Ask The Experts
1.81K subscribers
4.73K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
Masih ada waktu sd besok hari untuk ikut meramaikn tebak sang juaranya. Semoga beruntung 🇲🇨

https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MW85djZxdDd6OGR6aQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GAK MAU TURUN DARI MOBIL GARA-GARA LAGU 🎼🎤

Oleh: Budiman Hakim

“OmBud jangan dimatiin dulu radionya. Lagunya enak nih!” teriak Si Bungsu.

Mobil kami baru saja berhenti di parkiran PI Mall. Mesin sudah saya matikan, tangan siap membuka pintu. Tapi anak saya masih terpaku, seakan kursi penumpang berubah menjadi singgasana kecil yang tak boleh diganggu.

Jujur… saya paham betul kenapa dia begitu. Saya pun sering menjalani pengalaman yang sama, duduk di parkiran, tidak bergerak, hanya menunggu satu bagian lagu yang paling saya suka lewat dulu sebelum kembali menjadi manusia dewasa yang harus menghadapi dunia.

Ada sesuatu yang ganjil sekaligus indah tentang parkiran mobil, semacam ruang liminal yang tidak benar-benar termasuk dalam dunia mana pun. Di mal orang-orang berseliweran, di rumah ada daftar tugas yang menagih, di kantor bahkan napas pun kadang harus dijadwalkan.

Tapi begitu mobil berhenti dan radio masih menyala, terciptalah ruang kecil yang seakan memisahkan kita dari semua tekanan itu.

Parkiran berubah menjadi tempat paling aman untuk menjadi manusia paling jujur. Tempat di mana kita boleh nyanyi fals sesuka hati, boleh teriak kecil untuk melepaskan sisa stres, boleh memejamkan mata sambil meresapi lirik tanpa ada yang meminta kita bergerak lebih cepat. Tidak ada ruang lain yang memberikan jeda seintim itu.

Tubuh kita memang dirancang untuk mencintai momen transisi seperti ini. Ketika mesin dimatikan dan perjalanan berakhir, tubuh masih membawa gema ritme jalan raya, sebuah inersia emosional yang membuat kita ingin tetap berada di dalam suasana itu sebentar lebih lama.

Musik memperkuat semuanya. Ada bagian kecil di otak, nucleus accumbens, yang sangat peka terhadap sensasi “menunggu bagian favorit dari lagu”, dan justru di momen itulah dopamin mengalir paling kuat. Bukan ketika reff-nya tiba, tapi saat kita menunggu reff itu datang.

Maka ketika lagu sedang enak-enaknya, kita enggan membuka pintu dan membiarkan dunia masuk kembali. Tubuh dan pikiran sedang bernegosiasi antara realitas yang menunggu dan kebahagiaan kecil yang masih ingin dipertahankan.

Parkiran bukan rumah, bukan mal, bukan jalan, tapi tempat tubuh dan pikiran menemukan ritmenya kembali. Tempat yang memungkinkan seseorang seperti saya dan Si Bungsu menunda dulu peran-peran yang harus kami pakai begitu pintu terbuka.

Begitu kaki menyentuh lantai parkiran, peran sebagai pekerja, orang tua, atau manusia dewasa langsung kembali aktif. Maka wajar kalau kita diam sebentar, karena sedang memperpanjang momen menjadi manusia paling sederhana tanpa tuntutan apa pun.

Detik-detik kecil itulah yang membuat hidup berat ini terasa tetap bisa dijalani. Kekuatan kita sering lahir bukan dari kemenangan besar, tapi dari momen kecil yang kita curi diam-diam, sebelum dunia menagih lebih dari yang sanggup kita beri.

Mobil yang berhenti memberi kesempatan untuk bernapas tanpa perlu alasan, menikmati satu lagu tanpa tergesa, dan mengingat bahwa menjadi manusia tidak selalu harus cepat.

Kalian pasti pernah mengalami hal yang sama, kan?

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
2
DARI SAKIT JADI SAKTI 👏

Oleh: Budiman Hakim

Semua orang pasti pernah mengalami saat hidup terasa sangat rapuh. Misalnya saat putus sama pacar. Kena PHK di kantor. Temen2 menjauh. Kelibet utang yang rasanya mustahil bisa kita lunasi.

Lalu kita duduk di balkon rumah sambil merokok dan merenung lama. Tanpa terasa bibir kita bergumam. “Kenapa nasib gue begini?”

Setelah momen berat itu berhasil kita lalui, cobalah tengok kembali masa itu, dan kita akan memahami sebuah rahasia hidup. Ternyata momen menyedihkan itulah yang justru membuat kita mampu memulai perjalanan baru. Luka itu, yang dulu terasa seperti akhir, ternyata menjadi pintu menuju versi diri yang sama sekali tidak kita duga.

Luka selalu hadir tanpa permisi, tapi rasa perihnya menjadi pecut yang memaksa kita berhenti, menoleh ke dalam, menatap jujur hal-hal yang selama ini kita tutupi dengan tawa, kesibukan, dan pura-pura kuat. Saat itulah perubahan bekerja, pelan, nyaris tak terlihat, seperti akar kecil yang merayap mencari tanahnya sendiri.

Kita mulai bertanya ulang siapa diri kita, apa yang penting, apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang layak diperjuangkan.
Kita mulai menemukan sesuatu yang selama ini tertimbun: keteguhan, keberanian, ketajaman. Kualitas yang hanya muncul ketika pelindung kita runtuh.

Banyak karya terbaik manusia lahir dari ruang luka ini. Musisi menulis nada terindah ketika hati remuk. Penulis memanfaatkan penderitaan itu menjadi energi saat dunia terasa paling gelap. Bukan karena mereka kuat sejak awal, tapi karena mereka memilih untuk tidak kabur dari rasa sakit itu.

Inilah perjalanan manusia dari sakit menjadi sakti. Ini bukan tentang menghapus luka atau memaksakan diri sembuh lebih cepat. Perjalanan itu terjadi ketika kita menerima bahwa rasa sakit bukan musuh, tapi guru yang tidak pandai bicara. Ia mengajar kita dengan cara yang keras namun jujur.

Dan di titik itu kita baru paham: Ternyata luka itu tidak datang untuk menghabisi kita. Ia datang untuk membangunkan bagian diri yang selama ini tertidur. Bagian diri yang sakti.

Pada akhirnya, kita akan berdiri lagi. Mungkin dengan bekas luka, mungkin dengan sedikit gemetar, tapi berdiri sebagai seseorang yang berbeda. Seseorang yang lebih matang, lebih mengerti hidup, lebih kuat dari yang dulu ia kira.

Carl Gustav Jung, psikolog dan psikoanalis asal Swiss juga pernah mengatakan "No tree, it is said, can grow to heaven unless its roots reach down to hell." atau dalam bahasa Indonesianya Pucuk pohon tidak akan pernah mencapai surga kalo akarnya belum menyentuh neraka.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
CHECKMATE MOMENT

Olahraga sejatinya mengajarkan sportifitas bukan rivalitas. Rivalitas itu hanya di atas papan catur saja, karena setelah itu, persaudaraan & kolaborasi tetep jalan sepenuh hati 🤝

Selamat kepada para Juara JKN Inter-Agency Chess League 👏

🏆 Juara 1, 2, & 3
👩‍🦰 Best Woman Player
🎁 Pemenang Doorprize

Kalian bukan hanya pemenang di papan catur, tapi juga bagian dari semangat kolaborasi lintas Instansi (K/L) untuk pelayanan publik yang inklusif dan berkelanjutan 🇲🇨

Sampai jumpa di langkah kolaborasi berikutnya ♜

#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Shofia Ishar

Barusan nonton podcast Mel Robbins tentang planning 2026. Bagus insights-nya. Aku rangkum buat kalian ya..

Supaya kita bisa planning dengan baik, ada baiknya kita bertanya kepada diri kita tentang hal-hal ini:

1. Apa saja low moments kalian selama 2025?
Kenapa pertanyaan ini penting? Karena seringkali kita dituntut untuk cepet-cepet move on dari hal-hal yang bikin kita sedih. Padahal gimana mau move on, klo mencerna aja belum sempat. Akui momen2 ini, tuliskan, proses, dan afirmasi kalo kalian tidak lebay dan lemah. Tapi kalian sedang aware sama diri sendiri.

2. Apa saja high moments kalian di tahun 2025?
Tidak perlu yang wow juga high moments-nya. Bisa aja misal berhasil menurunkan berat badan. Atau berhasil mengubah pola hidup ke arah lebih sehat. In my case, di tahun ini aku tepatnya sejak lulus PhD, aku jadi lebih banyak bisa menemani anak-anak belajar.

3. Apa saja yang kamu ingin berhenti lakukan?
Mungkin ada hal-hal yang gak sesuai value lagi. Atau hal-hal yang sebenernya udah gak penting lagi, ya gpp tinggalin aja. Misal, I wanna stop worrying what other people think of me. Atau stop chasing something yang bikin frustrasi.

4. Apa saja yang kamu tetap ingin lakukan?
Ini bisa refleksi dari high moments tadi. Kalo kamu senang, boleh banget dicoba lakukan. Atau, oh tahun 2025 nyoba jenis olah raga baru dan ternyata ngasih benefit di badan. Atau nyoba style fashion baru. Atau apa aja yang bikin kamu feel good, and you decide to keep doing it.

5. Yang terakhir: Apa yang mau kamu mulai lakukan di tahun depan?
Ini yang biasanya orang tuh cenderung langsung skip ke pertanyaan ini. Pdhl untuk menjawab bertanyaan ini, 4 pertanyaan sebelumnya sebaiknya terjawab dulu.

Nah baru deh kita jawab. Misal, okedeh tahun depan start nulis lagi. Atau oke, tahun depan harus mulai traveling lagi karena banyak tertunda. Atau, tahun depan mau coba kontak calon supervisor untuk studi PhD.

Begitu kira-kira. Moga2 bermanfaat 🙂

#INISIATIF #TGIF
Forwarded from Dheti Arman
Capek ya, Bu…
😩😩😩😭😭😭


Sudah berusaha jadi istri yang baik,
ibu yang sabar, mengurus rumah, tapi kadang hati tetap lelah, rezeki terasa sempit, dan doa seolah belum juga berjawab.

Padahal bukan karena Ibu kurang usaha. Seringkali yang perlu dibenahi adalah cara membuka pintu pertolongan Allah.

Spesial untukmu, para wanita dan bunda yang sabar & kuat.

Free Webinar : “ Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Selalu Ditolong Allah”
Pola membuka pintu kemudahan, keberkahan, dan rezeki dengan hati yang damai & dada yang lapang.

📅 Minggu, 21 Desember 2025 | 19.30 WIB
🎁 GRATIS & KUOTA TERBATAS

Daftar sekarang KLIK 👉 https://s.id/webinarirt
KHUSUS WANITA/AKHWAT

Karena saat seorang ibu ditolong Allah,
satu rumah ikut kuat, dan satu keluarga dipenuhi berkah.

Terima kasih ya bu
Sudah bertahan💪🏻
Sudah berjuang🫰
Sudah Ibu sekuat ini🫶🏻
❤️🫰❤️🫰❤️
👍1🥰1
Oleh: Meidiana Nuranti

Aku pernah mikir,
“Kenapa ada orang yang hidupnya terus berkembang dan makin tenang,
sementara ada juga yang tiap hari rasanya stuck, capek, dan penuh keluhan?”
Ternyata, jawabannya bukan sekadar soal nasib baik atau rezeki orang tua.
Ada hal yang jauh lebih dalam dari itu. Memilih bertumbuh atau mengeluh
Dari buku Mindset Shift yang pernah aku baca:
“Yang membedakan bukan peluang yang datang, tapi cara berpikir saat peluang itu datang.”

Aku langsung berhenti lama di kalimat itu.
Karena sadar, selama ini… aku pun sering lebih cepat mengeluh ketimbang belajar memahami.
Orang dengan mindset bertumbuh akan berkata:
“Gagal ya? Oke, aku belajar sesuatu hari ini.”
Tapi orang dengan mindset mengeluh akan berkata:
“Ya ampun, kenapa hidup aku susah banget sih?”
Padahal, sama-sama gagal. Yang beda cuma: satu fokus ke pelajaran, satu lagi fokus ke perasaan.

Dulu aku juga sering gitu.
Kalau sesuatu gak sesuai rencana, aku langsung mikir “kayaknya bukan jodohku deh”, atau “aku emang gak bisa”.
Tapi ternyata bukan takdir yang salah.
Yang salah tuh cara pikirku yang belum siap tumbuh.
Mindset bertumbuh itu kayak otot.
Dia gak muncul dari baca teori, tapi dari kebiasaan kecil tiap hari:
Belajar bersyukur terus
berusaha mencari hikmah di tiap kejadian
Gak cepat nyerah
Dan yang paling penting: sadar kalau proses juga bagian dari rezeki

Sementara mindset mengeluh itu kayak racun halus.
Awalnya cuma satu kalimat kecil: “Capek banget, kok gak ada hasilnya sih…”
Tapi lama-lama, dia tumbuh jadi keyakinan bahwa “aku gak akan bisa.”
Dan di titik itu, bukan takdir yang berhenti.
Kita sendiri yang menutup pintu pertumbuhan itu pelan-pelan.
Lalu aku tanya ke diriku sendiri,
“Kalau aku terus mengeluh, bukannya aku sedang melatih otakku untuk pesimis?”
Dan ya… itu yang terjadi.

Otak kita gak bisa bedain antara kenyataan dan ucapan yang kita ulang tiap hari.
Kalau terus bilang “hidupku susah”, ya lama-lama kita akan benar-benar merasa begitu.
Rasa tenang dan berkembang itu gak muncul dari luar.
Dia lahir dari dalam — dari hati yang siap belajar, bukan hanya bereaksi.

Makanya, sekarang tiap kali mau ngeluh, aku berhenti sebentar dan ganti kalimatnya jadi:
“Lagi diuji nih, biar levelku naik.”

Dan anehnya, sejak itu, hidup memang mulai naik sedikit demi sedikit.

Dari situ aku ngerti,
Mindset bertumbuh bukan berarti selalu kuat.
Tapi sadar kalau setiap kesulitan datang untuk mengajarkan sesuatu
Dan mindset mengeluh bukan berarti manusiawi, tapi tanda kita belum berdamai dengan cara Allah mendidik kita
Jadi sekarang, kalau aku lagi ngerasa stuck, aku gak nanya “kenapa hidupku begini?” lagi.
Tapi aku tanya:
“Pelajaran apa yang Allah lagi kasih hari ini?”

Dan pelan-pelan, hidupku berubah.
Bukan karena dunia jadi lebih mudah, tapi karena aku jadi lebih siap

Dari sinilah aku sadar,
perubahan hidup gak dimulai dari rezeki besar, tapi dari mindset yang mau bertumbuh.

Kalau hati dan pikirannya beres,
semua langkah berikutnya insyaAllah ikut ringan.

#INISIATIF
3💯2
Oleh: Dedi Priadi

Kita semua diajarkan untuk mandiri. Bagi sebagian besar orang, 𝘴𝘦𝘭𝘧-𝘳𝘦𝘭𝘪𝘢𝘯𝘤𝘦 adalah harga diri. Namun, semangat yang baik ini sering membawa jebakan tak terlihat: keengganan untuk meminta bantuan. Kita merasa harus menanggung semua beban sendiri, menganggap uluran tangan orang lain sebagai tanda kelemahan pribadi yang memalukan.

Dorongan untuk selalu kuat ini membuat kita menunggu hingga kita benar-benar kehabisan daya—sampai baterai emosi kita merah pekat. Kita menutup diri, menolak dukungan, dan secara efektif menjauhkan diri dari orang-orang yang peduli. Padahal, isolasi ini adalah awal dari masalah yang jauh lebih besar.

Di Jepang, dampak paling tragis dari penolakan dukungan sosial ini terlihat dalam fenomena 𝘬𝘰𝘥𝘰𝘬𝘶𝘴𝘩𝘪 atau "kematian kesepian." Kasus di mana seseorang meninggal sendirian dan jenazahnya ditemukan terlambat berhari-hari atau bahkan bermingu-minggu kemudian. Budaya yang terlalu menghargai kemandirian, ditambah keengganan merepotkan orang lain, menciptakan jurang kesendirian.

Statistik menggarisbawahi kegentingan ini: pada tahun 2024, lebih dari 76.000 orang di Jepang mengalami kodokushi, mayoritas adalah lansia. Angka ini bukan sekadar data, tetapi pengingat pahit bahwa isolasi sosial membunuh, bahkan di negara yang paling maju sekalipun. Kemandirian diri berlebihan telah berubah menjadi bencana sosial.

Maka, pelajaran utama dari fenomena kodokushi bukanlah tentang menjadi lebih kuat, tetapi tentang menjadi lebih bijak. 𝘚𝘦𝘭𝘧-𝘳𝘦𝘭𝘪𝘢𝘯𝘤𝘦 yang sejati bukanlah tentang berpura-pura baik-baik saja hingga Anda jatuh, melainkan tentang mengetahui batas Anda dan proaktif mencari bantuan.

Tindakan berani yang sesungguhnya adalah meminta bantuan saat masalah Anda masih di "level kuning." Meminta bantuan di level kuning adalah langkah pencegahan, menunjukkan bahwa Anda menghargai energi dan kesehatan Anda, daripada menunggu hingga krisis tak tertolong terjadi. Anda tidak sendirian dalam kesulitan. Kita diciptakan untuk saling menyokong.

Ketika Anda mengizinkan diri Anda dibantu, Anda tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi Anda juga memberikan orang lain kesempatan untuk menyayangi Anda. Dengan mengizinkan diri Anda dibantu, Anda justru memberi orang lain kesempatan untuk merasa berguna dan dicintai.

#INISIATIF
2
Patuh karena paham, bukan karena takut 🤝

Di balik setiap kunjungan pemeriksaan, selalu ada cerita, tantangan, dan proses belajar. Petugas pemeriksa bukan cuma soal cek data dan penagihan iuran, tapi tentang membangun komunikasi, membaca situasi, dan menjaga kepercayaan.

Punya pengalaman bareng Petugas Pemeriksa BPJS Kesehatan? Tulis ceritamu di kolom komentar 👇

https://www.instagram.com/p/DSmuvlCiWYp/?igsh=MWIxNGJ5bHhhdDZhZg==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM