.
Hebatnya lagi, Abbas bukan hanya penemu pesawat terbang pertama. Ia juga ilmuwan serba bisa. Salah satunya, ia menemukan jam air yang disebut Al-Maqata. Dan masih banyak lagi. Atas berbagai kontribusinya terhadap dunia, beberapa negara menyematkan penghormatan khusus kepadanya.
Misal, Libya mengeluarkan perangko bergambar dirinya. Irak mengabadikan namanya sebagai nama bandara di utara Baghdad. Namanya juga dipakai sebagai nama jembatan di kota asalnya, Cordoba. Nama Armen Firman sendiri menjadi nama salah satu kawah di bulan.
Ya, ia berhasil menghiasi hari-harinya dengan prestasi. Sekarang, giliran kita. Tak harus seperti Tony Stark, Franky Zapata, dan Abbas Ibn Firnas. Berprestasilah di bidang kita masing-masing. Bukan untuk dikenang manusia atau dikagumi manusia, melainkan untuk menebar manfaat kepada seluas-luasnya manusia.
Ingatlah, emas dinilai dari karat. Manusia? Dinilai dari manfaat. Tak perlu kita berdebat, saya yakin Anda 100 persen sepakat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Untuk mengetahui jawabannya secara pasti, mungkin kita perlu terbang dulu ke luar angkasa dan melihat bumi dari kejauhan. Btw, tulisan kali ini tentang terbang.
Di film Spiderman yang terbaru (Homecoming, rilis 2017), sepertinya Spiderman akan ditemani oleh Iron Man, meskipun durasinya tak lama. Mungkin ini kompensasi atas kemunculan Spiderman di film Civil War yang melagakan Captain America dan Iron Man.
Terlihat di film-film bagaimana Iron Man alias Tony Stark bisa terbang dengan baju besinya yang teramat canggih. Manusia terbang, mungkinkah itu terjadi dalam dunia nyata? Mungkin saja. Buktinya? Adalah Franky Zapata dengan Hoverboard-nya mampu terbang bagai Iron Man, meskipun Hoverboard masih kalah canggih.
Di Bali saya pernah mencoba alat semacam ini, namanya flyboard atau waterboard. Bedanya, yang saya coba itu masih ada kabel besar yang terhubung ke speedboad. Itu pun saya cuma bisa melayang-layang di atas air doang. Nggak bisa di darat.
Terlepas dari itu, guru saya pernah berwasiat, "Hiasi hari-hari kita dengan prestasi, niscaya hidup kita akan lebih berisi dan lebih bergengsi." Nah, Abbas Ibn Firnas adalah salah satu sosok yang berhasil menghiasi hari-harinya dengan prestasi. Hm, Anda pernah mendengar namanya?
Abbas Ibn Firnas, seorang fisikawan dan ahli penerbangan dari abad ke-9, tercatat sebagai MANUSIA PERTAMA yang mengembangkan alat penerbangan dan berhasil terbang (sumber: National Geographic). Karena ini sangat penting, ada baiknya kalau tulisan ini Anda share.
Ya, Abbas Ibn Firnas-lah yang pertama, bukan Wright bersaudara seperti persepsi khalayak dan publikasi media selama ini. Abbas Ibn Firnas, yang dikenal juga sebagai Armen Firman, wafat pada tahun 888, karena cedera punggung akibat uji coba pesawat buatannya.
Hebatnya lagi, Abbas bukan hanya penemu pesawat terbang pertama. Ia juga ilmuwan serba bisa. Salah satunya, ia menemukan jam air yang disebut Al-Maqata. Dan masih banyak lagi. Atas berbagai kontribusinya terhadap dunia, beberapa negara menyematkan penghormatan khusus kepadanya.
Misal, Libya mengeluarkan perangko bergambar dirinya. Irak mengabadikan namanya sebagai nama bandara di utara Baghdad. Namanya juga dipakai sebagai nama jembatan di kota asalnya, Cordoba. Nama Armen Firman sendiri menjadi nama salah satu kawah di bulan.
Ya, ia berhasil menghiasi hari-harinya dengan prestasi. Sekarang, giliran kita. Tak harus seperti Tony Stark, Franky Zapata, dan Abbas Ibn Firnas. Berprestasilah di bidang kita masing-masing. Bukan untuk dikenang manusia atau dikagumi manusia, melainkan untuk menebar manfaat kepada seluas-luasnya manusia.
Ingatlah, emas dinilai dari karat. Manusia? Dinilai dari manfaat. Tak perlu kita berdebat, saya yakin Anda 100 persen sepakat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Prof Mahfud MD dulu pernah ngetwit, “Di Indonesia banyak orang Islam tapi perilakunya kurang islami. Di New Zealand hampir-hampir tidak ada orang Islam tapi perilakunya islami.” Kurang-lebih begitu bunyinya.
Twit ini merespons hasil penelitian Prof Hossein Askari yang menempatkan New Zealand sebagai negara paling islami di dunia. Artinya, nilai-nilai Islam yang universal seperti kejujuran, kesetaraan, kebersihan, pembelajaran dll diterapkan dengan sangat baik di sana.
Hasil penelitian ini juga pernah dibahas oleh Anies Baswedan, salah satu menteri kita.
Kita kadang prihatin, negeri-negeri muslim yang kaya sumber daya alam sering sekali abai dan lalai dengan ilmu. Kuliah, malas. Riset, malas. Menulis, malas. Membaca, malas. Sehingga untuk urusan riset-riset dan buku-buku, kita hampir-hampir selalu menginduk ke Barat. Padahal Islam sangat memuliakan ilmu.
Ngomong-ngomong Anda tahu:
- Siapa mentornya Soekarno?
- Siapa mentornya Tan Malaka?
- Siapa mentornya M. Natsir?
Ternyata orangnya yang sama. Siapakah orang hebat itu? Dialah HOS Tjokroaminoto, gurunya para pendiri bangsa, yang juga perintis Serikat Dagang Islam. Perihal HOS Tjokroaminoto sebagai mentor ini diingatkan kembali oleh Anies Baswedan sewaktu mengundang 20-an profesional dan motivator, salah satunya saya.
Ya, mentor itu gudangnya ilmu.
Di seminar-seminar sering saya sampaikan bahwa Nabi Muhammad saja punya mentor. Ini beneran. Untuk urusan bisnis, yang menjadi mentor adalah pamannya. Untuk urusan agama, yang menjadi mentor adalah Malaikat Jibril. Boleh dibilang, mentor adalah pihak yang bisa membimbing kita menuju impian kita, karena dia lebih dahulu mencapainya dan dia bisa mengajarkan cara-cara mencapainya.
Ada orang yang bisa mencapai, namun tidak bisa mengajar. Sebaliknya, ada orang yang bisa mengajar, namun belum pernah mencapai. Kedua-duanya perlu. Sekiranya kita harus mengorbankan waktu dan uang demi mendekati sang mentor, yah keluarkan saja. Saya pun begitu, dari dulu sampai sekarang. Hasil akhirnya, malah menghemat waktu dan uang saya. Karena saya tahu persis, coba-coba sendiri jauh lebih lama dan jauh lebih mahal.
Belajarlah. Cari ilmu. Cari mentor. Mudah-mudahan nasib kita membaik. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Twit ini merespons hasil penelitian Prof Hossein Askari yang menempatkan New Zealand sebagai negara paling islami di dunia. Artinya, nilai-nilai Islam yang universal seperti kejujuran, kesetaraan, kebersihan, pembelajaran dll diterapkan dengan sangat baik di sana.
Hasil penelitian ini juga pernah dibahas oleh Anies Baswedan, salah satu menteri kita.
Kita kadang prihatin, negeri-negeri muslim yang kaya sumber daya alam sering sekali abai dan lalai dengan ilmu. Kuliah, malas. Riset, malas. Menulis, malas. Membaca, malas. Sehingga untuk urusan riset-riset dan buku-buku, kita hampir-hampir selalu menginduk ke Barat. Padahal Islam sangat memuliakan ilmu.
Ngomong-ngomong Anda tahu:
- Siapa mentornya Soekarno?
- Siapa mentornya Tan Malaka?
- Siapa mentornya M. Natsir?
Ternyata orangnya yang sama. Siapakah orang hebat itu? Dialah HOS Tjokroaminoto, gurunya para pendiri bangsa, yang juga perintis Serikat Dagang Islam. Perihal HOS Tjokroaminoto sebagai mentor ini diingatkan kembali oleh Anies Baswedan sewaktu mengundang 20-an profesional dan motivator, salah satunya saya.
Ya, mentor itu gudangnya ilmu.
Di seminar-seminar sering saya sampaikan bahwa Nabi Muhammad saja punya mentor. Ini beneran. Untuk urusan bisnis, yang menjadi mentor adalah pamannya. Untuk urusan agama, yang menjadi mentor adalah Malaikat Jibril. Boleh dibilang, mentor adalah pihak yang bisa membimbing kita menuju impian kita, karena dia lebih dahulu mencapainya dan dia bisa mengajarkan cara-cara mencapainya.
Ada orang yang bisa mencapai, namun tidak bisa mengajar. Sebaliknya, ada orang yang bisa mengajar, namun belum pernah mencapai. Kedua-duanya perlu. Sekiranya kita harus mengorbankan waktu dan uang demi mendekati sang mentor, yah keluarkan saja. Saya pun begitu, dari dulu sampai sekarang. Hasil akhirnya, malah menghemat waktu dan uang saya. Karena saya tahu persis, coba-coba sendiri jauh lebih lama dan jauh lebih mahal.
Belajarlah. Cari ilmu. Cari mentor. Mudah-mudahan nasib kita membaik. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Ketika ngumpul Lebaran, sang nenek yang sudah lumayan berumur menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh cucunya yang cerdas terkait suaminya dan pernikahannya. Kebetulan saat itu sang kakek berada di kebun.
Cucu: Apakah nenek merasa kakek ada kekurangannya?
Nenek: Wah, banyak sekali! Sebanyak bintang di langit! Tak sanggup ku menghitungnya!
Cucu: (Kaget) Apakah kebaikan kakek juga banyak sekali?
Nenek: Wah, sedikit sekali! Bagai matahari di langit! Semua orang tahu jumlahnya!
Cucu: (Penasaran) Lha, terus kenapa nenek sanggup hidup bersama kakek selama setengah abad dan tetap saling menyayangi?
Nenek: Karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit tak lagi kelihatan!
Cucu: Oo, begitu rupanya.
Hehehe. Kekurangan kadang menimbulkan kekesalan. Akan tetapi, rasa kasih-sayang menutupi segala kekesalan juga mencegah sebuah pertengkaran. Ini baru romantis namanya.
Di buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' saya dan Shamsi Ali (imam di New York) membahas soal jodoh dan pernikahan, lengkap dengan data-data ilmiah agar lebih meyakinkan. Semoga jadi solusi buat para suami, para istri, calon suami, dan calon istri. Fyi, royalty for charity.
Terakhir ingatlah, ciri pria romantis itu sedikit bicara, banyak transfer. Hehehe, nggak usah tersinggung. Banyak transfer itu bagus tho? Wong untuk berbakti, menafkahi, menggaji, belajar, dan bersedekah. Insya Allah itu mengundang berkah dan berlimpah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Cucu: Apakah nenek merasa kakek ada kekurangannya?
Nenek: Wah, banyak sekali! Sebanyak bintang di langit! Tak sanggup ku menghitungnya!
Cucu: (Kaget) Apakah kebaikan kakek juga banyak sekali?
Nenek: Wah, sedikit sekali! Bagai matahari di langit! Semua orang tahu jumlahnya!
Cucu: (Penasaran) Lha, terus kenapa nenek sanggup hidup bersama kakek selama setengah abad dan tetap saling menyayangi?
Nenek: Karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit tak lagi kelihatan!
Cucu: Oo, begitu rupanya.
Hehehe. Kekurangan kadang menimbulkan kekesalan. Akan tetapi, rasa kasih-sayang menutupi segala kekesalan juga mencegah sebuah pertengkaran. Ini baru romantis namanya.
Di buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' saya dan Shamsi Ali (imam di New York) membahas soal jodoh dan pernikahan, lengkap dengan data-data ilmiah agar lebih meyakinkan. Semoga jadi solusi buat para suami, para istri, calon suami, dan calon istri. Fyi, royalty for charity.
Terakhir ingatlah, ciri pria romantis itu sedikit bicara, banyak transfer. Hehehe, nggak usah tersinggung. Banyak transfer itu bagus tho? Wong untuk berbakti, menafkahi, menggaji, belajar, dan bersedekah. Insya Allah itu mengundang berkah dan berlimpah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sukses dan kaya kadang membuat orang lupa dengan sesama yang tengah kesusahan. Namun tidak begitu halnya dengan Oprah Winfrey. Saking rajinnya Oprah Winfrey membantu sesama, ratu talkshow ini mendapat gelar salah satu selebriti paling dermawan.
Selain Oprah Winfrey, ada juga novelis Nora Roberts dan aktris Meryl Streep. Bukan kebetulan, mereka sama-sama concern dengan dunia pendidikan dan berdonasi di bidang itu. Semoga kita dapat meniru yang baik-baik dari mereka.
Selanjutnya kita akan membahas orang terkaya di abad modern, bahkan ia menjadi miliarder filantropis pertama, jauh-jauh hari sebelum Bill Gates apalagi Mark Zuckerberg. Coba tebak, siapa dia?
Zaman dahulu, tumbuhnya industri telah menciptakan pemisah antara pekerja dengan pengusaha yang kala itu disebut robber baron (diartikan sebagai kapitalis perampok yang tak bermoral).
Untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, beberapa orang kaya memilih untuk menyumbangkan hampir seluruh hartanya.
Nah, tokoh yang satu ini berasal Skotlandia, yang kemudian mendirikan perusahaan baja, US Steel. Ia yakin bahwa pengusaha yang sukses secara moral wajib menyumbangkan hartanya demi membantu orang lain.
Saat meninggal di 1919, orang terkaya di abad modern ini memberikan lebih dari 90 persen hartanya. Dia membangun lebih dari 2.800 perpustakaan publik yang kini dikenal Carnegie-Mellon University di Pittsburgh, salah satu universitas riset terbaik di dunia.
Dan masih banyak lagi yang ia bangun. Siapakah dia? Dia adalah Andrew Carnegie. Anda pun semakin tertarik untuk men-share tulisan ini.
Harta yang banyak memang dapat membuat kita menyumbang lebih banyak. Akan tetapi, tak harus menjadi hartawan untuk menjadi dermawan. Berbagi atau bersedekah, kita bisa memulainya kapan saja, berapa saja, terhadap siapa saja. Ini pelajaran mendasar bagi kita semua.
Ngomong-ngomong soal sedekah:
- Matahari terbit di Timur, pastikah itu? Balasan sedekah ternyata jauh lebih pasti.
-Hukum Gravitasi, pastikah itu? Balasan sedekah ternyata jauh lebih pasti.
- Kok bisa? Karena dijanjikan berkali-kali di kitab suci. Pasti, pasti, pasti.
Lantas, gimana caranya agar kita bisa bersedekah lebih banyak dan lebih rutin? Paksa! Bisa! Terbiasa! Dalam bersedekah, kadang-kadang kita perlu begitu. Mudah-mudahan jadi kebiasaan:
Ingatlah:
- Bila dirimu tengah susah & gundah, jangan lupa #sedekah.
- Bila matamu basah & hatimu patah, segeralah sedekah.
- Bila dirimu kalah atau tak ingin kalah, perbanyak sedekah.
- Bila harimu cerah & indah, tetaplah sedekah.
- Bila kakimu melangkah & ingin mudah, segeralah sedekah.
- Bila mau rezeki berkah berlimpah, rajin-rajin sedekah.
- Bila mau ke Makkah bahkan Jannah, sering-sering sedekah.
- Bila ingin keluarga sakinah, anak soleh & solehah, ajak-ajaklah mereka #sedekah.
Kesimpulannya, sedekah itu mengundang percepatan. Lompatan. Keajaiban. Anda ragu-ragu saja, tetap dibalas. Apalagi kalau Anda yakin. Semoga kita semua menjadikan sedekah sebagai kebiasaan, bahkan lifestyle. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tulisan ini boleh di-share. Setiap kali orang yang termotivasi, terinspirasi, dan bersedekah karena tulisan ini, maka kita semua akan kecipratan pahalanya. Ya, kita semua. Tertarik?
Selain Oprah Winfrey, ada juga novelis Nora Roberts dan aktris Meryl Streep. Bukan kebetulan, mereka sama-sama concern dengan dunia pendidikan dan berdonasi di bidang itu. Semoga kita dapat meniru yang baik-baik dari mereka.
Selanjutnya kita akan membahas orang terkaya di abad modern, bahkan ia menjadi miliarder filantropis pertama, jauh-jauh hari sebelum Bill Gates apalagi Mark Zuckerberg. Coba tebak, siapa dia?
Zaman dahulu, tumbuhnya industri telah menciptakan pemisah antara pekerja dengan pengusaha yang kala itu disebut robber baron (diartikan sebagai kapitalis perampok yang tak bermoral).
Untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, beberapa orang kaya memilih untuk menyumbangkan hampir seluruh hartanya.
Nah, tokoh yang satu ini berasal Skotlandia, yang kemudian mendirikan perusahaan baja, US Steel. Ia yakin bahwa pengusaha yang sukses secara moral wajib menyumbangkan hartanya demi membantu orang lain.
Saat meninggal di 1919, orang terkaya di abad modern ini memberikan lebih dari 90 persen hartanya. Dia membangun lebih dari 2.800 perpustakaan publik yang kini dikenal Carnegie-Mellon University di Pittsburgh, salah satu universitas riset terbaik di dunia.
Dan masih banyak lagi yang ia bangun. Siapakah dia? Dia adalah Andrew Carnegie. Anda pun semakin tertarik untuk men-share tulisan ini.
Harta yang banyak memang dapat membuat kita menyumbang lebih banyak. Akan tetapi, tak harus menjadi hartawan untuk menjadi dermawan. Berbagi atau bersedekah, kita bisa memulainya kapan saja, berapa saja, terhadap siapa saja. Ini pelajaran mendasar bagi kita semua.
Ngomong-ngomong soal sedekah:
- Matahari terbit di Timur, pastikah itu? Balasan sedekah ternyata jauh lebih pasti.
-Hukum Gravitasi, pastikah itu? Balasan sedekah ternyata jauh lebih pasti.
- Kok bisa? Karena dijanjikan berkali-kali di kitab suci. Pasti, pasti, pasti.
Lantas, gimana caranya agar kita bisa bersedekah lebih banyak dan lebih rutin? Paksa! Bisa! Terbiasa! Dalam bersedekah, kadang-kadang kita perlu begitu. Mudah-mudahan jadi kebiasaan:
Ingatlah:
- Bila dirimu tengah susah & gundah, jangan lupa #sedekah.
- Bila matamu basah & hatimu patah, segeralah sedekah.
- Bila dirimu kalah atau tak ingin kalah, perbanyak sedekah.
- Bila harimu cerah & indah, tetaplah sedekah.
- Bila kakimu melangkah & ingin mudah, segeralah sedekah.
- Bila mau rezeki berkah berlimpah, rajin-rajin sedekah.
- Bila mau ke Makkah bahkan Jannah, sering-sering sedekah.
- Bila ingin keluarga sakinah, anak soleh & solehah, ajak-ajaklah mereka #sedekah.
Kesimpulannya, sedekah itu mengundang percepatan. Lompatan. Keajaiban. Anda ragu-ragu saja, tetap dibalas. Apalagi kalau Anda yakin. Semoga kita semua menjadikan sedekah sebagai kebiasaan, bahkan lifestyle. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tulisan ini boleh di-share. Setiap kali orang yang termotivasi, terinspirasi, dan bersedekah karena tulisan ini, maka kita semua akan kecipratan pahalanya. Ya, kita semua. Tertarik?
Perluas wawasan kita. Buka pikiran kita. Kalau binatang saja dijamin rezekinya, apalagi manusia, apalagi orang beriman! Padahal binatang nggak pernah sekolah, nggak pernah kuliah! Hehehe.
Kebanyakan kita, punya uang dulu, baru yakin. Nggak punya uang, nggak yakin. Ngawur itu. Makanya selalu keteteran uang. Nggak datang-datang uangnya, hehe. Lha, harusnya? Yah, yakin dulu. Sekali lagi, yakin dulu.
Terkait pemafkahan, bukan rezeki yang kurang. Mungkin keyakinan dan ikhtiar yang kurang. Akhirnya uang yang disalahkan dan dipermasalahkan. Ini menyesatkan.
Nah, yang tadi itu soal rezeki. Sekarang soal impian. Percayalah, nggak ada impian yang terlalu besar bagi-Nya. Beneran, nggak ada. Lebih baik perbesar saja keyakinan kita, ikhtiar kita, dan amal kita. Iringi pula impian yang besar itu dengan tawakal yang besar.
Belakangan ini saya sering diundang oleh sejumlah kementerian. Saya pun diminta bicara soal akselerasi dalam organisasi. Di hadapan peserta saya sampaikan, itu bukanlah impian yang muluk-muluk. Sebaliknya, itu mungkin saja terjadi. Sangat mungkin.
Selain itu, terkait mengikhtiarkan impian, ingatlah pesan ini: Jaga impianmu, jangan biarkan layu. Perjuangkan impianmu, jangan pernah jemu. Tabur, rawat, tuai. Sebaiknya, itulah sikap pamungkas kita terhadap mengikhtiarkan impian.
Dan tak usah risih kalau impianmu berbeda dengan orang lain atau tidak dianggap sama orang lain. Yang penting, dirimu bahagia, keluargamu bahagia, dan Tuhan-mu ridha. Cukup. Iya tho? Membanding-bandingkan impian, hanya akan mengurangi bahagiamu.
Terakhir, sebesar-besarnya impianmu, setinggi-tingginya impianmu, bawalah 'serendah-rendahnya' dalam sujud. Syukur-syukur dalam tahajud. Insya Allah terwujud, membuatmu terkejut. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang ingin memenangkan buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' silakan komen di sini >> http://bit.ly/KerjaIbadah
Kapan lagi dapat buku gratis?
Kebanyakan kita, punya uang dulu, baru yakin. Nggak punya uang, nggak yakin. Ngawur itu. Makanya selalu keteteran uang. Nggak datang-datang uangnya, hehe. Lha, harusnya? Yah, yakin dulu. Sekali lagi, yakin dulu.
Terkait pemafkahan, bukan rezeki yang kurang. Mungkin keyakinan dan ikhtiar yang kurang. Akhirnya uang yang disalahkan dan dipermasalahkan. Ini menyesatkan.
Nah, yang tadi itu soal rezeki. Sekarang soal impian. Percayalah, nggak ada impian yang terlalu besar bagi-Nya. Beneran, nggak ada. Lebih baik perbesar saja keyakinan kita, ikhtiar kita, dan amal kita. Iringi pula impian yang besar itu dengan tawakal yang besar.
Belakangan ini saya sering diundang oleh sejumlah kementerian. Saya pun diminta bicara soal akselerasi dalam organisasi. Di hadapan peserta saya sampaikan, itu bukanlah impian yang muluk-muluk. Sebaliknya, itu mungkin saja terjadi. Sangat mungkin.
Selain itu, terkait mengikhtiarkan impian, ingatlah pesan ini: Jaga impianmu, jangan biarkan layu. Perjuangkan impianmu, jangan pernah jemu. Tabur, rawat, tuai. Sebaiknya, itulah sikap pamungkas kita terhadap mengikhtiarkan impian.
Dan tak usah risih kalau impianmu berbeda dengan orang lain atau tidak dianggap sama orang lain. Yang penting, dirimu bahagia, keluargamu bahagia, dan Tuhan-mu ridha. Cukup. Iya tho? Membanding-bandingkan impian, hanya akan mengurangi bahagiamu.
Terakhir, sebesar-besarnya impianmu, setinggi-tingginya impianmu, bawalah 'serendah-rendahnya' dalam sujud. Syukur-syukur dalam tahajud. Insya Allah terwujud, membuatmu terkejut. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang ingin memenangkan buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' silakan komen di sini >> http://bit.ly/KerjaIbadah
Kapan lagi dapat buku gratis?
Pernah bertemu ibu saya?
Saat ini ibu saya sudah berusia 70-an tahun. Tapi alhamdulillah, rambutnya masih hitam, giginya masih utuh, dan bisa membaca tanpa kacamata. Snorkeling dan aerobic pun masih sanggup. Bareng saya, pernah melihat monyet berendam air panas di puncak Nagano Jepang. Saat itu musim salju, jalanan mendaki pula sekitar 45 menit.
Awet? Mungkin bisa dibilang begitu. Apa rahasianya? Entahlah. Satu hal yang pasti, saya dan ibu saya terbiasa bangun sebelum subuh. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time. Istilah golden time ini sering dipakai di mana-mana sejak 5 tahun terakhir. Alhamdulillah, itu artinya gagasan saya tentang bangun awal diterima oleh khalayak.
Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya. Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan segala proses. Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. Bangun awal.
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.
Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Setelah 21 hari praktek, Anda akan merasakan bedanya. Agar lebih jelas, simak saja video tips dari saya. Tak sampai satu menit, tapi penting banget >> https://www.youtube.com/watch?v=3TfY3vnRRwY
Saat ini ibu saya sudah berusia 70-an tahun. Tapi alhamdulillah, rambutnya masih hitam, giginya masih utuh, dan bisa membaca tanpa kacamata. Snorkeling dan aerobic pun masih sanggup. Bareng saya, pernah melihat monyet berendam air panas di puncak Nagano Jepang. Saat itu musim salju, jalanan mendaki pula sekitar 45 menit.
Awet? Mungkin bisa dibilang begitu. Apa rahasianya? Entahlah. Satu hal yang pasti, saya dan ibu saya terbiasa bangun sebelum subuh. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time. Istilah golden time ini sering dipakai di mana-mana sejak 5 tahun terakhir. Alhamdulillah, itu artinya gagasan saya tentang bangun awal diterima oleh khalayak.
Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya. Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan segala proses. Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. Bangun awal.
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.
Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Setelah 21 hari praktek, Anda akan merasakan bedanya. Agar lebih jelas, simak saja video tips dari saya. Tak sampai satu menit, tapi penting banget >> https://www.youtube.com/watch?v=3TfY3vnRRwY
Kadang demi dapat kerja atau buka usaha, kita mesti merantau. Hijrah. Baguskah itu?
Jauh-jauh hari Imam Syafii telah berseru untuk hijrah, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.” Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.
Menyikapi hijrah dan menjelajah, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Lagi pula, hijrah dan menjelajah telah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu. Boleh dibilang, hampir semua nabi, temasuk Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Yakub, dan Musa. Nabi Muhammad sendiri, sebelum hijrah ke Madinah, pernah hijrah ke Taif namun tertolak oleh penduduk Taif. Abdurrahman bin Auf pernah hijrah ke Afrika dan Taif. Saad bin Abi Waqqash kemudian hijrah ke China. Adapun Isa lahir di Bethlehem, Palestina. Ketika kecil, Isa bersama ibunya pernah hijrah ke Mesir.
Sedemikian pentingnya hijrah, sampai-sampai para sahabat menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender, bukan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Nuzul Al-Qur’an, atau peristiwa bersejarah lainnya. Ayo hijrah! Ayo merantau!
Gimana dengan saya? Alhamdulillah saya dilahirkan di Pekanbaru, kemudian saya merantau ke Batam, Jogjakarta, dan Malaysia. Kini saya bersama istri (orang Kalimantan) dan ibu menetap di Jakarta. Bagaimana dengan Anda?
Jauh-jauh hari Imam Syafii telah berseru untuk hijrah, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.” Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.
Menyikapi hijrah dan menjelajah, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Lagi pula, hijrah dan menjelajah telah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu. Boleh dibilang, hampir semua nabi, temasuk Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Yakub, dan Musa. Nabi Muhammad sendiri, sebelum hijrah ke Madinah, pernah hijrah ke Taif namun tertolak oleh penduduk Taif. Abdurrahman bin Auf pernah hijrah ke Afrika dan Taif. Saad bin Abi Waqqash kemudian hijrah ke China. Adapun Isa lahir di Bethlehem, Palestina. Ketika kecil, Isa bersama ibunya pernah hijrah ke Mesir.
Sedemikian pentingnya hijrah, sampai-sampai para sahabat menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender, bukan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Nuzul Al-Qur’an, atau peristiwa bersejarah lainnya. Ayo hijrah! Ayo merantau!
Gimana dengan saya? Alhamdulillah saya dilahirkan di Pekanbaru, kemudian saya merantau ke Batam, Jogjakarta, dan Malaysia. Kini saya bersama istri (orang Kalimantan) dan ibu menetap di Jakarta. Bagaimana dengan Anda?
Dunia sempat terhenyak ketika terdengar kabar pemerintah Turki dikudeta oleh segelintir oknum militer. Dan dunia menarik nafas lega lantaran kudeta tersebut berhasil dilumpuhkan dalam waktu sekian jam. Cepat sekali. Kita sama-sama mengetahui bahwa kudeta alias coup d'État terhadap pemerintah yang sah adalah perbuatan yang sangat zalim.
Anehnya Muslim-Muslim liberal menjadikan kudeta ini sebagai bahan olok-olok. Mereka seolah-olah senang ketika kudeta itu terjadi. Bukannya prihatin, boro-boro kuatir. Sebagian lagi menyebut-nyebut dan mengidentikkan Islam dengan kekerasan. Kudeta. Terorisme. Peperangan. Adalah benar Muslim pernah terlibat dalam sejumlah peperangan. Namun mengidentikkan Muslim dengan kekerasan adalah kesimpulan yang terburu-buru dan jelas-jelas keliru.
Terlepas dari itu, adakah syariat perang dalam Islam? Jelas, ada. Namun itu terjadi ketika muslim diserang atau dijajah. Dan ini merupakan pilihan terakhir. Lihatlah bagaimana pahlawan Indonesia terpaksa berperang pada masa penjajahan dulu. Lihat pula bagaimana Nabi Muhammad dan sahabat terpaksa angkat senjata pada saat Madinah diserang dulu. Untuk kondisi-kondisi seperti ini, berdiam diri adalah pilihan yang keliru. Share isi tulisan ini kalau Anda setuju.
Jarang orang tahu, terdapat sederet etika dalam perang menurut Islam. Tidak boleh menyerang musuh yang sudah menyerah. Tidak boleh menyerang anak kecil, wanita, orangtua, dan pemuka agama manapun. Tidak boleh memusnahkan tanaman, hewan, dan rumah ibadah manapun. Perlakukan tawanan dengan baik. Patuhi perjanjian dengan baik. Dan masih banyak lagi.
Setiap kejadian tentu menyimpan hikmah, termasuk perang-perang yang terpaksa dialami oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat. Apa saja hikmahnya?
Mari kita lihat Perang Fijar yang merupakan perang pertama yang dialami seorang Muhammad. Ini terjadi menjelang dirinya berusia 20 tahun dan belum diangkat menjadi nabi. Setidaknya, perang ini mengajarkan kita untuk siap bersaing walaupun masih sangat muda (Competitive Although Young) dan berani memutuskan walaupun keadaan tidak ideal (Decisive Although Unideal).
Perang Badar dan Perang Uhud adalah dua perang yang paling populer. Kemenangan Perang Badar mengajarkan kita untuk merasakan kehadiran dan pertolongan Allah dalam bertindak (The Existence of Allah). Walaupun pasukan minim dari segi jumlah dan pengalaman, namun itu tidak menjadi penghalang sama sekali dalam meraih kemenangan. Asalkan yakin. Asalkan sungguh-sungguh.
Menariknya, kekalahan Perang Uhud mengajarkan kita bahwa taat kepada Allah saja tidak cukup, hendaknya juga taat kepada Rasul (The Existence of Rasul). Bukankah itu esensi dari dua kalimat syahadat, Allah dan Rasul? Selain itu, kalau di Perang Badar Allah menurunkan keajaiban, maka di Perang Uhud Allah menetapkan sunatullah. Siapapun maklum bahwa ketidaktaatan, ketidakkompakan, dan ketidakwaspadaan akan berujung pada kekalahan. Itulah sunatullah dan itu pula yang Allah tunjukkan melalui Perang Uhud.
Tidak ada kejadian yang sia-sia. Selalu tersimpan hikmah dari setiap kejadian. Entah itu pada perang maupun pada kudeta. Kejadian di Turki, misalnya. Dari kudeta ini dapat diketahui secara pasti siapa saja oknum militer yang menjadi musuh dalam selimut selama ini. Dari kudeta ini juga dapat diketahui bahwa mayoritas warga Turki membela Erdogan dan menentang kudeta, di mana ini terlihat dari gelombang massa di jalanan membela pemerintahan yang sah.
Kita doakan semoga Turki, Prancis, dan negeri-negeri lainnya selalu damai. Sembari kita syukuri betapa damainya Tanah Air kita, Indonesia tercinta. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anehnya Muslim-Muslim liberal menjadikan kudeta ini sebagai bahan olok-olok. Mereka seolah-olah senang ketika kudeta itu terjadi. Bukannya prihatin, boro-boro kuatir. Sebagian lagi menyebut-nyebut dan mengidentikkan Islam dengan kekerasan. Kudeta. Terorisme. Peperangan. Adalah benar Muslim pernah terlibat dalam sejumlah peperangan. Namun mengidentikkan Muslim dengan kekerasan adalah kesimpulan yang terburu-buru dan jelas-jelas keliru.
Terlepas dari itu, adakah syariat perang dalam Islam? Jelas, ada. Namun itu terjadi ketika muslim diserang atau dijajah. Dan ini merupakan pilihan terakhir. Lihatlah bagaimana pahlawan Indonesia terpaksa berperang pada masa penjajahan dulu. Lihat pula bagaimana Nabi Muhammad dan sahabat terpaksa angkat senjata pada saat Madinah diserang dulu. Untuk kondisi-kondisi seperti ini, berdiam diri adalah pilihan yang keliru. Share isi tulisan ini kalau Anda setuju.
Jarang orang tahu, terdapat sederet etika dalam perang menurut Islam. Tidak boleh menyerang musuh yang sudah menyerah. Tidak boleh menyerang anak kecil, wanita, orangtua, dan pemuka agama manapun. Tidak boleh memusnahkan tanaman, hewan, dan rumah ibadah manapun. Perlakukan tawanan dengan baik. Patuhi perjanjian dengan baik. Dan masih banyak lagi.
Setiap kejadian tentu menyimpan hikmah, termasuk perang-perang yang terpaksa dialami oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat. Apa saja hikmahnya?
Mari kita lihat Perang Fijar yang merupakan perang pertama yang dialami seorang Muhammad. Ini terjadi menjelang dirinya berusia 20 tahun dan belum diangkat menjadi nabi. Setidaknya, perang ini mengajarkan kita untuk siap bersaing walaupun masih sangat muda (Competitive Although Young) dan berani memutuskan walaupun keadaan tidak ideal (Decisive Although Unideal).
Perang Badar dan Perang Uhud adalah dua perang yang paling populer. Kemenangan Perang Badar mengajarkan kita untuk merasakan kehadiran dan pertolongan Allah dalam bertindak (The Existence of Allah). Walaupun pasukan minim dari segi jumlah dan pengalaman, namun itu tidak menjadi penghalang sama sekali dalam meraih kemenangan. Asalkan yakin. Asalkan sungguh-sungguh.
Menariknya, kekalahan Perang Uhud mengajarkan kita bahwa taat kepada Allah saja tidak cukup, hendaknya juga taat kepada Rasul (The Existence of Rasul). Bukankah itu esensi dari dua kalimat syahadat, Allah dan Rasul? Selain itu, kalau di Perang Badar Allah menurunkan keajaiban, maka di Perang Uhud Allah menetapkan sunatullah. Siapapun maklum bahwa ketidaktaatan, ketidakkompakan, dan ketidakwaspadaan akan berujung pada kekalahan. Itulah sunatullah dan itu pula yang Allah tunjukkan melalui Perang Uhud.
Tidak ada kejadian yang sia-sia. Selalu tersimpan hikmah dari setiap kejadian. Entah itu pada perang maupun pada kudeta. Kejadian di Turki, misalnya. Dari kudeta ini dapat diketahui secara pasti siapa saja oknum militer yang menjadi musuh dalam selimut selama ini. Dari kudeta ini juga dapat diketahui bahwa mayoritas warga Turki membela Erdogan dan menentang kudeta, di mana ini terlihat dari gelombang massa di jalanan membela pemerintahan yang sah.
Kita doakan semoga Turki, Prancis, dan negeri-negeri lainnya selalu damai. Sembari kita syukuri betapa damainya Tanah Air kita, Indonesia tercinta. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Perlakukan dirimu sebagai VIP.
Kenapa? Karena Anda itu…
- Sangat penting, tak tergantikan.
- Sangat spesial, satu-satunya.
Saya ulang, perlakukan diri kita sebagai VIP. Dan rutinkan. Ajaibnya, pelan-pelan dunia akan memperlakukan diri kita benar-benar sebagai VIP. Inilah yang dianjurkan dan diajarkan oleh Harv Eker, salah satu guru kekayaan dunia. Alhamdulillah, saya sempat lunch bareng Harv Eker di Australia.
Lihatlah di sekitar kita, betapa banyak orang yang memilih untuk duduk di bagian paling belakang karena menurutnya dia hanya layak memperoleh itu. Di forum-forum begitu. Di rumah ibadah juga begitu. Akhirnya dunia, setidaknya orang-orang di sekitarnya, menganggap dirinya memang layak di situ.
Memperlakukan diri sebagai VIP adalah bagian dari mental kaya. Karena Anda dan impian Anda begitu besar. Sebesar apa? Yah, melebihi diri Anda, melebihi kepentingan Anda. Richard Branson melakukannya. Nick Vujicik juga melakukannya. Tentang ini, telah kami bahas berkali-kali di seminar-seminar terdahulu. Paragraf terakhir mungkin sulit Anda mengerti. Tak mengapa. Mudah-mudahan kelak Anda akan memahami apa intinya dan apa dampaknya.
Kenapa? Karena Anda itu…
- Sangat penting, tak tergantikan.
- Sangat spesial, satu-satunya.
Saya ulang, perlakukan diri kita sebagai VIP. Dan rutinkan. Ajaibnya, pelan-pelan dunia akan memperlakukan diri kita benar-benar sebagai VIP. Inilah yang dianjurkan dan diajarkan oleh Harv Eker, salah satu guru kekayaan dunia. Alhamdulillah, saya sempat lunch bareng Harv Eker di Australia.
Lihatlah di sekitar kita, betapa banyak orang yang memilih untuk duduk di bagian paling belakang karena menurutnya dia hanya layak memperoleh itu. Di forum-forum begitu. Di rumah ibadah juga begitu. Akhirnya dunia, setidaknya orang-orang di sekitarnya, menganggap dirinya memang layak di situ.
Memperlakukan diri sebagai VIP adalah bagian dari mental kaya. Karena Anda dan impian Anda begitu besar. Sebesar apa? Yah, melebihi diri Anda, melebihi kepentingan Anda. Richard Branson melakukannya. Nick Vujicik juga melakukannya. Tentang ini, telah kami bahas berkali-kali di seminar-seminar terdahulu. Paragraf terakhir mungkin sulit Anda mengerti. Tak mengapa. Mudah-mudahan kelak Anda akan memahami apa intinya dan apa dampaknya.
"Enakan ngantor apa libur?”
“Enakan gawe apa nyante?"
Di in-house seminar saya sering tanya-tanya begitu. Dan serta-merta mereka menjawab, "Libuuuuur." Namun ketika ditanya benar-benar, akhirnya mereka mengakui ternyata bekerja itu lebih nikmat. Catat itu, bekerja itu lebih nikmat.
Sekiranya Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi? Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga?" Nggak juga. Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi, hehehe. Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.
Perhatikan baik-baik. Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah. Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah. Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Bekerja. Berjuang.
Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi bukan untuk itu kapal dibuat. Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan menerjang badai. Bekerja. Berjuang.
Terakhir, dalam bekerja, ada baiknya kita menyimak petunjuk-petunjuk rezeki. Ternyata petunjuk-petunjuk itu ada, namun sayangnya sering tercecer selama ini » bit.ly/PetunjukRezeki
“Enakan gawe apa nyante?"
Di in-house seminar saya sering tanya-tanya begitu. Dan serta-merta mereka menjawab, "Libuuuuur." Namun ketika ditanya benar-benar, akhirnya mereka mengakui ternyata bekerja itu lebih nikmat. Catat itu, bekerja itu lebih nikmat.
Sekiranya Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi? Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga?" Nggak juga. Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi, hehehe. Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.
Perhatikan baik-baik. Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah. Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah. Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Bekerja. Berjuang.
Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi bukan untuk itu kapal dibuat. Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan menerjang badai. Bekerja. Berjuang.
Terakhir, dalam bekerja, ada baiknya kita menyimak petunjuk-petunjuk rezeki. Ternyata petunjuk-petunjuk itu ada, namun sayangnya sering tercecer selama ini » bit.ly/PetunjukRezeki