Oleh: Dedi Priadi
๐๐ฆ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ณ ๐ฌ๐ถ๐ค๐ช๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐๐ช๐ฏ๐จ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ง๐ด๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ต๐ช๐ฌ๐ถ๐ด.
Peribahasa Afrika ini adalah panggilan jiwa untuk tujuan yang lebih tinggi, yakni memetakan jarak antara diri Anda saat ini dan potensi terbesar Anda.
Tikus melambangkan kepuasan instan dan kebiasaan Anda yang nyaman, tetapi merusak, seperti menunda pekerjaan penting, ๐ด๐ค๐ณ๐ฐ๐ญ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ konten di sosial media dalam jangka waktu yang panjang, atau menyengaja bangun tidur kesiangan. Godaan kecil ini tanpa sadar menjebak Anda dalam siklus kemajuan yang biasa-biasa saja.
Secara psikologis, ketertarikan pada "tikus" adalah manifestasi dari ๐ฃ๐ช๐ข๐ด ๐ด๐ต๐ข๐ต๐ถ๐ด ๐ฒ๐ถ๐ฐโperangkap zona nyaman. Ia menjanjikan kepastian dan keamanan emosional palsu di masa kini, namun harga yang dibayar adalah stagnasi dan terhambatnya pengaktifan potensi pertumbuhan dan ambisi jangka panjang.
Inilah medan pertempuran sesungguhnya. ๐๐ฉ๐ฆ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ต ๐ฃ๐ข๐ต๐ต๐ญ๐ฆ ๐ช๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฐ๐ญ๐ฅ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ต๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฏ๐ฆ๐ธ ๐ด๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ฅ๐ด. Pergulatan batin yang paling sengit adalah pertentangan antara kebiasaan yang telah mendarah daging dengan batasan mutu diri yang baru Anda tetapkan.
Untuk menjadi Singa, Anda harus mentransformasi identitas inti Anda. Kurangi berpikir sebagai kucing; mulailah bertindak dan berpikir sesuai standar Raja hutan.
Kehilangan selera makan adalah medan perang psikologis antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, menuntut pengorbanan berupa penundaan kepuasan instan tikus demi imbalan jangka panjang yang signifikan โ menjadi Singa.
Sadari bahwa jalan menuju Singa penuh tantangan. Setiap kesulitan adalah alat untuk membentuk mental yang kuatโinilah energi utama untuk mencapai hasil yang Anda impikan.
Ambil kendali penuh atas rutinitas Anda. Ganti perilaku bernilai rendahโyang hanya menguntungkan kucingโdengan tindakan bernilai tinggi yang diwujudkan oleh Singa. Setiap kebiasaan kecil yang konsisten (๐ข๐ต๐ฐ๐ฎ๐ช๐ค ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ต๐ด) akan membangun identitas baru yang Anda cita-citakan.
Setiap kali Anda menolak tikus, Anda bukan hanya melepaskan kebiasaan buruk, tetapi sedang merebut kedaulatan atas diri Anda sendiri. Tegakkan integritas Anda, melangkahlah dengan penuh keyakinan, karena keagungan sejatiโtakhta Sang Singaโmenanti jiwa yang siap memimpin dengan rendah hati dan bertanggung jawab.
#INISIATIF #TGIF
๐๐ฆ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ณ ๐ฌ๐ถ๐ค๐ช๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐๐ช๐ฏ๐จ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ง๐ด๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ต๐ช๐ฌ๐ถ๐ด.
Peribahasa Afrika ini adalah panggilan jiwa untuk tujuan yang lebih tinggi, yakni memetakan jarak antara diri Anda saat ini dan potensi terbesar Anda.
Tikus melambangkan kepuasan instan dan kebiasaan Anda yang nyaman, tetapi merusak, seperti menunda pekerjaan penting, ๐ด๐ค๐ณ๐ฐ๐ญ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ konten di sosial media dalam jangka waktu yang panjang, atau menyengaja bangun tidur kesiangan. Godaan kecil ini tanpa sadar menjebak Anda dalam siklus kemajuan yang biasa-biasa saja.
Secara psikologis, ketertarikan pada "tikus" adalah manifestasi dari ๐ฃ๐ช๐ข๐ด ๐ด๐ต๐ข๐ต๐ถ๐ด ๐ฒ๐ถ๐ฐโperangkap zona nyaman. Ia menjanjikan kepastian dan keamanan emosional palsu di masa kini, namun harga yang dibayar adalah stagnasi dan terhambatnya pengaktifan potensi pertumbuhan dan ambisi jangka panjang.
Inilah medan pertempuran sesungguhnya. ๐๐ฉ๐ฆ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ต ๐ฃ๐ข๐ต๐ต๐ญ๐ฆ ๐ช๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฐ๐ญ๐ฅ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ต๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฏ๐ฆ๐ธ ๐ด๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ฅ๐ด. Pergulatan batin yang paling sengit adalah pertentangan antara kebiasaan yang telah mendarah daging dengan batasan mutu diri yang baru Anda tetapkan.
Untuk menjadi Singa, Anda harus mentransformasi identitas inti Anda. Kurangi berpikir sebagai kucing; mulailah bertindak dan berpikir sesuai standar Raja hutan.
Kehilangan selera makan adalah medan perang psikologis antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, menuntut pengorbanan berupa penundaan kepuasan instan tikus demi imbalan jangka panjang yang signifikan โ menjadi Singa.
Sadari bahwa jalan menuju Singa penuh tantangan. Setiap kesulitan adalah alat untuk membentuk mental yang kuatโinilah energi utama untuk mencapai hasil yang Anda impikan.
Ambil kendali penuh atas rutinitas Anda. Ganti perilaku bernilai rendahโyang hanya menguntungkan kucingโdengan tindakan bernilai tinggi yang diwujudkan oleh Singa. Setiap kebiasaan kecil yang konsisten (๐ข๐ต๐ฐ๐ฎ๐ช๐ค ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ต๐ด) akan membangun identitas baru yang Anda cita-citakan.
Setiap kali Anda menolak tikus, Anda bukan hanya melepaskan kebiasaan buruk, tetapi sedang merebut kedaulatan atas diri Anda sendiri. Tegakkan integritas Anda, melangkahlah dengan penuh keyakinan, karena keagungan sejatiโtakhta Sang Singaโmenanti jiwa yang siap memimpin dengan rendah hati dan bertanggung jawab.
#INISIATIF #TGIF
โค1๐1
Di peta, Jayapura mungkin terlihat jauh, tapi bagi Duta BPJS Kesehatan, setiap perjalanan adalah cara untuk mendekatkan harapan โ๏ธ
Selama ini, kami belajar bahwa melayani bukan hanya tentang hadir di tempat kerja. Melainkan tentang hadir untuk masyarakat, menjaga kepercayaan, dan memastikan Program JKN terus memberikan manfaat hingga ke ujung negeri๐ฒ๐จ
Terus semangat para Duta BPJS Kesehatan๐ช
https://www.instagram.com/reel/DbvKOBMJUix/?igsh=MW9ub3J6bHQ3czFwNQ==
๐ธ @papavesya
Selama ini, kami belajar bahwa melayani bukan hanya tentang hadir di tempat kerja. Melainkan tentang hadir untuk masyarakat, menjaga kepercayaan, dan memastikan Program JKN terus memberikan manfaat hingga ke ujung negeri
Terus semangat para Duta BPJS Kesehatan
https://www.instagram.com/reel/DbvKOBMJUix/?igsh=MW9ub3J6bHQ3czFwNQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐2โค1
Jangan sampai ketinggalan gaisss. Deadlinenya 31 Agustus 2026
Follow, like, share๐ฒ๐จ
https://www.instagram.com/p/DbdILv2Hbgb/?igsh=MTl5aXp3ZHRtYzN0MQ==
Follow, like, share
https://www.instagram.com/p/DbdILv2Hbgb/?igsh=MTl5aXp3ZHRtYzN0MQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐2
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat Pagi, Sahabat!
Hari ini saya mampir ngopi di Smiljan Emhalway di Blok M. Salah satu hal yang saya suka dari tempat ini adalah mereka menyediakan rak buku yang bebas dibaca oleh pengunjung. Sambil menikmati secangkir kopi, saya memilih buku berjudul Primary Greatness karya Stephen R. Covey untuk menemani saya.
Covey mengingatkan bahwa banyak orang mengejar apa yang ia sebut secondary greatness: jabatan, kekayaan, popularitas, penghargaan, atau berbagai bentuk keberhasilan yang terlihat dari luar. Semua itu tidak salah, tetapi sifatnya sementara dan sangat bergantung pada keadaan.
Sebaliknya, primary greatness dibangun dari karakter. Inilah yang menjadi fondasi kehidupan yang kokoh, apa pun situasi yang kita hadapi.
Covey kemudian menguraikan dua belas prinsip universal yang menjadi dasar primary greatness.
1. Integrity (Integritas), hidup selaras antara nilai, perkataan, dan tindakan.
2. Contribution (Kontribusi), lebih berfokus pada apa yang dapat kita berikan daripada apa yang bisa kita dapatkan.
3. Priority (Prioritas), mendahulukan hal-hal yang benar-benar penting.
4. Sacrifice (Pengorbanan), bersedia melepaskan kenyamanan sesaat demi sesuatu yang lebih bernilai.
5. Service (Pelayanan), menggunakan hidup untuk melayani dan membawa manfaat bagi orang lain.
6. Responsibility (Tanggung Jawab), memilih bertanggung jawab atas respons kita, bukan menyalahkan keadaan.
7. Continuous Learning (Pembelajaran Berkelanjutan), terus belajar dan bertumbuh sepanjang hidup.
8. Renewal (Pembaruan Diri), menjaga keseimbangan dengan memperbarui diri secara fisik, mental, emosional, dan spiritual.
9. Trust (Kepercayaan), membangun karakter yang dapat dipercaya.
10. Justice (Keadilan), memperlakukan setiap orang dengan adil dan penuh hormat.
11. Honesty (Kejujuran), hidup dalam kebenaran dan ketulusan.
12. Love (Cinta/Kasih), memilih mengasihi dan menginginkan kebaikan bagi sesama.
Yang menarik, Covey menyebut semuanya sebagai prinsip universal. Bukan sekedar nilai yang berlaku di budaya tertentu, melainkan prinsip-prinsip yang bekerja seperti hukum alam. Kita bebas memilih untuk mengikutinya atau mengabaikannya, tetapi kita tidak bebas memilih konsekuensinya.
Membaca beberapa halaman buku ini membuat saya kembali bertanya kepada diri sendiri. Selama ini, apakah saya lebih sibuk mengejar keberhasilan yang terlihat dari luar, atau justru sedang membangun karakter yang akan tetap bertahan ketika semua pencapaian itu suatu hari nanti hilang?
Pertanyaan yang sederhana, tetapi rasanya layak untuk kita renungkan bersama.
Buku apa yang Anda baca hari ini?
#INISIATIF
Selamat Pagi, Sahabat!
Hari ini saya mampir ngopi di Smiljan Emhalway di Blok M. Salah satu hal yang saya suka dari tempat ini adalah mereka menyediakan rak buku yang bebas dibaca oleh pengunjung. Sambil menikmati secangkir kopi, saya memilih buku berjudul Primary Greatness karya Stephen R. Covey untuk menemani saya.
Covey mengingatkan bahwa banyak orang mengejar apa yang ia sebut secondary greatness: jabatan, kekayaan, popularitas, penghargaan, atau berbagai bentuk keberhasilan yang terlihat dari luar. Semua itu tidak salah, tetapi sifatnya sementara dan sangat bergantung pada keadaan.
Sebaliknya, primary greatness dibangun dari karakter. Inilah yang menjadi fondasi kehidupan yang kokoh, apa pun situasi yang kita hadapi.
Covey kemudian menguraikan dua belas prinsip universal yang menjadi dasar primary greatness.
1. Integrity (Integritas), hidup selaras antara nilai, perkataan, dan tindakan.
2. Contribution (Kontribusi), lebih berfokus pada apa yang dapat kita berikan daripada apa yang bisa kita dapatkan.
3. Priority (Prioritas), mendahulukan hal-hal yang benar-benar penting.
4. Sacrifice (Pengorbanan), bersedia melepaskan kenyamanan sesaat demi sesuatu yang lebih bernilai.
5. Service (Pelayanan), menggunakan hidup untuk melayani dan membawa manfaat bagi orang lain.
6. Responsibility (Tanggung Jawab), memilih bertanggung jawab atas respons kita, bukan menyalahkan keadaan.
7. Continuous Learning (Pembelajaran Berkelanjutan), terus belajar dan bertumbuh sepanjang hidup.
8. Renewal (Pembaruan Diri), menjaga keseimbangan dengan memperbarui diri secara fisik, mental, emosional, dan spiritual.
9. Trust (Kepercayaan), membangun karakter yang dapat dipercaya.
10. Justice (Keadilan), memperlakukan setiap orang dengan adil dan penuh hormat.
11. Honesty (Kejujuran), hidup dalam kebenaran dan ketulusan.
12. Love (Cinta/Kasih), memilih mengasihi dan menginginkan kebaikan bagi sesama.
Yang menarik, Covey menyebut semuanya sebagai prinsip universal. Bukan sekedar nilai yang berlaku di budaya tertentu, melainkan prinsip-prinsip yang bekerja seperti hukum alam. Kita bebas memilih untuk mengikutinya atau mengabaikannya, tetapi kita tidak bebas memilih konsekuensinya.
Membaca beberapa halaman buku ini membuat saya kembali bertanya kepada diri sendiri. Selama ini, apakah saya lebih sibuk mengejar keberhasilan yang terlihat dari luar, atau justru sedang membangun karakter yang akan tetap bertahan ketika semua pencapaian itu suatu hari nanti hilang?
Pertanyaan yang sederhana, tetapi rasanya layak untuk kita renungkan bersama.
Buku apa yang Anda baca hari ini?
#INISIATIF
โค1
Forwarded from Chandra ๐ฎ๐ฉ
pagi ini diingatkan oleh Ibu Ketua DJSN tentang pesan ini
semoga semakin menguatkan integritas duta BPJS Kesehatan
#jaga diri jaga teman jaga bpjs kesehatan
โ๏ธ
semoga semakin menguatkan integritas duta BPJS Kesehatan
#jaga diri jaga teman jaga bpjs kesehatan
โ๏ธ
Forwarded from Chandra ๐ฎ๐ฉ
https://www.instagram.com/p/Da-GZdYlAM9/?img_index=2&igsh=YXhta282cmMyNXVr
Mohon doa dan dukungan untuk karya kolaborasi Duta BPJS Kesehatan
Semoga memberi manfaat untuk Indonesia
#salam integritas โ
Mohon doa dan dukungan untuk karya kolaborasi Duta BPJS Kesehatan
Semoga memberi manfaat untuk Indonesia
#salam integritas โ
Instagram
Instagram
Media number out of range
Oleh: Muhammad Farid Maricar
Dulu saya termasuk orang yang cenderung pesimis dan menganggap bahwa IQ adalah sesuatu yang stabil, tidak berubah, dan merupakan bawaan dari gen.
Tapi dari cerita Sabda PS, ada sudut pandang yang jauh lebih menarik, bahwa kecerdasan itu ternyata bisa dibentuk, bahkan ditingkatkan secara signifikan, jika kita tahu bagian mana yang perlu dilatih.
Sabda pernah tes IQ saat kecil dan hasilnya hanya sekitar 114, angka yang tergolong biasa saja. Namun seiring waktu, nilainya terus meningkat hingga mencapai 160. Kenaikan ini bukan karena โtiba-tiba jadi jeniusโ, tapi karena ada proses panjang yang melibatkan latihan yang tepat dan, yang paling penting, peran orang tua yang sangat aktif.
Ibunya, meskipun bukan psikolog, sangat tertarik pada personal development dan memperlakukan Sabda seperti sebuah โprojectโ.
Ia diarahkan untuk belajar banyak hal semisal bermain musik, coding, menulis esai setiap minggu, hingga mempresentasikan pikirannya secara rutin. Tanpa disadari, semua aktivitas ini melatih berbagai aspek kognitif, dari logika, kreativitas, hingga kemampuan komunikasi.
Yang menarik, pendekatan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi memperbaiki โbottleneckโ dalam cara berpikir. Sabda menyadari bahwa kecerdasan itu tidak tunggal. Seseorang bisa kuat di satu sisi, tapi lemah di sisi lain.
Misalnya, ketika ketelitiannya rendah, ia dilatih dengan programming. Ketika cara bicaranya tidak terstruktur, ia dipaksa menulis dan presentasi. Dengan memperbaiki titik-titik lemah ini, kemampuan berpikir secara keseluruhan ikut meningkat. Di sinilah terlihat bahwa meningkatkan IQ bukan soal belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang lebih tepat.
Penjelasan ini juga sejalan dengan konsep Relational Frame Theory, yang menyebut bahwa kecerdasan bukan ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita miliki, tetapi seberapa banyak hubungan yang bisa kita bangun antar informasi tersebut. Dua orang bisa punya pengetahuan yang sama, tapi yang satu terlihat lebih cerdas karena ia mampu menghubungkan berbagai konsep dengan lebih baik.
Kalau ditarik ke konsep berpikir, ini sangat berkaitan dengan second order thinking. Bukan hanya bertanya โbagaimana cara jadi pintar?โ, tapi โapa yang membuat seseorang tidak berkembang, dan jika itu diperbaiki, apa efek jangka panjangnya?โ.
Orang tua Sabda tidak hanya fokus pada hasil, tapi pada proses dan dampaknya ke depan. Mereka tidak sekadar menyuruh belajar, tapi mendesain lingkungan yang memaksa cara berpikirnya berkembang.
Dari sini kita bisa melihat bahwa kecerdasan bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Ia lebih mirip sistem yang bisa di-upgrade, selama kita tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Dan mungkin, ini juga berlaku bukan hanya dalam konteks belajar, tapi dalam hidup secara keseluruhan bahwa bukan tentang seberapa cepat kita bergerak sekarang, tapi seberapa dalam kita memahami konsekuensi dari setiap langkah yang kita ambil.
Pada akhirnya, cerita ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis atau ditentukan sekali seumur hidup. Ia bisa dilatih, diarahkan, dan ditingkatkan, selama kita mau melihat lebih dalam, bukan hanya di permukaan. Bukan sekadar belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang tepat, memperbaiki titik lemah, dan membangun koneksi antar pemahaman.
Wallahu 'alam bish showab
#INISIATIF
Dulu saya termasuk orang yang cenderung pesimis dan menganggap bahwa IQ adalah sesuatu yang stabil, tidak berubah, dan merupakan bawaan dari gen.
Tapi dari cerita Sabda PS, ada sudut pandang yang jauh lebih menarik, bahwa kecerdasan itu ternyata bisa dibentuk, bahkan ditingkatkan secara signifikan, jika kita tahu bagian mana yang perlu dilatih.
Sabda pernah tes IQ saat kecil dan hasilnya hanya sekitar 114, angka yang tergolong biasa saja. Namun seiring waktu, nilainya terus meningkat hingga mencapai 160. Kenaikan ini bukan karena โtiba-tiba jadi jeniusโ, tapi karena ada proses panjang yang melibatkan latihan yang tepat dan, yang paling penting, peran orang tua yang sangat aktif.
Ibunya, meskipun bukan psikolog, sangat tertarik pada personal development dan memperlakukan Sabda seperti sebuah โprojectโ.
Ia diarahkan untuk belajar banyak hal semisal bermain musik, coding, menulis esai setiap minggu, hingga mempresentasikan pikirannya secara rutin. Tanpa disadari, semua aktivitas ini melatih berbagai aspek kognitif, dari logika, kreativitas, hingga kemampuan komunikasi.
Yang menarik, pendekatan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi memperbaiki โbottleneckโ dalam cara berpikir. Sabda menyadari bahwa kecerdasan itu tidak tunggal. Seseorang bisa kuat di satu sisi, tapi lemah di sisi lain.
Misalnya, ketika ketelitiannya rendah, ia dilatih dengan programming. Ketika cara bicaranya tidak terstruktur, ia dipaksa menulis dan presentasi. Dengan memperbaiki titik-titik lemah ini, kemampuan berpikir secara keseluruhan ikut meningkat. Di sinilah terlihat bahwa meningkatkan IQ bukan soal belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang lebih tepat.
Penjelasan ini juga sejalan dengan konsep Relational Frame Theory, yang menyebut bahwa kecerdasan bukan ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita miliki, tetapi seberapa banyak hubungan yang bisa kita bangun antar informasi tersebut. Dua orang bisa punya pengetahuan yang sama, tapi yang satu terlihat lebih cerdas karena ia mampu menghubungkan berbagai konsep dengan lebih baik.
Kalau ditarik ke konsep berpikir, ini sangat berkaitan dengan second order thinking. Bukan hanya bertanya โbagaimana cara jadi pintar?โ, tapi โapa yang membuat seseorang tidak berkembang, dan jika itu diperbaiki, apa efek jangka panjangnya?โ.
Orang tua Sabda tidak hanya fokus pada hasil, tapi pada proses dan dampaknya ke depan. Mereka tidak sekadar menyuruh belajar, tapi mendesain lingkungan yang memaksa cara berpikirnya berkembang.
Dari sini kita bisa melihat bahwa kecerdasan bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Ia lebih mirip sistem yang bisa di-upgrade, selama kita tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Dan mungkin, ini juga berlaku bukan hanya dalam konteks belajar, tapi dalam hidup secara keseluruhan bahwa bukan tentang seberapa cepat kita bergerak sekarang, tapi seberapa dalam kita memahami konsekuensi dari setiap langkah yang kita ambil.
Pada akhirnya, cerita ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis atau ditentukan sekali seumur hidup. Ia bisa dilatih, diarahkan, dan ditingkatkan, selama kita mau melihat lebih dalam, bukan hanya di permukaan. Bukan sekadar belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang tepat, memperbaiki titik lemah, dan membangun koneksi antar pemahaman.
Wallahu 'alam bish showab
#INISIATIF
Di balik keberlanjutan Program JKN, ada banyak cerita yang mungkin belum pernah kamu dengar โ
Salah satunya adalah kisah Duta BPJS Kesehatan ini. Sebagai penyandang disabilitas tunadaksa yang berkarya di Kedeputian Bidang Aktuaria, ia membuktikan bahwa kontribusi tidak selalu terlihat, tetapi selalu bermakna๐
Bravo Duta BPJS Kesehatan๐ฒ๐จ
https://www.instagram.com/reel/Db5YZoHJ5q2/?igsh=NXQ1ZG9rZ3FyYzdy
๐ธ @Bimavl
Salah satunya adalah kisah Duta BPJS Kesehatan ini. Sebagai penyandang disabilitas tunadaksa yang berkarya di Kedeputian Bidang Aktuaria, ia membuktikan bahwa kontribusi tidak selalu terlihat, tetapi selalu bermakna
Bravo Duta BPJS Kesehatan
https://www.instagram.com/reel/Db5YZoHJ5q2/?igsh=NXQ1ZG9rZ3FyYzdy
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2
Oleh: Hendy Mustiko Aji
Short talk sama istri sebelum sahur...
Kita berdua ngobrolin orang-orang yg belum bisa berdamai sama diri mereka sendiri karena gengsi dan tersandera validasi orang lain.
Orang-orang yg sangat berat hatinya mengakui kekurangan atau kesalahan, karena yg demikian berarti mendegradasi harga diri.
Orang-orang seperti ini sangat dekat dgn karakter arogan atau angkuh.
Padahal ketika mulut dipaksa bilang:
"Maaf saya memang salah..."
"Maaf saya gak tau..."
"Maaf....."
.... rasanya sangat melegakan di hati..
Ketika kata-kata tersebut terucap, niscaya seketika runtuh pondasi arogansi dan keangkuhan di hati.
Hati jadi terasa lebih bersih dan lembut. Nasihat akan lebih mudah masuk dan mengiluminasi sampai ke relung hati. Trust me!
Yes, ini pengalaman pribadi. Walhamdulillah โบ๏ธ
Kalo salah, akui salah. Gak usah denial cari pembelaan diri.
Kalo gak bisa, akui gak bisa. Gak usah sok jago.
Kalo miskin, akui miskin. Gak usah sok kaya.
This is the art of berdamai dengan diri sendiri, lepas dari tersandera validasi orang lain โบ๏ธ๐ซฐ
#INISIATIF
Short talk sama istri sebelum sahur...
Kita berdua ngobrolin orang-orang yg belum bisa berdamai sama diri mereka sendiri karena gengsi dan tersandera validasi orang lain.
Orang-orang yg sangat berat hatinya mengakui kekurangan atau kesalahan, karena yg demikian berarti mendegradasi harga diri.
Orang-orang seperti ini sangat dekat dgn karakter arogan atau angkuh.
Padahal ketika mulut dipaksa bilang:
"Maaf saya memang salah..."
"Maaf saya gak tau..."
"Maaf....."
.... rasanya sangat melegakan di hati..
Ketika kata-kata tersebut terucap, niscaya seketika runtuh pondasi arogansi dan keangkuhan di hati.
Hati jadi terasa lebih bersih dan lembut. Nasihat akan lebih mudah masuk dan mengiluminasi sampai ke relung hati. Trust me!
Yes, ini pengalaman pribadi. Walhamdulillah โบ๏ธ
Kalo salah, akui salah. Gak usah denial cari pembelaan diri.
Kalo gak bisa, akui gak bisa. Gak usah sok jago.
Kalo miskin, akui miskin. Gak usah sok kaya.
This is the art of berdamai dengan diri sendiri, lepas dari tersandera validasi orang lain โบ๏ธ๐ซฐ
#INISIATIF
Pernah nggak sih, setelah ngobrol sama seseorang kamu malah jadi mikir, "Eh, jangan-jangan aku yang salah ingat?โ๐ตโ๐ซ
Misalnya:๐ฌ Kamu: โKamu kemarin bilang akan datang jam 7โ๐ฌ Dia: โAku nggak pernah bilang begitu. Kamu pasti salah ingatโ
Atau kalimat-kalimat seperti:
โKamu terlalu sensitifโ
โItu cuma bercanda, jangan lebayโ
โSemua ini cuma ada di kepalamuโ
Sounds familiar?๐
Bisa jadi kita sedang berhadapan dengan gaslighting, yaitu bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang mulai meragukan ingatan, persepsi, perasaan, bahkan penilaiannya sendiri.
Yuk, jangan lupa merapat di ATE Edisi 424 "Are You Gaslighting Me? Bedakan Konflik, Kritik, atau Manipulasi"
๐ Rabu, 19 Agustus 2026
โฐ 19.00 WIB โ selesai
๐ Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
๐ Ilmu + 2 JP + Doorprize
#INISIATIF #BecomingAnExpertWithATE
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
OLAH-OLAH BAHLIL DI HMI CABANG IRIAN JAYA
Oleh: Yusran Darmawan
Dia masih menjadi sopir angkot ketika bergabung di HMI. Bahkan ketika masih menjadi aktivis HMI, dia ditahan aparat hingga 11 kali. Di HMI, dia menemukan pelajaran penting yang membawanya ke posisi penting republik ini.
โBahlil adalah orang yang benar-benar ditempa dari nol,โ kata Hasbi. Sebelum menjadi pengusaha, menurutnya, Bahlil belum mempunyai apa-apa. Jalan hidupnya tidak mulus.
Mungkin justru karena kemiskinan itulah HMI menjadi menarik baginya. Di sana ia melihat sebuah paradoks: banyak senior hidup pas-pasan, tetapi mempunyai pengaruh besar.
Mereka bisa kekurangan uang makan, menumpang tidur, bahkan berutang, tetapi mempunyai kapasitas intelektual dan jaringan yang membuat pendapat mereka diperhitungkan. Bahlil menemukan bahwa ada jenis modal lain selain uang.
Ada pengetahuan. Ada kepercayaan. Ada keberanian. Ada jaringan. Semuanya bisa dibangun.
Ia kemudian merumuskan metafora yang khas mengenai โpangkatโ dalam organisasi. Ada orang berpangkat jenderal tetapi berjiwa kopral: jabatannya tinggi, tetapi tidak memiliki kapasitas dan otoritas moral.
Sebaliknya, ada orang berpangkat kopral tetapi berjiwa jenderal. Jabatannya mungkin rendah, tetapi orang mendengarkannya karena ia memiliki kemampuan membaca keadaan, membangun jaringan, dan memegang prinsip. Bahlil memilih yang kedua. Pengaruh tidak selalu datang dari jabatan.
Baca selengkapnya๐
https://www.timur-angin.com/2026/08/olah-olah-bahlil-di-hmi-cabang-irian.html
#INISIATIF #Yakusa
Oleh: Yusran Darmawan
Dia masih menjadi sopir angkot ketika bergabung di HMI. Bahkan ketika masih menjadi aktivis HMI, dia ditahan aparat hingga 11 kali. Di HMI, dia menemukan pelajaran penting yang membawanya ke posisi penting republik ini.
โBahlil adalah orang yang benar-benar ditempa dari nol,โ kata Hasbi. Sebelum menjadi pengusaha, menurutnya, Bahlil belum mempunyai apa-apa. Jalan hidupnya tidak mulus.
Mungkin justru karena kemiskinan itulah HMI menjadi menarik baginya. Di sana ia melihat sebuah paradoks: banyak senior hidup pas-pasan, tetapi mempunyai pengaruh besar.
Mereka bisa kekurangan uang makan, menumpang tidur, bahkan berutang, tetapi mempunyai kapasitas intelektual dan jaringan yang membuat pendapat mereka diperhitungkan. Bahlil menemukan bahwa ada jenis modal lain selain uang.
Ada pengetahuan. Ada kepercayaan. Ada keberanian. Ada jaringan. Semuanya bisa dibangun.
Ia kemudian merumuskan metafora yang khas mengenai โpangkatโ dalam organisasi. Ada orang berpangkat jenderal tetapi berjiwa kopral: jabatannya tinggi, tetapi tidak memiliki kapasitas dan otoritas moral.
Sebaliknya, ada orang berpangkat kopral tetapi berjiwa jenderal. Jabatannya mungkin rendah, tetapi orang mendengarkannya karena ia memiliki kemampuan membaca keadaan, membangun jaringan, dan memegang prinsip. Bahlil memilih yang kedua. Pengaruh tidak selalu datang dari jabatan.
Baca selengkapnya
https://www.timur-angin.com/2026/08/olah-olah-bahlil-di-hmi-cabang-irian.html
#INISIATIF #Yakusa
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅ3
ijin share buat kewaspadaan diri sendiri maupun keluarga ๐จ
https://www.instagram.com/p/DbpKB4HGa_4/?igsh=aWN0ZjN1M3Z1c2ky
#rehat
https://www.instagram.com/p/DbpKB4HGa_4/?igsh=aWN0ZjN1M3Z1c2ky
#rehat
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Specialist atau Generalist: Mana yang Bikin Kariermu Ngebut? ๐ค
Malam itu saya dinner dengan beberapa mentee saya di sebuah restaurant di Pacific Place. Dan setelah berbasa-basi, sambil makan malam, seorang di antara mereka, sebut saja namanya Bastian, bertanya,โPak Pam, apakah saat kita masih muda ini, kita harus mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang specialist atau generalist ya Pak?โ. Wow, great question! Sambil makan spageti carbonara di depan saya, kami pun meneruskan diskusi ini.
Saya pun memulai diskusi. Pada awal ya memang kita harus menjadi specialist dalam bidang kita, Saya pernah menjadi tele communication engineer, dan memang saya specialist dalam mengkonfigurasi traffic channel di BTS, meng-install BTS bahkan trouble-shoot BTS yang sedang tidak berfungsi dengan baik. Tapi setelah itu, kemudian saat jalur karier saya mulai naik, dan untuk beberapa jabatan management, ya saya harus menjadi generalist, dan harus mengerti tentang business acumen, strategy, finance, dll.
Specialist atau Generalist? Jawaban singkatnya: bukan memilih salah satu, tetapi mengetahui kapan harus menjadi specialist dan kapan harus menjadi generalist.
Model yang banyak digunakan saat ini adalah T-shaped professional. T-shaped career adalah kombinasi antara specialist dan generalist
โข Vertical (I): Specialist โ memiliki keahlian yang sangat dalam pada satu bidang sehingga menjadi orang yang diandalkan.
โข Horizontal (โ): Generalist โ memahami berbagai disiplin lain sehingga mampu berkolaborasi, melihat gambaran besar, dan memimpin.
โSebenarnya, apa plus dan minusnya menjadi specialist atau generalist sih pak?โ
Jalur karier Specialist itu Cocok jika Anda Ingin membangun reputasi expert professional, atau Bekerja di bidang yang membutuhkan keahlian teknis tinggi (dokter, engineer, data scientist, geologist, programmer, lawyer, dll.).
Keunggulan menjadi specialist adalah: Lebih mudah dikenal sebagai ahli, Nilai pasar (gaji seorang expert) biasanya lebih tinggi dan Sulit digantikan karena memiliki expertise. Dan di jaman sekarang, banyak sekali specialist yang mendapatkan gaji dan kompensasi yang tinggi (setelah mendapatkan expertise yang cukup tinggi).
โKalau jalur generalist? Bagaimana Pak?โ
Jalur karier sebagai Generalist akan penting jika anda berminat menjadi Supervisor, Manager, General Manager, Director , CEO. Karena Seorang pemimpin perlu memahami Strategi, Keuangan, Operasi, SDM, Teknologi, Marketing, Manajemen risiko, dll. Seorang leader tidak harus menjadi ahli di semuanya, tetapi harus cukup memahami untuk mengambil keputusan yang baik.
โJadi kesimpulannya? Apakah Pak Pam bisa merekomendasikan career path yang ideal?โ
Tidak ada yang ideal. Tanyakan dalam hati anda sendiri. Kalau memang passion menjadi specialist (seseorang yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan keahlian yang sangat mendalam pada satu bidang tertentu, dan dikenal memiliki depth of knowledge (kedalaman pengetahuan), Menguasai teori dan praktik secara mendalam, Mampu menyelesaikan masalah yang kompleks di bidangnya, dan Menjadi tempat bertanya atau mentor bagi orang lain, ya silahkan terus menerus mempelajari bidang yang anda tekuni, anda pelajari sampai anda menjadi yang terbaik dalam bidang itu.
โKalau kita ingin menjadi Director, bagaimana pak?โ
Salah satu Model pengembangan karier di jalur generalist adalah:
Phase 1: Jadilah specialist dulu. Bangun kompetensi yang sangat kuat.
Phase 2: Perluas wawasan menjadi specialist dengan perspektif generalist.
Phase 3: Jika ingin memimpin organisasi, berkembanglah menjadi strategic generalist yang tetap memiliki satu kekuatan inti (signature expertise).
โMenarik, Pak. Apakah ada key take away yang bisa kami ingat nanti di rumah?โ
Prinsipnya sederhana: Depth creates credibility. Breadth creates opportunity. Leadership requires both. Atau dalam bahasa Indonesia: Keahlian yang mendalam membuat orang mempercayai Anda. Wawasan yang luas membuat Anda mampu memimpin. Karier terbaik dibangun dengan memiliki keduanya.
Salam Hangat,
Pambudi Sunarsihanto
#INISIATIF #TGIF
Malam itu saya dinner dengan beberapa mentee saya di sebuah restaurant di Pacific Place. Dan setelah berbasa-basi, sambil makan malam, seorang di antara mereka, sebut saja namanya Bastian, bertanya,โPak Pam, apakah saat kita masih muda ini, kita harus mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang specialist atau generalist ya Pak?โ. Wow, great question! Sambil makan spageti carbonara di depan saya, kami pun meneruskan diskusi ini.
Saya pun memulai diskusi. Pada awal ya memang kita harus menjadi specialist dalam bidang kita, Saya pernah menjadi tele communication engineer, dan memang saya specialist dalam mengkonfigurasi traffic channel di BTS, meng-install BTS bahkan trouble-shoot BTS yang sedang tidak berfungsi dengan baik. Tapi setelah itu, kemudian saat jalur karier saya mulai naik, dan untuk beberapa jabatan management, ya saya harus menjadi generalist, dan harus mengerti tentang business acumen, strategy, finance, dll.
Specialist atau Generalist? Jawaban singkatnya: bukan memilih salah satu, tetapi mengetahui kapan harus menjadi specialist dan kapan harus menjadi generalist.
Model yang banyak digunakan saat ini adalah T-shaped professional. T-shaped career adalah kombinasi antara specialist dan generalist
โข Vertical (I): Specialist โ memiliki keahlian yang sangat dalam pada satu bidang sehingga menjadi orang yang diandalkan.
โข Horizontal (โ): Generalist โ memahami berbagai disiplin lain sehingga mampu berkolaborasi, melihat gambaran besar, dan memimpin.
โSebenarnya, apa plus dan minusnya menjadi specialist atau generalist sih pak?โ
Jalur karier Specialist itu Cocok jika Anda Ingin membangun reputasi expert professional, atau Bekerja di bidang yang membutuhkan keahlian teknis tinggi (dokter, engineer, data scientist, geologist, programmer, lawyer, dll.).
Keunggulan menjadi specialist adalah: Lebih mudah dikenal sebagai ahli, Nilai pasar (gaji seorang expert) biasanya lebih tinggi dan Sulit digantikan karena memiliki expertise. Dan di jaman sekarang, banyak sekali specialist yang mendapatkan gaji dan kompensasi yang tinggi (setelah mendapatkan expertise yang cukup tinggi).
โKalau jalur generalist? Bagaimana Pak?โ
Jalur karier sebagai Generalist akan penting jika anda berminat menjadi Supervisor, Manager, General Manager, Director , CEO. Karena Seorang pemimpin perlu memahami Strategi, Keuangan, Operasi, SDM, Teknologi, Marketing, Manajemen risiko, dll. Seorang leader tidak harus menjadi ahli di semuanya, tetapi harus cukup memahami untuk mengambil keputusan yang baik.
โJadi kesimpulannya? Apakah Pak Pam bisa merekomendasikan career path yang ideal?โ
Tidak ada yang ideal. Tanyakan dalam hati anda sendiri. Kalau memang passion menjadi specialist (seseorang yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan keahlian yang sangat mendalam pada satu bidang tertentu, dan dikenal memiliki depth of knowledge (kedalaman pengetahuan), Menguasai teori dan praktik secara mendalam, Mampu menyelesaikan masalah yang kompleks di bidangnya, dan Menjadi tempat bertanya atau mentor bagi orang lain, ya silahkan terus menerus mempelajari bidang yang anda tekuni, anda pelajari sampai anda menjadi yang terbaik dalam bidang itu.
โKalau kita ingin menjadi Director, bagaimana pak?โ
Salah satu Model pengembangan karier di jalur generalist adalah:
Phase 1: Jadilah specialist dulu. Bangun kompetensi yang sangat kuat.
Phase 2: Perluas wawasan menjadi specialist dengan perspektif generalist.
Phase 3: Jika ingin memimpin organisasi, berkembanglah menjadi strategic generalist yang tetap memiliki satu kekuatan inti (signature expertise).
โMenarik, Pak. Apakah ada key take away yang bisa kami ingat nanti di rumah?โ
Prinsipnya sederhana: Depth creates credibility. Breadth creates opportunity. Leadership requires both. Atau dalam bahasa Indonesia: Keahlian yang mendalam membuat orang mempercayai Anda. Wawasan yang luas membuat Anda mampu memimpin. Karier terbaik dibangun dengan memiliki keduanya.
Salam Hangat,
Pambudi Sunarsihanto
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Dari kantor kabupaten, ada banyak cerita tentang bagaimana sinergi, kolaborasi, dan kerja bareng terus dilakukan untuk menghadirkan manfaat bagi peserta JKN ๐ค
Karena di balik setiap pelayanan, ada komitmen untuk memberikan yang terbaik. Dan di balik setiap proses, ada orang-orang yang terus bergerak agar jaminan kesehatan bisa dirasakan oleh jutaan peserta
Apresiasi untuk rekan-rekan pejuang di Kabupaten๐ฒ๐จ
https://www.instagram.com/reel/DcBDvMqpAz3/?igsh=c3N1eHZtbG54cTU5
๐ธ @wahyoeprasetya
Karena di balik setiap pelayanan, ada komitmen untuk memberikan yang terbaik. Dan di balik setiap proses, ada orang-orang yang terus bergerak agar jaminan kesehatan bisa dirasakan oleh jutaan peserta
Apresiasi untuk rekan-rekan pejuang di Kabupaten
https://www.instagram.com/reel/DcBDvMqpAz3/?igsh=c3N1eHZtbG54cTU5
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Yth Bapak/Ibu Senior Leader, Leader, dan rekan-rekan Duta BPJS Kesehatan Selindo ๐ฒ๐จ
Mari kita doakan semoga saudara2 kita di NTT diberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini๐
https://www.instagram.com/reel/DcDcKU1yjYP/?igsh=cW9kdXhyZnEyY25q&igsi=cW9kdXhyZnEyY25q
Mari kita doakan semoga saudara2 kita di NTT diberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini
https://www.instagram.com/reel/DcDcKU1yjYP/?igsh=cW9kdXhyZnEyY25q&igsi=cW9kdXhyZnEyY25q
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat pagi, Sahabat!
Sebuah kalimat di buku What I Wish I Knew About Luck ini bagus banget.
โLife isnโt a sprint, itโs a marathon, and each mile will have different priorities.โ
Hidup bukan lari jarak pendek, melainkan marathon. Dan di setiap kilometer yang ditempuh, prioritas kita akan berubah.
Saat masih kuliah di Surabaya dulu, prioritas saya sederhana: lulus kuliah. That's it!
Ketika mulai bekerja, prioritasnya berubah. Saat itu saya ingin memiliki penghasilan yang cukup agar bisa melamar perempuan yang saya idamkan. ๐
Setelah menikah, garis finish-nya bergeser lagi. Salah satu prioritas terbesar saat itu adalah memiliki rumah sendiri.
Saya yakin banyak dari kita memiliki kisah yang mirip.
Ada fase ketika kita fokus mencari pekerjaan. Ada fase ketika kita fokus membina keluarga. Ada fase ketika kita fokus mengejar karir. Ada fase ketika kita fokus membesarkan anak. Ada fase ketika kita mulai memikirkan kesehatan, makna hidup, atau persiapan masa pensiun.
Sering kali kita melihat kehidupan seolah-olah hanya ada satu tujuan besar yang harus dicapai. Padahal ketika melihat ke belakang, perjalanan hidup ternyata terdiri dari banyak garis finish kecil yang silih berganti.
Kesuksesan tidak hanya ditentukan dari apakah kita akhirnya mencapai tujuan tertentu.
Seperti yang ditulis dalam buku ini:
โTrue success is measured not only by steady progress toward the goal but also by the personal and strategic growth that happens throughout the journey.โ
Kesuksesan sejati bukan hanya tentang terus bergerak menuju tujuan, tetapi juga tentang pertumbuhan pribadi (personal growth) dan kebijaksanaan (wisdom) yang kita peroleh selama perjalanan itu.
Karena pada akhirnya, yang membentuk dan mewarnai hidup kita bukan hanya tujuan yang berhasil kita capai, tetapi juga tentang siapa diri kita saat tiba di sana.
Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini?
Happy a nice day! โค๏ธ
#INISIATIF
Selamat pagi, Sahabat!
Sebuah kalimat di buku What I Wish I Knew About Luck ini bagus banget.
โLife isnโt a sprint, itโs a marathon, and each mile will have different priorities.โ
Hidup bukan lari jarak pendek, melainkan marathon. Dan di setiap kilometer yang ditempuh, prioritas kita akan berubah.
Saat masih kuliah di Surabaya dulu, prioritas saya sederhana: lulus kuliah. That's it!
Ketika mulai bekerja, prioritasnya berubah. Saat itu saya ingin memiliki penghasilan yang cukup agar bisa melamar perempuan yang saya idamkan. ๐
Setelah menikah, garis finish-nya bergeser lagi. Salah satu prioritas terbesar saat itu adalah memiliki rumah sendiri.
Saya yakin banyak dari kita memiliki kisah yang mirip.
Ada fase ketika kita fokus mencari pekerjaan. Ada fase ketika kita fokus membina keluarga. Ada fase ketika kita fokus mengejar karir. Ada fase ketika kita fokus membesarkan anak. Ada fase ketika kita mulai memikirkan kesehatan, makna hidup, atau persiapan masa pensiun.
Sering kali kita melihat kehidupan seolah-olah hanya ada satu tujuan besar yang harus dicapai. Padahal ketika melihat ke belakang, perjalanan hidup ternyata terdiri dari banyak garis finish kecil yang silih berganti.
Kesuksesan tidak hanya ditentukan dari apakah kita akhirnya mencapai tujuan tertentu.
Seperti yang ditulis dalam buku ini:
โTrue success is measured not only by steady progress toward the goal but also by the personal and strategic growth that happens throughout the journey.โ
Kesuksesan sejati bukan hanya tentang terus bergerak menuju tujuan, tetapi juga tentang pertumbuhan pribadi (personal growth) dan kebijaksanaan (wisdom) yang kita peroleh selama perjalanan itu.
Karena pada akhirnya, yang membentuk dan mewarnai hidup kita bukan hanya tujuan yang berhasil kita capai, tetapi juga tentang siapa diri kita saat tiba di sana.
Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini?
Happy a nice day! โค๏ธ
#INISIATIF
โค1