Webinar Managed Care
Manajemen Klaim dan Preventing FraudβWasteβAbuse (FWA)
Praktik terbaik dalam verifikasi, analisis pola klaim, automation, dan fraud analytics"
Ikuti webinar Managed Care PAMJAKI Edisi Keempat dengan tema Manajemen Klaim dan Preventing FraudβWasteβAbuse (FWA)
π Kamis, 12 Maret 2026
β° 10.00 - 11.30 WIB
ποΈ Speaker :
1. dr. Taufik Hidayat, MM., AAK
2. dr. Mulyo Wibowo, AAAK, CHIA
3. Evan Wijaya Tanotogono, ST, MT, QCRO
Moderator: dr. A Mahathir Anas
π» Link zoom:
https://bit.ly/JoinZoomMeeting-Ed-Ke4
π» Virtual Background
https://bit.ly/VBManagedCare-Ed-ke4
GRATIS!
Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000
Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-Webinar-Managedcare4
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Dedi Priadi
Waktu kitaβbaik sehari, seminggu, maupun seumur hidupβibarat sebuah stoples. Kapasitasnya sudah pasti, tak bisa ditambah atau dikurangi. Maka, keterampilan hidup yang paling krusial adalah memilih apa yang akan mengisi stoples ini, dan yang tak kalah penting, urutan memasukkannya.
Mari kita analogikan tiga jenis pengisi waktu kita.
ππ’π΅πΆ-π£π’π΅πΆ π£π¦π΄π’π³ (π³π°π€π¬π΄) adalah inti dari kehidupan Anda: tujuan mulia (π―π°π£ππ¦ π±πΆπ³π±π°π΄π¦), kesehatan, hubungan yang berharga, keluarga, dan pekerjaan inti. Inilah hal-hal yang paling penting. Masukkan ini terlebih dahulu. Jika Anda tidak meluangkan waktu untuk batu besar, mustahil mereka akan muat di kemudian hari. Dengan memprioritaskan item-item esensial dan bermakna, Anda memastikan bahwa waktu Anda benar-benar tercurah pada hal-hal yang memuliakan dan memperkaya hidup Anda.
ππ¦π³πͺπ¬πͺπ (π±π¦π£π£ππ¦π΄) adalah tugas-tugas yang perlu, namun tidak sepenting batu besar: email, rapat rutin, atau pekerjaan sampingan. Mereka penting, tetapi fungsinya hanyalah melayani dan mendukung batu besar Anda, jangan sampai menggantikannya. Kerikil dimaksudkan untuk mengisi ruang di sekitar hal-hal esensial. Kerikil tidak seharusnya mengambil volume utama stoples.
ππ’π΄πͺπ³ (π΄π’π―π₯) adalah segala bentuk gangguan kecil dan kesibukan yang menyita perhatian: π΄π€π³π°πππͺπ―π¨ di media sosial tanpa tujuan, nongkrong-nongkrong di kafe, berjalan-jalan di mal, atau menyibukkan diri berdebat di media sosial. Bayangkan, jika Anda menuangkan pasir lebih dulu, ia akan memenuhi stoples sedemikian rupa, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa bagi batu besar yang sesungguhnya bernilai sangat penting untuk kehidupan Anda.
Untuk menjalani hidup yang terfokus dan bermakna, selalu dahulukan batu besar Anda. Setelah hal-hal krusial itu aman dalam stoples, barulah kerikil dan pasirβtugas rutin dan gangguan kecilβakan menemukan tempatnya, mengisi celah-celah di sekitar. Jangan pernah melakukan sebaliknya. Jangan biarkan hal-hal kecil dan remeh (pasir) mencuri ruang berharga yang seharusnya Anda sediakan bagi hal-hal besar yang menentukan arah kesuksesan dan kebahagiaan sejati hidup Anda.
#INISIATIF
Waktu kitaβbaik sehari, seminggu, maupun seumur hidupβibarat sebuah stoples. Kapasitasnya sudah pasti, tak bisa ditambah atau dikurangi. Maka, keterampilan hidup yang paling krusial adalah memilih apa yang akan mengisi stoples ini, dan yang tak kalah penting, urutan memasukkannya.
Mari kita analogikan tiga jenis pengisi waktu kita.
ππ’π΅πΆ-π£π’π΅πΆ π£π¦π΄π’π³ (π³π°π€π¬π΄) adalah inti dari kehidupan Anda: tujuan mulia (π―π°π£ππ¦ π±πΆπ³π±π°π΄π¦), kesehatan, hubungan yang berharga, keluarga, dan pekerjaan inti. Inilah hal-hal yang paling penting. Masukkan ini terlebih dahulu. Jika Anda tidak meluangkan waktu untuk batu besar, mustahil mereka akan muat di kemudian hari. Dengan memprioritaskan item-item esensial dan bermakna, Anda memastikan bahwa waktu Anda benar-benar tercurah pada hal-hal yang memuliakan dan memperkaya hidup Anda.
ππ¦π³πͺπ¬πͺπ (π±π¦π£π£ππ¦π΄) adalah tugas-tugas yang perlu, namun tidak sepenting batu besar: email, rapat rutin, atau pekerjaan sampingan. Mereka penting, tetapi fungsinya hanyalah melayani dan mendukung batu besar Anda, jangan sampai menggantikannya. Kerikil dimaksudkan untuk mengisi ruang di sekitar hal-hal esensial. Kerikil tidak seharusnya mengambil volume utama stoples.
ππ’π΄πͺπ³ (π΄π’π―π₯) adalah segala bentuk gangguan kecil dan kesibukan yang menyita perhatian: π΄π€π³π°πππͺπ―π¨ di media sosial tanpa tujuan, nongkrong-nongkrong di kafe, berjalan-jalan di mal, atau menyibukkan diri berdebat di media sosial. Bayangkan, jika Anda menuangkan pasir lebih dulu, ia akan memenuhi stoples sedemikian rupa, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa bagi batu besar yang sesungguhnya bernilai sangat penting untuk kehidupan Anda.
Untuk menjalani hidup yang terfokus dan bermakna, selalu dahulukan batu besar Anda. Setelah hal-hal krusial itu aman dalam stoples, barulah kerikil dan pasirβtugas rutin dan gangguan kecilβakan menemukan tempatnya, mengisi celah-celah di sekitar. Jangan pernah melakukan sebaliknya. Jangan biarkan hal-hal kecil dan remeh (pasir) mencuri ruang berharga yang seharusnya Anda sediakan bagi hal-hal besar yang menentukan arah kesuksesan dan kebahagiaan sejati hidup Anda.
#INISIATIF
β€5π1
Oleh: Muhammad Farid Maricar
Kemarin saya menerima email dari kampus, isinya sederhana, intinya kampus meminta konfirmasi keselamatan bagi anggota universitas yang berada di beberapa negara Timur Tengah setelah adanya serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Mungkin sekilas ini hanya email administratif biasa. Tapi bagi saya, justru dari hal-hal kecil seperti ini kita bisa melihat bagaimana sebuah sistem bekerja.
Begitu ada perkembangan geopolitik di suatu wilayah, kementerian luar negeri Jepang menaikkan level risiko. Informasi tersebut kemudian langsung diteruskan ke berbagai institusi, termasuk universitas. Karena yang menerima seperti ini bukan hanya saya, tapi juga istri yang sedang lanjut studi di universitas berbeda.
Kadang kita baru menyadari bahwa sebuah sistem itu bekerja dengan baik justru ketika hal-hal seperti ini terjadi. Ketika ada potensi risiko, semua pihak tahu apa yang harus dilakukan.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele, toh hanya email biasa. Tapi di baliknya ada budaya yang sangat kuat, yaitu tentang bagaimana manajemen risiko, perhatian pada detail, dan tanggung jawab terhadap setiap orang yang berada dalam sistem tersebut.
Tidak heran ketika ada pernyataan dari PM Jepang, Sanae Takaichi yang mengatakan mereka punya cadangan minyak untuk 254 hari, sedangkan negara kita cuma punya untuk 20 hari.
Sering kali kita mengagumi Jepang atau negara maju lainnya karena teknologi atau infrastrukturnya. Padahal salah satu kekuatan terbesar mereka justru ada pada hal yang tidak terlihat, yaitu sistem yang bekerja dengan rapi. Dan kadang, kita baru menyadari itu, hanya dari sebuah email sederhana di pagi hari.
#INISIATIF
Kemarin saya menerima email dari kampus, isinya sederhana, intinya kampus meminta konfirmasi keselamatan bagi anggota universitas yang berada di beberapa negara Timur Tengah setelah adanya serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Mungkin sekilas ini hanya email administratif biasa. Tapi bagi saya, justru dari hal-hal kecil seperti ini kita bisa melihat bagaimana sebuah sistem bekerja.
Begitu ada perkembangan geopolitik di suatu wilayah, kementerian luar negeri Jepang menaikkan level risiko. Informasi tersebut kemudian langsung diteruskan ke berbagai institusi, termasuk universitas. Karena yang menerima seperti ini bukan hanya saya, tapi juga istri yang sedang lanjut studi di universitas berbeda.
Kadang kita baru menyadari bahwa sebuah sistem itu bekerja dengan baik justru ketika hal-hal seperti ini terjadi. Ketika ada potensi risiko, semua pihak tahu apa yang harus dilakukan.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele, toh hanya email biasa. Tapi di baliknya ada budaya yang sangat kuat, yaitu tentang bagaimana manajemen risiko, perhatian pada detail, dan tanggung jawab terhadap setiap orang yang berada dalam sistem tersebut.
Tidak heran ketika ada pernyataan dari PM Jepang, Sanae Takaichi yang mengatakan mereka punya cadangan minyak untuk 254 hari, sedangkan negara kita cuma punya untuk 20 hari.
Sering kali kita mengagumi Jepang atau negara maju lainnya karena teknologi atau infrastrukturnya. Padahal salah satu kekuatan terbesar mereka justru ada pada hal yang tidak terlihat, yaitu sistem yang bekerja dengan rapi. Dan kadang, kita baru menyadari itu, hanya dari sebuah email sederhana di pagi hari.
#INISIATIF
Kamu pernah nggak sih menemukan trik yang bikin hidup jadi jauh lebih gampang?
Yang tadinya ribet jadi cepat.
Yang tadinya lama jadi simpel.
Nah⦠trik seperti itu yang kita cari!
Siapa tahu tips kecilmu hari ini bisa membantu dan menginspirasi ribuan Duta BPJS Kesehatan untuk hidup dan bekerja yang lebih efisien baik di rumah maupun di kantor. Dan tentu saja, ada kesempatan buatmu untuk menjadi Life Hack Champion 2026, dengan 3 souvenir power bank untuk 3 orang pemenang terbaik
Stay tuned di ATE untuk juknis detailnya
Join Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Ini yang HARUS kamu siapin sekarang sebelum meninggal. SERIUSSS π
Oleh: Jenifer Elisabeth
Bukan karena sok suci. Bukan karena overthinking.
Tapi karena aku:
β’ background finance & administrasi
β’ dan pernah ngalamin ngurus mama & kakak yang meninggal di tahun yg sama.
Dan trust meβ¦
yang ribet itu bukan meninggalnya, tapi yang ditinggal.οΏΌ
1. Password & Akses (INI PALING KRUSIAL)
GUYS, dengerin ya π
Tolong bgt punya CATATAN KHUSUS isinya:
β’ Password HP / Google / Email
β’ Password mbanking
β’ Password investasi / e-wallet
β’ Pokoknya SEMUA PASSWORD
Karena pas orang meninggal, keluarganya tuh benerβ repott mikirin semua, biar gampang ga perlu:
βIni buka HP gimana?β
βIni rekeningnya dmn?β
Tapi Puji Tuhannya sblm kk aku meninggal, dia kasi aku akses semua passwordnya (katanya org yg meninggal udah tau kalau waktunya udah dekat)οΏΌ
2. Uang Jalan & Administrasi. Ini bagian finance tapi super relate.
Catat:
β’ Tagihan bulanan (listrik, air, internet)
β’ Langganan tahunan (insurance, domain, dll)
β’ Cicilan / utang yang masih jalan
β’ Piutang (kalau ada yang ngutang ke kamu)
Karena orang meninggal, tagihan nggak ikut meninggal bahkan bisa diwariskanπ
Dan chaos itu nyata.οΏΌ
3. Aset & Barang Penting
PLEASE jangan cuma tau kamu punya apa, tapi di mana.
Catat, DETILL!!!
β’ Rekening bank (bank apa)
β’ Aset properti
β’ Kendaraan
β’ Investasi
β’ Surat-surat penting disimpan di mana
Karena waktu berduka, nyari surat itu capek + emosional + chaos.
Aku ngalamin.οΏΌ
4. Ini yang sering dilupain (tapi kejadian)
Ini random tapi REAL.
β’ Standby kebaya / baju layak pemakaman (Serius, waktu kakakku meninggal, kami harus minjem kebaya orang karena nggak siap)
β’ Pesan terakhir / WASIAT (kalau mau)
β’ Kontak orang penting yang harus dihubungi
β’ Poto buat Pemakaman
Ini bukan soal siap mati. Ini soal sayang sama yang kamu tinggalin.οΏΌ
This story is for those of us who havenβt done estate planning yet. Kalau kamu udah punya notaris atau legal setup, greatβberarti ini mostly udah aman.
Bukan soal level ekonomi, but about care & responsibility.
Hidup boleh santai. Tapi meninggalkan orang dengan rapi itu bentuk cinta juga π«Άπ»
#INISIATIF
Oleh: Jenifer Elisabeth
Bukan karena sok suci. Bukan karena overthinking.
Tapi karena aku:
β’ background finance & administrasi
β’ dan pernah ngalamin ngurus mama & kakak yang meninggal di tahun yg sama.
Dan trust meβ¦
yang ribet itu bukan meninggalnya, tapi yang ditinggal.οΏΌ
1. Password & Akses (INI PALING KRUSIAL)
GUYS, dengerin ya π
Tolong bgt punya CATATAN KHUSUS isinya:
β’ Password HP / Google / Email
β’ Password mbanking
β’ Password investasi / e-wallet
β’ Pokoknya SEMUA PASSWORD
Karena pas orang meninggal, keluarganya tuh benerβ repott mikirin semua, biar gampang ga perlu:
βIni buka HP gimana?β
βIni rekeningnya dmn?β
Tapi Puji Tuhannya sblm kk aku meninggal, dia kasi aku akses semua passwordnya (katanya org yg meninggal udah tau kalau waktunya udah dekat)οΏΌ
2. Uang Jalan & Administrasi. Ini bagian finance tapi super relate.
Catat:
β’ Tagihan bulanan (listrik, air, internet)
β’ Langganan tahunan (insurance, domain, dll)
β’ Cicilan / utang yang masih jalan
β’ Piutang (kalau ada yang ngutang ke kamu)
Karena orang meninggal, tagihan nggak ikut meninggal bahkan bisa diwariskanπ
Dan chaos itu nyata.οΏΌ
3. Aset & Barang Penting
PLEASE jangan cuma tau kamu punya apa, tapi di mana.
Catat, DETILL!!!
β’ Rekening bank (bank apa)
β’ Aset properti
β’ Kendaraan
β’ Investasi
β’ Surat-surat penting disimpan di mana
Karena waktu berduka, nyari surat itu capek + emosional + chaos.
Aku ngalamin.οΏΌ
4. Ini yang sering dilupain (tapi kejadian)
Ini random tapi REAL.
β’ Standby kebaya / baju layak pemakaman (Serius, waktu kakakku meninggal, kami harus minjem kebaya orang karena nggak siap)
β’ Pesan terakhir / WASIAT (kalau mau)
β’ Kontak orang penting yang harus dihubungi
β’ Poto buat Pemakaman
Ini bukan soal siap mati. Ini soal sayang sama yang kamu tinggalin.οΏΌ
This story is for those of us who havenβt done estate planning yet. Kalau kamu udah punya notaris atau legal setup, greatβberarti ini mostly udah aman.
Bukan soal level ekonomi, but about care & responsibility.
Hidup boleh santai. Tapi meninggalkan orang dengan rapi itu bentuk cinta juga π«Άπ»
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
β€3π2π1
Kamu pernah nggak sih menemukan trik yang bikin hidup jadi jauh lebih gampang?
Yang tadinya ribet jadi cepat.
Yang tadinya lama jadi simpel.
Nah⦠trik seperti itu yang kita cari!
Siapa tahu tips kecilmu hari ini bisa membantu dan menginspirasi ribuan Duta BPJS Kesehatan untuk hidup dan bekerja yang lebih efisien baik di rumah maupun di kantor. Dan tentu saja, ada kesempatan buatmu untuk menjadi Life Hack Champion 2026, dengan 3 souvenir power bank untuk 3 orang pemenang terbaik
Daftarkan dirimu di sini (Periode: 12-16 Maret 2026)
https://forms.office.com/r/t4bQ4N3prf
Join Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
β€1
Ada sebuah ilustrasi sederhana yang dibagikan oleh Gary Vaynerchuk.
Dua buah pensil berdiri berdampingan.
Yang satu masih panjang dan tajam. Yang lainnya pendek, bekas diraut berkali-kali.
Sekilas, pensil yang panjang terlihat lebih βsiapβ. Namun justru pensil yang pendeklah yang telah menghasilkan sesuatu. Ia telah dipakai untuk menulis, mencatat, dan bekerja.
Ilustrasi ini seolah mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang terlihat siap, tetapi tentang benar-benar memulai dan menjalani prosesnya.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang berkembang bukanlah rencana yang dibicarakan, tetapi tindakan yang benar-benar dilakukan.
#INISIATIF #TGIF
Dua buah pensil berdiri berdampingan.
Yang satu masih panjang dan tajam. Yang lainnya pendek, bekas diraut berkali-kali.
Sekilas, pensil yang panjang terlihat lebih βsiapβ. Namun justru pensil yang pendeklah yang telah menghasilkan sesuatu. Ia telah dipakai untuk menulis, mencatat, dan bekerja.
Ilustrasi ini seolah mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang terlihat siap, tetapi tentang benar-benar memulai dan menjalani prosesnya.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang berkembang bukanlah rencana yang dibicarakan, tetapi tindakan yang benar-benar dilakukan.
#INISIATIF #TGIF
π―6π₯1
Oleh: Irfan Akbar Wildani
Gue pernah terjebak di Bandara Soekarno-Hatta gara-gara delay 4 jam.
Awalnya bete banget karena waktu terbuang percuma.
Tapi, obrolan singkat sama bapak-bapak 52 tahun di samping gue justru ngasih insight soal uang yang gue inget sampai sekarang.
Dia ngasih tahu hal yang nggak pernah gue pelajari di kampus.
Apa yang dia bilang itu beda banget dari nasihat finansial kebanyakan.
Bukan soal investasi saham atau reksa dana.
Dia ngomongin gimana kita ngelihat uang itu sendiri.
Dan gimana uang itu seharusnya 'hidup'.
Dulu, gue mikir uang itu cuma soal 'berapa banyak yang gue punya'.
Fokus gue cuma nabung sebanyak-banyaknya atau cari cara biar cepat kaya.
Seringnya, hasilnya malah stres sendiri karena obsesi dengan angka di rekening.
Padahal, bapak itu bilang, pola pikir kayak gitu justru bikin banyak anak muda 'kebanyakan nabung tapi miskin pengalaman' atau 'punya uang tapi nggak tahu mau diapain selain foya-foya'.
Bapak itu nanya, 'Nak, menurutmu uang itu mirip apa?'
Gue jawab, 'Mirip aset, Pak.'
Dia senyum, terus bilang, 'Uang itu mirip air. Kalau cuma ditampung, lama-lama basi dan nggak berguna. Tapi kalau dialirkan ke tempat yang tepat, jadi sumber kehidupan'.
Maksudnya gini. Banyak dari kita cuma fokus ke 'menampung air' alias akumulasi pendapatan.
Kita kerja keras buat dapat uang sebanyak-banyaknya, terus disimpan.
Tapi, kita jarang mikirin gimana 'air' ini bisa dialirkan supaya jadi lebih bermanfaat, bahkan bisa menciptakan 'sumber air' baru.
Dia bilang, kalau lo mau uang lo 'hidup' dan berkembang, ada TIGA ALIRAN UANG PRODUKTIF yang harus lo kuasai.
Ini bukan cuma soal nyimpan, tapi soal strategic spending.
Gue langsung nyatet di hp karena gue ngerasa ini beda banget.
Aliran pertama: INVESTASI DIRI.
Dia bilang, 'Skill yang lo punya itu aset paling liquid di dunia ini, Nak. Lebih berharga dari emas. Karena emas bisa dicuri, skill nggak.'
Ini bukan cuma kuliah, tapi belajar skill baru yang relevan, ikut kursus, atau beli buku berkualitas. Ini yang bikin 'value' lo naik di mata pasar.
Aliran kedua: INVESTASI ASET PRODUKTIF.
Bukan cuma saham atau properti, tapi apapun yang menghasilkan uang lebih banyak.
Bisa jadi laptop baru yang bikin kerja lo lebih efisien, software AI premium buat bantu bisnis, atau bahkan alat produksi kecil kalau lo punya side hustle.
Aliran ketiga: INVESTASI RELASI DAN KEBAIKAN.
Dia bilang ini yang paling sering diabaikan. 'Bukan cuma networking bisnis, Nak. Tapi seberapa lo bisa bantu orang lain tanpa pamrih. Gue nggak pernah tahu kapan rezeki itu datang dari bantuan yang gue kasih 10 tahun lalu'.
Dia juga ngomongin tentang 'kaya' yang sebenarnya.
'Kaya itu bukan cuma punya banyak uang, tapi punya banyak pilihan, Nak. Pilihan untuk kerja apa, sama siapa, atau kapan lo bisa istirahat tanpa khawatir uang habis.'
Ini bisa dicapai kalau uang lo terus 'mengalir' dengan benar.
Gue yang lagi coba bangun bisnis kecil sambil kuliah langsung mikir.
Berapa sering gue cuma fokus nyari pendapatan baru, tapi lupa ngalirin sebagian keuntungan buat investasi diri gue (belajar skill marketing AI terbaru) atau beli tools yang bisa nge-boost produktivitas tim kecil gue?
Jawabannya: SERING banget.
Bapak itu bilang, 'Banyak anak muda takut ngeluarin uang. Padahal, uang itu harus berani lo keluarin, tapi ke hal yang tepat. Ibaratnya petani, dia harus berani ngeluarin benih dulu biar bisa panen berlipat-lipat.'
Ini mengubah persepsi gue dari 'hemat pangkal kaya' jadi 'mengalirkan pangkal kaya'.
Beberapa waktu setelah obrolan itu, gue baca beberapa studi (dari artikel financial planner) yang nyebutin.
Orang yang 'berani' mengalokasikan 15-20% dari pendapatannya untuk ketiga aliran ini (terutama skill dan aset produktif), punya potensi pertumbuhan aset 2x lebih cepat dalam 5 tahun.
Dibanding yang cuma fokus menabung di rekening bank konvensional.
Uang itu bukan harta statis buat ditimbun.
Uang adalah energi dinamis yang harus lo alirkan.
Ke Diri Lo.
Ke Aset Produktif Lo.
Ke Kebaikan yang Balik ke Lo.
Kalau nggak, dia bakal 'basi'.
#INISIATIF
Gue pernah terjebak di Bandara Soekarno-Hatta gara-gara delay 4 jam.
Awalnya bete banget karena waktu terbuang percuma.
Tapi, obrolan singkat sama bapak-bapak 52 tahun di samping gue justru ngasih insight soal uang yang gue inget sampai sekarang.
Dia ngasih tahu hal yang nggak pernah gue pelajari di kampus.
Apa yang dia bilang itu beda banget dari nasihat finansial kebanyakan.
Bukan soal investasi saham atau reksa dana.
Dia ngomongin gimana kita ngelihat uang itu sendiri.
Dan gimana uang itu seharusnya 'hidup'.
Dulu, gue mikir uang itu cuma soal 'berapa banyak yang gue punya'.
Fokus gue cuma nabung sebanyak-banyaknya atau cari cara biar cepat kaya.
Seringnya, hasilnya malah stres sendiri karena obsesi dengan angka di rekening.
Padahal, bapak itu bilang, pola pikir kayak gitu justru bikin banyak anak muda 'kebanyakan nabung tapi miskin pengalaman' atau 'punya uang tapi nggak tahu mau diapain selain foya-foya'.
Bapak itu nanya, 'Nak, menurutmu uang itu mirip apa?'
Gue jawab, 'Mirip aset, Pak.'
Dia senyum, terus bilang, 'Uang itu mirip air. Kalau cuma ditampung, lama-lama basi dan nggak berguna. Tapi kalau dialirkan ke tempat yang tepat, jadi sumber kehidupan'.
Maksudnya gini. Banyak dari kita cuma fokus ke 'menampung air' alias akumulasi pendapatan.
Kita kerja keras buat dapat uang sebanyak-banyaknya, terus disimpan.
Tapi, kita jarang mikirin gimana 'air' ini bisa dialirkan supaya jadi lebih bermanfaat, bahkan bisa menciptakan 'sumber air' baru.
Dia bilang, kalau lo mau uang lo 'hidup' dan berkembang, ada TIGA ALIRAN UANG PRODUKTIF yang harus lo kuasai.
Ini bukan cuma soal nyimpan, tapi soal strategic spending.
Gue langsung nyatet di hp karena gue ngerasa ini beda banget.
Aliran pertama: INVESTASI DIRI.
Dia bilang, 'Skill yang lo punya itu aset paling liquid di dunia ini, Nak. Lebih berharga dari emas. Karena emas bisa dicuri, skill nggak.'
Ini bukan cuma kuliah, tapi belajar skill baru yang relevan, ikut kursus, atau beli buku berkualitas. Ini yang bikin 'value' lo naik di mata pasar.
Aliran kedua: INVESTASI ASET PRODUKTIF.
Bukan cuma saham atau properti, tapi apapun yang menghasilkan uang lebih banyak.
Bisa jadi laptop baru yang bikin kerja lo lebih efisien, software AI premium buat bantu bisnis, atau bahkan alat produksi kecil kalau lo punya side hustle.
Aliran ketiga: INVESTASI RELASI DAN KEBAIKAN.
Dia bilang ini yang paling sering diabaikan. 'Bukan cuma networking bisnis, Nak. Tapi seberapa lo bisa bantu orang lain tanpa pamrih. Gue nggak pernah tahu kapan rezeki itu datang dari bantuan yang gue kasih 10 tahun lalu'.
Dia juga ngomongin tentang 'kaya' yang sebenarnya.
'Kaya itu bukan cuma punya banyak uang, tapi punya banyak pilihan, Nak. Pilihan untuk kerja apa, sama siapa, atau kapan lo bisa istirahat tanpa khawatir uang habis.'
Ini bisa dicapai kalau uang lo terus 'mengalir' dengan benar.
Gue yang lagi coba bangun bisnis kecil sambil kuliah langsung mikir.
Berapa sering gue cuma fokus nyari pendapatan baru, tapi lupa ngalirin sebagian keuntungan buat investasi diri gue (belajar skill marketing AI terbaru) atau beli tools yang bisa nge-boost produktivitas tim kecil gue?
Jawabannya: SERING banget.
Bapak itu bilang, 'Banyak anak muda takut ngeluarin uang. Padahal, uang itu harus berani lo keluarin, tapi ke hal yang tepat. Ibaratnya petani, dia harus berani ngeluarin benih dulu biar bisa panen berlipat-lipat.'
Ini mengubah persepsi gue dari 'hemat pangkal kaya' jadi 'mengalirkan pangkal kaya'.
Beberapa waktu setelah obrolan itu, gue baca beberapa studi (dari artikel financial planner) yang nyebutin.
Orang yang 'berani' mengalokasikan 15-20% dari pendapatannya untuk ketiga aliran ini (terutama skill dan aset produktif), punya potensi pertumbuhan aset 2x lebih cepat dalam 5 tahun.
Dibanding yang cuma fokus menabung di rekening bank konvensional.
Uang itu bukan harta statis buat ditimbun.
Uang adalah energi dinamis yang harus lo alirkan.
Ke Diri Lo.
Ke Aset Produktif Lo.
Ke Kebaikan yang Balik ke Lo.
Kalau nggak, dia bakal 'basi'.
#INISIATIF
β€6
Oleh: Dedi Priadi
Hidup ini penuh dengan kisah saling gendong-menggendong. Hari ini, mungkin engkau merasa kuat menopang beban berat orang lain di bahumu yang perkasa.
Esok lusa, ketika kakimu lelah dan langkahmu terseok tak berdaya, percayalah akan ada tangan tak terduga yang datang. Mereka akan menggantikanmu, untuk menggendongmu pulang dengan penuh kasih sayang.
Inilah prinsip agung yang bekerja di alam semesta: apa yang ditanam, itu yang dituai. Setiap beban yang kau ambil dari orang lain adalah benih kebaikan yang kau tabur penuh keikhlasan.
Seperti sosok yang memeluk batu besar itu, ia menanggung rasa lelah dan kepayahan. Namun, kepayahan itu bukanlah kerugian, melainkan investasi di ladang amalnya sendiri yang terus berkembang.
Kebaikan yang kau berikan tidak akan kembali dalam wujud yang sama persis. Ia akan menjelma menjadi jembatan kokoh saat kau harus menyeberangi tantangan sungai kehidupan.
Ia akan menjadi payung teduh kala badai tak terhindarkan, atau justru menjadi sayap ringan yang benar-benar mampu mengangkatmu menuju kebermanfaatan yang luas.
Maka teruslah berbuat baik tanpa hitungan, tanpa berharap balasan cepat. Niat tulus adalah akar yang akan menumbuhkan pohon dengan buah melimpah untuk banyak orang di kemudian hari.
Percayalah, setiap kepayahan yang kau ambil demi meringankan beban orang lain, kelak akan menjadi tangga emas yang mengangkat derajat dan kebermanfaatan hidupmu, memberimu sayap untuk terbang lebih tinggi dari yang pernah kau bayangkan.
#INISIATIF
Hidup ini penuh dengan kisah saling gendong-menggendong. Hari ini, mungkin engkau merasa kuat menopang beban berat orang lain di bahumu yang perkasa.
Esok lusa, ketika kakimu lelah dan langkahmu terseok tak berdaya, percayalah akan ada tangan tak terduga yang datang. Mereka akan menggantikanmu, untuk menggendongmu pulang dengan penuh kasih sayang.
Inilah prinsip agung yang bekerja di alam semesta: apa yang ditanam, itu yang dituai. Setiap beban yang kau ambil dari orang lain adalah benih kebaikan yang kau tabur penuh keikhlasan.
Seperti sosok yang memeluk batu besar itu, ia menanggung rasa lelah dan kepayahan. Namun, kepayahan itu bukanlah kerugian, melainkan investasi di ladang amalnya sendiri yang terus berkembang.
Kebaikan yang kau berikan tidak akan kembali dalam wujud yang sama persis. Ia akan menjelma menjadi jembatan kokoh saat kau harus menyeberangi tantangan sungai kehidupan.
Ia akan menjadi payung teduh kala badai tak terhindarkan, atau justru menjadi sayap ringan yang benar-benar mampu mengangkatmu menuju kebermanfaatan yang luas.
Maka teruslah berbuat baik tanpa hitungan, tanpa berharap balasan cepat. Niat tulus adalah akar yang akan menumbuhkan pohon dengan buah melimpah untuk banyak orang di kemudian hari.
Percayalah, setiap kepayahan yang kau ambil demi meringankan beban orang lain, kelak akan menjadi tangga emas yang mengangkat derajat dan kebermanfaatan hidupmu, memberimu sayap untuk terbang lebih tinggi dari yang pernah kau bayangkan.
#INISIATIF
π5π₯1π1π―1
Lebaran Plan Check π₯°
Libur bukan cuma istirahat, tapi juga pulang ke yang paling berarti. Kembali ke rumah, ke keluarga, ke cerita-cerita yang mungkin sempat tertundaπ
Jadi penasaran, Duta BPJS Kesehatan ada rencana ngapain aja yah di momen cuti lebaran ini? yuk kita kepoin bareng di siniπ
https://www.instagram.com/p/DV-_75tiYhL/?igsh=dGp1ZzZwMDhpdHI0
Jangan lupa share rencana agendamu juga yah sobπ
Libur bukan cuma istirahat, tapi juga pulang ke yang paling berarti. Kembali ke rumah, ke keluarga, ke cerita-cerita yang mungkin sempat tertunda
Jadi penasaran, Duta BPJS Kesehatan ada rencana ngapain aja yah di momen cuti lebaran ini? yuk kita kepoin bareng di sini
https://www.instagram.com/p/DV-_75tiYhL/?igsh=dGp1ZzZwMDhpdHI0
Jangan lupa share rencana agendamu juga yah sob
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
β€2
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat pagi, Sahabat!
Pagi ini ketemu lagi dengan quote terkenal dari Lao Tzu di bukunya Pak Gita Wirjawan, What It Takes: Asia Tenggara.
"Jagalah pikiranmu, sebab ia menjadi kata-katamu.
Jagalah kata-katamu, sebab ia menjadi tindakanmu.
Jagalah tindakanmu, sebab ia menjadi kebiasaanmu.
Jagalah kebiasaanmu, sebab ia menjadi karaktermu.
Jagalah karaktermu, sebab ia menjadi takdirmu."
(LAO TZU)
Have a nice and wonderful day! β€οΈ
#INISIATIF
Selamat pagi, Sahabat!
Pagi ini ketemu lagi dengan quote terkenal dari Lao Tzu di bukunya Pak Gita Wirjawan, What It Takes: Asia Tenggara.
"Jagalah pikiranmu, sebab ia menjadi kata-katamu.
Jagalah kata-katamu, sebab ia menjadi tindakanmu.
Jagalah tindakanmu, sebab ia menjadi kebiasaanmu.
Jagalah kebiasaanmu, sebab ia menjadi karaktermu.
Jagalah karaktermu, sebab ia menjadi takdirmu."
(LAO TZU)
Have a nice and wonderful day! β€οΈ
#INISIATIF
π₯°2β€1
Webinar PERDOKJASI β Episode Maret 2026
βMenjaga Profesi, Menjaga Jaminan Sosialβ
π Sabtu, 28 Maret 2026
β° 09.00 WIB β selesai
π Online via Zoom
Bersama narasumber:
π¨ββοΈ Prof. dr. Muchtaruddin Mansyur, SpOk(K), PhD
π¨ββοΈ dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH
π€ Moderator: dr. Ahmad Syaifudin, M.Kes
π° Biaya Registrasi 50K
π Doorprize di akhir acara
Yuk, daftar sekarang dan ikut diskusinya!
Link Registrasi
https://forms.gle/rr1HGd2WcVzjkbxv5
π Info: 0812-1226-5255 (Widya)
βMenjaga Profesi, Menjaga Jaminan Sosialβ
π Sabtu, 28 Maret 2026
β° 09.00 WIB β selesai
π Online via Zoom
Bersama narasumber:
π¨ββοΈ Prof. dr. Muchtaruddin Mansyur, SpOk(K), PhD
π¨ββοΈ dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH
π€ Moderator: dr. Ahmad Syaifudin, M.Kes
π° Biaya Registrasi 50K
π Doorprize di akhir acara
Yuk, daftar sekarang dan ikut diskusinya!
Link Registrasi
https://forms.gle/rr1HGd2WcVzjkbxv5
π Info: 0812-1226-5255 (Widya)
Oleh: Dedi Priadi
Hidup adalah proses menyemai. Jika kita ingin dikenang melampaui usia, maka apa yang kita tanam haruslah sesuatu yang memberi kehidupan, layaknya benih di tengah hamparan sawah.
Kualitas seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi ia memanjat, melainkan seberapa dalam ia menghujamkan manfaat. Ilmu padi mengajarkan bahwa substansi sejati selalu berbanding lurus dengan sikap rendah hati.
Semakin berisi, semakin merunduk. Itulah paradoks kemuliaan. Manusia yang benar-benar berilmu justru akan merasa kecil di hadapan luasnya semesta, menjauhi sikap sombong yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya.
Jangan menjadi seperti ayam dalam kandang. Hebohnya suara tidak menjamin besarnya karya: bertelur satu ribut sekampung. Satu keberhasilan kecil yang dipamerkan dengan kegaduhan hanya akan menunjukkan betapa dangkalnya kedalaman jiwa kita.
Orang yang ingin terpandang harus berani mematikan ego. Kata-kata yang tinggi melambung hanya akan menciptakan jarak, sementara kerendahan hati justru akan mendekatkan hati satu sama lain secara tulus.
Membawa ilmu padi ke ladang kehidupan berarti menjaga integritas. Saat posisi Anda semakin tinggi dan pencapaian semakin gemilang, di situlah ujian sesungguhnya untuk tetap menginjak bumi dimulai.
Kehebatan tanpa adab hanyalah kebisingan. Dunia mungkin melihat apa yang Anda capai, namun sejarah hanya akan mencatat bagaimana cara Anda memperlakukan orang lain saat Anda berada di puncak kekuasaan.
Jadilah pribadi yang tenang namun berisi. Layaknya bulir padi yang matang, keberadaan Anda harus memberikan rasa kenyang dan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sedang lapar akan teladan nyata (πΈπ’ππ¬ π΅π©π¦ π΅π’ππ¬).
Ingatan orang lain tentang kita adalah warisan yang tak ternilai. Nama yang harum tidak dibangun dari beton kesombongan, melainkan dari tulusnya pengabdian dan lembutnya tutur kata yang menyejukkan.
Pada akhirnya, merunduk bukan berarti kalah atau lemah. Merunduk adalah cara kita menghormati sumber kehidupan, memastikan bahwa setiap ilmu yang kita miliki menjadi berkah yang abadi untuk dikenang.
#INISIATIF
Hidup adalah proses menyemai. Jika kita ingin dikenang melampaui usia, maka apa yang kita tanam haruslah sesuatu yang memberi kehidupan, layaknya benih di tengah hamparan sawah.
Kualitas seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi ia memanjat, melainkan seberapa dalam ia menghujamkan manfaat. Ilmu padi mengajarkan bahwa substansi sejati selalu berbanding lurus dengan sikap rendah hati.
Semakin berisi, semakin merunduk. Itulah paradoks kemuliaan. Manusia yang benar-benar berilmu justru akan merasa kecil di hadapan luasnya semesta, menjauhi sikap sombong yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya.
Jangan menjadi seperti ayam dalam kandang. Hebohnya suara tidak menjamin besarnya karya: bertelur satu ribut sekampung. Satu keberhasilan kecil yang dipamerkan dengan kegaduhan hanya akan menunjukkan betapa dangkalnya kedalaman jiwa kita.
Orang yang ingin terpandang harus berani mematikan ego. Kata-kata yang tinggi melambung hanya akan menciptakan jarak, sementara kerendahan hati justru akan mendekatkan hati satu sama lain secara tulus.
Membawa ilmu padi ke ladang kehidupan berarti menjaga integritas. Saat posisi Anda semakin tinggi dan pencapaian semakin gemilang, di situlah ujian sesungguhnya untuk tetap menginjak bumi dimulai.
Kehebatan tanpa adab hanyalah kebisingan. Dunia mungkin melihat apa yang Anda capai, namun sejarah hanya akan mencatat bagaimana cara Anda memperlakukan orang lain saat Anda berada di puncak kekuasaan.
Jadilah pribadi yang tenang namun berisi. Layaknya bulir padi yang matang, keberadaan Anda harus memberikan rasa kenyang dan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sedang lapar akan teladan nyata (πΈπ’ππ¬ π΅π©π¦ π΅π’ππ¬).
Ingatan orang lain tentang kita adalah warisan yang tak ternilai. Nama yang harum tidak dibangun dari beton kesombongan, melainkan dari tulusnya pengabdian dan lembutnya tutur kata yang menyejukkan.
Pada akhirnya, merunduk bukan berarti kalah atau lemah. Merunduk adalah cara kita menghormati sumber kehidupan, memastikan bahwa setiap ilmu yang kita miliki menjadi berkah yang abadi untuk dikenang.
#INISIATIF
π₯3π2π₯°1
Kadang kita lupa, hubungan kerja juga perlu dirawat. Nggak harus nunggu masalah besar, cukup mulai dari kata sederhana: "maaf yaβ π€
Karena hati yang ringan bisa bikin suasana kerja jadi lebih nyaman dan bermaknaβ€οΈ
Jangan lupa colek bestiemu di kolom komentarπ
https://www.instagram.com/p/DWVIkMjCdCp/?igsh=MXN1N3BnY2hzcm4xNg==
Karena hati yang ringan bisa bikin suasana kerja jadi lebih nyaman dan bermakna
Jangan lupa colek bestiemu di kolom komentar
https://www.instagram.com/p/DWVIkMjCdCp/?igsh=MXN1N3BnY2hzcm4xNg==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
π1π₯°1