Kesulitan itu cuma sedikit. Ya, cuma sedikit. Coba perhatikan contoh-contoh berikut.
Kelaparan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kenyang.
Kemiskinan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kaya.
Kematian, sedikit. Lebih banyak yang sehat dan hidup. Right?
Demikianlah. Kesulitan itu cuma sedikit. Kurang-lebih inilah salah satu pesan dalam Al-Baqarah 155-156. Saya menyarankan teman-teman untuk membacanya secara langsung dan membacanya lebih dari satu kali.
Kadang kita uring-uringan dengan jerawat. Padahal itu cuma 1 atau 2 jerawat saja. Lebih banyak lagi bagian wajah kita yang tidak berjerawat.
Kadang kita uring-uringan dengan nakalnya anak. Padahal itu cuma 5 atau 10 menit saja. Lebih banyak lagi perilaku anak yang tidak nakal.
Kadang kita uring-uringan dengan macetnya jalan raya. Padahal itu cuma 10 persen saja. Lebih banyak lagi ruas jalan yang tidak macet.
Kadang kita uring-uringan dengan naiknya harga barang. Padahal itu cuma 5 persen saja dan pada sebagian barang saja. Lebih banyak lagi harga barang yang tidak naik. Betul apa betul?
Sayangnya, perhatian kita seringkali lebih tercurah dan tersita pada kesulitan itu, sembari mengabaikan kemudahan-kemudahan yang ada. Bahkan Allah pun berjanji, sekiranya ada kesulitan, pasti ada kemudahan.
Guru-guru kita juga mengajarkan, untuk satu pertanyaan ada berbagai macam potensi jawaban. Maka, sudah semestinya kita lebih bersyukur. Mengeluh? Ah, buang sikap ini jauh-jauh.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga berkah berlimpah.
Kelaparan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kenyang.
Kemiskinan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kaya.
Kematian, sedikit. Lebih banyak yang sehat dan hidup. Right?
Demikianlah. Kesulitan itu cuma sedikit. Kurang-lebih inilah salah satu pesan dalam Al-Baqarah 155-156. Saya menyarankan teman-teman untuk membacanya secara langsung dan membacanya lebih dari satu kali.
Kadang kita uring-uringan dengan jerawat. Padahal itu cuma 1 atau 2 jerawat saja. Lebih banyak lagi bagian wajah kita yang tidak berjerawat.
Kadang kita uring-uringan dengan nakalnya anak. Padahal itu cuma 5 atau 10 menit saja. Lebih banyak lagi perilaku anak yang tidak nakal.
Kadang kita uring-uringan dengan macetnya jalan raya. Padahal itu cuma 10 persen saja. Lebih banyak lagi ruas jalan yang tidak macet.
Kadang kita uring-uringan dengan naiknya harga barang. Padahal itu cuma 5 persen saja dan pada sebagian barang saja. Lebih banyak lagi harga barang yang tidak naik. Betul apa betul?
Sayangnya, perhatian kita seringkali lebih tercurah dan tersita pada kesulitan itu, sembari mengabaikan kemudahan-kemudahan yang ada. Bahkan Allah pun berjanji, sekiranya ada kesulitan, pasti ada kemudahan.
Guru-guru kita juga mengajarkan, untuk satu pertanyaan ada berbagai macam potensi jawaban. Maka, sudah semestinya kita lebih bersyukur. Mengeluh? Ah, buang sikap ini jauh-jauh.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga berkah berlimpah.
Ada uang di sekitar kita. Seliweran. Bertebaran. Dan sebenarnya, di mana ada masalah, di mana ada kemalasan, di mana ada harapan, maka di situ ada uang. Perlu contoh?
Orang-orang pada malas makan sayur-mayur. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah suplemen dan multivitamin.
Orang-orang pada malas cuci mobil. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa cuci mobil. Right?
Orang-orang pada malas cuci pakaian. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa laundry. Right?
Orang-orang pada malas masak lauk. Maka hadirlah penjual lauk. Bahkan sampai restoran dan pujasera.
Orang-orang pada malas belanja ke pasar. Apalagi kalau pasar becek. Maka hadirlah penjual sayur keliling.
Orang-orang pada malas bangun rumah sendiri. Maka hadirlah developer, membangun perumahan dengan berbagai tipe.
Orang-orang pada malas potong rambut sendiri atau dipotongkan oleh keluarganya. Maka hadirlah jasa pangkas dan salon.
Orang-orang pada malas desain website. Termasuk maintenance-nya. Maka hadirlah jasa desain website.
Orang-orang pada malas mengatur travelling-nya sendiri. Termasuk urusan tiket dan hotel. Maka hadirlah jasa tour and travel.
Perhatikan baik-baik. Saat muncul masalah, saat muncul kemalasan, maka pada waktu yang sama muncul pula harapan untuk disolusikan. Nah, jika kita mampu menawarkan solusinya, maka uang adalah ganjaran yang pasti untuk kita. Itu nyata.
Pada akhirnya, temukan masalah, temukan kemalasan. Terus, jadilah solusinya. Sesederhana itu. Siap praktek? Harus siap. Semoga berkah berlimpah.
Orang-orang pada malas makan sayur-mayur. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah suplemen dan multivitamin.
Orang-orang pada malas cuci mobil. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa cuci mobil. Right?
Orang-orang pada malas cuci pakaian. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa laundry. Right?
Orang-orang pada malas masak lauk. Maka hadirlah penjual lauk. Bahkan sampai restoran dan pujasera.
Orang-orang pada malas belanja ke pasar. Apalagi kalau pasar becek. Maka hadirlah penjual sayur keliling.
Orang-orang pada malas bangun rumah sendiri. Maka hadirlah developer, membangun perumahan dengan berbagai tipe.
Orang-orang pada malas potong rambut sendiri atau dipotongkan oleh keluarganya. Maka hadirlah jasa pangkas dan salon.
Orang-orang pada malas desain website. Termasuk maintenance-nya. Maka hadirlah jasa desain website.
Orang-orang pada malas mengatur travelling-nya sendiri. Termasuk urusan tiket dan hotel. Maka hadirlah jasa tour and travel.
Perhatikan baik-baik. Saat muncul masalah, saat muncul kemalasan, maka pada waktu yang sama muncul pula harapan untuk disolusikan. Nah, jika kita mampu menawarkan solusinya, maka uang adalah ganjaran yang pasti untuk kita. Itu nyata.
Pada akhirnya, temukan masalah, temukan kemalasan. Terus, jadilah solusinya. Sesederhana itu. Siap praktek? Harus siap. Semoga berkah berlimpah.
Lelah. Pernah merasakan? Izinkan saya bertanya. Apa yang membuat kita benar-benar lelah? Apakah kerja keras? Apakah olahraga? Apakah naik gunung? Ternyata ada yang lebih melelahkan daripada itu semua.
Menghadap dan berharap kepada selain Allah, pastilah membuat lelah. Pahit, kata Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya, jika dunia dijadikan sandaran dan tumpuan, pastilah rasanya nggak karu-karuan. Betul apa betul?
Makanya saya bilang, "Sudahlah, minta sama Allah saja. Dibalas kok. Kita lalai dan abai saja, Allah masih menolong kita, apalagi kalau kita berusaha memantaskan diri."
Saya tanya lagi. Pilih Avanza atau Xenia? Pilih CRV atau Captiva? Katakanlah Anda pengen mobil itu, karena hasrat duniawi semata. Terus, Anda minta kepada Yang Maha Kuasa. Menurut saya, itu jauh lebih baik. Ya, jauh lebih baik.
Seorang istri pengen Avanza, terus dia minta ke Allah dan hanya ke Allah. Itu kan bagus. Berarti dia hanya berharap ke Tuhan-nya. Bukan ke suaminya.
Dan dia tahu persis, yang bisa mengabulkan dan menghadirkan Avanza di garasi rumahnya, hanya Allah. Bukan yang lain. Itu kan iman namanya. Bagus tho?
Seorang bawahan pengen naik pangkat, terus dia minta ke Allah dan hanya ke Allah. Itu kan bagus. Berarti dia hanya berharap ke Tuhan-nya. Bukan atasannya atau perusahaannya.
Dan dia tahu persis, yang bisa mengabulkan dan menghadirkan kenaikan pangkat di kantornya, hanya Allah. Bukan yang lain. Itu kan tauhid namanya. Di mana salahnya?
Dan ingatlah. Seduniawi-duniawi-nya kita meminta, asalkan mintanya kepada Yang Maha Kuasa, tetap saja itu jauh lebih baik. Asalkan, yang diminta sesuatu yang legal dan halal. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Menghadap dan berharap kepada selain Allah, pastilah membuat lelah. Pahit, kata Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya, jika dunia dijadikan sandaran dan tumpuan, pastilah rasanya nggak karu-karuan. Betul apa betul?
Makanya saya bilang, "Sudahlah, minta sama Allah saja. Dibalas kok. Kita lalai dan abai saja, Allah masih menolong kita, apalagi kalau kita berusaha memantaskan diri."
Saya tanya lagi. Pilih Avanza atau Xenia? Pilih CRV atau Captiva? Katakanlah Anda pengen mobil itu, karena hasrat duniawi semata. Terus, Anda minta kepada Yang Maha Kuasa. Menurut saya, itu jauh lebih baik. Ya, jauh lebih baik.
Seorang istri pengen Avanza, terus dia minta ke Allah dan hanya ke Allah. Itu kan bagus. Berarti dia hanya berharap ke Tuhan-nya. Bukan ke suaminya.
Dan dia tahu persis, yang bisa mengabulkan dan menghadirkan Avanza di garasi rumahnya, hanya Allah. Bukan yang lain. Itu kan iman namanya. Bagus tho?
Seorang bawahan pengen naik pangkat, terus dia minta ke Allah dan hanya ke Allah. Itu kan bagus. Berarti dia hanya berharap ke Tuhan-nya. Bukan atasannya atau perusahaannya.
Dan dia tahu persis, yang bisa mengabulkan dan menghadirkan kenaikan pangkat di kantornya, hanya Allah. Bukan yang lain. Itu kan tauhid namanya. Di mana salahnya?
Dan ingatlah. Seduniawi-duniawi-nya kita meminta, asalkan mintanya kepada Yang Maha Kuasa, tetap saja itu jauh lebih baik. Asalkan, yang diminta sesuatu yang legal dan halal. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda bekerja? Merasa bahagia?
Diberitakan, pegawai di Asia cenderung kurang bahagia tentang pekerjaan mereka dibandingkan rata-rata global. Salah satu faktor ketidakbahagiaan itu adalah sulitnya berkomunikasi dengan atasan.
Perusahaan solusi personalia TinyPulse menemukan, hanya 28 persen pegawai di Asia Pasifik yang dilaporkan merasa bahagia di tempat kerja mereka. Ya, hanya 28 persen. Angka ini kecil sekali.
Pertanyaan berikutnya, benarkah kebahagiaan itu terkait erat dengan materi?
Menurut psikolog Jessamy Hibberd, hal-hal kecil bisa berdampak besar dan membuat hati kita bahagia. Seperti bertemu teman, tertawa, bersyukur, dan berbagi. Inilah hal-hal kecil yang ia sarankan. Tidak harus materi.
Btw, negara mana yang paling berbahagia? Penghargaan terbaru datang dari "The Sustainable Development Solutions Network for the United Nations" yang mengumumkan negara paling bahagia di dunia. Tiga teratas adalah Finlandia, Norwegia, dan Denmark.
Selama bertahun-tahun, tiga negara itu selalu masuk dalam lima besar.
Mungkin Anda bertanya, “Bisakah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa?” Ternyata bisa. Penjelasan berikut ini sangat penting. Saya berharap Anda mau membacanya sampai tuntas dan mau men-share-nya.
Bukan apa-apa, agar Anda dan keluarga Anda bisa bahagia, selalu, tanpa ketergantungan terhadap uang atau apapun. Apalagi bergantung pada pemerintah. Lantas, bagaimana caranya bahagia, padahal kita belum punya apa-apa? Percayalah, ini soal keputusan, bukan soal kepemilikan.
"Saya memutuskan untuk bahagia," Batinkan seperti itu. Sekali lagi percayalah, ini soal keputusan. Kalau Anda menganggap 'punya rumah, baru bisa bahagia' maka anggapan itu cuma bertahan 12 bulan sampai 24 bulan. Nggak lama. Tapi kalau Anda memutuskan untuk bahagia entah punya atau belum punya, maka keputusan itu akan berdampak lebih lama.
Kuncinya, jangan pernah menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang bersifat eksternal seperti rumah, mobil, dukungan masyarakat, kebijakan pemerintah, dst. Hendaknya digantungkan pada hal-hal yang bersifat internal seperti pikiran, perasaan, dan keputusan.
Be happy! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Diberitakan, pegawai di Asia cenderung kurang bahagia tentang pekerjaan mereka dibandingkan rata-rata global. Salah satu faktor ketidakbahagiaan itu adalah sulitnya berkomunikasi dengan atasan.
Perusahaan solusi personalia TinyPulse menemukan, hanya 28 persen pegawai di Asia Pasifik yang dilaporkan merasa bahagia di tempat kerja mereka. Ya, hanya 28 persen. Angka ini kecil sekali.
Pertanyaan berikutnya, benarkah kebahagiaan itu terkait erat dengan materi?
Menurut psikolog Jessamy Hibberd, hal-hal kecil bisa berdampak besar dan membuat hati kita bahagia. Seperti bertemu teman, tertawa, bersyukur, dan berbagi. Inilah hal-hal kecil yang ia sarankan. Tidak harus materi.
Btw, negara mana yang paling berbahagia? Penghargaan terbaru datang dari "The Sustainable Development Solutions Network for the United Nations" yang mengumumkan negara paling bahagia di dunia. Tiga teratas adalah Finlandia, Norwegia, dan Denmark.
Selama bertahun-tahun, tiga negara itu selalu masuk dalam lima besar.
Mungkin Anda bertanya, “Bisakah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa?” Ternyata bisa. Penjelasan berikut ini sangat penting. Saya berharap Anda mau membacanya sampai tuntas dan mau men-share-nya.
Bukan apa-apa, agar Anda dan keluarga Anda bisa bahagia, selalu, tanpa ketergantungan terhadap uang atau apapun. Apalagi bergantung pada pemerintah. Lantas, bagaimana caranya bahagia, padahal kita belum punya apa-apa? Percayalah, ini soal keputusan, bukan soal kepemilikan.
"Saya memutuskan untuk bahagia," Batinkan seperti itu. Sekali lagi percayalah, ini soal keputusan. Kalau Anda menganggap 'punya rumah, baru bisa bahagia' maka anggapan itu cuma bertahan 12 bulan sampai 24 bulan. Nggak lama. Tapi kalau Anda memutuskan untuk bahagia entah punya atau belum punya, maka keputusan itu akan berdampak lebih lama.
Kuncinya, jangan pernah menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang bersifat eksternal seperti rumah, mobil, dukungan masyarakat, kebijakan pemerintah, dst. Hendaknya digantungkan pada hal-hal yang bersifat internal seperti pikiran, perasaan, dan keputusan.
Be happy! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Banyak orang yang menunda-nunda untuk memulai bisnis. Mereka menjawab, "Besok-besok. Nanti-nanti." Sementara waktu terus berjalan, tak terhenti. Padahal, begitu dia memulai, sukses finansial tengah menanti.
Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus. Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi.
Ya, bukanlah solusi. Sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Terus, apa yang penting? Anda memilih dan membuat keputusan. Cuma itu. Jangan salah, memilih dan membuat keputusan itu perlu keberanian. Di antara kita, ada yang memilih jadi profesional, ada juga yang memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur serta calon entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, Anda ketika muda punya banyak waktu menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele atau lelucon, padahal nggak.
Kalau sudah berumur? Nggak masalah juga. Asalkan Anda punya semangat, keberanian, dan kecepatan.
Ingat. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, jempol adalah aset yang teramat besar dan bisa menghasilkan uang. TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS macet-macetan, TANPA HARUS produksi sendiri, TANPA HARUS punya ruko dan kios.
Anda cukup menguasai WA Marketing, FB, dan IG. Itu saja. Tapi sungguh-sungguh ditekuni. Maka hasilnya akan lumayan, bahkan sangat lumayan. Insya Allah. Apapun produknya apapun industrinya. Pada akhirnya, selagi muda berbisnislah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus. Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi.
Ya, bukanlah solusi. Sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Terus, apa yang penting? Anda memilih dan membuat keputusan. Cuma itu. Jangan salah, memilih dan membuat keputusan itu perlu keberanian. Di antara kita, ada yang memilih jadi profesional, ada juga yang memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur serta calon entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, Anda ketika muda punya banyak waktu menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele atau lelucon, padahal nggak.
Kalau sudah berumur? Nggak masalah juga. Asalkan Anda punya semangat, keberanian, dan kecepatan.
Ingat. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, jempol adalah aset yang teramat besar dan bisa menghasilkan uang. TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS macet-macetan, TANPA HARUS produksi sendiri, TANPA HARUS punya ruko dan kios.
Anda cukup menguasai WA Marketing, FB, dan IG. Itu saja. Tapi sungguh-sungguh ditekuni. Maka hasilnya akan lumayan, bahkan sangat lumayan. Insya Allah. Apapun produknya apapun industrinya. Pada akhirnya, selagi muda berbisnislah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Siapakah pahlawan favorit-mu? Doakan beliau. Doakan juga pahlawan-pahlawan lainnya. Toh, apapun yang kita doakan akan kembali kepada diri kita dan keluarga kita. Aamiin.
Ya, sungguh-sungguh kita doakan, semoga segala amal dan kebaikan yang terjadi di negeri ini jadi amal jariyah mereka. Karena dengan perjuangan mereka-lah, kita saat ini bisa beramal dengan tenang.
Ada video Bung Tomo yang sangat menggetarkan hati saya, bahkan membuat saya menangis. Beberapa tahun yang lalu saya melihatnya. Lalu saya posting, terus menjadi viral, menjangkau jutaan orang.
Ini videonya. Simak kalimatnya satu per satu ya >> https://www.instagram.com/p/Bp_Nfo1FpCG/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=nb5glx88tdrq
Ya, sungguh-sungguh kita doakan, semoga segala amal dan kebaikan yang terjadi di negeri ini jadi amal jariyah mereka. Karena dengan perjuangan mereka-lah, kita saat ini bisa beramal dengan tenang.
Ada video Bung Tomo yang sangat menggetarkan hati saya, bahkan membuat saya menangis. Beberapa tahun yang lalu saya melihatnya. Lalu saya posting, terus menjadi viral, menjangkau jutaan orang.
Ini videonya. Simak kalimatnya satu per satu ya >> https://www.instagram.com/p/Bp_Nfo1FpCG/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=nb5glx88tdrq
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Perhatikan kata-kata yang diucapkan oleh #BungTomo. Perhatikan baik-baik. Kesungguhan niat dan tekadnya bisa kita rasakan, sampai detik ini. Masya Allah... Semoga Yang Maha Kuasa mengganjar jasa beliau serta pahlawan-pahlawan yang lain, dengan surga dan segala…
"Amati prosesnya. Nikmati prosesnya," itulah pesan saya kepada mitra-mitra. Saking sederhananya pesan ini, banyak orang yang mengabaikannya.
Ustadz Abdul Somad di acara Hijrah Fest mengibaratkan orang yang sukses itu seperti 'kursi mahal' atau 'meja mahal'. Ini analogi yang menarik, menurut saya.
UAS menyebut, mayoritas orang tidak melihat bagaimana proses 'kursi mahal' atau 'meja mahal' itu, mulai dari pemilihan kayu, pemotongan, hingga pembuatan. Rumit prosesnya.
"Mayoritas orang tahunya kursi mahal saja, tapi mereka tidak tahu proses menjadi kursi mahal. Maka, mulai sekarang cobalah kita melihat proses, jangan hanya melihat hasil," ucap UAS.
Adapun pesan saya selanjutnya, "Para achiever harus siap berproses." Sekali lagi, siap berproses. Tidak pasif. Hati-hati, merasa nyaman (comfort) dan tidak mau berproses itu berbahaya.
The biggest trap, the biggest dungeon in life is isn't laziness or bad luck, it's comfort. Ini menurut Robert Kiyosaki, penulis buku #RichDad. Alhamdulillah, saya pribadi dua kali berjumpa dengan beliau.
Memang kita dianjurkan untuk bersyukur. Tapi di sisi lain, kita juga dianjurkan untuk bertumbuh. Dari waktu ke waktu. Mereka yang merasa nyaman sering enggan untuk belajar dan bertumbuh. Ini yang berbahaya.
Ingat. Belajar bukan di sekolah dan di kampus saja. Belajar itu di mana saja. Dengan siapa saja. Terutama bagi mereka yang ingin bertumbuh. Saya berharap Anda salah satunya.
Ada satu hal yang seru. Ketika saya mulai melirik dan tertarik dengan hal-hal lain, guru saya langsung mengingatkan, "Tetap fokus. Tetap serius. Dengan izin Allah, hasilnya pasti bagus."
Ketidakfokusan, ini salah satu godaan dalam berproses. Begitulah. Namanya berproses memang tidak mudah. Tapi percayalah, hasil akhirnya indah. Benar-benar indah.
Mudah-mudahan kelak kita semua bisa menjadi 'kursi mahal' atau 'meja mahal' seperti yang dianalogikan oleh UAS. Dan berkah berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ustadz Abdul Somad di acara Hijrah Fest mengibaratkan orang yang sukses itu seperti 'kursi mahal' atau 'meja mahal'. Ini analogi yang menarik, menurut saya.
UAS menyebut, mayoritas orang tidak melihat bagaimana proses 'kursi mahal' atau 'meja mahal' itu, mulai dari pemilihan kayu, pemotongan, hingga pembuatan. Rumit prosesnya.
"Mayoritas orang tahunya kursi mahal saja, tapi mereka tidak tahu proses menjadi kursi mahal. Maka, mulai sekarang cobalah kita melihat proses, jangan hanya melihat hasil," ucap UAS.
Adapun pesan saya selanjutnya, "Para achiever harus siap berproses." Sekali lagi, siap berproses. Tidak pasif. Hati-hati, merasa nyaman (comfort) dan tidak mau berproses itu berbahaya.
The biggest trap, the biggest dungeon in life is isn't laziness or bad luck, it's comfort. Ini menurut Robert Kiyosaki, penulis buku #RichDad. Alhamdulillah, saya pribadi dua kali berjumpa dengan beliau.
Memang kita dianjurkan untuk bersyukur. Tapi di sisi lain, kita juga dianjurkan untuk bertumbuh. Dari waktu ke waktu. Mereka yang merasa nyaman sering enggan untuk belajar dan bertumbuh. Ini yang berbahaya.
Ingat. Belajar bukan di sekolah dan di kampus saja. Belajar itu di mana saja. Dengan siapa saja. Terutama bagi mereka yang ingin bertumbuh. Saya berharap Anda salah satunya.
Ada satu hal yang seru. Ketika saya mulai melirik dan tertarik dengan hal-hal lain, guru saya langsung mengingatkan, "Tetap fokus. Tetap serius. Dengan izin Allah, hasilnya pasti bagus."
Ketidakfokusan, ini salah satu godaan dalam berproses. Begitulah. Namanya berproses memang tidak mudah. Tapi percayalah, hasil akhirnya indah. Benar-benar indah.
Mudah-mudahan kelak kita semua bisa menjadi 'kursi mahal' atau 'meja mahal' seperti yang dianalogikan oleh UAS. Dan berkah berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bila kesibukan dan pekerjaan Anda tidak ada aspek:
1. Berbagi
2. Membantu orang lain untuk bertumbuh
3. Membuat Anda sendiri bertumbuh
4. Membuat Anda tambah dekat dengan keluarga
5. Membuat Anda tambah taat dengan Sang Pencipta
Maka baiknya Anda perlu mencari kesibukan dan pekerjaan yang lain.
Ingat. Kerja dan bisnis bukan soal uang semata.
Kita, orang beriman, juga berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih, seperti keberkahan, persaudaraan, dan nama baik. Ya, inilah yang lebih utama.
Pekerjaan dan bisnis yang hanya memikirkan soal uang semata adalah pekerjaan dan bisnis yang menyedihkan. Mohon maaf, itulah pendapat saya.
Apa pendapat teman-teman?
1. Berbagi
2. Membantu orang lain untuk bertumbuh
3. Membuat Anda sendiri bertumbuh
4. Membuat Anda tambah dekat dengan keluarga
5. Membuat Anda tambah taat dengan Sang Pencipta
Maka baiknya Anda perlu mencari kesibukan dan pekerjaan yang lain.
Ingat. Kerja dan bisnis bukan soal uang semata.
Kita, orang beriman, juga berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih, seperti keberkahan, persaudaraan, dan nama baik. Ya, inilah yang lebih utama.
Pekerjaan dan bisnis yang hanya memikirkan soal uang semata adalah pekerjaan dan bisnis yang menyedihkan. Mohon maaf, itulah pendapat saya.
Apa pendapat teman-teman?
Pemula? Mau berbisnis? Sepertinya tulisan berikut pas sekali buat Anda.
Saran saya, nggak harus produk dan produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Pilih yang terbaik. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.
Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu 'menjual' dan 'menjualkan'. Berapa lama? Selama 25 tahun, bukan satu-dua tahun. Sangat mungkin beliau seorang reseller atau sejenisnya.
Setidaknya, ada empat fungsi dalam bisnis menurut Robert Kiyosaki. Produksi, keuangan, SDM, dan marketing. Sebagai pemula, Anda tidak harus menguasai semuanya. Tidak harus. Cukup salah satunya saja. Misal, marketing. Itu pun sudah cukup disebut pengusaha.
Produk sendiri? Produksi sendiri? Sekali lagi, tidak harus.
Kalau Anda menjadi dealer Yamaha atau buka showroom Suzuki, Anda tidak melakukan produksi apapun. Hanya marketing tho? Kurang-lebih begitu juga saat Anda menjadi reseller atau agent produk tertentu. Mungkin fashion. Mungkin suplemen. Atau yang lainnya.
Bisnis kadang rumit. Tapi tidak serumit yang kita bayangkan. Menurut saya yang terpenting adalah berani memulai dan mau belajar. Seiring perjalanan waktu, insya Allah diri kita dan bisnis kita akan lebih baik selalu. Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saran saya, nggak harus produk dan produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Pilih yang terbaik. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.
Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu 'menjual' dan 'menjualkan'. Berapa lama? Selama 25 tahun, bukan satu-dua tahun. Sangat mungkin beliau seorang reseller atau sejenisnya.
Setidaknya, ada empat fungsi dalam bisnis menurut Robert Kiyosaki. Produksi, keuangan, SDM, dan marketing. Sebagai pemula, Anda tidak harus menguasai semuanya. Tidak harus. Cukup salah satunya saja. Misal, marketing. Itu pun sudah cukup disebut pengusaha.
Produk sendiri? Produksi sendiri? Sekali lagi, tidak harus.
Kalau Anda menjadi dealer Yamaha atau buka showroom Suzuki, Anda tidak melakukan produksi apapun. Hanya marketing tho? Kurang-lebih begitu juga saat Anda menjadi reseller atau agent produk tertentu. Mungkin fashion. Mungkin suplemen. Atau yang lainnya.
Bisnis kadang rumit. Tapi tidak serumit yang kita bayangkan. Menurut saya yang terpenting adalah berani memulai dan mau belajar. Seiring perjalanan waktu, insya Allah diri kita dan bisnis kita akan lebih baik selalu. Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kaya, haruskah? Mana yang lebih penting daripada akhlak?
Jumat kemarin, jadwal saya lumayan padat. Pagi, mengisi buat Askrida di Aston Sentul. Malam, mengisi buat UIN di Novotel Lampung. Di sela-sela itu, walaupun sebentar, saya berusaha menemui dan menyapa mitra-mitra saya.
Sebagian dari mereka tengah berjuang keluar dari utang. Mereka pun giat belajar sama tokoh-tokoh yang sudah terbukti sukses dan kaya. Jujur saja, kesuksesan dan kekayaan memang sangat menginapirasi. Tapi, saya merasa perlu mengingatkan satu hal. Apa itu?
Begini. Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan (impressed). Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."
Kalau belum kaya, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Kurang-lebih begitu. Dan saya harap Anda setuju. Menjadi kaya itu perlu proses. Tapi, menjadi manfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Seketika.
Dan ingatlah pesan WS Rendra, "Hidup itu seperti uap. Sebentar saja kelihatannya, lalu lenyap!" Ya, hidup itu singkat. Pada akhirnya, mari sama-sama kita berusaha menjadi manusia yang bermanfaat dan berakhlak. Semoga ujung-ujungnya hidup kita berkah berlimpah. Aamiin.
Kalau berkenan, mohon doanya ya untuk saya dan keluarga saya.
Jumat kemarin, jadwal saya lumayan padat. Pagi, mengisi buat Askrida di Aston Sentul. Malam, mengisi buat UIN di Novotel Lampung. Di sela-sela itu, walaupun sebentar, saya berusaha menemui dan menyapa mitra-mitra saya.
Sebagian dari mereka tengah berjuang keluar dari utang. Mereka pun giat belajar sama tokoh-tokoh yang sudah terbukti sukses dan kaya. Jujur saja, kesuksesan dan kekayaan memang sangat menginapirasi. Tapi, saya merasa perlu mengingatkan satu hal. Apa itu?
Begini. Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan (impressed). Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."
Kalau belum kaya, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Kurang-lebih begitu. Dan saya harap Anda setuju. Menjadi kaya itu perlu proses. Tapi, menjadi manfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Seketika.
Dan ingatlah pesan WS Rendra, "Hidup itu seperti uap. Sebentar saja kelihatannya, lalu lenyap!" Ya, hidup itu singkat. Pada akhirnya, mari sama-sama kita berusaha menjadi manusia yang bermanfaat dan berakhlak. Semoga ujung-ujungnya hidup kita berkah berlimpah. Aamiin.
Kalau berkenan, mohon doanya ya untuk saya dan keluarga saya.
Abdul Somad atau Ustadz Abdul Somad Lc, teman-teman kenal?
Selasa yang lalu, untuk kesekian kalinya saya mengikuti kajian beliau. Alhamdulillah. Kali ini diadakan oleh teman-teman Musawarah, seperti Dude Harlino, Dimas Seto, Teuku Wisnu dll. Di sini saya sebagai peserta biasa.
Menariknya, ketika ceramah, Ustadz Abdul Somad menganjurkan jamaah untuk mengambil peran di berbagai bidang. Mulai dari hiburan, pendidikan, politik, sampai ekonomi. Bukan satu-dua bidang saja. Tidak pula meninggalkan bidang yang rasa-rasanya kita ahli di situ.
Saya setuju dengan statement itu. Seperti yang teman-teman tahu, saya memutuskan berjuang di bidang ekonomi. Ya, bidang ekonomi. Menurut saya, setiap kita mesti melek finansial. Setidaknya keuangan kita sendiri.
Ingat. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus.
Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Ya, bukanlah solusi. Sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Terus, apa yang penting? Anda memilih dan membuat keputusan. Cuma itu. Jangan salah, memilih dan membuat keputusan itu perlu keberanian. Di antara kita, ada yang memilih jadi profesional, ada juga yang memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur serta calon entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Satu lagi. Usahakan punya mentor. Sekitar 90 persen bisnis gagal pada 2 tahun pertama. Kenapa? Karena tidak ada yang membimbing. Nah, dengan adanya mentor, insya Allah ini akan mengurangi risiko kegagalan.
Seperti yang dianjurkan oleh Ustadz Abdul Somad, saya berusaha mengambil peran di bidang ekonomi. Bukan itu saja. Saya pun berusaha mengajarkan soal bisnis dan ekonomi kepada orang banyak. Mungkin Anda salah satunya. Mudah-mudahan bermanfaat.
Ujung-ujungnya, semoga berkah berlimpah.
Selasa yang lalu, untuk kesekian kalinya saya mengikuti kajian beliau. Alhamdulillah. Kali ini diadakan oleh teman-teman Musawarah, seperti Dude Harlino, Dimas Seto, Teuku Wisnu dll. Di sini saya sebagai peserta biasa.
Menariknya, ketika ceramah, Ustadz Abdul Somad menganjurkan jamaah untuk mengambil peran di berbagai bidang. Mulai dari hiburan, pendidikan, politik, sampai ekonomi. Bukan satu-dua bidang saja. Tidak pula meninggalkan bidang yang rasa-rasanya kita ahli di situ.
Saya setuju dengan statement itu. Seperti yang teman-teman tahu, saya memutuskan berjuang di bidang ekonomi. Ya, bidang ekonomi. Menurut saya, setiap kita mesti melek finansial. Setidaknya keuangan kita sendiri.
Ingat. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus.
Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Ya, bukanlah solusi. Sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Terus, apa yang penting? Anda memilih dan membuat keputusan. Cuma itu. Jangan salah, memilih dan membuat keputusan itu perlu keberanian. Di antara kita, ada yang memilih jadi profesional, ada juga yang memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur serta calon entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Satu lagi. Usahakan punya mentor. Sekitar 90 persen bisnis gagal pada 2 tahun pertama. Kenapa? Karena tidak ada yang membimbing. Nah, dengan adanya mentor, insya Allah ini akan mengurangi risiko kegagalan.
Seperti yang dianjurkan oleh Ustadz Abdul Somad, saya berusaha mengambil peran di bidang ekonomi. Bukan itu saja. Saya pun berusaha mengajarkan soal bisnis dan ekonomi kepada orang banyak. Mungkin Anda salah satunya. Mudah-mudahan bermanfaat.
Ujung-ujungnya, semoga berkah berlimpah.
Pilih mana?
Buku atau e-book?
Buku atau socmed?
Ternyata membaca buku asli (cetak atau fisik) lebih mudah mengingat isi buku dan alur cerita buku, dibandingkan membaca secara digital seperti e-book. Alasannya, pembaca Kindle, PDF, atau sejenisnya tidak bisa merasakan konstruksi mental seperti yang dirasakan oleh pembaca buku asli (cetak atau fisik).
“Saat membaca buku yang dicetak, Anda merasakan buku dan ketebalannya, di mana ketika Anda membuka lembaran-lembaran buku, bagian kiri mulai menebal dan bagian kanan makin menipis,” ungkap peneliti Anne Mangen, PhD, dari Universitas Stavanger.
Saran saya, apapun pilihan Anda, buku asli harus diprioritaskan. Satu lagi, sempatkan membaca minimal satu buku setiap bulannya. Ya, minimal satu buku. Sampai sekarang, saya sudah bertemu ratusan ribu orang dan saya menemukan wawasan yang lebih unggul pada orang-orang yang gemar membaca.
Alhamdulillah, dulu saya dilibatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, melalui program Belajar Bersama Mentor. Salah satu pesan penting yang saya ajarkan dan anjurkan di sana adalah kebiasaan membaca.
Karena kebiasaan membaca itu akan meningkatkan kosa kata, kecerdasan, komunikasi, konsentrasi, dan mencegah kepikunan. Bukan saja soal wawasan, tapi membaca ini juga soal kesehatan. Praktek ya.
Buku atau e-book?
Buku atau socmed?
Ternyata membaca buku asli (cetak atau fisik) lebih mudah mengingat isi buku dan alur cerita buku, dibandingkan membaca secara digital seperti e-book. Alasannya, pembaca Kindle, PDF, atau sejenisnya tidak bisa merasakan konstruksi mental seperti yang dirasakan oleh pembaca buku asli (cetak atau fisik).
“Saat membaca buku yang dicetak, Anda merasakan buku dan ketebalannya, di mana ketika Anda membuka lembaran-lembaran buku, bagian kiri mulai menebal dan bagian kanan makin menipis,” ungkap peneliti Anne Mangen, PhD, dari Universitas Stavanger.
Saran saya, apapun pilihan Anda, buku asli harus diprioritaskan. Satu lagi, sempatkan membaca minimal satu buku setiap bulannya. Ya, minimal satu buku. Sampai sekarang, saya sudah bertemu ratusan ribu orang dan saya menemukan wawasan yang lebih unggul pada orang-orang yang gemar membaca.
Alhamdulillah, dulu saya dilibatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, melalui program Belajar Bersama Mentor. Salah satu pesan penting yang saya ajarkan dan anjurkan di sana adalah kebiasaan membaca.
Karena kebiasaan membaca itu akan meningkatkan kosa kata, kecerdasan, komunikasi, konsentrasi, dan mencegah kepikunan. Bukan saja soal wawasan, tapi membaca ini juga soal kesehatan. Praktek ya.
Berapa lama Anda memegang telepon seluler dalam sehari? 5 jam? 6 jam? Atau lebih?
Dunia telah berubah. Benar-benar berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya media sosial. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan jejaring sosial. Kemudian disusul 68,7 persen untuk mencari informasi.
Dalam berselancar di dunia maya ini, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop. Orang perkotaan bisa memegang telepon seluler 5-6 jam sehari. Lumayan lama ya. Sangat.
Segala sesuatu kalau sudah melibatkan internet, pastilah menyebabkan suatu perubahan dan perubahan itu berlangsung relatif cepat. Di mana-mana, begitulah faktanya. Mau tidak mau, kita harus siap.
Ya, karena internet, semua berubah begitu cepat. Tidak bisa disangkal, keterlambatan dalam berpikir dan bertindak akan berdampak negatif pada keberlangsungan bisnis. Right? Ironisnya, pemerintah belum tentu memahami aspek ini.
Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau 'ease of doing business' di Indonesia turun dari peringkat 72 ke 73. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyoroti kinerja aparatur di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Sudahlah, kita lupakan dulu faktor aparat. Sebagai entrepreneur, kita lakukan dulu apa yang bisa kita lakukan. Contohnya? Menjual melalui media sosial. Kalau kita berani mencoba dan mau belajar, insya Allah hasilnya bisa mengalahkan gaji orang kantoran.
Kita sebagai entrepreneur atau profesi sejenis, kalau tidak memahami perubahan yang serba cepat ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Blackberry, Nokia, dan Kodak adalah contoh kecilnya. Di sisi lain, Tabloid Bola dan Sinar Harapan memilih untuk tutup alias tidak terbit lagi.
Hari ini dan kemarin saya berada di Karawang. Saya bertemu dengan ratusan entrepreneur. Selain menggarap dunia offline, mereka juga menekuni dunia online. Mungkin media sosial. Mungkin marketplace. Hasilnya membuat saya geleng-geleng kepala.
Jangan anggap enteng menjual melalui media sosial. Sekali lagi, kalau kita berani mencoba dan mau belajar, insya Allah hasilnya bisa mengalahkan gaji orang kantoran. Terakhir, saya menyarankan Anda bergabung di ekosistem yang tepat, sehingga melek dengan hal-hal seperti ini. Siap?
Dunia telah berubah. Benar-benar berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya media sosial. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan jejaring sosial. Kemudian disusul 68,7 persen untuk mencari informasi.
Dalam berselancar di dunia maya ini, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop. Orang perkotaan bisa memegang telepon seluler 5-6 jam sehari. Lumayan lama ya. Sangat.
Segala sesuatu kalau sudah melibatkan internet, pastilah menyebabkan suatu perubahan dan perubahan itu berlangsung relatif cepat. Di mana-mana, begitulah faktanya. Mau tidak mau, kita harus siap.
Ya, karena internet, semua berubah begitu cepat. Tidak bisa disangkal, keterlambatan dalam berpikir dan bertindak akan berdampak negatif pada keberlangsungan bisnis. Right? Ironisnya, pemerintah belum tentu memahami aspek ini.
Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau 'ease of doing business' di Indonesia turun dari peringkat 72 ke 73. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyoroti kinerja aparatur di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Sudahlah, kita lupakan dulu faktor aparat. Sebagai entrepreneur, kita lakukan dulu apa yang bisa kita lakukan. Contohnya? Menjual melalui media sosial. Kalau kita berani mencoba dan mau belajar, insya Allah hasilnya bisa mengalahkan gaji orang kantoran.
Kita sebagai entrepreneur atau profesi sejenis, kalau tidak memahami perubahan yang serba cepat ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Blackberry, Nokia, dan Kodak adalah contoh kecilnya. Di sisi lain, Tabloid Bola dan Sinar Harapan memilih untuk tutup alias tidak terbit lagi.
Hari ini dan kemarin saya berada di Karawang. Saya bertemu dengan ratusan entrepreneur. Selain menggarap dunia offline, mereka juga menekuni dunia online. Mungkin media sosial. Mungkin marketplace. Hasilnya membuat saya geleng-geleng kepala.
Jangan anggap enteng menjual melalui media sosial. Sekali lagi, kalau kita berani mencoba dan mau belajar, insya Allah hasilnya bisa mengalahkan gaji orang kantoran. Terakhir, saya menyarankan Anda bergabung di ekosistem yang tepat, sehingga melek dengan hal-hal seperti ini. Siap?
FOCUS.
Follow One Course Until Successful.
Dalam olahraga perlu fokus, dalam bisnis juga sama, perlu #fokus. Bahkan sangat perlu.
Ingat. Apa saja yang kita fokuskan akan membesar...
Kecepatan membesarnya eksponensial.
2, 4, 8, 16, 32, 64, 128.
Sesuatu yg tidak fokus, hasilnya cuma linier.
2, 4, 6, 8, 10, 12, 14.
Fokus itu pertanda bahwa kita komit untuk menekuni dan menuntaskan sesuatu dengan sepenuh hati (full heart), bukan sekedar full time. Dan apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati, maka akan jelas hasilnya. Sukses besar, itu soal waktu saja.
Sekali lagi, fokuslah. Siaaaap?
Follow One Course Until Successful.
Dalam olahraga perlu fokus, dalam bisnis juga sama, perlu #fokus. Bahkan sangat perlu.
Ingat. Apa saja yang kita fokuskan akan membesar...
Kecepatan membesarnya eksponensial.
2, 4, 8, 16, 32, 64, 128.
Sesuatu yg tidak fokus, hasilnya cuma linier.
2, 4, 6, 8, 10, 12, 14.
Fokus itu pertanda bahwa kita komit untuk menekuni dan menuntaskan sesuatu dengan sepenuh hati (full heart), bukan sekedar full time. Dan apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati, maka akan jelas hasilnya. Sukses besar, itu soal waktu saja.
Sekali lagi, fokuslah. Siaaaap?
Ayah, sesibuk apapun, harus menyempatkan diri bercengkrama dengan keluarga. Silakan bekerja. Silakan berjuang. Silakan sibuk. Tapi ingat, anak dan keluarga memiliki hak atas diri kita.
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
Guru saya #UstadzAdiHidayat giat mengajar, giat pula belajar. Tapi masya Allah, beliau masih sempat juga berolahraga dan bercengkrama dengan keluarga. Ini pelajaran buat kita semua... Foto berikut ini di Dago Dream Park...
https://www.instagram.com/p/BqlHTyDFwT_/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=qc3t2grq0kgi
Sesibuk apapun, keluarga memiliki hak atas diri kita. Sempatkan, prioritaskan.
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
Guru saya #UstadzAdiHidayat giat mengajar, giat pula belajar. Tapi masya Allah, beliau masih sempat juga berolahraga dan bercengkrama dengan keluarga. Ini pelajaran buat kita semua... Foto berikut ini di Dago Dream Park...
https://www.instagram.com/p/BqlHTyDFwT_/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=qc3t2grq0kgi
Sesibuk apapun, keluarga memiliki hak atas diri kita. Sempatkan, prioritaskan.
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Guru saya @UstadzAdiHidayat giat mengajar, giat pula belajar. Tapi masya Allah, beliau masih sempat juga berolahraga dan bercengkrama dengan keluarga. Ini pelajaran buat kita semua... Foto ini di Dago Dream Park... Sesibuk apapun, keluarga memiliki hak atas…
DIAZ ADRIANI - E BOOK 5 TIPS MELUNASi HUTANG DENGAN JUALAN.pdf