TRACING THE UNKNOWN
Photo
ㅤ
Sebenernya hari ini ada kelas, tapi ternyata takdir nggak memberikan gue kesempatan untuk hadir. Alias gue kesiangan.
Semalam, ada teman yang datang jauh dari Yogyakarta. Let us call him Shael. Aslinya, sih, dia lagi jalan-jalan ke Bandung, terus mampir sehari ke Jakarta sebelum balik lagi ke tempat asalnya.
Jadi, di sinilah gue sekarang. Menemani dia keliling Jakarta.
Destinasi pertama yang kami datangi adalah Museum Nasional Indonesia, atau mungkin lebih dikenal sebagai Museum Gajah. Kenapa museum? Soalnya, anak ini bilang mau mendatangi tempat yang gue suka. Ya sudah, gue tarik dia ke museum. Healing, hehehe.
Sepanjang perjalanan ke museum, Shael nggak berhenti mengomentari semua hal yang dia lihat atau yang tiba-tiba lewat di pikirannya.
"Elias, itu gedung apa? Kok tinggi banget? Apa gak takut rubuh kalau nanti ada angin topan?"
"Elias, nanti di museum ada apa aja? Ada sejarah tentang mammoth nggak?"
Dan masih banyak "Elias, Elias" lainnya yang hampir selalu diakhiri pertanyaan unik.
Setelah sampai dan membeli tiket, kami langsung masuk dan mulai berkeliling melihat isi museum.
Gue suka banget datang ke museum. Entah kenapa, suasananya selalu terasa tenang. Hangat juga, dalam cara yang susah dijelasin. Setiap kali datang, selalu ada informasi baru yang bisa gue ambil.
Kayalnya, gue bisa datang ke museum yang sama sepuluh kali dalam sebulan dan tetap nggak akan bosan. Saking sukanya.
Banyak pertanyaan yang muncul di kepala gue setiap kali melihat benda-benda yang dipajang.
Gimana cara mereka merawat semua benda ini, apalagi yang usianya sudah berabad-abad? Lalu, gimana ceritanya benda yang pernah menjadi kisah hidup seseorang bisa berakhir di balik kaca bertahun-tahun kemudian? Bahkan orang-orang yang melihatnya sekarang mungkin nggak akan pernah tahu siapa pemilik aslinya.
Pertanyaan-pertanyaan kecil kayak gini yang bikin gue betah berlama-lama di museum.
Akhirnya, kami berhenti setelah kurang lebih tiga jam berkeliling. Itu juga karena Shael yang protes capek. Hahaha. #Maaf, Shael.
Begitu kami keluar dari museum, kami langsung disambut cuaca Jakarta yang... luar biasa panas. Rasanya kayak setiap orang punya mataharinya masing-masing diatas kepala, dengan jarak cuma lima meter.
PANAS POLLL.
So, kami memutuskan untuk melipir ke Grand Indonesia. Nggak bisa dibilang meilipir juga sih, karena jaraknya lumayan jauh.
Sampai di GI, tujuan kami cuma satu, yaitu ngadem. Setelah suhu badan mulai kembali normal, kami muter-muter mencari restoran mana yang kira-kira akan kami berikan saham hari ini. Sampai akhirnya Shael nyeletuk,
"Makan sushi aja yuk, Elias?"
ㅤ
Sebenernya hari ini ada kelas, tapi ternyata takdir nggak memberikan gue kesempatan untuk hadir. Alias gue kesiangan.
Semalam, ada teman yang datang jauh dari Yogyakarta. Let us call him Shael. Aslinya, sih, dia lagi jalan-jalan ke Bandung, terus mampir sehari ke Jakarta sebelum balik lagi ke tempat asalnya.
Jadi, di sinilah gue sekarang. Menemani dia keliling Jakarta.
Destinasi pertama yang kami datangi adalah Museum Nasional Indonesia, atau mungkin lebih dikenal sebagai Museum Gajah. Kenapa museum? Soalnya, anak ini bilang mau mendatangi tempat yang gue suka. Ya sudah, gue tarik dia ke museum. Healing, hehehe.
Sepanjang perjalanan ke museum, Shael nggak berhenti mengomentari semua hal yang dia lihat atau yang tiba-tiba lewat di pikirannya.
"Elias, itu gedung apa? Kok tinggi banget? Apa gak takut rubuh kalau nanti ada angin topan?"
"Elias, nanti di museum ada apa aja? Ada sejarah tentang mammoth nggak?"
Dan masih banyak "Elias, Elias" lainnya yang hampir selalu diakhiri pertanyaan unik.
Setelah sampai dan membeli tiket, kami langsung masuk dan mulai berkeliling melihat isi museum.
Gue suka banget datang ke museum. Entah kenapa, suasananya selalu terasa tenang. Hangat juga, dalam cara yang susah dijelasin. Setiap kali datang, selalu ada informasi baru yang bisa gue ambil.
Kayalnya, gue bisa datang ke museum yang sama sepuluh kali dalam sebulan dan tetap nggak akan bosan. Saking sukanya.
Banyak pertanyaan yang muncul di kepala gue setiap kali melihat benda-benda yang dipajang.
Gimana cara mereka merawat semua benda ini, apalagi yang usianya sudah berabad-abad? Lalu, gimana ceritanya benda yang pernah menjadi kisah hidup seseorang bisa berakhir di balik kaca bertahun-tahun kemudian? Bahkan orang-orang yang melihatnya sekarang mungkin nggak akan pernah tahu siapa pemilik aslinya.
Pertanyaan-pertanyaan kecil kayak gini yang bikin gue betah berlama-lama di museum.
Akhirnya, kami berhenti setelah kurang lebih tiga jam berkeliling. Itu juga karena Shael yang protes capek. Hahaha. #Maaf, Shael.
Begitu kami keluar dari museum, kami langsung disambut cuaca Jakarta yang... luar biasa panas. Rasanya kayak setiap orang punya mataharinya masing-masing diatas kepala, dengan jarak cuma lima meter.
PANAS POLLL.
So, kami memutuskan untuk melipir ke Grand Indonesia. Nggak bisa dibilang meilipir juga sih, karena jaraknya lumayan jauh.
Sampai di GI, tujuan kami cuma satu, yaitu ngadem. Setelah suhu badan mulai kembali normal, kami muter-muter mencari restoran mana yang kira-kira akan kami berikan saham hari ini. Sampai akhirnya Shael nyeletuk,
"Makan sushi aja yuk, Elias?"
ㅤ
❤5🔥1