Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Seorang mahasiswa datang untuk bimbingan. Berbulan-bulan ia ga pernah kelihatan entah ke mana, ternyata belakangan ia sambil bekerja serabutan dan ngojek. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia tertipu investasi bodong dan ia sedang menanggung akibatnya. Ia meminjam uang dari temannya, belasan juta, dengan harapan akan mendapatkan return tinggi. Namun ternyata keuntungan tak ada dan modal tak pernah kembali.
Dua kesalahan yang bisa kita pelajari dari sini. Pertama, kita harus mengenal ragam instrumen investasi beserta karakteristik masing-masing. Aturan dasarnya seperti yang saya tampilkan di gambar ini. Jika ambil instrumen investasi yang aman maka harus siap dengan keuntungan yang rendah, tapi jika ingin mencari keuntungan tinggi maka harus siap dengan risiko kerugiannya, karena risiko dan potensi itu berjalan beriringan.
Setelah kita tahu ragam instrumen investasi kita juga tau bahwa potensi paling tinggi dari suatu instrumen itu paling berapa persen dalam berapa lama. Saham, jika beruntung, analisisnya tepat, masuk dan keluar di saat yang tepat, satu hari bisa berpotensi memberikan keuntungan sampai 25%. Tapi siapapun yang sudah masuk pasar saham pasti tahu bahwa keuntungan segitu jarang banget didapat.
Kesalahan kedua adalah investasi itu harus pakai uang dingin, uang yang kita "lupakan" keberadaannya, uang yang ada dan tidak adanya tidak akan mempengaruhi kebutuhan finansial kita dalam jangka waktu tertentu. Misalkan anda tahu dua atau tiga minggu lagi akan mendapatkan uang, anda sudah mengkalkulasikan bahwa hari ini hingga tanggal itu keuangan sudah cukup dan "uang dingin" itu ga akan dipakai dan tidak berpengaruh pada kebutuhan keuangan anda.
Ini sangat penting karena katakanlah jika anda rugi maka kerugian itu tidak akan mengganggu pos-pos keuangan rutin dan wajib anda keluarkan. Anda tidak perlu menyesuaikan pos keuangan karena (sekali lagi) ada dan tidak adanya uang dingin itu ga mempengaruhi kebutuhan anda.
Yang lebih penting adalah siapkan dana darurat sebesar 6x pengeluaran bulanan dan disimpan di instrumen yang low-moderate risk sebagai jaga-jaga jika ada kebutuhan mendadak, seperti sakit, kecelakaan, kendaraan rusak, ganti rugi, dsb. Ibaratnya seperti orang berjalan di atas tali di ketinggian, ia butuh safe net agar jika ia jatuh tidak langsung membentur tanah.
#INISIATIF
Seorang mahasiswa datang untuk bimbingan. Berbulan-bulan ia ga pernah kelihatan entah ke mana, ternyata belakangan ia sambil bekerja serabutan dan ngojek. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia tertipu investasi bodong dan ia sedang menanggung akibatnya. Ia meminjam uang dari temannya, belasan juta, dengan harapan akan mendapatkan return tinggi. Namun ternyata keuntungan tak ada dan modal tak pernah kembali.
Dua kesalahan yang bisa kita pelajari dari sini. Pertama, kita harus mengenal ragam instrumen investasi beserta karakteristik masing-masing. Aturan dasarnya seperti yang saya tampilkan di gambar ini. Jika ambil instrumen investasi yang aman maka harus siap dengan keuntungan yang rendah, tapi jika ingin mencari keuntungan tinggi maka harus siap dengan risiko kerugiannya, karena risiko dan potensi itu berjalan beriringan.
Setelah kita tahu ragam instrumen investasi kita juga tau bahwa potensi paling tinggi dari suatu instrumen itu paling berapa persen dalam berapa lama. Saham, jika beruntung, analisisnya tepat, masuk dan keluar di saat yang tepat, satu hari bisa berpotensi memberikan keuntungan sampai 25%. Tapi siapapun yang sudah masuk pasar saham pasti tahu bahwa keuntungan segitu jarang banget didapat.
Kesalahan kedua adalah investasi itu harus pakai uang dingin, uang yang kita "lupakan" keberadaannya, uang yang ada dan tidak adanya tidak akan mempengaruhi kebutuhan finansial kita dalam jangka waktu tertentu. Misalkan anda tahu dua atau tiga minggu lagi akan mendapatkan uang, anda sudah mengkalkulasikan bahwa hari ini hingga tanggal itu keuangan sudah cukup dan "uang dingin" itu ga akan dipakai dan tidak berpengaruh pada kebutuhan keuangan anda.
Ini sangat penting karena katakanlah jika anda rugi maka kerugian itu tidak akan mengganggu pos-pos keuangan rutin dan wajib anda keluarkan. Anda tidak perlu menyesuaikan pos keuangan karena (sekali lagi) ada dan tidak adanya uang dingin itu ga mempengaruhi kebutuhan anda.
Yang lebih penting adalah siapkan dana darurat sebesar 6x pengeluaran bulanan dan disimpan di instrumen yang low-moderate risk sebagai jaga-jaga jika ada kebutuhan mendadak, seperti sakit, kecelakaan, kendaraan rusak, ganti rugi, dsb. Ibaratnya seperti orang berjalan di atas tali di ketinggian, ia butuh safe net agar jika ia jatuh tidak langsung membentur tanah.
#INISIATIF
“Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan“
Ikuti webinar PAMJAKI tentang Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan dalam Rangka Universal Health Coverage (UHC) Day🇮🇩
📅 Jumat, 12 Desember 2025
⏰ 10.00 - 11.30 WIB
🎙️ Speaker :
1. Prof. Dr. Atikah Adyas, MHP, AAK, CHIA
2. Arief Syaefudin, SKM, AAK, CHIA
3. Arpan Maulana, SE, AAK, CHIA, CHIP, QRGP
Moderator: dr. A Mahathir Anas
💻 Link zoom:
https://bit.ly/Webinar-JoinZoom
💻 Virtual Background
https://bit.ly/VBWebinar-PAMJAKI
GRATIS!
Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000
Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-WebinarManagedCare
Ikuti webinar PAMJAKI tentang Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan dalam Rangka Universal Health Coverage (UHC) Day
📅 Jumat, 12 Desember 2025
⏰ 10.00 - 11.30 WIB
🎙️ Speaker :
1. Prof. Dr. Atikah Adyas, MHP, AAK, CHIA
2. Arief Syaefudin, SKM, AAK, CHIA
3. Arpan Maulana, SE, AAK, CHIA, CHIP, QRGP
Moderator: dr. A Mahathir Anas
💻 Link zoom:
https://bit.ly/Webinar-JoinZoom
💻 Virtual Background
https://bit.ly/VBWebinar-PAMJAKI
GRATIS!
Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000
Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-WebinarManagedCare
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Program Tutorial dan Ujian Gelar Associate of Managed Care (AMC)
Kegiatan ini ditujukan bagi para profesional, akademisi, dan praktisi kesehatan yang ingin memperdalam pengetahuan (knowledge), memperluas jaringan (networking), serta memperoleh pengakuan profesional di bidang managed care.
🗓 Jadwal Kegiatan
Tutorial: Kamis–Jumat, 18 - 19 Desember 2025
Ujian Modul: Sabtu, 20 Desember 2025
📍 Lokasi
Tutorial: Hotel Horison Rasuna Said, Jakarta Selatan
Ujian: Online
💼 Benefit:
1. Tutorial & ujian untuk 3 modul (Asuransi Kesehatan Nasional, Managed Care A, dan Managed Care B)
2. Mendapatkan gelar Associate of Managed Care (AMC)
💰 Biaya: Rp 4.500.000/orang
(tidak termasuk biaya akomodasi dan transportasi)
🔗 Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut atau dengan memindai QR code pada poster resmi:
👉 https://lnkd.in/gURYEZiX
Informasi lebih lanjut :
📞 0821 30200 212 | ✉️ sekretariat2008@gmail.com
🌐 www.pamjaki.org | IG: @pamjakians | LinkedIn : PAMJAKI
Segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari tenaga ahli yang kompeten di bidang jaminan dan asuransi kesehatan melalui gelar Associate of Managed Care (AMC) bersama PAMJAKI.
Kegiatan ini ditujukan bagi para profesional, akademisi, dan praktisi kesehatan yang ingin memperdalam pengetahuan (knowledge), memperluas jaringan (networking), serta memperoleh pengakuan profesional di bidang managed care.
🗓 Jadwal Kegiatan
Tutorial: Kamis–Jumat, 18 - 19 Desember 2025
Ujian Modul: Sabtu, 20 Desember 2025
📍 Lokasi
Tutorial: Hotel Horison Rasuna Said, Jakarta Selatan
Ujian: Online
💼 Benefit:
1. Tutorial & ujian untuk 3 modul (Asuransi Kesehatan Nasional, Managed Care A, dan Managed Care B)
2. Mendapatkan gelar Associate of Managed Care (AMC)
💰 Biaya: Rp 4.500.000/orang
(tidak termasuk biaya akomodasi dan transportasi)
🔗 Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut atau dengan memindai QR code pada poster resmi:
👉 https://lnkd.in/gURYEZiX
Informasi lebih lanjut :
📞 0821 30200 212 | ✉️ sekretariat2008@gmail.com
🌐 www.pamjaki.org | IG: @pamjakians | LinkedIn : PAMJAKI
Segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari tenaga ahli yang kompeten di bidang jaminan dan asuransi kesehatan melalui gelar Associate of Managed Care (AMC) bersama PAMJAKI.
Forwarded from Andika Nafi
SOSIAL MEDIA KC CIKARANG
📌INSTAGRAM
Internal > https://www.instagram.com/cika_gooo?igsh=MTh3NzZ1bW85MTQ1bw%3D%3D&utm_source=qr
Eksternal > https://www.instagram.com/cikagooo_news?igsh=dDV3bzNvamxyN3h3&utm_source=qr
📌TIKTOK
Khusus EKSTERNAL > https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-927x1As0c6e
📌YOUTUBE
https://youtube.com/@cika_gooo?si=kMwmrMZaTnaOKggu
📌MANTAP
https://bpjskesehatano365.sharepoint.com/sites/mediainternal/CIKARANG
Internal > https://www.instagram.com/cika_gooo?igsh=MTh3NzZ1bW85MTQ1bw%3D%3D&utm_source=qr
Eksternal > https://www.instagram.com/cikagooo_news?igsh=dDV3bzNvamxyN3h3&utm_source=qr
📌TIKTOK
Khusus EKSTERNAL > https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-927x1As0c6e
📌YOUTUBE
https://youtube.com/@cika_gooo?si=kMwmrMZaTnaOKggu
📌MANTAP
https://bpjskesehatano365.sharepoint.com/sites/mediainternal/CIKARANG
TikTok
cikagooo_news di TikTok
@cikagooo_news 1232 Pengikut, 54 Mengikuti, 660 Suka - Tonton video pendek mengagumkan yang dibuat oleh cikagooo_news
Paradoks Akhir Pekan: Antara Lepas dan Terjerat 😴
Oleh: Nadirsyah Hosen
Akhir pekan seharusnya menjadi jeda—ruang untuk berhenti dari hiruk pikuk kerja, menarik napas panjang, dan merasakan kembali denyut hidup yang sering kita abaikan. Tapi bukankah aneh, justru pada hari yang diciptakan untuk istirahat, kita sering merasa lebih lelah? Kita menanti Jumat seolah penebus dosa produktivitas, namun ketika Sabtu tiba, kita terseret arus belanja, daftar tugas rumah, atau antrean panjang menuju “liburan singkat” yang berakhir dengan stres.
Di sanalah paradoks akhir pekan bersemayam: keinginan untuk merebut kembali waktu justru menjebak kita dalam bentuk baru dari keterikatan. Kita ingin bebas dari sistem, tapi malah menciptakan sistem kecil sendiri—agenda hiburan, target kebahagiaan, bahkan tekanan untuk “menikmati waktu dengan maksimal.” Kita berpikir sedang memulihkan diri, padahal hanya mengganti jenis kelelahan: dari mental ke fisik, dari kantor ke kafe, dari layar komputer ke layar ponsel yang sama menyedot perhatian.
Elspeth Thompson dalam The Wonderful Weekend Book menulis bahwa yang hilang dari akhir pekan modern bukanlah waktu, melainkan makna. Kita kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana tanpa rasa bersalah. Kita lupa bahwa kebahagiaan sejati tak selalu datang dari perjalanan jauh, tapi dari kemampuan hadir utuh dalam momen yang dekat: duduk di taman, menatap langit sore, membaca tanpa buru-buru, atau berbincang tanpa tujuan. Semua kegiatan “biasa” yang justru luar biasa bila dilakukan dengan kesadaran penuh.
Namun melawan logika produktivitas bukan perkara mudah. Kita hidup dalam budaya yang menilai diri dari seberapa banyak yang dilakukan, bukan dari seberapa dalam kita merasakan. Padahal yang paling kita butuhkan mungkin bukan aktivitas baru, melainkan ketiadaan aktivitas—ruang sunyi untuk sekadar menjadi manusia, bukan mesin hasil.
Mungkin inilah misi tersembunyi akhir pekan: bukan sekadar dua hari libur, tapi pelajaran tentang cara hidup yang benar. Agar di antara repetisi Senin dan Jumat, kita sempat menemukan ulang diri sendiri—bukan versi yang sibuk mengejar, melainkan yang tahu kapan berhenti, tersenyum, dan merasa cukup.
Tabik,
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Nadirsyah Hosen
Akhir pekan seharusnya menjadi jeda—ruang untuk berhenti dari hiruk pikuk kerja, menarik napas panjang, dan merasakan kembali denyut hidup yang sering kita abaikan. Tapi bukankah aneh, justru pada hari yang diciptakan untuk istirahat, kita sering merasa lebih lelah? Kita menanti Jumat seolah penebus dosa produktivitas, namun ketika Sabtu tiba, kita terseret arus belanja, daftar tugas rumah, atau antrean panjang menuju “liburan singkat” yang berakhir dengan stres.
Di sanalah paradoks akhir pekan bersemayam: keinginan untuk merebut kembali waktu justru menjebak kita dalam bentuk baru dari keterikatan. Kita ingin bebas dari sistem, tapi malah menciptakan sistem kecil sendiri—agenda hiburan, target kebahagiaan, bahkan tekanan untuk “menikmati waktu dengan maksimal.” Kita berpikir sedang memulihkan diri, padahal hanya mengganti jenis kelelahan: dari mental ke fisik, dari kantor ke kafe, dari layar komputer ke layar ponsel yang sama menyedot perhatian.
Elspeth Thompson dalam The Wonderful Weekend Book menulis bahwa yang hilang dari akhir pekan modern bukanlah waktu, melainkan makna. Kita kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana tanpa rasa bersalah. Kita lupa bahwa kebahagiaan sejati tak selalu datang dari perjalanan jauh, tapi dari kemampuan hadir utuh dalam momen yang dekat: duduk di taman, menatap langit sore, membaca tanpa buru-buru, atau berbincang tanpa tujuan. Semua kegiatan “biasa” yang justru luar biasa bila dilakukan dengan kesadaran penuh.
Namun melawan logika produktivitas bukan perkara mudah. Kita hidup dalam budaya yang menilai diri dari seberapa banyak yang dilakukan, bukan dari seberapa dalam kita merasakan. Padahal yang paling kita butuhkan mungkin bukan aktivitas baru, melainkan ketiadaan aktivitas—ruang sunyi untuk sekadar menjadi manusia, bukan mesin hasil.
Mungkin inilah misi tersembunyi akhir pekan: bukan sekadar dua hari libur, tapi pelajaran tentang cara hidup yang benar. Agar di antara repetisi Senin dan Jumat, kita sempat menemukan ulang diri sendiri—bukan versi yang sibuk mengejar, melainkan yang tahu kapan berhenti, tersenyum, dan merasa cukup.
Tabik,
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1👍1
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @YudinaSaputri. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhumah kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin🤲
Selamat jalan, Pahlawan JKN🥀
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @YudinaSaputri. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhumah kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin
Selamat jalan, Pahlawan JKN
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
😢15
Jason Donovan Yusuf 🏅
Oleh: Koko Herii
Usia 18 Tahun, Sang Pemutus Dominasi dari Kolam Renang
Nama Jason Donovan Yusuf mendadak menjadi sorotan di SEA Games 2025. Di usia yang baru menginjak 18 tahun, perenang asal Jakarta ini tampil sebagai simbol kebangkitan renang Indonesia, sekaligus sosok yang menghentikan dominasi panjang Singapura di nomor 100 meter gaya punggung putra.
Pada Rabu malam, 10 Desember 2025, Jason melesat paling cepat menuju dinding finis dengan catatan waktu 55,08 detik. Sebuah torehan emas yang bukan sekadar angka, tetapi juga sejarah. Selama satu dekade terakhir, nomor ini nyaris menjadi “milik pribadi” Quah Zheng Wen dari Singapura. Lima edisi SEA Games beruntun dikuasai, hingga akhirnya Jason datang dan mengubah peta persaingan.
Menariknya, SEA Games 2025 adalah debut Jason di ajang ini. Namun status pendatang baru sama sekali tak mencerminkan performanya. Ia telah mencuri perhatian sejak PON 2024 Aceh–Sumut, ketika masih duduk di bangku SMA. Di ajang nasional tersebut, Jason mengoleksi dua emas, dua perak, dan dua perunggu—sebuah sinyal jelas bahwa Indonesia memiliki talenta besar di lintasan air.
Rekor demi rekor pun ia pecahkan. Di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas kategori KU-1, namanya kini tercatat sebagai pemegang rekor nasional. Konsistensi dan progres waktu yang stabil membuat Jason bukan hanya sekadar “kejutan SEA Games”, melainkan investasi jangka panjang bagi renang Indonesia.
Gaya renangnya efisien, start-nya tajam, dan penempatan tubuhnya nyaris presisi. Jason bukan tipe atlet yang mengandalkan ledakan emosional, melainkan ketenangan dan disiplin—karakter yang jarang dimiliki atlet seusianya.
SEA Games 2025 mungkin baru permulaan. Jason masih akan turun di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas, membuka peluang emas tambahan. Namun lebih dari itu, kehadirannya memberi harapan: bahwa regenerasi renang Indonesia tidak hanya berjalan, tetapi juga siap bersaing di level tertinggi Asia Tenggara.
Di kolam renang, Jason Donovan Yusuf bukan sekadar berenang. Ia sedang menulis bab baru sejarah.
#INISIATIF
Oleh: Koko Herii
Usia 18 Tahun, Sang Pemutus Dominasi dari Kolam Renang
Nama Jason Donovan Yusuf mendadak menjadi sorotan di SEA Games 2025. Di usia yang baru menginjak 18 tahun, perenang asal Jakarta ini tampil sebagai simbol kebangkitan renang Indonesia, sekaligus sosok yang menghentikan dominasi panjang Singapura di nomor 100 meter gaya punggung putra.
Pada Rabu malam, 10 Desember 2025, Jason melesat paling cepat menuju dinding finis dengan catatan waktu 55,08 detik. Sebuah torehan emas yang bukan sekadar angka, tetapi juga sejarah. Selama satu dekade terakhir, nomor ini nyaris menjadi “milik pribadi” Quah Zheng Wen dari Singapura. Lima edisi SEA Games beruntun dikuasai, hingga akhirnya Jason datang dan mengubah peta persaingan.
Menariknya, SEA Games 2025 adalah debut Jason di ajang ini. Namun status pendatang baru sama sekali tak mencerminkan performanya. Ia telah mencuri perhatian sejak PON 2024 Aceh–Sumut, ketika masih duduk di bangku SMA. Di ajang nasional tersebut, Jason mengoleksi dua emas, dua perak, dan dua perunggu—sebuah sinyal jelas bahwa Indonesia memiliki talenta besar di lintasan air.
Rekor demi rekor pun ia pecahkan. Di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas kategori KU-1, namanya kini tercatat sebagai pemegang rekor nasional. Konsistensi dan progres waktu yang stabil membuat Jason bukan hanya sekadar “kejutan SEA Games”, melainkan investasi jangka panjang bagi renang Indonesia.
Gaya renangnya efisien, start-nya tajam, dan penempatan tubuhnya nyaris presisi. Jason bukan tipe atlet yang mengandalkan ledakan emosional, melainkan ketenangan dan disiplin—karakter yang jarang dimiliki atlet seusianya.
SEA Games 2025 mungkin baru permulaan. Jason masih akan turun di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas, membuka peluang emas tambahan. Namun lebih dari itu, kehadirannya memberi harapan: bahwa regenerasi renang Indonesia tidak hanya berjalan, tetapi juga siap bersaing di level tertinggi Asia Tenggara.
Di kolam renang, Jason Donovan Yusuf bukan sekadar berenang. Ia sedang menulis bab baru sejarah.
#INISIATIF
🔥1
RITUAL 🏅
Oleh: TIS Media
Komitmen keseharian Jason Donovan Yusuf, 18, yang dilakukan sejak SMA, sejak memutuskan renang adalah jalan hidupnya:
Frekuensi dan Jenis Latihan
Total Sesi Air: Tujuh sesi per minggu.
Fisik: Latihan fisik (strength training) dilakukan secara terpisah.
Fokus Waktu: Latihan disesuaikan dengan jadwal sekolah, dilakukan sebelum dan sesudah jam pelajaran.
Jadwal Keseharian
Senin
Mulai jam 15.00 (setelah pulang sekolah)
Selasa
Pagi: Bangun pukul 04.00, latihan 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Latihan fisik ringan mandiri di rumah
Rabu
Pagi: Bangun pkl 04.00, latihan pkl 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Gym (strength training). Latihan full body workout (tangan, back, core, kaki) seminggu sekali untuk meningkatkan kekuatan otot.
Kamis
Sore: Latihan mulai jam 15.00, sama dengan Senin.
Jumat
Sore: Latihan sama dengan Senin dan Kamis.
Sabtu
Pagi: Latihan 2 jam, mulai pkl 07.30 sampai 09.30
Sore: Latihan fisik dan air. Latihan fisik 1 jam (mulai 15.00) dilanjutkan berenang lagi mulai pukul 16.30 sampai 17.30.
Minggu
Istirahat full di rumah. Tidak ada latihan.
Pola Istirahat Sbg Kunci Pemulihan
Jam Tidur: Maksimal tidur pkl 21.30 WIB.
Durasi: Minimal 6 sampai 8 jam per hari.
Bangun: Pagi pukul 04.00 (untuk jadwal latihan pagi).
Pola Makan
Sarapan Pertama: Oatmeal, dimakan setelah bangun atau setelah latihan pagi.
Sarapan Kedua: Makanan berat. Dimakan saat jam istirahat pertama di sekolah.
Snack Sore: Telur rebus dua butir sbg asupan protein sebelum latihan sore.
Setelah Latihan: Protein shake, selalu dikonsumsi segera setelah latihan selesai.
Malam: Makan malam plus buah (biasanya dua butir) dikonsumsi setelah makan malam.
Berat badan ideal: Dijaga pada bobot 65 kg sampai 70 kg.
Pada SEA Games 2025, Jason meraih 2 emas 50m backstroke dan 100m backstroke. Pada 100m backstroke, Jason memutus dominasi Quah Zheng Wen🇸🇬 yg terus meraih emas dlm satu dekade terakhir.
#INISIATIF
Oleh: TIS Media
Komitmen keseharian Jason Donovan Yusuf, 18, yang dilakukan sejak SMA, sejak memutuskan renang adalah jalan hidupnya:
Frekuensi dan Jenis Latihan
Total Sesi Air: Tujuh sesi per minggu.
Fisik: Latihan fisik (strength training) dilakukan secara terpisah.
Fokus Waktu: Latihan disesuaikan dengan jadwal sekolah, dilakukan sebelum dan sesudah jam pelajaran.
Jadwal Keseharian
Senin
Mulai jam 15.00 (setelah pulang sekolah)
Selasa
Pagi: Bangun pukul 04.00, latihan 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Latihan fisik ringan mandiri di rumah
Rabu
Pagi: Bangun pkl 04.00, latihan pkl 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Gym (strength training). Latihan full body workout (tangan, back, core, kaki) seminggu sekali untuk meningkatkan kekuatan otot.
Kamis
Sore: Latihan mulai jam 15.00, sama dengan Senin.
Jumat
Sore: Latihan sama dengan Senin dan Kamis.
Sabtu
Pagi: Latihan 2 jam, mulai pkl 07.30 sampai 09.30
Sore: Latihan fisik dan air. Latihan fisik 1 jam (mulai 15.00) dilanjutkan berenang lagi mulai pukul 16.30 sampai 17.30.
Minggu
Istirahat full di rumah. Tidak ada latihan.
Pola Istirahat Sbg Kunci Pemulihan
Jam Tidur: Maksimal tidur pkl 21.30 WIB.
Durasi: Minimal 6 sampai 8 jam per hari.
Bangun: Pagi pukul 04.00 (untuk jadwal latihan pagi).
Pola Makan
Sarapan Pertama: Oatmeal, dimakan setelah bangun atau setelah latihan pagi.
Sarapan Kedua: Makanan berat. Dimakan saat jam istirahat pertama di sekolah.
Snack Sore: Telur rebus dua butir sbg asupan protein sebelum latihan sore.
Setelah Latihan: Protein shake, selalu dikonsumsi segera setelah latihan selesai.
Malam: Makan malam plus buah (biasanya dua butir) dikonsumsi setelah makan malam.
Berat badan ideal: Dijaga pada bobot 65 kg sampai 70 kg.
Pada SEA Games 2025, Jason meraih 2 emas 50m backstroke dan 100m backstroke. Pada 100m backstroke, Jason memutus dominasi Quah Zheng Wen🇸🇬 yg terus meraih emas dlm satu dekade terakhir.
#INISIATIF
PANUTAN 🏅
Oleh: Nadirsyah Hosen
Kita sering mengidolakan seseorang sebagai panutan. Tetapi ketika satu tindakannya tidak sesuai harapan, kita langsung meradang, seolah keteladanan yang kita bayangkan runtuh seketika.
Padahal hidup adalah soal pilihan, termasuk memilih sisi mana yang ingin kita kenang dari seseorang: pencapaiannya yang menginspirasi, atau kekurangannya yang membuatnya tampak jatuh di mata kita.
Ambil contoh Diego Maradona. Kita bisa memilih mengingatnya sebagai pencipta “Gol Tangan Tuhan”, ketika ia dengan sadar melakukan kecurangan di Piala Dunia 1986. Ia merayakan kecurangan itu, wasit mengesahkannya, dan rakyat Inggris tentu punya alasan kuat untuk mengingat sisi buruk tersebut. Gol curang Maradona membuat tim Inggris tersingkir.
Namun dunia lebih memilih untuk mengingat gol keduanya pada pertandingan yang sama, gol yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola. Maradona menggiring bola melewati lima atau enam pemain Inggris dengan kelincahan dan kontrol yang nyaris tak masuk akal. Pada momen itu, ia tampil sebagai seorang jenius sepak bola.
Satu pertandingan, dua sisi: sebuah kesalahan dan sebuah kejayaan. Lalu, yang mana yang ingin kita kenang?
Mungkin yang keliru bukan Maradona, tetapi cara kita membingkai kebesaran seorang panutan. Kita kerap lupa bahwa mereka juga manusia, memiliki potensi untuk tergelincir, sekaligus kemampuan untuk bangkit dan menciptakan kebaikan.
Itu sebabnya salah satu tafsir terhadap firman Allah QS Baqarah: 222 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertaubat”—adalah bahwa Allah menyukai hamba yang pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak berhenti kembali, yang taubatnya berulang-ulang karena ia sadar bahwa dirinya manusia yang mudah jatuh tetapi tak pernah menyerah untuk bangkit.
Dengan kata lain, kebesaran itu bukan milik yang tidak pernah salah, tetapi milik mereka yang tidak berhenti memperbaiki diri.
#INISIATIF
Oleh: Nadirsyah Hosen
Kita sering mengidolakan seseorang sebagai panutan. Tetapi ketika satu tindakannya tidak sesuai harapan, kita langsung meradang, seolah keteladanan yang kita bayangkan runtuh seketika.
Padahal hidup adalah soal pilihan, termasuk memilih sisi mana yang ingin kita kenang dari seseorang: pencapaiannya yang menginspirasi, atau kekurangannya yang membuatnya tampak jatuh di mata kita.
Ambil contoh Diego Maradona. Kita bisa memilih mengingatnya sebagai pencipta “Gol Tangan Tuhan”, ketika ia dengan sadar melakukan kecurangan di Piala Dunia 1986. Ia merayakan kecurangan itu, wasit mengesahkannya, dan rakyat Inggris tentu punya alasan kuat untuk mengingat sisi buruk tersebut. Gol curang Maradona membuat tim Inggris tersingkir.
Namun dunia lebih memilih untuk mengingat gol keduanya pada pertandingan yang sama, gol yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola. Maradona menggiring bola melewati lima atau enam pemain Inggris dengan kelincahan dan kontrol yang nyaris tak masuk akal. Pada momen itu, ia tampil sebagai seorang jenius sepak bola.
Satu pertandingan, dua sisi: sebuah kesalahan dan sebuah kejayaan. Lalu, yang mana yang ingin kita kenang?
Mungkin yang keliru bukan Maradona, tetapi cara kita membingkai kebesaran seorang panutan. Kita kerap lupa bahwa mereka juga manusia, memiliki potensi untuk tergelincir, sekaligus kemampuan untuk bangkit dan menciptakan kebaikan.
Itu sebabnya salah satu tafsir terhadap firman Allah QS Baqarah: 222 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertaubat”—adalah bahwa Allah menyukai hamba yang pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak berhenti kembali, yang taubatnya berulang-ulang karena ia sadar bahwa dirinya manusia yang mudah jatuh tetapi tak pernah menyerah untuk bangkit.
Dengan kata lain, kebesaran itu bukan milik yang tidak pernah salah, tetapi milik mereka yang tidak berhenti memperbaiki diri.
#INISIATIF
❤2
Produktif di kantor, kreatif di komunitas 🎧
BPJS Kesehatan Music Community hadir sebagai ruang kolaborasi bagi pegawai yang menjadikan musik sebagai medium ekspresi dan koneksi🤝 🇲🇨
Yuk kenalan lebih dekat lewat carousel ini
https://www.instagram.com/p/DSUJgRxCV1n/?igsh=MWZxd3I1OW0yM3kyZQ==
BPJS Kesehatan Music Community hadir sebagai ruang kolaborasi bagi pegawai yang menjadikan musik sebagai medium ekspresi dan koneksi
Yuk kenalan lebih dekat lewat carousel ini
https://www.instagram.com/p/DSUJgRxCV1n/?igsh=MWZxd3I1OW0yM3kyZQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥3
Masih ada waktu sd besok hari untuk ikut meramaikn tebak sang juaranya. Semoga beruntung 🇲🇨
https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MW85djZxdDd6OGR6aQ==
https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MW85djZxdDd6OGR6aQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GAK MAU TURUN DARI MOBIL GARA-GARA LAGU 🎼 🎤
Oleh: Budiman Hakim
“OmBud jangan dimatiin dulu radionya. Lagunya enak nih!” teriak Si Bungsu.
Mobil kami baru saja berhenti di parkiran PI Mall. Mesin sudah saya matikan, tangan siap membuka pintu. Tapi anak saya masih terpaku, seakan kursi penumpang berubah menjadi singgasana kecil yang tak boleh diganggu.
Jujur… saya paham betul kenapa dia begitu. Saya pun sering menjalani pengalaman yang sama, duduk di parkiran, tidak bergerak, hanya menunggu satu bagian lagu yang paling saya suka lewat dulu sebelum kembali menjadi manusia dewasa yang harus menghadapi dunia.
Ada sesuatu yang ganjil sekaligus indah tentang parkiran mobil, semacam ruang liminal yang tidak benar-benar termasuk dalam dunia mana pun. Di mal orang-orang berseliweran, di rumah ada daftar tugas yang menagih, di kantor bahkan napas pun kadang harus dijadwalkan.
Tapi begitu mobil berhenti dan radio masih menyala, terciptalah ruang kecil yang seakan memisahkan kita dari semua tekanan itu.
Parkiran berubah menjadi tempat paling aman untuk menjadi manusia paling jujur. Tempat di mana kita boleh nyanyi fals sesuka hati, boleh teriak kecil untuk melepaskan sisa stres, boleh memejamkan mata sambil meresapi lirik tanpa ada yang meminta kita bergerak lebih cepat. Tidak ada ruang lain yang memberikan jeda seintim itu.
Tubuh kita memang dirancang untuk mencintai momen transisi seperti ini. Ketika mesin dimatikan dan perjalanan berakhir, tubuh masih membawa gema ritme jalan raya, sebuah inersia emosional yang membuat kita ingin tetap berada di dalam suasana itu sebentar lebih lama.
Musik memperkuat semuanya. Ada bagian kecil di otak, nucleus accumbens, yang sangat peka terhadap sensasi “menunggu bagian favorit dari lagu”, dan justru di momen itulah dopamin mengalir paling kuat. Bukan ketika reff-nya tiba, tapi saat kita menunggu reff itu datang.
Maka ketika lagu sedang enak-enaknya, kita enggan membuka pintu dan membiarkan dunia masuk kembali. Tubuh dan pikiran sedang bernegosiasi antara realitas yang menunggu dan kebahagiaan kecil yang masih ingin dipertahankan.
Parkiran bukan rumah, bukan mal, bukan jalan, tapi tempat tubuh dan pikiran menemukan ritmenya kembali. Tempat yang memungkinkan seseorang seperti saya dan Si Bungsu menunda dulu peran-peran yang harus kami pakai begitu pintu terbuka.
Begitu kaki menyentuh lantai parkiran, peran sebagai pekerja, orang tua, atau manusia dewasa langsung kembali aktif. Maka wajar kalau kita diam sebentar, karena sedang memperpanjang momen menjadi manusia paling sederhana tanpa tuntutan apa pun.
Detik-detik kecil itulah yang membuat hidup berat ini terasa tetap bisa dijalani. Kekuatan kita sering lahir bukan dari kemenangan besar, tapi dari momen kecil yang kita curi diam-diam, sebelum dunia menagih lebih dari yang sanggup kita beri.
Mobil yang berhenti memberi kesempatan untuk bernapas tanpa perlu alasan, menikmati satu lagu tanpa tergesa, dan mengingat bahwa menjadi manusia tidak selalu harus cepat.
Kalian pasti pernah mengalami hal yang sama, kan?
#INISIATIF
Oleh: Budiman Hakim
“OmBud jangan dimatiin dulu radionya. Lagunya enak nih!” teriak Si Bungsu.
Mobil kami baru saja berhenti di parkiran PI Mall. Mesin sudah saya matikan, tangan siap membuka pintu. Tapi anak saya masih terpaku, seakan kursi penumpang berubah menjadi singgasana kecil yang tak boleh diganggu.
Jujur… saya paham betul kenapa dia begitu. Saya pun sering menjalani pengalaman yang sama, duduk di parkiran, tidak bergerak, hanya menunggu satu bagian lagu yang paling saya suka lewat dulu sebelum kembali menjadi manusia dewasa yang harus menghadapi dunia.
Ada sesuatu yang ganjil sekaligus indah tentang parkiran mobil, semacam ruang liminal yang tidak benar-benar termasuk dalam dunia mana pun. Di mal orang-orang berseliweran, di rumah ada daftar tugas yang menagih, di kantor bahkan napas pun kadang harus dijadwalkan.
Tapi begitu mobil berhenti dan radio masih menyala, terciptalah ruang kecil yang seakan memisahkan kita dari semua tekanan itu.
Parkiran berubah menjadi tempat paling aman untuk menjadi manusia paling jujur. Tempat di mana kita boleh nyanyi fals sesuka hati, boleh teriak kecil untuk melepaskan sisa stres, boleh memejamkan mata sambil meresapi lirik tanpa ada yang meminta kita bergerak lebih cepat. Tidak ada ruang lain yang memberikan jeda seintim itu.
Tubuh kita memang dirancang untuk mencintai momen transisi seperti ini. Ketika mesin dimatikan dan perjalanan berakhir, tubuh masih membawa gema ritme jalan raya, sebuah inersia emosional yang membuat kita ingin tetap berada di dalam suasana itu sebentar lebih lama.
Musik memperkuat semuanya. Ada bagian kecil di otak, nucleus accumbens, yang sangat peka terhadap sensasi “menunggu bagian favorit dari lagu”, dan justru di momen itulah dopamin mengalir paling kuat. Bukan ketika reff-nya tiba, tapi saat kita menunggu reff itu datang.
Maka ketika lagu sedang enak-enaknya, kita enggan membuka pintu dan membiarkan dunia masuk kembali. Tubuh dan pikiran sedang bernegosiasi antara realitas yang menunggu dan kebahagiaan kecil yang masih ingin dipertahankan.
Parkiran bukan rumah, bukan mal, bukan jalan, tapi tempat tubuh dan pikiran menemukan ritmenya kembali. Tempat yang memungkinkan seseorang seperti saya dan Si Bungsu menunda dulu peran-peran yang harus kami pakai begitu pintu terbuka.
Begitu kaki menyentuh lantai parkiran, peran sebagai pekerja, orang tua, atau manusia dewasa langsung kembali aktif. Maka wajar kalau kita diam sebentar, karena sedang memperpanjang momen menjadi manusia paling sederhana tanpa tuntutan apa pun.
Detik-detik kecil itulah yang membuat hidup berat ini terasa tetap bisa dijalani. Kekuatan kita sering lahir bukan dari kemenangan besar, tapi dari momen kecil yang kita curi diam-diam, sebelum dunia menagih lebih dari yang sanggup kita beri.
Mobil yang berhenti memberi kesempatan untuk bernapas tanpa perlu alasan, menikmati satu lagu tanpa tergesa, dan mengingat bahwa menjadi manusia tidak selalu harus cepat.
Kalian pasti pernah mengalami hal yang sama, kan?
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2
DARI SAKIT JADI SAKTI 👏
Oleh: Budiman Hakim
Semua orang pasti pernah mengalami saat hidup terasa sangat rapuh. Misalnya saat putus sama pacar. Kena PHK di kantor. Temen2 menjauh. Kelibet utang yang rasanya mustahil bisa kita lunasi.
Lalu kita duduk di balkon rumah sambil merokok dan merenung lama. Tanpa terasa bibir kita bergumam. “Kenapa nasib gue begini?”
Setelah momen berat itu berhasil kita lalui, cobalah tengok kembali masa itu, dan kita akan memahami sebuah rahasia hidup. Ternyata momen menyedihkan itulah yang justru membuat kita mampu memulai perjalanan baru. Luka itu, yang dulu terasa seperti akhir, ternyata menjadi pintu menuju versi diri yang sama sekali tidak kita duga.
Luka selalu hadir tanpa permisi, tapi rasa perihnya menjadi pecut yang memaksa kita berhenti, menoleh ke dalam, menatap jujur hal-hal yang selama ini kita tutupi dengan tawa, kesibukan, dan pura-pura kuat. Saat itulah perubahan bekerja, pelan, nyaris tak terlihat, seperti akar kecil yang merayap mencari tanahnya sendiri.
Kita mulai bertanya ulang siapa diri kita, apa yang penting, apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang layak diperjuangkan.
Kita mulai menemukan sesuatu yang selama ini tertimbun: keteguhan, keberanian, ketajaman. Kualitas yang hanya muncul ketika pelindung kita runtuh.
Banyak karya terbaik manusia lahir dari ruang luka ini. Musisi menulis nada terindah ketika hati remuk. Penulis memanfaatkan penderitaan itu menjadi energi saat dunia terasa paling gelap. Bukan karena mereka kuat sejak awal, tapi karena mereka memilih untuk tidak kabur dari rasa sakit itu.
Inilah perjalanan manusia dari sakit menjadi sakti. Ini bukan tentang menghapus luka atau memaksakan diri sembuh lebih cepat. Perjalanan itu terjadi ketika kita menerima bahwa rasa sakit bukan musuh, tapi guru yang tidak pandai bicara. Ia mengajar kita dengan cara yang keras namun jujur.
Dan di titik itu kita baru paham: Ternyata luka itu tidak datang untuk menghabisi kita. Ia datang untuk membangunkan bagian diri yang selama ini tertidur. Bagian diri yang sakti.
Pada akhirnya, kita akan berdiri lagi. Mungkin dengan bekas luka, mungkin dengan sedikit gemetar, tapi berdiri sebagai seseorang yang berbeda. Seseorang yang lebih matang, lebih mengerti hidup, lebih kuat dari yang dulu ia kira.
Carl Gustav Jung, psikolog dan psikoanalis asal Swiss juga pernah mengatakan "No tree, it is said, can grow to heaven unless its roots reach down to hell." atau dalam bahasa Indonesianya Pucuk pohon tidak akan pernah mencapai surga kalo akarnya belum menyentuh neraka.
#INISIATIF
Oleh: Budiman Hakim
Semua orang pasti pernah mengalami saat hidup terasa sangat rapuh. Misalnya saat putus sama pacar. Kena PHK di kantor. Temen2 menjauh. Kelibet utang yang rasanya mustahil bisa kita lunasi.
Lalu kita duduk di balkon rumah sambil merokok dan merenung lama. Tanpa terasa bibir kita bergumam. “Kenapa nasib gue begini?”
Setelah momen berat itu berhasil kita lalui, cobalah tengok kembali masa itu, dan kita akan memahami sebuah rahasia hidup. Ternyata momen menyedihkan itulah yang justru membuat kita mampu memulai perjalanan baru. Luka itu, yang dulu terasa seperti akhir, ternyata menjadi pintu menuju versi diri yang sama sekali tidak kita duga.
Luka selalu hadir tanpa permisi, tapi rasa perihnya menjadi pecut yang memaksa kita berhenti, menoleh ke dalam, menatap jujur hal-hal yang selama ini kita tutupi dengan tawa, kesibukan, dan pura-pura kuat. Saat itulah perubahan bekerja, pelan, nyaris tak terlihat, seperti akar kecil yang merayap mencari tanahnya sendiri.
Kita mulai bertanya ulang siapa diri kita, apa yang penting, apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang layak diperjuangkan.
Kita mulai menemukan sesuatu yang selama ini tertimbun: keteguhan, keberanian, ketajaman. Kualitas yang hanya muncul ketika pelindung kita runtuh.
Banyak karya terbaik manusia lahir dari ruang luka ini. Musisi menulis nada terindah ketika hati remuk. Penulis memanfaatkan penderitaan itu menjadi energi saat dunia terasa paling gelap. Bukan karena mereka kuat sejak awal, tapi karena mereka memilih untuk tidak kabur dari rasa sakit itu.
Inilah perjalanan manusia dari sakit menjadi sakti. Ini bukan tentang menghapus luka atau memaksakan diri sembuh lebih cepat. Perjalanan itu terjadi ketika kita menerima bahwa rasa sakit bukan musuh, tapi guru yang tidak pandai bicara. Ia mengajar kita dengan cara yang keras namun jujur.
Dan di titik itu kita baru paham: Ternyata luka itu tidak datang untuk menghabisi kita. Ia datang untuk membangunkan bagian diri yang selama ini tertidur. Bagian diri yang sakti.
Pada akhirnya, kita akan berdiri lagi. Mungkin dengan bekas luka, mungkin dengan sedikit gemetar, tapi berdiri sebagai seseorang yang berbeda. Seseorang yang lebih matang, lebih mengerti hidup, lebih kuat dari yang dulu ia kira.
Carl Gustav Jung, psikolog dan psikoanalis asal Swiss juga pernah mengatakan "No tree, it is said, can grow to heaven unless its roots reach down to hell." atau dalam bahasa Indonesianya Pucuk pohon tidak akan pernah mencapai surga kalo akarnya belum menyentuh neraka.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Sobat ATE udah pada dengar lagu baru Pak Dirut BPJS Kesehatan gak? 🎤
Jangan lupa like, share serta tinggalkan komentarnya yah
https://youtu.be/91QLwJlM6dY?si=kszhVBVjtnZiSL7o
Jangan lupa like, share serta tinggalkan komentarnya yah
https://youtu.be/91QLwJlM6dY?si=kszhVBVjtnZiSL7o
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
TRANSFORMASI DIGITAL - GHUFRON MUKTI
Download aplikasi Mobile JKN di:
play store: https://play.google.com/store/apps/details?id=app.bpjs.mobile
App Store: https://apps.apple.com/id/app/mobile-jkn/id1237601115?l=id
Informasi, pertanyaan atau saran/ aspirasi seputar JKN-KIS dapat menghubungi…
play store: https://play.google.com/store/apps/details?id=app.bpjs.mobile
App Store: https://apps.apple.com/id/app/mobile-jkn/id1237601115?l=id
Informasi, pertanyaan atau saran/ aspirasi seputar JKN-KIS dapat menghubungi…
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Olahraga sejatinya mengajarkan sportifitas bukan rivalitas. Rivalitas itu hanya di atas papan catur saja, karena setelah itu, persaudaraan & kolaborasi tetep jalan sepenuh hati
Selamat kepada para Juara JKN Inter-Agency Chess League
🏆 Juara 1, 2, & 3
👩🦰 Best Woman Player
🎁 Pemenang Doorprize
Kalian bukan hanya pemenang di papan catur, tapi juga bagian dari semangat kolaborasi lintas Instansi (K/L) untuk pelayanan publik yang inklusif dan berkelanjutan
Sampai jumpa di langkah kolaborasi berikutnya ♜
#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Shofia Ishar
Barusan nonton podcast Mel Robbins tentang planning 2026. Bagus insights-nya. Aku rangkum buat kalian ya..
Supaya kita bisa planning dengan baik, ada baiknya kita bertanya kepada diri kita tentang hal-hal ini:
1. Apa saja low moments kalian selama 2025?
Kenapa pertanyaan ini penting? Karena seringkali kita dituntut untuk cepet-cepet move on dari hal-hal yang bikin kita sedih. Padahal gimana mau move on, klo mencerna aja belum sempat. Akui momen2 ini, tuliskan, proses, dan afirmasi kalo kalian tidak lebay dan lemah. Tapi kalian sedang aware sama diri sendiri.
2. Apa saja high moments kalian di tahun 2025?
Tidak perlu yang wow juga high moments-nya. Bisa aja misal berhasil menurunkan berat badan. Atau berhasil mengubah pola hidup ke arah lebih sehat. In my case, di tahun ini aku tepatnya sejak lulus PhD, aku jadi lebih banyak bisa menemani anak-anak belajar.
3. Apa saja yang kamu ingin berhenti lakukan?
Mungkin ada hal-hal yang gak sesuai value lagi. Atau hal-hal yang sebenernya udah gak penting lagi, ya gpp tinggalin aja. Misal, I wanna stop worrying what other people think of me. Atau stop chasing something yang bikin frustrasi.
4. Apa saja yang kamu tetap ingin lakukan?
Ini bisa refleksi dari high moments tadi. Kalo kamu senang, boleh banget dicoba lakukan. Atau, oh tahun 2025 nyoba jenis olah raga baru dan ternyata ngasih benefit di badan. Atau nyoba style fashion baru. Atau apa aja yang bikin kamu feel good, and you decide to keep doing it.
5. Yang terakhir: Apa yang mau kamu mulai lakukan di tahun depan?
Ini yang biasanya orang tuh cenderung langsung skip ke pertanyaan ini. Pdhl untuk menjawab bertanyaan ini, 4 pertanyaan sebelumnya sebaiknya terjawab dulu.
Nah baru deh kita jawab. Misal, okedeh tahun depan start nulis lagi. Atau oke, tahun depan harus mulai traveling lagi karena banyak tertunda. Atau, tahun depan mau coba kontak calon supervisor untuk studi PhD.
Begitu kira-kira. Moga2 bermanfaat 🙂
#INISIATIF #TGIF
Barusan nonton podcast Mel Robbins tentang planning 2026. Bagus insights-nya. Aku rangkum buat kalian ya..
Supaya kita bisa planning dengan baik, ada baiknya kita bertanya kepada diri kita tentang hal-hal ini:
1. Apa saja low moments kalian selama 2025?
Kenapa pertanyaan ini penting? Karena seringkali kita dituntut untuk cepet-cepet move on dari hal-hal yang bikin kita sedih. Padahal gimana mau move on, klo mencerna aja belum sempat. Akui momen2 ini, tuliskan, proses, dan afirmasi kalo kalian tidak lebay dan lemah. Tapi kalian sedang aware sama diri sendiri.
2. Apa saja high moments kalian di tahun 2025?
Tidak perlu yang wow juga high moments-nya. Bisa aja misal berhasil menurunkan berat badan. Atau berhasil mengubah pola hidup ke arah lebih sehat. In my case, di tahun ini aku tepatnya sejak lulus PhD, aku jadi lebih banyak bisa menemani anak-anak belajar.
3. Apa saja yang kamu ingin berhenti lakukan?
Mungkin ada hal-hal yang gak sesuai value lagi. Atau hal-hal yang sebenernya udah gak penting lagi, ya gpp tinggalin aja. Misal, I wanna stop worrying what other people think of me. Atau stop chasing something yang bikin frustrasi.
4. Apa saja yang kamu tetap ingin lakukan?
Ini bisa refleksi dari high moments tadi. Kalo kamu senang, boleh banget dicoba lakukan. Atau, oh tahun 2025 nyoba jenis olah raga baru dan ternyata ngasih benefit di badan. Atau nyoba style fashion baru. Atau apa aja yang bikin kamu feel good, and you decide to keep doing it.
5. Yang terakhir: Apa yang mau kamu mulai lakukan di tahun depan?
Ini yang biasanya orang tuh cenderung langsung skip ke pertanyaan ini. Pdhl untuk menjawab bertanyaan ini, 4 pertanyaan sebelumnya sebaiknya terjawab dulu.
Nah baru deh kita jawab. Misal, okedeh tahun depan start nulis lagi. Atau oke, tahun depan harus mulai traveling lagi karena banyak tertunda. Atau, tahun depan mau coba kontak calon supervisor untuk studi PhD.
Begitu kira-kira. Moga2 bermanfaat 🙂
#INISIATIF #TGIF
Forwarded from Dheti Arman
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Dheti Arman
Capek ya, Bu…
😩😩😩😭😭😭
Sudah berusaha jadi istri yang baik,
ibu yang sabar, mengurus rumah, tapi kadang hati tetap lelah, rezeki terasa sempit, dan doa seolah belum juga berjawab.
Padahal bukan karena Ibu kurang usaha. Seringkali yang perlu dibenahi adalah cara membuka pintu pertolongan Allah.
Spesial untukmu, para wanita dan bunda yang sabar & kuat.
✨ Free Webinar : “ Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Selalu Ditolong Allah”
Pola membuka pintu kemudahan, keberkahan, dan rezeki dengan hati yang damai & dada yang lapang.
📅 Minggu, 21 Desember 2025 | 19.30 WIB
🎁 GRATIS & KUOTA TERBATAS
Daftar sekarang KLIK 👉 https://s.id/webinarirt
KHUSUS WANITA/AKHWAT
Karena saat seorang ibu ditolong Allah,
satu rumah ikut kuat, dan satu keluarga dipenuhi berkah.
Terima kasih ya bu
Sudah bertahan💪🏻
Sudah berjuang🫰
Sudah Ibu sekuat ini🫶🏻
❤️🫰❤️🫰❤️
😩😩😩😭😭😭
Sudah berusaha jadi istri yang baik,
ibu yang sabar, mengurus rumah, tapi kadang hati tetap lelah, rezeki terasa sempit, dan doa seolah belum juga berjawab.
Padahal bukan karena Ibu kurang usaha. Seringkali yang perlu dibenahi adalah cara membuka pintu pertolongan Allah.
Spesial untukmu, para wanita dan bunda yang sabar & kuat.
✨ Free Webinar : “ Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Selalu Ditolong Allah”
Pola membuka pintu kemudahan, keberkahan, dan rezeki dengan hati yang damai & dada yang lapang.
📅 Minggu, 21 Desember 2025 | 19.30 WIB
🎁 GRATIS & KUOTA TERBATAS
Daftar sekarang KLIK 👉 https://s.id/webinarirt
KHUSUS WANITA/AKHWAT
Karena saat seorang ibu ditolong Allah,
satu rumah ikut kuat, dan satu keluarga dipenuhi berkah.
Terima kasih ya bu
Sudah bertahan💪🏻
Sudah berjuang🫰
Sudah Ibu sekuat ini🫶🏻
❤️🫰❤️🫰❤️
👍1🥰1