Ijin share link #rekaman kegiatan ATE Edisi 424 "Are You Gaslighting Me? Bedakan Konflik, Kritik, atau Manipulasi" bersama Eva Nur Khofifah. Semoga ilmunya bermanfaat ❤️
https://youtu.be/j0tIEaFMUv8?si=15WnwGRuqqAb5aNF
https://youtu.be/j0tIEaFMUv8?si=15WnwGRuqqAb5aNF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
ATE Edisi 424 Are You Gaslighting Me? Bedakan Konflik, Kritik/ Manipulasi bersama Eva Nur Khofifah
Pernah nggak sih, setelah ngobrol sama seseorang kamu malah jadi mikir, "Eh, jangan-jangan aku yang salah ingat?” 😵💫
Misalnya:
💬 Kamu: “Kamu kemarin bilang akan datang jam 7”
💬 Dia: “Aku nggak pernah bilang begitu. Kamu pasti salah ingat”
Atau kalimat…
Misalnya:
💬 Kamu: “Kamu kemarin bilang akan datang jam 7”
💬 Dia: “Aku nggak pernah bilang begitu. Kamu pasti salah ingat”
Atau kalimat…
🔥1
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Parlindungan Marpaung
Pernahkah Anda mendengar atau membaca kisah tentang dua orang mandor?🌟
Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan sejatinya sedang membangun sesuatu untuk diri kita sendiri. Karena itu, jangan bekerja hanya karena diminta, dan jangan terlalu sibuk menghitung apakah usaha yang kita berikan sudah sebanding dengan apa yang kita terima. Berikan yang terbaik, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Sebab, profesionalisme dan integritas bukan sekadar tentang menyelesaikan pekerjaan, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Apa yang kita bangun hari ini melalui kerja keras, komitmen, dan sikap kita, bisa menjadi bagian penting dari masa depan yang sedang kita siapkan.
Jadi, mari bekerja dengan sepenuh hati, memberi lebih dari yang diharapkan, dan menghasilkan karya yang dapat kita banggakan. Jangan hitung-hitungan dalam memberikan yang terbaik, karena setiap kebaikan dan usaha yang kita tanam, pada waktunya akan kembali menjadi nilai bagi diri kita sendiri.
#INISIATIF
Pernahkah Anda mendengar atau membaca kisah tentang dua orang mandor?
Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan sejatinya sedang membangun sesuatu untuk diri kita sendiri. Karena itu, jangan bekerja hanya karena diminta, dan jangan terlalu sibuk menghitung apakah usaha yang kita berikan sudah sebanding dengan apa yang kita terima. Berikan yang terbaik, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Sebab, profesionalisme dan integritas bukan sekadar tentang menyelesaikan pekerjaan, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Apa yang kita bangun hari ini melalui kerja keras, komitmen, dan sikap kita, bisa menjadi bagian penting dari masa depan yang sedang kita siapkan.
Jadi, mari bekerja dengan sepenuh hati, memberi lebih dari yang diharapkan, dan menghasilkan karya yang dapat kita banggakan. Jangan hitung-hitungan dalam memberikan yang terbaik, karena setiap kebaikan dan usaha yang kita tanam, pada waktunya akan kembali menjadi nilai bagi diri kita sendiri.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥3👍1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤19🔥3🎉2🫡2
ILMU DAPAT, 2 JP DAPAT, GIVEAWAY JUGA DAPAT 🥰 🎁
Kata siapa datang ke kelas ATE cuma bawa pulang ilmu? seperti biasa, pasti akan ada yang pulang bawa bonus giveaway juga🔥
Congratulations untuk dua Sobat ATE yang terpilih sebagai pemenang:
1. Kk Ditha Fradila @fradiladitha (Koordinator Frontliner KC Prabumulih)
2. Kk Meutia Elzami @meutiaelzami (Staf Komsek KC Jakarta Pusat)
Selamat untuk para pemenang dan terima kasih untuk seluruh sobat ATE selindo yang terus hadir, berpartisipasi, dan meramaikan. Sampai bertemu kembali di event fun and meaningful ATE lainnya🇮🇩
Jangan lupa stay humble and stay competitive🏆
#INISIATIF
Kata siapa datang ke kelas ATE cuma bawa pulang ilmu? seperti biasa, pasti akan ada yang pulang bawa bonus giveaway juga
Congratulations untuk dua Sobat ATE yang terpilih sebagai pemenang:
1. Kk Ditha Fradila @fradiladitha (Koordinator Frontliner KC Prabumulih)
2. Kk Meutia Elzami @meutiaelzami (Staf Komsek KC Jakarta Pusat)
Selamat untuk para pemenang dan terima kasih untuk seluruh sobat ATE selindo yang terus hadir, berpartisipasi, dan meramaikan. Sampai bertemu kembali di event fun and meaningful ATE lainnya
Jangan lupa stay humble and stay competitive
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1🔥1
Oleh: Chiendu Putri
Akhir-akhir ini aku sering melihat cerita seperti ini.
“Kalau ada perempuan chat suamimu begini, kamu cemburu nggak?”
Lalu ramai orang memperdebatkan emoji, kata “huhu”, “🥺”, cara mengetik, sampai dianggap sebagai tanda seseorang sedang menggoda pasangan orang.
Yang membuatku gelisah justru bukan chat itu.
Tapi bagaimana hal-hal yang sebenarnya sangat kecil bisa berkembang menjadi sumber kecemasan yang begitu besar.
Aku paham kenapa banyak perempuan menjadi lebih waspada.
Hari ini kita memang hidup di zaman ketika perselingkuhan, pelakor, ghosting, dan pengkhianatan begitu sering muncul di media sosial. Rasanya seperti setiap hari ada cerita baru.
Tidak heran jika banyak orang akhirnya mulai membaca segala sesuatu sebagai ancaman.
Emoji menjadi mencurigakan. Cara mengetik menjadi mencurigakan. Sapaan menjadi mencurigakan. Padahal belum tentu ada apa-apa.
Trauma memang bekerja seperti itu.
Saat seseorang pernah disakiti, otaknya belajar bahwa dunia tidak lagi aman. Akibatnya, ia akan terus mencari tanda-tanda bahaya, bahkan ketika bahaya itu belum tentu benar-benar ada.
Ini adalah cara sistem saraf mencoba melindungi dirinya. Tapiii kalau gak kita disadari, perlindungan ini justru bisa berubah menjadi penjara.
Yang awalnya hanya kewaspadaan…
perlahan berubah menjadi overthinking.
Lalu menjadi prasangka.
Kemudian menjadi interogasi.
Lalu menjadi pertengkaran.
Sampai akhirnya hubungan yang tadinya baik-baik saja jadi retak krna sesuatu yang belum tentu benar-benar terjadi.
Sering kali kita tidak kehilangan pasangan karena orang ketiga.
Tetapi karena ketakutan yang terus diberi makan setiap hari.
Bukan berarti kita harus naif.
Bukan berarti semua orang pasti baik.
Boundaries tetap penting.
Komunikasi tetap penting.
Komitmen tetap penting.
Kalau memang pasangan menunjukkan perilaku yang berulang, menyembunyikan sesuatu, atau melanggar kesepakatan hubungan, tentu itu perlu dibicarakan.
Tetapi jangan sampai kita hidup dengan menganggap semua orang adalah ancaman.
Karena hidup dalam kewaspadaan terus-menerus juga melelahkan.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang dipenuhi pengawasan.
Melainkan hubungan yang dibangun dari dua orang yang sama-sama bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Seseorang yang memahami nilai dirinya tidak akan mudah runtuh hanya karena emoji.
Dan seseorang yang menjaga komitmennya tidak akan tergoda hanya karena ada yang mengetik “huhu 🥺”.
Menurutku, sebelum bertanya,
“Perempuan itu ada maksud apa ya?”
Mungkin sesekali kita juga perlu bertanya,
“Kenapa chat sesederhana ini bisa membuat tubuhku begitu gelisah?”
Karena sering kali, jawaban itu tidak sedang berada di layar hape. Tapi ada pada luka yang belum selesai, atau pantulan arogansi diri saat melihat trend2 serupa menjamur.
Kita boleh waspada.
Tapi jangan sampai kewaspadaan berubah menjadi cara hidup.
Karena ketika kita terus memandang dunia dari lensa ketakutan, kita bukan hanya kehilangan rasa aman.
Kita juga kehilangan kemampuan untuk menikmati cinta yang sebenarnya sedang tumbuh dengan sehat.
Sebab pada akhirnya, hubungan bukan hanya tentang menjaga pasangan dari orang lain.
Tetapi juga menjaga diri sendiri agar tidak dikendalikan oleh luka masa lalu.
#INISIATIF #TGIF
Akhir-akhir ini aku sering melihat cerita seperti ini.
“Kalau ada perempuan chat suamimu begini, kamu cemburu nggak?”
Lalu ramai orang memperdebatkan emoji, kata “huhu”, “🥺”, cara mengetik, sampai dianggap sebagai tanda seseorang sedang menggoda pasangan orang.
Yang membuatku gelisah justru bukan chat itu.
Tapi bagaimana hal-hal yang sebenarnya sangat kecil bisa berkembang menjadi sumber kecemasan yang begitu besar.
Aku paham kenapa banyak perempuan menjadi lebih waspada.
Hari ini kita memang hidup di zaman ketika perselingkuhan, pelakor, ghosting, dan pengkhianatan begitu sering muncul di media sosial. Rasanya seperti setiap hari ada cerita baru.
Tidak heran jika banyak orang akhirnya mulai membaca segala sesuatu sebagai ancaman.
Emoji menjadi mencurigakan. Cara mengetik menjadi mencurigakan. Sapaan menjadi mencurigakan. Padahal belum tentu ada apa-apa.
Trauma memang bekerja seperti itu.
Saat seseorang pernah disakiti, otaknya belajar bahwa dunia tidak lagi aman. Akibatnya, ia akan terus mencari tanda-tanda bahaya, bahkan ketika bahaya itu belum tentu benar-benar ada.
Ini adalah cara sistem saraf mencoba melindungi dirinya. Tapiii kalau gak kita disadari, perlindungan ini justru bisa berubah menjadi penjara.
Yang awalnya hanya kewaspadaan…
perlahan berubah menjadi overthinking.
Lalu menjadi prasangka.
Kemudian menjadi interogasi.
Lalu menjadi pertengkaran.
Sampai akhirnya hubungan yang tadinya baik-baik saja jadi retak krna sesuatu yang belum tentu benar-benar terjadi.
Sering kali kita tidak kehilangan pasangan karena orang ketiga.
Tetapi karena ketakutan yang terus diberi makan setiap hari.
Bukan berarti kita harus naif.
Bukan berarti semua orang pasti baik.
Boundaries tetap penting.
Komunikasi tetap penting.
Komitmen tetap penting.
Kalau memang pasangan menunjukkan perilaku yang berulang, menyembunyikan sesuatu, atau melanggar kesepakatan hubungan, tentu itu perlu dibicarakan.
Tetapi jangan sampai kita hidup dengan menganggap semua orang adalah ancaman.
Karena hidup dalam kewaspadaan terus-menerus juga melelahkan.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang dipenuhi pengawasan.
Melainkan hubungan yang dibangun dari dua orang yang sama-sama bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Seseorang yang memahami nilai dirinya tidak akan mudah runtuh hanya karena emoji.
Dan seseorang yang menjaga komitmennya tidak akan tergoda hanya karena ada yang mengetik “huhu 🥺”.
Menurutku, sebelum bertanya,
“Perempuan itu ada maksud apa ya?”
Mungkin sesekali kita juga perlu bertanya,
“Kenapa chat sesederhana ini bisa membuat tubuhku begitu gelisah?”
Karena sering kali, jawaban itu tidak sedang berada di layar hape. Tapi ada pada luka yang belum selesai, atau pantulan arogansi diri saat melihat trend2 serupa menjamur.
Kita boleh waspada.
Tapi jangan sampai kewaspadaan berubah menjadi cara hidup.
Karena ketika kita terus memandang dunia dari lensa ketakutan, kita bukan hanya kehilangan rasa aman.
Kita juga kehilangan kemampuan untuk menikmati cinta yang sebenarnya sedang tumbuh dengan sehat.
Sebab pada akhirnya, hubungan bukan hanya tentang menjaga pasangan dari orang lain.
Tetapi juga menjaga diri sendiri agar tidak dikendalikan oleh luka masa lalu.
#INISIATIF #TGIF
🙏1
Pernah gak kamu berada di situasi:
Atau pernah juga nggak sih lihat informasi yang kurang tepat di media sosial, terus bingung…
“Perlu diluruskan nggak, ya?”
Misalnya ketika:
Tapi, tentu saja, speak up juga perlu timing, cara, dan pertimbangan. Jangan sampai niatnya meluruskan, malah jadi memperkeruh keadaan
Nah, kapan saatnya speak up dan kapan sebaiknya shut up? Yuk, kita ngobrol bareng
Yuk, jangan lupa merapat di ATE Edisi 425 "Typing, Thinking, Posting: Kapan Harus Speak Up dan Kapan Harus Shut Up?"
🗓 Rabu, 16 September 2026
⏰ 19.00 WIB – selesai
📍 Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
🎁 Ilmu + 2 JP + Doorprize
#INISIATIF #BecomingAnExpertWithATE
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Mencicil itu menghabiskan uang masa depan anda di hari ini.
Di satu sisi, utang adalah salah satu instrumen penggerak ekonomi yang luar biasa. Bahkan bisa dibilang, kemajuan ekonomi yang dirasakan manusia modern ini pondasi utamanya adalah utang.
Utang memungkinkan orang untuk mengembangkan usahanya di luar batas kemampuan uang yang ia miliki. Dengan skala usaha kecil, anda hanya bisa memiliki satu aset usaha dan menggantungkan hidup dari sana.
Tapi melalui utang, anda bisa mengembangkan usaha anda lebih dari kemampuan finansial anda, anda bisa membuka dua, tiga, empat aset usaha di lokasi yang berbeda dan meningkatkan pendapatan anda dari banyaknya sumber pendapatan tadi.
Dengan perencanaan yang matang, banyak orang bisa sukses dan meningkat ekonominya melalui utang.
Tapi di sisi lain, utang berhasil menghancurkan kehidupan banyak orang, karena mereka tidak memiliki perhitungan yang cermat dan karena utangnya digunakan untuk suatu hal yang konsumtif.
Banyak orang hanya fokus pada besaran cicilan dan kemampuan membayar di hari saat cicilan itu diambil, tapi banyak yang tidak memikirkan dampak panjang dan potensi risiko yang mungkin muncul di kemudian hari.
Ketika anda mengambil cicilan motor 700ribu sebulan selama tiga tahun, itu berarti anda sedang menarik uang anda di masa depan untuk digunakan di hari ini. Apakah anda akan tetap mampu membayar cicilan itu dalam waktu tiga tahun? Apakah selama tiga tahun itu kondisi finansial tetap aman meski harus diambil sebesar 700ribu untuk cicilan?
Bayangkan jika itu dilakukan selama 15-20 tahun. Sepanjang waktu itu anda tidak lagi bisa menikmati 700ribu uang anda karena ia sudah diambil di hari ini. Syukur jika pendapatan anda meningkat dan besaran cicilannya tetap, bagaimana jika besaran cicilannya naik karena kenaikan suku bunga dan pendapatan anda justru menurun karena usaha sedang susah?
Ketika anda berutang, anda sebenarnya tidak mencicilnya dengan uang, anda mencicilnya dengan ketenangan hidup di masa depan, maka pertimbangkanlah dengan hati-hati.
#INISIATIF
Mencicil itu menghabiskan uang masa depan anda di hari ini.
Di satu sisi, utang adalah salah satu instrumen penggerak ekonomi yang luar biasa. Bahkan bisa dibilang, kemajuan ekonomi yang dirasakan manusia modern ini pondasi utamanya adalah utang.
Utang memungkinkan orang untuk mengembangkan usahanya di luar batas kemampuan uang yang ia miliki. Dengan skala usaha kecil, anda hanya bisa memiliki satu aset usaha dan menggantungkan hidup dari sana.
Tapi melalui utang, anda bisa mengembangkan usaha anda lebih dari kemampuan finansial anda, anda bisa membuka dua, tiga, empat aset usaha di lokasi yang berbeda dan meningkatkan pendapatan anda dari banyaknya sumber pendapatan tadi.
Dengan perencanaan yang matang, banyak orang bisa sukses dan meningkat ekonominya melalui utang.
Tapi di sisi lain, utang berhasil menghancurkan kehidupan banyak orang, karena mereka tidak memiliki perhitungan yang cermat dan karena utangnya digunakan untuk suatu hal yang konsumtif.
Banyak orang hanya fokus pada besaran cicilan dan kemampuan membayar di hari saat cicilan itu diambil, tapi banyak yang tidak memikirkan dampak panjang dan potensi risiko yang mungkin muncul di kemudian hari.
Ketika anda mengambil cicilan motor 700ribu sebulan selama tiga tahun, itu berarti anda sedang menarik uang anda di masa depan untuk digunakan di hari ini. Apakah anda akan tetap mampu membayar cicilan itu dalam waktu tiga tahun? Apakah selama tiga tahun itu kondisi finansial tetap aman meski harus diambil sebesar 700ribu untuk cicilan?
Bayangkan jika itu dilakukan selama 15-20 tahun. Sepanjang waktu itu anda tidak lagi bisa menikmati 700ribu uang anda karena ia sudah diambil di hari ini. Syukur jika pendapatan anda meningkat dan besaran cicilannya tetap, bagaimana jika besaran cicilannya naik karena kenaikan suku bunga dan pendapatan anda justru menurun karena usaha sedang susah?
Ketika anda berutang, anda sebenarnya tidak mencicilnya dengan uang, anda mencicilnya dengan ketenangan hidup di masa depan, maka pertimbangkanlah dengan hati-hati.
#INISIATIF
👍1
Bismillah, cabang Tartil menjadi pembuka perjuangan Kafilah BPJS Kesehatan. Tunjukkan yang terbaik, ganbatte @Bahdarsupardi 🏆
Saksikan perjuangannya di live stream IG Life at BPJS Kesehatan (Stand bye 08.00 WITA)
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsi=MWtwYWo4NXA3YjY1
Saksikan perjuangannya di live stream IG Life at BPJS Kesehatan (Stand bye 08.00 WITA)
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsi=MWtwYWo4NXA3YjY1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥7🎉3😍1
Tanda-tanda akan Hidup Miskin di Hari Tua!
1) Usia 20-25 tahun, sudah punya penghasilan tetapi belum mengerti cara mengelola uang, tidak menabung, selalu menunda menabung jika diingatkan. Akhirnya sudah usia 30 tahun kehilangan waktu. Tidak terasa sudah kehilangan waktu selama 10 tahun tidak menabung, tidak investasi.
2) Usia 30 tahun, karir mulai bagus, gaji naik tetapi uang hanya numpang lewat saja. Selalu habis untuk kebutuhan yang semakin melonjak. Pengeluaran semakin membesar disebabkan oleh gaya hidup, cicilan hutang, biaya anak, perawatan kecantikan istri, komunitas, reuni, liburan, dll. Akhirnya hingga usia 40 tahun, posisi Keuangan tetap macet, pas-pasan, Saldo tabungan selalu minim, dan sering kosong, hidup ditopang oleh Kartu Kredit, KTA, Pay later, atau Pinjol.
3) Usia 40 tahun, kerja semakin keras, gaji naik tinggi, tetapi cicilan hutang semakin banyak, mulai membiayai gaya hidup istri dan anak. Tabungan dan Investasi terus saja tertunda, digeser nanti saja, hingga usia 50 tahun hasilnya Tidak pernah investasi apapun.
4) Usia 50 Tahun, Pensiun semakin dekat, tabungan pensiun masih minim, justru biaya hidup semakin besar, biaya sekolah anak-anak, gaya hidup anak, tubuh mulai tidak prima, stress tekanan ekonomi. Kegagalan hidup nyaman menikmati hari tua didepan mata. Ini serius!
Bagaimana cara menghindarinya? Agar Anda kelak bisa menikmati hari tuamu dengan nyaman?
1) Sejak usia 20 tahun, mulai belajar mengelola uang, buat cash flow positip, Pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran.
2) Selamatkan minimal 30% penghasilan masuk Tabungan, sisanya untuk kebutuhan hidup dan bersenang-senang. Jangan dibalik, yang ditabung sisanya.
3) Mulai investasi Emas dan Saham.
4) Lakukan secara konsisten dan disiplin.
R Noto Widjojo
Bersama Rektor UGM Ibu Prof. DR.Ova Emillia dan para Dekan.
#INISIATIF
1) Usia 20-25 tahun, sudah punya penghasilan tetapi belum mengerti cara mengelola uang, tidak menabung, selalu menunda menabung jika diingatkan. Akhirnya sudah usia 30 tahun kehilangan waktu. Tidak terasa sudah kehilangan waktu selama 10 tahun tidak menabung, tidak investasi.
2) Usia 30 tahun, karir mulai bagus, gaji naik tetapi uang hanya numpang lewat saja. Selalu habis untuk kebutuhan yang semakin melonjak. Pengeluaran semakin membesar disebabkan oleh gaya hidup, cicilan hutang, biaya anak, perawatan kecantikan istri, komunitas, reuni, liburan, dll. Akhirnya hingga usia 40 tahun, posisi Keuangan tetap macet, pas-pasan, Saldo tabungan selalu minim, dan sering kosong, hidup ditopang oleh Kartu Kredit, KTA, Pay later, atau Pinjol.
3) Usia 40 tahun, kerja semakin keras, gaji naik tinggi, tetapi cicilan hutang semakin banyak, mulai membiayai gaya hidup istri dan anak. Tabungan dan Investasi terus saja tertunda, digeser nanti saja, hingga usia 50 tahun hasilnya Tidak pernah investasi apapun.
4) Usia 50 Tahun, Pensiun semakin dekat, tabungan pensiun masih minim, justru biaya hidup semakin besar, biaya sekolah anak-anak, gaya hidup anak, tubuh mulai tidak prima, stress tekanan ekonomi. Kegagalan hidup nyaman menikmati hari tua didepan mata. Ini serius!
Bagaimana cara menghindarinya? Agar Anda kelak bisa menikmati hari tuamu dengan nyaman?
1) Sejak usia 20 tahun, mulai belajar mengelola uang, buat cash flow positip, Pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran.
2) Selamatkan minimal 30% penghasilan masuk Tabungan, sisanya untuk kebutuhan hidup dan bersenang-senang. Jangan dibalik, yang ditabung sisanya.
3) Mulai investasi Emas dan Saham.
4) Lakukan secara konsisten dan disiplin.
R Noto Widjojo
Bersama Rektor UGM Ibu Prof. DR.Ova Emillia dan para Dekan.
#INISIATIF
👍2
Bismillah, perjuangan Kafilah BPJS Kesehatan di hari ketiga pada cabang Tartil. Tunjukkan yang terbaik, ganbatte @sarah_basarang🏆
Saksikan perjuangannya di live stream IG Life at BPJS Kesehatan (Stand bye 08.30 WITA)
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsi=MWtwYWo4NXA3YjY1
Saksikan perjuangannya di live stream IG Life at BPJS Kesehatan (Stand bye 08.30 WITA)
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsi=MWtwYWo4NXA3YjY1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🏆4👍1
Bukan cuma menjadi wajah pelayanan, tapi juga menjadi jembatan antara kebutuhan dan harapan peserta 🫶
Buat frontliner BPJS Kesehatan, setiap interaksi bukan sekadar percakapan. Ada cerita, kekhawatiran, bahkan harapan yang datang bersama setiap peserta. Karena kadang, solusi dimulai dari hal sederhana yakni mau mendengarkan, mau memahami, dan mau peduli
Yuk mari simak cerita rekan kita melalui video berikut ini👇
https://www.instagram.com/reel/Dcf1poDpKSa/?igsi=MXY5anpmbm9hOXcxeQ==
📸 @rayindaaliya22
Buat frontliner BPJS Kesehatan, setiap interaksi bukan sekadar percakapan. Ada cerita, kekhawatiran, bahkan harapan yang datang bersama setiap peserta. Karena kadang, solusi dimulai dari hal sederhana yakni mau mendengarkan, mau memahami, dan mau peduli
Yuk mari simak cerita rekan kita melalui video berikut ini
https://www.instagram.com/reel/Dcf1poDpKSa/?igsi=MXY5anpmbm9hOXcxeQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1🔥1🥰1
ANTARA MAKECCI DAN MAKEMME
Oleh: Dul Abdul Rahman
“Tidak apa-apa hidupmu MAKECCI, yang penting jangan MAKEMME!”
Ungkapan ini bukan sekadar pepatah ringan; ia adalah salah satu bentuk kebijaksanaan Bugis yang mengajarkan keberanian merasakan hidup dalam seluruh spektrumnya, termasuk rasa kecut, pahit, getir, dan segala bentuk ketidaknyamanan yang seringkali kita hindari.
Dalam perspektif budaya Bugis, rasa bukan hanya soal indera, tetapi juga soal makna, daya tahan, dan arah hidup.
Hidup, kata orang Bugis, selalu bergerak antara MACENNING (manis) dan MAKECCI (kecut). Kita sering mendambakan yang manis, tetapi justru yang kecutlah yang memperkuat karakter. Rasa KECCI dihadirkan untuk menegaskan arti CENNING.
Bagaimana mungkin kita mengetahui manisnya keberhasilan bila kita tak pernah merasakan getirnya kegagalan? Bagaimana kita memahami keindahan kebahagiaan bila kita tak pernah diuji oleh kepahitan perjalanan?
Karena itu, orang Bugis tidak mengajarkan penolakan terhadap rasa MAKECCI. Justru sebaliknya, menerimanya sebagai bagian dari ritme hidup. MAKECCI itu tandanya hidup bergerak, hidup bergulat, hidup diuji. Seperti buah yang belum matang, kecutnya adalah tanda bahwa proses masih berjalan, dan pematangan masih mungkin terjadi.
Namun ada satu kondisi yang lebih ditakuti daripada MAKECCI, yaitu MAKEMME (hambar), tanpa rasa, tanpa arah, tanpa perjuangan.
MAKECCI adalah tanda kita sedang berjuang.
MAKEMME adalah tanda kita sedang menyerah.
Di sinilah makna perjuangan menjadi inti dari filsafat hidup Bugis. Kalau hidup kita terasa “MAKECCI” (kurang berhasil, belum mencapai apa yang diinginkan) itu bukan alasan untuk berhenti. Dalam dunia Bugis, manusia dipandang sebagai makhluk yang harus MAKKARESO, berusaha, bergerak, dan menjaga martabat diri lewat kerja keras.
Filsuf Jerman, Friedrich Schiller, pernah berkata, “Hidup yang tak diperjuangkan tak akan pernah dimenangkan.” Ungkapan ini sejalan dengan jiwa SIRI' NA PESSE, dua pilar martabat dalam budaya Bugis. SIRI' memberi manusia harga diri untuk terus bangkit, sementara PESSE memberi empati dan kekuatan batin untuk menanggung rasa pedih dalam perjalanan.
Tetapi tetap saja, berbagai bentuk ikhtiar manusia selalu berhadapan dengan kenyataan kosmis: PADA LAO TEPPADA UPE, setiap orang berjalan di jalan yang sama, tetapi tidak dengan nasib yang sama. Ada yang cepat manis, ada yang lama kecut, ada yang diuji berkali-kali sebelum menemukan sedikit saja rasa CENNING. Dan semua itu bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari takaran hidup masing-masing.
Karena itu, MAKECCI boleh, sebab ia mendewasakan.
MAKECCI boleh, sebab itu tanda kau masih bergerak.
MAKECCI boleh, sebab ia mengajarkan makna manis yang sebenarnya.
Tetapi MAKEMME jangan. Jangan biarkan hidupmu hambar, tanpa upaya, tanpa makna, tanpa perjuangan. Hidup yang hambar adalah hidup yang tidak dijalani dengan sepenuh jiwa, hidup yang kehilangan arah, hidup tanpa keberanian merasakan pahit dan manisnya kehidupan.
Pada akhirnya, kehidupan bukan soal mencari rasa yang paling enak, melainkan menerima seluruh rasa yang hadir dan tetap melangkah dengan hati yang teguh. Sebab justru dari MAKECCI-lah kita belajar menjadi manusia yang lebih utuh, yang tahu bahwa setiap rasa memiliki arti dan setiap perjalanan memiliki pelajaran.
MAKECCI boleh!
MAKEMME jangan!
Tabek!
#INISIATIF
Oleh: Dul Abdul Rahman
“Tidak apa-apa hidupmu MAKECCI, yang penting jangan MAKEMME!”
Ungkapan ini bukan sekadar pepatah ringan; ia adalah salah satu bentuk kebijaksanaan Bugis yang mengajarkan keberanian merasakan hidup dalam seluruh spektrumnya, termasuk rasa kecut, pahit, getir, dan segala bentuk ketidaknyamanan yang seringkali kita hindari.
Dalam perspektif budaya Bugis, rasa bukan hanya soal indera, tetapi juga soal makna, daya tahan, dan arah hidup.
Hidup, kata orang Bugis, selalu bergerak antara MACENNING (manis) dan MAKECCI (kecut). Kita sering mendambakan yang manis, tetapi justru yang kecutlah yang memperkuat karakter. Rasa KECCI dihadirkan untuk menegaskan arti CENNING.
Bagaimana mungkin kita mengetahui manisnya keberhasilan bila kita tak pernah merasakan getirnya kegagalan? Bagaimana kita memahami keindahan kebahagiaan bila kita tak pernah diuji oleh kepahitan perjalanan?
Karena itu, orang Bugis tidak mengajarkan penolakan terhadap rasa MAKECCI. Justru sebaliknya, menerimanya sebagai bagian dari ritme hidup. MAKECCI itu tandanya hidup bergerak, hidup bergulat, hidup diuji. Seperti buah yang belum matang, kecutnya adalah tanda bahwa proses masih berjalan, dan pematangan masih mungkin terjadi.
Namun ada satu kondisi yang lebih ditakuti daripada MAKECCI, yaitu MAKEMME (hambar), tanpa rasa, tanpa arah, tanpa perjuangan.
MAKECCI adalah tanda kita sedang berjuang.
MAKEMME adalah tanda kita sedang menyerah.
Di sinilah makna perjuangan menjadi inti dari filsafat hidup Bugis. Kalau hidup kita terasa “MAKECCI” (kurang berhasil, belum mencapai apa yang diinginkan) itu bukan alasan untuk berhenti. Dalam dunia Bugis, manusia dipandang sebagai makhluk yang harus MAKKARESO, berusaha, bergerak, dan menjaga martabat diri lewat kerja keras.
Filsuf Jerman, Friedrich Schiller, pernah berkata, “Hidup yang tak diperjuangkan tak akan pernah dimenangkan.” Ungkapan ini sejalan dengan jiwa SIRI' NA PESSE, dua pilar martabat dalam budaya Bugis. SIRI' memberi manusia harga diri untuk terus bangkit, sementara PESSE memberi empati dan kekuatan batin untuk menanggung rasa pedih dalam perjalanan.
Tetapi tetap saja, berbagai bentuk ikhtiar manusia selalu berhadapan dengan kenyataan kosmis: PADA LAO TEPPADA UPE, setiap orang berjalan di jalan yang sama, tetapi tidak dengan nasib yang sama. Ada yang cepat manis, ada yang lama kecut, ada yang diuji berkali-kali sebelum menemukan sedikit saja rasa CENNING. Dan semua itu bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari takaran hidup masing-masing.
Karena itu, MAKECCI boleh, sebab ia mendewasakan.
MAKECCI boleh, sebab itu tanda kau masih bergerak.
MAKECCI boleh, sebab ia mengajarkan makna manis yang sebenarnya.
Tetapi MAKEMME jangan. Jangan biarkan hidupmu hambar, tanpa upaya, tanpa makna, tanpa perjuangan. Hidup yang hambar adalah hidup yang tidak dijalani dengan sepenuh jiwa, hidup yang kehilangan arah, hidup tanpa keberanian merasakan pahit dan manisnya kehidupan.
Pada akhirnya, kehidupan bukan soal mencari rasa yang paling enak, melainkan menerima seluruh rasa yang hadir dan tetap melangkah dengan hati yang teguh. Sebab justru dari MAKECCI-lah kita belajar menjadi manusia yang lebih utuh, yang tahu bahwa setiap rasa memiliki arti dan setiap perjalanan memiliki pelajaran.
MAKECCI boleh!
MAKEMME jangan!
Tabek!
#INISIATIF
❤1👌1
Bismillah, hari keempat perjuangan Kafilah BPJS Kesehatan. Hari ini kita akan berjuang pada cabang Hafalan Juz 30. Tunjukkan yang terbaik, ganbatte @Firnanda56🏆
Saksikan perjuangannya di live stream IG Life at BPJS Kesehatan (Stand bye 13.15 WITA)
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsi=MWtwYWo4NXA3YjY1
Saksikan perjuangannya di live stream IG Life at BPJS Kesehatan (Stand bye 13.15 WITA)
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsi=MWtwYWo4NXA3YjY1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥2👏1
TEROR KEMATIAN DATANG BERTUBI-TUBI
Oleh: Budiman Hakim
Hanya dalam waktu tiga bulan, tiga teman baik saya meninggal dunia. Tiga loh. Bukan satu. Temen baik loh bukan cuma sekedar temen. Yang terakhir malahan usianya masih muda banget.
"Teror" kematian yang bertubi-tubi itu, membuat saya jadi sering merenung. Bukan karena takut mati. Tapi membuat saya sadar, ternyata kematian begitu dekat. Kemarin masih ngobrol. Masih bercanda. Besoknya, namanya sudah masuk dalam percakapan dengan kalimat, “Innalillahi...”
Ada satu hal yang unik. Saat kita sedang bersedih, dunia sama sekali gak peduli. Coba lihat keluar; Jaklingko tetap beroperasi. Warteg Bahari tetap buka. Jalanan Jakarta tetap macet. Seolah-olah memang gak terjadi apa-apa.
Bagaimana dengan sosmed? Gak ada bedanya. Orang tetap saling berdebat tentang apakah Tuhan menciptakan manusia atau manusia menciptakan Tuhan. Surga itu dongeng atau bukan. Tetap saling maki tanpa peduli bahwa antrean kematian semakin dekat. Memang begitulah cara kehidupan bekerja.
Meninggal, bisa jadi, bukan tentang kehilangan. Meninggal adalah tentang memberi ruang bagi kehidupan berikutnya. Tentu saja, dari sisi yang ditinggalkan, kematian tetap menyakitkan. Kita kehilangan teman.
Tapi mungkin justru karena kematian itu pasti, hidup menjadi berharga. Bayangkan kalau tahu kita gak akan pernah mati. Mungkin gak ada alasan untuk buru-buru jatuh cinta. Gak ada alasan untuk meminta maaf. Gak ada alasan untuk berkarya. Kita bisa menundanya sampai kapan saja.
Sayangnya kita tidak punya kemewahan itu. Kita gak tahu berapa banyak waktu yang masih kita punya. Sempat terpikir, jangan-jangan yang paling menyedihkan bukan kematian. Yang paling menyedihkan adalah ketika kita menyadari bahwa selama hidup di dunia, kita tidak pernah benar-benar hidup. Tidak pernah melakukan apa-apa. Bukankah itu lebih menyakitkan dari kematian.
Tiga teman baik sudah pergi. Lalu giliran kita kapan? Bisa 10 tahun lagi, bisa juga besok pagi. Gak ada seorang pun yang tahu. Kita memang tidak bisa memilih kapan meninggal. Tapi Kita bisa memilih bagaimana menjalani hidup sebelum kematian datang. Bahwa kita tidak hanya mencari makan tapi juga mencari makna.
Bye, Guys. Semoga kalian bertiga masuk sorga. Kalau ada....
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Budiman Hakim
Hanya dalam waktu tiga bulan, tiga teman baik saya meninggal dunia. Tiga loh. Bukan satu. Temen baik loh bukan cuma sekedar temen. Yang terakhir malahan usianya masih muda banget.
"Teror" kematian yang bertubi-tubi itu, membuat saya jadi sering merenung. Bukan karena takut mati. Tapi membuat saya sadar, ternyata kematian begitu dekat. Kemarin masih ngobrol. Masih bercanda. Besoknya, namanya sudah masuk dalam percakapan dengan kalimat, “Innalillahi...”
Ada satu hal yang unik. Saat kita sedang bersedih, dunia sama sekali gak peduli. Coba lihat keluar; Jaklingko tetap beroperasi. Warteg Bahari tetap buka. Jalanan Jakarta tetap macet. Seolah-olah memang gak terjadi apa-apa.
Bagaimana dengan sosmed? Gak ada bedanya. Orang tetap saling berdebat tentang apakah Tuhan menciptakan manusia atau manusia menciptakan Tuhan. Surga itu dongeng atau bukan. Tetap saling maki tanpa peduli bahwa antrean kematian semakin dekat. Memang begitulah cara kehidupan bekerja.
Meninggal, bisa jadi, bukan tentang kehilangan. Meninggal adalah tentang memberi ruang bagi kehidupan berikutnya. Tentu saja, dari sisi yang ditinggalkan, kematian tetap menyakitkan. Kita kehilangan teman.
Tapi mungkin justru karena kematian itu pasti, hidup menjadi berharga. Bayangkan kalau tahu kita gak akan pernah mati. Mungkin gak ada alasan untuk buru-buru jatuh cinta. Gak ada alasan untuk meminta maaf. Gak ada alasan untuk berkarya. Kita bisa menundanya sampai kapan saja.
Sayangnya kita tidak punya kemewahan itu. Kita gak tahu berapa banyak waktu yang masih kita punya. Sempat terpikir, jangan-jangan yang paling menyedihkan bukan kematian. Yang paling menyedihkan adalah ketika kita menyadari bahwa selama hidup di dunia, kita tidak pernah benar-benar hidup. Tidak pernah melakukan apa-apa. Bukankah itu lebih menyakitkan dari kematian.
Tiga teman baik sudah pergi. Lalu giliran kita kapan? Bisa 10 tahun lagi, bisa juga besok pagi. Gak ada seorang pun yang tahu. Kita memang tidak bisa memilih kapan meninggal. Tapi Kita bisa memilih bagaimana menjalani hidup sebelum kematian datang. Bahwa kita tidak hanya mencari makan tapi juga mencari makna.
Bye, Guys. Semoga kalian bertiga masuk sorga. Kalau ada....
#INISIATIF #TGIF
🙏1
KEP DEWAN HAKIM FINALIS MTQ VIII KORPRI 2026.pdf
312.9 KB
KEP DEWAN HAKIM FINALIS MTQ VIII KORPRI 2026.pdf
Sampai Di Sini Dulu Perjuangan Kami🤝
Kafilah BPJS Kesehatan telah berjuang dan memberikan yang terbaik. Meski belum berhasil melaju ke Top 6 pada MTQ VIII KORPRI Nasional kali ini, kami semua tetap pulang membawa pengalaman dan kebanggaan❤️
Terima kasih untuk doa, dukungan, dan arahan Bapak/Ibu Direksi, Senior Leader, Ketua KORPRI, para Leaders, serta seluruh Duta BPJS Kesehatan se-Indonesia🇲🇨
Kalah hari ini bukan akhir. Sampai bertemu di perjuangan berikutnya🔥 🏆
Salam hormat🙏
Pembina dan Pengarah
Pak @gusmustopa
Pak @siswandi_paeran
Pak @miqbalam
Ibu @asyraf_mursalina
Pak @adiocree
Ibu @elshetheresia
Pak @Daengsubkhan
Pak @Aqabah
Kafilah
Ketua kontingen: Pak @ancha87
Official: @mumuamiruddin
Official: @yusufsyahgani
Tartil: @Bahdarsupardi
Tartil: @sarah_basarang
Khutbah: @muhammadcudi
Juz 30: @Firnanda56
Azan: @fdhidayah
#INISIATIF
Sampai Di Sini Dulu Perjuangan Kami
Kafilah BPJS Kesehatan telah berjuang dan memberikan yang terbaik. Meski belum berhasil melaju ke Top 6 pada MTQ VIII KORPRI Nasional kali ini, kami semua tetap pulang membawa pengalaman dan kebanggaan
Terima kasih untuk doa, dukungan, dan arahan Bapak/Ibu Direksi, Senior Leader, Ketua KORPRI, para Leaders, serta seluruh Duta BPJS Kesehatan se-Indonesia
Kalah hari ini bukan akhir. Sampai bertemu di perjuangan berikutnya
Salam hormat
Pembina dan Pengarah
Pak @gusmustopa
Pak @siswandi_paeran
Pak @miqbalam
Ibu @asyraf_mursalina
Pak @adiocree
Ibu @elshetheresia
Pak @Daengsubkhan
Pak @Aqabah
Kafilah
Ketua kontingen: Pak @ancha87
Official: @mumuamiruddin
Official: @yusufsyahgani
Tartil: @Bahdarsupardi
Tartil: @sarah_basarang
Khutbah: @muhammadcudi
Juz 30: @Firnanda56
Azan: @fdhidayah
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1🔥1🙏1
Forwarded from adi darmawan
Forwarded from adi darmawan
Assalamu'alaikum wr wb,pagi Kawan2 ijin share dan berkenan like and repost yah
Forwarded from Hafid Mahesa
Hai, ketemu lagi di Sudut Meja. ☕️
Pernahkah sebuah film terus terlintas di pikiranmu bahkan setelah selesai ditonton?
Bukan karena adegan aksinya, melainkan karena ada pesan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan kita sendiri.
Di edisi kali ini, mari sejenak melihat The Prestige, bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cermin untuk memahami ambisi, persaingan, dan diri kita sendiri.
Pernahkah sebuah film terus terlintas di pikiranmu bahkan setelah selesai ditonton?
Bukan karena adegan aksinya, melainkan karena ada pesan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan kita sendiri.
Di edisi kali ini, mari sejenak melihat The Prestige, bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cermin untuk memahami ambisi, persaingan, dan diri kita sendiri.
SIXTH TONE
Why China’s Universities Are Ditching Their Engineering Programs
Universities are revamping their degree offerings in line with the government’s economic priorities.
Menarik utk disimak, bagi persiapan putra-putri kita 🤝
Oleh: Andi Thahir
Ketika China Menutup Ratusan Program Studi: Tanda Besar Perubahan Dunia Kerja dan Pendidikan Global
Gelombang penutupan program studi di berbagai universitas besar di China menjadi sinyal kuat bahwa dunia pendidikan tinggi sedang memasuki fase transformasi paling drastis dalam beberapa dekade terakhir. Negara yang selama ini dikenal sangat agresif membangun kekuatan teknologi, manufaktur, dan riset ternyata mulai memangkas banyak jurusan lama yang dianggap tidak lagi selaras dengan kebutuhan industri masa depan.
Salah satu kasus paling mencolok datang dari Sichuan University yang pada tahun 2024 mengumumkan penghentian 31 program studi sekaligus. Langkah ini bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari restrukturisasi pendidikan nasional China yang jauh lebih besar. Menurut laporan [Sixth Tone](https://www.sixthtone.com/news/1015732?utm_source=chatgpt.com), sepanjang tahun 2024 terdapat 19 universitas di China yang menghentikan total 99 program studi. Bahkan Ministry of Education of the People's Republic of China mengonfirmasi bahwa pemerintah China menghapus sekitar 1.670 program studi dan pada saat yang sama membuka 1.673 program baru yang dianggap lebih relevan dengan arah ekonomi masa depan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi di China kini bergerak sangat adaptif terhadap perubahan pasar kerja, perkembangan teknologi, dan transformasi industri global.
Jurusan yang Ditutup Bukan Sekadar Jurusan “Lemah"
Yang menarik, banyak program studi yang dihentikan justru berasal dari bidang teknik, sains, dan industri yang dahulu dianggap strategis. Beberapa di antaranya meliputi:
* Teknik Metalurgi
* Teknik Tekstil
* Teknik Lingkungan
* Teknik Hidrologi dan Sumber Daya Air
* Teknik Keamanan (Safety Engineering)
* Teknik Jaringan
* Information Security
* Electronic Science and Technology
* Bioteknologi
* Fisika Nuklir
* Fisika Material
* Kimia Material
Selain itu, sejumlah jurusan bisnis dan sosial juga terkena dampak:
* Administrasi Publik
* Asuransi
* E-Commerce
* Information Management
* Public Administration
Bahkan bidang seni kreatif seperti Animasi, Penyiaran Televisi, Musicology, dan Seni Pertunjukan ikut dihentikan di beberapa kampus.
Langkah ini memperlihatkan bahwa masalah utama bukan sekadar “jurusan bagus atau tidak bagus”, melainkan apakah kompetensi yang diajarkan masih sesuai dengan kebutuhan ekonomi baru berbasis AI, otomasi, digitalisasi, green economy, dan industrial intelligence.
China Sedang Mengubah Mesin Produksi SDM Nasional
Selama puluhan tahun, China membangun kekuatan industrinya melalui pendidikan massal berbasis teknik dan manufaktur konvensional. Namun kini, arah pembangunan berubah sangat cepat.
China mulai mengurangi program-program yang:
* lulusannya berlebih,
* tingkat penganggurannya tinggi,
* mudah digantikan AI dan otomasi,
* atau tidak lagi memiliki daya saing industri tinggi.
Sebagai gantinya, China membuka program-program baru seperti:
* Artificial Intelligence
* Intelligent Manufacturing
* New Energy Engineering
* Integrated Circuits
* Robotics
* Data Science
* Smart Agriculture
* Digital Economy
* Low Carbon Technology
* Quantum Information
* Industrial AI
* Smart Transportation
* Cyber-Physical Systems
Artinya, fokus pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan sarjana, tetapi menghasilkan tenaga kerja yang benar-benar sesuai dengan arah transformasi industri nasional.
Lanjut part 2👇
Oleh: Andi Thahir
Ketika China Menutup Ratusan Program Studi: Tanda Besar Perubahan Dunia Kerja dan Pendidikan Global
Gelombang penutupan program studi di berbagai universitas besar di China menjadi sinyal kuat bahwa dunia pendidikan tinggi sedang memasuki fase transformasi paling drastis dalam beberapa dekade terakhir. Negara yang selama ini dikenal sangat agresif membangun kekuatan teknologi, manufaktur, dan riset ternyata mulai memangkas banyak jurusan lama yang dianggap tidak lagi selaras dengan kebutuhan industri masa depan.
Salah satu kasus paling mencolok datang dari Sichuan University yang pada tahun 2024 mengumumkan penghentian 31 program studi sekaligus. Langkah ini bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari restrukturisasi pendidikan nasional China yang jauh lebih besar. Menurut laporan [Sixth Tone](https://www.sixthtone.com/news/1015732?utm_source=chatgpt.com), sepanjang tahun 2024 terdapat 19 universitas di China yang menghentikan total 99 program studi. Bahkan Ministry of Education of the People's Republic of China mengonfirmasi bahwa pemerintah China menghapus sekitar 1.670 program studi dan pada saat yang sama membuka 1.673 program baru yang dianggap lebih relevan dengan arah ekonomi masa depan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi di China kini bergerak sangat adaptif terhadap perubahan pasar kerja, perkembangan teknologi, dan transformasi industri global.
Jurusan yang Ditutup Bukan Sekadar Jurusan “Lemah"
Yang menarik, banyak program studi yang dihentikan justru berasal dari bidang teknik, sains, dan industri yang dahulu dianggap strategis. Beberapa di antaranya meliputi:
* Teknik Metalurgi
* Teknik Tekstil
* Teknik Lingkungan
* Teknik Hidrologi dan Sumber Daya Air
* Teknik Keamanan (Safety Engineering)
* Teknik Jaringan
* Information Security
* Electronic Science and Technology
* Bioteknologi
* Fisika Nuklir
* Fisika Material
* Kimia Material
Selain itu, sejumlah jurusan bisnis dan sosial juga terkena dampak:
* Administrasi Publik
* Asuransi
* E-Commerce
* Information Management
* Public Administration
Bahkan bidang seni kreatif seperti Animasi, Penyiaran Televisi, Musicology, dan Seni Pertunjukan ikut dihentikan di beberapa kampus.
Langkah ini memperlihatkan bahwa masalah utama bukan sekadar “jurusan bagus atau tidak bagus”, melainkan apakah kompetensi yang diajarkan masih sesuai dengan kebutuhan ekonomi baru berbasis AI, otomasi, digitalisasi, green economy, dan industrial intelligence.
China Sedang Mengubah Mesin Produksi SDM Nasional
Selama puluhan tahun, China membangun kekuatan industrinya melalui pendidikan massal berbasis teknik dan manufaktur konvensional. Namun kini, arah pembangunan berubah sangat cepat.
China mulai mengurangi program-program yang:
* lulusannya berlebih,
* tingkat penganggurannya tinggi,
* mudah digantikan AI dan otomasi,
* atau tidak lagi memiliki daya saing industri tinggi.
Sebagai gantinya, China membuka program-program baru seperti:
* Artificial Intelligence
* Intelligent Manufacturing
* New Energy Engineering
* Integrated Circuits
* Robotics
* Data Science
* Smart Agriculture
* Digital Economy
* Low Carbon Technology
* Quantum Information
* Industrial AI
* Smart Transportation
* Cyber-Physical Systems
Artinya, fokus pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan sarjana, tetapi menghasilkan tenaga kerja yang benar-benar sesuai dengan arah transformasi industri nasional.
Lanjut part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Lanjutan Part 2
Dunia Sedang Bergerak dari “Knowledge Economy” ke “Intelligence Economy”
Perubahan ini sesungguhnya mencerminkan transisi global yang lebih besar. Dunia kini bergerak dari ekonomi berbasis pengetahuan menuju ekonomi berbasis kecerdasan.
Pada era sebelumnya, universitas cukup menghasilkan lulusan yang memahami teori dan prosedur kerja. Namun di era AI, kemampuan seperti itu semakin mudah digantikan mesin.
Yang kini dibutuhkan adalah manusia yang mampu:
* berpikir lintas disiplin,
* menggabungkan teknologi dengan kreativitas,
* memecahkan masalah kompleks,
* memahami data,
* mengintegrasikan AI dengan dunia nyata,
* serta mampu beradaptasi cepat terhadap perubahan.
Karena itu, banyak jurusan lama mulai dianggap terlalu sempit, terlalu teoritis, atau tidak cukup fleksibel menghadapi revolusi industri baru.
Indonesia Perlu Membaca Sinyal Ini dengan Serius
Apa yang terjadi di China sebenarnya menjadi peringatan penting bagi perguruan tinggi di Indonesia. Banyak kampus di Indonesia masih menggunakan struktur kurikulum yang dibangun untuk kebutuhan industri 20–30 tahun lalu, sementara dunia kerja berubah jauh lebih cepat dibanding kemampuan kampus beradaptasi.
Ancaman terbesar bukan hanya pengangguran lulusan, tetapi munculnya “irrelevant graduates” — lulusan yang memiliki ijazah tetapi kompetensinya tidak lagi dibutuhkan industri.
Kondisi ini sangat berbahaya karena:
* teknologi AI berkembang eksponensial,
* otomasi industri semakin murah,
* perusahaan semakin mengurangi middle skill jobs,
* dan kebutuhan industri bergeser ke talenta multidisiplin.
Perguruan tinggi yang tidak cepat bertransformasi berisiko menghasilkan lulusan dengan daya saing rendah.
Jurusan Masa Depan Tidak Lagi Berdiri Sendiri
Model pendidikan masa depan kemungkinan besar tidak lagi berbasis jurusan yang kaku seperti sekarang. Yang berkembang adalah model hybrid interdisciplinary programs, misalnya:
* AI + Energi
* AI + Kesehatan
* AI + Pertanian
* AI + Manajemen Risiko
* AI + Pendidikan
* AI + Psikologi
* Green Energy + Digital System
* Robotics + Manufacturing
* Data Science + Public Policy
Dengan kata lain, masa depan bukan hanya tentang “apa jurusannya”, tetapi seberapa mampu seseorang menggabungkan teknologi, kreativitas, data, dan problem solving dalam satu kompetensi terpadu.
Penutupan Jurusan Bukan Tanda Kemunduran
Banyak orang salah memahami bahwa penutupan jurusan berarti kegagalan pendidikan. Padahal justru sebaliknya. Dalam banyak kasus, itu menunjukkan keberanian melakukan adaptasi.
China tampaknya menyadari bahwa mempertahankan jurusan yang tidak relevan hanya akan memperbesar pengangguran terdidik dan membebani ekonomi nasional.
Karena itu, restrukturisasi pendidikan tinggi dilakukan secara agresif agar universitas benar-benar menjadi mesin penghasil talenta strategis bagi masa depan negara.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi:
“Jurusan apa yang populer hari ini?”
Tetapi:
"Kompetensi apa yang tetap dibutuhkan manusia ketika AI, robotika, dan otomasi mengambil alih sebagian besar pekerjaan rutin dunia?”
🙏🙏🙏
#INISIATIF #HappyWeekend
Dunia Sedang Bergerak dari “Knowledge Economy” ke “Intelligence Economy”
Perubahan ini sesungguhnya mencerminkan transisi global yang lebih besar. Dunia kini bergerak dari ekonomi berbasis pengetahuan menuju ekonomi berbasis kecerdasan.
Pada era sebelumnya, universitas cukup menghasilkan lulusan yang memahami teori dan prosedur kerja. Namun di era AI, kemampuan seperti itu semakin mudah digantikan mesin.
Yang kini dibutuhkan adalah manusia yang mampu:
* berpikir lintas disiplin,
* menggabungkan teknologi dengan kreativitas,
* memecahkan masalah kompleks,
* memahami data,
* mengintegrasikan AI dengan dunia nyata,
* serta mampu beradaptasi cepat terhadap perubahan.
Karena itu, banyak jurusan lama mulai dianggap terlalu sempit, terlalu teoritis, atau tidak cukup fleksibel menghadapi revolusi industri baru.
Indonesia Perlu Membaca Sinyal Ini dengan Serius
Apa yang terjadi di China sebenarnya menjadi peringatan penting bagi perguruan tinggi di Indonesia. Banyak kampus di Indonesia masih menggunakan struktur kurikulum yang dibangun untuk kebutuhan industri 20–30 tahun lalu, sementara dunia kerja berubah jauh lebih cepat dibanding kemampuan kampus beradaptasi.
Ancaman terbesar bukan hanya pengangguran lulusan, tetapi munculnya “irrelevant graduates” — lulusan yang memiliki ijazah tetapi kompetensinya tidak lagi dibutuhkan industri.
Kondisi ini sangat berbahaya karena:
* teknologi AI berkembang eksponensial,
* otomasi industri semakin murah,
* perusahaan semakin mengurangi middle skill jobs,
* dan kebutuhan industri bergeser ke talenta multidisiplin.
Perguruan tinggi yang tidak cepat bertransformasi berisiko menghasilkan lulusan dengan daya saing rendah.
Jurusan Masa Depan Tidak Lagi Berdiri Sendiri
Model pendidikan masa depan kemungkinan besar tidak lagi berbasis jurusan yang kaku seperti sekarang. Yang berkembang adalah model hybrid interdisciplinary programs, misalnya:
* AI + Energi
* AI + Kesehatan
* AI + Pertanian
* AI + Manajemen Risiko
* AI + Pendidikan
* AI + Psikologi
* Green Energy + Digital System
* Robotics + Manufacturing
* Data Science + Public Policy
Dengan kata lain, masa depan bukan hanya tentang “apa jurusannya”, tetapi seberapa mampu seseorang menggabungkan teknologi, kreativitas, data, dan problem solving dalam satu kompetensi terpadu.
Penutupan Jurusan Bukan Tanda Kemunduran
Banyak orang salah memahami bahwa penutupan jurusan berarti kegagalan pendidikan. Padahal justru sebaliknya. Dalam banyak kasus, itu menunjukkan keberanian melakukan adaptasi.
China tampaknya menyadari bahwa mempertahankan jurusan yang tidak relevan hanya akan memperbesar pengangguran terdidik dan membebani ekonomi nasional.
Karena itu, restrukturisasi pendidikan tinggi dilakukan secara agresif agar universitas benar-benar menjadi mesin penghasil talenta strategis bagi masa depan negara.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi:
“Jurusan apa yang populer hari ini?”
Tetapi:
"Kompetensi apa yang tetap dibutuhkan manusia ketika AI, robotika, dan otomasi mengambil alih sebagian besar pekerjaan rutin dunia?”
🙏🙏🙏
#INISIATIF #HappyWeekend
🙏1
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat pagi, Sahabat!
Ada satu kalimat menarik yang saya temukan pagi ini, masih dari buku What I Wish I Knew About Luck.
“People tend to engage more deeply when they feel understood, and showing that you’ve taken the time to learn about their perspectives creates a foundation of trust and mutual interest.”
Orang cenderung lebih merasa engage dalam sebuah percakapan ketika mereka merasa dipahami.
Kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah kebiasaan yang saya lakukan setiap kali akan bertemu orang baru, entah itu untuk meeting, training, interview, atau sekadar diskusi santai.
Saya biasanya akan meluangkan waktu untuk melakukan riset kecil terlebih dahulu.
Riset kecil yang saya maksud bukan sesuatu yang rumit. Hanya berbekal smartphone yang ada di genggaman saja.
Yang saya lakukan adalah googling nama mereka. Dari sana saya bisa melihat profil LinkedIn mereka untuk mengetahui perjalanan karirnya. Bisa juga dengan membuka media sosialnya untuk melihat hal-hal yang mereka sukai.
Dan kalau beruntung, terkadang saya menemukan artikel yang pernah mereka tulis atau video yang pernah mereka buat.
Dengan melakukan ini, akan membantu saya dalam memahami perspektif mereka.
Hal-hal apa yang penting bagi mereka. Apa yang mereka kerjakan sehari-hari. Bahasa seperti apa yang biasa mereka gunakan. Topik apa yang membuat mereka bersemangat. Bahkan terkadang, hal-hal apa yang membuat mereka kesal.
Salah satu contoh yang pernah saya alami adalah ketika saya mengetahui dari media sosial seorang peserta training bahwa yang bersangkutan memiliki hobi bersepeda.
Saat sesi berlangsung, saya menggunakan contoh kasus yang berkaitan dengan sepeda.
Kelihatannya sederhana. Tetapi efeknya luar biasa.
Percakapan menjadi lebih hidup. Peserta lebih mudah terhubung dengan materi yang sedang dibahas. Dan saya merasa ada hubungan yang lebih personal yang terbangun di dalam ruangan.
Menurut saya, ini bukan sekadar bentuk persiapan.
Ini adalah bentuk penghormatan.
Kita menunjukkan bahwa waktu mereka cukup berharga sehingga kita mau meluangkan waktu untuk mengenal mereka terlebih dahulu.
Sebagian orang mungkin menyebut ini stalking.
Tetapi dalam kamus saya, ini namanya research. 😊
Dan semakin sering saya melakukannya, semakin saya menyadari bahwa hubungan yang baik sering kali tidak dimulai dari kemampuan berbicara.
Melainkan dari kesediaan untuk mendengarkan dan memahami terlebih dahulu.
Jadi kalau dalam waktu dekat Anda akan bertemu seseorang yang baru, mungkin pesan yang ingin saya sampaikan:
Do your homework first.
Kenali orangnya sebelum Anda menjabat tangannya.
Karena terkadang connection yang paling kuat justru dibangun bahkan sebelum pertemuan itu dimulai.
Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?
Happy a nice day! ❤️
#INISIATIF
Selamat pagi, Sahabat!
Ada satu kalimat menarik yang saya temukan pagi ini, masih dari buku What I Wish I Knew About Luck.
“People tend to engage more deeply when they feel understood, and showing that you’ve taken the time to learn about their perspectives creates a foundation of trust and mutual interest.”
Orang cenderung lebih merasa engage dalam sebuah percakapan ketika mereka merasa dipahami.
Kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah kebiasaan yang saya lakukan setiap kali akan bertemu orang baru, entah itu untuk meeting, training, interview, atau sekadar diskusi santai.
Saya biasanya akan meluangkan waktu untuk melakukan riset kecil terlebih dahulu.
Riset kecil yang saya maksud bukan sesuatu yang rumit. Hanya berbekal smartphone yang ada di genggaman saja.
Yang saya lakukan adalah googling nama mereka. Dari sana saya bisa melihat profil LinkedIn mereka untuk mengetahui perjalanan karirnya. Bisa juga dengan membuka media sosialnya untuk melihat hal-hal yang mereka sukai.
Dan kalau beruntung, terkadang saya menemukan artikel yang pernah mereka tulis atau video yang pernah mereka buat.
Dengan melakukan ini, akan membantu saya dalam memahami perspektif mereka.
Hal-hal apa yang penting bagi mereka. Apa yang mereka kerjakan sehari-hari. Bahasa seperti apa yang biasa mereka gunakan. Topik apa yang membuat mereka bersemangat. Bahkan terkadang, hal-hal apa yang membuat mereka kesal.
Salah satu contoh yang pernah saya alami adalah ketika saya mengetahui dari media sosial seorang peserta training bahwa yang bersangkutan memiliki hobi bersepeda.
Saat sesi berlangsung, saya menggunakan contoh kasus yang berkaitan dengan sepeda.
Kelihatannya sederhana. Tetapi efeknya luar biasa.
Percakapan menjadi lebih hidup. Peserta lebih mudah terhubung dengan materi yang sedang dibahas. Dan saya merasa ada hubungan yang lebih personal yang terbangun di dalam ruangan.
Menurut saya, ini bukan sekadar bentuk persiapan.
Ini adalah bentuk penghormatan.
Kita menunjukkan bahwa waktu mereka cukup berharga sehingga kita mau meluangkan waktu untuk mengenal mereka terlebih dahulu.
Sebagian orang mungkin menyebut ini stalking.
Tetapi dalam kamus saya, ini namanya research. 😊
Dan semakin sering saya melakukannya, semakin saya menyadari bahwa hubungan yang baik sering kali tidak dimulai dari kemampuan berbicara.
Melainkan dari kesediaan untuk mendengarkan dan memahami terlebih dahulu.
Jadi kalau dalam waktu dekat Anda akan bertemu seseorang yang baru, mungkin pesan yang ingin saya sampaikan:
Do your homework first.
Kenali orangnya sebelum Anda menjabat tangannya.
Karena terkadang connection yang paling kuat justru dibangun bahkan sebelum pertemuan itu dimulai.
Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?
Happy a nice day! ❤️
#INISIATIF
🙏1