Ask The Experts
1.81K subscribers
4.73K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo πŸ‡²πŸ‡¨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
πŸ˜‚πŸ€£πŸ₯²β˜ΊοΈπŸ˜ŠπŸ™‚

Kamu pernah nggak sih menemukan trik yang bikin hidup jadi jauh lebih gampang? πŸ˜„

Yang tadinya ribet jadi cepat.
Yang tadinya lama jadi simpel.
Nah… trik seperti itu yang kita cari!

Siapa tahu tips kecilmu hari ini bisa membantu dan menginspirasi ribuan Duta BPJS Kesehatan untuk hidup dan bekerja yang lebih efisien baik di rumah maupun di kantor. Dan tentu saja, ada kesempatan buatmu untuk menjadi Life Hack Champion 2026, dengan 3 souvenir power bank untuk 3 orang pemenang terbaik πŸ†

Daftarkan dirimu di sini (Periode: 12-16 Maret 2026) πŸ‡²πŸ‡¨
https://forms.office.com/r/t4bQ4N3prf

Join Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❀1
Ada sebuah ilustrasi sederhana yang dibagikan oleh Gary Vaynerchuk.

Dua buah pensil berdiri berdampingan.
Yang satu masih panjang dan tajam. Yang lainnya pendek, bekas diraut berkali-kali.

Sekilas, pensil yang panjang terlihat lebih β€œsiap”. Namun justru pensil yang pendeklah yang telah menghasilkan sesuatu. Ia telah dipakai untuk menulis, mencatat, dan bekerja.

Ilustrasi ini seolah mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang terlihat siap, tetapi tentang benar-benar memulai dan menjalani prosesnya.

Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang berkembang bukanlah rencana yang dibicarakan, tetapi tindakan yang benar-benar dilakukan.

#INISIATIF #TGIF
πŸ’―6πŸ”₯1
Oleh: Irfan Akbar Wildani

Gue pernah terjebak di Bandara Soekarno-Hatta gara-gara delay 4 jam.

Awalnya bete banget karena waktu terbuang percuma.

Tapi, obrolan singkat sama bapak-bapak 52 tahun di samping gue justru ngasih insight soal uang yang gue inget sampai sekarang.

Dia ngasih tahu hal yang nggak pernah gue pelajari di kampus.

Apa yang dia bilang itu beda banget dari nasihat finansial kebanyakan.

Bukan soal investasi saham atau reksa dana.

Dia ngomongin gimana kita ngelihat uang itu sendiri.

Dan gimana uang itu seharusnya 'hidup'.

Dulu, gue mikir uang itu cuma soal 'berapa banyak yang gue punya'.

Fokus gue cuma nabung sebanyak-banyaknya atau cari cara biar cepat kaya.

Seringnya, hasilnya malah stres sendiri karena obsesi dengan angka di rekening.

Padahal, bapak itu bilang, pola pikir kayak gitu justru bikin banyak anak muda 'kebanyakan nabung tapi miskin pengalaman' atau 'punya uang tapi nggak tahu mau diapain selain foya-foya'.

Bapak itu nanya, 'Nak, menurutmu uang itu mirip apa?'

Gue jawab, 'Mirip aset, Pak.'

Dia senyum, terus bilang, 'Uang itu mirip air. Kalau cuma ditampung, lama-lama basi dan nggak berguna. Tapi kalau dialirkan ke tempat yang tepat, jadi sumber kehidupan'.

Maksudnya gini. Banyak dari kita cuma fokus ke 'menampung air' alias akumulasi pendapatan.

Kita kerja keras buat dapat uang sebanyak-banyaknya, terus disimpan.

Tapi, kita jarang mikirin gimana 'air' ini bisa dialirkan supaya jadi lebih bermanfaat, bahkan bisa menciptakan 'sumber air' baru.

Dia bilang, kalau lo mau uang lo 'hidup' dan berkembang, ada TIGA ALIRAN UANG PRODUKTIF yang harus lo kuasai.

Ini bukan cuma soal nyimpan, tapi soal strategic spending.

Gue langsung nyatet di hp karena gue ngerasa ini beda banget.

Aliran pertama: INVESTASI DIRI.

Dia bilang, 'Skill yang lo punya itu aset paling liquid di dunia ini, Nak. Lebih berharga dari emas. Karena emas bisa dicuri, skill nggak.'

Ini bukan cuma kuliah, tapi belajar skill baru yang relevan, ikut kursus, atau beli buku berkualitas. Ini yang bikin 'value' lo naik di mata pasar.

Aliran kedua: INVESTASI ASET PRODUKTIF.

Bukan cuma saham atau properti, tapi apapun yang menghasilkan uang lebih banyak.

Bisa jadi laptop baru yang bikin kerja lo lebih efisien, software AI premium buat bantu bisnis, atau bahkan alat produksi kecil kalau lo punya side hustle.

Aliran ketiga: INVESTASI RELASI DAN KEBAIKAN.

Dia bilang ini yang paling sering diabaikan. 'Bukan cuma networking bisnis, Nak. Tapi seberapa lo bisa bantu orang lain tanpa pamrih. Gue nggak pernah tahu kapan rezeki itu datang dari bantuan yang gue kasih 10 tahun lalu'.

Dia juga ngomongin tentang 'kaya' yang sebenarnya.

'Kaya itu bukan cuma punya banyak uang, tapi punya banyak pilihan, Nak. Pilihan untuk kerja apa, sama siapa, atau kapan lo bisa istirahat tanpa khawatir uang habis.'

Ini bisa dicapai kalau uang lo terus 'mengalir' dengan benar.

Gue yang lagi coba bangun bisnis kecil sambil kuliah langsung mikir.

Berapa sering gue cuma fokus nyari pendapatan baru, tapi lupa ngalirin sebagian keuntungan buat investasi diri gue (belajar skill marketing AI terbaru) atau beli tools yang bisa nge-boost produktivitas tim kecil gue?

Jawabannya: SERING banget.

Bapak itu bilang, 'Banyak anak muda takut ngeluarin uang. Padahal, uang itu harus berani lo keluarin, tapi ke hal yang tepat. Ibaratnya petani, dia harus berani ngeluarin benih dulu biar bisa panen berlipat-lipat.'

Ini mengubah persepsi gue dari 'hemat pangkal kaya' jadi 'mengalirkan pangkal kaya'.

Beberapa waktu setelah obrolan itu, gue baca beberapa studi (dari artikel financial planner) yang nyebutin.

Orang yang 'berani' mengalokasikan 15-20% dari pendapatannya untuk ketiga aliran ini (terutama skill dan aset produktif), punya potensi pertumbuhan aset 2x lebih cepat dalam 5 tahun.

Dibanding yang cuma fokus menabung di rekening bank konvensional.

Uang itu bukan harta statis buat ditimbun.

Uang adalah energi dinamis yang harus lo alirkan.

Ke Diri Lo.
Ke Aset Produktif Lo.
Ke Kebaikan yang Balik ke Lo.

Kalau nggak, dia bakal 'basi'.

#INISIATIF
❀6
Oleh: Dedi Priadi

Hidup ini penuh dengan kisah saling gendong-menggendong. Hari ini, mungkin engkau merasa kuat menopang beban berat orang lain di bahumu yang perkasa.

Esok lusa, ketika kakimu lelah dan langkahmu terseok tak berdaya, percayalah akan ada tangan tak terduga yang datang. Mereka akan menggantikanmu, untuk menggendongmu pulang dengan penuh kasih sayang.

Inilah prinsip agung yang bekerja di alam semesta: apa yang ditanam, itu yang dituai. Setiap beban yang kau ambil dari orang lain adalah benih kebaikan yang kau tabur penuh keikhlasan.

Seperti sosok yang memeluk batu besar itu, ia menanggung rasa lelah dan kepayahan. Namun, kepayahan itu bukanlah kerugian, melainkan investasi di ladang amalnya sendiri yang terus berkembang.

Kebaikan yang kau berikan tidak akan kembali dalam wujud yang sama persis. Ia akan menjelma menjadi jembatan kokoh saat kau harus menyeberangi tantangan sungai kehidupan.

Ia akan menjadi payung teduh kala badai tak terhindarkan, atau justru menjadi sayap ringan yang benar-benar mampu mengangkatmu menuju kebermanfaatan yang luas.

Maka teruslah berbuat baik tanpa hitungan, tanpa berharap balasan cepat. Niat tulus adalah akar yang akan menumbuhkan pohon dengan buah melimpah untuk banyak orang di kemudian hari.

Percayalah, setiap kepayahan yang kau ambil demi meringankan beban orang lain, kelak akan menjadi tangga emas yang mengangkat derajat dan kebermanfaatan hidupmu, memberimu sayap untuk terbang lebih tinggi dari yang pernah kau bayangkan.

#INISIATIF
πŸ™5πŸ”₯1πŸ‘Œ1πŸ’―1
Lebaran Plan Check πŸ₯°

Libur bukan cuma istirahat, tapi juga pulang ke yang paling berarti. Kembali ke rumah, ke keluarga, ke cerita-cerita yang mungkin sempat tertunda πŸ˜‡

Jadi penasaran, Duta BPJS Kesehatan ada rencana ngapain aja yah di momen cuti lebaran ini? yuk kita kepoin bareng di siniπŸ‘‡
https://www.instagram.com/p/DV-_75tiYhL/?igsh=dGp1ZzZwMDhpdHI0

Jangan lupa share rencana agendamu juga yah sob πŸ‘
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❀2
Oleh: Iwan Kusworo

Selamat pagi, Sahabat!

Pagi ini ketemu lagi dengan quote terkenal dari Lao Tzu di bukunya Pak Gita Wirjawan, What It Takes: Asia Tenggara.

"Jagalah pikiranmu, sebab ia menjadi kata-katamu.
Jagalah kata-katamu, sebab ia menjadi tindakanmu.
Jagalah tindakanmu, sebab ia menjadi kebiasaanmu.
Jagalah kebiasaanmu, sebab ia menjadi karaktermu.
Jagalah karaktermu, sebab ia menjadi takdirmu."
(LAO TZU)

Have a nice and wonderful day! ❀️

#INISIATIF
πŸ₯°2❀1
Webinar PERDOKJASI – Episode Maret 2026

β€œMenjaga Profesi, Menjaga Jaminan Sosial”

πŸ—“ Sabtu, 28 Maret 2026
⏰ 09.00 WIB – selesai
πŸ“ Online via Zoom

Bersama narasumber:
πŸ‘¨β€βš•οΈ Prof. dr. Muchtaruddin Mansyur, SpOk(K), PhD
πŸ‘¨β€βš•οΈ dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH
🎀 Moderator: dr. Ahmad Syaifudin, M.Kes

πŸ’° Biaya Registrasi 50K
🎁 Doorprize di akhir acara

Yuk, daftar sekarang dan ikut diskusinya!

Link Registrasi
https://forms.gle/rr1HGd2WcVzjkbxv5

πŸ“ž Info: 0812-1226-5255 (Widya)
Oleh: Dedi Priadi

Hidup adalah proses menyemai. Jika kita ingin dikenang melampaui usia, maka apa yang kita tanam haruslah sesuatu yang memberi kehidupan, layaknya benih di tengah hamparan sawah.

Kualitas seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi ia memanjat, melainkan seberapa dalam ia menghujamkan manfaat. Ilmu padi mengajarkan bahwa substansi sejati selalu berbanding lurus dengan sikap rendah hati.

Semakin berisi, semakin merunduk. Itulah paradoks kemuliaan. Manusia yang benar-benar berilmu justru akan merasa kecil di hadapan luasnya semesta, menjauhi sikap sombong yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya.

Jangan menjadi seperti ayam dalam kandang. Hebohnya suara tidak menjamin besarnya karya: bertelur satu ribut sekampung. Satu keberhasilan kecil yang dipamerkan dengan kegaduhan hanya akan menunjukkan betapa dangkalnya kedalaman jiwa kita.

Orang yang ingin terpandang harus berani mematikan ego. Kata-kata yang tinggi melambung hanya akan menciptakan jarak, sementara kerendahan hati justru akan mendekatkan hati satu sama lain secara tulus.

Membawa ilmu padi ke ladang kehidupan berarti menjaga integritas. Saat posisi Anda semakin tinggi dan pencapaian semakin gemilang, di situlah ujian sesungguhnya untuk tetap menginjak bumi dimulai.

Kehebatan tanpa adab hanyalah kebisingan. Dunia mungkin melihat apa yang Anda capai, namun sejarah hanya akan mencatat bagaimana cara Anda memperlakukan orang lain saat Anda berada di puncak kekuasaan.

Jadilah pribadi yang tenang namun berisi. Layaknya bulir padi yang matang, keberadaan Anda harus memberikan rasa kenyang dan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sedang lapar akan teladan nyata (𝘸𝘒𝘭𝘬 𝘡𝘩𝘦 𝘡𝘒𝘭𝘬).

Ingatan orang lain tentang kita adalah warisan yang tak ternilai. Nama yang harum tidak dibangun dari beton kesombongan, melainkan dari tulusnya pengabdian dan lembutnya tutur kata yang menyejukkan.

Pada akhirnya, merunduk bukan berarti kalah atau lemah. Merunduk adalah cara kita menghormati sumber kehidupan, memastikan bahwa setiap ilmu yang kita miliki menjadi berkah yang abadi untuk dikenang.

#INISIATIF
πŸ”₯3πŸ‘Œ2πŸ₯°1
Kadang kita lupa, hubungan kerja juga perlu dirawat. Nggak harus nunggu masalah besar, cukup mulai dari kata sederhana: "maaf ya” 🀝

Karena hati yang ringan bisa bikin suasana kerja jadi lebih nyaman dan bermakna ❀️

Jangan lupa colek bestiemu di kolom komentar πŸ‘‡
https://www.instagram.com/p/DWVIkMjCdCp/?igsh=MXN1N3BnY2hzcm4xNg==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸ‘1πŸ₯°1
100
53
49
πŸ˜€πŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜

Karena Trik kecil yang dibagikan hari ini, bisa jadi solusi untuk banyak orang ke depannya
πŸ‡²πŸ‡¨

Itulah yang ditunjukkan para #LifeHackChampions kita bahwa hidup efektif dan efisien bukan hanya tentang diri sendiri, tapi juga tentang memberi dampak bagi sesama πŸ˜‡

Selamat untuk para juara πŸ†
1. Kk @ErniEkawaty (Staf Perencanaan dan Pembukuan KC Makassar)
2. Bapak @Bossyayak (Ka KC Jakarta Utara)
3. Kk @Ghury_gege (Kabag Yanser KC Jakarta Utara)

Terus berbagi, terus menginspirasi dan sampai bertemu di event fun and meaningful lainnya 🀝

Join Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸ”₯3πŸ™1
NASIHAT YANG KITA BUTUHKAN

Oleh: Andre Raditya

Jika engkau bertemu dengan nasihat yang tidak membuat nyaman hatimu..
Justru itulah sebenar-benarnya nasihat yang kau butuhkan.

Karena artinya..
Ada bagian dari dirimu yang sedang terluka merasakan perih sebab nasihat itu. Dan itulah awal mula proses penyembuhan.

Sudah sifatnya obat akan memberi rasa perih di luka yang sedang diobatinya.

Jangan menghindari nasihat yang menyakiti hatimu.
Terima..
Akui salahmu. Perbaiki dirimu.
Dan esok kau akan jadi lebih baik.

Mereka yang selalu menolak nasihat sebenarnya sedang ditipu oleh setan dalam dirinya.

Merasa selalu baik.
Merasa selalu benar.
Bahkan otaknya diajak kreatif untuk mencari celah dari nasihat. Berargumen agar nampaknya nasihat itu tidak tepat dan tidak sesuai konteks.

Akhirnya mati dalam keadaan tidak berubah dan bangga dengan salah dan dosanya.

Karena orang yang beruntung dalam hidup ini bukan mereka yang banyak mendapatkan pujian dan harta. Tapi yang paling pandai mengumpulkan nasihat sebelum ia membutuhkannya.

Sebab, menerima nasihat saat sudah kejadian.. itu akan amat sakit rasanya. Dan juga terasa berat untuk mengamalkannya.

#INISIATIF #TGIF
❀1
Oleh: Iwan Kusworo

Selamat Pagi, Sahabat!

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Minal Aidin wal Faidzin.
Mohon maaf lahir dan batin. πŸ™

Malam tadi saya membaca tentang ajaran Siddhartha Gautama di buku Sapiens (Yuval Noah Harari), khususnya yang berkaitan dengan suffering (penderitaan) dan craving (keinginan yang sangat kuat/nafsu).

Dalam ajarannya, Gautama mengatakan bahwa penderitaan manusia bukan terutama disebabkan oleh kesialan, ketidakadilan sosial, atau kehendak ilahi. Sering kali sumbernya justru ada di dalam pikiran kita sendiri, yaitu pola pikir yang sudah terbentuk dan kita ulang terus-menerus tanpa sadar. Pola inilah yang sering membuat seseorang sulit merasakan kedamaian.

Ketika seseorang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan (marah, sedih, kecewa), pikirannya langsung dipenuhi dorongan kuat untuk menghilangkan perasaan itu.

Sebaliknya, ketika mengalami sesuatu yang menyenangkan (bahagia, puas) muncul dorongan lain: ingin mempertahankan perasaan itu, bahkan berharap rasa itu bisa bertahan lebih lama atau menjadi lebih kuat.

Mungkin di sinilah kita bisa memahami mengapa tidak sedikit orang yang terlihat sangat sukses dalam hidupnya, tetapi tetap merasa gelisah. Pikirannya selalu menginginkan sesuatu yang lebih, dan pada saat yang sama takut kehilangan apa yang sudah diraih.

Dalam ajaran Buddha, penderitaan berawal dari nafsu.

A person who does not crave cannot suffer (Seseorang yang tidak menginginkan sesuatu tidak akan menderita).

Dan untuk mengurangi penderitaan, seseorang perlu belajar melepaskan dorongan tersebut, yaitu dengan melatih pikiran untuk melihat dan menerima kenyataan apa adanya.

Buat saya, ajaran ini terasa sangat dekat dengan konsep mindfulness. Belajar untuk hadir pada momen yang sedang dijalani. To live in the moment.

Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?

Have a nice day 😊❀️

#INISIATIF
πŸ”₯1πŸ‘Œ1