Enxyclo Digital Agency
62 subscribers
4 photos
2 files
Branding & Digital Strategist for Your Business #BrutalScaleUp | https://enxyclo.com |
Download Telegram
to view and join the conversation
Hal ini memiliki arti bahwa ketika gemba dilakukan, secara natural akan terjadi aktivitas coaching di mana atasan akan membimbing dan mengajari orang yang dia pimpin. Sang pemimpin akan melihat di mana letak akar masalahnya, yakni apakah karena kurangnya pengetahuan, kurangnya kemampuan, atau bahkan kurangnya motivasi dalam melaksanakan pekerjaan? Di sinilah sang pemimpin menjalankan fungsi coaching.

Ada satu hal yang harus diingat, bahwa mindset yang harus dipegang oleh seorang pemimpin saat melakukan gemba adalah “innocent people”, yaitu meyakini bahwa sebuah masalah bukan hanya disebabkan oleh kesalahan pelakunya, namun bisa jadi disebabkan oleh proses yang buruk atau sulit. Dengan demikian, sang pemimpin tidak akan langsung berusaha mencari siapa yang bersalah, namun justru menggali akar masalah dengan terus memberikan pertanyaan sederhana: mengapa kesalahan ini bisa terjadi?

Perubahan paradigma inilah yang patut dipegang oleh seorang pemimpin ketika mengamalkan gemba. Agar para pemimpin selalu ingat, bahwa tujuan yang ingin dicapai merupakan “menyelesaikan masalah” bukannya mencari “siapa pembuat masalah”, sehingga dapat digali secara lebih spesifik apa kesulitan dari para karyawan yang melakukan pekerjaannya, apakah karena kurang pengetahuan, minim keterampilan, tak adanya saran dan peralatan, ataukah karena sebab lainnya. Dengan demikian, sang pemimpin akan terhindarkan dari menghukum orang yang bersalah.
Paling powerful adalah pertanyaan “mengapa” yang diulang terus-menerus untuk menggali sampai akar masalah, sehingga penyelesaian masalah bukan hanya di permukaan, tetapi benar-benar tuntas, hingga tidak mungkin terjadi masalah yang sama di masa depan.

Budaya respect for people ini juga mendorong filosofi kepemimpinan yang terkenal, yakni “dont blame the people, fix the process”, sehingga mengajak orang untuk tidak menutupi masalah, karena mengerti bahwa atasan bukan hanya menyalahkan, melainkan juga membantu untuk mencarikan jalan keluarnya.

Prinsip ini juga memberikan penekanan penting, bahwa seorang karyawan tak perlu lagi takut menyampaikan masalah, karena masalah adalah peluang perbaikan. Semakin masalah ditutup-tutupi, maka masalah tersebut justru akan semakin besar, hingga kemudian menjadi bom waktu yang akan meledak setiap saat.

Dengan kata lain, bila seorang karyawan bilang bahwa dia sedang tidak ada masalah, justru artinya dia sedang bermasalah. Artinya, ia memiliki dua kemungkinan: karyawan tersebut tidak tahu bahwa hal tersebut sebenarnya adalah sebuah masalah, atau sebenarnya ia sedang berusaha menutupi masalahnya.

Hal ini menyadarkan kita bersama bahwa budaya transparansi seperti ini sangat penting dimiliki oleh organisasi yang ingin terus-menerus melakukan perbaikan. Tanpa adanya mindset transparansi seperti ini, tentu akan sangat sulit untuk mengajak orang berubah.
bila dilakukan hanya sekali, maka hal itu disebut kebetulan, dan bila dilakukan berkali-kali, maka disebut kebiasaan, dan bila dilakukan bertahun-tahun, maka disebut sebagai budaya. []
👆 Getting Things Done® atau GTD® adalah sebuah metode produktivitas yang bisa Anda terapkan untuk mengorganisir setiap aspek pekerjaan ataupun daftar tugas yang harus dikerjakan. Dengan tagline “The art stress free productivity”, David Allen telah mengajar banyak orang bagaimana mengatur beragam hal baik itu urusan personal atau profesional lewat metode Getting Things Done®.
TENTANG MEMULAI. HARI INI.

“One day you’re going to wake up and there won’t be any time left to do the things you’ve always wanted to do. One day. Day One. You decide.” Paulo Coelho
What gives you energy?
What are you good at?
Who would pay you to do that FOR them or teach that TO them?
How could you monetize what you do for fun or turn it into biz dev?
CONTENT MARKETING

Content marketing adalah seni mengelola message dari brand agar menghasilkan conversation dengan customer

Kalau nggak terjadi conversation, maka strategi content marketingnya gagal.

Nah, agar content marketing bisa menghasilkan conversation, harus bisa engaging the customer. Karena dari engagement itulah terjadi conversation.

Gimana biar terjadi engagement?

Salah satu caranya adalah dengan teknik storytelling.

Lewat storytelling, customer akan lebih mudah mendapatkan message dari brand tersebut.
Contoh penerapan strategi ini adalah apa yang dilakukan oleh VW.

Produk anyarnya yang bernama Golf BlueMotion, diluncurka dengan cara yang saik bingit.

Cara konvensional: grand launching di pameran, ngundang blogger, test drive. Hal itu tidak dilakukan VW.

Sebagai mobil irit, nggak bisa dipromosikan dengan cara standar seperti itu.

Mereka merancang pemasaran konten dalam jangka waktu sebulan. Tujuannya jelas, menunjukkan kalau BlueMotion emang beneran mobil irit di kelasnya.

Caranya?

Kontes online. Jadi, satu mobil Golf BlueMotion diisi penuh bahan bakar dan diberangkatkan dari kota Oslp ke Utara. VW mengajak semua orang menebak kapan dan di mana mobil ini bakalan kehabisan bahan bakar.

Yang bisa menebak dengan tepat dapat satu mobil seri itu, gratis.

Cara partisipasinya, peserta dapat mengakses menggunakan akun Facebook dan memiliki satu saja kesempatan menebak. Alhasil, karena termotivasi untuk menang, peserta akan mencari informasi dengan detail mengenai mobil tersebut, dan apa keunggulan utama dari BlueMotion.

Hasilnya?

160 ribu orang mengunjungi website. 50 ribu orang ikut kontes. Lebih dari 6000 orang posting di Facebook mengenai mobil tersebut. Dan paling penting, ribuan orang memahami apa keunggulan dari mobil tersebut.

Cerdas, bukan?
PETUAH DARI FOUNDER SRIBU & SRIBULANCER

Musuh utama dari sebuah start-up company adalah mengutamakan uang. Uang memang penting, tetapi bukan yang terpenting. Apabila kita membuat start-up dengan tujuan mendapatkan funding atau diinvestasi maka itu adalah tujuan yang salah. Tujuan yang benar adalah untuk membuat produk yang menjadi solusi bagi banyak orang dan dari situ apabila ada investor yang tertarik dan kamu butuh dana dari mereka untuk mengembangkan produk ke level selanjutnya, maka baru kamu terima investasi tersebut.

Growth is the key to startup. Saya membaca berbagai artikel, tips dan juga ebook yang berhubungan dengan apa yang saat itu ingin saya capai agar Sribu bisa menjadi produk yang user friendly dan disukai banyak orang. Dengan berfokus pada product growth, kemungkinan untuk mendapatkan investasi menjadi semakin tinggi, jumlah user semakin meningkat dan sales pun juga ikut melambung.
BELAJAR DARI WARUNK UPNORMAL

Sejak pertama kali didirikan, Warung Upnormal memang sudah didesain dan direncanakan sebagai jaringan kafe lokal terbesar di Indonesia.

Bagaimana para pendirinya melakukannya?

Dengan cara membuat dua (2) prototipe warung sebagai percontohan. Hasilnya? Sukses besar, dan sekarang Warung Upnormal sudah memiliki 50 outlet di 28 kota besar di Indonesia hanya adlam waktu kurang dari tiga tahun.

Para pendirinya berhasil sadar bahwa untuk memenangkan bisnis kuliner, mereka harus memiliki SOP yang tepat, jaringan distribusi yang luas, dan satu hal penting: investor yang siap mendukung growth ketika prototipe berhasil.

Sebuah langkah cerdas dalam berbisnis kuliner, mengingat bisnis kuliner adalah bisnis yang tidak mudah. Apalagi, Warunk Upnormal "hanya" jualan Indomie.

Tetapi, sebuah konsep dan business model yang baik selalu menunjukkan hasilnya. :)
TERUSLAH MELANGKAH

Ratusan kali gagal, hanya akan membuat kita makin kuat & cerdas, serta akan membuat kita makin sensitif terhadap kegagalan. Sampai suatu titik Tuhan akan "iba" melihat kegagalan kita, dan pertolongan itu datang dari arah yang tak disangka-sangka. Sekali pertolongan itu datang, semua keringat kita akan terbayar dalam hitungan hari, bahkan jam.
TENTANG PERAN PEMIMPIN

Perlu diingat bahwa pemimpin dapat diibaratkan sebagai kepala naga yang apabila bergerak sedikit saja akan menimbulkan gerakan yang kuat pada bagian ekornya. Dapat dibayangkan apabila sang kepala naga selalu bergerak ke kanan dan ke kiri tanpa aturan, akan berakibat bagian ekor menjadi kehilangan arah.
HELLO FOUNDERS

“Business is all about numbers. Angka dan bukan sekadar kata-kata. Bisnis bukanlah sastra!” kata-kata itu diungkapkan oleh Dondi Hananto, pendiri dari Kinara Indonesia. Peran dan tangan dingin pendiri startup merupakan kunci bahwa startup akan meraih sukses dan bisa mengeksekusi ide-ide bisnis.

Pendiri yang bagus akan mampu juga dalam merekrut orang-orang yang bagus untuk membangun tim yang bagus karena pendiri bukan sekadar dreamer, tetapi juga piawai menjadi eksekutor. Pendiri harus mampu menunjukkan potensi startup yang sedang mereka jalankan. Pendiri tidak boleh hanya memaparkan asumsi saja tetapi minus data.
Untuk urusan pasar, seorang pendiri dengan wawasan dan cara berpikir yang luas akan menerjemahkan kebutuhan pasar dengan berbagai pertimbangan. Oleh karena itu, ketika pendiri “jatuh cinta” dengan sebuah masalah dan mau menyelesaikan masalah itu dengan produknya, dia akan berusaha membuat produk yang habis-habisan, agar bisa diadopsi oleh pasar.
DON'T BE AFRAID

Faktor kesuksesan sesungguhnya sebuah organisasi terletak pada orang dan budaya kerjanya.
UNLEARN

Di dunia yang sarat disrupsi, mindset yang kini diperlukan bukanlah “tahu semuanya”, tapi justru sebaliknya “tak tahu semuanya”.

Artinya, kita tak cukup sebatas “learning” tapi juga “unlearning” yaitu mengosongkan hal-hal usang yang selama berpuluh tahun kita ketahui dan kita yakini kebenarannya. Unlearning akan mengosongkan isi pikiran kita sebersih mungkin sebersih kanvas kosong.

Berani?
SCALABLE VS NON-SCALABLE

Hari ini, saya akhirnya bisa merumuskan sistem bisnis, hasil dari pembelajaran selama tiga tahun. Lama memang. Tetapi, kalau udah ketemu sistemnya seperti ini, akan sangat enak ke depannya.

Pertanyaannya adalah, mengapa saya rela menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk belajar seperti itu? Sebagaimana kita tahu, masa belajar adalah masa di mana kita akan mengorbankan banyak hal: waktu, uang, dan kesenangan. Saya benar-benar mengosongkan gelas, menjadi kaum sudra, memulainya segalanya dari minus. Saya percaya, untuk mencapai hasil yang berbeda, kita tak bisa menggunakan cara yang sama dengan yang kemarin, apalagi cara tahun lalu.

Masih pula, ditambah dengan kita harus benar-benar fokus, konsisten, dan yakin bahwa inilah jalan terbaik untuk merengkuh visi kita ke depan.

Hal ini bermula ketika saya menemukan satu kaidah mendasar dalam "bekerja". Yaitu konsep scalable dan non-scalable.

Contoh gampangnya begini.

Honda vs dokter.

Bisnisnya Honda masuk kategori scalable. Kenapa? Ya karena ketika penjualan Honda mencapai jutaan mobil tiap tahunnya maka ongkos untuk membuat sebuah mobil (cost per-unit) akan turun demikian dramatis.

Sementara untuk dokter, ongkos terbesar untuk memberikan layanan dokter adalah gaji si dokter sendiri. Nahasnya, gaji dokter ini tak akan turun ketika pasiennya berkembang dari satu pasien menjadi katakanlah 500 pasien. Itu artinya layanan dokter tidak scalable. Umumnya professional services seperti dokter, pengacara, konsultan, atau motivator tidak scalable alias akan sangat sulit untuk di-scaling-up.

Artinya, ya kita akan capek terus kalau nggak bisa menemukan sistem yang bagus, agar masa tua kita bisa kita habiskan, misalnya untuk membina santri-santri yang kita bina di pesantren yang kita dirikan. Misalnya. Namanya juga misalnya.

Artinya, kita akan terus bertarung dengan skill yang itu-itu saja, saat kita tidak segera beralih untuk menghasilkan sesuatu yang scalable.

Jadi, sampai detik ini, saya masih heran dengan yang terlalu bergantung dengan skill teknisnya. Yes, dengan itu, kita bisa hidup. Saya sudah membuktikannya. Dari project yang ratusan ribu sampai puluhan juta, saya sudah pernah semua. But, saat visimu gede banget, kita nggak bisa terus mengandalkan model non-scalable itu. Apalagi, jenis skill yang mudah untuk dilumat dengan pendatang baru.

Semoga bisa menginspirasi.
“In the past, the man has been first. In the future, the system must be first.” — Frederick Winslow Taylor

Eric Ries mengutip pernyataan dari Frederick Winslow Taylor tersebut dalam buku The Lean Startup. Pernyataan dari Taylor tersebut aslinya tertuang dalam The Principles of Scientific Management yang dipublikasikan pada 1911. Walau sudah ditulis puluhan tahun lalu, akan tetapi pernyataan Taylor itu menjadi kenyataan saat ini.
Tidak ada hal yang instan, semakin matang proses Anda, maka semakin besar hasil yang Anda dapatkan, tidak ada yang sia-sia karena hasil tidak akan mengkhianati sebuah proses.