Salafy Indonesia
62.7K subscribers
3.76K photos
287 videos
38 files
9.14K links
💎 Menjalin Ukhuwwah di Atas Minhaj Nubuwwah

📝 Silakan menyebarkan tanpa mengubah materi dan tetap mencantumkan sumber.

💻 Media resmi: t.me/forumsalafy, forumsalafy.net, dan Grup WSI

📲 Admin: Muhammad (Cileungsi, Bogor) salafyindonesia001@gmail.com
Download Telegram
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✋🏻📢📑 KEUTAMAAN BERZIKIR

✍🏻 Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ

"Permisalan antara orang yang berzikir kepada Rabbnya dan yang tidak berzikir kepada Rabbnya adalah seperti orang yang hidup dan yang mati."

📚 HR. al-Bukhari no. 6407

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
Forwarded from Asy-Syariah
📝Toleransi yang Benar Tidak Mengorbankan Prinsip Islam

#posterasysyariah #poster_quote #posterdakwah

🌎www.asysyariah.com
📲t.me/asysyariah
Forwarded from Asy-Syariah
📝 Ingat! Toleransi yang Benar Tidak Mengorbankan Prinsip Islam

#posterasysyariah #poster_quote #posterdakwah

🌎www.asysyariah.com
📲t.me/asysyariah
💡📖 PEMAHAMAN YANG BENAR TENTANG AYAT TERAKHIR DALAM SURAH AL-KAFIRUN

Menurut Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, salah seorang ulama terkemuka di Kerajaan Saudi Arabia, ayat terakhir Surah al-Kafirun bukan sebagaimana dipahami sebagian orang sesat dan bodoh yang menyebutkan ayat tersebut bukan pengingkaran terhadap keyakinan musyrikin.

Ayat itu tidak menunjukkan sikap saling meridhai antara kita dan orang-orang kafir, ridha dengan keyakinan kaum musyrikin. Tidak pula menunjukkan sikap persamaan antara kita dan kaum kafir.

Ayat itu justru memberi penegasan sikap bara'ah (benci dan memusuhi) terhadap agama (keyakinan) kaum musyrikin. Sikap tegas, tidak mencari muka di hadapan mereka. Tidak memuji agama (keyakinan) kaum musyrikin. Tidak pula saling menolong dalam urusan keyakinan. Ini terkait urusan agama. Urusan keyakinan.

Adapun urusan keduniaan, dalam urusan yang mubah, seperti jual beli, tentu boleh.

لَّا یَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِینَ لَمۡ یُقَـٰتِلُوكُمۡ فِی ٱلدِّینِ وَلَمۡ یُخۡرِجُوكُم مِّن دِیَـٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوۤا۟ إِلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِینَ

"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (al-Mumtahanah: 8) (Tafsir Juz 'Amma, hlm. 654-655)

Dengan alasan agar hubungan baik (ishlah: toleransi beragama) terjalin antara pemeluk Islam dan pemeluk agama paganis, kaum musyrikin Quraisy menawarkan kesepakatan untuk saling menghormati dalam peribadahan. Namun, semua itu ditepis. Sebab, seorang muslim tidak boleh membenarkan keyakinan yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kesyirikan harus tetap diperangi.

Adapun berbuat baik dalam perkara-perkara kemanusiaan dan dibolehkan syariat, seorang muslim boleh menunaikannya. Misalnya, seorang muslim mengantar tetangganya non-Islam yang sakit untuk berobat ke rumah sakit.

📗 Sumber: Majalah Asy Syariah edisi 123 ISLAM AGAMA TOLERAN

~
🌎Website: www.asysyariah.com
📲Channel: t.me/asysyariah
بسم الله الرحمن الرحيم

📝 Benarkah Ucapan Selamat Natal Tidak Mempengaruhi Akidah?

☝🏻Sebuah nasihat terkait ucapan selamat Natal

🌎 Link Unduh PDF: http://bit.ly/TentangSelamatNatal

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

✋🏻📢 BENARKAH UCAPAN SELAMAT NATAL TIDAK MEMPENGARUHI AKIDAH?

Sebuah nasihat terkait ucapan selamat Natal

🌎 Baca Faedah Ilmiahnya di Tautan Berikut: https://telegra.ph/Benarkah-Ucapan-Selamat-Natal-Tidak-Mempengaruhi-Akidah-12-24

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
t orang yang mencuri untuk disedekahkan dengan orang yang mencuri untuk berjudi, keduanya salah tetapi nilai salahnya berbeda.

Makna Perayaan Natal dan Konsekuensinya

Sesungguhnya perayaan Natal sendiri apa maknanya?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Natal adalah hari raya untuk memperingati kelahiran Isa Almasih (tanggal 25 Desember).

Atas dasar itu, kita sebagai seorang muslim semestinya memandang Natal menurut keyakinan Nasrani saat ini. Bukankah Natal artinya “hari raya untuk memperingati kelahiran Isa Almasih, sebagai anak Tuhan, dan salah satu Tuhan”?

Jika demikian, apakah hal ini tidak terkait dengan keyakinan atau akidah yang asasi dalam agama kita, Islam? Sebab, kaum muslimin meyakini bahwa Isa adalah utusan Allah, salah seorang nabi dan rasul yang mulia, termasuk Ulul Azmi dari para rasul. Beliau bukan anak Tuhan atau Tuhan.

Nah, kalau begitu, apa makna ucapan seseorang “Selamat Hari Natal” kepada seorang Nasrani?

Kalau bermakna seperti yang mereka yakini bahwa Isa adalah anak Tuhan, berarti kita telah ridha dengan keyakinan itu. Semoga Allah melindungi kita dan segenap kaum muslimin dari keridhaan terhadap keyakinan tersebut.

Jelas, ini menyangkut dan berpengaruh buruk kepada akidah seorang muslim. Salah fatal apabila dikatakan, “Ucapan selamat Natal tidak mempengaruhi akidah.”

Kemungkinan lain, orang yang mengucapkan “Selamat Natal” berkeyakinan seperti keyakinan muslimin bahwa Isa bukan anak Tuhan. Dengan keyakinan ini, orang yang mengucapkan “Selamat Natal” kepada seorang Nasrani telah bersikap munafik terhadapnya. Bukankah begitu? Tolong cermati.

Karena itu, tidak dibenarkan kalau ada yang beralasan dan mengatakan bahwa yang mengatakan selamat Natal adalah Nabi Isa karena dalam ayat Al-Qur’an disebutkan,

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan keselamatan dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam: 33)

Ucapan selamat yang tersebut dalam ayat di atas adalah keselamatan atas kelahiran beliau sebagai hamba Allah dan Nabi-Nya, selamat dari gangguan setan. Bukankah dalam rangkaian ayat-ayat pada Surah Maryam itu disebutkan bahwa Nabi Isa mengatakan,

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

“Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Allah telah memberiku kitab dan menjadikan aku sebagai nabi.” (Maryam: 30)

Dalam Surah Maryam ayat 88—93, Allah mengecam mereka yang meyakini bahwa Isa adalah anak Allah. Subhanallah.

Pembaca muslim….
Belum lagi kalau kita menengok kepada perbuatan apa saja yang dilakukan saat perayaan hari Natal diselenggarakan. Tentu saja ada penyembahan terhadap salib, panjatan doa kepada selain Allah, dan lain-lain; yang dalam ajaran agama kita, Islam, hal-hal tersebut tidak diperbolehkan. Bahkan, hal tersebut merupakan larangan terbesar. Apakah kita akan mengucapkan selamat atas semua perbuatan itu?!

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه. (أحکام أهل الذمة 1/44)

“Adapun memberi ucapan selamat pada syiar-syiar kekufuran orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat Natal, -pent.) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijmak (kesepakatan) ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat atas hari raya dan puasa mereka, seperti mengatakan, ‘Ied mubarak atasmu,’ atau dengan ucapan, ‘Selamat hari raya,’ dan semacamnya. Seandainya orang yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, minimalnya dia terjatuh pada perkara yang haram. Ucapan selamat hari raya kepada mereka seperti ini sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan kepada salib. Bah
kan, ucapan selamat hari raya tersebut lebih besar dosanya dan lebih dibenci oleh Allah daripada seseorang memberi ucapan selamat kepada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang menghargai agama Islam terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barang siapa memberi ucapan selamat atas perbuatan maksiat, bid’ah, atau kekufuran; dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah.” ( Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/441)

Berpikirlah sejenak. Jangan pening karena masalah ini. Tetaplah pada prinsip agama Anda sebagai muslim. Anda dijamin benar oleh Islam dan undang-undang negara. Anda tidak jatuh dalam INTOLERANSI hanya karena tidak mengucapkan “Selamat Natal”, dengan tetap menjaga hubungan sosial yang benar dan baik.

Selanjutnya, sebagai sebuah renungan, perhatikan firman Allah ketika mensifati hamba-hamba-Nya yang disebut “’Ibadur Rahman” berikut ini,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan....” (al-Furqan: 72)

Ulama ahli tafsir dari kalangan tabi’in dan yang lain, seperti Abul ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, adh-Dhahhak, dan Rabi’ bin Anas menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat di atas adalah menyaksikan hari-hari raya orang musyrik. ( Tafsir Ibnu Katsir 3/341)

Sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jauhilah musuh Allah pada hari raya mereka.” ( Sunan al-Baihaqi 9/234)

Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

“Siapa saja yang tinggal di negeri non-Arab dan ikut serta dalam hari raya Nairuz dan Muhrajan mereka, dan menyerupai mereka sampai matinya, ia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama mereka.” ( Sunan al-Baihaqi 9/234)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita dalam beribadah dan bermuamalah.

Ditulis oleh:
al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Selasa, 27 Rabi’ulakhir 1441 H, bertepatan dengan 24 Desember 2019 M

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✋🏻📢💐🌹 Nabi Isa 'alaihissalam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya

Dari 'Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ - أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ "

"Siapa saja yang bersaksi tiada sesembahan yang benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Dan bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Demikian pula 'Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan bahwa 'Isa diciptakan oleh Allah dengan kalimat-Nya (kun, maka jadilah 'Isa dalam rahim Maryam) dan ditiupkan padanya ruh dari (ruh-ruh ciptaan) Allah. Serta bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya. Maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya (walaupun sedikit kebaikannya ataupun banyak kejelekannya, selama tidak merusak tauhidnya, -pent.)." (HR. al-Bukhari)

✍🏻 Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggabung persaksian antara beliau dan Nabi 'Isa memberikan faidah dari dua sisi;

• Pertama, bahwa keduanya sama dalam sifat penghambaan dan kerasulan.

• Kedua, bahwa keduanya adalah manusia biasa. Nabi 'Isa seperti Nabi Muhammad, hamba dan rasul. Bukan Rabb (tuhan) atau putra Rabb (Allah) Subhanahu wata'ala.

📚 Al-Qaulu al-Mufid hlm. 89

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
#GAMBAR_FAWAID# Kewajiban Mencari Rezeki Yang Halal
✋🏻 MENDEKAT SAJA JANGAN, APALAGI MENGUCAPKAN SELAMAT

✍🏻 Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

"Jauhilah musuh-musuh Allah pada hari raya mereka."

📚 Al-Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra "Kitab Al-Jizyah" no.18862 hlm. 392

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
📝📚 NABI ISA BERLEPAS DIRI TERHADAP PERIBADATAN NASRANI

Isa bin Maryam 'alaihissalam, demi Allah, beliau bukanlah Nasrani.

Beliau tidak mengajari umatnya untuk menyembah dirinya. Beliau tidak pula mengajari manusia untuk menyembah ibunya, Maryam.

Yang beliau dakwahkan adalah Islam, memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan peribadahan kepada selain-Nya. Nabi Isa 'alaihissalam berlepas diri dari ucapan dan keyakinan kaum Nasrani.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (١١٦) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (١١٧)

"Dan (ingatlah) ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, 'Hai 'Isa putra Maryam! Adakah kamu mengatakan kepada manusia 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang ilah (sesembahan) selain Allah?

Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya.

Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabb kalian', dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka.

Maka setelah Engkau angkat aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu’.”
(Al-Maidah: 116—117)

FAKTANYA, NABI ISA SEORANG MUSLIM YANG TAWADHU

Nabi Isa ‘alaihissalam, yang kini masih hidup di langit, di akhir zaman beliau akan turun ke muka bumi menegakkan syariat Islam beserta hukum-hukum yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dengan tawadhu’ beliau shalat di belakang Imam Mahdi.

… فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرِي لِيَتَقَدَّمَ عِيْسَى يُصَلِّي بِالنَّاسِ فَيَضَعُ عِيْسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُم

“…Tatkala imam mereka (al-Mahdi) maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turun kepada mereka ‘Isa bin Maryam 'alaihissalam. Bergegas, mundurlah Imam Mahdi ke belakang agar Nabi ‘Isa 'alaihissalam mengimami manusia.

Nabi ‘Isa pun meletakkan tangan beliau di
antara pundak al-Mahdi seraya berkata, 'Maju dan shalatlah, karena untukmu shalat ini ditegakkan.'

Akhirnya Imam Mahdi maju mengimami shalat.”

🌎 Sumber: https://asysyariah.com/menyelami-samudra-keindahan-islam/?amp
_____
Takhrij tambahan:

(Petikan dari HR. Ibnu Khuzaimah dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir no. 7875)
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
#GAMBAR_FAWAID# Jaga Lisan Perbanyak Amalan
✋🏻💦💐🌹 AIR MATA MEREKA ABADI DALAM FIRMAN-NYA

Pemilik air mata ini bukanlah sosok-sosok yang masyhur namanya. Bukan pula orang-orang yang harum dikenal dengan harta dan kedermawanannya.

Sebaliknya, mereka hanyalah sekelompok kecil dari kalangan fuqara (fakir) kaum muslimin.

Dan inilah kisah mereka.

Di tengah kemarau panjang, Perang Tabuk datang membayang. Minimnya perbekalan dan kendaraan semakin mempersulit kondisi pasukan tauhid ketika itu.

Namun, terik dan panas matahari justru membakar semangat juang para sahabat, sekalipun kaum munafikin tiada henti terus menggembosi.

Saat beberapa cakupan tangan dari buah kurma tampak disedekahkan, orang-orang munafik berkomentar, "Allah tidak butuh dengan sedekah yang sedikit itu."

Manakala sejumlah harta yang tidak sedikit diinfakkan, kaum munafik pun mencacat, "Sedekah yang banyak itu hanyalah demi mengharap pujian manusia semata."

Demikian keji dan sombong ucapan orang-orang munafik itu.

Namun, kebaikan pantanglah surut. Silih berganti yang berharta datang berderma sesuai dengan apa yang mereka punya. Menginfakkannya demi meraih ridha Allah ta'ala semata.

Adapun mereka yang tiada berharta, tetap tegak dada mereka. Sigap dengan tunggangan perangnya. Siap turun ke medan laga.

Kalbu-kalbu yang disinari cahaya keimanan itu sedikit pun tiada meredup. Pemandangan yang ada benar-benar sarat semangat juang.

Bumi Madinah tampak kokoh dengan pilar iman dan tawakal para sahabat. Tak ada kesedihan ataupun ketakutan. Sebaliknya, aroma optimisme akan janji Allah benar-benar menyelimuti persiapan perang saat itu.

Hingga tibalah ketujuh orang itu, datang beriringan menjumpai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kepada beliau, mereka memohon dengan sangat. Demi izinnya, mereka rajut harapan. Satu yang mereka pinta: agar turut disertakan dalam perjalanan jihad yang suci.

Di sisi lain, Tabuk bukanlah jarak yang dekat. Medan yang dilalui pun sangatlah berat. Lembah yang membentang dan sahara yang terhampar menanti nun jauh di sana.

Keterbatasan hewan tunggangan saat itu tak menyisakan jatah bagi mereka sekalipun hanya sekadar untuk bergantian.

Mereka terus mengiba. Seakan tak rela bila sampai momen emas berjuang bersama Nabi terluputkan. Namun apa daya, Rasulullah yang penuh kasih tak sampai hati memaksakan keikutsertaan mereka.

Pada akhirnya,

َ لاَ أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ

terucap dari lisan mulia beliau.

"Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian."

Sebuah jawaban yang tak sedikit pun diharapkan oleh mereka. Bagaimana mungkin berharap penolakan? Sementara mereka sadar, satu-satunya peluang untuk turut andil dalam peperangan kali ini hanyalah dengan sumbangsih raga dan nyawa yang mereka miliki.

Ketiadaan harta benda semakin membuat hati mereka terpukul. Bagaimana tidak? Di tengah kondisi yang sangat sulit dan berat, tak ada derma terhatur, tidak pula raga dan tenaga terulur.

Keimanan yang jujur dalam sanubari membuat ketujuh orang ini merasa sedih. Ketidakmampuan diri untuk berkorban benar-benar menyesakkan dada mereka.

Di saat itulah, air mata mereka menetes.

Tentang mereka, Allah ta'ala berkisah,

تَوَلَّواْ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَناً أَلاَّ يَجِدُواْ مَا ينفقون

"Lalu mereka pun kembali dalam keadaan bercucuran air mata lantaran tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan untuk berjihad."

Ya. Tangisan mereka terukir kekal dalam al-Quran.

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu berkata,

"Manakala Allah menyaksikan semangat mereka dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah turunkan ayat ini (QS. at-Taubah: 91-93) sebagai wujud pemberian uzur untuk mereka." (Lihat Umdah at-Tafsir 'an al-Hafizh Ibn al-Katsir 2/189)

Sebuah tangisan lantaran ketidakmampuan dalam beramal ketaatan.

Sudahkah jenis air mata itu membasahi pelupuk mata kita?

📚 Disadur dari tafisr Surah at-Taubah dari kitab Tafsir al-Qur
an al-'Azhim karya ulama ahli tafsir Ibnul Katsir rahimahullah

🌎 Kunjungi || https://forumsalafy.net/air-mata-mereka-abadi-dalam-firman-nya/

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎