Al-Qur'an menyebut ini dengan cara yang lebih tajam dari framework apapun.
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia." โ QS. Al-Qashash: 77
Ini bukan perintah untuk meninggalkan dunia. Ini arsitektur prioritas. Dunia bukan tujuan akhir โ ia adalah medium. Yang dibangun di dalam medium itu, itulah yang menentukan koordinat akhir seseorang.
Dan di ayat yang lain:
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan keturunan." โ QS. Al-Hadid: 20
Bukan seruan untuk berhenti berprestasi. Ini peringatan tentang hierarki makna. Perlombaan itu nyata. Tetapi ia dimainkan dalam frame waktu yang salah jika tidak disertai pertanyaan yang lebih dalam.
Banyak manusia menang dalam annual report. Tetapi kalah dalam final report.
Polanya tidak butuh nama besar untuk dijelaskan. Nama besar selalu membawa distorsi โ kita melihat tokohnya, bukan mekanismenya.
Ada guru yang tidak pernah viral. Tidak punya buku. Gajinya tidak besar. Tetapi ada puluhan manusia yang berhasil melewati titik kritis dalam hidup mereka karena satu percakapan dengannya โ bukan karena ia mengatakan sesuatu yang brilliant, tapi karena ia hadir sepenuhnya ketika orang lain tidak punya waktu.
Ada ayah yang bekerja di posisi biasa selama tiga puluh tahun. Tidak pernah jadi direktur. Tetapi ia membesarkan anak-anak yang tahu bagaimana menepati janji, bagaimana hadir ketika dibutuhkan, bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat โ tanpa menghitung apa yang kembali. Legacy itu tidak muncul di CV-nya. Tapi ia terus berjalan dalam perilaku generasi berikutnya, dalam keputusan-keputusan kecil yang tidak ada kamera yang merekam.
Ada juga pemimpin yang memiliki kekuasaan nyata tetapi menggunakannya untuk melindungi yang lemah dan membangun sistem yang tetap berfungsi bahkan setelah ia pergi. Posisi dan legacy sejajar. Ini kombinasi yang hampir tidak pernah terjadi secara kebetulan. Yang membedakan bukan kecerdasan atau sumber daya โ tapi pilihan tentang untuk apa kekuasaan dan waktu itu digunakan, ketika tidak ada yang melihat, ketika pilihan yang benar lebih mahal dari pilihan yang menguntungkan.
Sejarah sering mengingat kekuasaan. Tetapi peradaban bertahan karena kontribusi yang sunyi.
Jabatan berhenti di hari terakhir kerja. Kekayaan berpindah tangan melalui dokumen hukum. Nama perlahan memudar dari ingatan orang-orang yang tidak pernah benar-benar mengenal siapa kita di balik title itu.
Yang tidak bisa berpindah adalah dampak. Yang tidak bisa dihapus adalah cara seseorang membuat orang lain merasa lebih manusiawi. Yang tidak bisa diwariskan secara legal tetapi terus berjalan adalah keputusan-keputusan kecil yang benarโ dilakukan berulang-ulang, dalam kondisi di mana tidak ada yang memaksa untuk melakukannya.
Kematian adalah auditor terbaik. Ia tidak bisa dilobi. Tidak bisa diberi spin komunikasi. Ia hanya merekam apa yang sebenarnya terjadi โ siapa yang menangis, siapa yang lega, dan apa yang benar-benar diingat ketika nama itu disebut.
Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Gondrong. Mungkin ia hanya sedang sakit dan akan kembali minggu depan. Mungkin tidak. Tapi gerobak itu masih di sana. Terpal birunya sudah mulai kusam. Dan pagi tadi saya melewatinya dua kali.
Itu cukup untuk membuat saya berpikir tentang pertanyaan yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis manapun.
Bukan: seberapa tinggi posisi kita?
Tapi: seberapa besar bubble yang tertinggal setelah kita pergi?
#INISIATIF
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia." โ QS. Al-Qashash: 77
Ini bukan perintah untuk meninggalkan dunia. Ini arsitektur prioritas. Dunia bukan tujuan akhir โ ia adalah medium. Yang dibangun di dalam medium itu, itulah yang menentukan koordinat akhir seseorang.
Dan di ayat yang lain:
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan keturunan." โ QS. Al-Hadid: 20
Bukan seruan untuk berhenti berprestasi. Ini peringatan tentang hierarki makna. Perlombaan itu nyata. Tetapi ia dimainkan dalam frame waktu yang salah jika tidak disertai pertanyaan yang lebih dalam.
Banyak manusia menang dalam annual report. Tetapi kalah dalam final report.
Polanya tidak butuh nama besar untuk dijelaskan. Nama besar selalu membawa distorsi โ kita melihat tokohnya, bukan mekanismenya.
Ada guru yang tidak pernah viral. Tidak punya buku. Gajinya tidak besar. Tetapi ada puluhan manusia yang berhasil melewati titik kritis dalam hidup mereka karena satu percakapan dengannya โ bukan karena ia mengatakan sesuatu yang brilliant, tapi karena ia hadir sepenuhnya ketika orang lain tidak punya waktu.
Ada ayah yang bekerja di posisi biasa selama tiga puluh tahun. Tidak pernah jadi direktur. Tetapi ia membesarkan anak-anak yang tahu bagaimana menepati janji, bagaimana hadir ketika dibutuhkan, bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat โ tanpa menghitung apa yang kembali. Legacy itu tidak muncul di CV-nya. Tapi ia terus berjalan dalam perilaku generasi berikutnya, dalam keputusan-keputusan kecil yang tidak ada kamera yang merekam.
Ada juga pemimpin yang memiliki kekuasaan nyata tetapi menggunakannya untuk melindungi yang lemah dan membangun sistem yang tetap berfungsi bahkan setelah ia pergi. Posisi dan legacy sejajar. Ini kombinasi yang hampir tidak pernah terjadi secara kebetulan. Yang membedakan bukan kecerdasan atau sumber daya โ tapi pilihan tentang untuk apa kekuasaan dan waktu itu digunakan, ketika tidak ada yang melihat, ketika pilihan yang benar lebih mahal dari pilihan yang menguntungkan.
Sejarah sering mengingat kekuasaan. Tetapi peradaban bertahan karena kontribusi yang sunyi.
Jabatan berhenti di hari terakhir kerja. Kekayaan berpindah tangan melalui dokumen hukum. Nama perlahan memudar dari ingatan orang-orang yang tidak pernah benar-benar mengenal siapa kita di balik title itu.
Yang tidak bisa berpindah adalah dampak. Yang tidak bisa dihapus adalah cara seseorang membuat orang lain merasa lebih manusiawi. Yang tidak bisa diwariskan secara legal tetapi terus berjalan adalah keputusan-keputusan kecil yang benarโ dilakukan berulang-ulang, dalam kondisi di mana tidak ada yang memaksa untuk melakukannya.
Kematian adalah auditor terbaik. Ia tidak bisa dilobi. Tidak bisa diberi spin komunikasi. Ia hanya merekam apa yang sebenarnya terjadi โ siapa yang menangis, siapa yang lega, dan apa yang benar-benar diingat ketika nama itu disebut.
Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Gondrong. Mungkin ia hanya sedang sakit dan akan kembali minggu depan. Mungkin tidak. Tapi gerobak itu masih di sana. Terpal birunya sudah mulai kusam. Dan pagi tadi saya melewatinya dua kali.
Itu cukup untuk membuat saya berpikir tentang pertanyaan yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis manapun.
Bukan: seberapa tinggi posisi kita?
Tapi: seberapa besar bubble yang tertinggal setelah kita pergi?
#INISIATIF
๐5
๐ข CALL FOR PAPERS 2026 ACFE Indonesia Chapter mengundang Bapak/Ibu akademisi, praktisi, peneliti, mahasiswa, dan profesional untuk berpartisipasi dalam:
Seminar & Hybrid Conference:
Collaborative Anti-Fraud Ecosystem The Role of Civil Society in the Age of Digital Disruption
โจ Publication Opportunity:
Selected papers will be recommended for:
โ๏ธ Asian Pacific Fraud Journal (Sinta 3 Indexed)
โ๏ธ Partner Journals
โ๏ธ Conference Proceedings
๐ Best Paper Award
๐ Best Presenter Award
๐ Deadline Submission: 8 Agustus 2026
๐ Seminar & Presentation: 8 September 2026
๐ Guidelines and template artikel: bit.ly/ACFEIC_KetDanTemp_CFP2026
Mari bersama membangun ekosistem anti-fraud yang kolaboratif di era digital
Seminar & Hybrid Conference:
Collaborative Anti-Fraud Ecosystem The Role of Civil Society in the Age of Digital Disruption
โจ Publication Opportunity:
Selected papers will be recommended for:
โ๏ธ Asian Pacific Fraud Journal (Sinta 3 Indexed)
โ๏ธ Partner Journals
โ๏ธ Conference Proceedings
๐ Best Paper Award
๐ Best Presenter Award
๐ Deadline Submission: 8 Agustus 2026
๐ Seminar & Presentation: 8 September 2026
๐ Guidelines and template artikel: bit.ly/ACFEIC_KetDanTemp_CFP2026
Mari bersama membangun ekosistem anti-fraud yang kolaboratif di era digital
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat pagi!
Selamat Hari Raya Idul Adha buat Sahabat yang merayakan.
Semalam di buku yang sedang saya baca, nemu satu quote dari Friedrich Nietzsche yang cukup terkenal:
โIf you have a why to live, you can bear almost any how.โ
Kalau diterjemahkan kira-kira artinya begini:
Kalau kita memiliki alasan untuk hidup, maka kita akan mampu menghadapi hampir segala kesulitan hidup.
Kalimat yang sederhana, namun punya pesan yang dalam.
Kadang kita berpikir seseorang itu kuat karena bakatnya, hartanya, jabatannya, koneksinya, atau ilmunya. Namun sering kali yang membuat seseorang mampu bertahan justru sesuatu yang sering luput dari perhatian, yaitu: alasan.
Alasan untuk tetap bangun pagi. Alasan untuk tetap pulang ke rumah. Alasan untuk tetap mencoba walaupun lelah. Alasan untuk tetap percaya bahwa hidup masih layak dijalani.
Ada kalanya orang yang secara fisik terlihat biasa saja, tapi ternyata mampu melewati masa-masa sulit. Dan di sisi lain, ada juga orang yang dari luar terlihat "punya segalanya," tapi diam-diam kehilangan semangat hidup.
Karena mungkin yang paling kita butuhkan sebagai manusia bukan sekedar rasa nyaman dan aman, melainkan juga makna.
Di buku Manโs Search for Meaning karya Viktor Frankl, dia bercerita bahwa di kamp konsentrasi Nazi di masa Perang Dunia II, mereka yang masih memiliki harapan, cinta, atau sesuatu yang ingin diperjuangkan, cenderung lebih mampu bertahan dibanding mereka yang kehilangan makna hidupnya.
Dan rasanya ini juga relevan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kadang pekerjaan terasa berat. Kadang rutinitas terasa melelahkan. Kadang hidup terasa berjalan terlalu cepat.
Tapi mungkin pertanyaan pentingnya bukan โSeberapa berat hidup kita?โ
Melainkan โApa alasan yang membuat kita terus melangkah?โ
Karena bisa jadi, kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada fisik atau kecerdasannya, melainkan pada makna yang dia pegang di dalam dirinya.
Have a nice day! โค๏ธ๐
#INISIATIF #TGIF
Selamat pagi!
Selamat Hari Raya Idul Adha buat Sahabat yang merayakan.
Semalam di buku yang sedang saya baca, nemu satu quote dari Friedrich Nietzsche yang cukup terkenal:
โIf you have a why to live, you can bear almost any how.โ
Kalau diterjemahkan kira-kira artinya begini:
Kalau kita memiliki alasan untuk hidup, maka kita akan mampu menghadapi hampir segala kesulitan hidup.
Kalimat yang sederhana, namun punya pesan yang dalam.
Kadang kita berpikir seseorang itu kuat karena bakatnya, hartanya, jabatannya, koneksinya, atau ilmunya. Namun sering kali yang membuat seseorang mampu bertahan justru sesuatu yang sering luput dari perhatian, yaitu: alasan.
Alasan untuk tetap bangun pagi. Alasan untuk tetap pulang ke rumah. Alasan untuk tetap mencoba walaupun lelah. Alasan untuk tetap percaya bahwa hidup masih layak dijalani.
Ada kalanya orang yang secara fisik terlihat biasa saja, tapi ternyata mampu melewati masa-masa sulit. Dan di sisi lain, ada juga orang yang dari luar terlihat "punya segalanya," tapi diam-diam kehilangan semangat hidup.
Karena mungkin yang paling kita butuhkan sebagai manusia bukan sekedar rasa nyaman dan aman, melainkan juga makna.
Di buku Manโs Search for Meaning karya Viktor Frankl, dia bercerita bahwa di kamp konsentrasi Nazi di masa Perang Dunia II, mereka yang masih memiliki harapan, cinta, atau sesuatu yang ingin diperjuangkan, cenderung lebih mampu bertahan dibanding mereka yang kehilangan makna hidupnya.
Dan rasanya ini juga relevan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kadang pekerjaan terasa berat. Kadang rutinitas terasa melelahkan. Kadang hidup terasa berjalan terlalu cepat.
Tapi mungkin pertanyaan pentingnya bukan โSeberapa berat hidup kita?โ
Melainkan โApa alasan yang membuat kita terus melangkah?โ
Karena bisa jadi, kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada fisik atau kecerdasannya, melainkan pada makna yang dia pegang di dalam dirinya.
Have a nice day! โค๏ธ๐
#INISIATIF #TGIF
GET READY!!! Babak 64 Besar
Family 100 ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan tahun 2026
Selasa, 2 Juni 2026 (Mulai Pukul 16.00 WIB - Selesai)
PIC Match 1 & 2: Kk @deyaaaq (KC Sidoarjo) dan Kk @Ecikaaa (KC Tondano)
PIC Match 3 & 4: Kk @Ilhamakbarw (Sesdewas) dan Kk @noviaaia (KC Sidoarjo)
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GET READY!!! Babak 64 Besar
Family 100 ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan tahun 2026
Kamis, 4 Juni 2026 (Mulai Pukul 16.00 WIB - Selesai)
PIC Match 1 & 2: Kk @withhardshipwillbeease (KC Baubau) dan Kk @putriutamiwulandari (KC Pekanbaru)
PIC Match 3 & 4: Kk @Ikaisnawati89 (KC Biak Numfor) dan Kk @anggaapriawarman (KC Samarinda)
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GET READY!!! Babak 64 Besar
Family 100 ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan tahun 2026
Jum'at, 5 Juni 2026 (Mulai Pukul 16.00 WIB - Selesai)
PIC Match 1 & 2: Kk @mayungallo (KC Makale) dan Kk @Gildametadila (KC Tigaraksa)
PIC Match 3 & 4: Kk @papavesya (KC Jayapura) dan Kk @Rohbert0 (KC Parepare)
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ต๏ธ "Menurutku jawabannya ini..." bisa jadi kalimat seperti ini yang akan membawa timmu menuju kemenangan ๐ฎ๐ฉ
Di Top 36 Number Detective, setiap clue harus dianalisis, setiap pendapat perlu didengar, dan setiap strategi harus dijalankan dengan kompak. Tetap sportif, percaya pada rekan timmu, dan tunjukkan bahwa kolaborasi yang baik bisa memecahkan misteri apa pun๐
Di Top 36 Number Detective, setiap clue harus dianalisis, setiap pendapat perlu didengar, dan setiap strategi harus dijalankan dengan kompak. Tetap sportif, percaya pada rekan timmu, dan tunjukkan bahwa kolaborasi yang baik bisa memecahkan misteri apa pun
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GET READY!!! Babak 36 Besar
Number Detective ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan tahun 2026
Rabu, 3 Juni 2026 (Mulai Pukul 16.00 WIB - Selesai)
PIC : @withhardshipwillbeease (KC Baubau) @Sonia_Fransiska (KC Batam)
Hanya akan ada 1 tim terbaik dari setiap match yang akan lolos ke babak selanjutnya (Top 12 Besar)
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅ1
Siap mengasah logika, adu strategi, dan mengungkap misteri angka lawan? ๐ฅ
Sebelum masuk ke arena Number Detective, pastikan seluruh tim memahami aturan permainannya. Silakan pelajari juknis berikut, diskusikan strategi terbaik bersama tim, dan coba bersiaplah menghadapi tantangan yang membutuhkan lebih dari sekadar keberuntungan. Karena mulai Babak Top 36 ini dstnya, kemenangan tim adalah hasil dari analisis dan kerja sama yang solid๐ก ๐
Sebelum masuk ke arena Number Detective, pastikan seluruh tim memahami aturan permainannya. Silakan pelajari juknis berikut, diskusikan strategi terbaik bersama tim, dan coba bersiaplah menghadapi tantangan yang membutuhkan lebih dari sekadar keberuntungan. Karena mulai Babak Top 36 ini dstnya, kemenangan tim adalah hasil dari analisis dan kerja sama yang solid
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Dedi Priadi
Seringkali, satu-satunya cara bagi kita untuk menyadari betapa pentingnya sesuatu adalah dengan kehilangannya secara tiba-tiba. Goncangan hebat dari ruang kosong itulah yang memaksa mata batin kita terbuka lebar untuk melihat nilai yang selama ini tersembunyi di balik tabir kepemilikan.
Sebelum sesuatu itu datang, kita merawat rindu yang membumbung tinggi, seolah ia adalah satu-satunya kepingan ๐ฑ๐ถ๐ป๐ป๐ญ๐ฆ yang sanggup menyempurnakan kekosongan jiwa. Namun, harapan seringkali hanyalah proyeksi ego yang rakus, yang hanya mencintai bayangan kesempurnaan daripada hakikat sesungguhnya.
Begitu keinginan tersebut terwujud dalam genggaman, anehnya nilai itu justru merosot jatuh ke titik nadir. Kita menjadi terbiasa, menganggap kehadirannya sebagai kepastian yang abadi, sehingga hati pun mulai tumpul untuk mensyukuri detak-detak keberadaannya yang nyata.
Psikolog menyebutnya adaptasi, namun dalam kacamata spiritual, ini adalah kelalaian fatal saat kita membiarkan sesuatu menjadi biasa. Kita meremehkan apa yang ada di depan mata, seolah-olah waktu tidak akan pernah mengambilnya kembali dari dekapan kita.
Ketidakhadiran rasa syukur saat memiliki inilah yang membangun panggung bagi tragedi penyesalan di masa depan. Kita tidak pernah benar-benar menghargai oksigen sampai paru-paru kita dipaksa berhenti menghirupnya oleh takdir yang tidak bisa dinegosiasikan lagi.
Lalu, saat kehilangan itu benar-benar terjadi, nilai benda atau orang tersebut tiba-tiba melesat melampaui puncak gunung tertinggi. Kekosongan yang ditinggalkan menciptakan gema yang begitu keras, meneriakkan semua keindahan yang gagal kita apresiasi saat ia masih menetap.
Kita baru tersadar betapa hangatnya sebuah tegur sapa justru saat kesunyian mulai menyelimuti setiap sudut rumah. Kehilangan bertindak sebagai cahaya benderang yang menyinari setiap detail kebaikan yang dulu kita anggap sebagai hal yang remeh dan tak bermakna.
Hakikatnya, lonjakan nilai setelah kehilangan ini adalah cara Tuhan menghancurkan keangkuhan rasa memiliki kita yang semu. Dia mengambil apa yang kita puja agar kita menyadari bahwa hakikat keindahan sesungguhnya seringkali baru terpancar saat raga bendanya telah tiada.
Penderitaan yang muncul pasca kehilangan adalah guru spiritual yang sedang mengajari kita tentang makna "cukup". Ia menunjukkan bahwa keterikatan kita pada dunia seringkali lebih besar daripada kemampuan kita untuk benar-benar mencintai esensi dari apa yang kita miliki.
Setiap tetes air mata yang jatuh setelah kepergiannya adalah pengakuan jujur akan kelalaian kita di masa lalu. Kita menangis bukan hanya karena kehilangan objeknya, melainkan karena menyadari betapa miskinnya penghargaan kita saat objek itu masih setia menemani perjalanan hidup.
Melalui ruang hampa yang ditinggalkan, kita dipaksa belajar untuk tidak lagi menunda rasa terima kasih kepada semesta. Kehilangan adalah proses ๐ต๐ข๐ซ๐ณ๐ช๐ฅ, sebuah pengosongan paksa agar jiwa kita kembali jernih dalam memandang mana yang benar-benar berharga dan mana yang sekadar hiasan.
Maka, jadikanlah bayangan akan kehilangan sebagai cermin untuk senantiasa menghidupkan rasa kagum di setiap detik kepemilikan. Jangan tunggu sampai genggaman itu lepas hanya untuk sekadar berbisik bahwa apa yang kau miliki hari ini sesungguhnya adalah harta yang tak ternilai.
#INISIATIF
Seringkali, satu-satunya cara bagi kita untuk menyadari betapa pentingnya sesuatu adalah dengan kehilangannya secara tiba-tiba. Goncangan hebat dari ruang kosong itulah yang memaksa mata batin kita terbuka lebar untuk melihat nilai yang selama ini tersembunyi di balik tabir kepemilikan.
Sebelum sesuatu itu datang, kita merawat rindu yang membumbung tinggi, seolah ia adalah satu-satunya kepingan ๐ฑ๐ถ๐ป๐ป๐ญ๐ฆ yang sanggup menyempurnakan kekosongan jiwa. Namun, harapan seringkali hanyalah proyeksi ego yang rakus, yang hanya mencintai bayangan kesempurnaan daripada hakikat sesungguhnya.
Begitu keinginan tersebut terwujud dalam genggaman, anehnya nilai itu justru merosot jatuh ke titik nadir. Kita menjadi terbiasa, menganggap kehadirannya sebagai kepastian yang abadi, sehingga hati pun mulai tumpul untuk mensyukuri detak-detak keberadaannya yang nyata.
Psikolog menyebutnya adaptasi, namun dalam kacamata spiritual, ini adalah kelalaian fatal saat kita membiarkan sesuatu menjadi biasa. Kita meremehkan apa yang ada di depan mata, seolah-olah waktu tidak akan pernah mengambilnya kembali dari dekapan kita.
Ketidakhadiran rasa syukur saat memiliki inilah yang membangun panggung bagi tragedi penyesalan di masa depan. Kita tidak pernah benar-benar menghargai oksigen sampai paru-paru kita dipaksa berhenti menghirupnya oleh takdir yang tidak bisa dinegosiasikan lagi.
Lalu, saat kehilangan itu benar-benar terjadi, nilai benda atau orang tersebut tiba-tiba melesat melampaui puncak gunung tertinggi. Kekosongan yang ditinggalkan menciptakan gema yang begitu keras, meneriakkan semua keindahan yang gagal kita apresiasi saat ia masih menetap.
Kita baru tersadar betapa hangatnya sebuah tegur sapa justru saat kesunyian mulai menyelimuti setiap sudut rumah. Kehilangan bertindak sebagai cahaya benderang yang menyinari setiap detail kebaikan yang dulu kita anggap sebagai hal yang remeh dan tak bermakna.
Hakikatnya, lonjakan nilai setelah kehilangan ini adalah cara Tuhan menghancurkan keangkuhan rasa memiliki kita yang semu. Dia mengambil apa yang kita puja agar kita menyadari bahwa hakikat keindahan sesungguhnya seringkali baru terpancar saat raga bendanya telah tiada.
Penderitaan yang muncul pasca kehilangan adalah guru spiritual yang sedang mengajari kita tentang makna "cukup". Ia menunjukkan bahwa keterikatan kita pada dunia seringkali lebih besar daripada kemampuan kita untuk benar-benar mencintai esensi dari apa yang kita miliki.
Setiap tetes air mata yang jatuh setelah kepergiannya adalah pengakuan jujur akan kelalaian kita di masa lalu. Kita menangis bukan hanya karena kehilangan objeknya, melainkan karena menyadari betapa miskinnya penghargaan kita saat objek itu masih setia menemani perjalanan hidup.
Melalui ruang hampa yang ditinggalkan, kita dipaksa belajar untuk tidak lagi menunda rasa terima kasih kepada semesta. Kehilangan adalah proses ๐ต๐ข๐ซ๐ณ๐ช๐ฅ, sebuah pengosongan paksa agar jiwa kita kembali jernih dalam memandang mana yang benar-benar berharga dan mana yang sekadar hiasan.
Maka, jadikanlah bayangan akan kehilangan sebagai cermin untuk senantiasa menghidupkan rasa kagum di setiap detik kepemilikan. Jangan tunggu sampai genggaman itu lepas hanya untuk sekadar berbisik bahwa apa yang kau miliki hari ini sesungguhnya adalah harta yang tak ternilai.
#INISIATIF
๐1
Oleh: Teguh Arifiyadi
Tugas saya 'magang' sebagai direktur (kemungkinan) akan berakhir dalam beberapa hari ini. Sesuai aturan, maksimal perpanjangan menjadi pelaksana tugas direktur hanya dua kali.
Saya kembali ke barak saya di lab digital forensic, fokus mengurusi penyidikan siber, mengajar, dan memberikan bantuan ahli. Tugas saya lebih ringan karena 'hanya' dipasrahi tanggung jawab anggaran miliaran setahun dengan dukungan tim kecil yang jumlahnya tak lebih dari 30 an orang.
Sementara, menjadi pelaksana tugas direktur, saya 'dibebani' anggaran se-triliun lebih dengan dibantu lebih dari 230-an orang. Dengan kewenangan dan anggaran besar, saya dibayangi risiko yang tidak kalah besar. Deg-degan hampir setiap hari untuk memastikan tidak ada anggota tim yang main-main memanfaatkan anggaran sebesar itu.
Sejauh ini saya masih percaya, anggota kami bisa dijaga integritasnya. Yang sulit dikendalikan adalah pelaksanaan program di lapangan antar pihak ketiga dan 'para hantu' yang mencari keuntungan dengan cara yang saya mungkin tidak pernah tahu.
"Apa sih yang dikejar dari sebuah jabatan?" Pertanyaan awal-awal ketika saya 'magang' jadi direktur.
Kemudian, ketika saya menjabat, saya baru paham kenapa jabatan itu banyak diperjuangkan orang-orang.
Begini. Sebagai pejabat sekelas eselon 2, kita akan lebih sering mendapat prioritas bicara di banyak forum, pernyataan saya adalah atensi yang bisa menjadi perintah tanpa harus memerintah, kursi yang saya duduki lebih empuk dibanding kursi staf, saya mendapat kamar hotel yang lebih nyaman dibanding tim saya, saya tak pernah lagi kehujanan naik motor karena difasilitasi mobil dinas diatas 2000 cc lengkap beserta supirnya, parkir mobil pun mendapat tempat paling strategis di kantor. Selain itu pastinya, tambahan tunjangan jabatan saya cukup untuk membeli Iphone baru setiap bulannya.
Keuntungan tidak langsung lain adalah saya sering dianggap sebagai teman dekat oleh banyak orang, bahkan mereka yang tidak pernah mengenal saya secara pribadi. Saya sering disebut sebagai saudara oleh banyak orang, saya kerap disapa banyak orang baik langsung maupun melalui pesan di gawai saya. Singkatnya saya jadi dikenal dan punya banyak teman &saudara.
Saya tidak gede rumongso, saya sadar bahwa sebagian mereka menjadikan saya teman dan saudara karena kepentingan mereka. Mereka sangat baik dan ramah bukan karena pribadi saya, melainkan karena jabatan dan kewenangan saya. Sulit menemukan perkawanan sejati dalam bisnis dan kepentingan. Wajar saja.
Di lingkungan birokrasi, umumnya jabatan direktur itu dikompetisikan alias dilelangkan. Harapannya, dengan cara itu pemerintah akan mendapatkan kader terbaik.
Padahal katanya jabatan itu amanah. Kalau kata guru saya, amanah itu idealnya dipercayakan oleh pemberi amanah, bukan dicari, dan dikompetisikan.
Meski bisa dipahami, penunjukan pejabat tanpa lelang di pemerintahan itu hanya menciptakan nepotisme dan menghasilkan pejabat dengan kemampuan seadanya. Kalaupun harus ditunjuk, harusnya dibarengi standard minimal kompetensi dan pengalaman calon yang akan ditunjuk.
Suka tidak suka, aturan di pemerintahan memang begitu. Mau jadi direktur ya harus berani berkompetisi, kalau tidak mau atau tidak berani ya jangan berharap banyak. Toh lebih banyak positifnya melelangkan jabatan dibanding main tunjuk.
Dari hati terdalam, saya lebih senang tidak ikut berkompetisi di situ. Kenyamanan jabatan memang gurih, tapi ketenangan bekerja jauh lebih nikmat.
Eh tapi saya tidak tahu, mungkin suatu saat saya terpaksa jadi bagian dari persaingan itu. Jika itu terjadi, saya bisa pastikan jika itu saya lakukan atas perintah pemberi amanah dan persetujuan kuncen rumah (istri), bukan hasrat jabatan. Tanpa dua itu, saya tidak tertarik maju ke gelanggang persaingan ambisi.
Biar mereka yang terbaik saja.
Saya sadar diri, saya hanya ASN biasa pada umumnya. Kerja, rapat, kerja, rapat, rapat, rapat, rapat, dan terus rapat sampai kadang lupa kerja. :)
#INISIATIF
Tugas saya 'magang' sebagai direktur (kemungkinan) akan berakhir dalam beberapa hari ini. Sesuai aturan, maksimal perpanjangan menjadi pelaksana tugas direktur hanya dua kali.
Saya kembali ke barak saya di lab digital forensic, fokus mengurusi penyidikan siber, mengajar, dan memberikan bantuan ahli. Tugas saya lebih ringan karena 'hanya' dipasrahi tanggung jawab anggaran miliaran setahun dengan dukungan tim kecil yang jumlahnya tak lebih dari 30 an orang.
Sementara, menjadi pelaksana tugas direktur, saya 'dibebani' anggaran se-triliun lebih dengan dibantu lebih dari 230-an orang. Dengan kewenangan dan anggaran besar, saya dibayangi risiko yang tidak kalah besar. Deg-degan hampir setiap hari untuk memastikan tidak ada anggota tim yang main-main memanfaatkan anggaran sebesar itu.
Sejauh ini saya masih percaya, anggota kami bisa dijaga integritasnya. Yang sulit dikendalikan adalah pelaksanaan program di lapangan antar pihak ketiga dan 'para hantu' yang mencari keuntungan dengan cara yang saya mungkin tidak pernah tahu.
"Apa sih yang dikejar dari sebuah jabatan?" Pertanyaan awal-awal ketika saya 'magang' jadi direktur.
Kemudian, ketika saya menjabat, saya baru paham kenapa jabatan itu banyak diperjuangkan orang-orang.
Begini. Sebagai pejabat sekelas eselon 2, kita akan lebih sering mendapat prioritas bicara di banyak forum, pernyataan saya adalah atensi yang bisa menjadi perintah tanpa harus memerintah, kursi yang saya duduki lebih empuk dibanding kursi staf, saya mendapat kamar hotel yang lebih nyaman dibanding tim saya, saya tak pernah lagi kehujanan naik motor karena difasilitasi mobil dinas diatas 2000 cc lengkap beserta supirnya, parkir mobil pun mendapat tempat paling strategis di kantor. Selain itu pastinya, tambahan tunjangan jabatan saya cukup untuk membeli Iphone baru setiap bulannya.
Keuntungan tidak langsung lain adalah saya sering dianggap sebagai teman dekat oleh banyak orang, bahkan mereka yang tidak pernah mengenal saya secara pribadi. Saya sering disebut sebagai saudara oleh banyak orang, saya kerap disapa banyak orang baik langsung maupun melalui pesan di gawai saya. Singkatnya saya jadi dikenal dan punya banyak teman &saudara.
Saya tidak gede rumongso, saya sadar bahwa sebagian mereka menjadikan saya teman dan saudara karena kepentingan mereka. Mereka sangat baik dan ramah bukan karena pribadi saya, melainkan karena jabatan dan kewenangan saya. Sulit menemukan perkawanan sejati dalam bisnis dan kepentingan. Wajar saja.
Di lingkungan birokrasi, umumnya jabatan direktur itu dikompetisikan alias dilelangkan. Harapannya, dengan cara itu pemerintah akan mendapatkan kader terbaik.
Padahal katanya jabatan itu amanah. Kalau kata guru saya, amanah itu idealnya dipercayakan oleh pemberi amanah, bukan dicari, dan dikompetisikan.
Meski bisa dipahami, penunjukan pejabat tanpa lelang di pemerintahan itu hanya menciptakan nepotisme dan menghasilkan pejabat dengan kemampuan seadanya. Kalaupun harus ditunjuk, harusnya dibarengi standard minimal kompetensi dan pengalaman calon yang akan ditunjuk.
Suka tidak suka, aturan di pemerintahan memang begitu. Mau jadi direktur ya harus berani berkompetisi, kalau tidak mau atau tidak berani ya jangan berharap banyak. Toh lebih banyak positifnya melelangkan jabatan dibanding main tunjuk.
Dari hati terdalam, saya lebih senang tidak ikut berkompetisi di situ. Kenyamanan jabatan memang gurih, tapi ketenangan bekerja jauh lebih nikmat.
Eh tapi saya tidak tahu, mungkin suatu saat saya terpaksa jadi bagian dari persaingan itu. Jika itu terjadi, saya bisa pastikan jika itu saya lakukan atas perintah pemberi amanah dan persetujuan kuncen rumah (istri), bukan hasrat jabatan. Tanpa dua itu, saya tidak tertarik maju ke gelanggang persaingan ambisi.
Biar mereka yang terbaik saja.
Saya sadar diri, saya hanya ASN biasa pada umumnya. Kerja, rapat, kerja, rapat, rapat, rapat, rapat, dan terus rapat sampai kadang lupa kerja. :)
#INISIATIF
๐2
Diskusi itu bagian dari proses. Eksekusi adalah komitmennya ๐ค
Setiap keputusan yang baik perlu ruang untuk dipikirkan, diuji, dan diselaraskan. Bukan untuk berhenti di pembahasan, tapi supaya langkah yang dijalankan setelahnya benar-benar tepat sasaran. Karena yang kami bangun bukan sekadar percakapan, tapi aksi yang memberi manfaat nyata๐ฎ๐ฉ
Setiap proses yang baik selalu bertujuan menghadirkan dampak yang lebih baik
Gimana dengan unit kerjamu? drop cerita dan tag rekanmu disini๐
https://www.instagram.com/p/DZGs-WuCagk/?igsh=MmVocnd2dHEyZ3V1
Setiap keputusan yang baik perlu ruang untuk dipikirkan, diuji, dan diselaraskan. Bukan untuk berhenti di pembahasan, tapi supaya langkah yang dijalankan setelahnya benar-benar tepat sasaran. Karena yang kami bangun bukan sekadar percakapan, tapi aksi yang memberi manfaat nyata
Setiap proses yang baik selalu bertujuan menghadirkan dampak yang lebih baik
Gimana dengan unit kerjamu? drop cerita dan tag rekanmu disini
https://www.instagram.com/p/DZGs-WuCagk/?igsh=MmVocnd2dHEyZ3V1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM