Garasi Fauzil Adhim
3.71K members
223 photos
33 videos
1 file
22 links
Download Telegram
to view and join the conversation
Jenjang Percaya Diri Anak (02)
Jenjang Percaya Diri Anak (03)
Jenjang Percaya Diri Anak (04)
Sebagian orangtua maupun guru inginnya membangun percaya diri anak, tetapi yang dilakukan justru sebaliknya. Bukan percaya diri yang mereka bangun, tetapi meletakkan “nilai” diri pada benda-benda atau sesuatu yang bisa melekat, bisa pula terlepas.⁣

Agar mudah menakar, mari kita periksa jenjang-jenjang percaya diri pada anak. Secara sederhana, tulisan ini saya ringkas dari pembahasan yang sama di buku saya bertajuk Positive Parenting terbitan Pro-U Media.⁣

Pertama, rasa percaya diri semu alias pseudo self-confidence. Ini jenjang terendah, namun justru banyak diburu. Mereka kelihatan penuh percaya diri, tampil dengan sangat menyakinkan, dan tampak begitu mengesankan. Tetapi ketika lupa membawa deodoran, mereka akan bersembunyi seperti tikus tersiram air. Mereka “percaya diri” hanya apabila bersama mereka ada hal-hal atau benda-benda yang dapat membuat mereka “terangkat” , meski sebenarnya tidak ada orang yang terlalu memerhatikan benda-benda itu. ⁣

Salah satu contoh sederhana “percaya diri semu” adalah malu tidak punya HP. Obatnya bukan membelikan HP. Membelikan benda hanya agar sama dengan temannya tidak menghapuskan rasa kurang percaya dirinya. Bukan tidak mungkin lebih buruk dari itu. Anak tidak memiliki sense of competence atau kesadaran bahwa dirinya memiliki kompetensi, sehingga secerdas apa pun selalu merasa tidak mampu. ⁣

Kedua, “percaya diri” karena orang lain memiliki kekurangan dan kelemahan. Ia merasa percaya diri karena memiliki kelebihan yang orang lain di sekitarnya tidak memiliki. Ini sesungguhnya juga bukan termasuk percaya diri, dan dekat dengan kesombongan. Sesungguhnya, sikap sombong itu ada kalanya merupakan bentuk lain dari minder. Terhadap yang di atasnya tidak berkutik, sementara terhadap yang dianggap lebih rendah ia akan menepuk dada. Sedihnya, ini justru yang sering ditanamkan oleh orangtua, “Eit, coba lihat. Wuih, bagusnya. Coba temanmu, pasti nggak ada yang punya.”⁣

Ketiga, “percaya diri” karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Ini lebih positif daripada yang sebelumnya. Ia akan mudah menyesuaikan diri dengan orang-orang yang memiliki minat dan kelebihan yang sama. Ia juga bisa dengan mudah menempatkan diri di lingkungan yang membutuhkan kelebihan-kelebihannya. Tetapi, ia kurang bisa nyaman dengan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Bahkan bisa jadi, kekurangan itu menyebabkan ia sibuk menutupinya.⁣

Keempat, tumbuhnya kepercayaan diri karena dapat menerima kelebihan dan kekurangannya. Ia menyadari apa yang menjadi kekurangannya, sebagaimana ia menyadari kelebihan-kelebihannya. Kesadaran tentang kelebihan dan kekurangan membuat ia tidak sombong, tidak pula rendah diri. Ini berbeda dengan merasa. Orang yang merasa memiliki kelebihan, cenderung tidak mau belajar kepada orang lain. Sementara mereka yang merasa memiliki kekurangan akan minder.⁣

Kelima, kuatnya percaya diri karena menjiwai, merasakan dan memandang semua manusia sama. Tak ada yang membedakan, kecuali takwanya. Kalau harus ada suku-suku yang berbeda karakternya, itu adalah untuk saling mengenal sehingga akan melapangkan dada, meluaskan wawasan, menajamkan pikiran, menghidupkan jiwa, dan membangkitkan kekuatan semangat. ⁣
Keenam, rasa percaya diri yang kuat karena melihat pada dirinya ada amanah untuk berbuat. Sebenarnya, tingkatan terakhir ini bukanlah percaya diri. Saya menyebutnya pasca percaya diri, melampaui percaya diri (beyond self confidence). Mereka tegak kepalanya saat berhadapan dengan orang lain bukan karena bagusnya pakaian yang disandang, bukan pula karena memandang kedudukan dirinya, tetapi karena yakin sepenuhnya terhadap kemuliaan agama ini dan kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mereka dapat merunduk lebih rendah dibanding yang lain saat menghadapi manusia dan melayani mereka, bukan karena gemetar takut hilang kepercayaan, tapi karena memandang besarnya amanah dari Allah Ta’ala. Mereka tak meremehkan manusia, sekaligus tak gentar menghadapi yang besar, karena sungguh-sungguh meyakini bahwa tidak ada daya dan upaya selain semata karena Allah Ta’ala. Tidak ada daya. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah. ⁣
Jenjang Percaya Diri Anak (05)
Jenjang Percaya Diri Anak (06)
Jenjang Percaya Diri Anak (07)
Jenjang Percaya Diri Anak (08)
Ibu Nggak Becus Mendidik Anak? Tanya Suaminya

Mengapa kedurhakaan orangtua kepada anak menggunakan istilah عقوق الآباء للأبناء yang sebenarnya bermakna kedurhakaan ayah kepada anak? Wallahu a’lam bish-shawab. Salah satu pelajarannya adalah karena kerapkali ketidakmampuan ibu mendidik anak sehingga melakukan kedurhakaan sebagai ibu disebabkan ayah lalai memenuhi kewajibannya untuk memberikan ibu yang baik bagi anaknya.

Bagaimana cara ayah memberikan ibu yang baik? Pada mulanya adalah ketika memilih istri, semenjak awal sudah dalam rangka mencarikan ibu yang baik jika kelak Allah Ta’ala karuniakan anak kepadanya. Sesudah itu, ia berkewajiban untuk mendampingi dan mendidik istrinya agar mampu menjadi ibu yang baik. Jika istri tidak mampu mendidik, atau sekali waktu mengalami situasi yang menjadikannya kurang mampu mendidik anak, maka ayah yang berkewajiban memampukan istrinya menjadi ibu yang sebenar-benar ibu. Memampukan itu berarti bukan sekedar memberi tahu. Apalagi cuma menyalahkan.

Sesungguhnya menyalahkan istri ketika kurang mampu mendidik anak bukanlah jalan untuk menjadikannya mampu mendidik dengan benar.
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Ibu Nggak Becus Mendidik Anak? Tanya Suaminya
Cinta yang Mengering (01)
Cinta yang Mengering (02)
Cinta yang Mengering (03)
Cinta yang Mengering
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Ada yang menarik. Di masa pandemi ini, salah satu tema yang sering dimintakan kepada saya untuk membahasnya adalah tentang cinta, terutama cinta dalam rumah-tangga antara suami dan istri. Sebagian tentang bagaimana agar cinta selalu bersemi, tetapi tak sedikit yang bertanya tentang bagaimana menyelamatkan agar cinta yang mengering di antara mereka tidak sampai meranggas mati.

Cinta. Ada apakah kiranya? Saya bukan alergi berbicara cinta. Saya menulis buku Agar Cinta Selalu Bersemi, berusaha menggali pelajaran dari tuntunan agama ini, betapa pun ilmu saya masih amat sedikit. Tetapi saya merasakan kegelisahan banyak orang tentang cinta dalam rumah-tangga bukan lagi soal menjaga dan merawat amanah perkawinan sebagai bagian dari mitsaqan ghalizha (perjanjian sangat berat) antara kita dan Allah Ta’ala, melainkan karena begitu besarnya kata cinta dalam hati mereka.

Ada risau dalam hati ini ketika banyak yang bertanya tentang bagaimana menyiasati diri sendiri —minimal begitu— agar tak mengalami kejenuhan dan kebosanan terhadap pasangan. “Apa trik sederhananya agar tidak mengalami kebosanan perkawinan? Soalnya kita kan nggak bisa menghindari situasi? 24 jam sehari semalam, ketemunya “lu lagi lu lagi”. Wajar kan kalau menimbulkan kebosanan? Tetapi masalahnya, kita kan tetap harus tiap hari mendidik anak.”

Ada dua hal yang menggelisahkan saya mengenai fenomena ini. Pertama, jika rumah sesuai maknanya sebagai al-maskan (arti al-maskan ya rumah, tetapi maknanya rumah yang menjadi tempat memperoleh ketenangan), maka seharusnya tempat yang paling menenteramkan adalah rumah. Kemana pun mereka pergi, tetap rumah yang paling mereka rindukan. Apalagi jika kita menyebut rumah kita sebagai surga, masa sih surga membuat penghuninya tak betah? Baity jannaty, rumahku surgaku. Maka semestinya rumah menjadi tempat paling meneduhkan; tempat dimana kita tidak sibuk mencari waktu untuk diri sendiri (me time).

Kedua, sedih ketika sebagian muslimin merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa kebosanan perkawinan itu sesuatu yang pasti terjadi pada setiap rumah-tangga. mengenang ketika dulu pernah mengajar mata kuliah psikologi perkawinan. Namanya kebosanan perkawinan (marital boredom) memang dapat terjadi. Tetapi ada orang-orang yang tidak pernah mengalami kebosanan perkawinan. Siapa mereka? Orang-orang yang menjalani perkawinan sebagai bagian penting dari keimanan maupun kehidupan spiritual mereka.

Jadi, kalau semakin banyak mengeluhkan kebosanan perkawinan, apakah maknanya?
Cinta yang Mengering (04)
Cinta yang Mengering (05)
Di antara yang menjadi perhatian utama saya dan beberapa teman, khususnya Mas Denis Prawitasandhi dan Muhammad Fatan ‘Ariful ‘Ulum beberapa tahun belakangan ini adalah mengenai identitas diri remaja. Secara sengaja kami berusaha mempelajari berbagai literatur psikologi yang kredibel, memilih referensi yang benar-benar memiliki bobot ilmiah yang layak dijadikan acuan untuk dunia akademik, dan bila perlu membeli buku melalui teman yang tinggal di luar negeri, khususnya di Inggris.⁣

Lanjutan dari telaah ilmiah tersebut adalah melakukan kajian berseri berkaitan dengan krisis serius pada remaja, apa sebabnya dan bagaimana penanganannya, baik pada lingkup keluarga, sekolah maupun skala yang lebih luas. Sebagai alumni Fakultas Psikologi (bi idzniLlah kami bertiga kuliah di Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta), meskipun saya tidak pernah memakai gelar akademik maupun gelar apa pun –karena saya sekarang masih berjuang memperoleh gelar ‘ibadurrahman dari Allah Ta’ala, satu-satunya gelar yang menggiurkan—saya dan rekan-rekan berusaha untuk melakukan telaah dengan teliti dan memahami dengan kritis.⁣

Ibarat fiqh, kesimpulan fiqh sangat bermanfaat bagi orang awam agar langsung tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi hanya tahu kesimpulan fiqh, tidak cukup untuk membahasnya dan menggunakannya sebagai bahan menilai keadaan yang sedang dihadapi. Begitu pula psikologi. Krisis atau bukan krisis –yang itu pun perlu dirinci lagi—adalah kesimpulan yang disematkan pada satu keadaan. Tetapi tidak jarang sekedar stemple semata. Lebih penting dari itu adalah memahami, yang mengalami krisis apa sebabnya, yang tidak mengalami krisis apa pula sebabnya. Masing-masing bagaimana prosesnya sehingga sampai seperti itu.⁣

Hanya dengan cara inilah kita dapat memperoleh kesimpulan yang utuh dan jernih. Gegabah menganggap remaja sebagai masa krisis, minimal menunjukkan dua hal. Pertama, dia malas baca. Atau kalaupun membaca, dia mengabaikan deep reading (membaca secara mendalam) dan hanya mengejar cepatnya (speed reading). Di antara akibat fatal speed reading tanpa mendahului dengan deep reading adalah mengetahui banyak, tetapi rusak pemahaman utuhnya. Kedua, malas berpikir sehingga begitu membaca, ia tidak menelusuri dinamikanya yang mengantarkan seorang anak akhirnya menjadi remaja penuh krisis, mengambang atau justru tanpa krisis sama sekali.⁣

Yang lebih menyedihkan adalah, seseorang memiliki pengalaman kelam yang sangat menyedihkan berkenaan dengan hidupnya, lalu menganggap kegagalan dirinya memperoleh identitas diri yang kokoh saat remaja sebagai kepastian ilmiah. Pengalaman itu berharga, tetapi menjadikan pengalamannya yang mengenaskan sebagai kesimpulan akademik merupakan kekacauan luar biasa.⁣

Sama-sama tanpa mengalami “krisis” saat remaja, sangat berbeda antara identity foreclosure dengan identity foreclosed. Sangat mirip, tetapi yang satu sangat baik, yang satu rentan gangguan jiwa.