Karena Trik kecil yang dibagikan hari ini, bisa jadi solusi untuk banyak orang ke depannya
Itulah yang ditunjukkan para #LifeHackChampions kita bahwa hidup efektif dan efisien bukan hanya tentang diri sendiri, tapi juga tentang memberi dampak bagi sesama
Selamat untuk para juara ๐
1. Kk @ErniEkawaty (Staf Perencanaan dan Pembukuan KC Makassar)
2. Bapak @Bossyayak (Ka KC Jakarta Utara)
3. Kk @Ghury_gege (Kabag Yanser KC Jakarta Utara)
Terus berbagi, terus menginspirasi dan sampai bertemu di event fun and meaningful lainnya
Join Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅ3๐1
NASIHAT YANG KITA BUTUHKAN
Oleh: Andre Raditya
Jika engkau bertemu dengan nasihat yang tidak membuat nyaman hatimu..
Justru itulah sebenar-benarnya nasihat yang kau butuhkan.
Karena artinya..
Ada bagian dari dirimu yang sedang terluka merasakan perih sebab nasihat itu. Dan itulah awal mula proses penyembuhan.
Sudah sifatnya obat akan memberi rasa perih di luka yang sedang diobatinya.
Jangan menghindari nasihat yang menyakiti hatimu.
Terima..
Akui salahmu. Perbaiki dirimu.
Dan esok kau akan jadi lebih baik.
Mereka yang selalu menolak nasihat sebenarnya sedang ditipu oleh setan dalam dirinya.
Merasa selalu baik.
Merasa selalu benar.
Bahkan otaknya diajak kreatif untuk mencari celah dari nasihat. Berargumen agar nampaknya nasihat itu tidak tepat dan tidak sesuai konteks.
Akhirnya mati dalam keadaan tidak berubah dan bangga dengan salah dan dosanya.
Karena orang yang beruntung dalam hidup ini bukan mereka yang banyak mendapatkan pujian dan harta. Tapi yang paling pandai mengumpulkan nasihat sebelum ia membutuhkannya.
Sebab, menerima nasihat saat sudah kejadian.. itu akan amat sakit rasanya. Dan juga terasa berat untuk mengamalkannya.
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Andre Raditya
Jika engkau bertemu dengan nasihat yang tidak membuat nyaman hatimu..
Justru itulah sebenar-benarnya nasihat yang kau butuhkan.
Karena artinya..
Ada bagian dari dirimu yang sedang terluka merasakan perih sebab nasihat itu. Dan itulah awal mula proses penyembuhan.
Sudah sifatnya obat akan memberi rasa perih di luka yang sedang diobatinya.
Jangan menghindari nasihat yang menyakiti hatimu.
Terima..
Akui salahmu. Perbaiki dirimu.
Dan esok kau akan jadi lebih baik.
Mereka yang selalu menolak nasihat sebenarnya sedang ditipu oleh setan dalam dirinya.
Merasa selalu baik.
Merasa selalu benar.
Bahkan otaknya diajak kreatif untuk mencari celah dari nasihat. Berargumen agar nampaknya nasihat itu tidak tepat dan tidak sesuai konteks.
Akhirnya mati dalam keadaan tidak berubah dan bangga dengan salah dan dosanya.
Karena orang yang beruntung dalam hidup ini bukan mereka yang banyak mendapatkan pujian dan harta. Tapi yang paling pandai mengumpulkan nasihat sebelum ia membutuhkannya.
Sebab, menerima nasihat saat sudah kejadian.. itu akan amat sakit rasanya. Dan juga terasa berat untuk mengamalkannya.
#INISIATIF #TGIF
โค1
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat Pagi, Sahabat!
Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Minal Aidin wal Faidzin.
Mohon maaf lahir dan batin. ๐
Malam tadi saya membaca tentang ajaran Siddhartha Gautama di buku Sapiens (Yuval Noah Harari), khususnya yang berkaitan dengan suffering (penderitaan) dan craving (keinginan yang sangat kuat/nafsu).
Dalam ajarannya, Gautama mengatakan bahwa penderitaan manusia bukan terutama disebabkan oleh kesialan, ketidakadilan sosial, atau kehendak ilahi. Sering kali sumbernya justru ada di dalam pikiran kita sendiri, yaitu pola pikir yang sudah terbentuk dan kita ulang terus-menerus tanpa sadar. Pola inilah yang sering membuat seseorang sulit merasakan kedamaian.
Ketika seseorang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan (marah, sedih, kecewa), pikirannya langsung dipenuhi dorongan kuat untuk menghilangkan perasaan itu.
Sebaliknya, ketika mengalami sesuatu yang menyenangkan (bahagia, puas) muncul dorongan lain: ingin mempertahankan perasaan itu, bahkan berharap rasa itu bisa bertahan lebih lama atau menjadi lebih kuat.
Mungkin di sinilah kita bisa memahami mengapa tidak sedikit orang yang terlihat sangat sukses dalam hidupnya, tetapi tetap merasa gelisah. Pikirannya selalu menginginkan sesuatu yang lebih, dan pada saat yang sama takut kehilangan apa yang sudah diraih.
Dalam ajaran Buddha, penderitaan berawal dari nafsu.
A person who does not crave cannot suffer (Seseorang yang tidak menginginkan sesuatu tidak akan menderita).
Dan untuk mengurangi penderitaan, seseorang perlu belajar melepaskan dorongan tersebut, yaitu dengan melatih pikiran untuk melihat dan menerima kenyataan apa adanya.
Buat saya, ajaran ini terasa sangat dekat dengan konsep mindfulness. Belajar untuk hadir pada momen yang sedang dijalani. To live in the moment.
Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?
Have a nice day ๐โค๏ธ
#INISIATIF
Selamat Pagi, Sahabat!
Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Minal Aidin wal Faidzin.
Mohon maaf lahir dan batin. ๐
Malam tadi saya membaca tentang ajaran Siddhartha Gautama di buku Sapiens (Yuval Noah Harari), khususnya yang berkaitan dengan suffering (penderitaan) dan craving (keinginan yang sangat kuat/nafsu).
Dalam ajarannya, Gautama mengatakan bahwa penderitaan manusia bukan terutama disebabkan oleh kesialan, ketidakadilan sosial, atau kehendak ilahi. Sering kali sumbernya justru ada di dalam pikiran kita sendiri, yaitu pola pikir yang sudah terbentuk dan kita ulang terus-menerus tanpa sadar. Pola inilah yang sering membuat seseorang sulit merasakan kedamaian.
Ketika seseorang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan (marah, sedih, kecewa), pikirannya langsung dipenuhi dorongan kuat untuk menghilangkan perasaan itu.
Sebaliknya, ketika mengalami sesuatu yang menyenangkan (bahagia, puas) muncul dorongan lain: ingin mempertahankan perasaan itu, bahkan berharap rasa itu bisa bertahan lebih lama atau menjadi lebih kuat.
Mungkin di sinilah kita bisa memahami mengapa tidak sedikit orang yang terlihat sangat sukses dalam hidupnya, tetapi tetap merasa gelisah. Pikirannya selalu menginginkan sesuatu yang lebih, dan pada saat yang sama takut kehilangan apa yang sudah diraih.
Dalam ajaran Buddha, penderitaan berawal dari nafsu.
A person who does not crave cannot suffer (Seseorang yang tidak menginginkan sesuatu tidak akan menderita).
Dan untuk mengurangi penderitaan, seseorang perlu belajar melepaskan dorongan tersebut, yaitu dengan melatih pikiran untuk melihat dan menerima kenyataan apa adanya.
Buat saya, ajaran ini terasa sangat dekat dengan konsep mindfulness. Belajar untuk hadir pada momen yang sedang dijalani. To live in the moment.
Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?
Have a nice day ๐โค๏ธ
#INISIATIF
๐ฅ1๐1
Final FIFA Series 2026 mempertemukan Indonesia dan Bulgaria di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (30/3/2026) pukul 20.00 WIB. Indonesia melaju ke final usai menang 4-0 atas Saint Kitts and Nevis, sementara Bulgaria mengalahkan Kepulauan Solomon 10-2. Laga ini menjadi ujian sesungguhnya bagi Garuda melawan tim Eropa berperingkat FIFA lebih tinggi (peringkat 85 vs 120)
Nah, sembari menyaksikan dan memberi dukungan buat Timnas, kembali ada peluang seru-seruan juga buatmu untuk memenangkan Souvenir ATE INISIATIF masing-masing untuk 3 (tiga) Sobat ATE beruntung yang berhasil menebak 2 opsi polling sekaligus dengan tepat
Periode partisipasinya dimulai saat ini dan akan ditutup pada Senin malam ini, 30 Maret 2026 pukul 20.00 WIB
Syarat klaim : Sudah join di grup COMMIT ATE (Khusus Internal Duta BPJS Kesehatan)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#INISIATIFDukungTimnas
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Ada tempat-tempat di dunia yang tak pernah benar-benar sunyi dari cerita. Bukan karena keramaian manusianya, tapi karena letaknya yang menentukan arah sejarah. Seperti sebuah persimpangan besar, ia menjadi saksi ambisi, harapan, dan perebutan kuasa. Dari sana kita belajar: terkadang, kemenangan bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling memahami posisi.
Di tengah arus yang terus bergerak, ada mereka yang memilih untuk tidak melawan gelombang, melainkan membaca arahnya. Mereka tahu kapan harus maju, kapan harus menepi, dan kapan cukup menjadi pengamat. Karena tidak semua pertarungan harus dimenangkan dengan benturan. Ada yang justru selesai dengan ketenangan dan kecermatan.
Hidup seringkali menyerupai jalur sempit yang dilalui banyak kepentingan. Kita bisa saja memaksakan kehendak, beradu keras, dan membuktikan siapa yang paling benar. Tapi di sisi lain, ada pilihan untuk tetap melangkah tanpa harus menjatuhkan. Menang tanpa melukai, unggul tanpa merendahkan.
Kemenangan seperti itu mungkin tak selalu terlihat gemilang di mata banyak orang. Namun ia meninggalkan jejak yang lebih dalamโrasa hormat, kedamaian, dan hubungan yang tetap utuh. Sebab pada akhirnya, bukan hanya tujuan yang penting, tapi bagaimana kita sampai ke sana.
Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari โwin without fightingโโsebuah seni untuk tetap teguh tanpa harus keras, tetap kuat tanpa harus kasar, dan tetap menang tanpa harus kehilangan diri sendiri.
#INISIATIF
Di tengah arus yang terus bergerak, ada mereka yang memilih untuk tidak melawan gelombang, melainkan membaca arahnya. Mereka tahu kapan harus maju, kapan harus menepi, dan kapan cukup menjadi pengamat. Karena tidak semua pertarungan harus dimenangkan dengan benturan. Ada yang justru selesai dengan ketenangan dan kecermatan.
Hidup seringkali menyerupai jalur sempit yang dilalui banyak kepentingan. Kita bisa saja memaksakan kehendak, beradu keras, dan membuktikan siapa yang paling benar. Tapi di sisi lain, ada pilihan untuk tetap melangkah tanpa harus menjatuhkan. Menang tanpa melukai, unggul tanpa merendahkan.
Kemenangan seperti itu mungkin tak selalu terlihat gemilang di mata banyak orang. Namun ia meninggalkan jejak yang lebih dalamโrasa hormat, kedamaian, dan hubungan yang tetap utuh. Sebab pada akhirnya, bukan hanya tujuan yang penting, tapi bagaimana kita sampai ke sana.
Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari โwin without fightingโโsebuah seni untuk tetap teguh tanpa harus keras, tetap kuat tanpa harus kasar, dan tetap menang tanpa harus kehilangan diri sendiri.
#INISIATIF
๐5
SI PALING JITU ๐
Btw, Sobat ATE yang berhasil menebak 2 opsi sekaligus dengan tepat pada polling, yakni:
- Timnas Bulgaria menang dengan skor 1-0
dan
- Titik Putih (Penalti)
Agar menyiapkan bukti capturean layar yg menunjukkan pilihannya (Wajib menebak benar 2 opsi yah). Kiranya bukti capturean tersebut berkenan dikirimkan via japri ke @MumuAmiruddin beserta data nama, jabatan dan asal unit kerjanya buat perekapan terlebih dahulu๐ฒ๐จ
Konfirmasi tebakannya bisa kami tunggu sd Selasa siang ini, 31 Maret maks pukul 13.00 WIB๐
#INISIATIFdukungTimnas
Indonesia terus berusaha keras menciptakan peluang, Tapi Bulgaria parkir bis dan bertahan ๐
Btw, Sobat ATE yang berhasil menebak 2 opsi sekaligus dengan tepat pada polling, yakni:
- Timnas Bulgaria menang dengan skor 1-0
dan
- Titik Putih (Penalti)
Agar menyiapkan bukti capturean layar yg menunjukkan pilihannya (Wajib menebak benar 2 opsi yah). Kiranya bukti capturean tersebut berkenan dikirimkan via japri ke @MumuAmiruddin beserta data nama, jabatan dan asal unit kerjanya buat perekapan terlebih dahulu
Konfirmasi tebakannya bisa kami tunggu sd Selasa siang ini, 31 Maret maks pukul 13.00 WIB
#INISIATIFdukungTimnas
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Irini Irin
Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Dari tempat yang berbeda, satu peristiwa bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Bagi rumput, rusa adalah ancaman, sementara singa justru dianggap penjaga. Bukan karena kenyataan berubah, tapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda.
Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari. Kita sering menerima satu cerita dari satu arah, lalu menjadikannya kebenaran utuh. Mendengar satu ceramah, satu pendapat, satu tafsir, lalu merasa sudah cukup memahami. Padahal setiap pemikiran lahir dari latar belakang, dari sejarah, dari kepentingan yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Banyak orang merasa yakin bukan karena sudah mencari, tetapi karena sudah terbiasa mendengar hal yang sama berulang-ulang. Kebenaran akhirnya menjadi sempit, hanya sebesar ruang yang pernah ia lihat. Yang berbeda dianggap keliru, yang tidak sesuai dianggap ancaman.
Padahal memahami tidak pernah cukup dari satu sisi. Ia butuh kesabaran untuk melihat dari berbagai arah, keberanian untuk meragukan apa yang selama ini diyakini, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bisa saja salah.
Mungkin yang perlu kita jaga bukan hanya apa yang kita percaya, tetapi bagaimana kita sampai pada kepercayaan itu. Karena sudut pandang yang sempit tidak hanya membatasi pikiran, tapi juga bisa menjauhkan kita dari kebenaran yang lebih luas.
#INISIATIF
Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Dari tempat yang berbeda, satu peristiwa bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Bagi rumput, rusa adalah ancaman, sementara singa justru dianggap penjaga. Bukan karena kenyataan berubah, tapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda.
Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari. Kita sering menerima satu cerita dari satu arah, lalu menjadikannya kebenaran utuh. Mendengar satu ceramah, satu pendapat, satu tafsir, lalu merasa sudah cukup memahami. Padahal setiap pemikiran lahir dari latar belakang, dari sejarah, dari kepentingan yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Banyak orang merasa yakin bukan karena sudah mencari, tetapi karena sudah terbiasa mendengar hal yang sama berulang-ulang. Kebenaran akhirnya menjadi sempit, hanya sebesar ruang yang pernah ia lihat. Yang berbeda dianggap keliru, yang tidak sesuai dianggap ancaman.
Padahal memahami tidak pernah cukup dari satu sisi. Ia butuh kesabaran untuk melihat dari berbagai arah, keberanian untuk meragukan apa yang selama ini diyakini, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bisa saja salah.
Mungkin yang perlu kita jaga bukan hanya apa yang kita percaya, tetapi bagaimana kita sampai pada kepercayaan itu. Karena sudut pandang yang sempit tidak hanya membatasi pikiran, tapi juga bisa menjauhkan kita dari kebenaran yang lebih luas.
#INISIATIF
โค5๐1
Tebakan random?
Tebakan akurat?
โNo one knowsโฆ literally
but one person? SHE KNOWS
And yes, itโs @Aida18afrida (Kabag Yanser KC Prabumulih)
Terima kasih atas partisipasi seluruh Sobat ATE, sampai bertemu di event fun and meaningful selanjutnya
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1
Selamat Sore Bapak/Ibu sekalian
Bersama ini kami mengundang Bapak Ibu sekalian mengikuti webinar ACOH 2026 tanggal 15 April 2026 pukul 14.00-15.00 MYT (pukul 13.00-14.00 WIB) dalam platform MS TEAMS dan silahkan register terlebih dahulu di link berikut:
https://www.acoh2026.com/ kemudian memilih Complimentary Webinars โบ๐
Ket: Webinar berikut free (tidak berbayar) terima kasih
Hormat kami
PP Perdoki
Bersama ini kami mengundang Bapak Ibu sekalian mengikuti webinar ACOH 2026 tanggal 15 April 2026 pukul 14.00-15.00 MYT (pukul 13.00-14.00 WIB) dalam platform MS TEAMS dan silahkan register terlebih dahulu di link berikut:
https://www.acoh2026.com/ kemudian memilih Complimentary Webinars โบ๐
Ket: Webinar berikut free (tidak berbayar) terima kasih
Hormat kami
PP Perdoki
โค1
Oleh: Muhammad Farid Maricar
Ada kalanya saya percaya bahwa rezeki antarmanusia itu saling berkoneksi. Karena itu, saya tidak langsung menolak ketika ada yang berkata bahwa beda istri bisa beda rezeki, atau bahwa pernikahan bisa membuka pintu-pintu rezeki.
Mungkin saya sudah beberapa kali menulis hal semacam ini di postingan saya. SK CPNS saya dulu sempat tertunda, lalu justru keluar sepekan sebelum saya menikah. Gaji saya yang sudah 100% beserta jabfung pun baru keluar beberapa hari sebelum anak saya lahir.
Buat sebagian orang mungkin itu hanya kebetulan. Tapi buat saya, momen-momen seperti itu cukup untuk membuat kita merenung bahwa kadang rezeki memang datang bukan hanya karena usaha diri sendiri, melainkan juga karena hadirnya orang-orang tertentu dalam hidup kita.
Beasiswa saya ke Jepang pun bisa jadi bukan semata-mata rezeki saya pribadi, tapi juga bagian dari rezeki istri saya untuk datang ke sini. Sebaliknya, istri saya juga mendapat beasiswa yang informasinya justru datang dari relasi saya dengan orang lain.
Di situ saya makin merasa bahwa jalan rezeki itu sering kali tidak berjalan sendirian. Ia mengalir lewat pertemuan, hubungan, waktu, dan orang-orang yang dipertemukan dalam hidup kita.
Karena itu, kadang saya merasa aneh ketika ada orang yang terlalu percaya diri menganggap semua capaian murni hasil kapasitas dirinya sendiri. Merasa dirinya sangat kompeten, merasa akan tetap menang di situasi apa pun, merasa kalau ditempatkan di lingkungan berbeda pun tetap bisa menaklukkan semuanya. Padahal belum tentu.
Sebab kenyataannya, hidup ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa hebat kita. Ada faktor waktu yang tepat, ada pertolongan dari orang lain, ada doa orang tua, ada dukungan pasangan, ada anak yang mungkin justru menjadi pembuka pintu-pintu kemudahan, bahkan ada kebaikan-kebaikan kecil yang dulu pernah kita tanam lalu kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak disangka.
Itulah kenapa menurut saya, semakin seseorang banyak melihat hidup, seharusnya semakin rendah hati. Karena ia sadar bahwa keberhasilan bukan cuma soal โsaya mampuโ, tetapi juga soal โsiapa yang Allah hadirkan di sekitar sayaโ.
Bukan cuma soal kerja keras, tapi juga soal hubungan, keberkahan, dan momentum yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika usaha semata.
Maka menikah, punya pasangan, punya anak, punya teman yang baik, punya relasi yang sehat, itu semua bukan sekadar pelengkap hidup. Bisa jadi justru di situlah letak sebagian rezeki kita. Dan sebaliknya, bisa jadi kita pun adalah bagian dari rezeki orang lain.
Kalau dipikir-pikir, mungkin itulah alasan kenapa manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Karena dalam banyak hal, rezeki itu datang lewat hubungan dengan orang lain.
Wallahu'alam bish showab
#INISIATIF #Weekend
Ada kalanya saya percaya bahwa rezeki antarmanusia itu saling berkoneksi. Karena itu, saya tidak langsung menolak ketika ada yang berkata bahwa beda istri bisa beda rezeki, atau bahwa pernikahan bisa membuka pintu-pintu rezeki.
Mungkin saya sudah beberapa kali menulis hal semacam ini di postingan saya. SK CPNS saya dulu sempat tertunda, lalu justru keluar sepekan sebelum saya menikah. Gaji saya yang sudah 100% beserta jabfung pun baru keluar beberapa hari sebelum anak saya lahir.
Buat sebagian orang mungkin itu hanya kebetulan. Tapi buat saya, momen-momen seperti itu cukup untuk membuat kita merenung bahwa kadang rezeki memang datang bukan hanya karena usaha diri sendiri, melainkan juga karena hadirnya orang-orang tertentu dalam hidup kita.
Beasiswa saya ke Jepang pun bisa jadi bukan semata-mata rezeki saya pribadi, tapi juga bagian dari rezeki istri saya untuk datang ke sini. Sebaliknya, istri saya juga mendapat beasiswa yang informasinya justru datang dari relasi saya dengan orang lain.
Di situ saya makin merasa bahwa jalan rezeki itu sering kali tidak berjalan sendirian. Ia mengalir lewat pertemuan, hubungan, waktu, dan orang-orang yang dipertemukan dalam hidup kita.
Karena itu, kadang saya merasa aneh ketika ada orang yang terlalu percaya diri menganggap semua capaian murni hasil kapasitas dirinya sendiri. Merasa dirinya sangat kompeten, merasa akan tetap menang di situasi apa pun, merasa kalau ditempatkan di lingkungan berbeda pun tetap bisa menaklukkan semuanya. Padahal belum tentu.
Sebab kenyataannya, hidup ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa hebat kita. Ada faktor waktu yang tepat, ada pertolongan dari orang lain, ada doa orang tua, ada dukungan pasangan, ada anak yang mungkin justru menjadi pembuka pintu-pintu kemudahan, bahkan ada kebaikan-kebaikan kecil yang dulu pernah kita tanam lalu kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak disangka.
Itulah kenapa menurut saya, semakin seseorang banyak melihat hidup, seharusnya semakin rendah hati. Karena ia sadar bahwa keberhasilan bukan cuma soal โsaya mampuโ, tetapi juga soal โsiapa yang Allah hadirkan di sekitar sayaโ.
Bukan cuma soal kerja keras, tapi juga soal hubungan, keberkahan, dan momentum yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika usaha semata.
Maka menikah, punya pasangan, punya anak, punya teman yang baik, punya relasi yang sehat, itu semua bukan sekadar pelengkap hidup. Bisa jadi justru di situlah letak sebagian rezeki kita. Dan sebaliknya, bisa jadi kita pun adalah bagian dari rezeki orang lain.
Kalau dipikir-pikir, mungkin itulah alasan kenapa manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Karena dalam banyak hal, rezeki itu datang lewat hubungan dengan orang lain.
Wallahu'alam bish showab
#INISIATIF #Weekend
โค4
Beda pimpinan, beda juga cara menunjukkan apresiasi. Dan seringnya, bukan soal kurang dihargaiโฆ Tapi kita belum sepenuhnya memahami caranya ๐ฒ๐จ
Mulai dari kata-kata, tindakan, sampai waktu yang diluangkan, semua punya makna yang sama yakni bagaimana membangun tim yang lebih solid๐ค
Jadi, yuk coba lihat dari sudut pandang yang berbeda biar kerja nggak cuma produktif, tapi juga lebih nyaman, karena kerja enak itu dimulai dari saling memahamiโค๏ธ
Mulai dari kata-kata, tindakan, sampai waktu yang diluangkan, semua punya makna yang sama yakni bagaimana membangun tim yang lebih solid
Jadi, yuk coba lihat dari sudut pandang yang berbeda biar kerja nggak cuma produktif, tapi juga lebih nyaman, karena kerja enak itu dimulai dari saling memahami
Kalau kamu, lebih relate sama gaya pimpinan yang mana? Jangan lupa komen๐
https://www.instagram.com/p/DWn1gzwiQvy/?igsh=OWR6amJoa3czZjdq
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2