Fantastic; Fucking Tired (&.)
ㅤㅤIm Numb As Statue, Breathe Smoke
• ── No Longer Owned By @kh00nthol.
ㅤㅤㅤClosing Eyes, Walking Out
ㅤㅤㅤDark Hands, Letting Go
ㅤㅤㅤThe Grip Of The Man (Final)
“ With Fire Burning Behind My Back,
ㅤDidn’t Run—Just Walked Out Quietly.
⟜ Nothing Left To Stay For Anymore. Dewangga : The One Who Left.
ㅤㅤIm Numb As Statue, Breathe Smoke
• ── No Longer Owned By @kh00nthol.
ㅤㅤㅤClosing Eyes, Walking Out
ㅤㅤㅤDark Hands, Letting Go
ㅤㅤㅤThe Grip Of The Man (Final)
“ With Fire Burning Behind My Back,
ㅤDidn’t Run—Just Walked Out Quietly.
⟜ Nothing Left To Stay For Anymore. Dewangga : The One Who Left.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
kenalin, gua dewangga, anak epep pensiun, pecinta mie garis keras, galau udah kayak soundtrack harian, gua gak jago macem-macem tapi kalo udah sayang ya gua tahan, meski kadang diri gua sendiri udah nyerah, gua banyak diem tapi otak gua ribut, gua kelihatannya santai padahal dalemnya jungkir balik, gua bukan yang paling ngerti cara jadi yang terbaik tapi kalo buat satu orang ini—gua selalu pengen coba, gua dewangga dan gua sayang banget sama jestian.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Kalau bingung siapa itu Jestian, sini gua kenalin. Dia pacar gua, lucu anaknya. Gua awal kenal juga dari sirkel RemPo. Awalnya iseng doang kasih manfes, sekarang malah jadi pacar—wkwkwk. Gua nggak nyangka sampe sejauh ini... Dia anaknya baik betul, lembut, lucu, bisa jadi air pas gua jadi api. Pokoknya, kenalin dah: Jestian.
Tapi sekarang, gua capek sama gua sendiri. Mau ngelepas orang sebaik dia. Gua ngerasa gua yang ngerusak semua ini pelan-pelan. Gua sadar, makin gua tinggal, dia makin nunggu. Makin gua ngeyelan, dia makin sabar. Gua tahu dia sayang, tapi kadang gua takut—takut gua malah jadi alasan dia hilang arah nantinya. Gua pengen jadi tempat pulang, tapi kenyataannya, gua malah bikin dia jalan sendiri. Bukan karena gua gak cinta, justru karena gua terlalu cinta, gua gak mau terus nyakitin dia dengan cara gua yang gak berubah-ubah. Gua pengen tenangin diri gua dulu, pengen belajar gak ngerusak semua hal baik yang gua punya. Termasuk dia.
Tapi sekarang, gua capek sama gua sendiri. Mau ngelepas orang sebaik dia. Gua ngerasa gua yang ngerusak semua ini pelan-pelan. Gua sadar, makin gua tinggal, dia makin nunggu. Makin gua ngeyelan, dia makin sabar. Gua tahu dia sayang, tapi kadang gua takut—takut gua malah jadi alasan dia hilang arah nantinya. Gua pengen jadi tempat pulang, tapi kenyataannya, gua malah bikin dia jalan sendiri. Bukan karena gua gak cinta, justru karena gua terlalu cinta, gua gak mau terus nyakitin dia dengan cara gua yang gak berubah-ubah. Gua pengen tenangin diri gua dulu, pengen belajar gak ngerusak semua hal baik yang gua punya. Termasuk dia.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
aku gak mau muter-muter atau nunggu waktu yang lebih pas, karena gak akan pernah ada waktu yang cukup lembut buat bilang ini tanpa bikin luka. jadi aku bilang sekarang aja: aku mau putus. bukan karena kamu kurang. bukan karena kamu salah. justru karena kamu terlalu baik buat orang yang selama ini cuma bisa setengah-setengah kayak aku. aku tau kamu pernah bilang kalau kamu gak pernah nuntut apa-apa dariku dalam hubungan ini, dan mungkin itu hal paling nyentuh yang pernah aku denger. tapi justru karena kamu gak pernah nuntut, aku jadi makin sadar... betapa kamu pantasnya ditemani, bukan ditungguin sadar. kamu pantasnya dijaga, bukan dijadikan alasan buat bertahan walau udah goyah dari dalam. aku sempet mikir ini semua bisa dibenerin. aku sempet berusaha. aku sempet nyoba nyari alasan kenapa harus lanjut, daripada kenapa harus selesai. tapi makin dipaksa, makin kelihatan kalau aku cuma ngulur waktu buat ninggalin luka yang lebih besar nanti. aku sadar aku gak cukup, dan hubungan ini butuh dua orang yang saling ingin sama-sama. sedangkan aku... makin lama, makin ngerasa kecil di samping kamu yang selalu sabar, selalu ada, dan gak pernah minta apa-apa. jadi, izinin aku ya—pergi sekarang, selagi masih bisa pamit baik-baik. aku tau aku jahat. aku tau ini gak adil. tapi aku lebih takut kamu capek bertahan sama aku, dan aku gak mau kamu belajar kecewa dari seseorang yang kamu sayangin. makasih ya, udah pernah jadi rumah. dan maaf, karena akhirnya aku cuma numpang tinggal.
𐚈 fragments of what once was (6/15) holding memories this city will never forget— even if you already did. pinned «Fantastic; Fucking Tired (&.) ㅤㅤIm Numb As Statue, Breathe Smoke • ── No Longer Owned By @kh00nthol. ㅤㅤㅤClosing Eyes, Walking Out ㅤㅤㅤDark Hands, Letting Go ㅤㅤㅤThe Grip Of The Man (Final) “ With Fire Burning Behind My Back, ㅤDidn’t Run—Just Walked Out Quietly.…»
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
terimakasih banyak untuk :
maaf ya, jes. kalau kita lagi damai-damai gini, terus tiba-tiba gua ajak lu putus tanpa alasan. bukan tanpa alasan, tapi alasan gua gak jelas. tapi emang itu alasan gua. gua gak bisa maksa lu buat ngerti, karena gua sendiri juga gak ngerti harus ngejelasinnya gimana. gua cuma tau, rasanya udah beda. bukan karena ada orang lain, bukan karena gua capek, tapi karena gua ngerasa gua gak bisa terus bareng lu tanpa ngerusak semuanya pelan-pelan. gua tau ini nyakitin, gua juga ngerasa. tapi daripada kita pura-pura gak kenapa-kenapa dan akhirnya saling bikin luka, gua pilih gini. maaf ya, bukan karena lu salah, tapi karena gua gak bisa bohongin diri gua sendiri. maaf juga gua gaberani ngomong langsung..
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
ㅤㅤㅤㅤ── dead of night ”
ㅤㅤㅤa closed chapter, 2000’s
ㅤㅤㅤㅤ @kh00nthol 🖤✎ .. ↺
as we walked under Jogja’s warm dim light
and Bandung’s rainy silence,
my arm once wrapped around your shoulder,
pulling you into the only warmth I knew—
ㅤㅤ(𐀶.) laughter we shared in quiet alleys,
stories spilled like secrets at kopi senja.
but love never stayed. distance always did.
i’m closing our story now, in silence.
no storms, no screams.
just a quiet ending
from Jogja to Bandung—
a goodbye tucked between cities
and feelings we never finished.
ㅤㅤㅤa closed chapter, 2000’s
ㅤㅤㅤㅤ @kh00nthol 🖤✎ .. ↺
as we walked under Jogja’s warm dim light
and Bandung’s rainy silence,
my arm once wrapped around your shoulder,
pulling you into the only warmth I knew—
ㅤㅤ(𐀶.) laughter we shared in quiet alleys,
stories spilled like secrets at kopi senja.
but love never stayed. distance always did.
i’m closing our story now, in silence.
no storms, no screams.
just a quiet ending
from Jogja to Bandung—
a goodbye tucked between cities
and feelings we never finished.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
it wore flesh,
it held his hand on wet sidewalks of Kotabaru,
it laughed under flickering lamps near Tugu.
It knew love,
ㅤㅤ& believed in it.
But pride—
that old demon Wangga always fed—
told it to leave
before the love could turn real.
And so,
it did.
Left not with thunder,
but with unfinished texts and
a voice note never sent.
---
ㅤ[ IT SHATTERED THERE: ]
in the echo chamber of a borrowed kost room
where Wangga once whispered:
"ini kayak rumah ya, sama kamu."
Now,
Jogja leans in mourning.
The trees bend over Kali Code,
the angkringan stools feel too empty,
and the wind carries Wangga’s regret
in the scent of burnt rokok and jasmine.
There is no death.
Only
separation.
Of lips that no longer say “pulang.”
Of eyes that no longer meet at Titik Nol.
Of spirits
that still circle back
when the city gets too quiet.
it held his hand on wet sidewalks of Kotabaru,
it laughed under flickering lamps near Tugu.
It knew love,
ㅤㅤ& believed in it.
But pride—
that old demon Wangga always fed—
told it to leave
before the love could turn real.
And so,
it did.
Left not with thunder,
but with unfinished texts and
a voice note never sent.
---
ㅤ[ IT SHATTERED THERE: ]
in the echo chamber of a borrowed kost room
where Wangga once whispered:
"ini kayak rumah ya, sama kamu."
Now,
Jogja leans in mourning.
The trees bend over Kali Code,
the angkringan stools feel too empty,
and the wind carries Wangga’s regret
in the scent of burnt rokok and jasmine.
There is no death.
Only
separation.
Of lips that no longer say “pulang.”
Of eyes that no longer meet at Titik Nol.
Of spirits
that still circle back
when the city gets too quiet.