INFO PODIUM 🏆
Selamat kepada team mini soccer BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 19-20 Nopemeber 2025🇲🇨
#INISIATIF
Selamat kepada team mini soccer BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 19-20 Nopemeber 2025
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Untuk Laki-laki: Bekerjalah, Cukupi Nafkah Keluargamu 💪
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Cukup sering saya mendapat pesan di FB messenger dari para perempuan. Mereka mengeluh karena suami mereka tidak bekerja, dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Maksudnya, ada yang bekerja tapi hasilnya tidak cukup. Ada pula yang memang tidak bekerja sama sekali.
Ada cukup banyak cerita tentang orang yang tadinya bekerja dengan penghasilan lumayan, tapi kemudian berhenti, lalu tidak punya penghasilan. Alasan berhenti itu sungguh sepele, atau tidak jelas sama sekali. Ada yang misalnya berhenti kerja dengan alasan situasi kantor tidak kondusif. Ada yang berhenti karena ingin tinggal dekat dengan orang tua.
Kenapa itu semua saya anggap sepele? Di hadapan kewajiban untuk menafkahi keluarga, itu semua sepele. Prinsip saya, kerja memang tidak semuanya nyaman dan menyenangkan. Kalau suatu kerja mendatangkan hasil yang cukup untuk menafkahi keluarga, ada ketidaknyamanan akan saya hadapi. Suasana tidak nyaman itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa tidak nyaman karena nafkah keluarga tidak terpenuhi. Sebagai kepala keluarga saya menempatkan kenyamanan saya di posisi nomor sekian, bukan hal utama. Ada kalanya kita harus mengorbankan kenyamanan kita demi keluarga.
Tidak jarang alasannya hanya mengada-ada. Ada sedikit ketidaknyamanan sudah menyerah. Saya harus katakan, kerja memang begitu. Ada banyak ketidaknyamanan. Tapi ingat, kerja itu tumpukan tanggung jawab. Ini tidak melulu soal bahwa kita dibayar dan uangnya bisa dipakai untuk menafkahi keluarga. Di luar soal itu, kita memang dituntut untuk bisa mengatasi berbagai persoalan dalam bekerja. Termasuk mengatasi ketidaknyamanan itu. Jadi, kalau ada ketidaknyamanan, atasi. Bukan malah berhenti.
Dalam bekerja kita tidak hanya dituntut untuk bertahan, tapi juga meningkat. Kebutuhan keluarga meningkat seiring pertumbuhan anak-anak. Inflasi juga membuat nilai uang kita mengecil. Kalau tidak meningkat, penghasilan yang tadinya cukup jadi tidak cukup. Tidak sekadar bekerja, seorang penanggung jawab nafkah keluarga wajib membuat program pengembangan diri, sekaligus rencana peningkatan penghasilan. Sering saya harus menghela nafas kalau menemukan orang yang sudah mau 50 tahun usianya, tapi penghasilannya belum beranjak jauh dari nilai UMK.
Sudah bekerja pun belum cukup bagus kalau tidak ada peningkatan. Apalagi tidak bekerja.
Di sisi lain, banyak perempuan yang cuma mengeluh dan merengek saat suaminya tidak bekerja atau berpenghasilan cukup. Hanya sedikit yang berani keluar dari zona nyaman nyonya rumah, lalu bertarung untuk mengambil tanggung jawab yang diabaikan suaminya. Yang bertarung ini ada yang sukses, tapi itu tidak mengubah suaminya.
Ada perempuan yang mengeluh soal kekurangan nafkah, tapi saya lihat penampilannya di media sosial seperti sosialita.
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Cukup sering saya mendapat pesan di FB messenger dari para perempuan. Mereka mengeluh karena suami mereka tidak bekerja, dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Maksudnya, ada yang bekerja tapi hasilnya tidak cukup. Ada pula yang memang tidak bekerja sama sekali.
Ada cukup banyak cerita tentang orang yang tadinya bekerja dengan penghasilan lumayan, tapi kemudian berhenti, lalu tidak punya penghasilan. Alasan berhenti itu sungguh sepele, atau tidak jelas sama sekali. Ada yang misalnya berhenti kerja dengan alasan situasi kantor tidak kondusif. Ada yang berhenti karena ingin tinggal dekat dengan orang tua.
Kenapa itu semua saya anggap sepele? Di hadapan kewajiban untuk menafkahi keluarga, itu semua sepele. Prinsip saya, kerja memang tidak semuanya nyaman dan menyenangkan. Kalau suatu kerja mendatangkan hasil yang cukup untuk menafkahi keluarga, ada ketidaknyamanan akan saya hadapi. Suasana tidak nyaman itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa tidak nyaman karena nafkah keluarga tidak terpenuhi. Sebagai kepala keluarga saya menempatkan kenyamanan saya di posisi nomor sekian, bukan hal utama. Ada kalanya kita harus mengorbankan kenyamanan kita demi keluarga.
Tidak jarang alasannya hanya mengada-ada. Ada sedikit ketidaknyamanan sudah menyerah. Saya harus katakan, kerja memang begitu. Ada banyak ketidaknyamanan. Tapi ingat, kerja itu tumpukan tanggung jawab. Ini tidak melulu soal bahwa kita dibayar dan uangnya bisa dipakai untuk menafkahi keluarga. Di luar soal itu, kita memang dituntut untuk bisa mengatasi berbagai persoalan dalam bekerja. Termasuk mengatasi ketidaknyamanan itu. Jadi, kalau ada ketidaknyamanan, atasi. Bukan malah berhenti.
Dalam bekerja kita tidak hanya dituntut untuk bertahan, tapi juga meningkat. Kebutuhan keluarga meningkat seiring pertumbuhan anak-anak. Inflasi juga membuat nilai uang kita mengecil. Kalau tidak meningkat, penghasilan yang tadinya cukup jadi tidak cukup. Tidak sekadar bekerja, seorang penanggung jawab nafkah keluarga wajib membuat program pengembangan diri, sekaligus rencana peningkatan penghasilan. Sering saya harus menghela nafas kalau menemukan orang yang sudah mau 50 tahun usianya, tapi penghasilannya belum beranjak jauh dari nilai UMK.
Sudah bekerja pun belum cukup bagus kalau tidak ada peningkatan. Apalagi tidak bekerja.
Di sisi lain, banyak perempuan yang cuma mengeluh dan merengek saat suaminya tidak bekerja atau berpenghasilan cukup. Hanya sedikit yang berani keluar dari zona nyaman nyonya rumah, lalu bertarung untuk mengambil tanggung jawab yang diabaikan suaminya. Yang bertarung ini ada yang sukses, tapi itu tidak mengubah suaminya.
Ada perempuan yang mengeluh soal kekurangan nafkah, tapi saya lihat penampilannya di media sosial seperti sosialita.
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
Oleh: Ibrahim Vatih
Ada dua cara pandang yang subsconcious (alam bawah sadar) membentuk seluruh arah hidup kita:
1. Pola pikir kekurangan (scarcity)
2. Pola pikir kelimpahan (abundance).
Pola pikir scarcity percaya bahwa dunia ini sempit, sumber daya terbatas, dan peluang hanya datang satu kali.
Kalau orang lain sukses, berarti kesempatan dia berkurang. Kalau orang lain dapat proyek, berarti dia sudah kalah saing. Kalau teman dapat promosi, berarti posisi dia terancam.
Pola pikir ini penuh kecemasan, minim rasa syukur, dan akhirnya membuat mereka sulit berkembang, karena selalu hidup dalam mode "defensif".
***
Sebaliknya, pola pikir abundance percaya bahwa dunia ini luas, rezeki itu datang dari banyak arah. Kesuksesan orang lain bukan ancaman, tapi inspirasi. Kebaikan yang dia sebarkan bukan mengurangi, tapi justru membuka lebih banyak peluang.
Orang dengan pola pikir abundance lebih tenang, lebih mudah berbagi, lebih mampu fokus pada proses, bukan hanya hasil.
Dan yang menarik, mereka cenderung lebih dipercaya oleh orang-orang di (lingkungan) sekitarnya, karena energi mereka positif dan konstruktif.
***
Saya pernah ada di fase scarcity.
Tapi perlahan, ketika mulai belajar membuka perspektif, saya sadar bahwa banyak sekali peluang yang justru datang ketika kita tenang, sabar, dan ngga serakah.
Saya pernah membaca satu pemikiran menarik,
“Bangunlah bisnis saat kamu tidak sedang butuh-butuh amat.”
Saat kita membangun sesuatu dalam kondisi tenang, tanpa tekanan, dan tidak sedang tergesa-gesa mencari uang, pikiran kita bisa lebih jernih.
Kita bisa membuat keputusan jangka panjang, bukan keputusan darurat yang seringkali berbiaya mahal.
Kita bisa merancang strategi, bukan cuma bertahan hidup.
Inilah kekuatan dari pola pikir abundance.
Kita bergerak bukan karena panik, tapi karena sadar.
Seringkali, yang bikin kita sulit bukan kondisi, tapi cara pandang kita sendiri.
Kalau kamu sering merasa sempit, kalah duluan, atau iri dengan pencapaian orang lain, mungkin ini saatnya refleksi,
"Apakah saya sedang menjalani hidup dengan pola pikir scarcity?"
Latih pola pikir abundance.
Bukan untuk jadi naif, tapi agar hidup terasa lebih lapang, damai, dan penuh peluang.
Dunia ini luas.
Tapi cara pandang kitalah yang bisa mempersempit atau meluaskannya.
Dan kabar baiknya, cara pandang itu bisa kita pilih.
#INISIATIF
Ada dua cara pandang yang subsconcious (alam bawah sadar) membentuk seluruh arah hidup kita:
1. Pola pikir kekurangan (scarcity)
2. Pola pikir kelimpahan (abundance).
Pola pikir scarcity percaya bahwa dunia ini sempit, sumber daya terbatas, dan peluang hanya datang satu kali.
Kalau orang lain sukses, berarti kesempatan dia berkurang. Kalau orang lain dapat proyek, berarti dia sudah kalah saing. Kalau teman dapat promosi, berarti posisi dia terancam.
Pola pikir ini penuh kecemasan, minim rasa syukur, dan akhirnya membuat mereka sulit berkembang, karena selalu hidup dalam mode "defensif".
***
Sebaliknya, pola pikir abundance percaya bahwa dunia ini luas, rezeki itu datang dari banyak arah. Kesuksesan orang lain bukan ancaman, tapi inspirasi. Kebaikan yang dia sebarkan bukan mengurangi, tapi justru membuka lebih banyak peluang.
Orang dengan pola pikir abundance lebih tenang, lebih mudah berbagi, lebih mampu fokus pada proses, bukan hanya hasil.
Dan yang menarik, mereka cenderung lebih dipercaya oleh orang-orang di (lingkungan) sekitarnya, karena energi mereka positif dan konstruktif.
***
Saya pernah ada di fase scarcity.
Tapi perlahan, ketika mulai belajar membuka perspektif, saya sadar bahwa banyak sekali peluang yang justru datang ketika kita tenang, sabar, dan ngga serakah.
Saya pernah membaca satu pemikiran menarik,
“Bangunlah bisnis saat kamu tidak sedang butuh-butuh amat.”
Saat kita membangun sesuatu dalam kondisi tenang, tanpa tekanan, dan tidak sedang tergesa-gesa mencari uang, pikiran kita bisa lebih jernih.
Kita bisa membuat keputusan jangka panjang, bukan keputusan darurat yang seringkali berbiaya mahal.
Kita bisa merancang strategi, bukan cuma bertahan hidup.
Inilah kekuatan dari pola pikir abundance.
Kita bergerak bukan karena panik, tapi karena sadar.
Seringkali, yang bikin kita sulit bukan kondisi, tapi cara pandang kita sendiri.
Kalau kamu sering merasa sempit, kalah duluan, atau iri dengan pencapaian orang lain, mungkin ini saatnya refleksi,
"Apakah saya sedang menjalani hidup dengan pola pikir scarcity?"
Latih pola pikir abundance.
Bukan untuk jadi naif, tapi agar hidup terasa lebih lapang, damai, dan penuh peluang.
Dunia ini luas.
Tapi cara pandang kitalah yang bisa mempersempit atau meluaskannya.
Dan kabar baiknya, cara pandang itu bisa kita pilih.
#INISIATIF
👍1
Siapa bilang healing di kantor cuma bisa lewat kopi? 😎
Kalau kamu lagi cari “olahraga anti ribet tapi manfaatnya maksimal”, ya disinilah tempatnya. Let’s smash the day together🏓
https://www.instagram.com/p/DRb79H0ibfz/?igsh=eHFyYWZhdjRuZTU5
Kalau kamu lagi cari “olahraga anti ribet tapi manfaatnya maksimal”, ya disinilah tempatnya. Let’s smash the day together
https://www.instagram.com/p/DRb79H0ibfz/?igsh=eHFyYWZhdjRuZTU5
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Pernah dengar cerita orang yang marah-marah ketika ditagih utang? Atau jangan-jangan anda pernah mengalaminya sendiri? Sebenernya, harusnya kan dia sadar bahwa yang nagih itu sedang meminta haknya yang ditahan oleh si peminjam, tapi kenapa dia malah ga mau bayar? Jawabannya sederhana sih, karena manusia lebih sering mengambil keputusan keuangan dengan menggunakan emosi ketimbang rasio. Apalagi kalo dia ga punya literasi finansial yang baik.
Ada dua bagian otak manusia yang saling berperan dalam pengambilan keputusan. Pertama adalah Amigdala, dia punya respon cepat, mengaktifkan survival mode, fight or run, dia mengatur emosi manusia, inilah otak purba manusia yang telah terlatih ribuan tahun ketika manusia masih hidup "bersama" dengan hewan lain. Kedua adalah Lobus Frontal, responnya lambat karena memang fungsinya untuk berpikir logis dan mendalam.
Terkait dengan uang, manusia paling ga suka jika ia kehilangan uang, akan lebih ga suka lagi kalo dia kehilangan kesempatan keuntungan. Dalam dua hal ini sering kali kita mengaktifkan survival mode (yang ga logis itu), dengan tujuan agar kita tetap bisa survive dan sebisa mungkin tidak mengalami kehilangan. Orang yang marah ketika ditagih itu karena dia merasa bahwa dia akan kehilangan uang karena harus menyerahkan sebagian harta yang ada di tangannya kepada orang lain. Orang terjerat juday online itu karena dia melihat ada kesempatan keuntungan dan ga mau kehilangan kesempatan itu, maka dia akan top up meski menghabiskan sebagian besar pendapatannya dengan berharap dia akan mendapatkan keuntungan itu. Dalam dua kasus itu, amigdala akan membanjiri otaknya dengan adrenalin sebagai bentuk pertahanan diri, jantungnya berdebar, otaknya buntu, dia dikendalikan oleh emosi hingga keputusan yang ia ambil jauh dari kata logis.
Nah, belajar finansial itu melatih lobus frontal agar bisa digunakan dalam mengambil keputusan keuangan dengan terencana, logis dan teratur. Kita berlatih merencanakan keuangan dengan melihat kepada kondisi riil, kemampuan dan potensi yang bisa terjadi di masa yang akan datang. Kita belajar bahwa di setiap potensi keuntungan itu ada potensi kerugian yang sama besarnya. Kita belajar bahwa tidak ada keuntungan dan kekayaan yang instan. Kita juga belajar bahwa setiap pilihan yang kita ambil itu memiliki konsekuensi, maka kita akan selalu memikirkan konsekuensi dari setiap pilihan sebelum kita menentukan pilihan tersebut.
Ini bukanlah hal yang mudah karena ini dibentuk oleh kebiasaan. Banyak orang yang sudah mengerti investasi lalu tergiur dengan potensi keuntungan yang cepat, dia FOMO dan masuk ke satu instrumen tanpa pertimbangan matang, dan sering kali mendatangkan kerugian. Banyak juga yang tidak berani mengambil keputusan karena takut akan kehilangan uang hingga ia tidak jadi berkembang.
Maka teman-teman, belajar finansial itu penting, setidaknya untuk melatih otak kita agar terbiasa mengambil keputusan finansial dengan logika, bukan dengan emosi.
#INISIATIF
Pernah dengar cerita orang yang marah-marah ketika ditagih utang? Atau jangan-jangan anda pernah mengalaminya sendiri? Sebenernya, harusnya kan dia sadar bahwa yang nagih itu sedang meminta haknya yang ditahan oleh si peminjam, tapi kenapa dia malah ga mau bayar? Jawabannya sederhana sih, karena manusia lebih sering mengambil keputusan keuangan dengan menggunakan emosi ketimbang rasio. Apalagi kalo dia ga punya literasi finansial yang baik.
Ada dua bagian otak manusia yang saling berperan dalam pengambilan keputusan. Pertama adalah Amigdala, dia punya respon cepat, mengaktifkan survival mode, fight or run, dia mengatur emosi manusia, inilah otak purba manusia yang telah terlatih ribuan tahun ketika manusia masih hidup "bersama" dengan hewan lain. Kedua adalah Lobus Frontal, responnya lambat karena memang fungsinya untuk berpikir logis dan mendalam.
Terkait dengan uang, manusia paling ga suka jika ia kehilangan uang, akan lebih ga suka lagi kalo dia kehilangan kesempatan keuntungan. Dalam dua hal ini sering kali kita mengaktifkan survival mode (yang ga logis itu), dengan tujuan agar kita tetap bisa survive dan sebisa mungkin tidak mengalami kehilangan. Orang yang marah ketika ditagih itu karena dia merasa bahwa dia akan kehilangan uang karena harus menyerahkan sebagian harta yang ada di tangannya kepada orang lain. Orang terjerat juday online itu karena dia melihat ada kesempatan keuntungan dan ga mau kehilangan kesempatan itu, maka dia akan top up meski menghabiskan sebagian besar pendapatannya dengan berharap dia akan mendapatkan keuntungan itu. Dalam dua kasus itu, amigdala akan membanjiri otaknya dengan adrenalin sebagai bentuk pertahanan diri, jantungnya berdebar, otaknya buntu, dia dikendalikan oleh emosi hingga keputusan yang ia ambil jauh dari kata logis.
Nah, belajar finansial itu melatih lobus frontal agar bisa digunakan dalam mengambil keputusan keuangan dengan terencana, logis dan teratur. Kita berlatih merencanakan keuangan dengan melihat kepada kondisi riil, kemampuan dan potensi yang bisa terjadi di masa yang akan datang. Kita belajar bahwa di setiap potensi keuntungan itu ada potensi kerugian yang sama besarnya. Kita belajar bahwa tidak ada keuntungan dan kekayaan yang instan. Kita juga belajar bahwa setiap pilihan yang kita ambil itu memiliki konsekuensi, maka kita akan selalu memikirkan konsekuensi dari setiap pilihan sebelum kita menentukan pilihan tersebut.
Ini bukanlah hal yang mudah karena ini dibentuk oleh kebiasaan. Banyak orang yang sudah mengerti investasi lalu tergiur dengan potensi keuntungan yang cepat, dia FOMO dan masuk ke satu instrumen tanpa pertimbangan matang, dan sering kali mendatangkan kerugian. Banyak juga yang tidak berani mengambil keputusan karena takut akan kehilangan uang hingga ia tidak jadi berkembang.
Maka teman-teman, belajar finansial itu penting, setidaknya untuk melatih otak kita agar terbiasa mengambil keputusan finansial dengan logika, bukan dengan emosi.
#INISIATIF
👍1
Oleh: Sucipto Hadi Saputro
Sekarang ini banyak orang yang sibuk bersenang-senang dan menikmati hidup bersama pasangannya, tapi tanpa sadar orang tua mulai terabaikan. Ada juga yang membenci mertuanya seolah-olah mertua itu musuh. Padahal, tanpa mertua, tidak akan ada pasangan yang kini kita sayangi dan banggakan.
Sebagai menantu, kita tidak selalu dituntut untuk sepenuhnya cocok dengan mertua. Karakter setiap orang jelas berbeda, dan sikap mertua tidak selalu ideal di mata kita. Tapi membalas ketidakbaikan mereka dengan kebencian hanya akan menambah masalah. Sementara bersabar, berakhlak baik, dan menjaga hubungan adalah bagian dari menjaga rumah tangga kita sendiri.
Hati-hati, setiap perbuatan itu ada balasannya. Suatu hari nanti, kita bisa saja mendapatkan menantu yang sifatnya mirip seperti cara kita bersikap hari ini, yakni malas menghormati, mudah merasa muak, dan hanya peduli pada kenyamanan diri sendiri. Saat itu tiba, barulah kita mengerti pahitnya diabaikan. Mungkin anak tetap memberi uang, tapi hatinya sudah jauh.
Dan ketika usia makin lanjut, tenaga berkurang, dan tubuh tidak sekuat dulu, barulah terasa bahwa yang benar-benar kita rindukan adalah kehadiran dan perhatian anak-anak kita. Bukan liburan, bukan kesenangan sesaat, dan bukan pembelaan egonya.
Maka jadilah anak dan menantu yang berbakti. Dukung pasangan agar semakin dekat dengan orang tuanya. Jangan justru menambah permusuhan dan memperlebar jarak. Karena rumah tangga yang baik bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, tapi juga tentang bagaimana mereka menjaga hubungan dengan orang yang dulu mendidik dan membesarkan mereka.
#INISIATIF
Sekarang ini banyak orang yang sibuk bersenang-senang dan menikmati hidup bersama pasangannya, tapi tanpa sadar orang tua mulai terabaikan. Ada juga yang membenci mertuanya seolah-olah mertua itu musuh. Padahal, tanpa mertua, tidak akan ada pasangan yang kini kita sayangi dan banggakan.
Sebagai menantu, kita tidak selalu dituntut untuk sepenuhnya cocok dengan mertua. Karakter setiap orang jelas berbeda, dan sikap mertua tidak selalu ideal di mata kita. Tapi membalas ketidakbaikan mereka dengan kebencian hanya akan menambah masalah. Sementara bersabar, berakhlak baik, dan menjaga hubungan adalah bagian dari menjaga rumah tangga kita sendiri.
Hati-hati, setiap perbuatan itu ada balasannya. Suatu hari nanti, kita bisa saja mendapatkan menantu yang sifatnya mirip seperti cara kita bersikap hari ini, yakni malas menghormati, mudah merasa muak, dan hanya peduli pada kenyamanan diri sendiri. Saat itu tiba, barulah kita mengerti pahitnya diabaikan. Mungkin anak tetap memberi uang, tapi hatinya sudah jauh.
Dan ketika usia makin lanjut, tenaga berkurang, dan tubuh tidak sekuat dulu, barulah terasa bahwa yang benar-benar kita rindukan adalah kehadiran dan perhatian anak-anak kita. Bukan liburan, bukan kesenangan sesaat, dan bukan pembelaan egonya.
Maka jadilah anak dan menantu yang berbakti. Dukung pasangan agar semakin dekat dengan orang tuanya. Jangan justru menambah permusuhan dan memperlebar jarak. Karena rumah tangga yang baik bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, tapi juga tentang bagaimana mereka menjaga hubungan dengan orang yang dulu mendidik dan membesarkan mereka.
#INISIATIF
❤1👍1
Clash Of Champions (COC) BPJS Kesehatan 2025 udah masuk fase paling panas dan 10 champions kita siap banget unjuk kemampuan terbaiknya. Sebelum kita masuk ke arena paling bergengsi, kenalan dulu yuk sama mereka biar makin bangga sama talenta-talenta terbaik di BPJS Kesehatan 🇮🇩
https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MWxoMTZuc2c0bnpieg==
Sekarang saatnya kamu ikutan meramaikan:
- Dukung jagoanmu
- Sekalian tebak siapa yang bakal ngisi Top 3 (Juara 1, 2, 3) di kolom komentar
- Prediksi paling akurat berpeluang dapetin gift kece
(YES, cuma buat 3 orang paling jago nebak) 🎁
https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MWxoMTZuc2c0bnpieg==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤3
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Untuk memberikan motifashit kepada mahasiswa, saya sering menjelaskan bahwa kita punya empat modal dalam hidup yang menjadi pintu kesuksesan kita ke depan:
1) Ilmu (dan ijazah), ini adalah sumber paling mahal karena dibayar dengan UKT dan waktu perkuliahan (termasuk mesantren) yang tidak sebentar. Jika kita kuasai benar materi yang kita dapatkan selama masa belajar, kemudian kita bisa bertanggung jawab dengan ilmu itu, kita pede dengan itu, maka itu bisa kita jual.
Sayangnya tidak selalu apa yang kita pelajari ternyata membawa kita pada kesuksesan, karena tidak sedikit orang yang bekerja di luar dari bidang yang ia pelajari sebelumnya, maka modal kedua adalah:
2) Skill, ini adalah sumber yang sebenarnya bisa dicari dengan mudah. Menulis, mengetik cepat, mengetik Arab, menerjemahkan, public speaking, mempengaruhi orang, mediasi, negosiasi, storytelling, memasak, barista, dan banyak skill lain yang bisa dipelajari baik secara gratis ataupun dengan mengikuti pelatihan dan sertifikasi.
Terkait dengan ini saya teringat dawuh alm. KH. Imam Badri yang mengutip satu ayat dari Surat Yusuf, "Jangan kalian cuma masuk dari satu pintu saja, tapi masuklah dari banyak pintu", maksudnya adalah jika kita punya banyak skill maka kita kita punya banyak alternatif skill yang bisa dijual.
3) Reputasi, nama baik, attitude, bagaimana kita menjaga kepercayaan orang, menjaga amanah orang, menjaga uang orang, komitmen dengan setiap keputusan. Ini penting karena sering kali kesempatan datang melalui rekomendasi dari orang lain.
4) Relasi, dan ini harus disimpan paling akhir agar fokus utama membangun 3 poin pertama dulu. Jika tiga modal sudah kita miliki, ketika kita masuk ke suatu tempat melalui relasi, kita bisa mempertanggungjawabkan bahwa kita memang pantas untuk mendapatkan itu.
Nah, masalahnya, banyak orang yang menjadikan relasi sebagai modal utama, padahal dia ga punya ilmu dan skill yang menjual, attitude-nya juga buruk, orang seperti ini hanya akan mempermalukan orang yang mengajaknya masuk. Orang masuk, bekerja, menempati posisi penting hanya karena bapaknya berpengaruh, tapi ternyata ilmunya kosong, skillnya kosong, yang terjadi malah malu-maluin. Dan ketika ini sudah menjadi budaya, "orang dalam" membawa masuk orang-orang karena kedekatan dan bukan karena kompetensinya, maka kebobrokan itu menjadi massif terlihat di setiap lini.
#INISIATIF
Untuk memberikan motifashit kepada mahasiswa, saya sering menjelaskan bahwa kita punya empat modal dalam hidup yang menjadi pintu kesuksesan kita ke depan:
1) Ilmu (dan ijazah), ini adalah sumber paling mahal karena dibayar dengan UKT dan waktu perkuliahan (termasuk mesantren) yang tidak sebentar. Jika kita kuasai benar materi yang kita dapatkan selama masa belajar, kemudian kita bisa bertanggung jawab dengan ilmu itu, kita pede dengan itu, maka itu bisa kita jual.
Sayangnya tidak selalu apa yang kita pelajari ternyata membawa kita pada kesuksesan, karena tidak sedikit orang yang bekerja di luar dari bidang yang ia pelajari sebelumnya, maka modal kedua adalah:
2) Skill, ini adalah sumber yang sebenarnya bisa dicari dengan mudah. Menulis, mengetik cepat, mengetik Arab, menerjemahkan, public speaking, mempengaruhi orang, mediasi, negosiasi, storytelling, memasak, barista, dan banyak skill lain yang bisa dipelajari baik secara gratis ataupun dengan mengikuti pelatihan dan sertifikasi.
Terkait dengan ini saya teringat dawuh alm. KH. Imam Badri yang mengutip satu ayat dari Surat Yusuf, "Jangan kalian cuma masuk dari satu pintu saja, tapi masuklah dari banyak pintu", maksudnya adalah jika kita punya banyak skill maka kita kita punya banyak alternatif skill yang bisa dijual.
3) Reputasi, nama baik, attitude, bagaimana kita menjaga kepercayaan orang, menjaga amanah orang, menjaga uang orang, komitmen dengan setiap keputusan. Ini penting karena sering kali kesempatan datang melalui rekomendasi dari orang lain.
4) Relasi, dan ini harus disimpan paling akhir agar fokus utama membangun 3 poin pertama dulu. Jika tiga modal sudah kita miliki, ketika kita masuk ke suatu tempat melalui relasi, kita bisa mempertanggungjawabkan bahwa kita memang pantas untuk mendapatkan itu.
Nah, masalahnya, banyak orang yang menjadikan relasi sebagai modal utama, padahal dia ga punya ilmu dan skill yang menjual, attitude-nya juga buruk, orang seperti ini hanya akan mempermalukan orang yang mengajaknya masuk. Orang masuk, bekerja, menempati posisi penting hanya karena bapaknya berpengaruh, tapi ternyata ilmunya kosong, skillnya kosong, yang terjadi malah malu-maluin. Dan ketika ini sudah menjadi budaya, "orang dalam" membawa masuk orang-orang karena kedekatan dan bukan karena kompetensinya, maka kebobrokan itu menjadi massif terlihat di setiap lini.
#INISIATIF
👍1
Terpengaruh 🤝
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Orang zaman dulu punya pepatah,”Berteman dengan tukang minyak wangi, kita akan ketularan wanginya.” Saya ledekin,”Itu artinya kamu ndak sanggup beli minyak wangi, jadi cuma ketularan.”
Itu adalah ajaran tentang keterpengaruhan. Tepatnya, sekelumit ajaran. Di sisi lain juga ada peribahasa,”Ikan hidup di laut, tak membuat dagingnya asin.” Paham kan maknanya?
Manusia dipengaruhi lingkungan. Itu sebuah kepastian. Tapi pengaruh tidak sama dengan mengikuti. Pengaruh itu adalah perangsang, atau stimulan. Reaksi orang terhadap perangsang bisa berbeda-beda. Ada yang mengikut, ada yang menolak. Keduanya tetap bisa disebut terpengaruh. Artinya tidak hanya yang mengikut saja yang disebut terpengaruh.
Artinya, manusia sebenarnya punya pilihan. Pilihan apa yang ia buat, tergantung pada prinsip yang dia anut. Ia akan memilih sesuatu yang sesuai dengan prinsip dia, dan menolak sesuatu yang melanggar prinsip. Jadi, kita tidak perlu khawatir soal pengaruh, selama kita punya prinsip.
Waktu SMA saya berteman dengan anak-anak nakal. Banyak teman saya yang suka mabuk. Saya berprinsip untuk tidak minum. Saya tidak ikut terpengaruh. Di Jepang semua teman Jepang saya minum. Saya juga tidak ikut.
Demikian pula, bergaul dengan orang yang berbeda agama dengan kita tidak akan membuat kita pindah agama, kalau kita punya prinsip.
Orang yang gampang terpengaruh adalah orang yang tidak punya prinsip. Itulah yang saya gambarkan dengan orang yang tidak sanggup membeli parfum tadi. Kita berteman dengan penjual parfum. Kalau kita anggap parfum itu baik, kita beli dan kita pakai, dong. Tanggung amat kalau cuma tertular baunya. Faktanya, bau parfum itu tidak menular, kecuali kalau Anda berpelukan dengan tukang parfum.
Maksudnya, kalau mau mencari hal positif dari orang lain, jangan tanggung hanya dengan tertular atau terpengaruh. Ambil dan anutlah prinsipnya. Jadilah, bukan tertularlah. Menjadi itu hal yang sangat berbeda dengan terpengaruh. Terpengaruh itu reaktif, menjadi itu proaktif.
Proaktif adalah 1 dari 7 kebiasaan orang efektif yang diajarkan oleh Stephen Covey.
Intinya, anutlah prinsip-prinsip, hiduplah dengan prinsip itu. Setiap tindakan Anda diambil atas dasar prinsip itu, bukan sebagai reaksi atas apa yang Anda hadapi, atau reaksi atas sikap orang lain.
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Orang zaman dulu punya pepatah,”Berteman dengan tukang minyak wangi, kita akan ketularan wanginya.” Saya ledekin,”Itu artinya kamu ndak sanggup beli minyak wangi, jadi cuma ketularan.”
Itu adalah ajaran tentang keterpengaruhan. Tepatnya, sekelumit ajaran. Di sisi lain juga ada peribahasa,”Ikan hidup di laut, tak membuat dagingnya asin.” Paham kan maknanya?
Manusia dipengaruhi lingkungan. Itu sebuah kepastian. Tapi pengaruh tidak sama dengan mengikuti. Pengaruh itu adalah perangsang, atau stimulan. Reaksi orang terhadap perangsang bisa berbeda-beda. Ada yang mengikut, ada yang menolak. Keduanya tetap bisa disebut terpengaruh. Artinya tidak hanya yang mengikut saja yang disebut terpengaruh.
Artinya, manusia sebenarnya punya pilihan. Pilihan apa yang ia buat, tergantung pada prinsip yang dia anut. Ia akan memilih sesuatu yang sesuai dengan prinsip dia, dan menolak sesuatu yang melanggar prinsip. Jadi, kita tidak perlu khawatir soal pengaruh, selama kita punya prinsip.
Waktu SMA saya berteman dengan anak-anak nakal. Banyak teman saya yang suka mabuk. Saya berprinsip untuk tidak minum. Saya tidak ikut terpengaruh. Di Jepang semua teman Jepang saya minum. Saya juga tidak ikut.
Demikian pula, bergaul dengan orang yang berbeda agama dengan kita tidak akan membuat kita pindah agama, kalau kita punya prinsip.
Orang yang gampang terpengaruh adalah orang yang tidak punya prinsip. Itulah yang saya gambarkan dengan orang yang tidak sanggup membeli parfum tadi. Kita berteman dengan penjual parfum. Kalau kita anggap parfum itu baik, kita beli dan kita pakai, dong. Tanggung amat kalau cuma tertular baunya. Faktanya, bau parfum itu tidak menular, kecuali kalau Anda berpelukan dengan tukang parfum.
Maksudnya, kalau mau mencari hal positif dari orang lain, jangan tanggung hanya dengan tertular atau terpengaruh. Ambil dan anutlah prinsipnya. Jadilah, bukan tertularlah. Menjadi itu hal yang sangat berbeda dengan terpengaruh. Terpengaruh itu reaktif, menjadi itu proaktif.
Proaktif adalah 1 dari 7 kebiasaan orang efektif yang diajarkan oleh Stephen Covey.
Intinya, anutlah prinsip-prinsip, hiduplah dengan prinsip itu. Setiap tindakan Anda diambil atas dasar prinsip itu, bukan sebagai reaksi atas apa yang Anda hadapi, atau reaksi atas sikap orang lain.
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @primanoval. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhum kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin🤲
Selamat jalan, Pahlawan JKN🥀
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @primanoval. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhum kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin
Selamat jalan, Pahlawan JKN
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
😢23❤1
Tumbler, Mindset, dan Cara Kita Melihat Dunia 🫶
Oleh: Firman Pratama
Beberapa hari terakhir, timeline saya dipenuhi satu topik sederhana tapi hebohnya luar biasa:
sebuah tumbler yang tertinggal di kereta.
Sebuah tumbler, satu buah saja.
Tapi efeknya?
Petugas kereta dibebastugaskan sementara, dan si mbak pemiliknya pun akhirnya berhenti dari pekerjaannya sendiri.
Semua gara-gara satu benda yang… ya ampun, harganya hanya ratusan ribu.
Saya jadi tersenyum sendiri saat melihat koleksi tumbler saya di rumah.
Kalau salah satu hilang?
Saya tinggal beli lagi. Atau pakai yang lain
Tidak ada drama. Tidak ada heboh. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada “nyalahin petugas”.
Karena pada akhirnya, yang mahal itu bukan tumblernya tapi mindset-nya.
Dan di kasus si mbak ini, kita melihat dengan sangat jelas: harga barangnya murah, tapi harga pelajarannya mahal.
Itu yang sering memiskinkan banyak orang.
✅️1. Mindset Miskin Fokus pada Kekurangan
Saat cara berpikir masih terjebak pada rasa kurang, hal yang kecil terasa sangat besar.
Hal yang sepele terasa seperti bencana nasional.
Tumbler hilang → marah.
Telat sedikit → panik.
Tidak sesuai ekspektasi → ribut.
Semua karena kepalanya penuh rasa takut dan ingin diakui.
Sementara orang dengan mindset kaya, tidak
hidup dari drama. Mereka hidup dari solusi.
Kalau hilang? Ya beli lagi.
Selesai.
✅️2. Sikap Mengontrol Semua Orang, Bukan Mengontrol Diri Sendiri
Ironisnya, tumbler itu akhirnya membuat publik tahu brand kopi tersebut jauh lebih luas.
Marketing gratis.
Dari video viral.
Ini contoh lucu bagaimana hidup bekerja:
yang ribut paling keras justru tidak dapat apa-apa yang tenang malah dapat rezeki.
Sama seperti hidup.
Banyak orang marah-marah pada keadaan,
minta semua orang mengikuti kemauannya,
tapi lupa bahwa yang harus dikendalikan itu pikiran sendiri, bukan dunia luar.
Itu yang saya tekankan di AMC:
kamu bukan mengontrol dunia, kamu mengontrol pikiranmu. Dan pikiranmu lah yang nanti mempengaruhi duniamu.
✅️3. Semua Berawal dari Cara Kita Memaknai Sesuatu
Dalam hidup, yang membuat seseorang naik kelas bukan gelarnya, bukan pekerjaannya, bukan barang yang ia pakai.
Tapi cara ia menyikapi sesuatu yang kecil.
Ada orang yang bisa mengelola miliaran dengan tenang.
Ada yang tumbler hilang saja ambruk mentalnya.
Ini bukan masalah tumbler. Ini masalah program pikiran.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi si mbak.
Justru sebagai pengingat kita semua:
hal kecil itu menguji kualitas pikiran kita yang sebenarnya.
Dan semakin saya memperdalam ilmu pikiran, semakin saya melihat…
Banyak orang menjadi miskin bukan karena tidak bekerja tapi karena cara berpikir salah.
Tumbler hilang bisa diganti.
Tapi pikiran yang salah, kalau tidak diperbaiki, efeknya bisa hilangkan masa depan.
Makanya saya selalu bilang:
belajarlah mengolah pikiran sejak sekarang,
agar hidupmu tidak terseret oleh hal-hal kecil yang tidak penting.
Kalau tumbler saja bisa bikin hidup seseorang berantakan, bayangkan apa yang bisa dilakukan pikiran yang tidak pernah diatur.😊 hati-hati..
#INISIATIF
Oleh: Firman Pratama
Beberapa hari terakhir, timeline saya dipenuhi satu topik sederhana tapi hebohnya luar biasa:
sebuah tumbler yang tertinggal di kereta.
Sebuah tumbler, satu buah saja.
Tapi efeknya?
Petugas kereta dibebastugaskan sementara, dan si mbak pemiliknya pun akhirnya berhenti dari pekerjaannya sendiri.
Semua gara-gara satu benda yang… ya ampun, harganya hanya ratusan ribu.
Saya jadi tersenyum sendiri saat melihat koleksi tumbler saya di rumah.
Kalau salah satu hilang?
Saya tinggal beli lagi. Atau pakai yang lain
Tidak ada drama. Tidak ada heboh. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada “nyalahin petugas”.
Karena pada akhirnya, yang mahal itu bukan tumblernya tapi mindset-nya.
Dan di kasus si mbak ini, kita melihat dengan sangat jelas: harga barangnya murah, tapi harga pelajarannya mahal.
Itu yang sering memiskinkan banyak orang.
✅️1. Mindset Miskin Fokus pada Kekurangan
Saat cara berpikir masih terjebak pada rasa kurang, hal yang kecil terasa sangat besar.
Hal yang sepele terasa seperti bencana nasional.
Tumbler hilang → marah.
Telat sedikit → panik.
Tidak sesuai ekspektasi → ribut.
Semua karena kepalanya penuh rasa takut dan ingin diakui.
Sementara orang dengan mindset kaya, tidak
hidup dari drama. Mereka hidup dari solusi.
Kalau hilang? Ya beli lagi.
Selesai.
✅️2. Sikap Mengontrol Semua Orang, Bukan Mengontrol Diri Sendiri
Ironisnya, tumbler itu akhirnya membuat publik tahu brand kopi tersebut jauh lebih luas.
Marketing gratis.
Dari video viral.
Ini contoh lucu bagaimana hidup bekerja:
yang ribut paling keras justru tidak dapat apa-apa yang tenang malah dapat rezeki.
Sama seperti hidup.
Banyak orang marah-marah pada keadaan,
minta semua orang mengikuti kemauannya,
tapi lupa bahwa yang harus dikendalikan itu pikiran sendiri, bukan dunia luar.
Itu yang saya tekankan di AMC:
kamu bukan mengontrol dunia, kamu mengontrol pikiranmu. Dan pikiranmu lah yang nanti mempengaruhi duniamu.
✅️3. Semua Berawal dari Cara Kita Memaknai Sesuatu
Dalam hidup, yang membuat seseorang naik kelas bukan gelarnya, bukan pekerjaannya, bukan barang yang ia pakai.
Tapi cara ia menyikapi sesuatu yang kecil.
Ada orang yang bisa mengelola miliaran dengan tenang.
Ada yang tumbler hilang saja ambruk mentalnya.
Ini bukan masalah tumbler. Ini masalah program pikiran.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi si mbak.
Justru sebagai pengingat kita semua:
hal kecil itu menguji kualitas pikiran kita yang sebenarnya.
Dan semakin saya memperdalam ilmu pikiran, semakin saya melihat…
Banyak orang menjadi miskin bukan karena tidak bekerja tapi karena cara berpikir salah.
Tumbler hilang bisa diganti.
Tapi pikiran yang salah, kalau tidak diperbaiki, efeknya bisa hilangkan masa depan.
Makanya saya selalu bilang:
belajarlah mengolah pikiran sejak sekarang,
agar hidupmu tidak terseret oleh hal-hal kecil yang tidak penting.
Kalau tumbler saja bisa bikin hidup seseorang berantakan, bayangkan apa yang bisa dilakukan pikiran yang tidak pernah diatur.😊 hati-hati..
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍2❤1👌1💯1
THE SISYPHUS OF THE MIND 🙃
Oleh: Dedi Priadi
Pernah dengar kisah metaforis 𝘛𝘩𝘦 𝘚𝘪𝘴𝘺𝘱𝘩𝘶𝘴 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘔𝘪𝘯𝘥? Kisah ini berakar dari mitologi Yunani, di mana Raja Sisyphus, karena tipu dayanya, dikutuk oleh para dewa. Hukuman yang ia terima sangat kejam: selamanya mendorong batu besar ke puncak bukit. Namun, setiap kali hampir mencapai puncak, batu itu akan menggelinding turun lagi ke bawah. Kutukan ini adalah simbol dari usaha yang sia-sia dan pengulangan pengambilan keputusan yang salah.
Metafora Raja Sisyphus menggambarkan perjuangan batin yang dalam. Bukan batu fisik yang kita dorong, melainkan pola pikir yang salah. Kita berulang kali mendapati diri di persimpangan yang sama, membuat pilihan yang telah terbukti gagal, dan berakhir dengan hasil yang sama pula. Di titik kritis ini, pikiran kita terperangkap dalam lingkaran tanpa henti, karena kekalutan dan kegelisahan membelenggu setiap niat untuk mengambil langkah strategis baru.
Kita punya kesempatan untuk memilih jalan baru yang lebih baik, tetapi alih-alih melakukannya, kita justru kembali ke kebiasaan atau pola pikir lama yang terbukti hanya akan membawa kita kembali ke dasar masalah—sama seperti Sisyphus yang harus memulai dorongan batunya dari awal lagi.
Fenomena ini terjadi bukan karena kita bodoh atau tidak mampu. Seringkali, hal tersebut terjadi karena kita terjebak dalam pola pikir tetap (𝘧𝘪𝘹𝘦𝘥 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘴𝘦𝘵) yang enggan melihat kegagalan sebagai guru. Kita melihatnya sebagai vonis, bukan sebagai umpan balik untuk bertumbuh.
Mindset bertumbuh (𝘨𝘳𝘰𝘸𝘵𝘩 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘴𝘦𝘵) adalah kunci emasnya. Cara pandang ini mengajarkan bahwa kemampuan dan kecerdasan kita bisa berkembang melalui dedikasi dan kerja keras. Kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari penemuan strategi baru.
Saat kita mengubah cara pandang, kita mulai membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan menemukan jawaban dan peluang baru. Bukan itu saja, cara pandang yang benar juga menurunkan level kegelisahan pikiran dan batin kita.
Ketika kita panik, masalah terasa seperti tembok besar. Namun, dengan ketenangan, kita melihat bahwa tembok itu ternyata hanyalah ilusi atau memiliki celah yang selama ini kita abaikan. Solusi yang kita cari, yang tersembunyi di balik kekacauan emosi, kini terungkap dengan sendirinya karena ketenangan hati kita.
Mari lepaskan beban batu lama itu. Izinkan pikiran kita berkreasi, berani mencoba jalur berbeda di titik yang sama. Setiap "kesalahan" adalah langkah maju, sebuah pembelajaran berharga yang memimpin pada solusi yang selama ini kita cari.
Kita memiliki kekuatan untuk mengukir sejarah baru. Jangan jadi Sisyphus yang terus-menerus jatuh di lubang yang sama, tetapi jadilah seorang petualang yang berani menemukan jalan keluar dari labirin pola pikir lama, menuju kebebasan dan pertumbuhan sejati.
#INISIATIF
Oleh: Dedi Priadi
Pernah dengar kisah metaforis 𝘛𝘩𝘦 𝘚𝘪𝘴𝘺𝘱𝘩𝘶𝘴 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘔𝘪𝘯𝘥? Kisah ini berakar dari mitologi Yunani, di mana Raja Sisyphus, karena tipu dayanya, dikutuk oleh para dewa. Hukuman yang ia terima sangat kejam: selamanya mendorong batu besar ke puncak bukit. Namun, setiap kali hampir mencapai puncak, batu itu akan menggelinding turun lagi ke bawah. Kutukan ini adalah simbol dari usaha yang sia-sia dan pengulangan pengambilan keputusan yang salah.
Metafora Raja Sisyphus menggambarkan perjuangan batin yang dalam. Bukan batu fisik yang kita dorong, melainkan pola pikir yang salah. Kita berulang kali mendapati diri di persimpangan yang sama, membuat pilihan yang telah terbukti gagal, dan berakhir dengan hasil yang sama pula. Di titik kritis ini, pikiran kita terperangkap dalam lingkaran tanpa henti, karena kekalutan dan kegelisahan membelenggu setiap niat untuk mengambil langkah strategis baru.
Kita punya kesempatan untuk memilih jalan baru yang lebih baik, tetapi alih-alih melakukannya, kita justru kembali ke kebiasaan atau pola pikir lama yang terbukti hanya akan membawa kita kembali ke dasar masalah—sama seperti Sisyphus yang harus memulai dorongan batunya dari awal lagi.
Fenomena ini terjadi bukan karena kita bodoh atau tidak mampu. Seringkali, hal tersebut terjadi karena kita terjebak dalam pola pikir tetap (𝘧𝘪𝘹𝘦𝘥 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘴𝘦𝘵) yang enggan melihat kegagalan sebagai guru. Kita melihatnya sebagai vonis, bukan sebagai umpan balik untuk bertumbuh.
Mindset bertumbuh (𝘨𝘳𝘰𝘸𝘵𝘩 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘴𝘦𝘵) adalah kunci emasnya. Cara pandang ini mengajarkan bahwa kemampuan dan kecerdasan kita bisa berkembang melalui dedikasi dan kerja keras. Kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari penemuan strategi baru.
Saat kita mengubah cara pandang, kita mulai membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan menemukan jawaban dan peluang baru. Bukan itu saja, cara pandang yang benar juga menurunkan level kegelisahan pikiran dan batin kita.
Ketika kita panik, masalah terasa seperti tembok besar. Namun, dengan ketenangan, kita melihat bahwa tembok itu ternyata hanyalah ilusi atau memiliki celah yang selama ini kita abaikan. Solusi yang kita cari, yang tersembunyi di balik kekacauan emosi, kini terungkap dengan sendirinya karena ketenangan hati kita.
Mari lepaskan beban batu lama itu. Izinkan pikiran kita berkreasi, berani mencoba jalur berbeda di titik yang sama. Setiap "kesalahan" adalah langkah maju, sebuah pembelajaran berharga yang memimpin pada solusi yang selama ini kita cari.
Kita memiliki kekuatan untuk mengukir sejarah baru. Jangan jadi Sisyphus yang terus-menerus jatuh di lubang yang sama, tetapi jadilah seorang petualang yang berani menemukan jalan keluar dari labirin pola pikir lama, menuju kebebasan dan pertumbuhan sejati.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
KITA SEMUA UNDERDOG ✊
Oleh: Budiman Hakim
“Gue pegang Muhammad Ali. Dia pasti menang!”
Kalimat itu meluncur dari mulut teman saya ketika kami masih SD. Waktu itu kami lagi menonton siaran langsung pertandingan legendaris The Rumble in the Jungle: Muhammad Ali melawan si raksasa, George Foreman.
Saya ingat benar momen itu. Foreman sedang berada di puncak. Dia lebih muda, lebih kuat, pukulannya dianggap paling mematikan pada zamannya. Semua analis menyebut Ali akan kalah telak. Pasar taruhan juga jomplang banget, 80% memenangkan Foreman.
Tapi teman saya tetep keukeuh. Tanpa ragu dia menunjuk layar TV dan berteriak lantang, “Ali pasti menang!”
Saya waktu itu bingung. Dalam benak saya: Foreman yang jelas lebih kuat, kenapa dia bela Ali yang underdog? Membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai akhirnya saya memahami : ada tiga alasan psikologis kenapa manusia cenderung membela underdog.
Otak kita suka cerita atau storytelling. Cerita yang paling memuaskan adalah: yang kecil melawan yang besar, yang serba-kekurangan melawan yang serba-berkecukupan.
Pola itu sudah terlihat kalo kita mengamati dongeng2 mitologi klasik: David vs Goliath, Si Kancil, Cinderella, Rocky Balboa sampai Naruto, Begitu melihat underdog, otak otomatis menyambungkan ribuan pola lama yang memuliakan kemenangan orang kecil. Kita ingin itu terjadi lagi.
Lalu ada dorongan keadilan dalam diri manusia. Kalau satu pihak terlihat terlalu kuat, terlalu kaya, atau fasilitasnya terlalu lengkap, otak menganggap pertandingan itu “tidak seimbang”.
Ketika ketidakseimbangan muncul, ada dorongan biologis untuk meratakan atau menyeimbangkan hal tersebut. Makanya saat Leicester City juara EPL, seluruh dunia ikut heboh; saat tim gurem menang adu penalti lawan raksasa. stadion pecah akibat ledakan kegirangan.
Alasan ketiga: sebagian besar manusia merasa hidupnya lebih mirip underdog. Kerja keras yang tidak selalu dihargai, kalah start, berjuang sendirian, sering nyaris, jarang di atas. Saat melihat underdog, kita seakan melihat cermin diri sendiri. “Kalau dia menang, rasanya seperti gue yang menang.”
Tapi ada satu hal penting yang harus digarisbawahi. Kecenderungan membela underdog itu hanya berlaku saat kita netral. Teman saya membela Muhammad Ali waktu itu karena dia tidak punya jagoan sebelumnya. Dia nonton pertandingan itu tanpa beban apa-apa. Maka otaknya otomatis memihak ke sisi yang lebih “heroik”.
Kalau seseorang sudah punya jagoan, logika underdog langsung gugur. Begitu seseorang sudah punya loyalitas, otaknya pindah ke mode lain: in-group favoritism, identitas, dan ketakutan kalah.
Fans MU tetap bela MU walaupun performanya jatuh. Fans Real Madrid tidak tiba-tiba mendukung klub gurem hanya karena status underdog. Begitu ada ikatan emosional, underdog bukan lagi pertimbangan: yang penting “tim saya”.
Dan ini bagian yang menarik. Setelah bertahun-tahun meninggalkan ring tinju dan menjadi pendeta, George Foreman sekonyong-konyong muncul lagi. Dia yang dulu dianggap monster, kembali naik ring di usia yang cukup tua.
Ketika Foreman memasuki ring, saya melihat lelaki berusia 45 tahun. Gerakannya lambat, Tubuhnya sudah gombyor dipenuhi lemak. Kepalanya sudah membotak. Sementara lawannya Michael Moorer adalah juara dunia bertubuh atletis dan usianya baru 26 tahun.
Sekonyong-konyong temen saya menunjuk layar dan berkata: “Gue bela Foreman. Dia pasti menang!”
Dulu dia membela Ali karena Ali underdog. Sekarang dia membela Foreman karena Foreman underdog. Ternyata manusia berubah kubu bukan karena hasil pertandingan… tapi karena hati kita selalu mencari siapa yang paling layak dibela.
Dan sering kali, yang kita bela itu tampak paling kecil, paling rapuh, paling tidak mungkin menang. Tapi keajaiban itu memang ada. Foreman berhasil mengkanvaskan lawannya dan merebut kembali gelar juara dunia. Luar biasa.
Jadi underdog itu bukan sekadar atlet. Bukan sekadar tim. Bukan sekadar kisah. Underdog adalah kita.
#INISIATIF
Oleh: Budiman Hakim
“Gue pegang Muhammad Ali. Dia pasti menang!”
Kalimat itu meluncur dari mulut teman saya ketika kami masih SD. Waktu itu kami lagi menonton siaran langsung pertandingan legendaris The Rumble in the Jungle: Muhammad Ali melawan si raksasa, George Foreman.
Saya ingat benar momen itu. Foreman sedang berada di puncak. Dia lebih muda, lebih kuat, pukulannya dianggap paling mematikan pada zamannya. Semua analis menyebut Ali akan kalah telak. Pasar taruhan juga jomplang banget, 80% memenangkan Foreman.
Tapi teman saya tetep keukeuh. Tanpa ragu dia menunjuk layar TV dan berteriak lantang, “Ali pasti menang!”
Saya waktu itu bingung. Dalam benak saya: Foreman yang jelas lebih kuat, kenapa dia bela Ali yang underdog? Membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai akhirnya saya memahami : ada tiga alasan psikologis kenapa manusia cenderung membela underdog.
Otak kita suka cerita atau storytelling. Cerita yang paling memuaskan adalah: yang kecil melawan yang besar, yang serba-kekurangan melawan yang serba-berkecukupan.
Pola itu sudah terlihat kalo kita mengamati dongeng2 mitologi klasik: David vs Goliath, Si Kancil, Cinderella, Rocky Balboa sampai Naruto, Begitu melihat underdog, otak otomatis menyambungkan ribuan pola lama yang memuliakan kemenangan orang kecil. Kita ingin itu terjadi lagi.
Lalu ada dorongan keadilan dalam diri manusia. Kalau satu pihak terlihat terlalu kuat, terlalu kaya, atau fasilitasnya terlalu lengkap, otak menganggap pertandingan itu “tidak seimbang”.
Ketika ketidakseimbangan muncul, ada dorongan biologis untuk meratakan atau menyeimbangkan hal tersebut. Makanya saat Leicester City juara EPL, seluruh dunia ikut heboh; saat tim gurem menang adu penalti lawan raksasa. stadion pecah akibat ledakan kegirangan.
Alasan ketiga: sebagian besar manusia merasa hidupnya lebih mirip underdog. Kerja keras yang tidak selalu dihargai, kalah start, berjuang sendirian, sering nyaris, jarang di atas. Saat melihat underdog, kita seakan melihat cermin diri sendiri. “Kalau dia menang, rasanya seperti gue yang menang.”
Tapi ada satu hal penting yang harus digarisbawahi. Kecenderungan membela underdog itu hanya berlaku saat kita netral. Teman saya membela Muhammad Ali waktu itu karena dia tidak punya jagoan sebelumnya. Dia nonton pertandingan itu tanpa beban apa-apa. Maka otaknya otomatis memihak ke sisi yang lebih “heroik”.
Kalau seseorang sudah punya jagoan, logika underdog langsung gugur. Begitu seseorang sudah punya loyalitas, otaknya pindah ke mode lain: in-group favoritism, identitas, dan ketakutan kalah.
Fans MU tetap bela MU walaupun performanya jatuh. Fans Real Madrid tidak tiba-tiba mendukung klub gurem hanya karena status underdog. Begitu ada ikatan emosional, underdog bukan lagi pertimbangan: yang penting “tim saya”.
Dan ini bagian yang menarik. Setelah bertahun-tahun meninggalkan ring tinju dan menjadi pendeta, George Foreman sekonyong-konyong muncul lagi. Dia yang dulu dianggap monster, kembali naik ring di usia yang cukup tua.
Ketika Foreman memasuki ring, saya melihat lelaki berusia 45 tahun. Gerakannya lambat, Tubuhnya sudah gombyor dipenuhi lemak. Kepalanya sudah membotak. Sementara lawannya Michael Moorer adalah juara dunia bertubuh atletis dan usianya baru 26 tahun.
Sekonyong-konyong temen saya menunjuk layar dan berkata: “Gue bela Foreman. Dia pasti menang!”
Dulu dia membela Ali karena Ali underdog. Sekarang dia membela Foreman karena Foreman underdog. Ternyata manusia berubah kubu bukan karena hasil pertandingan… tapi karena hati kita selalu mencari siapa yang paling layak dibela.
Dan sering kali, yang kita bela itu tampak paling kecil, paling rapuh, paling tidak mungkin menang. Tapi keajaiban itu memang ada. Foreman berhasil mengkanvaskan lawannya dan merebut kembali gelar juara dunia. Luar biasa.
Jadi underdog itu bukan sekadar atlet. Bukan sekadar tim. Bukan sekadar kisah. Underdog adalah kita.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2
Jabatan yang Tak Abadi 🤝
Oleh: Nadirsyah Hosen
Jabatan sering kali diperlakukan seolah mahkota abadi. Kursi empuk, tanda pangkat, serta hiruk-pikuk penghormatan membuat orang merasa dirinya istimewa. Namun sejatinya, jabatan hanyalah kontrak singkat, titipan sementara yang kapan saja bisa berakhir. Hari ini disambut dengan karangan bunga, besok bisa ditinggalkan dengan sepi dan dilupakan.
Machiavelli pernah menasihati penguasa untuk cerdik menjaga kursi, tetapi ia pun mengakui: kekuasaan ditentukan oleh fortuna—nasib yang mudah berbalik. Hobbes menegaskan bahwa legitimasi jabatan hidup dari kepercayaan rakyat; begitu kepercayaan hilang, jabatan pun kehilangan daya. Sementara Foucault mengingatkan, jabatan bukanlah milik permanen, melainkan bagian dari jaringan relasi kuasa yang terus bergeser.
Tradisi Islam juga menegaskan kefanaan jabatan. Al-Ghazali menyebut jabatan sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar kehormatan. Ibn Khaldun menggambarkan jabatan dan kekuasaan sebagai siklus: lahir, berjaya, lalu rapuh. Tiga generasi cukup untuk meruntuhkan sebuah dinasti, apalagi hanya satu periode jabatan.
Sejarah membuktikan, tidak ada jabatan yang abadi. Kaisar, khalifah, presiden, raja—semua akhirnya turun, entah dengan hormat atau dipaksa. Nama mereka terukir sebentar, lalu diganti nama lain. Hari ini seseorang dipanggil “Yang Mulia”, besok ia kembali menjadi manusia biasa yang berjalan tanpa pengawalan. Betapa singkatnya kemegahan sebuah jabatan dibanding panjangnya sejarah.
Refleksi ini menyingkap kenyataan: jabatan bukan tujuan, melainkan sarana. Ia bukan hak, melainkan amanah. Maka kesalahan terbesar adalah melekatkan diri pada jabatan seolah hidup tak berarti tanpanya. Yang abadi bukanlah kursi, melainkan amal dan nilai yang ditinggalkan saat kursi itu dilepas. Jabatan hanyalah panggung singkat; lakon sejatinya adalah apakah kita gunakan ia untuk menindas atau melayani. Sebab ketika panggung gelap dan tirai ditutup, yang tinggal hanyalah jejak kebaikan atau luka yang kita wariskan.
Tabik,
#INISIATIF
Oleh: Nadirsyah Hosen
Jabatan sering kali diperlakukan seolah mahkota abadi. Kursi empuk, tanda pangkat, serta hiruk-pikuk penghormatan membuat orang merasa dirinya istimewa. Namun sejatinya, jabatan hanyalah kontrak singkat, titipan sementara yang kapan saja bisa berakhir. Hari ini disambut dengan karangan bunga, besok bisa ditinggalkan dengan sepi dan dilupakan.
Machiavelli pernah menasihati penguasa untuk cerdik menjaga kursi, tetapi ia pun mengakui: kekuasaan ditentukan oleh fortuna—nasib yang mudah berbalik. Hobbes menegaskan bahwa legitimasi jabatan hidup dari kepercayaan rakyat; begitu kepercayaan hilang, jabatan pun kehilangan daya. Sementara Foucault mengingatkan, jabatan bukanlah milik permanen, melainkan bagian dari jaringan relasi kuasa yang terus bergeser.
Tradisi Islam juga menegaskan kefanaan jabatan. Al-Ghazali menyebut jabatan sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar kehormatan. Ibn Khaldun menggambarkan jabatan dan kekuasaan sebagai siklus: lahir, berjaya, lalu rapuh. Tiga generasi cukup untuk meruntuhkan sebuah dinasti, apalagi hanya satu periode jabatan.
Sejarah membuktikan, tidak ada jabatan yang abadi. Kaisar, khalifah, presiden, raja—semua akhirnya turun, entah dengan hormat atau dipaksa. Nama mereka terukir sebentar, lalu diganti nama lain. Hari ini seseorang dipanggil “Yang Mulia”, besok ia kembali menjadi manusia biasa yang berjalan tanpa pengawalan. Betapa singkatnya kemegahan sebuah jabatan dibanding panjangnya sejarah.
Refleksi ini menyingkap kenyataan: jabatan bukan tujuan, melainkan sarana. Ia bukan hak, melainkan amanah. Maka kesalahan terbesar adalah melekatkan diri pada jabatan seolah hidup tak berarti tanpanya. Yang abadi bukanlah kursi, melainkan amal dan nilai yang ditinggalkan saat kursi itu dilepas. Jabatan hanyalah panggung singkat; lakon sejatinya adalah apakah kita gunakan ia untuk menindas atau melayani. Sebab ketika panggung gelap dan tirai ditutup, yang tinggal hanyalah jejak kebaikan atau luka yang kita wariskan.
Tabik,
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2
Staf Kerja Sama Faskes mana suaranya? 👏
Kualitas layanan JKN bukan hanya tentang sistem dan proses.
Ada tim yang memastikan hubungan kerja sama dengan faskes berjalan tepat, terukur, dan profesional🤝
Staf Kerja Sama Fasilitas Kesehatan menjalankan peran strategis: meningkatkan akses pelayanan kesehatan, mengawal mutu, memperkuat komunikasi dan kolaborasi strategis, serta memastikan standar layanan diterapkan dari kota besar hingga daerah kepulauan🇮🇩
https://www.instagram.com/p/DR0sT22icbl/?igsh=cWNieGlsYms4dG1n
Kualitas layanan JKN bukan hanya tentang sistem dan proses.
Ada tim yang memastikan hubungan kerja sama dengan faskes berjalan tepat, terukur, dan profesional
Staf Kerja Sama Fasilitas Kesehatan menjalankan peran strategis: meningkatkan akses pelayanan kesehatan, mengawal mutu, memperkuat komunikasi dan kolaborasi strategis, serta memastikan standar layanan diterapkan dari kota besar hingga daerah kepulauan
https://www.instagram.com/p/DR0sT22icbl/?igsh=cWNieGlsYms4dG1n
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥11❤1💯1
Oleh: Nuari Hayati
Jika Anda adalah seorang profesional di kota besar dengan gaji Rp 10.000.000 per bulan, Anda mungkin sering mendengar ucapan iri: "Gaji segitu sih sudah enak banget!"
Faktanya? Bagi banyak orang, gaji Rp 10 juta di tahun 2025 kini terasa seperti "Gaji Numpang Lewat."
Uang itu singgah sekejap di rekening, lalu menghilang begitu saja di pertengahan bulan.
Anda tidak hidup di garis kemiskinan, namun Anda juga tidak merasa kaya. Anda terjebak di batas tipis yang kami sebut Kemiskinan Gaya Hidup (Lifestyle Poverty).
Bagaimana mungkin penghasilan dua kali lipat UMR masih terasa miskin? Inilah tiga alasan utamanya.
1. Beban Tetap (Fixed Cost) yang Tidak Kompromi
Gaji Rp 10 juta memang tinggi, tetapi pengeluaran wajib di kota besar juga ikut meroket. Komponen terbesar yang menggerus gaji Anda adalah biaya yang tidak bisa Anda tawar
A. Jebakan Properti: KPR & Sewa yang Mencekik
• KPR/Sewa: dikota besar cicilan rumah/sewa minimal yang layak huni sudah memakan 30% hingga 40% dari total gaji (Rp 3,5 - 4 juta)
• Transportasi: Cicilan kendaraan (mobil/motor) beserta bensin, tol, dan biaya parkir bisa mencapai Rp 1,5 - 2 juta per bulan
Setelah dipotong pajak (PPh 21), BPJS, KPR, dan cicilan kendaraan, sisa gaji bersih Anda mungkin hanya menyisakan Rp 4 juta untuk bertahan hidup selama sebulan—nominal yang terasa sangat mepet
B. "Pajak" Generasi Sandwich
Bagi Milenial dan Gen Z awal, gaji Rp 10 juta seringkali datang dengan "pajak" tak tertulis: kewajiban membantu finansial orang tua atau keluarga di kampung
Kontribusi wajib yang bersifat kultural ini bisa memotong gaji hingga 10%-15% di awal bulan. Gaji Anda sejatinya bukan hanya untuk Anda, tapi untuk menopang dua rumah tangga
2. Inflasi Gaya Hidup (Hedonic Treadmill)
Ini adalah faktor psikologis yang paling kejam. Ketika gaji Anda naik, standar hidup Anda juga ikut naik. Fenomena ini disebut Hedonic Treadmill.
Ketika bergaji Rp 5 juta, Anda puas makan siang di warteg dan minum air mineral. Begitu bergaji Rp 10 juta:
• Minum: Air mineral berganti kopi branded Rp 35.000 (yang jika dikali 20 hari kerja = Rp 700.000 per bulan)
• Makan Siang: Warteg berganti lunch box dari restoran yang lebih baik (Rp 50.000/hari)
• Hiburan: Nonton di rumah berganti langganan tiga layanan streaming berbeda, weekend getaway, dan hangout di kafe mahal
Anda merasa berhak atas kenyamanan ini, dan pengeluaran ini pun dianggap sebagai "kebutuhan" untuk menjaga kesehatan mental—padahal inilah yang membuat rekening Anda kering
3. Tidak Ada Jaring Pengaman (No Safety Net)
Perasaan miskin muncul bukan karena kurang uang untuk hidup hari ini, melainkan karena ketidakmampuan untuk membeli masa depan.
Dengan gaji Rp 10 juta, banyak orang merasa stuck:
• Dana Darurat: Sulit menabung Rp 100 juta yang diperlukan untuk dana darurat ideal (6x pengeluaran)
• Investasi: Uang yang tersisa seringkali terlalu kecil untuk investasi serius (saham/properti) yang dapat menjamin masa tua
• Pensiun: Jika semua gaji habis untuk lifestyle dan cicilan, Anda tidak memiliki jaring pengaman finansial. Ketakutan akan masa depan inilah yang membuat Anda merasa "miskin" secara finansial, meskipun Anda kaya saat ini
Solusi: Pindah dari Gaji Nominal ke Gaji Riil
Untuk keluar dari jebakan ini, Anda harus berhenti melihat angka Rp 10 juta sebagai uang saku, tapi sebagai modal bisnis
1. Hitung Real Disposable Income: Hitunglah berapa sisa uang Anda setelah dikurangi semua fixed cost (KPR/Sewa, cicilan, BPJS, kontribusi keluarga). Angka ini adalah gaji riil Anda, dan seringkali jauh di bawah Rp 10 juta
2. Automasi Tabungan: Bayar diri Anda (investasi dan dana darurat) sebesar 20% di awal bulan. Uang yang tersisa barulah untuk biaya hidup
3. Hentikan Lifestyle Creep: Paksakan diri untuk tetap hidup dengan standar gaji Rp 7 juta, dan alokasikan sisa Rp 3 juta untuk investasi dan tujuan jangka panjang
Gaji Rp 10 juta adalah gaji yang baik, tetapi hanya terasa "enak" jika Anda berhasil menaklukkan Inflasi Gaya Hidup Anda sendiri dan berani memprioritaskan masa depan daripada kopi hari ini
#INISIATIF #TGIF
Jika Anda adalah seorang profesional di kota besar dengan gaji Rp 10.000.000 per bulan, Anda mungkin sering mendengar ucapan iri: "Gaji segitu sih sudah enak banget!"
Faktanya? Bagi banyak orang, gaji Rp 10 juta di tahun 2025 kini terasa seperti "Gaji Numpang Lewat."
Uang itu singgah sekejap di rekening, lalu menghilang begitu saja di pertengahan bulan.
Anda tidak hidup di garis kemiskinan, namun Anda juga tidak merasa kaya. Anda terjebak di batas tipis yang kami sebut Kemiskinan Gaya Hidup (Lifestyle Poverty).
Bagaimana mungkin penghasilan dua kali lipat UMR masih terasa miskin? Inilah tiga alasan utamanya.
1. Beban Tetap (Fixed Cost) yang Tidak Kompromi
Gaji Rp 10 juta memang tinggi, tetapi pengeluaran wajib di kota besar juga ikut meroket. Komponen terbesar yang menggerus gaji Anda adalah biaya yang tidak bisa Anda tawar
A. Jebakan Properti: KPR & Sewa yang Mencekik
• KPR/Sewa: dikota besar cicilan rumah/sewa minimal yang layak huni sudah memakan 30% hingga 40% dari total gaji (Rp 3,5 - 4 juta)
• Transportasi: Cicilan kendaraan (mobil/motor) beserta bensin, tol, dan biaya parkir bisa mencapai Rp 1,5 - 2 juta per bulan
Setelah dipotong pajak (PPh 21), BPJS, KPR, dan cicilan kendaraan, sisa gaji bersih Anda mungkin hanya menyisakan Rp 4 juta untuk bertahan hidup selama sebulan—nominal yang terasa sangat mepet
B. "Pajak" Generasi Sandwich
Bagi Milenial dan Gen Z awal, gaji Rp 10 juta seringkali datang dengan "pajak" tak tertulis: kewajiban membantu finansial orang tua atau keluarga di kampung
Kontribusi wajib yang bersifat kultural ini bisa memotong gaji hingga 10%-15% di awal bulan. Gaji Anda sejatinya bukan hanya untuk Anda, tapi untuk menopang dua rumah tangga
2. Inflasi Gaya Hidup (Hedonic Treadmill)
Ini adalah faktor psikologis yang paling kejam. Ketika gaji Anda naik, standar hidup Anda juga ikut naik. Fenomena ini disebut Hedonic Treadmill.
Ketika bergaji Rp 5 juta, Anda puas makan siang di warteg dan minum air mineral. Begitu bergaji Rp 10 juta:
• Minum: Air mineral berganti kopi branded Rp 35.000 (yang jika dikali 20 hari kerja = Rp 700.000 per bulan)
• Makan Siang: Warteg berganti lunch box dari restoran yang lebih baik (Rp 50.000/hari)
• Hiburan: Nonton di rumah berganti langganan tiga layanan streaming berbeda, weekend getaway, dan hangout di kafe mahal
Anda merasa berhak atas kenyamanan ini, dan pengeluaran ini pun dianggap sebagai "kebutuhan" untuk menjaga kesehatan mental—padahal inilah yang membuat rekening Anda kering
3. Tidak Ada Jaring Pengaman (No Safety Net)
Perasaan miskin muncul bukan karena kurang uang untuk hidup hari ini, melainkan karena ketidakmampuan untuk membeli masa depan.
Dengan gaji Rp 10 juta, banyak orang merasa stuck:
• Dana Darurat: Sulit menabung Rp 100 juta yang diperlukan untuk dana darurat ideal (6x pengeluaran)
• Investasi: Uang yang tersisa seringkali terlalu kecil untuk investasi serius (saham/properti) yang dapat menjamin masa tua
• Pensiun: Jika semua gaji habis untuk lifestyle dan cicilan, Anda tidak memiliki jaring pengaman finansial. Ketakutan akan masa depan inilah yang membuat Anda merasa "miskin" secara finansial, meskipun Anda kaya saat ini
Solusi: Pindah dari Gaji Nominal ke Gaji Riil
Untuk keluar dari jebakan ini, Anda harus berhenti melihat angka Rp 10 juta sebagai uang saku, tapi sebagai modal bisnis
1. Hitung Real Disposable Income: Hitunglah berapa sisa uang Anda setelah dikurangi semua fixed cost (KPR/Sewa, cicilan, BPJS, kontribusi keluarga). Angka ini adalah gaji riil Anda, dan seringkali jauh di bawah Rp 10 juta
2. Automasi Tabungan: Bayar diri Anda (investasi dan dana darurat) sebesar 20% di awal bulan. Uang yang tersisa barulah untuk biaya hidup
3. Hentikan Lifestyle Creep: Paksakan diri untuk tetap hidup dengan standar gaji Rp 7 juta, dan alokasikan sisa Rp 3 juta untuk investasi dan tujuan jangka panjang
Gaji Rp 10 juta adalah gaji yang baik, tetapi hanya terasa "enak" jika Anda berhasil menaklukkan Inflasi Gaya Hidup Anda sendiri dan berani memprioritaskan masa depan daripada kopi hari ini
#INISIATIF #TGIF
❤4
Oleh: Nuari Hayati
Di linimasa media sosial, mereka adalah simbol kesuksesan: liburan ke luar negeri, tas branded, ngopi di kafe premium, dan cicilan mobil Eropa. Mereka adalah manajer muda, talent digital, atau profesional IT yang gajinya sudah mencapai dua digit tinggi (Rp 15 juta ke atas).
Namun, ironi pahitnya, banyak dari mereka hidup dalam kondisi kerapuhan finansial yang ekstrem. Mereka adalah Generasi Kaya Rasa, Miskin Nyata—terlihat makmur dari luar, namun sebenarnya satu gaji lagi menuju kebangkrutan.
Fenomena ini adalah hasil dari tabrakan antara peningkatan penghasilan, kemudahan kredit, dan tekanan untuk flexing (pamer) di media sosial.
1. Lifestyle Creep: Menetapkan Standar Kemewahan sebagai Kebutuhan
Begitu gaji naik dari Rp 8 juta ke Rp 18 juta, kebanyakan orang tidak akan menabung selisihnya (Rp 10 juta). Sebaliknya, baseline kebutuhan hidup mereka akan ikut naik.
Inilah yang disebut Lifestyle Creep atau Inflasi Gaya Hidup.
Dulu, transportasi publik sudah cukup. Sekarang, harus naik mobil pribadi (yang dibayar dengan cicilan). Dulu, HP mid-range sudah memadai. Sekarang, harus iPhone terbaru.
Setiap kenaikan gaji dihabiskan untuk membeli perceived status—status yang dirasakan, bukan status nyata. Mereka membeli barang yang memberi kesan sukses, yang seringkali berarti membeli barang yang nilainya terdepresiasi (turun) dengan cepat.
Contoh Nyata:
Seseorang bergaji Rp 25 juta per bulan, namun cicilan mobil dan KPR-nya sudah memakan 45% gajinya. Ditambah fine dining dan langganan gym premium, Net Cash Flow mereka di akhir bulan nol. Mereka kaya aset (di atas kertas), tapi miskin uang tunai.
2. Utang Konsumtif: Membiayai Gaya Hidup dengan Dana Masa Depan
Bagi generasi ini, utang bukanlah alat untuk investasi produktif (modal usaha atau properti yang menghasilkan), melainkan jembatan untuk mendapatkan kepuasan instan.
Utang yang menumpuk bukan berasal dari kebutuhan pokok, melainkan dari utang konsumtif seperti:
• PayLater & Kartu Kredit: Digunakan untuk membeli barang sekunder, bahkan tersier, seperti tiket konser atau fashion.
• Cicilan Barang Mewah: Memaksakan diri membeli mobil atau rumah yang melebihi kemampuan finansialnya, sehingga rasio pembayaran utang (Debt-Service Ratio / DSR) mereka melonjak di atas batas aman 35%.
Ketika DSR terlalu tinggi, mereka tidak hanya miskin di akhir bulan, tetapi juga miskin untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, karena sebagian besar pendapatan mereka sudah "diamankan" oleh lembaga keuangan.
3. Nol Tabungan, Nol Jaring Pengaman
Inti dari 'Miskin Nyata' adalah tidak adanya Dana Darurat (Emergency Fund).
Ketika seseorang berpenghasilan Rp 20 juta, tekanan untuk menjaga penampilan di depan kolega, klien, dan pengikut sosial media sangatlah tinggi. Mereka tidak bisa tiba-tiba "turun kasta" karena hal itu akan merusak citra profesional mereka.
Namun, karena seluruh gaji mereka terserap oleh cicilan dan gaya hidup, mereka tidak memiliki uang tunai yang likuid.
Lanjut Part 2👇
Di linimasa media sosial, mereka adalah simbol kesuksesan: liburan ke luar negeri, tas branded, ngopi di kafe premium, dan cicilan mobil Eropa. Mereka adalah manajer muda, talent digital, atau profesional IT yang gajinya sudah mencapai dua digit tinggi (Rp 15 juta ke atas).
Namun, ironi pahitnya, banyak dari mereka hidup dalam kondisi kerapuhan finansial yang ekstrem. Mereka adalah Generasi Kaya Rasa, Miskin Nyata—terlihat makmur dari luar, namun sebenarnya satu gaji lagi menuju kebangkrutan.
Fenomena ini adalah hasil dari tabrakan antara peningkatan penghasilan, kemudahan kredit, dan tekanan untuk flexing (pamer) di media sosial.
1. Lifestyle Creep: Menetapkan Standar Kemewahan sebagai Kebutuhan
Begitu gaji naik dari Rp 8 juta ke Rp 18 juta, kebanyakan orang tidak akan menabung selisihnya (Rp 10 juta). Sebaliknya, baseline kebutuhan hidup mereka akan ikut naik.
Inilah yang disebut Lifestyle Creep atau Inflasi Gaya Hidup.
Dulu, transportasi publik sudah cukup. Sekarang, harus naik mobil pribadi (yang dibayar dengan cicilan). Dulu, HP mid-range sudah memadai. Sekarang, harus iPhone terbaru.
Setiap kenaikan gaji dihabiskan untuk membeli perceived status—status yang dirasakan, bukan status nyata. Mereka membeli barang yang memberi kesan sukses, yang seringkali berarti membeli barang yang nilainya terdepresiasi (turun) dengan cepat.
Contoh Nyata:
Seseorang bergaji Rp 25 juta per bulan, namun cicilan mobil dan KPR-nya sudah memakan 45% gajinya. Ditambah fine dining dan langganan gym premium, Net Cash Flow mereka di akhir bulan nol. Mereka kaya aset (di atas kertas), tapi miskin uang tunai.
2. Utang Konsumtif: Membiayai Gaya Hidup dengan Dana Masa Depan
Bagi generasi ini, utang bukanlah alat untuk investasi produktif (modal usaha atau properti yang menghasilkan), melainkan jembatan untuk mendapatkan kepuasan instan.
Utang yang menumpuk bukan berasal dari kebutuhan pokok, melainkan dari utang konsumtif seperti:
• PayLater & Kartu Kredit: Digunakan untuk membeli barang sekunder, bahkan tersier, seperti tiket konser atau fashion.
• Cicilan Barang Mewah: Memaksakan diri membeli mobil atau rumah yang melebihi kemampuan finansialnya, sehingga rasio pembayaran utang (Debt-Service Ratio / DSR) mereka melonjak di atas batas aman 35%.
Ketika DSR terlalu tinggi, mereka tidak hanya miskin di akhir bulan, tetapi juga miskin untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, karena sebagian besar pendapatan mereka sudah "diamankan" oleh lembaga keuangan.
3. Nol Tabungan, Nol Jaring Pengaman
Inti dari 'Miskin Nyata' adalah tidak adanya Dana Darurat (Emergency Fund).
Ketika seseorang berpenghasilan Rp 20 juta, tekanan untuk menjaga penampilan di depan kolega, klien, dan pengikut sosial media sangatlah tinggi. Mereka tidak bisa tiba-tiba "turun kasta" karena hal itu akan merusak citra profesional mereka.
Namun, karena seluruh gaji mereka terserap oleh cicilan dan gaya hidup, mereka tidak memiliki uang tunai yang likuid.
Lanjut Part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Konsekuensi Jangka Panjang:
• Financial Fragility: Jika terjadi PHK, sakit, atau krisis ekonomi, mereka tidak memiliki dana untuk bertahan hidup lebih dari 1-2 bulan.
• Kehilangan Peluang: Mereka tidak bisa mengambil peluang investasi yang memerlukan dana tunai cepat (misalnya, membeli properti saat harga diskon).
Artinya, kemewahan yang mereka tunjukkan adalah ilusi yang rapuh. Kesuksesan finansial mereka hanyalah fatamorgana yang dipertahankan oleh gaji bulanan yang harus selalu datang tepat waktu.
Harus Jujur Pada Neraca Keuangan Sendiri
Fenomena ini menjadi peringatan keras: Gaji tinggi tidak sama dengan kaya. Kekayaan sejati diukur dari Net Worth (Aset dikurangi Utang), dan lebih penting lagi, dari jumlah uang tunai yang dapat Anda akses tanpa harus menjual aset atau berutang lagi.
Untuk keluar dari jebakan "Kaya Rasa, Miskin Nyata," profesional bergaji tinggi harus melakukan financial detox:
1. Stop Lifestyle Creep: Paksakan hidup dengan standar gaji lama dan alokasikan selisihnya ke rekening investasi.
2. Lunas Utang Konsumtif: Prioritaskan pelunasan semua utang kartu kredit dan PayLater.
3. Bangun Dana Darurat: Targetkan dana darurat 6 hingga 12 bulan pengeluaran wajib, simpan di rekening yang sulit diakses.
Waktunya berhenti membiayai image Anda di media sosial dan mulai membiayai keamanan finansial Anda di masa depan.
Oleh: Nuari Hayati
#INISIATIF
• Financial Fragility: Jika terjadi PHK, sakit, atau krisis ekonomi, mereka tidak memiliki dana untuk bertahan hidup lebih dari 1-2 bulan.
• Kehilangan Peluang: Mereka tidak bisa mengambil peluang investasi yang memerlukan dana tunai cepat (misalnya, membeli properti saat harga diskon).
Artinya, kemewahan yang mereka tunjukkan adalah ilusi yang rapuh. Kesuksesan finansial mereka hanyalah fatamorgana yang dipertahankan oleh gaji bulanan yang harus selalu datang tepat waktu.
Harus Jujur Pada Neraca Keuangan Sendiri
Fenomena ini menjadi peringatan keras: Gaji tinggi tidak sama dengan kaya. Kekayaan sejati diukur dari Net Worth (Aset dikurangi Utang), dan lebih penting lagi, dari jumlah uang tunai yang dapat Anda akses tanpa harus menjual aset atau berutang lagi.
Untuk keluar dari jebakan "Kaya Rasa, Miskin Nyata," profesional bergaji tinggi harus melakukan financial detox:
1. Stop Lifestyle Creep: Paksakan hidup dengan standar gaji lama dan alokasikan selisihnya ke rekening investasi.
2. Lunas Utang Konsumtif: Prioritaskan pelunasan semua utang kartu kredit dan PayLater.
3. Bangun Dana Darurat: Targetkan dana darurat 6 hingga 12 bulan pengeluaran wajib, simpan di rekening yang sulit diakses.
Waktunya berhenti membiayai image Anda di media sosial dan mulai membiayai keamanan finansial Anda di masa depan.
Oleh: Nuari Hayati
#INISIATIF
Oleh: Benua Sabda
Banyak orang berpikir bahwa masalah keuangan akan selesai jika mereka punya lebih banyak uang. Mereka yakin, ketika penghasilan bertambah, hidup akan lebih mudah, tabungan lebih aman, dan tekanan finansial akan berkurang. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus, ketika jumlah uang meningkat, masalah yang muncul justru ikut membesar.
Dalam bukunya The Millionaire Next Door (1996), Thomas J. Stanley dan William D. Danko menulis bahwa kebanyakan orang kaya bukanlah mereka yang berpenghasilan tinggi, melainkan yang memiliki kebiasaan mengelola uang dengan disiplin sejak kecil. Mereka tidak menunggu kaya untuk belajar mengatur keuangan, justru karena kebiasaan itu mereka akhirnya menjadi kaya. Artinya, kemampuan mengelola uang tidak datang setelah punya banyak, tapi sebelum itu.
Ungkapan “orang yang tidak bisa mengatur seribu, tidak akan bisa mengatur sejuta” bukan hanya pepatah keuangan, tetapi juga refleksi karakter. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan kecil dalam mengelola sumber daya menentukan seberapa siap seseorang menghadapi kelimpahan yang lebih besar.
Berikut penjelasan mengapa pepatah ini begitu relevan dan pahit untuk diakui.
1. Masalah Keuangan Jarang Berasal dari Jumlah, Tapi dari Kebiasaan
Kita sering berpikir bahwa kekurangan uang adalah akar dari semua masalah finansial. Padahal, masalah keuangan lebih sering muncul karena kebiasaan buruk yang terbentuk lama sebelum uang itu datang.
Seseorang yang terbiasa menghabiskan seluruh gajinya tanpa perencanaan akan melakukan hal yang sama ketika gajinya naik. Polanya tidak berubah, hanya jumlahnya yang berbeda. Ia tidak kekurangan uang, tetapi kelebihan keinginan.
Kebiasaan mengatur uang bukan tentang besar kecilnya nominal, melainkan tentang bagaimana seseorang menghargai nilai dari setiap rupiah yang ia miliki. Orang yang tidak bisa menghargai seribu rupiah akan menganggap remeh sejuta, dan ketika uang datang lebih banyak, kesalahannya ikut membesar.
2. Disiplin Finansial Tidak Tumbuh dari Kelimpahan, Tapi dari Keterbatasan
Banyak orang menunda disiplin keuangan dengan alasan, “Nanti kalau gajiku sudah besar, aku akan mulai menabung.” Namun mereka tidak sadar bahwa kemampuan menabung bukan soal nominal, tapi soal kebiasaan.
Disiplin sejati justru lahir ketika seseorang belajar menahan diri di masa sempit. Menyisihkan lima ribu dari seratus ribu terasa kecil, tapi kebiasaan kecil itu yang membentuk karakter finansial. Ketika jumlahnya meningkat, kebiasaan itu sudah menjadi naluri.
Keterbatasan memberi pelajaran yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan, yaitu rasa cukup. Orang yang belajar cukup ketika sedikit, akan tetap cukup ketika banyak. Sebaliknya, orang yang rakus ketika kekurangan akan tetap merasa kurang walau sudah berlimpah.
3. Uang Tidak Mengubah Pola Hidup, Hanya Memperbesar Skalanya
Ketika seseorang mendapat penghasilan tambahan, kebanyakan akan segera meningkatkan gaya hidupnya. Ia makan di tempat lebih mahal, membeli barang yang lebih mewah, dan memanjakan diri dengan dalih “reward” atas kerja keras. Fenomena ini disebut lifestyle inflation, dan hampir semua orang pernah terjebak di dalamnya.
Jika seseorang tidak bisa menahan diri dengan uang sedikit, maka uang banyak hanya akan membuatnya lebih boros. Sebaliknya, orang yang mampu hidup sederhana meski penghasilannya besar akan memiliki ruang finansial yang stabil dan tahan krisis.
Seperti kata Dave Ramsey, pakar keuangan pribadi asal Amerika, “Masalah finansial bukan masalah uang, tapi masalah perilaku.” Artinya, uang tidak akan memperbaiki cara hidup, justru memperjelas pola yang selama ini tersembunyi.
Lanjut part 2👇
Banyak orang berpikir bahwa masalah keuangan akan selesai jika mereka punya lebih banyak uang. Mereka yakin, ketika penghasilan bertambah, hidup akan lebih mudah, tabungan lebih aman, dan tekanan finansial akan berkurang. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus, ketika jumlah uang meningkat, masalah yang muncul justru ikut membesar.
Dalam bukunya The Millionaire Next Door (1996), Thomas J. Stanley dan William D. Danko menulis bahwa kebanyakan orang kaya bukanlah mereka yang berpenghasilan tinggi, melainkan yang memiliki kebiasaan mengelola uang dengan disiplin sejak kecil. Mereka tidak menunggu kaya untuk belajar mengatur keuangan, justru karena kebiasaan itu mereka akhirnya menjadi kaya. Artinya, kemampuan mengelola uang tidak datang setelah punya banyak, tapi sebelum itu.
Ungkapan “orang yang tidak bisa mengatur seribu, tidak akan bisa mengatur sejuta” bukan hanya pepatah keuangan, tetapi juga refleksi karakter. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan kecil dalam mengelola sumber daya menentukan seberapa siap seseorang menghadapi kelimpahan yang lebih besar.
Berikut penjelasan mengapa pepatah ini begitu relevan dan pahit untuk diakui.
1. Masalah Keuangan Jarang Berasal dari Jumlah, Tapi dari Kebiasaan
Kita sering berpikir bahwa kekurangan uang adalah akar dari semua masalah finansial. Padahal, masalah keuangan lebih sering muncul karena kebiasaan buruk yang terbentuk lama sebelum uang itu datang.
Seseorang yang terbiasa menghabiskan seluruh gajinya tanpa perencanaan akan melakukan hal yang sama ketika gajinya naik. Polanya tidak berubah, hanya jumlahnya yang berbeda. Ia tidak kekurangan uang, tetapi kelebihan keinginan.
Kebiasaan mengatur uang bukan tentang besar kecilnya nominal, melainkan tentang bagaimana seseorang menghargai nilai dari setiap rupiah yang ia miliki. Orang yang tidak bisa menghargai seribu rupiah akan menganggap remeh sejuta, dan ketika uang datang lebih banyak, kesalahannya ikut membesar.
2. Disiplin Finansial Tidak Tumbuh dari Kelimpahan, Tapi dari Keterbatasan
Banyak orang menunda disiplin keuangan dengan alasan, “Nanti kalau gajiku sudah besar, aku akan mulai menabung.” Namun mereka tidak sadar bahwa kemampuan menabung bukan soal nominal, tapi soal kebiasaan.
Disiplin sejati justru lahir ketika seseorang belajar menahan diri di masa sempit. Menyisihkan lima ribu dari seratus ribu terasa kecil, tapi kebiasaan kecil itu yang membentuk karakter finansial. Ketika jumlahnya meningkat, kebiasaan itu sudah menjadi naluri.
Keterbatasan memberi pelajaran yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan, yaitu rasa cukup. Orang yang belajar cukup ketika sedikit, akan tetap cukup ketika banyak. Sebaliknya, orang yang rakus ketika kekurangan akan tetap merasa kurang walau sudah berlimpah.
3. Uang Tidak Mengubah Pola Hidup, Hanya Memperbesar Skalanya
Ketika seseorang mendapat penghasilan tambahan, kebanyakan akan segera meningkatkan gaya hidupnya. Ia makan di tempat lebih mahal, membeli barang yang lebih mewah, dan memanjakan diri dengan dalih “reward” atas kerja keras. Fenomena ini disebut lifestyle inflation, dan hampir semua orang pernah terjebak di dalamnya.
Jika seseorang tidak bisa menahan diri dengan uang sedikit, maka uang banyak hanya akan membuatnya lebih boros. Sebaliknya, orang yang mampu hidup sederhana meski penghasilannya besar akan memiliki ruang finansial yang stabil dan tahan krisis.
Seperti kata Dave Ramsey, pakar keuangan pribadi asal Amerika, “Masalah finansial bukan masalah uang, tapi masalah perilaku.” Artinya, uang tidak akan memperbaiki cara hidup, justru memperjelas pola yang selama ini tersembunyi.
Lanjut part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1