Ask The Experts
1.85K subscribers
5.03K photos
421 videos
192 files
3.06K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
Forwarded from Hafid Mahesa
Hai, ketemu lagi di Sudut Meja. โ˜•๏ธ

Pernahkah sebuah film terus terlintas di pikiranmu bahkan setelah selesai ditonton?
Bukan karena adegan aksinya, melainkan karena ada pesan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan kita sendiri.
Di edisi kali ini, mari sejenak melihat The Prestige, bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cermin untuk memahami ambisi, persaingan, dan diri kita sendiri.
Menarik utk disimak, bagi persiapan putra-putri kita ๐Ÿค

Oleh: Andi Thahir

Ketika China Menutup Ratusan Program Studi: Tanda Besar Perubahan Dunia Kerja dan Pendidikan Global

Gelombang penutupan program studi di berbagai universitas besar di China menjadi sinyal kuat bahwa dunia pendidikan tinggi sedang memasuki fase transformasi paling drastis dalam beberapa dekade terakhir. Negara yang selama ini dikenal sangat agresif membangun kekuatan teknologi, manufaktur, dan riset ternyata mulai memangkas banyak jurusan lama yang dianggap tidak lagi selaras dengan kebutuhan industri masa depan.

Salah satu kasus paling mencolok datang dari Sichuan University yang pada tahun 2024 mengumumkan penghentian 31 program studi sekaligus. Langkah ini bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari restrukturisasi pendidikan nasional China yang jauh lebih besar. Menurut laporan [Sixth Tone](https://www.sixthtone.com/news/1015732?utm_source=chatgpt.com), sepanjang tahun 2024 terdapat 19 universitas di China yang menghentikan total 99 program studi. Bahkan Ministry of Education of the People's Republic of China mengonfirmasi bahwa pemerintah China menghapus sekitar 1.670 program studi dan pada saat yang sama membuka 1.673 program baru yang dianggap lebih relevan dengan arah ekonomi masa depan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi di China kini bergerak sangat adaptif terhadap perubahan pasar kerja, perkembangan teknologi, dan transformasi industri global.

Jurusan yang Ditutup Bukan Sekadar Jurusan โ€œLemah"

Yang menarik, banyak program studi yang dihentikan justru berasal dari bidang teknik, sains, dan industri yang dahulu dianggap strategis. Beberapa di antaranya meliputi:

* Teknik Metalurgi
* Teknik Tekstil
* Teknik Lingkungan
* Teknik Hidrologi dan Sumber Daya Air
* Teknik Keamanan (Safety Engineering)
* Teknik Jaringan
* Information Security
* Electronic Science and Technology
* Bioteknologi
* Fisika Nuklir
* Fisika Material
* Kimia Material

Selain itu, sejumlah jurusan bisnis dan sosial juga terkena dampak:

* Administrasi Publik
* Asuransi
* E-Commerce
* Information Management
* Public Administration

Bahkan bidang seni kreatif seperti Animasi, Penyiaran Televisi, Musicology, dan Seni Pertunjukan ikut dihentikan di beberapa kampus.

Langkah ini memperlihatkan bahwa masalah utama bukan sekadar โ€œjurusan bagus atau tidak bagusโ€, melainkan apakah kompetensi yang diajarkan masih sesuai dengan kebutuhan ekonomi baru berbasis AI, otomasi, digitalisasi, green economy, dan industrial intelligence.

China Sedang Mengubah Mesin Produksi SDM Nasional

Selama puluhan tahun, China membangun kekuatan industrinya melalui pendidikan massal berbasis teknik dan manufaktur konvensional. Namun kini, arah pembangunan berubah sangat cepat.

China mulai mengurangi program-program yang:

* lulusannya berlebih,
* tingkat penganggurannya tinggi,
* mudah digantikan AI dan otomasi,
* atau tidak lagi memiliki daya saing industri tinggi.

Sebagai gantinya, China membuka program-program baru seperti:

* Artificial Intelligence
* Intelligent Manufacturing
* New Energy Engineering
* Integrated Circuits
* Robotics
* Data Science
* Smart Agriculture
* Digital Economy
* Low Carbon Technology
* Quantum Information
* Industrial AI
* Smart Transportation
* Cyber-Physical Systems

Artinya, fokus pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan sarjana, tetapi menghasilkan tenaga kerja yang benar-benar sesuai dengan arah transformasi industri nasional.

Lanjut part 2 ๐Ÿ‘‡
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Lanjutan Part 2

Dunia Sedang Bergerak dari โ€œKnowledge Economyโ€ ke โ€œIntelligence Economyโ€

Perubahan ini sesungguhnya mencerminkan transisi global yang lebih besar. Dunia kini bergerak dari ekonomi berbasis pengetahuan menuju ekonomi berbasis kecerdasan.

Pada era sebelumnya, universitas cukup menghasilkan lulusan yang memahami teori dan prosedur kerja. Namun di era AI, kemampuan seperti itu semakin mudah digantikan mesin.

Yang kini dibutuhkan adalah manusia yang mampu:

* berpikir lintas disiplin,
* menggabungkan teknologi dengan kreativitas,
* memecahkan masalah kompleks,
* memahami data,
* mengintegrasikan AI dengan dunia nyata,
* serta mampu beradaptasi cepat terhadap perubahan.

Karena itu, banyak jurusan lama mulai dianggap terlalu sempit, terlalu teoritis, atau tidak cukup fleksibel menghadapi revolusi industri baru.

Indonesia Perlu Membaca Sinyal Ini dengan Serius

Apa yang terjadi di China sebenarnya menjadi peringatan penting bagi perguruan tinggi di Indonesia. Banyak kampus di Indonesia masih menggunakan struktur kurikulum yang dibangun untuk kebutuhan industri 20โ€“30 tahun lalu, sementara dunia kerja berubah jauh lebih cepat dibanding kemampuan kampus beradaptasi.

Ancaman terbesar bukan hanya pengangguran lulusan, tetapi munculnya โ€œirrelevant graduatesโ€ โ€” lulusan yang memiliki ijazah tetapi kompetensinya tidak lagi dibutuhkan industri.

Kondisi ini sangat berbahaya karena:

* teknologi AI berkembang eksponensial,
* otomasi industri semakin murah,
* perusahaan semakin mengurangi middle skill jobs,
* dan kebutuhan industri bergeser ke talenta multidisiplin.

Perguruan tinggi yang tidak cepat bertransformasi berisiko menghasilkan lulusan dengan daya saing rendah.

Jurusan Masa Depan Tidak Lagi Berdiri Sendiri

Model pendidikan masa depan kemungkinan besar tidak lagi berbasis jurusan yang kaku seperti sekarang. Yang berkembang adalah model hybrid interdisciplinary programs, misalnya:

* AI + Energi
* AI + Kesehatan
* AI + Pertanian
* AI + Manajemen Risiko
* AI + Pendidikan
* AI + Psikologi
* Green Energy + Digital System
* Robotics + Manufacturing
* Data Science + Public Policy

Dengan kata lain, masa depan bukan hanya tentang โ€œapa jurusannyaโ€, tetapi seberapa mampu seseorang menggabungkan teknologi, kreativitas, data, dan problem solving dalam satu kompetensi terpadu.

Penutupan Jurusan Bukan Tanda Kemunduran

Banyak orang salah memahami bahwa penutupan jurusan berarti kegagalan pendidikan. Padahal justru sebaliknya. Dalam banyak kasus, itu menunjukkan keberanian melakukan adaptasi.

China tampaknya menyadari bahwa mempertahankan jurusan yang tidak relevan hanya akan memperbesar pengangguran terdidik dan membebani ekonomi nasional.

Karena itu, restrukturisasi pendidikan tinggi dilakukan secara agresif agar universitas benar-benar menjadi mesin penghasil talenta strategis bagi masa depan negara.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi:
โ€œJurusan apa yang populer hari ini?โ€

Tetapi:
"Kompetensi apa yang tetap dibutuhkan manusia ketika AI, robotika, dan otomasi mengambil alih sebagian besar pekerjaan rutin dunia?โ€

๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

#INISIATIF #HappyWeekend
๐Ÿ™1
Oleh: Iwan Kusworo

Selamat pagi, Sahabat!

Ada satu kalimat menarik yang saya temukan pagi ini, masih dari buku What I Wish I Knew About Luck.

โ€œPeople tend to engage more deeply when they feel understood, and showing that youโ€™ve taken the time to learn about their perspectives creates a foundation of trust and mutual interest.โ€

Orang cenderung lebih merasa engage dalam sebuah percakapan ketika mereka merasa dipahami.

Kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah kebiasaan yang saya lakukan setiap kali akan bertemu orang baru, entah itu untuk meeting, training, interview, atau sekadar diskusi santai.

Saya biasanya akan meluangkan waktu untuk melakukan riset kecil terlebih dahulu.

Riset kecil yang saya maksud bukan sesuatu yang rumit. Hanya berbekal smartphone yang ada di genggaman saja.

Yang saya lakukan adalah googling nama mereka. Dari sana saya bisa melihat profil LinkedIn mereka untuk mengetahui perjalanan karirnya. Bisa juga dengan membuka media sosialnya untuk melihat hal-hal yang mereka sukai.

Dan kalau beruntung, terkadang saya menemukan artikel yang pernah mereka tulis atau video yang pernah mereka buat.

Dengan melakukan ini, akan membantu saya dalam memahami perspektif mereka.

Hal-hal apa yang penting bagi mereka. Apa yang mereka kerjakan sehari-hari. Bahasa seperti apa yang biasa mereka gunakan. Topik apa yang membuat mereka bersemangat. Bahkan terkadang, hal-hal apa yang membuat mereka kesal.

Salah satu contoh yang pernah saya alami adalah ketika saya mengetahui dari media sosial seorang peserta training bahwa yang bersangkutan memiliki hobi bersepeda.

Saat sesi berlangsung, saya menggunakan contoh kasus yang berkaitan dengan sepeda.

Kelihatannya sederhana. Tetapi efeknya luar biasa.

Percakapan menjadi lebih hidup. Peserta lebih mudah terhubung dengan materi yang sedang dibahas. Dan saya merasa ada hubungan yang lebih personal yang terbangun di dalam ruangan.

Menurut saya, ini bukan sekadar bentuk persiapan.

Ini adalah bentuk penghormatan.

Kita menunjukkan bahwa waktu mereka cukup berharga sehingga kita mau meluangkan waktu untuk mengenal mereka terlebih dahulu.

Sebagian orang mungkin menyebut ini stalking.

Tetapi dalam kamus saya, ini namanya research. ๐Ÿ˜Š

Dan semakin sering saya melakukannya, semakin saya menyadari bahwa hubungan yang baik sering kali tidak dimulai dari kemampuan berbicara.

Melainkan dari kesediaan untuk mendengarkan dan memahami terlebih dahulu.

Jadi kalau dalam waktu dekat Anda akan bertemu seseorang yang baru, mungkin pesan yang ingin saya sampaikan:

Do your homework first.

Kenali orangnya sebelum Anda menjabat tangannya.

Karena terkadang connection yang paling kuat justru dibangun bahkan sebelum pertemuan itu dimulai.

Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?

Happy a nice day! โค๏ธ

#INISIATIF
๐Ÿ™1
Oleh: Dedi Priadi

Ini adalah kisah nyata, bagaimana kejujuran dapat menyebar berkah dan sekaligus menuntut pengorbanan.

Kemarin sore, selepas saya mengajar kelas Kepemimpinan & Integritas di Lemhannas RI, ada seorang peserta -- katakan namanya Pak T-- tak sengaja bertemu saat kami berdua hendak memesan transportasi online di pelataran depan kantor Lemhannas.

Beliau menyapa saya terlebih dahulu. Setelah memperkenalkan diri, beliau langsung curhat dan mendiskusikan salah satu bahasan materi yang baru saya ajarkan.

"Pak Dedi, apa yang bapak sampaikan tadi benar sekali. Kita harus mengusahakan apa yang keluarga makan itu bersumber dari rezeki yang halal, tidak abu-abu," tutur Pak T.

"Saya merasakan hasilnya, Pak. Anak-anak saya pintar-pintar, Pak. Salah satu anak saya bahkan beberapa kali mendapatkan medali olimpiade sains di tingkat nasional. Tahun lalu ia malah jadi perwakilan Indonesia dalam olimpiade sains tingkat Internasional. Sekarang dia sedang persiapan ujian SAT, karena rencananya dia akan kuliah S1 di Eropa." tambah Pak T dengan nada bangga.

"Oh alhamdulillah, Pak. Bersyukur, anak-anak Bapak cerdas," timbal saya yang mencoba mendengar seksama curhatan Pak T.

Setelah curhat tentang anaknya, Pak T kemudian menceritakan bagaimana ia berjuang untuk jujur.

"Saya pernah dua periode menjabat Ketua Bawaslu daerah. Saya tahu, ada banyak "uang aneh" mungkin masuk kalau kita tidak kuat iman. Maka, di hari pertama saya bilang ke teman-teman anggota lainnya "Rezeki kita itu sudah Allah tentukan, maka jangan aneh-aneh urusan uang ya, kita bekerja profesional saja. Allah nanti pasti bantu," tegas Pak T.

"Alhamdulillah, setelah dua periode saya menjabat, tidak satu pun di antara kami memiliki masalah karena korupsi. Padahal banyak Bawaslu lain setelah menjabat kena kasus korupsi," sambung Pak T.

"Sampai suatu ketika, saya tertarik memiliki jabatan lebih tinggi lagi: menjadi Ketua KPU daerah. Maka saya ikuti semua proses menjadi Ketua KPU daerah, termasuk ๐˜ง๐˜ช๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต. Singkat cerita, saya berpotensi kuat untuk menjadi ketua. Sampai di ujung tes, saya diminta panitia untuk kesanggupan membayar uang 500 Juta ke partai. Di titik itu saya ragu: saya lanjutkan atau mundur," tambah Pak T.

"Seketika itu saya telpon istri saya, saya ceritakan perihal permintaan uang itu. Dan istri saya menjawab, "๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข ๐˜’๐˜—๐˜œ, ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข?" Mendengar kata-kata istri saya merasa terpukul. Dan saat itu juga saya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai calon Ketua KPU daerah." tutur Pak T dengan sedikit lantang.

Dalam sela waktu yang singkat itu, saya kemudian menimpali cerita Pak T itu dengan sebuah kutipan materi saya di ruang kelas:

"Banyak hikmah memelihara kejujuran ya, Pak. Dengan mencoba bertindak jujur, Bapak mungkin tidak akan memiliki banyak teman, tetapi yakinlah Bapak akan akan selalu mendapatkan kawan-kawan yang tepat karena kejujuran Bapak."

Pesanan motor online Pak T keburu sampai, dan percakapan kami berakhir dengan memori pengalaman yang indah malam itu.

#INISIATIF
๐Ÿ™1
Oleh: Iwan Kusworo

Selamat pagi, Sahabat!

Tidak semua hal perlu dijawab. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Dan tidak setiap keheningan harus diisi dengan kata-kata.

Seiring bertambahnya pengalaman, kita belajar bahwa diam bukan berarti lemah. Justru kemampuan untuk tetap tenang ketika orang lain ingin memancing emosi adalah bentuk kekuatan.

Dalam sebuah konflik, sampaikan apa yang perlu disampaikan dengan tenang, lalu berhenti. Dalam sebuah percakapan, dengarkan tanpa terburu-buru memikirkan jawaban. Dalam sebuah wawancara atau presentasi, jangan takut pada jeda. Kadang, beberapa detik keheningan justru membuat kata-kata kita memiliki bobot lebih besar.

Orang yang selalu berbicara mungkin terlihat percaya diri. Tetapi orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam menunjukkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu kendali atas dirinya sendiri.

Kekuatan bukan hanya tentang seberapa baik kita berbicara.

Kekuatan juga tentang kemampuan untuk tetap diam ketika diam adalah pilihan yang paling bijaksana.

Buku apa yang Anda baca hari ini?

Have a nice day! โค๏ธ

#INISIATIF
๐Ÿ”ฅ4
Dari 126 Kantor Cabang, kini 10 terbaik melaju ke Grand Final CX126 ๐Ÿ†

Perjalanan ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang bagaimana setiap Kantor Cabang terus bertumbuh, melakukan improvement, dan menghadirkan Customer Excellence yang semakin berdampak

Kini, 10 finalis siap memberikan yang terbaik di babak terakhir. Siapa yang akan menjadi The Best of The Best? ๐Ÿ‘‘

Siapa jagoanmu? Drop nama KC pilihanmu di kolom komentar yah ๐Ÿ‘‡

https://www.instagram.com/p/Dcw9HeHgYu3/?igsi=MWVyZ2VscmN2eWp3aA==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ”ฅ4
Oleh: Iqbal Aji Daryono

Namanya duwe anak abege, ya gini ini. Bapaknya diajak jajan ke Wizzme. Nggak mau nggudeg ceker apa sego koyor, dia tu.

Sampe sana, barulah si bapak dicurhati. Tentang aktivitasnya di sekolah dan kesibukannya yang belakangan ini hampir setara sepak terjang Gus Ipul itu. Tentang teman-temannya. Tentang beberapa masalahnya. Tentang lain-lainnya (gak bisa saya kode di sini, beberapa gurunya ada di frenlis saya wkwkwk--ngapunten nggih Pak Guruuu hihihi).

Apa pun itu, saya selalu menyampaikan dari dulu: senangkan hatimu kalau dapat masalah. Hanya dengan masalah kamu bisa tumbuh lebih cepat.

Bahkan ketika kemarin dia final lomba ngeband itu, saya secara khusus WA dia untuk memuji tim juri. Sebabnya, salah satu juri keren sekali, dan ia juga bicara tentang masalah. Persisnya, masalah terkait penampilan para finalis.

Ibu juri bilang,

"Teruslah berlatih bersama. Nanti kalian akan semakin tahu bahwa kalian tidak sedang bermain musik sendiri-sendiri. Kalian akan memahami peran masing-masing, mengerti seberapa porsi yang harus dimainkan. Tahu porsi, itu penting sekali."

Tahu porsi. Itu kata kunci yang saya tekankan berulang kepada anak wedok abege saya.

Betapa banyak manusia di muka bumi ini yang ngertinya cuma merangsek ke depan, mengejar prestasi, tanpa peduli dengan porsi. Seolah prestasi adalah kunci kematangan hidup yang paling haqiqi.

Sementara, mengerti porsi diri sendiri dalam orkestra kehidupan tuh mutlak pentingnya. Dari situ, kita gak terlalu lemes saat dibutuhkan, tapi juga gak terlalu agresif saat sebenarnya sedang gak layak mengambil ruang.

Prestasi memang perlu. Tapi, saya katakan tadi padanya sambil nyetir menuju Wizzme, jauh di atas prestasi adalah karakter. Dan, proses dalam meraih prestasi itulah yang akan mematangkan karakter dia, sejengkal demi sejengkal.

"Nanti, yang paling kamu rasakan manfaatnya setiap saat bukanlah sertifikat hasil prestasimu. Tapi karakter yang terbentuk dari prosesmu itu," ucap saya.

"Bapak kan juga bertahan hidup bukan dengan prestasi," saya sambung petuah saya, lengkap dengan gaya egosentris seorang bapack-bapack wkwkkk.

"Bapak gak pernah juara ini-itu, menang ini-itu gak ada. Tapi Bapak bisa menjalani hidup dengan kualitas yang relatif baik ya sebagian karena social life yang baik, emosi yang bisa dibilang stabil, siap tarung dan gak takut ambil risiko, gak gampang ambruk karena cemoohan orang...."

Tentu, kali ini saya belum menyampaikan padanya bahwa bapaknya juga mengembangkan skill ndolob: menjilat atasan dan menggendam klien ๐Ÿ˜›.

Tapi, ah, yang menjijikkan gitu mendingan nanti-nanti saja. Harus saya pastikan dulu kalo dia ogah jadi politisi dan makhluk sejenisnya hoahaha!

#INISIATIF
๐Ÿ™3
Newsletter Edukasi_In_This_Economy.pdf
169.5 KB
IN THIS ECONOMY, JANGAN SAMPAI SAKIT ๐Ÿ’ช

โ€œIuran JKN yang dibayar saat kita sehat bukan sekadar biaya, tetapi tempat kita menitipkan rasa aman.โ€ - Wawan Mulyawan (Ketua Umum Perdokjasi)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ”ฅ2
Menolak Pindah Tugas ๐ŸŒน

Oleh: Cholis Mahsun

Bapak saya dulu PNS guru agama SD dan MI, pindah tugas sudah beberapa kali.

Terakhir tugasnya di MI Gemaharjo 1 kecamatan Watulimo (wilayah pegunungan) dengan jarak tempuh dari rumah sekitar 18 km dengan kondisi jalan waktu itu masih lumayan sulit, aspal banyak yang lepas dan berlubang besar, beberapa kali jatuh sendiri dan kecelakaan dengan orang lain.

2 Oktober tahun 2000 suami saya dilantik jadi Wakil Bupati Trenggalek.
Saat itu bapak saya bertugas di MI Gemaharjo 1 sudah 5 tahun, pensiun masih kurang 4 tahun lagi.

Sekitar 6 bulan setelah suami menjabat Wabup, bapak saya ditawari oleh Kemenag (Kandepag waktu itu) pindah tugas di MI Kendalrejo Durenan yang jarak tempuhnya hanya 1 km dari rumah.
Kebetulan waktu itu ada kekosongan guru karena pensiun.

Tapi Bapak saya menolak, dengan alasan menghindari persepsi negatif orang. Bapak tidak mau ada orang yang menilai bahwa kepindahannya karena KKN (karena menantunya jadi Wabup) ๐Ÿ”ฅ

Karena terus didesak, sampai waktu itu Bapak minta ke suami saya untuk menyampaikan ke pihak Kemenag bahwa bapak tidak usah dipindah. Biarlah tetap di MI Gemaharjo 1 sebagai guru sampai pensiun.

Akhirnya Bapak menyelesaikan tugas gurunya tetap di MI Gemaharjo 1 selama hampir 10 tahun sampai pensiun.

Sampai segitunya Bapak menjaga nama baik semuanya..๐Ÿ‘โค๏ธ
MasyaAllooh.. Tabarokalloh..๐Ÿคฒ

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Dedi Priadi

Ketika ombak terlalu ganas untuk berlayar, nelayan-nelayan itu tidak duduk diam menunggu atau mengeluh. Mereka beralih fokus pada perbaikan jaring.

Inilah inti dari disiplin mengisi waktu senggang. Disiplin bukan hanya tentang bekerja keras saat kondisi mendukung, melainkan tentang memilih untuk tetap produktif ketika pintu utama pekerjaan seolah tertutup rapat.

Jiwa yang solutif melihat kendala sebagai perintah untuk berbenah. Laut yang bergejolak memberi sinyal: tinggalkan pencarian ikan sementara, alihkan energi pada penguatan jaring yang akan menghasilkan panen di masa depan.

Rencana alternatif nelayan-nelayan itu bukanlah sekadar "melakukan hal lain," tetapi melakukan hal yang esensial. Mereka mempertajam alat, memperbaiki yang rusak, memastikan mereka siap optimal saat cuaca cerah kembali.

Filosofi ini mengajarkan kepada kita untuk menghargai kemajuan tersembunyi. Seringkali, kemajuan terbesar tidak terlihat di permukaan, melainkan dalam upaya sunyi memperbaiki keahlian, meninjau balik strategi, dan memperkuat fondasi karakter.

Dengan kita mengubah krisis menjadi waktu persiapan, kita membangun keunggulan kompetitif tersembunyi. Ketika orang lain baru mulai mengikat tali, kita sudah berlayar dengan jaring yang jauh lebih kuat dan efektif.

Hikmahnya, jangan biarkan krisis membuat kita tidak bergerak. Disiplin terbesar kita terletak pada kemampuan untuk mengubah masa jeda menjadi momentum, memastikan setiap badai hanyalah sesi pemeliharaan untuk kesuksesan yang lebih besar.

#INISIATIF
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN ๐Ÿ˜ญ

Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE Bapak @Achmed_id. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhum kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin ๐Ÿคฒ

Selamat jalan, Pahlawan JKN ๐Ÿฅ€
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ˜ข10
Hidup di dalam hati orang-orang yang kita tinggalkan bukanlah sebuah kematian ๐Ÿคฒ

Oleh: Arisdiansah

Kita tidak tahu kepastian kehidupan seseorang setelah kematiannya, apakah dia Husnul khatimah atau tidak. Kita hanya bisa mendoakan kebaikan.

Tetapi ketika seseorang meninggal dengan meninggalkan value dan keteladanan kebaikan yang terus "diwariskan" ke orang-orang yang masih hidup, maka dia telah meninggal, tetapi amalnya tetap "hidup" dan tidak akan pernah putus.

Kita terlahir ke dunia dalam kondisi menangis, sementara orang menyambut kita dengan bahagia.

Semoga kita bisa mati dengan kebahagiaan, sementara sangat banyak orang yang mengantar kepergian kita dalam keadaan menangis.

Thanks buat mereka yang mendahului kita dah mengajarkan kita semua tentang legacy. Semoga Husnul khatimah, semoga semua perjuanganmu menjadi amalan tidak terputus sampai hari akhir nanti.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1