Ask The Experts
1.81K subscribers
4.73K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
Forwarded from Dheti Arman
Capek ya, Bu…
😩😩😩😭😭😭


Sudah berusaha jadi istri yang baik,
ibu yang sabar, mengurus rumah, tapi kadang hati tetap lelah, rezeki terasa sempit, dan doa seolah belum juga berjawab.

Padahal bukan karena Ibu kurang usaha. Seringkali yang perlu dibenahi adalah cara membuka pintu pertolongan Allah.

Spesial untukmu, para wanita dan bunda yang sabar & kuat.

Free Webinar : “ Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Selalu Ditolong Allah”
Pola membuka pintu kemudahan, keberkahan, dan rezeki dengan hati yang damai & dada yang lapang.

📅 Minggu, 21 Desember 2025 | 19.30 WIB
🎁 GRATIS & KUOTA TERBATAS

Daftar sekarang KLIK 👉 https://s.id/webinarirt
KHUSUS WANITA/AKHWAT

Karena saat seorang ibu ditolong Allah,
satu rumah ikut kuat, dan satu keluarga dipenuhi berkah.

Terima kasih ya bu
Sudah bertahan💪🏻
Sudah berjuang🫰
Sudah Ibu sekuat ini🫶🏻
❤️🫰❤️🫰❤️
👍1🥰1
Oleh: Meidiana Nuranti

Aku pernah mikir,
“Kenapa ada orang yang hidupnya terus berkembang dan makin tenang,
sementara ada juga yang tiap hari rasanya stuck, capek, dan penuh keluhan?”
Ternyata, jawabannya bukan sekadar soal nasib baik atau rezeki orang tua.
Ada hal yang jauh lebih dalam dari itu. Memilih bertumbuh atau mengeluh
Dari buku Mindset Shift yang pernah aku baca:
“Yang membedakan bukan peluang yang datang, tapi cara berpikir saat peluang itu datang.”

Aku langsung berhenti lama di kalimat itu.
Karena sadar, selama ini… aku pun sering lebih cepat mengeluh ketimbang belajar memahami.
Orang dengan mindset bertumbuh akan berkata:
“Gagal ya? Oke, aku belajar sesuatu hari ini.”
Tapi orang dengan mindset mengeluh akan berkata:
“Ya ampun, kenapa hidup aku susah banget sih?”
Padahal, sama-sama gagal. Yang beda cuma: satu fokus ke pelajaran, satu lagi fokus ke perasaan.

Dulu aku juga sering gitu.
Kalau sesuatu gak sesuai rencana, aku langsung mikir “kayaknya bukan jodohku deh”, atau “aku emang gak bisa”.
Tapi ternyata bukan takdir yang salah.
Yang salah tuh cara pikirku yang belum siap tumbuh.
Mindset bertumbuh itu kayak otot.
Dia gak muncul dari baca teori, tapi dari kebiasaan kecil tiap hari:
Belajar bersyukur terus
berusaha mencari hikmah di tiap kejadian
Gak cepat nyerah
Dan yang paling penting: sadar kalau proses juga bagian dari rezeki

Sementara mindset mengeluh itu kayak racun halus.
Awalnya cuma satu kalimat kecil: “Capek banget, kok gak ada hasilnya sih…”
Tapi lama-lama, dia tumbuh jadi keyakinan bahwa “aku gak akan bisa.”
Dan di titik itu, bukan takdir yang berhenti.
Kita sendiri yang menutup pintu pertumbuhan itu pelan-pelan.
Lalu aku tanya ke diriku sendiri,
“Kalau aku terus mengeluh, bukannya aku sedang melatih otakku untuk pesimis?”
Dan ya… itu yang terjadi.

Otak kita gak bisa bedain antara kenyataan dan ucapan yang kita ulang tiap hari.
Kalau terus bilang “hidupku susah”, ya lama-lama kita akan benar-benar merasa begitu.
Rasa tenang dan berkembang itu gak muncul dari luar.
Dia lahir dari dalam — dari hati yang siap belajar, bukan hanya bereaksi.

Makanya, sekarang tiap kali mau ngeluh, aku berhenti sebentar dan ganti kalimatnya jadi:
“Lagi diuji nih, biar levelku naik.”

Dan anehnya, sejak itu, hidup memang mulai naik sedikit demi sedikit.

Dari situ aku ngerti,
Mindset bertumbuh bukan berarti selalu kuat.
Tapi sadar kalau setiap kesulitan datang untuk mengajarkan sesuatu
Dan mindset mengeluh bukan berarti manusiawi, tapi tanda kita belum berdamai dengan cara Allah mendidik kita
Jadi sekarang, kalau aku lagi ngerasa stuck, aku gak nanya “kenapa hidupku begini?” lagi.
Tapi aku tanya:
“Pelajaran apa yang Allah lagi kasih hari ini?”

Dan pelan-pelan, hidupku berubah.
Bukan karena dunia jadi lebih mudah, tapi karena aku jadi lebih siap

Dari sinilah aku sadar,
perubahan hidup gak dimulai dari rezeki besar, tapi dari mindset yang mau bertumbuh.

Kalau hati dan pikirannya beres,
semua langkah berikutnya insyaAllah ikut ringan.

#INISIATIF
3💯2
Oleh: Dedi Priadi

Kita semua diajarkan untuk mandiri. Bagi sebagian besar orang, 𝘴𝘦𝘭𝘧-𝘳𝘦𝘭𝘪𝘢𝘯𝘤𝘦 adalah harga diri. Namun, semangat yang baik ini sering membawa jebakan tak terlihat: keengganan untuk meminta bantuan. Kita merasa harus menanggung semua beban sendiri, menganggap uluran tangan orang lain sebagai tanda kelemahan pribadi yang memalukan.

Dorongan untuk selalu kuat ini membuat kita menunggu hingga kita benar-benar kehabisan daya—sampai baterai emosi kita merah pekat. Kita menutup diri, menolak dukungan, dan secara efektif menjauhkan diri dari orang-orang yang peduli. Padahal, isolasi ini adalah awal dari masalah yang jauh lebih besar.

Di Jepang, dampak paling tragis dari penolakan dukungan sosial ini terlihat dalam fenomena 𝘬𝘰𝘥𝘰𝘬𝘶𝘴𝘩𝘪 atau "kematian kesepian." Kasus di mana seseorang meninggal sendirian dan jenazahnya ditemukan terlambat berhari-hari atau bahkan bermingu-minggu kemudian. Budaya yang terlalu menghargai kemandirian, ditambah keengganan merepotkan orang lain, menciptakan jurang kesendirian.

Statistik menggarisbawahi kegentingan ini: pada tahun 2024, lebih dari 76.000 orang di Jepang mengalami kodokushi, mayoritas adalah lansia. Angka ini bukan sekadar data, tetapi pengingat pahit bahwa isolasi sosial membunuh, bahkan di negara yang paling maju sekalipun. Kemandirian diri berlebihan telah berubah menjadi bencana sosial.

Maka, pelajaran utama dari fenomena kodokushi bukanlah tentang menjadi lebih kuat, tetapi tentang menjadi lebih bijak. 𝘚𝘦𝘭𝘧-𝘳𝘦𝘭𝘪𝘢𝘯𝘤𝘦 yang sejati bukanlah tentang berpura-pura baik-baik saja hingga Anda jatuh, melainkan tentang mengetahui batas Anda dan proaktif mencari bantuan.

Tindakan berani yang sesungguhnya adalah meminta bantuan saat masalah Anda masih di "level kuning." Meminta bantuan di level kuning adalah langkah pencegahan, menunjukkan bahwa Anda menghargai energi dan kesehatan Anda, daripada menunggu hingga krisis tak tertolong terjadi. Anda tidak sendirian dalam kesulitan. Kita diciptakan untuk saling menyokong.

Ketika Anda mengizinkan diri Anda dibantu, Anda tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi Anda juga memberikan orang lain kesempatan untuk menyayangi Anda. Dengan mengizinkan diri Anda dibantu, Anda justru memberi orang lain kesempatan untuk merasa berguna dan dicintai.

#INISIATIF
2
Patuh karena paham, bukan karena takut 🤝

Di balik setiap kunjungan pemeriksaan, selalu ada cerita, tantangan, dan proses belajar. Petugas pemeriksa bukan cuma soal cek data dan penagihan iuran, tapi tentang membangun komunikasi, membaca situasi, dan menjaga kepercayaan.

Punya pengalaman bareng Petugas Pemeriksa BPJS Kesehatan? Tulis ceritamu di kolom komentar 👇

https://www.instagram.com/p/DSmuvlCiWYp/?igsh=MWIxNGJ5bHhhdDZhZg==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kalau generasi sebelumnya kejar-kejaran buat cepat nikah, Gen Z justru banyak yang belum relate.
Bahkan, nggak sedikit yang mikir kalau menikah itu optional, bukan keharusan.

Buat sebagian Gen Z, pernikahan dianggap investasi yang high risk.
Takut realita pernikahan nggak sesuai ekspektasi, takut ribet sama problem yang datang belakangan.

Daripada overthinking, banyak yang memilih fokus ke diri sendiri dulu, heal, jalanin hidup, dan enjoy their own life.
Kenapa pola pikir ini makin kuat di kalangan Gen Z?

👉 Baca selengkapnya di:
https://nasional.kompas.com/read/2025/12/16/18450031/gen-z--in-this-situation-bukan-takut-jomblo-tapi-takut-menikaH?source=telegram&medium=social
Oleh: Shofia Ishar

Habis nonton Podcast-nya Jay Shetty sama James Sexton (seorang lawyer yang sudah menangani 1000 kasus perceraian selama 25 tahun) tentang kenapa lebih dari 50% orang yang menikah itu bercerai. Sini aku rangkum:

1. Banyak orang yang menyangka bahwa alasan utama orang bercerai adalah masalah finansial dan perselingkuhan. Padahal hal2 tsb hanyalah symptoms. Akar permasalahnnya bukan di situ melainkan: DISCONNECTION.

2. Ketika seseorang merasa disconnected sama pasangannya, maka ketidakharmonisan akan terjadi dan terwujud dalam bentuk konflik: perselingkuhan, pertengkaran2 dengan alasan lain. Disconnection berarti seseorang berhenti merasa dicintai, dilihat, didengar, dan dimengerti.

3. Ketika sudah menikah, orang punya kecenderungan merasa ‘aman’ untuk tidak berusaha lagi. Analogi yang Sexton pakai: menikahi seseorang ibarat memiliki sofa. Ketika sofa-nya masih baru, kita akan jaga baik-baik. Takut bikin kotor dan takut bikin rusak. Tapi ketika sudah berusia agak lama, kita mulai cuek. Kenapa cuek? Karena sudah tidak BARU lagi.

4. Disconnection tadi membuat seseorang merasa tidak ‘dilihat’. Orang berpikir, halah masalah sepele aja bikin cerai?
Contoh: bertengkar ttg cucian piring. Padahal cuci piring itu cuma gejala. Akarnya adalah seseorang merasa tidak dilihat. Bahwa dia sudah kelelahan seharian namun pasangan gagal melihat kesusahan tsb.

5. Perceraian terjadi cepat atau lambat ketika kita sebagai pasangan berhenti melakukan small gestures: perilaku yang membuat seseorang merasa disayang. Kadang bukan soal dibelikan berlian. Bukan wisata ke tempat2 mahal. Tapi memberikan gestur sederhana seperti memberikan sesuatu tanpa harus diminta. Contoh: mencuci piring tanpa diminta, mengambilkan air tanpa diminta, dll. These small and nice gestures matter in relationship.

6. Lalu caranya gimana supaya pernikahan bisa sustain? Perlakukan layaknya KARIR. Jadi harus disiplin! Disiplin untuk connect to one another: weekly check in to one another, and ask:
- am I making you feel loved this week?
- I want you to tell me where I got it wrong?
- tell me what can I do next week to make you feel loved?

Disiplin, terstruktur, dan konsisten. Put in your mind that you wanna be GOOD at this ‘job’ as being a partner.

7. Tadi ada yang nanya ya klo udah disiplin masih cari yang lain gimana?
Oke jadi di podcast ini, perceraian bukan sesuatu yang dianggap ‘salah’ ya. Jadi kita pandang netral dulu.

Di sana dibahas juga, kapan seharusnya kita meninggalkan pernikahan? Yaitu ketika kita sudah memberikan effort yang konsisten untuk memperbaiki hubungan namun pasangan tidak mengindahkannya. In that case, it’s time to leave the marriage.

8. Kurangnya edukasi tentang pernikahan:
- Seseorang harus baca data statistik ttg perceraian dulu untuk berpikir untuk menikah. Marriage is scary, and it’s obviously shown by the data.
- Seseorang harus takut menikah untuk mereka secara hati2 memutuskan dan kalau masih mau menikah, mereka akan berhati-hati mempertahankannya.
- Seseorang harus bertanya dulu ke diri sendiri: emang problem apa sih yang mau gue selesaikan dan solusinya adalah menikah.

9. Edukasi tentang pernikahan harusnya didapat dari:
1) Orang yang pernikahannya gagal.
2) Orang yang pernikahannya sukses.
3) Orang yang menjadi pengacara perceraian.

Nah coba cari orang-orang ini sebelum kalian menikah dan minta input tentang pernikahan. Mereka lebih relevan untuk dijadikan sumber referensi.

10. Terakhir ya:
Pernikahan yang memuaskan adalah di mana seseorang bisa membantu pasangannya untuk menjadi diri mereka yang autentik. Untuk membuat hidup pasangan kita lebih baik. Maka, komitmen seharusnya berwujud disiplin untuk menjaga connection. Bukan sekedar untuk tidak becerai.

Sekian. Semoga bermanfaat 🙏

#INISIATIF #MenujuLongWeekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Selamat Hari Natal bagi Bapak/Ibu dan rekan2 Sobat ATE Selindo yang merayakan 🎄🇲🇨❤️🤝

Credit: KC Makale

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
RESOLUSI 2026 = FITLIFE 💪

Oleh: Dedi Priadi


Pusaran ambisi duniawi sering menyeret kita, memaksa kita mengejar pencapaian yang konkret. Fokus teralih pada tumpukan kekayaan, lupa bahwa aset paling berharga adalah denyut nadi yang stabil dan napas yang lapang. Inilah ironi kehidupan modern.

Seorang yang sehat menginginkan seribu hal, seribu cakrawala untuk ditaklukkan dan seribu pengalaman untuk dirasakan. Pikirannya dipenuhi visi masa depan dan 𝘱𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯 yang tak terbatas, menjadikannya penjelajah sejati di dunia ini.

Namun, ketika sakit datang, seribu keinginan itu mendadak menyusut. Semua fokus terkunci pada satu hal, dan hanya satu keinginannya: pulih, kembali sehat seperti sediakala. Semangat petualangan berganti menjadi perjuangan melawan rasa nyeri dan keterbatasan fisik.

Inilah mengapa kekayaan materi sering disebut sebagai rezeki terendah dalam hierarki kehidupan yang sesungguhnya. Ia hanya bernilai sebagai alat, bukan sebagai tujuan utama dari sebuah eksistensi yang bermakna dan utuh.

Kesehatan adalah rezeki yang utama, fondasi tegak berdirinya segala impian dan harapan kita. Ia adalah izin bagi jiwa untuk menari, bagi raga untuk bekerja, dan bagi pikiran untuk berkreasi tanpa hambatan yang berarti. 𝘔𝘦𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯 𝘤𝘰𝘳𝘱𝘰𝘳𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘰.

Jangan tunggu sakit menjemput untuk kembali mengingat nikmat yang hilang. Jangan biarkan lilin kehidupanmu meredup hanya karena lalai menjaga kesehatan. Sadari, tubuh ini adalah aset teramat berharga yang harus dijaga kemuliaannya.

𝘔𝘢𝘯𝘧𝘢𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘮𝘶.

#INISIATIF #Fitlife
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
5👍1🥰1
Oleh: Muhammad Ahadun

Sadar nggak sih, bahwa ada momen-momen kecil yang sering kita hindari tanpa sadar.

Menunggu lift. Mengantre kopi. Duduk sendirian di kamar. Begitu ada jeda beberapa detik, tangan refleks meraih ponsel. Scroll. Tap. Swipe. Seolah-olah diam adalah ancaman.

Kita hidup sebagai homo smartphonicus, manusia yang alergi terhadap kebosanan.

Padahal, kebosanan bukan kesalahan sistem. Ia adalah sinyal.
Arthur Schopenhauer pernah menulis bahwa setelah kebutuhan terpenuhi, manusia dihadapkan pada kebosanan, sebuah penderitaan sunyi yang mengungkap kekosongan hidup.

“Life swings like a pendulum backward and forward between pain and boredom.” — Arthur Schopenhauer

Di dunia modern, pendulum itu macet di satu sisi: pelarian tanpa henti.

Bosan dianggap masalah yang harus dihilangkan secepat mungkin, bukan pesan yang perlu didengar.

Filsuf Byung-Chul Han melihat lebih jauh. Ia menyebut zaman ini sebagai achievement society, yaitu masyarakat pencapaian yang hiperaktif, selalu sibuk, selalu produktif. Ironisnya, di tengah kelelahan kolektif ini, kita kehilangan kemampuan untuk berpikir dalam.

Menurut Han, kebosanan yang mendalam bukan tanda kemalasan, melainkan puncak relaksasi mental.

“Without deep boredom, there is no creativity.” — Byung-Chul Han

Kebosanan adalah rahim kreativitas.
Ia memberi ruang bagi pikiran untuk mengembara, bagi imajinasi untuk tumbuh tanpa target. Namun budaya hyper attention, berpindah cepat dari satu stimulus ke stimulus lain, membunuh proses itu. Kita sibuk, tapi dangkal. Terhibur, tapi kosong.
Lalu apa yang harus dilakukan saat bosan datang?

Bukan melawannya.
Biarkan ia masuk.
Ada keberanian kecil dalam tidak melakukan apa-apa. Duduk tanpa distraksi. Mengamati napas. Menunggu tanpa ponsel.

Menjalani puasa dopamin. Membuat ritual sederhana yang tidak produktif: berjalan pagi, menyeduh teh, menatap langit sore.

Byung-Chul Han menyebutnya sebagai seni menunggu. Sebuah praktik yang mengembalikan ritme alami waktu. Ketika kita bertahan di ketidaknyamanan awal, kebosanan perlahan berubah menjadi ketenangan. Dari ketenangan itu, kejernihan muncul.

Mungkin yang kita butuhkan bukan hidup yang lebih seru, melainkan jiwa yang cukup tenang untuk merasakan hidup.
Karena saat kita belajar untuk bosan,
kita sedang belajar menjadi manusia kembali.

#INISIATIF #CeritaAkhir2025 #Optimis2026
Terima kasih atas perjuangan dan kerja kerasmu, Duta BPJS Kesehatan 🇲🇨

Sebelum ganti tahun, izinkan diri untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengapresiasi semua proses yang sudah dilalui 🏆

Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025 👇

https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥4🥰2
Cerita dari Watampone. Kalau ceritamu bgmn? Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025 👇

https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM