TERAPI MENCEGAH PENYAKIT MALAS ✊
Oleh: Budiman Hakim
"Saya dulu orang IT. Kalo mau belajar AI, saya pasti bisa, tapi buat apa?"
Kalimat di atas kedengarannya jujur, padahal bisa jadi itu cuma pembenaran untuk berhenti mengejar zaman. Yang ngomong gitu, sebenernya masih aktif dan produktif. Namun setiap kali berhadapan dengan hal baru, ia berhenti lalu memilih mundur. Bukan karena gak mampu, tapi karena merasa udah gak perlu.
Di situlah ciri-ciri umum penyakit malas mulai bekerja. Ia tidak membuat seseorang berhenti bergerak, tetapi membuat dia berhenti bertumbuh. Penyakit ini, biasanya, mulai terasa pada mereka yang udah terjebak di zona nyaman.
Secara biologis, otak adalah organ paling boros energi di tubuh manusia. Walaupun beratnya cuma sekitar 2% dari berat badan, otak bisa menghabiskan 20–25% total energi tubuh. Dan yang menarik, porsi ini relatif konstan, gak peduli kita lagi mikir berat atau cuma bengong doang.
Penyakit malas adalah strategi otak untuk menghemat energi. Otak selalu memilih yang aman dan nyaman, misalnya melakukan sesuatu yang kita udah bisa. Hal2 baru menuntut usaha dengan risiko gagal. Otak merasa gak nyaman dan langsung berusaha menghindarinya.
Yang bikin resek, setiap kali kita menghindari ketidaknyamanan itu, otak mencatatnya sebagai kemenangan. Lama-kelamaan, jalur dopamin hanya aktif saat kita mengulang hal yang sama, bukan saat belajar sesuatu yang baru. Bahaya tuh...
Bagaimana Cara Kita Mencegahnya
Terapi pertama untuk mencegah penyakit ini adalah memperkenalkan ketidaknyamanan kecil secara sengaja. Tindakan sederhana yang memaksa otak keluar dari ketidaknyamanan itu. Belajar hal baru mungkin gak nyaman tapi memberi sinyal ke otak bahwa kita masih perlu bekerja dan beradaptasi.
Terapi berikutnya. Banyak orang berhenti belajar karena takut terlihat bodoh. Padahal rasa bodoh adalah tanda otak sedang membangun jalur baru. Bertanya, mendengarkan dan menerima bahwa kita belum tahu memaksa neuroplastisitas bekerja. Otak tidak menua karena usia, tapi karena terlalu lama dibiarkan tidak bekerja
Terapi selanjutnya adalah mengubah sumber kepuasan. Terlalu banyak mengonsumsi konten2 receh membuat otak mendapatkan kepuasan palsu. Coba alihkan sebagian waktu dari konsumsi ke produksi. Mungkin sedikit capek tapi puas. Di situ fungsi alami dopamin bekerja sebagaimana mestinya.
Apa aja yang bisa dilakukan? Banyak! Menulis, belajar, mencoba, dan menyelesaikan sesuatu meskipun lambat, mengajarkan otak bahwa kepuasan sejati datang dari proses, bukan dari pelarian.
Terapi berikutnya. Umumkan pada semua teman. Otak manusia bergerak lebih efektif ketika merasa diawasi. Mengumumkan niat, berbagi progres, atau menaruh tanggung jawab kecil di hadapan orang lain menciptakan dorongan eksekusi. Dengan cara ini, otak tidak punya banyak ruang untuk bernegosiasi dengan kemalasan.
Terapi terakhir adalah terapi identitas. Penyakit malas sering menang ketika kita mulai meyakini bahwa belajar adalah fase hidup yang sudah lewat. Memproklamirkan diri bahwa kita adalah seorang murid yang selalu siap untuk belajar, membuat otak tetap hidup.
Penyakit malas tidak menyerang dengan keras. Ia membuat kita merasa aman, padahal sebenarnya sedang disingkirkan. Yang membuat manusia bertumbuh bukanlah yang paling pintar atau paling muda, tapi mereka yang berani merasa gak nyaman dan gak gengsi untuk mulai belajar dari awal.
Sama kayak jaman SD dulu. Waktu kelas 5, kita juara kelas... wah pasti bangga, dong! Nah, saat kita naik kelas 6, wajarlah kalo kita merasa bodoh, karena pelajaran yang kita terima adalah materi baru. Artinya ketika kita merasa bodoh lagi. itu tanda kita masuk ke level kepintaran berikutnya.
Btw, saya punya musuh karib, namanya Subiakto Priosoedarsono, usianya 77 tahun. Dia sangat update dengan gadget. Aktif di social media dan sangat ahli soal AI. Dia adalah saksi hidup bahwa usia tidak paralel dengan ketinggalan zaman.
Jadi, Guys. Hadapilah semua tantangan. Jangan takut pada hal-hal baru. Menjadi bodoh kembali itu menyenangkan...
#INISIATIF
Oleh: Budiman Hakim
"Saya dulu orang IT. Kalo mau belajar AI, saya pasti bisa, tapi buat apa?"
Kalimat di atas kedengarannya jujur, padahal bisa jadi itu cuma pembenaran untuk berhenti mengejar zaman. Yang ngomong gitu, sebenernya masih aktif dan produktif. Namun setiap kali berhadapan dengan hal baru, ia berhenti lalu memilih mundur. Bukan karena gak mampu, tapi karena merasa udah gak perlu.
Di situlah ciri-ciri umum penyakit malas mulai bekerja. Ia tidak membuat seseorang berhenti bergerak, tetapi membuat dia berhenti bertumbuh. Penyakit ini, biasanya, mulai terasa pada mereka yang udah terjebak di zona nyaman.
Secara biologis, otak adalah organ paling boros energi di tubuh manusia. Walaupun beratnya cuma sekitar 2% dari berat badan, otak bisa menghabiskan 20–25% total energi tubuh. Dan yang menarik, porsi ini relatif konstan, gak peduli kita lagi mikir berat atau cuma bengong doang.
Penyakit malas adalah strategi otak untuk menghemat energi. Otak selalu memilih yang aman dan nyaman, misalnya melakukan sesuatu yang kita udah bisa. Hal2 baru menuntut usaha dengan risiko gagal. Otak merasa gak nyaman dan langsung berusaha menghindarinya.
Yang bikin resek, setiap kali kita menghindari ketidaknyamanan itu, otak mencatatnya sebagai kemenangan. Lama-kelamaan, jalur dopamin hanya aktif saat kita mengulang hal yang sama, bukan saat belajar sesuatu yang baru. Bahaya tuh...
Bagaimana Cara Kita Mencegahnya
Terapi pertama untuk mencegah penyakit ini adalah memperkenalkan ketidaknyamanan kecil secara sengaja. Tindakan sederhana yang memaksa otak keluar dari ketidaknyamanan itu. Belajar hal baru mungkin gak nyaman tapi memberi sinyal ke otak bahwa kita masih perlu bekerja dan beradaptasi.
Terapi berikutnya. Banyak orang berhenti belajar karena takut terlihat bodoh. Padahal rasa bodoh adalah tanda otak sedang membangun jalur baru. Bertanya, mendengarkan dan menerima bahwa kita belum tahu memaksa neuroplastisitas bekerja. Otak tidak menua karena usia, tapi karena terlalu lama dibiarkan tidak bekerja
Terapi selanjutnya adalah mengubah sumber kepuasan. Terlalu banyak mengonsumsi konten2 receh membuat otak mendapatkan kepuasan palsu. Coba alihkan sebagian waktu dari konsumsi ke produksi. Mungkin sedikit capek tapi puas. Di situ fungsi alami dopamin bekerja sebagaimana mestinya.
Apa aja yang bisa dilakukan? Banyak! Menulis, belajar, mencoba, dan menyelesaikan sesuatu meskipun lambat, mengajarkan otak bahwa kepuasan sejati datang dari proses, bukan dari pelarian.
Terapi berikutnya. Umumkan pada semua teman. Otak manusia bergerak lebih efektif ketika merasa diawasi. Mengumumkan niat, berbagi progres, atau menaruh tanggung jawab kecil di hadapan orang lain menciptakan dorongan eksekusi. Dengan cara ini, otak tidak punya banyak ruang untuk bernegosiasi dengan kemalasan.
Terapi terakhir adalah terapi identitas. Penyakit malas sering menang ketika kita mulai meyakini bahwa belajar adalah fase hidup yang sudah lewat. Memproklamirkan diri bahwa kita adalah seorang murid yang selalu siap untuk belajar, membuat otak tetap hidup.
Penyakit malas tidak menyerang dengan keras. Ia membuat kita merasa aman, padahal sebenarnya sedang disingkirkan. Yang membuat manusia bertumbuh bukanlah yang paling pintar atau paling muda, tapi mereka yang berani merasa gak nyaman dan gak gengsi untuk mulai belajar dari awal.
Sama kayak jaman SD dulu. Waktu kelas 5, kita juara kelas... wah pasti bangga, dong! Nah, saat kita naik kelas 6, wajarlah kalo kita merasa bodoh, karena pelajaran yang kita terima adalah materi baru. Artinya ketika kita merasa bodoh lagi. itu tanda kita masuk ke level kepintaran berikutnya.
Btw, saya punya musuh karib, namanya Subiakto Priosoedarsono, usianya 77 tahun. Dia sangat update dengan gadget. Aktif di social media dan sangat ahli soal AI. Dia adalah saksi hidup bahwa usia tidak paralel dengan ketinggalan zaman.
Jadi, Guys. Hadapilah semua tantangan. Jangan takut pada hal-hal baru. Menjadi bodoh kembali itu menyenangkan...
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
💯2
Oleh: Dedi Priadi
Luka adalah cetak biru yang merancang ulang jiwa kita, tempat cahaya menyusup ke relung hati. Setiap kali kita diuji, kita sebenarnya diberi peluang untuk menjadi versi diri yang lebih baik.
Tidak semua orang sanggup melihat kepedihan sebagai berkah, sebab penderitaan sering memicu reaksi emosi yang kuat. Cara kita menyikapi kepedihan akan menentukan tingkat spiritual kita selanjutnya.
Ada yang 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘴𝘱𝘰𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴, membiarkan kepahitan ujian menjadi tembok yang penuh amarah. Mereka menggunakan luka sebagai alasan untuk bersikap buruk pada orang lain.
Kelompok ini menjadi kasar, karena mereka berpikir menyerang lebih aman daripada terluka kembali. Kata-kata tajam mereka adalah cerminan dari hati yang menderita.
Sebaliknya, ada yang 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘯𝘺𝘪, menarik diri ke dalam ruang batin yang tenang tanpa komunikasi. Mereka memikul semua beban sendiri, menyembunyikan badai di balik wajah yang datar.
Keheningan ini adalah pertahanan diri mereka, sebab mereka takut dihakimi atau mendapatkan luka baru. Mereka merasa diam adalah cara terbaik untuk mengendalikan kekacauan batin.
Ada juga jiwa yang 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘳𝘪𝘧𝘢𝘯, menerima setiap kesulitan sebagai pelajaran berharga dari hidup. Mereka berhasil menyaring makna terdalam dari setiap air mata yang jatuh.
Kelompok ini memilih untuk tidak membiarkan luka-luka lama membusuk sebagai sumber kecemasan dan masalah dalam hidup mereka. Sebaliknya, mereka mencari jalan keluar yang baik saat menghadapi kesulitan, dan berusaha keras merangkai ulang kejadian pahit dalam pikiran mereka. Mereka sukses mengubah setiap pengalaman buruk menjadi pelajaran berharga, mengambil serpihan trauma itu dan menjadikannya bahan bakar untuk pertumbuhan.
Maka yakini, luka adalah undangan untuk mengukir kedewasaan. Esensi ujian bukanlah pada rasa sakitnya, melainkan pada kebebasan untuk memilih tanggapan. Pilihlah tanggapan yang merawat jiwa Anda tetap tumbuh, sebab hanya melalui penerimaan tulus, cahaya yang menyusup lewat luka itu akan mengubah Anda menjadi versi diri yang lebih baik, lebih damai, dan penuh kearifan.
#INISIATIF
Luka adalah cetak biru yang merancang ulang jiwa kita, tempat cahaya menyusup ke relung hati. Setiap kali kita diuji, kita sebenarnya diberi peluang untuk menjadi versi diri yang lebih baik.
Tidak semua orang sanggup melihat kepedihan sebagai berkah, sebab penderitaan sering memicu reaksi emosi yang kuat. Cara kita menyikapi kepedihan akan menentukan tingkat spiritual kita selanjutnya.
Ada yang 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘴𝘱𝘰𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴, membiarkan kepahitan ujian menjadi tembok yang penuh amarah. Mereka menggunakan luka sebagai alasan untuk bersikap buruk pada orang lain.
Kelompok ini menjadi kasar, karena mereka berpikir menyerang lebih aman daripada terluka kembali. Kata-kata tajam mereka adalah cerminan dari hati yang menderita.
Sebaliknya, ada yang 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘯𝘺𝘪, menarik diri ke dalam ruang batin yang tenang tanpa komunikasi. Mereka memikul semua beban sendiri, menyembunyikan badai di balik wajah yang datar.
Keheningan ini adalah pertahanan diri mereka, sebab mereka takut dihakimi atau mendapatkan luka baru. Mereka merasa diam adalah cara terbaik untuk mengendalikan kekacauan batin.
Ada juga jiwa yang 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘳𝘪𝘧𝘢𝘯, menerima setiap kesulitan sebagai pelajaran berharga dari hidup. Mereka berhasil menyaring makna terdalam dari setiap air mata yang jatuh.
Kelompok ini memilih untuk tidak membiarkan luka-luka lama membusuk sebagai sumber kecemasan dan masalah dalam hidup mereka. Sebaliknya, mereka mencari jalan keluar yang baik saat menghadapi kesulitan, dan berusaha keras merangkai ulang kejadian pahit dalam pikiran mereka. Mereka sukses mengubah setiap pengalaman buruk menjadi pelajaran berharga, mengambil serpihan trauma itu dan menjadikannya bahan bakar untuk pertumbuhan.
Maka yakini, luka adalah undangan untuk mengukir kedewasaan. Esensi ujian bukanlah pada rasa sakitnya, melainkan pada kebebasan untuk memilih tanggapan. Pilihlah tanggapan yang merawat jiwa Anda tetap tumbuh, sebab hanya melalui penerimaan tulus, cahaya yang menyusup lewat luka itu akan mengubah Anda menjadi versi diri yang lebih baik, lebih damai, dan penuh kearifan.
#INISIATIF
🙏1
KETIKA TUBUH BERPAMITAN 😷
Oleh: Budiman Hakim
"Padahal dua hari lalu, kondisi almarhum membaik, loh. Siapa sangka, ternyata hari ini meninggal." Demikian kata adik almarhum pada pelayat yang datang.
Saya cuma terdiam tanpa sepatah kata. Di usia sekarang ini, banyak sekali teman yang meninggal dunia. Membuat bulu kuduk bergidik karena merasa diingatkan bahwa antrean saya semakin dekat.
Begitu mendengar kabar itu, saya berangkat ke rumah duka. Seorang diri mengendarai mobil di jalanan macet. Menerjang hujan yang turun terus menerus, membuat hati semakin galau.
Saya berdiri di rumah duka di samping peti mati yang tutupnya masih terbuka. Menatap wajah seorang teman lama yang terbaring tenang.
Omongan adik almarhum itu benar adanya. Beberapa hari yang lalu, saya sempat WA-an dengan almarhum. Kami sempat bercanda lewat pesan singkat. Dia bilang kondisinya sudah mendingan. Dan seperti kebanyakan orang, saya ikut percaya bahwa almarhum akan segera sembuh..
Ternyata bukan cuma saya. Cukup banyak orang yang dihubungi almarhum. Beberapa pelayat bercerita bagaimana sebelum meninggal dia masih sempat duduk lebih lama, makan sedikit, mengobrol, tersenyum.
Keluarganya bahkan sempat berkata dengan nada optimis bahwa kesembuhan sudah di depan mata. Lalu pagi itu datang begitu saja, tanpa tanda-tanda dramatis, dan dia pergi.
Di titik itu muncul satu pertanyaan yang terasa berat, kenapa orang yang sakit parah sering terlihat sehat dulu, lalu baru meninggal.
Dalam dunia medis, kondisi ini sebenarnya bukan hal aneh, tubuh manusia memiliki mekanisme terakhir ketika sudah sangat lelah, sebuah mode darurat di mana sisa energi yang tersimpan dilepaskan sekaligus.
Hormon stres dan zat kimia otak bekerja bersama, aliran darah meningkat, rasa nyeri mereda sementara, kesadaran tampak lebih jernih. Dari luar semuanya terlihat seperti pemulihan, padahal yang terjadi tubuh sedang menghabiskan cadangan terakhirnya.
Seperti api yang tiba-tiba menyala terang sebelum padam, tubuh memberi satu momen yang tampak indah, tenang, bahkan melegakan, lalu berhenti.
Karena itu para tenaga medis sering kali justru waspada ketika pasien yang lama menurun mendadak terlihat jauh lebih baik, bukan karena pesimis, tapi karena mereka tahu, fase itu sering kali adalah tanda bahwa akhir sudah dekat.
Yang membuat kita keliru adalah cara kita memaknai momen itu, kita menganggapnya sebagai harapan, padahal sering kali itu adalah cara tubuh berpamitan, memberi ruang terakhir untuk bicara tanpa rasa sakit, untuk tersenyum tanpa beban, untuk terlihat utuh sebelum semuanya selesai.
Sejak hari itu saya mengerti, ketika seseorang yang lama sakit tiba-tiba terlihat lebih sehat, kita jangan buru2 berharap terlalu tinggi.. Mungkin momen itu perlu kita manfaatkan untuk hadir sepenuh mungkin, duduk lebih lama, menggenggam tangan lebih erat, mendengar lebih sungguh-sungguh.
Kesembuhan sesaat sering kali bukan janji hidup yang panjang, melainkan cara paling manusiawi dari tubuh untuk mengatakan selamat tinggal.
Innalillahiwainnailaihirojiun...😌
#INISIATIF
Oleh: Budiman Hakim
"Padahal dua hari lalu, kondisi almarhum membaik, loh. Siapa sangka, ternyata hari ini meninggal." Demikian kata adik almarhum pada pelayat yang datang.
Saya cuma terdiam tanpa sepatah kata. Di usia sekarang ini, banyak sekali teman yang meninggal dunia. Membuat bulu kuduk bergidik karena merasa diingatkan bahwa antrean saya semakin dekat.
Begitu mendengar kabar itu, saya berangkat ke rumah duka. Seorang diri mengendarai mobil di jalanan macet. Menerjang hujan yang turun terus menerus, membuat hati semakin galau.
Saya berdiri di rumah duka di samping peti mati yang tutupnya masih terbuka. Menatap wajah seorang teman lama yang terbaring tenang.
Omongan adik almarhum itu benar adanya. Beberapa hari yang lalu, saya sempat WA-an dengan almarhum. Kami sempat bercanda lewat pesan singkat. Dia bilang kondisinya sudah mendingan. Dan seperti kebanyakan orang, saya ikut percaya bahwa almarhum akan segera sembuh..
Ternyata bukan cuma saya. Cukup banyak orang yang dihubungi almarhum. Beberapa pelayat bercerita bagaimana sebelum meninggal dia masih sempat duduk lebih lama, makan sedikit, mengobrol, tersenyum.
Keluarganya bahkan sempat berkata dengan nada optimis bahwa kesembuhan sudah di depan mata. Lalu pagi itu datang begitu saja, tanpa tanda-tanda dramatis, dan dia pergi.
Di titik itu muncul satu pertanyaan yang terasa berat, kenapa orang yang sakit parah sering terlihat sehat dulu, lalu baru meninggal.
Dalam dunia medis, kondisi ini sebenarnya bukan hal aneh, tubuh manusia memiliki mekanisme terakhir ketika sudah sangat lelah, sebuah mode darurat di mana sisa energi yang tersimpan dilepaskan sekaligus.
Hormon stres dan zat kimia otak bekerja bersama, aliran darah meningkat, rasa nyeri mereda sementara, kesadaran tampak lebih jernih. Dari luar semuanya terlihat seperti pemulihan, padahal yang terjadi tubuh sedang menghabiskan cadangan terakhirnya.
Seperti api yang tiba-tiba menyala terang sebelum padam, tubuh memberi satu momen yang tampak indah, tenang, bahkan melegakan, lalu berhenti.
Karena itu para tenaga medis sering kali justru waspada ketika pasien yang lama menurun mendadak terlihat jauh lebih baik, bukan karena pesimis, tapi karena mereka tahu, fase itu sering kali adalah tanda bahwa akhir sudah dekat.
Yang membuat kita keliru adalah cara kita memaknai momen itu, kita menganggapnya sebagai harapan, padahal sering kali itu adalah cara tubuh berpamitan, memberi ruang terakhir untuk bicara tanpa rasa sakit, untuk tersenyum tanpa beban, untuk terlihat utuh sebelum semuanya selesai.
Sejak hari itu saya mengerti, ketika seseorang yang lama sakit tiba-tiba terlihat lebih sehat, kita jangan buru2 berharap terlalu tinggi.. Mungkin momen itu perlu kita manfaatkan untuk hadir sepenuh mungkin, duduk lebih lama, menggenggam tangan lebih erat, mendengar lebih sungguh-sungguh.
Kesembuhan sesaat sering kali bukan janji hidup yang panjang, melainkan cara paling manusiawi dari tubuh untuk mengatakan selamat tinggal.
Innalillahiwainnailaihirojiun...😌
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤6💔1
The Best Contact Center (TBCC) BPJS Kesehatan adalah panggung
untuk mereka yang berani tampil, belajar, dan berinovasi untuk memperkuat kualitas layanan
Menuju Grand Final & Awarding Day
Kamu jagoin siapa untuk jadi juara? beri dukunganmu di sini
https://www.instagram.com/p/DUCgF3qCaJ8/?igsh=ZXJkdWYxOTgzMng0
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤🔥2
Oleh: Dedi Priadi
Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa engkau beli atau minta. Ia adalah organisme hidup yang tumbuh perlahan. Semuanya bermula dari kegelapan tanah yang kita sebut 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘨𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴.
Integritas adalah akar yang tak terlihat. Ia adalah kesetiaanmu pada kebenaran saat tak ada satu pun mata yang memandang. Tanpa akar yang jujur, setinggi apa pun pohonmu, ia akan roboh oleh angin kecil.
Jadilah pribadi terpercaya. Biarlah pikiran, ucapan, dan tindakanmu mengalir dari satu sumber yang sama. Keselarasan inilah yang membuat jiwamu tenang dan langkahmu tidak pernah ragu.
Naik ke atas tanah, muncullah batang yang bernama 𝘯𝘪𝘢𝘵. Orang mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, namun getaran niatmu akan sampai ke hati mereka. Apakah engkau hadir untuk melayani atau untuk menguasai?
Niat yang tulus itu bening, tidak meninggalkan bayangan kecurigaan. Saat engkau tulus, orang lain tidak perlu memasang perisai di hadapanmu. Mereka akan merasa aman karena tahu engkau menginginkan kebaikan bagi semua.
Namun, ketulusan saja tidaklah cukup di dunia ini. Pohonmu butuh dahan untuk merengkuh langit. Inilah 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯. Engkau harus membekali dirimu dengan ilmu dan kecakapan agar niat baikmu bisa mewujud.
Seorang dokter yang baik hati tetaplah butuh memperbarui ilmu kedokterannya untuk menyembuhkan. Maka, asahlah bakatmu sebagai bentuk syukurmu pada Sang Pencipta. Kompetensi adalah cara kita memuliakan orang yang mempercayai kita.
Dari dahan-dahan yang kokoh itu, niscaya akan lahir 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭. Inilah buah yang manis, pembuktian nyata dari sebuah perjalanan panjang. Dunia tidak butuh ribuan kata, dunia hanya butuh bukti dari pengabdianmu.
Hasil yang nyata akan menebarkan aroma harum yang kita sebut reputasi. Engkau tidak perlu berteriak tentang siapa dirimu, karena buah yang engkau berikan akan bercerita dengan sendirinya kepada semesta.
Ingatlah selalu, semua ini tumbuh dari 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳. Jangan sibuk menghias dedaunan jika akarmu membusuk. Benahi hatimu terlebih dahulu, maka dunia di sekitarmu akan ikut tertata dengan indahnya.
Jika kepercayaan telah tegak, hidupmu akan mengalir tanpa sekat. Segalanya menjadi ringan, cepat, dan penuh berkah. Rawatlah akarmu setiap hari, agar pohonmu menjadi tempat berteduh bagi banyak jiwa.❤️😊🫶
#INISIATIF
Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa engkau beli atau minta. Ia adalah organisme hidup yang tumbuh perlahan. Semuanya bermula dari kegelapan tanah yang kita sebut 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘨𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴.
Integritas adalah akar yang tak terlihat. Ia adalah kesetiaanmu pada kebenaran saat tak ada satu pun mata yang memandang. Tanpa akar yang jujur, setinggi apa pun pohonmu, ia akan roboh oleh angin kecil.
Jadilah pribadi terpercaya. Biarlah pikiran, ucapan, dan tindakanmu mengalir dari satu sumber yang sama. Keselarasan inilah yang membuat jiwamu tenang dan langkahmu tidak pernah ragu.
Naik ke atas tanah, muncullah batang yang bernama 𝘯𝘪𝘢𝘵. Orang mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, namun getaran niatmu akan sampai ke hati mereka. Apakah engkau hadir untuk melayani atau untuk menguasai?
Niat yang tulus itu bening, tidak meninggalkan bayangan kecurigaan. Saat engkau tulus, orang lain tidak perlu memasang perisai di hadapanmu. Mereka akan merasa aman karena tahu engkau menginginkan kebaikan bagi semua.
Namun, ketulusan saja tidaklah cukup di dunia ini. Pohonmu butuh dahan untuk merengkuh langit. Inilah 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯. Engkau harus membekali dirimu dengan ilmu dan kecakapan agar niat baikmu bisa mewujud.
Seorang dokter yang baik hati tetaplah butuh memperbarui ilmu kedokterannya untuk menyembuhkan. Maka, asahlah bakatmu sebagai bentuk syukurmu pada Sang Pencipta. Kompetensi adalah cara kita memuliakan orang yang mempercayai kita.
Dari dahan-dahan yang kokoh itu, niscaya akan lahir 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭. Inilah buah yang manis, pembuktian nyata dari sebuah perjalanan panjang. Dunia tidak butuh ribuan kata, dunia hanya butuh bukti dari pengabdianmu.
Hasil yang nyata akan menebarkan aroma harum yang kita sebut reputasi. Engkau tidak perlu berteriak tentang siapa dirimu, karena buah yang engkau berikan akan bercerita dengan sendirinya kepada semesta.
Ingatlah selalu, semua ini tumbuh dari 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳. Jangan sibuk menghias dedaunan jika akarmu membusuk. Benahi hatimu terlebih dahulu, maka dunia di sekitarmu akan ikut tertata dengan indahnya.
Jika kepercayaan telah tegak, hidupmu akan mengalir tanpa sekat. Segalanya menjadi ringan, cepat, dan penuh berkah. Rawatlah akarmu setiap hari, agar pohonmu menjadi tempat berteduh bagi banyak jiwa.❤️😊🫶
#INISIATIF
❤3
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Hidup itu soal membuat keputusan, menjalaninya, dan menghadapi risikonya.
Ada perempuan muda yang berpisah dengan suaminya. Ia harus membesarkan anak sebagai orang tua tunggal. Ia sedang mencari kerja. Hidup dalam beberapa bulan atau beberapa tahun nanti tidak akan mudah bagi dia.
Dia menjalin hubungan dengan seseorang, yang menunjukkan perhatian tidak hanya pada dia, tapi juga pada anaknya. Dia berharap orang ini akan menjadi pendamping dia kelak. Tapi dia risau. Ada gejala bahwa orang ini mungkin akan bermain-main, lalu ujungnya nanti rumah tangga akan gagal lagi.
"Saya harus bagaimana, Pak?" tanyanya pada saya.
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ada beberapa keadaan yang bisa kita ramalkan dari keadaan sekarang. Tapi sebagian besar masa depan tidak bisa diramalkan dari keadaan sekarang, karena banyak hal tidak linier rumusan polanya.
Jadi bagaimana? Yang harus kita lakukan, yang harus setiap orang lakukan adalah memilih, memutuskan, lalu menjalaninya. Setelah dijalani mungkin kita rasa keputusan kita salah. Mungkin pula kita merasa keputusan itu benar. Semua serba mungkin.
Bagaimana kalau salah? Buatlah keputusan lain untuk mengoreksinya. Atau biasakan diri untuk berkompromi dengan keadaan baru hasil keputusan tadi.
Hidup itu tidak sempurna. Tidak mungkin sempurna. Sempurna itu hanyalah ilusi. Apa sih sempurna? Keadaan yang kita sukai, sesuai selera kita dalam semua aspek. Hal yang begitu tidak ada. Bahkan selera kita pun berubah. Hari ini kita suka, besok tidak. Bagaimana mungkin ada yang sempurna?
Salah satu cara untuk bertahan hidup adalah berkompromi terhadap hal-hal yang tidak kita sukai. Terimalah kenyataan bahwa alam semesta ini tidak mengabdi pada Anda.
#INISIATIF #TGIF
Hidup itu soal membuat keputusan, menjalaninya, dan menghadapi risikonya.
Ada perempuan muda yang berpisah dengan suaminya. Ia harus membesarkan anak sebagai orang tua tunggal. Ia sedang mencari kerja. Hidup dalam beberapa bulan atau beberapa tahun nanti tidak akan mudah bagi dia.
Dia menjalin hubungan dengan seseorang, yang menunjukkan perhatian tidak hanya pada dia, tapi juga pada anaknya. Dia berharap orang ini akan menjadi pendamping dia kelak. Tapi dia risau. Ada gejala bahwa orang ini mungkin akan bermain-main, lalu ujungnya nanti rumah tangga akan gagal lagi.
"Saya harus bagaimana, Pak?" tanyanya pada saya.
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ada beberapa keadaan yang bisa kita ramalkan dari keadaan sekarang. Tapi sebagian besar masa depan tidak bisa diramalkan dari keadaan sekarang, karena banyak hal tidak linier rumusan polanya.
Jadi bagaimana? Yang harus kita lakukan, yang harus setiap orang lakukan adalah memilih, memutuskan, lalu menjalaninya. Setelah dijalani mungkin kita rasa keputusan kita salah. Mungkin pula kita merasa keputusan itu benar. Semua serba mungkin.
Bagaimana kalau salah? Buatlah keputusan lain untuk mengoreksinya. Atau biasakan diri untuk berkompromi dengan keadaan baru hasil keputusan tadi.
Hidup itu tidak sempurna. Tidak mungkin sempurna. Sempurna itu hanyalah ilusi. Apa sih sempurna? Keadaan yang kita sukai, sesuai selera kita dalam semua aspek. Hal yang begitu tidak ada. Bahkan selera kita pun berubah. Hari ini kita suka, besok tidak. Bagaimana mungkin ada yang sempurna?
Salah satu cara untuk bertahan hidup adalah berkompromi terhadap hal-hal yang tidak kita sukai. Terimalah kenyataan bahwa alam semesta ini tidak mengabdi pada Anda.
#INISIATIF #TGIF
❤1
Menjadi Staf Promotif Preventif ngajarin kami satu hal bahwa kesehatan itu bukan cuma soal mengobati, tapi soal mencegah sejak dini 🇲🇨
Beri dukunganmu kepada rekan-rekan staf Promprev🙌
https://www.instagram.com/p/DUIQaCeCQUA/?igsh=MzE1aHQ4ODVsNml6
Beri dukunganmu kepada rekan-rekan staf Promprev
https://www.instagram.com/p/DUIQaCeCQUA/?igsh=MzE1aHQ4ODVsNml6
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤4🔥2👍1