Kemarin, alhamdulillah saya memberikan coaching untuk sejumlah pengusaha. Salah satunya bahkan datang dari Malang. Melihat ini, seorang netizen nyeletuk, "Wah, enak banget ya! Bisa makan dan minum bareng Mas Ippho. Semeja."
Hehehe, sebenarnya sih biasa saja. Yang diminum air biasa, bukan air sakti, hehehe. Tapi kalau teman-teman mau juga, saya akan kasih kesempatan. Ahad siang, teman-teman bisa makan siang bareng saya.
Caranya?
Pertama, klik >> http://www.dompetdhuafa.org/post/detail/7682/seminar-motivasi-bersama-motivator-indonesia
Kedua, jawablah pertanyaan ini:
Di seminar motivasi Percepatan Rezeki Ahad di Jakarta, saya akan membahas lima hal. Sebutkan salah satunya. Lalu, kirimkan jawaban Anda via WA ke 0821-1159-6161 (Anda hanya bisa tahu jawabannya kalau membuka link di atas).
Saya dan tim akan memilih tiga pemenang. Insya Allah tiga pemenang ini bisa makan siang bareng saya, Ahad siang, 4 September di Jakarta.
Minat?
Hehehe, sebenarnya sih biasa saja. Yang diminum air biasa, bukan air sakti, hehehe. Tapi kalau teman-teman mau juga, saya akan kasih kesempatan. Ahad siang, teman-teman bisa makan siang bareng saya.
Caranya?
Pertama, klik >> http://www.dompetdhuafa.org/post/detail/7682/seminar-motivasi-bersama-motivator-indonesia
Kedua, jawablah pertanyaan ini:
Di seminar motivasi Percepatan Rezeki Ahad di Jakarta, saya akan membahas lima hal. Sebutkan salah satunya. Lalu, kirimkan jawaban Anda via WA ke 0821-1159-6161 (Anda hanya bisa tahu jawabannya kalau membuka link di atas).
Saya dan tim akan memilih tiga pemenang. Insya Allah tiga pemenang ini bisa makan siang bareng saya, Ahad siang, 4 September di Jakarta.
Minat?
Masalah kadang tidak bisa kita prediksi. Dan itu sering membuat mental kita down juga drop. Kalau sudah begitu, hidup terasa kurang bermakna.
Saat itu mungkin kita butuh seseorang yang dapat mengerti kondisi kita, juga membangkitkan semangat kita. Ya, untuk bangkit kembali. Simak tulisan netizen ini » http://bit.ly/2bWQJUg
Saat itu mungkin kita butuh seseorang yang dapat mengerti kondisi kita, juga membangkitkan semangat kita. Ya, untuk bangkit kembali. Simak tulisan netizen ini » http://bit.ly/2bWQJUg
Kemarin saya diundang oleh CNN, diminta bicara soal TK Khalifah. Kok sejak kecil, anak-anak di TK dan SD Khalifah diarahkan dan dilatih untuk menjadi entrepreneur? Apa urgensi-nya? Saya pun menjelaskan soal ini panjang-lebar.
Dalam bukunya “The Next Trillion” penulis Paul Pilzer mengemukakan bahwa orang-orang yang akan survive dan sustain di masa mendatang adalah mereka yang bergerak di bidang pendidikan. Sungguh, saya senang mendengar kabar ini.
Melihat potensi tersebut, tidak ada salahnya kalau saya mencernanya sebagai peluang. Lagi pula, berbisnis di bidang pendidikan sebenarnya mampu dilakukan oleh siapa saja, karena pada dasarnya setiap orang adalah pendidik. Ya, pendidik.
Kalau anda sudah menjadi ayah dan ibu, berarti anda mempunyai hak untuk mendidik anak, secara penuh. Konsep yang baik dan tujuan yang baik tentu akan menghasilkan generasi yang lebih baik. Ini pemikiran sederhana yang melatarbelakangi berdirinya TK Khalifah.
Semakin ke sini, industri pendidikan semakin diminati. Berbeda dengan bisnis lain (bidang lain) yang seringkali mempunyai nilai dan manfaat yang terbatas waktu, bisnis pendidikan mempunyai nilai dan manfaat yang lebih bertahan lama.
Saya menyadari, pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang memberikan pemahaman akademis dan teknis semata, melainkan pendidikan yang mampu merangsang nilai-nilai luhur tak kasat mata serta membentuk pribadi mulia. Apalagi ini adalah masa keemasan anak dan masa pertumbuhan anak.
Inilah poin pentingnya. Bisnis pendidikan bukan semata-mata mencari keuntungan materi, tetapi dari sini diharapkan hadirlah generasi yang soleh dan tangguh. Semoga ridhai Allah. Semoga menjadi amal jariyah. Semoga postur Indonesia di panggung dunia semakin tegap dan gagah.
Kembali ke pertanyaan di awal. Kok sejak kecil, anak-anak di TK dan SD Khalifah diarahkan dan dilatih untuk menjadi entrepreneur? Karena negeri ini memang memerlukan lebih banyak pengusaha. Negara-negara yang maju adalah negara yang banyak pengusahanya. Indonesia menyusul, insya Allah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dalam bukunya “The Next Trillion” penulis Paul Pilzer mengemukakan bahwa orang-orang yang akan survive dan sustain di masa mendatang adalah mereka yang bergerak di bidang pendidikan. Sungguh, saya senang mendengar kabar ini.
Melihat potensi tersebut, tidak ada salahnya kalau saya mencernanya sebagai peluang. Lagi pula, berbisnis di bidang pendidikan sebenarnya mampu dilakukan oleh siapa saja, karena pada dasarnya setiap orang adalah pendidik. Ya, pendidik.
Kalau anda sudah menjadi ayah dan ibu, berarti anda mempunyai hak untuk mendidik anak, secara penuh. Konsep yang baik dan tujuan yang baik tentu akan menghasilkan generasi yang lebih baik. Ini pemikiran sederhana yang melatarbelakangi berdirinya TK Khalifah.
Semakin ke sini, industri pendidikan semakin diminati. Berbeda dengan bisnis lain (bidang lain) yang seringkali mempunyai nilai dan manfaat yang terbatas waktu, bisnis pendidikan mempunyai nilai dan manfaat yang lebih bertahan lama.
Saya menyadari, pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang memberikan pemahaman akademis dan teknis semata, melainkan pendidikan yang mampu merangsang nilai-nilai luhur tak kasat mata serta membentuk pribadi mulia. Apalagi ini adalah masa keemasan anak dan masa pertumbuhan anak.
Inilah poin pentingnya. Bisnis pendidikan bukan semata-mata mencari keuntungan materi, tetapi dari sini diharapkan hadirlah generasi yang soleh dan tangguh. Semoga ridhai Allah. Semoga menjadi amal jariyah. Semoga postur Indonesia di panggung dunia semakin tegap dan gagah.
Kembali ke pertanyaan di awal. Kok sejak kecil, anak-anak di TK dan SD Khalifah diarahkan dan dilatih untuk menjadi entrepreneur? Karena negeri ini memang memerlukan lebih banyak pengusaha. Negara-negara yang maju adalah negara yang banyak pengusahanya. Indonesia menyusul, insya Allah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mana yang lebih besar? Semangatmu? Atau alasanmu? Kalau alasan yang dipilih, tentulah sudah ketebak gimana nasibmu. Gitu-gitu melulu.
Beralasan dan bermalasan itu dekat sekali dengan sikap 'menyerah'. Ujung-ujungnya, gagal dan terjungkal.
Menyerah, itu BUKAN menunjukkan besarnya HAMBATAN, tapi itu cuma menunjukkan besarnya alasan dan kemalasan.
Jangan malas. Yang nyaman belum tentu baik. Yang serba menantang juga belum tentu baik. Apa yang membuatmu bertumbuh, itu yang terbaik.
Jangan malas. Tak perlu membandingkan sukses kita dengan orang lain. Nggak akan ada habis-habisnya. Bandingkan saja dengan pencapaian kita tahun sebelumnya.
Jangan malas. Orang -orang yang percaya pada KEINDAHAN IMPIAN dan keindahan masa depannya, mana mungkin bermalasan?
Jangan malas. Sukses yang dilandasi dengan kegigihan dan kejujuran, akan lebih langgeng. Bahkan orang tersebut akan lebih dihargai daripada kesuksesan dan pencapaiannya.
Sukses dan keberuntungan berpihak pada mereka yang terus-menerus mencoba, terus-menerus belajar, dan terus-menerus beramal.
Share tulisan ini kalau Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Beralasan dan bermalasan itu dekat sekali dengan sikap 'menyerah'. Ujung-ujungnya, gagal dan terjungkal.
Menyerah, itu BUKAN menunjukkan besarnya HAMBATAN, tapi itu cuma menunjukkan besarnya alasan dan kemalasan.
Jangan malas. Yang nyaman belum tentu baik. Yang serba menantang juga belum tentu baik. Apa yang membuatmu bertumbuh, itu yang terbaik.
Jangan malas. Tak perlu membandingkan sukses kita dengan orang lain. Nggak akan ada habis-habisnya. Bandingkan saja dengan pencapaian kita tahun sebelumnya.
Jangan malas. Orang -orang yang percaya pada KEINDAHAN IMPIAN dan keindahan masa depannya, mana mungkin bermalasan?
Jangan malas. Sukses yang dilandasi dengan kegigihan dan kejujuran, akan lebih langgeng. Bahkan orang tersebut akan lebih dihargai daripada kesuksesan dan pencapaiannya.
Sukses dan keberuntungan berpihak pada mereka yang terus-menerus mencoba, terus-menerus belajar, dan terus-menerus beramal.
Share tulisan ini kalau Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tekanan pekerjaan yang cukup berat, ditambah urusan pribadi, menjadi faktor dominan yang menyebabkan karyawan stress. Belum lagi kalau ternyata atasan tidak bisa diteladani dan bawahan tidak bisa diandalkan. Akhirnya motivasi kerja menurun. Ini sebenarnya terjadi di semua bidang. Bukan di bidang tertentu saja.
Saran saya, harus dicari tahu dulu akar permasalahannya. Ya, akarnya. Jalan-jalan dan liburan hanya bisa memberi kesenangan sesaat. Solusi sejati tidak bisa terhadirkan dari aktivitas-aktivitas sedemikian. Sekiranya akar permasalahan sudah diketahui, barulah bisa dipikirkan next step-nya.
Saran berikutnya, minta masukan dari pasangan dan mentor. Ya, dari orang-orang dekat yang mengenal kita. Sepertinya mereka memiliki pandangan yang lebih jernih terhadap permasalahan kita. Juga lebih jujur. Posisi mereka bagaikan cermin dan begitulah, kadang kita perlu cermin untuk melihat diri kita dan permasalahan kita.
Simak lanjutannya » http://bit.ly/KetikaStress
Saran saya, harus dicari tahu dulu akar permasalahannya. Ya, akarnya. Jalan-jalan dan liburan hanya bisa memberi kesenangan sesaat. Solusi sejati tidak bisa terhadirkan dari aktivitas-aktivitas sedemikian. Sekiranya akar permasalahan sudah diketahui, barulah bisa dipikirkan next step-nya.
Saran berikutnya, minta masukan dari pasangan dan mentor. Ya, dari orang-orang dekat yang mengenal kita. Sepertinya mereka memiliki pandangan yang lebih jernih terhadap permasalahan kita. Juga lebih jujur. Posisi mereka bagaikan cermin dan begitulah, kadang kita perlu cermin untuk melihat diri kita dan permasalahan kita.
Simak lanjutannya » http://bit.ly/KetikaStress
Banyak cara untuk belajar. Yang ini GRATIS, teman-teman bisa menyimak tulisan-tulisan dan video-video saya. Tinggal pilih. GRATIS.
Klik saja » http://bfy.tw/7XEX
Klik saja » http://bfy.tw/7XEX
SENIN PAGI, tepatnya jam 4 pagi, saya hadir di Metro TV. Inspirasi baru yang segar-segar. Nantikan ya. Sekian jam dari sekarang.
Males kerja? Males ngantor?
Di mana-mana saya sering mengingatkan bahwa #KerjaItuIbadah (Work with Worship).
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi dirinya sendiri, sehingga menjaga dirinya dari meminta-minta.
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi keluarga inti dan membantu keluarga besar.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha untuk jujur dan gigih, agar menjadi amal jariyah bagi orangtua dan guru-gurunya.
- Bukankah dengan bekerja, ia menjalankan perannya sebagai khalifah, di mana ia pantang menyia-nyiakan potensi dan pantang berbuat kerusakan.
- Kerja itu ibadah, dakwah, amanah, anugerah, kehormatan, pelayanan, panggilan, aktualisasi, potensi, dan seni. Setidaknya, ada sepuluh makna. Dan inilah kelebihan kita, karena literatur Barat tidak mengenal konsep kerja sebagai ibadah.
Ya, kerja itu ibadah. Demikian pula bisnis dan kuliah, itu semua ibadah. Asalkan niatnya dan caranya benar. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di mana-mana saya sering mengingatkan bahwa #KerjaItuIbadah (Work with Worship).
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi dirinya sendiri, sehingga menjaga dirinya dari meminta-minta.
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi keluarga inti dan membantu keluarga besar.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha untuk jujur dan gigih, agar menjadi amal jariyah bagi orangtua dan guru-gurunya.
- Bukankah dengan bekerja, ia menjalankan perannya sebagai khalifah, di mana ia pantang menyia-nyiakan potensi dan pantang berbuat kerusakan.
- Kerja itu ibadah, dakwah, amanah, anugerah, kehormatan, pelayanan, panggilan, aktualisasi, potensi, dan seni. Setidaknya, ada sepuluh makna. Dan inilah kelebihan kita, karena literatur Barat tidak mengenal konsep kerja sebagai ibadah.
Ya, kerja itu ibadah. Demikian pula bisnis dan kuliah, itu semua ibadah. Asalkan niatnya dan caranya benar. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalau kita punya dua bawahan, yang satu rajin, yang satu pemalas.
Kira-kira hati kita lebih sreg dengan yang mana? Kira-kira, bonus dan uang tambahan, kita berikan kepada siapa? Sekalipun Anda seorang pemalas, pastilah Anda tidak suka punya karyawan yang pemalas. Betul apa betul?
Kurang-lebih Tuhan pun begitu, lebih sreg dengan hamba-Nya yang rajin. Soal rezeki tambahan? Jangan ditanya, pastilah juga diberikan kepada hamba-Nya rajin.
Maka ingatlah:
Semangatmu, potensi rezekimu.
Semangatmu, bekal suksesmu.
Semangatmu, nasib baikmu.
Semangatmu, pengantar doamu.
Ingatlah itu! Selalu!
Kira-kira hati kita lebih sreg dengan yang mana? Kira-kira, bonus dan uang tambahan, kita berikan kepada siapa? Sekalipun Anda seorang pemalas, pastilah Anda tidak suka punya karyawan yang pemalas. Betul apa betul?
Kurang-lebih Tuhan pun begitu, lebih sreg dengan hamba-Nya yang rajin. Soal rezeki tambahan? Jangan ditanya, pastilah juga diberikan kepada hamba-Nya rajin.
Maka ingatlah:
Semangatmu, potensi rezekimu.
Semangatmu, bekal suksesmu.
Semangatmu, nasib baikmu.
Semangatmu, pengantar doamu.
Ingatlah itu! Selalu!
Seorang Muhammad muda bisa sukses berbisnis, wasilahnya dari mana? Salah satunya dari magang. Sejarah mencatat, ia magang dan dibimbing oleh pamannya tercinta.
Donald Trump (walaupun sebagian besar orang tidak menyukainya, namun ia terbukti sukses berbisnis) juga menganjurkan dan mengajarkan magang. Apprentice, namanya.
Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok, lagi-lagi menganjurkan dan mengajarkan magang. Selain beroleh ilmu yang detail, kita juga bisa merasakan spirit, dream, dan passion si pengusaha.
Tentu saja, magang lebih menyita waktu namun itu sangat setimpal jika dibanding dengan hasil dan dampak yang akan diperoleh. Apalagi kalau kita magang bersama the best one, yang terbaik, bukan pengusaha biasa.
Anda siap?
Donald Trump (walaupun sebagian besar orang tidak menyukainya, namun ia terbukti sukses berbisnis) juga menganjurkan dan mengajarkan magang. Apprentice, namanya.
Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok, lagi-lagi menganjurkan dan mengajarkan magang. Selain beroleh ilmu yang detail, kita juga bisa merasakan spirit, dream, dan passion si pengusaha.
Tentu saja, magang lebih menyita waktu namun itu sangat setimpal jika dibanding dengan hasil dan dampak yang akan diperoleh. Apalagi kalau kita magang bersama the best one, yang terbaik, bukan pengusaha biasa.
Anda siap?
Profesi dan posisi guru itu menyenangkan. Setidaknya, membuat Anda awet muda (karena selalu berinteraksi dengan manusia), senantiasa dikenang, dan sarat amal jariyah.
Saya pribadi berusaha menghubungi bahkan menemui guru-guru yang pernah mengajar saya. Karena teramat besar jasa mereka kepada saya. Begitulah, jasa mereka selalu dikenang.
Sebenarnya saya pun seorang guru. Itulah takdir saya. Hanya saja, predikatnya sedikit berbeda. Namanya motivator. Kedengaran lebih keren ya? Hehehe, sama saja.
Dengan izin Allah, saya pernah berseminar di Tokyo Institute of Technology, Osaka University, KAIST (Korea), Australian National University, Melbourne University, Curtin University, Queensland University, dan Al-Azhar University (Mesir). Mengajar.
Kenapa saya mengajar? Pertama, berinteraksi dengan manusia. Jangan salah, tidak semua profesi berinteraksi intens dengan manusia. Kedua, sarat dengan amal jariyah. Dan masih banyak alasan lainnya.
Sekiranya kita bukan guru, yah nggak apa-apa. Namun tetaplah melibatkan diri dalam kegiatan keilmuan. Misalnya, sebagai donatur di sekolah, donatur di pesantren, peneliti, dan lain-lain. Buat apa? Yah itu tadi, meraih amal jariyah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya pribadi berusaha menghubungi bahkan menemui guru-guru yang pernah mengajar saya. Karena teramat besar jasa mereka kepada saya. Begitulah, jasa mereka selalu dikenang.
Sebenarnya saya pun seorang guru. Itulah takdir saya. Hanya saja, predikatnya sedikit berbeda. Namanya motivator. Kedengaran lebih keren ya? Hehehe, sama saja.
Dengan izin Allah, saya pernah berseminar di Tokyo Institute of Technology, Osaka University, KAIST (Korea), Australian National University, Melbourne University, Curtin University, Queensland University, dan Al-Azhar University (Mesir). Mengajar.
Kenapa saya mengajar? Pertama, berinteraksi dengan manusia. Jangan salah, tidak semua profesi berinteraksi intens dengan manusia. Kedua, sarat dengan amal jariyah. Dan masih banyak alasan lainnya.
Sekiranya kita bukan guru, yah nggak apa-apa. Namun tetaplah melibatkan diri dalam kegiatan keilmuan. Misalnya, sebagai donatur di sekolah, donatur di pesantren, peneliti, dan lain-lain. Buat apa? Yah itu tadi, meraih amal jariyah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
40 Hari Menuju Kaya.
Tips Melunasi Utang.
Amalan-Amalan Rezeki
Itulah beberapa artikel di blog ini.
Ada juga tulisan tentang saya.
Teman-teman sudah baca?
Simak » http://bit.ly/MenujuKaya
Tips Melunasi Utang.
Amalan-Amalan Rezeki
Itulah beberapa artikel di blog ini.
Ada juga tulisan tentang saya.
Teman-teman sudah baca?
Simak » http://bit.ly/MenujuKaya
Berikut ini adalah cara-cara agar kita bisa lebih termotivasi di tempat kerja atau di kantor, di samping mengikuti seminar dan training motivasi:
1. Warming-Up
Sekiranya Anda ingin bekerja dengan penuh energi, ada baiknya Anda melakukan olah raga kecil di pagi hari. Ya, pemanasan sebelum bekerja. Anda bisa jogging, yoga, atau sekadar menggerak-gerakkan badan. Menurut mayo clinic, menggerakkan badan membuat sistem kardiovaskular lebih efisien sehingga memicu energi sepanjang hari.
2. Friendship
Ahli-ahli karier meyakini, bila berteman baik dengan sesama rekan kerja adalah cara terbaik untuk meningkatkan motivasi kerja. Di kantor, jelas, banyak rekan kerja. Saat Anda menyisihkan waktu untuk makan siang bersama sembari bertukar pikiran, akhirnya Anda beroleh teman baik. Anda pun bisa mengira-ngira latar belakang, masa depan, dan impian mereka. Hal ini dapat menjadi inspirasi, motivasi, dan dasar dalam membuat keputusan.
3. Long-Term Target
Membuat rencana jangka pendek memang penting, namun membuat rencana jangka panjang jauh lebih penting agar Anda tetap dan kian termotivasi. Manusia rata-rata akan lebih termotivasi bila tugas-tugasnya dapat mengantarkan dirinya pada rencana jangka panjang. Perlu juga dicatat, jangan lupa membuat tujuan-tujuan kecil untuk mengukur tingkat keberhasilan.
4. Weekly Meeting
Bila Anda ingin lebih berkembang, maka Anda membutuhkan masukan dari pengawas alias atasan. Sisihkan waktu 15 menit untuk rapat pribadi dengan atasan Anda, lalu minta input dan kritik darinya. Setelah rapat tersebut sangat mungkin Anda lebih termotivasi. Jadwalkanlah kegiatan penting tersebut satu kali minggu.
5. Celebrating
Menurut Simon Reynold penulis Why People Fail, orang sering fokus terhadap hal-hal yang tidak beres. Padahal, tahukah Anda, fokus pada hal-hal negatif dapat mengurangi motivasi? Anda dan tim Anda harus beralih pada area positif. Rayakanlah keberhasilan-keberhasilan kecil, karena ini akan membawa Anda ke zona positif, sehingga menjaga Anda tetap dan kian termotivasi.
Siap mencoba? Ada baiknya tulisan yang dikutip dari berbagai sumber ini Anda sampaikan kepada tim Anda.
1. Warming-Up
Sekiranya Anda ingin bekerja dengan penuh energi, ada baiknya Anda melakukan olah raga kecil di pagi hari. Ya, pemanasan sebelum bekerja. Anda bisa jogging, yoga, atau sekadar menggerak-gerakkan badan. Menurut mayo clinic, menggerakkan badan membuat sistem kardiovaskular lebih efisien sehingga memicu energi sepanjang hari.
2. Friendship
Ahli-ahli karier meyakini, bila berteman baik dengan sesama rekan kerja adalah cara terbaik untuk meningkatkan motivasi kerja. Di kantor, jelas, banyak rekan kerja. Saat Anda menyisihkan waktu untuk makan siang bersama sembari bertukar pikiran, akhirnya Anda beroleh teman baik. Anda pun bisa mengira-ngira latar belakang, masa depan, dan impian mereka. Hal ini dapat menjadi inspirasi, motivasi, dan dasar dalam membuat keputusan.
3. Long-Term Target
Membuat rencana jangka pendek memang penting, namun membuat rencana jangka panjang jauh lebih penting agar Anda tetap dan kian termotivasi. Manusia rata-rata akan lebih termotivasi bila tugas-tugasnya dapat mengantarkan dirinya pada rencana jangka panjang. Perlu juga dicatat, jangan lupa membuat tujuan-tujuan kecil untuk mengukur tingkat keberhasilan.
4. Weekly Meeting
Bila Anda ingin lebih berkembang, maka Anda membutuhkan masukan dari pengawas alias atasan. Sisihkan waktu 15 menit untuk rapat pribadi dengan atasan Anda, lalu minta input dan kritik darinya. Setelah rapat tersebut sangat mungkin Anda lebih termotivasi. Jadwalkanlah kegiatan penting tersebut satu kali minggu.
5. Celebrating
Menurut Simon Reynold penulis Why People Fail, orang sering fokus terhadap hal-hal yang tidak beres. Padahal, tahukah Anda, fokus pada hal-hal negatif dapat mengurangi motivasi? Anda dan tim Anda harus beralih pada area positif. Rayakanlah keberhasilan-keberhasilan kecil, karena ini akan membawa Anda ke zona positif, sehingga menjaga Anda tetap dan kian termotivasi.
Siap mencoba? Ada baiknya tulisan yang dikutip dari berbagai sumber ini Anda sampaikan kepada tim Anda.
Ketika saya disebut omong-kosong sama netizen » http://bit.ly/2caezy5
"Tidak harus menguasai everything untuk memulai something," itu pesan saya di berbagai seminar. Ini beneran, bukan sekadar retorika.
Fyi, pengusaha kecil seringkali usahanya tetap kecil. Kenapa? Salah satu penyebabnya, dia berusaha menguasai semuanya.
Padahal, seorang Superman sekalipun tidak bisa menguasai semuanya. Mampukah seorang Superman menulis buku? Memasak sayur kangkung? Memperbaiki mesin cuci? Hehehe.
Sekali lagi, tidak harus menguasai everything untuk memulai something. Terus, solusinya? Tulisan berikut penting untuk para atasan dan para pengusaha » http://bit.ly/Semuanya
Fyi, pengusaha kecil seringkali usahanya tetap kecil. Kenapa? Salah satu penyebabnya, dia berusaha menguasai semuanya.
Padahal, seorang Superman sekalipun tidak bisa menguasai semuanya. Mampukah seorang Superman menulis buku? Memasak sayur kangkung? Memperbaiki mesin cuci? Hehehe.
Sekali lagi, tidak harus menguasai everything untuk memulai something. Terus, solusinya? Tulisan berikut penting untuk para atasan dan para pengusaha » http://bit.ly/Semuanya