Forwarded from Chandra 🇮🇩
pagi ini diingatkan oleh Ibu Ketua DJSN tentang pesan ini
semoga semakin menguatkan integritas duta BPJS Kesehatan
#jaga diri jaga teman jaga bpjs kesehatan
✊️
semoga semakin menguatkan integritas duta BPJS Kesehatan
#jaga diri jaga teman jaga bpjs kesehatan
✊️
Forwarded from Chandra 🇮🇩
https://www.instagram.com/p/Da-GZdYlAM9/?img_index=2&igsh=YXhta282cmMyNXVr
Mohon doa dan dukungan untuk karya kolaborasi Duta BPJS Kesehatan
Semoga memberi manfaat untuk Indonesia
#salam integritas ✊
Mohon doa dan dukungan untuk karya kolaborasi Duta BPJS Kesehatan
Semoga memberi manfaat untuk Indonesia
#salam integritas ✊
Instagram
Instagram
Media number out of range
Oleh: Muhammad Farid Maricar
Dulu saya termasuk orang yang cenderung pesimis dan menganggap bahwa IQ adalah sesuatu yang stabil, tidak berubah, dan merupakan bawaan dari gen.
Tapi dari cerita Sabda PS, ada sudut pandang yang jauh lebih menarik, bahwa kecerdasan itu ternyata bisa dibentuk, bahkan ditingkatkan secara signifikan, jika kita tahu bagian mana yang perlu dilatih.
Sabda pernah tes IQ saat kecil dan hasilnya hanya sekitar 114, angka yang tergolong biasa saja. Namun seiring waktu, nilainya terus meningkat hingga mencapai 160. Kenaikan ini bukan karena “tiba-tiba jadi jenius”, tapi karena ada proses panjang yang melibatkan latihan yang tepat dan, yang paling penting, peran orang tua yang sangat aktif.
Ibunya, meskipun bukan psikolog, sangat tertarik pada personal development dan memperlakukan Sabda seperti sebuah “project”.
Ia diarahkan untuk belajar banyak hal semisal bermain musik, coding, menulis esai setiap minggu, hingga mempresentasikan pikirannya secara rutin. Tanpa disadari, semua aktivitas ini melatih berbagai aspek kognitif, dari logika, kreativitas, hingga kemampuan komunikasi.
Yang menarik, pendekatan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi memperbaiki “bottleneck” dalam cara berpikir. Sabda menyadari bahwa kecerdasan itu tidak tunggal. Seseorang bisa kuat di satu sisi, tapi lemah di sisi lain.
Misalnya, ketika ketelitiannya rendah, ia dilatih dengan programming. Ketika cara bicaranya tidak terstruktur, ia dipaksa menulis dan presentasi. Dengan memperbaiki titik-titik lemah ini, kemampuan berpikir secara keseluruhan ikut meningkat. Di sinilah terlihat bahwa meningkatkan IQ bukan soal belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang lebih tepat.
Penjelasan ini juga sejalan dengan konsep Relational Frame Theory, yang menyebut bahwa kecerdasan bukan ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita miliki, tetapi seberapa banyak hubungan yang bisa kita bangun antar informasi tersebut. Dua orang bisa punya pengetahuan yang sama, tapi yang satu terlihat lebih cerdas karena ia mampu menghubungkan berbagai konsep dengan lebih baik.
Kalau ditarik ke konsep berpikir, ini sangat berkaitan dengan second order thinking. Bukan hanya bertanya “bagaimana cara jadi pintar?”, tapi “apa yang membuat seseorang tidak berkembang, dan jika itu diperbaiki, apa efek jangka panjangnya?”.
Orang tua Sabda tidak hanya fokus pada hasil, tapi pada proses dan dampaknya ke depan. Mereka tidak sekadar menyuruh belajar, tapi mendesain lingkungan yang memaksa cara berpikirnya berkembang.
Dari sini kita bisa melihat bahwa kecerdasan bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Ia lebih mirip sistem yang bisa di-upgrade, selama kita tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Dan mungkin, ini juga berlaku bukan hanya dalam konteks belajar, tapi dalam hidup secara keseluruhan bahwa bukan tentang seberapa cepat kita bergerak sekarang, tapi seberapa dalam kita memahami konsekuensi dari setiap langkah yang kita ambil.
Pada akhirnya, cerita ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis atau ditentukan sekali seumur hidup. Ia bisa dilatih, diarahkan, dan ditingkatkan, selama kita mau melihat lebih dalam, bukan hanya di permukaan. Bukan sekadar belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang tepat, memperbaiki titik lemah, dan membangun koneksi antar pemahaman.
Wallahu 'alam bish showab
#INISIATIF
Dulu saya termasuk orang yang cenderung pesimis dan menganggap bahwa IQ adalah sesuatu yang stabil, tidak berubah, dan merupakan bawaan dari gen.
Tapi dari cerita Sabda PS, ada sudut pandang yang jauh lebih menarik, bahwa kecerdasan itu ternyata bisa dibentuk, bahkan ditingkatkan secara signifikan, jika kita tahu bagian mana yang perlu dilatih.
Sabda pernah tes IQ saat kecil dan hasilnya hanya sekitar 114, angka yang tergolong biasa saja. Namun seiring waktu, nilainya terus meningkat hingga mencapai 160. Kenaikan ini bukan karena “tiba-tiba jadi jenius”, tapi karena ada proses panjang yang melibatkan latihan yang tepat dan, yang paling penting, peran orang tua yang sangat aktif.
Ibunya, meskipun bukan psikolog, sangat tertarik pada personal development dan memperlakukan Sabda seperti sebuah “project”.
Ia diarahkan untuk belajar banyak hal semisal bermain musik, coding, menulis esai setiap minggu, hingga mempresentasikan pikirannya secara rutin. Tanpa disadari, semua aktivitas ini melatih berbagai aspek kognitif, dari logika, kreativitas, hingga kemampuan komunikasi.
Yang menarik, pendekatan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi memperbaiki “bottleneck” dalam cara berpikir. Sabda menyadari bahwa kecerdasan itu tidak tunggal. Seseorang bisa kuat di satu sisi, tapi lemah di sisi lain.
Misalnya, ketika ketelitiannya rendah, ia dilatih dengan programming. Ketika cara bicaranya tidak terstruktur, ia dipaksa menulis dan presentasi. Dengan memperbaiki titik-titik lemah ini, kemampuan berpikir secara keseluruhan ikut meningkat. Di sinilah terlihat bahwa meningkatkan IQ bukan soal belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang lebih tepat.
Penjelasan ini juga sejalan dengan konsep Relational Frame Theory, yang menyebut bahwa kecerdasan bukan ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita miliki, tetapi seberapa banyak hubungan yang bisa kita bangun antar informasi tersebut. Dua orang bisa punya pengetahuan yang sama, tapi yang satu terlihat lebih cerdas karena ia mampu menghubungkan berbagai konsep dengan lebih baik.
Kalau ditarik ke konsep berpikir, ini sangat berkaitan dengan second order thinking. Bukan hanya bertanya “bagaimana cara jadi pintar?”, tapi “apa yang membuat seseorang tidak berkembang, dan jika itu diperbaiki, apa efek jangka panjangnya?”.
Orang tua Sabda tidak hanya fokus pada hasil, tapi pada proses dan dampaknya ke depan. Mereka tidak sekadar menyuruh belajar, tapi mendesain lingkungan yang memaksa cara berpikirnya berkembang.
Dari sini kita bisa melihat bahwa kecerdasan bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Ia lebih mirip sistem yang bisa di-upgrade, selama kita tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Dan mungkin, ini juga berlaku bukan hanya dalam konteks belajar, tapi dalam hidup secara keseluruhan bahwa bukan tentang seberapa cepat kita bergerak sekarang, tapi seberapa dalam kita memahami konsekuensi dari setiap langkah yang kita ambil.
Pada akhirnya, cerita ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis atau ditentukan sekali seumur hidup. Ia bisa dilatih, diarahkan, dan ditingkatkan, selama kita mau melihat lebih dalam, bukan hanya di permukaan. Bukan sekadar belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang tepat, memperbaiki titik lemah, dan membangun koneksi antar pemahaman.
Wallahu 'alam bish showab
#INISIATIF
Di balik keberlanjutan Program JKN, ada banyak cerita yang mungkin belum pernah kamu dengar ✅
Salah satunya adalah kisah Duta BPJS Kesehatan ini. Sebagai penyandang disabilitas tunadaksa yang berkarya di Kedeputian Bidang Aktuaria, ia membuktikan bahwa kontribusi tidak selalu terlihat, tetapi selalu bermakna👏
Bravo Duta BPJS Kesehatan🇲🇨
https://www.instagram.com/reel/Db5YZoHJ5q2/?igsh=NXQ1ZG9rZ3FyYzdy
📸 @Bimavl
Salah satunya adalah kisah Duta BPJS Kesehatan ini. Sebagai penyandang disabilitas tunadaksa yang berkarya di Kedeputian Bidang Aktuaria, ia membuktikan bahwa kontribusi tidak selalu terlihat, tetapi selalu bermakna
Bravo Duta BPJS Kesehatan
https://www.instagram.com/reel/Db5YZoHJ5q2/?igsh=NXQ1ZG9rZ3FyYzdy
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2
Oleh: Hendy Mustiko Aji
Short talk sama istri sebelum sahur...
Kita berdua ngobrolin orang-orang yg belum bisa berdamai sama diri mereka sendiri karena gengsi dan tersandera validasi orang lain.
Orang-orang yg sangat berat hatinya mengakui kekurangan atau kesalahan, karena yg demikian berarti mendegradasi harga diri.
Orang-orang seperti ini sangat dekat dgn karakter arogan atau angkuh.
Padahal ketika mulut dipaksa bilang:
"Maaf saya memang salah..."
"Maaf saya gak tau..."
"Maaf....."
.... rasanya sangat melegakan di hati..
Ketika kata-kata tersebut terucap, niscaya seketika runtuh pondasi arogansi dan keangkuhan di hati.
Hati jadi terasa lebih bersih dan lembut. Nasihat akan lebih mudah masuk dan mengiluminasi sampai ke relung hati. Trust me!
Yes, ini pengalaman pribadi. Walhamdulillah ☺️
Kalo salah, akui salah. Gak usah denial cari pembelaan diri.
Kalo gak bisa, akui gak bisa. Gak usah sok jago.
Kalo miskin, akui miskin. Gak usah sok kaya.
This is the art of berdamai dengan diri sendiri, lepas dari tersandera validasi orang lain ☺️🫰
#INISIATIF
Short talk sama istri sebelum sahur...
Kita berdua ngobrolin orang-orang yg belum bisa berdamai sama diri mereka sendiri karena gengsi dan tersandera validasi orang lain.
Orang-orang yg sangat berat hatinya mengakui kekurangan atau kesalahan, karena yg demikian berarti mendegradasi harga diri.
Orang-orang seperti ini sangat dekat dgn karakter arogan atau angkuh.
Padahal ketika mulut dipaksa bilang:
"Maaf saya memang salah..."
"Maaf saya gak tau..."
"Maaf....."
.... rasanya sangat melegakan di hati..
Ketika kata-kata tersebut terucap, niscaya seketika runtuh pondasi arogansi dan keangkuhan di hati.
Hati jadi terasa lebih bersih dan lembut. Nasihat akan lebih mudah masuk dan mengiluminasi sampai ke relung hati. Trust me!
Yes, ini pengalaman pribadi. Walhamdulillah ☺️
Kalo salah, akui salah. Gak usah denial cari pembelaan diri.
Kalo gak bisa, akui gak bisa. Gak usah sok jago.
Kalo miskin, akui miskin. Gak usah sok kaya.
This is the art of berdamai dengan diri sendiri, lepas dari tersandera validasi orang lain ☺️🫰
#INISIATIF
Pernah nggak sih, setelah ngobrol sama seseorang kamu malah jadi mikir, "Eh, jangan-jangan aku yang salah ingat?”😵💫
Misalnya:💬 Kamu: “Kamu kemarin bilang akan datang jam 7”💬 Dia: “Aku nggak pernah bilang begitu. Kamu pasti salah ingat”
Atau kalimat-kalimat seperti:
“Kamu terlalu sensitif”
“Itu cuma bercanda, jangan lebay”
“Semua ini cuma ada di kepalamu”
Sounds familiar?👀
Bisa jadi kita sedang berhadapan dengan gaslighting, yaitu bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang mulai meragukan ingatan, persepsi, perasaan, bahkan penilaiannya sendiri.
Yuk, jangan lupa merapat di ATE Edisi 424 "Are You Gaslighting Me? Bedakan Konflik, Kritik, atau Manipulasi"
🗓 Rabu, 19 Agustus 2026
⏰ 19.00 WIB – selesai
📍 Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
🎁 Ilmu + 2 JP + Doorprize
#INISIATIF #BecomingAnExpertWithATE
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
OLAH-OLAH BAHLIL DI HMI CABANG IRIAN JAYA
Oleh: Yusran Darmawan
Dia masih menjadi sopir angkot ketika bergabung di HMI. Bahkan ketika masih menjadi aktivis HMI, dia ditahan aparat hingga 11 kali. Di HMI, dia menemukan pelajaran penting yang membawanya ke posisi penting republik ini.
“Bahlil adalah orang yang benar-benar ditempa dari nol,” kata Hasbi. Sebelum menjadi pengusaha, menurutnya, Bahlil belum mempunyai apa-apa. Jalan hidupnya tidak mulus.
Mungkin justru karena kemiskinan itulah HMI menjadi menarik baginya. Di sana ia melihat sebuah paradoks: banyak senior hidup pas-pasan, tetapi mempunyai pengaruh besar.
Mereka bisa kekurangan uang makan, menumpang tidur, bahkan berutang, tetapi mempunyai kapasitas intelektual dan jaringan yang membuat pendapat mereka diperhitungkan. Bahlil menemukan bahwa ada jenis modal lain selain uang.
Ada pengetahuan. Ada kepercayaan. Ada keberanian. Ada jaringan. Semuanya bisa dibangun.
Ia kemudian merumuskan metafora yang khas mengenai “pangkat” dalam organisasi. Ada orang berpangkat jenderal tetapi berjiwa kopral: jabatannya tinggi, tetapi tidak memiliki kapasitas dan otoritas moral.
Sebaliknya, ada orang berpangkat kopral tetapi berjiwa jenderal. Jabatannya mungkin rendah, tetapi orang mendengarkannya karena ia memiliki kemampuan membaca keadaan, membangun jaringan, dan memegang prinsip. Bahlil memilih yang kedua. Pengaruh tidak selalu datang dari jabatan.
Baca selengkapnya👇
https://www.timur-angin.com/2026/08/olah-olah-bahlil-di-hmi-cabang-irian.html
#INISIATIF #Yakusa
Oleh: Yusran Darmawan
Dia masih menjadi sopir angkot ketika bergabung di HMI. Bahkan ketika masih menjadi aktivis HMI, dia ditahan aparat hingga 11 kali. Di HMI, dia menemukan pelajaran penting yang membawanya ke posisi penting republik ini.
“Bahlil adalah orang yang benar-benar ditempa dari nol,” kata Hasbi. Sebelum menjadi pengusaha, menurutnya, Bahlil belum mempunyai apa-apa. Jalan hidupnya tidak mulus.
Mungkin justru karena kemiskinan itulah HMI menjadi menarik baginya. Di sana ia melihat sebuah paradoks: banyak senior hidup pas-pasan, tetapi mempunyai pengaruh besar.
Mereka bisa kekurangan uang makan, menumpang tidur, bahkan berutang, tetapi mempunyai kapasitas intelektual dan jaringan yang membuat pendapat mereka diperhitungkan. Bahlil menemukan bahwa ada jenis modal lain selain uang.
Ada pengetahuan. Ada kepercayaan. Ada keberanian. Ada jaringan. Semuanya bisa dibangun.
Ia kemudian merumuskan metafora yang khas mengenai “pangkat” dalam organisasi. Ada orang berpangkat jenderal tetapi berjiwa kopral: jabatannya tinggi, tetapi tidak memiliki kapasitas dan otoritas moral.
Sebaliknya, ada orang berpangkat kopral tetapi berjiwa jenderal. Jabatannya mungkin rendah, tetapi orang mendengarkannya karena ia memiliki kemampuan membaca keadaan, membangun jaringan, dan memegang prinsip. Bahlil memilih yang kedua. Pengaruh tidak selalu datang dari jabatan.
Baca selengkapnya
https://www.timur-angin.com/2026/08/olah-olah-bahlil-di-hmi-cabang-irian.html
#INISIATIF #Yakusa
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥3
ijin share buat kewaspadaan diri sendiri maupun keluarga 🚨
https://www.instagram.com/p/DbpKB4HGa_4/?igsh=aWN0ZjN1M3Z1c2ky
#rehat
https://www.instagram.com/p/DbpKB4HGa_4/?igsh=aWN0ZjN1M3Z1c2ky
#rehat
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Specialist atau Generalist: Mana yang Bikin Kariermu Ngebut? 🤔
Malam itu saya dinner dengan beberapa mentee saya di sebuah restaurant di Pacific Place. Dan setelah berbasa-basi, sambil makan malam, seorang di antara mereka, sebut saja namanya Bastian, bertanya,”Pak Pam, apakah saat kita masih muda ini, kita harus mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang specialist atau generalist ya Pak?”. Wow, great question! Sambil makan spageti carbonara di depan saya, kami pun meneruskan diskusi ini.
Saya pun memulai diskusi. Pada awal ya memang kita harus menjadi specialist dalam bidang kita, Saya pernah menjadi tele communication engineer, dan memang saya specialist dalam mengkonfigurasi traffic channel di BTS, meng-install BTS bahkan trouble-shoot BTS yang sedang tidak berfungsi dengan baik. Tapi setelah itu, kemudian saat jalur karier saya mulai naik, dan untuk beberapa jabatan management, ya saya harus menjadi generalist, dan harus mengerti tentang business acumen, strategy, finance, dll.
Specialist atau Generalist? Jawaban singkatnya: bukan memilih salah satu, tetapi mengetahui kapan harus menjadi specialist dan kapan harus menjadi generalist.
Model yang banyak digunakan saat ini adalah T-shaped professional. T-shaped career adalah kombinasi antara specialist dan generalist
• Vertical (I): Specialist → memiliki keahlian yang sangat dalam pada satu bidang sehingga menjadi orang yang diandalkan.
• Horizontal (—): Generalist → memahami berbagai disiplin lain sehingga mampu berkolaborasi, melihat gambaran besar, dan memimpin.
“Sebenarnya, apa plus dan minusnya menjadi specialist atau generalist sih pak?”
Jalur karier Specialist itu Cocok jika Anda Ingin membangun reputasi expert professional, atau Bekerja di bidang yang membutuhkan keahlian teknis tinggi (dokter, engineer, data scientist, geologist, programmer, lawyer, dll.).
Keunggulan menjadi specialist adalah: Lebih mudah dikenal sebagai ahli, Nilai pasar (gaji seorang expert) biasanya lebih tinggi dan Sulit digantikan karena memiliki expertise. Dan di jaman sekarang, banyak sekali specialist yang mendapatkan gaji dan kompensasi yang tinggi (setelah mendapatkan expertise yang cukup tinggi).
“Kalau jalur generalist? Bagaimana Pak?”
Jalur karier sebagai Generalist akan penting jika anda berminat menjadi Supervisor, Manager, General Manager, Director , CEO. Karena Seorang pemimpin perlu memahami Strategi, Keuangan, Operasi, SDM, Teknologi, Marketing, Manajemen risiko, dll. Seorang leader tidak harus menjadi ahli di semuanya, tetapi harus cukup memahami untuk mengambil keputusan yang baik.
“Jadi kesimpulannya? Apakah Pak Pam bisa merekomendasikan career path yang ideal?”
Tidak ada yang ideal. Tanyakan dalam hati anda sendiri. Kalau memang passion menjadi specialist (seseorang yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan keahlian yang sangat mendalam pada satu bidang tertentu, dan dikenal memiliki depth of knowledge (kedalaman pengetahuan), Menguasai teori dan praktik secara mendalam, Mampu menyelesaikan masalah yang kompleks di bidangnya, dan Menjadi tempat bertanya atau mentor bagi orang lain, ya silahkan terus menerus mempelajari bidang yang anda tekuni, anda pelajari sampai anda menjadi yang terbaik dalam bidang itu.
“Kalau kita ingin menjadi Director, bagaimana pak?”
Salah satu Model pengembangan karier di jalur generalist adalah:
Phase 1: Jadilah specialist dulu. Bangun kompetensi yang sangat kuat.
Phase 2: Perluas wawasan menjadi specialist dengan perspektif generalist.
Phase 3: Jika ingin memimpin organisasi, berkembanglah menjadi strategic generalist yang tetap memiliki satu kekuatan inti (signature expertise).
“Menarik, Pak. Apakah ada key take away yang bisa kami ingat nanti di rumah?”
Prinsipnya sederhana: Depth creates credibility. Breadth creates opportunity. Leadership requires both. Atau dalam bahasa Indonesia: Keahlian yang mendalam membuat orang mempercayai Anda. Wawasan yang luas membuat Anda mampu memimpin. Karier terbaik dibangun dengan memiliki keduanya.
Salam Hangat,
Pambudi Sunarsihanto
#INISIATIF #TGIF
Malam itu saya dinner dengan beberapa mentee saya di sebuah restaurant di Pacific Place. Dan setelah berbasa-basi, sambil makan malam, seorang di antara mereka, sebut saja namanya Bastian, bertanya,”Pak Pam, apakah saat kita masih muda ini, kita harus mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang specialist atau generalist ya Pak?”. Wow, great question! Sambil makan spageti carbonara di depan saya, kami pun meneruskan diskusi ini.
Saya pun memulai diskusi. Pada awal ya memang kita harus menjadi specialist dalam bidang kita, Saya pernah menjadi tele communication engineer, dan memang saya specialist dalam mengkonfigurasi traffic channel di BTS, meng-install BTS bahkan trouble-shoot BTS yang sedang tidak berfungsi dengan baik. Tapi setelah itu, kemudian saat jalur karier saya mulai naik, dan untuk beberapa jabatan management, ya saya harus menjadi generalist, dan harus mengerti tentang business acumen, strategy, finance, dll.
Specialist atau Generalist? Jawaban singkatnya: bukan memilih salah satu, tetapi mengetahui kapan harus menjadi specialist dan kapan harus menjadi generalist.
Model yang banyak digunakan saat ini adalah T-shaped professional. T-shaped career adalah kombinasi antara specialist dan generalist
• Vertical (I): Specialist → memiliki keahlian yang sangat dalam pada satu bidang sehingga menjadi orang yang diandalkan.
• Horizontal (—): Generalist → memahami berbagai disiplin lain sehingga mampu berkolaborasi, melihat gambaran besar, dan memimpin.
“Sebenarnya, apa plus dan minusnya menjadi specialist atau generalist sih pak?”
Jalur karier Specialist itu Cocok jika Anda Ingin membangun reputasi expert professional, atau Bekerja di bidang yang membutuhkan keahlian teknis tinggi (dokter, engineer, data scientist, geologist, programmer, lawyer, dll.).
Keunggulan menjadi specialist adalah: Lebih mudah dikenal sebagai ahli, Nilai pasar (gaji seorang expert) biasanya lebih tinggi dan Sulit digantikan karena memiliki expertise. Dan di jaman sekarang, banyak sekali specialist yang mendapatkan gaji dan kompensasi yang tinggi (setelah mendapatkan expertise yang cukup tinggi).
“Kalau jalur generalist? Bagaimana Pak?”
Jalur karier sebagai Generalist akan penting jika anda berminat menjadi Supervisor, Manager, General Manager, Director , CEO. Karena Seorang pemimpin perlu memahami Strategi, Keuangan, Operasi, SDM, Teknologi, Marketing, Manajemen risiko, dll. Seorang leader tidak harus menjadi ahli di semuanya, tetapi harus cukup memahami untuk mengambil keputusan yang baik.
“Jadi kesimpulannya? Apakah Pak Pam bisa merekomendasikan career path yang ideal?”
Tidak ada yang ideal. Tanyakan dalam hati anda sendiri. Kalau memang passion menjadi specialist (seseorang yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan keahlian yang sangat mendalam pada satu bidang tertentu, dan dikenal memiliki depth of knowledge (kedalaman pengetahuan), Menguasai teori dan praktik secara mendalam, Mampu menyelesaikan masalah yang kompleks di bidangnya, dan Menjadi tempat bertanya atau mentor bagi orang lain, ya silahkan terus menerus mempelajari bidang yang anda tekuni, anda pelajari sampai anda menjadi yang terbaik dalam bidang itu.
“Kalau kita ingin menjadi Director, bagaimana pak?”
Salah satu Model pengembangan karier di jalur generalist adalah:
Phase 1: Jadilah specialist dulu. Bangun kompetensi yang sangat kuat.
Phase 2: Perluas wawasan menjadi specialist dengan perspektif generalist.
Phase 3: Jika ingin memimpin organisasi, berkembanglah menjadi strategic generalist yang tetap memiliki satu kekuatan inti (signature expertise).
“Menarik, Pak. Apakah ada key take away yang bisa kami ingat nanti di rumah?”
Prinsipnya sederhana: Depth creates credibility. Breadth creates opportunity. Leadership requires both. Atau dalam bahasa Indonesia: Keahlian yang mendalam membuat orang mempercayai Anda. Wawasan yang luas membuat Anda mampu memimpin. Karier terbaik dibangun dengan memiliki keduanya.
Salam Hangat,
Pambudi Sunarsihanto
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Dari kantor kabupaten, ada banyak cerita tentang bagaimana sinergi, kolaborasi, dan kerja bareng terus dilakukan untuk menghadirkan manfaat bagi peserta JKN 🤝
Karena di balik setiap pelayanan, ada komitmen untuk memberikan yang terbaik. Dan di balik setiap proses, ada orang-orang yang terus bergerak agar jaminan kesehatan bisa dirasakan oleh jutaan peserta
Apresiasi untuk rekan-rekan pejuang di Kabupaten🇲🇨
https://www.instagram.com/reel/DcBDvMqpAz3/?igsh=c3N1eHZtbG54cTU5
📸 @wahyoeprasetya
Karena di balik setiap pelayanan, ada komitmen untuk memberikan yang terbaik. Dan di balik setiap proses, ada orang-orang yang terus bergerak agar jaminan kesehatan bisa dirasakan oleh jutaan peserta
Apresiasi untuk rekan-rekan pejuang di Kabupaten
https://www.instagram.com/reel/DcBDvMqpAz3/?igsh=c3N1eHZtbG54cTU5
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🙏1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Yth Bapak/Ibu Senior Leader, Leader, dan rekan-rekan Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨
Mari kita doakan semoga saudara2 kita di NTT diberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini🙏
https://www.instagram.com/reel/DcDcKU1yjYP/?igsh=cW9kdXhyZnEyY25q&igsi=cW9kdXhyZnEyY25q
Mari kita doakan semoga saudara2 kita di NTT diberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini
https://www.instagram.com/reel/DcDcKU1yjYP/?igsh=cW9kdXhyZnEyY25q&igsi=cW9kdXhyZnEyY25q
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat pagi, Sahabat!
Sebuah kalimat di buku What I Wish I Knew About Luck ini bagus banget.
“Life isn’t a sprint, it’s a marathon, and each mile will have different priorities.”
Hidup bukan lari jarak pendek, melainkan marathon. Dan di setiap kilometer yang ditempuh, prioritas kita akan berubah.
Saat masih kuliah di Surabaya dulu, prioritas saya sederhana: lulus kuliah. That's it!
Ketika mulai bekerja, prioritasnya berubah. Saat itu saya ingin memiliki penghasilan yang cukup agar bisa melamar perempuan yang saya idamkan. 😁
Setelah menikah, garis finish-nya bergeser lagi. Salah satu prioritas terbesar saat itu adalah memiliki rumah sendiri.
Saya yakin banyak dari kita memiliki kisah yang mirip.
Ada fase ketika kita fokus mencari pekerjaan. Ada fase ketika kita fokus membina keluarga. Ada fase ketika kita fokus mengejar karir. Ada fase ketika kita fokus membesarkan anak. Ada fase ketika kita mulai memikirkan kesehatan, makna hidup, atau persiapan masa pensiun.
Sering kali kita melihat kehidupan seolah-olah hanya ada satu tujuan besar yang harus dicapai. Padahal ketika melihat ke belakang, perjalanan hidup ternyata terdiri dari banyak garis finish kecil yang silih berganti.
Kesuksesan tidak hanya ditentukan dari apakah kita akhirnya mencapai tujuan tertentu.
Seperti yang ditulis dalam buku ini:
“True success is measured not only by steady progress toward the goal but also by the personal and strategic growth that happens throughout the journey.”
Kesuksesan sejati bukan hanya tentang terus bergerak menuju tujuan, tetapi juga tentang pertumbuhan pribadi (personal growth) dan kebijaksanaan (wisdom) yang kita peroleh selama perjalanan itu.
Karena pada akhirnya, yang membentuk dan mewarnai hidup kita bukan hanya tujuan yang berhasil kita capai, tetapi juga tentang siapa diri kita saat tiba di sana.
Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini?
Happy a nice day! ❤️
#INISIATIF
Selamat pagi, Sahabat!
Sebuah kalimat di buku What I Wish I Knew About Luck ini bagus banget.
“Life isn’t a sprint, it’s a marathon, and each mile will have different priorities.”
Hidup bukan lari jarak pendek, melainkan marathon. Dan di setiap kilometer yang ditempuh, prioritas kita akan berubah.
Saat masih kuliah di Surabaya dulu, prioritas saya sederhana: lulus kuliah. That's it!
Ketika mulai bekerja, prioritasnya berubah. Saat itu saya ingin memiliki penghasilan yang cukup agar bisa melamar perempuan yang saya idamkan. 😁
Setelah menikah, garis finish-nya bergeser lagi. Salah satu prioritas terbesar saat itu adalah memiliki rumah sendiri.
Saya yakin banyak dari kita memiliki kisah yang mirip.
Ada fase ketika kita fokus mencari pekerjaan. Ada fase ketika kita fokus membina keluarga. Ada fase ketika kita fokus mengejar karir. Ada fase ketika kita fokus membesarkan anak. Ada fase ketika kita mulai memikirkan kesehatan, makna hidup, atau persiapan masa pensiun.
Sering kali kita melihat kehidupan seolah-olah hanya ada satu tujuan besar yang harus dicapai. Padahal ketika melihat ke belakang, perjalanan hidup ternyata terdiri dari banyak garis finish kecil yang silih berganti.
Kesuksesan tidak hanya ditentukan dari apakah kita akhirnya mencapai tujuan tertentu.
Seperti yang ditulis dalam buku ini:
“True success is measured not only by steady progress toward the goal but also by the personal and strategic growth that happens throughout the journey.”
Kesuksesan sejati bukan hanya tentang terus bergerak menuju tujuan, tetapi juga tentang pertumbuhan pribadi (personal growth) dan kebijaksanaan (wisdom) yang kita peroleh selama perjalanan itu.
Karena pada akhirnya, yang membentuk dan mewarnai hidup kita bukan hanya tujuan yang berhasil kita capai, tetapi juga tentang siapa diri kita saat tiba di sana.
Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini?
Happy a nice day! ❤️
#INISIATIF
❤1