Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Sebanyak 246 pemain dari 35 Kampus Top Nasional & BPJS Kesehatan siap adu strategi di Ultimate Chess Battle Vol. 2. Dengan semangat โJKN Hero in Actionโ, para pecatur muda ini akan buktikan kalau jadi sehat itu juga bentuk perjuangan.
Seiring kualitas layanan BPJS Kesehatan yang terus meningkat, kita tetap perlu langkah yang strategis dengan menjaga keaktifan kepesertaan JKN agar perlindungan tetap berjalan tanpa celah
Catat Waktu & Tglnya:
๐ Pukul 18.45 WIB โ selesai
๐ Lichess
https://lichess.org/swiss/gZu1Q15Y
Password: DownloadMobileJKN
Join di Grup Telegram BKC (Grup Terbuka Untuk Pegawai Tetap, PATT, TAD di Lingkup BPJS Kesehatan):
https://t.me/+XqeaySjUeWg4NzQ1
#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Perwakilan 20 Negara pelajari keberhasilan Program JKN. Apa saja yang mereka pelajari? ๐ค
Langsung cek di sini
https://youtu.be/vkRnCxlfxWk?si=jT5b2nygNpRiITSQ
Langsung cek di sini
https://youtu.be/vkRnCxlfxWk?si=jT5b2nygNpRiITSQ
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
Perwakilan 20 Negara Pelajari Keberhasilan Program JKN
Perwakilan 20 negara yang tergabung dalam anggota joint learning network bersama perwakilan bank dunia berkunjung ke kantor pusat BPJS Kesehatan, Jumat sore. Kedatangan mereka untuk mempelajari keberhasilan Indonesia dalam mengelola program jaminan kesehatanโฆ
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Don't Make it Original, Make it Yours ๐ช
Semua orang mulai dari meniru orang lain, karena gak ada yang benar-benar baru di dunia ini๐ค
credit: anandarsf
#INISIATIF
Semua orang mulai dari meniru orang lain, karena gak ada yang benar-benar baru di dunia ini
credit: anandarsf
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐1
Di garis depan pelayanan, ada para Frontliner yang bekerja dengan hati kuat dan dedikasi tanpa batas. Mereka yang setiap harinya menyapa peserta dengan senyum, mendengarkan dengan empati, dan membantu dengan penuh ketulusan.
Skill mereka terasah oleh waktu, semangat mereka tumbuh dari setiap pengalaman, dan kehadiran mereka menjadi wajah terbaik pelayanan BPJS Kesehatan๐ฒ๐จ
Big respect untuk kalian semua๐ฅ
https://www.instagram.com/p/DRJt0uIiZ4T/?igsh=eWE2a3M2N2ZnZGUw
Skill mereka terasah oleh waktu, semangat mereka tumbuh dari setiap pengalaman, dan kehadiran mereka menjadi wajah terbaik pelayanan BPJS Kesehatan
Big respect untuk kalian semua
https://www.instagram.com/p/DRJt0uIiZ4T/?igsh=eWE2a3M2N2ZnZGUw
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2๐ฅฐ1
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Mencicil berarti mengambil uang dari masa depan untuk digunakan pada hari ini.
Ga ada yang salah dari mencicil karena banyak kebutuhan kita yang memang ga bisa kita beli secara tunai, yang salah adalah jika strategi mengatur keuangannya tidak dipikirkan dengan baik.
Para finansial planner membatasi cicilan jangan sampai melebihi 30% dari pendapatan dengan tetap mewajibkan ada porsi pendapatan untuk investasi, agar hidup masih terjaga dan masa depan juga tetap terarah.
Mereka juga menyarankan agar kita menghindari mencicil suatu barang yang nilainya akan terus menurun, seperti kendaraan dan barang elektronik, karena kita akan membayar lebih mahal untuk barang yang jika kita jual kembali harganya jauh dari harga yang kita beli. Mobil 300 juta, dicicil jadi 350 juta, sekali keluar dealer harga jualnya ga akan jadi 300 juta lagi.
Ada juga sih yang menjadikan cicilan sebagai penyemangat kerja, ya hidup itu adalah pilihan. Tapi jika boleh menyarankan, cari cicilan yang ringan, murah, dan tetap berinvestasi untuk masa depan, karena menjadikan "bisa nabung lebih banyak" sebagai penyemangat kerja itu lebih baik dari pada menjadikan "cicilan" jadi penyemangat kerja.
#INISIATIF
Mencicil berarti mengambil uang dari masa depan untuk digunakan pada hari ini.
Ga ada yang salah dari mencicil karena banyak kebutuhan kita yang memang ga bisa kita beli secara tunai, yang salah adalah jika strategi mengatur keuangannya tidak dipikirkan dengan baik.
Para finansial planner membatasi cicilan jangan sampai melebihi 30% dari pendapatan dengan tetap mewajibkan ada porsi pendapatan untuk investasi, agar hidup masih terjaga dan masa depan juga tetap terarah.
Mereka juga menyarankan agar kita menghindari mencicil suatu barang yang nilainya akan terus menurun, seperti kendaraan dan barang elektronik, karena kita akan membayar lebih mahal untuk barang yang jika kita jual kembali harganya jauh dari harga yang kita beli. Mobil 300 juta, dicicil jadi 350 juta, sekali keluar dealer harga jualnya ga akan jadi 300 juta lagi.
Ada juga sih yang menjadikan cicilan sebagai penyemangat kerja, ya hidup itu adalah pilihan. Tapi jika boleh menyarankan, cari cicilan yang ringan, murah, dan tetap berinvestasi untuk masa depan, karena menjadikan "bisa nabung lebih banyak" sebagai penyemangat kerja itu lebih baik dari pada menjadikan "cicilan" jadi penyemangat kerja.
#INISIATIF
๐1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Live Report 10 Tahun Festival Paduan Suara Sektor Jasa Keuangan. Mhn doanya sob semoga rekan-rekan Padus BPJS Kesehatan bisa mengeluarkan penampilan maksimalnya dan kelak mendapatkan hasil terbaik ๐ฒ๐จ
Update behind the scene nya di sini:
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
Update behind the scene nya di sini:
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2
๐ฅ Cikagooo lagi LIVE di TikTok nihh
https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-91Uvh2Juomz
๐ Jangan sampai kelewatan yaa
Bantu join, tap2, like n share yaa bapak/ibu, mas/mba. Hatur nuhunn๐๐ป
https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-91Uvh2Juomz
๐ Jangan sampai kelewatan yaa
Bantu join, tap2, like n share yaa bapak/ibu, mas/mba. Hatur nuhunn๐๐ป
TikTok
cikagooo_news on TikTok
@cikagooo_news 1357 Followers, 63 Following, 1214 Likes - Watch awesome short videos created by cikagooo_news
oleh: Dedi Priadi
Dalam benak seorang pencemas, kecemasan bukan sekadar masalah pikiran, melainkan monster raksasa yang mendominasi seluruh layar mental. Seperti tampak dalam ilustrasi, pencemas membesar-besarkan bayangan masalah, sehingga pikirannya terisi penuh oleh spekulasi negatif mengenai masa depan yang belum terwujud.
Pola pikir ini sering menjebak seseorang dalam ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ด๐ต๐ณ๐ฐ๐ฑ๐ฉ๐ช๐ป๐ช๐ฏ๐จ. Seorang pencemas terus membayangkan hal terburuk, seolah skenario negatif adalah kepastian yang pasti terjadi. Imbasnya, nasihat atau masukan dari luar menjadi sulit dicerna; otaknya sudah dipenuhi "sinyal ancaman."
Dari sisi neurologis, saat kita cemas, "alarm" di otak kita, yang disebut ๐ข๐ฎ๐บ๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข, berbunyi terlalu keras. Pemicu ini segera mengaktifkan respons "lawan atau lari," membanjiri sistem kita dengan stres dan ketegangan fisik secara instan.
Akibatnya, ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ง๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ข๐ญ ๐ค๐ฐ๐ณ๐ต๐ฆ๐น, bagian otak yang seharusnya berpikir logis dan membuat keputusan, menjadi lumpuh. Otak kita secara keliru mempercayai bahwa apa yang kita bayangkan adalah ancaman yang benar-benar nyata, meskipun itu murni sebuah proyeksi semata.
Namun, di tengah kondisi kelumpuhan mental ini, ada satu titik balik penting yang sering terlewatkan: kekuatan ๐ต๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ. Begitu kita mulai berani bergerak menuju sumber kecemasan, perubahan fundamental dan dramatis akan segera terjadi.
Misalkan, seorang yang sangat cemas sebelum sebuah presentasi penting. Kekhawatiran membayangkan kegagalan dan ditertawakan saat presentasi akan segera menciut drastis begitu ia memberanikan diri melangkah ke panggung dan memulai kata-kata pertamanya.
Pada saat presentasi itu dilakukan, tindakan nyata tersebut berfungsi sebagai bukti empiris bagi otak bahwa perkiraan ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ด๐ต๐ณ๐ฐ๐ฑ๐ฉ๐ช๐ป๐ช๐ฏ๐จ itu keliru. Ia berhasil melewatinya, dan bahaya yang dibayangkan ternyata tidak terwujud sama sekali di hadapannya.
Secara bertahap, otak belajar dari pengalaman baru ini. Organ tersebut mulai membangun koneksi saraf yang lebih kuat antara logika (๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ง๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ข๐ญ ๐ค๐ฐ๐ณ๐ต๐ฆ๐น) dan pusat emosi (๐ข๐ฎ๐บ๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข). Melalui proses inilah, kekhawatirannya akan berangsur-angsur menurun tajam.
Jangan biarkan pikiran negatif mengendalikan realitas kehidupan kita. Bertindaklah, karena tindakan adalah obat penawar yang efektif untuk kecemasan. Dengan bertindak, kita melatih ulang respons otak kita -- mengubah โmonster" menjadi bayangan yang terus mengecil.
#INISIATIF
Dalam benak seorang pencemas, kecemasan bukan sekadar masalah pikiran, melainkan monster raksasa yang mendominasi seluruh layar mental. Seperti tampak dalam ilustrasi, pencemas membesar-besarkan bayangan masalah, sehingga pikirannya terisi penuh oleh spekulasi negatif mengenai masa depan yang belum terwujud.
Pola pikir ini sering menjebak seseorang dalam ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ด๐ต๐ณ๐ฐ๐ฑ๐ฉ๐ช๐ป๐ช๐ฏ๐จ. Seorang pencemas terus membayangkan hal terburuk, seolah skenario negatif adalah kepastian yang pasti terjadi. Imbasnya, nasihat atau masukan dari luar menjadi sulit dicerna; otaknya sudah dipenuhi "sinyal ancaman."
Dari sisi neurologis, saat kita cemas, "alarm" di otak kita, yang disebut ๐ข๐ฎ๐บ๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข, berbunyi terlalu keras. Pemicu ini segera mengaktifkan respons "lawan atau lari," membanjiri sistem kita dengan stres dan ketegangan fisik secara instan.
Akibatnya, ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ง๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ข๐ญ ๐ค๐ฐ๐ณ๐ต๐ฆ๐น, bagian otak yang seharusnya berpikir logis dan membuat keputusan, menjadi lumpuh. Otak kita secara keliru mempercayai bahwa apa yang kita bayangkan adalah ancaman yang benar-benar nyata, meskipun itu murni sebuah proyeksi semata.
Namun, di tengah kondisi kelumpuhan mental ini, ada satu titik balik penting yang sering terlewatkan: kekuatan ๐ต๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ. Begitu kita mulai berani bergerak menuju sumber kecemasan, perubahan fundamental dan dramatis akan segera terjadi.
Misalkan, seorang yang sangat cemas sebelum sebuah presentasi penting. Kekhawatiran membayangkan kegagalan dan ditertawakan saat presentasi akan segera menciut drastis begitu ia memberanikan diri melangkah ke panggung dan memulai kata-kata pertamanya.
Pada saat presentasi itu dilakukan, tindakan nyata tersebut berfungsi sebagai bukti empiris bagi otak bahwa perkiraan ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ด๐ต๐ณ๐ฐ๐ฑ๐ฉ๐ช๐ป๐ช๐ฏ๐จ itu keliru. Ia berhasil melewatinya, dan bahaya yang dibayangkan ternyata tidak terwujud sama sekali di hadapannya.
Secara bertahap, otak belajar dari pengalaman baru ini. Organ tersebut mulai membangun koneksi saraf yang lebih kuat antara logika (๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ง๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ข๐ญ ๐ค๐ฐ๐ณ๐ต๐ฆ๐น) dan pusat emosi (๐ข๐ฎ๐บ๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข). Melalui proses inilah, kekhawatirannya akan berangsur-angsur menurun tajam.
Jangan biarkan pikiran negatif mengendalikan realitas kehidupan kita. Bertindaklah, karena tindakan adalah obat penawar yang efektif untuk kecemasan. Dengan bertindak, kita melatih ulang respons otak kita -- mengubah โmonster" menjadi bayangan yang terus mengecil.
#INISIATIF
โค4๐1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
GRAND FINAL BPJS IDOL SEASON II 2025 ๐ฒ๐จ
Saksikan behind the scenenya
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
Saksikan behind the scenenya
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Komunitas Strong Nation BPJS Kesehatan masuk Tv nih ๐ฅ ๐ค ๐ฒ๐จ
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1
ILMU HOKI BERNAMA KONSISTENSI ๐ค
Oleh: Ibrahim Vatih
Orang sering ngira keberuntungan itu turun dari langit, acak, misterius, dan ngga bisa dikendalikan.
Tapi kalau diperhatikan, keberuntungan cenderung muncul di sekitar orang yang konsisten.
Orang yang tetap hadir saat orang lain memilih untuk berhenti. Orang yang mengerjakan hal yang sama dan terkesan membosankan.
Orang lain akan anggap dia beruntung (hoki). Padahal ngga, itu efek samping dari konsistensi.
Psikologi udah lama mengenali pola ini. Fenomena mere-exposure effect yang ditemukan oleh Robert Zajonc menunjukkan bahwa hal yang sering muncul akan lebih mudah dipercaya, dipilih, dan diingat.
Jadi ketika kamu konsisten berkarya, muncul, dan membangun jejak, kamu sebenarnya sedang memperbesar peluang untuk ditemukan.
Di buku Outliers-nya Malcolm Gladwell menjelaskan bagaimana jam terbang menciptakan momen-momen kebetulan yang sebenarnya bukan kebetulan.
The Beatles dianggap โberuntungโ mendapatkan kesempatan tampil di panggung besar. Tapi sebelum itu, mereka udah ribuan jam tampil di event-event kecil di Hamburg. Kesempatan itu datang karena mereka udah siap secara skill dan momentum. Lagi-lagi hasil dari konsistensi.
Penelitian dari University of London tentang compound practice juga menunjukkan bahwa latihan kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih signifikan dampaknya dibanding latihan besar tapi jarang.
Kemampuan untuk tumbuh secara perlahan sering membuat seseorang tampak lebih beruntung, padahal dia emang lebih siap daripada kebanyakan orang.
Secara matematis pun keberuntungan bisa dijelaskan. Konsep law of large numbers dalam statistik menjelaskan bahwa semakin banyak percobaan, semakin besar peluang mendapatkan hasil yang baik.
Satu percobaan peluangnya kecil. Seratus percobaan peluangnya akan berbeda.
Bukan berarti kamu jadi orang yang hoki, kamu cuma memerintahkan angka-angka untuk memihak padamu.
Juga dalam studi tentang serendipity, seperti yang ditulis oleh Christian Busch dalam bukunya The Serendipity Mindset, dijelaskan bahwa kebetulan yang baik sering lahir dari rangkaian tindakan kecil yang konsisten sehingga membuka pintu-pintu opportunity.
Orang yang ngga konsisten hanya membuka sedikit pintu. Orang yang konsisten akan membuka banyak pintu, sehingga peluang menemukan opportunity jadi berkali-kali lipat lebih tinggi.
Keberuntungan akhirnya bukan soal nasib, bukan soal bakat, bukan soal momentum kosmik. Keberuntungan lebih sering merupakan konsekuensi dari orang yang ngga hilang. Orang yang menaruh lebih banyak jejak di dunia, sehingga kemungkinan untuk disapa oleh peluang, meningkat secara drastis.
Jadi kalau kamu ingin terlihat lebih "beruntung", sebenernya jawabannya sederhana; konsisten aja.
Bekerja lebih stabil. Hidup lebih teratur. Dominasi hari-hari dengan hal positif. Tetap berbagi. Tetap beribadah. Tetap berjalan dan tetap bertahan.
Konsistensi, pada akhirnya, adalah cara paling rasional untuk menciptakan keberuntungan.
#INISIATIF
Oleh: Ibrahim Vatih
Orang sering ngira keberuntungan itu turun dari langit, acak, misterius, dan ngga bisa dikendalikan.
Tapi kalau diperhatikan, keberuntungan cenderung muncul di sekitar orang yang konsisten.
Orang yang tetap hadir saat orang lain memilih untuk berhenti. Orang yang mengerjakan hal yang sama dan terkesan membosankan.
Orang lain akan anggap dia beruntung (hoki). Padahal ngga, itu efek samping dari konsistensi.
Psikologi udah lama mengenali pola ini. Fenomena mere-exposure effect yang ditemukan oleh Robert Zajonc menunjukkan bahwa hal yang sering muncul akan lebih mudah dipercaya, dipilih, dan diingat.
Jadi ketika kamu konsisten berkarya, muncul, dan membangun jejak, kamu sebenarnya sedang memperbesar peluang untuk ditemukan.
Di buku Outliers-nya Malcolm Gladwell menjelaskan bagaimana jam terbang menciptakan momen-momen kebetulan yang sebenarnya bukan kebetulan.
The Beatles dianggap โberuntungโ mendapatkan kesempatan tampil di panggung besar. Tapi sebelum itu, mereka udah ribuan jam tampil di event-event kecil di Hamburg. Kesempatan itu datang karena mereka udah siap secara skill dan momentum. Lagi-lagi hasil dari konsistensi.
Penelitian dari University of London tentang compound practice juga menunjukkan bahwa latihan kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih signifikan dampaknya dibanding latihan besar tapi jarang.
Kemampuan untuk tumbuh secara perlahan sering membuat seseorang tampak lebih beruntung, padahal dia emang lebih siap daripada kebanyakan orang.
Secara matematis pun keberuntungan bisa dijelaskan. Konsep law of large numbers dalam statistik menjelaskan bahwa semakin banyak percobaan, semakin besar peluang mendapatkan hasil yang baik.
Satu percobaan peluangnya kecil. Seratus percobaan peluangnya akan berbeda.
Bukan berarti kamu jadi orang yang hoki, kamu cuma memerintahkan angka-angka untuk memihak padamu.
Juga dalam studi tentang serendipity, seperti yang ditulis oleh Christian Busch dalam bukunya The Serendipity Mindset, dijelaskan bahwa kebetulan yang baik sering lahir dari rangkaian tindakan kecil yang konsisten sehingga membuka pintu-pintu opportunity.
Orang yang ngga konsisten hanya membuka sedikit pintu. Orang yang konsisten akan membuka banyak pintu, sehingga peluang menemukan opportunity jadi berkali-kali lipat lebih tinggi.
Keberuntungan akhirnya bukan soal nasib, bukan soal bakat, bukan soal momentum kosmik. Keberuntungan lebih sering merupakan konsekuensi dari orang yang ngga hilang. Orang yang menaruh lebih banyak jejak di dunia, sehingga kemungkinan untuk disapa oleh peluang, meningkat secara drastis.
Jadi kalau kamu ingin terlihat lebih "beruntung", sebenernya jawabannya sederhana; konsisten aja.
Bekerja lebih stabil. Hidup lebih teratur. Dominasi hari-hari dengan hal positif. Tetap berbagi. Tetap beribadah. Tetap berjalan dan tetap bertahan.
Konsistensi, pada akhirnya, adalah cara paling rasional untuk menciptakan keberuntungan.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐2
Selamat kepada para pemenang ๐
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
INFO PODIUM ๐
Selamat kepada team Bulutangkis beregu BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 18 Nopemeber 2025๐ฒ๐จ
#INISIATIF
Selamat kepada team Bulutangkis beregu BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 18 Nopemeber 2025
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
INFO PODIUM ๐
Selamat kepada team mini soccer BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 19-20 Nopemeber 2025๐ฒ๐จ
#INISIATIF
Selamat kepada team mini soccer BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 19-20 Nopemeber 2025
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Untuk Laki-laki: Bekerjalah, Cukupi Nafkah Keluargamu ๐ช
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Cukup sering saya mendapat pesan di FB messenger dari para perempuan. Mereka mengeluh karena suami mereka tidak bekerja, dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Maksudnya, ada yang bekerja tapi hasilnya tidak cukup. Ada pula yang memang tidak bekerja sama sekali.
Ada cukup banyak cerita tentang orang yang tadinya bekerja dengan penghasilan lumayan, tapi kemudian berhenti, lalu tidak punya penghasilan. Alasan berhenti itu sungguh sepele, atau tidak jelas sama sekali. Ada yang misalnya berhenti kerja dengan alasan situasi kantor tidak kondusif. Ada yang berhenti karena ingin tinggal dekat dengan orang tua.
Kenapa itu semua saya anggap sepele? Di hadapan kewajiban untuk menafkahi keluarga, itu semua sepele. Prinsip saya, kerja memang tidak semuanya nyaman dan menyenangkan. Kalau suatu kerja mendatangkan hasil yang cukup untuk menafkahi keluarga, ada ketidaknyamanan akan saya hadapi. Suasana tidak nyaman itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa tidak nyaman karena nafkah keluarga tidak terpenuhi. Sebagai kepala keluarga saya menempatkan kenyamanan saya di posisi nomor sekian, bukan hal utama. Ada kalanya kita harus mengorbankan kenyamanan kita demi keluarga.
Tidak jarang alasannya hanya mengada-ada. Ada sedikit ketidaknyamanan sudah menyerah. Saya harus katakan, kerja memang begitu. Ada banyak ketidaknyamanan. Tapi ingat, kerja itu tumpukan tanggung jawab. Ini tidak melulu soal bahwa kita dibayar dan uangnya bisa dipakai untuk menafkahi keluarga. Di luar soal itu, kita memang dituntut untuk bisa mengatasi berbagai persoalan dalam bekerja. Termasuk mengatasi ketidaknyamanan itu. Jadi, kalau ada ketidaknyamanan, atasi. Bukan malah berhenti.
Dalam bekerja kita tidak hanya dituntut untuk bertahan, tapi juga meningkat. Kebutuhan keluarga meningkat seiring pertumbuhan anak-anak. Inflasi juga membuat nilai uang kita mengecil. Kalau tidak meningkat, penghasilan yang tadinya cukup jadi tidak cukup. Tidak sekadar bekerja, seorang penanggung jawab nafkah keluarga wajib membuat program pengembangan diri, sekaligus rencana peningkatan penghasilan. Sering saya harus menghela nafas kalau menemukan orang yang sudah mau 50 tahun usianya, tapi penghasilannya belum beranjak jauh dari nilai UMK.
Sudah bekerja pun belum cukup bagus kalau tidak ada peningkatan. Apalagi tidak bekerja.
Di sisi lain, banyak perempuan yang cuma mengeluh dan merengek saat suaminya tidak bekerja atau berpenghasilan cukup. Hanya sedikit yang berani keluar dari zona nyaman nyonya rumah, lalu bertarung untuk mengambil tanggung jawab yang diabaikan suaminya. Yang bertarung ini ada yang sukses, tapi itu tidak mengubah suaminya.
Ada perempuan yang mengeluh soal kekurangan nafkah, tapi saya lihat penampilannya di media sosial seperti sosialita.
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Cukup sering saya mendapat pesan di FB messenger dari para perempuan. Mereka mengeluh karena suami mereka tidak bekerja, dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Maksudnya, ada yang bekerja tapi hasilnya tidak cukup. Ada pula yang memang tidak bekerja sama sekali.
Ada cukup banyak cerita tentang orang yang tadinya bekerja dengan penghasilan lumayan, tapi kemudian berhenti, lalu tidak punya penghasilan. Alasan berhenti itu sungguh sepele, atau tidak jelas sama sekali. Ada yang misalnya berhenti kerja dengan alasan situasi kantor tidak kondusif. Ada yang berhenti karena ingin tinggal dekat dengan orang tua.
Kenapa itu semua saya anggap sepele? Di hadapan kewajiban untuk menafkahi keluarga, itu semua sepele. Prinsip saya, kerja memang tidak semuanya nyaman dan menyenangkan. Kalau suatu kerja mendatangkan hasil yang cukup untuk menafkahi keluarga, ada ketidaknyamanan akan saya hadapi. Suasana tidak nyaman itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa tidak nyaman karena nafkah keluarga tidak terpenuhi. Sebagai kepala keluarga saya menempatkan kenyamanan saya di posisi nomor sekian, bukan hal utama. Ada kalanya kita harus mengorbankan kenyamanan kita demi keluarga.
Tidak jarang alasannya hanya mengada-ada. Ada sedikit ketidaknyamanan sudah menyerah. Saya harus katakan, kerja memang begitu. Ada banyak ketidaknyamanan. Tapi ingat, kerja itu tumpukan tanggung jawab. Ini tidak melulu soal bahwa kita dibayar dan uangnya bisa dipakai untuk menafkahi keluarga. Di luar soal itu, kita memang dituntut untuk bisa mengatasi berbagai persoalan dalam bekerja. Termasuk mengatasi ketidaknyamanan itu. Jadi, kalau ada ketidaknyamanan, atasi. Bukan malah berhenti.
Dalam bekerja kita tidak hanya dituntut untuk bertahan, tapi juga meningkat. Kebutuhan keluarga meningkat seiring pertumbuhan anak-anak. Inflasi juga membuat nilai uang kita mengecil. Kalau tidak meningkat, penghasilan yang tadinya cukup jadi tidak cukup. Tidak sekadar bekerja, seorang penanggung jawab nafkah keluarga wajib membuat program pengembangan diri, sekaligus rencana peningkatan penghasilan. Sering saya harus menghela nafas kalau menemukan orang yang sudah mau 50 tahun usianya, tapi penghasilannya belum beranjak jauh dari nilai UMK.
Sudah bekerja pun belum cukup bagus kalau tidak ada peningkatan. Apalagi tidak bekerja.
Di sisi lain, banyak perempuan yang cuma mengeluh dan merengek saat suaminya tidak bekerja atau berpenghasilan cukup. Hanya sedikit yang berani keluar dari zona nyaman nyonya rumah, lalu bertarung untuk mengambil tanggung jawab yang diabaikan suaminya. Yang bertarung ini ada yang sukses, tapi itu tidak mengubah suaminya.
Ada perempuan yang mengeluh soal kekurangan nafkah, tapi saya lihat penampilannya di media sosial seperti sosialita.
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐1
Oleh: Ibrahim Vatih
Ada dua cara pandang yang subsconcious (alam bawah sadar) membentuk seluruh arah hidup kita:
1. Pola pikir kekurangan (scarcity)
2. Pola pikir kelimpahan (abundance).
Pola pikir scarcity percaya bahwa dunia ini sempit, sumber daya terbatas, dan peluang hanya datang satu kali.
Kalau orang lain sukses, berarti kesempatan dia berkurang. Kalau orang lain dapat proyek, berarti dia sudah kalah saing. Kalau teman dapat promosi, berarti posisi dia terancam.
Pola pikir ini penuh kecemasan, minim rasa syukur, dan akhirnya membuat mereka sulit berkembang, karena selalu hidup dalam mode "defensif".
***
Sebaliknya, pola pikir abundance percaya bahwa dunia ini luas, rezeki itu datang dari banyak arah. Kesuksesan orang lain bukan ancaman, tapi inspirasi. Kebaikan yang dia sebarkan bukan mengurangi, tapi justru membuka lebih banyak peluang.
Orang dengan pola pikir abundance lebih tenang, lebih mudah berbagi, lebih mampu fokus pada proses, bukan hanya hasil.
Dan yang menarik, mereka cenderung lebih dipercaya oleh orang-orang di (lingkungan) sekitarnya, karena energi mereka positif dan konstruktif.
***
Saya pernah ada di fase scarcity.
Tapi perlahan, ketika mulai belajar membuka perspektif, saya sadar bahwa banyak sekali peluang yang justru datang ketika kita tenang, sabar, dan ngga serakah.
Saya pernah membaca satu pemikiran menarik,
โBangunlah bisnis saat kamu tidak sedang butuh-butuh amat.โ
Saat kita membangun sesuatu dalam kondisi tenang, tanpa tekanan, dan tidak sedang tergesa-gesa mencari uang, pikiran kita bisa lebih jernih.
Kita bisa membuat keputusan jangka panjang, bukan keputusan darurat yang seringkali berbiaya mahal.
Kita bisa merancang strategi, bukan cuma bertahan hidup.
Inilah kekuatan dari pola pikir abundance.
Kita bergerak bukan karena panik, tapi karena sadar.
Seringkali, yang bikin kita sulit bukan kondisi, tapi cara pandang kita sendiri.
Kalau kamu sering merasa sempit, kalah duluan, atau iri dengan pencapaian orang lain, mungkin ini saatnya refleksi,
"Apakah saya sedang menjalani hidup dengan pola pikir scarcity?"
Latih pola pikir abundance.
Bukan untuk jadi naif, tapi agar hidup terasa lebih lapang, damai, dan penuh peluang.
Dunia ini luas.
Tapi cara pandang kitalah yang bisa mempersempit atau meluaskannya.
Dan kabar baiknya, cara pandang itu bisa kita pilih.
#INISIATIF
Ada dua cara pandang yang subsconcious (alam bawah sadar) membentuk seluruh arah hidup kita:
1. Pola pikir kekurangan (scarcity)
2. Pola pikir kelimpahan (abundance).
Pola pikir scarcity percaya bahwa dunia ini sempit, sumber daya terbatas, dan peluang hanya datang satu kali.
Kalau orang lain sukses, berarti kesempatan dia berkurang. Kalau orang lain dapat proyek, berarti dia sudah kalah saing. Kalau teman dapat promosi, berarti posisi dia terancam.
Pola pikir ini penuh kecemasan, minim rasa syukur, dan akhirnya membuat mereka sulit berkembang, karena selalu hidup dalam mode "defensif".
***
Sebaliknya, pola pikir abundance percaya bahwa dunia ini luas, rezeki itu datang dari banyak arah. Kesuksesan orang lain bukan ancaman, tapi inspirasi. Kebaikan yang dia sebarkan bukan mengurangi, tapi justru membuka lebih banyak peluang.
Orang dengan pola pikir abundance lebih tenang, lebih mudah berbagi, lebih mampu fokus pada proses, bukan hanya hasil.
Dan yang menarik, mereka cenderung lebih dipercaya oleh orang-orang di (lingkungan) sekitarnya, karena energi mereka positif dan konstruktif.
***
Saya pernah ada di fase scarcity.
Tapi perlahan, ketika mulai belajar membuka perspektif, saya sadar bahwa banyak sekali peluang yang justru datang ketika kita tenang, sabar, dan ngga serakah.
Saya pernah membaca satu pemikiran menarik,
โBangunlah bisnis saat kamu tidak sedang butuh-butuh amat.โ
Saat kita membangun sesuatu dalam kondisi tenang, tanpa tekanan, dan tidak sedang tergesa-gesa mencari uang, pikiran kita bisa lebih jernih.
Kita bisa membuat keputusan jangka panjang, bukan keputusan darurat yang seringkali berbiaya mahal.
Kita bisa merancang strategi, bukan cuma bertahan hidup.
Inilah kekuatan dari pola pikir abundance.
Kita bergerak bukan karena panik, tapi karena sadar.
Seringkali, yang bikin kita sulit bukan kondisi, tapi cara pandang kita sendiri.
Kalau kamu sering merasa sempit, kalah duluan, atau iri dengan pencapaian orang lain, mungkin ini saatnya refleksi,
"Apakah saya sedang menjalani hidup dengan pola pikir scarcity?"
Latih pola pikir abundance.
Bukan untuk jadi naif, tapi agar hidup terasa lebih lapang, damai, dan penuh peluang.
Dunia ini luas.
Tapi cara pandang kitalah yang bisa mempersempit atau meluaskannya.
Dan kabar baiknya, cara pandang itu bisa kita pilih.
#INISIATIF
๐1
Siapa bilang healing di kantor cuma bisa lewat kopi? ๐
Kalau kamu lagi cari โolahraga anti ribet tapi manfaatnya maksimalโ, ya disinilah tempatnya. Letโs smash the day together๐
https://www.instagram.com/p/DRb79H0ibfz/?igsh=eHFyYWZhdjRuZTU5
Kalau kamu lagi cari โolahraga anti ribet tapi manfaatnya maksimalโ, ya disinilah tempatnya. Letโs smash the day together
https://www.instagram.com/p/DRb79H0ibfz/?igsh=eHFyYWZhdjRuZTU5
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM