Selamat Sore Bapak/Ibu sekalian
Bersama ini kami mengundang Bapak Ibu sekalian mengikuti webinar ACOH 2026 tanggal 15 April 2026 pukul 14.00-15.00 MYT (pukul 13.00-14.00 WIB) dalam platform MS TEAMS dan silahkan register terlebih dahulu di link berikut:
https://www.acoh2026.com/ kemudian memilih Complimentary Webinars βΊπ
Ket: Webinar berikut free (tidak berbayar) terima kasih
Hormat kami
PP Perdoki
Bersama ini kami mengundang Bapak Ibu sekalian mengikuti webinar ACOH 2026 tanggal 15 April 2026 pukul 14.00-15.00 MYT (pukul 13.00-14.00 WIB) dalam platform MS TEAMS dan silahkan register terlebih dahulu di link berikut:
https://www.acoh2026.com/ kemudian memilih Complimentary Webinars βΊπ
Ket: Webinar berikut free (tidak berbayar) terima kasih
Hormat kami
PP Perdoki
β€1
Oleh: Muhammad Farid Maricar
Ada kalanya saya percaya bahwa rezeki antarmanusia itu saling berkoneksi. Karena itu, saya tidak langsung menolak ketika ada yang berkata bahwa beda istri bisa beda rezeki, atau bahwa pernikahan bisa membuka pintu-pintu rezeki.
Mungkin saya sudah beberapa kali menulis hal semacam ini di postingan saya. SK CPNS saya dulu sempat tertunda, lalu justru keluar sepekan sebelum saya menikah. Gaji saya yang sudah 100% beserta jabfung pun baru keluar beberapa hari sebelum anak saya lahir.
Buat sebagian orang mungkin itu hanya kebetulan. Tapi buat saya, momen-momen seperti itu cukup untuk membuat kita merenung bahwa kadang rezeki memang datang bukan hanya karena usaha diri sendiri, melainkan juga karena hadirnya orang-orang tertentu dalam hidup kita.
Beasiswa saya ke Jepang pun bisa jadi bukan semata-mata rezeki saya pribadi, tapi juga bagian dari rezeki istri saya untuk datang ke sini. Sebaliknya, istri saya juga mendapat beasiswa yang informasinya justru datang dari relasi saya dengan orang lain.
Di situ saya makin merasa bahwa jalan rezeki itu sering kali tidak berjalan sendirian. Ia mengalir lewat pertemuan, hubungan, waktu, dan orang-orang yang dipertemukan dalam hidup kita.
Karena itu, kadang saya merasa aneh ketika ada orang yang terlalu percaya diri menganggap semua capaian murni hasil kapasitas dirinya sendiri. Merasa dirinya sangat kompeten, merasa akan tetap menang di situasi apa pun, merasa kalau ditempatkan di lingkungan berbeda pun tetap bisa menaklukkan semuanya. Padahal belum tentu.
Sebab kenyataannya, hidup ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa hebat kita. Ada faktor waktu yang tepat, ada pertolongan dari orang lain, ada doa orang tua, ada dukungan pasangan, ada anak yang mungkin justru menjadi pembuka pintu-pintu kemudahan, bahkan ada kebaikan-kebaikan kecil yang dulu pernah kita tanam lalu kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak disangka.
Itulah kenapa menurut saya, semakin seseorang banyak melihat hidup, seharusnya semakin rendah hati. Karena ia sadar bahwa keberhasilan bukan cuma soal βsaya mampuβ, tetapi juga soal βsiapa yang Allah hadirkan di sekitar sayaβ.
Bukan cuma soal kerja keras, tapi juga soal hubungan, keberkahan, dan momentum yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika usaha semata.
Maka menikah, punya pasangan, punya anak, punya teman yang baik, punya relasi yang sehat, itu semua bukan sekadar pelengkap hidup. Bisa jadi justru di situlah letak sebagian rezeki kita. Dan sebaliknya, bisa jadi kita pun adalah bagian dari rezeki orang lain.
Kalau dipikir-pikir, mungkin itulah alasan kenapa manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Karena dalam banyak hal, rezeki itu datang lewat hubungan dengan orang lain.
Wallahu'alam bish showab
#INISIATIF #Weekend
Ada kalanya saya percaya bahwa rezeki antarmanusia itu saling berkoneksi. Karena itu, saya tidak langsung menolak ketika ada yang berkata bahwa beda istri bisa beda rezeki, atau bahwa pernikahan bisa membuka pintu-pintu rezeki.
Mungkin saya sudah beberapa kali menulis hal semacam ini di postingan saya. SK CPNS saya dulu sempat tertunda, lalu justru keluar sepekan sebelum saya menikah. Gaji saya yang sudah 100% beserta jabfung pun baru keluar beberapa hari sebelum anak saya lahir.
Buat sebagian orang mungkin itu hanya kebetulan. Tapi buat saya, momen-momen seperti itu cukup untuk membuat kita merenung bahwa kadang rezeki memang datang bukan hanya karena usaha diri sendiri, melainkan juga karena hadirnya orang-orang tertentu dalam hidup kita.
Beasiswa saya ke Jepang pun bisa jadi bukan semata-mata rezeki saya pribadi, tapi juga bagian dari rezeki istri saya untuk datang ke sini. Sebaliknya, istri saya juga mendapat beasiswa yang informasinya justru datang dari relasi saya dengan orang lain.
Di situ saya makin merasa bahwa jalan rezeki itu sering kali tidak berjalan sendirian. Ia mengalir lewat pertemuan, hubungan, waktu, dan orang-orang yang dipertemukan dalam hidup kita.
Karena itu, kadang saya merasa aneh ketika ada orang yang terlalu percaya diri menganggap semua capaian murni hasil kapasitas dirinya sendiri. Merasa dirinya sangat kompeten, merasa akan tetap menang di situasi apa pun, merasa kalau ditempatkan di lingkungan berbeda pun tetap bisa menaklukkan semuanya. Padahal belum tentu.
Sebab kenyataannya, hidup ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa hebat kita. Ada faktor waktu yang tepat, ada pertolongan dari orang lain, ada doa orang tua, ada dukungan pasangan, ada anak yang mungkin justru menjadi pembuka pintu-pintu kemudahan, bahkan ada kebaikan-kebaikan kecil yang dulu pernah kita tanam lalu kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak disangka.
Itulah kenapa menurut saya, semakin seseorang banyak melihat hidup, seharusnya semakin rendah hati. Karena ia sadar bahwa keberhasilan bukan cuma soal βsaya mampuβ, tetapi juga soal βsiapa yang Allah hadirkan di sekitar sayaβ.
Bukan cuma soal kerja keras, tapi juga soal hubungan, keberkahan, dan momentum yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika usaha semata.
Maka menikah, punya pasangan, punya anak, punya teman yang baik, punya relasi yang sehat, itu semua bukan sekadar pelengkap hidup. Bisa jadi justru di situlah letak sebagian rezeki kita. Dan sebaliknya, bisa jadi kita pun adalah bagian dari rezeki orang lain.
Kalau dipikir-pikir, mungkin itulah alasan kenapa manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Karena dalam banyak hal, rezeki itu datang lewat hubungan dengan orang lain.
Wallahu'alam bish showab
#INISIATIF #Weekend
β€4
Beda pimpinan, beda juga cara menunjukkan apresiasi. Dan seringnya, bukan soal kurang dihargaiβ¦ Tapi kita belum sepenuhnya memahami caranya π²π¨
Mulai dari kata-kata, tindakan, sampai waktu yang diluangkan, semua punya makna yang sama yakni bagaimana membangun tim yang lebih solidπ€
Jadi, yuk coba lihat dari sudut pandang yang berbeda biar kerja nggak cuma produktif, tapi juga lebih nyaman, karena kerja enak itu dimulai dari saling memahamiβ€οΈ
Mulai dari kata-kata, tindakan, sampai waktu yang diluangkan, semua punya makna yang sama yakni bagaimana membangun tim yang lebih solid
Jadi, yuk coba lihat dari sudut pandang yang berbeda biar kerja nggak cuma produktif, tapi juga lebih nyaman, karena kerja enak itu dimulai dari saling memahami
Kalau kamu, lebih relate sama gaya pimpinan yang mana? Jangan lupa komenπ
https://www.instagram.com/p/DWn1gzwiQvy/?igsh=OWR6amJoa3czZjdq
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
β€2
Ngobrol itu kelihatannya simpel, tapi nggak jarang jadi sumber salah paham. Niatnya pengen dekat, malah jadi canggung. Mau jujur, takut nyakitin. Akhirnya banyak yang dipendam, hubungan jadi hambar atau penuh drama
Di kelas ini, kita bakal ngobrol santai soal cara membangun komunikasi yang nyaman dan sehat, mulai dari membuka obrolan tanpa kikuk, menyampaikan perasaan tanpa bikin tersinggung, sampai menjaga kedekatan tanpa harus nunggu momen besar. Biar ngobrol gak cuma ngalir, tapi juga bermakna
Join ATE Edisi 421
π Rabu, 15 April 2026
β° 19.00 WIB β selesai
π Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT BPJS Kesehatan)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
π Ilmu + 2 JP + Doorprize
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Pernah nggak sih baca satu kalimatβ¦ terus langsung mikir, βwah, ini gue bangetβπ
Battle of Words: Biar Kata yang Bicara
Ready buat adu kata-kata?
Bukan adu panjang, bukan adu ribet, tapi adu siapa yang paling βkenaβ. Lewat kompetisi ini, seluruh Duta BPJS Kesehatan diajak untuk belajar sekaligus mengasah kemampuan dalam merangkai copywriting yang impactful
Tulis. Submit. Lalu biarkan Sobat ATE yang menilai lewat emoji
Yuk, submit kata-katamu (Maks Kamis, 9 April 2026)
https://forms.cloud.microsoft/r/u0npKAUaG4
Join Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Bahan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) βοΈ
Terlampir referensi sebagai bahan pembelajaran dan latihan dalam menyusun copywriting/ headline yang efektifπ€
Credit: Fadel Yulian
Terlampir referensi sebagai bahan pembelajaran dan latihan dalam menyusun copywriting/ headline yang efektif
Credit: Fadel Yulian
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
π1