Terima kasih atas perjuangan dan kerja kerasmu, Duta BPJS Kesehatan 🇲🇨
Sebelum ganti tahun, izinkan diri untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengapresiasi semua proses yang sudah dilalui🏆
Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025👇
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
Sebelum ganti tahun, izinkan diri untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengapresiasi semua proses yang sudah dilalui
Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥4🥰2
Cerita dari Watampone. Kalau ceritamu bgmn? Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025 👇
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Cerita dari Lubuklinggau. Kalau ceritamu bgmn? Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025 👇
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Yang Merawat Kita di Hari Tua 👵 🤷♂️
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Beberapa hari ini ada obrolan dengan istri dan anak-anak, terkait masa depan. Istri saya ingin membeli rumah di sekitar rumah kami. Dia ingin menyediakan rumah untuk anak-anak. "Aku ingin anak-anak tinggal di dekat kita, supaya ada yang merawat saat kita tua kelak," katanya.
Prinsip itu sangat berbeda dengan prinsip saya. Prinsip saya: "Tinggallah di dekat tempat sumber nafkah, bukan carilah nafkah di dekat tempatmu tinggal." Sepanjang hidup saya, tempat tinggal saya pindah-pindah. Sejak lulus kuliah saya tinggal di Pendopo-Pontianak-Kuala Lumpur-Sendai-Kumamoto-Pontianak-Sendai-Bekasi. Semua itu karena saya mengikuti sumber nafkah. Kalau memakai prinsip "cari nafkah di dekat tempatmu tinggal" artinya anak-anak saya harus bertahan dengan pekerjaan atau sumber nafkah di sekitar rumah kami di Bekasi.
Saat ini saya mendorong anak-anak untuk punya visi tinggal di luar negeri. Ketimbang membelikan rumah di dekat rumah kami, saya cenderung menginvestasikan uang untuk membuka jalur agar anak-anak saya pergi bekerja di luar negeri. Jadi sekali lagi, saya tidak tertarik untuk membeli rumah tadi.
Lalu, siapa yang akan merawat kalau sudah tua? Bagi saya itu bukan urusan anak-anak saya. Mereka akan punya hidup sendiri, tanggung jawab sendiri. Mereka tidak perlu menyediakan waktu untuk merawat saya. Sayang sekali potensi mereka kalau harus mengabdi untuk merawat saya.
Lalu, siapa yang merawat? Perawat profesional. Saya harus sediakan anggaran untuk membayar perawat profesional kalau saya harus hidup di hari tua dalam keadaan difabel. Impian saya sih tetap sehat sampai tua, sehingga tidak memerlukan bantuan khusus. Tapi kalau tidak, saya harus siap menggaji perawat.
Bagi saya tidak adil kalau beban itu harus dipikul oleh anak-anak saya. Mereka tanggung jawab yang lebih penting untuk hidup mereka sendiri.
Prinsip yang sama saya sampaikan ke Sarah saat dia bertanya. "Ayah, apakah aku punya kewajiban untuk merawat mertua?"
"Kalau bagi Ayah sih nggak. Jangankan sama mertua, sama orang tua kamu sendiri pun kamu nggak punya kewajiban."
"Kalau nanti suamiku minta aku merawat orang tuanya bagaimana?"
"Kamu mau nggak? Kalau mau, nggak masalah. Tapi sekali lagi, itu bukan kewajiban kamu."
Sarah tercenung.
"Hal beginian harus kamu bahas tuntas dengan calon suami kamu kelak. Bahas tuntas sebelum memutuskan untuk menikah. Jangan sampai sudah terlanjur menikah, lantas dituntut dengan beban-beban yang tidak kamu inginkan."
"Iya, yak Kan sama saja. Kalau dia menuntut aku untuk merawat orang tuanya, seharusnya dia juga punya tanggung jawab yang sama ke orang tuaku," kata Sarah.
"Nah, itu. Ayah, jangankan sama mantu, sama anak-anak sendiri saja nggak mau jadi beban. Jadi, kamu pikirkan itu. Hidup kamu adalah prioritas tertinggi kamu. Orang lain itu prioritas nomor sekian."
Bagi saya sama juga, berharap pasangan merawat kita saat tua itu kesalahan berpikir. Wong sama-sama tua, kok. Saya akan menyediakan perawat kalau istri saya butuh perawatan. Demikian pula untuk diri saya sendiri.
Sekarang tinggal mikir dan merencanakan, bagaimana terus produktif sampai segala kebutuhan di hari tua terpenuhi.
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Beberapa hari ini ada obrolan dengan istri dan anak-anak, terkait masa depan. Istri saya ingin membeli rumah di sekitar rumah kami. Dia ingin menyediakan rumah untuk anak-anak. "Aku ingin anak-anak tinggal di dekat kita, supaya ada yang merawat saat kita tua kelak," katanya.
Prinsip itu sangat berbeda dengan prinsip saya. Prinsip saya: "Tinggallah di dekat tempat sumber nafkah, bukan carilah nafkah di dekat tempatmu tinggal." Sepanjang hidup saya, tempat tinggal saya pindah-pindah. Sejak lulus kuliah saya tinggal di Pendopo-Pontianak-Kuala Lumpur-Sendai-Kumamoto-Pontianak-Sendai-Bekasi. Semua itu karena saya mengikuti sumber nafkah. Kalau memakai prinsip "cari nafkah di dekat tempatmu tinggal" artinya anak-anak saya harus bertahan dengan pekerjaan atau sumber nafkah di sekitar rumah kami di Bekasi.
Saat ini saya mendorong anak-anak untuk punya visi tinggal di luar negeri. Ketimbang membelikan rumah di dekat rumah kami, saya cenderung menginvestasikan uang untuk membuka jalur agar anak-anak saya pergi bekerja di luar negeri. Jadi sekali lagi, saya tidak tertarik untuk membeli rumah tadi.
Lalu, siapa yang akan merawat kalau sudah tua? Bagi saya itu bukan urusan anak-anak saya. Mereka akan punya hidup sendiri, tanggung jawab sendiri. Mereka tidak perlu menyediakan waktu untuk merawat saya. Sayang sekali potensi mereka kalau harus mengabdi untuk merawat saya.
Lalu, siapa yang merawat? Perawat profesional. Saya harus sediakan anggaran untuk membayar perawat profesional kalau saya harus hidup di hari tua dalam keadaan difabel. Impian saya sih tetap sehat sampai tua, sehingga tidak memerlukan bantuan khusus. Tapi kalau tidak, saya harus siap menggaji perawat.
Bagi saya tidak adil kalau beban itu harus dipikul oleh anak-anak saya. Mereka tanggung jawab yang lebih penting untuk hidup mereka sendiri.
Prinsip yang sama saya sampaikan ke Sarah saat dia bertanya. "Ayah, apakah aku punya kewajiban untuk merawat mertua?"
"Kalau bagi Ayah sih nggak. Jangankan sama mertua, sama orang tua kamu sendiri pun kamu nggak punya kewajiban."
"Kalau nanti suamiku minta aku merawat orang tuanya bagaimana?"
"Kamu mau nggak? Kalau mau, nggak masalah. Tapi sekali lagi, itu bukan kewajiban kamu."
Sarah tercenung.
"Hal beginian harus kamu bahas tuntas dengan calon suami kamu kelak. Bahas tuntas sebelum memutuskan untuk menikah. Jangan sampai sudah terlanjur menikah, lantas dituntut dengan beban-beban yang tidak kamu inginkan."
"Iya, yak Kan sama saja. Kalau dia menuntut aku untuk merawat orang tuanya, seharusnya dia juga punya tanggung jawab yang sama ke orang tuaku," kata Sarah.
"Nah, itu. Ayah, jangankan sama mantu, sama anak-anak sendiri saja nggak mau jadi beban. Jadi, kamu pikirkan itu. Hidup kamu adalah prioritas tertinggi kamu. Orang lain itu prioritas nomor sekian."
Bagi saya sama juga, berharap pasangan merawat kita saat tua itu kesalahan berpikir. Wong sama-sama tua, kok. Saya akan menyediakan perawat kalau istri saya butuh perawatan. Demikian pula untuk diri saya sendiri.
Sekarang tinggal mikir dan merencanakan, bagaimana terus produktif sampai segala kebutuhan di hari tua terpenuhi.
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤4
"Mens Rea" Ketika Kita Tertawa, Lalu Sadar yang Disindir Ternyata Diri Sendiri 😅
Oleh: Andrian Saputra
Di tengah negeri yang kalau dengar kata hukum sering refleks menoleh ke belakang bukan karena takut salah, tapi takut disalahkan, Pandji Pragiwaksono datang membawa sebuah judul yang terdengar berat: “Mens Rea.” Istilah hukum Latin yang biasanya nongol di ruang sidang, bukan di panggung komedi. Tapi justru di situlah lelucon dimulai.
---
“Mens Rea” (2025) bukan sekadar spesial stand-up berdurasi 2 jam 24 menit yang tayang di Netflix pada 27 Desember 2025. Ini lebih mirip seperti ruang kelas alternatif, di mana dosennya bercanda, mahasiswanya tertawa, tapi pulangnya membawa PR bernama kesadaran. Diselenggarakan di Indonesia Arena, Jakarta, 30 Agustus 2025, acara ini terasa megah, tapi isinya sangat membumi membahas hal-hal yang sering kita keluhkan sambil ngopi, tapi jarang kita renungkan sambil berpikir.
Pandji mengajak penonton menelusuri budaya hukum Indonesia dengan gaya khasnya: santai, tajam, dan penuh jebakan logika yang bikin ketawa dulu, baru sadar kemudian. Ia bicara soal korupsi bukan seperti jaksa, tapi seperti teman lama yang capek menjelaskan hal yang sama berulang kali, dengan nada, “Sebenernya ini tuh simpel, tapi kok ya…”
Lanjut Part 2👇
Oleh: Andrian Saputra
Di tengah negeri yang kalau dengar kata hukum sering refleks menoleh ke belakang bukan karena takut salah, tapi takut disalahkan, Pandji Pragiwaksono datang membawa sebuah judul yang terdengar berat: “Mens Rea.” Istilah hukum Latin yang biasanya nongol di ruang sidang, bukan di panggung komedi. Tapi justru di situlah lelucon dimulai.
---
“Mens Rea” (2025) bukan sekadar spesial stand-up berdurasi 2 jam 24 menit yang tayang di Netflix pada 27 Desember 2025. Ini lebih mirip seperti ruang kelas alternatif, di mana dosennya bercanda, mahasiswanya tertawa, tapi pulangnya membawa PR bernama kesadaran. Diselenggarakan di Indonesia Arena, Jakarta, 30 Agustus 2025, acara ini terasa megah, tapi isinya sangat membumi membahas hal-hal yang sering kita keluhkan sambil ngopi, tapi jarang kita renungkan sambil berpikir.
Pandji mengajak penonton menelusuri budaya hukum Indonesia dengan gaya khasnya: santai, tajam, dan penuh jebakan logika yang bikin ketawa dulu, baru sadar kemudian. Ia bicara soal korupsi bukan seperti jaksa, tapi seperti teman lama yang capek menjelaskan hal yang sama berulang kali, dengan nada, “Sebenernya ini tuh simpel, tapi kok ya…”
Lanjut Part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1⚡1
Lanjut Part 2
Yang bikin “Mens Rea” jadi spesial dan mungkin agak bikin beberapa orang keringat dingin adalah kolaborasi resminya dengan KPK. Iya, lembaga yang biasanya identik dengan konferensi pers serius dan rompi oranye, kali ini memilih panggung komedi sebagai medium edukasi publik. Uniknya, tanpa sensor. Pandji dibiarkan menembak ke mana saja, selama pelurunya bernama fakta dan pengalaman sehari-hari.
Tujuannya pun realistis. Bukan berharap penonton langsung jadi malaikat anti korupsi keesokan harinya. Tapi minimal, ada rasa tertampar. Rasa tidak nyaman yang sehat. Karena perubahan besar seringkali dimulai dari kalimat sederhana: “Oh… iya juga ya.”
Disitu Pandji menyebut nama. Dan ia tidak berbisik.
Prabowo, Gibran, Jokowi, Luhut, Ferdy Sambo, Tedy Minahasa, bahkan Rafi Ahmad semua hadir bukan sebagai tokoh suci atau penjahat tunggal, tapi sebagai simbol dari sistem, kekuasaan, dan cara kita memaknainya. Bahkan Harris Azhar muncul sebagai penanda bahwa kritik di negeri ini kadang perlu “tips bertahan hidup”. Humor Pandji bekerja seperti pisau dapur, tidak terlihat mewah, tapi tajam dan sering mengenai jari sendiri.
Namun sasaran utamanya bukan cuma para elite.
Pandji justru lebih sering menoleh ke arah penonton ke arah kita. Ke warga Bogor yang dua kali salah pilih bupati. Ke Bandung yang tergoda popularitas artis. Ke pemilih yang datang ke TPS dengan semangat, tapi pulang tanpa benar-benar tahu siapa yang dicoblos. Di sini, sarkasmenya halus tapi kejam, “Kalau kita malas cari tahu, jangan heran kalau yang terpilih juga malas kerja.”
Respons publik pun beragam, sebagaimana seharusnya sebuah karya satir bekerja. Banyak yang memuji “Mens Rea” sebagai edukasi politik yang tidak menggurui, materi berat yang bisa dicerna tanpa kamus hukum di tangan. Pandji dinilai piawai mengemas isu kompleks menjadi lelucon yang dekat dengan realita soal birokrasi, kekuasaan, dan kebiasaan kecil yang diam-diam memelihara sistem besar yang kita kutuk bersama.
“Mens Rea” pada akhirnya bukan soal Pandji ingin terlihat paling benar, atau KPK ingin terlihat paling progresif. Ini soal sebuah eksperimen sosial: bisakah komedi membuat kita berpikir tanpa merasa digurui? Bisakah tawa menjadi pintu masuk refleksi, bukan sekadar pelarian?
Di ujung pertunjukan, “Mens Rea” tidak menawarkan solusi instan. Tidak ada janji perubahan besar besok pagi. Yang ada hanyalah harapan kecil bahwa setelah tertawa, penonton pulang dengan satu pertanyaan mengganggu di kepala:
“Selama ini, niat kita sebagai warga negara sebenarnya apa?”
"Mens Rea” akhirnya terasa seperti cermin besar yang dipasang di tengah arena. Kita tertawa melihat pantulan orang lain,politisi, pejabat, sistem. Sampai di satu titik, kita sadar yang ada di dalam cermin itu juga kita. Dengan pilihan-pilihan kecil kita. Dengan sikap permisif kita. Dengan kebiasaan kita menormalisasi hal-hal yang seharusnya tidak normal.
Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya dari spesial ini. Bukan pada siapa yang disindir, tapi pada siapa yang pulang dengan perasaan sedikit terusik. Karena perubahan, seperti kata hukum yang jadi judulnya, selalu dimulai dari niat. Dari mens rea. Dari isi kepala.
Oleh: Andrian Saputra
---
#INISIATIF
Yang bikin “Mens Rea” jadi spesial dan mungkin agak bikin beberapa orang keringat dingin adalah kolaborasi resminya dengan KPK. Iya, lembaga yang biasanya identik dengan konferensi pers serius dan rompi oranye, kali ini memilih panggung komedi sebagai medium edukasi publik. Uniknya, tanpa sensor. Pandji dibiarkan menembak ke mana saja, selama pelurunya bernama fakta dan pengalaman sehari-hari.
Tujuannya pun realistis. Bukan berharap penonton langsung jadi malaikat anti korupsi keesokan harinya. Tapi minimal, ada rasa tertampar. Rasa tidak nyaman yang sehat. Karena perubahan besar seringkali dimulai dari kalimat sederhana: “Oh… iya juga ya.”
Disitu Pandji menyebut nama. Dan ia tidak berbisik.
Prabowo, Gibran, Jokowi, Luhut, Ferdy Sambo, Tedy Minahasa, bahkan Rafi Ahmad semua hadir bukan sebagai tokoh suci atau penjahat tunggal, tapi sebagai simbol dari sistem, kekuasaan, dan cara kita memaknainya. Bahkan Harris Azhar muncul sebagai penanda bahwa kritik di negeri ini kadang perlu “tips bertahan hidup”. Humor Pandji bekerja seperti pisau dapur, tidak terlihat mewah, tapi tajam dan sering mengenai jari sendiri.
Namun sasaran utamanya bukan cuma para elite.
Pandji justru lebih sering menoleh ke arah penonton ke arah kita. Ke warga Bogor yang dua kali salah pilih bupati. Ke Bandung yang tergoda popularitas artis. Ke pemilih yang datang ke TPS dengan semangat, tapi pulang tanpa benar-benar tahu siapa yang dicoblos. Di sini, sarkasmenya halus tapi kejam, “Kalau kita malas cari tahu, jangan heran kalau yang terpilih juga malas kerja.”
Respons publik pun beragam, sebagaimana seharusnya sebuah karya satir bekerja. Banyak yang memuji “Mens Rea” sebagai edukasi politik yang tidak menggurui, materi berat yang bisa dicerna tanpa kamus hukum di tangan. Pandji dinilai piawai mengemas isu kompleks menjadi lelucon yang dekat dengan realita soal birokrasi, kekuasaan, dan kebiasaan kecil yang diam-diam memelihara sistem besar yang kita kutuk bersama.
“Mens Rea” pada akhirnya bukan soal Pandji ingin terlihat paling benar, atau KPK ingin terlihat paling progresif. Ini soal sebuah eksperimen sosial: bisakah komedi membuat kita berpikir tanpa merasa digurui? Bisakah tawa menjadi pintu masuk refleksi, bukan sekadar pelarian?
Di ujung pertunjukan, “Mens Rea” tidak menawarkan solusi instan. Tidak ada janji perubahan besar besok pagi. Yang ada hanyalah harapan kecil bahwa setelah tertawa, penonton pulang dengan satu pertanyaan mengganggu di kepala:
“Selama ini, niat kita sebagai warga negara sebenarnya apa?”
"Mens Rea” akhirnya terasa seperti cermin besar yang dipasang di tengah arena. Kita tertawa melihat pantulan orang lain,politisi, pejabat, sistem. Sampai di satu titik, kita sadar yang ada di dalam cermin itu juga kita. Dengan pilihan-pilihan kecil kita. Dengan sikap permisif kita. Dengan kebiasaan kita menormalisasi hal-hal yang seharusnya tidak normal.
Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya dari spesial ini. Bukan pada siapa yang disindir, tapi pada siapa yang pulang dengan perasaan sedikit terusik. Karena perubahan, seperti kata hukum yang jadi judulnya, selalu dimulai dari niat. Dari mens rea. Dari isi kepala.
Oleh: Andrian Saputra
---
Sobat ATE udah ada yang nonton Mens Rea di Netflix? gimana tanggapanmu sob?
#INISIATIF
💯2
Oleh: Dedi Priadi
Di awal tahun baru, sebagian kita terjebak dalam berisiknya mimpi-mimpi besar. Namun, sejarah dan jiwa manusia mencatat bahwa sebuah peradaban, juga sebuah pribadi, tidak dibangun dari satu ledakan amarah atau ambisi semalam.
Kita sering terpukau pada puncak, lalu lupa pada kaki yang harus menapak. Padahal, sebuah perjalanan seribu mil selalu dimulai dari satu langkah yang sunyi, yang mungkin bagi orang lain terlihat tak berarti apa-apa.
Ketahuilah, dalam keheningan amal yang kecil namun terus-menerus, tersimpan kekuatan yang lebih dahsyat dari sekadar antusiasme sesaat. Sebaik-baiknya perbuatan adalah ia yang setia pada waktu, konsisten meski hanya seujung kuku.
Mari belajar dari ilustrasi ini: sebutir kelereng biru di tangan. Ia adalah sebuah awal. Jangan menunggu kesempurnaan untuk mulai bertindak, karena kesempurnaan seringkali hanyalah hantu yang justru membuat langkah kita menjadi kaku dan diam.
Setiap kemenangan kecil yang kau tumpuk adalah batu bata bagi bangunan jiwamu. Di sana, disiplin bukan lagi menjadi beban yang menindas, melainkan sebuah ritme yang menghidupkan, seperti detak jantung yang tak pernah alpa.
Mungkin di tengah jalan, kau akan merasa kehilangan sesuatu—waktu, kawan, atau barangkali harapan. Namun, janganlah hatimu layu dalam gelapnya kesedihan. Segala yang hilang sesungguhnya sedang bersiap untuk kembali kepadamu.
Ia akan datang lagi, mungkin bukan dalam rupa yang sama, melainkan dalam bentuk hikmah, ketegaran, atau pintu-pintu baru yang sebelumnya tertutup rapat. Kehilangan hanyalah cara semesta memberi ruang bagi sesuatu yang lebih bermakna.
Jangan biarkan resolusimu menjadi sekadar teks yang mati di atas kertas. Ubahlah ia menjadi gerak. Pecahlah mimpi yang kolosal itu menjadi tindakan-tindakan kecil yang bisa kau dekap erat-erat setiap pagi tanpa merasa terbebani.
Sebab, keberhasilan sejati bukanlah tentang melompat melampaui awan dalam sekejap. Ia adalah tentang keberanian untuk tetap bertahan, mengumpulkan butir demi butir keberhasilan kecil hingga tanpa kau sadari, kau telah berdiri di ketinggian.
Pada akhirnya, kita hanya perlu menjadi setia pada yang kecil. Di sanalah letak martabat manusia: pada kemampuannya merajut hal-hal sederhana menjadi sebuah takdir yang megah dengan makna yang mendalam.
#INISIATIF
Di awal tahun baru, sebagian kita terjebak dalam berisiknya mimpi-mimpi besar. Namun, sejarah dan jiwa manusia mencatat bahwa sebuah peradaban, juga sebuah pribadi, tidak dibangun dari satu ledakan amarah atau ambisi semalam.
Kita sering terpukau pada puncak, lalu lupa pada kaki yang harus menapak. Padahal, sebuah perjalanan seribu mil selalu dimulai dari satu langkah yang sunyi, yang mungkin bagi orang lain terlihat tak berarti apa-apa.
Ketahuilah, dalam keheningan amal yang kecil namun terus-menerus, tersimpan kekuatan yang lebih dahsyat dari sekadar antusiasme sesaat. Sebaik-baiknya perbuatan adalah ia yang setia pada waktu, konsisten meski hanya seujung kuku.
Mari belajar dari ilustrasi ini: sebutir kelereng biru di tangan. Ia adalah sebuah awal. Jangan menunggu kesempurnaan untuk mulai bertindak, karena kesempurnaan seringkali hanyalah hantu yang justru membuat langkah kita menjadi kaku dan diam.
Setiap kemenangan kecil yang kau tumpuk adalah batu bata bagi bangunan jiwamu. Di sana, disiplin bukan lagi menjadi beban yang menindas, melainkan sebuah ritme yang menghidupkan, seperti detak jantung yang tak pernah alpa.
Mungkin di tengah jalan, kau akan merasa kehilangan sesuatu—waktu, kawan, atau barangkali harapan. Namun, janganlah hatimu layu dalam gelapnya kesedihan. Segala yang hilang sesungguhnya sedang bersiap untuk kembali kepadamu.
Ia akan datang lagi, mungkin bukan dalam rupa yang sama, melainkan dalam bentuk hikmah, ketegaran, atau pintu-pintu baru yang sebelumnya tertutup rapat. Kehilangan hanyalah cara semesta memberi ruang bagi sesuatu yang lebih bermakna.
Jangan biarkan resolusimu menjadi sekadar teks yang mati di atas kertas. Ubahlah ia menjadi gerak. Pecahlah mimpi yang kolosal itu menjadi tindakan-tindakan kecil yang bisa kau dekap erat-erat setiap pagi tanpa merasa terbebani.
Sebab, keberhasilan sejati bukanlah tentang melompat melampaui awan dalam sekejap. Ia adalah tentang keberanian untuk tetap bertahan, mengumpulkan butir demi butir keberhasilan kecil hingga tanpa kau sadari, kau telah berdiri di ketinggian.
Pada akhirnya, kita hanya perlu menjadi setia pada yang kecil. Di sanalah letak martabat manusia: pada kemampuannya merajut hal-hal sederhana menjadi sebuah takdir yang megah dengan makna yang mendalam.
#INISIATIF
❤1
Awal tahun bukan cuma soal ganti kalender. Ini tentang menyamakan niat, meneguhkan arah, dan memperkuat komitmen untuk melangkah bersama 🤝
Melalui Arahan Awal Tahun 2026, kita kembali diingatkan pada nilai-nilai fundamental sebagai Duta BPJS Kesehatan. Nilai yang tidak berhenti di kata, tapi hidup dalam setiap perilaku dan pelaksanaan tugas. Dengan semangat bertumbuh dan rasa tanggung jawab yang dijaga bersama, kita melangkah mantap menyongsong 2026🔥
Apa kesan dan harapanmu di awal tahun ini? Yuk ceritakan di sini👇
https://www.instagram.com/p/DTK0708CciX/?igsh=dWdkZmpnYnVrZzky
Melalui Arahan Awal Tahun 2026, kita kembali diingatkan pada nilai-nilai fundamental sebagai Duta BPJS Kesehatan. Nilai yang tidak berhenti di kata, tapi hidup dalam setiap perilaku dan pelaksanaan tugas. Dengan semangat bertumbuh dan rasa tanggung jawab yang dijaga bersama, kita melangkah mantap menyongsong 2026
Apa kesan dan harapanmu di awal tahun ini? Yuk ceritakan di sini
https://www.instagram.com/p/DTK0708CciX/?igsh=dWdkZmpnYnVrZzky
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Izhhar Gemilang
Based on my personal experience, proses perjodohan itu ternyata bukan cuman soal usaha kita nyari, tapi juga soal usaha kita untuk memantaskan diri
Ceritanya gw ketemu sama istri dulu di apps. Kebetulan, dari awal doi emang udah tipe gw bgt, orangnya ceria dan supel, intinya bisa melengkapi dan mewarnai hidup gw yang saat itu sepi dan gitu2 aja
Cuman masalahnya, gw tuh pendiem dan pasif. ketika ketemu cewe yang "rame", gw langsung berniat utk jadi orang yg asik biar bisa ngimbanginnya selain itu gw juga ngepush diri gw untuk bisa jadi pendengar yang AKTIF, alias gak cuman "iya2" dan "ngangguk2" aja, soalnya istri gw suka cerita dan sharing tentang banyak hal. Bahkan dulu pas pdkt, doi tbtb pernah bahas ttg EKONOMI MAKRO yg untuk balesnya aja gw perlu googling dan baca jurnal dulu😅
Itu dulu usahanya udah bukan susah lagi dah tapi SUSAH!
Tapi gw bersyukur gw bisa melaluinya, karena selain jadi dapet bini, gw juga merasa udah banyak dapet kemajuan dari diri gw dalam hal bersosialisasi.
Gw merasa usaha untuk memantaskan diri itu bukan berarti memaksakan diri kita untuk menjadi "orang lain", tapi lebih ke gimana kita jadiin momen perjodohan itu sebagai momentum untuk bisa mulai berubah. Karena simply ada urgensinya, alias kalo dibesokin ya paling si doi udah kegebet duluan sama yang lain😂
Setuju gak?
#INISIATIF
Based on my personal experience, proses perjodohan itu ternyata bukan cuman soal usaha kita nyari, tapi juga soal usaha kita untuk memantaskan diri
Ceritanya gw ketemu sama istri dulu di apps. Kebetulan, dari awal doi emang udah tipe gw bgt, orangnya ceria dan supel, intinya bisa melengkapi dan mewarnai hidup gw yang saat itu sepi dan gitu2 aja
Cuman masalahnya, gw tuh pendiem dan pasif. ketika ketemu cewe yang "rame", gw langsung berniat utk jadi orang yg asik biar bisa ngimbanginnya selain itu gw juga ngepush diri gw untuk bisa jadi pendengar yang AKTIF, alias gak cuman "iya2" dan "ngangguk2" aja, soalnya istri gw suka cerita dan sharing tentang banyak hal. Bahkan dulu pas pdkt, doi tbtb pernah bahas ttg EKONOMI MAKRO yg untuk balesnya aja gw perlu googling dan baca jurnal dulu
Itu dulu usahanya udah bukan susah lagi dah tapi SUSAH!
Tapi gw bersyukur gw bisa melaluinya, karena selain jadi dapet bini, gw juga merasa udah banyak dapet kemajuan dari diri gw dalam hal bersosialisasi.
Gw merasa usaha untuk memantaskan diri itu bukan berarti memaksakan diri kita untuk menjadi "orang lain", tapi lebih ke gimana kita jadiin momen perjodohan itu sebagai momentum untuk bisa mulai berubah. Karena simply ada urgensinya, alias kalo dibesokin ya paling si doi udah kegebet duluan sama yang lain
Setuju gak?
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
WELAS ASIH 🥰
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Ketika petugas security Hotel Aston Solo yang mengurus parkir mobil saya dengan datang memberi tahu bahwa kunci mobil saya belum ditemukan, saya sebenarnya cukup kesal. Saya sudah menunggu lebih dari 30 menit. Tapi dia datang dengan menunduk-nunduk. Dengan perasaan kesal saya akhirnya memilih pesan ojek pulang pergi ke Notosuman.
Saat kembali ternyata kunci mobil saya belum ditemukan. Marah? Tidak. Saya tanya,"Mana manager on duty?" Setahu saya manager on duty itu stand by 24 jam di hotel, ternyata tidak.
Menanyakan manajer itu bagian terpenting. Yang kita hadapi di lapangan itu adalah petugas paling bawah. Mereka kerap melakukan kesalahan. Bisa jadi itu karena mereka tidak kompeten atau tidak disiplin. Tapi situasinya bisa lebih buruk daripada itu. Mereka hanya menjalankan sebuah sistem yang buruk.
Dalam kedua kasus, mereka tak kompeten atau sistemnya buruk, tanggung jawab yang lebih besar ada pada manajer. Ketika bawahan tidak kompeten, manajer bertanggung jawab untuk melatih mereka. Ketika mereka tidak disiplin, manajer bertanggung jawab untuk membina dan mendisiplinkan mereka. Lebih dari itu, manajer bertanggung jawab atas kinerja mereka.
Karena itu saya minta tanggung jawab ke manajernya. Selalu begitu tindakan saya. Untungnya selama yang saya alami, para manajer ini menyadari kesalahan, dan tidak berdalih macam-macam. Saya biasanya beri tambahan kritik, mengingatkan dia soal apa yang penting dalam pelaksanaan tugas dia.
Ada kalanya justru mereka yang malah petantang-petenteng tidak terima. Saya memilih tidak melanjutkan keluhan. Pernah saya sedang antre check in Batik Air, beberapa tahun yang lalu. Petugas bekerja sambil ngobrol dengan temannya. Padahal antrean sudah panjang. Saya tegur. Eh dia malah melawan dengan suara tinggi.
"Saya memang ngobrol, Pak. Tapi tangan saya tetap kerja. Bapak antre aja," katanya ketus. Ya tidak heran. Ini kan Babik Air. Saya tidak melanjutkan keluhan. Memanggil manajer pun sepertinya tidak akan berefek apa-apa. Ini sudah soal corporate culture.
Bagaimana kalau mereka menolak melayani? Kemarin di Hotel Dafam Wonosobo satpam menolak memberikan kunci mobil saat saya mau mengambil barang di mobil. Kenapa? Saya tidak membawa karcis valet. Apakah saya marah? Tidak. Saya justru senang dia bersikap begitu. Dia sedang menjalankan standar. Itu bagus. Saya sebagai konsumen harus tahu diri.
Ya, itu bagian yang sangat penting. Sebagai kustomer yang membayar mahal sekali pun kita harus tahu bahwa pelayanan yang kita terima itu hanya bisa diberikan kalau ada standar yang dipatuhi. Jangan meminta, apalagi memaksa orang untuk melakukan hal-hal di luar standar pelayanan mereka. Jangan mentang-mentang, jangan pongah karena kita membayar.
Tentu saja saya tak meludahi pegawai atau pelayan. Tidak marah-marah. Tidak merendahkan. Sesederhana karena mereka itu manusia. Kita perlakukan mereka dengan welas asih.
Dosen yang kemarin meludahi kasir itu entah mendapat pendidikan di mana, kok bisa seperti itu kelakuannya.
#INISIATIF
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Ketika petugas security Hotel Aston Solo yang mengurus parkir mobil saya dengan datang memberi tahu bahwa kunci mobil saya belum ditemukan, saya sebenarnya cukup kesal. Saya sudah menunggu lebih dari 30 menit. Tapi dia datang dengan menunduk-nunduk. Dengan perasaan kesal saya akhirnya memilih pesan ojek pulang pergi ke Notosuman.
Saat kembali ternyata kunci mobil saya belum ditemukan. Marah? Tidak. Saya tanya,"Mana manager on duty?" Setahu saya manager on duty itu stand by 24 jam di hotel, ternyata tidak.
Menanyakan manajer itu bagian terpenting. Yang kita hadapi di lapangan itu adalah petugas paling bawah. Mereka kerap melakukan kesalahan. Bisa jadi itu karena mereka tidak kompeten atau tidak disiplin. Tapi situasinya bisa lebih buruk daripada itu. Mereka hanya menjalankan sebuah sistem yang buruk.
Dalam kedua kasus, mereka tak kompeten atau sistemnya buruk, tanggung jawab yang lebih besar ada pada manajer. Ketika bawahan tidak kompeten, manajer bertanggung jawab untuk melatih mereka. Ketika mereka tidak disiplin, manajer bertanggung jawab untuk membina dan mendisiplinkan mereka. Lebih dari itu, manajer bertanggung jawab atas kinerja mereka.
Karena itu saya minta tanggung jawab ke manajernya. Selalu begitu tindakan saya. Untungnya selama yang saya alami, para manajer ini menyadari kesalahan, dan tidak berdalih macam-macam. Saya biasanya beri tambahan kritik, mengingatkan dia soal apa yang penting dalam pelaksanaan tugas dia.
Ada kalanya justru mereka yang malah petantang-petenteng tidak terima. Saya memilih tidak melanjutkan keluhan. Pernah saya sedang antre check in Batik Air, beberapa tahun yang lalu. Petugas bekerja sambil ngobrol dengan temannya. Padahal antrean sudah panjang. Saya tegur. Eh dia malah melawan dengan suara tinggi.
"Saya memang ngobrol, Pak. Tapi tangan saya tetap kerja. Bapak antre aja," katanya ketus. Ya tidak heran. Ini kan Babik Air. Saya tidak melanjutkan keluhan. Memanggil manajer pun sepertinya tidak akan berefek apa-apa. Ini sudah soal corporate culture.
Bagaimana kalau mereka menolak melayani? Kemarin di Hotel Dafam Wonosobo satpam menolak memberikan kunci mobil saat saya mau mengambil barang di mobil. Kenapa? Saya tidak membawa karcis valet. Apakah saya marah? Tidak. Saya justru senang dia bersikap begitu. Dia sedang menjalankan standar. Itu bagus. Saya sebagai konsumen harus tahu diri.
Ya, itu bagian yang sangat penting. Sebagai kustomer yang membayar mahal sekali pun kita harus tahu bahwa pelayanan yang kita terima itu hanya bisa diberikan kalau ada standar yang dipatuhi. Jangan meminta, apalagi memaksa orang untuk melakukan hal-hal di luar standar pelayanan mereka. Jangan mentang-mentang, jangan pongah karena kita membayar.
Tentu saja saya tak meludahi pegawai atau pelayan. Tidak marah-marah. Tidak merendahkan. Sesederhana karena mereka itu manusia. Kita perlakukan mereka dengan welas asih.
Dosen yang kemarin meludahi kasir itu entah mendapat pendidikan di mana, kok bisa seperti itu kelakuannya.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
“Managed Care Dalam Credentialing & Contracting Provider“
Ikuti Webinar Gratis PAMJAKI Edisi Kedua tentang Managed Care Dalam Credentialing & Contracting Provider.
📅 Jumat, 9 Januari 2026
⏰ 10.00 - 11.30 WIB
🎙 Speaker :
1. Prof. Dr. Atikah Adyas, MHP, AAK, CHIA
2. dr. Donni Hendrawan, M.P.H, AAAK, CHRM, CHIA, CGRCP, CGP
3. Arpan Maulana, SE, AAK, CHIA, CHIP, QRGP
Moderator: Iqbal Adiyat, S.T., CPR, AAAK
💻 Link zoom:
https://bit.ly/JoinZoomWebinarEdisiKe-2
💻 Virtual Background
https://bit.ly/VirtualBckgroundEdisi-Ke2
GRATIS!
Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-Webinar-Managedcare2
Ikuti Webinar Gratis PAMJAKI Edisi Kedua tentang Managed Care Dalam Credentialing & Contracting Provider.
📅 Jumat, 9 Januari 2026
⏰ 10.00 - 11.30 WIB
🎙 Speaker :
1. Prof. Dr. Atikah Adyas, MHP, AAK, CHIA
2. dr. Donni Hendrawan, M.P.H, AAAK, CHRM, CHIA, CGRCP, CGP
3. Arpan Maulana, SE, AAK, CHIA, CHIP, QRGP
Moderator: Iqbal Adiyat, S.T., CPR, AAAK
💻 Link zoom:
https://bit.ly/JoinZoomWebinarEdisiKe-2
💻 Virtual Background
https://bit.ly/VirtualBckgroundEdisi-Ke2
GRATIS!
Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000
Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-Webinar-Managedcare2
❤1
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Kenikmatan ada pada keterbatasan, dan kenikmatan itu akan hilang jika batasan itu hilang.
Anda akan menikmati semangkuk mie ayam, anda masih bisa nambah satu mangkuk lagi dan masih menikmatinya, tapi kenikmatan itu akan hilang jika anda makan mangkuk yang ketiga.
Opor ayam itu nikmat, tapi kenikmatan itu akan hilang jika anda memakannya setiap hari, tiga kali sehari.
Hubungan seksual itu nikmat. Coba lakukan itu setiap hari, dua kali sehari. Nikmatnya akan hilang.
Rindu adalah bumbu dari cinta. Cinta menguat dengan adanya rindu. Setiap detik anda bersama, tak ada rindu, yang ada hanya bosan. Dia lagi, dia lagi.
Maka banyak ayat dalam Al-Qur'an yang melarang kita berbuat berlebihan, karena seluruh kenikmatan itu terletak pada keterbatasannya.
#INISIATIF #TGIF
Kenikmatan ada pada keterbatasan, dan kenikmatan itu akan hilang jika batasan itu hilang.
Anda akan menikmati semangkuk mie ayam, anda masih bisa nambah satu mangkuk lagi dan masih menikmatinya, tapi kenikmatan itu akan hilang jika anda makan mangkuk yang ketiga.
Opor ayam itu nikmat, tapi kenikmatan itu akan hilang jika anda memakannya setiap hari, tiga kali sehari.
Hubungan seksual itu nikmat. Coba lakukan itu setiap hari, dua kali sehari. Nikmatnya akan hilang.
Rindu adalah bumbu dari cinta. Cinta menguat dengan adanya rindu. Setiap detik anda bersama, tak ada rindu, yang ada hanya bosan. Dia lagi, dia lagi.
Maka banyak ayat dalam Al-Qur'an yang melarang kita berbuat berlebihan, karena seluruh kenikmatan itu terletak pada keterbatasannya.
#INISIATIF #TGIF
🥰1
Siap-siap adu cepat dan adu tepat di Kuis Trivia COMMIT ATE
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
Stay tuned, pastikan kamu sudah standby sebelum jam mulai. See you on the leaderboard
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
😍1
2026 baru mulai. Belum semuanya rapi, tapi niat sudah disiapkan 💪
Di balik tulisan sederhana, ada harapan, komitmen, dan versi diri yang ingin kami perjuangkan. Karena perubahan besar dimulai dari satu kalimat: "2026 saya akan…”
Kalau kamu, 2026 mau jadi versi apa? Tulis resolusimu di kolom komentar yah karena 3 orang dengan resolusi terbaik/terunik/terlucu/terkeren/ter-terlainnya pilihan minIGLife akan mendapatkan gift menarik🥰 👇
https://www.instagram.com/p/DTSb5dCiV7u/?igsh=MXA3cDBtb3BsbzM3bw==
Di balik tulisan sederhana, ada harapan, komitmen, dan versi diri yang ingin kami perjuangkan. Karena perubahan besar dimulai dari satu kalimat: "2026 saya akan…”
Kalau kamu, 2026 mau jadi versi apa? Tulis resolusimu di kolom komentar yah karena 3 orang dengan resolusi terbaik/terunik/terlucu/terkeren/ter-terlainnya pilihan minIGLife akan mendapatkan gift menarik
https://www.instagram.com/p/DTSb5dCiV7u/?igsh=MXA3cDBtb3BsbzM3bw==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM