The Best Contact Center (TBCC) BPJS Kesehatan adalah panggung
untuk mereka yang berani tampil, belajar, dan berinovasi untuk memperkuat kualitas layanan
Menuju Grand Final & Awarding Day
Kamu jagoin siapa untuk jadi juara? beri dukunganmu di sini
https://www.instagram.com/p/DUCgF3qCaJ8/?igsh=ZXJkdWYxOTgzMng0
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤🔥2
Oleh: Dedi Priadi
Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa engkau beli atau minta. Ia adalah organisme hidup yang tumbuh perlahan. Semuanya bermula dari kegelapan tanah yang kita sebut 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘨𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴.
Integritas adalah akar yang tak terlihat. Ia adalah kesetiaanmu pada kebenaran saat tak ada satu pun mata yang memandang. Tanpa akar yang jujur, setinggi apa pun pohonmu, ia akan roboh oleh angin kecil.
Jadilah pribadi terpercaya. Biarlah pikiran, ucapan, dan tindakanmu mengalir dari satu sumber yang sama. Keselarasan inilah yang membuat jiwamu tenang dan langkahmu tidak pernah ragu.
Naik ke atas tanah, muncullah batang yang bernama 𝘯𝘪𝘢𝘵. Orang mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, namun getaran niatmu akan sampai ke hati mereka. Apakah engkau hadir untuk melayani atau untuk menguasai?
Niat yang tulus itu bening, tidak meninggalkan bayangan kecurigaan. Saat engkau tulus, orang lain tidak perlu memasang perisai di hadapanmu. Mereka akan merasa aman karena tahu engkau menginginkan kebaikan bagi semua.
Namun, ketulusan saja tidaklah cukup di dunia ini. Pohonmu butuh dahan untuk merengkuh langit. Inilah 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯. Engkau harus membekali dirimu dengan ilmu dan kecakapan agar niat baikmu bisa mewujud.
Seorang dokter yang baik hati tetaplah butuh memperbarui ilmu kedokterannya untuk menyembuhkan. Maka, asahlah bakatmu sebagai bentuk syukurmu pada Sang Pencipta. Kompetensi adalah cara kita memuliakan orang yang mempercayai kita.
Dari dahan-dahan yang kokoh itu, niscaya akan lahir 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭. Inilah buah yang manis, pembuktian nyata dari sebuah perjalanan panjang. Dunia tidak butuh ribuan kata, dunia hanya butuh bukti dari pengabdianmu.
Hasil yang nyata akan menebarkan aroma harum yang kita sebut reputasi. Engkau tidak perlu berteriak tentang siapa dirimu, karena buah yang engkau berikan akan bercerita dengan sendirinya kepada semesta.
Ingatlah selalu, semua ini tumbuh dari 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳. Jangan sibuk menghias dedaunan jika akarmu membusuk. Benahi hatimu terlebih dahulu, maka dunia di sekitarmu akan ikut tertata dengan indahnya.
Jika kepercayaan telah tegak, hidupmu akan mengalir tanpa sekat. Segalanya menjadi ringan, cepat, dan penuh berkah. Rawatlah akarmu setiap hari, agar pohonmu menjadi tempat berteduh bagi banyak jiwa.❤️😊🫶
#INISIATIF
Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa engkau beli atau minta. Ia adalah organisme hidup yang tumbuh perlahan. Semuanya bermula dari kegelapan tanah yang kita sebut 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘨𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴.
Integritas adalah akar yang tak terlihat. Ia adalah kesetiaanmu pada kebenaran saat tak ada satu pun mata yang memandang. Tanpa akar yang jujur, setinggi apa pun pohonmu, ia akan roboh oleh angin kecil.
Jadilah pribadi terpercaya. Biarlah pikiran, ucapan, dan tindakanmu mengalir dari satu sumber yang sama. Keselarasan inilah yang membuat jiwamu tenang dan langkahmu tidak pernah ragu.
Naik ke atas tanah, muncullah batang yang bernama 𝘯𝘪𝘢𝘵. Orang mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, namun getaran niatmu akan sampai ke hati mereka. Apakah engkau hadir untuk melayani atau untuk menguasai?
Niat yang tulus itu bening, tidak meninggalkan bayangan kecurigaan. Saat engkau tulus, orang lain tidak perlu memasang perisai di hadapanmu. Mereka akan merasa aman karena tahu engkau menginginkan kebaikan bagi semua.
Namun, ketulusan saja tidaklah cukup di dunia ini. Pohonmu butuh dahan untuk merengkuh langit. Inilah 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯. Engkau harus membekali dirimu dengan ilmu dan kecakapan agar niat baikmu bisa mewujud.
Seorang dokter yang baik hati tetaplah butuh memperbarui ilmu kedokterannya untuk menyembuhkan. Maka, asahlah bakatmu sebagai bentuk syukurmu pada Sang Pencipta. Kompetensi adalah cara kita memuliakan orang yang mempercayai kita.
Dari dahan-dahan yang kokoh itu, niscaya akan lahir 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭. Inilah buah yang manis, pembuktian nyata dari sebuah perjalanan panjang. Dunia tidak butuh ribuan kata, dunia hanya butuh bukti dari pengabdianmu.
Hasil yang nyata akan menebarkan aroma harum yang kita sebut reputasi. Engkau tidak perlu berteriak tentang siapa dirimu, karena buah yang engkau berikan akan bercerita dengan sendirinya kepada semesta.
Ingatlah selalu, semua ini tumbuh dari 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳. Jangan sibuk menghias dedaunan jika akarmu membusuk. Benahi hatimu terlebih dahulu, maka dunia di sekitarmu akan ikut tertata dengan indahnya.
Jika kepercayaan telah tegak, hidupmu akan mengalir tanpa sekat. Segalanya menjadi ringan, cepat, dan penuh berkah. Rawatlah akarmu setiap hari, agar pohonmu menjadi tempat berteduh bagi banyak jiwa.❤️😊🫶
#INISIATIF
❤3
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Hidup itu soal membuat keputusan, menjalaninya, dan menghadapi risikonya.
Ada perempuan muda yang berpisah dengan suaminya. Ia harus membesarkan anak sebagai orang tua tunggal. Ia sedang mencari kerja. Hidup dalam beberapa bulan atau beberapa tahun nanti tidak akan mudah bagi dia.
Dia menjalin hubungan dengan seseorang, yang menunjukkan perhatian tidak hanya pada dia, tapi juga pada anaknya. Dia berharap orang ini akan menjadi pendamping dia kelak. Tapi dia risau. Ada gejala bahwa orang ini mungkin akan bermain-main, lalu ujungnya nanti rumah tangga akan gagal lagi.
"Saya harus bagaimana, Pak?" tanyanya pada saya.
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ada beberapa keadaan yang bisa kita ramalkan dari keadaan sekarang. Tapi sebagian besar masa depan tidak bisa diramalkan dari keadaan sekarang, karena banyak hal tidak linier rumusan polanya.
Jadi bagaimana? Yang harus kita lakukan, yang harus setiap orang lakukan adalah memilih, memutuskan, lalu menjalaninya. Setelah dijalani mungkin kita rasa keputusan kita salah. Mungkin pula kita merasa keputusan itu benar. Semua serba mungkin.
Bagaimana kalau salah? Buatlah keputusan lain untuk mengoreksinya. Atau biasakan diri untuk berkompromi dengan keadaan baru hasil keputusan tadi.
Hidup itu tidak sempurna. Tidak mungkin sempurna. Sempurna itu hanyalah ilusi. Apa sih sempurna? Keadaan yang kita sukai, sesuai selera kita dalam semua aspek. Hal yang begitu tidak ada. Bahkan selera kita pun berubah. Hari ini kita suka, besok tidak. Bagaimana mungkin ada yang sempurna?
Salah satu cara untuk bertahan hidup adalah berkompromi terhadap hal-hal yang tidak kita sukai. Terimalah kenyataan bahwa alam semesta ini tidak mengabdi pada Anda.
#INISIATIF #TGIF
Hidup itu soal membuat keputusan, menjalaninya, dan menghadapi risikonya.
Ada perempuan muda yang berpisah dengan suaminya. Ia harus membesarkan anak sebagai orang tua tunggal. Ia sedang mencari kerja. Hidup dalam beberapa bulan atau beberapa tahun nanti tidak akan mudah bagi dia.
Dia menjalin hubungan dengan seseorang, yang menunjukkan perhatian tidak hanya pada dia, tapi juga pada anaknya. Dia berharap orang ini akan menjadi pendamping dia kelak. Tapi dia risau. Ada gejala bahwa orang ini mungkin akan bermain-main, lalu ujungnya nanti rumah tangga akan gagal lagi.
"Saya harus bagaimana, Pak?" tanyanya pada saya.
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ada beberapa keadaan yang bisa kita ramalkan dari keadaan sekarang. Tapi sebagian besar masa depan tidak bisa diramalkan dari keadaan sekarang, karena banyak hal tidak linier rumusan polanya.
Jadi bagaimana? Yang harus kita lakukan, yang harus setiap orang lakukan adalah memilih, memutuskan, lalu menjalaninya. Setelah dijalani mungkin kita rasa keputusan kita salah. Mungkin pula kita merasa keputusan itu benar. Semua serba mungkin.
Bagaimana kalau salah? Buatlah keputusan lain untuk mengoreksinya. Atau biasakan diri untuk berkompromi dengan keadaan baru hasil keputusan tadi.
Hidup itu tidak sempurna. Tidak mungkin sempurna. Sempurna itu hanyalah ilusi. Apa sih sempurna? Keadaan yang kita sukai, sesuai selera kita dalam semua aspek. Hal yang begitu tidak ada. Bahkan selera kita pun berubah. Hari ini kita suka, besok tidak. Bagaimana mungkin ada yang sempurna?
Salah satu cara untuk bertahan hidup adalah berkompromi terhadap hal-hal yang tidak kita sukai. Terimalah kenyataan bahwa alam semesta ini tidak mengabdi pada Anda.
#INISIATIF #TGIF
❤1
Menjadi Staf Promotif Preventif ngajarin kami satu hal bahwa kesehatan itu bukan cuma soal mengobati, tapi soal mencegah sejak dini 🇲🇨
Beri dukunganmu kepada rekan-rekan staf Promprev🙌
https://www.instagram.com/p/DUIQaCeCQUA/?igsh=MzE1aHQ4ODVsNml6
Beri dukunganmu kepada rekan-rekan staf Promprev
https://www.instagram.com/p/DUIQaCeCQUA/?igsh=MzE1aHQ4ODVsNml6
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤4🔥2👍1
BERUNTUNG 😎
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Kita sering salah lihat. Salah melihat kesuksesan orang. Dia sukses karena beruntung. Dia beruntung. Saya tidak. Dia sukses, wajar saja karena dia orang beruntung. Saya tidak sukses, wajar saja, karena saya bukan orang beruntung. Ini takdir.
Masa sih? Iya, benar. Dia itu selalu beruntung. Selalu ada saja kesempatan dia untuk sukses, lebih maju lagi. Saya ini sangat jarang dapat kesempatan bagus.
Kenapa Tuhan begitu pilih kasih?
Ah, ini bukan soal Tuhan yang pilih kasih. Ini soal salah lihat.
Sebenarnya kita mendapat banyak kesempatan. Kesempatan kita untuk sukses selalu datang seperti oksigen mendatangi hidung kita, atau seperti titik-titik air hujan menerpa tubuh kota. Soalnya tinggal, apakah kita menghela napas menghirup oksigen atau tidak. Apakah kita membuka mulut untuk minum air atau tidak.
Tapi kenapa ada orang-orang tertentu yang selalu dapat kesempatan bagus, yang kemudian mengantarkan mereka ke jenjang sukses berkali-kali, sedangkan orang lain tidak? Begini. Ini sekali lagi soal salah lihat.
Orang yang kita sangka beruntung itu mendapat peluang atau kesempatan. Ia siap menerima peluang itu. Ia mempersiapkan diri, ia mengolah kesempatan itu. Persiapannya sungguh panjang sehingga kita bahkan tidak bisa mendeteksi bahwa ia sudah melakukan persiapan. Kita hanya sekedar melihat ia, sama seperti kita. Padahal berbeda.
Pemenang bahkan mencari kesempatan itu, menciptakan kesempatan. Peluang yang sebenarnya tidak begitu besar ia olah menjadi peluang dan kesempatan besar. Yang agak mustahil ia ubah menjadi kenyataan. Maka setiap peluang meninggalkan jejak dalam sejarah hidupnya, karena peluang itu menjadi faktor sukses dia.
Adapun para pecundang, mereka tidak siap mengolah kesempatan. Ada kesempatan datang, ia biarkan berlalu, karena tak sanggup mengolahnya. Bahkan sering kali ia tak sadar bahwa ia berhadapan dengan kesempatan bagus. Maka kesempatan itu lewat begitu saja. Kesempatan itu tidak meninggalkan jejak apapun dalam hidupnya. Kita melihat seakan ia tak pernah mendapat kesempatan. Ia pun merasa tak pernah mendapat kesempatan. Padahal kesempatan itu selalu datang.
Sejak kecil saya bermimpi untuk bisa sekolah ke luar negeri. Sejak SMP saya sadar bahwa saya harus fasih berbahasa Inggris untuk mewujudkan mimpi saya. Orang tua saya tidak punya uang untuk membiayai kursus bahasa Inggris. Tapi saya selalu mencari jalan agar bisa belajar. Akhirnya ada guru saya yang mau membiayai kursus itu sampai saya mahir.
Saat mulai bekerja sebagai dosen, saya selalu mencari informasi beasiswa. Saya sudah siap dengan proposal riset. Ketika ada kesempatan melamar, saya langsung masukkan. Saya ingat, pada kesempatan pertama wawancara beasiswa, saya berangkat berdua dengan rekan sekampus. Dia diwawancarai terlebih dahulu. Tak sampai 5 menit dia sudah keluar, karena bahasa Inggrisnya tak lancar. Saya masuk setelah dia, diwawancara hampir 1 jam. Saya lulus, dia tidak.
Kami mendapat kesempatan wawancara. Saya siap, dia tidak. Saya lulus, dia tidak. Saya mengenang kesempatan itu sebagai kesempatan berharga. Dia mungkin sudah lupa bahwa dia pernah ikut wawancara, karena wawancara itu tidak meninggalkan bekas bagi sejarah hidupnya.
Luck = Preparation + Opportunity!
#INISIATIF
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Kita sering salah lihat. Salah melihat kesuksesan orang. Dia sukses karena beruntung. Dia beruntung. Saya tidak. Dia sukses, wajar saja karena dia orang beruntung. Saya tidak sukses, wajar saja, karena saya bukan orang beruntung. Ini takdir.
Masa sih? Iya, benar. Dia itu selalu beruntung. Selalu ada saja kesempatan dia untuk sukses, lebih maju lagi. Saya ini sangat jarang dapat kesempatan bagus.
Kenapa Tuhan begitu pilih kasih?
Ah, ini bukan soal Tuhan yang pilih kasih. Ini soal salah lihat.
Sebenarnya kita mendapat banyak kesempatan. Kesempatan kita untuk sukses selalu datang seperti oksigen mendatangi hidung kita, atau seperti titik-titik air hujan menerpa tubuh kota. Soalnya tinggal, apakah kita menghela napas menghirup oksigen atau tidak. Apakah kita membuka mulut untuk minum air atau tidak.
Tapi kenapa ada orang-orang tertentu yang selalu dapat kesempatan bagus, yang kemudian mengantarkan mereka ke jenjang sukses berkali-kali, sedangkan orang lain tidak? Begini. Ini sekali lagi soal salah lihat.
Orang yang kita sangka beruntung itu mendapat peluang atau kesempatan. Ia siap menerima peluang itu. Ia mempersiapkan diri, ia mengolah kesempatan itu. Persiapannya sungguh panjang sehingga kita bahkan tidak bisa mendeteksi bahwa ia sudah melakukan persiapan. Kita hanya sekedar melihat ia, sama seperti kita. Padahal berbeda.
Pemenang bahkan mencari kesempatan itu, menciptakan kesempatan. Peluang yang sebenarnya tidak begitu besar ia olah menjadi peluang dan kesempatan besar. Yang agak mustahil ia ubah menjadi kenyataan. Maka setiap peluang meninggalkan jejak dalam sejarah hidupnya, karena peluang itu menjadi faktor sukses dia.
Adapun para pecundang, mereka tidak siap mengolah kesempatan. Ada kesempatan datang, ia biarkan berlalu, karena tak sanggup mengolahnya. Bahkan sering kali ia tak sadar bahwa ia berhadapan dengan kesempatan bagus. Maka kesempatan itu lewat begitu saja. Kesempatan itu tidak meninggalkan jejak apapun dalam hidupnya. Kita melihat seakan ia tak pernah mendapat kesempatan. Ia pun merasa tak pernah mendapat kesempatan. Padahal kesempatan itu selalu datang.
Sejak kecil saya bermimpi untuk bisa sekolah ke luar negeri. Sejak SMP saya sadar bahwa saya harus fasih berbahasa Inggris untuk mewujudkan mimpi saya. Orang tua saya tidak punya uang untuk membiayai kursus bahasa Inggris. Tapi saya selalu mencari jalan agar bisa belajar. Akhirnya ada guru saya yang mau membiayai kursus itu sampai saya mahir.
Saat mulai bekerja sebagai dosen, saya selalu mencari informasi beasiswa. Saya sudah siap dengan proposal riset. Ketika ada kesempatan melamar, saya langsung masukkan. Saya ingat, pada kesempatan pertama wawancara beasiswa, saya berangkat berdua dengan rekan sekampus. Dia diwawancarai terlebih dahulu. Tak sampai 5 menit dia sudah keluar, karena bahasa Inggrisnya tak lancar. Saya masuk setelah dia, diwawancara hampir 1 jam. Saya lulus, dia tidak.
Kami mendapat kesempatan wawancara. Saya siap, dia tidak. Saya lulus, dia tidak. Saya mengenang kesempatan itu sebagai kesempatan berharga. Dia mungkin sudah lupa bahwa dia pernah ikut wawancara, karena wawancara itu tidak meninggalkan bekas bagi sejarah hidupnya.
Luck = Preparation + Opportunity!
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1
Punya banyak ide tapi bingung mulai dari mana? Atau sering ngerasa idenya mentok di kepala tapi susah dituangkan jadi cerita utuh? Tenang, kamu nggak sendirian, proses kreatif memang sering penuh kebingungan di awal.
Di kelas ini, kita bakal ngobrol santai bareng Kk @uraydwi salah satu tim penulis Film Ipar adalah Maut the Series tentang cara menemukan dan mengembangkan ide cerita, menyusun plot yang kuat, hingga membuat draft skenario yang rapi, praktis, dan aplikatif untuk novel maupun film
Join ATE Edisi 419
🗓 Selasa, 3 Februari 2026
⏰ 18.45 WIB – selesai
📍 Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
🎁 Ilmu + 2 JP + Doorprize
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2
CV Uray Dwiyanti Siska Nurhayati.pdf
1.3 MB
Perkenalan singkat narsum 🏆
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2😍1
Oleh: Dedi Priadi
Coba tatap ilustrasi itu dengan rasa. Ada samudera merah yang begitu luas berisi ribuan masukan positif dan apresiasi, namun mengapa batinmu justru terpasung pada satu titik biru mungil yang berisi kritik atau cemoohan?
Masukan negatif itu ibarat setetes tinta di dalam segelas air bening. Ia tak sanggup mengubah volume kebaikanmu, namun ia mampu mengubah seluruh warna harimu jika kau biarkan hatimu terus-menerus mengaduknya tanpa henti.
Bayangkan dirimu adalah pemilik kebun mawar yang sangat luas. Ribuan bunga mekar indah mewakili dukungan tulus dari orang-orang sekitarmu, namun di sudut pagar ada sebatang benalu kecil berupa satu komentar pedas yang menyakitkan.
Jika kau menghabiskan seluruh harimu hanya dengan meratapi benalu itu tanpa menyirami mawar-mawarmu, maka perlahan keindahan jiwamu akan layu. Jangan biarkan satu kata negatif mencuri kebahagiaan yang dibangun dari ribuan doa dan dukungan.
Secara naluriah, ego kita memang lebih "haus" pada ancaman atau kritik demi melindungi harga diri. Namun, saat kau memberikan seluruh perhatianmu pada titik biru itu, kau sedang membiarkan satu masukan negatif mencekik akar kedamaianmu.
Untuk menghadapinya, gunakan teknik "Jeda Kesadaran". Saat kritikan tajam menyerang, berhentilah sejenak, tarik nafas dalam, dan katakan: "𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢." Berikan jarak antara dirimu dan kata-kata mereka.
Tenangkan batinmu dengan berdzikir memanggil nama-Nya, 𝘠𝘢 𝘔𝘶𝘥𝘢𝘣𝘣𝘪𝘳, wahai Dzat Yang Maha Mengatur segala urusan manusia. Serahkan penilaian orang lain kepada-Nya, karena hanya Dia yang benar-benar tahu niat dan tulusnya perjuanganmu.
Biarkan masukan negatif itu menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri tanpa perlu merusak harga dirimu. Saat kau melepaskan kendali atas pendapat orang lain, kau sedang membiarkan Tuhan menata kedamaianmu.
Janganlah terlalu keras menghukum diri hanya karena satu penilaian buruk dari manusia, padahal Tuhan saja selalu memandangmu dengan kasih sayang. Mengapa kau memilih mengurung diri dalam rasa malu, bukannya melangkah maju dengan hati yang tenang?
Jadilah pribadi yang tenang dan penuh penerimaan. Saat kau mampu mensyukuri masukan positif sekaligus memilah masukan negatif dengan bijak tanpa rasa dendam, maka tak ada lagi "titik biru" yang mampu melukai cahaya jiwamu.
#INISIATIF
Coba tatap ilustrasi itu dengan rasa. Ada samudera merah yang begitu luas berisi ribuan masukan positif dan apresiasi, namun mengapa batinmu justru terpasung pada satu titik biru mungil yang berisi kritik atau cemoohan?
Masukan negatif itu ibarat setetes tinta di dalam segelas air bening. Ia tak sanggup mengubah volume kebaikanmu, namun ia mampu mengubah seluruh warna harimu jika kau biarkan hatimu terus-menerus mengaduknya tanpa henti.
Bayangkan dirimu adalah pemilik kebun mawar yang sangat luas. Ribuan bunga mekar indah mewakili dukungan tulus dari orang-orang sekitarmu, namun di sudut pagar ada sebatang benalu kecil berupa satu komentar pedas yang menyakitkan.
Jika kau menghabiskan seluruh harimu hanya dengan meratapi benalu itu tanpa menyirami mawar-mawarmu, maka perlahan keindahan jiwamu akan layu. Jangan biarkan satu kata negatif mencuri kebahagiaan yang dibangun dari ribuan doa dan dukungan.
Secara naluriah, ego kita memang lebih "haus" pada ancaman atau kritik demi melindungi harga diri. Namun, saat kau memberikan seluruh perhatianmu pada titik biru itu, kau sedang membiarkan satu masukan negatif mencekik akar kedamaianmu.
Untuk menghadapinya, gunakan teknik "Jeda Kesadaran". Saat kritikan tajam menyerang, berhentilah sejenak, tarik nafas dalam, dan katakan: "𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢." Berikan jarak antara dirimu dan kata-kata mereka.
Tenangkan batinmu dengan berdzikir memanggil nama-Nya, 𝘠𝘢 𝘔𝘶𝘥𝘢𝘣𝘣𝘪𝘳, wahai Dzat Yang Maha Mengatur segala urusan manusia. Serahkan penilaian orang lain kepada-Nya, karena hanya Dia yang benar-benar tahu niat dan tulusnya perjuanganmu.
Biarkan masukan negatif itu menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri tanpa perlu merusak harga dirimu. Saat kau melepaskan kendali atas pendapat orang lain, kau sedang membiarkan Tuhan menata kedamaianmu.
Janganlah terlalu keras menghukum diri hanya karena satu penilaian buruk dari manusia, padahal Tuhan saja selalu memandangmu dengan kasih sayang. Mengapa kau memilih mengurung diri dalam rasa malu, bukannya melangkah maju dengan hati yang tenang?
Jadilah pribadi yang tenang dan penuh penerimaan. Saat kau mampu mensyukuri masukan positif sekaligus memilah masukan negatif dengan bijak tanpa rasa dendam, maka tak ada lagi "titik biru" yang mampu melukai cahaya jiwamu.
#INISIATIF
❤2🙏1
Siap-siap adu cepat dan adu tepat di Kuis Trivia COMMIT ATE
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
Stay tuned, pastikan kamu sudah standby sebelum jam mulai. See you on the leaderboard
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM