Ask The Experts
1.81K subscribers
4.73K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo πŸ‡²πŸ‡¨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
ZERO ERROR MINDSET πŸ‘

Kalau kamu pikir kerjaan kasir cuma β€œklik bayar”, wah… kamu perlu lihat proses di baliknya πŸ˜„

Jangan lupa berikan dukunganmu di sini πŸ‘‡
https://www.instagram.com/p/DUaTlufCdX2/?igsh=MWdrcTI2NGlzdjBvaw==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸ”₯1
Oleh: Dedi Priadi

Apa yang menjadi milikmu tidak akan melewatkanmu, dan apa yang melewatkanmu memang bukan milikmu.

Cicak tidak memiliki sayap untuk terbang, namun ia tenang menunggu nyamuk yang terbang menghampirinya tanpa pernah merasa salah alamat.

Begitu pula kucing yang tak pandai menyelam, namun takdirnya tetap dipertemukan dengan ikan yang hidup di kedalaman air yang tak terjangkau olehnya.

Bagaikan sungai yang mengalir tenang, rezeki akan selalu menemukan jalannya sendiri melewati bebatuan rintangan menuju muara takdir yang telah ditetapkan tanpa pernah tertukar.

Dunia ini adalah panggung simfoni yang maha rapi, di mana setiap makhluk telah diatur jatah energinya oleh Sang Maha Pemberi tanpa ada yang tertukar.

Lantas, mengapa engkau yang dikaruniai akal budi dan kemuliaan batin masih sering merasa cemas dan ragu akan jaminan esok hari?
Rezeki bukanlah tentang apa yang kau kejar hingga sesak napas, melainkan tentang apa yang ditetapkan menjadi milikmu secara presisi dan abadi.

Harta itu seperti bayangan; jika kau kejar ia lari, namun jika kau berjalan menuju cahaya Sang Pencipta, bayangan itu yang akan mengikutimu.

Tugasmu hanyalah menyempurnakan ikhtiar lahiriah, sementara urusan hasil adalah wilayah Tuhan Sang Pengatur Rezeki yang tak pernah sekali pun tidur memantau kebutuhan hamba-Nya.

Para guru mulia mengajarkan kita untuk meletakkan dunia di tangan, bukan di hati, agar saat rezeki itu datang kita bersyukur dan saat pergi kita tak hancur.

Hiduplah dengan penuh keyakinan, karena rezekimu telah mencari alamatmu sejak sebelum kau lahir, melebihi caramu mencari rezeki itu sendiri setiap harinya.

Keajaiban rezeki akan selalu menghampiri jiwa yang pasrah namun tidak menyerah, yang percaya bahwa setiap tarikan napas sudah sepaket dengan jaminan hidupnya.

#INISIATIF
❀8πŸ™2
Jauhkan Perasaan dari Pekerjaan

Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Di tempat kerja saya berdebat dengan anak muda. Untuk mempertahankan posisinya dia menyerang personal saya, yang tidak relevan dengan urusan pekerjaan. Saya langsung menghentikan perdebatan. Sudah, begitu saja, saya hanya berhenti berdebat, tanpa marah.

GM bawahan saya heran. "Kok Pak Hasan sabar banget?"

Saya tertawa saja. "Kenyamanan dan ketenangan saya terlalu mahal harganya, saya tidak mau kenyamanan itu terganggu oleh urusan sepele. Kita sama-sama cari makan, kok. Bekerjalah dengan tetap menjaga emosi kita," kata saya.

Dia kaget. Dia sendiri masih gregetan melihat saya diperlakukan tidak sopan. Saya malah santai saja. Bahkan selanjutnya saya tetap bekerja sama dengan anak muda tadi, tanpa ada perubahan sikap. Yang penting pekerjaan yang saya tugaskan dia jalankan.

Kok bisa begitu? Ya itu tadi. "Kerja itu pakai nalar. Solve the problems! Emosi kita hanya dipakai untuk hal-hal yang memang memerlukan emosi. Emosi (perasaan) itu tempat utamanya dalam hubungan pribadi," kata saya. Dia tercengang. Dia belajar merenungi resep saya itu. "Benar juga ya, Pak," kata GM saya tadi.

Dalam berbagai training saya bilang,"Jangan ada bestie, deh dalam hubungan kerja. Nanti kalian kehilangan objektivitas. Mau mengoreksi yang salah jadi segan."

Hubungan pribadi yang dekat sama bahayanya dengan permusuhan di tempat kerja. Keduanya tidak perlu ada, karena tempat kerja bukan ranah pribadi. Kerja dilakukan, keputusan dibuat, semua berbasis pada standar dan nalar, bukan atas perasaan suka atau tidak suka.

#INISIATIF
❀2πŸ‘1
Ada konten bagus nih ttg Penonaktifan PBI JK, tp koq konten bener dan mencerahkan seperti ini susah viralnya yaa... Yuk kita share biar makin banyak yang jadi paham πŸ€πŸ‡²πŸ‡¨

Algoritma please do your magic πŸ™

https://www.instagram.com/p/DUmaV3NEqdN/?igsh=ODV4cnI1cGc0NjI1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸ”₯2
Oleh: Dedi Priadi

Bayangkan jika organigram konyol berikut adalah struktur kepemimpinan sebuah negara.

Di puncak, duduklah 𝘊𝘩π˜ͺ𝘦𝘧 𝘚𝘡𝘒𝘡𝘢𝘴 𝘘𝘢𝘰 π˜–π˜§π˜§π˜ͺ𝘀𝘦𝘳 yang tugas utamanya adalah memastikan tidak ada yang berubah. Di sekelilingnya, ada π˜π˜— 𝘰𝘧 𝘞𝘒π˜ͺ𝘡 𝘒𝘯π˜₯ 𝘚𝘦𝘦 yang menunda keputusan penting, π˜π˜— 𝘰𝘧 π˜—π˜­π˜’π˜Ί 𝘐𝘡 𝘚𝘒𝘧𝘦 yang anti-risiko, dan π˜π˜— 𝘰𝘧 π˜”π˜°π˜³π˜¦ 𝘈𝘯𝘒𝘭𝘺𝘴π˜ͺ𝘴 yang tak pernah puas dengan data.

Di level eksekusi, setiap ide cerdas dari rakyat langsung dipangkas oleh π˜‹π˜ͺ𝘳𝘦𝘀𝘡𝘰𝘳 𝘰𝘧 𝘐𝘡'𝘭𝘭 π˜•π˜¦π˜·π˜¦π˜³ 𝘞𝘰𝘳𝘬 dan π˜‹π˜ͺ𝘳𝘦𝘀𝘡𝘰𝘳 𝘰𝘧 π˜›π˜³π˜ͺ𝘦π˜₯ 𝘐𝘡 π˜‰π˜¦π˜§π˜°π˜³π˜¦. Apa hasilnya? Sebuah bangsa yang terkunci rapat di masa lalu, kehilangan momentum emas, dan kehabisan energi hanya untuk melawan kelembaman dirinya sendiri.

Kita harus segera menyadari, organigram itu bukan sekadar lelucon manajemen, ia adalah ancaman nyata terhadap kemajuan sebuah bangsa. Ketika pemimpin nasional mengadopsi mentalitas 𝘊𝘩π˜ͺ𝘦𝘧 𝘚𝘡𝘒𝘡𝘢𝘴 𝘘𝘢𝘰, mereka menciptakan sebuah birokrasi yang didesain untuk gagal. Mereka menyamarkan ketakutan akan perubahan sebagai kehati-hatian, dan menutupi ketiadaan visi sebagai stabilitas. Padahal, bagi negara yang sedang berkembang, stabilitas yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bertransformasi.

Inilah mengapa peran pemimpin 𝘷π˜ͺ𝘴π˜ͺ𝘰𝘯𝘦𝘳 menjadi krusial. Visi adalah peta jalan kolektif, sebuah destinasi yang disepakati bersama. Visi yang kuat secara otomatis mendepak mentalitas π˜‹π˜ͺ𝘳𝘦𝘀𝘡𝘰𝘳 𝘰𝘧 𝘐𝘡'𝘭𝘭 π˜•π˜¦π˜·π˜¦π˜³ 𝘞𝘰𝘳𝘬, karena kini setiap langkah memiliki tujuan jelas: mencapai janji masa depan yang diidamkan. Visi yang jelas mengubah "inisiatif" menjadi "pergerakan nasional."

Namun, visi harus ditopang oleh π˜ͺ𝘯𝘡𝘦𝘨𝘳π˜ͺ𝘡𝘒𝘴. Integritas membangun kepercayaan nasional, mata uang sosial paling berharga. Ketika rakyat percaya pada pemimpin, mereka rela berkorban dan mendukung kebijakan sulit sekalipun. Sebaliknya, ketiadaan integritas hanya melahirkan banyak π˜”π˜’π˜―π˜’π˜¨π˜¦π˜³ 𝘰𝘧 𝘐 𝘎π˜ͺ𝘷𝘦 𝘜𝘱 yang apatis, tak bertanggung jawab, dan putus urat malu korupsinya.

Indonesia bangsa yang besar. Bayangkan, jika para pemimpinnya hanya 𝘭𝘦𝘺𝘦𝘩-𝘭𝘦𝘺𝘦𝘩. Nggak kompeten, nggak tegas, dan nggak berintegritas. Kita punya segalanya: sumber daya alam yang masih melimpah, bonus demografi, potensi ekonomi yang luar biasa. Tapi jika di pucuk pimpinan hanya ada 𝘊𝘩π˜ͺ𝘦𝘧 𝘚𝘡𝘒𝘡𝘢𝘴 𝘘𝘢𝘰 dan bala tentaranya, semua potensi itu akan menguap. Proyek-proyek strategis mandek, korupsi merajalela, dan energi membangun habis melawan inersia.

Untuk menanggulangi mentalitas inersia ini, kita butuh elemen ketiga: 𝘬𝘦𝘡𝘦𝘨𝘒𝘴𝘒𝘯. Pemimpin yang tegas mampu mengurai "benang kusut" birokrasi dan berani membuat keputusan yang benar, meski tidak populer. Ketegasan adalah daya dorong untuk memberdayakan bahan bakar karakter kepribadian mayoritas masyarakat bangsa kita yang cenderung ekstrovert.

Sifat ekstrovert masyarakat Indonesia memiliki dua mata pisau: sifat ekstrovert adalah bahan bakar pembangunan karena memicu semangat kolaborasi, namun juga memicu kelemahan dalam fokus jangka panjang dan memudahkan masyarakat mensiasati aturan demi menjaga harmoni sesaat. Ketegasan pemimpin menjadi pagar untuk memastikan keramahan kita tidak luntur menjadi kompromi pada kualitas dan akuntabilitas.

Inilah Momennya. Setiap detik adalah 𝘸π˜ͺ𝘯π˜₯𝘰𝘸 𝘰𝘧 𝘰𝘱𝘱𝘰𝘳𝘡𝘢𝘯π˜ͺ𝘡𝘺. Kita berada pada momentum sejarah di mana aset demografi mumpuni, sumber daya alam masih melimpah, dan potensi ekonomi yang siap melenting.

Momentum kemajuan tidak menunggu π˜π˜— 𝘰𝘧 𝘞𝘒π˜ͺ𝘡 𝘒𝘯π˜₯ 𝘚𝘦𝘦, ia menuntut kecepatan dan keberanian. Kunci untuk melompat dari jebakan 𝘊𝘩π˜ͺ𝘦𝘧 𝘚𝘡𝘒𝘡𝘢𝘴 𝘘𝘢𝘰 adalah kepemimpinan nasional yang memegang teguh tiga pilar: visi sebagai kompas, integritas sebagai perekat kepercayaan, dan ketegasan sebagai pedang yang membelah kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa.

Dengan kepemimpinan yang utuh ini, seluruh potensi dan semangat gotong royong bangsa kita akan bergerak serentak, mengubah Indonesia dari hanya sekadar bangsa yang besar menjadi bangsa yang maju, sejahtera dan berkeadilan. Aamiin.

#INISIATIF
πŸ‘1
Oleh: Iwan Kusworo

Pagi tadi saya nonton video menarik di Youtube tentang "the hidden costs of excessive frugality" alias biaya tersembunyi dari cara hidup yang terlalu irit, yang disampaikan oleh Ken Honda, penulis buku "Happy Money."

Menabung kita tahu memang adalah sebuah kebaikan. Tapi ketika frugality (penghematan) digerakkan oleh fear (rasa takut), hidup justru menjadi terasa lebih sempit dan dipenuhi kecemasan. Ken Honda membedakan frugality yang lahir dari wisdom yang penuh ketenangan dan keterbukaan, dengan yang lahir dari rasa takut yang justru cenderung membuat seseorang defensif dan terlalu membatasi banyak hal.

Dampaknya terasa di beberapa aspek kehidupan.

Secara emosional, kebiasaan menahan pengeluaran membuat sense of possibility kita menyusut. Dalam hubungan dengan orang lain (pasangan, keluarga, teman), frugality bisa berubah menjadi bentuk kontrol, sehingga menjadikan itu hubungan yang dibentuk oleh kecemasan, bukan kemurahan hati. Dari sisi opportunity (kesempatan), terlalu irit sering berarti menolak untuk invest in oneself (berinvestasi pada diri sendiri). Padahal kita tahu bahwa buku, kursus, atau memiliki mentor/coach adalah "investasi kecil" yang bisa memperbesar kemungkinan akan masa depan kita yang lebih baik.

Dalam konsep Happy Money, uang seharusnya flow (mengalir), bukan menyusut karena rasa takut. Frugality yang sehat datang dari kejelasan tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup kita, bukan dari ketakutan bahwa uang tidak akan pernah cukup.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan apakah sebuah keputusan membuat kita lebih kaya atau lebih miskin, tetapi apakah ia membuat dunia kita membesar atau mengecil. Jika kita yakin sebuah pengeluaran akan menghasilkan kebahagiaan, growth (pertumbuhan), atau membentuk hubungan yang lebih baik dengan orang lain, maka itu adalah investasi hidup, bukan sekedar pengeluaran.

Wah, jadi pengen baca bukunya nih... Happy Money (Ken Honda).

https://youtu.be/NGX7FHem0mQ?si=VbyrZdJBdd73VWPe

Btw, cuma mau mengingatkan sob kalau ramadan, apalagi lebaran itu masih lama. Jangan lupa tetap dimanage arus kas-nya 🀝


#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kamu pernah ngalamin ini?
β€œDokumennya ada kok… tapi kayaknya di folder yang lain simpannya…” dan mulai panik
πŸ˜΅β€πŸ’«

Di balik kerja yang lancar, ada arsip yang tertata. Di balik keputusan yang kuat, ada dokumen yang terdokumentasi πŸ‡²πŸ‡¨

Jangan lupa mention rekan satu tim mu yang paling konsisten soal arsip di kolom komentar πŸ‘‡
https://www.instagram.com/p/DUqIKH7Ce5s/?igsh=ajc2MTg0cGQ2Njk3
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM