Ask The Experts
1.81K subscribers
4.73K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
ZERO ERROR MINDSET ๐Ÿ‘

Kalau kamu pikir kerjaan kasir cuma โ€œklik bayarโ€, wahโ€ฆ kamu perlu lihat proses di baliknya ๐Ÿ˜„

Jangan lupa berikan dukunganmu di sini ๐Ÿ‘‡
https://www.instagram.com/p/DUaTlufCdX2/?igsh=MWdrcTI2NGlzdjBvaw==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ”ฅ1
Oleh: Dedi Priadi

Apa yang menjadi milikmu tidak akan melewatkanmu, dan apa yang melewatkanmu memang bukan milikmu.

Cicak tidak memiliki sayap untuk terbang, namun ia tenang menunggu nyamuk yang terbang menghampirinya tanpa pernah merasa salah alamat.

Begitu pula kucing yang tak pandai menyelam, namun takdirnya tetap dipertemukan dengan ikan yang hidup di kedalaman air yang tak terjangkau olehnya.

Bagaikan sungai yang mengalir tenang, rezeki akan selalu menemukan jalannya sendiri melewati bebatuan rintangan menuju muara takdir yang telah ditetapkan tanpa pernah tertukar.

Dunia ini adalah panggung simfoni yang maha rapi, di mana setiap makhluk telah diatur jatah energinya oleh Sang Maha Pemberi tanpa ada yang tertukar.

Lantas, mengapa engkau yang dikaruniai akal budi dan kemuliaan batin masih sering merasa cemas dan ragu akan jaminan esok hari?
Rezeki bukanlah tentang apa yang kau kejar hingga sesak napas, melainkan tentang apa yang ditetapkan menjadi milikmu secara presisi dan abadi.

Harta itu seperti bayangan; jika kau kejar ia lari, namun jika kau berjalan menuju cahaya Sang Pencipta, bayangan itu yang akan mengikutimu.

Tugasmu hanyalah menyempurnakan ikhtiar lahiriah, sementara urusan hasil adalah wilayah Tuhan Sang Pengatur Rezeki yang tak pernah sekali pun tidur memantau kebutuhan hamba-Nya.

Para guru mulia mengajarkan kita untuk meletakkan dunia di tangan, bukan di hati, agar saat rezeki itu datang kita bersyukur dan saat pergi kita tak hancur.

Hiduplah dengan penuh keyakinan, karena rezekimu telah mencari alamatmu sejak sebelum kau lahir, melebihi caramu mencari rezeki itu sendiri setiap harinya.

Keajaiban rezeki akan selalu menghampiri jiwa yang pasrah namun tidak menyerah, yang percaya bahwa setiap tarikan napas sudah sepaket dengan jaminan hidupnya.

#INISIATIF
โค8๐Ÿ™2
Jauhkan Perasaan dari Pekerjaan

Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Di tempat kerja saya berdebat dengan anak muda. Untuk mempertahankan posisinya dia menyerang personal saya, yang tidak relevan dengan urusan pekerjaan. Saya langsung menghentikan perdebatan. Sudah, begitu saja, saya hanya berhenti berdebat, tanpa marah.

GM bawahan saya heran. "Kok Pak Hasan sabar banget?"

Saya tertawa saja. "Kenyamanan dan ketenangan saya terlalu mahal harganya, saya tidak mau kenyamanan itu terganggu oleh urusan sepele. Kita sama-sama cari makan, kok. Bekerjalah dengan tetap menjaga emosi kita," kata saya.

Dia kaget. Dia sendiri masih gregetan melihat saya diperlakukan tidak sopan. Saya malah santai saja. Bahkan selanjutnya saya tetap bekerja sama dengan anak muda tadi, tanpa ada perubahan sikap. Yang penting pekerjaan yang saya tugaskan dia jalankan.

Kok bisa begitu? Ya itu tadi. "Kerja itu pakai nalar. Solve the problems! Emosi kita hanya dipakai untuk hal-hal yang memang memerlukan emosi. Emosi (perasaan) itu tempat utamanya dalam hubungan pribadi," kata saya. Dia tercengang. Dia belajar merenungi resep saya itu. "Benar juga ya, Pak," kata GM saya tadi.

Dalam berbagai training saya bilang,"Jangan ada bestie, deh dalam hubungan kerja. Nanti kalian kehilangan objektivitas. Mau mengoreksi yang salah jadi segan."

Hubungan pribadi yang dekat sama bahayanya dengan permusuhan di tempat kerja. Keduanya tidak perlu ada, karena tempat kerja bukan ranah pribadi. Kerja dilakukan, keputusan dibuat, semua berbasis pada standar dan nalar, bukan atas perasaan suka atau tidak suka.

#INISIATIF
โค2๐Ÿ‘1
Ada konten bagus nih ttg Penonaktifan PBI JK, tp koq konten bener dan mencerahkan seperti ini susah viralnya yaa... Yuk kita share biar makin banyak yang jadi paham ๐Ÿค๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

Algoritma please do your magic ๐Ÿ™

https://www.instagram.com/p/DUmaV3NEqdN/?igsh=ODV4cnI1cGc0NjI1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ”ฅ2
Oleh: Dedi Priadi

Bayangkan jika organigram konyol berikut adalah struktur kepemimpinan sebuah negara.

Di puncak, duduklah ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง ๐˜š๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ ๐˜–๐˜ง๐˜ง๐˜ช๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ yang tugas utamanya adalah memastikan tidak ada yang berubah. Di sekelilingnya, ada ๐˜๐˜— ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ž๐˜ข๐˜ช๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฆ yang menunda keputusan penting, ๐˜๐˜— ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜—๐˜ญ๐˜ข๐˜บ ๐˜๐˜ต ๐˜š๐˜ข๐˜ง๐˜ฆ yang anti-risiko, dan ๐˜๐˜— ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜”๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜บ๐˜ด๐˜ช๐˜ด yang tak pernah puas dengan data.

Di level eksekusi, setiap ide cerdas dari rakyat langsung dipangkas oleh ๐˜‹๐˜ช๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜๐˜ต'๐˜ญ๐˜ญ ๐˜•๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ž๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฌ dan ๐˜‹๐˜ช๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜๐˜ต ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ. Apa hasilnya? Sebuah bangsa yang terkunci rapat di masa lalu, kehilangan momentum emas, dan kehabisan energi hanya untuk melawan kelembaman dirinya sendiri.

Kita harus segera menyadari, organigram itu bukan sekadar lelucon manajemen, ia adalah ancaman nyata terhadap kemajuan sebuah bangsa. Ketika pemimpin nasional mengadopsi mentalitas ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง ๐˜š๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ, mereka menciptakan sebuah birokrasi yang didesain untuk gagal. Mereka menyamarkan ketakutan akan perubahan sebagai kehati-hatian, dan menutupi ketiadaan visi sebagai stabilitas. Padahal, bagi negara yang sedang berkembang, stabilitas yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bertransformasi.

Inilah mengapa peran pemimpin ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ menjadi krusial. Visi adalah peta jalan kolektif, sebuah destinasi yang disepakati bersama. Visi yang kuat secara otomatis mendepak mentalitas ๐˜‹๐˜ช๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜๐˜ต'๐˜ญ๐˜ญ ๐˜•๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ž๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฌ, karena kini setiap langkah memiliki tujuan jelas: mencapai janji masa depan yang diidamkan. Visi yang jelas mengubah "inisiatif" menjadi "pergerakan nasional."

Namun, visi harus ditopang oleh ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด. Integritas membangun kepercayaan nasional, mata uang sosial paling berharga. Ketika rakyat percaya pada pemimpin, mereka rela berkorban dan mendukung kebijakan sulit sekalipun. Sebaliknya, ketiadaan integritas hanya melahirkan banyak ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ ๐˜Ž๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ ๐˜œ๐˜ฑ yang apatis, tak bertanggung jawab, dan putus urat malu korupsinya.

Indonesia bangsa yang besar. Bayangkan, jika para pemimpinnya hanya ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฉ-๐˜ญ๐˜ฆ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฉ. Nggak kompeten, nggak tegas, dan nggak berintegritas. Kita punya segalanya: sumber daya alam yang masih melimpah, bonus demografi, potensi ekonomi yang luar biasa. Tapi jika di pucuk pimpinan hanya ada ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง ๐˜š๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ dan bala tentaranya, semua potensi itu akan menguap. Proyek-proyek strategis mandek, korupsi merajalela, dan energi membangun habis melawan inersia.

Untuk menanggulangi mentalitas inersia ini, kita butuh elemen ketiga: ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ. Pemimpin yang tegas mampu mengurai "benang kusut" birokrasi dan berani membuat keputusan yang benar, meski tidak populer. Ketegasan adalah daya dorong untuk memberdayakan bahan bakar karakter kepribadian mayoritas masyarakat bangsa kita yang cenderung ekstrovert.

Sifat ekstrovert masyarakat Indonesia memiliki dua mata pisau: sifat ekstrovert adalah bahan bakar pembangunan karena memicu semangat kolaborasi, namun juga memicu kelemahan dalam fokus jangka panjang dan memudahkan masyarakat mensiasati aturan demi menjaga harmoni sesaat. Ketegasan pemimpin menjadi pagar untuk memastikan keramahan kita tidak luntur menjadi kompromi pada kualitas dan akuntabilitas.

Inilah Momennya. Setiap detik adalah ๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ธ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜บ. Kita berada pada momentum sejarah di mana aset demografi mumpuni, sumber daya alam masih melimpah, dan potensi ekonomi yang siap melenting.

Momentum kemajuan tidak menunggu ๐˜๐˜— ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ž๐˜ข๐˜ช๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฆ, ia menuntut kecepatan dan keberanian. Kunci untuk melompat dari jebakan ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง ๐˜š๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ adalah kepemimpinan nasional yang memegang teguh tiga pilar: visi sebagai kompas, integritas sebagai perekat kepercayaan, dan ketegasan sebagai pedang yang membelah kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa.

Dengan kepemimpinan yang utuh ini, seluruh potensi dan semangat gotong royong bangsa kita akan bergerak serentak, mengubah Indonesia dari hanya sekadar bangsa yang besar menjadi bangsa yang maju, sejahtera dan berkeadilan. Aamiin.

#INISIATIF
๐Ÿ‘1
Oleh: Iwan Kusworo

Pagi tadi saya nonton video menarik di Youtube tentang "the hidden costs of excessive frugality" alias biaya tersembunyi dari cara hidup yang terlalu irit, yang disampaikan oleh Ken Honda, penulis buku "Happy Money."

Menabung kita tahu memang adalah sebuah kebaikan. Tapi ketika frugality (penghematan) digerakkan oleh fear (rasa takut), hidup justru menjadi terasa lebih sempit dan dipenuhi kecemasan. Ken Honda membedakan frugality yang lahir dari wisdom yang penuh ketenangan dan keterbukaan, dengan yang lahir dari rasa takut yang justru cenderung membuat seseorang defensif dan terlalu membatasi banyak hal.

Dampaknya terasa di beberapa aspek kehidupan.

Secara emosional, kebiasaan menahan pengeluaran membuat sense of possibility kita menyusut. Dalam hubungan dengan orang lain (pasangan, keluarga, teman), frugality bisa berubah menjadi bentuk kontrol, sehingga menjadikan itu hubungan yang dibentuk oleh kecemasan, bukan kemurahan hati. Dari sisi opportunity (kesempatan), terlalu irit sering berarti menolak untuk invest in oneself (berinvestasi pada diri sendiri). Padahal kita tahu bahwa buku, kursus, atau memiliki mentor/coach adalah "investasi kecil" yang bisa memperbesar kemungkinan akan masa depan kita yang lebih baik.

Dalam konsep Happy Money, uang seharusnya flow (mengalir), bukan menyusut karena rasa takut. Frugality yang sehat datang dari kejelasan tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup kita, bukan dari ketakutan bahwa uang tidak akan pernah cukup.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan apakah sebuah keputusan membuat kita lebih kaya atau lebih miskin, tetapi apakah ia membuat dunia kita membesar atau mengecil. Jika kita yakin sebuah pengeluaran akan menghasilkan kebahagiaan, growth (pertumbuhan), atau membentuk hubungan yang lebih baik dengan orang lain, maka itu adalah investasi hidup, bukan sekedar pengeluaran.

Wah, jadi pengen baca bukunya nih... Happy Money (Ken Honda).

https://youtu.be/NGX7FHem0mQ?si=VbyrZdJBdd73VWPe

Btw, cuma mau mengingatkan sob kalau ramadan, apalagi lebaran itu masih lama. Jangan lupa tetap dimanage arus kas-nya ๐Ÿค


#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kamu pernah ngalamin ini?
โ€œDokumennya ada kokโ€ฆ tapi kayaknya di folder yang lain simpannyaโ€ฆโ€ dan mulai panik
๐Ÿ˜ตโ€๐Ÿ’ซ

Di balik kerja yang lancar, ada arsip yang tertata. Di balik keputusan yang kuat, ada dokumen yang terdokumentasi ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

Jangan lupa mention rekan satu tim mu yang paling konsisten soal arsip di kolom komentar ๐Ÿ‘‡
https://www.instagram.com/p/DUqIKH7Ce5s/?igsh=ajc2MTg0cGQ2Njk3
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ˜€๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜

Managed Care
"Clinical Pathway & Utilization Review sebagai Pengendalian Mutu dan Biaya"


Ikuti webinar Managed Care PAMJAKI Edisi Ketiga tentang Clinical Pathway & Utilization Review sebagai Pengendalian Mutu dan Biaya.

๐Ÿ“… Kamis, 19 Februari 2026
โฐ 10.00 - 11.30 WIB
๐ŸŽ™ Speaker :
1. dr. Rosa Christiana Ginting, Betr, med, MHP, HIA, AAK
2. dr. Adian Fitria, M.HPM
3. dr. Novalina Gintings, MHPM AAK

Moderator: dr. A Mahathir Anas

๐Ÿ’ป Link zoom:
https://bit.ly/JoinZoomWebinar-EdisiKe-3
๐Ÿ’ป Virtual Background
https://bit.ly/VirtualBackgroundEdisi-ke3

GRATIS!
Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000

Daftar sekarang:
https://bit.ly/Registrasi-Webinar-Managedcare3
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
The Five Dysfunctions of a Team - EQ Spotlight 20260215.pdf
1.2 MB
THE FIVE DYSFUNCTIONS OF A TEAM โœ๏ธ

Oleh: Iwan Kusworo


Slide ini merangkum inti buku The Five Dysfunctions of a Team karya Patrick Lencioni, yang menjelaskan bahwa kegagalan tim bukan semata karena kurangnya kompetensi, tetapi karena cara anggota tim berinteraksi dan bekerja sama. Team dysfunction digambarkan sebagai hambatan yang membuat tim tidak mampu bekerja secara kohesif dan mencapai tujuan bersama. Masalah dalam tim bersifat seperti efek domino, bukan satu kesalahan tunggal, melainkan rangkaian persoalan yang saling berkaitan. Prinsipnya jelas: jika fondasi (bagian bawah) tidak kuat, maka bagian atas tidak akan bisa diperbaiki.

Disfungsi pertama adalah absence of trust (tidak adanya kepercayaan). Ini terjadi ketika anggota tim takut menunjukkan kelemahan, menyembunyikan kesalahan, dan enggan meminta bantuan. Trust yang dimaksud bukan sekadar rasa nyaman atau pertemanan, melainkan keamanan psikologis untuk bersikap terbuka dan rentan. Tanpa kepercayaan, muncul disfungsi kedua yaitu fear of conflict (ketakutan akan konflik). Tim cenderung menciptakan harmoni semu, menghindari perdebatan sehat, dan membicarakan masalah di luar forum resmi. Padahal konflik yang sehat adalah diskusi terbuka dan saling menghormati tentang ide, bukan serangan personal.

Ketika konflik sehat tidak terjadi, tim masuk pada disfungsi ketiga: lack of commitment (kurangnya komitmen). Keputusan menjadi tidak jelas, anggota tim tampak setuju di rapat tetapi tidak benar-benar mendukung, sehingga muncul resistensi pasif. Komitmen bukan berarti semua orang harus sepakat, melainkan semua orang memahami dan mendukung keputusan yang telah dibuat. Selanjutnya adalah avoidance of accountability (abai dari pertanggungjawaban), di mana anggota tim enggan saling menegur dan standar kerja perlahan menurun. Akibatnya, pemimpin menjadi satu-satunya pengawas. Puncaknya adalah inattention to results (ketidakpedulian terhadap hasil), yaitu ketika fokus bergeser ke pencapaian pribadi atau kepentingan departemen, bukan pada hasil kolektif tim.

Slide ini juga menekankan solusi, baik bagi individu maupun pemimpin. Individu perlu berani mengakui kesalahan, meminta bantuan, berbicara dengan rasa hormat, serta fokus pada tujuan bersama. Pemimpin harus memberi contoh, mendorong terjadinya debat sehat, memperjelas keputusan, dan menghargai hasil tim dibanding sekadar bintang individu. Intinya, tim hebat tidak dibangun hanya oleh kecerdasan, tetapi oleh keberanian emosional, kesadaran diri, kerendahan hati, empati, dan keberanian memilih kejujuran dibanding sekadar terlihat baik.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ’ฏ1
Oleh: Dedi Priadi

Dunia ini tempat menanam, bukan memanen. Setiap langkah yang kita ambil adalah benih yang kita sebar, dan setiap interaksi adalah sebuah vibrasi yang kita lepaskan ke semesta raya.

Kita tidak hanya meninggalkan jejak fisik berupa tapak kaki, tetapi juga ๐˜ข๐˜ต๐˜ด๐˜ข๐˜ณโ€”jejak perbuatan dan niatโ€”yang melekat pada jiwa. Atsar inilah yang menentukan kualitas panen rohani kita kelak.

Penting diingat, setiap tindakan yang muncul dari keangkuhan atau harapan pujian akan merusak atsar itu. Tugas pertama kita adalah ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช, membersihkan hati dari debu-debu riya' dan penyakit egoisme.

Setelah bersih, barulah kita memasuki fase ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช: menghiasi diri dengan budi pekerti mulia. Kebaikan sejati bukanlah perbuatan yang dipaksakan, melainkan pancaran dari jiwa yang tulus dan ikhlas.

Maka, jadikan keikhlasan sebagai pondasi terkuat. Kebaikan yang paling bernilai adalah yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh kita dan Sang Pencipta, bebas dari pengakuan manusia.

Jejak kebaikan sejati adalah cahaya yang menyertai, bahkan saat diri kita telah tiada. Jadilah pembawa rahmat ke mana pun Anda melangkah, menabur kedamaian tanpa menghitung-hitung imbalan.

Cita-cita tertinggi kita adalah mencapai ๐˜ต๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช, di mana atsar yang kita tinggalkan hanyalah manifestasi sifat-sifat Tuhan. Hilangnya keakuan membuat kebaikan menjadi murni dan sempurna.

Oleh karena itu, bertekadlah untuk hanya meninggalkan bunga di tempat Anda berpijak. Ke mana pun Anda pergi, pastikan satu-satunya jejak yang tertinggal adalah kebaikan yang tak terhitung dan tak terhapuskan.

๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ (๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช) ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข (๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข). ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ (๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ) ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (Q.S Az-Zalzalah: 4-5).

๐˜ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ข'๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ.

#INISIATIF
๐Ÿ”ฅ4โค1โšก1