"Halo, kami dari BPJS Kesehatan..." โ๏ธ
Kalimat sederhana yang mungkin sering kamu dengar. Tapi di balik sapaan itu, ada peran dan tugas yang dijalankan dengan penuh kesabaran
Setiap hari, tim telekolekting BPJS Kesehatan menghubungi peserta untuk mengingatkan pembayaran iuran dan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kepesertaan JKN tetap aktif. Meski dalam perjalanannya muncul berbagai respons, kami tetap percaya bahwa setiap percakapan adalah kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi lebih banyak orang๐
Yuk kepoin kisahnya
https://www.instagram.com/reel/Dbc54_GJNAn/?igsh=NXdhbGltODY5ZzR3
๐ธ @Alwi_Muammar
Kalimat sederhana yang mungkin sering kamu dengar. Tapi di balik sapaan itu, ada peran dan tugas yang dijalankan dengan penuh kesabaran
Setiap hari, tim telekolekting BPJS Kesehatan menghubungi peserta untuk mengingatkan pembayaran iuran dan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kepesertaan JKN tetap aktif. Meski dalam perjalanannya muncul berbagai respons, kami tetap percaya bahwa setiap percakapan adalah kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi lebih banyak orang
Yuk kepoin kisahnya
https://www.instagram.com/reel/Dbc54_GJNAn/?igsh=NXdhbGltODY5ZzR3
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Dedi Priadi
Kereta itu tidak pernah memaksakan diri tiba sebelum relnya terbentang. Begitu pun doa; ia adalah perjalanan energi yang selalu menemukan stasiun pemberhentiannya pada momentum yang paling presisi.
Engkau mungkin merasa doamu tertahan di langit, seolah Tuhan abai. Namun, sadarilah bahwa penundaan bukanlah penolakan, melainkan cara semesta sedang merajut kekuatan agar pundakmu cukup kokoh memikul anugerah-Nya.
Seringkali kita mengejar sesuatu dengan nafsu, padahal yang kita kejar mungkin adalah api yang akan membakar tangan sendiri. Tuhan, dengan cinta-Nya, menahan langkahmu agar engkau tidak terperosok.
Ketahuilah, akal manusia hanyalah setitik air di samudera ilmu-Nya. Kita hanya melihat "hari ini", sedangkan Dia melihat "selamanya". Apa yang kau benci, bisa jadi adalah pintu keselamatan yang tersembunyi.
Keterlambatan kabulnya doa adalah masa inkubasi jiwa. Di sana, kesabaranmu ditempa, egomu diluruhkan, hingga akhirnya engkau bukan sekadar menerima pemberian, tapi menjadi pribadi yang siap menghargai setiap berkah.
Janganlah gelisah melihat kereta orang lain sampai lebih dulu. Setiap jiwa memiliki jadwal keberangkatannya masing-masing. Percayalah, Tuhan tidak pernah terlambat, dan Dia pun tidak pernah terlalu cepat.
Hikmah besar selalu terbungkus dalam bungkus yang sulit kita mengerti di awal. Seperti ulat yang harus terpenjara dalam kepompong, ada proses transformasi yang tidak boleh diganggu oleh ketergesa-gesaan.
Mari kita belajar berpasrah tanpa menyerah. Doa yang belum terkabul adalah cara Tuhan mengajakmu berdialog lebih lama, lebih dalam, hingga engkau menyadari bahwa kehadiran-Nya jauh lebih penting dari permintaanmu.
Jadikanlah "ketidaktahuanmu" sebagai dasar untuk bersandar total kepada "Pengetahuan-Nya". Pada akhirnya, engkau akan menoleh ke belakang dan tersenyum, menyadari betapa indahnya cara Tuhan menjaga dan mengatur segalanya.
#INISIATIF
Kereta itu tidak pernah memaksakan diri tiba sebelum relnya terbentang. Begitu pun doa; ia adalah perjalanan energi yang selalu menemukan stasiun pemberhentiannya pada momentum yang paling presisi.
Engkau mungkin merasa doamu tertahan di langit, seolah Tuhan abai. Namun, sadarilah bahwa penundaan bukanlah penolakan, melainkan cara semesta sedang merajut kekuatan agar pundakmu cukup kokoh memikul anugerah-Nya.
Seringkali kita mengejar sesuatu dengan nafsu, padahal yang kita kejar mungkin adalah api yang akan membakar tangan sendiri. Tuhan, dengan cinta-Nya, menahan langkahmu agar engkau tidak terperosok.
Ketahuilah, akal manusia hanyalah setitik air di samudera ilmu-Nya. Kita hanya melihat "hari ini", sedangkan Dia melihat "selamanya". Apa yang kau benci, bisa jadi adalah pintu keselamatan yang tersembunyi.
Keterlambatan kabulnya doa adalah masa inkubasi jiwa. Di sana, kesabaranmu ditempa, egomu diluruhkan, hingga akhirnya engkau bukan sekadar menerima pemberian, tapi menjadi pribadi yang siap menghargai setiap berkah.
Janganlah gelisah melihat kereta orang lain sampai lebih dulu. Setiap jiwa memiliki jadwal keberangkatannya masing-masing. Percayalah, Tuhan tidak pernah terlambat, dan Dia pun tidak pernah terlalu cepat.
Hikmah besar selalu terbungkus dalam bungkus yang sulit kita mengerti di awal. Seperti ulat yang harus terpenjara dalam kepompong, ada proses transformasi yang tidak boleh diganggu oleh ketergesa-gesaan.
Mari kita belajar berpasrah tanpa menyerah. Doa yang belum terkabul adalah cara Tuhan mengajakmu berdialog lebih lama, lebih dalam, hingga engkau menyadari bahwa kehadiran-Nya jauh lebih penting dari permintaanmu.
Jadikanlah "ketidaktahuanmu" sebagai dasar untuk bersandar total kepada "Pengetahuan-Nya". Pada akhirnya, engkau akan menoleh ke belakang dan tersenyum, menyadari betapa indahnya cara Tuhan menjaga dan mengatur segalanya.
#INISIATIF
โค9๐2๐ฅ1
Forwarded from Rizki Alfi Syahril
Duel klasik kembali tersaji, saat Timnas Indonesia bakal menjamu salah satu rival utama, Timnas Vietnam, pada laga Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Senin (3/8/2026) malam pukul 20.30 WIB.
Kemenangan bagi Timnas Indonesia tidak hanya menegaskan dominasi atas Golden Star Warriors, tetapi juga langsung mengunci satu tiket ke babak semifinal Piala AFF 2026.
Nah, sembari menyaksikan dan memberi dukungan buat Timnas, kembali ada peluang seru-seruan juga buatmu untuk memenangkan Souvenir ATE INISIATIF masing-masing untuk 2 (dua) Sobat ATE beruntung yang berhasil menebak 2 opsi polling sekaligus dengan tepat
Periode partisipasinya dimulai saat ini dan akan ditutup pada Senin, 3 Agustus 2026 pukul 20.30 WIB
Syarat klaim : Sudah join di grup COMMIT ATE (Khusus Internal Duta BPJS Kesehatan)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#INISIATIFdukungTimnas
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat pagi, Sahabat!
Sebuah paragraf di buku Bird by Bird (Anne Lamott) ini tiba-tiba membuat saya merenung...
Sering kali kita berpikir, kalau Tuhan menolong, maka orang-orang di sekitar kita akan berubah.
Atasan akan menjadi lebih pengertian. Rekan kerja lebih kooperatif. Pasangan lebih memahami. Anak lebih menurut. Orang-orang akan lebih menghargai niat baik kita.
Ternyata, hidup sering berjalan sebaliknya.
Justru kita dipertemukan dengan orang yang sulit, menerima kritik yang tidak enak didengar, atau menghadapi situasi yang membuat kita bertanya, โYa Tuhan, kenapa harus begini?โ๐
Mungkin Tuhan memang tidak sedang mengubah mereka.
Mungkin Tuhan sedang mengubah diri kita.
Karena sering kali masalahnya bukan pada keadaan di luar, tetapi pada cara kita memandang keadaan itu.
Kita mengira semua orang harus memahami kita. Ternyata kitalah yang perlu belajar memahami orang lain.
Kita berharap setiap usaha kita dihargai. Ternyata kita sedang belajar melakukan yang benar tanpa bergantung pada pujian orang lain.
Kita ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Ternyata kita sedang belajar mempercayai rencana Tuhan yang jauh lebih besar untuk kita.
Perubahan seperti ini jauh lebih sulit. Mengubah keadaan itu menyenangkan. Tapi mengubah diri sendiri itu menyakitkan. Ada ego yang harus dilepaskan. Ada cara berpikir yang harus diperbarui. Ada keyakinan lama yang ternyata tidak lagi membuat kita bertumbuh.
Mungkin justru di situlah letak kasih sayang Tuhan.
Dia tidak sekadar membuat perjalanan kita lebih mudah. Dia sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?
Have a nice day!โค๏ธ
#INISIATIF
Selamat pagi, Sahabat!
Sebuah paragraf di buku Bird by Bird (Anne Lamott) ini tiba-tiba membuat saya merenung...
Sering kali kita berpikir, kalau Tuhan menolong, maka orang-orang di sekitar kita akan berubah.
Atasan akan menjadi lebih pengertian. Rekan kerja lebih kooperatif. Pasangan lebih memahami. Anak lebih menurut. Orang-orang akan lebih menghargai niat baik kita.
Ternyata, hidup sering berjalan sebaliknya.
Justru kita dipertemukan dengan orang yang sulit, menerima kritik yang tidak enak didengar, atau menghadapi situasi yang membuat kita bertanya, โYa Tuhan, kenapa harus begini?โ
Mungkin Tuhan memang tidak sedang mengubah mereka.
Mungkin Tuhan sedang mengubah diri kita.
Karena sering kali masalahnya bukan pada keadaan di luar, tetapi pada cara kita memandang keadaan itu.
Kita mengira semua orang harus memahami kita. Ternyata kitalah yang perlu belajar memahami orang lain.
Kita berharap setiap usaha kita dihargai. Ternyata kita sedang belajar melakukan yang benar tanpa bergantung pada pujian orang lain.
Kita ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Ternyata kita sedang belajar mempercayai rencana Tuhan yang jauh lebih besar untuk kita.
Perubahan seperti ini jauh lebih sulit. Mengubah keadaan itu menyenangkan. Tapi mengubah diri sendiri itu menyakitkan. Ada ego yang harus dilepaskan. Ada cara berpikir yang harus diperbarui. Ada keyakinan lama yang ternyata tidak lagi membuat kita bertumbuh.
Mungkin justru di situlah letak kasih sayang Tuhan.
Dia tidak sekadar membuat perjalanan kita lebih mudah. Dia sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?
Have a nice day!
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2
SI PALING JITU ๐
Btw, Sobat ATE yang berhasil menebak 2 opsi sekaligus dengan tepat pada polling, yakni:
- Timnas Vietnam menang selain opsi skor di atas
dan
- Menit ke 1 sd Menit 25 (Babak 1)
Agar menyiapkan bukti capturean layar yg menunjukkan pilihannya (Wajib menebak benar 3 opsi yah). Kiranya bukti capturean tersebut berkenan dikirimkan via japri ke @MumuAmiruddin beserta data nama, jabatan dan asal unit kerjanya buat perekapan terlebih dahulu๐ฒ๐จ
Konfirmasi tebakannya bisa kami tunggu sd Selasa sore ini, 4 Agustus maks pukul 17.00 WIB๐
#INISIATIF
Timnas Indonesia menelan kekalahan telak 0-3 dalam laga lanjutan Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (3/8) malam WIB. Kekalahan ini membuat skuad asuhan John Herdman berada dalam posisi sulit dan wajib meraih kemenangan pada pertandingan terakhir melawan Singapura untuk menjaga peluang lolos ke babak semifinal
Btw, Sobat ATE yang berhasil menebak 2 opsi sekaligus dengan tepat pada polling, yakni:
- Timnas Vietnam menang selain opsi skor di atas
dan
- Menit ke 1 sd Menit 25 (Babak 1)
Agar menyiapkan bukti capturean layar yg menunjukkan pilihannya (Wajib menebak benar 3 opsi yah). Kiranya bukti capturean tersebut berkenan dikirimkan via japri ke @MumuAmiruddin beserta data nama, jabatan dan asal unit kerjanya buat perekapan terlebih dahulu
Konfirmasi tebakannya bisa kami tunggu sd Selasa sore ini, 4 Agustus maks pukul 17.00 WIB
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
CENNING RARA APA YANG DIPAKAI MARVINA SEHINGGA BISA MENIKAH 15 KALI?
Oleh: Dul Abdul Rahman
Peristiwa tentang Marvina, seorang perempuan di Sulawesi Selatan yang telah menikah hingga lima belas kali, mengundang rasa ingin tahu yang lebih dalam daripada sekadar sensasi. Ia bukan selebritas, bukan pula figur dengan daya tarik fisik yang dianggap luar biasa oleh standar umum.
Namun, fakta bahwa banyak lelaki datang dan pergi dalam lingkar hidupnya membuka satu pertanyaan filosofis: apa sebenarnya yang membuat seseorang โmenarikโ?
Di tengah masyarakat Bugis, muncul satu jawaban lama yang berbau kultural sekaligus mistis: CENNING RARA.
Sebuah istilah yang tidak sekadar merujuk pada kecantikan fisik, melainkan seni memperindah diri di hadapan orang lain, terutama lawan jenis. Namun, Cenning Rara bukan sekadar riasan wajah; ia adalah pertemuan antara kata, niat, simbol, dan harapan.
Salah satu bacaan CENNING RARA Bugis berbunyi:
Eru mata siduppa mata,
Iyapa naewa siduppa mata namanyameng atinna (sebut namanya)
Dari CENNING RARA tersebut menunjukkan bahwa daya tarik pertama memang kasat mata, tetapi yang mengikat adalah sesuatu yang lebih dalam: rasa, kesan, dan mungkin juga energi batin yang tidak terlihat.
Dalam praktik tradisional, bagi seorang perempuan, CENNING RARA dibacakan saat menggunakan bedak dari tepung beras, yang dianggap paling manjur adalah beras ketan.
Ketan sendiri bukan bahan yang dipilih secara kebetulan. Ia lengket, mudah menyatu, simbol dari harapan agar hubungan pun demikian: melekat, erat, dan sulit dipisahkan.
Bahkan dalam cerita lama, ada pula praktik menjampi makanan seperti songkolo untuk โmenyatukan rasaโ antara dua insan.
Namun, di titik ini kita perlu berhenti sejenak. Apakah benar daya tarik manusia bisa direduksi menjadi mantra dan simbol semata?
Secara filosofis, CENNING RARA bisa dibaca bukan sebagai praktik magis literal, melainkan sebagai metafora. Ia adalah representasi dari usaha manusia untuk mengendalikan sesuatu yang pada dasarnya tidak bisa dikendalikan: cinta dan ketertarikan.
Manusia selalu mencari formula, entah itu dalam bentuk doa, ritual, penampilan, atau bahkan strategi psikologis, untuk membuat dirinya menarik dan dipuji.
Jika kita melihat Marvina dari sudut ini, mungkin pertanyaannya bergeser. Bukan lagi โapa yang ia pakai,โ tetapi โapa yang ia pancarkan.โ
Bisa jadi daya tariknya bukan pada fisik, melainkan pada kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, atau cara ia membuat orang lain merasa berarti. Hal-hal seperti ini sering kali jauh lebih โlengketโ daripada sekadar kecantikan luar.
Di era modern, praktik seperti CENNING RARA mulai ditinggalkan, terutama karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan, khususnya dalam Islam yang menekankan tauhid.
Namun, menariknya, esensinya tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk. Kini, orang menggunakan parfum mahal, belajar public speaking, membangun citra di media sosial. Semua itu, jika dipikirkan, adalah versi kontemporer dari CENNING RARA.
Dengan kata lain, manusia tetap berusaha โmempercantik diri di mata orang lain,โ hanya medianya yang berbeda.
Maka, kisah Marvina bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang menikah berkali-kali. Ia adalah cermin dari pertanyaan abadi: apa yang membuat seseorang dicintai? Apakah itu mantra, simbol, atau sesuatu yang lebih subtil seperti kehadiran yang hangat dan jiwa yang terbuka?
Barangkali, CENNING RARA yang paling ampuh bukanlah yang dibacakan di atas bedak atau makanan, melainkan yang tumbuh dari dalam diri: cara seseorang memahami dirinya, menghargai orang lain, dan membangun hubungan yang terasa hidup. Dan jika benar demikian, maka โmantraโ itu sebenarnya tidak pernah hilang. Ia hanya berubah nama.
Tabek!
#INISIATIF
Oleh: Dul Abdul Rahman
Peristiwa tentang Marvina, seorang perempuan di Sulawesi Selatan yang telah menikah hingga lima belas kali, mengundang rasa ingin tahu yang lebih dalam daripada sekadar sensasi. Ia bukan selebritas, bukan pula figur dengan daya tarik fisik yang dianggap luar biasa oleh standar umum.
Namun, fakta bahwa banyak lelaki datang dan pergi dalam lingkar hidupnya membuka satu pertanyaan filosofis: apa sebenarnya yang membuat seseorang โmenarikโ?
Di tengah masyarakat Bugis, muncul satu jawaban lama yang berbau kultural sekaligus mistis: CENNING RARA.
Sebuah istilah yang tidak sekadar merujuk pada kecantikan fisik, melainkan seni memperindah diri di hadapan orang lain, terutama lawan jenis. Namun, Cenning Rara bukan sekadar riasan wajah; ia adalah pertemuan antara kata, niat, simbol, dan harapan.
Salah satu bacaan CENNING RARA Bugis berbunyi:
Eru mata siduppa mata,
Iyapa naewa siduppa mata namanyameng atinna (sebut namanya)
Dari CENNING RARA tersebut menunjukkan bahwa daya tarik pertama memang kasat mata, tetapi yang mengikat adalah sesuatu yang lebih dalam: rasa, kesan, dan mungkin juga energi batin yang tidak terlihat.
Dalam praktik tradisional, bagi seorang perempuan, CENNING RARA dibacakan saat menggunakan bedak dari tepung beras, yang dianggap paling manjur adalah beras ketan.
Ketan sendiri bukan bahan yang dipilih secara kebetulan. Ia lengket, mudah menyatu, simbol dari harapan agar hubungan pun demikian: melekat, erat, dan sulit dipisahkan.
Bahkan dalam cerita lama, ada pula praktik menjampi makanan seperti songkolo untuk โmenyatukan rasaโ antara dua insan.
Namun, di titik ini kita perlu berhenti sejenak. Apakah benar daya tarik manusia bisa direduksi menjadi mantra dan simbol semata?
Secara filosofis, CENNING RARA bisa dibaca bukan sebagai praktik magis literal, melainkan sebagai metafora. Ia adalah representasi dari usaha manusia untuk mengendalikan sesuatu yang pada dasarnya tidak bisa dikendalikan: cinta dan ketertarikan.
Manusia selalu mencari formula, entah itu dalam bentuk doa, ritual, penampilan, atau bahkan strategi psikologis, untuk membuat dirinya menarik dan dipuji.
Jika kita melihat Marvina dari sudut ini, mungkin pertanyaannya bergeser. Bukan lagi โapa yang ia pakai,โ tetapi โapa yang ia pancarkan.โ
Bisa jadi daya tariknya bukan pada fisik, melainkan pada kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, atau cara ia membuat orang lain merasa berarti. Hal-hal seperti ini sering kali jauh lebih โlengketโ daripada sekadar kecantikan luar.
Di era modern, praktik seperti CENNING RARA mulai ditinggalkan, terutama karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan, khususnya dalam Islam yang menekankan tauhid.
Namun, menariknya, esensinya tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk. Kini, orang menggunakan parfum mahal, belajar public speaking, membangun citra di media sosial. Semua itu, jika dipikirkan, adalah versi kontemporer dari CENNING RARA.
Dengan kata lain, manusia tetap berusaha โmempercantik diri di mata orang lain,โ hanya medianya yang berbeda.
Maka, kisah Marvina bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang menikah berkali-kali. Ia adalah cermin dari pertanyaan abadi: apa yang membuat seseorang dicintai? Apakah itu mantra, simbol, atau sesuatu yang lebih subtil seperti kehadiran yang hangat dan jiwa yang terbuka?
Barangkali, CENNING RARA yang paling ampuh bukanlah yang dibacakan di atas bedak atau makanan, melainkan yang tumbuh dari dalam diri: cara seseorang memahami dirinya, menghargai orang lain, dan membangun hubungan yang terasa hidup. Dan jika benar demikian, maka โmantraโ itu sebenarnya tidak pernah hilang. Ia hanya berubah nama.
Tabek!
#INISIATIF
โค1โก1
THE ONE AND ONLY ๐ฏ ๐
Selamat kepada Kk Abriadi @Maaf_tolongyah (Staf PMPF Kab Kep Tanimbar KC Ambon) yang menjadi satu-satunya peserta dengan jawaban yang benar pada Tebak-Tebak Seru Polling Telegram ATE pada match Indonesia Vs Vietnam๐ฎ๐ฉ
Terima kasih untuk seluruh Sobat ATE yang sudah ikut berpartisipasi. Sampai bertemu di challenge berikutnya๐
#INISIATIF
Selamat kepada Kk Abriadi @Maaf_tolongyah (Staf PMPF Kab Kep Tanimbar KC Ambon) yang menjadi satu-satunya peserta dengan jawaban yang benar pada Tebak-Tebak Seru Polling Telegram ATE pada match Indonesia Vs Vietnam
Terima kasih untuk seluruh Sobat ATE yang sudah ikut berpartisipasi. Sampai bertemu di challenge berikutnya
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Ronald Satria
Banyak pemimpin masih mengira tantangan terbesar saat membangun tim layanan Gen Z adalah soal disiplin. Mereka melihat keterlambatan, kurang inisiatif, atau respons yang dianggap kurang sigap sebagai masalah utama.
Padahal, sering kali akar persoalannya bukan disiplin, melainkan desain komunikasi yang tidak relevan. Gen Z bukan sulit diarahkan, mereka hanya tidak lagi terhubung dengan pola kepemimpinan lama yang terlalu instruktif dan minim konteks.
Dalam dunia service, komunikasi bukan hanya alat untuk memberi arahan. Komunikasi adalah mesin penggerak performa, karena kualitas layanan sangat bergantung pada bagaimana tim memahami, merespons, dan mengeksekusi ekspektasi.
Fondasi pertama adalah Precision. Bukan sekadar jelas, tetapi presisi. Instruksi yang kabur menciptakan interpretasi yang berbeda-beda dan akhirnya menghasilkan standar layanan yang tidak konsisten.
Kalimat seperti, โTolong lebih perhatian pada customer,โ terdengar baik tetapi sulit dijalankan. Bandingkan dengan instruksi seperti, โSetiap pelanggan yang menunggu lebih dari 7 menit wajib diberikan update status dan reassurance.โ Presisi menciptakan kepastian.
Fondasi kedua adalah Flow. Cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Gen Z tumbuh di era kecepatan informasi, sehingga mereka lebih mudah merespons komunikasi yang runtut, singkat, dan langsung ke inti.
Briefing yang terlalu panjang sering kali justru kehilangan makna. Mereka membutuhkan alur berpikir yang mudah dipahami, bukan penjelasan berputar-putar. Bukan banyak bicara, tetapi pesan yang mudah diproses.
Fondasi ketiga adalah Role Certainty. Banyak kegagalan layanan bukan karena tim tidak kompeten, melainkan karena batas tanggung jawab tidak jelas. Ketidakjelasan ini membuat energi habis untuk saling menunggu dan saling melempar tugas.
Siapa yang follow up pelanggan? Siapa yang mengambil keputusan saat komplain terjadi? Siapa yang menjaga standar layanan tetap konsisten? Ketika peran jelas, tim bergerak lebih cepat dan lebih percaya diri.
Namun ada satu hal yang lebih penting dari semuanya, yaitu psychological safety. Gen Z tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga rasa aman untuk bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan tanpa takut langsung dihakimi.
Leader yang hanya hadir saat evaluasi akan menciptakan ketegangan. Sebaliknya, leader yang hadir sebagai growth partner akan membangun loyalitas. Mereka tidak mencari atasan yang sempurna, tetapi pemimpin yang hadir, mendengar, dan membantu mereka berkembang.
Membangun tim service Gen Z bukan soal mengawasi lebih ketat, melainkan menciptakan lingkungan kerja yang membuat mereka ingin memberikan yang terbaik. Service excellence tidak lahir dari tekanan, tetapi dari trust, clarity, dan rasa memiliki.
Pada akhirnya, pengalaman pelanggan yang luar biasa selalu berawal dari pengalaman karyawan yang sehat. Jika ingin customer merasa dilayani dengan baik, mulailah dengan memastikan tim Anda merasa dipimpin dengan baik.
#INISIATIF
Banyak pemimpin masih mengira tantangan terbesar saat membangun tim layanan Gen Z adalah soal disiplin. Mereka melihat keterlambatan, kurang inisiatif, atau respons yang dianggap kurang sigap sebagai masalah utama.
Padahal, sering kali akar persoalannya bukan disiplin, melainkan desain komunikasi yang tidak relevan. Gen Z bukan sulit diarahkan, mereka hanya tidak lagi terhubung dengan pola kepemimpinan lama yang terlalu instruktif dan minim konteks.
Dalam dunia service, komunikasi bukan hanya alat untuk memberi arahan. Komunikasi adalah mesin penggerak performa, karena kualitas layanan sangat bergantung pada bagaimana tim memahami, merespons, dan mengeksekusi ekspektasi.
Fondasi pertama adalah Precision. Bukan sekadar jelas, tetapi presisi. Instruksi yang kabur menciptakan interpretasi yang berbeda-beda dan akhirnya menghasilkan standar layanan yang tidak konsisten.
Kalimat seperti, โTolong lebih perhatian pada customer,โ terdengar baik tetapi sulit dijalankan. Bandingkan dengan instruksi seperti, โSetiap pelanggan yang menunggu lebih dari 7 menit wajib diberikan update status dan reassurance.โ Presisi menciptakan kepastian.
Fondasi kedua adalah Flow. Cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Gen Z tumbuh di era kecepatan informasi, sehingga mereka lebih mudah merespons komunikasi yang runtut, singkat, dan langsung ke inti.
Briefing yang terlalu panjang sering kali justru kehilangan makna. Mereka membutuhkan alur berpikir yang mudah dipahami, bukan penjelasan berputar-putar. Bukan banyak bicara, tetapi pesan yang mudah diproses.
Fondasi ketiga adalah Role Certainty. Banyak kegagalan layanan bukan karena tim tidak kompeten, melainkan karena batas tanggung jawab tidak jelas. Ketidakjelasan ini membuat energi habis untuk saling menunggu dan saling melempar tugas.
Siapa yang follow up pelanggan? Siapa yang mengambil keputusan saat komplain terjadi? Siapa yang menjaga standar layanan tetap konsisten? Ketika peran jelas, tim bergerak lebih cepat dan lebih percaya diri.
Namun ada satu hal yang lebih penting dari semuanya, yaitu psychological safety. Gen Z tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga rasa aman untuk bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan tanpa takut langsung dihakimi.
Leader yang hanya hadir saat evaluasi akan menciptakan ketegangan. Sebaliknya, leader yang hadir sebagai growth partner akan membangun loyalitas. Mereka tidak mencari atasan yang sempurna, tetapi pemimpin yang hadir, mendengar, dan membantu mereka berkembang.
Membangun tim service Gen Z bukan soal mengawasi lebih ketat, melainkan menciptakan lingkungan kerja yang membuat mereka ingin memberikan yang terbaik. Service excellence tidak lahir dari tekanan, tetapi dari trust, clarity, dan rasa memiliki.
Pada akhirnya, pengalaman pelanggan yang luar biasa selalu berawal dari pengalaman karyawan yang sehat. Jika ingin customer merasa dilayani dengan baik, mulailah dengan memastikan tim Anda merasa dipimpin dengan baik.
#INISIATIF
๐2
Oleh: Dedi Priadi
๐๐ฆ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ณ ๐ฌ๐ถ๐ค๐ช๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐๐ช๐ฏ๐จ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ง๐ด๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ต๐ช๐ฌ๐ถ๐ด.
Peribahasa Afrika ini adalah panggilan jiwa untuk tujuan yang lebih tinggi, yakni memetakan jarak antara diri Anda saat ini dan potensi terbesar Anda.
Tikus melambangkan kepuasan instan dan kebiasaan Anda yang nyaman, tetapi merusak, seperti menunda pekerjaan penting, ๐ด๐ค๐ณ๐ฐ๐ญ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ konten di sosial media dalam jangka waktu yang panjang, atau menyengaja bangun tidur kesiangan. Godaan kecil ini tanpa sadar menjebak Anda dalam siklus kemajuan yang biasa-biasa saja.
Secara psikologis, ketertarikan pada "tikus" adalah manifestasi dari ๐ฃ๐ช๐ข๐ด ๐ด๐ต๐ข๐ต๐ถ๐ด ๐ฒ๐ถ๐ฐโperangkap zona nyaman. Ia menjanjikan kepastian dan keamanan emosional palsu di masa kini, namun harga yang dibayar adalah stagnasi dan terhambatnya pengaktifan potensi pertumbuhan dan ambisi jangka panjang.
Inilah medan pertempuran sesungguhnya. ๐๐ฉ๐ฆ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ต ๐ฃ๐ข๐ต๐ต๐ญ๐ฆ ๐ช๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฐ๐ญ๐ฅ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ต๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฏ๐ฆ๐ธ ๐ด๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ฅ๐ด. Pergulatan batin yang paling sengit adalah pertentangan antara kebiasaan yang telah mendarah daging dengan batasan mutu diri yang baru Anda tetapkan.
Untuk menjadi Singa, Anda harus mentransformasi identitas inti Anda. Kurangi berpikir sebagai kucing; mulailah bertindak dan berpikir sesuai standar Raja hutan.
Kehilangan selera makan adalah medan perang psikologis antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, menuntut pengorbanan berupa penundaan kepuasan instan tikus demi imbalan jangka panjang yang signifikan โ menjadi Singa.
Sadari bahwa jalan menuju Singa penuh tantangan. Setiap kesulitan adalah alat untuk membentuk mental yang kuatโinilah energi utama untuk mencapai hasil yang Anda impikan.
Ambil kendali penuh atas rutinitas Anda. Ganti perilaku bernilai rendahโyang hanya menguntungkan kucingโdengan tindakan bernilai tinggi yang diwujudkan oleh Singa. Setiap kebiasaan kecil yang konsisten (๐ข๐ต๐ฐ๐ฎ๐ช๐ค ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ต๐ด) akan membangun identitas baru yang Anda cita-citakan.
Setiap kali Anda menolak tikus, Anda bukan hanya melepaskan kebiasaan buruk, tetapi sedang merebut kedaulatan atas diri Anda sendiri. Tegakkan integritas Anda, melangkahlah dengan penuh keyakinan, karena keagungan sejatiโtakhta Sang Singaโmenanti jiwa yang siap memimpin dengan rendah hati dan bertanggung jawab.
#INISIATIF #TGIF
๐๐ฆ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ณ ๐ฌ๐ถ๐ค๐ช๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐๐ช๐ฏ๐จ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ง๐ด๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ต๐ช๐ฌ๐ถ๐ด.
Peribahasa Afrika ini adalah panggilan jiwa untuk tujuan yang lebih tinggi, yakni memetakan jarak antara diri Anda saat ini dan potensi terbesar Anda.
Tikus melambangkan kepuasan instan dan kebiasaan Anda yang nyaman, tetapi merusak, seperti menunda pekerjaan penting, ๐ด๐ค๐ณ๐ฐ๐ญ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ konten di sosial media dalam jangka waktu yang panjang, atau menyengaja bangun tidur kesiangan. Godaan kecil ini tanpa sadar menjebak Anda dalam siklus kemajuan yang biasa-biasa saja.
Secara psikologis, ketertarikan pada "tikus" adalah manifestasi dari ๐ฃ๐ช๐ข๐ด ๐ด๐ต๐ข๐ต๐ถ๐ด ๐ฒ๐ถ๐ฐโperangkap zona nyaman. Ia menjanjikan kepastian dan keamanan emosional palsu di masa kini, namun harga yang dibayar adalah stagnasi dan terhambatnya pengaktifan potensi pertumbuhan dan ambisi jangka panjang.
Inilah medan pertempuran sesungguhnya. ๐๐ฉ๐ฆ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ต ๐ฃ๐ข๐ต๐ต๐ญ๐ฆ ๐ช๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฐ๐ญ๐ฅ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ต๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฏ๐ฆ๐ธ ๐ด๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ฅ๐ด. Pergulatan batin yang paling sengit adalah pertentangan antara kebiasaan yang telah mendarah daging dengan batasan mutu diri yang baru Anda tetapkan.
Untuk menjadi Singa, Anda harus mentransformasi identitas inti Anda. Kurangi berpikir sebagai kucing; mulailah bertindak dan berpikir sesuai standar Raja hutan.
Kehilangan selera makan adalah medan perang psikologis antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, menuntut pengorbanan berupa penundaan kepuasan instan tikus demi imbalan jangka panjang yang signifikan โ menjadi Singa.
Sadari bahwa jalan menuju Singa penuh tantangan. Setiap kesulitan adalah alat untuk membentuk mental yang kuatโinilah energi utama untuk mencapai hasil yang Anda impikan.
Ambil kendali penuh atas rutinitas Anda. Ganti perilaku bernilai rendahโyang hanya menguntungkan kucingโdengan tindakan bernilai tinggi yang diwujudkan oleh Singa. Setiap kebiasaan kecil yang konsisten (๐ข๐ต๐ฐ๐ฎ๐ช๐ค ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ต๐ด) akan membangun identitas baru yang Anda cita-citakan.
Setiap kali Anda menolak tikus, Anda bukan hanya melepaskan kebiasaan buruk, tetapi sedang merebut kedaulatan atas diri Anda sendiri. Tegakkan integritas Anda, melangkahlah dengan penuh keyakinan, karena keagungan sejatiโtakhta Sang Singaโmenanti jiwa yang siap memimpin dengan rendah hati dan bertanggung jawab.
#INISIATIF #TGIF
โค1๐1
Di peta, Jayapura mungkin terlihat jauh, tapi bagi Duta BPJS Kesehatan, setiap perjalanan adalah cara untuk mendekatkan harapan โ๏ธ
Selama ini, kami belajar bahwa melayani bukan hanya tentang hadir di tempat kerja. Melainkan tentang hadir untuk masyarakat, menjaga kepercayaan, dan memastikan Program JKN terus memberikan manfaat hingga ke ujung negeri๐ฒ๐จ
Terus semangat para Duta BPJS Kesehatan๐ช
https://www.instagram.com/reel/DbvKOBMJUix/?igsh=MW9ub3J6bHQ3czFwNQ==
๐ธ @papavesya
Selama ini, kami belajar bahwa melayani bukan hanya tentang hadir di tempat kerja. Melainkan tentang hadir untuk masyarakat, menjaga kepercayaan, dan memastikan Program JKN terus memberikan manfaat hingga ke ujung negeri
Terus semangat para Duta BPJS Kesehatan
https://www.instagram.com/reel/DbvKOBMJUix/?igsh=MW9ub3J6bHQ3czFwNQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐2โค1
Jangan sampai ketinggalan gaisss. Deadlinenya 31 Agustus 2026
Follow, like, share๐ฒ๐จ
https://www.instagram.com/p/DbdILv2Hbgb/?igsh=MTl5aXp3ZHRtYzN0MQ==
Follow, like, share
https://www.instagram.com/p/DbdILv2Hbgb/?igsh=MTl5aXp3ZHRtYzN0MQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐2
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat Pagi, Sahabat!
Hari ini saya mampir ngopi di Smiljan Emhalway di Blok M. Salah satu hal yang saya suka dari tempat ini adalah mereka menyediakan rak buku yang bebas dibaca oleh pengunjung. Sambil menikmati secangkir kopi, saya memilih buku berjudul Primary Greatness karya Stephen R. Covey untuk menemani saya.
Covey mengingatkan bahwa banyak orang mengejar apa yang ia sebut secondary greatness: jabatan, kekayaan, popularitas, penghargaan, atau berbagai bentuk keberhasilan yang terlihat dari luar. Semua itu tidak salah, tetapi sifatnya sementara dan sangat bergantung pada keadaan.
Sebaliknya, primary greatness dibangun dari karakter. Inilah yang menjadi fondasi kehidupan yang kokoh, apa pun situasi yang kita hadapi.
Covey kemudian menguraikan dua belas prinsip universal yang menjadi dasar primary greatness.
1. Integrity (Integritas), hidup selaras antara nilai, perkataan, dan tindakan.
2. Contribution (Kontribusi), lebih berfokus pada apa yang dapat kita berikan daripada apa yang bisa kita dapatkan.
3. Priority (Prioritas), mendahulukan hal-hal yang benar-benar penting.
4. Sacrifice (Pengorbanan), bersedia melepaskan kenyamanan sesaat demi sesuatu yang lebih bernilai.
5. Service (Pelayanan), menggunakan hidup untuk melayani dan membawa manfaat bagi orang lain.
6. Responsibility (Tanggung Jawab), memilih bertanggung jawab atas respons kita, bukan menyalahkan keadaan.
7. Continuous Learning (Pembelajaran Berkelanjutan), terus belajar dan bertumbuh sepanjang hidup.
8. Renewal (Pembaruan Diri), menjaga keseimbangan dengan memperbarui diri secara fisik, mental, emosional, dan spiritual.
9. Trust (Kepercayaan), membangun karakter yang dapat dipercaya.
10. Justice (Keadilan), memperlakukan setiap orang dengan adil dan penuh hormat.
11. Honesty (Kejujuran), hidup dalam kebenaran dan ketulusan.
12. Love (Cinta/Kasih), memilih mengasihi dan menginginkan kebaikan bagi sesama.
Yang menarik, Covey menyebut semuanya sebagai prinsip universal. Bukan sekedar nilai yang berlaku di budaya tertentu, melainkan prinsip-prinsip yang bekerja seperti hukum alam. Kita bebas memilih untuk mengikutinya atau mengabaikannya, tetapi kita tidak bebas memilih konsekuensinya.
Membaca beberapa halaman buku ini membuat saya kembali bertanya kepada diri sendiri. Selama ini, apakah saya lebih sibuk mengejar keberhasilan yang terlihat dari luar, atau justru sedang membangun karakter yang akan tetap bertahan ketika semua pencapaian itu suatu hari nanti hilang?
Pertanyaan yang sederhana, tetapi rasanya layak untuk kita renungkan bersama.
Buku apa yang Anda baca hari ini?
#INISIATIF
Selamat Pagi, Sahabat!
Hari ini saya mampir ngopi di Smiljan Emhalway di Blok M. Salah satu hal yang saya suka dari tempat ini adalah mereka menyediakan rak buku yang bebas dibaca oleh pengunjung. Sambil menikmati secangkir kopi, saya memilih buku berjudul Primary Greatness karya Stephen R. Covey untuk menemani saya.
Covey mengingatkan bahwa banyak orang mengejar apa yang ia sebut secondary greatness: jabatan, kekayaan, popularitas, penghargaan, atau berbagai bentuk keberhasilan yang terlihat dari luar. Semua itu tidak salah, tetapi sifatnya sementara dan sangat bergantung pada keadaan.
Sebaliknya, primary greatness dibangun dari karakter. Inilah yang menjadi fondasi kehidupan yang kokoh, apa pun situasi yang kita hadapi.
Covey kemudian menguraikan dua belas prinsip universal yang menjadi dasar primary greatness.
1. Integrity (Integritas), hidup selaras antara nilai, perkataan, dan tindakan.
2. Contribution (Kontribusi), lebih berfokus pada apa yang dapat kita berikan daripada apa yang bisa kita dapatkan.
3. Priority (Prioritas), mendahulukan hal-hal yang benar-benar penting.
4. Sacrifice (Pengorbanan), bersedia melepaskan kenyamanan sesaat demi sesuatu yang lebih bernilai.
5. Service (Pelayanan), menggunakan hidup untuk melayani dan membawa manfaat bagi orang lain.
6. Responsibility (Tanggung Jawab), memilih bertanggung jawab atas respons kita, bukan menyalahkan keadaan.
7. Continuous Learning (Pembelajaran Berkelanjutan), terus belajar dan bertumbuh sepanjang hidup.
8. Renewal (Pembaruan Diri), menjaga keseimbangan dengan memperbarui diri secara fisik, mental, emosional, dan spiritual.
9. Trust (Kepercayaan), membangun karakter yang dapat dipercaya.
10. Justice (Keadilan), memperlakukan setiap orang dengan adil dan penuh hormat.
11. Honesty (Kejujuran), hidup dalam kebenaran dan ketulusan.
12. Love (Cinta/Kasih), memilih mengasihi dan menginginkan kebaikan bagi sesama.
Yang menarik, Covey menyebut semuanya sebagai prinsip universal. Bukan sekedar nilai yang berlaku di budaya tertentu, melainkan prinsip-prinsip yang bekerja seperti hukum alam. Kita bebas memilih untuk mengikutinya atau mengabaikannya, tetapi kita tidak bebas memilih konsekuensinya.
Membaca beberapa halaman buku ini membuat saya kembali bertanya kepada diri sendiri. Selama ini, apakah saya lebih sibuk mengejar keberhasilan yang terlihat dari luar, atau justru sedang membangun karakter yang akan tetap bertahan ketika semua pencapaian itu suatu hari nanti hilang?
Pertanyaan yang sederhana, tetapi rasanya layak untuk kita renungkan bersama.
Buku apa yang Anda baca hari ini?
#INISIATIF
โค1
Forwarded from Chandra ๐ฎ๐ฉ
pagi ini diingatkan oleh Ibu Ketua DJSN tentang pesan ini
semoga semakin menguatkan integritas duta BPJS Kesehatan
#jaga diri jaga teman jaga bpjs kesehatan
โ๏ธ
semoga semakin menguatkan integritas duta BPJS Kesehatan
#jaga diri jaga teman jaga bpjs kesehatan
โ๏ธ
Forwarded from Chandra ๐ฎ๐ฉ
https://www.instagram.com/p/Da-GZdYlAM9/?img_index=2&igsh=YXhta282cmMyNXVr
Mohon doa dan dukungan untuk karya kolaborasi Duta BPJS Kesehatan
Semoga memberi manfaat untuk Indonesia
#salam integritas โ
Mohon doa dan dukungan untuk karya kolaborasi Duta BPJS Kesehatan
Semoga memberi manfaat untuk Indonesia
#salam integritas โ
Instagram
Instagram
Media number out of range
Oleh: Muhammad Farid Maricar
Dulu saya termasuk orang yang cenderung pesimis dan menganggap bahwa IQ adalah sesuatu yang stabil, tidak berubah, dan merupakan bawaan dari gen.
Tapi dari cerita Sabda PS, ada sudut pandang yang jauh lebih menarik, bahwa kecerdasan itu ternyata bisa dibentuk, bahkan ditingkatkan secara signifikan, jika kita tahu bagian mana yang perlu dilatih.
Sabda pernah tes IQ saat kecil dan hasilnya hanya sekitar 114, angka yang tergolong biasa saja. Namun seiring waktu, nilainya terus meningkat hingga mencapai 160. Kenaikan ini bukan karena โtiba-tiba jadi jeniusโ, tapi karena ada proses panjang yang melibatkan latihan yang tepat dan, yang paling penting, peran orang tua yang sangat aktif.
Ibunya, meskipun bukan psikolog, sangat tertarik pada personal development dan memperlakukan Sabda seperti sebuah โprojectโ.
Ia diarahkan untuk belajar banyak hal semisal bermain musik, coding, menulis esai setiap minggu, hingga mempresentasikan pikirannya secara rutin. Tanpa disadari, semua aktivitas ini melatih berbagai aspek kognitif, dari logika, kreativitas, hingga kemampuan komunikasi.
Yang menarik, pendekatan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi memperbaiki โbottleneckโ dalam cara berpikir. Sabda menyadari bahwa kecerdasan itu tidak tunggal. Seseorang bisa kuat di satu sisi, tapi lemah di sisi lain.
Misalnya, ketika ketelitiannya rendah, ia dilatih dengan programming. Ketika cara bicaranya tidak terstruktur, ia dipaksa menulis dan presentasi. Dengan memperbaiki titik-titik lemah ini, kemampuan berpikir secara keseluruhan ikut meningkat. Di sinilah terlihat bahwa meningkatkan IQ bukan soal belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang lebih tepat.
Penjelasan ini juga sejalan dengan konsep Relational Frame Theory, yang menyebut bahwa kecerdasan bukan ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita miliki, tetapi seberapa banyak hubungan yang bisa kita bangun antar informasi tersebut. Dua orang bisa punya pengetahuan yang sama, tapi yang satu terlihat lebih cerdas karena ia mampu menghubungkan berbagai konsep dengan lebih baik.
Kalau ditarik ke konsep berpikir, ini sangat berkaitan dengan second order thinking. Bukan hanya bertanya โbagaimana cara jadi pintar?โ, tapi โapa yang membuat seseorang tidak berkembang, dan jika itu diperbaiki, apa efek jangka panjangnya?โ.
Orang tua Sabda tidak hanya fokus pada hasil, tapi pada proses dan dampaknya ke depan. Mereka tidak sekadar menyuruh belajar, tapi mendesain lingkungan yang memaksa cara berpikirnya berkembang.
Dari sini kita bisa melihat bahwa kecerdasan bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Ia lebih mirip sistem yang bisa di-upgrade, selama kita tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Dan mungkin, ini juga berlaku bukan hanya dalam konteks belajar, tapi dalam hidup secara keseluruhan bahwa bukan tentang seberapa cepat kita bergerak sekarang, tapi seberapa dalam kita memahami konsekuensi dari setiap langkah yang kita ambil.
Pada akhirnya, cerita ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis atau ditentukan sekali seumur hidup. Ia bisa dilatih, diarahkan, dan ditingkatkan, selama kita mau melihat lebih dalam, bukan hanya di permukaan. Bukan sekadar belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang tepat, memperbaiki titik lemah, dan membangun koneksi antar pemahaman.
Wallahu 'alam bish showab
#INISIATIF
Dulu saya termasuk orang yang cenderung pesimis dan menganggap bahwa IQ adalah sesuatu yang stabil, tidak berubah, dan merupakan bawaan dari gen.
Tapi dari cerita Sabda PS, ada sudut pandang yang jauh lebih menarik, bahwa kecerdasan itu ternyata bisa dibentuk, bahkan ditingkatkan secara signifikan, jika kita tahu bagian mana yang perlu dilatih.
Sabda pernah tes IQ saat kecil dan hasilnya hanya sekitar 114, angka yang tergolong biasa saja. Namun seiring waktu, nilainya terus meningkat hingga mencapai 160. Kenaikan ini bukan karena โtiba-tiba jadi jeniusโ, tapi karena ada proses panjang yang melibatkan latihan yang tepat dan, yang paling penting, peran orang tua yang sangat aktif.
Ibunya, meskipun bukan psikolog, sangat tertarik pada personal development dan memperlakukan Sabda seperti sebuah โprojectโ.
Ia diarahkan untuk belajar banyak hal semisal bermain musik, coding, menulis esai setiap minggu, hingga mempresentasikan pikirannya secara rutin. Tanpa disadari, semua aktivitas ini melatih berbagai aspek kognitif, dari logika, kreativitas, hingga kemampuan komunikasi.
Yang menarik, pendekatan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi memperbaiki โbottleneckโ dalam cara berpikir. Sabda menyadari bahwa kecerdasan itu tidak tunggal. Seseorang bisa kuat di satu sisi, tapi lemah di sisi lain.
Misalnya, ketika ketelitiannya rendah, ia dilatih dengan programming. Ketika cara bicaranya tidak terstruktur, ia dipaksa menulis dan presentasi. Dengan memperbaiki titik-titik lemah ini, kemampuan berpikir secara keseluruhan ikut meningkat. Di sinilah terlihat bahwa meningkatkan IQ bukan soal belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang lebih tepat.
Penjelasan ini juga sejalan dengan konsep Relational Frame Theory, yang menyebut bahwa kecerdasan bukan ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita miliki, tetapi seberapa banyak hubungan yang bisa kita bangun antar informasi tersebut. Dua orang bisa punya pengetahuan yang sama, tapi yang satu terlihat lebih cerdas karena ia mampu menghubungkan berbagai konsep dengan lebih baik.
Kalau ditarik ke konsep berpikir, ini sangat berkaitan dengan second order thinking. Bukan hanya bertanya โbagaimana cara jadi pintar?โ, tapi โapa yang membuat seseorang tidak berkembang, dan jika itu diperbaiki, apa efek jangka panjangnya?โ.
Orang tua Sabda tidak hanya fokus pada hasil, tapi pada proses dan dampaknya ke depan. Mereka tidak sekadar menyuruh belajar, tapi mendesain lingkungan yang memaksa cara berpikirnya berkembang.
Dari sini kita bisa melihat bahwa kecerdasan bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Ia lebih mirip sistem yang bisa di-upgrade, selama kita tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Dan mungkin, ini juga berlaku bukan hanya dalam konteks belajar, tapi dalam hidup secara keseluruhan bahwa bukan tentang seberapa cepat kita bergerak sekarang, tapi seberapa dalam kita memahami konsekuensi dari setiap langkah yang kita ambil.
Pada akhirnya, cerita ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis atau ditentukan sekali seumur hidup. Ia bisa dilatih, diarahkan, dan ditingkatkan, selama kita mau melihat lebih dalam, bukan hanya di permukaan. Bukan sekadar belajar lebih banyak, tapi belajar dengan cara yang tepat, memperbaiki titik lemah, dan membangun koneksi antar pemahaman.
Wallahu 'alam bish showab
#INISIATIF
Di balik keberlanjutan Program JKN, ada banyak cerita yang mungkin belum pernah kamu dengar โ
Salah satunya adalah kisah Duta BPJS Kesehatan ini. Sebagai penyandang disabilitas tunadaksa yang berkarya di Kedeputian Bidang Aktuaria, ia membuktikan bahwa kontribusi tidak selalu terlihat, tetapi selalu bermakna๐
Bravo Duta BPJS Kesehatan๐ฒ๐จ
https://www.instagram.com/reel/Db5YZoHJ5q2/?igsh=NXQ1ZG9rZ3FyYzdy
๐ธ @Bimavl
Salah satunya adalah kisah Duta BPJS Kesehatan ini. Sebagai penyandang disabilitas tunadaksa yang berkarya di Kedeputian Bidang Aktuaria, ia membuktikan bahwa kontribusi tidak selalu terlihat, tetapi selalu bermakna
Bravo Duta BPJS Kesehatan
https://www.instagram.com/reel/Db5YZoHJ5q2/?igsh=NXQ1ZG9rZ3FyYzdy
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2
Oleh: Hendy Mustiko Aji
Short talk sama istri sebelum sahur...
Kita berdua ngobrolin orang-orang yg belum bisa berdamai sama diri mereka sendiri karena gengsi dan tersandera validasi orang lain.
Orang-orang yg sangat berat hatinya mengakui kekurangan atau kesalahan, karena yg demikian berarti mendegradasi harga diri.
Orang-orang seperti ini sangat dekat dgn karakter arogan atau angkuh.
Padahal ketika mulut dipaksa bilang:
"Maaf saya memang salah..."
"Maaf saya gak tau..."
"Maaf....."
.... rasanya sangat melegakan di hati..
Ketika kata-kata tersebut terucap, niscaya seketika runtuh pondasi arogansi dan keangkuhan di hati.
Hati jadi terasa lebih bersih dan lembut. Nasihat akan lebih mudah masuk dan mengiluminasi sampai ke relung hati. Trust me!
Yes, ini pengalaman pribadi. Walhamdulillah โบ๏ธ
Kalo salah, akui salah. Gak usah denial cari pembelaan diri.
Kalo gak bisa, akui gak bisa. Gak usah sok jago.
Kalo miskin, akui miskin. Gak usah sok kaya.
This is the art of berdamai dengan diri sendiri, lepas dari tersandera validasi orang lain โบ๏ธ๐ซฐ
#INISIATIF
Short talk sama istri sebelum sahur...
Kita berdua ngobrolin orang-orang yg belum bisa berdamai sama diri mereka sendiri karena gengsi dan tersandera validasi orang lain.
Orang-orang yg sangat berat hatinya mengakui kekurangan atau kesalahan, karena yg demikian berarti mendegradasi harga diri.
Orang-orang seperti ini sangat dekat dgn karakter arogan atau angkuh.
Padahal ketika mulut dipaksa bilang:
"Maaf saya memang salah..."
"Maaf saya gak tau..."
"Maaf....."
.... rasanya sangat melegakan di hati..
Ketika kata-kata tersebut terucap, niscaya seketika runtuh pondasi arogansi dan keangkuhan di hati.
Hati jadi terasa lebih bersih dan lembut. Nasihat akan lebih mudah masuk dan mengiluminasi sampai ke relung hati. Trust me!
Yes, ini pengalaman pribadi. Walhamdulillah โบ๏ธ
Kalo salah, akui salah. Gak usah denial cari pembelaan diri.
Kalo gak bisa, akui gak bisa. Gak usah sok jago.
Kalo miskin, akui miskin. Gak usah sok kaya.
This is the art of berdamai dengan diri sendiri, lepas dari tersandera validasi orang lain โบ๏ธ๐ซฐ
#INISIATIF
Pernah nggak sih, setelah ngobrol sama seseorang kamu malah jadi mikir, "Eh, jangan-jangan aku yang salah ingat?โ๐ตโ๐ซ
Misalnya:๐ฌ Kamu: โKamu kemarin bilang akan datang jam 7โ๐ฌ Dia: โAku nggak pernah bilang begitu. Kamu pasti salah ingatโ
Atau kalimat-kalimat seperti:
โKamu terlalu sensitifโ
โItu cuma bercanda, jangan lebayโ
โSemua ini cuma ada di kepalamuโ
Sounds familiar?๐
Bisa jadi kita sedang berhadapan dengan gaslighting, yaitu bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang mulai meragukan ingatan, persepsi, perasaan, bahkan penilaiannya sendiri.
Yuk, jangan lupa merapat di ATE Edisi 424 "Are You Gaslighting Me? Bedakan Konflik, Kritik, atau Manipulasi"
๐ Rabu, 19 Agustus 2026
โฐ 19.00 WIB โ selesai
๐ Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
๐ Ilmu + 2 JP + Doorprize
#INISIATIF #BecomingAnExpertWithATE
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM