Jabatan yang Tak Abadi 🤝
Oleh: Nadirsyah Hosen
Jabatan sering kali diperlakukan seolah mahkota abadi. Kursi empuk, tanda pangkat, serta hiruk-pikuk penghormatan membuat orang merasa dirinya istimewa. Namun sejatinya, jabatan hanyalah kontrak singkat, titipan sementara yang kapan saja bisa berakhir. Hari ini disambut dengan karangan bunga, besok bisa ditinggalkan dengan sepi dan dilupakan.
Machiavelli pernah menasihati penguasa untuk cerdik menjaga kursi, tetapi ia pun mengakui: kekuasaan ditentukan oleh fortuna—nasib yang mudah berbalik. Hobbes menegaskan bahwa legitimasi jabatan hidup dari kepercayaan rakyat; begitu kepercayaan hilang, jabatan pun kehilangan daya. Sementara Foucault mengingatkan, jabatan bukanlah milik permanen, melainkan bagian dari jaringan relasi kuasa yang terus bergeser.
Tradisi Islam juga menegaskan kefanaan jabatan. Al-Ghazali menyebut jabatan sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar kehormatan. Ibn Khaldun menggambarkan jabatan dan kekuasaan sebagai siklus: lahir, berjaya, lalu rapuh. Tiga generasi cukup untuk meruntuhkan sebuah dinasti, apalagi hanya satu periode jabatan.
Sejarah membuktikan, tidak ada jabatan yang abadi. Kaisar, khalifah, presiden, raja—semua akhirnya turun, entah dengan hormat atau dipaksa. Nama mereka terukir sebentar, lalu diganti nama lain. Hari ini seseorang dipanggil “Yang Mulia”, besok ia kembali menjadi manusia biasa yang berjalan tanpa pengawalan. Betapa singkatnya kemegahan sebuah jabatan dibanding panjangnya sejarah.
Refleksi ini menyingkap kenyataan: jabatan bukan tujuan, melainkan sarana. Ia bukan hak, melainkan amanah. Maka kesalahan terbesar adalah melekatkan diri pada jabatan seolah hidup tak berarti tanpanya. Yang abadi bukanlah kursi, melainkan amal dan nilai yang ditinggalkan saat kursi itu dilepas. Jabatan hanyalah panggung singkat; lakon sejatinya adalah apakah kita gunakan ia untuk menindas atau melayani. Sebab ketika panggung gelap dan tirai ditutup, yang tinggal hanyalah jejak kebaikan atau luka yang kita wariskan.
Tabik,
#INISIATIF
Oleh: Nadirsyah Hosen
Jabatan sering kali diperlakukan seolah mahkota abadi. Kursi empuk, tanda pangkat, serta hiruk-pikuk penghormatan membuat orang merasa dirinya istimewa. Namun sejatinya, jabatan hanyalah kontrak singkat, titipan sementara yang kapan saja bisa berakhir. Hari ini disambut dengan karangan bunga, besok bisa ditinggalkan dengan sepi dan dilupakan.
Machiavelli pernah menasihati penguasa untuk cerdik menjaga kursi, tetapi ia pun mengakui: kekuasaan ditentukan oleh fortuna—nasib yang mudah berbalik. Hobbes menegaskan bahwa legitimasi jabatan hidup dari kepercayaan rakyat; begitu kepercayaan hilang, jabatan pun kehilangan daya. Sementara Foucault mengingatkan, jabatan bukanlah milik permanen, melainkan bagian dari jaringan relasi kuasa yang terus bergeser.
Tradisi Islam juga menegaskan kefanaan jabatan. Al-Ghazali menyebut jabatan sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar kehormatan. Ibn Khaldun menggambarkan jabatan dan kekuasaan sebagai siklus: lahir, berjaya, lalu rapuh. Tiga generasi cukup untuk meruntuhkan sebuah dinasti, apalagi hanya satu periode jabatan.
Sejarah membuktikan, tidak ada jabatan yang abadi. Kaisar, khalifah, presiden, raja—semua akhirnya turun, entah dengan hormat atau dipaksa. Nama mereka terukir sebentar, lalu diganti nama lain. Hari ini seseorang dipanggil “Yang Mulia”, besok ia kembali menjadi manusia biasa yang berjalan tanpa pengawalan. Betapa singkatnya kemegahan sebuah jabatan dibanding panjangnya sejarah.
Refleksi ini menyingkap kenyataan: jabatan bukan tujuan, melainkan sarana. Ia bukan hak, melainkan amanah. Maka kesalahan terbesar adalah melekatkan diri pada jabatan seolah hidup tak berarti tanpanya. Yang abadi bukanlah kursi, melainkan amal dan nilai yang ditinggalkan saat kursi itu dilepas. Jabatan hanyalah panggung singkat; lakon sejatinya adalah apakah kita gunakan ia untuk menindas atau melayani. Sebab ketika panggung gelap dan tirai ditutup, yang tinggal hanyalah jejak kebaikan atau luka yang kita wariskan.
Tabik,
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2
Staf Kerja Sama Faskes mana suaranya? 👏
Kualitas layanan JKN bukan hanya tentang sistem dan proses.
Ada tim yang memastikan hubungan kerja sama dengan faskes berjalan tepat, terukur, dan profesional🤝
Staf Kerja Sama Fasilitas Kesehatan menjalankan peran strategis: meningkatkan akses pelayanan kesehatan, mengawal mutu, memperkuat komunikasi dan kolaborasi strategis, serta memastikan standar layanan diterapkan dari kota besar hingga daerah kepulauan🇮🇩
https://www.instagram.com/p/DR0sT22icbl/?igsh=cWNieGlsYms4dG1n
Kualitas layanan JKN bukan hanya tentang sistem dan proses.
Ada tim yang memastikan hubungan kerja sama dengan faskes berjalan tepat, terukur, dan profesional
Staf Kerja Sama Fasilitas Kesehatan menjalankan peran strategis: meningkatkan akses pelayanan kesehatan, mengawal mutu, memperkuat komunikasi dan kolaborasi strategis, serta memastikan standar layanan diterapkan dari kota besar hingga daerah kepulauan
https://www.instagram.com/p/DR0sT22icbl/?igsh=cWNieGlsYms4dG1n
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥11❤1💯1
Oleh: Nuari Hayati
Jika Anda adalah seorang profesional di kota besar dengan gaji Rp 10.000.000 per bulan, Anda mungkin sering mendengar ucapan iri: "Gaji segitu sih sudah enak banget!"
Faktanya? Bagi banyak orang, gaji Rp 10 juta di tahun 2025 kini terasa seperti "Gaji Numpang Lewat."
Uang itu singgah sekejap di rekening, lalu menghilang begitu saja di pertengahan bulan.
Anda tidak hidup di garis kemiskinan, namun Anda juga tidak merasa kaya. Anda terjebak di batas tipis yang kami sebut Kemiskinan Gaya Hidup (Lifestyle Poverty).
Bagaimana mungkin penghasilan dua kali lipat UMR masih terasa miskin? Inilah tiga alasan utamanya.
1. Beban Tetap (Fixed Cost) yang Tidak Kompromi
Gaji Rp 10 juta memang tinggi, tetapi pengeluaran wajib di kota besar juga ikut meroket. Komponen terbesar yang menggerus gaji Anda adalah biaya yang tidak bisa Anda tawar
A. Jebakan Properti: KPR & Sewa yang Mencekik
• KPR/Sewa: dikota besar cicilan rumah/sewa minimal yang layak huni sudah memakan 30% hingga 40% dari total gaji (Rp 3,5 - 4 juta)
• Transportasi: Cicilan kendaraan (mobil/motor) beserta bensin, tol, dan biaya parkir bisa mencapai Rp 1,5 - 2 juta per bulan
Setelah dipotong pajak (PPh 21), BPJS, KPR, dan cicilan kendaraan, sisa gaji bersih Anda mungkin hanya menyisakan Rp 4 juta untuk bertahan hidup selama sebulan—nominal yang terasa sangat mepet
B. "Pajak" Generasi Sandwich
Bagi Milenial dan Gen Z awal, gaji Rp 10 juta seringkali datang dengan "pajak" tak tertulis: kewajiban membantu finansial orang tua atau keluarga di kampung
Kontribusi wajib yang bersifat kultural ini bisa memotong gaji hingga 10%-15% di awal bulan. Gaji Anda sejatinya bukan hanya untuk Anda, tapi untuk menopang dua rumah tangga
2. Inflasi Gaya Hidup (Hedonic Treadmill)
Ini adalah faktor psikologis yang paling kejam. Ketika gaji Anda naik, standar hidup Anda juga ikut naik. Fenomena ini disebut Hedonic Treadmill.
Ketika bergaji Rp 5 juta, Anda puas makan siang di warteg dan minum air mineral. Begitu bergaji Rp 10 juta:
• Minum: Air mineral berganti kopi branded Rp 35.000 (yang jika dikali 20 hari kerja = Rp 700.000 per bulan)
• Makan Siang: Warteg berganti lunch box dari restoran yang lebih baik (Rp 50.000/hari)
• Hiburan: Nonton di rumah berganti langganan tiga layanan streaming berbeda, weekend getaway, dan hangout di kafe mahal
Anda merasa berhak atas kenyamanan ini, dan pengeluaran ini pun dianggap sebagai "kebutuhan" untuk menjaga kesehatan mental—padahal inilah yang membuat rekening Anda kering
3. Tidak Ada Jaring Pengaman (No Safety Net)
Perasaan miskin muncul bukan karena kurang uang untuk hidup hari ini, melainkan karena ketidakmampuan untuk membeli masa depan.
Dengan gaji Rp 10 juta, banyak orang merasa stuck:
• Dana Darurat: Sulit menabung Rp 100 juta yang diperlukan untuk dana darurat ideal (6x pengeluaran)
• Investasi: Uang yang tersisa seringkali terlalu kecil untuk investasi serius (saham/properti) yang dapat menjamin masa tua
• Pensiun: Jika semua gaji habis untuk lifestyle dan cicilan, Anda tidak memiliki jaring pengaman finansial. Ketakutan akan masa depan inilah yang membuat Anda merasa "miskin" secara finansial, meskipun Anda kaya saat ini
Solusi: Pindah dari Gaji Nominal ke Gaji Riil
Untuk keluar dari jebakan ini, Anda harus berhenti melihat angka Rp 10 juta sebagai uang saku, tapi sebagai modal bisnis
1. Hitung Real Disposable Income: Hitunglah berapa sisa uang Anda setelah dikurangi semua fixed cost (KPR/Sewa, cicilan, BPJS, kontribusi keluarga). Angka ini adalah gaji riil Anda, dan seringkali jauh di bawah Rp 10 juta
2. Automasi Tabungan: Bayar diri Anda (investasi dan dana darurat) sebesar 20% di awal bulan. Uang yang tersisa barulah untuk biaya hidup
3. Hentikan Lifestyle Creep: Paksakan diri untuk tetap hidup dengan standar gaji Rp 7 juta, dan alokasikan sisa Rp 3 juta untuk investasi dan tujuan jangka panjang
Gaji Rp 10 juta adalah gaji yang baik, tetapi hanya terasa "enak" jika Anda berhasil menaklukkan Inflasi Gaya Hidup Anda sendiri dan berani memprioritaskan masa depan daripada kopi hari ini
#INISIATIF #TGIF
Jika Anda adalah seorang profesional di kota besar dengan gaji Rp 10.000.000 per bulan, Anda mungkin sering mendengar ucapan iri: "Gaji segitu sih sudah enak banget!"
Faktanya? Bagi banyak orang, gaji Rp 10 juta di tahun 2025 kini terasa seperti "Gaji Numpang Lewat."
Uang itu singgah sekejap di rekening, lalu menghilang begitu saja di pertengahan bulan.
Anda tidak hidup di garis kemiskinan, namun Anda juga tidak merasa kaya. Anda terjebak di batas tipis yang kami sebut Kemiskinan Gaya Hidup (Lifestyle Poverty).
Bagaimana mungkin penghasilan dua kali lipat UMR masih terasa miskin? Inilah tiga alasan utamanya.
1. Beban Tetap (Fixed Cost) yang Tidak Kompromi
Gaji Rp 10 juta memang tinggi, tetapi pengeluaran wajib di kota besar juga ikut meroket. Komponen terbesar yang menggerus gaji Anda adalah biaya yang tidak bisa Anda tawar
A. Jebakan Properti: KPR & Sewa yang Mencekik
• KPR/Sewa: dikota besar cicilan rumah/sewa minimal yang layak huni sudah memakan 30% hingga 40% dari total gaji (Rp 3,5 - 4 juta)
• Transportasi: Cicilan kendaraan (mobil/motor) beserta bensin, tol, dan biaya parkir bisa mencapai Rp 1,5 - 2 juta per bulan
Setelah dipotong pajak (PPh 21), BPJS, KPR, dan cicilan kendaraan, sisa gaji bersih Anda mungkin hanya menyisakan Rp 4 juta untuk bertahan hidup selama sebulan—nominal yang terasa sangat mepet
B. "Pajak" Generasi Sandwich
Bagi Milenial dan Gen Z awal, gaji Rp 10 juta seringkali datang dengan "pajak" tak tertulis: kewajiban membantu finansial orang tua atau keluarga di kampung
Kontribusi wajib yang bersifat kultural ini bisa memotong gaji hingga 10%-15% di awal bulan. Gaji Anda sejatinya bukan hanya untuk Anda, tapi untuk menopang dua rumah tangga
2. Inflasi Gaya Hidup (Hedonic Treadmill)
Ini adalah faktor psikologis yang paling kejam. Ketika gaji Anda naik, standar hidup Anda juga ikut naik. Fenomena ini disebut Hedonic Treadmill.
Ketika bergaji Rp 5 juta, Anda puas makan siang di warteg dan minum air mineral. Begitu bergaji Rp 10 juta:
• Minum: Air mineral berganti kopi branded Rp 35.000 (yang jika dikali 20 hari kerja = Rp 700.000 per bulan)
• Makan Siang: Warteg berganti lunch box dari restoran yang lebih baik (Rp 50.000/hari)
• Hiburan: Nonton di rumah berganti langganan tiga layanan streaming berbeda, weekend getaway, dan hangout di kafe mahal
Anda merasa berhak atas kenyamanan ini, dan pengeluaran ini pun dianggap sebagai "kebutuhan" untuk menjaga kesehatan mental—padahal inilah yang membuat rekening Anda kering
3. Tidak Ada Jaring Pengaman (No Safety Net)
Perasaan miskin muncul bukan karena kurang uang untuk hidup hari ini, melainkan karena ketidakmampuan untuk membeli masa depan.
Dengan gaji Rp 10 juta, banyak orang merasa stuck:
• Dana Darurat: Sulit menabung Rp 100 juta yang diperlukan untuk dana darurat ideal (6x pengeluaran)
• Investasi: Uang yang tersisa seringkali terlalu kecil untuk investasi serius (saham/properti) yang dapat menjamin masa tua
• Pensiun: Jika semua gaji habis untuk lifestyle dan cicilan, Anda tidak memiliki jaring pengaman finansial. Ketakutan akan masa depan inilah yang membuat Anda merasa "miskin" secara finansial, meskipun Anda kaya saat ini
Solusi: Pindah dari Gaji Nominal ke Gaji Riil
Untuk keluar dari jebakan ini, Anda harus berhenti melihat angka Rp 10 juta sebagai uang saku, tapi sebagai modal bisnis
1. Hitung Real Disposable Income: Hitunglah berapa sisa uang Anda setelah dikurangi semua fixed cost (KPR/Sewa, cicilan, BPJS, kontribusi keluarga). Angka ini adalah gaji riil Anda, dan seringkali jauh di bawah Rp 10 juta
2. Automasi Tabungan: Bayar diri Anda (investasi dan dana darurat) sebesar 20% di awal bulan. Uang yang tersisa barulah untuk biaya hidup
3. Hentikan Lifestyle Creep: Paksakan diri untuk tetap hidup dengan standar gaji Rp 7 juta, dan alokasikan sisa Rp 3 juta untuk investasi dan tujuan jangka panjang
Gaji Rp 10 juta adalah gaji yang baik, tetapi hanya terasa "enak" jika Anda berhasil menaklukkan Inflasi Gaya Hidup Anda sendiri dan berani memprioritaskan masa depan daripada kopi hari ini
#INISIATIF #TGIF
❤4
Oleh: Nuari Hayati
Di linimasa media sosial, mereka adalah simbol kesuksesan: liburan ke luar negeri, tas branded, ngopi di kafe premium, dan cicilan mobil Eropa. Mereka adalah manajer muda, talent digital, atau profesional IT yang gajinya sudah mencapai dua digit tinggi (Rp 15 juta ke atas).
Namun, ironi pahitnya, banyak dari mereka hidup dalam kondisi kerapuhan finansial yang ekstrem. Mereka adalah Generasi Kaya Rasa, Miskin Nyata—terlihat makmur dari luar, namun sebenarnya satu gaji lagi menuju kebangkrutan.
Fenomena ini adalah hasil dari tabrakan antara peningkatan penghasilan, kemudahan kredit, dan tekanan untuk flexing (pamer) di media sosial.
1. Lifestyle Creep: Menetapkan Standar Kemewahan sebagai Kebutuhan
Begitu gaji naik dari Rp 8 juta ke Rp 18 juta, kebanyakan orang tidak akan menabung selisihnya (Rp 10 juta). Sebaliknya, baseline kebutuhan hidup mereka akan ikut naik.
Inilah yang disebut Lifestyle Creep atau Inflasi Gaya Hidup.
Dulu, transportasi publik sudah cukup. Sekarang, harus naik mobil pribadi (yang dibayar dengan cicilan). Dulu, HP mid-range sudah memadai. Sekarang, harus iPhone terbaru.
Setiap kenaikan gaji dihabiskan untuk membeli perceived status—status yang dirasakan, bukan status nyata. Mereka membeli barang yang memberi kesan sukses, yang seringkali berarti membeli barang yang nilainya terdepresiasi (turun) dengan cepat.
Contoh Nyata:
Seseorang bergaji Rp 25 juta per bulan, namun cicilan mobil dan KPR-nya sudah memakan 45% gajinya. Ditambah fine dining dan langganan gym premium, Net Cash Flow mereka di akhir bulan nol. Mereka kaya aset (di atas kertas), tapi miskin uang tunai.
2. Utang Konsumtif: Membiayai Gaya Hidup dengan Dana Masa Depan
Bagi generasi ini, utang bukanlah alat untuk investasi produktif (modal usaha atau properti yang menghasilkan), melainkan jembatan untuk mendapatkan kepuasan instan.
Utang yang menumpuk bukan berasal dari kebutuhan pokok, melainkan dari utang konsumtif seperti:
• PayLater & Kartu Kredit: Digunakan untuk membeli barang sekunder, bahkan tersier, seperti tiket konser atau fashion.
• Cicilan Barang Mewah: Memaksakan diri membeli mobil atau rumah yang melebihi kemampuan finansialnya, sehingga rasio pembayaran utang (Debt-Service Ratio / DSR) mereka melonjak di atas batas aman 35%.
Ketika DSR terlalu tinggi, mereka tidak hanya miskin di akhir bulan, tetapi juga miskin untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, karena sebagian besar pendapatan mereka sudah "diamankan" oleh lembaga keuangan.
3. Nol Tabungan, Nol Jaring Pengaman
Inti dari 'Miskin Nyata' adalah tidak adanya Dana Darurat (Emergency Fund).
Ketika seseorang berpenghasilan Rp 20 juta, tekanan untuk menjaga penampilan di depan kolega, klien, dan pengikut sosial media sangatlah tinggi. Mereka tidak bisa tiba-tiba "turun kasta" karena hal itu akan merusak citra profesional mereka.
Namun, karena seluruh gaji mereka terserap oleh cicilan dan gaya hidup, mereka tidak memiliki uang tunai yang likuid.
Lanjut Part 2👇
Di linimasa media sosial, mereka adalah simbol kesuksesan: liburan ke luar negeri, tas branded, ngopi di kafe premium, dan cicilan mobil Eropa. Mereka adalah manajer muda, talent digital, atau profesional IT yang gajinya sudah mencapai dua digit tinggi (Rp 15 juta ke atas).
Namun, ironi pahitnya, banyak dari mereka hidup dalam kondisi kerapuhan finansial yang ekstrem. Mereka adalah Generasi Kaya Rasa, Miskin Nyata—terlihat makmur dari luar, namun sebenarnya satu gaji lagi menuju kebangkrutan.
Fenomena ini adalah hasil dari tabrakan antara peningkatan penghasilan, kemudahan kredit, dan tekanan untuk flexing (pamer) di media sosial.
1. Lifestyle Creep: Menetapkan Standar Kemewahan sebagai Kebutuhan
Begitu gaji naik dari Rp 8 juta ke Rp 18 juta, kebanyakan orang tidak akan menabung selisihnya (Rp 10 juta). Sebaliknya, baseline kebutuhan hidup mereka akan ikut naik.
Inilah yang disebut Lifestyle Creep atau Inflasi Gaya Hidup.
Dulu, transportasi publik sudah cukup. Sekarang, harus naik mobil pribadi (yang dibayar dengan cicilan). Dulu, HP mid-range sudah memadai. Sekarang, harus iPhone terbaru.
Setiap kenaikan gaji dihabiskan untuk membeli perceived status—status yang dirasakan, bukan status nyata. Mereka membeli barang yang memberi kesan sukses, yang seringkali berarti membeli barang yang nilainya terdepresiasi (turun) dengan cepat.
Contoh Nyata:
Seseorang bergaji Rp 25 juta per bulan, namun cicilan mobil dan KPR-nya sudah memakan 45% gajinya. Ditambah fine dining dan langganan gym premium, Net Cash Flow mereka di akhir bulan nol. Mereka kaya aset (di atas kertas), tapi miskin uang tunai.
2. Utang Konsumtif: Membiayai Gaya Hidup dengan Dana Masa Depan
Bagi generasi ini, utang bukanlah alat untuk investasi produktif (modal usaha atau properti yang menghasilkan), melainkan jembatan untuk mendapatkan kepuasan instan.
Utang yang menumpuk bukan berasal dari kebutuhan pokok, melainkan dari utang konsumtif seperti:
• PayLater & Kartu Kredit: Digunakan untuk membeli barang sekunder, bahkan tersier, seperti tiket konser atau fashion.
• Cicilan Barang Mewah: Memaksakan diri membeli mobil atau rumah yang melebihi kemampuan finansialnya, sehingga rasio pembayaran utang (Debt-Service Ratio / DSR) mereka melonjak di atas batas aman 35%.
Ketika DSR terlalu tinggi, mereka tidak hanya miskin di akhir bulan, tetapi juga miskin untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, karena sebagian besar pendapatan mereka sudah "diamankan" oleh lembaga keuangan.
3. Nol Tabungan, Nol Jaring Pengaman
Inti dari 'Miskin Nyata' adalah tidak adanya Dana Darurat (Emergency Fund).
Ketika seseorang berpenghasilan Rp 20 juta, tekanan untuk menjaga penampilan di depan kolega, klien, dan pengikut sosial media sangatlah tinggi. Mereka tidak bisa tiba-tiba "turun kasta" karena hal itu akan merusak citra profesional mereka.
Namun, karena seluruh gaji mereka terserap oleh cicilan dan gaya hidup, mereka tidak memiliki uang tunai yang likuid.
Lanjut Part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Konsekuensi Jangka Panjang:
• Financial Fragility: Jika terjadi PHK, sakit, atau krisis ekonomi, mereka tidak memiliki dana untuk bertahan hidup lebih dari 1-2 bulan.
• Kehilangan Peluang: Mereka tidak bisa mengambil peluang investasi yang memerlukan dana tunai cepat (misalnya, membeli properti saat harga diskon).
Artinya, kemewahan yang mereka tunjukkan adalah ilusi yang rapuh. Kesuksesan finansial mereka hanyalah fatamorgana yang dipertahankan oleh gaji bulanan yang harus selalu datang tepat waktu.
Harus Jujur Pada Neraca Keuangan Sendiri
Fenomena ini menjadi peringatan keras: Gaji tinggi tidak sama dengan kaya. Kekayaan sejati diukur dari Net Worth (Aset dikurangi Utang), dan lebih penting lagi, dari jumlah uang tunai yang dapat Anda akses tanpa harus menjual aset atau berutang lagi.
Untuk keluar dari jebakan "Kaya Rasa, Miskin Nyata," profesional bergaji tinggi harus melakukan financial detox:
1. Stop Lifestyle Creep: Paksakan hidup dengan standar gaji lama dan alokasikan selisihnya ke rekening investasi.
2. Lunas Utang Konsumtif: Prioritaskan pelunasan semua utang kartu kredit dan PayLater.
3. Bangun Dana Darurat: Targetkan dana darurat 6 hingga 12 bulan pengeluaran wajib, simpan di rekening yang sulit diakses.
Waktunya berhenti membiayai image Anda di media sosial dan mulai membiayai keamanan finansial Anda di masa depan.
Oleh: Nuari Hayati
#INISIATIF
• Financial Fragility: Jika terjadi PHK, sakit, atau krisis ekonomi, mereka tidak memiliki dana untuk bertahan hidup lebih dari 1-2 bulan.
• Kehilangan Peluang: Mereka tidak bisa mengambil peluang investasi yang memerlukan dana tunai cepat (misalnya, membeli properti saat harga diskon).
Artinya, kemewahan yang mereka tunjukkan adalah ilusi yang rapuh. Kesuksesan finansial mereka hanyalah fatamorgana yang dipertahankan oleh gaji bulanan yang harus selalu datang tepat waktu.
Harus Jujur Pada Neraca Keuangan Sendiri
Fenomena ini menjadi peringatan keras: Gaji tinggi tidak sama dengan kaya. Kekayaan sejati diukur dari Net Worth (Aset dikurangi Utang), dan lebih penting lagi, dari jumlah uang tunai yang dapat Anda akses tanpa harus menjual aset atau berutang lagi.
Untuk keluar dari jebakan "Kaya Rasa, Miskin Nyata," profesional bergaji tinggi harus melakukan financial detox:
1. Stop Lifestyle Creep: Paksakan hidup dengan standar gaji lama dan alokasikan selisihnya ke rekening investasi.
2. Lunas Utang Konsumtif: Prioritaskan pelunasan semua utang kartu kredit dan PayLater.
3. Bangun Dana Darurat: Targetkan dana darurat 6 hingga 12 bulan pengeluaran wajib, simpan di rekening yang sulit diakses.
Waktunya berhenti membiayai image Anda di media sosial dan mulai membiayai keamanan finansial Anda di masa depan.
Oleh: Nuari Hayati
#INISIATIF
Oleh: Benua Sabda
Banyak orang berpikir bahwa masalah keuangan akan selesai jika mereka punya lebih banyak uang. Mereka yakin, ketika penghasilan bertambah, hidup akan lebih mudah, tabungan lebih aman, dan tekanan finansial akan berkurang. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus, ketika jumlah uang meningkat, masalah yang muncul justru ikut membesar.
Dalam bukunya The Millionaire Next Door (1996), Thomas J. Stanley dan William D. Danko menulis bahwa kebanyakan orang kaya bukanlah mereka yang berpenghasilan tinggi, melainkan yang memiliki kebiasaan mengelola uang dengan disiplin sejak kecil. Mereka tidak menunggu kaya untuk belajar mengatur keuangan, justru karena kebiasaan itu mereka akhirnya menjadi kaya. Artinya, kemampuan mengelola uang tidak datang setelah punya banyak, tapi sebelum itu.
Ungkapan “orang yang tidak bisa mengatur seribu, tidak akan bisa mengatur sejuta” bukan hanya pepatah keuangan, tetapi juga refleksi karakter. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan kecil dalam mengelola sumber daya menentukan seberapa siap seseorang menghadapi kelimpahan yang lebih besar.
Berikut penjelasan mengapa pepatah ini begitu relevan dan pahit untuk diakui.
1. Masalah Keuangan Jarang Berasal dari Jumlah, Tapi dari Kebiasaan
Kita sering berpikir bahwa kekurangan uang adalah akar dari semua masalah finansial. Padahal, masalah keuangan lebih sering muncul karena kebiasaan buruk yang terbentuk lama sebelum uang itu datang.
Seseorang yang terbiasa menghabiskan seluruh gajinya tanpa perencanaan akan melakukan hal yang sama ketika gajinya naik. Polanya tidak berubah, hanya jumlahnya yang berbeda. Ia tidak kekurangan uang, tetapi kelebihan keinginan.
Kebiasaan mengatur uang bukan tentang besar kecilnya nominal, melainkan tentang bagaimana seseorang menghargai nilai dari setiap rupiah yang ia miliki. Orang yang tidak bisa menghargai seribu rupiah akan menganggap remeh sejuta, dan ketika uang datang lebih banyak, kesalahannya ikut membesar.
2. Disiplin Finansial Tidak Tumbuh dari Kelimpahan, Tapi dari Keterbatasan
Banyak orang menunda disiplin keuangan dengan alasan, “Nanti kalau gajiku sudah besar, aku akan mulai menabung.” Namun mereka tidak sadar bahwa kemampuan menabung bukan soal nominal, tapi soal kebiasaan.
Disiplin sejati justru lahir ketika seseorang belajar menahan diri di masa sempit. Menyisihkan lima ribu dari seratus ribu terasa kecil, tapi kebiasaan kecil itu yang membentuk karakter finansial. Ketika jumlahnya meningkat, kebiasaan itu sudah menjadi naluri.
Keterbatasan memberi pelajaran yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan, yaitu rasa cukup. Orang yang belajar cukup ketika sedikit, akan tetap cukup ketika banyak. Sebaliknya, orang yang rakus ketika kekurangan akan tetap merasa kurang walau sudah berlimpah.
3. Uang Tidak Mengubah Pola Hidup, Hanya Memperbesar Skalanya
Ketika seseorang mendapat penghasilan tambahan, kebanyakan akan segera meningkatkan gaya hidupnya. Ia makan di tempat lebih mahal, membeli barang yang lebih mewah, dan memanjakan diri dengan dalih “reward” atas kerja keras. Fenomena ini disebut lifestyle inflation, dan hampir semua orang pernah terjebak di dalamnya.
Jika seseorang tidak bisa menahan diri dengan uang sedikit, maka uang banyak hanya akan membuatnya lebih boros. Sebaliknya, orang yang mampu hidup sederhana meski penghasilannya besar akan memiliki ruang finansial yang stabil dan tahan krisis.
Seperti kata Dave Ramsey, pakar keuangan pribadi asal Amerika, “Masalah finansial bukan masalah uang, tapi masalah perilaku.” Artinya, uang tidak akan memperbaiki cara hidup, justru memperjelas pola yang selama ini tersembunyi.
Lanjut part 2👇
Banyak orang berpikir bahwa masalah keuangan akan selesai jika mereka punya lebih banyak uang. Mereka yakin, ketika penghasilan bertambah, hidup akan lebih mudah, tabungan lebih aman, dan tekanan finansial akan berkurang. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus, ketika jumlah uang meningkat, masalah yang muncul justru ikut membesar.
Dalam bukunya The Millionaire Next Door (1996), Thomas J. Stanley dan William D. Danko menulis bahwa kebanyakan orang kaya bukanlah mereka yang berpenghasilan tinggi, melainkan yang memiliki kebiasaan mengelola uang dengan disiplin sejak kecil. Mereka tidak menunggu kaya untuk belajar mengatur keuangan, justru karena kebiasaan itu mereka akhirnya menjadi kaya. Artinya, kemampuan mengelola uang tidak datang setelah punya banyak, tapi sebelum itu.
Ungkapan “orang yang tidak bisa mengatur seribu, tidak akan bisa mengatur sejuta” bukan hanya pepatah keuangan, tetapi juga refleksi karakter. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan kecil dalam mengelola sumber daya menentukan seberapa siap seseorang menghadapi kelimpahan yang lebih besar.
Berikut penjelasan mengapa pepatah ini begitu relevan dan pahit untuk diakui.
1. Masalah Keuangan Jarang Berasal dari Jumlah, Tapi dari Kebiasaan
Kita sering berpikir bahwa kekurangan uang adalah akar dari semua masalah finansial. Padahal, masalah keuangan lebih sering muncul karena kebiasaan buruk yang terbentuk lama sebelum uang itu datang.
Seseorang yang terbiasa menghabiskan seluruh gajinya tanpa perencanaan akan melakukan hal yang sama ketika gajinya naik. Polanya tidak berubah, hanya jumlahnya yang berbeda. Ia tidak kekurangan uang, tetapi kelebihan keinginan.
Kebiasaan mengatur uang bukan tentang besar kecilnya nominal, melainkan tentang bagaimana seseorang menghargai nilai dari setiap rupiah yang ia miliki. Orang yang tidak bisa menghargai seribu rupiah akan menganggap remeh sejuta, dan ketika uang datang lebih banyak, kesalahannya ikut membesar.
2. Disiplin Finansial Tidak Tumbuh dari Kelimpahan, Tapi dari Keterbatasan
Banyak orang menunda disiplin keuangan dengan alasan, “Nanti kalau gajiku sudah besar, aku akan mulai menabung.” Namun mereka tidak sadar bahwa kemampuan menabung bukan soal nominal, tapi soal kebiasaan.
Disiplin sejati justru lahir ketika seseorang belajar menahan diri di masa sempit. Menyisihkan lima ribu dari seratus ribu terasa kecil, tapi kebiasaan kecil itu yang membentuk karakter finansial. Ketika jumlahnya meningkat, kebiasaan itu sudah menjadi naluri.
Keterbatasan memberi pelajaran yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan, yaitu rasa cukup. Orang yang belajar cukup ketika sedikit, akan tetap cukup ketika banyak. Sebaliknya, orang yang rakus ketika kekurangan akan tetap merasa kurang walau sudah berlimpah.
3. Uang Tidak Mengubah Pola Hidup, Hanya Memperbesar Skalanya
Ketika seseorang mendapat penghasilan tambahan, kebanyakan akan segera meningkatkan gaya hidupnya. Ia makan di tempat lebih mahal, membeli barang yang lebih mewah, dan memanjakan diri dengan dalih “reward” atas kerja keras. Fenomena ini disebut lifestyle inflation, dan hampir semua orang pernah terjebak di dalamnya.
Jika seseorang tidak bisa menahan diri dengan uang sedikit, maka uang banyak hanya akan membuatnya lebih boros. Sebaliknya, orang yang mampu hidup sederhana meski penghasilannya besar akan memiliki ruang finansial yang stabil dan tahan krisis.
Seperti kata Dave Ramsey, pakar keuangan pribadi asal Amerika, “Masalah finansial bukan masalah uang, tapi masalah perilaku.” Artinya, uang tidak akan memperbaiki cara hidup, justru memperjelas pola yang selama ini tersembunyi.
Lanjut part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
Part 2
4. Kemampuan Mengatur Uang Kecil Adalah Latihan Kepercayaan Diri Finansial
Setiap kali kita berhasil mengatur uang kecil dengan baik, kita sedang membangun rasa percaya diri bahwa kita mampu mengendalikan hidup sendiri. Itu adalah bentuk kecil dari kemandirian dan kontrol diri.
Mengatur seribu rupiah dengan bijak mungkin tampak sepele, tetapi ia melatih ketelitian, kesabaran, dan rasa tanggung jawab. Semua nilai itu yang akan menjadi dasar ketika kita dihadapkan pada tanggung jawab yang lebih besar.
Jika kita tidak bisa memegang uang kecil tanpa tergoda menghabiskannya, bagaimana mungkin kita bisa dipercaya untuk mengelola uang besar? Dalam hal ini, uang berperan seperti cermin moral: ia mengukur kedewasaan, bukan hanya kecerdasan.
5. Orang yang Bijak Tidak Menunggu Kaya untuk Merasa Berkecukupan
Salah satu kesalahan paling umum dalam berpikir tentang uang adalah menganggap kekayaan akan membawa rasa tenang. Padahal, ketenangan datang dari kemampuan mengatur, bukan dari jumlah yang dimiliki.
Orang yang bisa mengelola uang sedikit akan merasa cukup karena ia memahami prioritas dan batas. Sebaliknya, orang yang tidak bisa mengelola uang besar tetap akan merasa cemas karena tidak pernah tahu kapan cukup itu tiba.
Ketenangan finansial bukan hasil dari jumlah uang, melainkan hasil dari kesadaran dan kontrol diri. Seperti kata Lao Tzu, “Orang yang tahu kapan harus berhenti akan selalu punya cukup.”
6. Uang Kecil Adalah Ujian Karakter, Bukan Sekadar Ujian Angka
Mengatur seribu rupiah bukan tentang nominal, tetapi tentang karakter. Apakah seseorang mampu menunda keinginan, menghargai hal kecil, dan menempatkan prioritas di atas kesenangan sesaat?
Dalam dunia kerja, kepercayaan besar tidak pernah diberikan kepada orang yang gagal memegang tanggung jawab kecil. Prinsip yang sama berlaku dalam hal uang. Orang yang tidak bisa dipercaya dengan seribu tidak akan dipercaya dengan sejuta.
Kemampuan mengatur uang kecil membentuk mentalitas tanggung jawab. Ia melatih seseorang untuk melihat uang bukan hanya sebagai alat belanja, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga.
7. Mengatur Keuangan Adalah Mengatur Diri Sendiri
Pada akhirnya, semua pembicaraan tentang uang bermuara pada satu hal: pengendalian diri. Uang hanyalah alat, dan alat itu bergantung sepenuhnya pada siapa yang memegangnya.
Jika seseorang mudah tergoda, maka uang akan memperkuat godaan. Jika seseorang disiplin, maka uang akan memperkuat ketenangan. Mengatur uang bukanlah soal angka, tapi soal sejauh mana seseorang mengenal dirinya sendiri.
Orang yang bisa mengatur seribu dengan baik telah melatih dirinya untuk hidup dengan kesadaran. Dan kesadaran itulah yang akan menuntun langkahnya ketika sejuta datang.
__
Fakta pahit ini sederhana tetapi benar: uang tidak menyembuhkan keborosan, hanya memperbesarnya. Seseorang tidak tiba-tiba menjadi bijak ketika kaya, karena kebijaksanaan finansial bukan hasil dari kekayaan, melainkan hasil dari disiplin dan kesadaran yang dibangun sejak kecil.
Jadi sebelum berharap mendapatkan sejuta, belajarlah mengatur seribu. Karena yang menentukan nasib seseorang bukan seberapa banyak uang yang datang, tetapi seberapa siap ia ketika uang itu datang.
Oleh: Benua Sabda
#INISIATIF
4. Kemampuan Mengatur Uang Kecil Adalah Latihan Kepercayaan Diri Finansial
Setiap kali kita berhasil mengatur uang kecil dengan baik, kita sedang membangun rasa percaya diri bahwa kita mampu mengendalikan hidup sendiri. Itu adalah bentuk kecil dari kemandirian dan kontrol diri.
Mengatur seribu rupiah dengan bijak mungkin tampak sepele, tetapi ia melatih ketelitian, kesabaran, dan rasa tanggung jawab. Semua nilai itu yang akan menjadi dasar ketika kita dihadapkan pada tanggung jawab yang lebih besar.
Jika kita tidak bisa memegang uang kecil tanpa tergoda menghabiskannya, bagaimana mungkin kita bisa dipercaya untuk mengelola uang besar? Dalam hal ini, uang berperan seperti cermin moral: ia mengukur kedewasaan, bukan hanya kecerdasan.
5. Orang yang Bijak Tidak Menunggu Kaya untuk Merasa Berkecukupan
Salah satu kesalahan paling umum dalam berpikir tentang uang adalah menganggap kekayaan akan membawa rasa tenang. Padahal, ketenangan datang dari kemampuan mengatur, bukan dari jumlah yang dimiliki.
Orang yang bisa mengelola uang sedikit akan merasa cukup karena ia memahami prioritas dan batas. Sebaliknya, orang yang tidak bisa mengelola uang besar tetap akan merasa cemas karena tidak pernah tahu kapan cukup itu tiba.
Ketenangan finansial bukan hasil dari jumlah uang, melainkan hasil dari kesadaran dan kontrol diri. Seperti kata Lao Tzu, “Orang yang tahu kapan harus berhenti akan selalu punya cukup.”
6. Uang Kecil Adalah Ujian Karakter, Bukan Sekadar Ujian Angka
Mengatur seribu rupiah bukan tentang nominal, tetapi tentang karakter. Apakah seseorang mampu menunda keinginan, menghargai hal kecil, dan menempatkan prioritas di atas kesenangan sesaat?
Dalam dunia kerja, kepercayaan besar tidak pernah diberikan kepada orang yang gagal memegang tanggung jawab kecil. Prinsip yang sama berlaku dalam hal uang. Orang yang tidak bisa dipercaya dengan seribu tidak akan dipercaya dengan sejuta.
Kemampuan mengatur uang kecil membentuk mentalitas tanggung jawab. Ia melatih seseorang untuk melihat uang bukan hanya sebagai alat belanja, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga.
7. Mengatur Keuangan Adalah Mengatur Diri Sendiri
Pada akhirnya, semua pembicaraan tentang uang bermuara pada satu hal: pengendalian diri. Uang hanyalah alat, dan alat itu bergantung sepenuhnya pada siapa yang memegangnya.
Jika seseorang mudah tergoda, maka uang akan memperkuat godaan. Jika seseorang disiplin, maka uang akan memperkuat ketenangan. Mengatur uang bukanlah soal angka, tapi soal sejauh mana seseorang mengenal dirinya sendiri.
Orang yang bisa mengatur seribu dengan baik telah melatih dirinya untuk hidup dengan kesadaran. Dan kesadaran itulah yang akan menuntun langkahnya ketika sejuta datang.
__
Fakta pahit ini sederhana tetapi benar: uang tidak menyembuhkan keborosan, hanya memperbesarnya. Seseorang tidak tiba-tiba menjadi bijak ketika kaya, karena kebijaksanaan finansial bukan hasil dari kekayaan, melainkan hasil dari disiplin dan kesadaran yang dibangun sejak kecil.
Jadi sebelum berharap mendapatkan sejuta, belajarlah mengatur seribu. Karena yang menentukan nasib seseorang bukan seberapa banyak uang yang datang, tetapi seberapa siap ia ketika uang itu datang.
Oleh: Benua Sabda
#INISIATIF
Apa yang bikin kami bangga bekerja di sini? Bukan hanya soal seragam dan ruangan kantor.
Tapi tentang impact yang terasa,
tentang orang-orang yang tumbuh bersama, dan tentang misi besar yang selalu kami bawa setiap hari melayani Indonesia 🇲🇨
Di sinilah #lifeatBPJSKesehatan menemukan maknanya
https://www.instagram.com/p/DSCkwDDiZsb/?igsh=MWplaHN6aXp5OHJqZA==
Tapi tentang impact yang terasa,
tentang orang-orang yang tumbuh bersama, dan tentang misi besar yang selalu kami bawa setiap hari melayani Indonesia 🇲🇨
Di sinilah #lifeatBPJSKesehatan menemukan maknanya
https://www.instagram.com/p/DSCkwDDiZsb/?igsh=MWplaHN6aXp5OHJqZA==
LALI RUPANE, ELING RASANE (LUPA WAJAHNYA, INGAT RASANYA) 🧐
Oleh: Budiman Hakim
“Eh bro… inget nggak gue siapa?”
Pertanyaan itu muncul dalam sebuah reuni kecil. Seorang cowok menghampiri saya, mengulurkan tangan dengan senyum lebar. Senyum yang lahir dari keyakinan bahwa saya pasti masih mengingat namanya seperti dulu.
Saya menatap orang tersebut. Wajahnya saya ingat dengan jelas. Terasa sangat familiar, membawa rasa hangat masa lalu. Fusiform Face Area (FFA) saya bekerja cepat, seperti satpam handal yang langsung mengenali penghuni lama.
Tapi namanya? Namanya hilang entah ke mana.
“Tampang lo sih gue inget,” kata saya akhirnya sambil nyengir kuda, “tapi kalo nama… gue emang sering lupa. Maap ya, Bro.”
Satu meja langsung ribut. Ada yang menertawakan, ada yang langsung ngebully. Saya sendiri sedikit rikuh karena lupa. Sementara temen tadi sedikit kecewa, seolah merasa dirinya tidak cukup penting untuk diingat.
Padahal bukan itu masalahnya. Ini cuma soal cara otak manusia bekerja. Nama dan wajah disimpan di dua sistem yang berbeda sama sekali.
Wajah ditangani FFA, bagian otak yang memang spesialis mengenali muka. Tapi nama disimpan di semantic memory, yang banyak bergantung pada anterior temporal lobe (ATL) dan jaringan bahasa.
Bagian ini jauh lebih sensitif, lebih mudah terganggu oleh stres, kurang tidur, gangguan fokus, bahkan sekadar kebisingan ruangan. Jika FFA bekerja secepat kilat, bagian yang menyimpan nama lebih seperti pegawai arsip yang gampang ngambek: pelan, penuh syarat, dan sering tersesat.
Itulah kenapa wajah seseorang bisa melekat puluhan tahun, tapi namanya kabur tepat di detik yang kita butuhkan.
Dan seiring bertambah usia, hubungan antara dua sistem ini makin sering desinkron. Hippocampus, yang biasanya membantu menghubungkan berbagai detail, mulai bekerja lebih lambat. Kadang ingatan episodik berupa momen, tawa dan cerita masih utuh, tapi semantic memory-nya bolong.
Otak saya onget betul saya pernah ketawa bareng dia. Saya ingat suasana, ingat kelas, ingat gesturnya. Tapi jalur menuju namanya seperti jalan kecil yang sudah retak-retak. Ini bukan kehilangan memori, tapi retrieval failure, Informasinya ada, tetapi pintunya macet.
Namun yang paling menarik adalah ini:
Nama hilang.
Rasa tidak.
Sistem emosional kita, yang banyak dikendalikan oleh amygdala, menyimpan jejak yang lebih tahan lama daripada identitas verbal. Inilah sebabnya tubuh saya tetap bereaksi. Ada nostalgia lembut yang muncul. Ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika saja.
Karena otak jauh lebih setia pada rasa dibandingkan pada kata. Nama adalah label yang disimpan memori semantik. Rasa adalah jejak yang disimpan memori emosional. Label mudah hilang.
Jejak sulit hilang.
Saat itu saya sadar bahwa manusia tidak diingat melalui nama, tapi melalui apa yang mereka tinggalkan di dalam diri kita. Kita mungkin lupa detailnya, tetapi kita jarang lupa bagaimana seseorang membuat kita merasa.
Dan ketika saya pulang dari reuni itu, melaju pelan di Tol Simatupang sambil memikirkan semuanya, sebuah truk beewarna kuning berjalan di depan saya. Tulisan di belakangnya sederhana, dicat sedikit miring, tapi menusuk tepat di tempat yang barusan saya alami.
"Lali Rupane, Eling Rasane"
Hahahahahaha.....Alhamdulillah. Hari itu saya mendapat pelajaran lengkap:
Sains menjelaskan prosesnya.
Hidup menunjukkan contohnya.
Dan hati mengerti artinya.
#INISIATIF
Oleh: Budiman Hakim
“Eh bro… inget nggak gue siapa?”
Pertanyaan itu muncul dalam sebuah reuni kecil. Seorang cowok menghampiri saya, mengulurkan tangan dengan senyum lebar. Senyum yang lahir dari keyakinan bahwa saya pasti masih mengingat namanya seperti dulu.
Saya menatap orang tersebut. Wajahnya saya ingat dengan jelas. Terasa sangat familiar, membawa rasa hangat masa lalu. Fusiform Face Area (FFA) saya bekerja cepat, seperti satpam handal yang langsung mengenali penghuni lama.
Tapi namanya? Namanya hilang entah ke mana.
“Tampang lo sih gue inget,” kata saya akhirnya sambil nyengir kuda, “tapi kalo nama… gue emang sering lupa. Maap ya, Bro.”
Satu meja langsung ribut. Ada yang menertawakan, ada yang langsung ngebully. Saya sendiri sedikit rikuh karena lupa. Sementara temen tadi sedikit kecewa, seolah merasa dirinya tidak cukup penting untuk diingat.
Padahal bukan itu masalahnya. Ini cuma soal cara otak manusia bekerja. Nama dan wajah disimpan di dua sistem yang berbeda sama sekali.
Wajah ditangani FFA, bagian otak yang memang spesialis mengenali muka. Tapi nama disimpan di semantic memory, yang banyak bergantung pada anterior temporal lobe (ATL) dan jaringan bahasa.
Bagian ini jauh lebih sensitif, lebih mudah terganggu oleh stres, kurang tidur, gangguan fokus, bahkan sekadar kebisingan ruangan. Jika FFA bekerja secepat kilat, bagian yang menyimpan nama lebih seperti pegawai arsip yang gampang ngambek: pelan, penuh syarat, dan sering tersesat.
Itulah kenapa wajah seseorang bisa melekat puluhan tahun, tapi namanya kabur tepat di detik yang kita butuhkan.
Dan seiring bertambah usia, hubungan antara dua sistem ini makin sering desinkron. Hippocampus, yang biasanya membantu menghubungkan berbagai detail, mulai bekerja lebih lambat. Kadang ingatan episodik berupa momen, tawa dan cerita masih utuh, tapi semantic memory-nya bolong.
Otak saya onget betul saya pernah ketawa bareng dia. Saya ingat suasana, ingat kelas, ingat gesturnya. Tapi jalur menuju namanya seperti jalan kecil yang sudah retak-retak. Ini bukan kehilangan memori, tapi retrieval failure, Informasinya ada, tetapi pintunya macet.
Namun yang paling menarik adalah ini:
Nama hilang.
Rasa tidak.
Sistem emosional kita, yang banyak dikendalikan oleh amygdala, menyimpan jejak yang lebih tahan lama daripada identitas verbal. Inilah sebabnya tubuh saya tetap bereaksi. Ada nostalgia lembut yang muncul. Ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika saja.
Karena otak jauh lebih setia pada rasa dibandingkan pada kata. Nama adalah label yang disimpan memori semantik. Rasa adalah jejak yang disimpan memori emosional. Label mudah hilang.
Jejak sulit hilang.
Saat itu saya sadar bahwa manusia tidak diingat melalui nama, tapi melalui apa yang mereka tinggalkan di dalam diri kita. Kita mungkin lupa detailnya, tetapi kita jarang lupa bagaimana seseorang membuat kita merasa.
Dan ketika saya pulang dari reuni itu, melaju pelan di Tol Simatupang sambil memikirkan semuanya, sebuah truk beewarna kuning berjalan di depan saya. Tulisan di belakangnya sederhana, dicat sedikit miring, tapi menusuk tepat di tempat yang barusan saya alami.
"Lali Rupane, Eling Rasane"
Hahahahahaha.....Alhamdulillah. Hari itu saya mendapat pelajaran lengkap:
Sains menjelaskan prosesnya.
Hidup menunjukkan contohnya.
Dan hati mengerti artinya.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Seorang mahasiswa datang untuk bimbingan. Berbulan-bulan ia ga pernah kelihatan entah ke mana, ternyata belakangan ia sambil bekerja serabutan dan ngojek. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia tertipu investasi bodong dan ia sedang menanggung akibatnya. Ia meminjam uang dari temannya, belasan juta, dengan harapan akan mendapatkan return tinggi. Namun ternyata keuntungan tak ada dan modal tak pernah kembali.
Dua kesalahan yang bisa kita pelajari dari sini. Pertama, kita harus mengenal ragam instrumen investasi beserta karakteristik masing-masing. Aturan dasarnya seperti yang saya tampilkan di gambar ini. Jika ambil instrumen investasi yang aman maka harus siap dengan keuntungan yang rendah, tapi jika ingin mencari keuntungan tinggi maka harus siap dengan risiko kerugiannya, karena risiko dan potensi itu berjalan beriringan.
Setelah kita tahu ragam instrumen investasi kita juga tau bahwa potensi paling tinggi dari suatu instrumen itu paling berapa persen dalam berapa lama. Saham, jika beruntung, analisisnya tepat, masuk dan keluar di saat yang tepat, satu hari bisa berpotensi memberikan keuntungan sampai 25%. Tapi siapapun yang sudah masuk pasar saham pasti tahu bahwa keuntungan segitu jarang banget didapat.
Kesalahan kedua adalah investasi itu harus pakai uang dingin, uang yang kita "lupakan" keberadaannya, uang yang ada dan tidak adanya tidak akan mempengaruhi kebutuhan finansial kita dalam jangka waktu tertentu. Misalkan anda tahu dua atau tiga minggu lagi akan mendapatkan uang, anda sudah mengkalkulasikan bahwa hari ini hingga tanggal itu keuangan sudah cukup dan "uang dingin" itu ga akan dipakai dan tidak berpengaruh pada kebutuhan keuangan anda.
Ini sangat penting karena katakanlah jika anda rugi maka kerugian itu tidak akan mengganggu pos-pos keuangan rutin dan wajib anda keluarkan. Anda tidak perlu menyesuaikan pos keuangan karena (sekali lagi) ada dan tidak adanya uang dingin itu ga mempengaruhi kebutuhan anda.
Yang lebih penting adalah siapkan dana darurat sebesar 6x pengeluaran bulanan dan disimpan di instrumen yang low-moderate risk sebagai jaga-jaga jika ada kebutuhan mendadak, seperti sakit, kecelakaan, kendaraan rusak, ganti rugi, dsb. Ibaratnya seperti orang berjalan di atas tali di ketinggian, ia butuh safe net agar jika ia jatuh tidak langsung membentur tanah.
#INISIATIF
Seorang mahasiswa datang untuk bimbingan. Berbulan-bulan ia ga pernah kelihatan entah ke mana, ternyata belakangan ia sambil bekerja serabutan dan ngojek. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia tertipu investasi bodong dan ia sedang menanggung akibatnya. Ia meminjam uang dari temannya, belasan juta, dengan harapan akan mendapatkan return tinggi. Namun ternyata keuntungan tak ada dan modal tak pernah kembali.
Dua kesalahan yang bisa kita pelajari dari sini. Pertama, kita harus mengenal ragam instrumen investasi beserta karakteristik masing-masing. Aturan dasarnya seperti yang saya tampilkan di gambar ini. Jika ambil instrumen investasi yang aman maka harus siap dengan keuntungan yang rendah, tapi jika ingin mencari keuntungan tinggi maka harus siap dengan risiko kerugiannya, karena risiko dan potensi itu berjalan beriringan.
Setelah kita tahu ragam instrumen investasi kita juga tau bahwa potensi paling tinggi dari suatu instrumen itu paling berapa persen dalam berapa lama. Saham, jika beruntung, analisisnya tepat, masuk dan keluar di saat yang tepat, satu hari bisa berpotensi memberikan keuntungan sampai 25%. Tapi siapapun yang sudah masuk pasar saham pasti tahu bahwa keuntungan segitu jarang banget didapat.
Kesalahan kedua adalah investasi itu harus pakai uang dingin, uang yang kita "lupakan" keberadaannya, uang yang ada dan tidak adanya tidak akan mempengaruhi kebutuhan finansial kita dalam jangka waktu tertentu. Misalkan anda tahu dua atau tiga minggu lagi akan mendapatkan uang, anda sudah mengkalkulasikan bahwa hari ini hingga tanggal itu keuangan sudah cukup dan "uang dingin" itu ga akan dipakai dan tidak berpengaruh pada kebutuhan keuangan anda.
Ini sangat penting karena katakanlah jika anda rugi maka kerugian itu tidak akan mengganggu pos-pos keuangan rutin dan wajib anda keluarkan. Anda tidak perlu menyesuaikan pos keuangan karena (sekali lagi) ada dan tidak adanya uang dingin itu ga mempengaruhi kebutuhan anda.
Yang lebih penting adalah siapkan dana darurat sebesar 6x pengeluaran bulanan dan disimpan di instrumen yang low-moderate risk sebagai jaga-jaga jika ada kebutuhan mendadak, seperti sakit, kecelakaan, kendaraan rusak, ganti rugi, dsb. Ibaratnya seperti orang berjalan di atas tali di ketinggian, ia butuh safe net agar jika ia jatuh tidak langsung membentur tanah.
#INISIATIF
“Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan“
Ikuti webinar PAMJAKI tentang Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan dalam Rangka Universal Health Coverage (UHC) Day🇮🇩
📅 Jumat, 12 Desember 2025
⏰ 10.00 - 11.30 WIB
🎙️ Speaker :
1. Prof. Dr. Atikah Adyas, MHP, AAK, CHIA
2. Arief Syaefudin, SKM, AAK, CHIA
3. Arpan Maulana, SE, AAK, CHIA, CHIP, QRGP
Moderator: dr. A Mahathir Anas
💻 Link zoom:
https://bit.ly/Webinar-JoinZoom
💻 Virtual Background
https://bit.ly/VBWebinar-PAMJAKI
GRATIS!
Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000
Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-WebinarManagedCare
Ikuti webinar PAMJAKI tentang Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan dalam Rangka Universal Health Coverage (UHC) Day
📅 Jumat, 12 Desember 2025
⏰ 10.00 - 11.30 WIB
🎙️ Speaker :
1. Prof. Dr. Atikah Adyas, MHP, AAK, CHIA
2. Arief Syaefudin, SKM, AAK, CHIA
3. Arpan Maulana, SE, AAK, CHIA, CHIP, QRGP
Moderator: dr. A Mahathir Anas
💻 Link zoom:
https://bit.ly/Webinar-JoinZoom
💻 Virtual Background
https://bit.ly/VBWebinar-PAMJAKI
GRATIS!
Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000
Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-WebinarManagedCare
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Program Tutorial dan Ujian Gelar Associate of Managed Care (AMC)
Kegiatan ini ditujukan bagi para profesional, akademisi, dan praktisi kesehatan yang ingin memperdalam pengetahuan (knowledge), memperluas jaringan (networking), serta memperoleh pengakuan profesional di bidang managed care.
🗓 Jadwal Kegiatan
Tutorial: Kamis–Jumat, 18 - 19 Desember 2025
Ujian Modul: Sabtu, 20 Desember 2025
📍 Lokasi
Tutorial: Hotel Horison Rasuna Said, Jakarta Selatan
Ujian: Online
💼 Benefit:
1. Tutorial & ujian untuk 3 modul (Asuransi Kesehatan Nasional, Managed Care A, dan Managed Care B)
2. Mendapatkan gelar Associate of Managed Care (AMC)
💰 Biaya: Rp 4.500.000/orang
(tidak termasuk biaya akomodasi dan transportasi)
🔗 Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut atau dengan memindai QR code pada poster resmi:
👉 https://lnkd.in/gURYEZiX
Informasi lebih lanjut :
📞 0821 30200 212 | ✉️ sekretariat2008@gmail.com
🌐 www.pamjaki.org | IG: @pamjakians | LinkedIn : PAMJAKI
Segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari tenaga ahli yang kompeten di bidang jaminan dan asuransi kesehatan melalui gelar Associate of Managed Care (AMC) bersama PAMJAKI.
Kegiatan ini ditujukan bagi para profesional, akademisi, dan praktisi kesehatan yang ingin memperdalam pengetahuan (knowledge), memperluas jaringan (networking), serta memperoleh pengakuan profesional di bidang managed care.
🗓 Jadwal Kegiatan
Tutorial: Kamis–Jumat, 18 - 19 Desember 2025
Ujian Modul: Sabtu, 20 Desember 2025
📍 Lokasi
Tutorial: Hotel Horison Rasuna Said, Jakarta Selatan
Ujian: Online
💼 Benefit:
1. Tutorial & ujian untuk 3 modul (Asuransi Kesehatan Nasional, Managed Care A, dan Managed Care B)
2. Mendapatkan gelar Associate of Managed Care (AMC)
💰 Biaya: Rp 4.500.000/orang
(tidak termasuk biaya akomodasi dan transportasi)
🔗 Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut atau dengan memindai QR code pada poster resmi:
👉 https://lnkd.in/gURYEZiX
Informasi lebih lanjut :
📞 0821 30200 212 | ✉️ sekretariat2008@gmail.com
🌐 www.pamjaki.org | IG: @pamjakians | LinkedIn : PAMJAKI
Segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari tenaga ahli yang kompeten di bidang jaminan dan asuransi kesehatan melalui gelar Associate of Managed Care (AMC) bersama PAMJAKI.
Forwarded from Andika Nafi
SOSIAL MEDIA KC CIKARANG
📌INSTAGRAM
Internal > https://www.instagram.com/cika_gooo?igsh=MTh3NzZ1bW85MTQ1bw%3D%3D&utm_source=qr
Eksternal > https://www.instagram.com/cikagooo_news?igsh=dDV3bzNvamxyN3h3&utm_source=qr
📌TIKTOK
Khusus EKSTERNAL > https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-927x1As0c6e
📌YOUTUBE
https://youtube.com/@cika_gooo?si=kMwmrMZaTnaOKggu
📌MANTAP
https://bpjskesehatano365.sharepoint.com/sites/mediainternal/CIKARANG
Internal > https://www.instagram.com/cika_gooo?igsh=MTh3NzZ1bW85MTQ1bw%3D%3D&utm_source=qr
Eksternal > https://www.instagram.com/cikagooo_news?igsh=dDV3bzNvamxyN3h3&utm_source=qr
📌TIKTOK
Khusus EKSTERNAL > https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-927x1As0c6e
📌YOUTUBE
https://youtube.com/@cika_gooo?si=kMwmrMZaTnaOKggu
📌MANTAP
https://bpjskesehatano365.sharepoint.com/sites/mediainternal/CIKARANG
TikTok
cikagooo_news di TikTok
@cikagooo_news 1232 Pengikut, 54 Mengikuti, 660 Suka - Tonton video pendek mengagumkan yang dibuat oleh cikagooo_news
Paradoks Akhir Pekan: Antara Lepas dan Terjerat 😴
Oleh: Nadirsyah Hosen
Akhir pekan seharusnya menjadi jeda—ruang untuk berhenti dari hiruk pikuk kerja, menarik napas panjang, dan merasakan kembali denyut hidup yang sering kita abaikan. Tapi bukankah aneh, justru pada hari yang diciptakan untuk istirahat, kita sering merasa lebih lelah? Kita menanti Jumat seolah penebus dosa produktivitas, namun ketika Sabtu tiba, kita terseret arus belanja, daftar tugas rumah, atau antrean panjang menuju “liburan singkat” yang berakhir dengan stres.
Di sanalah paradoks akhir pekan bersemayam: keinginan untuk merebut kembali waktu justru menjebak kita dalam bentuk baru dari keterikatan. Kita ingin bebas dari sistem, tapi malah menciptakan sistem kecil sendiri—agenda hiburan, target kebahagiaan, bahkan tekanan untuk “menikmati waktu dengan maksimal.” Kita berpikir sedang memulihkan diri, padahal hanya mengganti jenis kelelahan: dari mental ke fisik, dari kantor ke kafe, dari layar komputer ke layar ponsel yang sama menyedot perhatian.
Elspeth Thompson dalam The Wonderful Weekend Book menulis bahwa yang hilang dari akhir pekan modern bukanlah waktu, melainkan makna. Kita kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana tanpa rasa bersalah. Kita lupa bahwa kebahagiaan sejati tak selalu datang dari perjalanan jauh, tapi dari kemampuan hadir utuh dalam momen yang dekat: duduk di taman, menatap langit sore, membaca tanpa buru-buru, atau berbincang tanpa tujuan. Semua kegiatan “biasa” yang justru luar biasa bila dilakukan dengan kesadaran penuh.
Namun melawan logika produktivitas bukan perkara mudah. Kita hidup dalam budaya yang menilai diri dari seberapa banyak yang dilakukan, bukan dari seberapa dalam kita merasakan. Padahal yang paling kita butuhkan mungkin bukan aktivitas baru, melainkan ketiadaan aktivitas—ruang sunyi untuk sekadar menjadi manusia, bukan mesin hasil.
Mungkin inilah misi tersembunyi akhir pekan: bukan sekadar dua hari libur, tapi pelajaran tentang cara hidup yang benar. Agar di antara repetisi Senin dan Jumat, kita sempat menemukan ulang diri sendiri—bukan versi yang sibuk mengejar, melainkan yang tahu kapan berhenti, tersenyum, dan merasa cukup.
Tabik,
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Nadirsyah Hosen
Akhir pekan seharusnya menjadi jeda—ruang untuk berhenti dari hiruk pikuk kerja, menarik napas panjang, dan merasakan kembali denyut hidup yang sering kita abaikan. Tapi bukankah aneh, justru pada hari yang diciptakan untuk istirahat, kita sering merasa lebih lelah? Kita menanti Jumat seolah penebus dosa produktivitas, namun ketika Sabtu tiba, kita terseret arus belanja, daftar tugas rumah, atau antrean panjang menuju “liburan singkat” yang berakhir dengan stres.
Di sanalah paradoks akhir pekan bersemayam: keinginan untuk merebut kembali waktu justru menjebak kita dalam bentuk baru dari keterikatan. Kita ingin bebas dari sistem, tapi malah menciptakan sistem kecil sendiri—agenda hiburan, target kebahagiaan, bahkan tekanan untuk “menikmati waktu dengan maksimal.” Kita berpikir sedang memulihkan diri, padahal hanya mengganti jenis kelelahan: dari mental ke fisik, dari kantor ke kafe, dari layar komputer ke layar ponsel yang sama menyedot perhatian.
Elspeth Thompson dalam The Wonderful Weekend Book menulis bahwa yang hilang dari akhir pekan modern bukanlah waktu, melainkan makna. Kita kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana tanpa rasa bersalah. Kita lupa bahwa kebahagiaan sejati tak selalu datang dari perjalanan jauh, tapi dari kemampuan hadir utuh dalam momen yang dekat: duduk di taman, menatap langit sore, membaca tanpa buru-buru, atau berbincang tanpa tujuan. Semua kegiatan “biasa” yang justru luar biasa bila dilakukan dengan kesadaran penuh.
Namun melawan logika produktivitas bukan perkara mudah. Kita hidup dalam budaya yang menilai diri dari seberapa banyak yang dilakukan, bukan dari seberapa dalam kita merasakan. Padahal yang paling kita butuhkan mungkin bukan aktivitas baru, melainkan ketiadaan aktivitas—ruang sunyi untuk sekadar menjadi manusia, bukan mesin hasil.
Mungkin inilah misi tersembunyi akhir pekan: bukan sekadar dua hari libur, tapi pelajaran tentang cara hidup yang benar. Agar di antara repetisi Senin dan Jumat, kita sempat menemukan ulang diri sendiri—bukan versi yang sibuk mengejar, melainkan yang tahu kapan berhenti, tersenyum, dan merasa cukup.
Tabik,
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1👍1
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @YudinaSaputri. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhumah kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin🤲
Selamat jalan, Pahlawan JKN🥀
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @YudinaSaputri. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhumah kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin
Selamat jalan, Pahlawan JKN
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
😢15
Jason Donovan Yusuf 🏅
Oleh: Koko Herii
Usia 18 Tahun, Sang Pemutus Dominasi dari Kolam Renang
Nama Jason Donovan Yusuf mendadak menjadi sorotan di SEA Games 2025. Di usia yang baru menginjak 18 tahun, perenang asal Jakarta ini tampil sebagai simbol kebangkitan renang Indonesia, sekaligus sosok yang menghentikan dominasi panjang Singapura di nomor 100 meter gaya punggung putra.
Pada Rabu malam, 10 Desember 2025, Jason melesat paling cepat menuju dinding finis dengan catatan waktu 55,08 detik. Sebuah torehan emas yang bukan sekadar angka, tetapi juga sejarah. Selama satu dekade terakhir, nomor ini nyaris menjadi “milik pribadi” Quah Zheng Wen dari Singapura. Lima edisi SEA Games beruntun dikuasai, hingga akhirnya Jason datang dan mengubah peta persaingan.
Menariknya, SEA Games 2025 adalah debut Jason di ajang ini. Namun status pendatang baru sama sekali tak mencerminkan performanya. Ia telah mencuri perhatian sejak PON 2024 Aceh–Sumut, ketika masih duduk di bangku SMA. Di ajang nasional tersebut, Jason mengoleksi dua emas, dua perak, dan dua perunggu—sebuah sinyal jelas bahwa Indonesia memiliki talenta besar di lintasan air.
Rekor demi rekor pun ia pecahkan. Di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas kategori KU-1, namanya kini tercatat sebagai pemegang rekor nasional. Konsistensi dan progres waktu yang stabil membuat Jason bukan hanya sekadar “kejutan SEA Games”, melainkan investasi jangka panjang bagi renang Indonesia.
Gaya renangnya efisien, start-nya tajam, dan penempatan tubuhnya nyaris presisi. Jason bukan tipe atlet yang mengandalkan ledakan emosional, melainkan ketenangan dan disiplin—karakter yang jarang dimiliki atlet seusianya.
SEA Games 2025 mungkin baru permulaan. Jason masih akan turun di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas, membuka peluang emas tambahan. Namun lebih dari itu, kehadirannya memberi harapan: bahwa regenerasi renang Indonesia tidak hanya berjalan, tetapi juga siap bersaing di level tertinggi Asia Tenggara.
Di kolam renang, Jason Donovan Yusuf bukan sekadar berenang. Ia sedang menulis bab baru sejarah.
#INISIATIF
Oleh: Koko Herii
Usia 18 Tahun, Sang Pemutus Dominasi dari Kolam Renang
Nama Jason Donovan Yusuf mendadak menjadi sorotan di SEA Games 2025. Di usia yang baru menginjak 18 tahun, perenang asal Jakarta ini tampil sebagai simbol kebangkitan renang Indonesia, sekaligus sosok yang menghentikan dominasi panjang Singapura di nomor 100 meter gaya punggung putra.
Pada Rabu malam, 10 Desember 2025, Jason melesat paling cepat menuju dinding finis dengan catatan waktu 55,08 detik. Sebuah torehan emas yang bukan sekadar angka, tetapi juga sejarah. Selama satu dekade terakhir, nomor ini nyaris menjadi “milik pribadi” Quah Zheng Wen dari Singapura. Lima edisi SEA Games beruntun dikuasai, hingga akhirnya Jason datang dan mengubah peta persaingan.
Menariknya, SEA Games 2025 adalah debut Jason di ajang ini. Namun status pendatang baru sama sekali tak mencerminkan performanya. Ia telah mencuri perhatian sejak PON 2024 Aceh–Sumut, ketika masih duduk di bangku SMA. Di ajang nasional tersebut, Jason mengoleksi dua emas, dua perak, dan dua perunggu—sebuah sinyal jelas bahwa Indonesia memiliki talenta besar di lintasan air.
Rekor demi rekor pun ia pecahkan. Di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas kategori KU-1, namanya kini tercatat sebagai pemegang rekor nasional. Konsistensi dan progres waktu yang stabil membuat Jason bukan hanya sekadar “kejutan SEA Games”, melainkan investasi jangka panjang bagi renang Indonesia.
Gaya renangnya efisien, start-nya tajam, dan penempatan tubuhnya nyaris presisi. Jason bukan tipe atlet yang mengandalkan ledakan emosional, melainkan ketenangan dan disiplin—karakter yang jarang dimiliki atlet seusianya.
SEA Games 2025 mungkin baru permulaan. Jason masih akan turun di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas, membuka peluang emas tambahan. Namun lebih dari itu, kehadirannya memberi harapan: bahwa regenerasi renang Indonesia tidak hanya berjalan, tetapi juga siap bersaing di level tertinggi Asia Tenggara.
Di kolam renang, Jason Donovan Yusuf bukan sekadar berenang. Ia sedang menulis bab baru sejarah.
#INISIATIF
🔥1
RITUAL 🏅
Oleh: TIS Media
Komitmen keseharian Jason Donovan Yusuf, 18, yang dilakukan sejak SMA, sejak memutuskan renang adalah jalan hidupnya:
Frekuensi dan Jenis Latihan
Total Sesi Air: Tujuh sesi per minggu.
Fisik: Latihan fisik (strength training) dilakukan secara terpisah.
Fokus Waktu: Latihan disesuaikan dengan jadwal sekolah, dilakukan sebelum dan sesudah jam pelajaran.
Jadwal Keseharian
Senin
Mulai jam 15.00 (setelah pulang sekolah)
Selasa
Pagi: Bangun pukul 04.00, latihan 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Latihan fisik ringan mandiri di rumah
Rabu
Pagi: Bangun pkl 04.00, latihan pkl 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Gym (strength training). Latihan full body workout (tangan, back, core, kaki) seminggu sekali untuk meningkatkan kekuatan otot.
Kamis
Sore: Latihan mulai jam 15.00, sama dengan Senin.
Jumat
Sore: Latihan sama dengan Senin dan Kamis.
Sabtu
Pagi: Latihan 2 jam, mulai pkl 07.30 sampai 09.30
Sore: Latihan fisik dan air. Latihan fisik 1 jam (mulai 15.00) dilanjutkan berenang lagi mulai pukul 16.30 sampai 17.30.
Minggu
Istirahat full di rumah. Tidak ada latihan.
Pola Istirahat Sbg Kunci Pemulihan
Jam Tidur: Maksimal tidur pkl 21.30 WIB.
Durasi: Minimal 6 sampai 8 jam per hari.
Bangun: Pagi pukul 04.00 (untuk jadwal latihan pagi).
Pola Makan
Sarapan Pertama: Oatmeal, dimakan setelah bangun atau setelah latihan pagi.
Sarapan Kedua: Makanan berat. Dimakan saat jam istirahat pertama di sekolah.
Snack Sore: Telur rebus dua butir sbg asupan protein sebelum latihan sore.
Setelah Latihan: Protein shake, selalu dikonsumsi segera setelah latihan selesai.
Malam: Makan malam plus buah (biasanya dua butir) dikonsumsi setelah makan malam.
Berat badan ideal: Dijaga pada bobot 65 kg sampai 70 kg.
Pada SEA Games 2025, Jason meraih 2 emas 50m backstroke dan 100m backstroke. Pada 100m backstroke, Jason memutus dominasi Quah Zheng Wen🇸🇬 yg terus meraih emas dlm satu dekade terakhir.
#INISIATIF
Oleh: TIS Media
Komitmen keseharian Jason Donovan Yusuf, 18, yang dilakukan sejak SMA, sejak memutuskan renang adalah jalan hidupnya:
Frekuensi dan Jenis Latihan
Total Sesi Air: Tujuh sesi per minggu.
Fisik: Latihan fisik (strength training) dilakukan secara terpisah.
Fokus Waktu: Latihan disesuaikan dengan jadwal sekolah, dilakukan sebelum dan sesudah jam pelajaran.
Jadwal Keseharian
Senin
Mulai jam 15.00 (setelah pulang sekolah)
Selasa
Pagi: Bangun pukul 04.00, latihan 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Latihan fisik ringan mandiri di rumah
Rabu
Pagi: Bangun pkl 04.00, latihan pkl 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Gym (strength training). Latihan full body workout (tangan, back, core, kaki) seminggu sekali untuk meningkatkan kekuatan otot.
Kamis
Sore: Latihan mulai jam 15.00, sama dengan Senin.
Jumat
Sore: Latihan sama dengan Senin dan Kamis.
Sabtu
Pagi: Latihan 2 jam, mulai pkl 07.30 sampai 09.30
Sore: Latihan fisik dan air. Latihan fisik 1 jam (mulai 15.00) dilanjutkan berenang lagi mulai pukul 16.30 sampai 17.30.
Minggu
Istirahat full di rumah. Tidak ada latihan.
Pola Istirahat Sbg Kunci Pemulihan
Jam Tidur: Maksimal tidur pkl 21.30 WIB.
Durasi: Minimal 6 sampai 8 jam per hari.
Bangun: Pagi pukul 04.00 (untuk jadwal latihan pagi).
Pola Makan
Sarapan Pertama: Oatmeal, dimakan setelah bangun atau setelah latihan pagi.
Sarapan Kedua: Makanan berat. Dimakan saat jam istirahat pertama di sekolah.
Snack Sore: Telur rebus dua butir sbg asupan protein sebelum latihan sore.
Setelah Latihan: Protein shake, selalu dikonsumsi segera setelah latihan selesai.
Malam: Makan malam plus buah (biasanya dua butir) dikonsumsi setelah makan malam.
Berat badan ideal: Dijaga pada bobot 65 kg sampai 70 kg.
Pada SEA Games 2025, Jason meraih 2 emas 50m backstroke dan 100m backstroke. Pada 100m backstroke, Jason memutus dominasi Quah Zheng Wen🇸🇬 yg terus meraih emas dlm satu dekade terakhir.
#INISIATIF
PANUTAN 🏅
Oleh: Nadirsyah Hosen
Kita sering mengidolakan seseorang sebagai panutan. Tetapi ketika satu tindakannya tidak sesuai harapan, kita langsung meradang, seolah keteladanan yang kita bayangkan runtuh seketika.
Padahal hidup adalah soal pilihan, termasuk memilih sisi mana yang ingin kita kenang dari seseorang: pencapaiannya yang menginspirasi, atau kekurangannya yang membuatnya tampak jatuh di mata kita.
Ambil contoh Diego Maradona. Kita bisa memilih mengingatnya sebagai pencipta “Gol Tangan Tuhan”, ketika ia dengan sadar melakukan kecurangan di Piala Dunia 1986. Ia merayakan kecurangan itu, wasit mengesahkannya, dan rakyat Inggris tentu punya alasan kuat untuk mengingat sisi buruk tersebut. Gol curang Maradona membuat tim Inggris tersingkir.
Namun dunia lebih memilih untuk mengingat gol keduanya pada pertandingan yang sama, gol yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola. Maradona menggiring bola melewati lima atau enam pemain Inggris dengan kelincahan dan kontrol yang nyaris tak masuk akal. Pada momen itu, ia tampil sebagai seorang jenius sepak bola.
Satu pertandingan, dua sisi: sebuah kesalahan dan sebuah kejayaan. Lalu, yang mana yang ingin kita kenang?
Mungkin yang keliru bukan Maradona, tetapi cara kita membingkai kebesaran seorang panutan. Kita kerap lupa bahwa mereka juga manusia, memiliki potensi untuk tergelincir, sekaligus kemampuan untuk bangkit dan menciptakan kebaikan.
Itu sebabnya salah satu tafsir terhadap firman Allah QS Baqarah: 222 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertaubat”—adalah bahwa Allah menyukai hamba yang pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak berhenti kembali, yang taubatnya berulang-ulang karena ia sadar bahwa dirinya manusia yang mudah jatuh tetapi tak pernah menyerah untuk bangkit.
Dengan kata lain, kebesaran itu bukan milik yang tidak pernah salah, tetapi milik mereka yang tidak berhenti memperbaiki diri.
#INISIATIF
Oleh: Nadirsyah Hosen
Kita sering mengidolakan seseorang sebagai panutan. Tetapi ketika satu tindakannya tidak sesuai harapan, kita langsung meradang, seolah keteladanan yang kita bayangkan runtuh seketika.
Padahal hidup adalah soal pilihan, termasuk memilih sisi mana yang ingin kita kenang dari seseorang: pencapaiannya yang menginspirasi, atau kekurangannya yang membuatnya tampak jatuh di mata kita.
Ambil contoh Diego Maradona. Kita bisa memilih mengingatnya sebagai pencipta “Gol Tangan Tuhan”, ketika ia dengan sadar melakukan kecurangan di Piala Dunia 1986. Ia merayakan kecurangan itu, wasit mengesahkannya, dan rakyat Inggris tentu punya alasan kuat untuk mengingat sisi buruk tersebut. Gol curang Maradona membuat tim Inggris tersingkir.
Namun dunia lebih memilih untuk mengingat gol keduanya pada pertandingan yang sama, gol yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola. Maradona menggiring bola melewati lima atau enam pemain Inggris dengan kelincahan dan kontrol yang nyaris tak masuk akal. Pada momen itu, ia tampil sebagai seorang jenius sepak bola.
Satu pertandingan, dua sisi: sebuah kesalahan dan sebuah kejayaan. Lalu, yang mana yang ingin kita kenang?
Mungkin yang keliru bukan Maradona, tetapi cara kita membingkai kebesaran seorang panutan. Kita kerap lupa bahwa mereka juga manusia, memiliki potensi untuk tergelincir, sekaligus kemampuan untuk bangkit dan menciptakan kebaikan.
Itu sebabnya salah satu tafsir terhadap firman Allah QS Baqarah: 222 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertaubat”—adalah bahwa Allah menyukai hamba yang pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak berhenti kembali, yang taubatnya berulang-ulang karena ia sadar bahwa dirinya manusia yang mudah jatuh tetapi tak pernah menyerah untuk bangkit.
Dengan kata lain, kebesaran itu bukan milik yang tidak pernah salah, tetapi milik mereka yang tidak berhenti memperbaiki diri.
#INISIATIF
❤2
Produktif di kantor, kreatif di komunitas 🎧
BPJS Kesehatan Music Community hadir sebagai ruang kolaborasi bagi pegawai yang menjadikan musik sebagai medium ekspresi dan koneksi🤝 🇲🇨
Yuk kenalan lebih dekat lewat carousel ini
https://www.instagram.com/p/DSUJgRxCV1n/?igsh=MWZxd3I1OW0yM3kyZQ==
BPJS Kesehatan Music Community hadir sebagai ruang kolaborasi bagi pegawai yang menjadikan musik sebagai medium ekspresi dan koneksi
Yuk kenalan lebih dekat lewat carousel ini
https://www.instagram.com/p/DSUJgRxCV1n/?igsh=MWZxd3I1OW0yM3kyZQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥3
Masih ada waktu sd besok hari untuk ikut meramaikn tebak sang juaranya. Semoga beruntung 🇲🇨
https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MW85djZxdDd6OGR6aQ==
https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MW85djZxdDd6OGR6aQ==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GAK MAU TURUN DARI MOBIL GARA-GARA LAGU 🎼 🎤
Oleh: Budiman Hakim
“OmBud jangan dimatiin dulu radionya. Lagunya enak nih!” teriak Si Bungsu.
Mobil kami baru saja berhenti di parkiran PI Mall. Mesin sudah saya matikan, tangan siap membuka pintu. Tapi anak saya masih terpaku, seakan kursi penumpang berubah menjadi singgasana kecil yang tak boleh diganggu.
Jujur… saya paham betul kenapa dia begitu. Saya pun sering menjalani pengalaman yang sama, duduk di parkiran, tidak bergerak, hanya menunggu satu bagian lagu yang paling saya suka lewat dulu sebelum kembali menjadi manusia dewasa yang harus menghadapi dunia.
Ada sesuatu yang ganjil sekaligus indah tentang parkiran mobil, semacam ruang liminal yang tidak benar-benar termasuk dalam dunia mana pun. Di mal orang-orang berseliweran, di rumah ada daftar tugas yang menagih, di kantor bahkan napas pun kadang harus dijadwalkan.
Tapi begitu mobil berhenti dan radio masih menyala, terciptalah ruang kecil yang seakan memisahkan kita dari semua tekanan itu.
Parkiran berubah menjadi tempat paling aman untuk menjadi manusia paling jujur. Tempat di mana kita boleh nyanyi fals sesuka hati, boleh teriak kecil untuk melepaskan sisa stres, boleh memejamkan mata sambil meresapi lirik tanpa ada yang meminta kita bergerak lebih cepat. Tidak ada ruang lain yang memberikan jeda seintim itu.
Tubuh kita memang dirancang untuk mencintai momen transisi seperti ini. Ketika mesin dimatikan dan perjalanan berakhir, tubuh masih membawa gema ritme jalan raya, sebuah inersia emosional yang membuat kita ingin tetap berada di dalam suasana itu sebentar lebih lama.
Musik memperkuat semuanya. Ada bagian kecil di otak, nucleus accumbens, yang sangat peka terhadap sensasi “menunggu bagian favorit dari lagu”, dan justru di momen itulah dopamin mengalir paling kuat. Bukan ketika reff-nya tiba, tapi saat kita menunggu reff itu datang.
Maka ketika lagu sedang enak-enaknya, kita enggan membuka pintu dan membiarkan dunia masuk kembali. Tubuh dan pikiran sedang bernegosiasi antara realitas yang menunggu dan kebahagiaan kecil yang masih ingin dipertahankan.
Parkiran bukan rumah, bukan mal, bukan jalan, tapi tempat tubuh dan pikiran menemukan ritmenya kembali. Tempat yang memungkinkan seseorang seperti saya dan Si Bungsu menunda dulu peran-peran yang harus kami pakai begitu pintu terbuka.
Begitu kaki menyentuh lantai parkiran, peran sebagai pekerja, orang tua, atau manusia dewasa langsung kembali aktif. Maka wajar kalau kita diam sebentar, karena sedang memperpanjang momen menjadi manusia paling sederhana tanpa tuntutan apa pun.
Detik-detik kecil itulah yang membuat hidup berat ini terasa tetap bisa dijalani. Kekuatan kita sering lahir bukan dari kemenangan besar, tapi dari momen kecil yang kita curi diam-diam, sebelum dunia menagih lebih dari yang sanggup kita beri.
Mobil yang berhenti memberi kesempatan untuk bernapas tanpa perlu alasan, menikmati satu lagu tanpa tergesa, dan mengingat bahwa menjadi manusia tidak selalu harus cepat.
Kalian pasti pernah mengalami hal yang sama, kan?
#INISIATIF
Oleh: Budiman Hakim
“OmBud jangan dimatiin dulu radionya. Lagunya enak nih!” teriak Si Bungsu.
Mobil kami baru saja berhenti di parkiran PI Mall. Mesin sudah saya matikan, tangan siap membuka pintu. Tapi anak saya masih terpaku, seakan kursi penumpang berubah menjadi singgasana kecil yang tak boleh diganggu.
Jujur… saya paham betul kenapa dia begitu. Saya pun sering menjalani pengalaman yang sama, duduk di parkiran, tidak bergerak, hanya menunggu satu bagian lagu yang paling saya suka lewat dulu sebelum kembali menjadi manusia dewasa yang harus menghadapi dunia.
Ada sesuatu yang ganjil sekaligus indah tentang parkiran mobil, semacam ruang liminal yang tidak benar-benar termasuk dalam dunia mana pun. Di mal orang-orang berseliweran, di rumah ada daftar tugas yang menagih, di kantor bahkan napas pun kadang harus dijadwalkan.
Tapi begitu mobil berhenti dan radio masih menyala, terciptalah ruang kecil yang seakan memisahkan kita dari semua tekanan itu.
Parkiran berubah menjadi tempat paling aman untuk menjadi manusia paling jujur. Tempat di mana kita boleh nyanyi fals sesuka hati, boleh teriak kecil untuk melepaskan sisa stres, boleh memejamkan mata sambil meresapi lirik tanpa ada yang meminta kita bergerak lebih cepat. Tidak ada ruang lain yang memberikan jeda seintim itu.
Tubuh kita memang dirancang untuk mencintai momen transisi seperti ini. Ketika mesin dimatikan dan perjalanan berakhir, tubuh masih membawa gema ritme jalan raya, sebuah inersia emosional yang membuat kita ingin tetap berada di dalam suasana itu sebentar lebih lama.
Musik memperkuat semuanya. Ada bagian kecil di otak, nucleus accumbens, yang sangat peka terhadap sensasi “menunggu bagian favorit dari lagu”, dan justru di momen itulah dopamin mengalir paling kuat. Bukan ketika reff-nya tiba, tapi saat kita menunggu reff itu datang.
Maka ketika lagu sedang enak-enaknya, kita enggan membuka pintu dan membiarkan dunia masuk kembali. Tubuh dan pikiran sedang bernegosiasi antara realitas yang menunggu dan kebahagiaan kecil yang masih ingin dipertahankan.
Parkiran bukan rumah, bukan mal, bukan jalan, tapi tempat tubuh dan pikiran menemukan ritmenya kembali. Tempat yang memungkinkan seseorang seperti saya dan Si Bungsu menunda dulu peran-peran yang harus kami pakai begitu pintu terbuka.
Begitu kaki menyentuh lantai parkiran, peran sebagai pekerja, orang tua, atau manusia dewasa langsung kembali aktif. Maka wajar kalau kita diam sebentar, karena sedang memperpanjang momen menjadi manusia paling sederhana tanpa tuntutan apa pun.
Detik-detik kecil itulah yang membuat hidup berat ini terasa tetap bisa dijalani. Kekuatan kita sering lahir bukan dari kemenangan besar, tapi dari momen kecil yang kita curi diam-diam, sebelum dunia menagih lebih dari yang sanggup kita beri.
Mobil yang berhenti memberi kesempatan untuk bernapas tanpa perlu alasan, menikmati satu lagu tanpa tergesa, dan mengingat bahwa menjadi manusia tidak selalu harus cepat.
Kalian pasti pernah mengalami hal yang sama, kan?
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2