ZERO ERROR MINDSET π
Kalau kamu pikir kerjaan kasir cuma βklik bayarβ, wahβ¦ kamu perlu lihat proses di baliknyaπ
Jangan lupa berikan dukunganmu di siniπ
https://www.instagram.com/p/DUaTlufCdX2/?igsh=MWdrcTI2NGlzdjBvaw==
Kalau kamu pikir kerjaan kasir cuma βklik bayarβ, wahβ¦ kamu perlu lihat proses di baliknya
Jangan lupa berikan dukunganmu di sini
https://www.instagram.com/p/DUaTlufCdX2/?igsh=MWdrcTI2NGlzdjBvaw==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
π₯1
Oleh: Dedi Priadi
Apa yang menjadi milikmu tidak akan melewatkanmu, dan apa yang melewatkanmu memang bukan milikmu.
Cicak tidak memiliki sayap untuk terbang, namun ia tenang menunggu nyamuk yang terbang menghampirinya tanpa pernah merasa salah alamat.
Begitu pula kucing yang tak pandai menyelam, namun takdirnya tetap dipertemukan dengan ikan yang hidup di kedalaman air yang tak terjangkau olehnya.
Bagaikan sungai yang mengalir tenang, rezeki akan selalu menemukan jalannya sendiri melewati bebatuan rintangan menuju muara takdir yang telah ditetapkan tanpa pernah tertukar.
Dunia ini adalah panggung simfoni yang maha rapi, di mana setiap makhluk telah diatur jatah energinya oleh Sang Maha Pemberi tanpa ada yang tertukar.
Lantas, mengapa engkau yang dikaruniai akal budi dan kemuliaan batin masih sering merasa cemas dan ragu akan jaminan esok hari?
Rezeki bukanlah tentang apa yang kau kejar hingga sesak napas, melainkan tentang apa yang ditetapkan menjadi milikmu secara presisi dan abadi.
Harta itu seperti bayangan; jika kau kejar ia lari, namun jika kau berjalan menuju cahaya Sang Pencipta, bayangan itu yang akan mengikutimu.
Tugasmu hanyalah menyempurnakan ikhtiar lahiriah, sementara urusan hasil adalah wilayah Tuhan Sang Pengatur Rezeki yang tak pernah sekali pun tidur memantau kebutuhan hamba-Nya.
Para guru mulia mengajarkan kita untuk meletakkan dunia di tangan, bukan di hati, agar saat rezeki itu datang kita bersyukur dan saat pergi kita tak hancur.
Hiduplah dengan penuh keyakinan, karena rezekimu telah mencari alamatmu sejak sebelum kau lahir, melebihi caramu mencari rezeki itu sendiri setiap harinya.
Keajaiban rezeki akan selalu menghampiri jiwa yang pasrah namun tidak menyerah, yang percaya bahwa setiap tarikan napas sudah sepaket dengan jaminan hidupnya.
#INISIATIF
Apa yang menjadi milikmu tidak akan melewatkanmu, dan apa yang melewatkanmu memang bukan milikmu.
Cicak tidak memiliki sayap untuk terbang, namun ia tenang menunggu nyamuk yang terbang menghampirinya tanpa pernah merasa salah alamat.
Begitu pula kucing yang tak pandai menyelam, namun takdirnya tetap dipertemukan dengan ikan yang hidup di kedalaman air yang tak terjangkau olehnya.
Bagaikan sungai yang mengalir tenang, rezeki akan selalu menemukan jalannya sendiri melewati bebatuan rintangan menuju muara takdir yang telah ditetapkan tanpa pernah tertukar.
Dunia ini adalah panggung simfoni yang maha rapi, di mana setiap makhluk telah diatur jatah energinya oleh Sang Maha Pemberi tanpa ada yang tertukar.
Lantas, mengapa engkau yang dikaruniai akal budi dan kemuliaan batin masih sering merasa cemas dan ragu akan jaminan esok hari?
Rezeki bukanlah tentang apa yang kau kejar hingga sesak napas, melainkan tentang apa yang ditetapkan menjadi milikmu secara presisi dan abadi.
Harta itu seperti bayangan; jika kau kejar ia lari, namun jika kau berjalan menuju cahaya Sang Pencipta, bayangan itu yang akan mengikutimu.
Tugasmu hanyalah menyempurnakan ikhtiar lahiriah, sementara urusan hasil adalah wilayah Tuhan Sang Pengatur Rezeki yang tak pernah sekali pun tidur memantau kebutuhan hamba-Nya.
Para guru mulia mengajarkan kita untuk meletakkan dunia di tangan, bukan di hati, agar saat rezeki itu datang kita bersyukur dan saat pergi kita tak hancur.
Hiduplah dengan penuh keyakinan, karena rezekimu telah mencari alamatmu sejak sebelum kau lahir, melebihi caramu mencari rezeki itu sendiri setiap harinya.
Keajaiban rezeki akan selalu menghampiri jiwa yang pasrah namun tidak menyerah, yang percaya bahwa setiap tarikan napas sudah sepaket dengan jaminan hidupnya.
#INISIATIF
β€8π2
https://unhas.tv/mencari-api-di-sekretariat-hmi-yang-kian-redup/1?fbclid=IwRlRTSAPzaqtleHRuA2FlbQIxMQBzcnRjBmFwcF9pZAo2NjI4NTY4Mzc5AAEePcAMLSimpfx9Qjmf6l0_ecjHATOt9pVPtQO34X9uqI4JhbrOPAMhA52mi-4_aem_QVwZf39UYJFCjJ_3GLkq5Q
#INISIATIF
#INISIATIF
Unhas TV
ο»ΏMencari Api di Sekretariat HMI yang Kian Redup - Unhas TV
ο»ΏOleh: Yusran Darmawan*Menjelang tengah malam, sekretariat itu belum juga sepi. Asap rokok menggantung di langit-langit rendah. Gelas kopi berderet di lantai. Beberapa mahasiswa duduk melingkar, buku-buku terbuka: Marx, Nurcholish Madjid, Gramsci, tafsirβ¦
Jauhkan Perasaan dari Pekerjaan
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Di tempat kerja saya berdebat dengan anak muda. Untuk mempertahankan posisinya dia menyerang personal saya, yang tidak relevan dengan urusan pekerjaan. Saya langsung menghentikan perdebatan. Sudah, begitu saja, saya hanya berhenti berdebat, tanpa marah.
GM bawahan saya heran. "Kok Pak Hasan sabar banget?"
Saya tertawa saja. "Kenyamanan dan ketenangan saya terlalu mahal harganya, saya tidak mau kenyamanan itu terganggu oleh urusan sepele. Kita sama-sama cari makan, kok. Bekerjalah dengan tetap menjaga emosi kita," kata saya.
Dia kaget. Dia sendiri masih gregetan melihat saya diperlakukan tidak sopan. Saya malah santai saja. Bahkan selanjutnya saya tetap bekerja sama dengan anak muda tadi, tanpa ada perubahan sikap. Yang penting pekerjaan yang saya tugaskan dia jalankan.
Kok bisa begitu? Ya itu tadi. "Kerja itu pakai nalar. Solve the problems! Emosi kita hanya dipakai untuk hal-hal yang memang memerlukan emosi. Emosi (perasaan) itu tempat utamanya dalam hubungan pribadi," kata saya. Dia tercengang. Dia belajar merenungi resep saya itu. "Benar juga ya, Pak," kata GM saya tadi.
Dalam berbagai training saya bilang,"Jangan ada bestie, deh dalam hubungan kerja. Nanti kalian kehilangan objektivitas. Mau mengoreksi yang salah jadi segan."
Hubungan pribadi yang dekat sama bahayanya dengan permusuhan di tempat kerja. Keduanya tidak perlu ada, karena tempat kerja bukan ranah pribadi. Kerja dilakukan, keputusan dibuat, semua berbasis pada standar dan nalar, bukan atas perasaan suka atau tidak suka.
#INISIATIF
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Di tempat kerja saya berdebat dengan anak muda. Untuk mempertahankan posisinya dia menyerang personal saya, yang tidak relevan dengan urusan pekerjaan. Saya langsung menghentikan perdebatan. Sudah, begitu saja, saya hanya berhenti berdebat, tanpa marah.
GM bawahan saya heran. "Kok Pak Hasan sabar banget?"
Saya tertawa saja. "Kenyamanan dan ketenangan saya terlalu mahal harganya, saya tidak mau kenyamanan itu terganggu oleh urusan sepele. Kita sama-sama cari makan, kok. Bekerjalah dengan tetap menjaga emosi kita," kata saya.
Dia kaget. Dia sendiri masih gregetan melihat saya diperlakukan tidak sopan. Saya malah santai saja. Bahkan selanjutnya saya tetap bekerja sama dengan anak muda tadi, tanpa ada perubahan sikap. Yang penting pekerjaan yang saya tugaskan dia jalankan.
Kok bisa begitu? Ya itu tadi. "Kerja itu pakai nalar. Solve the problems! Emosi kita hanya dipakai untuk hal-hal yang memang memerlukan emosi. Emosi (perasaan) itu tempat utamanya dalam hubungan pribadi," kata saya. Dia tercengang. Dia belajar merenungi resep saya itu. "Benar juga ya, Pak," kata GM saya tadi.
Dalam berbagai training saya bilang,"Jangan ada bestie, deh dalam hubungan kerja. Nanti kalian kehilangan objektivitas. Mau mengoreksi yang salah jadi segan."
Hubungan pribadi yang dekat sama bahayanya dengan permusuhan di tempat kerja. Keduanya tidak perlu ada, karena tempat kerja bukan ranah pribadi. Kerja dilakukan, keputusan dibuat, semua berbasis pada standar dan nalar, bukan atas perasaan suka atau tidak suka.
#INISIATIF
β€2π1
Ada konten bagus nih ttg Penonaktifan PBI JK, tp koq konten bener dan mencerahkan seperti ini susah viralnya yaa... Yuk kita share biar makin banyak yang jadi paham π€ π²π¨
Algoritma please do your magicπ
https://www.instagram.com/p/DUmaV3NEqdN/?igsh=ODV4cnI1cGc0NjI1
Algoritma please do your magic
https://www.instagram.com/p/DUmaV3NEqdN/?igsh=ODV4cnI1cGc0NjI1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
π₯2
Oleh: Dedi Priadi
Bayangkan jika organigram konyol berikut adalah struktur kepemimpinan sebuah negara.
Di puncak, duduklah ππ©πͺπ¦π§ ππ΅π’π΅πΆπ΄ ππΆπ° ππ§π§πͺπ€π¦π³ yang tugas utamanya adalah memastikan tidak ada yang berubah. Di sekelilingnya, ada ππ π°π§ ππ’πͺπ΅ π’π―π₯ ππ¦π¦ yang menunda keputusan penting, ππ π°π§ πππ’πΊ ππ΅ ππ’π§π¦ yang anti-risiko, dan ππ π°π§ ππ°π³π¦ ππ―π’ππΊπ΄πͺπ΄ yang tak pernah puas dengan data.
Di level eksekusi, setiap ide cerdas dari rakyat langsung dipangkas oleh ππͺπ³π¦π€π΅π°π³ π°π§ ππ΅'ππ ππ¦π·π¦π³ ππ°π³π¬ dan ππͺπ³π¦π€π΅π°π³ π°π§ ππ³πͺπ¦π₯ ππ΅ ππ¦π§π°π³π¦. Apa hasilnya? Sebuah bangsa yang terkunci rapat di masa lalu, kehilangan momentum emas, dan kehabisan energi hanya untuk melawan kelembaman dirinya sendiri.
Kita harus segera menyadari, organigram itu bukan sekadar lelucon manajemen, ia adalah ancaman nyata terhadap kemajuan sebuah bangsa. Ketika pemimpin nasional mengadopsi mentalitas ππ©πͺπ¦π§ ππ΅π’π΅πΆπ΄ ππΆπ°, mereka menciptakan sebuah birokrasi yang didesain untuk gagal. Mereka menyamarkan ketakutan akan perubahan sebagai kehati-hatian, dan menutupi ketiadaan visi sebagai stabilitas. Padahal, bagi negara yang sedang berkembang, stabilitas yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bertransformasi.
Inilah mengapa peran pemimpin π·πͺπ΄πͺπ°π―π¦π³ menjadi krusial. Visi adalah peta jalan kolektif, sebuah destinasi yang disepakati bersama. Visi yang kuat secara otomatis mendepak mentalitas ππͺπ³π¦π€π΅π°π³ π°π§ ππ΅'ππ ππ¦π·π¦π³ ππ°π³π¬, karena kini setiap langkah memiliki tujuan jelas: mencapai janji masa depan yang diidamkan. Visi yang jelas mengubah "inisiatif" menjadi "pergerakan nasional."
Namun, visi harus ditopang oleh πͺπ―π΅π¦π¨π³πͺπ΅π’π΄. Integritas membangun kepercayaan nasional, mata uang sosial paling berharga. Ketika rakyat percaya pada pemimpin, mereka rela berkorban dan mendukung kebijakan sulit sekalipun. Sebaliknya, ketiadaan integritas hanya melahirkan banyak ππ’π―π’π¨π¦π³ π°π§ π ππͺπ·π¦ ππ± yang apatis, tak bertanggung jawab, dan putus urat malu korupsinya.
Indonesia bangsa yang besar. Bayangkan, jika para pemimpinnya hanya ππ¦πΊπ¦π©-ππ¦πΊπ¦π©. Nggak kompeten, nggak tegas, dan nggak berintegritas. Kita punya segalanya: sumber daya alam yang masih melimpah, bonus demografi, potensi ekonomi yang luar biasa. Tapi jika di pucuk pimpinan hanya ada ππ©πͺπ¦π§ ππ΅π’π΅πΆπ΄ ππΆπ° dan bala tentaranya, semua potensi itu akan menguap. Proyek-proyek strategis mandek, korupsi merajalela, dan energi membangun habis melawan inersia.
Untuk menanggulangi mentalitas inersia ini, kita butuh elemen ketiga: π¬π¦π΅π¦π¨π’π΄π’π―. Pemimpin yang tegas mampu mengurai "benang kusut" birokrasi dan berani membuat keputusan yang benar, meski tidak populer. Ketegasan adalah daya dorong untuk memberdayakan bahan bakar karakter kepribadian mayoritas masyarakat bangsa kita yang cenderung ekstrovert.
Sifat ekstrovert masyarakat Indonesia memiliki dua mata pisau: sifat ekstrovert adalah bahan bakar pembangunan karena memicu semangat kolaborasi, namun juga memicu kelemahan dalam fokus jangka panjang dan memudahkan masyarakat mensiasati aturan demi menjaga harmoni sesaat. Ketegasan pemimpin menjadi pagar untuk memastikan keramahan kita tidak luntur menjadi kompromi pada kualitas dan akuntabilitas.
Inilah Momennya. Setiap detik adalah πΈπͺπ―π₯π°πΈ π°π§ π°π±π±π°π³π΅πΆπ―πͺπ΅πΊ. Kita berada pada momentum sejarah di mana aset demografi mumpuni, sumber daya alam masih melimpah, dan potensi ekonomi yang siap melenting.
Momentum kemajuan tidak menunggu ππ π°π§ ππ’πͺπ΅ π’π―π₯ ππ¦π¦, ia menuntut kecepatan dan keberanian. Kunci untuk melompat dari jebakan ππ©πͺπ¦π§ ππ΅π’π΅πΆπ΄ ππΆπ° adalah kepemimpinan nasional yang memegang teguh tiga pilar: visi sebagai kompas, integritas sebagai perekat kepercayaan, dan ketegasan sebagai pedang yang membelah kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa.
Dengan kepemimpinan yang utuh ini, seluruh potensi dan semangat gotong royong bangsa kita akan bergerak serentak, mengubah Indonesia dari hanya sekadar bangsa yang besar menjadi bangsa yang maju, sejahtera dan berkeadilan. Aamiin.
#INISIATIF
Bayangkan jika organigram konyol berikut adalah struktur kepemimpinan sebuah negara.
Di puncak, duduklah ππ©πͺπ¦π§ ππ΅π’π΅πΆπ΄ ππΆπ° ππ§π§πͺπ€π¦π³ yang tugas utamanya adalah memastikan tidak ada yang berubah. Di sekelilingnya, ada ππ π°π§ ππ’πͺπ΅ π’π―π₯ ππ¦π¦ yang menunda keputusan penting, ππ π°π§ πππ’πΊ ππ΅ ππ’π§π¦ yang anti-risiko, dan ππ π°π§ ππ°π³π¦ ππ―π’ππΊπ΄πͺπ΄ yang tak pernah puas dengan data.
Di level eksekusi, setiap ide cerdas dari rakyat langsung dipangkas oleh ππͺπ³π¦π€π΅π°π³ π°π§ ππ΅'ππ ππ¦π·π¦π³ ππ°π³π¬ dan ππͺπ³π¦π€π΅π°π³ π°π§ ππ³πͺπ¦π₯ ππ΅ ππ¦π§π°π³π¦. Apa hasilnya? Sebuah bangsa yang terkunci rapat di masa lalu, kehilangan momentum emas, dan kehabisan energi hanya untuk melawan kelembaman dirinya sendiri.
Kita harus segera menyadari, organigram itu bukan sekadar lelucon manajemen, ia adalah ancaman nyata terhadap kemajuan sebuah bangsa. Ketika pemimpin nasional mengadopsi mentalitas ππ©πͺπ¦π§ ππ΅π’π΅πΆπ΄ ππΆπ°, mereka menciptakan sebuah birokrasi yang didesain untuk gagal. Mereka menyamarkan ketakutan akan perubahan sebagai kehati-hatian, dan menutupi ketiadaan visi sebagai stabilitas. Padahal, bagi negara yang sedang berkembang, stabilitas yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bertransformasi.
Inilah mengapa peran pemimpin π·πͺπ΄πͺπ°π―π¦π³ menjadi krusial. Visi adalah peta jalan kolektif, sebuah destinasi yang disepakati bersama. Visi yang kuat secara otomatis mendepak mentalitas ππͺπ³π¦π€π΅π°π³ π°π§ ππ΅'ππ ππ¦π·π¦π³ ππ°π³π¬, karena kini setiap langkah memiliki tujuan jelas: mencapai janji masa depan yang diidamkan. Visi yang jelas mengubah "inisiatif" menjadi "pergerakan nasional."
Namun, visi harus ditopang oleh πͺπ―π΅π¦π¨π³πͺπ΅π’π΄. Integritas membangun kepercayaan nasional, mata uang sosial paling berharga. Ketika rakyat percaya pada pemimpin, mereka rela berkorban dan mendukung kebijakan sulit sekalipun. Sebaliknya, ketiadaan integritas hanya melahirkan banyak ππ’π―π’π¨π¦π³ π°π§ π ππͺπ·π¦ ππ± yang apatis, tak bertanggung jawab, dan putus urat malu korupsinya.
Indonesia bangsa yang besar. Bayangkan, jika para pemimpinnya hanya ππ¦πΊπ¦π©-ππ¦πΊπ¦π©. Nggak kompeten, nggak tegas, dan nggak berintegritas. Kita punya segalanya: sumber daya alam yang masih melimpah, bonus demografi, potensi ekonomi yang luar biasa. Tapi jika di pucuk pimpinan hanya ada ππ©πͺπ¦π§ ππ΅π’π΅πΆπ΄ ππΆπ° dan bala tentaranya, semua potensi itu akan menguap. Proyek-proyek strategis mandek, korupsi merajalela, dan energi membangun habis melawan inersia.
Untuk menanggulangi mentalitas inersia ini, kita butuh elemen ketiga: π¬π¦π΅π¦π¨π’π΄π’π―. Pemimpin yang tegas mampu mengurai "benang kusut" birokrasi dan berani membuat keputusan yang benar, meski tidak populer. Ketegasan adalah daya dorong untuk memberdayakan bahan bakar karakter kepribadian mayoritas masyarakat bangsa kita yang cenderung ekstrovert.
Sifat ekstrovert masyarakat Indonesia memiliki dua mata pisau: sifat ekstrovert adalah bahan bakar pembangunan karena memicu semangat kolaborasi, namun juga memicu kelemahan dalam fokus jangka panjang dan memudahkan masyarakat mensiasati aturan demi menjaga harmoni sesaat. Ketegasan pemimpin menjadi pagar untuk memastikan keramahan kita tidak luntur menjadi kompromi pada kualitas dan akuntabilitas.
Inilah Momennya. Setiap detik adalah πΈπͺπ―π₯π°πΈ π°π§ π°π±π±π°π³π΅πΆπ―πͺπ΅πΊ. Kita berada pada momentum sejarah di mana aset demografi mumpuni, sumber daya alam masih melimpah, dan potensi ekonomi yang siap melenting.
Momentum kemajuan tidak menunggu ππ π°π§ ππ’πͺπ΅ π’π―π₯ ππ¦π¦, ia menuntut kecepatan dan keberanian. Kunci untuk melompat dari jebakan ππ©πͺπ¦π§ ππ΅π’π΅πΆπ΄ ππΆπ° adalah kepemimpinan nasional yang memegang teguh tiga pilar: visi sebagai kompas, integritas sebagai perekat kepercayaan, dan ketegasan sebagai pedang yang membelah kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa.
Dengan kepemimpinan yang utuh ini, seluruh potensi dan semangat gotong royong bangsa kita akan bergerak serentak, mengubah Indonesia dari hanya sekadar bangsa yang besar menjadi bangsa yang maju, sejahtera dan berkeadilan. Aamiin.
#INISIATIF
π1
Oleh: Iwan Kusworo
Pagi tadi saya nonton video menarik di Youtube tentang "the hidden costs of excessive frugality" alias biaya tersembunyi dari cara hidup yang terlalu irit, yang disampaikan oleh Ken Honda, penulis buku "Happy Money."
Menabung kita tahu memang adalah sebuah kebaikan. Tapi ketika frugality (penghematan) digerakkan oleh fear (rasa takut), hidup justru menjadi terasa lebih sempit dan dipenuhi kecemasan. Ken Honda membedakan frugality yang lahir dari wisdom yang penuh ketenangan dan keterbukaan, dengan yang lahir dari rasa takut yang justru cenderung membuat seseorang defensif dan terlalu membatasi banyak hal.
Dampaknya terasa di beberapa aspek kehidupan.
Secara emosional, kebiasaan menahan pengeluaran membuat sense of possibility kita menyusut. Dalam hubungan dengan orang lain (pasangan, keluarga, teman), frugality bisa berubah menjadi bentuk kontrol, sehingga menjadikan itu hubungan yang dibentuk oleh kecemasan, bukan kemurahan hati. Dari sisi opportunity (kesempatan), terlalu irit sering berarti menolak untuk invest in oneself (berinvestasi pada diri sendiri). Padahal kita tahu bahwa buku, kursus, atau memiliki mentor/coach adalah "investasi kecil" yang bisa memperbesar kemungkinan akan masa depan kita yang lebih baik.
Dalam konsep Happy Money, uang seharusnya flow (mengalir), bukan menyusut karena rasa takut. Frugality yang sehat datang dari kejelasan tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup kita, bukan dari ketakutan bahwa uang tidak akan pernah cukup.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan apakah sebuah keputusan membuat kita lebih kaya atau lebih miskin, tetapi apakah ia membuat dunia kita membesar atau mengecil. Jika kita yakin sebuah pengeluaran akan menghasilkan kebahagiaan, growth (pertumbuhan), atau membentuk hubungan yang lebih baik dengan orang lain, maka itu adalah investasi hidup, bukan sekedar pengeluaran.
Wah, jadi pengen baca bukunya nih... Happy Money (Ken Honda).
https://youtu.be/NGX7FHem0mQ?si=VbyrZdJBdd73VWPe
#INISIATIF #TGIF
Pagi tadi saya nonton video menarik di Youtube tentang "the hidden costs of excessive frugality" alias biaya tersembunyi dari cara hidup yang terlalu irit, yang disampaikan oleh Ken Honda, penulis buku "Happy Money."
Menabung kita tahu memang adalah sebuah kebaikan. Tapi ketika frugality (penghematan) digerakkan oleh fear (rasa takut), hidup justru menjadi terasa lebih sempit dan dipenuhi kecemasan. Ken Honda membedakan frugality yang lahir dari wisdom yang penuh ketenangan dan keterbukaan, dengan yang lahir dari rasa takut yang justru cenderung membuat seseorang defensif dan terlalu membatasi banyak hal.
Dampaknya terasa di beberapa aspek kehidupan.
Secara emosional, kebiasaan menahan pengeluaran membuat sense of possibility kita menyusut. Dalam hubungan dengan orang lain (pasangan, keluarga, teman), frugality bisa berubah menjadi bentuk kontrol, sehingga menjadikan itu hubungan yang dibentuk oleh kecemasan, bukan kemurahan hati. Dari sisi opportunity (kesempatan), terlalu irit sering berarti menolak untuk invest in oneself (berinvestasi pada diri sendiri). Padahal kita tahu bahwa buku, kursus, atau memiliki mentor/coach adalah "investasi kecil" yang bisa memperbesar kemungkinan akan masa depan kita yang lebih baik.
Dalam konsep Happy Money, uang seharusnya flow (mengalir), bukan menyusut karena rasa takut. Frugality yang sehat datang dari kejelasan tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup kita, bukan dari ketakutan bahwa uang tidak akan pernah cukup.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan apakah sebuah keputusan membuat kita lebih kaya atau lebih miskin, tetapi apakah ia membuat dunia kita membesar atau mengecil. Jika kita yakin sebuah pengeluaran akan menghasilkan kebahagiaan, growth (pertumbuhan), atau membentuk hubungan yang lebih baik dengan orang lain, maka itu adalah investasi hidup, bukan sekedar pengeluaran.
Wah, jadi pengen baca bukunya nih... Happy Money (Ken Honda).
https://youtu.be/NGX7FHem0mQ?si=VbyrZdJBdd73VWPe
Btw, cuma mau mengingatkan sob kalau ramadan, apalagi lebaran itu masih lama. Jangan lupa tetap dimanage arus kas-nyaπ€
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
The Hidden Cost of Being Frugal
β¨ Ready to dissolve your money blocks and manifest an overflow of abundance in 2026?
Join me and 15+ industry leaders for FREE now β β https://arigato.kenhonda.com/manifesting-true-abundance-summit-2026
--
β Instagram: https://www.instagram.com/happykenhondaβ¦
Join me and 15+ industry leaders for FREE now β β https://arigato.kenhonda.com/manifesting-true-abundance-summit-2026
--
β Instagram: https://www.instagram.com/happykenhondaβ¦
Kamu pernah ngalamin ini?
βDokumennya ada kokβ¦ tapi kayaknya di folder yang lain simpannyaβ¦β dan mulai panikπ΅βπ«
Di balik kerja yang lancar, ada arsip yang tertata. Di balik keputusan yang kuat, ada dokumen yang terdokumentasiπ²π¨
Jangan lupa mention rekan satu tim mu yang paling konsisten soal arsip di kolom komentarπ
https://www.instagram.com/p/DUqIKH7Ce5s/?igsh=ajc2MTg0cGQ2Njk3
βDokumennya ada kokβ¦ tapi kayaknya di folder yang lain simpannyaβ¦β dan mulai panik
Di balik kerja yang lancar, ada arsip yang tertata. Di balik keputusan yang kuat, ada dokumen yang terdokumentasi
Jangan lupa mention rekan satu tim mu yang paling konsisten soal arsip di kolom komentar
https://www.instagram.com/p/DUqIKH7Ce5s/?igsh=ajc2MTg0cGQ2Njk3
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM