Forwarded from IDX Kaltim ™
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Pasar Saham sering terlihat seperti dunia yang rumit penuh istilah aneh, padahal konsep dasarnya sangat mudah dipahami.
Kartun tahun 1952 ini menggambarkan dengan cara yang sederhana bahwa pasar saham hanyalah tempat bertemunya pembeli dan penjual saham, yaitu porsi kepemilikan sebuah perusahaan. Saat sebuah perusahaan berkembang, menghasilkan keuntungan, dan dipercaya banyak orang, permintaan atas sahamnya meningkat sehingga harganya naik. Sebaliknya, ketika perusahaan menghadapi masalah atau kepercayaan pasar menurun, harga saham pun ikut turun. Semua pergerakan itu sebenarnya berputar di sekitar hukum dasar ekonomi: permintaan dan penawaran.
Dua peran besar bekerja di dalam pasar ini. Perusahaan memanfaatkannya untuk mendapatkan modal tambahan agar bisa memperluas bisnis, mengembangkan produk baru, atau menambah kapasitas produksi. Di sisi lain, investor memanfaatkan saham untuk menumbuhkan kekayaan mereka dalam jangka panjang.
Kartun tahun 1952 ini menggambarkan dengan cara yang sederhana bahwa pasar saham hanyalah tempat bertemunya pembeli dan penjual saham, yaitu porsi kepemilikan sebuah perusahaan. Saat sebuah perusahaan berkembang, menghasilkan keuntungan, dan dipercaya banyak orang, permintaan atas sahamnya meningkat sehingga harganya naik. Sebaliknya, ketika perusahaan menghadapi masalah atau kepercayaan pasar menurun, harga saham pun ikut turun. Semua pergerakan itu sebenarnya berputar di sekitar hukum dasar ekonomi: permintaan dan penawaran.
Dua peran besar bekerja di dalam pasar ini. Perusahaan memanfaatkannya untuk mendapatkan modal tambahan agar bisa memperluas bisnis, mengembangkan produk baru, atau menambah kapasitas produksi. Di sisi lain, investor memanfaatkan saham untuk menumbuhkan kekayaan mereka dalam jangka panjang.
Forwarded from ฿itlyonaires™
Nassim Nicholas Taleb : “You are Rich if money you refuse tastes better than money you accept.” economictimes via my.xclso.com
The Economic Times
Wealth quote of the day by Nassim Nicholas Taleb, “You are rich if money you refuse tastes better than money you accept.” From…
Wealth quote of the day by Nassim Nicholas Taleb, “You are rich if money you refuse tastes better than money you accept.” Nassim Nicholas Taleb, the mind behind The Black Swan and Antifragile, offers a sharp definition of real wealth. He says you are rich…
Berikut adalah analisis kinerja keuangan dan riwayat dividen dari beberapa saham #IDX yang direkomendasikan berdasarkan data terbaru 2024-2025:
1. PT Puradelta Lestari Tbk ($DMAS)
Kinerja Keuangan:
Pada tahun 2024, Puradelta Lestari membukukan laba bersih sebesar Rp 1,33 triliun, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Dividen:
Dividen yield sekitar 20.57% hingga 22.48%, menunjukkan perusahaan ini secara konsisten memberikan dividen tinggi kepada pemegang saham.
Kesimpulan:
Perusahaan ini sangat menarik untuk investor dividen karena yield yang tinggi dan kinerja laba yang meningkat.
2. Matahari Department Store Tbk ($LPPF)
Data spesifik terbaru tentang kinerja keuangan dan dividen LPPF belum ditemukan secara rinci dalam pencarian ini, namun secara historis LPPF dikenal sebagai perusahaan ritel yang rutin membagikan dividen dengan yield yang menarik.
3. Astra International Tbk ($ASII)
Astra International adalah salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dengan bisnis yang beragam (otomotif, agribisnis, jasa keuangan, dll).
Secara historis, ASII rutin membagikan dividen stabil dan memiliki fundamental yang kuat.
Data keuangan terbaru perlu dicek secara spesifik, namun ASII tetap menjadi pilihan utama untuk investasi dividen jangka panjang.
4. Bank Mega Tbk ($MEGA)
Bank Mega dikenal sebagai bank yang cukup stabil dan rutin membagikan dividen.
Informasi keuangan dan dividen terbaru perlu dikonfirmasi lebih lanjut, namun secara umum bank ini memiliki rekam jejak yang baik dalam hal dividen.
5. Sekar Laut Tbk ($SKLT)
Perusahaan di sektor makanan dan minuman yang juga dikenal membagikan dividen secara konsisten.
Data rinci terbaru belum tersedia dalam pencarian ini, namun SKLT tetap menjadi pilihan menarik untuk dividen.
6. Plaza Indonesia Realty Tbk ($PLIN)
Perusahaan properti yang rutin memberikan dividen.
Kinerja keuangan dan dividen terbaru perlu dicek lebih lanjut, namun PLIN dikenal sebagai perusahaan dengan dividen yang cukup menarik.
1. PT Puradelta Lestari Tbk ($DMAS)
Kinerja Keuangan:
Pada tahun 2024, Puradelta Lestari membukukan laba bersih sebesar Rp 1,33 triliun, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Dividen:
Dividen yield sekitar 20.57% hingga 22.48%, menunjukkan perusahaan ini secara konsisten memberikan dividen tinggi kepada pemegang saham.
Kesimpulan:
Perusahaan ini sangat menarik untuk investor dividen karena yield yang tinggi dan kinerja laba yang meningkat.
2. Matahari Department Store Tbk ($LPPF)
Data spesifik terbaru tentang kinerja keuangan dan dividen LPPF belum ditemukan secara rinci dalam pencarian ini, namun secara historis LPPF dikenal sebagai perusahaan ritel yang rutin membagikan dividen dengan yield yang menarik.
3. Astra International Tbk ($ASII)
Astra International adalah salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dengan bisnis yang beragam (otomotif, agribisnis, jasa keuangan, dll).
Secara historis, ASII rutin membagikan dividen stabil dan memiliki fundamental yang kuat.
Data keuangan terbaru perlu dicek secara spesifik, namun ASII tetap menjadi pilihan utama untuk investasi dividen jangka panjang.
4. Bank Mega Tbk ($MEGA)
Bank Mega dikenal sebagai bank yang cukup stabil dan rutin membagikan dividen.
Informasi keuangan dan dividen terbaru perlu dikonfirmasi lebih lanjut, namun secara umum bank ini memiliki rekam jejak yang baik dalam hal dividen.
5. Sekar Laut Tbk ($SKLT)
Perusahaan di sektor makanan dan minuman yang juga dikenal membagikan dividen secara konsisten.
Data rinci terbaru belum tersedia dalam pencarian ini, namun SKLT tetap menjadi pilihan menarik untuk dividen.
6. Plaza Indonesia Realty Tbk ($PLIN)
Perusahaan properti yang rutin memberikan dividen.
Kinerja keuangan dan dividen terbaru perlu dicek lebih lanjut, namun PLIN dikenal sebagai perusahaan dengan dividen yang cukup menarik.
Forwarded from ฿itlyonaires™
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
$BRKA Portfolio 2025 - Analyzed with Portfolio Analysis Tool - EP1
Portseido Legends Under The Lens EP1: Warren Buffett's Portfolio 2025
Using Portseido's portfolio analysis tools (https://portseido.com), we go beyond the headlines to uncover the real story behind the Berkshire Hathaway portfolio.
Does the Oracle of Omaha still beat the market? How does he manage risk? And what's the secret to his legendary alpha? Let's dive in!
📊 IN THIS DEEP DIVE, WE ANALYZE:
► (01:00) Overall Performance & Key Metrics
► (01:54) Portfolio Allocation: A masterclass in extreme concentration
► (02:45) Portfolio Performance VS S&P500: The surprising truth
► (03:25) Trade-by-Trade Analysis: the biggest wins to find his true alpha.
► (04:59) The Dividend Engine: the passive income stream
Portseido Legends Under The Lens EP1: Warren Buffett's Portfolio 2025
Using Portseido's portfolio analysis tools (https://portseido.com), we go beyond the headlines to uncover the real story behind the Berkshire Hathaway portfolio.
Does the Oracle of Omaha still beat the market? How does he manage risk? And what's the secret to his legendary alpha? Let's dive in!
📊 IN THIS DEEP DIVE, WE ANALYZE:
► (01:00) Overall Performance & Key Metrics
► (01:54) Portfolio Allocation: A masterclass in extreme concentration
► (02:45) Portfolio Performance VS S&P500: The surprising truth
► (03:25) Trade-by-Trade Analysis: the biggest wins to find his true alpha.
► (04:59) The Dividend Engine: the passive income stream
P2P (Loan) industry growth in Indonesia without improving financial literacy leave many borrowers exposed. channelnewsasia via my.xclso.com
CNA
‘Vicious cycle’: The good, the bad and the ugly of peer-to-peer loans in Indonesia
According to data from the Indonesian Financial Services Authority, outstanding peer-to-peer (P2P) loans stood at almost 90 trillion rupiah as of September 2025. Just a year prior, the figure stood at about 74.5 trillion rupiah.